Anda di halaman 1dari 36

ANALISIS PROSPEKTIF

Disusun oleh:

AGUNG GUNAWAN (P2102215003)

DWI ANUGRAH LESTARI MUSA (P2102215005)

MUTMAINNAH NURDIN (P2102215011)

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Adanya efek atau investasi dalam perusahaan menyebabkan perusahaan

memerlukan adanya cara yang tepat dalam penilaian kelayakan rencana-rencana

strategis. Dalam penilaian efek dan ketepatan rencana strategis perusahaan, dipelukan

adanya analisis prospektif. Analisis ini diperlukan dalam menentukan keputusan baik

bagi investasi pemegang saham maupun pinjaman. Bab ini member perhatian khusus

proses proyeksi, penilaian laba dan penggerak nilai.


Dengan adanya hal tersebut kami bermaksud membuat makalah Analisis

Laporan Keuangan dengan sub judul Analisis Prospektif.

BAB II
PEMBAHASAN

---PROSES PROYEKSI

Pembahasan dimulai dengan contoh komprehensif proses proyeksi dengan


menggunakan laporan keuangan Target Corporation.
Proyeksi Laporan Keuangan

Proses proyeksi dimulai dari laporan laba rugi, diikuti neraca dan laporan arus kas.

Proyeksi Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi Target tahun 2003-2005 disajikan pada Tampilan 9.1 berikut
beberapa rasio terpilih. Proses proyeksi di mulai dengan pertumbuhan penjualan yang
diharapkan. Contoh ini digunakan tren historis untuk memprediksi tingkat penjualan
di masa depan. Analisis lebih terperinci melihatkan informasi eksternal berikut.

Tingkat aktivitas ekonomi makro diharapkan. Karena pembelian


pelanggan Target dipengaruhi oleh tingkat penghasilan pribadi dapat
dibelanjakan (personal diposable income), analisis mengikutsertakan estimasi
yang terkait dengan pertumbuhan ekonomi pada umumnya dan pertumbuhan
penjualan eceran pada khususnya. Misalnya, bila ekonomi membaik, dapat
diproyeksikan adanya kenaikan penjualan dibandingkan penjualan tahun lalu.
Peta persaingan. Apakah jumlah pesaing bertambah? Apakah pesaing yang
lebih lemah menghentikan operasinya? Perubahan peta persaingan akan
memengaruhi proyeksi atas unit penjualan dan kemampuan target untuk
menaikkan harga. Kedua hal tersebut akan berdampak pada pertumbuhan.
Bauran toko baru dan toko lama. Toko baru umumnya menikmati kenaikan
penjualan yang lebih besar dibandingkan dengan toko lama karena toko baru
dapat meraih pasar yang tidak tertangani dengan baik atau menyediakan
komposisi barang yang lebih mutakhir dibandingkan dengan pesaing yang
ada. Toko lama umumnya tumbuh seiring dengan tingkat pertumbuhan
ekonomi lokal secara keseluruhan. Karena itu, analisis harus
mempertimbangkan rencana ekspresi yang diumumkan oleh manajeman.

Dimulai dengan asumsi bahwa penjualan akan tumbuh sebesar 11,566% di tahun
2006, tingkat pertumbuhan yang sama dengan tahun 2005. Setelah proyeksi selesai,
analisis sensitivitas akan mempelajari tingkat implikasi tingkat pertumbuhan yang
lebih tinggi dan lebih rendah terhadap peramalan.

Tampilan 9.1

Laporan Laba Rugi Target Corporation


Margin laba kotor Target mengalami sedikit kenaikan menjadi 32,866% terhadap
penjualan. Untuk tujuan proyeksi, margin laba kotor terakhir diasumsikan sebesar
32,866%. Pada praktiknya, estimasi margin laba kotor sebagian akan dipengaruhi
oleh kekuatan ekonomi, dan tingkat kompetisi dalam pasar Target. Misalnya
kompetisi yang meningkat membuat kita mempertanyakan kemampuan perusahaan
untuk meningkatkan margin laba kotor karena akan sulit untuk menaikkan harga jual.
Beban penjualan, umum, dan administrasi juga tetap konstan sebesar kurang lebih
22% terhadap penjualan. Proyeksi beban penjualan, umum, dan administrasi adalah
22,49% terhadap penjualan, sama dengan presentase yang terakhir. Pada praktiknya,
pos beban dapat diuji dan diestimasi secara terpisah dengan menyertakan pemahaman
yang didapat dari bagian Management Discussion and Analysis-MDA (Diskusi dan
Analisis Manajemen) dalam laporan keuangan atau dari sumber eksternal. Bagi
perusahaan ritel seperti Target, tren gaji dan biaya okupansi serta beban iklan
memerlukan penelitian lebih lanjut.

Beban penyusutan merupakan pos material dan harus diproyeksikan secara


terpisah. Penyusutan merupakan beban tetap dan merupakan fungsi dari jumlah aset
yang dapat disusutkan. Pada tahun-tahun sebelumnya, Target telah melaporkan
bebanpenyusutan kira-kira 6% dari saldo aset tetap di awal tahun. Proyeksi
mengasumsikan beban penyusutan sebesar 6,33% dari saldo aset tetap tahun 2005,
persentase yang terakhir.

Dengan cara yang sama, dihitung pula rasio historis beban bunga terhadap
saldo awal tahun utang berbunga. Selama dua tahun terakhir, rasio ini mengalami
sedikit kenaikan dari 4,982% menjadi 5,173%. Proyeksi mengasumsikan 5,173% dari
saldo awal tahun utang berbunga. Pada praktiknya, estimasi harus menyertakan
proyeksi tingkat bunga jangka panjang di masa depan. Akhirnya, angka yang
digunakan untuk proyeksi atas beban pajak adalah sebagai persentase terhadap laba
sebelum pajak tetap konstan pada tingkat terakhir sebesar 37,809%.

Tampilan 9.2

Proyeksi Laporan Laba Rugi Target Corporation


Berdasarkan asumsi-asumsi di atas, proyeksi laporan laba rugi Target tahun 2006
disajikan di Tampilan 9.2. Berikut langkah-langkah dalam memproyeksikan laporan
tersebut.

1. Penjualan: $46.839 x 1,11455 = $52.204


2. Laba kotor: $52.204 x 32,866% = $17.157
3. HPP: $52.204 - $17.157 = $35.047
4. Penjualan, umum, dan administrasi: $52.204 x 22,49% = $11.741
5. Penyusutan dan amortisasi: $22.272 (aset tetap kotor awal periode) x 6,333%
= $1.410
6. Bunga: $9.538 (utang berbunga awal periode) x 5,173% = $493
7. Laba sebelum pajak: $17.157 - $11.741 - $1.410 - $493 = $3.513
8. Beban pajak: $3.513 x 37,809% = $1.328
9. Pos luar biasa dan dihentikan: tidak ada
10. Laba bersih: $3.513 - $1.328 = $2.185

Proyeksi Neraca

Neraca Target tahun 2003-2005 berikut beberapa rasio terpilih disajikan pada
tampilan 9.3. Ramalan neraca tahun 2006 meliputi langkah-langkah berikut ini.

1. Buatlah proyeksi aset lancar selain kas dengan menggunakan proyeksi


penjualan atau harga pokok penjualan dan rasio perputaran yang relevan
seperti dijelaskan di bawah ini.
2. Buatlah proyeksi kenaikan aset tetap dengan estimasi pengeluaran modal yang
didasarkan pada tren historis atau informasi dalam bagian MD&A di laporan
tahunan.
3. Buatlah proyeksi kewajiban lancar selain utang dengan menggunakan
proyeksi penjualan atau harga pokok penjualan dan rasio perputaran yang
relevan seperti dijelaskan di bawah ini.
4. Hitunglah bagian lancar utang jangka panjang (bagian yang jatuh tempo) dari
catatan utang jangka panjang.
5. Utang jangka pendek lainnya diasumsikan tidak berubah dari tahun-tahun
sebelumnya kecuali menunjukkan tren yang jelas berbeda.
6. Saldo awal utang jangka panjang diasumsikan sama dengan utang jangka
panjang tahun lalu dikurangi bagian yang jatuh tempo dari butir (4) di atas.
7. Asumsikan kewajiban jangka panjang lainnya sama dengan saldo tahun lalu,
kecuali menunjukkan tren yang jelas berbeda.
8. Saham biasa awal diasumsikan sama dengan saldo tahun lalu.
9. Laba ditahan diasumsikan sama dengan saldo tahun lalu ditambah (dikurangi)
dengan laba (rugi) bersih dan dikurang dividen yang diperkirakan.
10. Pos ekuitas lainnya diasumsikan sama dengan saldo tahun lalu, kecuali
menunjukkan tren yang jelas berbeda.

Tampilan 9.3
Neraca Target Corporation
Jumlah langkah (3) (10) menghasilkan total kewajiban dan
ekuitas. Karena itu, total asset sama dengan jumlah tersebut dan
angka kas yang dihasilkan dihitung dari total asset dikurangi (1) dan
(2). Pada titik ini, Kas akan terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Selanjutnya, utang jangka panjang dan saham disesuaikan untuk
penerbitan (pembelian kembali) yang diperlukan untuk mencapai
tingkat kas yang diinginkan dan untuk mempertahankan leverage
keuangan historis. Penyesuaian tersebut mengindikasikan tingkat
pendanaan yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan
perusahaan.
Untuk memulai, proyeksi piutang, persediaan, asset tetap,
utang usaha, dan beban yang masih harus dibayar menggunakan
proyeksi penjualan dan harga pokok penjualan serta tingkat
perputarannya. Misalnya, tingkat perputaran piutang didasarkan
pada penjualan tahun berjalan adalah:

Penjualan
Tingkat perputaran piutang usaha = Saldo piutang usaha

Berikutnya, proyeksi piutang usaha dihitung sebagai berikut:

Proyeksi penjualan
Proyeksi piutang usaha = Tingkat perputaran piutang usaha

Proyeksi piutang usaha diasumsikan dengan menggunakan tingkat


perputaran terakhir sebesar 9,24.

Tingkat perputaran persediaan juga menggunakan tingkat


perputaran yang terakhir (didasarkan atas saldo akhir persediaan)
sebesar 5,84, berikut dengan harga pokok penjualan untuk
memproyeksikan persediaan. Analisis yang lebih mendalam akan
membandingkan tingkat perputaran persediaan toko lama dengan
toko baru, serta mengantisipasi pertumbuhan toko baru. Persediaan
saat ini dapat diproyeksikan tumbuh seiring dengan tingkat
pertumbuhan penjualan yang diperkirakan. Persedian tambahan
yang diperlukan untuk toko baru kan ditambahkan pada jumlah
tersebut.

Aset tetap diestimasi berbagai saldo asset tetap kotor tahun


lalu ditambah persentase pengeluaran modal terhadap penjualan
historis. Pengeluaran modal historis diperoleh dari laporan arus kas.
Selama tiga tahun terakhir, persentase pengeluaran modal
terhadap penjualan telah stabil sekitar 6,4% terhadap penjualan.
Persentase 6,43% digunakan untuk mengestimasi pengeluaran
modal tahun 2006. Setelah proyeksi selesai, persentase tersebut
dapat disesuaikan untuk melihat implikasi keuangan atas
pengeluaran modal yang lebih tinggi (rendah).

Estimasi utang usaha didasarkan pada perputaran utang dan


harga pokok penjualan historis. Rasio perputaran terakhir
(didasarkan atas saldo akhir utang usaha) sebesar 5,441 digunakan
untuk mengestimasi utang tahun 2006. Persentase beban yang
masih harus dibayar terhadap penjualan yang diestimasikan
menggunakan tingkat perputaran akrual terakhir sebesar 28,683.
Terakhir, utang pajak diestimasi berdasarkan hubungan utang
terhadap beban pajak historis, dan digunakan tingkat terakhir
sebesar 26,527% untuk memproyeksikan utang pajak tahun 2006.

Jadwal jatuh tempo utang jangka panjang diberikan dalam


catatan atas laporan keuangan. Kita menggunakan angka tahun
2006 dalam jadwal tersebut. Utang jangka panjang awalnya
diestimasi sebagai saldo utang jangka panjang tahun sebelumnya
dikurangi estimasi utang yang jatuh tempo (bagian lancar).
Kemudian, tingkat utang ini disesuaikan untuk mendapatkan saldo
kas dan leverage keuangan yang diinginkan setelah neraca awal
tersusun. Saham biasa dan saham yang diperoleh kembali
diasumsikan sama dengan saldo tahun lalu.

Berdasarkan asumsi-asumsi di atas, proyeksi neraca target


tahun 2006 disajikan pada tampilan 9.4. Berikut ini langkah-langkah
dalam memproyeksikan neraca tersebut.
1. Piutang: $5.650 = $52.204 (penjualan) / 9,24 (perputaran
piutang).
2. Persediaan: $6.001 = $35.047 (HPP) / 5,84 (perputaran
persediaan).
3. Aset lancer lain: tidak ada perubahan.
4. Aset tetap: $25.629 = $22.272 (saldo tahun lalu) + $3.357
(estimasi pengeluaran modal: estimasi penjualan sebesar
$52.204 x 6,431% persentase CAPEX/ penjualan).
5. Akumulasipenyusutan: $6.822 = $5.412 (saldo tahun lalu) +
$1.410 (estimasi penyusutan).
6. Aset tetap bersih: $18.807 = $25.629 - $6.822.
7. Aset jangka panjang lainnya: tidak ada perubahan.
8. Utang usaha: $6.441 = $35.047 (HPP) / 5,411 (perputaran
utang)
9. Bagian lancar utang jangka panjang: jumlah yang dilaporkan
dalam catatan kaki utang jangka panjang sebagai bagian
yang jatuh tempo di tahun 2006.
10. Beban yang masih harus dibayar: $1.820 = $52.204
(penjualan) / 28,683 (perputaran beban yang masih harus
dibayar).
11. Utang pajak: $352 = $1.328 (beban pajak) x 26,527%
(utang pajak / beban pajak).
12. Pajak tangguhan dan kewajiban lain: tidak ada
perubahan.
13. Utang jangka panjang: $8.283 = $9.034 (utang jangka
panjang tahun lalu) - $751 (bagian utang yang jatuh tempo
dari langkah 9).
14. Saham biasa: tidak ada perubahan.
15. Tambahan modal disetor: tidak ada perubahan.
16. Laba ditahan: $13.054 = $11.145 (laba ditahan tahun
lalu) + $2.185 (proyeksi laba bersih) - $276 (estimasi dividen
sebesar $0,31 per lembar saham x 891 juta lembar saham).
17. Kas: Jumlah yang dibutuhkan untuk menyeimbangkan
total kewajiban dan ekuitas dikurangi langkah (1) (7).

Tampilan 9.4
Pr
oyeksi Neraca Target Corporation
Neraca awal memperkirakan saldo kas sebesar $1.402 juta. Jumlah
ini mencerminkan 4,1% dari proyeksi total aset. Meskipun lebih
rendah dari tingkat tahun 2005 sebesar 7% dai total aset, saldo kas
ini masih sejalan dengan persentase sebelumnya di rentang 2-3%.
Jika estimasi saldo kas lebih tinggi atau lebih rendah, penyesuaian
lebih lanjut dapat dilakukan untuk (1) menginvestasikan kelebihan
kas dalam efek yang dapat diperdagangkan (proyeksi laba perlu
disesuaikan untuk tambahan laba investasi non-operasi), atau (2)
mengurangi utang jangka panjang dan/ atau ekuitas secara
proporsional sehingga tetap menjaga tingkat leverage keuangan
yang konsisten dengantahun-tahun sebelumnya. Jika saldo kas
terlalu rendah, utang jangka panjang dan/ atau saham biasa
tambahan dapat ditingkatkan jika dibutuhkan guna menjaga tingkat
leverage keuangan tetap konstan. Proyeksi menunjukkan Target
akan mampu mendanai pertumbuhannya dengan dana yang
tersedia dan kas yang diperoleh secara internal.

Proyeksi Laporan Arus Kas

Proyeksi laporan arus kas dihitung dari proyeksi laporan laba rugi
dan proyeksi di neraca sebagaimana dibahas pada Bab 7. Proyeksi
laporan arus kas disajikan pada Tampilan 9.5. Proyeksi arus kas
bersih dari operasi sebesar $3.295 juta mendanai sebagian dari
pengeluaran modal sebesar $3.357 juta, pengurangan utang jangka
panjang sebesar $504 juta, dan dividen sebesar $276 juta.
Kekurangannya mengakibatkan penurunan kas sebesar $843 juta.

Tampilan 9.5

Proyeksi Laporan Arus Kas Target Corporation


Analisis Sensitivitas

Proyeksi laporam keuangan didasarkan pada hubungan yang


diharapkan antara pos laporan laba rugi dengan pos neraca. Contoh
ini menggunakan rasio terakhir karena operasi Target cukup stabil
dan diasumsikan tidak terdapat perubahan besar dalam strategi
operasi.

Namun, asumsi-asumsi tersebut dapat divariasikan untuk


menganalisis dampaknya pada kebutuhan dana, pengembalian aset
dan ekuitas, dan sebagainya. Misalnya, jika diasumsikan rasio
pengeluaran modal terhadap penjualan naik menjadi 7,5%, maka
pengeluaran modal akan naik menjadi $3,9 miliar, dan saldo kas
akan turun sebesar $845 juta, 2,4% dari total aset dan di bawah
tingkat tahun-tahun sebelumnya. Dalam hal ini, pendanaan
eksternal dalam bentuk utang (ekuitas) akan dibutuhkan. Kenaikan
yang sama dalam kebutuhan pendanaan juga akan mengakibatkan
penurunan perputaran piutang atau persediaan. Analisis sering kali
menyiapkan beberapa proyeksi untuk melihat skenario terbaik
(terburuk) sebagai tambahan atas skenario yang paling mungkin
(most likely) terjadi. Analisis sensitivitas ini menunjukkan asumsi
yang memiliki dampak terbesar pada hasil keuangan sehingga
membantu mengidentifikasi area yang membutuhkan pemeriksaan
lebih lanjut.

Aplikasi Analisis Prospektif dalam Model Penilaian Laba Sisa

Sebagaimana disebutkan pada pendahuluan bab ini, anilisis


prospektif merupakan inti analisis efek. Model penilaian laba sisa,
misalnya, menentukan nilai ekuitas pada waktu t sebagai jumlah
nilai buku kini dan nilai sekarang laba sisa yang diperkirakan di
masa depan:

di mana BV t merupakan nilai buku pada akhir periode t, RI t + n

adalah laba sisa di periode t + n, dan k adalah biaya modal (lihat


Bab 1). Laba residu (residual income) pada waktu t didefinisikan
sebagai laba bersih komprehensif dikurangi pembebanan pada nilai
buku awal, yaitu RI t = NI t (k x BV t1 ).

Proses penilaian memerlukan estimasi laba bersih di masa


depan dan nilai buku ekuitas pemegang saham. Tampilan 9.6
menyajikan sebuah contoh penilaian untuk saham biasa Syminex
Corp di tahun 2005. Dalam bentuk yang relatif sederhana ini, model
penilaian memerlukan estimasi atas enam parameter berikut:
Pertumbuhan penjualan,
Margin laba bersih (laba bersih/penjualan),
Perputaran modal kerja bersih (penjualan/modal kerja bersih),
Perputaran aset tetap (penjualan/ aset tetap),
Leverage keuangan (aset operasi/aset tetap),
Biaya modal ekuitas.

Tampilan 9.6

Penilaian untuk Saham Biasa Syminex

Penjualan diharapkan tumbuh sebesar 8,9% di tahun 2006 dan


9,1%di tahun 2007, kemudian menurun pada tingkat pertumbuhan
8%, 7%, dan 6% untuk tiga tahun berikutnya. Periode lima tahun ini
merupakan horizon peramalan (forecast horizon), periode waktu di
mana kita memiliki keyakinan tertinggi atas estimasi kita.
Selanjutnya, penjualan diasumsikan terus tumbuh pada tingkat
inflasi jangka panjang sekitar 3,5%.

Margin laba bersih diharapkan naik menjadi 9,2% dan 9,4%


selama dua tahun berikutnya, kemudian bertahan pada persentase
tersebut. Tingkat perputaran modal kerja bersih dan aset tetap
diharapkan tetap pada tingkat 11,8271 dan 1,9878 kali. Leverage
keuangan diharapkan juga konstan pada tingkat sekarang sebesar
2,5186. Terakhir, biaya modal ekuitas diperkirakan sebesar 12,5%.

Laba bersih diestimasikan dengan menggunakan proyeksi


penjualandan proyeksi margin laba bersih (penjualan x margin laba
bersih). Modal kerja bersih dan aset tetap diestimasikan dengan
menggunakan proyeksi penjualan dan estimasi tingkat perputaran
untuk modal kerja bersih dan aset tetap (penjualan/tingkat
perputaran). Terakhir, ekuitas diproyeksikan menggunakan rasio
aset operasi terhadap ekuitas (aset operasi = modal kerja bersih +
aset tetap).

Berdasarkan estimasi di atas, laba sisa tahun 2006


diestimasikan sebagai proyeksi laba bersih dikurangi ekuitas awal
tahun x biaya modal ekuitas sebesar 12,5%.

$6.278 = $8.856 ($20,624 x 0,125)

Tahun-tahun setelahnya dalam horizon peramalan dihitung dengan


cara yang sama. Setiap tahun selama horizon peramalan
selanjutnya didiskontokan pada biaya modal ekuitas (12,5%).
Misalnya, faktor diskonto untuk tahun kedua dihitung sebagai
berikut:
1
0,7901 = 1,1252

Nilai sekarang untuk tiap-tiap tahun dalam horizon peramalan


dijumlahkan untuk mendapatkan nilai sekarang kumulatif sampai
tahun 2010 sebesar $26.303.

Proyeksi laba sisa pada tahun 2011 diasumsikan tumbuh pada


tingkat inflasi (3,5%). Nilai sekarang anuitas ini yang didiskontokan
ke tahun 2005 adalah:

1,125


$54.039 = ( 0,1250,35 )
$ 8,764

Estimasi nilai saham biasa Syminex pada tahun 2005 sama dengan
nilai buku ekuitas pemegang saham ($26.303 + $54.039) dengan
total sebesar $100.966. Dengan saham beredar sebanyak 1.737
lembar, nilai per lembar saham biasa Syminex adalah $58,13.

Penilaian ekuitas sangat bergantung pada proyeksi.


Sebagaimana telah dibahas di atas, penilaian harus menguji
sensitivitas estimasi harga saham terhadap asumsi yang mendasari
proyeksi.

Tren Penggerak Nilai

Modal laba sisa menentukan harga saham sebagai nilai buku ekuitas pemegang saham
ditambah nilai sekarang dari laba sisa (residua income-RI) yang diperkirakan, di
mana RI t = NI t (k x BV ). Laba sisa juga dapat dinyatakan dlam bentuk rasio
t-1

sebagai,

RI = (ROE t k) x BV t-1

di mana ROE = NI t/BV t-1. Bentuk ini menekankan kenyataan bahwa harga saham

berubah hanya jika ROE k. Dalam kondisi ekuilibrium, tekanan kompetisi akan

mendorong tingkat pengembalian (ROE) mendekati biaya (k) sehingga laba abnormal
akan hilang. Dengan demikian, estimasi harga saham adalah proyeksi pembalikan
ROE pada nilai jangka panjangnya bagi perusahaan dan industri tertentu.

Tampilan 9.7 menyajikan kinerja ROE untuk kuintil dari seluruh perusahaan dalam
database Computstat. Untuk tiap-tiap tahun, portofolioperusahaan dalam tiap kuitil
ROE dibentuk dan ROE tiap perusahaan dalam portofolio ditelusuri selama 10 tahun
berikutnya. Grafik menyajikan nilai median tiap portofolio. Berikut hasil pengamatan
yang terlihat.

1. ROE cenderung kembali ke ekuilibrium jangka panjang. Hal ini


mencerminkan tekanan kompetisi. Lebih lanjut, tingkat pembalikan bagi
perusahaan yang paling tidak menguntungkan lebih besar daripada tingkat
pembalikan perusahaan yang paling menguntungkan. Dengan demikian,
tingkat pembalikan bagi perusahaan yang memiliki tingkat ROE paling
ekstrem adalah lebih besar daripada tingkat pembalikan bagi perusahaan yang
memiliki tingkat ROE lebih moderat.
2. Pembalikan tidak lengkap, yaitu tetap terdapat perbedaan sekitar 12% antara
perusahaan dengan ROE tertinggi dan perusahaan dengan ROE terendah
meskipun setelah waktu 10 tahun. Hal ini mungkin disebabkan oleh dua hal:
perbedaan risiko yang tercermin dalam perbedaan biaya modal (k); atau
tingkat konservatisme yang lebih tinggi (rendah) dalam kebijakan akuntansi.

Tampilan 9.7
Tampilan 9.7 menyatakan bahwa sebagian pembalikan selesai setelah sekitar 5 tahun.
Hal ini mendukung penggunaan horizon peramalan 5 tahun bagi Syminex karena
tidak terdapat dampak besar pada harga saham setelah titik, di mana ROE = k terlepas
dari asumsi tingkat pertumbuhan penjualan.

ROE dianggap sebagai penggerak nilai (value driver) karena ROE merupakan
variabel yang memengaruhi harga saham secara langsung. Selanjutnya, komponen
ROA dipecah menjadi margin laba dan perputaran (lihat bab 8). Komponen-
komponen tersebut juga merupakan penggerak nilai dan komponen yang
diproyeksikan dalam penilaian Syminex. Karena itu, pemahaman tentang tingkat
pembaliakn untuk komponen-komponen tersebut juga diperlukan.

Tampilan 9.8 menyajikan grafik tentang pembalikan margin laba bersih untuk
kuintil perusahaan dalam database Computstat. Grafik ini dibuat dengan cara yang
sama dengan pembuatan grafik ROE di tampilan 9.7. Tampak jelas tingkat
pembalikan yang signifikan untuk perusahaan dengan margin laba bersih (net profit
margin-NPM) tertinggi dan terendah. Selain itu, tingkat pembalikan untuk
perusahaan dengan laba terendah lebih besar daripada tingkat pembalikan perusahaan
yang paling untung. Tingkat pembalikan untuk dua kelompok ekstrem perusahaan
tersebut lebih besar daripada tingkat pembalikan perusahaan dengan laba yang paling
moderat. Dengan demikian, tetap terdapat selisih antara portofolio dengan NPM
tertinggi atau terendah pada akhir tahun, yang besarnya kurang lebih sama dengan
selisih untuk ROE. Pembalikan ROE tampaknya disebabkan oleh pembalikan NPM.

Tampilan 9.8
Perputaran total aset (total asset turnover-TAT) merupakan komponen kedua
ROA. Tampilan 9.9 menyajikan tingkat pembalikan perputaran total aset yang dibuat
dengan cara yang sama dengan grafik sebelumnya. Walaupun tampak ada
pembalikan, tingkatnya lebih kecil dari tingkat pembalikan ukuran profitabilitas.
Selain itu, terdapat tingkat perputaran aset yang bervariasi antara perusahaan dengan
perputaran tertinggi dan terendah. Hal ini mencerminkan tingkat intensitas modal
yang berbeda-beda.

Saat pembuatan estimasi, proyeksi margin laba dan tingkat perputaran perlu
mempertimbangkan pola pembalikan yang umum dan tingkat penggerak nilai dari
rata-rata jangka panjangnya. Lebih lanjut, kita perlu memperhatiakn karakteristik
industri karena tampilan ini menunjukkan terdapat perbedaan dalam margin laba
bersih-perputaran total aset sebagaimana dibahas pada Bab 8. Dengan demikian,
horizon proyeksi tidak terlalu panjang karena akan mengurangi keyakianan atas
proyeksi dan ROE cenderung kembali mendekat ke biaya modal selama periode
waktu yang relatif pendek.

Tampilan 9.9
---LAMPIRAN 9A PERAMALAN JANGKA PENDEK

Untuk analisis likuiditas jangka pendek, salah satu alat yang berguna adalah
peramalan arus kas jangka pendek (short term cash forecasting). Peramalan
jangka pendek diminati oleh penggunaan internal seperti manajer dan auditor untuk
mengevaluasi aktivitas operasi perusahaan saat ini dan masa depan. Peramalan ini
juga diminati oleh pengguna eksternal seperti kreditor jangka pendek guna menilai
kemampuan perusahaan untuk melunasi utang jangka pendek. Analisis ini
menekankan pada peramalan kas jangka pendek saat kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban jangka pendeknya diragukan. Keakuratan peramalan arus kas
berbanding terbalik dengan horizon peramalan-semakin lama periode peramalan,
semakin berkurang keandalan peramalan tersebut. Hal ini disebabkan jumlah dan
kompleksitas faktor-faktor yang memengaruhi arus kas masuk dan arus kas keluar
yang tidak dapat diestimasikan secara andal dalam jangka panjang. Dalam peramalan
jangka pendek pun, informasi yang jumlahnya signifikan diperlukan. Karena
peramalan arus kas bergantung pada informasi yang tersedia bagi publik, tujuan
analisis ini adalah peramalan yang cukup akurat. Dengan mempelajari dan membuat
peramalan arus kas, analisis akan menghasilkan pandangan yang lebih luas atas pola
arus kas perusahaan.

POLA ARUS KAS


Pola arus kas penting untuk dipelajari sebelum menguji model untuk analisis dan
proyeksi arus kas. Kas dan setara kas (selanjutnya disebut kas) merupakan aset
yang paling likuid. Hampir seluruh keputusan manajemen adalah melakukan investasi
aset atau membayar beban memerlukan kas. Hal ini menyebabkan manajemen lebih
berfokus pada kas daripada konsep dana likuid lainnya. Beberapa pengguna (seperti
kreditor) terkadang menganggap aset seperti piutang dan persediaan sebagai bagian
dari aset yang likuid mengingat pos tersebut bersifat dalam dikonversi menjadi kas
dalam waktu dekat.

Kas yang dimiliki tidak menghasilkan atau hasilnya kecil, dan dalam situasi
kenaikan harga, kas (seperti semua aset moneter) menghadapi penurunan daya beli.
Namun, demikian, kas memiliki rasio yang paling kecil. Manajemen bertanggung
jawab atas keputusan investasi kas dalam bentuk aset atau untuk membayar biaya .
Konversi kas ini meningkatkan risiko karena pemulihan kas dari aktivitas-aktivtas
tersebut kurang pasti. Beragam jenis dan tingkat risiko terkait dengan konversi kas
tersebut. Misalnya, risiko konversi kas menjadi investasi sementara lebih rendah
daripada risiko konversi kas menjadi aset jangka panjang seperti pabrik dan peralatan.
Investasi kas dalam aset atau biaya untuk mengembangkan dan memasarkan produk
baru memiliki risiko pemulihan menjadi kas yang lebih tinggi. Likuiditas jangka
pendek dan solvabilitas jangka panjang bergantung pada pemulihan dan kemampuan
realisasi pengeluaran kas.

Arus kas masuk dan arus kas keluar saling terkait. Kegagalan salah satu aspek
aktivitas bisnis perusahaan akan berdampak pada keseluruhan sistem arus kas.
Kegagalan penjualan berdampak pada konversi persediaan menjadi piutang dan kas
yang mengakibatkan penurunan persediaan kas. Ketidakmampuan perusahaan untuk
mengganti kas dari sumber seperti ekuitas, pinjaman, atau utang usaha dapat
menghambat aktivitas produksi dan mengakibatkan kerugian di penjualan masa
depan. Sebaliknya, membatasi pengeluaran pada pos seperti iklan dan pemasaran
dapat memperlambat konversi persediaan menjadi piutang dan kas. Pembatasan
jangka panjang atas arus kas keluar atau arus kas masuk dapat menurunkan
solvabilitas perusahaan.

Keterkaitan antara arus kas, akrual, dan laba harus disertakan dalam analisis.
Saat persediaan barang jadi yang merupakan akumulasi banyak biaya dan beban
dijual, margin laba perusahaan menghasilkan arus kas masuk dana likuid melalui
piutang dan kas. Makin tinggi margin laba, makin besar pertumbuhan dana likuid.
Laba terutama berasal dari selisih antara penjualan dan harga pokok penjualan (laba
kotor) dan memiliki dampank yang sangat besar pada arus kas. Banyak biaya, seperti
biaya yang berasal dari penggunaan aset tetap atau beban yang ditangguhkan, tidak
membutuhkan pengeluaran kas. Sama halnya dengan pos seperti penjualan tanah
secara cicilan jangka panjang yang menghasilkan piutang tak lancar yang membatasi
relevansi akrual bagi arus kas, ukuran-ukuran tersebut harus digunakan secara tepat
dalam analisis untuk menilai pola arus kas.

Arus kas memiliki keterbatasan dalam satu hal penting. Saat perusahaan
memperoleh kas masuk, manajemen berwenang menentukan penggunaannya. Pilihan
penggunaan ini bergantung pada komitmen pembayaran, seperti dividen, akumulasi
persediaan, pengeluaran modal, atau pembayaran utang. Arus kas juga bergantung
pada kemampuan perusahaan untuk mendapatkan dana dari berbagai sumber seperti
ekuitas dan utang. Manajaemen memiliki wewenang yang besar atas penggunaan arus
kas masuk yang tidak dikomitmenkan (disebut arus kas bebas). Komponen arus kas
beban ini penting dan menjadi perhatian khusus dalam analisis.

PENTINGNYA PERAMALAN PENJUALAN

Keandalan peramalan laba bergantung pada kualitas peramalan penjualan. Dengan


sedikit pengecualian, seperti dana dari aktivitas pendanaan atau dana untuk aktivitas
investasi, sebagian besar arus kas terkait dan bergantung pada penjualan. Peramalan
penjualan meliputi analisis atas:
arah dan tren penjualan,
pangsa pasar,
kondisi industri dan ekonomi,
kapasitas produksi dan keuangan,
faktor kompetisi.

Komponen-komponen tersebut umumnya dinilai bersamaan dengan lini produk yang


berpotensi dipengaruhi oleh kekuatan pasar masing0masing. Contoh berikut ini
mengilustrasikan pentingnya peramalan penjualan.

PERAMALAN ARUS KAS DENGAN ANALISIS PRO FORMA

Kewajaran dan kelayakan ramalan kas jangka pendek biasanya diuji dengan laporan
keuangan pro forma (peforma financial statements). Dalam pengujian ini, asumsi
yang mendasari peramalan kas digunakan untuk menyusun laporan laba rugi pro
forma selama periode yang diramal dan neraca pro forma pada akhir periode ramalan.
Laporan keuangan pro forma ini digunakan untuk menghitung rasio keuangan dan
menyimpulkan hubungan lainnya, dan dibandingkan dengan data historis untuk
menguji kelayakannya. Perbandingan ini harus menyertakan penyesuaian untuk
faktor-faktor yang diperkirakan akan memengaruhinya selama periode yang
diramalakan.

Peramalan arus kas diilustrasikan dengan menggunakan data IT Technologies,


Inc. Baru-baru ini, IT Technologies memperkenalkan prosesor elektronik baru yang
diterima sangat baik oleh pasar. Manajemen IT memperkirakan penjualan selama
enam bulan mendatang yang berakhir pada 30 Juni, tahun ke-1 sebesar (dalam ribuan
dolar): $100, $125, $150, $175, $200, dan $250. Saldo kas pada tanggal 1 Januari,
tahun ke-1 adalah $15.000. Berdasarkan prediksi kenaikan penjualan, IT
mengharapkan saldo kas bulanan minimal sebesar $20.000 untuk bulan Januari; dan
$25.000 untuk bulan Februari; $27.000 untuk bulan Maret; dan $30.000 April, Mei,
dan Juni. IT memperkirakan kebutuhan dana tambahan untuk mendanai peningkatan
penjualan. IT memperkirakan kebutuhan dana tambahan untuk mendanai peningkatan
penjualan. IT merencanakan pembelian mesin baru senilai $20.000 yang didanai
dengan menerbitkan wesel bayar kepada penjual. Wesel tersebut akan dibayar mulai
Februari sebesar $1.000 tiap bulan. Mesin tersebut direncanakan tidak digunakan
sampai bulan Agustus, tahun ke-1.

IT merencanakan beberapa langkah lanjutan untuk mendanai kebutuhan


tersebut. Pertama, dengan menerbitkan komitmen pendanaan dari perusahaan
asuransi untuk membeli obligasi jangka panjang IT senilai $110.000 (dikurangi biaya
penerbitan sebesar $2.500). Penjualan obligasi direncanakan pada bulan April
($50.000) dan bulan Mei ($60.000). IT berencana menjual real estate sebagai sumber
pendanaan tambahan sebesar $8.000 pada bulan Mei dan $50.000 pada bulan Juni,
serta menjual mesin (harga perolehan $25.000 dan nilai buku nihil) seharga $25.000
pada bulan Juni. IT melakukan pendekatan pada bank untuk mendapatkan pendanaan
jangka pendek guna menutupi kebutuhan dana. Sebelum dapat memenuhi permintaan
tersebut, Bank mensyaratkan IT untuk menyiapkan ramalan kas untuk periode enam
bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni, tahun ke-1 dan laporan keuangan pro
forma selama periode tersebut. Bank juga meminta IT untuk menyebutkan
penggunaan kas dan sumber dana untuk pembayaran utang. IT mengakui
pentingnyaperamalan kas dan mulai mengumpulkan data yang diperlukan untuk
memenuhi permintaan tersebut.

Sebagai salah satu langkah awal, IT melakukan estimasi atas pola penagihan
piutang. Pengalaman masa lalu menunjukkan pola penagihan berikut.
Pola penagihan di atas berikut penjulan produk yang diharapkan memungkinkan
penyusunan estimasi penagihan kas disajikan pada Tampilan 9A.1.

Analisis pola beban dalam laporan keuangan periode sebelumnya


menghasilkan estimasi biaya berdasarkan penjualan atau waktu. Tampilan 9A.2
menunjukkan estimasi beban tersebut (kecuali penyusutan sebesar $1.000 per bulan)
saat terjadi. Satu-satunya pengecualian adalah pembelian bahan baku yang dibayar
50% di bulan terjadinya pembelian dan 50% di bulan berikutnya. Persediaan bahan
baku pada tanggal 1 Januari, tahun ke-1, adalah $57.000. IT memperkirakan
persediaan bahan baku pada akhir tiap bulan dari Januari hingga Juni tahun ke-1
masing-masing sebesar: $67.000, $67.500, $65.500, $69.000, $67.000, dan $71.000.
IT juga memperkirakan pla pembayaran utang usaha untuk pembelian bahan baku
tersebut. Tampilan 9A.3 menunjukkan pembayaran yang diperkirakan tersebut.
Karena prosesor elektronik dibuat berdasarkan pesanan, diperkirakan tidak ada
persediaan akhir barang jadi.

Ramalan kas untuk tiap bulan selama enam bulan yang terakhir pada tanggal
30 Juni, tahun ke-1 disajikan pada Tampilan 9A.4. Berdasarkan ramalan ini, laporan
laba rugi pro forma untuk 6 bulan terakhir pada tanggal 30 Juni, tahun ke-1 disajikan
pada Tampilan 9A.5. Neraca aktual IT Technologies per 1 Januari, tahun ke-1 dan
neraca pro forma per 30 Juni, tahun ke-1 juga disajikan pada Tampilan 9A.6.

Laporan pro forma tersebut harus diuji secara kritis serta diuji kelayakan ramalan dan
asumsinya. Rasio dan hubungan yang disimpulkan dalam laporan keuangan pro
forma harus dievaluasi dan dibandingkan dengan rasio historis untuk menentukan
kewajaran dan kelayakannya. Misalnya, rasio lancar IT Technologies pada tanggal 1
Januari, tahun ke-1 sebesar 2,6 naik menjadi 3,5 dalam neraca pro forma per 30 Juni,
tahun ke-1. Selain itu, selama 6 bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni, tahun ke-1,
proyeksi pengembalian ekuitas rata-rata lebih dari 9%. Ukuran tersebut beserta
ukuran-ukuran lainnya seperti perputaran, tren, dan perbandingan common size harus
dievaluasi. Variasi dalam hubungan penting tidak diharapkan harus dijelaskan. Jika
ditemukan kesalahan, asumsi dan harapan harus disesuaikan. Tindakan ini
meningkatkan keandalan laporan pro forma bagi analisis.

Tersedia program spreadsheet elektronik untuk membantu analisis pro forma.


Kemudahan mengubah variabel untuk uji sensivitas meningkatkan manfaat laporan
pro forma. Namun, demikian, kemudahan dan fleksibelitas program seharusnya tidak
rancu dengan perlunya mengembangkan dan menguji estimasi serta asumsi yang
mendasari hasilnya. Kewajaran estimasi dan asumsi penting berikut manfaat analisis
ini bergantung pada evaluasi kritis dan penilaian kita, bukan pada teknologi.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Analisis prospektif merupakan langkah akhir dalam proses analisis laporan keuangan.
Analisis ini dapat dilakukan hanya setelah laporan keuangan historis disesuaikan
untuk mencerminkan kinerja ekonomis perusahaan secara akurat. Analisis prospektif
meliputi peramalan posisi keuangan (neraca), laporan laba rugi, dan laporan arus kas.
2. Analisis prospektif merupakan inti dari penilaian efek Analisis prospektif juga
berguna untuk menguji ketepatan rencana strategis perusahaan dan berguna bagi
kreditor untuk menilai kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya.
3. Dalam metode prospektif, menentukan elemen kunci masa depan dilakukan dengan
tahapan yaitu; 1) mencatat seluruh elemen penting; 2) mengidentifikasi keterkaitan;
3) membuat tabel yang menggambarkan keterkaitan; dan 4) memilih elemen kunci
masa depan.

B. Saran
1. Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan
lebih fokus dan detail dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber -
sumber yang lebih banyak yang tentunga dapat di pertanggung jawabkan.

Anda mungkin juga menyukai