Anda di halaman 1dari 10

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
rahmadnya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Pancasila sebagai landasan
kehidupan berbangsa dan bernegara dengan tepat waktu. Yang mana penulisan makalah ini
kami gunakan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pancasila.
Dalam pembuatan makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, sehingga
kami selaku penyusun membutuhkan kritik dan saran dari pembaca yang nantinya akan kami
gunakan sebagai perbaikan makalah ini selanjutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi penulis maupun pembaca.

Padang, 12 november 2016

Penulis
Daftar Isi
Kata Pengantar......................................................................................................................... i
Daftar Isi.................................................................................................................................. ii
Bab I Pendahuluan................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang.................................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................................................ 2
Bab II Pembahasan.................................................................................................................. 3
1. Pengertian Pancasila............................................................................................................. 3
2. Pancasila Sebagai Landasan Kehidupan Bangsa Indonesia................................................. 6
3. Cara Melestarikan Nilai-nilai Pancasila................................................................................ 8
Bab III Penutup..................................................................................................................... 10
Daftar Pustaka....................................................................................................................... 11
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini makna Pancasila seolah-olah terlupakan oleh sebagian besar masyarakat
Indonesia. Padahal sejarah perumusannya melalui proses yang sangat panjang oleh para
pendiri negara ini. Pengorbanan tersebut akan sia-sia apabila kita tidak menjalankan amanat
para pendiri negara yaitu pancasila yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-4.
Pancasila merupakan rangkaian kesatuan dan kebulatan yang tidak terpisahkan karena
setiap sila dalam pancasila saling berkaitan satu dengan yang lainnya dan kedudukan dari
masing-masing sila tersebut tidak dapat ditukar tempatnya atau dipindah-pindahkan. Hal ini
sesuai dengan susunan sila yang bersifat sistematis-hierarkis, yang berarti bahwa kelima sila
pancasila itu menunjukkan suatu rangkaian urutan-urutan yang bertingkat-tingkat.
Bagi bangsa Indonesia hakikat yang sesungguhnya dari pancasila adalah sebagai
pandangan hidup bangsa dan sebagai dasar negara. Kedua pengertian tersebut sudah
selayaknya kita fahami akan hakikatnya. Selain dari pengertian tersebut, Pancasila memiliki
beberapa sebutan berbeda, seperti :
1. Pancasila sebagai jiwa bangsa
2. Pancasila sebagai kepribadian bangsa
3. Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hokum
4. Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa.
Walaupun begitu, banyaknya sebutan untuk Pancasila bukanlah suatu kesalahan atau
pelanggaran melainkan dapat dijadikan sebagai suatu kekayaan akan makna dari Pancasila
bagi bangsa Indonesia. Karena hal yang terpenting adalah perbedaan penyebutan itu tidak
mengaburkan hakikat Pancasila yang sesungguhnya yaitu sebagai dasar negara. Pengertian
Pancasila tidak dapat ditafsirkan oleh sembarang orang karena akan dapat mengaturkan
maknanya dan pada akhirnya merongrong dasar negara, seperti yang pernah terjadi di masa
lalu. Untuk itu kita sebagai generasi penerus, sudah merupakan kewajiban bersama untuk
senantiasa menjaga kelestarian nilainilai Pancasila sehingga apa yang pernah terjadi di masa
lalu tidak akan terulang di masa yang akan datang. Terutama penerapan pancasila sebagai
landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pancasila?
2. Bagaimana pancasila menjadi landasan kehidupan bangsa Indonesia
3. Bagaimana melestarikan nilai-nilai pancasila ?

BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Pancasila
1. Pancasila sebagai dasar negara
Setiap negara harus mempunyai dasar. Dasar adalah fundamen dari bangungan
negara. Kuatnya fundamen negara akan menguatkan berdirinya negara itu. Kerapuhan
fundamen negara, berakibat lemahnya negara tersebut. Sebagai dasar negara kita pancasila
diartikan sebagai: dasar falsafah negara, philosophis-chegrondslag, Staats fundamentele
norm, weltanschauung. Dasar negara juga diartikan sebagai ideologi.
Negara kita Indonesia, dalam pengelolaan atau pengaturan kehidupan bernegara ini
dilandasai oleh filsafat atau ideologi pancasila. Fundamen negera ini harus tetap kuat dan
kokoh dan tidak mungkin diubah. Mengubah fundamen, dasar, atau ideologi berarti
mengubah eksistensi dan sifat negara proklamasi 1945. Keutuhan negara dan bangsa ini
bertolak dari sudut kuat atau lemahnya bangsa itu berpegang pada dasar negara pancasila . 2.

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa


Pandangan berarti petunjuk atau pedoman. Orang Indonesia, sebagai orang-orang
dinegara lain harus ada pandangan hidupnya. Pandangan hidup inilah sebagai arah yang akan
dituju manusia itu dalam kehidupan. Secara individual, tiap orang akan mempunyai masa
depan yang diharapkan. Juga pandangan disini diartikan sebagai landasan berpijak seseorang
menempuh kehidupan.
Selain pandangan hidup secara individual, kita temukan juga pandangan hidup
kelompok-kelompok. Di Indonesia misalnya, ada pandangan hidup tiap suku bangsa yang
akan berbeda satu dan yang lainnya. Suku-suku bangsa yang menyatu dalam wadah negara,
membentuk bangsa. Bangsa ini juga mempunyai pandangan hidup. Arti pandangan terhadap
bangsa ialah agar setiap pendukung bangsa, dari sudut individual dan kelompok, terikat pada
satu pedoman yang sama, yaitu pancasila. Dari pandangan yang sama itulah keterikatan
semua yang mendukung bangsa itu.
Nilai nilai yang tumbuh dan berkembang pada setiap suku bangsa adalah nilai-nilai
yang harus ditingkatkan dan dikembangkan dalam kehidupan kita berbangsa. Nilai- nilai itu
adalah tatanan tradisional yang berasal dari bangsa itu sendiri. Inilah pegangan hidup untuk
setiap warga negara. Nilai- nilai inilah yang merupakan kepribadian kita, dan yang harus kita
lestarikan dan pelihara agar jangan sampai dirusak oleh nilai- nilai asing. Oleh karena itu, kita
harus menyadarinya agar terhindar dari pengaruh-pengaruh seperti individualisme,
liberalisme, komunisme, dan cara berpikir sekular.
3. Pancasila sebagai cita-cita bangsa
Cita-cita bangsa disini diartikan sebagai tujuan atau idealisme dari bangsa itu dalam
kehidupan bernegara. Negara sebagai wadah bangsa akan menjalankan cita- cita tersebut
melalui tahap- tahap pembangunan, sebagai mana yang sedang berjalan sekarang ini.
Idealisme atau cita- cita bangsa ini dari sudut yuridis-konstitusional dalam pembukaan
Undang- Undang Dasar 1945. Cepat atau lambatnya pencapaian tujuan bangsa itu ditentukan
oleh keuletan bangsa itu sendiri. Jadi, kalau kita ingin agar cita-cita kita segera terealisasi,
maka kita harus bekerja dalam arti membangun bangsa ini dengan penuh kesadaran dan
tanggung jawab untuk masa sekarang dan generasi mendatang. Cita- cita bangsa itu akan
tercapai kalau negara dibentuk secara nyata oleh semua lapisan masyarakat ataupun
perorangan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
4. Pancasila sebagai sumber hukum
Undangundang dasar adalah landasan yuridis perjalanan dan pengeloaan negara.
Undangundang dasar 1945 didahului oleh kata pembukaan. Kedudukan pembukaan adalah
wujud utama yang nantinya dijabarkan dalam batang tubuh undang- undang dasar itu. Oleh
karena pembukaan itu didalamnya berintikan pancasila, maka pancasila merupakan pedoman
dan dasar dalam perundangundangan. Semua produk lembaga negara dibidang perundang-
undangan harus berpedoman kepada pancasila. Tidak dimungkinkan adanya perundang-
undangan yang tidak dijiwai oleh pancasila.
Pancasila sebagai sumber hukum ini secara yuridis juga ditemukan dalam beberapa
ketetapan MPR, antara lain TAP No. XX/MPRS/1966- jo TAP MPR No. V/MPR/1973- Js
TAP No. IX/MPR/1978. Kesimpulan yang bisa kita tarik dari penjelasan ketetapan MPR,
antara lain dikatakan: tertib hukum adalah pandangan hidup bangsa, kesadaran dan cita-cita
hukum serta cita- cita moral yang diliputi suasana kejiwaaan serta watak bangsa sendiri. Cita-
cita disini diartikan sebagai kemerdekaan dari sudut individu, masyarakat dan bangsa,
kemanusiaan, keadilan sosil, kemerdekaan nasional dan mondial.

5. Pancasila sebagai jiwa dan pemersatu bangsa


Jiwa adalah pertanda adanya kehidupan. Kejiwaan sifatnya memperhatikan dan
mengetahui secara sadar atas eksistensinya. Setiap bangsa bisa berdiri dan kuat kalau ada
dukungan kejiwaan dari anggotanya. Setiap bangsa harus punya jiwa atau geist. Geist itu
akan menumbuhkan kesadaran bagi pendukung bangsa itu. Bagi kita geist itu adalah
pancasila. Jiwa bangsa kita sama lahirnya dengan bangsa itu sendiri, dengan kata lain,
pancasila sama lahirnya dengan adanya bangsa Indonesia itu.
Setiap kelompok suku bangsa diikat atau dipersatukan oleh tatanan dan kultur dari
kelompok itu. Kultur kelompok aka tercermin dalam sikap atau kepribadian kelompok itu.
Pancasila adalah ikatan batiniah/ psikologis atau tali halus secara kejiwaan yang mengikat
bangsa dan kesadaran berbangsa. Oleh karena itu, terpaut kewajiban kepada semua kita untuk
tetap menghidupkan jiwa dan ikatan kejiwaan untuk menegakkan dan kuatnya bangsa kita.
Kalau pancasila terlepas sebagai pegangan kejiwaan, maka bangsa ini akan rapuh dan goyah.
Menjiwai pancasila akan menguatkan bangsa, tidak menjiwai pancasila akan meruntuhkan
bangsa.
6. Pancasila sebagai kepribadian bangsa
Kepribadian atau personalitas adalah spesifikasi dalam penampilan. Tiap bangsa
punya kekhususan atau punya identitas yang membedakannya dengan bangsa lain. Orang
India, Arab, atau orang dari benua Afrika akan cepat kita kenal karena mereka tampil dengan
identitasnya masing masing. Identitas ini tercermin dari sikap, tingkah laku dan amal
perbuatannya. Kita orang Indonesia punya identitas sebagai bangsa, yaitu pancasila.
Pancasila inilah yang menjadi identitas bangsa Indonesia ditengah- tengah pergaulan dan
persinggungan dengan bangsa lain didunia ini. Bangsa Indonesia tidak boleh melepaskan
identitasnya sebagai bangsa Indoenesia, jadi haruslah kita menjauhkan sikap atau kepribadian
yang individualis-materialis, sikap proletariat komunis dan sikap yang liberal, karena
akibatnya akan mengaburkan identitas bangsa kita.
7. Pancasila sebagai ketahanan bangsa
Relevansi suatu ideologi, baik keluar maupun ke dalam, ialah untuk ketahanan bangsa
itu sendiri. Bangsa dan negara yang kuat ialah bangsa yang teguh dalam keyakinan
ideologinya. Secara teori, ketahanan bangsa ditentukan oleh banyak faktor, seperti militer,
ekonomi, geopolitik, teknologi, dan ideologi. Dalam hal ini kita menekankan bahwa
ketahanan nasional itu lebih banyak ditentukan oleh keyakinan ideologi dari pendukung
bangsa itu sendiri. Oleh karena itu, dalam ketahanan nasional kita temukan delapan modal
ketahanan nasional yang dikenal dengan istilah pancagatra dan trigatra. Dalam pancagatra
itulah kita temukan faktor ideologi (pancasila) sebagai modal dalam ketahanan nasional dan
negara kita. Bangsa itu akan kuat dari segala ancaman, baik dari luar maupun dari dalam.
Kalau bangsa itu menyakini ideologinya sendiri. Untuk itu kita harus secara terus-menerus
meningkatkan kesadaran dalam rangka menjiwai ideologi pancasila. Meyakini ideologi
sendiri berarti sadar akan ketahanan bangsa.

2. Pancasila Sebagai Landasan Kehidupan Bangsa Indonesia


Menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, BPUPKI memusyawarahkan dasar
Negara dan UUD Negara. Kemudian oleh pendiri Negara (PPKI) ditetapkan dan disahkan
UUD Negara kita pada 18 Agustus 1945 yang didalam Pembukaan UUD Negara ini termasuk
dasar Negara (dasar filsafat Negara) yang dikenal dengan nama Pancasila. Kedudukan
pancasila sebagai dasar Negara dalam Pembukaan UUD 1945 yang bersifat yuridis-
konstitususional. Artinya nilai Pancasila sebagai norma dasar Negara bersifat imperatif,
artinya mengikat dan memaksa semua yang ada didalam wilayah kekuasaan hukum Negara
RI untuk setia melaksanakan, mewariskan, mengembangkan dan melestarikan. Semua warga
Negara, pejabat/pimpinan, lembaga Negara, bahkan hukum perundangan wajib bersumber
dan sesuai dengan nilai Pancasila. Dengan demikian kedudukan Pancasila sebagai dasar
Negara (filsafat Negara) berarti pula sebagai norma obyektif dan norma tertinggi dalam
Negara, sumber dari segala sumber hukum yang berlaku.
Kedudukan pancasila sebagai dasar Negara termaksud (termaktub) secara yuridis-
konstitusional dalam pembukaan UUD 1945. Bahkan nilai-nilai filosofis dan ideologis
Pancasila ini menjelma di dalam Batang Tubuh (pasal-pasal). Karena itu nilai Pancasila UUD
1945 adalah kesatuan tunggal yang organis laksana hubungan jiwa dan raga. Artinya nilai-
nilai filosofis-ideologis Pancasila dalam Pembukaan menjiwai dan melandasi norma-norma
yuridis-konstitusional dalam Batang Tubuh (pasal-pasal).
Asas ini dapat kita hayati dalam nilai-nilai seagai berikut:
Nilai-nilai fundamental dalam Pembukaan UUD 1945 adalah penjelmaan sila-sila
pancasila:
a. Pokok pikiran pertama, Negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia; Negara mengatasi segala paham golongan dan paham
perseorangan.
b. Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
c. Negara yang berkedaulatan rakyat berdasar atas kerakyatan dan permusyawaratan
perwakilan.
d. Negara berdasar atas Ketuhana Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil
dan beradap.
Oleh karena itu UUD harus mengandung isi yang mewajibkan Pemerintah dan lain-
lain penyelenggara Negara untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dengan
memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur. Keseluruhan pokok pikiran dalam
Pembukaan ini jiwa dan inti nilainya sesungguhnya adalah dasar Negara Pancasila.
Bahkan sebagai wujud sistem kenegaraan maka pula dasar tata Negara RI berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945
Susunan tata nilai kebangsaan dan kenegaraan Indonesia berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945 dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Pancasila (dasar Negara, filsafat Negara dan ideology nasional) adalah landasan adil
kenegaraan dan kebangsaan Indonesia.
2. UUD 1945 (konstitusi Negara, hukum dasar tertulis Negara) adalah landasan
struktural dan konstitusional kenegaraan dan kebangsaan Indonesia.
3. Tap MPR (kebijaksanaan Negara, kebijaksanaan nasional) adalah landasan
operasional kenegaraan dan kebangsaan Indonesia.
Ketiga nilai ini merangkai mencerminkan sistem kenegaraan Republik Indonesia berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945. Sistem kenegaraaan Republlik Indonesia demikian dapat juga
disebut sistem Demokrasi Pancasila. Dengan demikian, pancasila sebagai dasar Negara
menjelma sebagai sistem kenegaraan ( dan sistem ideologi).
3. Cara Melestarikan Nilai- Nilai Pancasila
Untuk melestarikan nilai- nilai pancasila agar dapat dihayati dan diamalkan segenap
lapisan masyarakat, perlu adanya usaha usaha yang terencana dan terpadu. Sehingga proses
sosialisasi dan kristalisasi nilai yang luhur itu baik terhadap warga negara yang ada pada
periode kini maupun generasi yang akan datang, dapat berjalan selaras dan efektif.
Pada dasarnya usaha ini diarahkan kepada pembinaan manusia Indonesia agar
menjadi insan pancasila yang menuju pembangunan manusia seutuhnya berdasarkan
pancasila. Dalam menerapkan nilai- nalai pancasila tersebut, baik secara historis mupun
secara sosiologis, maka peranan pendidikan amatlah penting baik yang berujud pendidikan
formal, informal maupun nonformal. Peran dari setiap sarana pendidikan tersebut lebih
tegasnya digambarkan sebagai berikut:
1. Keluarga
Sebenarnya perana keluarga tidak kalah pentingnya dibanding dengan sekolah, bahkan
pengaruh keluarga jauh mendahului sekolah. Oleh karena itu pembinaan keluarga agar
menjadi lingkungan yang benar-benar dijiwai oleh nilai nilai pancasila harus menjadi
kesadaran masyarakat. Keluarga kita harus menjadi keluarga pancasila yang menjadi wadah
pembentukan insan pancasila dan sekaligus menjadi pangkal pembentukan masyarakat
pancasila. Penghayatan dan pengamalan pancasila perlu ditanam, dipupuk dan dikembangkan
didalam diri anak-anak sejak kecil.
2. Sekolah
Penanaman nilai nilai pancasila di sekolah mutlak harus dimulai dengan memberi suri
tauladan dari para guru. Karena pengintegrasian pancasila dalam kurikulum mulai dari
tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi akan sia sia belaka bila tanpa diimbangi
dengan sikap ketauladanan guru tersebut. Disini suasana belajarpun mutlak harus diladasari
oleh nilai-nilai pancasila.
3. Lingkungan hidup
Sebagaimana dipahami bahwa perubahanperubahan sosial senantiasa berkaitan erat dengan
lingkungan yang mengelilinginya, terlebih lagi perubahan pada generasi muda dan anak.
Proses transformasi akan berhasil dengan baik apabila keadaan lingkungan baik pula.
4. Media massa
Walaupun pola penanaman nilai-nilai pancasila melalui jalur media massa dapat digolongkan
menjadi salah satu jalur pendidikan dalam artian lebih luas, namun arti penting dari media
massa tetap harus ditunjukkan sebagai salah satu jalur tersendiri. Dalam jalur ini ditekankan
pentingnya jalur tradisional, seperti pewayangan disamping jalur media massa modern seperti
film, radio, dan sebagainya.
5. Jalur organisasi dan politik
Selaras dengan tekad Orde Baru yang menghendaki perwujudan pancasila secara murni dan
konsekuen, maka kirinya semua kader anggota setiap kekuatan kekuatan sosial harus
berusaha melaksanakan apa yang telah menjadi kesepakatan nasional, yakni mewujudkan
masyarakat adil, makmur berdasarkan pancasila.
Yang tampak sekarang dari upaya melestarikan nilai-nilai pancasila melalui jalur- jalur
tersebut dimuka kurang efektifnya sebagai jalur itu. Hal ini dilandasi oleh suatu sikap mental
pribadi-pribadinya. Artinya kesadaran dari pribadi itu sendiri belum tersentuh secara
psikologis.
Dalam pemakaian jalur sekolah misalnya, akan lebih baik dan berhasil apabila
penyampaian dari nilai itu ditekankan kepada nilai keilmuannya melulu. Melainkan kepada
penghayatan dan pengamalannya. Yang jelas dengan tidak mengecilkan arti penting dari
setiap jalur, bahwa jalur kekeluargaan harus diperhatikan lebih utama, mengingat bahwa jalur
ini sifatnya lebih manusiawi dan alamiah. Kerangka pemakaian jalur ini sebenarnya baru
hanya berupa asumsi, bukan merupakan justifikasi yang valid. Dengan demikian apabila
kepemimpinan yang berlandaskan pancasila telah dapat diterapkan dengan baik dalam
keluarga maka dengan sendiri- sendirinya pelestarian nilai-nilai pancasila akan terlaksana
dengan baik

BAB III
KESIMPULAN
Dasar negara adalah landasan kehidupan berbangsa dan bernegara yang
keberadaannya wajib dimiliki oleh setiap negara dalam setiap detail kehidupannya. Dasar
negara bagi suatu negara merupakan suatu dasar untuk mengatur semua penyelenggaraan
yang terbentuk dalam sebuah negara. Negara tanpa dasar negara berarti negara tersebut tidak
memiliki pedoman dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara, maka akibatnya negara
tersebut tidak memiliki arah dan tujuan yang jelas, sehingga memudahkan munculnya
kekacauan. Dasar negara sebagai pedoman hidup bernegara mencakup norma bernegara, cita-
cita negara, dan tujuan negara. Istilah dasar negara terbentuk dari dua kata yaitu dasar dan
negara. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, kata dasar berarti gagian yang terbawah, alas,
fundamental, asas, pokok atau pangkal (suatu pendapat atau aturan, dsb). Sedangkan kata
Negara berarti persekutuan bangsa dalam satu daerah yang tentu batas-batasnya yang
diperintah dan diurus oleh badan pemerintahan yang teratur, daerah dalam lingkungan satu
pemerintah yang teratur. Dasar negara merupakan suatu norma dasar dalam penyelenggaraan
bernegara. Sebagai suatu konsep norma hukum tertinggi atau sumber dari segala sumber
hukum dalam suatu negara yang berintikan seperangkat nilai yang bersifat menyeluruh dan
mendalam sebagai fandemen yang kokoh dan kuat serta bersumber dari pandangan hidup
serta cerminan dari peradaban, kebudayaan, keluhuran budi dan kepribadian yang tumbuh
dalam sejarah perkembangan suatu negara dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.

Daftar Pustaka

Jamat. 1984. Pokok-pokok Bahasan Pancasila. Bandung: Remaja Karya.

Soebantardjo. 1988. Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi IKIP Malang. Surabaya: