Anda di halaman 1dari 4

Irin Yuliyanti

1110714038
Mata kuliah yang diperbaiki nutrigenomik

1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan)

Dalam rangka meningkatkan kualitas anak dan menurunkan masalah gizi yang ada
saat ini mucul sebuah gerakan baru yakni Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan yang
merupakan suatu gerakan dalam rangka percepatan perbaikan gizi yang diadopsi dari gerakan
Scaling Up-Nutrition (SUN) Movement. Gerakan Scaling Up-Nutrition (SUN) Movement
sendiri merupakan suatu gerakan yang bersifat global dan berada di bawah pengawasan PBB
(Persrikatan Bangsa Bangsa). gerakan ini muncul karena merupakan respons dari seluruh
negara-negara di dunia terhadap kondisi status pangan dan juga gizi di negara maju dan
berkembang. Tujuan global dari SUN Movement yakni adalah untuk menurunkan masalah
gizi pada 1000 HPK yaitu dari awal kehamilan sampai usia 2 tahun. Periode 1000 HPK ini
pun telah dibuktikan secara ilmiah bahwa periode ini merupakan waktu yang dapat
digunakan untuk menentukan kualitas kehidupan seseorang, dan oleh karena itu periode ini
juga disebut sebagai periode emas (Kemenko Kesra RI, 2013). Pemenuhan asupan gizi
pada 1000 HPK anak sangatlah penting, karena jika pada rentang usia tersebut anak
mendapatkan asupan gizi yang baik dan optimal maka penurunan status gizi anak bisa
dicegah sejak dini.
Seribu hari itu sendiri terdiri dari 2 waktu yaitu 270 hari dalam masa kandungan dan
730 hari mulai saat sejak bayi dilahirkan ke dunia hingga bermumur 2 tahun, gerakan 1000
HPK bukanlah sebuah gerakan inisiatif, institusi ataupun pembiayaan baru melainkan
gerakan ini merupakan gerakan untuk meningkatkan efektivitas dari inisiatif yang telah ada
dengan meningkatkan koordinasi termasuk dukungan teknis, advokasi tingkat tinggi, maupun
kemitraan yang bersifat inovatif, dan serta partisipasi dalam rangka meningkatkan keadaan
gizi, kesehatan masyarakat, dan juga pembangunan, gerakan ini juga perlu didukung dengan
kepemimpinan nasional dan daerah yang cukup kuat, meningkatkan partisipasi dari seluruh
pemangku kepentingan, dan bukan hanya dari pemerintah tetapi juga dari dunia usaha,
organisasi profesi serta lembaga kemasyarakatan. Dengan dibuatnya dan diadakannya
Gerakan Nasional Sadar Gizi dalam Rangka Percepatan Perbaikan Gizi pada 1000 Hari
Pertama Kehidupan (Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan) diharapkan semua pemangku
kepentingan mempunyai pemikiran, komitmen serta langkah nyata yang tentunya sudah
terkoordinasi dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran untuk terselenggarannya
gerakan 1000 HPK ini di berbagai tingkat administrasi baik di pusat, provinsi, kabupaten dan
juga kota.
Di dalam Pedoman Perencanaan Program Gizi pada 1000 HPK menjelaskan bahwa
gizi 1000 HPK terdiri dari dua bentuk kegiatan, yaitu yang pertama intervensi spesifik dan
yang kedua intervensi sensitif. Kedua intervensi ini sangat baik bila keduanya mampu
berjalan bersamaan karena dampaknya bersifat sustainable dan juga bersifat jangka panjang,
mengacu kepada pentingnya 1000 HPK, PBB telah melahirkan dan meluncurkan gerakan
Scaling Up Nutrition (SUN Movement) pada tahun 2010 dan hingga saat ini telah diikuti oleh
sebanyak 54 Negara termasuk Indonesia. Gerakan ini dilakukan dalam rangka sebagai bentuk
upaya kolaboratif pemerintah dengan masyarakat untuk mewujudkan penguatan kesadaran
serta komitmen yang menjamin akses masyarakat terhadap makanan yang bergizi. Sebagai
tindak lanjut dalam level nasional, dan saat ini pemerintah telah berkomitmen melalui
Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam Rangka 1000 Hari Pertama Kehidupan
(Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan atau Gerakan 1000 HPK) yang ada sejak tahun
2012 yang juga diinisiasi oleh Kemenko PMK (d/h Kemenkokesra). Gerakan ini kemudian
juga diperkuat dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 42 tahun 2013 tentang
Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Perpres nomor 42 tahun 2013 ini
mengamanatkan bahwa adanya upaya bersama antara pemerintah dan juga masyarakat
melalui penggalangan partisipasi serta kepedulian pemangku kepentingan secara terencana
dan juga terkoordinasi untuk percepatan perbaikan gizi masyarakat dengan prioritas pada
1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan).
Sasaran utama dalam gerakan perbaikan gizi 1000 HPK adalah dari periode janin di
dalam kandungan sampai periode baduta (bawah dua tahun), dan dengan ini di harapkan
gangguan gizi yang terjadi pada masa 1000 HPK yang tidak dapat ditangani dengan baik
dapat tertangani dan tidak akan mendatangkan dampak negatif yang luas bagi anak, sampai
nanti mencapai kehidupan dewasa. Di awali dari masa janin di dalam kandungan. Gangguan
gizi yang terjadi pada janin diakibatkan karena kurangnya asupan zat gizi dari si ibu. Dalam
istilah medis disebut dikenal dengan nama Developmental Plasticity yang artinya adalah
janin mempunyai dan memiliki sifat plastisitas atau fleksibilitas pada periode perkembangan
di dalam kandungan. Janin di dalam kandungan akan menyesuaikan diri dengan apa yang
terjadi pada ibunya dan juga apa yang diasup oleh ibunya selama masa kehamilan. Jika
asupan zat gizi ibu kurang maka janin pun juga akan mengurangi sel-sel perkembangan
tubuhnya, selain itu Developmental Plasticity juga akan menyebabkan system menjadi
bersifat plastis dan sensitif terhadap lingkungan, dan jika zat gizi yang dibutuhkan janin tidak
terpenuhi dengan baik dan optimal maka plastisitas dan juga kapasitas fungsional yang
menetap pada janin akan menghilang, plastisitas tidak hanya untuk dalam keadaan
kekurangan gizi, tetapi juga mencakup semua kerentanan lingkungan, termasuk lingkungan
dengan keadaan gizi berlebih yang berhubungan dengan kejadian obesitas maternal dan juga
diabetes gestasional.
Setelah janin dari dalam kandungan yang mengalami kekurangan zat gizi, pada masa
setelah kelahiran, bayi pun juga akan tetap menyesuaikan mekanisme tubuhnya untuk
menerima zat gizi sesuai apa yang terjadi selama masa kehamilan. Oleh sebab itu, jika
gangguan gizi ini berlangsung selama masa dibawah dua tahun, akan dapat menyebabkan
gangguan gizi kronis berupa bayi stunting (pendek). Efek jangka pendek yang akan terjadi
antara lain adalah pada anak akan terjadi gangguan perkembangan otak, karena di masa
baduta adalah masa periode emas perkembangan otak anak. Selain itu juga akan terjadi
gangguan pada pertumbuhan anak. Jika hal tersebut tidak tertangani dengan baik, maka aakn
timbul masalah lain yaitu efek jangka panjang dimana efek jangka panjang yang terjadi
adalah minimnya kemampuan kognitif anak dan prestasi pendidikan yang diakibatkan karena
perkembangan otak yang terganggu dan tidak sesuai. Kemudian gangguan pertumbuhan akan
menyebabkan juga rendahnya daya tahan tubuh anak serta kemampuan kerja anak ataupun
produktifitas anak yang tidak optimal.
Selain gangguan gizi kronis, gangguan gizi 1000 HPK juga dapat menyebabkan
gangguan gizi akut, yaitu berupa kelebihan gizi (kegemukan/obesitas) dan kekurangan gizi
(kurus). Bayi yang mengalami kekurangan zat gizi secara akut akan dapat menyebabkan bayi
menjadi kurus atau wasting. Apabila kekurangan zat gizi ini berlangsung lama maka akan
menyebabkan adanya gangguan gizi lain yaitu KEK (Kekurangan Energi Kronis) dan KEP
(Kekurangan Energi Protein). Jika gangguan gizi ini tidak ditangani dengan baik maka akan
berakibat pada kematian bayi dikarenakan mekanisme tubuhnya sudah tidak sanggup untuk
mempertahankan diri dalam keadaan kelaparan yang berlangsung lama. Karena keadaan
tersebut juga mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh pada bayi sehingga bayi dengan
wasting akan lebih sering mengalami penyakit infeksi, dan diketahui 20% kematian bayi gizi
buruk diakibatkan oleh penyakit penyakit infeksi seperti infeksi paru-paru mapupun
pneumonia.
DAFTAR PUSTAKA

file:///D:/ChapterII.pdf

http://file.persagi.org/share/EndangAchadi.pdf

http://repository.usu.ac.id/.pdf

http://www.scribd.com