Anda di halaman 1dari 34

INSPIRASI PENILAIAN MATA PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI,

OLAHRAGA, DAN KESEHATAN


SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH
(SMP/MTs)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


JAKARTA, 2017

1|Page
DAFTAR ISI

Halaman Judul 1
Daftar Isi 2

BAB I PENDAHULUAN 3
A. Latar Belakang 3
B. Tujuan 4
C. Ruang Lingkup 4
D. Sasaran 4

BAB II KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN PJOK SMP/MTs 6


A. Rasional 6
B. Tujuan 7
C. Ruang Lingkup 8

BAB III DESAIN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI, 9


OLAHRAGA, DAN KESEHATAN
A. Kerangka Pembelajaran 9
B. Pendekatan 10
C. Strategi dan Metode 11
D. Gaya Mengajar 14
E. Model Pembelajaran 15
F. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 16

BAB IV PENILAIAN SIKAP, PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN 18


DALAM PENDIDIKAN JASMANI,
OLAHRAGA, DAN KESEHATAN
A. Penilaian Sikap 18
B. Penilaian Pengetahuan 21
C. Penilaian Keterampilan 24

BAB V MEDIA DAN SUMBER BELAJAR 28


A. Media 28
B. Sumber Belajar 29

BAB VI GURU MATA PELAJARAN PJOK DALAM PEMBELAJARAN 30


ABAD 21

BAB VII PENUTUP 33

2|Page
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa
kini dan masa mendatang. Pandangan ini menjadikan Kurikulum 2013 dikembangkan
berdasarkan budaya bangsa Indonesia yang beragam, diarahkan untuk membangun
kehidupan masa kini, dan di masa yang akan datang. Mempersiapkan siswa untuk
kehidupan masa depan selalu menjadi kepedulian kurikulum. Hal ini mengandung
makna bahwa kurikulum adalah rancangan pendidikan untuk mempersiapkan
kehidupan generasi muda bangsa. Dengan demikian, tugas mempersiapkan generasi
muda bangsa menjadi tugas utama suatu kurikulum. Untuk mempersiapkan kehidupan
masa kini dan masa depan siswa, Kurikulum 2013 mengembangkan pengalaman
belajar yang memberikan kesempatan luas bagi siswa untuk menguasai kompetensi
yang diperlukan bagi kehidupan di masa kini dan masa depan. Pada waktu yang
bersamaan tetap mengembangkan kemampuan mereka sebagai pewaris budaya bangsa
dan orang yang peduli terhadap permasalahan masyarakat dan bangsa masa kini.
Selama ini telah terjadi kecenderungan dalam memberikan makna mutu pendidikan
yang hanya dikaitkan dengan aspek kemampuan kognitif. Pandangan ini telah
membawa akibat terabaikannya aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni,
psikomotor, serta life skill. Dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun
2013 tentang Standar Nasional Pendidikan akan memberikan peluang untuk
menyempurnakan kurikulum yang komprehensif dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan nasional.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki
kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif,
inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.
Kurikulum 2013 dirancang dengan karakteristik sebagai berikut:
1. mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial,
rasa ingin tahu, kreativitas, kerjasama dengan kemampuan intelektual dan
psikomotorik;
2. sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar
terencana dimana siswa menerapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat
dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar;
3. mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya
dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat;
4. memberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan berbagai sikap,
pengetahuan, dan keterampilan;
5. kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih
lanjut dalam kompetensi dasar mata pelajaran;
6. kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi (organizing elements)
kompetensi dasar, di mana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran
dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi
inti;
7. kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling

3/Page
memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan
jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal).

Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan merupakan mata pelajaran kelompok B


di dalam struktur kurikulum SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK. Mata
pelajaran PJOK di dalam kerangka Kurikulum 2013 diintegrasikan dengan
pengembangan budaya lokal, hal ini berarti budaya lokal yang berkaitan dengan
konteks gerak dapat dimasukkan ke dalam kompetensi inti dan kompetensi dasar yang
sudah ada. Namun apabila tidak dapat diintegrasikan ke dalam kompetensi dasar yang
ada, maka daerah/sekolah dapat merumuskan kompetensi dasar tersendiri.
PJOK pada penjelasan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 37 UU
dituliskan, bahwa bahan kajian pendidikan jasmani, dan olahraga dimaksudkan untuk
membentuk karakter siswa agar sehat jasmani dan rohani, dan menumbuhkan rasa
sportivitas. PJOK ditekankan untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan
psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai
(sikap mental, emosional, sportivitas, spiritual, dan sosial), serta pembiasaan pola
hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan
kualitas fisik dan psikis yang seimbang. Selain tujuan utama tersebut dimungkinkan
adanya tujuan pengiring, tetapi porsinya tidak dominan.
Sesuai dengan penjelasan tersebut William H Freeman (2007:27-28) menyatakan
bahwa pendidikan jasmani menggunakan aktivitas jasmani untuk menghasilkan
peningkatan secara menyeluruh terhadap kualitas fisik, mental, dan emosional siswa.
Berangkat dari pandangan yuridis dan akademis tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa PJOK merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan
untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan
berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral,
aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani,
olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka
mencapai tujuan pendidikan nasional.
Mengingat tantangan yang berat bagi guru PJOK untuk menjalankan profesinya dalam
Implementasi Kurikulum 2013 perlu disusun panduan pelaksanaan pembelajaran mata
pelajaran ini.

B. Tujuan

Buku ini bertujuan untuk memberikan inspirasi guru dalam melakukan pengelolaan
dan penyelenggaraan pembelajaran PJOK dalam:
1. Memahami konsep Kurikulum 2013.
2. Menyusun perencanaan pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik berbasis
aktivitas.
3. Mengelola kegiatan belajar mengajar yang memuat pengembangan sikap,
pengetahuan, dan keterampilan.
4. Melakukan penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
5. Mengintegrasikan muatan lokal ke mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga,
dan kesehatan.
6. Memahami lingkup materi pembelajaran di setiap jenjang pendidikan.

C. Ruang Lingkup

Buku ini memuat 6 (enam) bab yang saling berkaitan, yakni:

Bab I : Pendahuluan
Bab II : Karakteristik Mata Pelajaran PJOK
Bab III : Desain Pembelajaran Mata Pelajaran PJOK

4/Page
BabIV : Penilaian Mata Pelajaran PJOK
Bab V : Sumber dan Media Pembelajaran
Bab VI : Guru Mata Pelajaran PJOK dalam Pembelajaran Abad 21
Bab VII : Penutup

D. Sasaran
Sasaran dari penulisan buku ini adalah:
1. Guru mata pelajaran PJOK pada satuan pendidikan SMP/MTs
2. Kepala Sekolah
3. Pengawas Sekolah dan Mata Pelajaran
4. Dinas Pendidikan/Instansi terkait lainnya

5/Page
BAB II
KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA,
DAN KESEHATAN

A. Rasional
Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan pada hakikatnya adalah proses
pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik
(menyeluruh) dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional.
PJOK memperlakukan anak sebagai satu kesatuan yang utuh, dari pada hanya
menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.
PJOK merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis,
keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap
spiritual-sosial-mental-emosional), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara
untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang
seimbang.
Tidak ada pendidikan yang tidak mempunyai sasaran pedagogik, dan tidak ada
pendidikan yang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani, karena gerak sebagai
aktivitas fisik adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri
yang berkembang secara alamiah, berkembang searah dengan kemajuan zaman.
Melalui pendidikan jasmani anak didik akan memperoleh pengalaman untuk
mengembangkan kreatifitas, inovasi, keterampilan, dan kebugaran jasmani, kebiasaan
hidup sehat, memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap gerak manusia.
PJOK membantu siswa mengembangkan pemahaman tentang apa yang mereka
perlukan untuk membuat komitmen seumur hidup tentang arti penting hidup sehat,
aktif dan mengembangkan kapasitas untuk menjalani kehidupan yang memuaskan dan
produktif.
Penelitian telah menunjukkan keterkaitan antara peningkatan aktivitas fisik dan
prestasi akademik yang lebih baik, kualitas konsentrasi, serta kualitas perilaku kelas
dalam proses belajar. Manfaat lain termasuk perbaikan dalam kesejahteraan
psikologis, kemampuan fisik, konsep-diri, dan kemampuan untuk mengatasi stres.
Harapannya kurikulum PJOK ini juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk
mengembangkan keterampilan sosial dan kesejahteraan emosional. Demikian juga
pengaruh dari pendidikan jasmani dari sisi kesehatan, di mana siswa akan belajar
keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses dalam hidup aktif dan warga yang
bertanggung jawab secara sosial.
PJOK yang diajarkan di sekolah memiliki peranan sangat penting, yaitu memberikan
kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar
melalui aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih yang dilakukan secara sistematis.
Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan
pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat dan
bugar sepanjang hayat.
Aktivitas jasmani dan olahraga yang dimaksud adalah seluruh gerak tubuh yang
dihasilkan oleh kontraksi otot-otot rangka yang secara nyata meningkatkan
pengeluaran energi (energy expendicture) di atas level kebutuhan dasar (Wuest and
Bucher; 2009; hal. 11). Atau secara sederhana dapat pula diartikan sebagai seluruh
gerak tubuh yang melibatkan kelompok otot besar dan memerlukan suplai energi.
Artinya, ketika anak diinstruksikan bergerak, gerak yang dilakukan seharusnya
melibatkan kelompok otot besar dan menyebabkan mereka mengolah energi melalui
metabolisme otot yang terlibat.
Bermain adalah bentuk aktivitas jasmani lainnya yang memiliki makna aktivitas yang
digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat
fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fisik.

6/Page
Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari
bermain dapat ditemukan di dalam keduanya.
Dari kata bermain lalu lahir kata benda permainan, yang dengan tetap
mengelompokkannya ke dalam garis lurus yang bersifat fisikal, permainan diartikan
sebagai aktivitas fisik yang di dalamnya sudah mengandung unsur-unsur yang
menyenangkan. Unsur ini dapat berupa kompetisi, imaginasi atau fantasi, termasuk
adanya modifikasi aturan.
Olahraga di pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat
kompetitif (Freeman, 2001). Olahraga adalah aktivitas jasmani yang sudah benar-
benar terorganisir dan tingkat kompetisinya tinggi serta didukung oleh peraturan yang
mengaturnya. Peraturan menetapkan standar-standar kompetisi dan situasi sehingga
individu atlet dapat bertanding scara fair dan mencapai sasaran yang spesifik.
Olahraga juga menyediakan kesempatan untuk mendemostrasikan kompetensi
seseorang dan menantang batas-batas kemampuan maksimal.
Bermain, olahraga dan aktivitas jasmani lainnya melibatkan bentuk-bentuk gerakan
untuk tujuan pendidikan. Olahraga dan bermain dapat eksis meskipun secara murni
untuk kepentingan kesenangan, pendidikan, atau untuk kombinasi keduanya.
Kesenangan dan pendidikan tidak harus dipisahkan secara eksklusif, keduanya dapat
dan harus beriringan bersama.

B. Tujuan PJOK
Tujuan mata pelajaran PJOK untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah
sebagai berikut:
1. Mendidik anak untuk mencapai kedewasaan yang memadai menjadi warga negara
yang baik, produktif, memiliki karakter positif, serta bertaqwa atas dasar
keimanan yang kuat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai
disiplin, percaya diri, sportif, jujur, bertanggungjawab, kerjasama dalam
melakukan aktivitas jasmani.
3. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam pengembangan dan
pemeliharaan kebugaran jasmani, kesehatandan kesejahteraan.
4. Memahami konsep gerak dan menerapkannya dalam berbagai aktivitas jasmani.
5. Mengembangkan pola gerak dasar dan keterampilan untuk diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari, suasana kompetitif, dan rekreasional.
6. Mengembangkan kesadaran tentang arti penting aktivitas fisik untuk mencapai
pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta gaya hidup aktif sepanjang hayat.

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup materi mata pelajaran PJOK SMP/MTs adalah sebagai berikut:
1. Aktivitas Permainan Bola Besar misalnya: gerak spesifik permainan sepakbola,
bolavoli, bolabasket, bolatangan dan/atau permainan tradisonal dan sederhana
lainnya.
2. Aktivitas Permainan Bola Kecil misalnya: gerak spesifik permainan rounders,
kasti, softball, dan/atau permainan tradisonal dan sederhana lainnya.
3. Aktivitas Atletik misalnya: gerak spesifik jalan, lari, lompat, dan lempar, dan/atau
permainan tradisonal dan sederhana lainnya.
4. Aktivitas Beladiri misalnya: seni beladiri pencak silat, karate, taekwondo,
dan/atau beladiri lainnya.
5. Aktivitas Pengembangan Kebugaran Jasmani, meliputi pengembangan komponen
kebugaran berkaitan dengan kesehatan dan keterampilan, serta pengukurannya.
6. Aktivitas Senam Lantai meliputi: aktivitas gerak spesifik.
7. Aktivitas Gerak Berirama meliputi: pola gerak dasar langkah, gerak dan ayunan
lengan, musikalitas serta apresiasi terhadap kualitas estetika gerakan, tarian kreatif
dan rakyat.

7/Page
8. Aktivitas Air, meliputi: gerak spesifik salah satu gaya renang, keselamatan dan
pertolongan di air dengan dan tanpa alat.
9. Kesehatan, meliputi; perkembangan tubuh remaja, pola makan sehat, bahaya
pergaulan bebas, keselamatan di jalan raya, P3K, dan aktivitas fisik terhadap
pencegahan penyakit.

8/Page
BAB III
DESAIN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN
KESEHATAN

A. Kerangka Pembelajaran
Dimensi kompetensi dasar mata pelajaran PJOK diklasifikasi dalam empat jenis, yaitu:
1. kompetensi dasar pengembangan sikap religius
2. kompetensi dasar pengembangan sikap sosial
3. kompetensi dasar pengetahuan
4. kompetensi dasar keterampilan/psikomotor

Kerangka pembelajaran merupakan rangkaian aktivitas yang dirancang oleh guru


untuk mencapai keempat jenis kompetensi dasar tersebut, meliputi: pendahuluan, inti
dan penutup.
1. Pendahuluan

Kegiatan pendahuluan yang dapat dilakukan oleh guru antara lain sebagai berikut.
a. Membuka pembelajaran dengan salam dan berdoa.
b. Memastikan kesiapan siswa untuk mengikuti pembelajaran.
c. Melakukan apersepsi dan memotivasi siswa.
d. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang akan dinilai.
e. Menjelaskan skenario pembelajaran.
f. Melakukan pemanasan yang terkait dengan materi pembelajaran.
2. Kegiatan Inti
Kegiatan inti merupakan penerapan secara operasional
model/pendekatan/metode/gaya yang dipilih sesuai dengan kompetensi dasar dan
karakteristik siswa. Contoh menggunakan gaya mengajar resiprokal sebagai
berikut:
a. siswa mencari pasangan sesuai dengan petunjuk guru.
b. siswa bersama pasangannya menerima dan mempelajari lembar kerja yang
dibagikan guru (berisi langkah kerja dan tugas gerak yang harus dilakukan).
c. siswa membagi tugas, siapa yang pertama kali menjadi pelaku dan siapa yang
menjadi pengamat.
d. siswa yang berperan sebagai pelaku melakukan tugas gerak, dan pengamat
mengamati. Jika pelaku melakukan kesalahan, pengamat memberi koreksi
sesuai dengan kriteria yang terdapat dalam lembar tugas.
e. Pergantian peran sebagai pelaku dan pengamat atau sebaliknya dilakukan
sesuai kesepakatan masing-masing pasangan.
f. Selama proses pembelajaran guru melakukan pengamatan dan penilaian, tanpa
melakukan intervensi terhadap pelaku. Pada setiap kesempatan guru dapat
menghentikan aktivitas pembelajaran untuk melakukan koreksi umum dan
mengundang dialog terkait masalah tehnik dan mekanika gerak dari gerak yang
dipelajari.
g. Di akhir pembelajaran guru mengundang beberapa pasangan siswa
menampilkan hasil belajar di hadapan siswa lainnya.

3. Kegiatan Penutup
Kegiatan penutup yang harus dilakukan oleh guru sebagai berikut:
a. Melakukan pendinginan sekaligus menjelaskan fungsinya.
b. Melakukan tanya-jawab dengan siswa yang berkenaan dengan materi
pembelajaran yang telah diberikan.
c. Guru membuka dialog atau mengingatkan kembali tentang nikmat dan karunia

9/Page
Tuhan atas kemampuan gerak yang dimiliki oleh siswa yang senantiasa harus
disyukuri setiap waktu.
d. Bersama siswa, guru membuat simpulan materi, melakukan refleksi dan tindak
lanjut dari materi pembelajaran yang telah diberikan.
e. Setelah melakukan aktivitas pembelajaran seluruh siswa dan guru berdoa dan
bersalaman.
Dari proses pembelajaran sebagaimana uraian tersebut dapat digambarkan bahwa
kompetensi dasar yang meliputi kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan
terintegrasi menjadi satu, dan diharapkan dapat dicapai melalui satu kegiatan
pembelajaran secara bersamaan.

B. Pendekatan Pembelajaran

Salah satu pendekatan yang digunakan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan
ilmiah atau scientific approach pada proses pembelajaran. Pendekatan ilmiah
(scientific approach) meliputi aktivitas; mengamati, menanya, mengumpulkan
informasi, menalar/mengasosiasi, mengomunikasikan yang dilakukan oleh siswa
untuk sampai kepada kompetensi dasar yang diharapkan.
Melalui aktivitas tersebut, pelajaran yang diikuti siswa mampu mengembangkan tiga
ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Hasil akhirnya adalah peningkatan
dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills)
dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak
(hard skills) dari siswa yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan
pengetahuan.
Arti dari masing-masing aktivitas dalam pendekatan saintifik dalam pembelajaran
dapat disajikan seperti berikut ini:
1. Mengamati
Mengamati adalah proses mengenal objek melalui penggunaan indra yang
dimiliki, misalnya dengan melihat/menonton, mendengarkan, dan membaca.
Sehingga siswa akan memperoleh konsep awal dan menemukan permasalahan-
permasalahan dalam materi yang akan dipelajari. Proses ini akan berdampak pada
siswa memahami obyek secara nyata, senang, tertantang, dan memudahkan
pelaksanaan proses pembelajaran selanjutnya.
2. Menanya
Pada proses ini guru memberi kesempatan kepada siswa untuk saling bertanya
untuk mengungkapkan berbagai masalah yang ditemukan pada saat proses
pengamatan dengan berbagai bentuk pertanyaan baik yang berkaitan dengan
sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan kompetensi yang akan
diraihnya.
3. Mengumpulkan informasi
Kegiatan mengumpulkan informasi ini merupakan bagian dari kegiatan eksplorasi
yaitu untuk mencari jawaban terhadap pertanyaan terkait dengan pengembangan
kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
4. Menalar/Mengasosiasi
Menalar adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta empiris yang
dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Istilah
menalar dalam pembelajaran merujuk pada kemampuan mengelompokkan
beragam ide dan beragam peristiwa untuk kemudian dijadikan sebagai dasar
pembuatan keputusan.
5. Mengomunikasikan
Mengomunikasikan adalah proses penyajian berbagai sikap, pengetahuan, dan

10/Page
keterampilan dalam bentuk penyampaian informasi, peragaan keterampilan, dan
sikap dalam pembelajaran atau kehidupan.
Khusus dalam pelajaran PJOK, kegiatan-kegiatan di atas tentu tidak dapat dan
tidak selalu harus dilaksanakan secara hirarkis. Hal itu tergantung pada materi ajar
dan penggalan kegiatan pembelajaran yang sedang dilakukan. Jika pendekatan
ilmiah ini dilaksanakan secara kaku sesuai urutannya, dikhawatirkan pelajaran
PJOK akan kehilangan ciri uniknya, yaitu kekayaan aktivitas gerak yang
bermanfaat langsung pada pengembangan keterampilan motorik dan kebugaran
jasmani.
Lebih jauh dapat dijelaskan bahwa scientific approach bukanlah sebuah model
pembelajaran yang harus diikuti sesuai tahapannya. Arti pendekatan hanyalah
menunjuk pada orientasi pembelajaran yang harus dicapai. Pendekatan ilmiah
bukan merupakan sebuah urutan kegiatan belajar, tetapi lebih bermakna sebagai
sifat bahwa pelajaran PJOK (atau pelajaran apapun) harus mampu
mengembangkan kemampuan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi,
menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Dengan demikian siswa mampu
mengembangkan kemampuan untuk memproses dan memecahkan masalah
melalui tahapan tadi.
Penerapan pendekatan ilmiah dapat dipadukan dengan berbagai model,
diantaranya adalah model pembelajaran berbasis masalah (problem-based
learning), pembelajaran berbasis projek (project-based learning), pembelajaran
kontekstual (contextual learning), pembelajaran penemuan terbimbing (guided
discovery learning), sampai pada pembelajaran individual (individual learning).
Dalam pembelajaran PJOK sendiri terdapat beberapa model pembelajaran yang
sudah dikembangkan. Beberapa di antaranya adalah model pendidikan gerak
(movement education), model pengembangan tanggung jawab (teaching personal
and social responsbility/Hellisons model), model pendidikan petualangan
(adventure education model), model kebugaran (fitness education model), model
perkembangan (developmental model), bahkan termasuk model Teaching Games
for Understanding (TGfU model) serta model pembelajaran kooperatif
(cooperative learning model).

C. Strategi dan Metode Pembelajaran


1. Strategi pembelajaran dalam PJOK meliputi:
a. Pengajaran Interaktif (Interactive Teaching)
Pengajaran interaktif mempunyai makna guru memberitahukan, menunjukkan,
atau mengarahkan sekelompok anak tentang apa yang harus dilakukan; lalu
siswa melakukannya; dan guru mengevaluasi seberapa baik hal itu dilakukan
dan mengembangkan isi pelajaran lebih jauh, guru mengontrol proses
pengajaran. Biasanya seluruh kelas bekerja pada tugas yang sama atau dalam
kerangka tugas yang sama. Bandingkan strategi ini dengan gaya komando;
keduanya memiliki perangkat ciri yang sama.

b. Pengajaran Berpangkalan (Station Teaching)

Pengajaran berpangkalan menata lingkungan sehingga dua atau lebih tugas bisa
berlangsung dalam ruangan secara bersamaan. Biasanya, setiap tugas harus
dilakukan dalam pangkalan yang berbeda dengan tugas lainnya, sehingga setiap
tugas memiliki pangkalannya masing-masing. Siswa berputar dari satu
pangkalan ke pangkalan lain. Kadang-kadang, pengajaran berpangkalan ini
disebut juga pengajaran tugas. Strategi ini dalam tataran gaya mengajar, serupa
dengan gaya latihan (practice style).

11/Page
c. Pengajaran Sesama Teman (Peer Teaching)

Pengajaran sesama teman adalah strategi pengajaran yang mengalihkan


tanggung jawab guru dalam fungsi pengajarannya kepada siswa. Strategi ini
biasanya digunakan bersamaan dengan strategi lain tetapi berharga untuk
dieksplorasi secara terpisah. Strategi ini tidak jauh berbeda dengan gaya
berbalasan (reciprocal style), dalam halsiswa sendiri memberikan pengarahan
kepada siswa lainnya. Bedanya, dalam pengajaran sesama teman, siswa yang
bertindak sebagai pengajar tidak hanya berhadapan dengan satu siswa, tetapi
bisa dengan sekelompok siswa.

d. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Dalam pembelajaran kooperatif, sekelompok siswa diberi tugas pembelajaran


atau proyek untuk diselesaikan oleh kelompoknya. Siswa dikelompokkan secara
heterogen menurut faktor yang berbeda seperti kemampuan atau kebutuhan
sosialnya. Keberhasilan kelompok dalam pembelajaran dinilai sesuai dengan
seberapa baik mereka mampu menyelesaikan tugasnya, di samping dari cara
mereka bekerja sama dengan yang lain.
e. Strategi Pembelajaran Sendiri (Self-instructional Strategies)
Strategi pembelajaran sendiri melibatkan program yang ditetapkan oleh siswa
sendiri dan mengurangi peran guru sebagai penyampai informasi. Strategi
pembelajaran sendiri menyandarkan diri sepenuhnya pada materi tertulis, media,
dan prosedur evaluasi yang ditetapkan sebelumnya. Strategi ini dapat dipakai
untuk memenuhi satu atau lebih, terkadang seluruhnya, fungsi pengajaran.

f. Strategi Kognitif (Cognitive Strategies)


Strategi kognitif adalah strategi pembelajaran yang dirancang untuk melibatkan
siswa secara kognitif dalam isi pelajaran melalui penyajian tugasnya. Strategi ini
meliputi gaya pemecahan masalah, penemuan terbimbing, dan gaya lain yang
memerlukan fungsi kognitif anak, seperti pembelajaran penemuan (inquiry
learning). Semua model ini menggambarkan pendekatan yang melibatkan siswa
dalam merumuskan respons sendiri tanpa meniru apa yang sudah diperlihatkan
guru sebelumnya.
Tingkat keterlibatan siswa bervariasi sesuai dengan tingkat respons kognitifnya.
Ketika guru mengetengahkan masalah yang memerlukan jawaban benar yang
tunggal, pemecahan masalah itu biasanya disebut convergent problem solving.
Ketika masalah tersebut bersifat terbuka dan tidak memerlukan satu jawaban
terbaik, maka pemecahan masalah tersebut disebut divergent problem solving.

g. Pengajaran Beregu (Team teaching)


Pengajaran beregu adalah strategi pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu
orang guru yang bertanggung jawab untuk menyajikan pelajaran kepada
sekelompok siswa. Ketika pelajaran pendidikan jasmani bersifat co-educational
(melibatkan siswa putra dan putri), banyak pendidik melihat bahwa team
teaching sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan baik putra maupun putri yang
terkelompokan secara heterogen dengan mendapat guru pria dan wanita di saat
bersamaan.

2. Metode Pembelajaran PJOK


Metode pembelajaran, secara umum meliputi keseluruhan cara atau teknik dalam
menyajikan bahan pelajaran kepada siswa serta bagaimana siswa diperlakukan
selama pembelajaran tersebut. Oleh karena itu, secara umum, pembahasan tentang
metode mengajar bukan hanya bersinggungan dengan apakah pelajaran perlu

12/Page
diberikan secara keseluruhan (whole method) ataukah sebagian-sebagian (part
method), tetapi juga tentang cara memperlakukan siswa dan pengaturan waktu.
a. Latihan Terbimbing
Metode latihan terbimbing adalah teknik yang paling umum dalam proses
pembelajaran PJOK, di mana siswa dituntun dengan berbagai cara melalui
pemberian variasi gerak. Dalam penggunaannya latihan ini mempunyai
beberapa tujuan, dan yang paling utama adalah untuk mengurangi kesalahan
serta memastikan bahwa pola gerak yang tepat sudah dilakukan.
Penggunaan latihan terbimbing amat penting terutama dalam cabang olahraga
yang berbahaya seperti senam dan renang. Di sini siswa perlu dibantu, baik
secara langsung oleh guru atau dengan pemakaian alat.
b. Latihan Padat dan Terdistribusi
Guru PJOK harus membuat keputusan berkaitan dengan berapa lama waktu
latihan yang digunakan dalam satu episode pembelajaran, dan bagaimana
waktu yang tersedia ini dimanfaatkan, apakah langsung dihabiskan sekaligus
atau diselingi istirahat.
Umumnya, unit pembelajaran dalam PJOK menghabiskan waktu latihan hanya
untuk menguasai satu keterampilan, misalnya hari pertama pasing bawah pada
permainan bola voli, kemudian di hari berikutnya berganti menjadi pasing atas.
Jika ini yang dilakukan, guru mempunyai pilihan apakah keterampilan akan
dilatih oleh anak secara terus menerus sampai waktu habis atau menetapkannya
dalam satuan waktu tertentu diselingi istirahat. Pilihan yang pertama disebut
latihan padat (massed practice), sedangkan pilihan kedua disebut latihan
terdistribusi (distributed practice). Contoh lain dari metode ini adalah latihan
dengan interval (interval training).
c. Latihan Terpusat dan Acak
Latihan disebut terpusat jika dua atau tiga keterampilan yang dilatih
dilaksanakan satu persatu hingga jumlah ulangan atau waktu yang ditentukan
terselesaikan sebelum dilanjutkan ke keterampilan lain. Contohnya dalam
pembelajaran bulutangkis yang berisi servis, smes, dan dropshot. Guru akan
meminta siswa melatih dulu servis, misalnya 20 kali kemudian dilanjutkan
smes 20 kali dan dropshot 20 kali. Intinya, latihan terpusat dilaksanakan
dengan mendahulukan satu tugas hingga selesai sebelum berpindah ke tugas
lain.
Latihan acak dilakukan dengan melakukan latihan beberapa keterampilan
secara berselang-seling. Dengan latihan acak, siswa diminta melakukan
gerakan servis 1 kali dilanjutkan smes1 kali, dan dropshot 1 kali kemudian
kembali ke servis lagi, smes, dan ke dropshot lagi, dan seterusnya hingga jatah
waktu atau jumlah ulangan yang ditetapkan diselesaikan.
Latihan yang bervariasi pada dasarnya melatih banyak kemungkinan variasi
gerak. Latihan dapat divariasikan berdasarkan pada perubahan kecepatan,
jarak, tingkatan gerak, dan tujuan latihan. Jika dalam satu pertemuan latihan
kondisi-kondisi tersebut divariasikan sedemikian rupa, siswa akan mengambil
banyak keuntungan berupa pemantapan kemampuan penyesuaian
keterampilan, maupun proses kognitifnya.
d. Keseluruhan dan Bagian per Bagian
Beberapa keterampilan terdiri dari beberapa gerakan yang sangat kompleks
(keterampilan serial) sehingga guru harus mampu menyesuaikan prosedur dan
pendekatan yang tepat. Untuk menghadapi gerakan tersebut guru akan
membagi tugas menjadi bagian-bagian kecil (sesuai teknik dasarnya). Setiap
bagian tersebut dilatih satu persatu sesuai urutannya untuk kemudian disatukan

13/Page
setelah semua bagian terkuasai agar menjadi satu keterampilan yang utuh. Jika
ini yang ditempuh guru, maka ia sedang menerapkan metode bagian (part
method).
Jika suatu keterampilan merupakan suatu keterampilan yang utuh
(keterampilan diskrit) di mana hubungan antara satu bagian dengan bagian
yang lain demikian erat maka lebih baik diajarkan secara utuh. Irama dan
timing dari keterampilan itu akan terjaga dengan lebih baik jika guru memilih
metode keseluruhan atau whole method.
Guru dapat memadukan kedua cara tersebut jika tidak mengganggu
keselamatan. Siswa harus diberi kesempatan untuk merasakan keterampilan
secara keseluruhan sebelum keterampilan itu dipeach menjadi bagian. Jika ini
yang dilakukan guru maka ia sedang menggunakan metode campuran yang
disebut metode keseluruhan-bagian (whole-part method).
Selain ketiga metode tersebut (bagian, keseluruhan, dan keseluruhan-bagian
juga dikenal satu metode mengajar yang lain yang disebut metode progresif
(progressive method). Metode ini dikenal sebagai metode yang berada dalam
satu gugus dengan metode bagian, tetapi diciptakan dengan maksud menutupi
kekurangan dari metode tersebut.
Pada prinsipnya metode progresif mengikuti urutan sebagai berikut. Pada tahap
pertama, latihan hanya melibatkan satu bagian keterampilan yang dianggap
penting (inti) yang selalu ditekankan dan diulang-ulang. Pada tahap kedua,
bagian pertama digabung dengan bagian kedua sehingga menampilkan pola
gerak yang lebih besar. Pada tahap ketiga, bagian satu dan bagian dua digabung
lagi dengan bagian tiga, yang menunjukkan pola keterampilan yang semakin
lengkap. Demikian seterusnya sehingga keseluruhan bagian yang tersisa
akhirnya tergabung secara keseluruhan.

D. Gaya Mengajar PJOK


Mosston membedakan gaya mengajar sesuai dengan besarnya peran siswa di dalam
proses pembelajaran (pra pertemuan, pertemuan, dan pasca pertemuan). Berikut adalah
beberapa gaya mengajar tersebut:
1. Gaya A : Komando (Command Style)

Semua keputusan dikendalikan oleh guru dan siswa hanya melakukan apa yang
diperintahkannya. Satu aba-aba satu respons siswa.
2. Gaya B : Latihan (Practice Style)

Guru memberikan beberapa tugas dan siswa menentukan di mana, kapan,


bagaimana, dan tugas mana yang akan dilakukan pertama kali. Guru memberi
umpan balik.
3. Gaya C : Berbalasan (Reciprocal Style)

Satu siswa menjadi pelaku, satu siswa lain menjadi pengamat dan bertugas
memberikan umpan balik, dan dilakukan secara bergantian.
4. Gaya D : Menilai diri sendiri (Self Check Style)

Siswa diberi petunjuk untuk menilai penampilannya sendiri.Pada saat latihan siswa
berusaha mengetahui kekurangannya dan mencoba memperbaiki.
5. Gaya E : Partisipatif atau Inklusif (Inclusion Style)

Guru menentukan tugas pembelajaran yang memiliki target atau kriteria yang
berbeda tingkat kesulitan antara satu siswa dengan lainnya. Siswa diberi

14/Page
keleluasaan untuk menentukan tingkat kesulitan yang sesuai dengan
kemampuannya, dengan demikian setiap anak akan merasa berhasil.
6. Gaya F : Penemuan Terabimbing (Guided Discovery)

Guru membimbing siswa ke arah jawaban yang benar melalui serangkaian tugas
untuk menjawab permasalahan yang dirancang. Setiap anak melaksanakan tugas
sesuai bimbingan guru sehingga akan mendapatkan jawaban yang sama terhadap
permasalahan yang diberikan tersebut.
7. Gaya G : Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Guru menyediakan satu permasalahan yang harus diselesaikan. Siswa diberi


kebebasan sesuai dengan cara yang dipilihnya sendiri, sehingga jawaban yang
dihasilkan akan beragam.
8. Gaya H, I, J : Learner Designed Program/Learner Initiated/Self-Teaching

Siswa mulai mengambil tanggung jawab untuk apa pun yang akan dipelajari serta
bagaimana hal itu akan dipelajari.

E. Model-model Pembelajaran

1. Model Pembelajaran Penemuan (Inquiry Learning)


Contoh tahapan model pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan
dengan model ini adalah:
a. Pendahuluan
1) Siswa a mempersiapkan perlalatan yang akan dipakai dalam
pembelajaran.
2) Guru menunjuk siswa untuk membariskan dan memimpin doa sebelum
dimulai pembelajaran.
b. Inti
1) Siswa melakukan gerakan senam irama sesuai dengan instruksi guru
sebelum pembelajaran dimulai.
2) Guru membuka dan menjelaskan pembelajaran senam irama bagi
kesehatan dan kebugaran jasmani.
3) Siswa melakukan gerakan senam irama sesuai dengan penjelasan guru
secara individu maupun kelompok, dan menyampaikan arti penting
kerjasama dalam gerak senam berirama.
4) Seluruh gerakan senam irama siswa diawasi dan diberikan koreksi oleh
guru apabila ada kesalahan gerakan.
5) Siswa secara individu dan atau kelompok melakukan gerakan senam
irama dengan menunjukkan sikap kerjasama sesuai dengan koreksi oleh
guru.
6) Guru mengamati seluruh aktifitas siswa dalam melakukan gerakan senam
irama secara seksama.
c. Penutup
1) Guru menyampaikan tingkat pencapaian kompetensi sikap, pengetahuan,
dan keterampilan yang diperoleh oleh siswa, menyampaikan siswa yang
mendapatkan hasil yang terbaik, dan memberikan motivasi pada yang
belum.
2) Siswa merapihkan dan mengembalikan peralatan yang telah digunakan.
3) Berdoa bersama.

2. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning/PBL)


Contoh tahapan model pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan

15/Page
dengan model ini adalah:
a. Pendahuluan
1) Siswa mempersiapkan perlalatan yang akan dipakai dalam pembelajaran.
2) Guru menunjuk siswa untuk membariskan dan memimpin doa sebelum
dimulai pembelajaran.
3) Siswa diminta untuk mempersiapkan pertanyaan gerakan-gerakan yang
tidak mampu.
b. Inti
1) Siswa melakukan gerakan senam irama yang tidak mampu dilakukan
pada saat gerakan.
2) Guru mengamati seluruh gerakan senam irama siswa secara individu
maupun kelompok.
3) Seluruh gerakan senam irama siswa diawasi dan diberikan koreksi oleh
guru apabila ada kesalahan gerakan.
4) Siswa secara individu dan atau kelompok melakukan gerakan senam
irama sesuai dengan koreksi oleh guru.
5) Seluruh gerakan siswa setelah diberikan umpan balik diamati oleh guru
secara individu maupun kelompok.
6) Siswa melakukan gerakan senam irama secara individu secara
bergantian.
c. Penutup
1) Secara klasikal siswa diberikan penghargaan dan motivasi berdasarkan
hasil penilaian.
2) Siswa merapihkan dan mengembalikan peralatan yang telah digunakan
3) Berdoa bersama.

3. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)


Contoh tahapan model pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan
dengan model ini adalah:
a. Pendahuluan
1) Siswa mempersiapkan perlalatan yang akan dipakai dalam pembelajaran.
2) Guru menunjuk siswa untuk membariskan dan memimpin doa sebelum
dimulai pembelajaran.
3) Siswa dibagi dalam beberapa kelompok sesuai dengan teknik gerakan,
misalnya: teknik bermain sepakbola maka siswa dibagi menjadi
kelompok mengoper, menggiring, menendang, menangkap bola,
melempar ke dalam.
b. Inti
1) Siswa melakukan gerakan teknik sepakbola sesuai dengan pembagian
kelompok instruksi guru sebelum pembelajaran dimulai.
2) Guru menjelaskan keterkaitannya teknik sepakbola bagi kebugaran
jasmani.
3) Siswa yang memiliki keterampilan lebih baik dapat dijadikan sebagai
mediator bagi siswa lain dalam kelompok tersebut.
4) Secara kelompok siswa berganti tempat untuk mempelajari gerakan
teknik yang berbeda dari kelompok asal.
5) Seluruh gerakan teknik sepakbola diawasi dan diberikan koreksi oleh
guru apabila ada kesalahan gerakan.
6) Siswa secara individu dan atau kelompok melakukan gerakan teknik
sepakbola sesuai dengan koreksi oleh guru.
c. Penutup
1) Secara klasikal siswa diberikan penghargaan dan motivasi berdasarkan
hasil penilaian.
2) Siswa merapihkan dan mengembalikan peralatan yang telah digunakan.
3) Berdoa bersama.

16/Page
F. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Rancangan pembelajaran secara operasional berbentuk dokumen rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP). RPP disusun berdasarkan silabus yang telah disediakan oleh
pemerintah yang memuat kompetensi yang akan dicapai, materi pokok, dan kegiatan
pembelajaran. RPP dikembangkan oleh guru yang bersangkutan sesuai dengan
karakter siswa dan sekolah.
1. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Setiap pendidik (guru) pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP
secara lengkap dan sistematik agar pembelajaran berlangsung secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi siswa untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas,
dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta
psikologis siswa. Komponen RPP terdiri dari:
a. Identitas,
b. Kompetensi Inti - Kompetensi Dasar (Sikap Spritual, Sikap Sosial,
Pengetahuan, dan Keterampilan),
c. Indikator Pencapaian Kompetensi,
d. Materi Pembelajaran;
e. Kegiatan Pembelajaran,
f. Penilaian (Sikap, Pengetahuan, dan Keterampilan).
g. Media, Alat,dan Sumber Belajar;

2. Langkah-Langkah Pengembangan RPP


a. Pengkajian silabus meliputi: (1) KI dan KD; (2) materi pembelajaran; (3)
proses pembelajaran; (4) penilaian pembelajaran; (5) alokasi waktu; dan (6)
sumber belajar;
b. Perumusan indikator pencapaian KD pada KI-1, KI-2, KI-3, dan KI-4;
c. Materi Pembelajaran dapat berasal dari buku teks pelajaran dan buku panduan
guru, sumber belajar lain berupa muatan lokal, materi kekinian, konteks
pembelajaran dari lingkungan sekitar yang dikelompokkan menjadi materi
untuk pembelajaran reguler, pengayaan, dan remedial;
d. Penjabaran Kegiatan Pembelajaran yang ada pada silabus dalam bentuk yang
lebih operasional berupa pendekatan saintifik disesuaikan dengan kondisi
siswa dan satuan pendidikan termasuk penggunaan media, alat, bahan, dan
sumber belajar;
e. Penentuan alokasi waktu untuk setiap pertemuan berdasarkan alokasi waktu
pada silabus, selanjutnya dibagi ke dalam kegiatan pendahuluan, inti, dan
penutup;
f. Pengembangan penilaian pembelajaran dengan cara menentukan lingkup,
teknik, dan instrumen penilaian, serta membuat pedoman penskoran;
g. Menentukan strategi pembelajaran remedial segera setelah dilakukan
penilaian; dan
h. Menentukan Media, Alat, Bahan dan Sumber Belajar disesuaikan dengan
yang telah ditetapkan dalam langkah penjabaran proses pembelajaran.

17/Page
18/Page
BAB IV
PENILAIAN

A. Teknik Penilaian Sikap

Penilaian sikap dilakukan dengan menggunakan teknik observasi oleh guru mata
pelajaran (selama proses pembelajaran pada jam pelajaran), guru bimbingan
konseling (BK), dan wali kelas (selama siswa di luar jam pelajaran) yang ditulis
dalam buku jurnal (yang selanjutnya disebut jurnal). Selain itu, penilaian diri dan
penilaian antarteman.
1. Observasi
Berikut adalah contoh penilaian dengan teknik observasi yang berbentuk jurnal
sesuai dengan Permendikbud Nomor 53 Tahun 2015, sikap spirituan dan sosial.

Nama Sekolah : SMP Jaya Bangsaku


Kelas/Semester : VII/Semester I
Tahun pelajaran : 2014/2015

Nama Butir
No Waktu Catatan Perilaku
Siswa Sikap Spiritual
1 21/07/14 Bahtiar Tidak mengikuti sholat Ketaqwaan
Jumat yang
diselenggarakan di
sekolah.
Rumonang Mengganggu teman Ketaqwaan
yang sedang
beribadah
berdoa sebelum makan
siang di
kantin.
2 22/09/14 Burhan Mengajak temannya Ketaqwaan
untuk berdoa sebelum
pertandingan sepakbola
di lapangan olahraga
sekolah.
Andreas Mengingatkan Toleransi
temannya untuk beragama
melaksanakan sholat
Dzuhur di sekolah.
3 18/11/14 Dinda Ikut membantu Toleransi
temannya untuk beragama
mempersiapkan
perayaan keagamaan
yang berbeda dengan
agamanya di sekolah.
4 13/12/14 Rumonang Menjadi anggota panitia Ketaqwaan
perayaan keagamaan di
sekolah.
5 23/12/14 Ani Mengajak temannya
untuk berdoa sebelum Ketaqwaan
praktik memasak di
ruang keterampilan.

19/Page
Nama Sekolah : SMP Jaya Bangsaku
Kelas/Semester : VII/Semester I
Tahun pelajaran : 2014/2015
Nama Butir
No Waktu Catatan Perilaku
Siswa Sikap Sosial
1 12/07/14 Andreas Menolong orang lanjut Kepedulian
usia untuk menyeberang
jalan di depan sekolah.
26/08/14 Rumonang Berbohong ketika Kejujuran
ditanya alasan tidak
masuk sekolah di ruang
guru.
2 25/09/14 Bahtiar Menyerahkan dompet Kejujuran
yang ditemukannya di
halaman sekolah
kepada Satpam sekolah.
07/09/14 Dadang Tidak menyerahkan Tanggung jawab
surat ijin tidak masuk
sekolah dari
orangtuanya kepada
guru.
3 25/10/14 Ani Terlambat mengikuti Kedisiplinan
upacara di sekolah.
4 08/12/14 Burhan Mempengaruhi teman Kedisiplinan
untuk tidak masuk
sekolah.
5 15/12/14 Dinda Memungut sampah yang Kebersihan
berserakan di halaman
sekolah.

Tah

un
Contoh format

Jurnal tersebut dapat digunakan untuk guru mata pelajaran dan guru BK.
Apabila catatan perkembangan sikap spiritual dan sikap sosial dijadikan
satu, perlu ditambahkan satu kolom KETERANGAN di bagian paling kanan
untuk menuliskan apakah perilaku tersebut sikap SPIRITUAL atau sikap
SOSIAL.
g. Penilaian diri
Instrumen penilaian diri dapat berupa lembar penilaian diri yang berisi butir-
butir pernyataan sikap positif yang diharapkan dengan kolom YA dan TIDAK
atau dengan skala Likert (Likert Scale). Satu lembar penilaian diri dapat
digunakan untuk penilaian sikap spiritual dan sikap sosial sekaligus.

Nama : ............................................
Kelas : ............................................

20/Page
Semester : ............................................
Petunjuk: Berilah tanda centang () pada kolom Ya atau Tidak sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya.

No Pernyataan Ya Tidak
1 Saya selalu berdoa sebelum melakukan aktivitas.
2 Saya sholat lima waktu tepat waktu.
3 Saya tidak mengganggu teman saya yang beragama lain
berdoa sesuai agamanya.
4 Saya berani mengakui kesalahansaya.
5 Saya menyelesaikan tugas-tugas tepat waktu.
6 Saya berani menerima resiko atas tindakan yang saya
lakukan.
7 Saya mengembalikan barang yang saya pinjam.
8 Saya meminta maaf jika saya melakukan kesalahan.
9 Saya melakukan praktikum sesuai dengan langkah yang
ditetapkan.
10 Saya datang ke sekolah tepat waktu.
Jumlah
Keterangan: Pernyataan dapat diubah atau ditambah sesuai dengan butir-butir
sikap yang dinilai.
Pernyataan ya dan tidak dapat dikembangkan dengan menggunakan skala
likert (1, 2, 3, 4) dengan memberi petunjuk Berilah tanda centang () pada
kolom 1 (tidak pernah), 2 (kadang-kadang), 3 (sering), atau 4 (selalu) sesuai
dengan keadaan kalian yang sebenarnya.
Hasil penilaian diri perlu ditindaklanjuti oleh guru dengan melakukan fasilitasi
terhadap siswa yang belum menunjukkan sikap yang diharapkan.
h. Penilaian Antarteman
Instrumen penilaian antarteman dapat berupa lembar penilaian yang berisi butir--
butir pernyataan sikap positif yang diharapkan dengan kolom YA dan TIDAK
atau dengan skala Likert (Likert Scale). Satu lembar penilaian diri dapat
digunakan untuk penilaian sikap spiritual dan sikap sosial sekaligus.
Nama teman yang dinilai :
Nama penilai :
Kelas :
Semester :
Petunjuk : Berilah tanda centang () pada kolom Ya atau Tidak sesuai
dengan keadaan kalian yang sebenarnya.
No Pernyataan Ya Tidak
1 Teman saya selalu berdoa sebelum melakukan aktivitas.
2 Teman saya sholat lima waktu tepat waktu.
3 Teman saya tidak mengganggu teman saya yang
beragama lain berdoa sesuai agamanya.
4 Teman saya tidak menyontek dalam mengerjakan
ujian/ulangan.

21/Page
5 Teman saya tidak melakukan plagiat (mengambil/
menyalin karya orang lain tanpa menyebutkan sumber)
dalam mengerjakan setiap tugas.
6 Teman saya mengemukakan perasaan terhadap sesuatu apa
adanya.
7 Teman saya melaporkan data atau informasi apa adanya.
8 .........
Jumlah
Keterangan: Pernyataan dapat diubah atau ditambah sesuai dengan butir-butir
sikap yang dinilai.
Pernyataan ya dan tidak dapat dikembangkan dengan menggunakan
skala likert (1, 2, 3, 4) dengan memberi petunjuk Berilah tanda centang
() pada kolom 1 (tidak pernah), 2 (kadang-kadang), 3 (sering), atau 4
(selalu) sesuai dengan keadaan kalian yang sebenarnya.
Hasil penilaian diri perlu ditindaklanjuti oleh guru dengan melakukan
fasilitasi terhadap siswa yang belum menunjukkan sikap yang diharapkan.

B. Penilaian Pengetahuan
Berbagai teknik penilaian pengetahuan dapat digunakan sesuai dengan karakteristik
masing-masing KD. Teknik yang biasa digunakan antara lain tes tertulis, tes lisan,
penugasan, dan portofolio. Teknik-teknik penilaian pengetahuan yang biasa
digunakan disajikan dalam tabel berikut.

Teknik Bentuk Instrumen Tujuan


Tes Tertulis Benar-Salah, Mengetahui penguasaan pengetahuan
Menjodohkan, Pilihan siswa untuk perbaikan proses
Ganda, pembelajaran dan/atau pengambilan
nilai
Isian/Melengkapi, Uraian
Tes Lisan Tanya jawab Mengecek pemahaman siswa untuk
perbaikan proses pembelajaran
Penugasan Tugas yang dilakukan Memfasilitasi penguasaan
secara individu maupun pengetahuan (bila diberikan selama
kelompok proses pembelajaran) atau
mengetahui penguasaan
pengetahuan (bila diberikan pada
akhir pembelajaran)
Portofolio Sampel pekerjaan siswa Sebagai (sebagian) bahan guru
terbaik yang diperoleh dari mendeskripsikan capaian pengetahuan di
penugasan dan tes tertulis akhir semester
1. Tes tertulis dikembangkan atau disiapkan dengan mengikuti langkah-langkah:

a. Menetapkan tujuan tes.


b. Menyusun kisi-kisi.
c. Menulis soal berdasarkan kisi-kisi dan kaidah penulisan soal.
d. Menyusun pedoman penskoran.
Nama Sekolah : SMP Jaya Bangsaku
Kelas/Semester : VII/Semester I
Tahun Pelajaran : 2014/2015

22/Page
Mata Pelajaran : Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan
Kesehatan (PJOK)

No Kompetensi Materi Indikator Soal Bentuk Jml Pen-skoran


Dasar Soal Soal
1. Menentukan Variasi dan a Menyebut jenis- Uraian 1 Skor 3, jika jenis disebut
variasi dan Kombinasi jenis gerak spesifik secara lengkap
kombinasi gerak geraks pesifik yang dapat Skor 2, jika jenis disebut
spesifik Permainan divariasikan dan secara kurang lengkap
permainan bola Bola Besar dikombinasikan
besar (Contoh Skor 1, jika jenis disebut
Sepakbola) tidak lengkap
b Menjelaskan Uraian 1 Skor 4, jika penjelasan
berbagai kegunaan benar dan lengkap
variasi dan Skor 3, jika penjelasan
kombinasi benar tetapi kurang
gerakspesifik lengkap
Nilai2, jika sebagian
penjelasan tidak benar
dan kurang lengkap
Skor 1, jika hanya
sebagian penjelasan yang
benar dan tidak lengkap
c Menjelaskan cara Uraian 2 Skor 4, jika urutan benar
melakukan variasi dan lengkap
dan kombinasi Skor 3, jika urutan benar
gerak spesifik tetapi kurang lengkap
salah satu
permainan bola Nilai2, jika sebagian
besar (contoh; urutan tidak benar dan
sepakbola) kurang lengkap
Skor 1, jika hanya
sebagian urutan yang
benar dan tidak lengkap
2. .. PG 2 .

Dari kisi-kisi tersebut dapat disusun contoh instrument penilaian dalam bentuk
soal uji tulis, sebagai berikut:
a. Ada berapakah gerak spesifik yang dapat kalian kombinasikan dalam
permainan bola besar (contoh sepakbola)? Sebutkan jenis-jenis teknik dasar
tersebut!
b. Sebut dan jelaskan berbagai kegunaan variasi dan kombinasi gerak spesifik
dalam melakukan permainan bola besar (contoh sepakbola)!
c. Jelaskan cara melakukan variasi dan kombinasi gerak spesifik salah satu
permainan bola besar (contoh; sepakbola)!

2. Tes Lisan

Contoh pertanyaan pada tes lisan berdasarkan kisi-kisi tersebut:


a. Apa yang dimaksud dengan dribble dalam permainan sepakbola?

23/Page
b. Apa manfaat dribble dalam permainan sepakbola?
c. Bagaimana cara melakukan dribble dalam permainnan sepakbola?

3. Penugasan
Nama Sekolah : SMP Jaya Bangsaku
Kelas/Semester : VII/Semester I
Tahun pelajaran : 2014/2015
Mata Pelajaran : PJOK

Teknik
No. Kompetensi Dasar Materi Indikator
Penilaian
1Memilih makanan bergizi Makanan Mengidentifikasi jenis Penugasan
dan jajanan sehat untuk Bergizi dan makanan bergizi dan jajanan
menjaga kesehatan tubuh. Jajanan Sehat sehat
Contoh Tugas:
Tuliskan jenis-jenis makanan bergizi dan jajanan sehat yang Kalian jumpai di
sekolah, tuliskan cara mengenalinya!
Contoh Pedoman Penskoran Tugas
No. Aspek yang Dinilai Skor
1 Menuliskan jenis makanan bergizi, jajanan sehat dan menuliskan 4
ciri-cirinya secara lengkap lengkap dan jelas
2 Menuliskan jenis makanan bergizi dan jajanan sehat secara 3
lengkap tetapi kurang jelas dalam menuliskan ciri-cirinya
3 Menuliskan jenis makanan bergizi dan jajanan sehat secara 2
lengkap tetapi tidak menuliskan ciri-cirinya
4 Menuliskan jenis makanan bergizi dan jajanan sehat secara tidak 1
lengkap dan tidak disertai ciri-cirinya
Skor Maksimum 4
Contoh tugas ini dapat dimodifikasi menjadi tugas untuk memfasilitasi siswa
memperoleh pengetahuan, misalnya menjadi:
Carilah informasi di internet, buku siswa, dan buku referensi yang relevan di
perpustakaan mengenai makanan bergizi dan jajanan sehat yang sering Kalian
jumpai serta ciri-cirinya. Tulis hasil pencarian Kalian tersebut dengan singkat
dan sajikan pada pertemuan selanjutnya. Kalian dapat bekerja dalam kelompok
yang beranggotakan 3 (tiga) sampai 4 (empat) orang siswa.
4. Portofolio

Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara menilai


portofolio siswa yang merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan
pada kumpulan informasi perkembangan kemampuan siswa dalam satu periode
tertentu.Portofolio bukan merupakan sebuah metode penilaian, melainkan alat
pengumpul dan alat komunikasi tentang pembelajaran siswa.Penilaian
portofolio memerlukan tanggung jawab siswa dalam mengelola diri, penilaian
diri sendiri, dan evaluasi berpasangan. Jenis-jenis portofolio dapat berupa: a.
portofolio personal jika dipegang dan dikelola oleh siswa. Biasanya berguna
untuk menuliskan cabang olahraga yang disenangi, harapan, refleksi diri, serta
berbagi gagasan dari pengalaman yang diperoleh, sepanjang periode
pembelajaran.b. portofolio terekam dan tersimpan (record-keeping portofolios),

24/Page
portofolio ini dapat diisi dan disimpan oleh siswa, namun sebagian dari
informasi yang direkam juga di simpan oleh guru. c. portofolio tematik
(thematic portofolios), portofolio ini menggambarkan kegiatan pembelajaran
pada satu pokok bahasan (tema) yang berdurasi antara dua hingga enam
minggu. Contohnya, untuk topik kerja sama pada sebuah tim permainan, siswa
dapat mencatatkan refleksi mengenai pola penyerangan dan bertahan
(kognitif), menerapkan keterampilan gerak pada strategi penyerangan dan
bertahan (psikomotor), dan upaya mencapai hasil (kognitif). d. portofolio
terintegrasi (integrated portofolios), portofolio ini dapat digunakan untuk
menggambarkan potret siswa secara keseluruhan, dan berbagai subyek
pembelajaran. e. portofolio selebrasi (celebration portofolios) untuk mencatat
prestasi cabang olahraga. f. portofolio tahun jamak (multiyears potofolios),
yaitu portofolio yang digunakan dengan jangka beberapa tahun dan digunakan
oleh siswa dari satu tingkatan kelas ke kelas yang lebih tinggi.
Portofolio setiap siswa disimpan dalam suatu folder (map) dan diberi tanggal
pengumpulan oleh guru. Portofolio dapat disimpan dalam bentuk cetakan
dan/atau elektronik. Pada akhir suatu semester kumpulan sampel pekerjaan
tersebut digunakan sebagai sebagian bahan untuk mendeskripsikan pencapaian
pengetahuan secara deskriptif. Portofolio pengetahuan tidak diskor lagi dengan
angka.
a. Berikut adalah contoh ketentuan dalam penilaian portofolio untuk
pengetahuan:
b. Pekerjaan asli siswa;
c. Pekerjaan yang dimasukkan dalam portofolio disepakati oleh siswa dan guru;
d. Guru menjaga kerahasiaan portofolio;
e. Guru dan siswa mempunyai rasa memiliki terhadap dokumen portofolio;
f. Pekerjaan yang dikumpulkan sesuai dengan KD. Setiap pembelajaran KD
dari KI-3 berakhir, pekerjaan terbaik dari KD tersebut (bila ada) dimasukkan
ke dalam portofolio.

C. Penilaian Keterampilan
Penilaian keterampilan adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui
kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan untuk melakukan tugas tertentu
di dalam berbagai macam konteks sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi.
Penilaian keterampilan dapat dilakukan dengan berbagai teknik, antara lain
penilaian kinerja, dan penilaian proyek.
1. Penilaian Kinerja

Nama Sekolah : SMP Jaya Bangsaku


Kelas/Semester : VII/Semester I
Tahun pelajaran : 2014/2015
Mata Pelajaran : PJOK

No Kompetensi Materi Indikator Teknik


Dasar Penilaian
1 Mempraktik-kan Latihan dan ....... Kinerja
latihan Pengukuran
peningkatan Kebugaran Berlari sejauh 2,4 KM/ tes Cooper
derajat Jasmani Terkait
kebugaran dengan Melakukan pengukuran daya
tahan jantung dan paru

25/Page
jasmani yang Kesehatan berdasarkan tabel tes
terkait dengan
kesehatan dan Memiliki derajat daya tahan
pengukuran jantung baru dengan status baik
hasilnya. *)
........
Contoh tugas penilaian kinerja
a. Lakukan pengukuran daya tahan jantung paru dengan cara berlari sejauh
2,4 KM!
b. Tentukanlah derajat daya tahan jantung paru yang Kalian miliki!
*Rubrik penskoran daya tahan jantung paru dapat dilihat dalam tabel norma
tes daya tahan menurut Cooper
Pada contoh penilaian kinerja dengan di atas, penilaian diberikan dengan
memperhatikan baik aspek proses maupun produk. Sebagaimana terlihat pada
rubrik penilaian ada 2 (dua) butir aspek yang dinilai, yaitu keterampilan siswa
dalam melakukan praktik berlari 2,4 KM dan menentukan derajat daya tahan
jantung paru (proses), serta kualitas daya tahan jantung paru sesuai norma
dalam tes Cooper (hasil).
Guru dapat menetapkan bobot penskoran yang berbeda-beda antara aspek satu
dan lainnya yang dinilai dengan memperhatikan karakteristik KD atau
keterampilan yang dinilai. Pada contoh di atas, keterampilan proses (berlari dan
menentukan derajat daya tahan) diberi bobot lebih rendah dibandingkan
produknya (kualitas daya tahan jantung paru).

Contoh Rubrik Penilaian Kinerja


No Indikator Rubrik
1 Berlari sejauh 2,4 KM/ 3 = Melakukan start dengan baik, berlari secara
tes Cooper konsisten, dan melalui garis finish dengan baik
2 = Hanya melakukan dua unsur berlari dengan baik
1 = Hanya melakukan satu unsur berlari dengan baik
2 Melakukan pengukuran 4 = Mempersipkan peserta, mengawasi peserta,
daya tahan jantung dan mengoperasikan stopwatch, dan membandingkan
paru berdasarkan tabel data dengan norma dengan baik
tes
3 = Hanya melakukan tiga langkah kerja dengan baik
2 = Hanya melakukan dua langkah kerja dengan baik
1 = Hanya melakukan satu langkah kerja dengan baik
3 Memiliki derajat daya 3 = Memiliki daya tahan paru jantung dengan status
tahan jantung baru baik
dengan status baik
2 = Memiliki daya tahan paru jantung dengan status
sedang
1 = Memiliki daya tahan paru jantung dengan status
kurang

2. Penilaian Proyek

Penilaian proyek adalah suatu kegiatan untuk mengetahui kemampuan siswa


dalam mengaplikasikan pengetahuannya melalui penyelesaian suatu tugas
dalam periode/waktu tertentu. Penilaian proyek dapat dilakukan untuk
mengukur satu atau beberapa KD dalam satu atau beberapa mata pelajaran.

26/Page
Tugas tersebut berupa rangkaian kegiatan mulai dari perencanaan,
pengumpulan data, pengorganisasian data, pengolahan dan penyajian data,
serta pelaporan.
Pada penilaian proyek setidaknya ada 4 (empat) hal yang perlu
dipertimbangkan, yaitu:
a. Pengelolaan

Kemampuan siswa dalam memilih topik, mencari informasi, dan


mengelola waktu pengumpulan data, serta penulisan laporan.
b. Relevansi

Topik, data, dan produk sesuai dengan KD.


c. Keaslian

Produk (misalnya laporan) yang dihasilkan siswa merupakan hasil


karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan
dukungan terhadap proyek siswa.
d. Inovasi dan kreativitas

Hasil proyek siswa terdapat unsur-unsur kebaruan dan menemukan sesuatu


yang berbeda dari biasanya.

Contoh Kisi-Kisi Penilaian Proyek


Nama Sekolah : SMP Jaya Bangsaku
Kelas/Semester : VII/Semester I
Tahun pelajaran : 2014/2015
Mata Pelajaran : PJOK

No Kompetensi Dasar Materi Indikator Teknik


Penilaian
1 Mempraktikkan Variasi dan ...... Proyek
variasi dan Kombinasi
kombinasi gerak Gerak Spesifik Menyusun rangkaian
spesifik seni beladiri Seni Beladiri jurus seni beladiri
.....

Proyek:
Buatlah rangkaian jurus sederhana dengan cara memvariasikan dan mengkombinasikan berbagai
gerak (sikap dan kuda-kuda, serangan dengan tangan dan kaki, elakan, dan belaan)
1. Tentukan gerak spesifik yang akan divariasikan dan dikombinasikan
2. Susunlah rancangan jurus yang berisi berbagai gerak (sikap dan kuda-kuda, serangan dengan
tangan dan kaki, elakan, dan belaan) secara harmonis
3. Cobalah lakukan rangkaian gerak tersebut secara berulang
4. Mintalah pendapat dari temanmu, kemudian lakukan perbaikan sesuai dengan umpan balik dari
temanmu

27/Page
Contoh Rubrik Penskoran Proyek
Skor
No Aspek yang Dinilai
0 1 2 3 4
1 Kemampuan memilih gerak spesifik yang akan divariasi
dan dikombinasikan
2 Kemampuan merancang rangkaian gerak (jurus)
3 Kemampuan mempresentasikan hasil rancangan jurus
4 Kemampuan melakukan rangkaian gerak (jurus)
5 Kualitas rangkaian gerak/jurus (keindahan)
Jumlah
Catatan:
Guru dapat menetapkan bobot yang berbeda-beda antara aspek satu dan
lainnya pada penskoran (sebagaimana contoh rubrik penskoran di atas)
dengan memperhatikan karakteristik KD atau keterampilan yang dinilai.
3. Penilaian Portofolio

Seperti pada penilaian pengetahuan, portofolio untuk penilaian keterampilan


merupakan kumpulan sampel karya terbaik dari KD pada KI-4. Portofolio
setiap siswa disimpan dalam suatu folder (map) dan diberi tanggal
pengumpulan oleh guru. Portofolio dapat disimpan dalam bentuk cetakan
dan/atau elektronik. Pada akhir suatu semester kumpulan sampel karya
tersebut digunakan sebagai sebagian bahan untuk mendeskripsikan
pencapaian keterampilan secara deskriptif. Portofolio keterampilan tidak
diskor lagi dengan angka.
Berikut adalah contoh ketentuan dalam penilaian keterampilan dengan
portofolio:
a. Karya asli siswa;
b. Karya yang dimasukkan dalam portofolio disepakati oleh siswa dan guru;
c. Guru menjaga kerahasiaan portofolio;
d. Guru dan siswa mempunyai rasa memiliki terhadap dokumen portofolio;
e. Karya yang dikumpulkan sesuai dengan KD. Setiap pembelajaran KD
dari KI-4 berakhir, karya terbaik dari KD tersebut (bila ada) dimasukkan
ke dalam portofolio.

28/Page
BAB V
MEDIA DAN SUMBER BELAJAR

A. Media Pembelajaran

Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala
sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan
kemampuan atau ketrampilan pembelajar sehingga dapat mendorong terjadinya
proses belajar. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber,
lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran /
pelatihan. Menurut Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk
menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya.
Kemudian menurut National Education Associaton(1969) mengungkapkan bahwa
media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-
dengar, termasuk teknologi perangkat keras, kedua batasan pengertian di atas dapat
ditarik kesimpulan bahwa media pembelajaran merupakan bagian dari sarana dan
prasarana dalam pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. menurut
(Kamus Besar Bahasa Indonesia). Sarana prasarana adalah alat secara fisik, untuk
menyampaikan isi pembelajaran (Sagne dan Brigs dalam Latuheru, 1988:13). Dari
berbagai definisi menurut para ahli dapat diartikan bahwa sarana prasarana adalah
sumber daya pendukung yang terdiri dari segala bentuk jenis bangunan/tanpa
bangunan beserta dengan perlengkapannya dan memenuhi persyaratan untuk
pelaksanaan kegiatan.

Berkaitan dengan media pembelajaran, pemerintah telah mengeluarkan Permendikbud


no 65 tahun 2013 bahwa media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran
untuk menyampaikan materi pelajaran. Sedangkan yang dimaksud materi pelajaran,
materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan
ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian
kompetensi, berikutnya dijelaskan pula bahwa, materi pokok, memuat fakta,
konsep, prinsip, dan prosedur yang, relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai
dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi;

Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa 1) media pembelajaran adalah


alat bantu penyampaian materi pembelajaran, dan 2) materi pembelajaran disebut juga
materi pokok yang pada dasarnya adalah memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur
yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator
ketercapaian kompetensi.

Berikut tabel analisis kompetensi yang ingin dipraktikkan dengan media yang dapat
digunakan:

Materi Pelajaran/Kompetensi Yang Dipraktikkan Alat Bantu/Media Pembelajaran

1. Gerak dasar fundamental permainan bola besar 1. Video permainan sepakbola. berhubungan
menggunakan perminan sepakbola (mengumpan, dengan gerak dasar fundamental
menghentikan, dan menggiring dengan kaki (mengumpan, menghentikan, dan
bagan dalam, serta luar) menggiring dengan kaki bagan dalam,
serta luar)
2. Variasi dan kombinasi gerak dasar fundamental 2. Gambar permainan sepakbola yang
(mengumpan, menghentikan, dan menggiring berhubungan dengan gerak dasar
dengan kaki bagan dalam, serta luar), untuk fundamental (mengumpan, menghentikan,
menanamkan nilai-nilai, toleransi, percaya diri, dan menggiring dengan kaki bagan dalam,
keberanian, menghargai lawan, serta luar)
bertanggung jawab

Dengan demikian media pembelajaran akan sangat beragam bergantung pada materi
pokok atau kompetensi yang ingin dipraktikkannya.

29/Page
B. Sumber Belajar

Dikatakan dalam permendikbud no 65 tahun 2013 bahwa sumber belajar, dapat


berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar atau sumber belajar lain yang
relevan. Buku pegangan guru maupun siswa diharapkan dapat menjadi salah satu
andalan sumber belajar bagi implementasi kurikulum 2013. Buku pegangan siswa
diharapkan memuat berbagai materi pokok yang dapat dipelajari secara independen
oleh siswa, seperti gerak dasar, teknik dasar, permainan modifikasi (lead up games),
permainan sebenarnya termasuk sepak bola, basket, voli, dsb). Sedangkan buku
pegangan guru diharapkan memuat berbagai teknik, strategi, metode, gaya mengajar,
model, dan pendekatan pembelajaran yang dapat dipilih oleh guru untuk digunakan
dalam proses pembelajaran.
Pemilihan model tersebut didasarkan pada karakteristik materi pokok, karakteristik
siswa, ketersediaan sarana, dan kemampuan guru dalam menerapkannya. Ujung dari
usaha pemilihan metode tersebut ini adalah terciptanya proses pembelajaran yang
efektif dan efisian, yang ditandai dengan siswa belajar dan diperolehnya hasil belajar
yang maksimal. Untuk memperoleh hasil belajar siswa yang maskimal tentu saja guru
harus mencari berbagai sumber belajar lainnya, bahkan termasuk harus kreatiff dan
inovatif menciptakan media belajar sendiri.Hal ini perlu dilakukan karena sumber
belajar yang tersedia belum tentu mampu mengakomodir semua kompetensi yang
ingin diraih.Ibarat seorang dokter, untuk mengobati penyakit tertentu, seringkali
dokter harus meracik obat karena obat yang tersedia di pasar tidak ada. Untuk itu
perhatikan, pertimbangkan, analisis, kompetensi yang ingin dipraktikkan, seperti
tertuang dalam taebl dan gambar berikut ini.

Materi Pelajaran/Kompetensi Yang Dipraktikkan Sumber Belajar

1. Gerak dasar fundamental permainan bola besar Sebutkan darimana sumbernya, misalnya :
menggunakan perminan sepakbola (mengumpan,
menghentikan, dan menggiring dengan kaki 1. Buku Pegangan Guru, Buku Pendidikan
bagan dalam, serta luar) Jasmani, Olahraga dan Kesehatan,
Kemdikbud, 2013
2. Variasi dan kombinasi gerak dasar fundamental 2. Buku Pegangan siswa, Buku Pendidikan
(mengumpan, menghentikan, dan menggiring Jasmani, Olahraga dan Kesehatan,
dengan kaki bagan dalam, serta luar), untuk Kemdikbud, 2013
menanamkan nilai-nilai, toleransi, percaya diri, 3. Buku Pendidikan jasmani, olahraga dan
keberanian, menghargai lawan, bertanggung kesehatan, Erlangga, 2006
jawab 4. Lingkungan
5. Internet,
6. Media cetak dan.dsb.

30/Page
BAB VI
GURU MATA PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA, DAN
KESEHATAN DALAM PEMBELAJARAN ABAD 21

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional


menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Berdasarkan pengertian tersebut, ada dua dimensi kurikulum, yang pertama adalah
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, sedangkan yang
kedua adalah cara yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Kurikulum 2013 yang
saat ini sedang dikembangkan untuk memenuhi kedua dimensi tersebut.
Kurikulum 2013 dikembangkan untuk menghadapi tantangan pada era global, baik
tantangan internal maupun tantangan eksternal. Tantangan internal antara lain terkait
dengan perkembangan penduduk Indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia
produktif. Saat ini jumlah penduduk Indonesia usia produktif (15-64 tahun) lebih
banyak dari usia tidak produktif (anak-anak berusia 0-14 tahun dan orang tua berusia 65
tahun ke atas). Jumlah penduduk usia produktif ini akan mencapai puncaknya pada
tahun 2020-2035 pada saat angkanya mencapai 70%. Oleh sebab itu tantangan besar
yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar sumberdaya manusia usia
produktif yang melimpah ini dapat ditransformasikan menjadi sumber daya manusia
yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi
beban.
Dalam melaksanakan tugas mempersiapkan siswa menghadapi tantangan abad 21 guru
dituntut memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial,
dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Kualitas guru
merupakan komponen penting bagi pendidikan yang sukses. Peran guru sangat penting
dalam pembentukan karakter dan sikap siswa, karena siswa membutuhkan contoh,
selain pengetahuan tentang nilai baik-buruk, benar-salah, dan indah-tidak indah.
Dibutuhkan guru yang bermutu karena perannya dalam pengembangan intelektual,
emosional, dan spiritual siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Killen (1998: v),
Pengetahuan, kemampuan, dan keyakinan guru memiliki pengaruh penting terhadap
apa yang dipelajari siswa. Dengan berbagai kenyataan yang digambarkan dari berbagai
penjelasan ini, guru PJOK dihadapkan pada berbagai tantangan yang tidak mudah untuk
dihadapi.
Mengingat tantangan yang berat bagi seorang guru PJOK untuk menjalankan
profesinya, Interstate New Teacher Assessment and Support Consortium (INTASC)
sebagaimana yang dikutip oleh Vincent J. Melograno (2006: 16) merilis sepuluh standar
pengetahuan dan keterampilan bagi guru PJOK yang meliputi:
1) Pengetahuan akan isi pendidikan; seorang guru PJOK diharapkan memahami isi
dari PJOK, dan kajian konsep yang terkait dengan pengembangan insan
pendidikan jasmani
2) Pertumbuhan dan perkembangan; pemahaman akan setiap individu belajar dan
berkembang, serta memberi kesempatan yang memungkinkan dan mendukung
setiap individu untuk berkembang secara fisik, pengetahuan, sosial, dan emosional
merupakan standar yang harus dipenuhi oleh guru PJOK,
3) Perbedaan antar siswa; pemahaman ini akan membawa guru PJOK untuk
melakukan pendekatan dalam pembelajaran, serta mengkreasikan pembelajaran
yang sesuai dengan dan untuk menghadapi berbagai perbedaan setiap individu
siswa tersebut,
4) Manajemen dan motivasi; hal ini diperlukan dan digunakan untuk memotivasi
individu maupun kelompok serta perilaku untuk mengkreasikan lingkungan
pembelajaran yang aman, meningkatkan interaksi sosial, komitmen pembelajaran
yang tinggi, dan membangun motivasi diri siswa untuk belajar,

31/Page
5) Komunikasi; kemampuan ini adalah kemampuan guru PJOK untuk menggunakan
pengetahuan mengenai bahasa verbal dan non-verbal yang efektif, serta media
komunikasi untuk meningkatkan pembelajaran, dan seting pembelajaran yang baik,
6) Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran; memahami pentingnya pengembangan
perencanaan untuk melaksanakan pembelajaran PJOK dan mewujudkan insan yang
terdidik secara fisik (physically educated person),
7) Penilaian terhadap siswa; memahami dan mampu menggunakan berbagai jenis
penilaian dan kontribusinya secara keseluruhan untuk melanjutkan pengembangan
fisik, pengetahuan, sosial, dan emosional siswa,
8) Refleksi; kemampuan guru PJOK untuk merefleksikan kemampuan diri sebagai
praktisi dan berkontribusi bagi pengembangan dan pertumbuhan
profesionalismenya,
9) Teknologi; guru PJOK harus mampu menggunakan teknologi informasi untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran, kualitas diri, dan produktivitas
keprofesionalannya,
10) Kolaborasi; merupakan kemampuan guru PJOK untuk memahami pentingnya
hubungan kerja sama dengan kolega, orangtua siswa dan pengasuh, masyarakat
untuk mendukung pengembangan insan PJOK.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk dapat melaksanakan
pembelajaran dengan baik, guru PJOK harus memiliki kompetensi paripurna, disamping
juga dukungan sistem pendidikan guru yang memadai.
Telah dipahami bahwa guru PJOK dalam format sistem dan aplikasi pendidikan
merupakan unsur yang berkontribusi signifikan bagi terwujudnya proses pembelajaran
dalam konsepsi pendidikan yang bermutu. Di sisi lain, mutu dalam konteks pendidikan
merupakan akumulasi dari mutu masukan, mutu proses, mutu keluaran dan mutu
dampak pendidikan dalam kehidupan masyarakat. Mutu masukan dapat dilihat dari
beberapa sisi. Pertama, kualitas sumber daya manusia dalam hal ini guru PJOK dalam
melayani pembelajaran pada satuan pendidikan; Kedua, mutu masukan material berupa
kurikulum, buku, alat peraga, sarana dan prasarana sekolah; Ketiga, mutu perangkat
lunak berupa peraturan, deskripsi kerja, struktur organisasi sekolah; Keempat, mutu
masukan yang bersifat harapan dan kebutuhan, tercermin dalam visi-misi, semangat,
kinerja, dan cita-cita dalam penyelenggaraan pendidikan.
Hasil kajian terhadap beberapa literatur menunjukkan adanya beberapa elemen
kapasitas untuk meningkatkan mutu pembelajaran PJOK di satuan-satuan pendidikan,
yaitu: (1) Guru PJOK yang profesional, dilihat dari aspek pengetahuan dan ketrampilan,
(2) motivasi siswa, (3) Materi kurikulum, (4) kualitas dan tipe SDM yang mendukung
proses pembelajaran di kelas yang dalam hal ini adalah guru PJOK, (5) kuantitas dan
kualitas interaksi pihak terkait pada tingkat organisasi sekolah, (6) sumber-sumber
belajar, dan (7) organisasi dan alokasi sumberdaya sekolah ditingkat lembaga.
Kapasitas guru PJOK sebagai salah satu elemen pengampu penyelenggaraan
pendidikan bermutu terkait dengan bentuk tugas dan tanggungjawab kerjanya, yang
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2007 adalah merencanakan,
melaksanakan dan melakukan penilaian pada penyelenggaraan pembelajaran di satuan
pendidikan. Karena itu guru PJOK dengan peran profesionalnya menjadi unsur penting
di antara unsur penting lainnya dalam menciptakan dan mengembangkan kegiatan dan
proses pembelajaran di dalam dan/atau di luar kelas. Peran tersebut berkembang dan
semakin penting dalam era global ini yang semakin sarat dengan penguasan informasi
dan teknologi maju. Kebutuhan guru PJOK dengan berbagai peran profesional seperti
tersebut di atas, mengalir sepanjang zaman seiring dengan tumbuh dan bertambahnya
generasi baru yang harus dipersiapkan melalui pendidikan yang memadai sebagai
generasi penerus bangsa.
Kenyataan nilai pentingnya peran guru PJOK dalam mewujudkan pelaksanaan
pendidikan yang bermutu sebagaimana diuraikan di atas, mengisyaratkan bahwa guru
PJOK perlu diposisikan sebagai tenaga kerja dalam kualifikasi profesi yang sarat

32/Page
dengan: kompetensi, profesionalitas, komitmen kinerja, dan akuntabilitas dalam
menjalankan tugasnya.
Sebagai perimbangan dari itu, untuk dapat menjalankan tugasnya dengan baik, guru
PJOK perlu memperoleh jaminan atas pemenuhan kebutuhan dasarnya sebagai pekerja
profesi berupa kesempatan pengembangan karier dan mutu profesionalitas,
perlindungan dalam pengabdian profesi, penghargaan dan perlindungan atas prestasi
kinerja, dan kelayakan kesejahteraannya. Konsekuensi dari kondisi tersebut, pemerintah
berkewajiban melaksanakan pengembangan kebijakan dan program peningkatan mutu
profesionalitas guru PJOK secara terencana dan sistematis.
Mencermati posisi dan peranan penting guru PJOK dalam upaya membangun
pendidikan bermutu, kiranya perlu diajukan pertanyaan-pertanyaan pokok berkaitan
dengan kondisi guru PJOK di Indonesia saat ini sebagai gambaran persoalan yang layak
di ditindaklanjuti melalui kebijakan dan peraturan pemerintah tentang pembinaan dan
pengelolaan guru PJOK yang sedang disiapkan, antara lain: (1) Sejauhmana guru PJOK
diposisikan sebagai tenaga profesi setara profesi guru lain yang secara terpadu
bertanggungjawab melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan lingkup
tugasnya guna merealisasikan pendidikan bermutu?; (2) Sejauh mana guru PJOK telah
memenuhi kualifikasi sebagai tenaga profesional yang siap menangani tugas-tugas
sesuai dengan bidang dan latar keilmuannya?; (3) Sejauhmana guru PJOK telah
menunjukkan mutu profesionalitas yang dibutuhkan sebagai tenaga pendidik dalam
proses pembelajaran di sekolah?; (4) Sejauhmana guru PJOK telah menunjukkan
kinerja sesuai peran pentingnya secara aktif agar kegiatan belajar mengajar bisa
berjalan dengan efektif dan efisien; (5) Sejauhmana guru PJOK telah diberi kesempatan
dan fasilitasi untuk pengembangan karier, ilmu pengetahuan, dan keterampilan
pendukung keprofesiannya?; (6) sejauhmana guru PJOK telah diberikan kepercayaan
dan kesempatan untuk memberikan andil pendapat dalam penentuan kebijakan
kependidikan?; (7) Sejauh mana guru PJOK telah diberikan perlindungan dalam
pengabdian profesinya di dunia pendidikan; (8) Sejauhmana guru PJOK telah diberikan
kelayakan kesejahteraan dalam pengabdiannya; (9) Sejauhmana guru PJOK telah
memenuhi kebutuhan dan dikelola secara baik dalam penyelenggaraan pendidikan
lingkup nasional menyangkut aspek pemerataan, perluasan akses, mutu, relevansi, daya
saing (kemampuan berkinerja prima), tata kelola tenaga kependidikan, akuntabilitas,
dan pencitraan?
Inti persoalan yang dapat ditarik dari analisis ini adalah bahwa elemen guru PJOK harus
dikelola mutu kehidupan profesi dan penataan aksesibilitasnya secara terencana dan
sistematis melalui acuan yang jelas, tegas, dan rinci. Jika berbagai kebutuhan dan
kesempatan guru PJOK tersebut dapat dipenuhi, maka peran guru PJOK dalam
mempersiapkan siswa untuk menghadapi abad 21 akan berhasil dengan baik sesuai
dengan tujuan pendidikan nasional.

33/Page
BAB VII
PENUTUP

Kurikulum 2013 memiliki misi dan tujuan khusus mempersiapkan generasi baru Indonesia
berkemampuan sebagai pribadi orang dewasa dan warga negara berketerampilan, bersikap
religius, memiliki etika sosial tinggi sebagai warga negara yang peduli dan
bertangungjawab terhadap permasalahan sosial dan pengembangan peradaban. Misi dan
orientasi Kurikulum 2013 itu diwujudkan dalam praktik pendidikan dengan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan
masa kini dan masa depan meliputi empat (4) Kompetisi inti, yaitu: (1) penguasaan
pengetahuan; (2) pengetahuan dalam praktik atau keterampilan; (3) sikap religius; dan (4)
etika sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Menjawab kebutuhan tersebut, buku ini dirancang secara khusus untuk dijadikan acuan
guru PJOK dalam menerjemahkan misi dan orientasi Kurikulum 2013 dan
mengoperasionalisasikan silabus PJOK ke dalam proses pembelajaran. Dengan mengacu
pada buku ini, diharapkan guru PJOK mampu menjalankan peran dan fungsinya secara
optimal dalam proses transformasi pendidikan sebagaimana diharapkan misi dan orientasi
Kurikulum 2013. Namun, keberhasilan semua itu sangat bergantung pada kesiapan
berbagai pihak, selain kesiapan guru Prakarya, juga dukungan berbagai pihak para
pemangku pendidikan lainnya. Terutama komitmen dan dukungan pemerintah daerah,
lembaga eksekutif dan legislatif di daerah, dan masyarakat luas, termasuk LSM, tokoh
masyarakat, dan agensi-agensi pembangunan lainnya, disini sangat diharapkan bagi
terwujudnya misi dan orientasi Kurikulum 2013 dan operasionalisasi panduan ini dalam
praktik pembelajaran.

34/Page