Anda di halaman 1dari 19

MATA KULIAH Kesehatan Reproduksi

WAKTU

DOSEN IRMA NURIANTI, SKM. M.Kes

TOPIK Kesehatan reproduksi dalam Perspektif


Gender
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 1

SUB TOPIK
1. Seksualitas dan gender
2. Budaya yang berpengaruh terhadap Gender

OBJEKTIF PERILAKU MAHASISWA


Setelah perkuliahan ini mahasiswa dapat menjelaskan tentang:
1. Seksualitas dan gender
2. Budaya yang berpengaruh terhadap Gender

REFERENSI
1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Dirjen Pembinaan Kesehatan
2. Ida Bagus Gde manuaba, 1999, Memahami Kesehatan reproduksi wanita, Area
EGC Jakarta.
3. Masyarakat, 1996, Kesehatan Reproduksi di Indonesia, Jakarta.
4. Mohamad, Kartono, 1998, Kontradiksi Dalam Kesehatan Reproduksi,
Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
5. Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, PPK-UGM, dan Ford
Foundation, 1995, Hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi, terjemahan
bahasa Indonesia Implication of the ICPD programme of action Chapter VII,
Yogyakarta.
6. Wahid, Abdurrahman, dkk, 1996, Seksualitas, Kesehatan Reproduksi dan
Ketimpangan Gender, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
7. Wattie, Anna Marie,1996, Kesehatan Reproduksi dasar pemikiran, pengertian
dan implikasi, Pusat Penelitian Kependudukan UGM, Yogyakarta.
8. Wattie, Anna Marie, 1996. Telaah Aspek-Aspek Sosial Dalam Persoalan
Kesehatan Reproduksi, Pusat penelitian Kependudukan UGM, Yogyakarta.
9. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Bunga rampai Obstetri dan
Ginekologi Sosial, Jakarta.

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 2

Kemitrasejajaran yang harmonis antara pria dengan wanita adalah suatu kondisi
hubungan kedudukan dan peranan yang dinamis antara pria dengan wanita. Pria dan
wanita mempunyai persamaan kedudukan, hak, kewajiban dan kesempatan, baik
dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara maupun
dalam kegiatan pembangunan di segala bidang (Kantor Menteri Negara Peranan
Wanita, 1998).

1. SEKSUALITAS
Seks adalah
a. Seks berkaitan dengan karakteristik biologis dan fisik seperti genital, organ
reproduksi, kromosom dan hormone, yang membedakan laki laki dan
perempuan.
b. merupakan identitas biologis

Aktifitas Seksual adalah


Penggunaan alat kelamin untuk penikmatan atau membentuk keturunan
Orientasi seksual adalah orientasi yang terkait dengan pilihan partner seks
untuk aktifitas seksual maupun hubungan-hubungan emosional dalam
jangka panjang, atau terkait dengan kombinasi-kombinasi seksual.

PENGERTIAN:
Dalam kamus bahasa kata seks berarti jenis kelamin. segala sesuatu yang
berhubungan dengan jenis kelamin disebut dengan seksualitas. Perilaku seksual
adalah:segala tindakan yang bisa diamati berupa tindakan seksual terhadap orang lain
atau diri sendiri, mengungkapkan diri secara seksual atau cara berbicara dan
bertindak.
Menurut Masters, jhonson dan kolodny (1992} seksualitas menyangkut
berbagai dimensi yang sangat luas. Diantaranya adalah
Dimensi biologis
Dimensi Sosial
Dimensi kultural moral

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 3

Dimensi Biologis
Berdasarkan dimensi ini, seksualitas berhubungan erat dengan bagaimana
manusia menjalani fungsi seksual, sesuai dengan identitas jenis kelaminnya dan
bagaimana dinamika aspek-aspek psikologis (kognisi,emosi,motivasi, perilaku)
terhadap seksualitas, itu sendiri, serta bagaimana dampak psikologis dari
keberfungsian seksualitas dalam kehidupan manusia
Misalnya bagaimana seseorang berperilaku sebagai seoranglaki-laki atau
perempuan,bagaimana seseorang mendapatkan kepuasan psikolosis dari perilaku
yang dihubungkan dengan identitas peran, jenis kelamin, serta bagaimana perilaku
seksualnya.

Dimensi Sosial
Dimensi sosial melihat bagaimana seksualitas muncul dalam relasi antar
manusia, bagaiman seseorang beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan tuntutan
peran dari lingkungan sosial, serta bagaimana sosialisasi peran dalam kehidupan
manusia.

Dimensi kultural moral


Dimensi ini menunjukan bagaimana nilai-nilai budaya dan moral mempunyai
penilaian terhadap seksualitas. Misalnya dinegara Timur orang belum ekspresif
mengungkapkan seksualitas berbeda dengan negara barat, seksualitas di negara-
negara barat umumnya menjadi hak asai manusia. Berbeda dengan moralitas islam
misalnya menganggap bahwa seksualitas sepenuhnya adalah hak Tuhan, sehingga
penggunaan dan pemanfaatannya dilandasi pada norma-norma agama yang sudah
mengatur kehidupan seksualitas manusia secara lengkap.

Seksualitas berdasarkan kerangka berfikir dixon muller ada 4 aspek yaitu:


1. Pasangan seksual
Adalah segala informasi yang terkait dengan partner sexual, terdiri dari elemen-
elemen tersebut sbb:
a. jumlah pasangan sex, saat ini maupun dimasa lampau, baik terikat pernikahan
maupun tidak.

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 4

b. Lama suatu hubungan (Sexual):1x,3 bulan,1 tahun


c. Latar belakang suatu hubungan :sukarela, dipaksa, terpaksa

2. Tindakan seksual
Terdiri dari:
a. Naluri alamiah(hubungan sesama atau berbeda jenis, penetrasi, non penetrasi,
anal, oral, dst)
b. Frekwensi (seberapa sering)
c. Latar belakang sutu hubungan (terpaksa, sukarela, suka sama suka)

3. Makna seksual
Merupakan pemikiran, perilaku dan kondisi seksual yang diinterpretasikan menurut
budaya setempat, misalnya:
a. Perempuan tidak boleh agresif dan harus mempertahankan keperawanannya
sebelum menikah.
b. Laki-laki dikatakan jantan, bila mampu menunjukan dominasi terhadap
perempuan

4. Dorongan dan kenikmatan seksual


a. pembentukan identitas seksual
b. kondisi yang membentuk dorongan dsexual
c. persepsi tentang kenikmatan sexual

Menurut Marti Blnch & Merri Collier (1993), seksualitas meliputi 5 area yaitu:
1. Sensualitas
Kenikmatan yang merupakn bentuk interaksi antara pikiran dan tubuh.
Umumnya sensualitas melibatkan panca indera (aroma, rasa,penglihatan,
pendengaran,sentuhan)&otak (organ yang paling kuat terkait dengan seks dalam
fungsi fantasi, antisipasi, memory, da pengalaman)

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 5

2. Intimasi
Ikatan emosional atau kedekatn dalam relasi interpersonal. Biasanya
mengandung unsur-unsur: kepercayaan, keterbukaan diri, kelekatan dengan orang
lain, kehangatan, kedekatan fisik, dan saling menhargai.
3. Identitas
Peran jenis kelamin yang mengandung persan-pesan gender perempuan dan laki-laki
serta mitos-mitos (feminimitas dan maskulinitas) serta orientasi seksual. Hal ini juga
menyangkut bagaimana seseorang menghayati peran jenis kelamin, hingga ia mampu
menerima diri dan mengembangkan diri sesuai dengan peran jenis kelaminnya.
4. Lifecycle (lingkaran kehidupan)
Aspek biologis dari seksualitas yang terkait dengan anatomi dan fisiologi
organ seksual.
5. Exploitation (eksploitasi)
Unsur kontrol dan manipulasi terhadap seksualitas, seperti: kekersan seksual,
pornografi, pemerkosaan, dan pelecehan seksual

Sedangkan Teddy Hidayat (1997) memberikan ruang lingkup seksualitas antar


lain terdiri dari:
1. Seksual biologis
Komponen yang mengandung beberapa ciri dasar seks yang terlihat pada
individu yang bersangkutan (kromosom, hormon, serta ciri-ciri seks primer dan
sekunder). Ciri seks yang primer timbul sejak lahir yaitu alat kelamin luar (genitalia
eksterna) dan alat kelamin dalam (genitalia interna). Ciri seks sekunder timbul saat
seseorang meningkat dewasa seperti tumbuhnya bulu-bulu badabadan dan tempat
tertentu (ketiak, badan), berkembangnya payudara dan peruban suara pada laki-lai
2. Identitas seksual
Adalah konsep diri pada individu yang menyatakan dirinya, keluarga (orang tua)
atau figur yang signifikan dalam kehidupan anak
Identitas gender adalah penghayatan perasaan kelaki-lakian dalam bentuk perilaku
sebagai laki-laki atau perempuan dalam lingkunagn budayanya. Identitas budaya
sebagai interaksi antara faktor fisik dan psikoseksual. Interaksi yang harmonis antara

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 6

kedua faktor ini akan menunjang perkembangan norma seorang perempuan atau laki-
laki.
3. Perilaku seksual
Yaitu orientasi seksual dari seoran individu yang merupakan dua unsur yang sulit
dipisahkan yaitu tingkah laku seksual dan tingkah laku jender. Tingkah laku seksual
didasari oleh dorongan seksual untuk mencari kepuasan seksual:yaitu orgasmus.
Tingkah laku gender adalah tingkah laku dengan konotasi maskulin atau feminim di
luar tingkah laku seksual. Dalam perkembangan seksualitas perilaku seksual mulai
mulai muncul sejak kecil dalam bentuk yang berbeda. Perilaku seksual ini makin
disadari ketika usia remaja.

Tujuan seksualitas
Secara umum meningkatkan kesejahteraan kehidupan manusia, secara khusus ada
2 yaitu:
Prokreasi (menciptakan atau meneruskan keturunan)
rekreasi (memperoleh kenikmatan biologis/ seksual)
Kedua fungsi ini harus sejalan seiring . berdasarakan pendekatan religius, Tuhan
menggariskan kedua tujuan itu sebagai bentuk keseimbangan hak dan kewajiban
yang harus dipenuhi oleh manusia dalamsuatu ikatan pernikahan yang sah secara
hukum agama dan negara.

Pandangan keliru tentang fungsi seksual wanita


Apa arti menjadi seorang wanita atau pria di suatu masyarakat tergantung
pada kepercayaan atau pandangan tentang seksualitas pria dan wanita yaitu tentang
sikap seksual dan bagaimana perasaan orang tentang tubuhnya sendiri
Beberapa pandangan yang berbahaya bagi seksualitas wanita yang banyak
dijumpai di masyarakat akan dijelaskan dibawah ini:
tubuh wanita adalah memalukan
Orang tua berbeda sikap bila anak perempuan atau anak laki-laki menyentuh
tubuh mereka sendiri
tubuh wanita itu tidak memalukan tubuhnya perlu untuk dikenal, disayang dan
dihargai

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 7

tubuh wanita milik pria


Beberapa gadis dinikahkan sejak kecil untuk memastikan mereka tetap suci. Ini
bisa menyebabkan masalah kesehatan yang berat bagi gadis tersebut dan bayi-
bayinya.
Wanita hanya mempunyai sedikit gairah seksual
Seorang wanita sering diajari bahwa itu merupakan tugas bagi istri untuk
melayani kebutuhan seksual suami. Tetapi bila dia seorang wanita yang baik-
baikmaka dia hanya akan melayaninya, tidak menginginkannya
Keinginan seksual adalah merupakan bagian alami dari setiap manusia termasuk
seorang wanita bisa merasakan keinginan dan kenikmatan seksual seperti yang
diinginkan oleh pria.

Meningkatkan kesehatan seksual berarti:


1. Menurunkan resiko dari kehamilan yang tidak diinginkan dan PMS
2. Bisa menikmati hubungan intim
3. Merubah peran gender yang membahayakan
4. Merubah peran gender yang membahayakan kesehatan wanita , termasuk
pandangan yang keliru

b. Gender
Gender berasal dari kata gender (bahasa Inggris) yang diartikan sebagai
jenis kelamin. Namun jenis kelamin di sini bukan seks secara biologis, melainkan
sosial budaya dan psikologis. Pada prinsipnya konsep gender memfokuskan
perbedaan peranan antara pria dengan wanita, yang dibentuk oleh masyarakat sesuai
dengan norma sosial dan nilai sosial budaya masyarakat yang bersangkutan.
a. berarti menjadi laki laki atau perempuan yang mungkin saja berbeda dengan
seperangkat kromosom yang dimiliki seseorang
b. merupakan identitas social atau konstruksi social yang melekat pada laki laki
dan perempuan
c. berkaitan dengan peran, hak, tanggung jawab, kemungkinan dan
keterbatasan yang dipunyai laki laki dan perempuan dalam suatu masyarakat.

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 8

d. merupakan atribut social yang terkait dengan bagaimana kita berpikir, apa
yang kita yakini tentang apa yang boleh (bisa dilakukan) atau tidak boleh (tak
bisa dilakukan) terkait dengan konsep social tentang maskulin dan feminine
e. berkaitan dengan posisi perempuan dan laki laki berkaitan dengan struktur
kekuasaan (power).
f. gender (dan peran gender) berubah sepanjang waktu dan bervariasi
tergantung budaya

Peran Gender
Peran gender adalah peran sosial yang tidak ditentukan oleh perbedaan kelamin
seperti halnya peran kodrati. Oleh karena itu, pembagian peranan antara pria dengan
wanita dapat berbeda di antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lainnya
sesuai dengan lingkungan. Peran gender juga dapat berubah dari masa ke masa,
karena pengaruh kemajuan : pendidikan, teknologi, ekonomi, dan lain-lain. Hal itu
berarti, peran jender dapat ditukarkan antara pria dengan wanita (Agung Aryani,
2002 dan Tim Pusat Studi Wanita Universitas Udayana, 2003).

Beberapa status dan peran yang dicap cocok atau pantas oleh masyarakat untuk pria
dan wanita sebagai berikut.
Perempuan:
1. ibu rumah tangga.
2. bukan pewaris.
3. tenaga kerja domestik (urusan rumah tangga).
4. pramugari.
Pria:
1. kepala keluarga/ rumah tangga.
2. pewaris.
3. tenaga kerja publik (pencari nafkah).
4. pilot.
5. pencangkul lahan.
Dalam kenyataannya, ada pria yang mengambil pekerjaan urusan rumah tangga, dan
ada pula wanita sebagai pencari nafkah utama dalam rumah tangga mereka, sebagai

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 9

pilot, pencangkul lahan dan lain-lain. Dengan kata-kata lain, peran gender tidak
statis, tetapi dinamis (dapat berubah atau diubah, sesuai dengan perkembangan
situasi dan kondisi).

Berkaitan dengan gender, dikenal ada tiga jenis peran gender sebagai berikut.
(1). Peran produktif adalah peran yang dilakukan oleh seseorang, menyangkut
pekerjaan yang menghasilkan barang dan jasa, baik untuk dikonsumsi maupun
untuk diperdagangkan. Peran ini sering pula disebut dengan peran di sektor
publik.
(2). Peran reproduktif adalah peran yang dijalankan oleh seseorang untuk kegiatan
yang berkaitan dengan pemeliharaan sumber daya manusia dan pekerjaan urusan
rumah tangga, seperti mengasuh anak, memasak, mencuci pakaian dan alat-alat
rumah tangga, menyetrika, membersihkan rumah, dan lain-lain. Peran
reproduktif ini disebut juga peran di sektor domestik.
(3). Peran sosial adalah peran yang dilaksanakan oleh seseorang untuk berpartisipasi
di dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti gotong-royong dalam
menyelesaikan beragam pekerjaan yang menyangkut kepentingan bersama.
(Kantor Menteri Negara Peranan Wanita, 1998 dan Tim Pusat Studi Wanita
Universitas Udayana, 2003).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa peran kodrati bersifat
statis, sedangkan peran gender bersifat dinamis. Hal ini dapat dicontohkan
sebagai berikut.

Peran Kodrati
Wanita:
1. Menstruasi
2. Mengandung
3. Melahirkan
4. Menyusui dengan air susu ibu
5. Menopause

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 10

Pria:
Membuahi sel telur wanita
Peran Gender
1. Mencari nafkah.
2. Memasak.
3. Mengasuh anak.
4. Mencuci pakaian dan alat-alat rumah tangga
5. Tolong-menolong antar tetangga dan gotong-royong dalam menyelesaikan
pekerjaan milik bersama.
6. Dan lain-lain.

Contoh peran gender berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat


yang lain sebagai berikut.
(1). Masyarakat Bali menganut sistem kekerabatan patrilineal, berarti hubungan
keluarga dengan garis pria (ayah) lebih penting atau diutamakan dari pada
hubungan keluarga dengan garis wanita (ibu).
(2). Masyarakat Sumatera Barat menganut sistem kekerabatan matrilineal, berarti
hubungan keluarga dengan garis wanita (ibu) lebih penting dari pada
hubungan keluarga dengan garis pria (ayah).
(3). Masyarakat Jawa menganut sistem kekerabatan parental/ bilateral, berarti
hubungan keluarga dengan garis pria (ayah) sama pentingnya dengan
hubungan keluarga dengan garis wanita (ibu).
Jadi status dan peran pria dan wanita berbeda antara masyarakat yang satu dengan
masyarakat yang lain, yang disebabkan oleh perbedaan norma sosial dan nilai sosial
budaya.
Contoh peran gender berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan
perkembangan jaman sebagai berikut. Pada masa lalu, menyetir mobil hanya
dianggap pantas dilakukan oleh pria, tetapi sekarang wanita menyetir mobil sudah
dianggap hal yang biasa. Contoh lain, pada masa silam, jika wanita ke luar rumah
sendiri (tanpa ada yang menemani) apalagi pada waktu malam hari, dianggap tidak
pantas, tetapi sekarang sudah dianggap hal yang biasa.

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 11

Contoh peran gender yang dapat ditukarkan antara pria dengan wanita
sebagai berikut. Mengasuh anak, mencuci pakaian dan lain-lain, yang biasanya
dilakukan oleh wanita (ibu) dapat digantikan oleh pria (ayah). Contoh lain,
mencangkul, menyembelih ayam dan lain-lain yang biasa dilakukan oleh pria (ayah)
dapat digantikan oleh wanita (ibu). Beberapa ciri gender yang dilekatkan oleh
masyarakat pada pria dan wanita sebagai berikut. Perempuan memiliki ciri-ciri:
lemah, halus atau lembut, emosional dan lain-

Isu Mengenai Gender


a. Masalah perempuan dan kemiskinan terjadi karena kemiskinan struktural
akibat kebijaksanaan pembangunan dan sosial budaya yang berlaku
b. Kesempatan pendidikan dan pelatihan bagi perempuan meningkatkan posisi
tawar-menawar menuju kesetaraan gender
c. Masalah kesehatan wanita dan hak reproduksi yang kurang mendapatkan
perhatian dan pelayanan yang memadai
d. Kekerasan fisik atau non fisik terhadap perempuan dalam rumah tangga
maupun tempat kerja tanpa perlindungan hukum
e. Perlindungan dan pengayoman terhadap hak2 asasi perempuan secara sosial
maupun hukum masih lemah
f. Keterbatasan akses perempuan terhadap media massa, sehingga ada
kecenderungan media informasi menggunakan tubuh wanita sebagai media
promosi dan eksploitasi murahan
g. Perempuan paling rentan terhadap pencemaran lingkungan seperti air bersih,
sampah industri dan pencemaran lingkungan yang lain
h. Terbatasnya kesempatan dalam potensi diri perempuan
i. Terbatasnya lembaga2 dan mekanisme yang memperjuangkan perempuan
j. Perempuan yang berada didaerah konflik dan kerusuhan, banyak yang menjadi
korban kekejaman dan kekerasan
k. Terbatasnya akses ekonomi perempuan untuk berusaha dibidang ekonomi
produktif termasuk mendapatkan modal dan pelatihan usaha
l. Keikutsertaan perempuan dalam merumuskan dan mengambil keputusan dalam
keluarga, masyarakat dan negara masih terbatas

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 12

Isu Gender dalam Lingkup Kesehatan Reproduksi


a. Safe Motherhood
Ketidakmampuan perempuan dalam mengambil keputusan, kaitannya dengan
kesehatan wanita, sikap dan perilaku keluarga yang cenderung mengutamakan
laki2 (tuntutan peran ganda)
b. KB
Kesertaan ber-KB 98% perempuan (SDKI, 1997), perempuan tidak
mempunyai kekuatan memutuskan metode kontrasepsi. Dalam pengambilan
keputusan laki2 lebih dominan
c. Kesehatan reproduksi Remaja
Ketidakadilan dalam membagi tanggung jawab dan ketidakadilan dalam aspek
hukum
d. PMS
Perempuan selalu dijadikan objek intervensi dalam program pemberantasan
PMS

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 13

2. BUDAYA YANG BERPENGARUH THD GENDER


Dikemukakan oleh White dan Hastuti (1980), dalam sistem kekerabatan patrilineal,
ada adat dalam perkawinan (pernikahan) yang biasanya wanita (istri) mengikuti pria
(suami) atau tinggal di pihak kerabat suami, merupakan salah satu faktor yang secara
relatif cendrung mempengaruhi status dan peranan wanita, yakni status dan peranan
wanita menjadi lebih rendah dari pada pria. Selain itu, wanita tidak bisa menjadi
pemilik tanah dan kekayaan yang lain melalui hak waris, sehingga status dan peranan
wanita menjadi lebih lemah dari pada pria. Hal itu juga menyebabkan sumber daya
pribadi (khususnya yang menyangkut tanah, uang atau material) yang dapat
disumbangkan oleh wanita ke dalam perkawinan atau rumah tangga mereka menjadi
sangat terbatas. Akibatnya, status dan peranan wanita menjadi lebih lemah
dibandingkan dengan pria. Menurut Blood dan Walfe (1960) sumber daya pribadi
bisa berupa: pendidikan, keterampilan, uang atau material, tanah dan lain-lain.
Akibat masih berlakunya berbagai norma sosial dan nilai sosial budaya
tersebut di masyarakat, maka akses wanita terhadap sumber daya di bidang politik,
ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan menjadi terbatas. Untuk
memperkecil keadaan yang merugikan wanita itu, perlu pemahaman dan
penghayatan yang baik tentang peranan wanita dalam pembangunan yang
berwawasan gender, tidak hanya oleh wanita sendiri tetapi juga oleh pria atau seluruh
lapisan masyarakat.
Wanita menjadi lebih rendah dari pada pria. Selain itu, wanita tidak bisa
menjadi pemilik tanah dan kekayaan yang lain melalui hak waris, sehingga status dan
peranan wanita menjadi lebih lemah dari pada pria. Hal itu juga menyebabkan
sumber daya pribadi (khususnya yang menyangkut tanah, uang atau material) yang
dapat disumbangkan oleh wanita ke dalam perkawinan atau rumah tangga mereka
menjadi sangat terbatas. Akibatnya, status dan peranan wanita menjadi lebih lemah
dibandingkan dengan pria. Menurut Blood dan Walfe (1960) sumber daya pribadi
bisa berupa: pendidikan, keterampilan, uang atau material, tanah dan lain-lain.
Akibat masih berlakunya berbagai norma sosial dan nilai sosial budaya tersebut di
masyarakat, maka akses wanita terhadap sumber daya di bidang politik, ekonomi,
sosial budaya, pertahanan dan keamanan menjadi terbatas. Untuk memperkecil
keadaan yang merugikan wanita itu, perlu pemahaman dan penghayatan yang baik

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 14

tentang peranan wanita dalam pembangunan yang berwawasan gender, tidak hanya
oleh wanita sendiri tetapi juga oleh pria atau seluruh lapisan masyarakat.

a. Dalam adat budaya Jawa di Indonesia, seorang budayawan terkemuka, Umar


Kayam, mengungkapkan bahwa sebutan wanita sebagai kanca wingking
(teman di belakang) merupakan pengembangan dialektika budaya
adiluhung. Sosok budaya inilah yang berkembang di bawah ilham halus
kasar yang secara tegar menjelajahi semua sistem masyarakat Jawa. Sistem
kekuasaan feodal aristokratik, demikian Kayam, telah menetapkan wanita
untuk memiliki peran atau role menjadi penjaga nilai-nilai halus-kasar dan
adiluhung di dalam rumah.(Kompas, 23 Oktober 1995)

Penjajahan kultural yang demikian panjang dan membuat perempuan lebih


banyak menjadi korban itu terus dilestarikan. Tidak jarang, alasan-alasan
kultural memberikan legitimasi sangat ampuh. Ia dicekokkan melalui pelbagai
pranata sosial dan adat istiadat yang mendarahdaging dalam jantung kesadaran
anggotanya. Rasionalisasi kultural inilah yang pada gilirannya membuat
perempuan secara psikologis mengidap sesuatu yang oleh Collete Dowling
disebut Cinderella Complex, suatu jaringan rasa takut yang begitu mencekam,
sehingga kaum wanita merasa tidak berani dan tidak bisa memanfaatkan potensi
otak dan daya kreativitasnya secara penuh. (Ibrahim dan Suranto, 1998:xxvi)

b. Pemapanan citra bahwa seorang perempuan itu lebih cocok berperan sebagai
seorang ibu dengan segala macam tugas domestiknya yang selalu dikatakan
sebagai urusan perempuan, seperti membersihkan rumah, mengurus suami
dan anak, memasak, berdandan dan sebagainya. Sementara citra laki-laki,
disosialisasikan secara lebih positif, dimana dikatakan bahwa laki-laki
karena kelebihan yang dimilikinya maka lebih sesuai jika dibebani dengan
urusan-urusan laki-laki pula dan lebih sering berhubungan dengan sektor
publik, seperti mencari nafkah, dengan profesi yang lebih bervariasi
daripada perempuan. Kesemua itu disosialisasikan sejak dari kelas satu
Sekolah Dasar melalui buku-buku pelajaran di sekolah hingga Panca

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 15

Dharma Wanita, yang menyatakan bahwa tugas utama seoarang perempuan


adalah sebagai pendamping suami, dan itulah yang diyakini secara salah
oleh sebagian orang sebagai kodrat wanita.
c. Di masyarakat Jawa, terdapat penerimaan atau bahkan toleransi terhadap
ketidakmampuan laki laki dalam mengontrol nafsu seks mereka. Karena laki
laki seringkali dianggap tidak mampu menahan hasrat seks mereka, banyak
perempuan mentoleransi dan bahkan mengharapkan pada derajat tertentu
ketidaksetiaan dari suami, meskipun mereka juga tidak mendorongnya
(Brenner 1998). Karena laki laki dianggap tidak bisa mengontrol nafsu
mereka, maka ada anggapan bahwa jika tidak terlampiaskan, ini akan
mengakibatkan perkosaan atau pelecehan seksual yang membawa korban
perempuan baik baik. Hal ini membuat banyak laki laki dan perempuan suku
Jawa menyimpulkan bahwa Pekerja Seks Komersial (PSK) tetap dibutuhkan
sebagai pelampiasan (Crisovan, 2006). Temuan serupa juga dinyatakan oleh
Geertz pada tahun 1950an, yang menyatakan bahwa istri toleran terhadap
lepas tangan suami karena laki laki memang dianggap mempunyai sifat tak
punya tanggung jawab. Perselingkuhan seksual mereka disebut nakal;
sama istilahnya seperti seorang anak yang tidak menurut kata orang tua,
tanpa adanya konotasi pelanggaran; dan mereka diharapkan nakal selama
kuliah dan bahkan setelah menikah (Geertz, 1961 cit. Crisovan, 2006).
d. Dalam pemahaman beberapa budaya di Indonesia (termasuk Jawa), salah satu
ukuran kecantikan perempuan dan kenikmatan dalam hubungan seks adalah
keringnya vagina, yang kemudian menghasilkan praktek praktek pencucian
vagina menggunakan preparat jamu yang diminum maupun dimasukkan ke
dalam vagina. Persepsi ini juga dijumpai di beberapa negara lain di Asia dan
Afrika, yang melahirkan praktek praktek sirkumsisi untuk perempuan dan
infibulasi. Berdasarkan penelitian, praktek praktek ini kemudian ditengarai
mempengaruhi resiko perempuan untuk terjangkit penyakit kelamin dan
HIV/AIDS karena kerusakan mukosa vagina (Penelitian WHO tentang
praktek pencucian vagina di beberapa negara termasuk
Indonesia/Yogyakarta).

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 16

Selama ini telah disosialisasikan, ditanamkan sedemikian rupa, ke dalam benak,


ke dalam pribadi-pribadi seseorang, laki-laki dan perempaun, bahwa karena
kodrat-nya seorang laki-laki berhak dan sudah seharusnya untuk mendapat
kebebasan, mendapat kesempatan yang lebih luas daripada perempuan. Tuntutan
nilai-nilai yang ditentukan oleh masyarakat telah mengharuskan seorang laki-laki
untuk lebih pintar, lebih kaya, lebih berkuasa daripada seorang perempuan.
Akibatnya segala perhatian dan perlakuan yang diberikan kepada masing-masing dua
jenis kelamin, laki-laki dan perempuan tersebut pun disesuaikan dan diarahkan untuk
memenuhi tuntutan tersebut. Kepada laki-laki diberikan prioritas dan kesempatan
lebih luas untuk sekolah dan menuntut ilmu lebih tinggi daripada kesempatan yang
diberikan kepada kaum perempuan. Kepada kaum laki-laki pula dibuka pintu
selebar-lebarnya untuk bekerja di berbagai sektor publik dalam dunia pekerjaan yang
dianggap maskulin, sementara perempuan lebih diarahkan untuk masuk ke sektor
domestik dengan pekerjaan-pekerjaan yang selama ini memang dianggap sebagai
urusan perempuan.
Bertolak dari kondisi tersebut maka akses perempuan terhadap sesuatu yang
dihargai dalam masyarakat, yang menjadi sumber kelahiran pelapisan dalam
masyarakat pun menjadi sangat rendah. Sehingga kaum perempuan dengan segala
keterbatasan yang sudah ditentukan oleh masyarakat untuknya terpaksa menempati
lapisan yang lebih rendah di masyarakat daripada kaum laki-laki.

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 17

EVALUASI
1. Dimensi seksualitas yang muncul dalam relasi antar manusia, bagaiman
seseorang beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan tuntutan peran dari
lingkungan sosial, serta bagaimana sosialisasi peran dalam kehidupan manusia,
disebut......
a. Dimensi biologi
b. Dimensi kultural
c. Dimensi sosial
d. Dimensi moral
e. Dimensi budaya
2. Ikatan emosional atau kedekatan dalam relasi interpersonal. Disebut...
a. Sensualitas
b. Intimasi
c. Identitas
d. Lifecycle (lingkaran kehidupan)
e. Exploitation (eksploitasi
3. Tujuan seksualitas untuk menciptakan atau meneruskan keturunan) disebut....
a. Prokreasi
b. Proteksi
c. relaksasi
d. Rekreasi
e. Prostitusi
4. Konsep diri pada individu yang menyatakan dirinya, keluarga (orang tua) atau
figur yang signifikan dalam kehidupan anak disebut....
a Seksual biologis
b Identitas seksual.
c Perilaku seksual
d Peran gender
e Funnsi seksual

Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi dalam Perspektif Gender 18

5. Dibawah ini merupakan pandangan keliru tentang fungsi seksual wanita


kecuali.....
a. Tubuh wanita adalah memalukan
b. Tubuh wanita milik pria
c. Wanita hanya mempunyai sedikit gairah seksual
d. Wanita memiliki hak yang sama dalam pemenuhan kebutuhan seksual
e. Wanita objek eksploitasi

Kesehatan Reproduksi