Anda di halaman 1dari 29

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA


JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan bisnis dan investasi kelapa sawit dalam beberapa tahun terakhir
mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Permintaan atas minyak nabati dan
penyediaan biofuel telah mendorong peningkatan permintaan minyak nabati yang
bersumber dari crude palm oil (CPO) yang berasal dari kelapa sawit. Hal ini
disebabkan tanaman kelapa sawit memiliki potensi menghasilkan minyak sekitar 7
ton/hektar lebih tinggi dibandingkan dengan kedelai yang hanya 3 ton/hektar.
Kelapa sawit dan CPO merupakan salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia.
Dengan usaha-usaha yang dilakukan baik pemerintah maupun perusahaan swasta
yang melakukan ekstensifikasi dan pengembangan pertanian serta pemanfaatan
teknologi dalam proses pembibitan dan pengolahan sawit, saat ini Indonesia
menjadi negara penghasil CPO (Crude Palm Oil) terbesar di dunia. Indonesia
memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan perkebunan dan industri
kelapa sawit karena memiliki potensi cadangan lahan yang cukup luas,
ketersediaan tenaga kerja, dan kesesuaian agroklimat.

Limbah adalah kotoran atau buangan yang merupakan komponen


pencemaran yang terdiri dari zat atau bahan yang tidak mempunyai kegunaan lagi
bagi masyarakat. Limbah industri dapat digolongkan kedalam tiga golongan yaitu
limbah cair, limbah padat, dan limbah gas yang dapat mencemari lingkungan.
Jumlah limbah padat yang dihasilkan oleh industri kelapa sawit berkisar antara 2
ton tandan buah segar (TBS). Limbah ini merupakan sumber pencemaran yang
potensial bagi manusia dan lingkungan, sehingga pabrik dituntut untuk mengolah
limbah melalui pendekatan teknologi pengolahan limbah (end of the
pipe).Diantara upaya tersebut adalah pemanfaatan limbah padat dengan proses
pemanfaatan menjadi briket dan teknik pirolisis.
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

1.2 Tujuan dan Manfaat


a. Pengertian sampah, jenis-jenis sampah
b. Membedakan antara sampah organik dan anorganik
c. Cara mengolah sampah organik menjadi yang lebih bermanfaat
d. Mengembangkan produk yang ramah terhadap lingkungan

1.3 Sistematika Laporan


BAB I PENDAHULUAN
Berisi latar belakang, tujuan dan manfaat, dan sistematika laporan.
BAB II GAMBARAN UMUM KEGIATAN
Berisi profil kegiatan, jenis kegiatan dan produksi, dan potensi dan jenis
timbulan limbah.
BAB III METODOLOGI PERENCANAAN
BAB IV IDENTIFIKASI TIMBULAN LIMBAH DAN DIAGRAM
RECOVERY
Berisi jenis dan tahapan produksi, jenis timbulan limbah, konsep recovery
limbah, jenis pemanfaaatan.
BAB V ANALISIS KEGIATAN
Berisi rencana anggaran biaya, dampak lingkungan, dan analisis ekonomi.
BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Berisi kesimpulan dan rekomendasi.

BAB II

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 Sejarah Perkembangan Perusahaan


PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

PT. Mitra Aneka Rezeki atau yang lebih dikenal dengan nama PT.
MAR berdiri pada tanggal 1 April 2005 memiliki PKS yang berada di
Kalimantan Barat. Pabrik ini di bangun pada tahun 2009 dan mulai
beroperasi pada tahun 2011 dengan kapasitas olah 45 Ton TBS/jam. PKS
PT. MAR setiap hari menerima dan mengolah TBS yang berasal dari
kebun yang dikelola oleh PT. MAR itu sendiri yaitu Ambawang Air Putih
Estate (AAPE), Kampung Baru Estate (KBE) dan Arus Sei Deras Estate
(ASDE).
PT. MAR sebagai badan usaha yang bergerak di bidang
perkebunan telah mengembangkan usaha perkebunan kelapa sawit yang
ada di Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat dengan luas 14.500 Ha
dari izin lokasi Bupati Kubu Raya seluas 18.500 Ha.

2.1.1 Deskripsi Geografis dan Administratif


Perkebunan dan pabrik pengolahan kelapa sawit PT. MAR yang
berlokasi di Dusun Natai Raja Desa Ambawang Kecamatan Kubu
Raya Kalimantan Barat terletak di 2 (dua) kecamatan yaitu Kecamatan
Kubu dan Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya
Kalimantan Barat. Karakteristik areal perkebunan ini berada di lahan
gambut/lahan basah.
Selanjutnya, batas-batas wilayah administrasi dari PT. MAR
tersebut adalah:
1. Utara : Berbatasan dengan PT. RK (Rezeki Kencana)
2. Selatan : Berbatasan dengan Sei Kapuas Desa olak-olak
Kubu Kec. Kabupaten Kubu Raya
3. Barat : Berbatasan dengan PT. RK (Rezeki Kencana)
4. Timur : Berbatasan dengan Sei Kapuas Rasau Jaya Kubu
Raya
Aksebilitas menuju lokasi PT. MAR dapat di tempuh melalui
jalan A. Yani Pontianak dengan waktu tempuh sekitar 2 jam dengan
menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua.

2.2 Jenis Kegaiatan dan Produksi


PT. Mitra Aneka Rezeki (MAR) merupakan perusahaan yang
memiliki pabrik yang mengolah buah kelapa sawit menjadi CPO (Crude
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

Palm Oil) dan kernel. Pabrik yang terdapat di PT. MAR merupakan salah
satu pabrik yang menggunakan sistem perebusan horizontal denan
kapasitas 45 ton per jam yang dapat memperkecil kehiangan minyak. PT.
MAR masih tergolong pabrik baru dalam pengolahan CPO, karena pabrik
ini baru mulai proses produksi CPO pada tahun 2011. Lokasi pabrik yang
tidak jauh dari sungai Kapuas mempermudah pengangkutan hasil produksi
CPO.
Proses produksi di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dimulai dengan
mengolah bahan baku tandan buah segar (TBS) kelapa sawit sampai
menjadi Crude Palm Oil (CPO). Proses pengolahan TBS di setiap pabrik
umumnya bertujuan untuk memperoleh minyak dengan kualitas yang baik
dan mudah dipucatkan.
Dalam pengolahan TBS, proses perebusan merupakan salah satu
proses yang paling mendasar. Proses perebusan yang optimal akan
memudahkan proses selanjutnya, seperti pemipilan dalam efesiensi,
kualitas dan perolehan rendemen minyak CPO.

3.2 Jenis dan Potensi Timbulan Limbah Kelapa Sawit


Jenis limbah kelapa sawit pada generasi pertama adalah limbah padat yang
terdiri dari tandan kosong, pelepah, cangkang dan lain-lain. Sedangkan
limbah cair yang terjadi pada pengolahan antara lain air kondensat, Palm
Oil Mill Effluent (POME) dan ampas minyak kasar. Limbah padat dan
limbah cair pada generasi berikutnya dapat dilihat pada gambar dibawah
ini:
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

BAB III

METODOLOGI PERENCANAAN
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

3.1 Metode

Minyak kelapa sawit (CPO) saat ini adalah sumber minyak nabati terbesar
di dunia. Menurut laporan oil world pada tahun 2011, Minyak kelapa sawit
memberikan andil sekitar 27% atau 46 juta ton terhadap total minyak nabati di
dunia. Produksi minyak nabati berikutnya diikuti oleh soybean, rapeseed dan
sunflower. Sementara itu, sebagai negara dengan paling besar penghasil minyak
kelapa sawit adalah Indonesia. Pabrik kelapa sawit (PKS) yang berjumlah lebih
dari 640 di seluruh Indonesia memproduksi CPO sekitar 23 juta ton atau 46% dari
total produksi CPO di dunia (Oil world, 2011).

Sejak menjadi negara pengimpor minyak bumi pada tahun 2005 maka
subsidi untuk bahan bakar minyak semakin membebani pemerintah Indonesia.
Jika selama ini bahan bakar minyak menjadi sumber pemasukan bagi negara
maka sejak tahun 2005 malah menjadi sumber pengeluaran utama bagi negara.
Hampir sepertiga dari kebutuhan minyak bumi di negara ini harus di impor dari
luar negeri, produksi minyak bumi Indonesia 1 juta barel perhari sedangkan
kebutuhannya 1,3 juta barel perhari. Melihat keadaan seperti ini maka pemerintah
mulai melirik sumber energi alternatif yang mampu menyumbang devisa bagi
negara. Sumber energi yang mulai di lirik adalah gas alam, batu bara, panas bumi,
energi sinar matahari, energi samudra hingga bahan bakar nabati (BBN).

Bahan bakar nabati mendapat perhatian dari pemerintah karena di


Indonesia tersedia cukup untuk keperluan ekspor dan dalam negeri. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh BPPT sumber bahan bakar nabati yang ada di
Indonesia cukup banyak yaitu 30 jenis tanaman. Di antara 30 jenis tanaman
tersebut yang paling memungkin di pakai sebagai sumber bahan bakar nabati ada
dua jenis tanaman yang layak dikembangkan ditinjau dari aspek teknis dan aspek
ekonomi yaitu kelapa sawit (Palm Oil) dan jarak pagar (Curcas Jatropa).

Kedua jenis tanaman ini sangat familiar bagi masyarakat Indonesia karena
tanaman sawit merupakan penghasil minyak mentah sawit yang kita kenal
dengan Crude Palm Oil atau CPO. Tanaman jarak pagar sudah dikenal sejak
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

zaman penjajahan Jepang yang digunakan sebagai minyak pelumas untuk mesin
perang tentara Jepang Pada Perang dunia ke-2 dan minyak mentah yang
dihasilkan oleh minyak jarak dikenal dengan nama Curcas Jatropa Oil atau CJO.

Briket adalah bahan bakar padat yang dapat digunakan sebagai alternatif
pengganti minyak tanah. Jenis-jenis briket berdasarkan bahan penyusunnya terdiri
dari briket batu bara, briket bio-batu bara, briket sekam padi, briket arang kayu,
dan briket arang tandan kosong kelapa sawit. Secara umum pembuatan briket
adalah dengan pembakaran langsung dengan udara terkontrol. Kemudian arang
yang dihasilkan dicampur dengan bahan pengikat/perekat yang biasanya
digunakan adalah pati. Penelitian ini mencoba penambahan berat dengan
komposisi limbah cair CPO dan arang tandan kosong kelapa sawit tanpa
menggunakan bahan pengikat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
konsentrasi yang tepat dari penggunaan limbah cair CPO dan arang tandan kosong
kelapa sawit dalam pembuatan briket.

Produk samping dari pengolahan kelapa sawit adalah cangkang sawit yang
asalnya dari tempurung kelapa sawit. Cangkang sawit merupakan bagian paling
keras pada komponen yang terdapat pada kelapa sawit. Saat ini pemanfaatan
cangkang sawit di berbagai industri pengolahan minyak CPO belum begitu
maksimal. Ditinjau dari karakteristik bahan baku, jika dibandingkan dengan
tempurung kelapa biasa, tempurung kelapa sawit memiliki banyak kemiripan.
Perbedaan yang mencolok yaitu pada kadar abu (ash content) yang biasanya
mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan oleh tempurung kelapa dan
cangkang kelapa sawit.

Metode yang dipakai dalam program ini adalah metode observasi yaitu
dengan melakukan percobaan dengan cara membuat sample yang dibuat dengan
penambahan berat dengan komposisi limbah cair CPO dan arang tandan kosong
kelapa sawit tanpa menggunakan bahan pengikat.
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

Metode pengumpulan data di lakukan dengan 2 cara yaitu :

Dokumentasi (data sekunder)

Pengumpulan data dengan metode dokumentasi adalah metode


pengumpulan data dengan cara mengambil data-data yang telah ada dari
hasil penelitian sebelumnya.

Pengujian (data primer)

Data primer di peroleh setelah kita melakukan uji desak pada sample
kubus bataco (trasram).

3.2 Proses Pembuatan Briket

Cangkang kelapa sawit merupakan salah satu limbah industry sawit yang
cukup banyak, serta sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Limbah tersebut tidak mempunyai nilai ekonomis yang tinggi namun bila
dibiarkan berserakan akan menyebabkan lingkungan menjadi rusak. Pemafaatan
cangkang kelapa sawit sebagai sumber energy berupa briket arang dapat
memberikan keuntungan secara financial, juga akan membantu didalam
pelestarian lingkungan. Selain itu pada cangkang kelapa sawit juga baik
digunakan sebagai arang karena termasuk bahan berlignoselulosa yang berkadar
karbon tinggi dan mempunyai berat jenis yang lebih tinggi daripada kayu yang
mencapai 1,4 g/ml. Sehingga karakteristik ini memungkinkan bahan tersebut baik
untuk dijadikan arang yang mempunyai energy panas tinggi sebesar 20.093 kJ/Kg.

Pemanfaatan limbah agaroindustri sebagai bahan baku briket dinilai


strategis untuk mengantikan BBM yang saat ini melambung tinggi seperti minyak
tanah yang sehari-hari digunakan oleh masyarakat ekonomi lemah. Briket yang di
hasilkan dari arang cangkang kelapa sawit ini lebih rama linkungan karena tidak
mengasilkan emisi gas beracun seperti NOx dan SOx.

3.2.1 Bahan
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

Dalam pembuatan briket di butuhkan bahan utama dan tambahan untuk


menyempurnakan dalam proses pembuatan briket dari sisi bentuk hinggal
hasil.
Cangkang kelapa sawit

Larutan alkali (NaOH)

Tempat pembakaran

Tepung kanji

Air

Pinggan panas

3.2.2 Alat dan Mesin

Untuk membuat briket, dapat dilakukan secara manual maupun


otomatis, untuk membantu memperlancar proses produksi, mesin otomatis
lah yang biasaya dipilih. Alat dan mesinnya antara lain.

Mesin Penepung arang / Diskmill


Berfungsi untuk membubukan arang atau penepung arang.
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

Mesin pengayak arang


Berfungsi untuk mengayak arang serta memilah arang supaya
bersih dan pada waktu proses penggilingan lebih sempurna dan
baik.

Mesin pencampur adonan


PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

Berfungsi untuk mengaduk campuran antara kanji, air dan arang


sehingga campuran bisa rata.

Mesin pencetak briket


Berfungsi untuk mengaduk lanjutan agar saat akan dicetak jauh
lebih bagus hasilnya dan mencetak briket dengan berbagai bentuk
yang diinginkan seperti bentuk shisha, silinder, kotak, hexagonal,
dll atau sesuai permintaan.
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

Oven briket
Berfungsi sebagai mengeringkan briket sesaat hasil cetakan dari
mesin pencetak

3.2.3 Teknik Proses Pembuatan Briket

A. Detail Diagram Alir Konsep Pengelolaan Limbah Cangkang


Pengolahan limbah cangkang akan dilakukan menggunakan alat
pirolisis seperti pada gambar 3.7., fungsi alat ini adalah membuat
cangkang menjadi arang. Setelah menjadi arang 60% akan ditambah
lem kanji dan dicetak menjadi briket, sementara sisanya akan
diaktivasi dan dijadikan karbon aktif.

Gambar 3.6. Skema Pengolahan dan Pengelolaan Limbah Cangkang


PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

B. Kuantitas Limbah dan Produksi yang Dihasilkan


Dengan 3,6 ton cangkang/jam dan asumsi jam produksi adalah 8
jam, akan dihasilkan briket dan karbon aktif sebesar :
produksi briket =60 3,6 ton/ jam 8 jam=17,28 ton
produksi karbon aktif =40 3,6 ton/ jam 8 jam=11,52ton

C. Teknik Pembuatan

Terdapat beberapa teknik dalam pembuatan briket dari


cangkang kelapa sawit antara lain adalah:

Pengarangan
Tempurung kelapa dibuat arang dengan cara pengarangan manual
melalui tong kemudian (dibakar) dan ditutup hingga hanya ada
sedikit ventilasi pada tong arang tersebut. atau dengan cara proses
pirolisis, dimana tempurung dimasukkan ke dalam tangki pirolisis
dalam keadaan tertutup, kemudian asap dikondensasikan hingga
dapat asap cair.

Penepungan
arang yang dihasilkan melalui pembakaran manual atau pirolisis
kemudian ditepung menggunakan diskmill.
Pencampuran media
Tepung tempurung kelapa yang telah disaring selanjutnya dicampur
dengan lem kanji. Pada saat pencampuran ditambah dengan lem
kanji sebanyak 2,5 % dari tepung tempurung kelapa.
Pencetakan Briket Arang
Setelah bahan-bahan tersebut dicampur secara merata, selanjutnya
dimasukkan ke dalam cetakan briket dan kemudian dilakukan
pengovenan maupun penjemuran.
Proses produksi pembuatan briket cangkang kelapa sawit
seperti berikut :
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

Langkah-langkah :
1. Bersihkan cangkang kelapa sawit dari kotoran yang dapat merusak
kualitasnya. Kemudian rendam cangkang tersebut di larutan alkali
(NaOH) selama kurang lebih 1 jam. Hal ini bertujuan untuk
memastikan cangkang benar-benar bersih sehingga arang yang
dihasilkan mempunyai mutu yang tinggi.
2. Setelah sejam berlaku, angkat cangkang-cangkang kelapa sawit
dari rendaman. Setelah itu tiriskan dan angin-anginkan di tempat
yang terbuka supaya kering.
3. Kini saatnya membakar cangkang kelapa sawit. Siapkan tempat
pembakaran yang terbuat dari bahan logam tahan panas, lalu
masukkan cangkang sawit ke dalamnya. Jangan lupa untuk
menutup kembali wadah pembakaran tersebut dengan rapat.
4. Panaskan tempat pembakaran tadi menggunakan api yang besar
selama 4 jam. Cangkang kelapa sawit kini berubah wujud menjadi
arang. Proses pembakaran bisa dihentikan setelah arang tidak
mengeluarkan asap lagi.
5. Setelah proses pengarangan selesai, angkat wadah pembakaran dari
tungku. Kemudian letakkan di tempat yang aman. Biarkan selama
beberapa saat agar arang tersebut menjadi dingin.
6. Siapkan bahan lem untuk merekatkan serbuk arang kelapa sawit
membentuk briket. Caranya yaitu campurkan tepung kanji dengan
air secukupnya, lalu aduk merata. Pastikan tekstur lem ini cukup
kental dan tidak terlalu encer. Kemudian panaskan lem kanji di atas
pinggan panas sampai membentuk gel yang lengket.
7. Setelah arang kelapa sawit bersuhu normal kembali, selanjutnya
giling arang tersebut untuk membentuknya menjadi serbuk. Anda
bisa menggunakan mesin penggilingi agar pekerjaan lebih efektif.
Ukuran serbuk arang kelapa sawit yang diharapkan yakni 100 mesh
untuk mempertahankan kualitasnya. Anda dapat memakai mesin
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

pengayak untuk memperoleh serbuk kelapa sawit dengan ukuran


tersebut.
8. Setelah semua arang kelapa sawit berubah bentuk menjadi serbuk,
langkah selanjutnya adalah mencampurkan serbuk ini dengan lem
kanji. Aduk dengan tenaga yang kuat untuk memastikan kedua
bahan ini benar-benar tercampur rata.
9. Masukkan campuran arang dan lem ke dalam mesin pencetak
briket. Gunakan mesin bersistem hidrolik press berkemampuan 5
ton. Tahan posisi pencetakan selama 5 menit agar briket yang
dihasilkan kuat dan tak mudah buyar.
10. Briket-briket yang sudah tercetak rapi ini lantas dijemur kembali
untuk mengeringkannya. Penjemuran briket dengan metode alami
memanfaatkan terik matahari secara langsung selama 3 hari. Opsi
lain anda juga bisa mengeringkan briket memakai oven bersuhu
105 derajat selama 5 jam.
BAB V

ANALISIS KELAYAKAN

5.1 Rencana Anggaran Biaya


5.1.1 Biaya Investasi Pengolahan Limbah Cangkang

Biaya yang diperlukan untuk menyediakan lahan dan unit pembuat briket
disajikan dalam bentuk tabel dibawah ini.

Area Briketisasi
dan Pembuatan Luas Harga Per meter Total
Karbon Aktif
a. Kantor 20 Rp350.000 Rp7.000.000
b. Lahan Pembuatan 100 Rp350.000 Rp35.000.000
Total Rp42.000.000

No Peralatan Mesin Dan Instalasi Harga


PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

1 Mesin Penepung / Diskmill Rp16.000.000

2 Mesin Pengayak Arang Rp10.000.000

3 Mesin Pencampur Adonan Rp13.000.000

4 Mesin Pengering / Oven Rp16.000.000

5 Mesin Pencetak Briket Rp16.500.000

Total Rp71.500.000

No Peralatan Kantor Harga

1 Meja Kayu PH-OD-085 2 unit Rp3.100.000

2 Sofa minimalis tipe Mulan 211 Black Red 2 seat Rp1.750.000

3 Komputer HP PC Pavilion 23-q122D AIO Rp13.500.000

4 Lemari ArsipPintu Sliding Kaca Type SDG-206 Rp2.400.000

5 Printer Epson L210 - All In One Rp1.500.000

Total Rp22.250.000

No Jenis Inverstasi Biaya


1 Lahan Pabrik Rp42.000.000
2 Peralatan Mesin Dan Instalasi Rp71.500.000
3 Peralatan Kantor Rp22.250.000
Total Rp135.750.000

5.1.2 Biaya Pengupahan Pekerja


Biaya yang perlu di keluarkan dalam proses pembuatan briket di sajikan
dalam bentuk tabel sebagai berikut:

Jenis Kegiatan Jumlah Upah Pekerja/hari Satu Bulan


(30 hari)
Pekerja

Pengumpulan Bahan Baku 3 Rp50.000 Rp1.500.000

Sortasi 3 Rp50.000 Rp1.500.000


PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

Tahapan :

Pengarangan 3 Rp50.000 Rp1.500.000

Penepungan Dan 5 Rp85.000 Rp1.500.000


Pencampuran Adonan

Pengepresan dan 5 Rp85.000 Rp1.500.000


Pencetakan Briket

Jumlah 19 Jumlah Rp7.500.000

Total Pengeluaran Rp142.500.00


Perbulan 0

5.2 Dampak Lingkungan

Berdasarkan kegiatan perencanaan daur ulang ini akan muncul adanya


dampak terhadap lingkungan. Dampak terhadap lingkungan ini bukan merupakan
dampak negatif melinkan berupa dampak positif. Dengan pembuatan briket yang
terbuat dari limbah cangkang kelapa sawit, sehingga secara otomatis akan
membantu mengurangi pencemaran lingkungan dan timbulan sampah yang berupa
limbah padat cangkang kelapa sawit. Karena biasanya limbah cangkang kelapa
sawit dibiarkan dan berserakan, walaupun sebenarnya limbah tersebut bukan
merupakan limbah yang mengganggu secara serius, terutama terhadap lingkungan
sekitar. Dengan adanya minimalisasi pembuangan dan maksimalisasi daur ulang
limbah cangkang kelapa sawit juga akan berdampak terhadap berkurangnya
timbulan sampah yang terjadi yang apabila terlalu lama dibiarkan akan menjadi
sumber penyakit bagi masyarakat atau orang sekitar.

Dari produk briket cangkang kelapa sawit ini juga memiliki dampak
terhadap lingkungan. Briket Cangkang Kelapa Sawit adalah bahan bakar alternatif
terbuat dari bahan baku cangkang kelapa sawit yang sudah di olah menjadi briket
dan di harapkan menjadi bahan bakar pengganti sebagai pilihan yang dibutuhkan
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

masyarakat. Dengan menggunakan briket cangkang kelapa sawit ini memiliki


banyak keuntungan seperti lebih ekonomis karena briket arang ini menghasilkan
energi panas tinggi dan tahan lama sehingga secara ekonomis menggunakan briket
cangkang kelapa sawit ini akan lebih hemat apabila dibandingkan dengan jenis
bahan bakar lainnya. Selain itu, keuntungan lainnya dalam sisi lingkungan yaitu
briket arang cangkang kelapa sawit ini sangat aman dan ramah lingkungan karena
diolah tanpa menggunakan bahan kimia, ketika digunakan abu dari briket arang
ini tidak berterbangan dan tidak menimbulkan asap, selain itu juga briket arang
cangkang kelapa sawit ini tidak meninggalkan noda hitam pada peralatan yang
digunakan, serta tidak mengeluarkan bau menyengat atau aroma tidak sedap yang
dapat mengganggu aktifitas kerja kesehatan maupun lingkungan.

5.3 Analisis Ekonomi

Bisnis merupakan usaha menukarkan barang atau jasa yang kita miliki
dengan suatu keuntungan. Profit yang diharapkan oleh suatu usaha bisnis tidak
hanya keuntungan berupa uang tapi juga jaminan kelangsungan daur kehidupan
produk dan instalasi bisnis tersebut. Disamping itu aspek-aspek ekonomi makro
dan ekonomi mikro pun berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan
usaha bisnis. Dan keadaan ekonomi saat ini relative tidak menentu dan sulit
ditebak. Maka dari hal itulah yang melatar belakangi adanya suatu metode
pengukuran kelayakan suatu usaha bisnis. Ada beberapa metode analisis
kelayakan terhadap suatu usaha bisnis.

Pembelajaran mengenahi analisis kelayakan dengan metode Break


Even point atau BEP adalah suatu analisis untuk menentukan dan mencari jumlah
barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk
menutupi biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan / profit. BEP
(break even point) sangatlah penting ketika kita membuat suatu usaha karena
dengan penganalisaan dengan metode Break Even point atau BEP maka kita dapat
menganalisa tingkat prosentase kita untuk mengalami kerugian dan apakah itu
usaha jasa atau manufaktur akan lebih kecil seiring berjalannya waktu. Karena
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

dalam penganalisaan dengan Break Even point atau BEP ini kita juga
memperhitungan dan memeperkirakan kelayakan suatu usaha untuk tetap terus
dilakukan dan perkiraan terbaik ketika kita ingin membuka suatu usaha.

Manfaat dari analisis kelayakan suatu perusahaan berdasarkan


analisis dengan metode BEP antara lain : metode analisis merupakan alat
perencanaan untuk hasilkan laba pada suatu perusahaan, metode BEP memberikan
informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya
dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang
bersangkutan, metode BEP ini bisa mengevaluasi laba dari perusahaan secara
keseluruhan, metode ini bisa mengganti sistem laporan yang tebal dengan grafik
yang mudah dibaca dan dimengerti. Setelah kita mengetahui betapa manfaatnya
BEP dalam usaha yang kita rintis, kompenen yang berperan disini yaitu biaya,
dimana biaya yang dimaksud adalah biaya tetap,biaya variabel dan total biaya
secara keseluruhan. Yang mana pada prakteknya untuk memisahkannya atau
menentukan suatu biaya itu biaya variabel serta biaya tetap bukanlah pekerjaan
yang mudah, Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh kita untuk
produksi ataupun tidak, dan biaya ini bersifat tidak habis dalam sekali proses
produksi sedangkan biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan untuk
menghasilkan satu unit produksi jadi kalau tidak produksi maka tidak ada biaya
ini dan besar biaya ini sangat bergantung pada besar kuantitas produk yang
diproduksi dalam suatu proses produksi produk.

Kesimpulannya bahwa dengan pembelajaran mengenahi analisis


kelayakan suatu perusahaan perindustrian menggunakan metode analisis break
even point (BEP) ini bertujuan sebagai tolak ukur keberlangsungan usaha bisnis
yang kita tekuni. Karena poin awal dan terpenting dalam suatu bisnis adalah
menukarkan barang ataupun jasa yang kita bisniskan dengan keuntungan. Secara
kongrit keuntungan yang diperoleh dapat diukur dari seberapa besar keuntungan
material yang mampu diraih oleh suatu usaha bisnis dan seberapa lama daur hidup
usaha bisnis tersebut.
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

5.3.1 Tujuan Analisis Break Even Point (BEP)

Tujuan dari analisis break even point yaitu untuk mengetahui pada volume
penjualan atau produksi berapakah suatu perusahaan akan mencapailaba
tertentu Pengertian Analisis Break Even Poin (Titik Impas) Analisa Break Even
Point (BEP) adalah suatu teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara
Baiaya Tetap, Biaya Variabel, Keuntungan dan Volume aktivitas. Sering pula
disebut Cost - Profit - Volume analysis (C.P.V. analysis).

Break Even Point (BEP) dapat diartikan sebagai suatu titik atau keadaan
dimana perusahaan di dalam operasinya tidak memperoleh keuntungan dan tidak
menderita kerugian. Dengan kata lain, pada keadaan itu keuntungan atau kerugian
sama dengan nol. Hal tersebut dapat terjadi bila perusahaan dalam operasinya
menggunakan biaya tetap, dan volume penjualan hanya cukup untuk menutup
biaya tetap dan biaya variabel. Apabila penjualan hanya cukup untuk menutup
biaya variabel dan sebagian biaya tetap, maka perusahaan menderita kerugian.
Dan sebaliknya akan memperoleh memperoleh keuntungan, bila penjualan
melebihi biaya variabel dan biaya tetap yang harus di keluarkan. Analisis break
even sering digunakan dalam hal yang lain misalnya dalam analisis laporan
keuangan. Dalam analisis laporan keuangan kita dapat menggunakan rumus ini
untuk mengetahui:

a) Hubungan antara penjualan, biaya, dan laba

b) Struktur biaya tetap dan variable

c) Kemampuan perusahaan memberikan margin unutk menutupi biaya tetap

d) Kemampuan perusahaan dalam menekan biaya dan batas dimana


perusahaan tidak mengalami laba dan rugi

Selanjutnya, dengan adanya analisis titik impas tersebut akan sangat


membantu manajer dalam perencanaan keuangan, penjualan dan produksi,
sehingga manajer dapat mengambil keputusan untuk meminimalkan kerugian,
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

memaksimalkan keuntungan, dan melakukan prediksi keuntungan yang


diharapkan melalui penentuan

harga jual persatuan,

produksi minimal,

pendesainan produk, dan lainnya

Dalam penentuan titik impas perlu diketahui terlebih dulu hal-hal dibawah ini
agar titik impas dapat ditentukan dengan tepat, yaitu:

Tingkat laba yang ingin dicapai dalam suatu periode

Kapasitas produksi yang tersedia, atau yang mungkin dapat ditingkatkan

Besarnya biaya yang harus dikeluarkan, mencakup biaya tetap maupun


biaya variable maupun rugi tertentu.

Disamping itu juga untuk mengetahuipada volume penjualan atau produksi


berapakah suatu perusahaan belummendapat laba atau rugi. Sehingga hal itu
dijadikan dasar oleh pimpinan sebagai pengambilan keputusan di masa periode
tersebut dan di masa yang akan datang.

5.3.2 Manfaat dan Kegunaan Analisis Break Even (Titik Impas)

Analisis Break even secara umum dapat memberikan informasi kepada


pimpinan, bagaimana pola hubungan antara volume penjualan, cost/biaya, dan
tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level penjualan tertentu. Analisis
break even dapat membantu pimpinan dalm mengambil keputusan mengenai hal-
hal sebagai berikut:

a) Jumlah penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak


mengalami kerugian.

b) Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan


tertentu.
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

c) Seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak


menderita rugi.

d) Untuk mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya dan


volume penjualan terhadap keuntungan yang diperoleh.

Analisis break even point ini selain digunakan untuk menganalisis pada unit
berapa atau pada omzet penjualan berapa perusahaan tidak menderita rugi dan
tidak menerima keuntungan.

Menurut Susan Irawati dalam bukunya Manajemen Keuangan memaparkan


kegunaanbreak even point adalah sebagai berikut :

1. Untuk menunjukkan berapa tingkat penjualan yang harus dicapai, jika


perusahaan ingin mendapatkan laba.

2. Untuk membantu menganalisis rencana untuk modernisasi atau


otomatisasi untuk mengganti biaya variabel menjadi biaya tetap.

3. Untuk membantu menganalisis pengaruh-pengaruh dari ekspansi terhadap


tingkat operasi atau kegiatan.

4. Untuk membantu dalam keputusan mengenai produk baru dalam hal biaya
dan hasil penjualan.

Menurut Sutrisno dalam bukunya Manajemen Keuangan Teori, Konsep, dan


Aplikasimenjelaskan ada beberapa manfaat lain yang bisa diambil dengan
menggunakan konsep break even pointyaitu sebagai berikut :

1) Perencanaan Penjualan atau Produksi

Pada setiap awal periode perusahaan sudah harus mempunyai perencanaan


produksi dan penjualan. Rencana produksi dan penjualan bisa direncanakan
dengan menggunakan konsep break even point.

2) Perencanaan Harga Jual Normal

Salah satu keputusan yang harus diambil oleh manajer keuangan adalah penentuan
harga jual. Harga jual merupakan sejumlah uang yang dibayarkan oleh pembeli
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

untuk mendapatkan barang/jasa yang diinginkan. Bagi perusahaan harga jual


harus bisa menutup semua biaya dan target keuntungan. Apabila tidak bisa
menutup target laba, apalagi biaya yang dikeluarkan berarti perusahaan dalam
kondisi rugi. Dalam membuat rencana harga jual, perusahaan mendasarkan pada
proyeksi penjualan yang telah direncanakan, serta target laba pada periode yang
bersangkutan.

3) Perencanaan Metode Produksi

Analisis break even point ini juga sering digunakan untuk menentukan alternatif
pemilihan metode produksi atau mesin produksi. Ada mesin produksi yang
mempunyai karakteristik biaya tetap rendah tetapi biaya variabel tinggi (sering
disebut padat karya) atau biaya tetap tinggi tetapi biaya variabel perunit rendah
(sering disebut padat modal). Dari dua pilihan tersebut, mana yang akan dipilih
apakah dengan padat karya (labour intencive) atau padat modal (capital
intencive)? Untuk memilih alternatif mana yang terbaik, bisa digunakan analisis
biaya, laba, dan volume (cost, profit, volume analysis).

4) Titik Tutup Pabrik

Apabila kondisi perusahaan sudah menunjukkan biaya total melebihi penjualan


totalnya, yang artinya bahwa perusahaan beroperasi dibawah titik break even,
apakah perusahaan sebaiknya ditutup atau tetap dipertahankan. Untuk itu
manajemen harus menganalisis apakah kondisi yang demikian akan berlanjut
dalam waktu yang relatif lama, atau tidak. Ada kemungkinan manajemen harus
memutuskan untuk menghentikan sementara atau seterusnya apabila kondisi
sudah sedemikian parahnya. Alat yang dapat digunakan manajemen dalam
mengadakan analisis penutupan perusahaan tersebut adalah analisis titik tutup
pabrik atau sering disebut shut down point. Apabila perusahan beroperasi
dibawah break even point berarti perusahaan secara akuntansi mengalami
kerugian namun secara cash flow atau aliran kas perusahaan masih mendapatkan
sisa kas, selama penerimaan pengahasilan masih bisa menutup biaya variabel dan
biya tetap tunai. Biaya tetap tunai adalah biaya tetap yang dikeluarkan secara
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

tunai seperti pembayaran gaji, biaya promosi, sewa gedung, dan biaya tetap tunai
lainnya. Artinya pada kondisi tersebut perusahan masih bisa membayar gaji
karyawannya, walaupun untuk membayar biaya tetap tidak tunai (penyusutan)
tidak mencukupi. Tetapi kalau penerimaan penjualan tidak bisa menutup biaya
variabel dan biaya tetap tunai, maka perusahaan sudah harus ditutup.

5.3.3 Jenis Biaya Berdasarkan Break Even (Titik Impas).

Biaya yang dikeluarkan perusahaan dapat dibedakan sebagai berikut:

1. Variabel Cost (biaya Variabel)

Variabel cost merupakan jenis biaya yang selalu berubah sesuai dengan perubahan
volume penjualan, dimana perubahannya tercermin dalam biaya variabel total.
Dalam pengertian ini biaya variabel dapat dihitung berdasarkan persentase
tertentu dari penjualan, atau variabel cost per unit dikalikan dengan penjualan
dalam unit.

2. Fixed Cost (biaya tetap)

Fixed cost merupakan jenis biaya yang selalu tetap dan tidak terpengaruh oleh
volume penjualan melainkan dihubungkan dengan waktu(function of time)
sehingga jenis biaya ini akan konstan selama periode tertentu. Contoh biaya sewa,
depresiasi, bunga. Berproduksi atau tidaknya perusahaan biaya ini tetap
dikeluarkan.

3. Semi Varibel Cost

Semi variabel cost merupakan jenis biaya yang sebagian variabel dan sebagian
tetap, yang kadang-kadang disebut dengan semi fixed cost. Biaya yang tergolong
jenis ini misalnya: Sales expense atau komisi bagi salesman dimana komisi bagi

5.3.4 Asumsi yang digunakan dalam Break Even Point

Mudah tidaknya perhitungan atau penutupan titik break even


point tergantung pada konsep-konsep yang mendasari atau asumsi yang digunakan
didalamnya.
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

Menurut Susan Irawati dalam bukunya Manajemen


Keuangan memaparkan asumsi dasar yang digunakan dalam break even
point adalah sebagai berikut :

Biaya yang terjadi dalam suatu perusahaan harus digolongkan kedalam


biaya tetap dan biaya variabel.

Biaya vaiabel yang secara total berubah sesuai dengan perubahan volume,
sedangkan biaya tetap tidak mengalami perubahan secara total.

Jumlah biaya tetap tidak berubah walaupun ada perubahan kegiatan,


sedangkan biaya tetap perunit akan berubah-ubah.

Harga jual perunit konstan selama periode dianalisis.

Jumlah produk yang diproduksi dianggap selalu habis terjual.

Perusahaan menjual dan membuat satu jenis produk, bila perusahaan


membuat atau menjual lebih dari satu jenis produk maka perimbangan
hasil penjualan setiap produk tetap.

5.3.5 Keterbatasan Analisis Break Even Point

Analisis break even dapat dirasakan manfaatnya apabila titik break even dapat
dipertahankan selama periode tertentu. Keadaan ini at dipertahankan apabila
biaya-biaya dan harga jual dalah konstan, karena naik turunnya harga jual dan
biaya akan mempengaruhi titik break even. Dalam kenyataan analisis ini agak
sukar untuk diterapkan. Oleh sebab ini bagi analis perlu diketahui bahwa analisis
break even mempunyai limitasi-limitasi tertentu, yaitu:

a) Fixed cost haruslah konstan selama periode atau range of out put tertentu

b) Variabel cost dalam hubungannya dengan sales haruslah konstan

c) Sales price perunit tidak berubah dalam periode tertentu

d) Sales mix adalah konstan


PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

Berdasarkan limitasi-limitasi tersebut, BREAK EVEN POINT (BEP) akan bergeser


atau berubah apabila:

a. Perubahan FC, terjadi sebagai akibat bertambahnya kapasitas


produksi, dimana perubahan ini di tandai dengan naik turunnya
garis FC dan TC-nya, meskipun perubahannya tidak
mempengaruhi kemiringan garis TC. Bila FC naik BEP akan
bergeser keatas atau sebaliknya.

b. Perubahan pada variabel cost ratio atau VC per unit, dimana


perubahan ini akan menentukan bagaimana miringnya garis total
cost. Naiknya biayaVC per unit akan menggeser BEP keatas atau
sebaliknya.

c. Perubahan dalam sales price per unit .Perubahan ini akan


mempengaruhi miringnya garis total revenue (TR). Naiknya harga
jual per unit pada level penjualan yang sama walaupun semua
biaya adalah tetap, akan menggeser kebawah atau sebaliknya.

d. Terjadinya perubahan dalam sales mix. Apabila suatu perusahaan


memproduksi lebih dari satu macam produk maka komposisi atau
perbandingan antara satu produk dengan produk lain (sales mix)
haruslah tetap. Apabila terjadi perubahan misalnya terjadi kenaikan
20% pada produk A sedangkan produk B tetap maka BEP pun akan
berubah.

5.3.6 Kelemahan Break Even Point

Asumsi yang menyebutkan harga jual konstan padahal kenyataan harga ini
kadang-kadang harus berubah sesuai dengan kekuatan permintaan dan
penawaran di pasar. Untuk menutuapi kelemahan itu, maka harus dibuat
analisis sensitivitas untuk harga jual yang berbeda.

Asumsi terhadap cost, penggolongan biaya tetap dan biaya variabel juga
mengandung kelemahan. Dalam keadaan tertentu untuk memenuhi volume
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

penjualan biaya tetap tidak bisa tidak harus berubah karena pembelian
mesin-mesin atau peralatan lainnya. Dengan demikian juga
perhitungannya biaya variabel perunit juga akan dapat dipengaruhi
perubahan ini.

Jenis barang yang dijual tidak selalu satu jenis.

Biaya tetap juga tidak selalu tetap pada berbagai kapasitas.

Biaya variabel juga tidak selalu berubah sejajar dengan perubahan volume.

Namun begitu,asumsi-asumsi terhadap analisis titik impas seperti asumsi


terhadap biaya yang dianggap tetap, kapasitas produksi serta tingkat penjualan
dengan jumlah dan harga yang juga diasumsikan tetap, maupun biaya variable
yang disumsikan berubah sebanding dengan perubahan volume penjualan perlu
dilakukan karena untuk dapat membuat suatu model analisis mau tidak mau perlu
adanya asumsi yang mendasari perhitungan tersebut, agar perhitungan yang
dilakukan dapat menghasilkan hal-hal yang ingin kita prediksi. Kelemahan-
kelemahan yang terjadi merupakan resiko dari prediksi yang dilakukan sehingga
dalam pengambilan keputusan melalui analisis titik impas tetap perlu adanya
kehati-hatian dari manajer guna menghindari kesalahan yang berakibat pada
kerugian usaha.

5.3.7 Metode Perhitungan Break Even Point

Perhitungan untuk menentukan luas operasi pada tingkat break even


point dapat dilakukan dengan menggunakan suatu rumus tertentu, tetapi untuk
menggambarkan tingkat volume dengan laba maka diperlukan grafik atau
bagan break even point. Secara matematik tingkat break even point dapat
ditentukan dengan berbagai rumus.
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

BAB VI

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1 Kesimpulan

Dengan konsep pemanfaatan limbah cangkang kelpa sawit ini menjadi


briket, biaya investasi yang diperlukan adalah Rp135.750.000.
Hasil yang dapat diperoleh dari konsep pemanfaatan limbah cangkang
kelapa sawit menjadi briket mendapatkan keuyntungan lebih dari pada
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

hanya sekedar membuang limbah sawit tersebut dengan penjual seharga


Rp12.000 dengan BEP 566 hari operasi.

5.2 Rekomendasi

Diperlukan adanya iklan dapan promosi briket sebagai pengganti


sumber daya fossil yang lebih ramah lingkungan dan bermanfaat.
Pengelolaan lingkungan mendekati model zerro waste akan didapat,
jika melakukan pemnafaatan limbah lainnya kelapa sawit.