Anda di halaman 1dari 6

Tanggal Praktikum 14 November 2016

Praktikum 3 KONTROL MIKROBA DENGAN PERLAKUAN KIMIA

PRE-LAB

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan disinfeksi?

Disinfeksi adalah memusnahkan mikroorganisme yang dapat menimbulkan


penyakit. Disinfeksi merupakan benteng manusia terhadap paparan mikroorganisme
patogen penyebab penyakit, termasuk di dalamnya virus, bakteri, dan protozoa
parasit (Said,2007). Disinfeksi merupakan suatu proses penghancuran sel-sel
vegetatif penyebab infeksi namun tidak selalu mematikn sporanya dan pengendalian
mikroorganisme dengan bahan kimia lain (desinfektan dan antiseptik) (Larson,
2013).

2. Apa yang dimaksud dengan disinfektan?Jelaskan!


Desinfektan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya
infeksi dengan membunuh jasad renik (bakterisid) seperti bakteri dan virus, juga
untuk menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya, terutama
pada benda mati (Shaffer,2009). Desinfektan digunakan secara luas untuk sanitasi
baik di rumah tangga, laboratorium, dan rumah sakit. Faktor-faktor yang
mempengaruhi aktivitas desinfektan yang digunakan untuk membunuh jasad renik
adalah ukuran dan komposisi populasi jasad renik, konsentrasi zat antimikroba, lama
paparan, temperatur, dan lingkungan sekitar (Pratiwi, 2008).

3. Bagaimana cara kerja/mekanisme disinfektan dalam menghambat pertumbuhan mikroba?


bMekanisme kerja suatu desinfektan menurut Stevens (2011) yaitu pertama adalah
penginaktifan enzim tertentu, membran rusak sehingga enzim akan diinaktifkan.
Kemudian terjadi denaturasi protein, karena rusaknya membran sel dan inaktifasi
enzim sehingga pada kadar optimal, senyawa ammonium kuartener menyebabkan
sel mengalami lisis sedangkan pada kadar yang lebih tinggi, terjadi denaturasi
protein enzim bakteri. Selanjutnya mengubah permeabilitas membrane sitoplasma
bakteri, perubahan permeabilitas membran sel bakteri merupakan mekanisme kerja
fenol, dan senyawa amonium kuartener. Terjadinya perubahan permeabilitas
membran sel menyebabkan kebocoran kostituen sel yang esensial menyebabkan
bakteri mengalami kematian. Senyawa Intekalasi ke dalam DNA, Senyawa Turunan
trifenilmetan seperti gentian violet dan akridin seperti akriflavin bekerja sebagai
antibakteri dengan mengikat secara kuat asam nukleat. Ikatan ini akan menghambat
sintesis ADN sehingga sintesis protein tidak terjadi. Hal ini menyebabkan
penghambatan proses biologi yang penting untuk kehidupan bakteri sehingga
bakteri mengalami kematian. Pembentukan khelat, Beberapa turunan fenol, seperti
heksaklorofen dan oksikuinolin dapat membentuk khelat dengan ion Fe dan Cu
masuk ke dalam sel bakteri, kemudian bentuk khelat tersebut masuk ke dalam sel
bakteri. Kadar yang tinggi dari ion-ion logam di dalam sel menyebabkan gangguan
fungsi enzim-enzim sehingga jasad renik mengalami kematian.
4. Apa yang dimaksud dengan uji koefisien fenol?

Koefisien fenol merupakan kemampuan suatu desinfektan dalam membunuh bakteri


dibandingkan dengan fenol. Uji ini dilakukan untuk membandingkan aktivitas suatu
produk (desinfektan) dengan fenol baku dalam kondisi uji yang sama. Fenol dijadikan
standar dalam uji efektivitas desinfektan karena kemampuannya dalam membunuh
jasad renik sudah teruji. Koefisien fenol dinyatakan sebagai suatu bilangan dan dihitung
dengan cara membandingkan aktivitas suatu larutan fenol dengan pengenceran
terhadap aktivitas larutan zat kimia dengan pengenceran tertentu yang sedang diuji
(Waluyo,2010).

5. Bagaimana perhitungan tingkat efektifitas disinfeksi yang dinyatakan dalam koefisien


fenol? Jelaskan!

Perhitungan tingkat efektifitas disinfektan yang dinyatakan dalam koefisien fenol adalah
dengan perbandingan aktivitas fenol dengan pengenceran bahan antimikrobial.
Koefisien fenol didapatkan dengan membagi pengenceran tertinggi dari fenol yang
mampu mematikan mikroba dalam waktu 10 menit tetapi tidak mematikan dalam 5
menit terhadap pengenceran tertinggi dari bahan antimirobial yang mampu mematikan
mikroba dalam waktu 10 menit tetapi tidak mematikan dalam 5 menit. Bahan kimia yang
mempunyai koefisien fenol lebih dari 1 maka mempunyai daya kerja antimikrobial atau
efektifitas yang lebih baik dibandingkan dengan fenol , sedangkan jika koefisien fenol
kurang dari 1 maka daya kerja antimikrobial atau efektifitas kurang baik dibandingkan
dengan fenol (Waluyo,2010).

Paraf Asisten

Nama:
DIAGRAM ALIR

15 mikrotube berisi Nutrient Broth berbagai konsentrasi disinfektan

Diberi label dengan jenis disinfektan, knsentrasi disinfektan, dan interval waktu

Ditambahkan 50 L mikroba kontrol pada masing-masing tube

Di vortex

Diambil 10 L setiap interval 5, 10, dan 15 menit dengan teknik steril

Dimasukkan kedalam Nutruent broth

Diinkubasi selama 48 jam, suhu 37C

Hasil
TINJAUAN PUSTAKA

1. Fenol
Golongan fenol diketahui memiliki aktivitas antimikroba yang bersifat bakterisid yaitu
bahan kimia yang mematikan bakteri namun tidak bersifat sporisid. Fenol sendiri
mempunyai efek antiseptik dan desinfektan. Senyawa turunan fenol yang dikenal sebagai
senyawa fenolik mengandung molekul fenol yang secara kimiawi dapat diubah. Perubahan
struktur kimia tersebut bertujuan untuk mengurangi efek iritasi kulit dan meningkatkan
aktivitas antibakteri.Salah satu senyawa fenolik yang paling sering digunakan adalah
kresol. Senyawa fenolik seringkali digunakan dalam campuran sabun dan deterjen
(Brewer, 2010).
Mekanisme kerja fenol sebagai desinfektan yaitu dalam kadar 0,01%-1% fenol bersifat
bakteriostatik. Larutan 1,6% bersifat bakterisid, yang dapat mengadakan koagulasi protein.
Ikatan protein dengan fenol mudah lepas, sehingga fenol dapat berpenetrasi ke dalam kulit
utuh. Larutan 1,3% bersifat fungisid, berguna untuk sterilisasi ekskreta dan alat
kedokteran.Senyawa turunan fenol berinteraksi dengan sel bakteri melalui proses adsorpsi
yang melibatkan ikatan hidrogen. Pada kadar rendah terbentuk kompleks protein fenol
dengan ikatan yang lemah dan segera mengalami peruraian, diikuti penetrasi fenol ke
dalam sel dan menyebabkan presipitasi serta denaturasi protein. Pada kadar tinggi fenol
menyebabkan koagulasi protein sel dan membran sitoplasma mengalami lisis. Fenol
digunakan sebagai senyawa baku dalam pengujian desinfektan karena memiliki
mekanisme kerja yang luas. Fenol dapat merusak dinding sel dan membran sel,
mengkoagulasi protein,merusak sulfohidril dari protein, dan merusak DNA sehingga efektif
membunuh bakteri (Djide, 2007).

2. Klorin
Kompleks klorin dengan senyawa organik disebut klorofor. Klorin dan klorofor terutama
digunakan untuk mendesinfeksi air, seperti air minum dan air kolam renang. Contohnya,
klorin dioksida, natrium hipoklorit, kalsium hipoklorit, dan triklosan (Brewer, 2010). Klorin
digunakan sebagai desinfektan air minum karena mempunyai efek dapat membunuh
bakteri E. coli, sehingga penambahan klorin pada air minum menjadi standar yang harus
dipenuhi penyedia layanan air minum hingga sekarang. Cairan klorin juga dapat digunakan
sebagai cairan pembersih alat-alat rumah tangga. Di bidang kesehatan, larutan klorin 0,5%
telah sejak lama digunakan untuk dekontaminasi alat-alat bedah seperti jahit set dan
partus set (Djide, 2007).
Senyawa terhalogenasi ini memiliki kelemahan dia tidak dapat membunuh bakteri
garam positif dan ragi, senyawa ini juga tidak bersifat stabil di dalam air sadah,sulit
terbiodegradasi, memutihkan bahan, korosi logam, larutan harus segar.Klorin dalam cair
akan membentuk asam hiplorus yang diketahui dapat merusak sel-sel dalam tubuh. Klorin
bewujud seperti gas yang berwarna kuning kehijauan dengan bau cukup menyengat
(Somani, 2011).

3. Antiseptik
Antiseptik adalah bahan atau zat yang dapat membunuh atau menghambat
pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan hidup, khususnya di atas kulit dan selaput
lendir (mulut, tenggorokan dan sebagainya). Antiseptik dapat bersifat bakterisidal atau
bakteri kostatik. Proses bakteri kostatik hanya menghentikan pertumbuhan bakteri (Pratiwi,
2008).
Antiseptika dan desinfektansia dapat merusak sel bakteri dengan cara koagulasi atau
denaturasi protein protoplasma sel, atau menyebabkan sel mengalami lisis yaitu
mengubah struktur membran sitoplasma sehingga menyebabkan kebocoran sel.
Antiseptik berbeda terhadap antimikrobia yang aktif secara sistematik dalam hal toksisitas
selanjutnya, yang mana antisepttik mempunyai toksisitas tidak hanya pada mikroba
patogen tetapi juga pada sel inang. Oleh karena itu, antiseptik hanya dapat digunakan
untuk membunuh mikroorganisme pada lingkungan mati atau pada permukaan kulit
(Dwidjoseputro, 2008).

4. Hand sanitizer
Menurut Block (2006) hand sanitizer merupakan cairan pembersih tangan berbahan
dasar alkohol yang digunakan untuk membunuh mikroorganisme dengan cara pemakaian
tanpa dibilas dengan air. Cairan dengan berbagai kandungan yang sangat cepat
membunuh mikroorganisme yang ada di kulit tangan.Tidak semua mikroorganisme yang
dapat diinaktivasi dengan hand sanitizer. Hand sanitizer bersifat stabil, dapat
dibiodegradasi, dan tidak korosif (Pratiwi, 2008).
Alkohol banyak digunakan dalam hand sanitizer, hal ini dikarenakan alkohol sangat
efektif dalam membunuh berbagai macam dan jenis kuman dan bakteri. Bakteri yang
diketahui dapat terbunuh oleh alkohol adalah bakteri tuberculosis, bakteri penyebab
influenza, dan berbagai bakteri yang sering menyebabkan demam (Pratiwi, 2008).
Hand sanitizer memiliki efektivitas pada virus yang kurang baik dibandingkan dengan
cuci tangan menggunakan sabun. Kandungan sodium hipoklorite dalam sabun dapat
menghancurkan integritas dari capsid protein dan RNA dari virus, sedangkan hand
sanitizer dengan alkohol hanya berefek pada kapsid protein virus (Block, 2006).

5. Sabun cuci piring


Sabun adalah ikatan antara Natrium atau Kalium dengan asam lemak tinggi dan bersifat
germicida yaitu mampu membunuh mikroba dan ada pula yang hanya mencegah atau
menunda pertumbuhan mikroba walaupun tidak begitu kuat, misalnya terhadap
Pneumococcus dan Streptococeus. Sabun cuci piring dapat menurunkan tegangan yang
ada pada permukaan piring sehingga sabun dapat mengikat minyak dan kotoran,
kemudian larut dengan bilasan air (Pratiwi, 2008).
DAFTAR PUSTAKA

Brewer, C.2010. Variations in Phenol Coefficient Determinations of Certain Disinfectants.


American Journal of Public Health. 33(1): 261.
Block, S. 2006. Disinfection, Sterilization, and Preservation, 5th edition. Philadelphia:
Lippincott Williams and Wilkins.
Djide, N. 2007. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Farmasi Terapan.Jurusan Farmasi
Universitas Hassanudin Makassar.
Dwidjoseputro. 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi. Surabaya: Djambatan.
Larson, E.2013. Monitoring Hand Hygiene American Journal of Infection Control. 41(2): 43-
45.
Pratiwi, S. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Said, I.N. 2007.Disinfeksi Untuk Proses Pengolahan Air Minum.3 (1): 15-28.
Shaffer, J.G. 2009. The Role of Laboratory in Infection Control in the Hospital. Arbor: University
of Michigan, School of Pulbic Health.
Somani, S.B., Ingole, W.N., and Kulkarni, S.N. 2011. Disinfection of Water by Using Sodiun
Chloride (NaCl) and Sodium Hypochlorite (NaOCl). Shegaon: Shri Sant Gajanan Maharaj
College of Engineering.
Stevens, M.P. 2011. Kimia Polimer.Diterjemahkan oleh Sopyan. Jakarta: Pradnya Paramita.
Waluyo, Lud.2010.Teknik Metode Dasar dalam Mikrobiologi.Malang: UMM Press.