Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR AGRONOMI

ACARA I

PENGENALAN SARANA PRODUKSI PERTANIAN

(SAPROTAN)

Oleh

Nama : Dara Maulina

NPM : E1D013024

Co Ass : 1. L. S Hari Candra Simanjuntak

Hari/Shift : Jumat/B1

LABORATORIUM AGRONOMI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2014
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sektor pertanian merupakan sektor yang strategis dan berperan penting dalam
perekonomian nasional dan kelangsungan hidup masyarakat, terutama dalam sumbangannya
terhadap PDB, penyedia lapangan kerja dan penyediaan pangan dalam negeri. Kesadaran
terhadap peran tersebut menyebabkan sebagian besar masyarakat masih tetap memelihara
kegiatan pertanian mereka. Sehubungan dengan itu, pengendalian lahan pertanian merupakan
salah satu kebijakan nasional yang strategis untuk tetap memelihara industri pertanian primer
dalam kapasitas penyediaan pangan, dalam kaitannya untuk mencegah kerugian sosial
ekonomi dalam jangka panjang mengingat sifat multi fungsi lahan pertanian.

Pentingnya sektor pertanian, terutama dalam pembudidayaan tanaman-tanaman


disuatu daerah hal yang harus diperhatikan sarana produksi pertanian termasuk pada salah
satu subsistem agribisnis yaitu subsistem agribisnis yakni : kegiatan industri dan perdagangan
yang menghasilkan sarana produksi pertanian (arti luas) yakni pembenihan (pembibitan)
tumbuhan, ikan dan hewan, dan makhluk hidup lainnya. Sarana produksi merupakan bahan
yang sangat menentukan didalam budidayaa tanaman. Pada suatu wilayah tertentu sarana
yang ada hubungannya langsung dengan pertumbuhan tanaman dilapangan adalah benih/
bibit, pupuk, bahan kimia pengendali musuh tanaman/ perangsang tumbuh tanaman adan
alat-alat pertanian. Mengingat vitalnya fungsi sektor pertanian, maka perlu dilakukan suatu
pengenalan terhadap sarana produksi pertanian baik karakteristik maupun fungsinya.

1.2 Tujuan
Mahasiswa dapat menyebutkan jenis dan fungsi sarana produksi pertanian
Mahasiswa dapat mendeskripsikan karakteristik berbagai jenis sarana produksi
pertanian (saprotan)
Mahasiswa dapat memilih dengan tepat kebutuhan jenis saprotan yang akan
digunakan untuk kegiatan usaha pertanian
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Sarana produksi pertanian (saprotan) merupakan salah satu faktor yang sangat penting
dalam mendukung perkembangan atau kemajuan pertanian terutama untuk mencapai tujuan
terciptanya ketahanan pangan. Banyak sekali fungsi dari alat dan mesin pertanian misalnya
saja untuk pengolahan tanah, menaikkan kadar air serta dapat mengolah hasil
pertanian.banyak cara yang bisa digunakan oleh petani untuk mempermudah pekerjaan
mereka salah satunya yaitu dengan cara menggunakan alat yang modern selain dapat
memudahkan pekerjaan juga dapat mempersingkat waktu dan menaikkan hasil produksi
dalam bidang pertanian. Sarana produksi pertanian terdiri dari bahan yang meliputi, benih,
pupuk, pestisida, zat pengatur tumbuh, obat-obatan, dan peralatan lain yang digunakan untuk
melaksanakan produksi pertanian. Sarana-sarana tersebut harus sudah dipersiapkan sebelum
memulai kegiatan sarana budidaya tanaman (Djakfar.Z.R, 1990).

Sarana produksi yang baik biasanya digunakan baik dalam proses awal pembukaan lahan,
budidaya pertaian seperti pemupukan, pemeliharaan tanaman dan lain-lain sampai dengan
proses pemanenan. Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan utama dari sarana produksi dalam
bidang pertanian adalah untuk meningkatkan produktivitas kerja petani dan merubah hasil
yang sederhana menjadi lebih baik. Sarana produksi selain dipengaruhi benih, juga
dipengaruhi oleh beberapa faktor lainnya, faktor lain yang mempengaruhi adalah pestisida,
pestisida merupakan zat kimia yang berfungsi/digunakan sebagai alat untuk pengendailan
musuh-musuh tanaman, berdasarkan kegunaan pestisida dapat dibagi kedalam beberapa jenis,
yaitu insektisida, herbisida, moluskarisida, akarisida, rodentisida, fungisida, bakterisida, dan
nematisida. Pestisida juga mempunyai beberapa bentuk formulasi pestisida yaitu berupa
cairan semprot, tepung hembus, butiran, pasta, uap, kabut dan gas (Rukmana, 1995).

Penerapan sarana produksi yang baik dapat memberikan hasil yang baik bagi pertanian
indonesia. Sarana produksi dapat dikembangkan dengan pengetahuan yang ada, seperti benih
unggul, benih unggul didapat dari sortasi benih yang merupakan pilihan dari banyak benih.
Induk yang baik memberikan benih yang baik pula, pembudidayaan tanaman induk yang baik
akan sangat berperan dalam penentuan hasil yang baik (Robbins,2005).
BAB III

BAHAN DAN METODE

3.1 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan berupa alat tulis sedangkan bahan yang digunakan adalah berbagai
jenis saprotan seperti berbagai pupuk, pestisida, zat pengatur tumbuh dan benih.

3.2 Cara Kerja

1. Menyiapkan kertas, membuat tabel pengamatan untuk mencatat hasil


2. Mengambil objek pengamatan yang utuh dari seluruh objek yang telah dipersiapkan
3. Mengamati secara seksama karakteristik objek pengamatan
4. Melakukan pencatatan/gambar secara tepat, lengkap dan sistematis terhadap
informasi yang diketahui dari objek tersebut
5. Merapikan kembali ruangan dan meja yang telah digunakan untuk praktikum
6. Mengumpulkan hasil kerja dan pengamatan ke Co. Assisten sebagai laporan setelah
praktikum hari yang bersangkutan
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan

Komponen
Utama Karakter
Nama Keterangan
No Fungsi (unsur, bag, alat atau
Saprotan penting, dsb.
alat,bahan bahan
aktif, dsb.)

1 Dolomit Untuk Kapur Berbentuk Disebarkan di


memperbaiki tepung sekitar tanaman
tanah agar tidak berwarna
terlalu asam putih

2 Membunuh Bahan aktif Cairan Penyemprotan


Insektisida
hama serangga Deltametrin bening volume tinggi
merek dagang
pada anggrek, 25g/l kekuningan, apabila
Decis
cabe, dll mudah intensitas
diserap serangan telah
mencapai
ambang
pengendalianny
a

3 Multi K-Plus Meningkatkan N 15%, K2O Cairan Dilengkapi anti


ZPT kualitas daun, 20%, P2O5 berwarna jamur
mempercepat 20%, ZPT ungu dalam
pertumbuahan 4% botol plastik,
bunga dan buah mudah
serta mencegah diserap
tanaman layu
4 Bakterisida Mengendalikan Bahan aktif Berbentuk Bersifat
merek dagang penyakit layu streptomisin tepung antibiotika dan
Agrept 20 WP bakteri dan sulfat 20% berwarna dapat
penyakit hawar putih disuspensikan
daun

5 Pupuk Merangsang Zat aktivator Berbentuk Dapat


pelengkap cair pembungaan N 4,57; P2O5 cairan digunakan pasa
Primatan-B dan pembuahan 2,95; K2O berwarna semua tanaman
6,05 %, Zn merah terutama pada
0,21%; Cu mudah masa
6,0 ppm; B diserap pembungaan
30,5 ppm; dll dan pembuahan

6 Untuk Bahan aktif Berbentuk Dapat teremulsi


Insektisida
mengendalikan sipermetrin cairan di dalam air
merek dagang
ulat grayak pada 15 g/l
Kejora
tanaman kedelai

7 Gandasil B Sebagai pupuk N 6%, Posfor Berbentuk Mudah larut


daun 20%, K2O kristal
30% Dan
MgSO4 3%

8 Ethrel Zat pengatur Etheton Berbentuk Dapat


pertumbuhan 480ml cairan, diemulsikan
tanaman mudah dengan air
diserap
9 Benih Bayam Sebagai bibit Berbentuk
tanaman bayam butiran halus
berwarna
hitam

10 Benih Jagung Sebagai bibit Berbentuk


tanaman jagung bulat pipih
berwarna
kuning putih

11 Benih kacang Sebagai bibit Berwarna


panjang tanaman kacang merah
memiliki
bercak-
bercak

12 Pupuk KCL Sebagai sumber Kalium Berbentuk


kalium butir
Berwarna
merah bata

13 Pupuk Urea Menyediakan Nitrogen Berbrntuk


unsur N kristal halus
berwarna
putih

14 Pupuk TSP Menyediakan P2O5 44% Berbentuk


unsur posfat butir
berwarna
ungu
4.2 Pembahasan

Sarana produksi berperan penting di dalam usaha mencapai produksi sesuai dengan
tujuan yang diinginkan. Sarana produksi yang diamati karakteristiknya antara lain pupuk, zat
pengatur tumbuh, pestisida, dan benih. Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media
tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga
mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik atau
anorganik (mineral). Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan
tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau
terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat
tanah ataupun disemprotkan ke daun. Jenis pupuk yang diamati pada praktikum ini adalah
pupuk dolomit, pupuk pelengkap cair, pupuk urea, KCl dan TSP.

Dolomit adalah pupuk yang memiliki kandungan hara Kalsium (CaO) dan Magnesium
(MgO) tinggi dan sangat bermanfaat untuk pengapuran tanah masam dan dan juga sebagai
pupuk bagi tanah dan tanaman yang berfungsi menyuplai unsur Kalsium (CaO) dan
Magnesium (MgO) untuk kebutuhan tanaman. Pupuk pelengkap cair (PPC) adalah pupuk cair
yang berfungsi sebagai pupuk pelengkap yang member nutrisi lebih pada daun dan batang.
PPC ramah akan lingkungan karena tidak mencemari lingkungan bahkan dapat memberi efek
positif bagi musuh alami hama. Pupuk Urea adalah pupuk kimia mengandung Nitrogen (N)
berkadar tinggi. Unsur Nitrogen merupakan zat hara yang sangat diperlukan tanaman. Pupuk
urea berbentuk butir-butir kristal berwarna putih. Pupuk urea dengan rumus kimia NH2
CONH2 merupakan pupuk yang mudah larut dalam air dan sifatnya sangat mudah menghisap
air (higroskopis), karena itu sebaiknya disimpan di tempat yang kering dan tertutup rapat.
Fungsi utamanya adalah untuk memenuhhi kebutuhan nitrogen tanaman. Pupuk KCl
merupakan sumber Kalium (K) bagi tanaman. Fungsi utamanya membantu pembentukan
protein dan karbohidrat. Kalium juga berperan memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga
dan buah tidak mudah gugur. Kalium merupakan sumber kekuatan bagi tanaman dalam
menghadapi kekeringan dan penyakit. Sedangkan pupuk TSP adalah nutrient anorganik yang
digunakan untuk memperbaiki hara tanah untuk pertanian. TSP artinya Triple Super
Phosphate dan kadar P2O5 pupuk ini sekitar 44-46%.

Zat pengatur tumbuh (ZPT) pada tanaman adalah senyawa organik yang tidak termasuk
unsur hara mineral. Dalam praktikum kali ini yang ZPT yang diamati adalah Multi K-Plus
ZPT dan Ethrel. Multi K-Plus ZPT merupakan zat yang mengandung unsur N, K 2O dan P2O5
yang berfungsi meningkatkan kualitas daun, mempercepat pertumbuhan bunga dan buah.
Ethrel merupakan zat pengatur tumbuh yang bekerja pada tanaman secara sistematik yang
merangsang pematangan dan keluarnya warna buah dengan meningkatkan kandungan
anthocianin. Ethrel akan mengalami proses dekomposisi menjadi ethylen yang
mempengaruhi proses pematangan buah.

Pestisida merupakan salah satu sarana produksi pertanian yang tidak kalah penting dari
saprotan lainnya. Pestisida merupakan bahan yang digunakan untuk mengendalikan,
menolak, atau membasmi organisme pengganggu. Pestisida dikelompokkan menjadi
beberapa golongan di antaranya adalah insektisida, herbisida, bakterisida dan fungisida.
Dalam praktikum ini, jenis pestisida yang diamati adalah insektisida dengan merek dagang
Decis dan Kejora yang merupakan bahan-bahan kimia bersifat racun yang dipakai untuk
membunuh serangga. Serta bakterisida dengan merek dagang Agrept 20 WP yang bekerja
sistemik yang bersifat antibiotik, berbentuk tepung untuk mengendalikan penyakit layu
bakteri pada tanaman kedelai, tembakau, cabai, jahe, tomat dan kentang.

Benih merupakan factor penting pada suatu pertanaman karena benih merupakan awal
kehidupan dari tanaman yang bersangkutan. Benih yang diamati adalah benih bayam, jagung
dan kacang merah. Benih tersebut sebagai biji tanaman yang tumbuh menjadi tanaman muda
(bibit), kemudian dewasa dan menghasilkan bunga. Melalui penyerbukaan bunga
berkembang menjadi buah atau polong, lalu menghasilkan biji kembali. Benih dapat
dikatakan pula sebagai ovul masak yang terdiri dari embrio tanaman, jaringan cadangan
makanan, dan selubung penutup yang berbentuk vegetatif. Benih berasal dari biji yang
dikecambahkan atau dari umbi, setek batang, setek daun, dan setek pucuk untuk
dikembangkan dan diusahakan menjadi tanaman dewasa.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Sarana produksi merupakan syarat pokok yang harus tersedia dalam kegiatan usaha tani
sebelum tahap-tahap produksi dilakukan. Sarana produksi pertanian yang sangat vital antara
lain pupuk, zat pengatur tumbuh (ZPT), pestisida dan benih. Pupuk digunakan untuk
menambah unsur hara yang diperlukan tanaman. Demikian pula ZPT diperlukan untuk
mempengaruhi peningkatan prduktivitas tanaman. Dalam proses produksi, pestisida
merupakan komponen penting dalam pemeliharaan tanaman dari organisme pengganggu
tanaman. Saprotan lain yang harus tersedia adalah benih karena benih. Pemilihan saprotan
yang tepat tentu dapat menjadikan hasil produksi pertanian optimal.

5.2 Saran

Sebaiknya sarana produksi pertanian yang diperkenalkan diperbanyak jumlah dan


variasinya agar memperluas wawasan praktikan.
Hendaknya sarana produksi yang diperkenalkan tidak hanya saprotan yang tergolong
bahan tetapi juga saprotan yang tergolong sebagai alat yang digunakan berkali-kali.
DAFTAR PUSTAKA

Djakfar, Z.R, Dartius, Ardi, Suyati, D, Yuliadi, E, Hadiyono, Sjfyan, Y, Aswad, M, dan
Sagiman, S. 1990. Dasar-dasar Agronomi. Palembang: BKS-B USAID
Robbins. 2005. Budidaya , Pengolahan dan Pemasaran Coklat. Jakarta: Penebar Swadaya.
Rukmana, Rahmat. 1995. Pepaya Budidaya dan Pasca Panen. Yogyakarta : Kanisius