Anda di halaman 1dari 8

HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA RUANG

DENGAN KEPUASAN KERJA PERAWAT DI RUMAH SAKIT SWASTA DI


DEMAK

Maryanto*), Tri Ismu Pujiyanto**), Singgih Setyono***)

*) Program Studi S1 Keperawatan STIKES Karya Husada Semarang


**) Program Studi S1 Keperawatan STIKES Karya Husada Semarang
***) Dinas Kesehatan Kabupaten Demak

ABSTRAK

Kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Kepuasan kerja
perawat merupakan sasaran penting dalam manajemen sumber daya manusia. Kepuasan kerja karyawan
banyak dipengaruhi sikap pimpinan dalam kepemimpinannya. Hasil survey awal tahun 2010 terdapat 6
tenaga keperawatan keluar dari Rumah Sakit Swasta di di Demak dan BOR turun 25 % dari tahun
sebelumnya. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan gaya kepemimpinan kepala ruang
dengan kepuasan kerja perawat di Rumah Sakit Swasta di di Demak. Metode penelitian adalah jenis
penelitian ini adalah analitik korelasional dengan desain cross sectional, teknik sampling yang digunakan
pada penelitian ini adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 43 responden. Instrumen penelitian
menggunakan kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah chi square dengan taraf signifikan 5%. Hasil
penelitian adalah menunjukkan ada hubungan yang signifikan gaya kepemimpinan kepala ruang dengan
kepuasan kerja perawat dengan p value 0,005. Kesimpulan adalah penelitian ini diharapkan dapat
bermanfaat bagi kepala ruang dalam menampilkan gaya kepemimpinannya sehingga terwujud kepuasan
kerja para anggotanya.

Kata kunci : gaya kepemimpinan, kepuasan kerja perawat.

146 Jurnal Managemen Keperawatan . Volume 1, No. 2, November 2013; 146-153


PENDAHULUAN bahwa hubungan antara kelompok manajer
Kepemimpinan atau proses dan pegawai merupakan unsur yang penting
mempengaruhi orang lain menuju pada dalam menilai sebagai manajer yang baik.
pencapaian sasaran, sudah sejak lama, Menurut Kuswadi (2004) bahwa gaya
diakui sebagai aspek vital dari manajemen. menajemen atau gaya kepemimpinan yang
Kepemimpinan adalah hubungan yang kurang pas atau kurang cocok dilaksanakan
tercipta dari adanya pengaruh yang dimiliki yang diberikan pimpinan kepada
seseorang terhadap orang lain sehingga karyawannya, dapat menurunkan motivasi,
orang lain tersebut secara sukarela mau dan kinerja dan akhirnya kepuasan kerja.
bersedia bekerja sama untuk mencapai Kepuasan kerja adalah sikap emosional
tujuan yang diinginkan (Georgy R. Terry). yang menyenangkan dan mencintai
Di dalam keperawatan kepemimpinan pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh
merupakan penggunaan ketrampilan moral kerja, kedisiplinan, dan prestasi kerja.
seorang pemimpin (perawat) dalam Kepuasan kerja dinikmati dalam pekerjaan,
mempengaruhi perawatperawat lain yang luar pekerjaan, dan kombinasi dalam dan
berada di bawah pengawasannya untuk luar pekerjaan. Kepuasan kerja perawat
pembagian tugas dan tanggung jawab merupakan sasaran penting dalam
dalam memberikan pelayanan asuhan manajemen sumber daya manusia, karena
keperawatan sehingga tujuan keperawatan secara langsung atau tidak langsung dapat
tercapai (Latif, 2008). mempengaruhi produktivitas kerja yang
Perilaku kepemimpinan akan tercermin pada akhirnya akan meningkatkan mutu
dari gaya kepemimpinannya yang muncul pelayanan asuhan keperawatan kepada
pada saat memimpin bawahannya. Dalam klien. (Fathoni Abdurrahmat, 2006).
mempengaruhi kinerja bawahannya Kepuasan kerja karyawan banyak
diperlukan gaya kepemimpinan yang dipengaruhi sikap pimpinan dalam
efektif. kepemimpinannya. Kepemimpinan
K. Lewin, R. Lippitt dan R. White partisipatif memberikan kepuasan kerja
mengidentifikasikan tiga gaya dasar bagi karyawan karena karyawan ikut aktif
kepemimpinan : Otoriter (dimana pemimpin dalam memberikan pendapatnya untuk
memegang semua kekuasaan dan pengaruh menentukan kebijaksanaan perusahaan.
dalam mengambil keputusan); Demokratis Kepemimpinan otoriter mengakibatkan
(dimana pemimpin membagi bersama kepuasan kerja karyawan rendah.
dengan kelompok kekuasaan dan pengaruh Pelayanan keperawatan merupakan
dalam mengambil keputusan); dan kendali bagian integral pelayanan kesehatan di
bebas (dimana semua kekuasaan dan Rumah Sakit. Rumah Sakit Swasta di di
pengaruh dalam membuat keputusan Demak merupakan Rumah Sakit Tipe D di
diberikan kepada kelompok). Menurut riset Kabupaten Demak yang mempunyai
mereka, dalam pengertian produktivitas dan kapasitas tempat tidur 78 tempat tidur. Pada
kepuasan kelompok maka gaya tahun 2007 - 2009 BOR Rumah Sakit
kepemimpinan terbaik adalah gaya Swasta di di Demak adalah 70% - 75% dan
demokratis. Penelitian menggarisbawahi pada tahun 2010 - 2011 BOR Rumah Sakit
gaya kepemimpinan demokratis di atas Swasta di di Demak adalah 40% - 50%.
gaya otoriter, yang pernah dipercaya secara Dan tenaga perawat sejumlah 61 perawat.
luas sebagai gaya kepemimpinan paling Menurut hasil survey awal, ditemukan
efektif. beberapa perawat terindikasi mengalami
Sementara Tannenbaum & Schmid kekurangpuasan mereka saat bekerja di
(1983) menekankan bahwa kombinasi Rumah Sakit. Pada tahun 2010 terdapat 6
antara gaya kepemimpinan otoriter dan tenaga keperawatan yang keluar dari
demokratis diperlukan oleh manajer dimana Rumah Sakit Swasta di di Demak. Menurut
unsur utama manajer adalah tergantung dari Ashar Sunyoto Munandar dengan adanya
situasi suatu organisasi. Yaitu kemampuan sejumlah tenaga yakni perawat yang keluar
manajer, penghargaan kepada kelompok. dari suatu tempat kerja dapat
Fielder (1967) menegaskan bahwa gaya mengindikasikan terjadinya ketidakpuasan
kepemimpinan yang paling tepat adalah perawat tersebut terhadap tempat kerjanya.
ideal dengan situasi. Dia menekankan

Hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Ruang Dengan Kepuasan Kerja Perawat 147
Di Rumah Sakit Swasta Di Demak
Maryanto, Tri Ismu Pujiyanto, Singgih Setyono
TINJAUAN PUSTAKA c. Pengukuran Kepuasan Kerja
1. Kepuasan Kerja 1) Pengukuran Kepuasan Kerja dengan
a. Definisi Skala Indeks Deskripsi Jabatan
Kepuasan kerja menurut Stephen Skala pengukuran ini dikembangkan
(2008) dapat didefinisikan sebagai suatu oleh Smith, Kendall, dan Hullin pada tahun
perasaan positif tentang pekerjaan 1969. Dalam penggunaannya, pegawai
seseorang yang merupakan hasil dari ditanya mengenai pekerjaan maupun
sebuah evaluasi karakteristiknya. jabatannya yang dirasakan sangat baik dan
Howell dan Dipboye (1986) sangat buruk, dalam skala mengukur sikap
memandang kepuasan kerja sebagai hasil dari lima area, yaitu kerja, pengawasan,
keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak upah, promosi, dan co-worker. Setiap
sukanya tenaga kerja terhadap berbagai pertanyan yang diajukan, harus dijawab
aspek dari pekerjaannya. oleh pegawai dengan cara menandai
jawaban ya, tidak, atau tidak ada jawaban.
b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi 2) Pengukuran Kepuasan Kerja dengan
Kepuasan Kerja Berdasarkan Expresi Wajah
Ghiselli dan Brown (2000) Mengukur kepuasan kerja ini
mengemukakan bahwa ada lima faktor yang dikembangkan oleh Kunin pada tahun
menimbulkan kepuasan kerja yaitu : 1955. Skala ini terdiri dari segi gambar
a) Kedudukan (posisi) wajah-wajah orang mulai dari sangat
Umumnya manusia beranggapan gembira, gembira, netral, cemberut, dan
bahwa seseorang yang bekerja pada sangat cemberut. Pegawai diminta untuk
pekerjaan yang lebih tinggi akan merasa memilih ekspresi wajah yang sesuai dengan
puas daripada yang pekerjaannya lebih kondisi pekerjaan yang dirasakan pada saat
rendah. Sesungguhnya hal tersebut tidak itu.
selalu benar, tetapi justru perubahan dalam 3) Pengukuran Kepuasan Kerja dengan
tingkat pekerjaannyalah yang Kuesioner Minnesota
mempengaruhi kepuasan kerja. Pengukuran kepuasan kerja ini
b) Golongan dikembangkan oleh Weiss, Dawis, dan
Seseorang yang memiliki golongan England pada tahun 1967. Skala ini terdiri
yang lebih tinggi umumnya memiliki gaji, dari pekerjaan yang dirasakan sangat tidak
wewenang, dan kedudukan yang lebih puas, tidak puas, netral, memuaskan, dan
dibandingkan yang lain, sehingga sangat memuaskan. Pegawai diminta
menimbulkan perilaku dan perasaan yang memilih salah satu alternatif jawaban yang
puas terhadap pekarjaannya. sesuai dengan kondisi pekerjaannya.
c) Umur
Dinyatakan bahwa ada hubungan 2. Gaya Kepemimpinan
antara umur dengan kepuasan kerja, dimana a. Definisi
umur antara 25 34 tahun dan umur 40 Gaya kepemimpinan adalah pola
45 tahun adalah merupakan umur yang bisa tingkah laku yang dirancang untuk
menimbulkan perasaan kurang puas mengintegrasikan tujuan organisasi dengan
terhadap pekerjaan. tujuan individu, untuk mencapai suatu
d) Jaminan finansial dan jaminan sosial tujuan. (S. Suarli & Yanyan Bahtiar).
Jaminan finansial dan jaminan sosial b. Gaya Kepemimpinan menurut
umumnya berpengaruh terhadap kepuasan Ronald Lippits & Rapiph K. White
kerja. Menurut Ronald Lippith dan Rapiph
e) Mutu Pengawasan K. White, terdapat tiga gaya kepemimpinan
Kepuasan karyawan dapat ditingkatkan yaitu :
melalui perhatian dan hubungan yang baik 1) Otoriter
dari pimpinan dengan bawahan, sehingga Gaya kepemimpinan ini memiliki ciri-
karyawan akan merasa bahwa dirinya ciri sebagai berikut :
merupakan bagian yang penting dari a) Wewenang mutlak berada pada
organisasi kerja (Moh. Asad, 2005:113). pimpinan
b) Keputusan selalu dibuat oleh pimpinan

148 Jurnal Managemen Keperawatan . Volume 1, No. 2, November 2013; 146-153


c) Kebijaksanaan selalu dibuat oleh k) Pimpinan meminta kesetiaan bawahan
pimpinan secara wajar
d) Komunikasi berlangsung satu arah dari l) Pimpinan memperhatikan perasaan
pimpinan kepada bawahan dalam bersikap dan bertindak
e) Pengawasan terhadap sikap, tingkah m) Terdapat suasana saling percaya,
laku, perbuatan atau kegiatan para saling hormat menghormati dan saling
bawahan dilakukan secara ketat menghargai
f) Prakarsa harus selalu berasal dari n) Tanggung jawab keberhasilan
pimpinan organisasi ditanggung secara bersama-
g) Tidak ada kesempatan bagi bawahan sama
untuk memberikan saran,
pertimbangan atau pendapat 3) Liberal atau Laissez Faire
h) Tugas-tugas bawahan diberikan secara Kepemimpin gaya liberal atau Laissez
instruktif Faire adalah kemampuan mempengaruhi
i) Lebih banyak kritik daripada pujian orang lain agar bersedia bekerjasama untuk
j) Pimpinan menuntut prestasi sempurna mencapai tujuan dengan cara berbagai
dari bawahan tanpa syarat kegiatan dan pelaksanaannya dilakukan
k) Pemimpin menuntut kesetiaan tanpa lebih banyak diserahkan kepada bawahan.
syarat Gaya kepemimpinan ini bercirikan
l) Cenderung adanya paksaan, ancaman sebagai berikut:
dan hukuman a) Pemimpin melimpahkan wewenang
m) Kasar dalam bersikap sepenuhnya kepada bawahan.
n) Tanggung jawab keberhasilan b) Keputusan lebih banyak dibuat oleh
organisasi hanya dipikul oleh bawahan
pimpinan. c) Kebijakan lebih banyak dibuat oleh
bawahan
2) Demokratis d) Pimpinan hanya berkomunikasi
Kepemimpinan gaya demokratis apabila diperlukan oleh bawahan
adalah kemampuan dalam mempengaruhi e) Hampir tidak ada pengawasan terhadap
orang lain agar bersedia bekerjasama untuk tingkah laku bawahan
mencapai tujuan yang telah ditetapkan, f) Prakarsa selalu berasal dari bawahan
berbagai kegiatan yang akan dilakukan g) Hampir tidak ada pengarahan dari
ditentukan bersama antara pimpinan dan pimpinan
bawahan. h) Peranan pemimpin sangat sedikit
Gaya kepemimpinan ini memiliki ciri- dalam kegiatan kelompok
ciri sebagai berikut : i) Kepentingan pribadi lebih penting dari
a) Wewenang pimpinan tidak mutlak kepentingan kelompok
b) Pimpinan bersedia melimpahkan j) Tanggung jawab keberhasilan
sebagian wewenang kepada bawahan organisasi dipikul oleh perorangan.
c) Keputusan dibuat bersama antara
pimpinan dan bawahan METODE PENELITIAN
d) Komunikasi berlangsung timbal balik Jenis penelitian yang digunakan adalah
e) Pengawasan dilakukan secara wajar analitik korelasional dengan desain cross
f) Prakarsa dapat datang dari bawahan sectional. Penelitian ini dilakukan pada
g) Banyak kesempatan dari bawahan tanggal sampai dengan 4 April 2012.
untuk menyampaikan saran dan Populasi pada penelitian ini sebanyak 48
pertimbangan responden sedangkan sampelnya sebanyak
h) Tugas-tugas kepada bawahan 43 responden dengan teknik purposive
diberikan dengan lebih bersifat sampling. Instrumen penelitian yang
permintaan daripada instruktif digunakan adalah kuesioner. Analisa data
i) Pujian dan kritik seimbang yang digunakan pada penelitian ini adalah
j) Pimpinan mendorong prestasi analisa univariat dan analisa bivariat.
sempurna para bawahan dalam batas Analisa univariat dilakukan untuk
masing-masing mengetahui distribusi frekuensi dan
prosentase gaya kepemimpinan dan

Hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Ruang Dengan Kepuasan Kerja Perawat 149
Di Rumah Sakit Swasta Di Demak
Maryanto, Tri Ismu Pujiyanto, Singgih Setyono
kepuasan kerja perawat. Analisa bivariat sebesar 39,5 %, otokratis sebesar 30,2 %,
dilakukan untuk mengetahui hubungan dan liberal atau laissez faire sebesar 30,2
antar variabel independent dan variabel %.
dependent. Uji statistik yang digunakan
pada penelitian ini adalah uji chi square. b. Kepuasan Kerja Perawat
Tabel 2 Tanggapan Responden Terhadap
HASIL PENELITIAN Kepuasan Kerja
1. Analisa Univariat Kepuasan Jumlah Persentase (%)
a. Gaya Kepemimpinan Kepala Ruang Kerja

Tabel 1. Tanggapan Responden Terhadap Gaya Puas 26 60,5


Kepemimpinan Kepala Ruang Tidak Puas 17 39,5
Jumlah Persentase
(%) Total 43 100

Demokratis 17 39,5
Otokratis 13 30,2 Tabel 2 di atas menjelaskan bahwa
Liberal 13 30,2 perawat yang menyatakan puas bekerja
sebesar 60,5%, sedangkan perawat yang
Total 43 100 menyatakan tidak puas bekerja sebesar
39,5%.
Tabel 1 di atas menjelaskan bahwa
responden yang mempersepsikan kepala
ruang bergaya kepemimpinan demokratis

2. Analisa Bivariat
Tabel 3. Hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Ruang Dengan Kepuasan Kerja Perawat Di Rumah
Sakit Swasta di di Demak
Kepuasan Kerja Total p value
Gaya kepemimpinan Tidak Puas Puas
n % n % n %
Demokratis 2 11,8 15 88,2 17 39,5 0,005
Otokratis 6 46,2 7 53,8 13 30,2
Liberal atau laissez faire 9 69,2 4 30,8 13 30,2
Total 17 39,5 26 60,5 43 100

Tabel 3 di atas menjelaskan bahwa 17 PEMBAHASAN


responden yang mempersepsikan kepala 1. Analisa Univariat
ruang bergaya kepemimpinan demokratis, a. Gaya Kepemimpinan Kepala Ruang
15 responden (88,2%) menyatakan puas Berdasarkan tanggapan responden
bekerja, dan 2 responden (11,8%) dalam hal gaya kepemimpinan kepala ruang
menyatakan tidak puas bekerja. Sedangkan dari 43 responden, 17 (39,5%) responden
13 responden yang mempersepsikan kepala mempersepsikan kepala ruang bergaya
ruang bergaya kepemimpinan otokratis 7 kepemimpinan demokratis, 13 (30,2%)
responden (53,8%) menyatakan puas responden mempersepsikan kepala ruang
bekerja, dan 6 responden (46,2%) bergaya kepemimpinan otokratis, dan 13
menyatakan tidak puas bekerja. Sementara (30,2%) responden mempersepsikan kepala
13 responden yang mempersepsikan kepala ruang bergaya kepemimpinan liberal atau
ruang bergaya kepemimpinan liberal atau laissez faire
laissez faire, 4 responden (30,8%) Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa
menyatakan puas bekerja, dan 9 responden kepala ruang di Rumah Sakit Swasta di di
(69,2%) menyatakan tidak puas bekerja. Demak menggunakan ketiga gaya
Nilai X2 hitung adalah sebesar 10.518 dan kepemimpinan yaitu demokratis, otokratis
nilai p-value adalah sebesar 0.005. dan liberal atau laissez faire. Sedangkan

150 Jurnal Managemen Keperawatan . Volume 1, No. 2, November 2013; 146-153


gaya kepemimpinan demokratis merupakan b. Kepuasan Kerja Perawat
gaya kepemimpinan dengan tingkat Herzberg (1966) mengemukakan
persentase yang paling tinggi (39,5 %). Hal bahwa sumber kepuasan kerja terdiri dari
ini mengindikasikan bahwa gaya tanggung jawab, prestasi, penghargaan,
kepemimpinan demokratis adalah gaya promosi, dan pekerjaan itu sendiri.
yang paling dominan digunakan oleh kepala Sedangkan sumber ketidakpuasan kerja
ruang di Rumah Sakit Swasta di di Demak terdiri dari kondisi kerja, gaji, teman kerja,
Berdasarkan teori gaya kepemimpinan kebijakan admininistrasi, keamanan dan
yang paling baik adalah gaya kualitas pengawasan.
kepemimpinan demokratis, gaya yang Perawat di Rumah Sakit Swasta di di
demokratis merupakan kepemimpinan yang Demak merasakan ketidakpuasan kerja
bersedia memberikan bimbingan yang karena kondisi kerja yang tidak
efisien kepada bawahannya, bersedia mendukung, teman kerja yang tidak
mendengarkan pendapat, ide, saran dan mendukung dan kualitas mutu pengawasan
kritikan dari bawahan (kelompok), sangat yang kurang baik. Kondisi ini sesuai teori
memperhatikan kepentingan dan yang dikemukakan oleh (Herzbeg, 1966)
kesejahteraan bawahan, menindak bawahan tersebut di atas.
yang melanggar disiplin dengan pendekatan Berdasarakan hal tersebut bahwa
yang bersifat korektif dan edukatif. perawat di Rumah Sakit Swasta di di
Mengkoordinasikan pekerjaan dari semua Demak menginginkan pekerjan yang
bawahan yang ada dalam sistem bervariasi, kondisi kerja yang mendukung,
pelaksanaan kerja dengan penekanan rasa rekan kerja yang mendukung diberi
tanggung jawab dan kerja sama yang baik. kebebasan yang seluas-luasnya untuk
Kepemimpinan yang demokratis ini menggunakan keterampilan dan
memiliki kekuatan pada partisipasi aktif kemampuan ketika melaksanakan kerja
pada anggota kelompok. serta umpan balik terhadap hasil kerja yang
Gaya otokratis kurang efektif dinilai baik. Selanjutnya perawat sangat
digunakan seorang pemimpin dalam hal mendambakan sitem promosi yang jelas
kepuasan kerja anggotanya, karena kegiatan sesuai dengan peraturan yang berlaku dan
dan pelaksanaannya tergantung dari memenuhi rasa keadilan.
pimpinan.
Gaya kepemimpinan liberal atau 2. Analisa Bivariat
laissez faire tidak baik digunakan pada Hubungan gaya kepemimpinan kepala
suatu organisasi. Karakteristik dari gaya ruang dengan kepuasan kerja perawat
kepemimpinan liberal diantaranya adalah Hipotesis penelitian ini adalah ada
pimpinan menyerahkan tanggung jawab hubungan gaya kepemimpinan kepala ruang
atas pelaksanaan pekerjaan pada bawahan, dengan kepuasan kerja perawat di Rumah
pimpinan jarang melakukan kontak dengan Sakit Swasta di di Demak dengan p value
para bawahan, dan pimpinan jarang 0,005 dan contingency coefficient 0,443.
membuat aturan tentang pelaksaan Hasil penelitian ini sesuai dengan
pekerjaan. penelitian yang dilakukan oleh Rosyana &
Merujuk kepada teori gaya Maria (2004), berjudul pengaruh gaya
kepemimpinan yang diajukan oleh K. kepemimpinan terhadap kepuasan kerja
Lewin, R. Lippitt dan R. White (2004) yaitu karyawan Bibliografi, hasil penelitian
gaya otokratis, demokratis dan liberal, menjelaskan ada hubungan gaya
menurut riset mereka dalam pengertian kepemimpinan terhadap kepuasan kerja
produktivitas dan kepuasan kelompok maka karyawan.
gaya kepemimpinan terbaik adalah gaya Hasil penelitian yang dilakukan oleh
demokratis. Smat (2004) menjelaskan bahwa secara
Berdasarkan teori tersubut di atas simultan (serempak) gaya kepemimpinan
maka gaya kepemimpinan kepala ruang di otokratis, gaya kepemimpinan demokratis
Rumah Sakit Swasta di di Demak belum dan gaya kepemimpinan liberal
sesuai harapan karena hanya 39,5 % berpengaruh positif terhadap motivasi kerja
responden yang mempersepsikan kepala karyawan di Kantor Regional VI Badan
ruang bergaya demokratis. Kepegawaian Negara (BKN) Medan. Besar

Hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Ruang Dengan Kepuasan Kerja Perawat 151
Di Rumah Sakit Swasta Di Demak
Maryanto, Tri Ismu Pujiyanto, Singgih Setyono
pengaruh dalam penelitian ini sebesar Monica. (2000). Pengantar Kepemimpinan
43,5%. Manajemen Keperawatan untuk
Perawat Klinis. Edisi I. Jakarta : EGC.
SIMPULAN Munandar Ashar Sunyoto, (2001).
1. Kepala ruang di Rumah Sakit Swasta di Psikologi Industri dan Organisasi.
di Demak cenderung bergaya Jakarta : Universitas Indonesia.
demokratis, prosentasenya sebesar Muslim Khoirul. (2006). Pengaruh Gaya
39,5%. Kepemimpinan dan Kepuasan Kerja
2. Perawat di Rumah Sakit Swasta di di terhadap Kinerja Karyawan Politeknik
Demak merasakan kepuasan dalam Negeri Lhokseumawe. Medan :
bekerja sebesar 60,5%. Universitas Sumatera Utara.
3. Ada hubungan gaya kepemimpinan Notoatmojo S. (2002). Metodologi
kepala ruang dengan kepuasan kerja Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
perawat di Rumah Sakit Swasta di di Cipta.
Demak dengan p value = 0,005. Nursalam. (2002). Manajemen
Keperawatan Aplikasi dalam Praktik
DAFTAR PUSTAKA Keperawatan Profesional. Edisi I.
Jakarta : Salemba Medika.
Depkes RI. (1999). Pedoman Uraian Tugas __________, (2008). Konsep dan
Tenaga Keperawatan di Rumah Sakit. Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Cetakan Kedua. Direktorat Jenderal Keperawatan : Pedoman Skripsi, Tesis
Pelayanan Medik. dan Instrumen Penelitian Keperawatan.
Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Jakarta : Salemba Medika.
Departemen Kesehatan RI. (2007). Purwandari Istiningtyas. (2011). Hubungan
Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Karakteristik Perawat Pelaksana dan
Rumah Sakit. Jakarta. Lingkungan Kerja dengan Kepuasan
Fadli, Ahmad. (2004). Pengaruh Gaya Kerja Perawat di RS Pantiwilasa
Kepemimpinan terhadap Kinerja Citarum Semarang. Semarang : Sekolah
Karyawan pada PT. Industri Medan Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada.
(KIM). Medan : Universitas Sumatera Rosyana & Maria. (2004). Gaya
Utara. Kepemimpinan dan Pengaruhnya
Fathoni Abdurrahmat. (2006). Manajemen terhadap Kepuasan Kerja Karyawan
Sumber Daya Manusia. Jakarta : Rineka Bibliografi. Medan : Universitas
Cipta. Sumatera Utara.
Hanafi Mamduh M. (2003). Manajemen. Sabarguna S.B. (2005). Prosedur
Edisi Revisi. Yogyakarta : Unit Penerbit Manajemen Rumah Sakit dan Tehnik
dan Percetakan Akademi Manajemen Efisiensi. Cetakan I. Yogyakarta :
Perusahaan YKPN. Konsorium Rumah Sakit Swasta di
Hanafi Niken & Daniel P. Purba. (2010). Jateng DIY.
Leadhership untuk Profesional dan Sabarguna S.B. (2007). Knowledge
Mahasiswa. Jakarta : Erlangga. Manajemen untuk Rumah Sakit. Jakarta :
Ivancevich John M., Konopaske Robert & Sagung Seto.
Matteson Michael T. (2007). Perilaku Setiadi. (2007). Konsep dan Penelitian
dan Manajemen Organisasi. Edisi Riset Keperawatan. Yogyakarta : Graha
Ketujuh. Jakarta : Erlangga. Ilmu.
Karyuni EP & Ester Monica. (2008). Smat. (2004). Pengaruh Gaya
Pedoman Riset Praktis untuk Profesi Kepemimpinan terhadap Motivasi Kerja
Perawat. Cetakan I. Jakarta : EGC. Karyawan di Kantor Regional VI Badan
Kuntoro, A. (2010). Buku Ajar Manajemen Kepegawaian Negara (BKN). Medan :
Keperawatan. Cetakan Pertama. Universitas Sumatera Utara.
Yogyakarta : Nuha Medika. Suarli S. & Bahtiar Y. (2002). Manajemen
Mangkunegara Anwar Prabu. (2005). Keperawatan dengan Pendekatan
Manajemen Sumber Daya Manusia Praktis. Jakarta : Erlangga.
Perusahaan. Cetakan Keenam. Bandung Suyanto. (2009). Mengenal Kepemimpinan
: PT. Remaja Rosdakarya. dan Manajemen Keperawatan di Rumah

152 Jurnal Managemen Keperawatan . Volume 1, No. 2, November 2013; 146-153


Sakit. Cetakan Ketiga. Yogyakarta : Uttoyo, D.Y. (2009). Pengaruh Gaya
Mitra Cendikia Press. Kepemimpinan terhadap Kinerja
Swanburg Russel C. (2000). Pengantar Perawat dan Bidan UPT Puskesmas
Kepemimpinan & Manajemen Glagah Kabupaten Lamongan. Medan :
Keperawatan. Jakarta : EGC. Universitas Sumatera Utara.

Hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Ruang Dengan Kepuasan Kerja Perawat 153
Di Rumah Sakit Swasta Di Demak
Maryanto, Tri Ismu Pujiyanto, Singgih Setyono