Anda di halaman 1dari 63

LAPORAN TUGAS KHUSUS ANEMIA

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI APOTEK KIMIA FARMA

Disusun oleh :

1. Gerryanto Pandu Putra UTA 45

2. Muhammad Fitroh UTA 45

3. Amalia Saraswati UHAMKA

4. Imelda Marleni Payungallo UTA 45

5. Muhammad Rizallatif UTA 45

6. Faustina Th Heatubun UTA 45

7. Fera Balla Poddala UTA 45

8. Desi Rika Silambi UTA 45

9. Valentine Veronica Yusuf UTA 45

10. Delisa Cahyaningtyas UTA 45

11. Muhammad Thaib UTA45

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER (PKPA)

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER

FAKULTAS FARMASI

2016
DAFTAR ISI

DAFTARISI
KATA PENGANTAR
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Rumusan Masalah
1.2. Latar Belakang
1.3. Tujuan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1.Defenisi Anemia
2.2.Patofisiologi Anemia
2.3.Klasifikasi Anemia
2.4. Etiologi
2.5.Manifestasi Klinis
2.6.Prevalensi Anemia
2.7.Diagnosis
2.8.Faktor Resiko
2.9.Terapi Non Farmakologi
2.10.Terapi Farmakologi
2.11. Interaksi Obat
2.12. Terminologi Medik
BAB III. ANALISIS RESEP
3.1. Resep 1
3.2. Resep 2
3.3. Resep 3
BAB IV. PENUTUP
4.1. Kesimpulan
4.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadiratTuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya sehingga

makalah ini dapat tersusun hingga selesai .Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak

terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berpartisipasi dalam pembuatan makalah

ini.Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman

bagi para pembaca. Semoga kedepannya kami dapat memperbaiki bentuk mau pun isi

makalah yang akan kami buat selanjutnya. Karena keterbatasan pengetahuan maupun

pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu

kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi

kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, Oktober 2016

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Anemia (dalam bahasa Yunani: anaimia, artinya kekurangan darah) adalah keadaan saat

jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah

merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin yang

memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru-paru, dan mengantarkannya ke seluruh

bagian tubuh.

Anemia adalah penyakit darah yang sering ditemukan.Beberapa anemia memiliki

penyakit dasarnya.Anemia bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk atau morfologi sel darah

merah, etiologi yang mendasari, dan penampakan klinis.Penyebab anemia yang paling sering

adalah perdarahan yang berlebihan, rusaknya sel darah merah secara berlebihan hemolisis

atau kekurangan pembentukan sel darah merah (hematopoiesis yang tidak efektif).

Menurut Prof. Elin Yulinah Sukandaria, Apt, dkk, Anemia adalah sekelompok

gangguan yang dikarakterisasi dengan penurunan hemoglobin atau Sel Darah Merah (SDM),

berakibat pada penurunan kapasitas pengngkutan oksigen oleh darah.Hemoglobin terdapat

dalam sel-sel darah merah dan merupakan pigmen pemberi warna merah sekaligus pembawa

oksigen dari paru-paru keseluruh sel-sel tubuh. Oksigen ini akan digunakan untuk membakar

gula dan lemak menjadi energi. Hal ini dapat menjelaskan mengapa kurang darah dapt

menyebabkan gejala lemah dan lesu yang tidak biasa.Paru-paru dan jantung juga terpaksa

kerja keras untuk mendapatkan oksign dari darah yang menyebabkan nafas terasa pendek.

Walaupun gejalanya tidak terlihat atau samar-samar dalam jangka waktu lama.Kondisi

ini tetap dapat membahayakan jiwa jika dibiarkan dan tidak diobati.Jika anda mengalami

gejal lemah, lesu berkepanjangan, sebaiknya segera periksa diri kedokter untuk mengetahui
penyebabnya. Anemia biasanya terdeteksi atau sedikitnya dapat dipastikan setelah

pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar sel darah merah, hemotokrit dan hemoglobin.

Pengobatan bias bervariasi tergantung pada diagnosisnya.

Sel-sel darah baru dibuat setiap hari dalam sum-sum tulang belakang.Zat gizi yang

diperlukan untuk pembuatan ini adalah zat besi, protein dan vitamin terutama asam folat dan

B12.Dari semua ini, zat besi dan protein yang paling penting dalam pembentukkan

hemoglobin. Setiap orang harus memiliki sekitar 15 gram hemoglobin per 100 ml darah dan

lima juta sel darah merah per millimeter darah.

Menurut data yang dikeluarkan Depkes RI, pada kelompok usia balita prevalensi

anemia gizi besi pada tahun 2001 adalah 47,0%, kelompok wanita usia subur 26,4%,

sedangkan pada ibu hamil 40,1%. Data WHO tidak kalah fantastis, hampir 30% total

penduduk dunia diperkirakan menderita anemia.

Anemia dapat diklasifikasikan berdasarkan morfologi dan etiologinya.Pada klasifikasi

anemia menurut morfologi dikenal tiga klasifikasi besar, yaitu anemia normositik

normokrom, anemia makrositik normokrom dan anemia mikrositik hipokrom.

1.2. Rumusan Masalah

a. Apa yang dimaksud dengan anemia?


b. Bagaimana patofisiologi dari anemia?
c. Apa saja klasifikasi anemia?
d. Apa etiologi dari anemia?
e. Bagaiman manifestasi klinis dari anemia?
f. Bagaiman factor resiko dari anemia?
g. Bagaimana cara pengobatan anemia secara non farmakologi?
h. Bagaimana cara pengobatan anemia secara farmakologi?

1.3. Tujuan
a. Untuk mengetahui defenisi dari anemia
b. Untuk mengetahui patofisiologi dari anemia
c. Untuk mengetahui klasifikasi dari anemia
d. Untuk mengetahui etiologi dari anemia
e. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari anemia
f. Untuk mengetahui faktor resiko anemia
g. Untuk mengetahui terapi non farmakologi anemia
h. Untuk mengetahui terapi anemia secara farmakologi
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Anemia

Anemia (Yunani: Tanpa darah) adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau

jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada dibawah

normal.Sel darah merah mengandung hemoglobin untuk mengangkut oksigen dari paru-paru

dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh.Anemia menyebabkan berkurangnya jumlah

sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah, sehingga darah tidak dapat

mengangkut oksigen dalam jumlah sesuai yang diperlukan tubuh.

Hemoglobin (Hb),suatu protein dengan BM = 64.500, adalah zat warna merah dari

eritrosit, yang berdaya mengikat oksigen dalam paru-paru dengan membentuk

oxihemoglobin. Melalui sirkulasi darah, zat ini mencapai semua organ dan jaringan, dan

oksigen dilepaskan lagi.Hb adalah senyawa haem dengan protein globin.Hemoglobin

melakukan fungsi utama dari sel darah merah dengan mengangkut oksigen (O2) ke jaringan

dan mengembalikan karbondioksida (CO2) dari jaringan ke paru-paru.

2.2 Patofisologi Anemia

1. Klasifikasi morfologi berdasarkan ukuran sel. Sel makrositik berukuran lebih besar

dari pada normal dan dihubungkan dengan defisiensi vitamin B 12 atau folat. Sel

mikrositik berukuran lebih kecil dari pada normal dan dihubungkan dengan

defisiensi besi atau anomali genetik; konsentrasi besi mengalami penurunan

(hipokromik).
2. Anemia defisiensi besi dapat disebabkan asupan makanan yang tidak mencukupi

absorpsi gastrointestinal yang tidak cukup, kebutuhan besi yang meningkat (mis.

Pada saat kehamilan), kehilangan darah, dan penyakit kronik.

3. Anemia defisiensi vitamin B12 dan folat dapat disebabkan asupan makanan yang

tidak mencukupi. Defisiensi faktor intrinsik dapat meyebabkan penurunan absorpsi

vitamin B12 (mis.anemia pernisiosa). Anemia defisiensi folat dapat disebabkan

hiperutilisasi karena kehamilan, anemia hemolitik, mielofibrosis, keganasan,

penyakit inflamasi kronik, dialisis jangka panjang, atau pertumbuhan yang cepat.

Obat-obatan dapat menyebabkan anemia dengan menurunkan absorpsi folat

(mis.fenitoin), atau dengan mempengaruhi jalur metabolismenya (mis.metotreksat).

4. Anemia penyakit merupakan anemia hipoproliferatif yang berhubungan dengan

proses infeksi atau inflamasi kronis, keruksakan jaringan, atau kondisi yang

melepaskan sitokin proinflamasi. Pathogenesis berdasarkan waktu hidup SDM yang

pendek, ruksaknya respon sumsum, dan gangguan metabolisme besi.

5. Pada anemia penyakit kritis, mekanisme pembentukan SDM dan homoestatis

berubah, karena untuk contohnya kehilangan darah atau sitokin yang dapat

menumpulkan respon eritropoiesis dan menghambat produksi SDM.

6. Penurunan cadangan disumsum tulang karena usia dapat membuat pasien lebih tua

yang rentan terhadap anemia yang disebabkan oleh berbagai faktor minor dan

penyakit yang tidak diketahui (mis.defisiensi nutrisi) yang secara negatif

mempengaruhi eritropoiesis.

7. Anemia pada anak-anak sering kali karena abnormalitas hematologi primer. Resiko

anemia defisiensi besi yang sangat cepat dan defisiensi makanan.

8. Anemia hemolitik disebabkan penurunan waktu hidup SDM karena destruksi pada

limpa atau sirkulasi. Etiologi yang paling umum adalah keruksakan membrane
SDM, perubahan kelarutan atau stabilitas hemoglobin (mis.sickle cell anemia dan

thalasemia), dan perubahan metabolisme intraseluler (misal.defisiensi glukosa-6-

fosfat[G6PD]. Beberapa obat menyebabkan keruksakan oksidatif langsung terhadap

SDM.

2.3 Klasifikasi Anemia

1. Menurut morfologi

a. Anemia makrositik/ Anemia megaloblastik

Defisiensi vitamin B12

Anemia defisiensi asam folat

b. Anemia mikrositik, hipokromik

Anemia defisiensi besi

Anomaly genetic: sickle cell anemia, thalasemia, hemoglobin abnormal

c. Anemia normositik

Kehilangan darah

Hemolisis

Kegagalan sumsum tulang

Anemia penyakit kronis

Gagal ginjal

Kelainan endokrin

Anemia mieloplastik

2. Menurut Etiologi

a. Defisiensi

Besi

Vitamin B12
Asam folat

Piridoksin

b. Pusat, disebabkan ganguan fungsi sumsum tulang

Anemia penyakit kronis

Anemia pada lansia

Kanker sumsum tulang

c. Pariferal

Pendarahan (hemorrhage)

Hemolisis (anemia hemolitik)

3. Menurut Patofisiologi

a. Kehilangan darah berlebihan

Pendarahan

Trauma

Tukak Lambung

Infeksi lambung

Hemorrhoid

b. Pendarahan kronis

Pendarahan vagina

Peptic ulcer

Parasit intestinal

Aspirin dan AINS lainnya

c. Destruksi sel darah merah berlebih

Faktor ekstrakorpuskular (di luar sel)


Antibody SDM

Obat-obtan

Trauma fisik terhadap SDM (katup artificial)

Sequestrasi berlebih pada limpa

d. Faktor intrakorpuskular

Hereditas

Kelainan sintesis hemoglobin

e. Produksi SDM dewasa tidak cukup

Defisiensi nutrient (B12, asam folat, besi, protein)

Defisiensi eritroblast: anemia aplastik, eritroblastopenia terisolisasi, antagonis

asam folat, antibodi

Kondisi infiltrasi sumsum tulang: limfoma, leukemia, mielofibrosis,

karsinoma

Abnormalitas endokrin: hipotiroid, insufisiensi adneral, insufisiensi pituitary,

penyakit ginjal kronis

Penyakit inflamasi kronis: granulomatos disease, collagen vascular disease

Penyakit hati

2.4 Etiologi

1. Cacat sel Darah Merah

Sel darah merah mempunyai komponen penyusun yang banyak sekali. Tiap tiap

komponen ini vila mengalami cacat atau kelainan, akan menimbulkan masalah bagi

sel darah merah sendiri, sehingga sel tidak berfungsi sebagai mana mestinya dan

dengan cepat mengalami penuaan dan segera dihancurkan. Pada umumnya cacat

yang dialami sel darah merah menyangkut senyawa-senyawa protein yang


menyusunnya.Oleh karena kelainan ini menyangkut protein, sedangkan sintesis

protein dikendalikan oleh gen di DNA.

2. Kekurangan Zat Gizi

Anemia jenis ini merupakan salah satu anemia yang disebabkan oleh faktor luar

tubuh yaitu kekurangan salah satu zat gizi.Anemia karena kelainan sel darah merah

disebabkan oleh faktor konstitutif yang menyusun sel tersebut. Anemia jenis ini

tidak dapat diobati, yang dapat dilakukan adalah hanya memperpanjang usia sel

darah merah sehingga mendekati umur yang seharusnya, mengurangi beratnya gejala

atau bahkan hanya mengurangi penyulit yang terjadi.

3. Pendarahan

Kehilangan darah dalam jumlah besar tentu saja akan menyebabkan kurangnya

jumlah sel darah merah dalam darah sehingga terjadi anemia. Anemia karena

pendarahan besar dan dalam waktu singkat ini jarang terjadi.Keadaan ini biasanya

terjadi karena kecelakaan dan bahaya yang diakibatkannya langsung disadari.

Akibatnya, segala usaha akan dilakukan untuk mencegah pendarahan dan untuk

mengembalikan jumlah darah kekeadaan semula, misalnya tranfusi.

4. Auto Imun

Dalam keadaan tertentu, system imun tubuh dapat mengenali dan menghancurkan

bagian-bagian tubuh yang biasanya tidak dihancurkan.Keadaan ini sebenarnya tidak

seharusnya terjadi dalam jumlah besar. Bila hal tersebut terjadi terhadap sel darah

merah, umur sel darah merah akan memendek karena dengan cepat akan

dihancurkan oleh system imun.

2.5 Manifestasi Klinis

1. Tanda-tanda dan gejala tergantung pada onset, penyebab anemia, dan individu.

Anemia onset akut dikarekteristik dengan gejala kardiorespiratori seperti takikardia,


kepala terasa ringan dan sesak napas. Anemia kronis dikarekterisasi dengan rasa

lelah, letih, vertigo, pusing, sensitive terhadap dingin,pucat dan hilangnya skin tone.

Orang dewasa normal dapat mentoleransi anemia lebih baik daripada orang yang

sudah tua.

2. Anemia defisiensi besi dikarakterisasi dengan rasa tidak enak pada lidah, penurunan

aliran saliva, pagophagia (compulsive eating of ice).

3. Anemia defisiensi vitamin B12 dan folat dikarakterisasi dengan kulit pucat, ikterus,

dan atropi mukosa gastric. Anemia vitamin B12 di bedakan dari abnormalitas

neuropsychiatri (mis.mati rasa dan parestesia), yang tidak terdapat pada pasien

dengan anemia defisiensi folat.

4. Anemia non-gizi seperti anemia sel sabit dan talasemia, yang disebabkan oleh

kelainan genetik (Prevention and Control of Nutritional Anaemia:A South Asia

Priority, Unicef 2002).

Anemia Sel Sabit

Penyakit Sel Sabit (sickle cell disease / sickle cell anemia) adalah suatu

penyakit keturunan yang ditandai dengan sel darah merah yang berbentuk sabit,

kaku, dan anemia hemolitik kronik. Pada penyakit sel sabit, sel darah merah

memiliki (protein hemoglobin pengangkut oksigen) yang bentuknya abnormal,

sehingga mengurangi jumlah oksigen di dalam sel dan menyebabkan bentuk sel

menjadi seperti sabit. Sel yang berbentuk sabit akan menyumbat dan merusak
pembuluh darah terkecil dalam limpa, ginjal, otak, tulang, dan organ lainnya; dan

menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen ke organ tersebut. Sel sabit ini rapuh

dan akan pecah pada saat melewati pembuluh darah, menyebabkan anemia berat,

penyumbatan aliran darah, kerusakan organ bahkan sampai pada kematian.

Sickle cell anemia (SCA) adalah penyakit genetik yang resesif, artinya

seseorang harus mewarisi dua gen pembawa penyakit ini dari kedua orangtuanya.

Hal inilah yang menyebabkan penyakit SCA jarang terjadi. Seseorang yang hanya

mewarisi satu gen tidak akan menunjukkan gejala dan hanya berperan sebagai

pembawa. Jika satu pihak orangtua mempunyai gen sickle cell anemia dan yang lain

merupakan pembawa, maka terdapat 50% kesempatan anaknya menderita sickle cell

anemia dan 50% kesempatan sebagai pembawa

Penyakit sel sabit sebenarnya dapat dibedakan menjadi 2, yaitu : penyakitsel

sabit yang heterozigot dan penyakit sel sabit yanghomozigot.Untuk penyakit sel

sabit heterozigot, hemoglobin yang terdapat dalam darahpasien tidak hanya HbS

saja, melainkan bisa saja ada bentuk kelainan hemoglobinyang lain seperti HbC,

HbD, HbE, maupun-thalassemia.Sebaliknya,dalamdarah pasien penderita penyakit

sel sabit homozigot hanya terdapat satu kelainanhemoglobin, yaitu HbS. Kelainan

homozigot ini justru merupakan kelainan yangpaling parah bila dibandingkan

dengan kelainanheterozigot.

Berdasarkan keduajenis tersebut,anemia sel sabit termasuk ke dalam

penyakit sel sabit homozigot. Anemia sel sabit merupakan suatu kelainan pada darah

yang disebabkan karena adanya perubahan asam amino ke menyebabkan adanya

dengan sabit6 pada rantai protein globin perubahan bentuk dari sel darah merah

yang menjadi serupa , yang disebut dengan HbS.


Anemia sel sabit dapat diwariskan oleh orang tua kepada anak laki-laki atau

perempuan. Pewarisan dari salah satu gen sel sabit disebut keadaan carriers atau

disebut juga ciri sel sabit. Orang-orang dengan ciri sel sabit seperti ini tidak

mengalami anemia sel sabit, tidak pula mengalami banyak gejala penyakit yang

disebabkan oleh sel sabit dan memiliki harapan hidup seperti orang-orang yang

normal. Jika dua carriers dari ciri sel sabit kawin, maka akan memiliki anak dengan

kemungkinan menderita anemia sel sabit. Untuk dapat mengetahui adanya sel sabit

di dalam darah, yang harus dilakukan adalah dengan cara mengambil sampel darah

penderita. Kemudian sampel darah tersebut diletakkan pada preparat untuk

kemudian diamati dengan menggunakan mikroskop.

Patofisiologi Anemia Sel Sabit yaitu dimana terdapat perubahan asam

amino dari asam glutamat menjadi valin pada rantai globin yang menyebabkan sel

darah merah menjadi berbentuk sabit ketika mengalami deoksigenasi, tetapi masih

dapat kembali ke bentuk normal bila mengalami oksigenasi. Perubahan asam amino

ke6 pada ukan 8% karier 9 rantai protein globin dari asam glutamat menjadi valin

ternyata membawa dampak yang sangat besar terhadap morfologi sel darah merah

dan interaksi hemoglobin dalam sel darah m erah tersebut. Perubahan asam amino

tersebut menyebabkan HbS mempunyai kecenderungan untuk berikatan dengan HbS

yang lain sehingga membentuk suatu rantai spiral yang menyerupai tali tambang

ketika mengalami deoksigenasi, sehingga secarakeseluruhan bentukdari sel darah

merah tidak lagi menjadi bikonkaf, tetapimenyerupai sabit. Proses pembentukan

rantai spiral tersebut disebut denganpolimerisasi. Proses polimerisasi tersebut akan

menyebabkan adanya peningkatanviskositas dan solubilitasdari darah, sehingga

darahakan menjadi lebihkentalyang kemudian dapat menyebabkanpenyumbatan

pada pembuluh darahkecil.


Pada tahap awal penyakit ini, sel darah merah yang telah

mengalamipolimerisasi masih dapat kembali ke bentuknya semula jika mengalami

oksigenasi.Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses polimerisasi, yaitu :

oksigen, konsentrasi HbSdalam darah dan suhu.

Adapun terapi yang dapat dilakukan terhadap penderita anemiasel sabitadalah :

1. Transfusi darah

Terapi transfusi ini bertujuan untuk menambahkan jumlah hemoglobin

normaldalam darah sehingga dapat mencegah proses polimerisasi. Bila penderita

kerapkali mengalami krisis, terutama vasooklusi, maka terapi iniperlu dilakukan

dalamjangka panjang. Akan tetapi, perlu diperhatikan pula efek samping dari

terapitransfusi ini, yaitu terjadinyahyperviscosity, yang disebabkan karena

penambahanhematokrit berbanding lurus dengan dengan viskositas

darah,hypersplenism,keracunanbesi, dan kemungkinan infeksi, yang disebabkan

karenascreeningdarah yang kurang akurat

2. Terapi gen Terapi

Gen ini menggunakan Immunodefiency Virus stem cell (HIV). Transplantasi

sumsum tulang Mengaktifkan sintesa HbF Pemberian agen anti Penurunan

MCHC sickling Human Foamy Virus dan virus sebagai vektornya, (HFV).

Human Jika terjadi krisis, berikan suasana hangat, infus salin fisiologik 3 L/hari,

atasi infeksi, berikan analgesik secukupnya

Thalassemia
Thalasemia adalah sekelompok penyakit atau keadaan hereditary dimana

produksi satu atau lebih dari suatu jenis rantai poipeptida terganggu.

(Tjokoronegoro, A. 2001).Normalnya hemoglobin terdiri dari 4 molekul besi

(heme), 2 molekul rantai globin alfa, dan 2 molekul rantai globin beta/non alfa.

Pada penyakit thalasemia terjadi penurunan atau tidak produksinya rantai alfa atau

beta, hal ini menyebabkan ketidakseimbangan dalam sintesis atau produksi rantai

globin, akibatnya produksi hemoglobin berkurang.

Kelainan thalasemia alfa disebabkan oleh delesi gen atau terhapus karena

kecelakaangenetik, yang mengatur produksi tretramer globin. Individu normal

yang mepunyai 2 gen alfa yaitu alfa thal dan alfa thal 1 terletak pada bagian

pendek kromosom 16 (aa/aa). Hilangnya satu gen tidak menunjukkan gejala

klinis, sedangkan hilangnya 2 gen hanya memberikan manifestasi ringan atau

tidak memberikan gejala klinis yang jelas. Hilangnya 3 gen memberikan anemia

moderat dan gambaran klinis talasemia alfa intermedia.

Thalasemia beta karena adanya mutasi gen. Thalasemia mayor betaterjadi

akibat kegagalan sintesis rantai globin beta baik parsial ataupun total.Dan dengan

demikian menyebabkan gangguan sintesis hemoglobin dan anemia kronik.

Pengobatan nya yaitu dengan transfusi darah, Iron chelating agent (iv, im)

untuk mengeluarkan besi dari jaringan tubuh.

Anemia Aplastik
Anemia aplastik adalah suatu kelainan yang ditandai oleh pansitopenia pada

darah tepi dan penurunan selularitas sumsum tulang. Pada keadaan ini jumlah sel-

sel darah yang diproduksi tidak memadai. Penderita pansitopenia, yaitu

mengalami keadaan dimana terjadi kekurangan jumlah sel darah merah, sel darah

putih, dan trombosit. Anemia aplastik sering diakibatkan oleh radiasi dan paparan

bahan kimia. Akan tetapi, kebanyakan pasien penyebabnya adalah idiopatik, yang

berarti penyebabnya tidak diketahui. Anemia aplastik dapat juga terkait dengan

infeksi virus dan dengan penyakit lain .

Anemia aplastik adalah suatu kegagalan anatomi dan fisiologi dari sumsung

tulang yang megarah pada suatu penurunan nyata atau tidak adanya usur

pembentuk darah dalam sumsung. Hal ini khas dengan penurunan produksi

eritrosit akibat pergantian ari unsure produksi eritrosit dalam sumsung oleh

jaringan lemak hiposeluler, juga dapat mempengaruhi megakaryosit mengarah

pada neutropenia ( Sachari, 2002).

Klasifikasi (Ngastiyah, 1997)

1. Eritroblastopenia (anemia hipoblastik) yaitu aplasia yang hanya mengenai system

eritropoetik

2. Agrunulositosis (anemia hipoplastik) yaitu aplasia yang mengenai system

agranulopoetik

3. Amegakaryositik (penyakit Schultz) yaitu aplasia yang mengeai system trombopoetik

4. Panmielopistis (anemia aplastik) yaitu aplasia yang mengenai ketiga system diatas

(eritropoetik, agranulopoetik, trombopoetik.


Penatalaksanaanya yaitu transplantasi sumsung tulang, imunoterapi dengan

globulin antitimosit ATC atau globulin anti limfosit (ALG), transfusi darah, Antibiotik

unruk mengatasi infeksi.

2.6 Prevalensi Anemia


Berdasarkan wilayah regional, World Health Organization (WHO) melaporkan

prevalensi anemia pada ibu hamil yang tertinggi adalah Asia Tenggara (75%), kemudian

Mediterania Timur (55%), Afrika (50%), serta wilayah Pasifik Barat, Amerika dan Karibia

(40%).
Prevalensi anemia pada anak-anak di dunia mencapai angka 47,4% atau sekitar 300 juta

anak menderita anemia. Bila prevalensi ini didasarkan pada wilayah, maka separuh (47,7%)

atau sekitar 170 juta dari anak-anak yang anemia ini berada di wilayah Asia, sehingga Asia

merupakan wilayah dengan peringkat tertinggi, yang masih sangat jauh dibandingkan dengan

angka anemia di Eropa yang mencapai 16,7% dan Amerika Utara yang hanya mencapai 3,4%
Menurut data yang dikeluarkan Depkes RI, pada kelompok usia balita prevalensi

anemia gizi besi pada tahun 2001 adalah 47,0%, kelompok wanita usia subur 26,4%,

sedangkan pada ibu hamil 40,1%. Data WHO tidak kalah fantastis, hampir 30% total

penduduk dunia diperkirakan menderita anemia.

Anemia mikrositik hipokromik, dapat terjadi karena kekurangan zat besi,

penyakitkronis tingkat lanjut, atau keracunan timbal, sedangkan anemia normositik

nomokromik biasanya terjadi karena penyakit kronis fase awal atau perdarahan akut. Anemia

makrositik biasanya karena kekurangan vitamin B12.


2.7 Diagnosis

Pemeriksaan darah sederhana bisa menentukan adanya anemia. Persentase sel darah

merah dalam volume darah total (hematokrit) dan jumlah hemoglobin dalam suatu contoh

darah bisa ditentukan. Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari hitung jenis darah

komplit (CBC=complete blood count).


Adapun petunjuk diagnosa untuk anemia ini diantaranya sebagai berikut:

2.8 Faktor Resiko


Hubungan Anemia dengan Sosial Ekonomi dan Demografi
Pendidikan
Masyarakat yang berpendidikan sesuai dengan umurnya, umumnya lebih inovatif

dalam bertindak.Tingkat pendidikan yang tinggi diharapkan berpengaruh pada

pengetahuan dan informasi tentang gizi yang lebih baik. Pengetahuan tentang gizi

akan mempengaruhi pilihan konsumsi makanan seseorang makanan seseorang.

Masyarakat yang tidak sekolah berisiko menderita anemia sebesar 3,8 kali

disbanding dengan responden yang tingkat pendidikan sesuai dengan umurnya.


Usia
Pada bayi dan anak-anak, anemia kekurangan zat besi biasanya disebabkan karena

kurangnya asupan makanan yang mengandung zat besi yang dibutuhkan dalam

proses tumbuh kembangnya. Remaja laki-laki maupun perempuan dalam masa

pertumbuhan membutuhkan energi, protein dan zat-zat gizi lainnya yang lebih

banyak dibanding dengan kelompok umur lain. Pematangan seksual pada remaja

menyebabkan kebutuhan zat besi meningkat.Kebutuhan zat besi remaja perempuan

lebih tinggi daripada remaja laki-laki karena kehilangan zat besi terbanyak tejadi

pada saat pengeluaran darah menstruasi yang harus segera diganti.Remaja laki-laki

lebih banyak memerlukan energi untuk aktivitas fisik yang lebih banyak.
Ibu hamil dan menyusui
Zat besi dibutuhkan untuk pembentukkan hemoglobin, sedangkan selama kehamilan

volume darah akan meningkat akibat perubahan pada tubuh ibu dan pasokan darah

bayi. Gizi pada ibu menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang

sangat dibutuhkan unutk tumbuh kembang bayi.

Wilayah perkotaan atau pedesaan

Wilayah berpengaruh melalui mekanisme yang berhubungan dengan ketersediaan

sarana fasilitas kesehatan maupun ketersediaan makanan yang pada gilirannya

berpengaruh pada pelayanan kesehatan dan asupan zat besi.Sebanyak 27,1% remaja
yang menderita anemia berdomisili di perdesaan dan 22,6% di perkotaan. Remaja

yang tinggal di perkotaan berisiko menjadi anemia sebesar 0,8 kali. Status gizi kurus

mempunyai kontribusi risiko anemia sebesar 1,5 kali.

Hubungan Anemia dengan Status Kesehatan


Perdarahan yang banyak saat trauma baik didalam maupun diluar tubuh akan

menyebabkan anemia dalam waktu singkat. Perdarahan dalam jumlah banyak

biasanya terjadi pada maag kronis yang menyebabkan perlukaan pada dinding

lambung.
Riwayat Penyakit Infeksi dan parasit dapat menyebabkan anemia melalui

peningkatan kehilangan zat gizi terutama besi. Prevalensi anemia yang tinggi

pada laki-laki sering disebabkan karena infeksi dan parasit (Yip 1994). Penyakit-

penyakit yang dapat menjadi penyebab anemia antara lain malaria, HIV, cacing

tambang, dan diare kronis. Penyakit malaria dapat menyebabkan penurunan

absorpsi besi selama periode sakit dan dari hasil hemolisis intravaskuler dapat

menyebabkan rendahnya kadar hemoglobin, Cacing tambang menginfeksi

hampir 1 milyar individu dan menyebabkan kehilangan darah dari mukosa usus,

diare dapat memperberat kejadian anemia. Diare adalah buang air besar dalam

bentuk cairan lebih dari tiga kali dalam satu hari dan biasanya berlangsung

selama dua hari atau lebih


Kelainan hereditary atau keturunan. Kelainan genetik ini terutama terjadi pada

umur sel darah merah yang terlampau pendek sehingga sel darah merah yang

beredar dalam tubuh menjadi kurang. Gangguan genetic juga menimpa

hemoglobin, dimana hemoglobin menjadi sangat rendah.


Obat-obatan. Obat yang dapat mendepresi sumsum tulang belakang seperti

kloramfenikol, obat golongan AINS karena penggunaan AINS dalam jangka

panjangakan menyebabkan pendaran lambung, dan beberapa obat bisa

menghambat masuknya zat besi dan vitamin B kedalam tubuh.


Hubungan Anemia dengan Gaya Hidup dan Status Gizi
Sarapan pagi. Sarapan pagi berpengaruh pada ketersedian yang mendorong

suplai fungsi berpikir otak dan suplai energi untuk melakukan aktivitas. Hasil

penelitian yang dilakukan oleh Sukati menunjukkan prevalensi anemia lebih

rendah pada anak yang biasa sarapan pagi, dan ternyata mempunyai konsentrasi

belajar yang lebih tinggi. Kekurangan energi mempengaruhi metabolisme tubuh

termasuk utilisasi zat gizi yang dikonsumsi, Oleh karena itu variabel kecukupan

energi juga berhubungan secara bermakna.


Konsumsi teh dan kopi.kopi dan teh polifenol (tanin) yang dapat mengganggu

penyerapan zat besi.


Kurang mengkonsumsi vitamin C, vitamin C membantu meningkatkan

penyerapan zat besi.


Vegetarian. Vitamin B-12 banyak terdapat dari makanan berdaging, vegetarian

tentu tidak mengkonsumsi daging.


Kebiasaan merokok. Kebiasaan sarapan pagi dan kecukupan energi yang

memenuhi 70% dari Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan mempunyai

hubungan yang bemakna dengan kejadian anemia pada remaja. Merokok

berhubungan dengan tingginya konsentrasi hemoglobin (0,3 - 0,5 g/dL) (I4).


Konsumsi Alkohol. Alkohol merupakan minuman yang hanya mengandung

energi dan bersifat diuretik. Metabolisme alkohol akan membutuhkan vitamin

B1 dan niasin. Sifat diuretik dari alkohol juga akan mengurangi vitamin-vitamin

B, vitamin C, mineral kalsium, kalium, dan magnesium. Minum alkohol secara

berlebihan dapat menurunkan penyerapan asam folat. Alkohol juga akan

menurunkan nafsu makan sehingga tubuhterhalang untuk memperoleh asupan

konsumsi gizi seimbang.

2.9 Terapi Non-Farmakologi

Tujuan terapi

a. Untuk mengurangi tanda-tanda dan gejala,


b. Memperbaiki etiologi yang mendasarinya,

c. Mencegah kekambuhan.

Terapi non farmakologi

Mencukupkan asupan nutrisi Fe, asam folat, dan vitamin B12 misalnya dari sayur-

sayuran hijau, ikan laut, produk susu, produk padi-padian, dan unggas.

2.10 Terapi farmakologi

1. Anemia defisiensi besi

Terapi : zat besi oral

Indikasi

a. Defisiensi zat besi : pencegahan dan pengobatan defisiensi zat besi dan anemia

defisiensi zat besi

b. Suplemen zat besi : sebagai suplemen makanan zat besi

Zat besi secara oral dengan garam zat besi yang larut, bukan salut dan bukan

lepas lambat atau bertahap.Direkomendasikan dosis harian 200 mg elemen zat

besi dalam dua atau tiga dosis terbagi.Mekanisme kerja yaitu zat besi merupakan

komponen hemoglobin, mioglobin, dan beberapa enzim.Zat besi terutama

disimpan sebagai hemosiderin atau ferritin teragregasi, ditemukan pada retikulo

endoteliel dan hepatosit. Defisiensi zat besi dapat mempengaruhi metabolisme

otot, produksi panas, metabolisme katekolamin, dan dikaitkan dengan masalah

perilaku atau proses belajar pada anak.

Produk zat besi oral

Garam Elemen zat besi Elemen zat besi yang tersedia

(%)
Ferro sulfat 20 60-65 mg/324-325 mg

tablet
18 mg zat besi/5 ml

sirup

44 mg zat besi/5 ml

eliksir

15 mg zat besi/0,6 ml

drop
Ferro sulfat 30 65 mg/200 mg tablet

60 mg/187 mg tablet

50 mg/ 160 mg tablet


Ferro glukonat 12 36 mg/325 mg tablet

27 mg/ 240 ,g tablet


Ferro fumarat 33 33 mg/100 mg tablet

63-66 mg/200 mg tablet

106 mg/324-325 mg

tablet

15 mg/0,6 ml drop

33 mg/5 ml suspensi
Kompleks zat besi 100 150 mg kapsul

polisakarida 50 mg tablet

100 mg/5 ml eliksir


Besi karbonat 100 50 mg kaplet

Kontraindikasi

Hemokromatosis, hemosiderosis, anemia hemolitik, reaksi hipersensitivitas.

Peringatan

a. Individu dengan keseimbangan zat besi normal tidak boleh mengkonsumsi zat besi

secara kronis
b. Overdosis produk yang mengandung zat besi menyebabkan keracunan fatal pada anak-

anak berumur <6 tahun

Efek samping

Noda pada gigi (sementara), nyeri abdominal, konstipasi, diare, iritasi saluran pencernaan,

mual, muntah, feses berwarna lebih gelap.

Terapi : zat besi parenteral

Diperlukan untuk pasien malabsorpsi zat besi, intoleransi terhadap zat besi secara oral atau

tidak patuh.Sediaan parenteral yang tersedia memiliki efikasi yang mirip tetapi berbeda

dalam hal profil farmakologi, farmakokinetik, dan keamanannya.

2. Anemia defisiensi vitamin B12

Terapi : vitamin B12


Indikasi
a. Defisiensi vitamin B12 karena sindrom malabsorbsi seperti yang terlihat pada

anemia pernisiosa.
b. Peningkatan kebutuhan vitamin B12 seperti pada kehamilan, tirotoksikosis,

anemia hemolitik, pendarahan, dan penyakit hatidan ginjal

Mekanisme kerja

Vitamin B12 penting untuk pertumbuhan, reproduksi sel, hematopoesis, dan sintesis

nukleoprotein dan mielin.

Kontraindikasi
Hipersensitivitas terhadap kobalt, vitamin B12, atau komponen-komponen pada

produk.
Peringatan

a. Pemberian parenteral dipilih untuk anemia pernisiosa. Hindari rute IV.


b. selama >3 bulan dapat menyebabkan lesi degeneratif permanen pada tulang

belakang
c. hipokalemia dan kematian mendadak pada anemia megaloblastik parah

Efek samping

Pemberian parenteral dapat menyebabkan edema pulmonari, gagal jantung

kongestif, trombosis vaskuler perifer, rasa gatal, syok anafilaksis, perasaan bengkak

pada seluruh tubuh, diare ringan, atropi saraf optik.

Dosis

1-2 mg setiap hari selama 1-2 minggu, dialnjutkan dengan 1 minggu setiap hari.

3. Anemia defisiensi folat

Terapi : asam folat


Indikasi

Anemia megaloblastik
Mekanisme kerja

Folat eksogen dibutuhkan untuk sintesis nukleprotein dan pemeliharaan eritropoesis

normal.

Kontraindikasi

Pengobatan anemia pernisiosa dan anemia megaloblastik lainnya dimana vitamin B 12

tidak cukup.

Peringatan

a. Jangan diberikan secara tunggal untuk anemia pernisiosa Addison dan defisiensi

vitamin B12, karena dapat menimbulkan degenerasi majemuk dari medulla

spinalis.
b. Jangan digunakan untuk penyakit ganas kecuali anemia megaloblastik

Efek samping

Perubahan pola tidur, sulit berkonsentrasi, iritabiliti, aktivitas berlebih, depresi

mental, anoreksia, mual, distensi abdominal, dan flatulensi.

Dosis

Asam folat oral 1 mg setiap hari selama 4 bulan.Jika terjadi malabsorpsi dosis harian

harus ditingkatkan.

4. Anemia penyakit kronis


a. Pengobatan pada anemia ini kurang spesifik dibandingkan anemia lainnya.

Pengobatan pada anemia ini harus difokuskan pada penyakit kronis yang menjadi

penyebab. Terapi zat besi tidak efektif jika terdapat inflamasi.


b. Epoetin alfa dapat dipertimbangkan, terutama jika status kardiovaskular

membahayakan, tetapi respon dapat terganggu pada pasien dengan anemia penyakit

kronis. Dosis awal 50-100 unit/kg seminggu 3x. Jika hemoglobin tidak meningkat

setelah 6-8 minggu, dosis dinaikkan hingga 150 unit/kg seminggu 3x.
5. Anemia tipe lain
a. Membutuhkan suplemen yang sesuai
b. Pada pasien anemia kritis, zat besi parenteral sering digunakan tetapi dihubungkan

resiko teoritis infeksi


c. Anemia prematur biasanya diobati dengan transfusi sel darah merah. Penggunaan

epoetin alfa masih kontroversial


d. Pada populasi pediatrik dosis harian 3 mg/kg untuk bayi dan 6 mg/kg untuk

anakanak yang lebih tua. Dosis dan jadwal pemberian vitamin B12 harus dititrasi

berdasarkan respon klinis dan laboratorium. Dosis harian folat adalah 1-3 mg.

2.11 Interaksi Obat

1. ZAT BESI (Fe)

OBAT EFEK YANG TERJADI

Asam asetohidroksamat AHA mengkelatlogam berat, termasuk besi.

(AHA Absorpsi besi menurun

absorpsi besi dari saluran pencernaan


Antasid
menurun

Asam askorbat: asam askorbat pada dosis

Asam askorbat 200 mg dapat meningkatkan absorpsi besi

30%

absorpsi besi darisaluran pencernaan


Garam kalsium
menurun.

Kloramfenikol kadarserum besi meningkat

Enzim pencernaan respon besi serum terhadap besi oral


diturunkanoleh ekstrak pankreatik.

Antagonis H2 absorpsi besi menurun

Inhibitor pompa proton: absorpsi menurun

Trientin kedua obat saling menghambat absorpsi

penggunaan bersamaan dalam 2 jam dapat

Kaptopril menyebabkan pembentukan dimer disulfide

kaptopril yang inaktif

suplemen besi dapat menurunkan absorpsi

sefnidir 80% dan makanan yang diperkaya


Sefalosporin
besi dapat menurunkan absorpsi sefnidir

30%

absorpsi fluorokuinolon dari saluran

Fluorokuinolon pencernaan menurun karena pembentukan

kompleks besi-kuinolon

levodopa membentukkelat dengan garam

Levodopa besi, menurunkan absorpsi levodopa dan

kadar serum

absorpsi metildopa menurun, menyebabkan


Metildopa
penurunan efikasi

Tertasiklin penggunaan bersamaan dalam 2 jam dapat


saling menurunkan absorpsi masing-masing

obat.

2. Asam Folat

OBAT EFEK

Penurunan kadar folat serum dapat terjadi selama


Asam aminosalisilat
penggunaan konkuren

Kontrasepsi oral dapat mempengaruhi metabolism

folat dan menyebabkan kekurangan folat, tetapi


Kontrasepsi oral
efeknya ringan dan tidak menyebabkan anemia atau

perubahan megaloblastik

Sulfasalazin terjadi tanda-tanda defisiensi folat

Fenitoin Menurunkan kadar folat serum

Defisiensi Dihydrofolate reduktase yang disebabkan


Dihydrofolate
pemberian antagonis asam folat dapat mempengaruhi
reduktase inhibitor
penggunaan asam folat.

3. Vitamin B12

OBAT EFEK

Asam aminosalisilat Menurunkan kerja terapeutik dan biologivitamin


B12

Menurunkan efek hepatologi vitamin B12 pada


Kloramfenikol
pasien dengan anemia pernisiosa

Asupan kolkisin dan alkoholberlebih (>2

Kolkisin, alcohol minggu) dapat menyebabkan malabsorpsi

vitamin B12

4. Epoetin Alfa

OBAT EFEK

Penghambat ACE Mempertinggi risiko hiperkalemia

2.12 Terminologi Medik

1. Hemositoblas yaitu sel batang myeloid yang terdapat di sumsum tulang.

2. Eritroblast basofil adalah yang sedikit mengandung Hb

3. Eritroblast polikromatofil adalah yang cukup mengandung HB

4. Normoblas adalah hasil pembelahan berikutnya, terbentuk banyak Hb, warnanya

menjadi merah.
5. Ortokromatik eritroblas adalah terbentuk lebih banyak HB, warnanya merah

6. Retkulosis adalah sitoplasma dari sel (Normoblas) sudah dipenuhi Hb hingga

mencapai kadar Kurang Lebih 34%, Nukleus akan memadat sampai ukurannya

menjadi kecil dan terdorong dari sel

7. Hematokrit adalah proporsi volume yang terdiri dari sel darah merah 25%.

8. Mean Corpuscle Volume (MCV) adalah Volume rata-rata atau sel darah merah

keseluruhan didalam darah

9. Mean Corpuscle Hemoglobin (MCH) adalah melihat massa Hb dari satuan sel darah

Merah.

10. Total Iron Blinding Capasity (TIBC) adalah kapasitas darah utnuk mengikat besi

dengan transferin.

11. Sickle cell anemia adalah kelainana atau keturunan yang ditandai dengan

hemoglobin sabit atau Hb berbentuk sabit dalam sel darah merah

12. Hemoglobin abnormal adalah Hb yang bentuknya tidak normal disebabkan karena

kelainan Gen yang diturunkan.

13. Anemia normositik adalah jumlah sel darah merah abnormal rendah, namun ukuran

sel-selnya normal

14. Anemia maieloplastik adalah anemia yang disebabkan karena kerusakan sum-sum

tulang.

15. Anemia pernisiose adalah anemia karena kekurangan vitamin B12 akibat kurangnya

faktor intrinsic

16. Anemia aplastrik adalah anemia akibat kegagalan sum-sum tulang memebntuk SDM

sehingga tubuh kekurangan SDM.

17. Retikulosis adalah sel darah merah muda yang biasanya tetap di sumsum tulang dan

hanya sejumlah kecil yang merambah ke sirkulasi darah (kurang dari 1 persen).
18. Sideroblastik adalah anemia ikrositik hipokromik yang ditandai adanya sel-sel darah

merah imatur dalam sirkulasi dan sum-sum tulang

19. Hematopoesis adalah produksi sel darah di sumsum tulang. Sel induk hematopoietik

memproduksi semua jenis sel darah merah dan putih.

20. Eritropoietin adalah hormon yang digunakan untuk membantu pembentukan

eritrropoeesis.

21. Eritropoesis adalah pembentuk SDM disum-sum tulang

22. Anemia Maksrositik adalah anemia yang disebabkan karena kekurangan Vitamin

B12 dan as. Folat.

23. Anemia mikrositik adalah anemia yang disebabkan karena kekurangan zat besi

24. Anemia thalasemia adalah anemia yang dosebabkan karena SDM mudah rusak atau

umurnya leih pendaek dari sel darah normal.

25. Ferritin adalah protein yang terdapat dalam sel mahkluk hidup. Protein penyimpanan

zat besi paling utama dalam tubuh, zat besi dalam bentuk terlarut dan non toksit.
BAB III

ANALISIS RESEP

3.1 ANALISA RESEP 1

Foto Copy Resep Asli


1. Profil Obat

No
Profil Obat Keterangan Pustaka
.

1. Nama Dagang Maltofer drop ISO 49

Per 20 tetes Fe (III) hydroxide

2. Komposisi polymaltose complex setara denagn ISO 49

Fe elemental 50 mg

Pengobatan dan pencegahan

defisiensi zat besi dan asam folat AHFS


3. Indikasi
selama hamil dan sesudah 2011

melahirkan

4. Mekanisme Kerja Zat besi dalam Maltofer adalah

sebagai iron(III)-hydroxide

polymaltose complex (IPC), yang

masing-masing partikelnya terikat

pada suatu polimer karbohidrat

(polimaltosa). Hal ini mencegah

perusakan saluran pencernaan oleh

besi. Perlindungan ini mencegah

interaksi antara besi dengan

makanan. Selain itu, hal ini juga

menjamin bioavailabilitas zat besi.

Struktur IPC mirip dengan ferritin,

protein mengandung besi yang

terdapat di alam. Karena

kemiripannya itu, zat besi


diabsorpsi melalui mekanisme

alami.

IPC tidak bersifat oksidator seperti

garam bivalen.

2-3 kali sehari 1 tablet sampai Hb

5. Dosis Lazim mencapai nilai normal

20-40 tetes per hari


2. Skrining Resep
a. Skrining Adminstratif

No Kelengkapan Resep Ada Tidak ada

.
1. Nama Dokter
2. Nomor Surat Izin Praktek Dokter
3. Alamat Praktik Dokter
4. Tanggal Penulisan Resep
5. Tanda Tangan Dokter
6. Nama Pasien
7. Alamat Pasien
8. Umur Pasien
9. Jenis Kelamin Pasien
10. Berat Badan Pasien
11. Nama Obat
12. Sediaan
13. Dosis
14. Jumlah
15. Cara Pemakaian
16. Informasi lainnya (iter, cito, PIM, dll)
Kesimpulan : Secara

Skrining administratif

Administratif resep tersebut

tidak memenuhi

syarat karena

tidak tercantum

alamat, umur,

jenis kelamin dan

berat badan

pasien. Namun

resep masih dapat

dilayani, karena

jenis kelamin

dapat dilihat dari

nama pasien

sedangkan alamat

dan berat badan

dapat diketahui

dengan

menanyakan pada

pasien.

3. Skrining Farmasetik
1) Penulisan Bentuk Sediaan dan Potensi Obat yang Diminta

No. Nama Obat Bentuk sediaan yang Potensi obat yang Ket
diminta diminta

Ada Tidak ada Ada Tidak ada

1. Maltofer drop

2) Inkompatibilitas

Tidak ada masalah mengenai inkompatibilitas antar obat yang ada di dalam resep

karena yang diminta hanya satu jenis obat.

Kesimpul : Tidak ada kompatibilitas.

an

Skrining

Farmaseti

4. Pertimbangan Klinis
1) Interaksi Obat

Tidak ada interaksi obat yang terjadi di dalam resep ini, karena hanya satu jenis

sediaan yang diminta.

2) Kesesuaian Dosis Obat

Dosis dalam Resep


No Nama Obat Dosis Lazim Ket.
Sekali Sehari
1. Maltofer 10 tetes per hari 20-40 tetes per Sesuai

hari

3) Kontraindikasi Antara Pasien dan Obat

Tidak ada Kontraindikasi antara pasien dan obat

Kesimpulan : Tidak ada interaksi obat yang terjadi di

Pertimbang dalam resep ini. Dosis obat dalam resep

an Klinis sesuai, dan tidak ada kontraindikasi.


5. Penyiapan Obat

Ambil MaltoferJumlah yang diminta 2drop dan beri etiket.

Etiket

Apotek Kimia Farma Rawamangun


Jl. Pegambiran No.33C Jakarta Timur
Telp/Fax : 62 21- 4718059
Apoteker : Rumondang Maria, S.Farm.,Apt
No : Tanggal : 11
Oktober 2016
Nama : Ahmad

1 x sehari 10 tetes
Sebelum/sesudah makan

Pengemasan

Resep 1 Beri etiket pada salah satu sisi botol, nama obat/merk yang tercantum di pada

botol jangan tertutup, sehingga memudahkan pemeriksaan akhir pada saat

penyerahan.

6. Penyerahan Obat

Selanjutnya, pasien mendapatkan informasi mengenai obat tersebut diatas, harus

dipastikan bahwa pasien memahami dan mengerti mengenai apa yang telah dijelaskan

dengan cara meminta pasien untuk mengulangi penjelasan yang telah saya berikan.

N Nama Obat Informasi Obat

1 Maltofer drop
Indikasi : Untuk pengobatan dan pencegahan

defisiensi Fe dan asam folat

Aturan Pakai : 1x sehari 10 tetes

Lama Pengobatan : Dosis dan lama pengobatan


bergantung pada tingkat defisiensi besi

Cara Penyimpanan : simpan pada suhu ruangan

(25-30C) hindari matahari langsung dan jauhkan

dari anak-anak

Informasi Lainnya:

Efek samping : Iritasi GI dan feses berwarna

gelap

3.2 ANALISA RESEP 2

Foto Copy Resep Asli


1. Profil Obat

No Profil Obat Keterangan Pustaka

1 Nama Dagang Sangobion,Adfer, Bioferron,

Biosanbe, Bufiron, Cymafort,

Dasabion, Diabion, Emibion,

Fercee, Ferobion, Ferofort,

Ferro Gradumet, Ferromia,

Filibion, Fondazen, Gromalton,

Habebion, Hemafort,
Hemobion, Hufabion, Iberet-

500, Iberet Folic-500, Inbion,

Maltofer, Megabion, Mirabion,

Muveron, Natabion, Nemicap,

Neogobion, Nichobion,

Nonemi, Novabion, Obron-6,

Odiron-C, Omegavit, Opibion,

Pregnacare, Prenatin-DF,

Pronita, Ramabion, Sakatonic

Liver, Samcobion, Sangobion

Baby, Sangofer, Sangotonik,

Sangovitin, Sofero, Suprabion,

Toniferron, Tropifer, Veroscan,

Vitabion, Vitalac

2 Komposisi Besi (II) fumarat 360mg, asam ISO 217

folat 1,5mg, vit B12 15 mcg,

kalsium pantotenat 200 mg,

kolekalsiferol 400 UI, vit C 75

mg

3 Indikasi Anemia pada kehamilan dan ISO217

menyusui, wanita hamil,

anemia karena kehilangan

darah

4 Mekanisme Kerja Hemobion mengandung

ferrous fumarate, folic acid dan

vitamin B12 yang sangat


penting untuk pembentukan sel

darah merah. Selain itu

Hemobion mengandung

cholecalciferol untuk

meningkatkan absorbsi

calcium dari usus. Ascorbic

acid membantu

mempertahankan zat besi

dalam bentuk ferro yang lebih

mudah diabsorbsi dari saluran

pencernaan Ascorbic acid juga

memperbaiki metabolisme,

menjamin pertumbuhan yang

baik dari tulang dan gigi, serta

meningkatkan daya tahan

tubuh

5 Dosis Lazim 1 hari 1 kapsul ISO 217

2. Skrining Resep

a. Skrining Administratif

No Kelengkapan Resep Ada Tidak Ada


1 Nama Dokter

2 Nomor Surat Izin Praktek Dokter

3 Alamat Praktik Dokter

4 Tanggal Penulisan Resep


5 Tanda Tangan Dokter

6 Nama Pasien

7 Alamat Pasien

8 Umur Pasien

9 Jenis Kelamin

10 Berat Badan Pasien

11 Nama Obat

12 Sediaan

13 Dosis

14 Jumlah

15 Cara Pemakaian

16 Informasi Lainnya (iter, cito, PIM, dll)

Kesimpulan

Skrining Administratif :Secara administratif resep tersebut tidak memenuhi

syarat karena tidak tercantum nama dokter, surat izin praktek dokter, alamat praktik,

tanda tangan , alamat, jenis kelamin dan berat badan pasien. Namun resep masih

dapat dilayani, karena resep ini termasuk copy resep yang dibuat oleh apotek
sedangkan jenis kelamin dapat dilihat dari nama pasien dan alamat serta berat badan

dapat diketahui dengan menanyakan pada pasien.

b. Skrining Farmasetik

1) Penulisan Bentuk Sediaan dan Potensi Obat yang Diminta

No Nama Obat Bentuk sediaan Potensi obat

yang diminta yang diminta

Ket
1 Hemobion Ada Tidak Ada Ada Tidak

Ada

2) Inkompatibilitas

Tidak ada masalah mengenai inkompatibilitas antar obat yang ada di dalam

resep karena yang diminta hanya satu jenis obat.

Kesimpulan

Skrining Farmasetik : Tidak ada kompatibilitas.

c. Pertimbangan Klinis

1) Interaksi Obat

Tidak ada interaksi obat yang terjadi di dalam resep ini, karena hanya satu jenis

sediaan yang diminta.

Kesesuaian Dosis Obat

No Nama Obat Dosis dalam resep Dosis


Sekali Sehari Lazim Ket
1 Hemobion kapsul 1 kapsul 1 kapsul 1 kapsul Sesuai

2)Inkompatibilitas

Tidak ada masalah mengenai inkompatibilitas antar obat yang ada di dalam

resep karena yang diminta hanya satu jenis obat.

Kesimpulan

Skrining Farmasetik : Tidak ada kompatibilitas.

3)Kontraindikasi Antara Pasien dan Obat

Tidak ada Kontraindikasi antara pasien dan obat

Kesimpulan

Pertimbangan Klinis :Tidak ada interaksi obat yang terjadi di dalam resep ini.

Dosis obat dalam resep sesuai, dan tidak ada kontraindikasi.

4. Penyiapan Obat

Ambil Hemobion sesuai jumlah yang diminta dan beri etiket.

Etiket

Apotek Kimia Farma Senen


Jl. Senen Raya No.66 Jakarta Pusat
Apoteker : Adi Supriyadi, S.Si.,Apt
No : Tanggal : 23
September 2016
Nama :Bapak Kuan

1 x sehari 1 kapsul
Sebelum/sesudah makan

Pengemasan
Resep 2.Bungkus obat dengan menggunakan sak plastic. Beri etiket warna

putih(etiket untuk obat dalam).

5. Penyerahan Obat

Selanjutnya, pasien mendapatkan informasi mengenai obat tersebut diatas, harus

dipastikan bahwa pasien memahami dan mengerti mengenai apa yang telah

dijelaskan dengan cara meminta pasien untuk mengulangi penjelasan yang telah

diberikan.

No Nama Obat Informasi Obat


1 Hemobion Indikasi : Anemia pada kehamilan dan

kapsul menyusui, wanita hamil, anemia karena

kehilangan darah

Aturan Pakai : sehari 1 kapsul

Cara Penyimpanan :Simpan pada suhu <

25C. Jauhkan dari jangkauan anak-anak.

3.3 ANALISA RESEP 3


1. Profil obat

R/ Methyl prednisolon

No Profil Obat Keterangan Pustaka


1 Nama dagang Metidrol, metrison, metisol, ISO 2012-

methylon, mesol, meproson, 2013

meprilon,
2 Komposisi Methyl prednisolon 4mg, 8mg, ISO 2012-

16mg 2013
3 indikasi Kelainan endokrin, penyakit ISO 2012-

kolagen, asma bronkial, rinitis 2013

alergi, dermatitis, reaksi

anaflaksis, alergi obat, sindrom

stevens jhonson, peny. Reumatik

dan rheumatoid, radang mata

akut dan kronik, sindrom

nefrotik, kolitis ulseratif, trauma

SSP,neoplasma,
4 Dosis lazim Dosis lazimnya dibatasi sampai ISO 2012-

5-10 mg sehari. 2013

R/ Mertigo

No Profil obat Keterangan Pustaka


1 Nama dagang Mertigo, rotaver, vestigo ISO 2012-

2013
2 komposisi Betahistin mesilat 6mg ISO 2012-

2013
3 Indikasi Vertigo dizzines yg berhubungan ISO 2012-

dengan darah 2013


4 Dosis lazim Sehari 3x 1-2 tablet ISO 2012-

2013

R/ vometa

No Profil obat keterangan Pustaka


1 Nama dagang Vometa, vomerin, vomecho, ISO 2012-2013

vomidon
2 Komposisi Domperidone 10mg ISO 2012-2013
3 Indikasi Sindrom dispepsia ISO 2012-2013
4 Dosis lazim Sehari 3x10mg-20mg ISO 2012-2013

R/ sangobion

No Profil obat Keterangan pustaka


1 Nama dagang Sangobion,Adfer, Bioferron,

Biosanbe, Bufiron, Cymafort,

Dasabion, Diabion, Emibion,

Fercee, Ferobion, Ferofort,

Ferro Gradumet, Ferromia,

Filibion, Fondazen,

Gromalton, Habebion,

Hemafort, Hemobion,

Hufabion, Iberet-500, Iberet

Folic-500, Inbion, Maltofer,

Megabion, Mirabion,

Muveron, Natabion,

Nemicap, Neogobion,

Nichobion, Nonemi,

Novabion, Obron-6, Odiron-

C, Omegavit, Opibion,

Pregnacare, Prenatin-DF,

Pronita, Ramabion, Sakatonic

Liver, Samcobion, Sangobion

Baby, Sangofer, Sangotonik,

Sangovitin, Sofero,

Suprabion, Toniferron,
Tropifer, Veroscan, Vitabion,

Vitalac

2 Komposisi Besi (II) fumarat 360mg,

asam folat 1,5mg, vit B12 15

mcg, kalsium pantotenat 200

mg, kolekalsiferol 400 UI, vit

C 75 mg

3 Indikasi Anemia pada kehamilan dan

menyusui, wanita hamil,

anemia karena kehilangan

darah

Hemobion mengandung

ferrous fumarate, folic acid

dan vitamin B12 yang sangat

penting untuk pembentukan

sel darah merah. Selain itu

Hemobion mengandung

cholecalciferol untuk

meningkatkan absorbsi

calcium dari usus. Ascorbic

acid membantu

mempertahankan zat besi

dalam bentuk ferro yang lebih

mudah diabsorbsi dari saluran

pencernaan Ascorbic acid

juga memperbaiki
metabolisme, menjamin

pertumbuhan yang baik dari

tulang dan gigi, serta

meningkatkan daya tahan

tubuh

4 Mekanisme Hemobion mengandung

kerja ferrous fumarate, folic acid

dan vitamin B12 yang sangat

penting untuk pembentukan

sel darah merah. Selain itu

Hemobion mengandung

cholecalciferol untuk

meningkatkan absorbsi

calcium dari usus. Ascorbic

acid membantu

mempertahankan zat besi

dalam bentuk ferro yang lebih

mudah diabsorbsi dari saluran

pencernaan Ascorbic acid

juga memperbaiki

metabolisme, menjamin

pertumbuhan yang baik dari

tulang dan gigi, serta

meningkatkan daya tahan

tubuh
5 Dosis lazim 1 hari 1 kapsul

2. Skrining Resep

a. Skrining Administratif

No Kelengkapan Resep Ada Tidak Ada


1 Nama Dokter

2 Nomor Surat Izin Praktek

Dokter
3 Alamat Praktik Dokter

4 Tanggal Penulisan Resep

5 Tanda Tangan Dokter

6 Nama Pasien

7 Alamat Pasien

8 Umur Pasien

9 Jenis Kelamin

10 Berat Badan Pasien

11 Nama Obat

12 Sediaan

13 Dosis

14 Jumlah

15 Cara Pemakaian

16 Informasi Lainnya (iter, cito,

PIM, dll)

Kesimpulan

Skrining Administratif :Secara administratif resep tersebut tidak memenuhi

syarat karena tidak tercantum nama dokter, surat izin praktek dokter, alamat praktik,
tanda tangan , alamat, jenis kelamin dan berat badan pasien. Namun resep masih

dapat dilayani, karena resep ini dibuat oleh dokter yang melaakukan praktek di

apotik tersebut (kimia farma garuda).

b. Skrining Farmasetik

1) Penulisan Bentuk Sediaan dan Potensi Obat yang Diminta

No Nama Obat Bentuk sediaan Potensi obat

yang diminta yang diminta

Ket
1 Methyl Ada Tidak Ada Tidak

prednisolon, Ada Ada



Mertigo,

Vometa,

sangobion

2) Inkompatibilitas

Tidak ada masalah mengenai inkompatibilitas antar obat yang ada di dalam

resep.

Kesimpulan

Skrining Farmasetik : Tidak ada kompatibilitas.

4. Pertimbangan Klinis

a. Interaksi Obat

Tidak ada interaksi obat yang terjadi di dalam resep ini.


Kesesuaian Dosis Obat

No Nama Obat Dosis dalam Dosis Keteranga

resep Lazim n
Sekali Sehar

i
1 Methyl Sesuai

prednisolon,

mertigo, vometa,

sangobion

b. Inkompatibilitas

Tidak ada masalah mengenai inkompatibilitas antar obat yang ada di dalam resep.

Kesimpulan

Skrining Klinis : Tidak ada kompatibilitas.

c. Kontraindikasi Antara Pasien dan Obat

Tidak ada Kontraindikasi antara pasien dan obat

Kesimpulan

Pertimbangan Klinis :Tidak ada interaksi obat yang terjadi di dalam resep ini. Dosis

obat dalam resep sesuai, dan tidak ada kontraindikasi.

5. Penyiapan Obat

Ambil masing-masing obat sesuai jumlah yang diminta dan beri etiket.

Etiket Methyl prednisolon


Apotek Kimia Farma Garuda
Jl. Garuda No 47 Jakarta Pusat
Apoteker : Maruli Marpaung, S.Si.,Apt
No : Tanggal : 6
oktober 2016
Nama :Inneke Puspita

2 x sehari 1 tab
Sebelum/sesudah makan

Etiket mertigo

Apotek Kimia Farma Garuda


Jl. Garuda No 47 Jakarta Pusat
Apoteker : Maruli Marpaung, S.Si.,Apt
No : Tanggal : 6
oktober 2016
Nama :Inneke Puspita

2 x sehari 1 tab
Sebelum/sesudah makan

Etiket Vometa

Apotek Kimia Farma Garuda


Jl. Garuda No 47 Jakarta Pusat
Apoteker : Maruli Marpaung, S.Si.,Apt
No : Tanggal : 6
oktober 2016
Nama :Inneke Puspita

2 x sehari 1 tab
Sebelum/sesudah makan

Etiket Sangobion

Apotek Kimia Farma Garuda


Jl. Garuda No 47 Jakarta Pusat
Apoteker : Maruli Marpaung, S.Si.,Apt
No : Tanggal : 6
oktober 2016
Nama :Inneke Puspita

2 x sehari 1 tab
Sebelum/sesudah makan

Pengemasan

Resep 3 obat di.Bungkus obat dengan menggunakan sak plastic. Beri etiket warna

putih(etiket untuk obat dalam).

5. Penyerahan Obat

Selanjutnya, pasien mendapatkan informasi mengenai obat tersebut diatas, harus

dipastikan bahwa pasien memahami dan mengerti mengenai apa yang telah dijelaskan

dengan cara meminta pasien untuk mengulangi penjelasan yang telah diberikan.

No Nama Obat Informasi Obat


1 Methyl Prednisolon Indikasi : untuk mengatasi

peradangan/inflamasi.

Cara Penyimpanan :Simpan pada suhu

< 25C. atau pada suhu kamar. Jauhkan

dari jangkauan anak-anak.

Tidak digunakan dalam waktu jangka

panjang karena dapat menyebabkan

2 Mertigo kerapuhan tulang.

Diminum 2 kali sehari pagi dan malam

Diminum setelah makan. Untuk

3 Vometa mengatasi vertigo yang di alami.


Diminum 2 kali sehari pagi dan malam.

Diminum sebelum makan untuk

4 Sangobion mengatasi dispepsia atau mual muntah.

Diminum 2 kali sehari.

Indikasi : Anemia pada kehamilan dan

menyusui, wanita hamil, anemia karena

kehilangan darah

Aturan Pakai : sehari 1 kapsul

Cara Penyimpanan :Simpan pada suhu

< 25C. Jauhkan dari jangkauan anak-

anak.
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis lembar resep Anemia diatas dapat disimpulkan bahwa:
Anemia adalah keadaan dimana jumlah hemoglobin dalam darah berkurang. Sehingga
perlu dilakukan terapi untuk membantu meningkatkan jumlah hemoglobin dalam
darah.
Berdasarkan hasil kajian pertimbangan klinis, resep yang diterima rasional sehingga
dapat diproses untuk penyiapan obat dan diserahkan ke pasien, namun masih ada data
yang perlu dilengkapi seperti berat badan pasien dan nomor telepon dokter pada
bagian kelangkapan adminsitratif, bentuk dan kekuatan sediaan pada bagian
kesesuaian farmasetik.
4.2 Saran
Sebaiknya apoteker berperan aktif dalam menjalin komunikasi dan kerjasama dengan
dokter penulis resep terkait terutama pada saat ditemukannya resep yang kurang jelas
atau kurang sesuai menurut literatur yang valid.
Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien tidak hanya mengenai terapi yang
sedang diterima tetapi juga mengenai terapi non farmakologi yang dapat memperbaiki
kualitas hidup pasien serta motivasi untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam
menjalani terapinya.

BAB V
DAFTAR PUSTAKA

Bagian Farmakologi fakultas Kedokteran UI, 1995, Farmakologi dan Terapi, edisi 4, Gaya

Baru : Jakarta,.

Hoan Tjay, Tan., Rahardja, Kirana. 2002. Obat Obat Penting. Penerbit PT Media

Komputindo : Jakarta,.

Katzung, B.G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi 8. Penerbit Salemba Medika:

Jakarta.

Price, S.A. 2005. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, edisi 6 volume 1.

Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.

Richard, Harkness. 1989. Interaksi Obat, Penerbit ITB : Bandung,.

Sylvia, A., Price and Lorraine, M., Wilson, Patofisiologi Penyakit, edisi 4, Penerbit Buku

Kedokteran EGC, Jakarta, 1995.

Wells, B.G., dkk. 2009. Pharmacotherapy Handbook.edisi seventh. Mc Graw Hill Medical.

Ilmu penyakit Dalam jilid 2, edisi 4, halaman 625.

ISO Farmakoterapi, Jilid I, 2013

Ermaesihd, Dewi dan Susilowati. 2005. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anemia pada

Remaja. Bul. Penel. Kesehatan, Vol. 33, No. 4. Puslitbang Gizi dan Makanan, Badan

Litbangkes: Jakarta.

Hallberg, B. Sandstrom and P.J. Agget L. Iron, zinc and other trace elements. In : Human

Nutrition and Dietetics. Churchill Livingstone.1994.

Humaira. 2009. Tekanan darah rendah dan anemia. http://alhumairoh.wordpress.com.

Jakarta, dkk. 2013.