Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

Gangguan obsesif kompulsif adalah gangguan cemas, dimana pikiran


seseorang dipenuhi oleh gagasan-gagasan yang menetap dan tidak terkontrol, dan
ia dipaksa untuk melakukan tindakan tertentu berulang-ulang, sehingga
menimbulkan stress dan mengganggu fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.1

Obsesi adalah pikiran-pikiran, bayangan-bayangan atau dorongan-dorongan


intrusive dan kebanyakan tidak masuk akal yang dicoba ditolak atau dieliminasi
oleh individu. Sedangkan kompulsi adalah pola perilaku tertentu yang berulang
dan disadari seperti menghitung, memeriksa dan menghindar. Tindakan kompulsi
merupakan usaha untuk meredakan kecemasan yang berhubungan dengan obsesi
namun tidak selalu berhasil meredakan ketegangan.2 Gangguan obsesif kompulsif
dapat dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan ketidakberdayaan, karena
obsesi dapat menghabiskan waktu dan mengganggu rutinitas normal seseorang,
fungsi pekerjaan, aktivitas sosial yang biasanya, atau hubungan dengan teman
atau anggota keluarga.3

Gangguan obsesif-kompulsif dialami 2% sampai 3% masyarakat umum


pada suatu saat dalam kehidupan mereka. Meskipun jumlahnya relatif kecil dalam
suatu masyarakat, namun bukan berarti kondisi tersebut dapat diabaikan. Orang
yang mengalami gangguan obsesif-kompulsif tidak akan merasakan kenyamanan
dan ketenangan dalam keseharian hidupnya. Kompulsi yang seringkali dilakukan
sebagai jawaban dari pikiran obsesi biasanya akan muncul cukup sering sehingga
mengganggu kehidupan sehari-hari atau menimbulkan distress yang signifikan.1,3

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Pengertian obsesi adalah pikiran, ide atau sensasi yang muncul secara
berulang-ulang. Hal-hal tersebut muncul tanpa dapat dicegah, dan individu
merasakannya sebagai hal yang tidak rasional dan tidak dapat dikontrol. 1
Sedangkan kompulsi adalah perilaku atau tindakan mental yang berulang, dimana
individu merasa didorong untuk menampilkannya agar mengurangi stres.1
Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide atau bayangan mental yang
mendesak ke dalam pikiran secara berulang. Pikiran atau bayangan obsesi dapat
kekhawatiran yang biasa tentang apakah pintu sudah dikunci atau belum sampai
fantasi aneh dan menakutkan tentang bertindak kejam terhadap orang yang
disayangi. Sedangkan istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls
yang tidak dapat ditahan untuk melakukan sesuatu. Sering suatu pikiran obsesif
mengakibatkan suatu tindakan kompulsif. Tindakan kompulsif dapat berupa
berulang kali memeriksa pintu yang terkunci, kompor yang sudah mati atau
menelepon orang yang dicintai untuk memastikan keselamatannya.4
Dari berbagai definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa gangguan
obsesif kompulsif adalah gangguan cemas, dimana pikiran seseorang dipenuhi
oleh gagasan-gagasan yang menetap dan tidak terkontrol, dan ia dipaksa untuk
melakukan tindakan tertentu berulang-ulang, sehingga menimbulkan stress dan
mengganggu fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.1
B. Epidemiologi

Prevalensi gangguan obsesif kompulsif pada populasi umum diperkirakan


adalah 2 3%. Beberapa peneliti memperkirakan bahwa gangguan obsesif-
kompulsif ditemukan pada sebanyak 10 persen pasien rawat jalan di klinik
psikiatrik. Angka tersebut menyebabkan gangguan obsesif-kompulsif sebagai
diagnosis psikiatrik tersering keempat setelah fobia, gangguan yang berhubungan
dengan zat, dan gangguan depresif berat.5

2
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menggunakan Self Reporting
Questionnaire (SRQ), menunjukkan bahwa rata-rata 11,6% penduduk dari semua
provinsi di Indonesia, usia 15 tahun keatas, mengalami gangguan mental
emosional. Salah satu gangguan yang memiliki prevalensi tinggi adalah Gangguan
Obsesif Kompulsif. Dalam sejumlah penelitian epidemiologis di Eropa, Asia, dan
Afrika, Gangguan Obsesif Kompulsif termasuk dalam 4 besar gangguan yang
paling sering ditemukan.

Untuk orang dewasa, perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah


sama, tetapi untuk remaja, laki-laki lebih sering terkena gangguan obsesif-
kompulsif dibandingkan perempuan. Usia onset rata-rata adalah dewasa muda
(umur 18 24 tahun). Secara keseluruhan, kira-kira dua pertiga dari pasien
memiliki onset gejala sebelum usia 25 tahun, dan kurang dari 15% pasien
memiliki onset gejala setelah usia 35 tahun. Orang yang hidup sendirian lebih
banyak terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan orang yang menikah.
Gangguan obsesif-kompulsif ditemukan lebih jarang diantara golongan kulit
hitam dibandingkan kulit putih.5

Pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif biasanya merupakan orang-


orang yang sukses, pemalu, keras kepala, perfeksionis, suka menghakimi, sangat
berhati-hati, kaku, dan pencemas yang kronis yang menghindari keintiman dan
hanya menikmati sedikit kesenangan dalam hidupnya. Mereka suka bimbang dan
banyak permintaannya dan sering kali dianggap sebagai orang yang dingin, pendiam,
dan tidak ramah.3

C. Etiologi
Penyebab gangguan obsesi-kompulsif bersifat multifaktor, yaitu interaksi
antara faktor biologik, genetik, faktor psikososial.2
1. Aspek Biologis
a. Neurotransmiter
Salah satu penjelasan yang mungkin tentang gangguan obsesif-kompulsif
adalah keterlibatan neurotransmiter di otak, khususnya kurangnya jumlah
serotonin. Data menunjukkan bahwa obat serotonergik lebih efektif
dibandingkan obat lain yang mempengaruhi sistem neurotransmiter lain.

3
Tetapi apakah serotonin terlibat di dalam penyebab gangguan obsesif-
kompulsif belum jelas.5

b. Genetik
Penelitian pada anak kembar untuk gangguan obsesif-kompulsif telah
secara konsisten menemukan adanya angka kesesuaian yang lebih tinggi
secara bermakna pada kembar monozigotik dibandingkan kembar
dizigotik. Penelitian keluarga pada pasien gangguan obsesif kompulsif
menemukan bahwa 35% sanak saudara derajat pertama pasien gangguan
obsesif-kompulsif juga menderita gangguan.5

2. Faktor Perilaku
Menurut ahli teori belajar, obsesi adalah stimuli yang dibiasakan. Stimulus
yang relatif netral menjadi disertai dengan ketakutan atau kecemasan melalui
proses pembiasaan responden dengan memasangkannya dengan peristiwa
yang secara alami adalah berbahaya atau menghasilkan kecemasan. Jadi,
objek dan pikiran yang sebelumnya netral menjadi stimuli yang terbiasakan
yang mampu menimbulkan kecemasan atau gangguan.5
Kompulsi dicapai dalam cara yang berbeda. Seseorang menemukan bahwa
tindakan tertentu menurunkan kecemasan yang berkaitan dengan pikiran
obsesional. Jadi, strategi menghindar yang aktif dalam bentuk perilaku
kompulsif atau ritualistik dikembangkan untuk mengendalikan kecemasan.
Secara bertahap, karena manfaat perilaku tersebut dalam menurunkan
dorongan sekunder yang menyakitkan (kecemasan), strategi menghindar
menjadi terfiksasi sebagai pola perilaku kompulsif yang dipelajari.5

3. Faktor Psikososial
a. Faktor kepribadian
Gangguan obsesif-kompulsif adalah berbeda dari gangguan kepribadian
obsesif-kompulsif. Sebagian besar pasien gangguan obsesif-kompulsif

4
tidak memiliki gejala kompulsif pramorbid. Dengan demikian, sifat
kepribadian tersebut tidak diperlukan atau tidak cukup untuk
perkembangan gangguan obsesif-kompulsif. Hanya kira-kira 15 35%
pasien gangguan obsesif-kompulsif memiliki sifat obsesional pramorbid.4
b. Faktor psikodinamika
Sigmund Freud menjelaskan tiga mekanisme pertahanan psikologis utama
yang menentukan bentuk dan kualitas gejala dan sifat karakter obsesif-
kompulsif; isolasi, meruntuhkan (undoing), dan pembentukan reaksi. 4
1) Isolasi
Isolasi adalah mekanisme pertahanan yang melindungi seseorang dari
afek dan impuls yang mencetuskan kecemasan. Jika terjadi isolasi,
afek dan impuls yang didapatkan darinya adalah dipisahkan dari
komponen idesional dan dikeluarkan dari kesadaran. Jika isolasi
berhasil sepenuhnya, impuls dan afek yang terkait seluruhnya
terepresi, dan pasien secara sadar hanya menyadari gagasan yang
tidak memiliki afek yang berhubungan dengannya.3
2) Undoing
Karena adanya ancaman terus-menerus bahwa impuls mungkin dapat
lolos dari mekanisme primer isolasi dan menjadi bebas, operasi
pertahanan sekunder diperlukan untuk melawan impuls dan
menenangkan kecemasan yang mengancam keluar ke kesadaran.
Tindakan kompulsif menyumbangkan manifestasi permukaan operasi
defensif yang ditujukan untuk menurunkan kecemasan dan
mengendalikan impuls dasar yang belum diatasi secara memadai oleh
isolasi. Operasi pertahanan sekunder yang cukup penting adalah
mekanisme meruntuhkan (undoing). Seperti yang disebutkan
sebelumnya, meruntuhkan adalah suatu tindakan kompulsif yang
dilakukan dalam usaha untuk mencegah atau meruntuhkan akibat
yang secara irasional akan dialami pasien akibat pikiran atau impuls
obsesional yang menakutkan.3
3) Pembentukan reaksi

5
Pembentukan reaksi melibatkan pola perilaku yang bermanifestasi
dan sikap yang secara sadar dialami yang jelas berlawanan dengan
impuls dasar. Seringkali, pola yang terlihat oleh pengamat adalah
sangat dilebih-lebihkan dan tidak sesuai.3
4) Faktor psikodinamik lainnya
Pada teori psikoanalitik klasik, gangguan obsesif-kompulsif
dinamakan neurosis obsesif-kompulsif dan merupakan suatu regresi
dari fase perkembangan oedipal ke fase psikoseksual anal. Jika pasien
dengan gangguan obsesif-kompulsif merasa terancam oleh kecemasan
tentang pembalasan dendam atau kehilangan objek cinta yang
penting, mereka mundur dari fase oedipal dan beregresi ke stadium
emosional yang sangat ambivalen yang berhubungan dengan fase
anal. Adanya benci dan cinta secara bersama-sama kepada orang yang
sama menyebabkan pasien dilumpuhkan oleh keragu-raguan dan
kebimbangan. Suatu ciri yang melekat pada pasien dengan gangguan
obsesif-kompulsif adalah derajat dimana mereka terpaku dengan
agresi atau kebersihan, baik secara jelas dalam isi gejala mereka atau
dalam hubungan yang terletak di belakangnya. Dengan demikian,
psikogenesis gangguan obsesif-kompulsif, mungkin terletak pada
gangguan dan perkembangan pertumbuhan normal yang berhubungan
dengan fase perkembangan anal-sadistik.4

c. Ambivalensi
Ambivalensi adalah akibat langsung dari perubahan dalam karakteristik
kehidupan impuls. Hal ini adalah ciri yang penting pada anak normal
selama fase perkembangan anal-sadistik; yaitu anak merasakan cinta dan
kebencian kepada suatu objek. Konflik emosi yang berlawanan tersebut
mungkin ditemukan pada pola perilaku melakukan-tidak melakukan pada
seorang pasien dan keragu-raguan yang melumpuhkan dalam berhadapan
dengan pilihan.3

6
d. Pikiran magis
Pikiran magis adalah regresi yang mengungkapkan cara pikiran awal,
ketimbang impuls; yaitu fungsi ego, dan juga fungsi id, dipengaruhi oleh
regresi. Yang melekat pada pikiran magis adalah pikiran kemahakuasaan.
Orang merasa bahwa mereka dapat menyebabkan peristiwa di dunia luar
terjadi tanpa tindakan fisik yang menyebabkannya, semata-mata hanya
dengan berpikir tentang peristiwa tersebut. Perasaan tersebut
menyebabkan memiliki suatu pikiran agresif akan menakutkan bagi
pasien gangguan obsesif-kompulsif.3

D. Diagnosis
Kriteria diagnostik untuk gangguan obsesif-kompulsif menurut DSM IV:
1. Salah satu obsesi atau kompulsi
Obsesi seperti yang didefinisikan sebagai berikut:
a. Pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan yang rekuren dan persisten
yang dialami, pada suatu saat dimana selama gangguan, sebagai
intrusif dan tidak sesuai, dan menyebabkan kecemasan dan penderitaan
yang jelas.
b. Pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan tidak semata-mata
kekhawatiran yang berlebihan tentang masalah kehidupan yang nyata.
c. Orang berusaha untuk mengabaikan atau menekan pikiran, impuls,
atau bayangan-bayangan tersebut untuk mentralkannya dengan pikiran
atau tindakan lain.
d. Orang menyadari bahwa pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan
obsesional adalah keluar dari pikirannya sendiri( tidak disebabkan dari
luar seperti penyisipan pikiran).
Kompulsi seperti yang didefinisikan sebagai berikut:
a. Perilaku (misalnya, mencuci tangan, mengurutkan, memeriksa) atau
tindakan mental (misalnya berdoa, menghitung, mengulangi kata-kata
dalam hati) yang berulang yang dirasakannya mendorong untuk

7
melakukannya sebagai respon terhadap suatu obsesi, atau menurut
dengan aturan yang harus dipatuhi secara kaku.
b. Perilaku atau tindakan mental ditujukan untuk mencegah atau
menurunkan penderitaan atau mencegah suatu kejadian atau situasi
yang menakutkan, tetapi perilaku atau tindakan mental tersebut tidak
dihubungkan dengan cara yang realistik dengan apa mereka dianggap
untuk menetralkan atau mencegah, atau jelas berlebihan.
2. Pada suatu waktu selama perjalanan gangguan, orang telah menyadari
bahwa obsesi atau kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan.
Catatan: ini tidak berlaku bagi anak-anak
3. Obsesi atau kompulsi menyebabkan penderitaan yang jelas, menghabiskan
waktu (menghabiskan lebih dari satu jam sehari), atau secara bermakna
mengganggu rutinitas normal orang, fungsi pekerjaan (atau akademik),
atau aktifitas atau hubungan sosial yang biasanya.
4. Jika terdapat gangguan aksis I lainnya, isi obsesi atau kompulsi tidak
terbatas padanya (misalnya preokupasi dengan makanan jika terdapat
gangguan makan, menarik rambut jika terdapat trikotilomania,
permasalahan pada penampilan jika terdapat gangguan dismorfik tubuh,
preokupasi dengan obat jika terdapat suatu gangguan penggunaan zat,
preokupasi dengan menderita suatu penyakit serius jika terdapat
hipokondriasis, preokupasi dengan dorongan atau fanatasi seksual jika
terdapat parafilia, atau perenungan bersalah jika terdapat gangguan
depresif berat).
5. Tidak disebabkan oleh efek langsung suatu zat (misalnya obat yang
disalahgunakan, medikasi) atau kondisi medis umum.
Sebutkan jika: Dengan tilikan buruk: jika selama sebagian besar waktu
selama episode terakhir, orang tidak menyadari bahwa obsesi dan
kompulsi adalah berlebihan atau tidak beralasan.3

Pedoman diagnosis menurut PPDGJ III:7

8
a.
Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan
kompulsif, atau kedua-duanya, harus ada hampir setiap hari selama
sedikitnya dua minggu berturut-turut.
b.
Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu
aktivitas penderita.
c.
Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut:
Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri.
Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan,
meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.
Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut di atas bukan merupakan
hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega
dari ketegangan atau anxietas, tidak dianggap sebagai kesenangan
seperti dimaksud di atas.
Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan
pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive)
d.
Ada kaitan erat antara gejala obsesif, terutama pikiran obsesif, dengan
depresi. penderita gangguan obsesif kompulsif seringkali juga
menunjukkan gejala depresif, dan sebaliknya penderita gangguan depresi
berulang dapat menunjukkan pikiran-pikiran obsesif selama episode
depresifnya.
Dalam berbagai situasi dari kedua hal tersebut, meningkat atau
menurunnya gejala depresif umumnya dibarengi secara paralel dengan
perubahan gejala obsesif. Bila terjadi episode akut dari gangguan tersebut,
maka diagnosis diutamakan dari gejala-gejala yang timbul lebih dahulu.
Diagnosis gangguan obsesif kompulsif ditegakkan hanya bila tidak ada
gangguan depresif pada saat gejalobsesif kompulsif tersebut timbul. Bila
dari keduanya tidak adayang menonjol, maka baik menganggap depresi
sebagai diagnosis yang primer. Pada gangguan menahun, maka prioritas
diberikan pada gejala yang paling bertahan saat gejala yang lain
menghilang.

9
e.
Gejala obsesif sekunder yang terjadi pada gangguan skizofrenia,
sindrom Tourette, atau gangguan mental organk, harus dianggap sebagai
bagian dari kondisi tersebut.5

F42.0 Predominan Pikiran Obsesif atau Pengulangan


Pedoman Diagnostik
a.
Keadaan ini dapat berupa gagasan, bayangan pikiran, atau impuls
(dorongan perbuatan), yang sifatnya mengganggu (ego alien)
b.
Meskipun isi pikiran tersebut berbeda-beda, umumnya hampir selalu
menyebabkan penderitaan.7

F42.1 Predominan Tindakan Kompulsif (obsesional ritual)


Pedoman Diagnostik
a.
Umumnya tindakan kompulsif berkaitan dengan kebersihan (khususnya
mencuci tangan), memeriksa berulang untuk meyakinkan bahwa suatu
situasi yang dianggap berpotensi bahaya terjadi, atau masalah kerapian dan
keteraturan.
Hal tersebut dilatarbelakangi perasaan takut terhadap bahaya yang
mengancam dirinya atau bersumber dari dirinya, dan tindakan ritual
tersebut merupakan ikhtiar simbolik dan tidak efektif untuk menghindari
bahaya tersebut.
b.
Tindakan ritual kompulsif tersebut menyita banyak waktu sampai beberapa
jam dalam sehari dan kadang-kadang berkaitan dengan ketidakmampuan
mengambil keputusan dan kelambanan.7

F42.2 Campuran Pikiran dan Tindakan Obsesif


Pedoman Diagnostik
a.
Kebanyakn dari penderita obsesif kompulsif memperlihatkan pikiran
obsesif serta tindakan kompulsif. Diagnosis ini digunakan bialmana kedua
hal tersebut sama-sama menonjol, yang umumnya memang demikian.

10
b.
Apabila salah satu memang jelas lebih dominan,sebaiknya dinyatakan
dalam diagnosis F42.0 atau F42.1. hal ini berkaitan dengan respon yang
berbeda terhadap pengobatan. Tindakan kompulsif lebih respondif
terhadap terapi perilaku.6

F42.8 Gangguan Obsesif Kompulsif Lainnya


F42.9 Gangguan Obsesif Kompulsif YTT.

E. Gambaran Klinis
Obsesif dan kompulsi memiliki ciri tertentu secara umum:
a. Suatu gagasan atau impuls yang memaksakan dirinya secara bertubi-tubi
dan terus-menerus ke dalam kesadaran seseorang.
b. Suatu perasaan ketakutan yang mencemaskan yang menyertai manifestasi
sentral dan seringkali menyebabkan orang melakukan tindakan kebalikan
melawan gagasan atau impuls awal.
c. Obsesi dan kompulsi adalah asing bagi ego (ego-alien), yaitu dialami
sebagai suatu yang asing bagi pengalaman seseorang tentang dirinya
sendiri sebagai makhluk psikologis.
d. Tidak peduli bagaimana jelas dan memaksanya obsesi atau kompulsi
tersebut, orang biasanya menyadarinya sebagai mustahil dan tidak masuk
akal.
e. Orang yang menderita akibat obsesi dan kompulsi biasanya merasakan
suatu dorongan yang kuat untuk menahannya.
Tetapi kira-kira separuh dari semua pasien memiliki pertahanan yang kecil
terhadap kompulsi. Kira-kira 80% dari semua pasien percaya bahwa kompulsi
adalah irasional.2,4
Gambaran obsesi dan kompulsi adalah heterogen pada dewasa, pada
anak-anak dan remaja. Gejala pasien individual mungkin bertumpang tindih
dan berubah dengan berjalannya waktu, tetapi gangguan obsesif-kompulsif
memiliki empat pola gejala yang utama. Pola yang paling sering ditemukan
adalah suatu obsesi tentang kontaminasi, diikuti oleh mencuci disertai
penghindaran obsesif terhadap objek yang kemungkinan terkontaminasi.

11
Objek yang ditakuti seringkali sukar untuk dihindari, sebagai contoh feses,
urin, debu atau kuman. Pasien mungkin secara terus-menerus menggosok kulit
tangannya dengan mencuci tangan secara berlebihan atau mungkin tidak
mampu pergi keluar rumah karena takut akan kuman. Walaupun kecemasan
adalah respon emosional yang paling sering terhadap objek yang ditakuti, rasa
malu dan rasa jijik yang obsesif juga sering ditemukan. Pasien dengan obsesi
kontaminasi biasanya percaya bahwa kontaminasi ditularkan dari objek ke
objek atau orang ke orang oleh kontak ringan.
Pola kedua yang sering adalah obsesi keragu-raguan, diikuti oleh
pengecekan yang kompulsi. Obsesi seringkali melibatkan suatu bahaya
kekerasan, seperti lupa mematikan kompor atau tidak mengunci pintu.
Pengecekan tersebut mungkin menyebabkan pasien pulang beberapa kali ke
rumah untuk memeiksa kompor. Pasien memiliki keragu-raguan terhadap diri
sendiri yang obsesional, saat mereka selalu merasa bersalah karena melupakan
atau melakukan sesuatu.2,4
Pola ketiga yang tersering adalah pola dengan semata-mata pikiran
obsesional yang mengganggu tanpa suatu kompulsi. Obsesi tersebut biasanya
berupa pikiran berulang akan suatu tindakan seksual atau agresi yang dicela
oleh pasien. 1 Pola keempat yang tersering adalah kebutuhan akan simetrisitas
atau ketepatan, yang dapat menyebabkan perlambatan kompulsi. Pasien secara
harfiah menghabiskan waktu berjam-jam untuk makan atau mencukur
wajahnya. Trikotilomania dan menggigit kuku mungkin merupakan kompulsi
yang beruhubungan dengan gangguan obsesif-kompulsif.2,4

F. Penatalaksanaan
1. Farmakoterapi
a. Penggolongan
1. Obat Anti-obsesif kompulsif trisiklik
Contoh: Clomipramine.
2. Obat Anti-obsesif kompulsif SSRI (Serotonin Reuptake Inhibitors)

12
Contoh: Sertraline, Paroxetine, Fluvoxamine, Fluoxetine,
Citalopram. 8
b. Indikasi Penggunaan
Gejala sasaran (target syndrome): Sindrom Obsesif Kompulsif.
Butir-butir diagnostik Sindrom Obsesif Kompulsif:
1. Selama paling sedikit 2 minggu dan hampir setiap hari mengalami
gejala-gejala obsesif kompulsif yang memiliki ciri-ciri berikut:
a. Diketahui/disadari sebagai pikiran, bayangan atau impuls
dari diri individu sendiri;
b. Pikiran, bayangan, atau impuls tersebut harus merupakan
pengulangan yang tidak menyenangkan (ego-distonik);
c. Melaksanakan tindakan sesuai dengan pikiran, bayangan
atau impuls tersebut diatas bukan merupakan hal yang
memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega
dari ketegangan atau ansietas);
d. Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang masih tidak
berhasil dilawan/dielakkan, meskipun ada lainnya yang
tidak lagi dilawan/dielakkan oleh penderita;
2. Gejala-gejala tersebut merupakan sumber penderitaan (distress)
atau menggangu aktivitas sehari-hari (disability)

Respon penderita gangguan obsesif kompulsif terhadap farmakoterapi


seringkali hanya mencapai pengurangan gejala sekitar 30%-60% dan
kebanyakan masih menunjukkan gejala secara menahun. Namun demikian,
umumnya penderita sudah merasa sangat tertolong. Untuk mendapatkan hasil
pengobatan yang lebih baik, perlu disertai dengan terapi perilaku (behavior
therapy).8

Clomipramine
Clomipramine biasanya dimulai dengan dosis 25 sampai 50 mg
sebelum tidur dan dapat ditingkatkan dengan peningkatan 25 mg sehari setiap

13
dua sampai tiga hari, sampai dosis maksimum 250 mg sehari atau tampak
efek samping yang membatasi dosis. Karena Clopramine adalah suatu obat
trisiklik, obat ini disertai dengan efek samping berupa sedasi, hipotensi,
disfungsi seksual dan efek samping antikolinergik, seperti mulut kering.4

SSRI
Obat-obat Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) bekerja
terutama pada terminal akson presinaptik dengan menghambat ambilan
kembali serotonin. Penghambatan ambilan kembali serotonin diakibatkan
oleh ikatan obat (misalnya: fluoxetine) pada transporter ambilan kembali
yang spesifik, sehinggga tidak ada lagi neurotransmitter serotonin yang dapat
berkaitan dengan transporter. Hal tersebut akan menyebabkan serotonin
bertahan lebih lama di celah sinaps. Pengguanaan Selective Serotonin
Reuptake Inhibitor (SSRI) terutama ditujukan untuk memperbaiki perilaku
stereotipik , perilaku melukai diri sendiri, resisten terhadap perubahan hal-hal
rutin, dan ritual obsesif dengan ansietas yang tinggi. Salah satu alasan utama
pemilihan obat-obat penghambat reuptake serotonin yang selektif adalah
kemampuan terapi. Efek samping yang dapat terjadi akibat pemberian
fluexetine adalah nausea, disfungsi seksual, nyeri kepala, dan mulut kering.
Dapat diberikan fluoxetine (2 x 20 mg), atau sertraline (2 x 50 mg), atau
esitalopram (2 x 10 mg), atau fluvoxamine (2 x 50 mg).2,9

2. Exposure and Response Prevention


Terapi ini (dikenal pula dengan sebutan flooding) diciptakan oleh
Victor Meyer (1966), dimana pasien menghadapkan dirinya sendiri pada
situasi yang menimbulkan tindakan kompulsif atau (seperti memegang sepatu
yang kotor) dan kemudian menahan diri agar tidak menampilkan perilaku
yang menjadi ritualnya membuatnya menghadapi stimulus yang
membangkitkan kecemasan, sehingga memungkinkan kecemasan menjadi
hilang.1

14
3. Terapi Keluarga (Family therapy)

Terapi keluarga merupakan teknik pengobatan yang sangat penting


bila pada keluarga pasien dengan gangguan obsesif kompulsif ini didapatkan
kekacauan hubungan dalam keluarga, kesukaran dalam perkawinan, masalah
spesifikasi dalam anggota keluarga atau peran anggota keluarga yang kurang
sesuai yang akan mengganggu keberhasilan fungsi masing-masing individu
dalam keluarga termasuk dalam waktu jangka panjang akan berakibat buruk
pada anak dengan gangguan obsesif kompulsif.

Seluruh anggota keluarga dimasukkan ke dalam proses terapi,


menggunakan semua data anggota keluarga seperti tingkah laku individu
dalam keluarga. Menilai tingkah laku setiap anggota keluarga yang
mempengaruhi tingkah laku yang baik dan membina pengaruh tingkah laku
yang positif dari setiap individu.

4. Terapi perilaku (Behavior therapy)

Leonardo mengatakan bahwa teknik terapi perilaku yang khusus


digunakan untuk pasien anak usia lebih tua dan remaja dengan gangguan
obsesif kompulsif adalah latihan relaksasi dan response prevention technique.

Terapi perilaku pada penderita dengan gangguan obsesif kompulsif,


awalnya mengumpulkan informasi yang lengkap mengenai riwayat timbulnya
gejala gangguan obsesif kompulsif, isyarat faktor internal dan fakto eksternal,
serta faktor pencetus akan timbulnya gejala gangguan obsesif kompulsif.
Kemudian mengawasi tingkah laku pasien dala menghindari situasi yang
menimbulkan kecemasan, menghindari timbulnya gejala kompulsif dan
tingkat kecemasan pasien saat timbul gejala gangguan obsesif kompulsif
harus diperiksa secara teliti.

Teknik terapi perilaku yang dianjurkan pada anak dan remaja :13

a. Latihan relaksasi

15
Pasien diminta untuk berpikir dan bersikap rileks dan kemudian pasien
diminta untuk memikirkan pikiran obsesi masuk dalam alam sadar. Ketika
pikiran obsesi muncul, maka terapi akan meminta pasien untuk
menghentikan pemikiran itu, misalnya dengan cara memukul maja, atau
menarik tali elastic yang diikatkan pada tangan. Hal ini dilakukan di
rumah atau di mana saja.
b. Response prevention technique
Mula-mula didapatkan dulu rangsangan (stimulus) atau pencetus yang
menyebabkan dorongan untuk melakukan tindakan kompulsif. Jika
rangsangan kompulsif muncul maka pasien secara aktif diberanikan untuk
melawan tingkah laku kompulsif, sering dengan mengalihkan perhatian
pasien sehingga tindakan kompulsif tidak mungkin dilakukan misalnya
dengan memukul meja.
c. Penurunan kecemasan
Tujuan dari terapi ini untuk menghilangkan kecemasan yang menimbulkan
gejala obsesif dan kompulsif. Hal ini dilakukan dengan desensitisasi secara
sistematik yakni dengan menghadapkan anak atau remaja pada situasi
yang menakutkan (misalnya pisau, hal-hal yang kotor, pegangan pintu dan
sebagainya) secara pelan-pelan samapai ketakutan dan kecemasan hilang
atau tidak ada lagi.

G. Perjalanan Penyakit dan Prognosis


Lebih dari setengah pasien dengan gangguan obsesif kompulsif memiliki
onset gejala yang tiba-tiba. Kira-kira 50 70% persen pasien memiliki onset
gejala setelah suatu peristiwa yang menyebabkan stres, seperti kehamilan,
masalah seksual, dan kematian seorang sanak saudara. Karena banyak pasien tetap
merahasiakan gejalanya, mereka seringkali terlambat 5 sampai 10 tahun sebelum
pasien datang ke psikiater, walaupun keterlambatan tersebut kemungkinan
dipersingkat dengan meningkatkan kesadaran akan gangguan tersebut diantara
orang awam dan profesional. Perjalanan penyakit biasanya lama tetapi bervariasi.

16
Beberapa pasien mengalami penyakit yang berfluktuasi, dan pasien lain
mengalami penyakit yang konstan.4
Gangguan obsesif-kompulsif merupakan penyakit yang kronik dengan
periode dari gejala-gejala yang seiring dengan berjalannya waktu akan mengalami
peningkatan. Penderita gangguan ini tidak biasanya sembuh sempurna atau bebas
dari gejala. Walaupun demikian dengan pengobatan, banyak orang yang
mengalami perbaikan. Perbaikan tersebut berupa gejala yang berbeda seperti cara
merealisasikan suatu obsesif yang berbeda. Diagnosis awal dan terapi yang
dilakukan secepatnya akan memberikan hasil yang lebih baik di mana penekanan
onset usia dini adalah hal yang patut untuk segera didiagnosis. Selain itu, mereka
yang bergerak di bidang kesehatan mesti memahami perbedaan antara gangguan
obsesif-kompulsif dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif yang mana
untuk jenis gangguan kepribadian biasanya dimulai pada saat dewasa muda, yaitu
umur di atas 20 tahun.10
Kira-kira 20 30% persen pasien dengan gangguan obsesif kompulsif
memiliki gangguan depresif berat, dan bunuh diri adalah risiko bagi semua pasien
dengan gangguan obsesif kompulsif. Suatu prognosis buruk dinyatakan oleh
mengalah (bukannya menahan) pada kompulsi, onset pada masa anak-anak,
kompulsi yang aneh (bizzare), perlu perawatan di rumah sakit, gangguan depresif
berat yang menyertai, kepercayaan waham, adanya gagasan yang terlalu dipegang
(overvalued)-yaitu penerimaan obsesi dan kompulsi, dan adanya gangguan
kepribadian (terutama gangguan kepribadian skizotipal). Prognosis yang baik
ditandai oleh penyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik, adanya peristiwa
pencetus, dan suatu sifat gejala yang episodik. Isi obsesional tampaknya tidak
berhubungan dengan prognosis.1

Gangguan Obsesif Kompulsif sebagai Faktor Risiko Skizofrenia

17
Menurut penelitian, kedua kondisi dari gangguan obsesif kompulsif dan
skizofrenia memiliki tingkat prevalensi yang sama, dan keduanya cenderung
terjadi pada masa remaja atau awal masa dewasa. Penelitian terakhir juga
menunjukkan adanya kesamaan yang signifikan dalam patofisiologi gangguan
obsesif kompulsif dan skizofrenia. Metaanalisis mengungkapkan bahwa 23%
pasien dengan skizofrenia juga memiliki gangguan obsesif kompulsif.11

Dari 16.231 orang yang menderita skizofrenia, peneliti menemukan bahwa


447 (2,75%) memiliki diagnosis gangguan obsesif kompulsif sebelumnya. Selain
itu dari 30.556 orang dengan gangguan spectrum skizofrenia (memiliki satu atau
lebih gejala terkait skizofrenia), 700 (2,29%) memiliki gangguan obsesif
kompulsif sebelumnya. Temuan ini menunjukkan bahwa dengan diagnosis
gangguan obsesif kompulsif sebelumnya mungkin berhubungan dengan
peningkatan risiko terjadinya skizofrenia. Peneliti juga menemukan adanya
peningkatan risiko skizofrenia pada individu yang orangtuanya didiagnosis
gangguan obsesif kompulsif.11

BAB III
KESIMPULAN

18
Gangguan obsesif kompulsif adalah gangguan cemas, dimana pikiran
seseorang dipenuhi oleh gagasan-gagasan yang menetap dan tidak terkontrol, dan
ia dipaksa untuk melakukan tindakan tertentu berulang-ulang, sehingga
menimbulkan stress dan mengganggu fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala gejala obsesif atau tindakan
kompulsif, atau kedua duanya, harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya 2
minggu berturut turut.
Beberapa faktor berperan dalam terbentuknya gangguan obsesif-kompulsif
diantaranya adalah faktor biologi seperti neurotransmitter dan genetika, faktor
psikologi dan faktor psikososial. Ada beberapa terapi yang bisa dilakukan untuk
penatalaksanaan gangguan obsesif kompulsif antara lain terapi farmakologi,
Exposure and Response Prevention, terapi keluarga dan terapi prilaku.

DAFTAR PUSTAKA

19
1. Fausiah F, Widury J. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta: UI-Press.
2007
2. Durand, V. Mark dan David H. Barlow. 2006. Intisari Psikologi Abnormal.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
3. Hadisukanto G, Elvira SD. Buku Ajar Psikiatri. 2nd ed. Jakarta: Badan Penerbit
FKUI. 2013. p. 273-6
4. Maramis WF, Maramis AA. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. 2rd rev. ed.
Surabaya: Airlangga University Press; 2009, p. 312-313
5. Kaplan H dan Saddock BJ. Buku Ajar Psikiatri. 2nd ed. USA: Buku
Kedokteran EGC. 2004. p. 247-251
6. Nevid, S. Jeffrey, Spencer, A. R & Beverly G. 2005. Psikologi Abnormal jilid
1. Jakarta: Erlangga
7. Maslim, Rusdi. 2003. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-
III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya.
8. Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik
(Psychotropic Medication). 3rd rev. ed. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa
FK UNIKA Atmajaya; 2001, 47-48 p.
9. National Colaborating Centre for Mental Health, National Institute for Health
and Clinical Excellence. Obsessive-Compulsive Disorder: Core interventions
in the treatment of obsessive-compulsive disorder and body dysmorphic
disorder. National Clinical Practice Guideline. 2006; 31: 19-20
10. Suryaningrum Cahyaning, Cognitive Behavior Therapy (CBT) Untuk Mengatasi
Gangguan Obsesif Kompulsif. jurnal Fakultas Psikologi, Universitas
Muhammadiyah Malang. Vol. 01, No.01, Januari 2013
11. Meier S. obsessive compulsive disorder diagnosis linked to higher rates of
schizophrenia. Jama psychiatry. 2014. 1011

20