Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH OBSTETRI

SEPSIS PUERPERALIS

OLEH

KELOMPOK 4

KELAS 1 B

1. RENA WINNARNI SAPUTRI 73 SYE BID 12


2. RUKAYAH 76 SYE BID 12
3. SITI SADRAH 77 SYE BID 12

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
MATARAM
2013
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat dan kemurahannya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
makalah ini yang judul SEPSIS PUERPERALIS, walaupun masih jauh dari
kesempurnaan.
Dengan tersusunnya makalah ini diharapkan dapat membantu teman-
teman dalam hal ini mahasiswi jurusan kebidanan dalam rangka pemahaman yang
lebih seksama dari materi yang disajikan.
Dalam materi ini disajikan secara ringkas hal- hal yang perlu diketahui
yang berkaitan dengan materi yang disajikan. Penulis menyadari bahwa apa yang
disajikan ini masih jauh dari kesempurnaan, walaupun penulis yakin bahwa sajian
materi ini akan sdangat bermaanfaat bagi para mahsiswi guna membantu
kelancaran dan kemudahan dalam memahami materi yang disajikan. Penulis
senantiasa akan berupaya memperbaiki makalah ini sehingga kritik dan saran
yang sifatnya membangun sangat diharapkan penulis guna penyempurnaan
makalah ini.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak.

Mataram, Juni 2013

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.......................................................................................
i
KATA PENGANTAR......................................................................................
ii
DAFTAR ISI....................................................................................................
iii
BAB 1 PENDAHULUAN...........................................................................
1
1.1 Latar Belakang ..........................................................................
1
1.2 Tujuan.........................................................................................
2
BAB 2 PEMBAHASAN ............................................................................
3
2.1 Pengertian ..................................................................................
3
2.2 Etiologi ......................................................................................
5
2.3 Patofisiologi ..............................................................................
6
2.4 Tanda-Tanda dan Gejala Sepsis Puerperalis ..............................
7
2.5 Faktor Resiko pada Sepsis Puerperalis .....................................
7
2.6 Pentalaksanaan Sepsis Puerperalis ............................................
7
2.7 Epidemiologi .............................................................................
9
2.8 Predisposisi ...............................................................................
10

3
BAB 3 TINJAUAN KASUS.......................................................................
13
I. Pengumpulan Data Dasar .........................................................
13
II. Interpretasi Data Dasar .............................................................
17
III. Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial ..........................
17
IV. Identifikasi Tindakan Segera dan Kolaborasi ..........................
18
V. Rencana Manajemen ................................................................
18
VI. Implementasi Langsung ...........................................................
18
VII. Evaluasi ....................................................................................
19
BAB 4 PENUTUP ......................................................................................
21
4.1 Kesimpulan................................................................................
21
4.2 Saran ..........................................................................................
21
DAFTAR PUSTAKA

4
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sepsis adalah adanya mikroorganisme patogen atau toxic lain didalam
darah atau jaringan tubuh. Dalam hal ini sepsis adalah suatu peradangan yang
terjadi sistemik atau biasa disebut Systemic Inflamation Respon Syndrom
(SIRS) seperti :
1. Suhu >380C atau <36C
2. Denyut jantung >90 x permenit
3. Respirasi lebih dari 20 /menit atau PaCO2 < 32mmHg
4. Hitung leukosit >12.000/mm2 atau 10% sel imatur (band)
Sepsis puerperalis adalah infeksi pada traktus genetilia yang dapat
terjadi setiap saat antara awitan pecah ketuban (ruptur membran) atau
persalinan dan 42 hari setelah persalinan atau abortus Dalam beberapa hari
setelah melahirkan suhu badan ibu sedikit naik antara 37,2-37,8 derajat
Celcius oleh karena resorpsi benda-benda dalam rahim dan mulainya
laktasi, dalam hal ini disebut demam resorpsi. Hal ini adalah normal.
Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan
alat-alat genitalia dalam masa nifas. Masuknya kuman-kuman dapat
terjadi dalam kehamilan, waktu persalinan dan nifas. Demam nifas adalah
demam dalam masa nifas oleh sebab apapun.
Sepsis adalah adanya mikroorganisme patogen atau toxic lain
didalam darah atau jaringan tubuh. Dalam hal ini sepsis adalah suatu
peradangan yang terjadi sistemik atau biasa disebut Systemic Inflamation
Respon Syndrom ( SIRS)
Salah satu penyebab utama kematian ibu adalah sepsis puerperalis
menyebabkan 15% dari seluruh kematian ibu yang terjadi dinegara
berkembang. Jika tidak menyebabkan kematian , sepsis puerperalis dapat
menyebabkan masalah-masalah kesehatan menahun seperti penyakit
radang panggul kronisn (pelvic inflamatory disease [PID]) dan infertilitas.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum

1
Agar mahasiswa mampu memahami bagaimana sepsis
puerperalis dapat terjadi dan bahaya yang ditimbulkanya. Mahasiswa
mampu memahami pentingnya diagnosis dan penatalaksanaan yang
segera untuk menyelamatkan ibu nifas dengan sepsis puerperalis ini.
1.2.2 Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui apa itu sepsis puerperalis
2. Apa etiologi dari sepsis puerperalis
3. Bagaimana penanganan sepsis puerperalis
4. Mengenal gejala dan tanda-tanda sepsis puerperalis

2
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Sepsis puerperalis adalah infeksi pada traktus genetilia yang dapat
terjadi setiap saat antara pecah ketuban (ruptur membran) atau persalinan dan
42 hari setelah persalinan atau abortus dimana terdapat dua atau lebih dari hal-
hal berikut ini :
1. Nyeri pelvik
2. Demam 38,5 c atau lebih yang diukur melalui oral kapan saja
3. Cairan vagina yang abnormal
4. Cairan vagina berbau busuk
5. Keterlambatan dalam kecepatan penurunan ukuran uterus.
Beberapa bakteri penyebab sepsis puerperalis yang paling umum
adalah sebagai berikut :
Streptokokus
Stafilokokus
Escherichia coli (e. Coli)
Clostridium tetani
Clostridium width
Chlamidia dan gonokokus (bakteri penyebab penyakit menular
seksual).
Infeksi yang paling sering ditemukan adalah infeksi gabungan
antara beberapa macam bakteri. Bakteri tersebut bisa endogen atau
eksogen.
a. Bakteri Endogen
Bakteri ini secara normal hidup di vagina dan rektum tanpa
menimbulkan bahaya (misal, beberapa jenis stretopkokus dan
stafilokokus, E. Coli, Clostridium welchii). Bahkan jika teknik steril
sudah digunakan untuk persalinan, infeksi masih dapat terjadi akibat
bakteri endogen.
Bakteri endogen juga dapat membahayakan dan menyebabkan
infeksi jika :
1) Bakteri ini masuk ke dalam uterus melalui jari pemeriksa atau
melalui instrumen pemeriksaan pelvik

3
2) Bakteri terdapat dalam jaringan yang memar, robek/laserasi, atau
jaringan yang mati (mis., setelah persalinan traumatik atau setelah
persalinan macet)
3) Bakteri masuk sampai ke dalam uterus jika terjadi pecah ketuban
yang lama.
b. Bakteri eksogen
Bakteri ini masuk ke dalam vagina dari luar (streptokokus, Clostridium
tetani, dsb). Bakteri eksogen dapat masuk ke dalam vagina :
1) Melalui tangan yang tidak bersih dan instrumen yang tidak steril
2) Melalui substansi / benda asing yang masuk ke dalam vagina
(misal, ramuan / jamu, minyak, kain)
3) Melalui aktivitas seksual.
Tetanus postpartum adalah infeksi pada ibu atau bayi yang
disebabkan oleh Clostridium tetani.
a) Bakteri tetanus
Hidup di tanah terutama tanah basah yang kaya akan
pupuk hewani. Bakteri tetanus dapat masuk ke tubuh ibu jika
tangan yang tidak bersih, kain, kotoran sapi, atau ramu
ramuan dimasukkan ke dalam vagina. Bakteri ini masuk ke
tubuh bayi melalui umbilikus jika tali pusat dipotong dengan
instrumen yang tidak bersih, atau ramu ramuan, atau kotoran
sapi digunakan untuk membalut tali pusat.
b) Infeksi tetanus
Sangat berat dan menyebabkan kekakuan, spasme,
konvulsi, dan kematian. Tetanus dapat dicegah dengan
memastikan bahwa setiap ibu hamil mendapatkan imunisasi
tetanus toksoid selama kehamilan. Imunisasi ini akan
melindungi ibu dan bayi dari infeksi tetanus.
Di tempat tempat di mana penyakit menular seksual
(PMS) (misal, gonorrhea dan infeksi klamidial) merupakan
kejadian yang biasa, penyakit tersebut merupakan penyebab
terbesar terjadinya infeksi uterus. Jika seorang ibu terkena PMS
selama kehamilan dan tidak diobati, bakteri penyebab PMS itu

4
akan tetap berada di vagina dan bisa menyebabkan infeksi
uterus setelah persalinan.
c) Infeksi uterus
Yang disebabkan oleh PMS dapat dicegah dengan
mendiagnosis dan mengobati ibu yang terkena PMS selama
kehamilan mereka.
2.2 Etiologi
Dalam obstetri modern, sepsis puerperalis yang gawat jarang terjadi,
pernah dilaporkan epidemi yang disebabkan grup A streptoccocus hemolitikus.
Infeksi nifas pada umumnya disebabkan oleh bakteri yang pada keadaan
normal berada pada usus atau jalan lahir. Gorback mendapatkan dari 70%
biakan cervix normal dapat pula ditemukan bakteri aerob dan anaerob yang
patogen. Walaupun dari cerviks dan jalan lahir ditemukan kuman-kuman
tersebut cavum uteri adalah steril sebelum ketuban pecah. Kuman anaerob
adalah coccus gram positif ( Peptostreptococus, Peptococus, Bakteriodes, dan
Clostridium). Kuman aerob adalah bermacam gram positif dan E.colli
Selain itu infeksi nifas dapat disebabkan oleh:
1. Streptococcus Hemoliticus Aerobicus. Streptococcus ini merupakan sebab
infeksi yang berat khususnya golongan A. Infeksi ini biasanya eksogen
(dari penderita lain, alat atau kain yang tidak steril, infeksi tenggorokan
orang lain)
2. Stapylococcus Aureus, kuman ini biasanya menyebabkan infeksi terbatas
walaupun kadang-kadang dapat menyebabkan infeksi umum.
Stafilococcus banyak ditemukan di Rumah Sakit dan dalam tenggorokan
orang yang terlihat sehat
3. E.Coli, kuman ini umumnya berasal dari kandung kencing dan rektum dan
dapat menyebabkan infeksi terbatas dalam perineum, uvula, dan
endometrium. Kuman ini merupakan sebab penting dari infeksi traktus
urinarius.
4. Clostridium Welchii, infeksi dengan kuman ini yang bersifat anaerobik
jarang ditemukan, akan tetapi sangat berbahaya, infeksi lebih sering terjadi
pada abortus kriminalis
2.3 Patofisiologi

5
Sepsis puerperalis dapat terjadi dimasa intrapartum atau
postpartum.Sebelum kelahiran,membran amniotik dan membran korionik
dapat terinfeksi jika ketuban pecah (ruptur membran) terjadi berjam-jam
sebelum persalinan dimulai.bakteri kemudian mempunyai cukup waktu untuk
berjalan dari vagina kedalam uterus dan menginfeksi membran, plasenta,
bayi, dan ibu. Korioamnionitis merupakan suatu masalah yang sangat serius
dan dapat membahayakn hidup ibu dan bayinya.
Setelah persalinan,sepsis puerperalis mungkin terlokalisasi di
perineum, vagina, serviks atau uterus. Infeksi pada uterus dapat menyebar
dengan cepat sehingga menyebabkan infeksi pada tubafallopi atau ovarium,
parametritis, peritonitis, menyebar ke pembuluh limfe yang kemudian akan
menyebabkan septikemia jika masuk kealiran darah.Ini semakin diperumit
dengan adanya syok septik dan koagulasi intravaskuler diseminata
(disseminated intravaskuler coagulation [DIC] ) yang dapat menimbulkan
masalah perdarahan.Sepsis puerperalis dengan cepat akan berakibat fatal.
Ibu di masa postpartum (masa nifas) memang rentam terhadap infeksi
karena adanya faktor-faktor berikut:
1. Sisi perlengkatan plasenta merupakan tempat yang besar,hangat,gelap,dan
basah.I ni memungkinkan bakteri tumbuh dengan sangat cepat.Tempat
seperti ini merupakan suatu media yang ideal untuk pembiakan bakteri.Di
laboratorium,kondisi-kondisi yang hangat,gelap,dan basah sengaja dibuat
untuk membantu bakteri tumbuh dan berbiak.
2. Sisi plasenta memiliki persedian darah yang kaya,dengan pembuluh-
pembuluh darah yang besar yang langsung menuju sirkulasi vena
utama.Hal ini memungkinkan bakteri di sisi plasenta untuk bergerak
dengat sangat cepat kedalam aliran darah.Ini disebut
septikemia.Septikimia dapat menyebabkan kematian dengan sangat cepat.
3. Sisi plasenta tidak jauh dari bagian luar tubuh ibu.Hanya panjang vagina
(9-10 cm) yang memisahkan jalan masuk ke uterus dari lingkungan
luar.Ini berarti bahwa bakteri yang biasanya hidup direktum (seperti
E.coli) dapat dengan mudah pindah kedalam vagina dan kemudian menuju
uterus.Disini bakteri menjadi bahaya atau patogenik karena
menyebabkan infeksi pada sisi plasenta.

6
4. Selama pelahiran,area serviks ibu,vagina,atau area perineumnya mungkin
robek atau diepisiotomi.area jariangan yang terluka ini rentan terhadap
infeksi,terutama jika teknik steril pada persalinan tidak digunakan.Infeksi
biasanya terlokalisasi,tetapi pada kasus-kasus berat infeksi ini dapat
menyebar ke jaringan dibawahnya.
2.4 Tanda Tanda dan Gejala Sepsis Puerperalis
Ibu biasanya mengalami demam tetapi mungkin tidak seperti demam
pada infeksi klostridial. Ibu dapat mengalami nyeri pelvik, nyeri tekan di
uterus, lokia mungkin berbau menyengat (busuk), dan mungkin terjadi suatu
keterlambatan dalam kecepatan penurunan ukuran uterus. Di sisi laserasi atau
episiotomi mungkin akan terasa nyeri, membengkak, dan mengeluarkan cairan
bernanah.
2.5 Faktor Resiko Pada Sepsis Puerperalis
Ada beberapa ibu yang lebih mudah terkena sepsis puerperalis,
misalnya ibu yang mengalami anemia atau kekurangan gizi atau ibu yang
mengalami persalinan lama.
2.6 Penatalaksanaan Sepsis Puerperalis
Prioritas di dalam penatalaksanaan sepsis puerperalais,antara lain:
1. Kaji kondisi pasien
2. Resusitasi ibu,jika perlu
3. Isolasi ibu sesegera mungkin jika ada dugaan infeksi
4. Ambil spesimen untuk memeriksa organisme penyebab dan pastikan
dianosis,dan
5. Mulai berikan terapi antibiotik berspektrum luas.
Penatalaksanaan:
1. Isolasi dan batasan pada perawatan ibu
Tujuan dari kegiatan ini adalah mencegah penyebaran infeksi pada ibu
lain dan bayi mereka.prinsip-prinsip keperawatan dasar adalah
penting.perawat/bidan harus :
a. Merawat ibu disuatu ruang terpisah ,atau jika hal ini tidak mungkin di
pojok bangsal terpisah dari pasien lain.
b. Memungkinkan gown dan sarung tangan pada saat mengunjungi ibu
dan gown serta sarung tangan khusus ini hanya dipakai ketika
berhadapan dengan ibu.

7
c. Menyimpan satu set peralatan,alat makan ,dan peralatan dapur
lainnya hanya digunakan untuk ibu dan memastikan bahwa peralatan
ini tidak digunakan oleh orang lain.
d. Mencuci tangan sampai bersih sebelum dan setelah mengurusi ibu.
Jika memungkinkan, seorang bidan/perawat khusus harus
ditempatkan untuk merawat ibu dan bayinya.kalau ada kerabat yang
mau membantu merawat pasien itu,hal ini sangat menolong.Jika
begitu,kerabat tersebut harus diajurkan tentang prinsip-prinsip dasar
pencegahan penularan penyakit.Selain itu,penunjang juga harus
dibatasai.
2. Pemberian Dosis Tinggi Antibiotik Berspektrum Luas
Kegiatan ini biasanya diresapkan oleh dokter,petugas kebidanan harus
mengetahui cara meresepkan dan memberikan obat-obatan yang
tepat.jika secara hukum tidak memungkinkan,peraturan tersebut harus
dikaji kembali.
a. Pilihan Antibiotik
Jika ibu tidak sangat sakit (mis, tidak demam atau hanya demam
ringan ,denyut tidak sangat tinggi,status kesadaran normal).
b. Tidak Lanjut
Jika ibu tidak membaik setelah 48 jam atau laporan laboratorium
menyatakan bahwa bakteri resisten terhadap anti biotik yang
diberikan,antibiotik harus diganti.
c. Tetanus toksoid
Jika ada kemungkinan ibu terserang tetanus (mis.akibat kotaran
sapi,lumpur,atau ramu-ramuan dimasukan kedalam vagina) dan ada
keraguan tentang riwayat vaksinasinya,maka berikan tetanus toksoid.
3. Pemberian Cairan yang Banyak
Tujuan pemberian cairan ini adalah memperbaiki atau mencegah
dehidrasi dan membantu menurunkan demam.
4. Pengeluaran Fragmen Plasenta yang Tertahan
Fragmen plasenta yang tertahan dapat menjadi penyebab terjadinya sepsis
puerperalis.curigai keadaan ini jika uterus lunak dan membesar dan jika
lokea berlebihan dan mengandung bekuan darah.Ibu harus segera di
rujuk.
5. Pemberian Asuhan Kebidanan yang Terlatih

8
Hal ini memerlukan perhatian yang seksama baik untuk kenyamanan ibu
maupun untuk melaksanakan instruksi dokter. Berikut ini adalah hal yang
penting :
a. Menganjurkan ibu untuk beristiraht di tempat tidur
b. Memantau tanda-tanda vital
c. Mengukur asupan dan pengeluaran
d. Menjaga agar catatan tetap akurat,dan
e. Mencegah penyebaran infeksi dan infeksi silang.
Masalah praktik yang mungkin muncul,meliputi:
a. Fasilitas tidak memungkinkan untuk melakukan isolasi yang layak
b. Kurangnya staf menyebabkan tidak mungkin untuk mengalokasikan
seorang bidab/perawat untuk memberikan perawatan.
Bidan juga harus akurat dalam semua obsevasi, catatan dan juga
pelaporannya.
2.7 Epidemiologi
Secara keseluruhan angka insiden dan prevalensi infeksi postpartum
di Amerika Serikat adalah kurang. Dalam sebuah studi oleh Yokoe et al pada
tahun 2001, 5,5% persalinan vagina dan 7,4% dari persalinan sesar
mengakibatkan infeksi postpartum. Tingkat infeksi postpartum secara
keseluruhan adalah 6,0%. Endometritis menyumbang hampir setengah dari
infeksi pada pasien setelah persalinan sesar (3,4% dari persalinan sesar).
Mastitis dan infeksi saluran kencing bersama-sama menyumbang 5% dari
persalinan vagina. Dalam review paling mutakhir, angka kematian ibu yang
berhubungan dengan infeksi postpartum berkisar dari 4-8%, atau sekitar 0,6
kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup.
Sebuah surveilans mortalitas yang berhubungan dengan kehamilan
oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit infeksi ditunjukkan
tersebut adalah sekitar 11,6% dari semua kematian berikut kehamilan yang
menghasilkan kelahiran hidup, lahir mati , atau ektopik. Risiko infeksi saluran
kemih postpartum meningkat dalam African American, Native American, dan
populasi Hispanik.
2.8 Predisposisi
Faktor Predisposisi yang penting pada waktu nifas adalah:

9
1. Keadaan yang dapat menurunkan daya tahan penderita seperti perdarahan
banyak, pre-eklampsia, juga adanya infeksi lain seperti pneumonia,
penyakit jantung dan sebagainya.
2. Partus lama terutama ketuban pecah lama
3. Tindakan bedah vagina yang menyebabkan perlukaan pada jalan lahir
4. Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah
5. Setelah kala III, daerah bekas insersio plasenta merupakan sebuah bekas
luka dengan diameter 4cm, permukaan tidak rata, berbenjol-benjol karena
banyakknya vena yang tertutup trombus. Daerah ini merupakan tempat
yang baik bagi tumbuhnya kuman-kuman dan masuknya jenis-jenis yang
patogen dalam tubuh wanita. Serviks sering mengalami perlukaan dalam
persalinan begitu juga pulva, vagina, dan perineum, yang semuanya
merupakan tempat masuknya kuman patogen, proses radang dapat terjadi
terbatas pada luka tersebut atau dapat menyebar keluar luka asalnya.
6. Penanganan Komplikasi
a. Peritonitas
Peritonitas menyeluruh adalah peradangan pada semua bagian
peritonium.ini berarti baik peritoneum parietal,yaitu membran yang
melapisi dinding abdomen,maupaun peritoneum viseral,yang terletak
di atas vasera atau organ-organ internal meradang.
Diagnosis :
Penting untuk mengetahui cara mengenali peritonitis
peritonitis dan/ abses multipel didalam abdomen dapat muncul setelah
secsio sesaria atau ruptur uterus boleh jadi merupakan suatu
komplikasi dari sepsis puerperalis.
Selain demam, dan tanda tanda gejala berikut ini jga muncul :
1) Nyeri lepas
2) Nyeri abdomen
3) Abdomen berdistensi 3 4 hari
4) Muntah
5) Bising usus lemah
6) Diare
Penanganan peritonitis menyeluruh :
Obati secara aktif jika diduga, tanpa menunggu kepastian
diagnosis. Mulai dengan antibiotik seperti: benzil penisilin ditambah
dengan gentamisin dan metronidazol,cairan 4 dan analgesik (seperti
petidin 50-100 mg secara IM setiap 6 jam).

10
Jika tersedia, pasang selang nasogastrik (NGT) dan
aspirasikan isi lambung. Pastikan bahwa ibu segera di bawa ketingkat
rujukan yang lebih tinggi yang memiliki pertolongan medis/ beda
terampil.
b. Salpingo-ooforitis dan Parametritis
Adalah infeksi pada ovariun dan tuba fallopi. Parametritis
adalah infeksi pada parametrium. Parametrium adalah jaringan
renggang yanmg ditemukan disekitar uterus.
Jaringan ini memanjang sampai kesisi servik dan
kepertengahan lapisan- lapisan ligamen besar.
Diagnosa salpingo-ooforitis:
1) Demam
2) Nyeri bilateral
3) Nyeri tekan bawah abdomen
Diagnosa parametritis :
1) Demam
2) Nyeri atau nyeri tekan pada kedua sisi abdomen
3) Nyeri tekan yang cukup terasa pada pemeriksaan vagina
Penanganan dari salpingo- ooforitis atau parametritis :
Mulai dengan antibiotik seperti: benzil penisilin ditambah
gentamisin dan metrodinazol. Jika perlu berikan obat pereda nyeri
seperti : petidin 50 100 mg secara IM setiap 6 jam. Jika ibu tidak
membaik dalam 2 3 hari iya harus segera di bawa kerumah sakit.
c. Septikemia
Adalah ada dan berkembangbiaknya bakteri di dalam aliran darah.
Diagnosa :
1) Demam
2) Menggigil
3) Denyut nadi cepat
4) Dan ibu sangat sakit
Penatalaksanaannya :
Mulai dengan antibiotik, misalnya benzilpenisilin tambah
gentamisin dan metronidazol. Segera rujuk ibu ke rumah sakit bila
perlu dipertimbangkan untuk memberikan heparin jika diduga terjadi
disseninatet intravascular coagulation.
d. Abses

11
Diagnosa :
Masa yang menonjol dan berfluktuasi pada pemeriksaan
vagina, nyeri yang hebat dan nyeri tekan, demam tidak menurun
meskipun diberikan antibiotik
Penatalaksaannya :
Rujuk ibu ke rumah sakit untuk kolpotomi posterior ( insisi
bedah kedalam dinding posterior vagina).laparatomi untuk abses di
abdomen.

12
BAB 3
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS
TERHADAP NY. S DENGAN KASUS SEPSIS PUERPERALIS
DI RUMAH SAKIT DAHLIA

I. PENGUMPULAN DATA DASAR


Tanggal 25 Januari 2007
1. Identitas
Nama Istri : Ny.S Nama Suami : Tn.B

Umur : 28 th
Umur : 24 th

Agama : Islam

Agama : Islam
Suku : Padang
Pendidikan : SLTA
Suku : Padang
Pekerjaan : Wirasuasata
Pendidikan : SLTA
Alamat : Jln. Jendral Suprapto
No. 27 Margodadi
Pekerjaan : IRT Metro

Alamat : Jln. Jendral Suprapto


No. 27 Margodadi
Metro Selatan
2. Keluhan Utama
Ibu dengan G1P0A0 post partum tanggal 20 Januari 2007. dari vagina
keluar darah yang berbau di sertai demam. Ibu merasa cemas dan gelisah
dengan anaknya yang menangis terus-menerus. Ibu merasa letih dan sulit
tidur, perut masih terasa mulas.
3. Riwayat Persalinan
Anak lahir spontan : tanggal 20 Januari 2007, jam 02.45 WITA
Jenis kelamin : perempuan

13
BB : 3000 gr PB : 50 cm
Apgar score : 9/10
Jumlah perdarahan : Kala I : Blood Slym
Kala II : 100 cc
Kala III : 150 cc
Kala IV : 100 cc
Jumlah : 350 cc
Lama persalinan Kala I : 12 jam
Kala II : 2 jam
Kala III : 15 menit
Kala IV : 2 jam
Jumlah : 16 jam 15 menit
4. Riwayat Kesehatan Dasar
Mobilitas : Ibu dapat miring ke kanan dan ke kiri, duduk dan
berjalan perlahan-lahan
5. Pola Kebutuhan Dasar
a. Eliminasi
BAB Sebelum melahirkan : 1-2 x/hari
Sesudah melahirkan : 1 x/hari
BAK Sebelum melahirkan : 5-6 x/hari
Sesudah melahirkan : 2 x/hari
b. Nutrisi
Sebelum melahirkan : Ibu makan 3x sehari dengan porsi sedang, 1
piring nasi, 1 mangkuk sayur, lauk-pauk,
buah dan susu
Sesudah melahirkan : Ibu makan dengan porsi kecil piring
nasi, 1 mangkuk sayur, lauk-pauk, buah
dan susu
c. Istirahat
Sebelum melahirkan : ibu tidur 7-8 jam sehari
Sesudah melahirkan : ibu tidur 6 jam sehari tetapi malam agak
sulit tidur karena bayi sering menangis

14
d. Aktivitas
Sebelum melahirkan : ibu bisa melakukan aktivitas/kegiatan
rumah tangga sendiri tanpa bantuan orang
lain.
Sesudah melahirkan : ibu hanya bisa berjalan pelan-pelan dan
dibantu .
e. Personal hygiene
Sebelum melahirkan : ibu mandi 2x sehari, menggosok gigi 2x
sehari, ibu mencuci tangan sebelum dan
sesudah BAK/BAB, ibu mengganti pakaian
setiap kali habis mandi
Sesudah melahirkan : ibu mandi 2x sehari, menggosok gigi 2x
sehari, ibu mencuci tangan sebelum dan
sesudah BAK/BAB, ibu mengganti pakaian
setiap kali habis mandi, ibu mengganti doek
3x sehari.
6. Riwayat Sosial Ekonomi
a. Respon ibu dan keluarga :
Ibu sangat mengharapkan
serta menerima kehamilan dan
persalinan ini.
b. Peran anggota keluarga :
Keluarga sering membantu
cara merawat bayi dan ibu setelah
bersalin tetapi bayi sering
menangis tiap malam
c. Pembuat keputusan : Suami
adalah orang yang paling dalam
mengambil keputusan
d. Kebiasaan-kebiasaan kesehatan
: Keluarga masih
menganut upacara dan tata cara

15
adat lama, dimana ibu harus tidur
bersandar dan minum jamu-
jamuan
7. Riwayat Kesehatan Keluarga
Dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular atau
menurun
8. Keadaan Psikososial
Ibu merasa senang dengan kelahiran anaknya, keluarga juga ikut bahagia,
tetapi ia merasa khawatir jika anaknya sering menangis. Ibu juga takut
kalau ia tidak bisa merawat anaknya, karena belum memiliki pengalaman
tentang merawat bayi dan selama ini ibu dibantu oleh keluarga dan
suami.
9. Pemeriksaan
1) Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum : Baik
Kesadaran : composmentis
BB sebelum hamil : 56 kg
BB hamil aterm : 68 kg
BB setelah melahirkan : 67 kg
Tinggi badan : 157 cm
b. Tanda-tanda vital
TD :120/80 mmHg
Nadi : 80x/menit
Suhu : 37,80C
RR : 22x/menit
2) Pemeriksaan fisik
Rambut : berminyak, lembab, sedikit ketombe
Mata : konjungtifa pucat, sclera sedikit icterik,
fungsi penglihatan normal
Muka : tidak ada oedema, tidak ada kelainan
Hidung : simetris, tidak ada polip, fungsi penciuman
normal

16
Mulut : bersih tidak ada carises gigi, tidak ada gigi
berlubang
Telinga : simetris, bersih, fungsi pendengaran baik
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, dan
tidak ada pembesaran vena jugularis
Payudara : simetris kanan-kiri, putting susu menonjol,
terdapat hiperpigmentasi pada areola
mammae, tidak ada nyeri, abses dan
pembengkakan, pengeluaran kolostrum masih
sedikit dan belum terlalu lancar.
Abdomen : ada bekas striae
Palpasi : TFU 3 jari bawah pusat
Kontraksi uterus baik, tidak ada nyari
Keadaan vesika urinaria : kosong
Ekstremitas atas : simetris kanan-kiri, jari-jari lengkap dan
berfungsi normal, kuku jari tangan putih
(tidak biru) tetapi terlihat kurang bersih
Ekstremitas bawah : simetris kanan-kiri, jari-jari lengkap, kuku
kurang bersih, tidak ada oedema, tidak ada
varises, tidak ada tanda-tanda tromboplebitis,
reflek patella (+) dan berfungsi normal.
Genitalia : lochea rubra berbau, vulva dan vagina tidak
ada varises, tidak ada oedema, bersih dan
kering.

II. INTERPRESTASI DATA DASAR


Diagnosa :
Ibu post partum dengan adaptasi menjadi orang tua
Dasar : a. Ibu post partum, partus tanggal 20 Januari 2007 02.45 WITA
b. Lochea rubra berbau
c. Ibu merasa letih dan sulit tidur
d. Suami engatakan istrinya demam, dengan suhu tubuh 37,80C.

17
e. Ibu juga takut tidak bisa merawat anaknya.
Masalah : sepsis puerperalis
Kebutuhan : a. Dukungan lingkungan dalam keluarga
b. perawatan cairan vagina berbau
c. Pemenuhan cairan dan nutrisi

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL


Potensi terjadinya infeksi yang lebih parah dengan cairan yang berwarna dan
kental.

IV. IDENTIFIKASI TINDAKAN SEGERA DAN KOLABORASI


Pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi, rujuk bila terdapat komplikasi.

V. RENCANA MANAJEMEN
1. Jelaskan keadaan ibu saat ini dan jelaskan tentang proses adaptasi yang
terjadi pada bayi baru lahir.
a. Beritahu ibu tentang kondisinya saat ini
b. Jelaskan pada ibu tentang cara perawatan BBL
c. Beritahu ibu tentang cara melakukan personal hygiene pada bayi
2. Jelaskan pada keluarga bahwa dukungan, perhatian dan cinta kasih sangat
di perlukan saat ini.
a. Beri tahu keluarga bahwa ibu sangat membutuhkan dukungan,
perhatian dan cinta kasih
b. Anjurkan pada keluarga agar selalu memberikan perhatian kepada ibu
c. Menjauhkan ibu dari hal-hal yang membuat ia mudah tersinggung
serta takut dan khawatir akan masa depan anaknya
3. Berikan konseling tentang ASI eksklusif
a. Beritahu suami, ibu dan keluarga tentang ASI eksklusif
b. Beritahu suami, ibu dan keluarga tentang manfaat ASI Eksklusif
c. Beritahu suami, ibu dan keluarga tentang cara menyusui yang efektif
dan benar
4. Berikan cairan dan nutrisi yang baik

18
5. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik
6. Perawatan dan pembersihan cairan yang berbau dari vagina.

VI. IMPLEMENTASI LANGSUNG


1. a. Memberitahu ibu tentang kondisinya saat ini. Bahwa ibu
masih dalam masa nifas
b. Menjelaskan pada ibu tentang cara merawat serta membersihkan tali
pusat yang belum puput
c. Memberitahu ibu tentang cara membersihkan daerah kemaluan
2. a. Memberitahu keluarga tentang perhatian dan cinta kasih
yang di butuhkan ibu seperti misalnya selalu berada di dekat ibu bila
ibu membutuhkan sesuatu.
b. Menganjurkan keluarga untuk selalu memberikan perhatian berupa
kenyamanan yang dapat membangkitkan rasa percaya diri ibu dalam
mengasuh anaknya.
c. Memberitahu keluarga agar menjauhkan dari hal-hal yang membuat
ibu tersinggung serta khawatir dan takut akan masa depan anaknya
seperti tidak membiarkan ibu merawat bayinya seorang diri yang
menyebabkan timbulnya rasa takut serta tidak percaya diri pada diri
ibu.
3. a. Memberitahu suami, ibu dan keluarga tentang ASI eksklusif yaitu
suatu cara pemberian makan pada bayi dalam 6 bulan pertama
setelah kelahiran tanpa didampingi makanan tambahan lainnya.
b. Memberitahu suami, ibu dan keluarga tentang manfaat ASI eksklusif
yaitu dapat memberikan kekebalan serta dapat meningkatkan
kecerdasan pada bayi, karena kandungan-kandungan yang ada di
dalamnya merupakan unsur-unsur penting yang dibutuhkan oleh bayi.
c. Memberitahu suami, ibu dan keluarga tentang cara menyusui yang
efektif dan benar yaitu dengan cara menyusui bayi pada posisi yang
baik dan benar, memberikan ASI secara bergantian antara payudara
yang kanan dan kiri, menyendawakan bayi setelah diberi ASI.
4. Memberikan cairan RL 20 tetes/menit , dan nutrisi dengan bubur 3x/hari.

19
5. Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik
6. Membersihkan cairan vagina yang berbau 2x/hari.

VII. EVALUASI
1. Ibu mengatakan akan mencoba memerankan peran barunya dengan baik,
dengan tidak menangis bila anaknya menangis
2. Keluarga terlihat mencoba memberikan perhatian lebih pada ibu dan
bayinya
3. Ibu mengatakan akan mencoba menyusui bayinya secara eksklusif
selama 6 bulan.
4. Ibu mengatakan sudah mulai tidak merasa sangat lelah.
5. Ibu mengatakan rasa nyeri pada daerah vagina mulai berkurang.
6. Ibu mengatakan cairan yang berbau mulai berkurang.

20
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Sepsis puerperalis adalah infeksi pada traktus genetilia yang dapat
terjadi setiap saat antara awitan pecah ketuban (ruptur membran) atau
persalinan dan 42 hari setelah persalinan atau abortus Beberapa bakteri
penyebab sepsis puerperalis yang paling umum adalah sebagai berikut :
Streptokokus
Stafilokokus
Escherichia coli (e. Coli)
Clostridium tetani
Clostridium width
Chlamidia dan gonokokus (bakteri penyebab penyakit menular seksual).

4.2 Saran
Dengan hasil makalah ini kami mengharapkan teman-teman bisa
memahami tentang sepsis puerperalis dan bisa di manfaatkan dengan baik

21
DAFTAR PUSTAKA

Bobak, K. Jensen, 2005, Perawatan Maternitas. Jakarta. EGC

JHPIEGO, 2003. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan, Buku 5 Asuhan Bayi


Baru Lahir Jakarta. Pusdiknakes.

JNPK_KR.2004. Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas Pelayanan


Kesehatan Dengan Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawiroharjo.

Johnson, Ruth, Taylor. 2005. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta. EGC.

Samba, Suharyati, 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta. EGC

Motherhood, safe, 2003. Modul sepsis puerperalis. Buku kedokteran. EGC

22