Anda di halaman 1dari 24

BAB III

ANALISA DAN PERENCANAAN STRUKTUR

3.1. Penentuan Kelas Jalan KA


Data lalu lintas perjalanan kereta api pada jalur Tawang Brumbung
adalah sebagai berikut :
Tonase penumpang (Tp) : 10.356 ton/hari
Tonase barang (Tb) : 21.840 ton/hari
Tonase lokomotif (Tl) : 4.380 ton/hari

TE = Tp + (Kb x Tb) + (Kl x Tl)

T = 360 x S x TE

Dimana :
TE = Tonase ekivalen (ton/hari)
Tp = Tonase penumpang dan kereta harian
Tb = Tonase barang dan gerbong harian
Tl = Tonase lokomotif harian
Kb = Koefisien yang besarnya tergantung pada tekanan gandar
1,5 untuk tekanan gandar < 18 ton
1,3 untuk tekanan gandar > 18 ton
Kl = Koefisien lokomotif yang besarnya 1,4
S = Koefisien yang besarnya tergantung kualitas lintas
1,1 untuk lintas kereta penumpang kecepatan maksimum 120 km/jam
1,0 untuk lintas kereta tanpa kereta penumpang

TE = Tp + (Kb x Tb) + (Kl x Tl)


= 10.356 + (1,5 x 21.840) + (1,4 x 4.380)
= 49.248 ton/hari

T = 360 x S x TE
= 360 x 1,1 x 49.248
= 19.502.208 ton/tahun

Berdasarkan perhitungan diatas maka diperoleh :

- Kelas jalan II
- Kecepatan maksimum 110 km/jam
- Menggunakan rel R.54
- Tekanan gandar maksimum 18 ton
- Jenis bantalan beton/kayu dengan jarak antar as 60 cm
- Menggunakan jenis penambat elastis ganda
- Tebal balas atas 30 cm dan tebal balas bawah 50 cm

76
3.2. Perencanaan Geometrik Jalan KA
3.2.1. Alinyemen Horizontal
Kecepatan Rencana :
V rencana = 1,25 x V maksimal
= 1,25 x 110 km/jam
= 137,5 km/jam < 120 km/jam (kecepatan maksimal kereta
yang melintas)

Kecepatan Operasi :
V rata-rata = ((90 km/jam x 3) + (95 km/jam x 2) + (100 km/jam x 42)
+ (120 km/jam x 2)) : 50
= 99,8 km/jam

Perencanaan Peninggian :
.Vi
V rencana = c x
50 x 99,8
= 1,25 x 50

= 124,75 km/jam

Penentuan Jari-jari :
Gaya sentrifugal
R min = 0,076 x V2
= 0,076 x 1102
= 919,6 m
Gaya sentrifugal dan daya dukung komponen jalan
R min = 0,054 x V2
= 0,054 x 1102
= 653 m
Tidak ada lengkung peralihan
R maks = 0,164 x V2
= 0,164 x 1102
= 1.984,4 m
R min < R rencana < R maks
653 m < 1.900 m < 1.984,4 m

Peninggian Rel (h)


h normal = 5,95 x (V2 : R)
= 5,95 x (1102 : 1900)
= 37,892 mm

h min = (8,8 V2) : R

77
= (8,8 1102) : 1900
= 2,542 mm

h min < h normal < h maks


2,542 mm < 37,892 mm < 40 mm

Lengkung Peralihan untuk s = 66 8 36


Ls = Lh = 0,01 x h x V
= 0,01 x 40 x 110
= 44 m

s = (90 x Ls) : ( x R)

= (90 x 44) : ( x 1900)

= 0 39 48,33

c = s (2 x s)

= 66 8 36 (2 x 0 39 48,33)

= 64 48 59,34

Lc = ( c : 360 ) x (2 x x R)
= (64 48 59,34 : 360 ) x (2 x x 1900)

= 2.149,4 m

L = 2 x Ls + Lc
= 2 x 44 m + 2.149,4 m
= 2.237,4 m

Komponen Lengkung Peralihan


Xc = Ls ((Ls3 : (40 x R2))
= 44 m ((443 m : (40 x 19002 m))
= 44 m

Yc = Ls2 : (6 x R)
= 44 m : (6 x 1900)

78
= 0,170 m

P = Yc R (1 cos s)
= 0,17 m 1900 m x (1 cos 0 39 48,33)

= 0,043 m

K = Xc R sin s
= 44 m 1900 m x sin 0 39 48,33
= 22 m

Komponen Lengkung Lingkaran


Tt = Ts = (R + P) x tan ( s : 2) + K
= (1900 m + 0,043 m) x tan (66 8 36 : 2) + 22 m

= 1.259,280 m

Et = Es = (R + P) x sec ( s : 2) - R
= (1900 m + 0,043 m) x sec (66 8 36 : 2) - 1900 m
= 367,385 m

Lengkung Peralihan untuk s = 45 28 6


Ls = Lh = 0,01 x h x V
= 0,01 x 40 x 110
= 44 m

s = (90 x Ls) : ( x R)

= (90 x 44) : ( x 1900)

= 0 39 48,33

c = s (2 x s)

= 45 28 6 (2 x 0 39 48,33)

= 44 8 29,34

79
Lc = ( c : 360 ) x (2 x x R)
= (44 8 29,34 : 360 ) x (2 x x 1900)

= 1.463,787 m

L = 2 x Ls + Lc
= 2 x 44 m + 1.463,787 m
= 1.551,787 m

Komponen Lengkung Peralihan


Xc = Ls ((Ls3 : (40 x R2))
= 44 m ((443 m : (40 x 19002 m))
= 44 m

Yc = Ls2 : (6 x R)
= 44 m : (6 x 1900)
= 0,170 m

P = Yc R (1 cos s)
= 0,17 m 1900 m x (1 cos 0 39 48,33)

= 0,043 m

K = Xc R sin s
= 44 m 1900 m x sin 0 39 48,33
= 22 m

Komponen Lengkung Lingkaran


Tt = Ts = (R + P) x tan ( s : 2) + K
= (1900 m + 0,043 m) x tan (45 28 6 : 2) + 22 m

= 818,137 m

Et = Es = (R + P) x sec ( s : 2) - R
= (1900 m + 0,043 m) x sec (45 28 6 : 2) - 1900 m
= 160,096 m

80
Gambar 3.1 Proyeksi Lengkung Horizontal

Gambar 3.2 Diagram Superelevasi Lengkung S-C-S

3.2.2. Alinyemen Vertikal


Lengkung Vertikal 1

0+00
0+55 2+73
14.00

11.00 11.00

V renc. = 110 km/jam

R min = 8000 meter

81
Elv . Km .0+ 000Elv . Km .0+ 550
g1 = Jarak x 100

1411
= 550 x 100

= 5,455

Elv . Km .0+ 550Elv . Km .2+737


g2 = Jarak x 100

1111
= 2.187 x 100

= 0

= | g1 g2 |

= | 5,455 0 |

= 5,455 < 10 (Tabel Landai Penentu PD.10)

L = R min. x

= 8.000 x 5,455

= 43,640 m

R min x 2
EV = 8

2
8000 x 5,455
= 8

= 0,03 m

Lengkung Vertikal 2

3+42 4+92
2+73
13.00 13.00
82
11.00

V renc. = 110 km/jam

R min = 8000 meter

Elv . Km .3+ 425Elv . Km . 2+737


g1 = Jarak x 100

1311
= 688 x 100

= 2,907

Elv . Km . 4+ 927Elv . Km .3+ 425


g2 = Jarak x 100

1513
= 1.502 x 100

= 1,332

= | g1 g2 |

= | 2,907 1,332 |

= 1,575 < 10 (Tabel Landai Penentu PD.10)

L = R min. x

= 8.000 x 1,575

= 12,6 m

2
R min x
EV = 8

83
2
8000 x 1,575
= 8

= 0,002 m

Lengkung Vertikal 3

7+62
6+42 19.00
4+92 15.00
13.00

V renc. = 110 km/jam

R min = 8000 meter

Elv . Km .6 +427Elv . Km . 4 +927


g1 = Jarak x 100

1513
= 1.500 x 100

= 1,334

Elv . Km .7+ 627Elv . Km .6 +427


g2 = Jarak x 100

1915
= 1.200 x 100

= 3,334

= | g2 g1 |

= | 3,334 1,334 |

= 2 < 10 (Tabel Landai Penentu PD.10)

84
L = R min. x

= 8.000 x 2

= 16 m

2
R min x
EV = 8

2
8000 x 2
= 8

= 0,004 m

3.3. Perhitungan Lapisan Track


A. Rel
1) Penentuan Tipe Rel
Rel dianggap sebagai suatu balok yang tidak terhingga panjangnya
dengan pembebanan beban terpusat dan ditumpu oleh struktur dengan
modulus elastisitas jalan rel (track stiffness) atau k. Persamaan dari :

Dimana :
Pd = Beban dinamis roda
P = Beban roda
= 9.000
k = Modulus elastisitas jalan rel
= Dumping faktor
Ix = Momen inersia rel pada sumbu x-x
E = Modulus elastisitas rel
= Tegangan yang terjadi
y = Jarak tepi bawah rel ke garis netral
M1 = 0,75 Mo akibat super posisi beberapa gandar

85
Tabel 3.1 Tegangan Ijin Rel Berdasarkan Kelas Jalan

Untuk kelas jalan II dengan V maksimal 110km/jam yang


menggunakan rel R.54 dan tekanan gandar 18 ton, transformasi beban
roda yang dinamis ke statis ekuivalen memakai Metode Persamaam
Talbot :
- Kelas Jalan = II
- V rencana = 137,5 km/jam
- V maksimum = 100 km/jam
- Tekanan gandar = 18 ton
- k = 180 kg/cm2
- Ix = 2364 cm4
- E = 2,1x106 kg/cm2
- Y = 7,62 mm

137,5
Pd = 9.000 + (0,01 x 9.000 ( 1,609 - 5 ))

= 16.241,112 kg

= 4 180
4 x 2,1 x 106 x 2.364

= 0,00978 cm-1

14.702,889 16.241,122
Mo = 4 x 0,00978

= 415.161,605 kg.cm

86
0,85 x 375.840,721 x 7,62
= 2.364

= 1.137.479kg/cm2 < 1.325 kg/cm2 (Syarat tegangan ijin)

Berdasarkakn perhitungan diatas, maka pada perencanan ini


digunakan rel tipe R.54.

2) Penentuan Jarak Lebar Rel


Lebar jalan rel adalah 1067 mm dan 1435 mm. Lebar jalan rel
merupakan jarak minimum kedua sisi dalam kepala rel yang diukur
pasa 0-14 mm dibawah permukaan teratas rel. Untuk perencanaan jalan
kereta api ini, lebar jalan rel yang digunakan adalah 1067 mm.
Penyimpangan lebar jalan rel untuk lebar 1067 mm yang dapat diterima
adalah +2 mm dan -0 untuk jalan rel baru.

B. Alat Penambat

Alat penambat jenis elastis terdiri dari sitem elastis tunggal dan sistem
elastis ganda. Pada perencanaan ini digunakan penambat jenis elastis
ganda. Pada bantalan beton terdiri dari shoulder linsert, cllip, insulator,
dan railpad. Pada bantalan kayu dan baja terditi dari pelat landas (base
plate), clip, tripon (screw spike) atau baut dan cincin per (lock washer).

Untuk perencanaa jalan kereta api ini digunakan penambat elastis ganda
dengan jenis penambat e-clip atau pandrol. Pandrol digunakan di Indonesia
sejak penggunaan bantalan beton. Penambat rel tipe ini merupakan suatu
batang baja dengan diameter 19 mm yang berbentuk spiral, yang salah satu
sisinya menekan kaki rel dan sisi yang lain berlindung pada suatu penahan.

C. Bantalan

Bantalan rel adalah landasan tempat rel bertumpu dan diikat menggunakan
penambat rel, oleh karena itu bantalan harus cukup kuat untuk menahan
beban kereta api yang berjalan diatas rel. Bantalan dipasang melintang rel

87
pada jarak antar as bantalan 0,6 meter. Pada perencanaan jalan kereta api
ini menggunakan bantalan beton.

1) Perhitungan Jarak Bantalan


M maks 4 k +10
L = 0,25 x P x 8 k +7

8 k +7
M = 4 k +10 x 0,25 x P x L

B
k = D
6 EI
B = a3

D = 0,5 x 0,95 x A x C
M

= W

Dimana :
Beban gandar = 18 ton
Ix = 2346 cm4
E = 2,1x106 kg/cm
L = Jatak bantalan
= 60 cm = 2a maka a = 30 cm
P = Beban roda
= 9.000 kg/cm2
B = Koefisien lentur rel
D = Koefisien bantalan
C = Koefisien balas
= pasir = 3, kerikil = 5, kricak = 8
W = 1.206,63
A = 13.000 cm2

D = 0,5 x 0,95 x 13.000 x c

= 49.400 cm2

6 EI
B = a3

= 1.094.800 kg

88
1.094 .800
k = 49.400

= 22,162 kg/cm2

(8 x 22,162)+7
M= (4 x 22,162)+10 x 0,25 x 9.000 x 60

= 252.209,472 cm

252.209,472
= 1.206,63

= 209.019 kg/cm2 < 1325 kg/cm2 (Syarat tegangan ijin)

Berdasarkakn perhitungan diatas, maka pada perencanan ini jarak antar


bantalan yang digunakan adalah 60cm.

2) Perhitungan Dimensi Bantalan

Perhitungan dipermudah dengan menganggap rel adalah suatu gelagar


yang tak terhingga panjangnya di atas suatu tumpuan elastis merata
yang tidak terhingga pula panjangnya. Sehingga beban merata pasa tepi
bawah rel yang membebani bantalan menjadi :

Gambar 3.3 Pembebanan Merata Pada Tepi Bawah Rel

89
Untuk perencanaan jalan KA ini menggunakan bantalan beton dengan
baja prategang sebanyak 18 buah dengan diameter pada saat kondisi
5,08 mm dan tegangan putus 16.000kg/cm2.

Pada kondisi transfer = 70% kapasitas maksimum :

Pintial = 18 x 2.270,24 kg
= 40.864,32 kg

Pefektif = 18 x 1.783,76 kg

= 32.107,68 kg

Perhitungan dimensi bantalan untuk rel R.54 kelas jalan II dengan jarak
antar bantalan 60 cm adalah :

Gambar 3.4 Penampang Bantalan Beton


Luas Penampang Bantalan
A1 = (203 + 253) x (200 : 2)

90
= 45.600 mm2
= 456 cm2
A2 = (205 + 253) x (200 : 2)
= 40.075 mm2
= 400,75 cm2

Inersia Penampang Bantalan


I1 = 15.139,09 cm4
I2 = 10.190,02 cm4

Penampang Bawah Rel


Y1 (a) = Letak garis netral dari sisi atas = 10,368 cm
Y1 (b) = Letak garis netral dari sisi bawah = 9,64 cm
W1 (a) = Momen tahanan sisi atas = 1.460,6 cm
W1 (b) = Momen tahanan sisi atas = 1.571,26 cm

Penampang tengah Bantalan


Y2 (a) = Letak garis netral dari sisi atas = 9,055 cm
Y2 (b) = Letak garis netral dari sisi bawah = 8,445 cm
W2 (a) = Momen tahanan sisi atas = 1.125,35 cm
W2 (b) = Momen tahanan sisi atas = 1.206,63 cm

E = 6.400 500 = 143.108,4 kg/cm2

Harga :
Untuk daerah di bawah rel :

=
4 180
4 x 143.108,4 x 15.139,09

= 0,012 cm-1

Untuk daerah di tengah rel :

=
4 180
4 x 143.108,4 x 10.190,02

= 0,013 cm-1

91
Momen daerah di bawah rel

60 x 16.940,3
M= 4 x 0,012( 5,466+0,675) x [2,64 (0,25 + 5,56) 1,47 (2

0,74) -
1,3 (0,97 + 5,466) - 0,88 (0,023 + 1,675)]

= 125.002,642 kg.cm

Analisis Tegangan :
Tahap Pratekan Awal
- Bawah Rel
Sisi atas :

40.864,32 40.864,32 x 0,135


= 456 - 1.460,46

= 85,84 kg/cm2 < 200 kg/cm2

Sisi bawah :

40.864,32 40.864,32 x 0,135


= 456 + 1.571,26

= 93,12 kg/cm2 < 200 kg/cm2

- Tengah Bantalan Rel


Sisi atas :

40.864,32 40.864,32 x 1,055


= 400,75 + 1.125,35

92
= 140,28 kg/cm2 < 200 kg/cm2

Sisi bawah :

40.864,32 40.864,32 x 1,055


= 400,75 - 1.206,63

= 66,24 kg/cm2 < 200 kg/cm2

Kondisi tegangan tahap pratekan awal untuk bagian bawah rel

Kondisi tegangan tahap pratekan awal untuk bagian tengah


bantalan rel

Tahap Pratekan Efektif


- Bawah Rel
Sisi atas :

= 89,615 3,777 + 8,680

= 74,132 kg/cm2 < 200 kg/cm2

Sisi bawah :

= 89,615 + 3,511 8,095

93
= 73,869 kg/cm2 < 200 kg/cm2

- Tengah Bantalan Rel


Sisi atas :

= 89,615 + 3,831 8,680

= 84,766 kg/cm2 < 200 kg/cm2

Sisi bawah :

= 89,615 3,573 + 8,095

= 94,137 kg/cm2 < 200 kg/cm2

Kondisi tegangan tahap pratekan efektif untuk bagian bawah rel

74,132

73,869

Kondisi tegangan tahap pratekan efektif untuk bagian tengah


bantalan rel

84,766

94,137

Catatan : Tegangan Tarik (+)


Tegangan Tekan (-)

94
D. Balas
Untuk menentukan tebal balas dapat dihitung menggunakan cara yang
mengacu pada PD 10, diantaranya adalah sebagai berikut :
53,87 x 1
2
= d 1,25
53,87 x 1
d 1,25
= 2

Dimana :
d = Tebal balas (cm)
1 = Tekanan pada permukaan badan jalan (kg/cm2)
= 63,659 kg/cm2
2 = Tekanan di bawah bantalan (kg/cm2)
= 66,241 kg/cm2

Dihitung menggunakan rumus Beam Elastic Foundation

53,87 x 63,659
d1,25 = 66,241

= 23,511 cm

Atau dapat ditentukan dengan cara lain menurut tabel British Regulation ,
dengan tonase (T) = 19.502.208 ton/tahun dan kecepatan 110 km/jam
maka dapat diperoleh tebal balas = 23 cm. Pada perencanaan ini
menggunakan acuan Peraturan Dinas No. 10 Tahun 1986, tebal minimum
balas adalah 30 cm.

E. Subbalas
Lapisan subbalas berfungsi sebagai lapisan penyaring antara tanah dasar
dan lapisan balas. Subbalas harus dapat mengalirkan air dengan baik.
Menurut Peraturan Mentri No. 60 Tahun 2012 tebal mimimum subbalas
adalah 15 cm.

F. Badan Jalan
Pada perencanaan ini ukuran badan jalan yang digunakan ditentukan
menurut tabel 3.3.

95
Gambar 3.5 Penampang Melintang Jalan Rel pada Bagian Lurus

Gambar 3.6 Penampang Melintang Jalan Rel pada Bagian Lengkung

Tabel 3.2 Penampang Melintang Jalan Rel

G. Drainase

96
Drainase atau pematusan terdiri dari 3 macam. Pada perencanaan ini
digunakan pematusan permukaan (surface drainage) dengan pematusan
memanjang (side-ditch) saluran terbuka.

1
Q1 = 3,6 x C x I x A1

Q2 > 1,20 Q1

Q2 = V2 x A2

Dimana :

Q1 = Debit air yang dibuang (m3/ det)

Q2 = Debit air rencana saluran

V2 = Kecepatan aliran rencana dalam saluran (m/ det),


besarnya harus masuk dalam herga batasnya.

A1 = Luas daerah pengaliran air yang akan menyerang jalan rel, atau air
yang harus dibuang, besarnya ditentukan berdasarkan peta
topografinya yang terbarupengukuran luas bisa dengan alat
planimeter.

A2 = Luas penampang basah saluran rencana (m)

C = Koefisiensi aliran bergantung pada kondisi permukaan tanah


(terrain) setempat dan tata gunanya.

= 0,5 (daerah pemukiman)

I = Intensitas hujan rata-rata maksimum yang lamanya sama dengan


lama waktu konsentrasi dengan masa ulang tertentu dinyatakan
dalam satuan mm/jam
= 38,79 (intensitas 5 tahun terakhir, sumber PSDA)

97
Gambar 3.8 Kondisi Sekitar Jalan KA

Gambar 3.9 Penampang Drainase

A1 = 0,00575 x 7,627
= 0,044 km2
A2 = 0,01 x 7,627
= 0,076 km2
C1 = C2 = 0,5

1
Q1 = 3,6 ((C1 x I x A1) + (C2 x I x A2))

1
= 3,6 ((0,5 x 38,79 x 0,044 ) + (0,5 x 38,79 x 0,076 ))

= 0,646 m3/det

98
Q2 = 1,2 x Q1

= 1,2 x 0,646

= 0,775

A = Q2 : V

= 0,775 : 1,2

= 0,646 m2

H
B+(B+ 2 x )
A = 2 xH
2

2A = 2BH + H2

1,292 = H + H2

Rumus ABC

H1 = 0,74 m = 74 cm ~ 75 cm
H2 = -1,74 m = 174 cm
Dipilih H1 = 60 cm

99