Anda di halaman 1dari 16

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

KEPANITERAAN KLINIK KOMPREHENSIF


LAPORAN KASUS

I. PASIEN
1. Identitas pasien
a. Nama : Nn. I
b. Umur : 17 Tahun
c. Jenis kelamin : Perempuan
d. Pekerjaan : Pelajar
e. Alamat : RT.12 Olak Kemang

2. Latar Belakang sosial-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga


a. Status perkawinan : Belum Menikah
b. Jumlah anak :-
c. Status ekonomi keluarga : cukup
- Mampu :-
- Miskin :-
d. KB :-
e. Kondisi Rumah :
Pasien tinggal di rumah semi permanen yang beratap seng dan berlantai.
Terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, 3 kamar tidur, dapur dan kamar
mandi. Ventilasi rumah baik, dan pencahayaan juga baik. Sumber air pasien
dan kelurga menggunakan PDAM
Rumah tersebut di huni oleh 6 orang, yang terdiri dari pasien, ibu pasien, adik
pasien, nenek, kakek, dan paman pasien.
f. Kondisi Lingkungan keluarga :
Pasien tinggal di lingkungan padat penduduk. Di sekitar rumah pasien
terkesan kurang bersih, hal ini terlihat dari banyaknya selokan di sekitar
rumah dan sampah yang berserakan di sekitar rumah.

3. Aspek Psikologis keluarga :


Hubungan dengan anggota keluarga baik. Faktor stress dalam keluarga tidak ada.
4. Riwayat Penyakit sebelumnya :
Pasien belum pernah menderita keluhan seperti ini sebelumnya. Riwayat alergi
tidak ada.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ditemukankeluhan yang sama dengan pasien di dalam keluarga.
5. Riwayat Penyakit Sekarang :
Keluhan utama : Demam sejak 4hari ini tidak turun-turun.

1
Riwayat Perjalanan Penyakit :
4 hari ini pasien mengeluh demam yang tidak turun-turun, pasien sudah
meminum obat dari dokter umum tetapi panasnya tidak juga turun. Selain panas,
pasien juga batuk pilek. Batuk pilek muncul sejak 5 hari yang lalu, batuknya tidak
berdahak pilek disertai lendir encer, bening dan tidak ada darah.

Pasien juga mengeluh timbul bercak-bercak kemerahan di badannya dan


terasa gatal. 2 hari ini bercak kemerahan tersebut bertambah banyak dan
hampir mengenai seluruh badan pasien hingga wajah pasien, dan demampun
semakin tinggi. Pasien mengaku sebelumnya tidak pernah mengalami gatal-gatal
seperti ini, dan pasien juga mengaku tidak ada memiliki riwayat alergi.
Untuk riwayat imunisasi menurut pengakuan ibu, ibu pasien lupa bahwa pasien
sudah di imunisasi campak atau belum.
6. Pemeriksaan Fisik

Status Present:
Kondisi umum : sedang
Kesadaran : compos mentis
GCS : E4V5M6
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 88 x/mnt
Respirasi : 22 x/mnt
Suhu aksila : 37,4 C
TB : 145 cm
BB : 40kg
Gizi : cukup

Status General:

Mata : anemia -/-, hiperemis +/+, ikterus -/-, reflek pupil +/+ isokor,oedem
palpebra-/-.
THT :

Telinga : sekret -/-, kotoran telinga -/-


Hidung : sekret -/-, kongesti -/-
Tenggorokan : tonsil T1/T1, faring hiperemis -/-, lidahnormal,
bibir normal
Leher : JVP tidak meningkat, pembesaran kelenjar -, kaku kuduk -

2
Thorax :
Cor
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordisteraba di ICS V midclavicula sinistra
Perkusi : batas kiri : 3 jari lateral MCL (sinistra) ICS V
batas kanan : 1 jari lateral PSL (dextra) ICS V
batas atas : ICS II
Auskultasi : S1 S2 tunggal, regular, murmur (-)
Pulmo
Inspeksi : gerak pernafasan simetris, statis dan dinamis
Palpasi : vokal fremitus N/N
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : vesikuler +/+, rhonki +/+wheezing -/-.
Abdomen
Inspeksi : distensi (-), denyut epigastrium (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Palpasi :hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (+) pada kuadran
kanan bawah, ballottement -/-
Perkusi : shifting dullness (-)
nyeri Ketok CVA( )
Ekstremitas : akral hangat +/+, edema -/-

Status Lokalis :

Efloresensi primer : Ruam makula-papular eritematous pada wajah,leher,


ekstremitas, dan badan (+).

7. Usulan pemeriksaan
Pemeriksaan antibodi immunoglobulin G (IgG) and M (IgM) untuk morbili
8. Diagnosa Kerja
Morbili Virus

3
9. Diagnosa Banding
Erupsi obat
Rubella
10. Manajemen :
a. Promotif
Minum banyak air putih dan makan makanan yang bergizi
Jika demam turun, mandi untuk mengurang rasa gatal-gatal. Kalau tidak
dimandikan dkhawatirkan keringat yang melekat pada tubuh anak
menimbulkan rasa lengket dan gatal yang mendorongnya menggaruk kulit
dengan tangan yang tidak bersih dan terjadi infeksi. Sebaiknya campurkan
larutan antiseptic (dettol, betadine,) pada air mandi.
Diberitahukan ke ibu agar pemakaian handuk dan pakaian yang mungkin
muat bagi adiknya tidak dipakai bersama sama untuk sementara
Istirahat dan makan-makanan bergizi dan hindari makanan yang bisa
merangsang timbulnya batuk seperti gorengan.
Jagalah kebersihan dan sanitasi lingkungan.
b. Preventif
Terapi suportif seperti istrahat yang cukup dapat mempercepat
kesembuhanpasien.
Perbaikannutrisidenganmakanmakananyangsehat.
c. Kuratif
- Non farmakologi
Tirah Baring
- Farmakologi
Obat yang diberikan di puskesmas :
Paracetamol 3 x 500 mg
Ctm 3x1 tab
GG 3x1 tab
Vit B complex 3x1 tab
Vit A (merah)
Salicil talk
Obat Tradisional :
Bahan-bahan :
200 gram wortel, 60 gram sawi tanah segar,15 gram daun ketumbar, 150
gram tebu
Cara pemakaian :
Semua bahan di cuci bersih, kemudian di potong-potong dan di buat jus,
minum 2 kali sehari.

4
d. Rehabilitasi
a. Minum obat sesuai anjuran.
b. Meningkatkan makanan bergizi agar kekebalan tubuh meningkat
Dinas Kesehatan Kota Jambi Obat
Puskesmas Olak kemang
dr. Dwi Widya SIP. G1A215037 STR 016/47/2016 yang di
berikan
Tanggal : 16 Februari 2017
di
R/ Paracetamol mg 500 tab No. IX
S 3 dd tab 1
R/ CTM tab No IX
S 3 dd tab 1
R/ Vit B Complex tab No IX
S 3 dd tab 1
R/ Vit A (merah) No IX
S 3 dd tab 1

Pro : Nn. I Umur : 17 Tahun


Resep tidak boleh di tukar tanpa sepengetahuan dokter
puskesmas

5
BAB II
Tinjauan Pustaka

1. Definisi

Campak atau morbili adalah suatu infeksi virus akut yang memiliki 3 stadium
yaitu (1)Stadium inkubasi yang berkisar antara 10 sampai 12 hari setelah pajanan
pertama terhadap virus dan dapat disertai gejala minimal maupun tidak bergejala,
(2)Stadium prodromal yang menunjukkan gejala demam, konjungtivitis, pilek, dan
batuk yang meningkat serta ditemukannya enantem pada mukosa (bercak Koplik), dan
(3)Stadium erupsi yang ditandai dengan keluarnya ruam makulopapular yang didahului
dengan meningkatnya suhu badan.1

Transmisi campak terjadi melalui udara, kontak langsung maupun melalui


droplet dari penderita saat gejala yang ada minimal bahkan tidak bergejala. Penderita
masih dapat menularkan penyakitnya mulai hari ke-7 setelah terpajan hingga 5 hari
setelah ruam muncul. Biasanya seseorang akan mendapat kekebalan seumur hidup bila
telah sekali terinfeksi oleh campak.2

2. Etiologi

Virus campak merupakan virus RNA famili paramyxoviridae dengan genus


Morbili virus. Sampai saat ini hanya diketahui 1 tipe antigenik yang mirip dengan virus
Parainfluenza dan Mumps. Virus bisa ditemukan pada sekret nasofaring, darah dan urin
paling tidak selama masa prodromal hingga beberapa saat setelah ruam muncul. Virus
campak adalah organisme yang tidak memiliki daya tahan tinggi apabila berada di luar
tubuh manusia. Pada temperatur kamar selama 3-5 hari virus kehilangan 60% sifat
infektifitasnya. Virus tetap aktif minimal 34 jam pada temperatur kamar, 15 minggu di

6
dalam pengawetan beku, minimal 4 minggu dalam temperatur 35C, beberapa hari pada
suhu 0C, dan tidak aktif pada pH rendah.3

3. Patologi

Lesi pada campak terutama terdapat pada kulit, membran mukosa nasofaring,
bronkus, saluran pencernaan, dan konjungtiva. Di sekitar kapiler terdapat eksudat serosa
dan proliferasi dari sel mononuklear dan beberapa sel polimorfonuklear. Karakteristik
patologi dari Campak ialah terdapatnya distribusi yang luas dari sel raksasa berinti
banyak yang merupakan hasil dari penggabungan sel. Dua tipe utama dari sel raksasa
yang muncul adalah (1) sel Warthin-Findkeley yang ditemukan pada sistem
retikuloendotel (adenoid, tonsil, appendiks, limpa dan timus) dan (2) sel epitel raksasa
yang muncul terutama pada epitel saluran nafas. Lesi di daerah kulit terutama terdapat
di sekitar kelenjar sebasea dan folikel rambut. Terdapat reaksi radang umum pada
daerah bukal dan mukosa faring yang meluas hingga ke jaringan limfoid dan membran
mukosa trakeibronkial. Pneumonitis intersisial karena virus campak menyebabkan
terbentuknya sel raksasa dari Hecht. Bronkopneumonia yang terjadi mungkin
disebabkan infeksi sekunder oleh bakteri.4

Pada kasus encefalomyelitis terdapat demyelinisasi vaskuler dari area di otak


dan medula spinalis. Terdapat degenerasi dari korteks dan subsdtansia alba dengan
inclusion body intranuklear dan intrasitoplasmik pada subacute sclerosing
panencephalitis.1

4. Patogenesis

Campak merupakan infeksi virus yang sangat menular, dengan sedikit virus
yang infeksius sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang. Lokasi utama infeksi
virus campak adalah epitel saluran nafas nasofaring. Infeksi virus pertama pada saluran
nafas sangat minimal. Kejadian yang lebih penting adalah penyebaran pertama virus
campak ke jaringan limfatik regional yang menyebabkan terjadinya viremia primer.
Setelah viremia primer, terjadi multiplikasi ekstensif dari virus campak yang terjadi

7
pada jaringan limfatik regional maupun jaringan limfatik yang lebih jauh. Multiplikasi
virus campak juga terjadi di lokasi pertama infeksi.

Selama lima hingga tujuh hari infeksi terjadi viremia sekunder yang ekstensif
dan menyebabkan terjadinya infeksi campak secara umum. Kulit, konjungtiva, dan
saluran nafas adalah tempat yang jelas terkena infeksi, tetapi organ lainnya dapat
terinfeksi pula. Dari hari ke-11 hingga 14 infeksi, kandungan virus dalam darah, saluran
nafas, dan organ lain mencapai puncaknya dan kemudian jumlahnya menurun secara
cepat dalam waktu 2 hingga 3 hari. Selama infeksi virus campak akan bereplikasi di
dalam sel endotel, sel epitel, monosit, dan makrofag.4

Daerah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernafasan memberikan


kesempatan serangan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media,
dan lainnya. Dalam keadaan tertentu, adenovirus dan herpes virus pneumonia dapat
terjadi pada kasus campak.5

Tabel 1. Patogenesis infeksi campak tanpa penyulit

Hari Manifestasi

0 Virus campak dalam droplet kontak dengan permukaan epitel nasofaring


atau kemungkinan konjungtiva

Infeksi pada sel epitel dan multiplikasi virus

1-2 Penyebaran infeksi ke jaringan limfatik regional

2-3 Viremia primer

3-5 Multiplikasi virus campak pada epitel saluran nafas di tempat infeksi
pertama, dan pada RES regional maupun daerah yang jauh

8
5-7 Viremia sekunder

7-11 Manifestasi pada kulit dan tempat lain yang bervirus, termasuk saluran
nafas

11-14 Virus pada darah, saluran nafas dan organ lain

15-17 Viremia berkurang lalu hilang, virus pada organ menghilang

Sumber :Feigin et al.2004.Textbook of Pediatric Infectious Diseases5th edition

5. Manifestasi klinis

Stadium inkubasi

Masa inkubasi campak berlangsung kira-kira 10 hari (8 hingga 12 hari).


Walaupun pada masa ini terjadi viremia dan reaksi imunologi yang ekstensif, penderita
tidak menampakkan gejala sakit.

Stadium prodromal

Manifestasi klinis campak biasanya baru mulai tampak pada stadium prodromal
yang berlangsung selama 2 hingga 4 hari. Biasanya terdiri dari gejala klinik khas berupa
batuk, pilek dan konjungtivitis, juga demam. Inflamasi konjungtiva dan fotofobia dapat
menjadi petunjuk sebelum munculnya bercak Koplik. Garis melintang kemerahan yang
terdapat pada konjungtuva dapat menjadi penunjang diagnosis pada stadium prodromal.
Garis tersebut akan menghilang bila seluruh bagian konjungtiva telah terkena radang

Koplik spot yang merupakan tanda patognomonik untuk campak muncul pada
hari ke-101 infeksi. Koplik spot adalah suatu bintik putih keabuan sebesar butiran
pasir dengan areola tipis berwarna kemerahan dan biasanya bersifat hemoragik.
Tersering ditemukan pada mukosa bukal di depan gigi geraham bawah tetapi dapat juga

9
ditemukan pada bagian lain dari rongga mulut seperti palatum, juga di bagian tengah
bibir bawah dan karunkula lakrimalis. Muncul 1 2 hari sebelum timbulnya ruam dan
menghilang dengan cepat yaitu sekitar 12-18 jam kemudian. Pada akhir masa
prodromal, dinding posterior faring biasanya menjadi hiperemis dan penderita akan
mengeluhkan nyeri tenggorokkan.

Stadium erupsi

Pada campak yang tipikal, ruam akan muncul sekitar hari ke-14 infeksi yaitu
pada saat stadium erupsi. Ruam muncul pada saat puncak gejala gangguan pernafasan
dan saat suhu berkisar 39,5C. Ruam pertama kali muncul sebagai makula yang tidak
terlalu tampak jelas di lateral atas leher, belakang telinga, dan garis batas rambut.
Kemudian ruam menjadi makulopapular dan menyebar ke seluruh wajah, leher, lengan
atas dan dada bagian atas pada 24 jam pertama. Kemudian ruam akan menjalar ke
punggung, abdomen, seluruh tangan, paha dan terakhir kaki, yaitu sekitar hari ke-2 atau
3 munculnya ruam. Saat ruam muncul di kaki, ruam pada wajah akan menghilang
diikuti oleh bagian tubuh lainnya sesuai dengan urutan munculnya.1

Saat awal ruam muncul akan tampak berwarna kemerahan yang akan tampak
memutih dengan penekanan. Saat ruam mulai menghilang akan tampak berwarna
kecokelatan yang tidak memudar bila ditekan. Seiring dengan masa penyembuhan maka
muncullah deskuamasi kecokelatan pada area konfluensi. Beratnya penyakit berbanding
lurus dengan gambaran ruam yang muncul. Pada infeksi campak yang berat, ruam dapat
muncul hingga menutupi seluruh bagian kulit, termasuk telapak tangan dan kaki. Wajah
penderita juga menjadi bengkak sehingga sulit dikenali.1

6. Diagnosis

Diagnosis campak biasanya cukup ditegakkan berdasarkan gejala klinis.


Pemeriksaan laboratorium jarang dilakukan. Pada stadium prodromal dapat ditemukan
sel raksasa berinti banyak dari apusan mukosa hidung. Serum antibodi dari virus
campak dapat dilihat dengan pemeriksaan Hemagglutination-inhibition (HI),
complement fixation (CF), neutralization, immune precipitation, hemolysin inhibition,

10
ELISA, serologi IgM-IgG, dan fluorescent antibody (FA). Pemeriksaan HI dilakukan
dengan menggunakan dua sampel yaitu serum akut pada masa prodromal dan serum
sekunder pada 7 10 hari setelah pengambilan sampel serum akut. Hasil dikatakan
positif bila terdapat peningkatan titer sebanyak 4x atau lebih.4Serum IgM merupakan tes
yang berguna pada saat munculnya ruam. Serum IgM akan menurun dalam waktu
sekitar 9 minggu, sedangkan serum IgG akan menetap kadarnya seumur hidup. Pada
pemeriksaan darah tepi, jumlah sel darah putih cenderung menurun. Pungsi lumbal
dilakukan bila terdapat penyulit encephalitis dan didapatkan peningkatan protein,
peningkatan ringan jumlah limfosit sedangkan kadar glukosa normal.1

7. Diagnosis Banding

Diagnosis banding morbili diantaranya :

1. Roseola infantum. Pada Roseola infantum, ruam muncul saat demam telah
menghilang.

2. Rubella. Ruam berwarna merah muda dan timbul lebih cepat dari campak. Gejala
yang timbul tidak seberat campak.

3. Alergi obat. Didapatkan riwayat penggunaan obat tidak lama sebelum ruam
muncul dan biasanya tidak disertai gejala prodromal.

4. Demam skarlatina. Ruam bersifat papular, difus terutama di abdomen. Tanda


patognomonik berupa lidah berwarna merah stroberi serta tonsilitis eksudativa
atau membranosa.5

Campak yang termodifikasi

Penyakit campak yang termodifikasi muncul pada orang yang hanya memiliki
setengah daya tahan terhadap campak. Hal tersebut dapat diakibatkan riwayat
penggunaan serum globulin maupun pada anak usia kurang dari 9 bulan karena masih
terdapatnya antibodi campak transplasental dari ibu. Ditandai dengan gejala penyakit
yang lebih ringan. Stadium prodromal akan menjadi lebih pendek. Batuk, pilek dan

11
demam lebih ringan. Bercak Koplik lebih sedikit dan kurang jelas, namun dapat juga
tidak muncul sama sekali. Ruam yang muncul sama dengan infeksi campak klasik,
tetapi tidak bersifat konfluens. Pada beberapa orang, infeksi campak yang termodifikasi
ini dapat tidak memberikan gejala apapun.4

Campak atipikal

Didefinisikan sebagai sindroma klinik yang muncul pada orang yang


sebelumnya telah kebal akibat terpajan pada infeksi campak alamiah. Biasanya muncul
pada orang yang telah mendapat vaksin dari virus campak yang dimatikan

Masa inkubasi dari campak atipikal sama seperti pada campak yang tipikal yaitu
sekitar 7 hingga 14 hari. Stadium prodromal ditandai dengan demam tinggi yang
mendadak (39,5C sampai 40,6C) dan biasanya sakit kepala. Bisa juga didapatkan
gejala nyeri perut, mialgia, batuk non-produktif, muntah, nyeri dada dan rasa lemah.
Bercak Koplik jarang ditemui. Dua atau tiga hari setelah onset penyakit muncullah ruam
yang dimulai dari distal ekstremitas dan menyebar ke arah kepala. Ruam sedikit
berwarna kekuningan, terlihat jelas pada pergelangan tangan dan kaki serta terdapat
juga pada telapak tangan dan kaki. Ruam dapat berbentuk vesikel dan terasa gatal. Pada
campak atipikal dapat muncul efusi pleura, sesak nafas, hepatosplenomegali,
hiperestesia, rasa lemah maupun paresthesia. Diagnosis dari campak atipikal dapat
ditegakkan melalui tes serologis. Bila sampel serum awal diambil sebelum atau pada
saat onset ruam, CF dan titer HI biasanya kurang dari 1:5. Pada hari ke-10 infeksi kedua
titer akan meningkat mencapai 1:1280 atau lebih. Pada campak yang tipikal, di hari ke-
10 infeksi titer jarang melebihi 1:160.4

Imunisasi

Imunisasi campak terdiri dari Imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif dapat
berasal dari virus hidup yang dilemahkan maupun virus yang dimatikan. Vaksin dari
virus yang dilemahkan akan memberi proteksi dalam jangka waktu yang lama dan
protektif meskipun antibodi yang terbentuk hanya 20% dari antibodi yang terbentuk
karena infeksi alamiah. Pemberian secara sub kutan dengan dosis 0,5ml. Vaksin tersebut

12
sensitif terhadap cahaya dan panas, juga harus disimpan pada suhu 4C, sehingga harus
digunakan secepatnya bila telah dikeluarkan dari lemari pendingin.

Vaksin dari virus yang dimatikan tidak dianjurkan dan saat ini tidak digunakan
lagi. Respon antibodi yang terbentuk buruk, tidak tahan lama dan tidak dapat
merangsang pengeluaran IgA sekretori.

Indikasi kontra pemberian imunisasi campak berlaku bagi mereka yang sedang
menderita demam tinggi, sedang mendapat terapi imunosupresi, hamil, memiliki
riwayat alergi, sedang memperoleh pengobatan imunoglobulin atau bahan-bahan berasal
dari darah .6

Imunisasi pasif digunakan untuk pencegahan dan meringankan morbili. Dosis


serum dewasa 0,25 ml/kgBB yang diberikan maksimal 5 hari setelah terinfeksi, tetapi
semakin cepat semakin baik. Bila diberikan pada hari ke 9 atau 10 hanya akan sedikit
mengurangi gejala dan demam dapat muncul meskipun tidak terlalu berat.

Penatalaksanaan

Pengobatan bersifat suportif dan simptomatis, terdiri dari istirahat, pemberian


cairan yang cukup, suplemen nutrisi, antibiotik diberikan bila terjadi infeksi sekunder,
anti konvulsi apabila terjadi kejang, antipiretik bila demam, dan vitamin A 100.000 Unit
untuk anak usia 6 bulan hingga 1 tahun dan 200.000 Unit untuk anak usia >1 tahun.
Vitamin A diberikan untuk membantu pertumbuhan epitel saluran nafas yang rusak,
menurunkan morbiditas campak juga berguna untuk meningkatkan titer IgG dan jumlah
limfosit total.4

Indikasi rawat inap bila hiperpireksia (suhu >39,5C), dehidrasi, kejang, asupan
oral sulit atau adanya penyulit. Pengobatan dengan penyulit disesuaikan dengan
penyulit yang timbul.6

Pencegahan

13
Pencegahan terutama dengan melakukan imunisasi campak. Imunisasi Campak
di Indonesia termasuk Imunisasi dasar yang wajib diberikan terhadap anak usia 9 bulan
dengan ulangan saat anak berusia 6 tahun dan termasuk ke dalam program
pengembangan imunisasi (PPI). Imunisasi campak dapat pula diberikan bersama
Mumps dan Rubela (MMR) pada usia 12-15 bulan. Anak yang telah mendapat MMR
tidak perlu mendapat imunisasi campak ulangan pada usia 6 tahun. Pencegahan dengan
cara isolasi penderita kurang bermakna karena transmisi telah terjadi sebelum penyakit
disadari dan didiagnosis sebagai campak.6

Prognosis

Campak merupakan penyakit self limiting sehingga bila tanpa disertai dengan
penyulit maka prognosisnya baik.2

II. ANALISA KASUS


a. Hubungan Diagnosis dengan keadaan Rumah dan Lingkungan Sekitar
Pasien tinggal di rumah semi permanen. Rumah tersebut di huni oleh 6
orang yang terdiri dari pasien, ibu, adik pasien, nenek, kakek, dan paman pasien.
Keadaan rumah pasien, untuk pencahayaan bagus, dan ventilasi juga banyak.
Rumah terkesan bersih.
Tetapi pada kasus ini tidak ada hubungan antara diagnosis dengan keadaan
rumah dan lingkungan sekitar pasien.

b. Hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga.


Tidak ada hubungan antara penyakit yang diderita pasien dengan keadaan
keadaan keluarga dan hubungan keluarga.

c. Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga dan lingkungan


sekitar.
Perilaku kesehatan dalam keluarga dan lingkungan sekitar pasien terkesan cukup
baik. Sehingga dalam kasus ini tidak ada hubungan antara diagnosis dengan
perilaku kesehatan dalam keluarga dan lingkungan sekitar.

d. Analisis kemungkinan berbagai faktor resiko atau etiologi penyakit pada pasien
ini.

14
Penyebaran virus maksimal adalah melalui percikan ludah (droplet) dari mulut
selama masa prodormal (stadium kataral). Penularan terhadap penderita rentan
sering terjadi sebelum diagnosis kasus aslinya. Orang yang terinfeksi menjadi
menular pada hari ke 9-10 sesudah pemajanan, pada beberapa keadaan dapat
menularkan hari ke 7.
Pada kasus ini dapat disimpulkan bahwa kemungkinan faktor yang
menyebabkan pasien menderita campak karena ada tetangganya atau dari teman
yang menderita keluhan yang sama seperti pasien.

e. Analisis untuk mengurangi paparan/memutuskan rantai penularan dengan faktor


resiko atau etiologi pada pasien ini.
Pasien dan keluarga kita edukasi agar pasien diisolasikan karena penyakit
campak mudah menular misalnya peralatan makan dan peralatan mandi
yang berisiko menularkan virus lewat kontak langsung
Jika demam turun, mandi untuk mengurang rasa gatal-gatal. Kalau tidak
dimandikan dkhawatirkan keringat yang melekat pada tubuh anak
menimbulkan rasa lengket dan gatal yang mendorongnya menggaruk kulit
dengan tangan yang tidak bersih dan terjadi infeksi. Sebaiknya campurkan
larutan antiseptik (dettol, betadine) pada air mandi.
Istirahat dan makan-makanan bergizi dan hindari makanan yang bisa
merangsang timbulnya batuk seperti gorengan
Jagalah kebersihan dan sanitasi lingkungan
Hindari kontak langsung dengan penderita campak

15
III. LAMPIRAN

16