Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang
permesinan, dibutuhkan tenaga terampil untuk mengoprasikan maupun merawat
mesin sekaligus peralatan dari mesin tersebut. Banyak mahasiswa maupun
seorang sarjana yang baru lulus dari perguruan tinggi terkadang tidak dapat
mengoprasikan maupun merawat mesin serta peralatan mesin tersebut. Mereka
cenderung lebih menguasai teori daripada praktek kerja mesin tersebut.
Sedangkan di era globalisasi sekarang ini dibutuhkan tenaga kerja yang bukan
hanya mengerti teori suatu mesin melainkan tenaga kerja tersebut dituntut untuk
mengoperasikan maupun merawat mesin serta peralatan mesin tersebut.
Terkadang ada juga beberapa diantara mereka yang dapat mengoperasikan serta
merawat mesin dan peralatan mesin tersebut tetapi mereka lemah terhadap
pendalaman teori dan mesin tersebut.
Apabila hal ini sampai terjadi maka akan lebih banyak lagi sarjana kita
yang tidak akan mendapat pekerjaan karena kalah bersaing dengan tenaga ahli
asing yang datang dari luar negeri dan bekerja di dalam negeri. Tenaga ahli itu
sudah membekali diri mereka dengan beberapa keahlian baik berupa pendalaman
teori pemesinan, mengoperasikan maupun merawat mesin serta peralatan mesin
tersebut. Kemudian apabila hal ini tidak ditanggapi dengan serius maka, tidaklah
mustahil tenaga kerja dari negara kita akan menjadi tamu yang terasing di
negaranya sendiri.
Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut, maka perguruan tinggi wajib
memberikan bekal teori permesinan yang cukup kepada mahasiswanya. Selain itu
perguruan tinggi juga harus mengadakan praktikum kerja mesin dalam
perkuliahan yang merupakan salah satu cara untuk membentuk skill dan
mengembangkan sikap professional sebelum mahasiswa terjun langsung kedalam
dunia pekerjaa. Dari praktikum kerja mesin inilah diharapkan mahasiswa
mendapatkan bekal keterampilan sehingga mampu berpikir kreatif dan dinamis
dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapat selama perkuliahan serta
dapat memecahkan berbagai persoalan yang mereka hadapi di dunia kerja secara
efektif dan efisien.
1
Selain itu, dalam laporan praktikum kerja mesin ini, kami akan
memaparkan beberapa prinsip kerja yang terdapat didalam pengoperasian mesin
produksi yang ada di Universitas Pancasila. Dengan memiliki pemahaman dasar
tantang prinsip kerja mesin, diharapkan seorang operator ataupun teknisi dapat
mengoperasikan sekaligus memecahkan beberapa persoalan yang dihadapi dalam
praktik kerja mesin sehingga dapat memanfaatkan waktu, tenaga, dan pikiran
sebaik-baiknya.

1. 2 Tujuan
Proses bubut atau berbagai proses permesinan lainnya yang sering juga
disebut dengan istilah machining tentunya sudah sering kita dengar. Hanya saja
proses dan penggunaannya tidak semua orang mampu mengoperasikannya.
Adapun beberapa jenis yang umum kita kenal adalah istilah mesin bubut, mesin
milling, mesin grinding dan lain sebagainya.
Untuk laporan kali ini kami menggunakan mesin bubut dan mesin milling
dengan Tujuan yang ingin dicapai antara lain:
1. Mampu mengoperasikan mesin bubut secara baik dan benar.
2. Mampu mengoperasikan mesin milling dan membuat hexagon.
3. Menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan.
4. Mengetahui urutan atau cara untuk pembuatan produk dari material yang
belum jadi menjadi produk baru sesuai desain.

1.3 Batasan Masalah


Pada pembuatan laporan ini, pembahasan yang diuraikan hanya
menyangkut beberapa hal seperti dibawah ini:
1. Mampu membubut benda silinder baik horizontal dan vertical
2. Mampu membuat benda tirus
3. Mampu membuat ulir pada benda kerja.
4. Mampu membuat hexagon

BAB II
LANDASAN TEORI
2
2.1 MESIN BUBUT
2.1.1 Pengertian Mesin Bubut
Mesin bubut (turning machine) adalah suatu jenis mesin perkakas yang
dalam proses kerjanya bergerak memutar benda kerja dan menggunakan mata
potong pahat (tools) sebagai alat untuk menyayat benda kerja tersebut. Mesin
bubut merupakan salah satu mesin proses produksi yang dipakai untuk
membentuk benda kerja yang berbentuk silindris. Pada prosesnya benda kerja
terlebih dahulu dipasang pada chuck (pencekam) yang terpasang pada spindel
mesin, kemudian spindel dan benda kerja diputar dengan kecepatan sesuai
perhitungan. Alat potong (pahat) yang dipakai untuk membentuk benda kerja akan
disayatkan pada benda kerja yang berputar.
Fungsi utama mesin bubut konvensional adalah untuk
membuat/memproduksi benda-benda berpenampang silindris, misalnya poros
lurus, poros bertingkat (step shaft), poros tirus (cone shaft), poros beralur
(grooveshaft), poros berulir (screw thread) dan berbagai bentuk bidang permukaan
silindris lainnya misalnya anak buah catur (raja, ratu, pion dll).

Gambar 1. Mesin Bubut

2.1.2 Jenis-Jenis Mesin Bubut


Mesin Bubut Universal

3
Mesin Bubut Khusus
Mesin Bubut Konvensional
Mesin Bubut dengan Komputer (CNC)

2.1.3 Bagian - bagian Utama Mesin Bubut dan Fungsinya


Sumbu Utama (Main Spindle)

Gambar 2. Sumbu Utama

Sumbu utama atau dikenal dengan main spindle merupakan suatu sumbu
utama mesin bubut yang berfungsi sebagai dudukan chuck (cekam), plat
pembawa, kolet, senter tetap dan lain-lain.

Meja Mesin (bed)

Gambar 3. Meja Mesin

Meja mesin bubut berfungsi sebagai tempat dudukan kepala lepas, eretan,
penyangga diam (steady rest) dan merupakan tumpuan gaya pemakanan waktu
pembubutan. Bentuk alas ini bermacam-macam, ada yang datar dan ada yang
salah satu atau kedua sisinya mempunyai ketinggian tertentu.
Eretan (Carriage)

4
Gambar 4. Eretan

Eretan terdiri atas eretan memanjang (longitudinal carriage) yang


bergerak sepanjang alas mesin, eretan melintang(cross carriage) yang bergerak
melintang alas mesin dan eretan atas(top carriage), yang bergerak sesuai dengan
posisi penyetelan di ataseretan melintang. Kegunaan eretan ini adalah untuk
memberikanpemakanan yang besarnya dapat diatur menurut kehendak
operatoryang dapat terukur dengan ketelitian tertentu yang terdapat pada roda
pemutarnya.

Kepala Lepas (Tail Stock)

Gambar 5. Kepala Lepas

Kepala lepas digunakan untuk dudukan senter putar sebagai pendukung


benda kerja pada saat pembubutan, dudukan bor tangkai tirus dan cekam bor
sebagai menjepit bor. Kepala lepas dapat bergeser sepanjang alas mesin, porosnya
berlubang tirus sehingga memudahkan tangkai bor untuk dijepit. Tinggi kepala
lepas sama dengan tinggi senter tetap.
Penjepit Pahat (Tools Post)

5
Gambar 6. Penjepit Pahat

Penjepit pahat digunakan untuk menjepit atau memegang pahat,yang


bentuknya ada beberapa macam. Jenis ini sangat praktis dan dapat menjepit pahat
4(empat) buah sekaligus sehingga dalam suatu pengerjaan bilamemerlukan 4
(empat) macam pahat dapat dipasang dan disetel sekaligus.

Sumbu Transporter dan Sumbu pembawa


Transporter atau poros transporter adalah poros berulir segi empat atau
trapesium yang biasanya memiliki kisar 6 mm, digunakan untuk membawa eretan
pada waktu kerja otomatis, misalnya waktu membubut ulir, alur dan atau
pekerjaan pembubutan lainnya. Sedangkan sumbu pembawa atau poros pembawa
adalah poros yang selalu berputar untuk membawa atau mendukung jalannya
eretan.

Gambar 7. Sumbu transporter dan Pembawa

6
Tuas Pengatur Kecepatan Transporter dan Sumbu Pembawa

Gambar 8. Tuas Pengatur Sumbu dan Pengatur transporter

Tuas pengatur kecepatan digunakan untuk mengatur kecepatan poros


transporter dan sumbu pembawa.Ada dua pilihan kecepatan yaitu kecepatan tinggi
dan kecepatan rendah. Kecepatan tinggi digunakan untuk pengerjaan benda-benda
berdiameter kecil dan pengerjaan penyelesaian sedangkan kecepatan rendah
digunakan untuk pengerjaan pengasaran, ulir, alur, mengkartel dan pemotongan
(cut off).

2.1.4 Cara Kerja Mesin Bubut


Motor listrik yang ada pada mesin bubut akan berfungsi untuk merubah
energi listrik menjadi energi mekanis yaitu berupa gerak putar. Gerak putar yang
ada pada motor listrik selanjutnya ditransmisikan dengan menggunakan
perlengkapan transmisi pulley dan roda gigi, sehingga mampu memutar poros
utama (spindel). Diujung poros utama terdapat perlengkapan pencekam yang
mampu mencekam benda kerja, sehingga adanya putaran pada poros utama maka
akan memutar benda kerja.
Sedangkan pahat yang tercekam pada tempatpahat (tool post) akan mampu
bergerak ke kanan, ke kiri, mendekat, menjauhi operator serta mampu bergerak
sorong. Gerakan gerakan ini dimungkinkan terjadi karena adanya fasilitas ulir
penggerak, susunan roda gigi dan juga adanya jalan. Selanjutnya adanya dead
center yang akan mendukung benda kerja pada sisi satunya.

2.1.5 Proses Pengerjaan Pada Mesin Bubut

7
Secara umum proses pengerjaan mesin bubut dapat dikelompokkan
menjadi dua yaitu :
Proses pemotongan kasar yaitu membuang material sebanyak mungkin
atau merupakan pemotong atau pengerjaan terakhir.
Proses pemotongan halus/semi halus merupakan proses yang hanya
memerlukan satu atau dua kali pemotongan untuk mencapai ukuran akhir.

2.1.6 Dimensi Utama Mesin Bubut


Ukuran mesin bubut ditentukan oleh panjangnya jarak antara ujung senter
kepala lepas dan ujung senter kepala tetap (Gambar 9). Misalnya tinggi mesin
bubut 200 mm, berarti mesin tersebut hanya mampu menjalankan eretan
melintangnya sepanjang 200 mm atau mampu melakukan pembubutan maksimum
benda kerja yang memiliki radius 200 mm (berdiameter 400 mm). Demikian pula
misalnya panjang mesin 1.000 mm, berarti hanya dapat menjalankan eretan
memanjangnya sepanjang 1.000 mm.
Namun demikian beberapa mesin bubut ada yang mempunyai fasilitas atau
kelengkapan untuk menambah ukuran diameter benda kerja yang dapat dikerjakan
dengan beberapa alat khusus atau didesain khusus pula, misalnya untuk
menambah ukuran diameter yaitu dengan membuka pengikat alas di ujung kepala
tetap.

Gambar 9. Dimensi utama mesin bubut

2.1.7 Waktu Pengerjaan

8
Yang dimaksud dengan waktu pengerjaan di sini adalah durasi waktu
(lamanya waktu) yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan. Durasi ini
sangat penting diperhatikan sehubungan dengan efisiensi pengerjaan. Apalagi
dikaitkan dengan sistem bisnis komersial atau kegiatan unit produksi di sekolah,
waktu pengerjaan sangat penting untuk diperhitungkan. Hal-hal yang berkaitan
dengan waktu pengerjaan sebagai berikut.
Kecepatan Pemakanan (f)
Yang dimaksud dengan kecepatan pemakanan adalah jarak tempuh gerak maju
pisau/benda kerja dalam satuan milimeter per menit atau feet per menit. Pada
gerak putar, kecepatan pemakaian, f adalah gerak maju alat potong/benda kerja
dalam n putaran benda kerja/pisau per menit. Pada mesin bubut, tabel kecepatan
pemakanan f dinyatakan dalam satuan milimeter perputaran sehingga f = f . n.
Besarnya kecepatan pemakanan dipengaruhi oleh:
Jenis bahan pahat yang digunakan;
Jenis pekerjaan yang dilakukan, misalnya membubut rata, mengulir,
memotong, mengkartel, dan lain-lain;
Menggunakan pendinginan atau tidak;
Jenis bahan yang akan dibubut, misalnya besi, baja, baja tahan karat
(stainless steel), atau bahan-bahan nonfero lainnya; serta kedalaman
pemakanan.
Sebagai pedoman umum untuk mengetahui besarnya kecepatan pemakanan dapat
dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.
Pekerjaan kasar yang dimaksud adalah pekerjaan pendahuluan di mana
pemotongan atau penyayatan benda kerja tidak diperlukan hasil yang halus dan
9
presisi, sehingga kecepatan pemakanannya dapat dipilih angka yang besar dan
selanjutnya masih dilakukan pekerjaan penyelesaian (finising). Pekerjaan ini dapat
dilakukan dengan gerakan otomatis ataupun gerakan manual, namun demikian
tidak boleh mengabaikan kemampuan pahat dan kondisi benda kerja. Semakin
tebal penyayatan hendaknya semakin rendah putarannya untuk menjaga umur
pahat dan tidak terjadi beban lebih terhadap motor penggeraknya. Sedangkan
pekerjaan penyelesaian yang dimaksud adalah pekerjaan penyelesaian (finishing)
akhir yang memerlukan kehalusan dan kepresisian ukuran tertentu, sehingga
kecepatan pemakanannya harus menggunakan angka yang kecil dan tentunya
harus menggunakan putaran mesin sesuai perhitungan atau data dari tabel
kecepatan potong.

Frekuensi Pemakanan (i)


Yang dimaksud dengan frekuensi pemakanan adalah jumlah pengulangan
penyayatan mulai dari penyayatan pertama hingga selesai. Frekuensi pemakanan
tergantung pada kemampuan mesin, jumlah
bahan yang harus dibuang, sistem penjepitan benda kerja, dan tingkat finishing
yang diminta.

Panjang Benda Berjarak/Jarak Tempuh Alat Potong (L)


Pada proses pembubutan, jarak tempuh pahat sama dengan panjang benda kerja
yang harus dibubut ditambah kebebasan awal

Gambar 10. Jarak tempu pahat bubut

Perhitungan Waktu Pengerjaan Mesin Bubut (T)

10
Pada proses pembubutan perhitungan waktu pengerjaan = (Jarak tempuh pahat x
frekuensi pemakanan) dibagi (Kecepatan pemakanan kali kecepatan putaran
mesin).

Contoh:
Diketahui panjang benda kerja yang akan dibubut (l) 96 mm, kebebasan awal
pahat dari permukaan benda kerja (la) 4 mm, putaran mesin (n) 420 rpm dan
frekuensi pemakanan (i) 1 kali, serta kecepatan pemakanannya 0,25 mm/menit.
Maka waktu pengerjaannya adalah:

2.1.8 Cara Membubut


Membubut Muka
Membubut permukaan (Gambar 11) hendaklah diperhatikan beberapa hal
berikut ini.
a. Jangan terlalu panjang keluar benda kerja terikat pada cekam.
b. Pahat harus setinggi senter.
c. Gerakan pahat maju mulai dari sumbu benda kerja dengan putaran benda kerja
searah jarum jam atau gerakan pahat maju menuju sumbu benda kerja dengan
putaran benda kerja berlawanan arah jarum jam (putaran mesin harus berlawanan
dengan arah mata sayat alat potong).

Gambar 11. Gambar 12.


11
Membubut permukaan Arah gerak pahat dan benda kerja

Membubut Lurus
Pekerjaan membubut lurus untuk jenis pekerjaan yang panjangnya relatif
pendek, dapat dilakukan dengan pencekaman langsung (Gambar 13).

Gambar 13. Pembubutan lurus benda yang pendek

Pekerjaan membubut lurus yang dituntut hasil kesepusatan yang presisi, maka
pembubutannya harus dilakukan di antara dua senter (Gambar 14).

Gambar 14. Pembubutan lurus benda yang panjang

Pekerjaan membubut lurus seperti ditunjukkan pada (Gambar 15), untuk benda
yang panjang dan berdiameter kecil maka harus diperhatikan beberapa hal berikut
ini.
a. Benda kerja didukung dengan dua buah senter.
b. Gunakan penyangga, plat pembawa, dan pembawa bila benda kerjanya panjang.
c. Pahat harus setinggi senter.
d. Pilih besarnya kecepatan putaran menggunakan rumus atau menggunakan tabel.
e. Setel posisi pahat menyentuh benda kerja dan seti dial ukur pada eretan
melintang menunjuk posisi 0.
12
f. Setel posisi pahat pada batas ujung maksimum awal langkah pada dial eretan
memanjang posisi 0.
g. Pengukuran sebaiknya menggunakan alat ukur mesin itu sendiri.
h. Gunakan pahat yang mempunyai sudut potong yang tepat.
i. Jalankan mesin dan perhatikan besarnya pemakanan serta hasil penyayatannya.

Gambar 15. Pembubutan lurus untuk batang panjang

Membubut Tirus (Konis)


Membubut tirus serupa dengan membubut lurus hanya bedanya gerakan
pahat disetel mengikuti sudut tirus yang dikehendaki pada eretan atas, atau
penggeseran kepala lepas atau dengan alat bantu taper attachment (perlengkapan
tirus). Jenis pahatnya pun serupa yang digunakan dalam membubut lurus.
Penyetelan peralatan eretan atas, atau penggeseran kepala lepas atau dengan alat
bantu taper attachment pada saat membubut tirus tergantung pada susut ketirusan
benda kerja yang akan dikerjakan.
Pembubutan tirus dapat dilakukan dengan beberapa cara di antaranya sebagai
berikut:
Dengan Penggeseran Eretan Atas
Pembubutan tirus dengan penggeseran eretan atas, dapat dilakukan dengan
mengatur/menggeser eretan atas sesuai besaran derajat yang dikehendaki. Dalam
hal ini pergeseran eretan atas dari posisi sejajar dengan senter mesin
digeser/diputar sebesar sudut yang dikehendaki.

13
Pembubutan tirus dengan cara ini hanya terbatas pada panjang titik
tertentu (relatif pendek), sebab tergantung pada besar kecilnya eretan atas yang
dapat digeserkan. Kelebihan pembubutan tirus
dengan cara ini dapat melakukan pembuatan tirus dalam dan luar, juga bentuk-
bentuk tirus yang besar, sedangkan kekurangannya adalah tidak dapat dikerjakan
secara otomatis, jadi selalu dilakukan dengan tangan. Gambar 16 menunjukkan
besarnya cara pembubutan tirus dengan menggeser eretan atas.

Gambar 16. Pembubutan tirus dengan menggeser eretan atas

Berdasarkan gambar di atas pembubutan tirus dengan penggeseran eretan dapat


dihitung dengan rumus:

Contoh: Dalam pembubutan tirus diketahui, D = 50 mm; d = 34 mm, panjang


ketirusan l = 60 mm. Jadi, penggeseran eretan atasnya adalah:

Dengan Pengeseran Kepala Lepas


Pembubutan tirus dengan penggeseran eretan atas (Gambar 17), hanya
dapat dilakukan untuk pembubutan bagian tirus luar saja dan kelebihannya dapat
14
melakukan pembubutan tirus yang panjang dengan perbandingan ketirusan yang
kecil (terbatas). Cara penyayatannya dapat dilakukan secara manual dengan
tangan dan otomatis. Gambar 18 menunjukkan gambar kerja pembubutan tirus di
antara dua senter.

Gambar 17. Membubut tirus diantara dua senter

Gambar 18. Gambar kerja membubut tirus di antara dua senter

Berdasarkan gambar di atas pembubutan tirus dengan penggeseran kepala


lepas/offset (X) dapat dihitung dengan rumus:

Contoh:
Sebuah benda kerja akan dibubut tirus pada mesin bubut yang data-datanya yaitu
panjang total benda

15
kerja 150 mm, panjang tirus efektif 80 mm, diameter tirus yang besar (D) 25 mm,
dan ukuran diameter tirus yang kecil (D) 21 mm. Jarak pergeseran kepala
lepasnya adalah:

Dengan Menggunakan Perlengkapan Tirus (Taper Attachment)


Pembubutan dengan cara ini dapat diatur dengan memasang perlengkapan
tirus yang dihubungkan dengan eretan lintang. Satu set perlengkapan tirus yang
tersedia di antaranya (Gambar 19):
Busur skala (plat dasar)
Alat pembawa
Sepatu geser
Baut pengikat (baut pengunci)
Lengan pembawa

Gambar 19. Perlengkapan tirus


Pembawa dapat disetel dengan menggesernya pada busur kepala sesuai
dengan hasil perhitungan ketirusan, biasanya garis pembagian pada busur kepala
ditetapkan dalam taper per feet bukan taper tiap inchi.
Untuk menghitung besaran taper per feet dapat dicari dengan menggunakan
rumus:

Contoh: Sebuah benda kerja akan dibubut tirus pada mesin bubut mempunyai
diameter ketirusan yang besar (D) = 2, dan diameter ketirusan yang kecil (d) =
16
13/4 panjang ketirusannya = 8. Busur skala attachment mempunyai pembagian
tiap strip = 1/16. Hitung berapa strip alat pembawa pada attachment harus
digeserkan!

Setiap skala busur attachment bernilai 1/18 inchi, sedangkan benda kerja
mempunyai Tpf = 3/8, jadi alat pembawanya harus digeser 3/8 dibagi 1/16 sama
dengan 6 strip pada busur skala.

Membubut Alur (Memotong)


Pada pekerjaan memotong benda keras, harus diperhatikan tinggi mata
pahat pemotongnya harus setinggi senter, bagian yang keluar dari penjepit pahat
harus pendek, kecepatan putaran mesin harus perlahan-lahan (kerja ganda), bagian
yang akan dipotong harus sedikit lebih lebar dibandingkan dengan lebar mata
pahatnya agar pahat tidak terjepit. Benda yang akan dipotong sebaiknya tidak
dijepit dengan senter (lihat Gambar 20).

Gambar 20. Membubut alur

Apabila diperlukan dan bendanya panjang boleh dijepit menggunakan


senter tetapi tidak boleh pemotongan dilakukan sampai putus, dilebihkan sebagian
untuk kemudian digergaji, atau dilanjutkan dengan pahat tersebut tetapi tanpa
didukung dengan senter, hal ini untuk menghindari terjadinya pembengkokan
benda kerja dan patahnya pahat.

Membubut Ulir

17
Mesin bubut dapat dipergunakan untuk membubut ulir luar/baut dan ulir
dalam/mur dan dari sisi bentuk juga dapat membuat ulir segi tiga, segi empat,
trapesium, dan lain-lain. Gambar 21 menunjukkan
profil dan dimensi ulir segitiga luar (baut) dan Gambar 22 menunjukkan profil dan
dimensi ulir segitiga dalam (mur) dalam satuan metris.

Gambar 21. Ulir segitiga luar

Gambar 22. Ulir segitiga dalam


Dari sisi arah uliran jenis ulir ada yang arah ulirnya ke kanan (disebut ulir
kanan), dan ada yang arah ulirnya ke kiri (disebut ulir kiri). Arah uliran ini dibuat
sesuai kebutuhan ulir tersebut penggunaannya untuk apa dan digunakan di mana,
serta salah satu pertimbangan lain yang tidak kalah pentingnya adalah arah gaya
yang diterima ulir tersebut. Gambar 23 menunjukkan jenis ulir segitiga kanan dan
Gambar 24 menunjukkan jenis ulir segitiga kiri. Sedangkan bila dilihat jalannya
uliran ada yang disebut ulir tunggal, ulir dua jalan (ganda) dan yang lebih dari dua
jalan disebut ulir majemuk. Gambar 25 menunjukkan ulir segitiga dua jalan.

18
Gambar 23. Ulir segitiga kanan

Gambar 24. Ulir segitiga kiri

Gambar 25. Ulir segitiga dua jalan

Untuk mendapatkan data standar ukuran dan profil ulir, baik itu jenis ulir
metris, inchi atau jenis ulir lainnya dapat dilihat pada table ulir. Dengan melihat
data ulir dari tabel kita dapat menentukan kisar/ gang, diameter lur ulir termasuk
diameter lubang ulir. Gambar 26 menunjukkan data standar profil ulir jenis
metrik. Dan untuk menentukan kedalaman ulir baik itu ulir luar maupun dalam
dapat dilihat pada Gambar 28.

19
Gambar 26. Standar profil ulir jenis metrik

Gambar 27. Standar kedalaman ulir metrik

Dari data gambar di atas dapat dijadikan acuan bahwa kedalaman ulir luar
(baut) adalah 0,61 x Pitch/kisar dan kedalaman ulir dalam (mur) adalah 0,54 x
Pitch/kisar. Dan untuk memudahkan mur terpasang pada baut, pada umumnya
diameter nominal baut dikurangi sebesar 0,1 x kisar.

Membubut Dalam
Pekerjaan membubut dalam dilakukan biasanya setelah dilakukan
pengeboran atau sudah ada lubang terlebih dahulu (Gambar 28). Jadi pembubutan
dalam hanya bersifat perluasan lubang atau membentuk
bagian dalam benda. Untuk mengetahui kedalaman yang dicapai maka pada saat
awal mata pahat hendaknya disetel pada posisi 0 dial ukur kepala lepas sehingga
tidak setiap saat harus mengukur kedalaman atau jarak tempuh pahatnya.

20
Gambar 28. Membubut dalam tirus

Mengebor
Sebelum dilakukan pengeboran benda kerja dibor senter terlebih dahulu
(Gambar 29). Pada saat pengeboran besarnya putaran mengikuti besar kecilnya
diameter mata bor yang digunakan dan harus diberi pendinginan untuk menjaga
mata bor tetap awet dan hasilnya pengeboran bisa maksimal.

Gambar 29a. Pengeboran lubang senter

Gambar 29b. Pengeboran lubang senter

21
2.2 MESIN FRAIS

2.2.1 Pengertian Mesin Frais


Mesin frais (milling machine) adalah mesin perkakas yang dalam proses
kerja pemotongannya dengan menyayat atau memakan benda kerja menggunakan
alat potong bermata banyak yang berputar (multipoint cutter). Pisau frais dipasang
pada sumbu atau arbor mesin yang didukung dengan alat pendukung arbor. Pisau
tersebut akan terus berputar apabila arbor mesin diputar oleh motor listrik, agar
sesuai dengan kebutuhan, gerakan dan banyaknya putaran arbor dapat diatur oleh
operator mesin frais (Rasum, 2006).

2.2.2 Bentuk Pengefraisan

Mesin frais mempunyai beberapa hasil bentuk yang berbeda, dikarenakan


cara pengerjaannya. Berikut ini bentu-bentuk pengfraisan yang bisa dihasilkan
oleh mesin frais.

1. Bidang rata datar


2. Bidang rata miring menyudut
3. Bidang siku
4. Bidang sejajar
5. Alur lurus atau melingkar
6. Segi beraturan atau tidak beraturan
7. Pengeboran lubang atau memperbesar lubang
8. Roda gigi lurus, helik, paying, cacing
9. Nok/eksentrik, dll.

2.2.3 Jenis Jenis Mesin Frais


Jenis-jenisnya terdiri dari mesin frais tiang dan lutut (column-and-knee),
mesin frais hobbing (hobbing machines), mesin frais pengulir (thread machines),
mesin pengalur (spline machines) dan mesin pembuat pasak (key milling
machines). Untuk produksi massal biasanya dipergunakan jenis mesin frais
banyak sumbu (multi spindles planer type) dan meja yang bekerja secara berputar

22
terus-menerus (continuous action-rotary table) serja jenis mesin frais drum (drum
type milling machines) (Efendi, 2010). Berikut ini ada macam-macam mesin frais:

1. Mesin frais horizontal atau bisa disebut dengan mesin frais mendatar dapat
digunakan untuk mengejakan pekerjaan sebagai berikut ini antara lain:

Mengfrais Rata.
Mengfrais Ulur.
Mengfrais Roda Gigi Lurus.
Mengfrais Bentuk.
Membelah Atau Memotong.

Gambar 30. Mesin Frais Horinzontal

2. Mesin frais vertical atau bisa disebut


dengan mesin frais tegak dapat
digunakan untuk mengerjakan
pekerjaan sebagai berikut:

Mengfrais Rata.
Mengfrais Ulur.
23
Mengfrais Bentuk.
Membelah Atau Memotong.
Mengebor.

Gambar 31. Mesin Frais Vertical


3. Mesin frais universal adalah suatu mesin frais dengan kedudukan arbornya
mendatar perubahan kearah vertikal dapat dilakukan dengan mengubah
posisi arbor. Gerakan meja dari mesin ini dapat kearah memanjang, melintang,
naik turun. Dan dapat diputar membuat sudut tertentu terhadap bodi mesin.

Gambar 32. Mesin Frais Universal

2.2.4 Bagian-bagian Mesin Frais


Bagian - bagian mesin frais dapat dilihat di bawah ini yaitu:
a. Lengan untuk kedudukan penyongkong obor
b. Penyongkong obor
c. Tunas untuk mengerakan meja secara otomatis
d. Nok pembatas, untuk membatasi jarak gerakan otomatis meja
e. Meja mesin, tempat untuk memasang benda kerja dengan perlengkapan mesin

24
f. Engkol untuk mengerakan meja dalam arah memanjang
g. Tuas untuk mengunci meja
h. Baut menyetel, untuk menghilangkan getaran meja
i. Engkol untuk menggerakan lutut dalam arah melintang.
j. Engkol untuk menggerakan lutut dalam arah tegak
k. Tuas untuk mengunci meja
l. Tabung pendukung dengan batang ulir, untuk mngatur tingginya meja
m. Lutut untuk kedudukan alas meja
n. Tuas untuk mnegunci sadel
o. Alas meja, tempat kedudukan untuk meja
p. Tuas untuk merubah kecepatan motor listrik
q. Engkol meja
r. Tuas untuk menentukan besarnya putaran spindel/pisau frais
s. Tuas untuk mengatur angka-angka kecepatan spindel/pisau frais
t. Tiang, untuk mengantar turun naiknya meja
u. Spindel, untuk memutarkan arbor dan pisau frais
v. Tuas untuk menjalankan spindle

2.2.5 Macam-Macam Pisau Frais

Ada bermacam-macam pisau pada mesin frais. Berikut ini jenis pisau frais adalah:
1. Pisau silindris, pisau ini digunakan untuk menghasilkan permukaan
horizontal dan dapat mengerjakan permukaan yang lebar dan pekerjaan berat.

2. Pisau muka dan sisi, pisau ini memiliki gigi potong di kedua sisinya.
Digunakan untuk menghasilkan celah dan ketika digunakan dalam
pemasangan untuk menghasilkan permukaan rata, kotak, hexagonal, dll.
Untuk ukuran yang besar, gigi dibuat terpisah dan dimasukkan ke dalam
badan pisau. Keuntungan ini memungkinkan cutter dapat dicabut dan
dipasang jika mengalami kerusakan.

3. Slotting cutter, Pisau ini hanya memilki gigi di bagian kelilingnya dan pisau
ini digunakanuntuk pemotongan celah dan alur pasak.

4. Metal slitting saw, pisau ini memiliki gigi hanya di bagian keliling saja atau
memiliki gigi keduanya di bagian keliling dan sisi sisinya. Digunakan untuk
memotong kedalaman celah dan untuk memotong panjang dari material.
Ketipisan dari pisau bermacam -macam dari 1 mm 5 mm dan ketipisan pada
bagian tengah lebih tipis dari bagian tepinya. Hal ini untuk mencegah pisau
dari terjepit dicelah.

5. Frais ujung, Frais ujung berukuran dari berdiameter 4 mm sampai diameter


40 mm.

6. Shell end mill, Kelopak frais ujung dibuat untuk disesuaikan dibor pendek
yang dipasang di poros. Kelopak frais ujung lebih murah untuk diganti
daripada frais ujung padat/solid.

7. Frais muka, Pisau ini dibuat untuk mengerjakan pemotongan berat dan juga
digunakan untuk menghasilkan permukaan yang datar. Ini lebih akurat
25
daripada cylindrical slab mill/frais slab silindris. Frais muka memiliki gigi di
ujung muka dan kelilingnya. Panjang dari gigi di kelilingnya selalu kurang
dari separuh diameter dari pisaunya.

8. Tee-slot cutter Pisau ini digunakan untuk frais celah awal. Suatu celah atau
alur harus dibuat pada benda kerja sebelum pisau ini digunakan.

2.2.6 Bentuk dan fungsinya Pisau Frais

Beberapa bentuk pisau frais sesuai dengan penggunaanya, antara lain:(a) Pisau
mantel, (b) Pisau alur, (c) Pisau frais bergigi, (d) Pisau frais radius cekung dan
cembung, (e) Pisau frais alur T, (f) Pisau frais sudut, (g) Pisau jari, (h) Pisau frais
muka dan sisi, (i) Pisau frais pengasaran, dan (j) Pisau frais bergigi.

Pisau mantel
Pisau jenis ini dipakai pada mesin frais horizontal. Biasanya digunakan untuk
pemakanan permukaan kasar (Roughing) dan lebar.

Gambar 33. Pisau mantel

Pisau alur
Pisau alur berfungsi untuk membuat alur pada bidang permukaan benda kerja.
Jenis pisau ini ada beberapa macam yang penggunaanya disesuaikan dengan
kebutuhan.

26
Gambar 34. Pisau Alur

Pisau frais bergigi


Pisau jenis ini digunakan untuk membuat roda gigi sesuai jenis dan jumlah gigi
yang diinginkan. Pada pisau bergigi ini benda yang tersayat akan lebih cepat,
dikarenakan bentuk pisaunya yang bergigi.

Gambar 35. Pisau frais bergigi


Pisau frais radius cekung dan cembung
Pisau jenis ini digunakan untuk membuat benda kerjanya yang bentuknya
memiliki radius dalam (cembung atau cekung). Pisau frais radius cekung proses
kerjanya sama dengan pisau radius cembung hanya saja yang membedakan
adalah bentuk pisau yang berbeda.

27
Gambar 36. Pisau radius Cekung Gambar 37. Pisau radius Cembung

Pisau frais alur T


Pisau ini hanya digunakan untuk membuat alur berbentuk T seperti halnya pada
meja mesin frais. Benda kerja yang akan disayat diatur dengan selera operator,
sehingga menghasilkan bentuk sayatan yang diinginkan.

Gambar 38. Pisau frais Alur T


Pisau frais sudut
Pisau ini berguna untuk membuat alur berbentuk sudut yang hasilnya sesuai sudut
pisau yang digunakan. Pisau jenis ini memiliki sudut-sudut yang berbeda
diantaranya 30, 45, 50, 60, 70, 80 derajat.

Gambar 39. Pisau frais Sudut

28
Pisau jari
Ukuran pisau jenis ini sangat bervariasi mulai ukuran kecil sampai ukuran besar.
Pada pengoperasiannya biasanya dipakai untuk membuat alur pada bidang datar
atau pasak dan jenis pisau ini pada umumnya dipasang pada posisi tegak (mesin
frais vertical).

Gambar 40. Pisau Jari

Pisau frais muka dan sisi


Jenis pisau ini memiliki mata sayat dimuka dan disisi, dapat digunakan untuk
mengfrais bidang rata dan bertingkat.
Pisau frais pengasaran
Pisau jenis ini mempunyai satu ciri khas yang berbeda sisinya berbentuk alur
helik. Cara tersebut dapat digunakan untuk menyatat benda kerja dari sisi
potong cutter sehingga potongan pisau ini mempu melakukan penyayatan yang
cukup besar.
Pisau frais gergaji
Pisau jenis ini digunakan untuk memotong atau membelah benda kerja. Selain itu
juga dapat digunakan untuk membuat alur yang memiliki ukuran lebar kecil.

2.2.8 Perinsip Kerja Mesin Frais

Cara Kerja Mesin Frais (Milling Machine)


Pengerjaan yang terjadi di mesin frais horizontal. Benda kerja dijepit di suatu
ragum mesin atau peralatan khusus atau dijepit di meja mesin frais. Pemotongan
dikerjakan oleh pemakanan benda kerja di bawah suatu pisau yang berputar.
Pekerjaan yang terjadi mesin frais vertikal. Pergerakkan meja dan ke atas dan ke
bawah dari spindel. Mesin frais vertikal dapat menghasilkan permukaan
horizontal.
Tenaga untuk pemotongan berasal dari energi listrik yang diubah menjadi gerak
29
utama oleh sebuah motor listrik, selanjutnya gerakan utama tersebut akan
diteruskan melalui suatu transmisi untuk menghasilkan gerakan putar
pada spindel mesin milling.
Spindel mesin milling adalah bagian dari sistem utama mesin millingyang
bertugas untuk memegang dan memutar cutter hingga menghasilkan putaran atau
gerakan pemotongan.
Gerakan pemotongan pada cutter jika dikenakan pada benda kerja yang telah
dicekam maka akan terjadi gesekan/tabrakan sehingga akan menghasilkan
pemotongan pada bagian benda kerja, hal ini dapat terjadi karena material
penyusun cutter mempunyai kekerasan diatas kekerasan benda kerja.

2.2.9 Jenis-jenis Pengerjaan Mesin Frais

1. Menfrais Datar
Pengerjaan yang dilakukan untuk membuat datar permukaan benda kerja.
2. Menfrais Sudut
Pengerjaan yang dilakukan untuk membentuk sudut dengan kemiringan
tertentu pada benda kerja.
3. Menfrais Alur
Bentuk atau ukuran pisau frais yang digunakan untuk menfrais alur adalah
tergantung dari bentuk alur itu, dalam hal ini kita dapat menggunakan segala
alur.
4. Menfrais Alur T
Menfrais alur T adalah pengerjaan dasar menfrais untuk membentuk alur T atau
langkah pertamanya yaitu benda kerja di jalankan dengan alur kemudian alur T
nya digunakan frais alur T. Cara kerjanya alur T digunakan frais dengan
menfrais alur.
5. Menfrais Ekor Burung
Pengerjaan datar menfrais untuk membentuk alur atau celah ekor
burung.Langkah pertamanya yaitu membentuk alur biasa dengan menggunakan
frais alur kemudian digunakan dengn frais ekor burung, arah pengerjaan
berlawanan arah dengan lontarannya.

30
2.3.1 Teknik Pengefraisan

Teknik pengefraisan tergantung dari jenis mesin frais dan posisi alat potong (pisau
frais terhadap bidang kerja). Berdasarkan hal tersebut ada dua macam teknik
pengefraisan, yaitu:
1. Pengefraisan Sisi
Sisi mata potong sejajar dengan permukaan bidang benda kerja. Teknik
pengefraisan ini menggunakan mesin frais datar.

2. Pengefraisan Muka
Sisi mata potong tegak lurus terhadap bidang permukaan benda kerja. Pisau
frais mempunyai mata potong sisi dan muka yang keduanya dapat melakukan
pemotongan secara bersamaan. Pengefraisan ini menggunakan mesin frais
tegak.

2.3.2 Kecepatan Potong Dan Pemakanan

Keberhasilan pemotongan dengan mesin frais dipengaruhi oleh kemampuan


pemotongan alat potong dan mesin. Kemampuan pemotongan tersebut
menyangkut kecepatan potong dan pemakanan.
Kecepatan potong pada mesin frais dapat didefenisikan sebagai panjangnya bram
yang terpotong oleh satu mata potong pisau frais dalam satu menit. Kecepatan
potong untuk tiap-tiap bahan tidak sama. Umumnya makin keras bahan, makin
kecil harga kecepatan potongnya dan juga sebaliknya. Kecepatan potong dalam
pengefraisan ditentukan berdasarkan harga kecepatan potong menurut bahan dan
diameter pisau frais. Jika pisau frais mempunyai diameter 100 mm maka satu
putaran penuh menempuh jarak p x d = 3.14 x 100 = 314 mm. Jarak ini disebut
jarak keliling yang ditempuh oleh mata pisau frais. Bila pisau frais berputar n
putaran dalam satu menit, maka jarak yang ditempuh oleh mata potong pisau frais
menjadi p x d x n. Jarak yang ditempuh mata pisau dalam satu menit disebut juga
dengan kecepatan potong (V). Maka:

Tabel 2 Harga Kecepatan Potong


Bahan Bahan Pisau Frais
Baja HSS HSS Stelit Tantalum Tngsten
Karbon Super Karbit Karbid

31
Alumunium 83 66 166 332 20 34 267 498 50 84 332 664
Kuningan 13 26 24 58 14 24 50 64 44 64 116 200
Perunggu 10 20 21 44 10 16 34 54 34 50 64 142
Besi Tuang 10 14 10 16 26 42 16 24 42 64
Besi Tempa 12 16 16 26 24 34 30 44 84 108
Baja Karbon 10 15 10 16 20 30 20 30 50 64
Lunak 10 14 24 34 14 24 14 20 94 164
Sedang 20 30 38 50 84 124
Tinggi 16 26
10 16
Tabel 2

Pemakanan juga menentukan hasil pengefraisan. Pemakanan maksudnya adalah


besarnya pergeseran benda kerja dalam satu putaran pisau frais. Pemakanan
mempengaruhi gerakan bram terlepas dari benda. Faktor dalamnya pemotongan
dan tebalnya bram juga menentukan proses pemotongan. Besarnya pemakanan di
hitung dengan rumus :

Dimana :
f = Besarnya pemakanan per menit
F = Besarnya pemakanan per mata pisau
T = Jumlah mata potong pisau
n = Jumlah putaran pisau per menit

Tabel 3 Harga Pemakanan Menurut Jenis Bahan dan Pisau Frais (per mata
potong mm)
Jenis Pisau Jenis Bahan Benda
Frais
Alumunium Kuningan Perunggu Baja Baja Baja Besi
Sedang Keras Campuran Tuang
Muka 0,55 0,55 0,45 0,23 0,20 0,18 0,33
Spiral 0,43 0,43 0,35 0,18 0,15 0,13 0,25
Sisi dan 0,33 0,33 0,28 0,15 0,13 0,10 0,20
Muka 0,28 0,28 0,23 0,13 0,10 0,10 0,15
Jari 0,15 0,15 0,13 0,07 0,07 0,05 0,10
Bentuk 0,15 0,13 0,10 0,07 0,05 0,05 0,07
Gergaji

Tabel 3

2.3.3 Perawatan Mesin

Sebuah mesin dalam menjaga performa kinerjanya juga membutuhkan perawatan


yang intensif pada setiap komponen mesinnya. Hal ini juga diperlukan untuk
mesin bubut dan mesin frais. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan :

32
1. Pelumasan secara rutin untuk menghilangkan panas dan gesekan.
2. Mesin harus dibersihkan setelah digunakan
3. Chips harus dibersihkan menggunakan kuas.
4. Mesin diolesi dengan cairan anti karat untuk mencegah dari berkarat
5. Pastikan untuk alat pemotong berjalan lurus (stabil) sebelum memulai operasi.
6. Hindari pakaian longgar
7. Perlindungan khusus untuk mata

BAB III
HASIL LAPORAN PRAKTIKUM

3.1 Pembahasan
Praktikum Mesin Perkakas 2 dilaksanakan di Workshop Politeknik Kotabaru
dalam proses pembuatan BAUT.

Alat, Bahan dan Perlengkapan APD

Alat :
1. Mesin bubut

33
2. Mesin frais
3. Jangka sorong
4. Mata pahat bubut HSS
5. Mata pisau end mill 10 mm
6. Kiar Ulir
7. Kunci chuck
8. Kunci pash ring 1 set.
9. Kunci L 1 set.
10. Kunci Inggris
11. Kuas
12. Air Coolen

Bahan :
1. Besi Has berdiameter 25.4 mm panjang 90 mm : 1 buah

Perlengkapan APD :
1. Helm Pelindung
2. Kaca Mata Bening

3.2 Hasil Praktikum dan Langkah Kerjanya


Hasil Praktikum

Gambar : Baut 22
Skala : 1:1
Ketelitian : 1/20 mm atau 0,05 mm

Langkah Kerja :
Proses Bubut
Menyiapkan alat dan bahan.
Memotong has besi 1 inch dengan panjang 90 mm.
Mencekam benda kerja pada spindel mesin bubut menggunakan kunci
chuck.
Mencoba putaran balancing/keseimbangan benda kerja hingga benar-benar
balance, untuk mendapatkan hasil pembubutan yang maksimal.

34
Gunakan mata pahat HSS kemudian mengatur center mata pahat dengan
tailstok.
Melakukan proses pembubutan benda kerja :

a. Pembubutan menggunakan kecepatan potong 68 rpm.


b. Meratakan bagian ujung benda kerja terlebih dulu.
c. Mengupas benda kerja dengan ukuran panjang keseluruhan 40 mm,
dengan diameter besar 16 mm, diameter kecil 13 mm dan panjang 10
mm.
Gunakan alat ukur jangka sorong untuk memeriksa setiap hasil
pengupasan hingga sesuai ukuran yang diinginkan.
Melakukan proses penguliran benda kerja :
a. Menyetel posisi gear pemakanan/kisaran ulir yang diinginkan
dengan mengganti gear 22

Gambar Setting Gear Gambar Gear


b. Mengatur sudut compound rest 29 derajat dan toolpost menghadap
tegak lurus dengan benda kerja
c. Gunakan mata pahat HSS dengan sudut pahat 55-60 derajat.
Gambar Pahat Bubut HSS

d. Menentukan posisi roda gigi yang sesuai dengan kisar/pitch/gang dari


ulir yang akan dibuat. Perhatikan tabel pada mesin bubut,kalau-kalau

35
kita perlu melakukan pergantian roda gigi. Kalau posisi gir dan tuas-
tuas pengaturnya sudah sesuai bisa dilanjutkan dengan langkah
selanjutnya.

Gambar Tabel Ulir Baut

e. Atur pemakanan pada eretan ke posisi angka nol dengan ujung mata
pahat sedikit menyentuh benda kerja.
f. Gunakan APD sebagai penunjang keselamatan kerja.
g. Tekan kebawah handel ulir otomatis kemudian nyalakan mesin dengan
menekan handel power kebawah dan matikan mesin jika sudah
mendekati jarak penyayatan 28 mm dari panjang 30 mm pada
diameter besar 16 mm.
h. Tekan handel power ke atas untuk mengembalikan mata pahat ke awal
penyayatan ujung benda kerja, matikan mesin kemudian atur
pemakanan mata pahat ke angka 10 lalu tekan kembali handel power
ke bawah.
i. Matikan mesin jika sudah mendekati jarak penyayatan 28 mm dari
ukuran panjang 30 mm pada diameter besar 16 mm. Matikan mesin
kemudian atur pemakanan pada eretan ke posisi angka nol. Tekan
handel power ke atas untuk mengembalikan mata pahat ke awal
penyayatan ujung benda kerja.
j. Lakukan cara membuat ulir seperti urutan huruf dari ( d sampai g)
yang dijelaskan diatas secara terus menerus hingga ulir terbentuk
sesuai ukuran pitc, kemudian dilanjutkan dengan finishing.
Lepas benda kerja dari spindel untuk proses pembuatan kepala baut

Proses Frais
Menyiapkan alat dan bahan.

36
Memberikan tanda garis gambar segi enam dengan ukuran 22 mm.
Gunakan mata frais endmill 10, kemudian pasang pada spindel dengan
kunci kepala spindel.
Mencekam benda kerja pada ragum mesin frais dengan posisi benda kerja
mendar lurus dan peletakan gambar sisi segi emam pada benda kerja
disesuaikan dengan proses penyayatan dari mata frais endmill.
Melakukan proses pembentukan kepala baut pada benda kerja :
a. Mencekam benda kerja pada ragum mesin frais.
b. Menyetel kelurusan gambar sisi segi enam benda kerja sehingga dapat
mendapatkan hasil yang maksimal.
c. Gunakan APD sebagai penunjang keselamatan kerja.
d. Menghidupkan mesin frais, kemudian menyetel penyayatan 0,2 mm
dalam setiap pemakanan hingga batas garis gambar, lalu
menghidupkan tombol otomatis crosslide table.
e. Mematikan tombol power mesin frais, kemudian melepas benda kerja
yang sudah memiliki satu sisi segi enam.
f. Menyetel kembali kelurusan gambar sisi segi enam benda kerja,
kemudian menghidupkan mesin frais, kemudian menyetel penyayatan
0,2 mm dalam setiap pemakanan hingga batas garis gambar.
g. Lakukan proses seperti urutan huruf dari (a sampai e) yang dijelaskan
diatas secara terus menerus hinga terbentuk kepala baut yang
diinginkan.
Lepaskan benda kerja yang sudah berbentuk kepala baut untuk selanjutnya
akan dilakukan proses camper pada sudut segi enam pada Mesin Bubut
sehingga bentuk kepala baut lebih sempurna.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Dalam suatu proses pemesinan harus diperlukan tingkat ketelitian yang
sangat tinggi demi terwujutnya suatu hasil atau produk sesuai yang diharapkan.
Selain itu aspek keselamatan kerja dalam bekerja merupakan aspek penting yang
harus diperhatikan pada saat melaksanakan suatu pekerjaan. Keselamatan kerja
tersebut harus menyangkut aspek keselamatan kerja yang terkait dengan manusia
(operator/pekerja), mesin, dan alat.Sehubungan dengan sebelum kita melakukan

37
suatu pekerjaan, harus diperhatikan instruksi-instruksi yang terkait dengan
keselamatan kerja.

4.2 Saran
Saran yang dapat saya sampaikan setelah praktikum ini adalah :
1. Bagi mahasiswa yag hendak praktikum di masa mendatang, sebelum praktikum
membubut hendaknya mempelajari fungsi bagian-bagian dari mesin bubut dan
modul praktikum terlebih dahulu.
2. Sebelum melakukan mahasiswa melakukan praktikum perhatikan K3 karena
keselamatan nomor satu selalu gunakan APD.
3. Dalam membubut untuk awalan sebaiknya proses membubut dilakukan secara
manual, walaupun hasilnya kasar tidaklah masalah untuk menghemat waktu
dan setelah hendak finishing barulah gunakan pembubutan otomatis untuk hasil
permukaaa yang halus.
4. Lakukan perawatan mesin-mesin perkakas secara berkala agar kondisi
peralatan siap untuk digunakan.

38

Anda mungkin juga menyukai