Anda di halaman 1dari 53

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Pengertian Gulma


Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak dikehendaki oleh ma-
nusia. Gulma dapat mengganggu kesejahteraan manusia baik secara lang-
sung maupun tidak langsung. Secara langsung gulma dapat mengakibatkan
sakit karena ada yang berduri atau beracun, sedang secara tidak langsung
gulma, dapat mengganggu keindahan misalnya di halaman rumah atau tem-
pat rekreasi, menurunkan hasil pertanian, menghambat aliran air, menjadi
tempat berlindung hama dan organisme penyebab penyakit serta vektor
patogen. Gulma dalam berasosiasi dengan organisme lain tidak selalu me-
rugikan karena ada yang bersimbiosis dengan tanaman budidaya dan ada
yang merupakan tempat berlindung predator atau parasit hama tanaman.
Oleh karena itu pengendalian gulma harus merupakan pengelolaan vegetasi
secara keseluruhan yang didasarkan atas kelayakan lingkungan dan tidak
hanya kelayakan ekonomi dan teknologi saja.
Untuk dapat mengendalikan secara tepat diperlukan pengetahuan ten-
tang sifat-sifat biologi. Gulma yang mencakup sifat morfologi, daur hidup, ca-
ra perbanyakan dan penyebaran gulma.
Dalam pengelolaan dipelajari cara pencegahan atau preventif dan pe-
ngendalian secara kultur teknik (budidaya), mekanik, biologi dan kimiawi ser-
ta pengendalian secara terpadu.
Pemberantasan (eradication) gulma sebaiknya hanya dilakukan pada
tempat-tempat terbatas dan di sekitar bangunan penting seperti gedung, gu-
dang, sepanjang jalan kereta api, tepi jalan, tepi saluran air dan tebing
danau.
Batasan gulma yang terpendek dan telah lama dikenal ialah yang dike-
mukakan oleh Profesor Beal, dulu seorang spesialis gulma dari Michigan
State College. Beliau memberi batasan bahwa gulma ialah "a plant out of
place" atau tumbuhan yang tidak pada tempatnya. Beberapa definisi yang
dikemukakan King pada tahun 1966 menyatakan bahwa :
2

1. Gulma adalah tumbuhan yang keberadaannya pada suatu lokasi tidak


dikehendaki oleh manusia.
2. Gulma adalah tumbuhan yang kompetitif dan agresif. Definisi dari
Campbell tahun 1923 menyatakan bahwa gulma adalah kompetitor
bebas terhadap zat makanan dalam perjuangan untuk mempertahan-
kan keberadaannya. Brenchly pada tahun 1920 mengemukakan bah-
wa gulma adalah tumbuhan yang tumbuh sangat subur atau berle-
bihan (melimpah) yang menghambat tumbuhan lain yang mempunyai
nilai lebih tinggi.
3. Gulma adalah tumbuhan liar dan tumbuh berlebihan.
4. Gulma adalah tumbuhan yang kukuh (gigih) dan tahan terhadap pe-
ngendalian dan pemberantasan.
5. Gulma adalah tumbuhan yang sering merupakan populasi yang besar,
tumbuh sangat subur dan meluas.
6. Gulma adalah tumbuhan yang tidak berguna, tidak diinginkan dan
tidak dibutuhkan. Definisi ini sesuai dengan definisi Bailey tahun 1941
yang mengemukakan bahwa gulma adalah tumbuhan yang tidak di-
inginkan maka harus dihancurkan, sedang Emerson menyatakan bah-
wa gulma adalah tumbuhan yang belum diketemukan manfaat dan ke-
gunaannya.
7. Gulma adalah tumbuhan yang merugikan manusia, hewan dan tanam-
an budidaya.
8. Gulma adalah tumbuhan yang tumbuh spontan tanpa ditanam atau di-
usahakan. Menurut Harper pada tahun 1944, gulma adalah tumbuhan
yang tumbuh dengan sendirinya pada suatu habitat yang diusahakan
manusia.
9. Gulma adalah tumbuhan yang mempunyai kemampuan yang tinggi
untuk memperbanyak diri.
10. Gulma adalah tumbuhan yang tidak enak dipandang, dan merusak
pemandangan.
3

Ilmu gulma adalah ilmu yang mempelajari peri kehidupan dan cara
mengendalikan tumbuhan yang hidup dan tumbuh bersama dengan tanaman
pertanian dan kehutanan.
1.2 Kerugian-Kerugian Akibat Adanya Gulma
Gulma dapat merugikan pada berbagai bidang antara lain bidang
pertanian, perikanan dan peternakan.
A. Bidang Pertanian
Gulma yang tumbuh menyertai tanaman budidaya dapat menurunkan
hasil baik kualitas maupun kuantitasnya. Kualitas hasil tanaman menurun
karena tercampurnya biji-biji gulma atau ikut sertanya biji gulma dalam
pengolahan hasil. Biji-biji gulma jenis Brassica sp, Ambrosia sp. dan
Agrostemma githago walaupun dalam jumlah kecil bila tercampur biji
gandum yang ditumbuk dapat menimbulkan bau dan rasa yang tidak disukai
pada tepung gandumnya. Kuantitas hasil tanaman menurun karena gulma
dapat mengadakan kompetisi terhadap kebutuhan cahaya matahari, air dan
unsur hara dengan tanaman yang diusahakan. Kompetisi akan terjadi apa-
bila salah satu kebutuhan esensial tersebut jumlahnya berada dibawah ke-
butuhan bersama. Oleh karena gulma lebih kuat dalam berkompetisi maka
tanaman akan kekurangan salah satu dari kebutuhan esensialnya seperti
cahaya matahari, air atau unsur hara, sehingga menurunkan laju fotosintesis
dan mengakibatkan hasil yang rendah. Penurunan hasil tanaman oleh gul-
ma sangat bervariasi tergantung pada varietas tanaman, kesuburan tanah,
jenis gulma, kerapatan gulma dan lama kompetisi.
Di samping itu gulma dapat mempersulit praktek pertanian misalnya
pengolahan tanah, penyiangan dan pemanenan sehingga biaya produksi
bertambah. Gulma yang tumbuh di saluran irigasi dapat menghambat aliran
air sehingga tersedianya air bagi tanaman berkurang. Gulma juga dapat me-
rupakan tumbuhan inang bagi hama atau patogen penyebab penyakit tanam-
an. Sebagai contoh hama penggerek batang padi (Pachydiplosis oryzae)
dapat tinggal pada jenis gulma Leersia hexandra, Sacciolepis interrupta dan
Paspalum scrobiculatum. Virus mozaik tembakau mempunyai tumbuhan
inang Ageratum conyzoides, Synedrella nudiflora dan Vernonia cineria. Juga
4

jamur Pellicularia salmonicolor yang biasa menyerang tanaman teh, kopi, ki-
na, kakao dan karet dapat tinggal pada jenis gulma Lantana aculeata, Nema-
tode, Platylenchus loosi yang menyerang tanaman teh lebih senang hidup
pada Tripsacum laxum.
B. Bidang Perikanan
Gulma yang tumbuh di perairan seperti eceng gondok (Eichhornia cras-
sipes) dapat mengurangi persediaan air melalui transpirasi, mengurangi ka-
pasitas waduk atau danau karena mampu membentuk massa yang banyak,
sedang yang tumbuh di saluran-saluran air seperti Hydrilla verticillata dapat
mengurangi debit air. Di kolam perikanan gulma yang tumbuh lebat di per-
mukaan air dapat menghalangi penetrasi cahaya matahari sehingga produksi
primer (algae dan plankton) yang merupakan makanan, ikan menjadi rendah.
Gulma yang tumbuh lebat di dalam air dapat mengakibatkan air kolam keku-
rangan oksigen pada malam hari, akibatnya ikan banyak yang mati. Gulma
yamg tumbuh lebat di perairan juga mempersulit penangkapan ikan.
C. Bidang peternakan
Jenis-jenis gulma yang berdaun lebar dan kasar seperti Lantana cema-
ra dan Eupatorium odoratum yang banyak tumbuh di areal padang rumput
dapat mendesak pertumbuhan rumputan sehingga produksi hijauan makan-
an ternak rendah. Gulma juga dapat merugikan hasil ternak secara lang-
sung, Sebagai contoh, jenis gulma Allium veneaIe, Hymenoxys odorata dan
Ambrosia trifida apabila termakan oleh sapi perahan, air susu yang diha-
silkan berbau tidak menyenangkan. Gulma yang tercampur rumput yang di-
keringkan sebagai cadangan makanan ternak dapat memperpanjang waktu
pengeringan sehingga menyebabkan timbulnya jamur, akibatnya mutu ma-
kanan ternak menjadi rendah. Biji-biji gulma tertentu seperti Triumetta
lanuta, T. rhomboidea, Stachytarpheta, S. Jamaicensis, Themeda arguens
dan Chrysopiogon acicullatus dapat tersangkut dan melekat pada bulu-bulu
domba aki-batnya nilai wol atau kulit domba menurun.
5

II. BIOLOGI DAN EKOLOGI GULMA

Prinsip dasar pengendalian gulma adalah dengan mengetahui bahwa


gulma adalah spesies tanaman yang tumbuh di tempat yang tidak diinginkan
atau tanaman yang merugikan. Pengendalian yang efektif terhadap suatu
spesies gulma dengan mengetahui kebiasaan tumbuh dan metode reproduk-
si dari gulma tersebut.
Kebiasaan tumbuh yang berhubungan dengan iklim, sangat penting da-
lam menentukan saat yang paling rentan bagi satu spesies gulma yang akan
dikendalikan pada suatu tanaman tertentu. Gulma yang memiliki karakteris-
tik yang hampir sama dengan tanaman pokok lebih sulit dikendalikan secara
selektif.
Tahap pertumbuhan, jenis tanah, kondisi iklim, tanaman dan spesies
gulma merupakan faktor penting yang mempengaruhi tindakan pengendalian
gulma. Pertimbangan lokasi tumbuhnya gulma yang cukup menganggu se-
perti di lahan pertanian, tanah bekas hutan, kebun, lahan tandus atau industri
menuntut pemilihan cara pengendalian yang tepat. Perlu diketahui bahwa
pengendalian gulma itu sangat kompleks sehingga perlu diterapkan prinsip-
prinsip dasar agar tingkat efektifitas pengendalian gulma ini bisa maksimal.

2.1 Klasifikasi Gulma


2.1.1 Berdasar Siklus Hidup
Untuk menentukan metode yang tepat agar berhasil mengendalikan
atau memberantas spesies tanaman yang tidak diinginkan, kita harus tahu si-
klus hidupnya yaitu kelangsungan hidup dari tanaman tersebut sampai be-
rapa lama tanaman itu berkecambah dan tumbuh, serta jenis kemampuan re-
produksi apa yang dimiliki tanaman tersebut. Gulma dikelompokkan menurut
tiga jenis siklus hidup :
A. Gulma semusim (annual weed)
B. Gulma dua musim ( biennial weed)
C. Gulma tahunan (perennial)
6

A. Gulma semusim (annual weed)


Gulma semusim adalah gulma dengan siklus hidup kurang dari satu ta-
hun. Gulma ini menghasilkan banyak biji karena merupakan satu-satunya
sumber kelangsungan hidup tanaman ini. Kebanyakan biji gulma semusim
dapat tetap hidup di dalam tanah selama satu sampai tujuh tahun. Gulma se-
musim digolongkan dalam dua kategori:
2. Gulma semusim (musim panas) yang berkecambah di musim se-
mi, tumbuh selama musim panas, menghasilkan biji dan mati di
musim gugur. Selama musim dingin, biji tetap berada di dalam ta-
nah dan akan berkecambah di musim semi.
3. Gulma semusim (musim dingin) berkecambah di musim gugur,
tumbuh dan menghasilkan biji di musim semi dan di awal musim
panas. Biji di dalam tanah akan mati saat musim panas sebelum
berkecambah di musim gugur.
B. Gulma dua musim (biennial weed)
Gulma dua musim adalah gulma yang hidup lebih dari satu tahun tapi
tidak lebih dari dua tahun (gambar 1). Gulma biennial hanya bereproduksi
dari biji tanaman yang dapat hidup selama musim dingin, karena memiliki
sistem akar tunggang. Biasanya, biji berkecambah dalam satu musim dan
menghasilkan roset dengan akar tunggang berdaging. Gulma ini akan hidup
lebih lama dan berbunga serta menghasilkan biji selama musim tanam ke-
dua.

Gambar 1. Tanaman biennial adalah serumpunan daun yang hidup pada


akhir tahun pertama
7

C. Gulma Tahunan (perennial)


Gulma tahunan adalah gulma yang mampu bertahan hidup lebih dari
dua tahun. Biasanya, Gulma tahunan tidak menghasilkan biji selama masa
pembentukannya. Kebanyakan gulma tahunan bereproduksi dengan biji dan
menyebar secara vegetatif. Gulma tahunan ini diklasifikasikan menurut ke-
mampuan reproduksinya secara vegetatif:
1. Gulma tahunan sederhana adalah tanaman yang bereproduksi dengan
biji saja. Tanaman ini dapat menghasilkan tanaman baru dari potongan
bagian vegetatifnya. Gulma tahunan sederhana tidak mempunyai cara
khusus untuk bereproduksi (rimpang atau stolon). Akar tunggang dari
gulma ini mungkin sangat besar dan biasanya berdaging.
2. Gulma tahunan berumbi lapis adalah gulma yang bereproduksi dengan
umbi lapis, umbi kecil dalam tanah (bulbi), dan biji. Bawang liar meng-
hasilkan aerial bulbi sebagai alat reproduksi dan juga menghasilkan um-
bi lapis sekunder di dalam tanah (gambar 2).

Gambar 2. Wild garlic yang bereproduksi secara vegetatif dari umbi lapis
yang ada dalam tanah
3. Gulma tahunan yang merambat adalah gulma yang menyebar dengan
batang di atas tanah (stolon) yang dimodifikasi secara khusus atau ba-
tang di bawah tanah (rimpang), serta biji (gambar 3 dan 4). Stolon dan
rimpang menghasilkan kuncup vegetatif yang berkembang menjadi ta-
naman independen. Kelompok gulma ini paling sulit dikendalikan kare-
na mekanisme kelangsungan hidupnya berbeda-beda. Untuk mengen-
dalikan gulma tahunan yang merambat, maka produksi biji harus dihen-
8

tikan dan propagasi vegetatifnya harus dikurangi dengan menghancur-


kan bagian tanaman yang ada di dalam dan di atas tanah. Pembajakan
untuk menarik bagian rimpang dan stolon yang menyebar di seluruh la-
han jadi lebih sulit diketahui.

Gambar 3. Stolon di atas tanah yang Gambar 4. Beberapa tanaman pe-


memungkinkan Bermuda- rennial seperti John-
Grass menyebar secara songrass yang menye-
vegetatif bar dengan rhizoma

2.1.2 Berdasarkan Morfologi Gulma


Berdasarkan morfologinya gulma dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu :
1. Grasses (rumput-rumputan)
Tanaman rumput-rumputan adalah monokotiledon yang berarti
hanya ada satu kotiledon yang tetap tak terlihat di dalam biji dan ha-
nya ada satu daun pada masa perkecambahan. Daun-daun pada ta-
naman rumput-rumputan ini biasanya berukuran kecil dan tegak lurus
dengan barik-barik yang sejajar. Semua tanaman rumput-rumputan
tahunan memiliki akar serabut dan kebanyakan tanaman rumput-rum-
putan tahunan memiliki rimpang atau stolon dengan akar serabut.
Titik tumbuh pada tanaman rumput yang berkecambah ini berada pa-
da atau di bawah permukaan tanah (Gambar 5). Beberapa spesies
rumput-rumputan adalah gulma tahunan, termasuk Echinochloa
crusgalli, Digitaria sanguinalis, Bromus hordeaceus, Bromus
diandrus, Setaria spp., Bromus diandrus, dan Avena fatua. Sementa-
9

ra lainnya adalah gulma tahunan seperti Agrostis spp, Cynodon


dactylon, Poa annua, Sorghum halepense, Elytrigia repens, Phalaris
minor dan Triticum sp.

Gambar 5. Bagian-bagian tanaman rumput-rumputan (grasses)


2. Sedges
Sedges nampak seperti rumput-rumputan yang sebagian besar
batangnya berbentuk segitiga dan memiliki tiga baris daun, tapi ada
yang batangnya bulat. Kebanyakan sedges bisa ditemukan di tempat-
tempat yang basah, tapi yang lainnya bisa tumbuh di tanah yang su-
bur dengan sirkulasi air yang baik. Beberapa sedges sangat bermasa-
lah seperti Cyperus esculentus, Fimbristylis retroflexa, Scirpus
grossus L. dan Cyperus rotundus yang merupakan gulma tahunan
yang menghasilkan rimpang dan umbi akar (gambar 6).

Gambar 6. Gulma dari Kelompok Tekian (sedges)


10

3. Broadleaf (gulma berdaun lebar)


Tunas dari tanaman berdaun lebar memiliki dua struktur daun
yang menyolok saat muncul dari tanah (dikotiledon). Daun-daun dari
tanaman ini biasanya lebar dengan barik-barik seperti jala. Tanaman
berdaun lebar biasanya memiliki akar tunggang dengan sistem akar
yang relatif kasar. Semua tanaman berdaun lebar yang tumbuh aktif
bisa dilihat dari titik tumbuh pada ujung akar, pada ujung tiap-tiap ba-
tang dan di tiap ketiak daun (Gambar 7).
Gulma tahunan berdaun lebar mungkin juga memiliki titik tumbuh
pada stolon atau struktur reproduksi vegetatif lain berikut batang yang
ada di atas tanah. Tanaman berbatang lunak (herbaceous) tidak me-
ngembangkan jaringan berkayu di atas tanah. Gulma berdaun lebar
termasuk dalam spesies yang memiliki siklus hidup semusim, biennial
dan tahunan. Gulma berdaun lebar semusim contoh Kochia scoparia,
Amaranthus spp., Ageratum conyzoides, Portulaca oleracea, Trifolium
repens, Helianthus spp., Eclipta alba; gulma biennials contohnya
Cirsium vulgare, Verbascim thapsus, Carduus nutans, Daucus sp,
Pastinaca sativa, dan gulma tahunan contohnya Cirsium arvense,
Trifolium spp, Rumex crispus, Taraxacum officinale, Convolvulus
arvensis, Vernonia missurica, Centaurea nigra L., Euphorbia esula,
Lepidium latifolium, Lythrum salicaria, Senecio jacobae, dan Linaria
vulgaris.

Gambar 7. Bagian-bagian tanaman berdaun lebar


11

2.1.3 Berdasarkan Habitat


Berdasarkan habitatnya gulma dapat digolongkan menjadi :
1. Gulma air (Aquatic weeds) yaitu gulma yang sebagian atau seluruh
daur hidupnya berada di air. Contoh : Jussieua linifolia Vahl., Mono-
choria vaginalis Presl, dan Hyldrilla verticillata Presl.
2. Gulma darat (Terrestrial weeds) yaitu gulma yang tumbuh di lahan ke-
ring. Contoh : Cyperus rotundus L., Imperata cvlindrice L., Borrerria
latifolia K.Sch. dan Tridax procumbens L. Jenis-jenis gulma ini apa-
bila tergenang air akan mudah mati.
3. Gulma yang menumpang pada tanaman lain (Aerial weeds), gulma ini
hidupnya menumpang pada tanaman lain, ada yang bersifat epifit dan
parasit. Contoh yang bersifat parasit ialah Loranthus sp., Cassytha
sp. Dan Cuscuta sp., yang bersifat epifit ialah Asplenium sp., Davallia
sp., Gycloporus sp., dan Hymenolepis sp.
2.1.4 Berdasarkan Cara Hidup
Berdasarkan cara hidup atau cara merugikan gulma dapat dikelompok-
kan menjadi :
1. Gulma kompetitif, yaitu gulma yang sangat kuat melakukan kompetisi
sehingga mampu mendominasi tanaman budaya. Contoh : Cyperus
rotundus L. yang tumbuh di antara tanaman padi kering, Amaranthus
spinosus yang tumbuh di antara tanaman kedelai dan Boerhaavia
erecta L. yang tumbuh di antara tanaman kacang tanah.
2. Gulma parasit, yaitu gulma yang hidupnya menumpang serta me-
ngambil makanan dari tanaman yang ditumpangi. Contoh : Loran-
thus sp. pada tanaman buah-buahan, Cuscuta sp. (tali putri) pada
tanaman beluntas.
3. Gulma epifit, yaitu gulma yang hidupnya menumpang tetapi tidak me-
ngambil makanan dari tanaman yang ditumpanginya. Apabila se-
lama pertumbuhan tidak merugikan tanaman yang ditumpangi maka
disebut epifit murni (true epiphytes), contoh : jenis-jenis paku-pakuan,
sedang apabila kemudian bersifat kompetitif maka disebut epifit palsu
(half epiphytes) contoh : Ficus sp.
12

4. Gulma ruderal, yaitu jenis-jenis gulma yang tumbuh di lahan yang ti-
dak digunakan untuk usaha produksi sehingga kehadirannya tidak di-
pedulikan oleh manusia. Contoh : jenis-jenis gulma yang tumbuh di
kuburan, tepi jalan, pagar pekarangan atau tebing sungai seperti Ele-
phantopus scaber, Sida acuta, Urena lobata, Stachytarphata indica
dan Triumpheta laputa.

2.2 Tahap Pertumbuhan Gulma


Tahap pertumbuhan gulma dapat dibagi menjadi 4 tahap yaitu :
A. Perkecambahan
Pada tahap perkecambahan, daun biji (kotiledon) mungkin akan mun-
cul bersama dengan daun murni pertama. Pada tahap ini, ukuran tanaman
masih kecil dan mudah dikendalikan.
B. Vegetatif
Pada tahap vegetatif, akar, batang dan daun mulai tumbuh dengan ce-
pat. Hal ini berhubungan dengan penyerapan air dan unsur hara yang cepat
dari dalam tanah untuk kemudian disalurkan ke seluruh bagian tanaman dan
menghasilkan nutrisi tanaman (gula) melalui fotosintesis. Aktifitas ini mem-
buat sebagian besar herbisida menjadi jauh lebih efektif dalam mengenda-
likan tanaman.
C. Reproduksi
Pada tahap reproduksi, tanaman akan menghasilkan bunga dan biji
serta buah. Pada tahap ini pertumbuhan tanaman jadi terbatas karena pe-
nyerapan air dan unsur hara menjadi lambat. Pengangkutan (translokasi)
air dan makanan bagi tumbuhan (unsur hara dan gula) mengarah ke bagian-
bagian reproduksi seperti bunga, buah dan biji. Pengangkutan makanan
tanaman dan herbisida ke akar juga berkurang.
D. Matang/dewasa (layu)
Pada tahap matang/dewasa, terjadi sedikit pertumbuhan dan bahkan
ada yang tidak sama sekali. Pengangkutan air, unsur hara dan herbisida pa-
da tanaman sangat rendah. Pada tahap ini, gulma tahunan mentransloka-
sikan gula ke akar sebagai cadangan di musim dingin. Pemberian herbisida
13

yang ditranslokasikan pada gulma tahunan mungkin terbukti paling efektif


pada saat ini (gambar 8).

Gambar 8. Empat tahap perkembangan gulma

Tanaman pada tahap perkecambahan mudah dikendalikan dengan


menggunakan herbisida karena permukaan daun mudah menyerap herbisida
akibat kurangnya lapisan lilin pada daun dan bulu-bulu di bagian permukaan.
Selain itu, tanaman yang lebih muda memiliki akar-akar kecil di dekat permu-
kaan tanah. Ukuran tanaman yang cukup kecil dapat diatasi dengan pem-
berian sedikit herbisida sehingga gulma yang mati tidak terlihat. Saat tanam-
an semakin membesar, daunnya akan sulit ditembus herbisida dan akar-
akarnya semakin dalam sehingga dapat menyimpan lebih banyak makanan.
Disarankan waktu pemberian herbisida yang tepat untuk mengendalikan gul-
ma adalah saat tanaman berada dalam tahap pertumbuhan yang optimal.

2.3 Perkecambahan Biji Gulma


Perkecambahan mencakup beberapa tahap dikarenakan embrio yang
tidak aktif berubah menjadi embrio yang aktif secara metabolis karena ukur-
annya bertambah besar dan muncul dari biji. Hal ini berhubungan dengan
penyerapan air dan oksigen, pemakaian cadangan makanan dan pelepasan
karbondioksida. Untuk proses ini, biji harus ada dalam lingkungan yang baik.
Persyaratan khusus untuk perkecambahan biji pada setiap spesies tanaman
berbeda-beda dan meskipun persyaratannya sudah optimal, mungkin biji ti-
dak berkecambah karena mengalami dormansi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkecambahan gulma :
14

1. Kelembaban
Biji menyerap air, sistem enzim teraktivasi, cadangan makanan
untuk energi.
2. Suhu
a. Pada musim dingin, biji akan berkecambah pada suhu yang lebih
rendah dibanding saat musim panas. Russian pigweed dapat ber-
kecambah pada tanah yang membeku.
b. Suhu tinggi seringkali menyebabkan dormansi sekunder.
c. Suhu yang berubah-ubah sangat baik untuk perkecambahan yang
optimal.
3. Oksigen
a. Kandungan oksigen yang rendah sangat dibutuhkan untuk tanam-
an air seperti cattails (Typha sp.)
b. Pengolahan tanah seringkali mempercepat perkecambahan akibat
kandungan oksigen dalam tanah meningkat.
4. Cahaya
Untuk berkecambah peranan cahaya tidak dibutuhkan oleh semua biji.
a. Kuantitas : Lepidium virginicum membutuhkan cahaya agar bisa
berkecambah. Lamium amplexicaule hanya akan berkecambah di
tempat gelap. Spesies lain yang peka terhadap cahaya adalah Ipo-
moea sp., Abutilon theophrasti, Brassica sp., dan Rumex crispus.
b. Kualitas : selada akan mengalami perkecambahan sebesar 50%
saat terkena sinar infra merah (lebih besar dari 7000 angstroms),
100% saat terkena sinar merah (6470-7000 angstroms), dan ha-
nya 8% tanpa cahaya.
c. Durasi : fotoperiod berhubungan dengan lamanya waktu malam
vs. Siang.
5. Penghambat kimiawi di dalam tanah : Elytrigia repens, Sorghum
halepense, Cynodon dactylon, Avena fatua dan Juglans nigra mele-
paskan zat allelopathic yang menghambat perkecambahan biji lain.
15

2.4 Dormansi Biji Gulma


Dormansi adalah tahap istirahat bagi biji dan merupakan mekanisme
biji untuk bertahan hidup guna mencegah agar biji tidak berkecambah saat
kondisi tidak memungkinkan untuk bertahan hidup. Dormansinya bersifat in-
nate, induced atau enforced.
2.4.1 Innate Dormansi
Dormansi innate menghambat perkecambahan pada saat biji terlepas
dari tanaman. Setelah biji terpisah dari tanaman induknya, maka dibutuhkan
waktu agar embrio yang belum matang bisa berkembang, sehingga peng-
hambat alami agar biji bisa terlepas, atau perbedaan suhu yang ekstrim da-
pat memecah lapisan kulit biji yang keras sehingga memungkinkan biji ber-
kecambah.
2.4.2 Induced Dormansi
Induced Dormansi adalah dormansi sementara yang terjadi saat biji
mendapatkan suhu panas atau dingin atau dalam kondisi lingkungan lainnya.
Hal ini terus berlanjut setelah lingkungan mengalami perubahan dan mence-
gah perkecambahan pada waktu yang salah.
Seringkali dibutuhkan masa bagi biji untuk berkecambah setelah ma-
sak. Embrionya mungkin sudah berkembang sempurna tapi biji tidak akan
berkecambah meskipun lapisan kulitnya sudah mengelupas sehing-ga bisa
menyerap air dan oksigen dengan mudah. Ada tidaknya cahaya tidak ber-
pengaruh sama sekali. Terkadang suhu yang sejuk selama beberapa bulan
akan mengakhiri masa dormansi ini.
Suhu panas mungkin bisa merangsang terjadinya dormansi pada ta-
naman musim panas seperti Setaria pumila dan Amaranthus spp. Hal ini da-
pat mencegah biji agar tidak berkecambah di musim gugur. Suhu dingin se-
lama musim gugur dan musim dingin akan menghentikan masa dormansi ini
sehingga biji bisa berkecambah di musim semi saat kondisinya benar-benar
tepat. Proses ini terjadi secara terbalik pada tanaman tahunan musim dingin.
2.4.3 Enforced Dormansi
Enforced Dormansi disebabkan oleh kondisi lingkungan yang kurang
baik seperti suhu, kelembaban, oksigen, cahaya, dan adanya penghambat
16

lain. Saat batasan lingkungan ini sudah bisa diatasi, biji gulma akan berke-
cambah dengan bebas.
2.5 Penyebaran Biji Gulma
Penyebaran biji gulma dapat terjadi secara alami atau buatan. Biasa-
nya, penyebaran biji tidak terjadi dengan sendirinya melainkan tergantung
pada faktor-faktor lain.
2.5.1 Alami
A. Angin
Beberapa gulma memiliki penyesuaian khusus yang pada penyebar-
an bijinya dibantu oleh angin.
a. Kecil/ ringan: Striga sp.
b. Berbulu/feathery pappus: Taraxacum officinale, Sonchus aolera-
ceous
c. Berambut (tertutup seperti kapas) : Aster sp., Aesclepias sp.
d. Bagian batang bersayaptanaman berkayu : Acer sp., Pinus sp.
e. Bagian batang bersayaptanaman berbatang lunak : Daucus sp.,
Rumex sp.
f. Robohnya tanaman induk yang mati : Amaranthus albus, Salsola
iberica
g. Lapisan pelindung biji yang lengket dan melekat ke daun akibat
terbawa angin : Plantago sp., Arceuthobuim sp.
B. Air
Beberapa gulma memiliki penyesuaian khusus yang pada penyebar-
an bijinya dibantu oleh air, karena hanyut terbawa aliran air, irigasi/-
saluran drainase.
a. Ringan, berstruktur suberisasi : mentimun (Cucurbitaceae), Datura
stramonuim
b. Kelopak yang menggembung berisi udara : Rumex crispus dan
Physalis sp.
c. Air irigasi - yang banyak mengandung biji gulma.
17

C. Binatang
Membawa biji yang melekat pada bulu binatang atau pakaian,
menempel dan menyebar :
a. Tersangkut, menempel atau terkait pada bulu binatang : Xanthium
strumarium, Bidens alba dan Cenchrus longispinus.
b. Pelindung biji yang bergetah atau lengket yang menempel pada
binatang yang lewat : Desmodium tortuosum.
c. Tidak bisa dicerna dan diekskresi dalam kotoran hewan : Acacia
farnesiana, Prosopis glandulosa, Phoradendron serotinum dan
Rottboellia cochinchinensis (Lour.) Clayton oleh burung.
D. Pelepasan biji dari polongnya
Polong biji akan melepaskan atau mendorong biji terlepas tidak jauh
dari tanaman. Contoh : Caperonia castanifolia, Euphorbia pulcherrima
dan Impatiens wallerana
2.5.2 Buatan
Dilakukan dengan menggunakan mesin, peralatan panen, alat bajak be-
rikut piringannya, truk dan kendaraan lain, alat-alat berat, peralatan penge-
boran minyak, biji tanaman yang terkontaminasi.
Penyebaran gulma tahunan oleh propagula vegetatif satu umbi dari
Cyperus esculentus dapat menghasilkan 146 umbi dalam waktu 14 minggu,
Sorghum halepense dapat menghasilkan 200 sampai 300 ft. Rizoma dalam
satu musim.
Propagul seringkali dipindahkan oleh alat bajak. Hal ini biasa terjadi di
ladang tebu di mana gulma tahunan menyebar akibat pembajakan lahan.
2.6 Persaingan Gulma
Gulma dan pertanaman yang diusahakan manusia adalah sama-sama
tumbuhan, mempunyai kebutuhan yang serupa untuk pertumbuhan normal-
nya. Semua tumbuhan itu membutuhkan zat hara yang sama, yaitu air, ca-
haya, energi panas (Suhu), oksigen dan karbon dioksida. Apabila jika dua
atau lebih tumbuhan tumbuh berdekatan, maka perakaran kedua tumbuhan
itu akan terjalin rapat satu sama lain dan tajuk kedua tumbuhan akan saling
menaungi. Tumbuhan yang memiliki perakaran yang lebih luas dan lebih
18

besar volume serta lebih banyak dan tinggi tajuknya, maka akan menguasai
(mendominasi) tumbuhan yang lainnya. Dengan demikian perbedaan sifat
dan habitus tumbuhanlah yang merupakan sebab-sebab terjadinya persa-
ingan antara tumbuhan yang sama (intra-specific competition) dan yang ber-
beda (inter specific competition). Persaingan gulma terhadap pertanaman
disebabkan karena gulma lebih tinggi, rimbun tajuk dan luas perakarannya,
sehingga pertanaman akan kalah bersaing dengan gulma tersebut.
Beberapa species gulma menyaingi pertanaman dengan mengeluar-
kan senyawa dan zat-zat beracun dari akarnya (root exudates atau loacha-
tes) atau pembusukan bagian vegetatifnya. Persaingan yang timbul akibat
dikeluarkannya zat yang meracuni tumbuhan lain disebut Allelopathy.
Pada umumnya, persaingan gulma terhadap pertanaman terjadi pada
seperempat sampai sepertiga pertama umur pertanaman, atau biasanya
enam minggu setelah pertanaman disebar atau ditanamkan. Persaingan
gulma pada awal pertumbuhan akan mengurangi kuantitas hasil Panen ta-
naman. Sedangkan gangguan dan persaingan gulma menjelang panen
pertanaman berpengaruh lebih besar terhadap kualitas hasil panennya.
Waktu pemunculan (emergence) gulma terhadap pertanaman meru-
pakan faktor penting di dalam persaingan. Gulma yang muncul atau berke-
cambah lebih dahulu bahkan bersamaan dengan tanaman yang dikelola,
berakibat besar terhadap pertumbuhan dan hasil panen pertanaman. Se-
dangkan gulma yang berkecambah (2-4 minggu) setelah pemunculan per-
tanaman sedikit pengaruhnya.
Setiap pertanaman mempunyai poriode kritis terhadap persaingan gul-
ma. Suatu misal kacang tanah tidak berkurang hasil panennya, apabila gul-
ma yang berkecambah dan tumbuh bersamaan dibiarkan selama 3 minggu.
Demikian pula dengan sorgum, hasil panennya tidak menurun apabila
species gulma Amaranthus sp. dibiarkan selama 2 minggu pertama setelah
penanaman.
Kelebatan atau kerapatan populasi gulma menentukan besar persaing-
an gulma terhadap pertanaman, makin rapat populasi gulma semakin besar
persaingan dan makin besar pula penurunan produksi pertanaman. Di sam-
19

ping kerapatan populasi, macam species gulma sangat menentukan besar-


nya persaingan. Species gulma yang tumbuh cepat, berhabitus besar dan
memiliki metabolisme yang efisien akan menjadi gulma yang berbahaya ka-
rena sangat kuat daya saingnya. Tumbuhan yang efisien metabolismenya
adalah yang tergolong tumbuhan berjalur fotosintesis C 4. Tumbuhan yang
tergolong C4 adalah famili Gramineae (tebu, jagung, Sorgum dan sebagian
terbesar gulma tropik), Cyperaceae (teki) dan Amaranthaceae (bayam duri).
Tumbuhan lain yang kurang efisien metabolismenya yaitu yang berjalur foto-
sintesis C3, seperti padi, kentang, kedele dan lainnya.
Species gulma yang kuat menyaingi pertanaman adalah yang memiliki
tajuk, perakaran yang luas dan banyak, pertumbuhan yang cepat, waktu ber-
kecambah dan pemunculan lebih awal daripada pertanamannya, kerapatan
yang cepat meninggi dan semacam species yang berjalur fotosintesis C4. Di
samping itu untuk berbagai pertanaman terdapat asosiasi species gulma
tertentu dan gulma yang lebih berbahaya adalah yang lebih mirip dengan
bentuk dan sifat kebutuhan pertanamannya.
2.6.1 Faktor-Faktor yang Dipersaingkan
A. Persaingan Memperebutkan Air
Sebagaimana dengan tumbuhan lain, gulma membutuhkan banyak air
untuk hidup. Air diserap dari dalam tanah, kemudian sebagian besar diuap-
kan (transpirasi) dan hanya sekitar satu persen saja yang dipakai untuk
proses fotosintesis. Untuk tiap kilogram bahan organik , gulma membutuhkan
330 sampai 1900 liter air. Kebutuhan yang besar tersebut hampir dua kali
kebutuhan pertanaman. Contoh : gulma Helianthus annus membutuhkan air
sebesar 2,5 kali tanaman jagung. Persaingan memperebutkan air terjadi pa-
da pertanian kering atau di tegalan.
B. Persaingan Memperebutkan Hara
Setiap lahan berkapasitas tertentu dalam mendukung pertumbuhan
berbagai pertanaman dan tumbuhan yang tumbuh di permukaannya. Jum-
lah bahan organik yang dapat dihasilkan pada lahan itu tetap walaupun kom-
posisi tumbuhannya berbeda. Karena itu bila gulma tidak diberantas, se-
bagian dari hasil bahan organik pada lahan itu berupa gulma. Hal ini berarti
20

bahwa pemupukan akan menaikkan daya dukung lahan, tetapi tidak akan
mengurangi komposisi hasil tumbuhan atau gangguan gulma tetap ada dan
merugikan walaupun tanah dipupuk.
Biasanya unsur Nitrogen yang diperebutkan antara pertanaman dan
gulma, oleh karena unsur ini lebih cepat habis terpakai. Gulma menyerap le-
bih banyak unsur hara daripada pertanaman. Pada bobot kering yang sama,
gulma mengandung kadar Nitrogen dua kali lebih banyak daripada jagung,
fosfat 1,5 kali lebih banyak, 3,5 kali lebih banyak Kalium, 7,5 kali lebih ba-
nyak Kalsium dan lebih dari 3 kali lebih banyak Magnesium. Dapat dikata-
kan bahwa gulma lebih rakus akan unsur hara daripada tanaman yang di-
kelola manusia.
C. Persaingan Memperebutkan Cahaya
Apabila air dan hara telah cukup dan pertumbuhan berbagai tumbuhan
subur, maka faktor pembatas berikutnya adalah cahaya matahari. Pada ca-
haya matahari yang redup (di musim hujan) berbagai tanaman berebut untuk
memperoleh cahaya matahari.
Tumbuhan yang berhasil dalam bersaing mendapatkan cahaya adalah
yang tumbuh lebih dahulu, oleh karena tumbuhan itu lebih tua, lebih tinggi
dan lebih rimbun tajuknya. Tumbuhan lain yang lebih pendek, muda dan ku-
rang tajuknya akan dinaungi oleh tumbuhan yang terdahulu, yang menye-
babkan pertumbuhannya akan terhambat.
Tumbuhan yang berjalur fotosintesis C4 lebih efisien menggunakan air,
suhu dan sinar, sehingga lebih kuat bersaing berebut cahaya pada keadaan
cuaca mendung. Oleh karena itu penting untuk memberantas gulma dari fa-
mili Cyperaceae dan Gramineae dari sekitar rumpun-rumpun padi yang ber-
jalur C3 .
D. Pengeluaran senyawa beracun
Tumbuhan juga dapat bersaing di antara sesamanya secara interaksi
biokimia, yakni salah satu tumbuhan mengeluarkan senyawa beracun ke
sekitarnya dan dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada tumbuh-
an yang lainnya. Interaksi biokimia antara gulma dan pertanaman dapat
menyebabkan gangguan perkecambahan biji (pertanaman), kecambah jadi
21

abnormal, pertambahan panjang akar terhambat, perubahan susunan sel


akar dan lain sebagainya.
Senyawa beracun dapat keluar dari perakaran gulma, daun, batang dan
bagian-bagian tumbuhan yang membusuk. Umumnya senyawa yang dikelu-
arkan adalah dari golongan fenol. Species gulma yang diketahui mengeluar-
kan senyawa-senyawa beracun adalah Imperata cylindrica, Cynodon dacty-
lon, Cyperus rotundus, Agropyrus intermedium, Salvia lencophyela.
Penelitian tentang hal ini tantangan bagi para ahli yang bekerja dalam
bidang senyawa-senyawa alami atau herbisida tiruan/sintetik, maka kesuli-
tan yang paling sering dialami di dalam melakukan penelitian ini adalah untuk
dapat memisahkan pengaruh-pengaruh sampingan dari pengaruh yang uta-
manya. Meskipun pengaruh-pengaruh ini dapat dipisahkan dan diukur dalam
sistem yang terisolasi dan spektif, masih terdapat beberapa masalah tentang
apakah senyawa-senyawa penghambat yang telah mencapai bagian tertentu
dari tumbuh-tumbuhan konsentrasinya cukup untuk mempengaruhi reaksi-
nya.
1. Pengaruh terhadap Penyerapan Hara
Telah banyak bukti-bukti yang menunjukkan bahwa senyawa-senyawa
alelopati dapat menurunkan kecepatan penyerapan ion-ion oleh tumbuh-tum-
buhan. Ini merupakan salah satu mekanisme yang dihasilkan oleh adanya
interaksi antar tumbuhan yang lebih dikenal sebagai kompetisi. Sebagai
contohnya, asam salisilat yang termasuk ke dalam golongan fenol, telah
dibuktikan dapat menghambat pengikatan kalium oleh tumbuh-tumbuh-an.
Asam-asam salisilat dan ferulat merupakan senyawa penghambat penyerap-
an unsure K oleh akar terutama pada pH yang rendah.
Chambers dan Holm (1965) mengukur tingkat penyerapan 32 P pada
kacang panjang (phaseolus vulgaris) yang ditumbuhkan bersama-sama jenis
kacang-kacangan lain atau bebayaman (Amaranthus fetroflexus). Diperoleh
hasil bahwa meskipun bebayaman menggunakan 7 kali lebih banyak fosfor,
tetapi pengaruhnya terhadap penyerapan P pada kacang panjang berkurang
jika dibandingkan dengan jenis kekacangan yang lainnya. Buchhotz (1971)
mengemukakan bahwa adanya tumbuhan agropyron menyebabkan gejala
22

kekurangan N dan K pada jagung, tetapi dengan pemupukan yang berle-


bihan dari unsur-unsur ini akan meniadakan gejala-gejala yang timbul.
2. Penghambatan Pembelahan Sel
Beberapa jenis alelokimia menunjukkan pengaruh yang menghambat
pembelahan sel-sel akar tumbuhan. Sebagai contohnya kumarin dapat
menghambat pembelahan sel akar secara total pada bawang beberapa jam
setelah perlakuan. Terpen yang mudah menguap yang dihasilkan Salvia
leucophylla merupakan senyawa penghambat pembelahan sel pada kecam-
bah mentimun. Senyawa ini juga menghambat pembelahan sel pada bebe-
rapa jenis bakteri tanah.
3. Penghambatan Pertumbuhan
Hormon pertumbuhan asam indolasetat (IAA) dan giberelin (GA) telah
dibuktikan mempengaruhi pembesaran sel pada tumbuh-tumbuhan. IAA
dijumpai pada tumbuh-tumbuhan baik dalam bentuk yang aktif maupun yang
tidak dan menjadi tidak aktif oleh adanya enzim IAA oksidase. Beberapa
alelokimia diketahui mempengaruhi aktivitas IAA oksidase. Sebagai contoh
asam monohidroksibenzoat yang merangsang aktivitas IAA oksidase, se-
dangkan asam 3,4-dihidroksibenzoat dan asam ferulat merupakan senyawa
penghambat yang sangat kuat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
senyawa-senyawa fenol dan glikosida flavonoid memegang peranan penting
di dalam mengontrol aktivitas IAA oksidase pada tumbuh-tumbuhan. Bebe-
rapa senyawa penghambat lainnya dilaporkan juga dapat menghambat akti-
vitas GA yang berperan di dalam merangsang pertumbuhan. Di antara
senyawa-senyawa ini ada dari golongan fenol dan tanin yang mudah terhi-
drolisis.
4. Penghambatan AKtivitas Fotosintesis
Perbagai jenis herbisida sintesis yang beredar di pasaran mempunyai
aktivitas menghambat fotosintesis sejak awal pertumbuhan kecambah. Ke-
cambah akan mati segera setelah terkena cahaya yang sering kali terjadi
sesaat sebelum tumbuhan muncul di permukaan tanah. Senyawa pengham-
bat fotosintesis kemungkinannya adalah senyawa yang dapat bergerak
melalui electron atau bersama-sama energi atau kombinasi keduanya.
23

Laporan-laporan tentang adanya pengaruh alelokimia di dalam reaksi


fotosintesis adalah sangat langka. Einhellig dan kawan-kawan (1970) mem-
peroleh hasil dari pengamatannya bahwa segera setelah perlakuan dengan
skopoletin yang termasuk golongan kumarin, aktivitas fotosintesis pada bu-
nga matahari, tembakau dan bebayaman menjadi menurun. Senyawa-
senyawa ini juga dapat menyebabkan penutupan stomata/mulut daun. Ma-
sih belum diketahui pengaruhnya yang lebih awal, apakah mulut daun tertu-
tup dulu baru fotosintesis menurun atau sebaliknya. Beberapa penelitian lain
menunjukkan bahwa asam fenolat dapat menurunkan kandungan klorofil dan
kecepatan fotosintesis pada tanaman kedelai. Pada penelitian ini diperlukan
konsentrasi yang cukup tinggi (5 x 10-4 sampai 10-3 M).
5. Pengaruh terhadap Respirasi
Senyawa-senyawa kimia dapat menstimulir atau menghambat respirasi.
Pada keadaan yang memberikan stimulasi (meningkatkan penyerapan O2)
proses fosforilasi akan dihambat dan menyebabkan pembentukan ATP
(energi) menjadi berkurang. Juglon yang termasuk golongan senyawa asam
aromatic, fenolat, aldehid, flavonoid dan kumarin juga mempengaruhi ter-
jadinya fosforilasi.
Beberapa senyawa yang diisolasi dari tanah telah memberikan penga-
ruh menghambat respirasi akar. Juglon juga merupakan salah satu dianta-
ranya yang dapat menurunkan respirasi akar jagung sebesar 90% setelah 1
jam perlakuan. Terpen yang dihasilkan oleh Salvia juga mempunyai penga-
ruh yang sama terhadap mitokondria mentimun dan oat.
6. Pengaruh terhadap Sintesis Protein
Penelitian untuk mengamati pengaruh alelokimia terhadap sistesis pro-
tein biasanya memerlukan penggunaan gula atau asam amino yang telah di-
tandai dengan radioaktif (14C) yang kemudian dimasukkan ke dalam protein.
Asam ferulat dan kumarin keduanya dapat menghambat pengikatan fenil-
alanin (14C) ke dalam rantai protein pada biji dan kecambah. Demikian juga
yang terjadi pada ganggang yang dihambat oleh penggunaan kinon.
24

7. Perubahan Ketegangan Membran


Banyak senyawa yang mempunyai aktivitas biologis berpengaruh ter-
hadap penurunan daya permeabilitas membran. Membran tumbuh-tumbuh-
an sangatlah sukar untuk dipelajari secara mendalam. Senyawa fenol dike-
tahui meningkatkan pelepasan ion kalium dari jaringan-jaringan akar. Tem-
pat yang mula-mula sekali dipengaruhi oleh asam salisilat adalah plasmo-
lema, pada pH yang rendah plasmolema dan tonoplasma akan menjadi me-
nipis dan kebocoran ion K akan mudah terjadi. Beberapa senyawa yang
tergolong ke dalam fenol juga menunjukkan pengaruh yang dapat mening-
katkan permeabilitas membran saraf pada siput. Beberapa pathogen
tumbuh-tumbuhan yang menyebabkan penyakit layu daun juga mengeluar-
kan racun, seperti asam fusarat atau pikolinat.
8. Penghambatan Aktivitas Enzim
Beberapa jenis enzim tumbuh-tumbuhan dapat dihambat oleh adanya
alelokimia. Sebagai contoh enzim fosforilase pada tomat dihambat oleh
adanya asam khlorogenat, kafein dan katekol. Tanin juga dapat mengham-
bat aktivitas enzim-enzim peroksidase, katalase, selulose, poligalakturonase,
amylase dan enzim-enzim lain sejenisnya.
Sekresi akar beberapa tanaman pangan juga dilaporkan dapat meng-
hambat aktivitas enzim katalase dan peroksidase dari gulma bebayaman dan
Chenopodium sp. Salah satu mekanisme yang memungkinkan tumbuh-tum-
buhan dapat tahan terhadap serangan penyakit adalah dengan memproduksi
toksin yang dapat menghambat aktivitas pelbagai enzim yang dikeluarkan
mikroba penyakit. Penghambatan enzim-enzim yang memegang peranan
penting di dalam perkecambahan biji-biji gulma dapat dimanfaatkan sebagai
herbisida alami yang sangat efektif.
2.6.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Persaingan Gulma
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi derajat kompetisi, hal ini bisa
dilihat pada gambar 9.
A. Spesies/jenis gulma
Spesies/jenis gulma yang berbeda mempunyai kemampuan berkompe-
tisi yang berbeda pula. Perbedaan pertumbuhan teh akibat kompetisi dengan
25

berbagai jenis gulma (Tabel 1).

- Spesies
- Kepadatan Gulma
- Distribusi
- Waktu penyiangan Dimodifikasi oleh
keadaan iklim dan Derajat
lingkungan kompetisi
- Kepadatan
- Tanaman lain Tanaman
- Distribusi sesama spesies
- Waktu penjarangan

Gambar 9 : Diagram skematik yang menunjukkan sifat derajat kompetisi.

Tabel 1. Jumlah Rata-rata Primer Tanaman Teh yang Dihasilkan 9 Bulan


Setelah Perlakuan Kompetisi (Soedarsan dkk., 1975)

Spesies Gulma yang Berkompetisi dengan Teh Cabang Primer

Imperata cylindrica 21,83


Artemisia vulagaris 20,11
Paspalum conjugatum 20,78
Borreria alata 24,25
Eupatorium riparium 19,28
Panicum repens 23,03
Ageratum haustonianum 22,19
Bersih gulma 26,28

Cabang tanaman teh muda yang tumbuh pada keadaan bersih gulma
menghasilkan 26,28 cabang, ini berbeda nyata dengan jumlah cabang teh
yang tumbuh bersama gulma, kecuali gulma Borreria alata.

B. Densitas tumbuhan

Densitas gulma yang tumbuh pada suatu area bervariasi menurut


musim yang ada. Pada musim hujan/basah densitas gulma tinggi karena
persediaan air cukup, tetapi pada musim kemarau populasi gulma rendah.

Densitas gulma yang bervariasi ini menimbulkan pula variasi dalam


penurunan hasil suatu tanaman budidaya. Jelas bahwa semakin tinggi den-
26

sitas gulma, semakin rendah hasil tanaman budidaya. Namun populasi gul-
ma yang rendah sekali biasanya tak mempengaruhi produksi.

C. Waktu Persaingan Gulma


Pengaruh waktu persaingan gulma di sini adalah berapa lama suatu
individu tanaman yang ada tumbuh bersama individu tanaman lain, atau be-
rapa lama gulma tumbuh bersama tanaman budidaya. Hal ini akan menun-
jukkan informasi periode kritis tanaman budidaya dalam berkompetisi dengan
gulma (dibahas lebih lanjut pada Bab periode kritis).
D. Distribusi Gulma
Distribusi dapat diartikan sebagai cara penyebaran gulma. Gulma yang
dapat menyebar dengan biji dan akar rimpang, besar kemungkinan akan da-
pat menghasilkan nilai kompetisi yang lebih tinggi, apabila kedua cara terse-
but dapat dorman pada suatu saat, sehingga pada saat tertentu, apabila
keadaan lingkungan yang cocok untuk tumbuh, dapat tumbuh dan meluas.
Banyak biji-bijian gulma yang dorman pada musim kemarau. Andaikata mu-
sim penanaman suatu tanaman budidaya datang dan air hujan cukup, maka
biji gulma akan tumbuh. Di perkebunan tebu yang ditanam di daerah-daerah
tegalan, pada musim penanaman September-Oktober sewaktu hujan mulai
datang, biji gulma mulai tumbuh seperti Echinochloa colonum, Mimosa spp.,
Digitaria spp., Borreria spp., Rothboelia spp.,
E. Kultur Teknik
Pada penanaman tanaman budidaya, keadaan populasi gulma akan
tinggi apabila tanaman yang kita tanam masih muda, yaitu tajuk belum ter-
tutup rapat. Tetapi pada saat tanaman tua (menutup tajuknya), gulma bia-
sanya akan berkurang. Hal ini dapat dilihat bahwa kita akan sukar menjum-
pai gulma yang tumbuh pada perkebunan kopi, coklat dan lain-lain yang
tajuknya telah menutup rapat.
Gulma dari golongan rerumputan sangat membutuhkan sinar matahari
untuk pertumbuhannya. Oleh karena itu pada pertanaman budidaya yang
berjarak cukup lebar, gulma masih menjadi masalah apabila tidak dikenda-
likan. Beberapa cara pemakaian penutup tanah (LCC : legume cover crop)
27

dapat digunakan untuk mengendalikan gulma, seperti Calopogonium mucu-


noides, Centrosema pubescens, Pueraria javanica dan lain sebagainya.
F. Jenis/varietas tanaman budidaya
Kecepatan pertumbuhan setiap tanaman budidaya akan menentukan
kemampuannya berkompetisi terhadap gulma. Suatu tanaman yang dapat
tumbuh cepat akan mampu menghambat pertumbuhan gulma.
G. Pemupukan
Gulma akan tumbuh lebih baik pada keadaan status unsur hara yang
cukup, yang membuat gulma lebih mempunyai daya kompetisi yang kuat.
Oleh karena itu pengendalian gulma di daerah yang dipupuk akan menjadi
suatu keharusan.
Sebaliknya, beberapa ahli berpendapat bahwa pemupukan akan dapat
meningkatkan competitive ability (kemampuan bersaing dari tanaman). Na-
mun keadaan di atas tidaklah selalu benar, karena hal tersebut masih dipe-
ngaruhi oleh beberapa hal, seperti jenis dan populasi gulmanya. Sebagai
contoh : Pada populasi 50 teki. m-2 . , dengan peningkatan pemupukan dari
0200 kg.ha-1 terjadi peningkatan kemampuan bersaing tanaman tebu terha-
dap gulma teki. Sebaliknya pada populasi 100 teki. m-2 . dan 200 teki. m-2 .
dengan peningkatan dosis pemupukan nitrogen justru menurunkan secara
nyata produksi bahan kering dari tebu (Sasongko, 1979).

2.7 Daya Penyesuaian Gulma terhadap Lingkungan


Di samping sifat-sifat dan daya bersaing tinggi, species-species gulma
juga masih dilengkapi dengan kemampuan lain yaitu daya menyesuaikan
yang tinggi terhadap keadaan lingkungan. Daya penyesuaian tersebut anta-
ra lain ditunjukkan oleh sifat-sifat sebagai berikut : kecepatan gulma tumbuh,
daya regenerasi yang kuat (khusus gulma tahunan), ketidak pekaan gulma
terhadap sinar matahari yang kurang akibat penaungan tumbuhan lain, besar
dan kecepatan gulma menyerap air dan hara, daya penyesuaian iklim yang
luas, ketahanan kecambah gulma terhadap gangguan tanah.
Karena sifat-sifat tersebut di atas, gulma akan selalu didapati pada ber-
bagai pertanaman. Macam gulma dalam pertanaman, ditentukan oleh budi-
28

daya dan bentuk serta sifat pertanaman. Pada setiap pertanaman akan ter-
dapat asosiasi yang khas antara beberapa species gulma dengan macam ta-
naman tertentu. Asosiasi gulma tanaman mempunyai cara persaingan yang
berbeda-beda. Pada padi sawah dan jagung persaingan yang menonjol
adalah terhadap hara, kedele persaingannya adalah untuk mendapatkan
cahaya matahari, tebu persaingan yang terbesar adalah untuk mendapatkan
air.
2.8 Periode Kritis
Periode kritis dalam pengendalian gulma merupakan konsep penting
dalam Integrated Weed Management (IWM) sistem. Periode kritis didefini-
sikan sebagai Interval dalam siklus hidup yang harus dibebaskan dari gulma
untuk mencegah kerugian hasil. Konsep ini membantu dalam menentukan
waktu yang paling berpengaruh untuk aplikasi nonresidual postemergence
herbisida dan mengurangi praktek penggunaan long-season residual herbisi-
da, sehingga tidak perlu terjadi keterlambatan aplikasi herbisida.
Periode kritis didefinisikan sebagai nilai relatif pengaruhnya terhadap
stadia pertumbuhan tanaman untuk memperhitungkan kesuburan tanah,
cuaca dan variasi musiman. Masa kritis didasarkan pada kehilangan hasil
kurang dari 5% akibat gangguan gulma. Dengan kata lain, gulma harus
bebas selama tahapan budidaya untuk mencegah kerugian yang tidak lebih
dari 5%.
Jika gulma telah dikendalikan sepanjang periode kritis, maka gulma
yang muncul nanti akan kurang berpengaruh pada hasil (Tabel 2).
Tabel 2. Periode Kritis untuk Pengendalian Gulma di Bidang Pertanian

Tanaman Critical Period for Weed Control

Jagung 3rd to 8th daun

Kedele 1st to 3rd trifoliate

White Beans 2nd trifoliate to 1stberbunga

Periode kritis dapat bervariasi tergantung pada cuaca dan kondisi per-
tumbuhan berkembang. Beberapa penelitian pada jagung dan kedelai me-
29

nunjukkan bahwa periode kritis mungkin berbeda sebab tergantung dari jenis
tanah dan sistem pengolahan tanah, yang mana akhir dari pada periode kritis
dapat diperpanjang sedikit pada tanah berlempung, jika tidak menggunakan
system pengolahan tanah.
Jagung : Periode kritis terjadi pada stadia 3-8 daun (4-10 daun tip
muncul dalam lingkaran atau V2-V6). Pengendalian gulma
yang tepat harus dilakukan sepanjang masa kritis ini. Ta-
naman jagung harus dipelihara bebas dari gulma sekitar 34
hst. atau sampai stadia 6-8 daun (8-10 daun tips), sehingga
kehilangan hasil hanya 0-5%, meskipun pada kondisi di ba-
wah tekanan berat persaingan gulma.
Kedelai : Masa kritis terjadi pada saat stadia daun trifoliate ke1 sam-
pai ke 3 (V2-V3). Tanaman kedelai harus dipelihara bebas
gulma sekitar 15 hari setelah munculnya tanaman, sehingga
kehilangan hasil hanya 0-5%.
White beans : Periode kritis terjadi pada stadia daun trifoliate ke 2 sampai
stadia pembentukan bunga yang pertama (V3-R1) (kira-kira
45 hari setelah tanam).
Beberapa Tanaman Hortikultura adalah sangat peka terhadap kompe-
tisi gulma dan harus dipelihara bebas dari gulma sejak tanam atau muncul-
nya budbreak, sampai akhir Periode Kritis bebas gulma Ini sedikit berbeda
dengan Periode Kritis untuk Pengendalian Gulma. Namun berguna untuk
pertanaman di mana diterapkan penggunaan herbisida tanah yang pre-emer-
gence atau tindakan budidaya adalah pilihan utama untuk mengendalikan
gulma. Jika pertanaman dijaga agar selama periode kritis bebas gulma, ma-
ka pada umumnya tidak akan terjadi pengurangan hasil. Sekali lagi, gulma
yang muncul setelah periode kritis bebas gulma tidak akan mempengaruhi
hasil, namun upaya pengendalian setelah waktu periode kritis dapat membu-
at panen menjadi lebih efisien atau mengurangi masalah gulma pada tahun
berikutnya, khususnya pada tanaman tahunan (Tabel 3).
30

Tabel 3. Periode bebas Gulma untuk Tanaman Hortikultura

Crop Critical Weed-free Period


Apples, new plantings During May and June
Apples, bearing Budbreak until 30 days after bloom
Beets First 2-4 weeks after emergence
Cabbage, early First 3 weeks after planting
Carrots First 3-6 weeks after emergence
Cucumbers, pickling First 4 weeks after seedling
Lettuce First 3 weeks after planting
Onions First the whole season
Potatoes First 4 weeks after planting
Squash Early plantings compete better
Strawberries, new During May and June
Tomatoes, fresh First 36 days after transplanting
Tomatoes, seeded First 9 weeks after seedling

Economic thresholds (ambang ekonomi)


Ambang Ekonomi dari gulma dapat membantu dalam menentukan apa-
kah kepadatan gulma dan gangguan gulma sudah cukup untuk membenar-
kan langkah-langkah pengendalian, yaitu jika menghindari kerugian hasil (de-
ngan pengendalian gulma) lebih besar dari biaya pengendalian gulma. Wak-
tu relatif pemunculan gulma ke permukaan bumi adalah faktor utama yang
menentukan kerugian hasil. Gulma yang muncul awal pada saat yang sama
dengan tanaman akan menyebabkan kerugian hasil lebih besar dibanding
gulma muncul setelah fase pertumbuhan tanaman yang establishment. Mi-
salnya, studi ambang ekonomi yang dilakukan dengan redroot pigweed, rag-
weed dan barnyardgrass telah didapatkan bahwa waktu munculnya gulma
yang berkaitan dengan stadia pertumbuhan tanaman, jauh lebih penting dari-
pada pengaruh kepadatan gulma ketika pengendalian gulma menjadi suatu
pilihan. Kehilangan hasil tergantung dari waktu yang relatif munculnya benih
gulma. Tabel 4 dan 5 Perkiraan jumlah kerugian hasil jagung dan kedelai,
akibat keberadaan gulma tertentu.
31

Tabel 4.a. Persentase kehilangan hasil tanaman jagung karena populasi


gulma berdaun lebar semusim yang telah tumbuh dengan
tanaman.
% Yield Loss at % Yield Loss at
Annual broadleaves 2
1 plant/m 5 plants/m2
Giant Ragweed 13 36
Lamb's-quarters 12 35
Pigweed 11 34
Cocklebur 6 22
Ragweed 5 21
Wild mustard 5 18
Velvetleaf 4 15
Lady's thumb 3 13
Wild buckwheat 2 10
Eastern black nightshade 2 7

Table 4.b. Persentase kehilangan hasil jagung karena populasi gulma


rerumputan semusim yang telah tumbuh dengan tanaman.

% Yield Loss at % Yield Loss at


Annual grasses
1 plant/m2 5 plants/m2
Giant foxtail 2 10
Proso millet 2 10
Fall Panicum 2 10
Barnyard grass 2 7
Green Foxtail 2 7
Yellow Foxtail 1 5
Old witch grass 1 5
Crabgrass 1 3
32

Table 5.a. Persentase kehilangan hasil tanaman kedele karena populasi


gulma berdaun lebar semusim yang telah tumbuh dengan
tanaman.
% Yield Loss at % Yield Loss at
Annual broadleaves
1 plant/m2 5 plants/m2
Cocklebur 15 41
Eastern black nightshade 14 40
Giant Ragweed 14 40
Lamb's-quarters 13 38
Pigweed 12 36
Ragweed 10 33
Velvetleaf 6 23
Wild mustard 5 20
Wild buckwheat 4 15

Table 5.-b. Persentase kehilangan hasil tanaman kedele karena populasi


gulma rerumputan semusim yang telah tumbuh dengan
tanaman.
% Yield Loss at % Yield Loss at
Annual grasses 2
1 plant/m 5 plants/m2
Volunteer corn 4 15
Giant foxtail 3 12
Proso millet 3 12
Barnyard grass 3 12
Fall Panicum 2 10
Green Foxtail 2 8
Yellow Foxtail 1 5
Old witch grass 1 4
Crabgrass 1 4
33

2.9 Species Gulma pada Tanaman Budidaya


Macam species gulma yang tumbuh bersama tanaman yang dikelola
manusia sangat banyak. Terdapat 18 species gulma terpenting di dunia
yang besar arti dan nilai ekonomisnya, karena mengganggu dan menurun-
kan hasil panen berbagai tanaman budidaya. Kedelapan belas species gul-
ma itu berturut-turut dapat dilihat pada Tabel 6 dan yang tumbuh di antara
perta-naman budidaya dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 6. Daftar Jenis Gulma Penting di Dunia(THE WORLDS WORST
WEEDS)
MONOCOTYLEDON
NO. SPECIES FAMILY
or DICOTYLEDON
1 Cyperus rotundus Monocot Cyperaceae
2 Cynodon dactylon Monocot Poaceae

3 Echinochloa crusgalli Monocot Poaceae


4 Echinochloa colonum Monocot Poaceae

5 Eleusine indica Monocot Poaceae


6 Sorghum halepense Monocot Poaceae

7 Imperata cylindrica Monocot Poaceae


8 Eichhornia crassipes Monocot Pontaderiaceae

9 Portulaca oleracea Dicot Portulacaceae


10 Chenopodium album Dicot Chenopodiaceae

11 Digitaria sanguinalis Monocot Poaceae


12 Convolvulus arvensis Dicot Convolvulaceae

13 Avena fatua Monocot Poaceae


14 Amaranthus hybridus Dicot Amaranthaceae

15 Amaranthus spinosus Dicot Amaranthaceae


16 Cyperus esculentus Monocot Cyperaceae

17 Paspalum conjugatum Monocot Poaceae


18 Rottboellia exaltata Monocot Poaceae
34

Tabel 7. Jenis-jenis Gulma Terpenting pada Berbagai Tanaman Budidaya

Jenis Tanaman
Species Gulma Terpenting
Budidaya
Padi Echinochloa crusgalli, Echinochloa colonum,
Fimbristylis miliaceae, Cyperus rotundus, Eleusine
indica, Monochoria vaginalis
Jagung Cyperus rotundus, Echinochloa crusgalli, Cynodon
dactylon, Portulaca oleraceae
Kedele Cyperus rotundus, Eleusine indica, Echinochloa
colonum
Kacang tanah Cyperus rotundus, Eleusine indica, Digitaria
sanguinalis, Portulaca indica
Ketela pohon Ageratus conyzoides, Tridax procumbens, Cyperus
rotundus, Eleusine indica
Tebu Cyperus rotundus, Cynodon dactylon, Digitaria
sanguinalis, Eleusine indica, Echinochloa colonum,
Amarathus spinosus
Karet Imperata cylindrica, Chromolaena odorata, Mikania
cordata, Mikania micranta, Paspalum conjugatum,
Axonopus Compressus, Ottochloa nodosa, Melastoma
malabathricum, Eupatorium odoratum
Teh Borreria alata, Panicum repens, Imperata cylindrica,
Ageratus conyzoides, Paspalum conjugatum, Cynodon
dactylon, Eupatorium riparium, Polygonum spp
Kelapa sawit Imperata cylindrica, Mikania micranta, Mikania cordata,
Mimosa invisa, Axonopus compressus, Paspalum
conjugatum
Kopi Paspalum conjugatum, Cynodon dactylon, Imperata
cylindrica, Commelira diffusa, Euphorbia spp
Tembakau Cyperus rotundus, Ageratus conyzoides, Amarathus
spinosus, Mimosa invisa, Polygonum spp
Coklat Euphorbia prunifolia, Borreria alata, Ficus spp.,
Imperata cylindrica, Axonopus compressus
35

III. IDENTIFIKASI DAN ANALISIS VEGETASI GULMA

3.1 Identifikasi Gulma


A. Penulisan Nama Latin/Nama Daerah
Penulisan Nama latin suatu gulma akan sangat berarti karena nama ter-
sebut diterima di dunia Internasional, namun bila kita menggunakan nama
daerah akan kesulitas dimengerti oleh ahli gulma di daerah lain. Hal ini dise-
babkan setiap spesies gulma mempunya nama daerah yang berbeda-beda.
Sebagai contoh : jika kita menyebut nama babadotan, ahli gulma dari India
atau Afrika sering tidak mengetahuinya. Tetapi dengan menyebutkan nama
latinnya yaitu Ageratum conyzoides L., maka hampir dapat dipastikan orang-
orang tersebut mengetahui atau jika tidak, dapat mencari informasi dengan
memakai nama latin tersebut.
Nama latin suatu jenis biasanya terdiri dari dua kata, kata pertama me-
nunjukkan marganya yang selalu dimulai dengan huruf besar, sedang kata
kedua dimulai dengan huruf kecil merupakan petunjuk ke arah jenis. Dibe-
lakang nama tersebut terdapat singkatan nama orang pertama kali membuat
determinasi jenis tersebut. Contoh : Panicum repens L. Huruf L. adalah sing-
katan dari Linnaeus, seorang ahli tumbuh-tumbuhan terkenal dari Swedia.
Cleoma rutidosperma DC. ; DC berasal dari De Candolle; sedang pada
Cyperus plastystylis R. Br, R.Br adalah kependekan dari Robert Brown.
B. Cara-Cara Identifikasi Gulma
Dalam mengidentifikasi gulma dapat dilakukan satu atau kombinasi ca-
ra-cara di bawah ini :
1. Membandingkan gulma tersebut dengan material yang telah diidenti-
fikasi di herbarium. Untuk itu di Indonesia Herbarium Bogoriense yang
terletak di Jalan H. Juanda, Bogor dapat diminta bantuannya.
2. Konsultasi langsung dengan para ahli yang bersangkutan.
3. Mencari sendiri melalui kunci identifikasi
4. Membandingkannya dengan kunci determinasi yang ada
5. Membandingkannya melalui ilustrasi yang ada.
36

Dalam menempuh cara 3 dan 4 kita harus banyak memahami istilah


biologi yang berkenaan dengan morfologi (terutama morfologi luar) gulma.
Alat yang diperlukan sederhana saja yaitu sebuah loupe (kaca pembe-
sar) dengan perbesaran 10 kali. Dalam keadaan tertentu (jika ada bagian-
bagian gulma yang sangat kecil) diperlukan mikroskop dengan perbesaran
kira-kira 40 kali.
C. Karakteristik Gulma
Tanda-tanda ini dipakai dalam identifikasi dan penelitian gulma, terbagi
atas sifat-sifat vegetatif yang bisa berubah sesuai dengan lingkungan dan
sifat-sifat generatif yang cenderung tetap.
1. Bagian Vegetatif Gulma
- Perakaran dapat berupa akar tunggang, akar serabut, berimpang,
berstolon.
- Kemudian bagian batang dan cabang, ada gulma yang menjalar
(Mikania micrantha H. B.K., Ipomoea pescaprae (L.) R.Br.), tegak,
melilit (Cuscuta campestris Yunck.).
- Kedudukan daun ada yang berhadapan, bersilang, berhadapan si-
lang dan lain-lain.
- Bentuk daun juga sangat bervariasi, ada yang bulat, lonjong se-
perti pita,segi tiga, belah ketupat. Pangkal dan ujung daun pun da-
pat dibedakan, ada yang bulat, lancip, bertoreh. Demikian juga de-
ngan tepi daun ada yang rata, bergerigi, berombak, beringgit dan
sebagainya.
- Permukaan daun yang kusam, mengkilat, berbulu, berbulu bintang.

Selain daripada akar, batang, daun, kadang-kadang dijumpai pu-


la ada alat-alat tambahan yaitu daun penumpu (biasanya terdapat pa-
da Malvaceae), selaput bumbung(okrea), yang merupakan ciri khas
gulma dari suku Polygonaceae.
2. Bagian Generatif Gulma
Bagian ini dipergunakan untuk perkembangbiakan terdiri dari bu-
nga, buah dan biji.
37

- Bunga : Jumlah dan duduknya bunga pada gulma ada yang


tunggal atau majemuk dan dapat terletak di ketiak daun
atau di ujung. Bunga majemuk dan dapat berbentuk
tongkol (Mimosa pudica L.), bulir (Stachytarpheta indica
Vahl.), dan malai (golongan rumput-rumputan umum-
nya). Bagian-bagian bunga biasanya terdiri dari kelo-
pak, mahkota bunga, benangsari dan putik. Jika jumlah
tiap-tiap bagian ini kelipatan 5, maka disebut pentamer,
demikian jika jumlah masing-masing bagian tersebut
berjumlah kelipatan 4, maka disebut tetramer. Kedu-
dukan bagian-bagian ini sering pula menunjukkan sime-
trinya. Ada bunga yang bersimetri banyak (aktinomorf)
atau ada pula yang monosimetri (zigo-morf). Warna
kelopak biasanya hijau walaupun ada juga yang war-
nanya sama dengan mahkota bunga. Hal ini terdapat
pada Celosia argente L. Kelopak dan mahkota pada gul-
ma ini bisa dibedakan lagi disebut dengan tenda bunga.
- Buah : Bentuk, ukuran, warna dan jumlah buah pun berlainan.
Dikenal adanya buah kotak (Ludwigia peruviana (L.)
Hara), biah polong (Aeschynomene americana L.), buah
buni (Melastoma affine D.Don) dan lain-lain.
- Biji : Bentuk, warna, ukuran, dan keadaan permukaan yang
tidak sama. Pada amaranthaceae, biasanya biji berwar-
na hitam mengkilat.
Keadaan gulma yang paling ideal untuk identifikasi adalah jika semua
bagian-bagian tersebut (vegetatif dan genertif) lengkap. Tentu saja hal ini
hanya dijumpai pada gulma yang telah dewasa. Padahal dalam rangka
pengelolaan gulma yang baik seringkali kita harus me-ngetahui jenis gulma
apakah yang terdapat di suatu perkebunan jauh sebelum guma tersebut
dewasa dan mengadakan kompetisi dengan tanaman budidaya. Oleh sebab
itu para ahli gulma sekarang juga mencoba mengidentifikasi gulma dalam
38

keadaan semai dan bahkan dari stadium biji untuk mengetahui potensi gulma
di suatu area.

D. Identifikasi Semai dan Biji


Untuk mengidentifikasi semai, tanda-tanda karakteristik yang dipakai
misalnya :
- Ukuran, warna, permukaan hipokotil (bagian batang yang terletak di
bawah kotiledon)
- Ukuran, warna, permukaan epikotil (bagian batang yang terletak diatas
kotiledon)
- Jumlah, bentuk, warna, tekstur dan pertulangan kotiledon. Bentuk koti-
ledon ini sanagt bervariasi, sehingga kadang-kadang disini sebagai
tanda ke arah suku. Misalnya pada Convolvulaceae, ujung kotiledon
selalu membelah, pada leguminosa kotiledon biasanya tebal karena
banyak mengandung cadangan makan
- Jumlah, bentuk, warna, tekstur an pertulangan daun pertama kadang-
kadang dapat tidak sama dengan daun pada gulma yang telah dewasa;
- Biji yang tetap melekat pada semai. Hal ini umum dijumpai pada gulma
dari golongan teki
- Adanya daun penumpu dan okrea seperti pada gulma dewasa
Untuk identifikasi biji tanda-tanda yang umum dipakai misalnya :
- Bentuk dan penampang melintang
- Warna
- Permukaan (halus, bergerigi, berjonjot, dan lain-lain)
- Kedudukan hilum
- Adanya alat-alat tambahan. Misalnya pada Compositae sering terda-
pat bulu-bulu pada bijinya. Pada gulma golongan teki dan rumputan,
sekam-sekamnya tetap melekat
Contoh identifikasi biji Drymaria villosa Cham. & Schlecht.
Biji kurang lebih berbentuk bulat, diameter 0,5-0,7 mm, pipih dengan tepi
yang agak menebal dan membulat, suatu alur yang dalam terdapat dian-
tara alur-alur yang tipis pada kedua sisinya, permukaan berbintil-bintil de-
39

ngan alur tipis di antaranya, bintil-bintil tersusun dalam deretan yang seja-
jar dengan tepi, warna coklat muda sampai coklat tua.

E. Identifikasi Paku-Pakuan
Tumbuh-tumbuhan ini tidak berbunga dan berkembangbiak melalui spo-
ra. Dikenal adanya dua generasi yaitu generasi gametofit dan generasi spo-
rofit. Paku-pakuan yang kita kenal sebagai gulma ada pada fase sporofit.
Mereka dapat tumbuh di tanah (terrestrial) ataupun epifit (menempel pada
tumbuhan lain). Ental (daun)-nya mengandung alat reproduksi (sori) yang
biasanya terletak di tepi atau bawah ental. Jenis ini kadang-kadang sulit di-
identifikasi karena ental muda dan yang dewasa dapat sangat berbeda ben-
tuknya. (Dari Everaarts, A. P.1981. weeds of Vegetable ini the Highlands of
Java, Jakarta)
Habitat juga sangat mempengaruhi pertumbuhan paku-pakuan. Ada
paku yang lebih menyukai tumbuh di tempat terbuka oleh sinar matahari, ada
pula yang hidupnya lebih baik di tempat tertutup. Ada yang menyukai tempat
kering, ada pula yang tumbuh di tempat lembab. Paku-pakuan yang epifit
kadang-kadang dapat juga tumbuh di tanah, tetapi bentuk dan ukuran ental
sangat berbeda dari normal.

3.2 Analisis Vegetasi


Konsepsi dan metode analisis vegetasi sesungguhnya sangat bervaria-
si, tergantung keadaan vegetasi itu sendiri dan tujuannya. Misalnya :
- Mempelajari tingkat suksesi
- Mengetahui dominasi gulma
- Mengetahui gambaran persaingan gulma
- Mengamati perubahan flora akibat pengendalian gulma
- Mengevaluasi percobaan herbisida untuk menentukan aktivitas herbi-
sida di lapangan
- Menentukan tindakan pengendalian gulma
Data yang diperoleh dari analisis vegetasi dapat dibagi dua golongan :
- Data Kualitatif :
40

Data kualitatif menunjukkan bagaimana suatu jenis tumbuhan tersebar


dan berkelompok, stratifikasinya, periodisitas, dan lain sebagainya.
Data kualitatif : Pengamatan di lapangan berdasar pengalaman aut-
ecology.
- Data Kuantitatif :
Data kuantitatif menyatakan jumlah, ukuran, berat basah/kering suatu
jenis, dan luas daerah yang ditumbuhinya
Data kuantitatif : Hasil penjabaran pengamatan petak contoh di la
pangan.
Analisis vegetasi dalam tulisan ini ditujukan terutama untuk suatu eva-
luasi pengendalian gulma seperti : perubahan flora (shifting) akibat metode
pengendalian tertentu, evaluasi percobaan herbisida (trial) untuk menentu-
kan aktivitas suatu kombinasi herbisida terhadap jenis gulma di lapangan,
dan juga pengendalian herba menahun.
3.2.1 Tahap-Tahap Analisis Vegetasi
Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah yang paling sederha-
na, namun ditujukan bagi mereka yang telah menguasai sedikit dasar-dasar
ekologi tumbuhan. Istilah besaran (parameter) disadur bebas dan istilah do-
minansi (dominance) berarti agak berbeda dengan sumber yang digunakan.
A. Pengamatan Pendahuluan
Pengamatan ini terdiri atas sepintas secara menyeluruh terhadap suatu
komunitas vegetasi, sehingga diperoleh gambaran secara umum mengenai
garis besar kelompok, komposisi flora, dan bagaimana hubungannya dengan
lingkungannya secara timbal-balik. Dalam pengamatan pendahuluan de-
ngan penjelajahan seluruh area, dibuat suatu catatan :
- Apakah komunitasnya yang terbesar
- Jenis apakah yang paling dominan
- Adakah korelasi antara vegetasi dan jenis-jenis faktor lingkungannya
yang berpengaruh, misalnya kandungan air tanah, topografi dan lain-
lain.
41

Dapat dikatakan bahwa pengamatan pendahuluan adalah untuk


mendapatkan gambaran secara fisionomi(physionomy), yaitu landscape
dan selubung vegetasinya.
B. Pengamatan Petak Contoh
Dalam suatu sampling kita akan mengamati suatu area dengan luas
tertentu yang disebut sebagai petak-contoh (sample plot).
Memperoleh gambaran yang mendekati kebenaran mengenai sifat-
sifat populasi vegetasinya dengan sejumlah petak contoh yang relatif
sedikit dan mewakili dari seluruh keadaan vegetasi yang diamati. Karena
keadaan vegetasi sangat beragam, maka sulit dibuat suatu metode yang
dapat digunakan untuk setiap populasi vegetasi.
Beberapa metode yang bersifat umum dengan beberapa variasi :
1. Distribusi Petak Contoh
Komposisi suatu vegetasi benar-benar merata, maka cukup me-
ngambil satu petak contoh dengan luas tertentu yang dapat mewakili
seluruh populasi vegetasi.
Cara distribusi petak contoh :
a. Cara subyektif
- Keadaan hampir tidak pernah ada vegetasi berbeda-beda.
- Cara sederhana memilih sejumlah petak contoh yang mewakili
populasi.
- Dengan melempar alat-alat petak contoh untuk menentukan
petak contoh kurang akurat, karena tergantung kemauan, bu-
kan berdasar azas acak.
b. Sampling acak tidak langsung
- Cara ini paling sederhana dan memenuhi syarat statistika
(valid).
- Seluruh areal di bagi dengan jarak yang sama.
- Sejumlah 10 petak contoh letaknya dipilih secara acak.
- Dibuat sumbu x dan y.
42

- Secara berpasangan nilai


koordi-nat pada sumbu x dan y
dipilih de-ngan undian atau acak.
- Misal secara undian,
pengambilan sumbu x angka 4 dan
sumbu y angka 3, maka letak petak
contoh pada P (4,3) (gambar 11).
- Demikian seterusnya

Gambar 10. Memilih letak petak contoh diperoleh O (2,2).

- Terdapat kelemahan, petak dapat kebetulan berdekatan.


- Cara kurang tepat dalam membuat peta populasi vegetasi.
c. Sampling beraturan
- Mengatasi kelemahan pada sampling acak tidak lang-sung.
- Petak contoh secara beraturan diletakkan dengan jarak sama
dalam seluruh area.
- Pengamatan petak contoh diambil secara acak.
- Disebut pola kisi berjarak tetap dan beraturan (gambar 12).
- Dilakukkan penjelajahan setelah sampling mencatat jenis di
luas petak.

Gambar 11. Letak petak contoh (lingkaran) dalam pola kisi

d. Sampling bertingkat
Sampling bertingkat ini diperlukan bilamana vegetasi terdiri dari
beberapa blok atau stratum yang berbeda-beda fisionominya.
- Area dibagi-bagi dalam stratum yang fisionominya sama.
43

- Pada setiap stratum dilakukan sampling acak seperti uraian di


atas.
- Bertujuan untuk memperoleh nilai variabilitas pada petak
contoh dalam stratum (gambar 13).

Gambar 12. Area yang mempunyai 3 strata


2. Metode Pengamatan
Metode pengamatan yang digunakan pada umumnya ada empat me-
tode, yaitu :
a. Estimasi visual
b. Metode kuadrat
c. Metode garis atau rintisan
d. Metode titik.
a. Metode Estimasi
Setelah letak dan luas petak-contoh yang akan diamati
ditentukan, lazimnya berbentuk lingkaran, pengamatan dilakukan
pada titik tertentu yang selalu tetap letaknya, misalnya selalu di
tengah atau di salah satu sudut yang tetap pada petak-contoh
yang telah berbatas.
Besaran yang dihitung berupa dominansi dinyatakan dalam
persentase penyebaran, nilai dominasi dapat dihitung dengan :
- Nilai penyebaran tiap jenis dalam area dihitung dalam persen
(%), maka bila dijumlah akan memperoleh 100% (termasuk
berapa persen daerah yang kosong, bila ada).
- Nilai berdasar suatu skala abundansi (scale abundance) :
Bernilai : 1-3 (wirjahardja & Dekker)
1-5 (Braun-Blanquet, Weaver)
1-10 (Domin)
44

- Cara di atas sangat berguna, bilamana populasi vegetasi cukup


merata dan tidak banyak waktu yang tersedia.
Kelemahan penelitian sering tidak obyektif, misalnya
- Tidak memiliki keadaan populasi vegetasi secara menyeluruh.
Cenderung untuk menaksir lebih besar daripada jenis-jenis
yang menyolok (warna maupun bentuk), sebaliknya menaksir
lebih sedikit terhadap jenis-jenis yang sulit dan kurang menarik
perhatian.
- Sulit untuk dapat mewakili keadaan populasi seluruh vegetasi
dan penaksiran luas penyebaran masing-masing komponen
tidak menjamin ketepatannya.
b. Metode Kuadrat
Kuadrat merupakan satuan luas letak contoh yang diukur
dengan satuan kuadrat, tetapi petak contoh dapat berupa 4
persegi panjang, bujur sangkar ataupun lingkaran.
- Vegetasi rendah bentuk lingkaran
- Herba rendah bentuk segi panjang (bujursangkar)
- Masing-masing bentuk mempunyai kekurangan dan keuntungan.
Metode kuadrat berdasarkan penggunaannya dibagi menjadi 2 :
o Metode Kuadrat Permanen
Mengamati dan mempelajari suksesi dari waktu ke waktu. Hal
ini dapat mengamati :
- Perubahan vegetasi
- Jumlah keuntungan semai
- Cara berbiak vegetative
- Ukuran masing-masing jenis
- Data mikro klimatologi dan tanah :
Cara destruktif
Cara tidak destruktif
o Metode Kuadrat Tidak Permanen (Pengamatan tidak berkesi-
nambungan)
Dalam pengamatan suatu petak contoh ada dua macam cara:
45

- Destruktif : merusak pengamatan jumlah dan biomas-


sa gulma
- Non Destruktif : tidak merusak pengamatan kerapatan, do-
minansi, frekuensi
c. Metode Garis
Metode garis adalah petak contoh yang memanjang yang
diletak-kan diatas komunitas vegetasi.
- Metode digunakan untuk areal yang luas perkebunan muda
dimana populasi gulma rapat, rendah, berkelompok dengan
batas kelompok yang jelas (gambar 13).
- Alat yang digunakan pita meteran 15-25 m atau tali yang diberi
tanda dengan satuan tertentu.
- Meteran kayu untuk mengukur panjang kelompok vegetasi.
- Pita meteran diletakkan diatas vegetasi, panjang kelompok
vegetasi dapat diukur.

Gambar 13. Cara pengamatan dengan metode garis


Keterangan :
AB = panjang rintisan, misalnya pita meteran 20 m.
ab atau cd = panjang interval rintisan dari kelompok jenis A
(dalam cm)
ef = idem dari B
Jenis tumbuhan yang diukur adalah yang dilewati garis yang
dinyatakan dalam satuan panjang (ab,cd,ef).
Hal-hal yang dapat diukur :
- Kerapatan (jumlah)
- Frekuensi
- Dominansi (kelindungan)
46

d. Metode Titik
Metode titik merupakan variasi metode kuadrat. Sebuah kua-
drat diperkecil menjadi titik. Metode ini efektif untuk jenis-jenis gul-
ma yang membentuk anyaman (yang tidak jelas batas satu dengan
yang lainnya), vegetasi rendah dan rapat.
Ujung titik (jarum) memungkinkan menunjuk secara tepat seti-
ap jenis meskipun populasi sangat rapat.
Alat berupa sebuah kerangka dengan jarum kecil berjarak 5-10
cm. Jenis gulma yang terkena jarum yang dihitung (gambar 15).

Keterangan :
a = Kerangka
b = Jarum baja

Gambar 14. Sebuah alat untuk analisis vegetasi dengan metode titik

Parameter yang didapatkan adalah frekuensi dan dominansi,


kerapatan tidak diperoleh dengan metode ini.
3. Menentukan luas/jumlah petak contoh minimal
- Luas dan keadaan vegetasi variasi
- Berapa luas/jumlah petak contoh yang memadai (tabel 8)
- Ditentukan dengan menyusun sebuah kurva jenis.
Tahap-tahap:
1. Tentukan satu komunitas secara acak.
2. Ditengah komunitas letakkan p.c(1x1) p.c1
3. Catat jumlah jenis dalam p.c1 dengan sebuah tanda x pada kolom
4. Perluas 2X p.c2 (=p.c2). Catat jenis p.c1+2
5. Perluas 2X (p.c1+2+3). Catat jenisnya secara komulatif.
6. Hentikan pembuatan pc., bila kenaikan jumlah jenis menjadi tidak
berarti (gambar 16).
47

Keterangan :
p.c 1 = 1 m2
p.c 2 = 2 m2
p.c 3 = 4 m2
p.c 4 = 8 m2
p.c 5 = 16 m2
p.c 6 = 32 m2

Gambar 15. Bentuk petak contoh untuk kurva-minimal

Tabel 8. Lembar Data Untuk Kurva Luas/Jumlah Minimal Petak Contoh

Tanggal : ..........................................
Lokasi : ..........................................

Petak Contoh
No Jenis
1 2 3 4 5 6 7

1 A
2 B
3 C
4 D
5 E
6 F
7 G
8 H
9 I
10 J
11 K
12 L
13 M
14 N
15 O
16 P
17 Q
18 R
19 S
20 T
48

Catatan :
Dari lembar data petak contoh didapat data sbb :
- Pc (1) ditemukan 11 jenis
- Pc (1+2) ditemukan 15 jenis
- Pc (1+2+3) ditemukan 17 jenis
- Pc (1+2+3+4) ditemukan 19 jenis
- Pc (1+2+3+4+5) ditemukan 20 jenis
Data petak contoh dimasukkan kedalam kurva luas petak contoh minimal
seperti terlihat pada gambar 16 di bawah ini.

Luas petak-contoh dalam m2

Gambar 16. Kurva Luas Petak-Contoh Minimal


- Garis m ditarik dati titik 0 ke titik koordiat 10% (A) daripada jumlah je-
nis dan 10% daripada jumlah luas petak contoh.
- Garis m ini tempat kedudukan dari 10% luas petak contoh tempat ter-
dapat 10% daripada jumlah jenis.
- Tarik garis n // m yang menyinggung kurva pada K.
- Proyeksi K pada sumbu X [titik B] adalah luas minimal petak contoh.
- Cara yang sama untuk menentukan jumlah minimal petak contoh sum-
bu X menyatakan jumlah petak contoh.
C. Parameter Kuantitatif
Parameter kuantitatif dalam analisis vegetasi yang digunakan adalah
persentase penyebaran, kerapatan, frekuensi dan dominansi.
49

1. Persentase penyebaran/skala abundansi


Pengamatan ini dinyatakan dengan nilai persen penyebaran (Tabel 9).
Namun sering juga menggunakan nilai skala abundansi (Tabel 10).
Tabel 9. Contoh Persentase Penyebaran Vegetasi

Jenis Tumbuhan Penyebaran ( % )


1. Imperata cylindrica 75
2. Axonopus compressus 14
3. Cystococcum patens 5
4. Rostellularia sundana 3
5. Drymaria cordata 2
6. Centella asiatica 1

Jumlah 100 %

Tabel 10. Macam-macam Skala Abundansi

Weaver Oosting Wirjahardja &


Kelas Skala Abudansi
(1938) (1956) Dekker (1977)
1. Jarang sekali R = rare Very rare +
2. Tidak umum I = infrequent Rare
3. Terdapat disana- F = frequent 1
sini Infrequent
4. Umum, agak terse- A = abundant Abundant 2
bar
5. Amat umum, VA = very Very 3
penyusun abundant abundant
komunitas ber-
sambungan
+ Ada

2. Kerapatan
Kerapatan menunjukkan jumlah individu suatu jenis tumbuhan pada
setiap petak contoh. Kendala :
50

- Memakan waktu untuk menghitung, kesulitan menentukan satuan tum-


buhan yang menjalar atau berumpun.
- Kerapatan berhubungan erat dengan musim dan vitalitas tumbuhan.
- Pengaruh efek tepi, tumbuhan terletak didalam atau diluar petak con-
toh, khususnya gulma berumpun dan berstolen
3. Frekuensi
Frekuensi adalah berapa jumlah petak contoh (dalam persen) yang
memuat jenis tersebut dari sejumlah petak contoh yang dibuat.
Frekuensi ini dipengaruhi beberapa faktor yaitu:
- Luas petak contoh
- Distribusi tumbuhan
- Ukuran jenis tumbuhan
4. Dominansi
Dominansi digunakan untuk menyatakan luas area yang ditumbuhi oleh
sejenis tumbuhan, atau kemampuan suatu jenis tumbuhan dalam hal
bersaing terhadap jenis lainnya.
Dominansi dinyatakan dengan istilah:
a. Kelindungan (coverage)
b. Luas basal
c. Biomassa
d. Volume
5. Nilai Penting ("Importance Value = IV")
Merupakan jumlah nilai nisbi dari dua atau tiga parameter yang dibuat.
6. Perbandingan Nilai Penting ("Summed Dominance Ration = SDR")
- SDR menunjukkan nilai jumlah penting dibagi jumlah besaran.
- SDR biasa dipakai karena jumlah tidak pernah lebih dari 100%.

3.2.2 Rumus-Rumus
A. Metode Kuadrat
Besaran yang umumnya dihitung berupa :
1. Kerapatan mutlak suatu jenis = jumlah individu jenis itu dalam petak
contoh.
51

Kerapatan nisbi suatu jenis =


Kerapatan mutlak jenis itu
X 100%
Jumlah kerapatan mutlak semua jenis

2. Dominansi mutlak suatu jenis : jumlah dari nilai kelindungan atau nilai
luas basal atau nilai biomassa atau volume dari jenis itu.
Dominansi nisbi suatu jenis =
Nilai dominansi jenis itu
X 100%
Jumlah nilai dominansi mutlak semua jenis
Dapat dipilih salah satu
Kelindungan dapat dihitung dengan rumus :
[d1xd2/4] x 2/ dibagi dengan luas petak contoh. d1 dan d2 adalah
diameter proyeksi tajuk suatu jenis.

3. Frekuensi mutlak suatu jenis


Jumlah petak contoh yang berisi jenis itu
X 100%
Jumlah semua petak contoh yang diambil
Frekuensi nisbi suatu jenis =
Nilai frekuensi mutlak jenis itu
X 100%
Jumlah nilai frekuensi mutlak semua jenis

4. Nilai penting suatu jenis =


Kerapatan nisbi + dominansi nisbi + frekuensi nisbi
Dapat merupakan jumlah nisbi kedua atau ketiga parameter

5. SDR suatu jenis = nilai penting / 3


Dibagi 2 bila hanya dua parameter
B. Koefisien Komunitas
Untuk membandingkan dua komunitas atau dua macam vegetasi dari
dua daerah, dengan menggunakan rumus:
C (koefisien komunitas) = 2 W/A + B X 100%
W = jumlah dari dua kuantitas terendah untuk jenis dari komunitas
A = jumlah dari seluruh kuantitas pada komunitas pertama
B = jumlah dari seluruh kuantitas pada komunitas kedua
52

Rumus ini juga digunakan untuk menilai adanya variasi atau kesa-
maan dari suatu komunitas dalam suatu area.
Koefisien diperoleh dari data-data:
- Kuantitas : + (ada) dan - (tidak ada)
- Nilai mutlak atau nisbi kerapatan, dominansi dan frekuensi
- SDR
- Data-data faktor lingkungan
Contoh:
Dalam percobaan herbisida perlu dihitung koefisien komunitas (C) an-
tara contoh petak satu dengan lainnya. Jika nilai koefisien komunitas
ada kesamaan diatas 75%, lazimnya diterima. Juga digunakan untuk
mengamati perubahan flora. Metode perhitungan koefisien komunitas
dengan contoh ada dua komunitas.
Komunitas
1 2
Spesies / jenis Kerapatan Kerapatan Kerapatan Kerapatan
Mutlak Nisbi Mutlak Nisbi

I. cylindrica 90 72 20* 13,33


S. arvensis 20* 16 30 20,00
E. sonchifolia 0* 0 70 46,67
C. rotundus 5* 4 25 16,67
C. dactylon 10* 8 5* 3,33
Jumlah 125 100 150 100,00

Berdasar nilai mutlak kerapatan, koefisien komunitas dapat


dihitung sbb :
W = 20 + 20 + 0 + 5 + 5 = 50; a = 125; b = 150;
2 x50
C x100% 36,36%
275
Hal ini berarti antara kedua komunitas terdapat kesamaan
sebesar 36,36% atau berbeda (100 36,36) = 63,64%. Jadi tidak
53

boleh digunakan sebagai petak contoh pengendalian yang hasilnya


akan dibandingkan kemudian.
Perhitungan dengan cara yang sama bisa berdasarkan kerapatan
nisbi.
C. Parameter Kualitatif
Data kualitatif yang penting diamati adalah:
1. Panjang Hidup
2. Sosiabilitas
3. Stratifikasi
4. Periodesitas
D. Ringkasan Fitososiologik
Merupakan tabulasi sifat-sifat kuantitatif dan kualitatif sehingga dapat
dilihat dengan mudah (Tabel 11).
Tabel 11. Contah Daftar Fitososiologik

Sifat Kuantitatif Kualitatif


Catatan
Jenis A B C D E F G H

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Keterangan :
A = kerapatan nisbi E = panjang hidup
B = frekuensi nisbi F = sosiabilitas
C = dominansi nisbi G = stratifikasi
D = SDR H = periodisitas