Anda di halaman 1dari 22

Evaluasi & Teknik Pencapaian Hasil Belajar

Matematika
Prosedur Pengembangan Evaluasi Pembelajaran

DOSEN PEMBIMBING : Indah widiati, S.Pd,. M.Pd

DISUSUN OLEH :

1. DIANA NATASIA ( 146410508 )


2. HELGA SYAHMITA ( 146410863 )
3. MELDA KRISTINA (146410874 )
4. RARA LILISTIANA (146411191)
KELAS : 5.C

PENDIDIKAN MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS ISLAM RIAU

2016
KATA PENGANTAR



Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat serta hidayah-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Judul makalah ini adalah Prosedur
Pengembangan Evaluasi Pembelajaran sebagai salah satu tugas terstruktur dalam mata
kuliah Evaluasi dan Teknik Pencapaian Hasil Belajar Matematika.
Mengingat begitu pentingnya kita mengetahui bagaimanakah prosedur pengembangan
evaluasi pembelajaran maka melalui makalah dan presentasi ini diharapkan pembaca dapat
mengetahui bagaimana pentingnya manusia memiliki evaluasi dalam pembelajaran. Pada
kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada pembimbing mata kuliah
Evaluasi dan Teknik Pencapaian Hasil Belajar Matematika yang telah membimbing kami
hingga hasil makalah ini dapat kami presentasikan.
Namun penulis menyadari jika ada kekurangan dari hasil makalah ini. Penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak yang telah membaca
makalah ini. Semoga tulisan ini memberi informasi yang berguna bagi peningkatan dan
pengembangan di bidang presentasi.

Pekanbaru, 10 Agustus 2016

Tim Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................ i

DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang......................................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah.................................................................................................... 2

1.3 Tujuan Masalah........................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Perencanaan evaluasi .......................................................................................... 3


B. Pelaksanaan evaluasi............................................................................................10
C. Monitoring pelaksanaan evaluasi.........................................................................13
D. Pengolahan Data...................................................................................................14
E. Pelaporan Hasil Evaluasi......................................................................................14
F. Penggunaan Hasil Evaluasi..................................................................................16
G. Prinsip dan Prosedur penilaian.............................................................................17

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan.................................................................................................................. 19

3.2 Saran............................................................................................................................ 19

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 20

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keberhasilan suatu kegiatan evaluasi akan dipengaruhi pula oleh keberhasilan
evaluator dalam melaksanakan prosedur evaluasi. Prosedur yang dimaksud adalah
langkah-langkah pokok yang harus ditempuh dalam kegiatan evaluasi. Dalam
literature evaluasi banyak dijumpai prosedur evaluasi sesuai dengan pandangannya
masing-masing. Namun, sekalipun ada perbedaan langkah, bukanlah suatu yang
prinsip karena prosedur intinya hampir sama. Dalam buku ini prosedur
pengembangan evaluasi pembelajaran terdiri atas : (1) perencanaan evaluasi, yang
meliputi analisis kebutuhan, merumuskan tujuan evaluasi, menyusun kisi-kisi,
mengembangkan draft instrument, uji coba dan analisis, merevisi dan menyusun
instrument final, (2) pelaksanaan evaluasi dan monitoring, (3) pengolahan data dan
analisis, (4) pelaporan hasil evaluasi, dan (5) pemanfaatan hasil evaluasi. Disamping
itu, baik buruknya evaluasi ada ditangan evaluator, yaitu guru yang melaksanakan
proses pembelajaran dalam suatu bidang studi / mata pelajaran atau tim khusus yang
dibentuk untuk melakukan evaluasi program pembelajaran secara keseluruhan.
Artinya, guru harus bertanggung jawab juga dalam pelaksanaan evaluasi
pembelajaran. Tanggung jawab tersebut dapat ditunjukan dengan melaksanakan
prosedur evaluasi yang baik, dapat dipertanggung jawabkan dan bermakna bagi
semua pihak.

1
2

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa saja yang dibutuhkan dalam prosedur pengembangan evaluasi?


2. Bagaimana perencanaan suatu evaluasi?
3. Bagaimana pelaksanaan suatu evaluasi?
4. Bagaimana monitoring pelaksanaan evaluasi?
5. Bagaimana pengolahan data dalam evaluasi?
6. Bagaimana pelaporan hasil evaluasi?
7. Bagaimana penggunaan hasil evaluasi?

1.3 Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui apa saja yang dibutuhkan dalam prosedur pengembangan evaluasi.
2. Untuk mengetahui perencanaan suatu evaluasi.
3. Untuk mengetahui pelaksanaan suatu evaluasi.
4. Untuk mengetahui monitoring pelaksanaan evaluasi.
5. Untuk mengetahui pengolahan data dalam evaluasi.
6. Untuk mengetahui pelaporan hasil evaluasi.
7. Untuk mengetahui penggunaan hasil evaluasi.
BAB II

PEMBAHASAN

Prosedur evaluasi dimaksudkan sebagai langkah-langkah terurut yang harus ditempuh


dalam melaksanakan evaluasi. Langkah-langkah tersebut merupakan tahapan dari kegiatan
permulaan sampai kegiatan akhir dalam rangka pelaksanaan evaluasi pendidikan (Erman,
2003: 13).

A. Perencanaan Evaluasi
Dalam melaksanakan suatu kegiatan tentunya harus sesuai dengan apa yang
direncanakan. Hal ini dimaksudkan agar hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal.
Namun, banyak juga orang yang melaksanakan suatu kegiatan tanpa perencanaan
yang jelas sehingga hasilnya pun kurang maksimal. Oleh sebab itu, seorang evaluator
harus dapat membuat perencanaan evaluasi dengan baik. Langkah pertama yang perlu
dilakukan dalam kegiatan evaluasi adalah membuat perencanaan. Perencanaan ini
penting karena akan memengaruhi langkah-langkah selanjutnya, bahkan
memengaruhi keefektifan prosedur evaluasi secara menyeluruh (Zainal Arifin, 2010:
88).
Implikasinya adalah perencanaan evaluasi harus dirumuskan secara jelas dan
spesifik, terurai dan komperhensif sehingga perencanaan tersebut bermakna dalam
menentukan langkah-langkah selanjutnya. Melalui perencanaan evaluasi yang matang
inilah kita dapat menetapkan tujuan-tujuan tingkah laku (behavioral objective) atau
indikator yang akan dicapai, dapat mempersiapkan pengumpulan data dan informasi
yang dibutuhkan serta dapat menggunakan waktu yang tepat.
Tahap perencanaan meliputi kegiatan merumuskan tujuan evaluasi yang akan
dilaksanakan. Tujuan ini harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai dalam
program pendidikan tersebut. Tentunya tujuan evaluasi berbeda satu sama lain,
tergantung pembuatnya. Tujuan evaluasi yang dibuat oleh panitia seleksi akan berbeda
dengan tujuan evaluasi yang dibuat oleh seorang guru bidang studi. Tujuan yang di
buat oleh guru bidang studi yang sama pun akan berbeda pula sesuai dengan tingkat
sekolah dan jurusannya.

3
4

Tujuan evaluasi yang dibuat oleh guru bidang studi haruslah disesuaikan
tujuan instruksional yang telah ditetapkan dalam satuan pelajaran. Hal lain yang harus
dilakukan dalam tahap perencanaan adalah menentukan aspek-aspek yang akan di
evaluasi.
Erman (2003:13) juga mengatakan bahwa hal lain yang termasuk dalam tahap
perencanaan adalah metode evaluasi yang akan dipakai, seperti inventori, check list,
interview, observasi, atau tes: menyusun alat evaluasi yang akan digunakan, misalnya
pedoman observasi dan wawancara, kisi-kisi tes hasil belajar; menentukan kriteria
penilaian yang akan digunakan.

1. Pentingnya Analisis Kebutuhan

Pada dasarnya, analisis kebutuhan merupakan bagian integral dari sistem


pembelajaran dari keseluruhan. Analisis kebutuhan dapat digunakan untuk
menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran. Salah satu pendekatan yang dapat
digunakan dalam melakukan analisis kebutuhan adalah pendekatan sistem sehingga
model analisisnya disebut analisis sistem. Langkah-langkah yang harus dilakukan
dalam analisis sistem dapat mengikuti langkah-langkah metode pemecahan
masalah, yaitu mengidentifikasi dan mengklarifikasi masalah, mengajukan
hipotesis, mengumpulkan data, analisis data dan kesimpulan. Melalui analisis
kebutuhan, evaluator akan memperoleh kejelasan masalah dalam pembelajaran
sehingga dapat memberikan rekomendasi kepada pembuat atau penentu kebijakan.
Sehubungan dengan hal tersebut, evaluator harus memahami dengan tepat apa,
mengapa, bagaimana, kapan, di mana dan siapa yang melakukan analisis
kebutuhan.

Analisis kebutuhan adalah suatu proses yang dilakukan oleh seseorang


untuk mengidentifikasi kebutuhan dan menentukan skala prioritas pemecahannya.
Dalam program pembelajaran, kebutuhan yang dimaksud merupakan suatu kondisi
kesenjangan antara kondisi yang diharapkan dengan kondisi nyata. Kebutuhan
tersebut dapat terjadi pada diri peserta didik dan guru, baik secara perseorangan
maupun kelompok atau juga pada institusi. Dasar pemikirannya dalah sering sekali
sekolah dan guru sudah melakukan berbagai upaya maksimal untuk memanfaatkan
sumber daya dalam sistem pembelajaran.
5

Namun kenyataannya, masih ada saja keluhan, kekecewaan atau


kekurangan, seperti prestasi belajar peserta didik yang kuarang optimal. Analisis
kebutuhan merupakan alat yang tepat untuk melakukan perubahan yang rasional
dan fungsional. Perbandingan antara upaya pemecahan masalah secara tradisional
dengan cara yang inovatif, yaitu menggambarkan proses penyusunan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) dalam sebuah diagram atau bagan proses yang
menunjukan posisi analisis kebutuhan. Dibawah ini adalah posisi analisis
kebutuhan dalam program pembelajaran:

Untuk apa pembelajaran dan Mengapa materi tersebut Bagaimana mengerjakannya?


apa yang akan diajarkan? penting untuk diajarkan?
Tujuan dan materi Analisis Kebutuhan Pendekatan dan strategi

Ketika guru ingin mengembangkan program pembelajaran, tentu seorang guru


harus merumuskan tujuan pembelajaran. Guru kemudian memilih materi apa saja
yang nantinya akan disampaikan dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Setelah itu,
guru menelaah kembali materi yang dipilih sudah sesuai dengan kebutuhan peserta
didik, maka guru menentukan pendekatan dan strategi yang tepat untuk
menyampaikan materi. Pendekatan dapat digunakan secara individual atau kelompok,
sedangkan strategi akan menentukan metode, media, dan sumber belajar yang akan
digunakan. Hal penting yang harus dipahami oleh evaluator adalah ketika melakukan
analisis kebutuhan dalam pembelajaran hendaknya dimulai dari peserta didik,
kemudian komponen-komponen yang terkait dengannya. Perencanaan evaluasi dapat
ditinjau dari dua pendekatan, yaitu:

a. Pendekatan program pembelajaran

Suatu program minimal terdiri atas tiga dimensi, yaitu input, proses,
dan output. Di sini evaluator harus menyusun desain evaluasi yang dituangkan
dalam bentuk proposal, karena melakukan evaluasi sama halnya dengan
melakukan penelitian. Kegiatan evaluasi sama dengan kegiatan penelitian.
Bedanya, kegiatan evaluasi bertitik tolak dari sebuah kriteria. Dengan
demikian, proposal evaluasi sama dengan proposal penelitian.

Secara umum, sebuah proposal lengkap terdiri atas tiga bagian besar,
yaitu bagian pendahuluan, bagian metodologi dan bagian administrasi. Perlu
6

diketahui bahwa instrumen evaluasi yang digunakan harus betul-betul


memiliki karateristik instrumen yang baik, seperti validitas, reliabilitas dan
praktis. Untuk itu, proses pengembangan instrumen harus mengikuti langkah-
langkah standardisasi sebuah instrumen evaluasi. Begitu juga dengan
populasinnya, jika terlalu banyak dan luas, sebaliknya diambil dengan teknik
sampling.

b. Pendekatan hasil belajar


Pendekatan ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu domain hasil
belajar, proses dan hasil belajar, dan kompetensi. Disini perencanaan
evaluasi dilihat dalam perspektif hasil belajar. Jika didalam penilaian itu
sudah jelas akan menggunakan test, maka ada beberapa faktor yang harus
diperhatikan, seperti merumuskan tujuan penilaian, mengidentifikasi
kompetensi dan hasil belajar, menyusun kisi-kisi, mengembangkan draft
instrumen, uji coba dan analisis instrumen, revisi dan merakit instrumen
baru.
i) Menentukan tujuan Penilaian
Tujuan penilaian ini harus dirumuskan secara jelas dan tegas
serta ditentukan sejak awal, karena menjadi dasar untuk menentukan
arah, ruang lingkup materi, jenis/model, dan karakter alat penilaian.
Dalam penilaian hasil belajar, ada emapat kemungkinan tujuan
penelitian, yaitu untuk memperbaiki kinerja tau proses pembelajaran
(formatif), untuk menentukan keberhasilan peserta didik (sumatif),
untuk mengidentifikasi kesulitan belajar peserta didik dalam proses
pembelajaran (diagnostik), atau untuk menempatkan posisi peseta
didik sesuai dengan kemampuannya (penempatan).
ii) Mengidentifikasi Hasil Belajar
Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, sikap, dan
nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
Peserta didik dianggap kompeten apabila dia memiliki pengetahuan
keterampilan, sikap dan nilai untuk melakukan sesuatu setelah
mengikuti proses pembelajaran. Dalam kurikulum berbasis
kompetensi, semua jenis kompetensi dan hasil belajar sudah
dirumuskan oleh tim pengembang kurikulum, seperti standar
kompetensi, kompetensi dasar, hasil belajar, dan indikator. Guru
tinggal mengidentifikasi kompetensi mana yang akan dinilai.
7

iii) Menyusun Kisi-Kisi


Menyusun kisi-kisi dimaksudkan agar materi penilaian betul-
betul representatif dan relevan dengan materi pelajaran yang sudah
diberikan oleh guru kepada peserta didik. Jika materi penilaian tidak
relevan dengan materi pelajaran yang telah diberikan, maka akan
berakibat hasil penilaian itu kurang baik. Begitu juga jika materi
penilaian terlalu banyak dibandingkan dengan materi pelajaran, maka
akan berakibat sama. Untuk melihat apakah materi penilaian relevan
dengan materi pelajaran atau apakah penilaian terlalu banyak atau
kurang, guru harus menyusun kisi-kisi.
Kisi-kisi adalah format pemetaan soal yang menggambarkan
distribusi item untuk berbagai topik atau pokok bahasan berdasarkan
jenjang kemampuan tertentu. Fungsi kisi-kisi adalah sebagai
pedoman untuk menulis sosal atau merakit soal menjadi perangkat
test. Dalam konteks penilaian hasil belajar, kisi-kisi soal disusun
berdasarkan silabus setiap mata pelajaran. Jadi guru, harus
melakukan analisis silabus terlebih dahulu sebelum menyusun kisi-
kisi soal. Perhatikan langkah-langkah berikut ini:

ANALISIS SILABUS

MENYUSUN KISI-KISI

MEMBUAT SOAL

MENYUSUN LEMBAR JAWABAN

Sebenarnya format kisi-kisi tidak ada yang baku, kerena itu banyak model format
yang dikembangkan para pakar evaluasi. Namun, sekedar untuk memperoleh gambaran,
MEMBUAT KUNCI JAWABAN
format kisi-kisi soal dapat dibagi menjadi dua komponen pokok, yaitu komponen identitas
dan komponen matriks. Komponen identitas ditulis dibagian atas matriks, sedangkan
komponen matriks dibuat dalam bentuk kolom yang
MENYUSUN sesuai. Komponen
PEDOMAN identitas meliputi
PENSKORAN
jenis/jenjang sekolah, jurusan/program, mata pelajaran, tahun ajaran/smt, kurikulum acuan,
8

alokasi waktu, jumlah soal keseluruhan, dan bentuk soal. Komponen matriks terdiri atas
kompetensi dasar, materi, jumlah soal, jenjang kemampuan, indikator, dan nomor urut soal.
Contoh:
No Kompetensi Hasil Indikator Jenjang Bentuk Nomor
Dasar Belajar
Kemampua Soal Soal
n

Manfaat adanya indikator yaitu:


1) Guru dapat memilih materi, metode, media, dan sumber belajar yang tepat, sesuai
dengan kompetensi yang telah ditetapkan.
2) Sebagai pedoman dan pegangan bagi guru untuk menyusun soal atau instrumen
atau penilaian lain yang tepat, sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi
dasar yang telah ditetapkan. Untuk mengukur pencapaian target dalam indikator,
sebaiknya disusun butir soal dalam format khusus.
Selain format kisi-kisi di atas, ada juga format kisi-kisi terurai, dalam hal ini
setiap tingkah kesukaran soal harus ditetapkan jumlah soal yang termasuk sukar,
sedang, dan mudah. Adapun besar-kecilnya jumlah soal untuk tiap-tiap tingkat
kesukaran tidak ada yang mutlak. Biasanya, jumlah soal sedang lebih banyak daripada
jumlah soal mudah dan sukar,sedangkan jumlah soal mudah dan soal sukar sama
banyaknya.

iv) Mengembangkan draf instrument


Mengembangkan draf instrumen penilaian merupakan salah
satu langkah penting dalam prosedur penilaian. Instrumen penilaian
dapat disusun dalam bentuk tes maupun nontes, dalam bentuk tes,
berarti guru harus membuat soal. Penilaian sosial adalah penjabaran
indikator menjadi pertanyaan-pertanyaan yang karakteristiknya
sesuai dengan pedoman kisi-kisi. Setiap pertanyaan harus jelas dan
terfokus serta menggunakan bahasa yang efektif, baik bentuk
pertanyaan maupun bentuk jawabannya. Kualitas butir soal akan
menentukan kualitas tes secara keseluruhan. Setelah semua soal
ditulis, sebaiknya soal tersebut dibaca lagi, jika perlu didiskusikan
kembali dengan tim penelaah soal, baik dari ahli bahasa, ahli bidang
studi, ahli kurikulum, dan ahli evaluasi. Dalam bentuk notes, guru
9

dapat membuat angket, pedoman observasi, pedoman wawncara,


studi dokumentasi, skala sikap, penilaian bakat, minat, dan
sebagainya.
v) Uji coba dan analisis soal
Jika semua soal sudah disusun dengan baik, maka perlu di uji
cobakan terlebih dahulu dilapangan. Tujuannya untuk mengetahui
soal-soal mana yang perlu diubah, diperbaiki, bahkan dibuang sama
sekali, serta soal-soal mana yang baik untuk dipergunakan
selanjutnya. Soal yang baik adalah soal yang sudah mengalami
beberapa kali uji coba dan revisi, yang didasarkan atas analisis
empiris dan rasional. Analisis empiris dimaksudkan untuk
mengetahui kelemahan-kelemahan setiap soal yang diginakan.
Dalam melaksanakan uji coba soal, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan, anatara lain:
1. Ruangan tempatnya tes hendaknya diusahakan seterang
mungkin, jika perlu dibuat papan pengumuman diluar agar
orang lain tahu bahwa ada tes yang sedang berlangsung.
2. Perlu disusun tata tertib pelksanaan tes, baik yang berkenaan
dengan peserta didik itu sendiri, guru, pengawas, maupun
teknis pelksanaan tes.
3. Para pengawas tes harus mengontrol pelaksanaan tes dengan
ketat, tetapi tidak mengganggu suasana tes. Peserta didik
yang melanggar tata tertib tes dapat dikeluarkan dari ruang
tes.
4. Waktu yang digunakan harus sesuai dengan banyaknya soal
yang diberikan sehingga peserta didik dapat bekerja dengan
baik. Kecepatan waktu sangat mempengaruhi nilai kelompok
dan cara-cara dalam mengusahakan supaya kelompok tetap
bekerja sebagai suatu kesatuan.
5. Peserta didik harus benar-benar patuh mengerjakan semua
petunjuk dan perintah dari penguji. Sikap ini harus tetap
dipelihara meskipun diberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk mengajukan pertanyaan apabila ada soal yang
tidak dimengerti atau kurang jelas. Tanggung jawab penguji
dalam hal ini adalah memberikan petunjuk dengan sikap yang
bersifat lugas, jujur, adil dan jelas. Namun, antara penguji dan
10

peserta didik hendaknya dapat menciptakan suasana yang


kondusif.
6. Hasil uji coba hendaknya di olah, dianalisis, dan di
administrasikan dengan baik sehingga dapat diketahui soal-
soal mana yang lemah untuk selanjutnya dapat diperbaiki
kembali.
vi) Revisi dan merakit soal (instrumen baru)
Setelah soal diuji coba dan dianalisis, kemudian direvisi sesuai
dengan proporsi tingkat kesukaran soal dan daya pembeda. Dengan
demikian, ada soal yang masih dapat diperbaiki dari segi bahasa, ada
juga soal yang harus direvisi total, baik yang menyangkut pokok soal
(stem) maupun alternatif jawaban (option), bahkan ada soal yang
harus dibuang atau disisihkan. Berdaarkan hasil revisi soal ini,
barulah dilakukan perkaitan soal menjadi suatu instrumen yang
terpadu. Untuk itu, semua hal yang dapat mempengaruhi validitas
skor tes, seperti nomor urut soal, pengelompokan bentuk
soal,penataan soal, dan sebagainya haruslah diperhatikan.

B. Pelaksanaan Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi artinya bagaimana cara melaksanakan sautu evaluasi
sesuai dengan perencanaan evaluasi. Dalam perencanaan evaluasi telah disinggung
semua hal yang berkaitan dengan evaluasi. Artinya, tujuan evaluasi, model dan jenis
evaluasi, objek evaluasi, inastrumen evaluasi, sumber data, semuanya sudah
dipersiapkan pada instrumen evaluasi, sumber data, semuanya sudah dipersiapkan
pada tahap perencanaan evaluasi. Pelaksanaan evaluasi sangat bergantung pada jenis
evaluasi yang digunakan. Jenis evaluasi yang digunakan akan mempengaruhi seorang
evaluator dalam menentukan prosedur, metode, instrumen, waktu pelaksanaan
penilaian hasil belajar, guru dapat menggunakan tes (tes tertulis, tes lisan, dan tes
perbuatan) maupun notes (angket, observasi, wawancara, studi dokumentasi, skala
sikap, dan sebagainya). Perbandingan alokasi waktu dengan jumlah soal harus sesuai
dengan proposional. Begitu juga tempat duduk peserta didik harus direnggangkan satu
dengan yang lainnya untuk menghindari peserta didik saling menyontek. Pengawas
boleh berjalan-jalam, tetapi tidak boleh mengganggu suasana ujian.
11

Pembagian soal hendaknya dilakukan secara terbaik agar peserta didik tidak
ada yang lebih dahulu membaca. Semua ini harus diatur sedemikian rupa agar
pelaksanaan tes tertulis dapat berjalan dengan baik, tertib dan lancer. Pada prinsipnya
ketentuan-ketentuan di atas tidak jauh berbeda dengan pelaksanaan tes perbuatan,
hanya dalam tes perbuatan terkadang diperlukan alat bantu khusus, misalnya untuk
lompat jauh dibutuhkan meteran, untuk tes renang dibutuhkan kolam renang, untuk
tes praktik shalat dibutuhkan tempat shlata (mushalla), dan sebagainya. Untuk itu,
dalam pelaksanaan tes pebuatan diperlukan tempat tes yang terbuka dan suasanya
bebas.
Pelaksanaan nontes dimaksudkan untuk mengetahui perubahan sikap dan
tingkah laku peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, pendapat peserta
didik terhadap kegiatan pembelajaran, kesulitan belajar, minat belajar, motivasi
belajar dan mengajar, dan sebagainya. Realitas menunjukkan bahwa tidak adapun satu
teknik dan bentuk evaluasi yang dapat mengumpulkan data tentang keefektifan
pembelajaran, prestasi dan kemajuan belajar peserta didik secara sempurna.
Pengukuran tunggal tidak cukup untuk memeberikan gambaran atau informasi tentang
keefektifan pembelajaran dan tingkat penguasaan kompetensi (pengetahuan,
keterampilan, sikap, dan nilai-nilai) peserta didik. Tujuan pelaksanaan evaluasi adalah
untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai keseluruhan aspek kepribadian
dan prestasi belajar peserta didik yang meliputi:
1. Data pribadi (personal) peserta didik, seperti nama, tempat dan tanggal lahir,
jenis kelamin, golongan darah, alamat, dan lain-lain.
2. Data tentang kesehatan peserta didik, seperti penglihatan, pendengaran,
penyakit yang sering di derita, dan kondisi fisik.
3. Data tentang prestasi belajar (achievement) peserta didik di sekolah.
4. Data tentang sikap (attitude) peserta didik, seperti sikap terhadap sesame
teman sebaya, sikap terhadap kegiatan pembelajaran, sikap terhadap guru dan
kepala sekolah, dan sikap terhadap lingkungan social.
5. Data tentang bakat (aptitude) peserta didik, seperti ada tidaknya bakat di
bidang olahraga, keterampilan mekanis, manajemen, kesenian, dan keguruan.
6. Persoalan penyesuaian (adjustment), seperti kegiatan anak dalam organisasi
disekolah, forum ilmiah, olahraga, dan kepanduan.
7. Data tentang minat (interest) peserta didik.
8. Data tentang rencana masa depan peserta didik yang dibantu oleh guru dan
orang tua sesuai dengan kesangguapan anak.
12

9. Data tentang latar belakang keluarga peserta didik, seperti pekerjaan orang tua,
penghasilan tetap tiap bulan, kondisi lingkungan, serta hubungan peserta didik
dengan orang tua dan saudara-saudaranya.
Dari jenis-jenis di atas jelas kiranya bahwa banyak data yang harus
dikumpulkan dari lapangan melalui kegiatan evaluasi. Ada kecenderungan
pelaksanaan evaluasi selama ini kurang begitu memuaskan (terutama) bagi peserta
didik. Hal ini dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain:
1. Proses dan hasil evaluasi kurang member keuntungan pada peserta didik, baik
secara langsung maupun tidak langsung.
2. Penggunaan teknik dan prosedur evaluasi yang kurang tepat berdasarkan apa
yang sudah dipelajari peserta didik.
3. Prinsip-prinsip umum evaluasi kurang dipertimbangkan dan pemberian skor
cenderung tidak adil.
4. Cakupan evaluasi kurang memperhatikan aspek-aspek penting dari
pembelajaran.
Jika semua data sudah dikumpulkan, maka data itu harus diseleksi dengan
teliti sehingga dapat diperoleh data yang baik dan benar. Namun tidak semua data
yang diperoleh pasti mempunyai kesalahan, jika guru sendiri yang melaksanakan
evaluasi itu, tentu guru akan lebih berhati-hati dalam memilih dan menggunakan
teknik dan instrument evaluasi.
1. Kesalahan-kesalahan yang mungkin ditimbulkan karena kurang
sempurnanya instrument evaluasi. Misalnya, pada data yang berupa hasil-
hasil observasi, mungkin
2. Kesalahan-kesalahan yang mungkin ditimbulkan oleh kurang sempurnanya
prosedur pelaksanaan evaluasi yang dilakukan. Misalnya, pada data yang
berupa skor tes, mungkin pada waktu pelaksanaan tes tersebut terjadi
peristiwa-peristiwa yang berlawanan dengan kelaziman-kelaziman yang
biasa, pengawasan kurang ketat, kondisi tempat tes kurang nyaman,
cahaya kurang terang, dan sebagainya.
3. Kesalahan yang mungkin ditimbulkan oleh kurang sempurnanya cara
pencatatan hasil evaluasi. Misalnya, pada data yang berupa skor tes
kemungkinan kita sudah menjumlahkan skor yang dicapai peserta didik.
Prosedur verifikasinya adalah meneliti kembali pencatatan skor yang telah
dilakukan, seperti ada tidaknya kekeliruan pada waktu mencatat hasil
evaluasi, ada tidaknya kekeliruan dalam pemberian skor dan ada tidaknya
kekeliruan dalam menjumlahkan skor tiap peserta didik.
13

C. Monitoring Pelaksanaan Evaluasi


Langkah ini dilakukan untuk melihat apakah pelaksanaan evaluasi pembelajaran
telah sesuai dengan perencanaan evaluasi yang telah ditetapkan atau belum. Tujuannya
adalah untuk mencegah hal-hal yang negatife dan meningkatkan efesiensi pelaksanaan
evaluasi. Monitoring mempunyai dua fungsi pokok. Pertama, untuk melihat relevansi
pelaksanaan evaluasi dengan perencanaan evaluasi. Kedua, untuk melihat hal-hal apa
yang terjadi selama pelaksanaan evaluasi.
Jika dalam pelaksanaan evaluasi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka
evaluator harus mencatat,melaporkan, dan menganalisis factor-faktor penyebabnya.
Dalam pelaksanaan penilaian hasil belajar sering terjadi peserta didik menyontek jawaban
dari temannya, peserta didik mendapat bocoran jawaban soal, ada juga peserta didik yang
tiba-tiba sakit ketika mengerjakan soal, dan sebagainya. Disinilah pentingnya monitoring
pelaksanaan evaluasi.
Untuk melaksanakan monitoring, evaluator dapat menggunakan beberapa teknik,
seperti observasi partisipatif, wawancara (bebas atau terstruktur), atau studi dokumentasi.
Untuk itu, evaluator harus membuat perencanaan monitoring sehingga dapat dirumuskan
tujuan, sasaran, data yang diperlukan, alat yang digunakan, dan pedoman analisis hasil
monitoring. Data yang diperoleh dari hasil monitoring haru cepat dianalisis monitoring ini
dapat dijadikan landasan dan acuan untuk memperbaiki pelaksanaan evaluasi selanjutnya
dengan harapan akan lebih baik dari pada sebelumnya.

D. Pengolahan Data
Setelah semua data dikumpulkan, baik secara langsung maupun secara tidak
langsung, maka selanjutnya dilakukan pengolahan data. Data hasil evaluasi, ada yang
berbentuk kualitatif, ada juga yang berbentuk kuantitatif. Kemudian kita buat tabel
atau daftar, dari tabel atau daftar distribusi frekuensi, dapat kita hitung presentase,
rata-rata kelompok, nilai median, modus, peringkat, dan sebagainya sesuai dengan
kebutuhan. Pengolahan data tersebut akan memberikan nilai kepada peserta didik
berdasarkan kualitas hasil pekerjaannya. Dalam pengolahan data biasanya sering
menggunakan analisis statistik. Analisis statistik digunakan jika ada data kuantitatif,
sedangkan untuk data kualitatif tidak dapat diolah dengan statistik. Jika data kualitatif
akan diolah dengan statistik, maka data tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi
data kuantitatif (kuantifikasi data). Dan tidak semua data kualitatif dapat diubah
menjadi data kuantitatif, sehingga tidak dapat diolah dengan statistik. Ada empat
langkah pokok dalam mengolah hasil penilaian, yaitu:
14

1. Menskor, yaitu memberikan skor pada hasil evaluasi yang


dapat dicapai oleh peserta didik. Untuk menskor atau
memberikan angka diperlukan tiga jenis alat bantu, yaitu
kunci jawaban, kunci skoring dan pedoman konversi.
2. Mengubah skor mentah menjadi skor standar seasuai dengan
norma tertentu.
3. Mengkonvesikan skor standar ke dalam nilai, baik berupa
huruf atau angka.
4. Melakukan analisis soal (jika diperlukan) untuk mengetahui
derajat validitas dan reliabilitas soal, tingkat kesukaran soal,
dan daya pembeda (seperti dalam pilihan ganda).
Jika data yang diolah sudah dengan aturan, langkah selanjutnya adalah
menafsirkan data itu sehingga memberikan makna. Langkah penafsiran data
sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari pengolahan data itu sendiri, karena setelah
mengolah data dengan sendirinya akan menafsirkan hasil pengolahan itu.
Memberikan interpretasi maksudnya adalah pembuatan pernyataan mengenai hasil
pengolahan data. Interpretasi terhadap sesuatu hasil evaluasi didasarkan atas kriteria
tertentu yang disebut norma. Norma dapat ditetapkan lebih dulu secara rasional dan
sistematis sebelum kegiatan evaluasi dilaksanakan.
Dalam kegiatan pembelajaran, biasanya kriteria bersumber pada tujuan setiap
mata pelajaran (standar kompetensi dan kompetensi dasar). Ada dua jenis penafsiran
data, yaitu penafsiran kelompok dan penafsiran individual :
1. Penafsiran kelompok, yakni penafsiran yang dilakukan untuk mengetahui
karakteristik kelompok berdasarkan data hsil evaluasi, seperti prestasi
kelompok, rata-rata kelompok, sikap kelompok terhadap guru dan materi
pelajaran yang diberikan, dan distribusi nilai kelompok. Tujuan utamanya
adalah sebagai persiapan untuk melakukan penafsiran kelompok, untuk
mengetahui sifat-sifat tertentu pada suatu kelompok, dan untuk
mengadakan perbandingan antar kelompok.
2. Penafsiran individual, yani penafsiran hanya dilakukan perseorangan.
Tujuan utamanya untuk melihat tingkat kesiapan peserta didik,
pertumbuhan fisik, kemajuan belajar, dan kesulitan yang dihadapinya.

E. Pelaporan Hasil Evaluasi


Pelaporan hasil evaluasi harus diberikan kepada pihak yang berkepentingan,
seperti wali murid, kepala sekolah, pengawas, dan pemerintah. Maksudanya, agar
proses pembelajaran, termasuk proses dan hasil belajar yang dicapai peserta didik
15

serta perkembangannya dapat diketahui oleh berbagai pihak, sehingga orang tua wali
dapat menentukan sikap objektif terhadap perkembangannya.
Laporan hasil belajar peserta didik merupakan sarana komunikasi antara sekolah,
peserta didik, dan orang tua dalam upaya mengembangkan dan menjaga hubungan
kerja sama yang harmonis diantara mereka. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,
yakni:
1. Konsisten dengan pelaksanaan penilaian di sekolah.
2. Memuat perincian hasil belajar peserta didik berdasarkan kriteria yang telah
ditentukan dan dikaitkan dengan penilain yang bermanfaat bagi pengembangan
peserta didik.
4. Menjamin orang tua akan informasi permasalahan peserta didik dalam belajar.
5. Mengandung berbagai cara dan strategi komunikasi.
6. Memberikan informasi yang benar dan jelas.

Laporan kemajuan belajar peserta didik yang selama ini dilakukan oleh pihak sekolah
cenderung hanya bersifat kuantitatif, sehingga kurang dapat dipahami maknanya. Oleh karena
itu, laporan kemajuan peserta didik harus disajikan secara sederhana, mudah dibaca dan
difahami, komunikatif dan menampilkan profil atau tingkat kemajuan siswa, sehingga peran
serta masyarakat dan orang tua dlam dunia pendidikan semakin meningkat. Peserta didikpun
dapat menganalisa kekurangan dan kelebihannya. Hanya sekedar gambaran, isi laporan
hendaknya memuat hal-hal, seperti profil belajar peserta didik di sekolah (akademik, fisik,
sosial, dan emosional), peran serta peserta didik dalam kegiatan sekolah (aktif, cukup,
kurang, atau tidak aktif), kemajuan hasil belajar belajar peserta didik dalam kurun waktu
tertentu (meningkat, biasa saja, atau bahkan menurun), imbauan terhadap orang tua. Laporan
kemajuan siswa dapat dikelompokan menjadi dua jenis yaitu, laporan prestasi dlam mata
pelajaran dan laporan pencapaian.

F. Penggunaan Hasil Evaluasi


Tahap akhir dari prosedur evaluasi adalah penggunaan atau pemanfaatan hasil
evaluasi. Salah satu penggunaannya adalah laporan. Laporan dimaksudkan untuk
memberikan feedback kepada semua pihak yang terlibat dalam pembelajaran, baik
secara langsung maupun tidak langsung.
Dengan demikian, hasil evaluasi dapat digunakan untuk membantu
pemahaman peserta didik menjadi lebih baik, menjelaskan pertumbuhan dan
perkembangan peserta didik kepada orang tua, dan membantu guru dalam menyusun
perencanaan pembelajaran. Evaluasi itu sendiri yang tentunya sudah dirumusakn
16

sebelumnya. Berdasarkan penjelsan tersebut, maka dapat dikemukakan beberapa jenis


penggunaan hasil evaluasi sebagai berikut:
1. Untuk keperluan laporan pertanggung jawaban
2. Untuk keperluan seleksi
3. Untuk keperluan promosi
4. Untuk keperluan diagnosis
5. Untuk keprluan memprediksi masa depan peserta didik.
G. Prinsip dan Prosedur Penilaian
Mengingat pentingnya penilaian dalam menentukan kualitas pendidikan, maka
upaya merencanakan dan melaksanakan penilaian hendaknya memperhatikan
beberapa prinsip dan prosedur penilaian sebagai berikut:
1. Dalam menilai hasil belajar, hendaknya dirancang sedemikian rupa sehingga
jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian, dan
interpretasi hasil penilaian.
2. Penilaian hasil belajar hendaknya menjadi bagia integral dari proses belajra-
mengajar. Artinya, penilaian senantiasa dilaksanakan pada tiap saat proses
belajar-mengajar sehingga pelaksanaannya berkesinambungan.
3. Agar diperoleh hasil belajar yang obyektif dalam pengertian menggambarkan
prestasi dan kemampuan siswa sebagaimana adanya, penilaian harus
menggunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif (mencakup
berbagai ranah, sepesrti kognitif, afektif, dan psikomotorik).
4. Penilaian hasil belajar hendaknya diikuti dengan tindak lanjutnya. Data hasil
penilaian sangat bermanfaat bagi guru maupun bagi siapapun.
Prosedur adalah langkah-langkah teratur dan tertib yang harus ditempuh
seorang evaluator pada waktu melakukan evaluasi kurikulum. Adapun beberapa
prosedur evaluasi kualitatif dan kuantitatif sebagai berikut:
1) Prosedur Evaluasi Kuantitatif
Kaedah evaluasi mengatakan bahwasannya evaluasi harus berkaitan
dengan pengembangan kurikulum yang terjadi. Prosedur untuk
evaluasi kuantitatif yakni sebagai berikut :
a. Penentuan masalah atau pertanyaan evaluasi
b. Penentuan variabel, jenis data dan sumber data
c. Penentuan metodologi
d. Pengembangan instrumen
e. Penentuan proses pengumpulan data
f. Penentuan proses pengolahan data.
17

2) Prosedur Evaluasi Kualitatif


Ada tiga hal pokok yang harus dilakukan evaluator ketika melakukan
evaluasi kurikulum dengan menggunakan prosedur sebagai berikut:
a. Menentukan fokus evaluasi
b. Perumusan masalah dan pengumpulan data
c. Proses pengolahan data
d. Menentukan perbaikan dan perubahan program.
e. BAB III

f. PENUTUP

g. 3.1 Kesimpulan

h. Kalau kita perhatikan kenyataan dalam dunia pendidikan akan kita


ketahui, bahwa dalam setiap jenis pendidikan atau bentuk pendidikan pada waktu-
waktu tertntu selama suatu periode pendidikan orang selalu mengadakan evaluasi:
artinya pada waktu-waktu tertentu selama suatu periode pendidikan tadi selalu
mengadakan penelitian terhadap hasil yang telah dicapai baik oleh pihak pendidik
maupun oleh pihak terdidik hingga waktu tertentu.
i. Mudah dipahami bahwa kedua jenis pengetahuan tadi mempunyai arti
yang penting dalam setiap proses pendidikan. Pengetahuan mengenai kemajuan anak
mempunyai bermacam-macam kegunaan. Pertama-tama : dengan pengetahuan itu kita
dapat mengetahui keduduk atau anak tadi dalam kelompoknya, dengan pengetahuan
itu kita dapat memperkirakan, apakah seorang anak dalam kelompoknya dapat
dimasukan kedalam golongan anak yang biasa atau normal, ataukah ia termasuk ke
dalam golongan anak yang lambat majunya (below-average) atau cepat majunya
(above-average) dan dengan pengetahuan ini selanjutnya kita dapat mengadakan
perencanaan yang realistis mengenai masa depan anak didik. Ini merupakan suatu hal
yang penting, oleh karena itu sukses anak sebagai seorang anggota masyarakat kelak
dan juga kebahagiaannya sebagai orang dewasa kelak untuk sebagian turut ditentukan
oleh ada atau tidak adanya perencanaan masa depan yang realistis ini.
j.

k. 3.2 Saran

l. Demikianlah uraian materi yang dapat kami sampaikan dalam makalah


ini. Tak ada gading yang tak retak, begitu pula adanya makalah ini. Dengan
kerendahan hati, saran dan kritik yang rekonstruktif sangat kami harapkan dari
pembaca, guna peningkatan kualitas makalah ini dimasa mendatang. Semoga, sekecil
apapun percikan pemikiran yang tersaji dalam makalah ini, dapat membuka wawasan
dan bermanfaat bagi kami pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Dan
kami selaku penulis memohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Semoga

19
Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua.
Amin.

m. DAFTAR PUSTAKA
n. Arifin, Zaenal. 2011. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.

o. Erman. 2003. Evaluasi Pembelajaran Matematika.Bandung:


UPI.

p.

q.

r.

s.

20