Anda di halaman 1dari 10

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PIUTANG

Faktor Eksternal
Besarnya piutang bervarisai dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya dan dari satu industry ke
industri lainnya. Sebagai contoh Perusahaan RETAIL cenderung mempunyai tingkat piutang dan
persediaan yang lebih besar dibangdingkan dengan perusahaan manufaktur. Kenapa satu industri
meempunyai tingkat piutang dan persediaan yang lebih tinggi? Beberapa kemungkinan
jawabannya adalah:
1. Karakteristik produk dan proses produksi
2. Faktor kompetisi
3. Faktor musiman
Faktor Internal
Disamping faktor eksternal, faktor internal juga akan menentukan besar kecilnya persediaan
piutang. Sebagai contoh, manajer keuangan mempunyai pilihan apakah akan melaksanakan
kebijakan kredit yang longgar (meningkatkan piutang) atau ketat (meminimumkan piutang).
Tentunya kebijakan piutang akan menciptakan trade off antar keuntungan dan biaya(resiko).
Faktor internal lain juga mempengaruhi piutang, sebagai contoh, perusahaan cukup sukses
mengelola promosi sehingga penjualan akan meningkat, maka piutang akan meningkat.

D. KEBIJAKAN PIUTANG
Kebijakan kredit merupakan kebijakan internal yang bisa dikendalikan oleh manajer keuangan.
Kebijakan pemberian kredit merupakan trade-off antara tambahan keuntungan penjualan dan
tambhan biaya. Tambahan biaya berasal dari jangka waktu kredit, potongan kas yang ditawarkan,
dan kualitas langganan yang akan terlihat dari piutang yang tidak dibayar.
1. Analisis Kuantitatif manfaat dan biaya
Misalkan PT ONE saat ini menjual dengan tunai. Penjualan saat ini adalah Rp
100.000.000,. Perusahaan mempertimbangkan pemberian kredit untuk meningkatkan
penjualan. Penggunaan kredit diperkirakan akan meningkatkan penjualan sebesar Rp
20.000.000,. Harga produk adalah Rp.1.000,sedangkan biaya variabel adalah Rp750.
Tingkat keuntungan yang disyaratkan adalah 20% sebelum Pajak. Rata-rata pengumpulan
piutang adalah 2 bulan. Maka bagan berikut menunjukkan analisis untuk melihat apakah
pemberian kredit tersebut pantas untuk dilakukan.
I. Tambahan Keuntungan :
Tambahan Penjualan = Rp20.000.000
Tambahan Keuntungan = 0,25 x Rp20.000.000
= Rp5.000.000
II. Tambahan Biaya
Tambahan piutang = Rp120.000.000/6 = Rp 20.000.000,.
Tambahan investasi pada piutang = 0,75 x Rp 20.000.000= Rp 15.000.000
Keuntungan yng disyaratkan = 0,2 x Rp 15.000.000= Rp3.000.000
Dalam bagan diatas, margin kontribusi dihitung sebagai berikut :
((harga biaya variabel )/harga) x 100 % = 25

2. Analisis kuantitatif kebijakan kredit Informasi diperoleh dari:


a. Laporan Keuangan
b. Bank
c. Asosiasi Perdagangan
d. Pengalaman Perusahaan
e. Informasi Lainnya

Setelah informasi dikumpulkan, manajer keuangan dapat melakukan seperti cara-


cara yang umumnya dilakukan oleh bank ataupun perusahaan lain yaitu 5C dari calon
pelanggan antara lain:
a. Character
Meneliti dan memperhatikan sifat-sifat pribadi, cara-cara hidup dan status sosial
dari pemohon kredit. Hal ini penting karena berkaitan dengan kemauan para
pelanggan untuk membayar.
b. Capacity
Meneliti kemampuan pemohon kredit dalam memperoleh penjualan ataupun
pendapatan yang dapat diukur dari penjualan yang dicapai pada masa lalu dan
juga keahlian yang dimiliki dalam bidang usahanya.
c. Capital
Mengukur posisi keuangan perusahaan secara umum dengan memperhatikan
modal yang dimiliki perusahaan, juga perbandingan hutang dan modal.
d. Collateral
Mengukur besarnya aktiva perusahaan yang dijadikan sebagai agunan atau
jaminan atas kredit yang diberikan.
e. Condition
Memperhatikan pengaruh langsung dari keadaan ekonomi pada umumnya
terhadap perusahaan yang bersangkutan terhadap kemampuan untuk memenuhi
kewajibannya.

E. PENGENDALIAN PIUTANG
Monitoring piutang dagang bisa dilakukan dengan mengawasi periode pengumpulan piutang.
Ada beberapa cara untuk mengawasi piutang:
1. Rata- rata pengumpulan piutang ( Days Sales Outstanding/DSO)
Rata- rata periode pemgumpulan piutang adalah periode dari penjualan kredit terjadi
sampai penjualan tersebut dibayarkan. Periode pengumpulan ingin melihat seberapa lama
piutang dagang terbayar. Manajer keuangan bisa menghitung rata-rata pengumpulan
piutang dengan menggunakan informasi Laporan Keuangan. Perhitungan tersebut
dilakukan dengan, pertama menghitung penjualan harian rata-rata sebagai berikut :

Penjualan Harian Rata-rata =

Kemudian periode pengumpulan piutang dihitung sebagai berikut,

Rata-rata periode pengumpulan piutang =

2. Aging Schedule ( Skedul Umur )


Yaitu mengelompokkan piutang sesuai dengan umurnya.
PT A PT B
Umur Piutang
Nilai % Nilai %
0 -10 1.400 70% 800 40%
11-30 600 30% 500 25%
31-45 0 0 300 15%
45-60 0 0 200 10%
>60 0 0 200 10%
Total 2.000 100% 2000 100%
PT A dapat mengelola piutangnya lebih baik karena 70% pelanggan membayar < 10 hari
sisanya 30 hari.
3. Payment Pattern Approach (pendekatan Pola pembayaran)
Contoh : PT ABC mulai beroperasi tahun 1997 tabel berikut memperlihatkan penjualan
kredit dan piutang pada 1997. Asumsi 10% pelanggan membayar pada bulan penjualan,
30% membayar 1 bulan sesudahnya, 40% membayar 2 bulan sesudahnya dan 20% bulan
sesudahnya. Berapakah DSO pada bulan Maret?

Penjualan Piutang Per


Bulan ADS DSO
Kredit tiga bulan
Januari 60 54
Februari 60 90
Maret 60 102 2 51
Ket:
Januari = 10% membayar pada januari shg piutang 90% x 60 = 54
Februari = 30% panjualan januari dilunasi + 10% penjualan Februari
= ( 54 ( 30% x 60)) + ( 90% x 60 ) = 90
Maret = ( 36 ( 40% x 60 )) + ( 54 30% x 60)) + ( 90% x 60) = 102
ADS =(60 + 60 + 60) / 90 = 2
DSO = 102/2 = 51

BAB II
MANAJEMEN PERSEDIAAN
A. PERSEDIAN : PENGERTIAN, BIAYA, MANFAAT
1. Pengertian
Persediaan merupakan simpanan material yang berupa bahan mentah, barang dalam proses
dan barang jadi. Persediaan menjadi sangat penting karena persedian berhubungan dengan
pembentukan keunggulan kompetitif jangka panjang.
Hal-hal yang sangat dipengaruhi oleh tingkat persediaan :
1. Kualitas 5. Kapasitas berlebih
2. Rekayasa Produk 6. Kemampuan merespon pelanggan
3. Harga 7. Tenggang waktu
4. Lembur 8. Profitabilitas keseluruhan
Artinya : Perusahaan dengan tingkat persediaan lebih tinggi dari perusahaan lain memiliki
kecendrungan untuk berada dalam kompetitif yang lebih rendah (persediaan tinggi biaya
persediaan tinggi biaya tinggi mempengaruhi laba).

2. Biaya yang berkaitan dengan persediaan :


Biaya Pemesanan / Ordering Cost : biaya untuk menempatkan dan menerima pesanan.
Contoh : Biaya pemrosesan pesanan , biaya asuransi untuk pengiriman, biaya
pembongkaran
Biaya Persiapan atau penyetelan / Setup Cost : biaya untuk menyiapkan peralatan dan
fasilitas sehingga dapat digunakan untuk memproduksi produk atau komponen tertentu.
Contoh : biaya uji coba produksi
Biaya Penyimpanan / Carrying Cost : biaya untuk menyimpan persediaan. Contoh : Biaya
asuransi, pajak persediaan, keusangan dan biaya ruang penyimpanan.
Biaya Habisnya Persediaan / Stockout Cost : Biaya yang terjadi karena tidak dapat
menyediakan produk ketika diminta pelanggan. Contoh : penjualan yang hilang (baik saat
ini maupun dimasa yang akan datang)

3. Manfaat persediaan
1. Menghilangkan/mengurangi risiko keterlambatan pengiriman bahan
2. Menyesuaikan dengan jadwal produksi
3. Menghilangkan/mengurangi resiko kenaikan harga
4. Menjaga persediaan bahan yang dihasilkan secara musiman
5. Mengantisipasi permintaan yang dapat diramalkan.
6. Mendapatkan keuntungan dari quantity discount
7. Komitmen terhadap pelanggan.

B. MODEL ECONOMIC QUANTITY ( EOQ)


Economic Order Quantity (EOQ) atau Economic Lot Size (ELS) merupakan suatu metode
manajemen persediaan paling terkenal dan paling tua. Diperkenalkan oleh FW. Harris sejak
tahun 1914. Model ini dapat dipergunakan baik untuk persediaan yang dibeli maupun yang
dibuat sendiri, dan banyak digunakan sampai saat ini karena penggunaannya relatif mudah.
Model ini mampu untuk menjawab pertanyaan tentang kapan pemesanan/pembelian harus
dilakukan dan berapa banyak jumlah yang harus dipesan agar biaya total (penjumlahan antara
biaya pemesanan dengan biaya penyimpanan) menjadi minimum. Dalam gambar berikut ini
dapat dilihat tingkat pemesanan optimal terjadi pada saat biaya penyimpanan sama dengan biaya
pemesanan.
Agar model ini dapat dipergunakan, diperlukan pemenuhan terhadap asumsi-asumsi sebagai
berikut :
1. Permintaan terhadap bahan/barang independen
2. Tingkat persediaan diketahui dan bersifat konstan.
3. Lead time diketahui dan bersifat konstan.
4. Tidak terdapat quantity discount.
5. Harga per unit konstan sepanjang periode analisis.
6. Biaya penyimpanan per unit konstan.
7. Biaya pemesanan per pesanan konstan.
8. Barang yang dipesan/disimpan hanya satu jenis.
9. Tidak ada pesanan yang ditunda.

Besarnya biaya persediaan total dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

Sedangkan untuk menentukan jumlah pembelian yang paling ekonomis digunakan formulasi
sebagai berikut :

Keterangan :
D = kebutuhan per tahun
S = biaya pemesanan untuk setiap pesanan
H = biaya penyimpanan per tahun per unit
Q = jumlah pesanan setiap pemesanan
TC = total biaya

Frekuensi pemesanan adalah jumlah permintaan per tahun dibagi dengan jumlah pemesanan
yang paling ekonomis, secara matematis ditulis :

D
F = --- KALI PER TAHUN
Q
Jangka waktu antar setiap pesanan adalah jumlah hari kerja dalam satu tahun dibagi dengan
frekuensi pemesanan, atau ditulis :

T = Jumlah hari kerja per tahun


Frekuensi pemesanan

C. MODEL ABC
Seringkali suatu organisasi/perusahaan dihadapkan kepada masalah penyimpanan dan
pemeliharaan persediaan yang berbeda-beda, baik itu bahan baku, komponen, maupun barang
jadi. Dalam kondisi seperti ini manajemen harus memberikan prioritas pengendalian yang ketat
kepada jenis persediaan yang nilainya tinggi, sedangkan terhadap persediaan yang nilainya
rendah pengendalian dapat dilakukan dengan agak longgar, sebab terlalu ketat pengendalian
terhadap jenis ini bisa jadi biaya pengendalian menjadi lebih tinggi dari nilai persediaannya.
Agar pengendalian efisien, maka persediaan tersebut harus diklasifikasikan terlebih dahulu.
Klasifikasi biasanya dibagi menjadi tiga, yang biasa disebut klasifikasi ABC. Konsep ini
diperkenalkan HF. Dickie pada tahun 1950 an.Klasifikasi didasarkan kepada nilai persediaan.
Dengan diketahuinya klasifikasi ini, maka pengendalian akan dilakukan lebih intensif kepada
item tertentu yang merupakan item yang terpenting dari seluruh item yang ada dibandingkan
dengan item lainnya.
Nilai dalam klasifikasi ABC adalah volume bahan yang dibutuhkan selama suatu periode
dikalikan dengan harganya, dengan perkataan lain nilai di sini adalah nilai investasi (volume
rupiah tahunan). Item yang memiliki nilai investasi yang lebih tinggi dari item lain dianggap
item yang lebih penting, sehingga akan mendapat perhatian yang lebih serius dalam
pengendaliannya.
Item persediaan yang termasuk klasifikasi A adalah item yang memiliki jumlah fisik yang
relative sedikit (sekitar 20 persen) akan tetapi memiliki nilai rupiah tahunan yang tinggi
(mencapai sekitar 70 persen) dari seluruh investasi persediaan. Kelompok ini harus mendapat
perhatian yang serius karena berdampak biaya tinggi dalam persediaan.
Klasifikasi B, adalah kelompok persediaan yang memiliki volume fisik sekitar 30 persen
item dan sekitar 20 persen dari nilai investai tahunan. Terhadap kelompok persediaan ini
pengendalian dilakukan secara moderat.
Klasifikasi C, adalah barang-barang yang secara fisik mencapai sekitar 50 persen item dan
sekitar 10 persen nilai investasi tahunan. Terhadap kelompok persediaan ini hanya diperlukan
teknik pengendalian yang sederhana, dan pemeriksaan hanya perlu dilakukan sekali-kali. Nilai-
nilai persentasi di atas bukan merupakan nilai yang mutlak, akan tetapi sangat tergantung kepada
kebijakan perusahaan, dan begitu juga klasifikasinya tidak mutlak harus tiga klasifikasi.

Contoh :
Volume Volume Persentase
Item Harga/unit Kelas
(unit) (nilai uang) (nilai uang)
G-103 1,000 $ 90.00 $ 90,000 38.8% A
G-204 500 154.00 77,000 33.2% A
G-109 1,550 17.00 26,350 11,3% B
G-524 350 42.86 15,001 6,4% B
G-702 1,000 12.50 12,500 5,4% B
G-693 600 14.17 8,502 3,7% C
G-906 2,000 .60 1,200 .5% C
G-507 100 8,50 850 .4% C
G-592 1,200 .42 504 .2% C
G-345 250 .60 150 .1% C

D. Model dengan Pemesanan Tertunda (Back order).


Dalam kondisi tertentu mungkin permintaan pelanggan tidak dipenuhi sekaligus, atau ada
pesanan yang pemenuhannya ditunda yang disebabkan tidak tersedianya persediaan (stock out).
Hal ini sudah barang tentu akan berakibat terhadap besarnya biaya, yaitu akan menyebabkan
timbulnya biaya kekurangan persediaan. Dengan demikian maka biaya total persediaan
merupakan penjumlahan dari biaya pemesanan + biaya penyimpanan + biaya kekurangan
persediaan. Kondisi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Keterangan :
Q = tingkat persediaan
K = jumlah setiap pesanan
k = on hand inventory
K-k = back order, yaitu jumlah pesanan yang belum bisa dipenuhi.
Biaya persediaan total per tahun (TC), kuantitas paling ekonomis (EOQ), dan surplus persediaan
(I) dihitung dengan formulasi :

E. Model Quantity Discount


Dalam rangka meningkatkan volume penjualan seringkali perusahaan (supplier)
memberikan harga yang lebih rendah kepada pelanggan yang membeli dalam jumlah yang lebih
besar. Jadi harga per unit ditentukan semakin murah dengan semakin banyaknya jumlah yang
dibeli.
Dalam model potongan harga ini kita harus mempertimbangkan trade off antara biaya
pembelian dengan biaya penyimpanan, dimana semakin banyak jumlah yang dibeli maka biaya
pembelian per unit akan semakin menurun, tapi di lain pihak biaya penyimpanan akan semakin
meningkat.

Asumsi dalam Quantity Discount Model


1. Permintaan Bebas (Independent Demand)
2. Tingkat permintaan konstan (Demand rate is constant).
3. Lead time tetap dan diketahui (Lead time is constant and know)
4. Harga per unit tergantung kepada kuantitas (Unit cost depent on quantity)
5. Biaya penyimpanan proporgsional dengan rata-rata tingkat persediaan (Carrying cost
depends linearly on the average level of inventory)
6. Biaya pemesana per pesanan tetap (Ordering/setup cost per order is fixed)
7. Hanya satu item yang dikendalikan (The item is a single product)

Dalam rangka mencari biaya terendah dengan menggunakan model ini dimasukan biaya
pembelian untuk mencari biaya total, secara matematis ditulis :

D QH
TC = --- S + ----- + PD
Q 2

Kalau terdapat beberapa potongan harga, maka untuk menentukan jumlah pemesanan yang akan
meminimaliasi biaya persediaan total tahunan, perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Hitung nilai EOQ untuk potongan harga tertinggi (harga terendah). Apabila jumlah ini
fisibel, artinya jumlah yang akan dibeli mencapau jumlah yang dipersyaratkan dalam
potongan harga, maka jumlah tersebut merupakan jumlah pembelian/pesanan yang
optimal. Jika tidak lanjutkan ke tahap 2.
2. Hitung biaya total untuk kuantitas pada harga terendah tersebut.
3. Hitung EOQ pada harga terendah kedua. Jika jumlah ini fisibel hitung biaya totalnya, dan
bandingkan dengan biaya total pada kuantitas sebelumnya (langkah 2). Kuantitas optimal
adalah kuantitas yang memiliki biaya terendah.
4. Jika langkah ketiga masih tidak fisibel, ulangi langkah-langkah di atas sampai diperoleh
EOQ fisibel atau perhitungan tidak bisa dilanjutkan.

DAFTAR PUSTAKA
Miswanto & Eko Widodo, Manajemen Keuangan I, Gunadarma, 1998
Lukas Setia Atmaja, Manajemen Keuangan, Edisi Revisi, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2002
Hanafi, Mahmud M, Manajemen Keuangan, Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta,2004
Arifin, Agus Zainul, Manajemen Keuangan, Pusat Pengembangan Bahan Ajar-UMB
Yuhasril, Modul Mata Kuliah Seminar Manajemen Keuangan, Universitas Mercu Buana Jakarta,
2008

Anda mungkin juga menyukai