Anda di halaman 1dari 15

PERCOBAAN I

PEMBUATAN SIMPLISIA

A. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan
sampel atau simplisia yang baik .

B. Teori Umum
Sambiloto (Andrographis panuculata Ness.) dikenal sebagai King of
Bitters. Sambiloto merupakan tanaman asli India dan Cina. Sambiloto termasuk
dalam jenis tumbuhan family Acanthaceae yang telah digunakan selama beberapa
abad di Asia dalam sistem pengobatan. Dalam buku resmi tanaman obat
Indonesia, herba sambiloto digunakan sebagai diuretika dan antipiretika. Saat ini
sambiloto telah ditetapkan sebagai tanaman obat yang dikembangkan sebagai
obat fitofarmaka. Secara alami, sambiloto mampu tumbuh mulai dari dataran
pantai sampai dataran tinggi dengan kondisi jenis tanah dan iklim beragam
(Ratnani, Hartati, & Kurniasari, 2012).
Sambiloto memiliki batang berkayu berbentuk bulat dan segi empat serta
memiliki banyak cabang (monopodial). Daun tunggal saling berhadapan,
berbentuk pedang (lanset) dengan tepi rata (integer) dan permukaannya halus,
berwarna hijau. Bunganya berwarna putih keungungan, berbentuk jorong (bulan
panjang) dengan pangkal dan ujungnya yang lancip. Di India, bunga dan buah
bias dijumpai pada bulan Oktober atau antara Maret sampai Juli. Di Australia
bunga dan buah antara bulan November sampai bulan Juni tahun berikutnya,
sedang di Indonesia bunga dan buah dapat ditemukan sepanjang tahun
(Widyawati, 2007).
Andrographis paniculata mengandung diterpene, laktone, dan flavanoid.
Flavanoid terutama ditemukan diakar tanaman, tetapi juga ditemukan pada
bagian daun. Bagian batang dan daun mengandung alkana, ketone dan aldehid.
Meskipun di awal diduga bahwa senyawa yang menimbulkan rasa pahit adalah
senyawa lakton andrographolide, lebih lanjut diketahui bahwa daun sambiloto
mengandung dua senyawa yang menimbulkan rasa pahit yakni andrographolide
dan senyawa yang disebut dengan kalmeghin. Empat senyawa lakton yang
ditemukan dalam daun sambiloto adalah deoxyandrographolide,
andrographolide, neoandrographolide dan, 14-deoxy-11, 12-
didehydroandrographolide (Ratnani et al., 2012).
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang
belum mengalami pegolahan apapun juga dan kecuali dikatakan lain, berupa
bahan yang telah dikeringkan. Pengeringan adalah proses pengeluaran air atau
pemisahan air dalam jumlah yang relatif kecil dari bahan dengan menggunakan
energi panas (Utomo, Rahayu, & Dhiani, 2009).
Pada pembuatan simplisia akan melewati tahap pengeringan, yang
bertujuan untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapat
disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan
menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau perusakan
simplisia. Air yang masih tersisa dalam simplisia pada kadar tertentu dapat
merupakan media pertumbuhan kapang dan jasad renik lainnya. Enzim tertentu
dalam sel, masih dapat bekerja, menguraikan senyawa aktif sesaat setelah sel
mati dan selama bahan simplisia tersebut masih mengandung kadar air tertentu.
Pengeringan simplisia dapat dilakukan dengan pengeringan alamiah dan
pengeringan buatan. Pengeringan alamiah dapat dikelompokkan menjadi
pengeringan dengan sinar matahari langsung dan sinar matahari tidak langsung,
yaitu dengan menutup kain hitam diatas bahan yang akan dikeringkan.
Sedangkan pengeringan buatan dapat menggunakan lemari pengering atau oven
(Utomo et al., 2009)
Simplisia yang dibuat dengan cara pengeringan harus dilakukan dengan
cepat tetapi pada suhu yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan yang dilakukan
dengan waktu yang lama akan mengakibatkan simplisia yang diperoleh kurang
baik mutunya. Disamping itu pengeringan dengan suhu yang tinggi akan
mengakibatkan perubahan kimia pada kandungan senyawa aktifnya. Untuk
mencegah hal tersebut, untuk bahan simplisia yang merupakan perajangan perlu
diatur perajanngannya, sehingga diperoleh irisan yang pada saat pengeringan
tidak mengalami perubahan (Prasetyo dan Entang, 2013).
Pada umumnya pembuatan simplisia melalui tahapan sebagai berikut:
pengumpulan bahan baku, sortasi basah, pencucian, perajangan, pengeringan,
sortasi kering, pengepakan, penyimpanan dan pemeriksaan mutu. Untuk
menjamin mutu keseragaman senyawa aktif, keamanan maupun kegunaannya,
maka simplisia harus memenuhi persyaratan minimal, diantaranya adalah: bahan
baku simplisia, proses pembuatan simplisia termasuk cara penyimpanan bahan
baku simplisia, serta cara pengepakan dan penyimpanan simplisia (Rahayu et al.,
2009).

C. Alat dan Bahan


1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
a. Gunting,
b. pisau/cutter
c. Ayakan
d. Blender
e. Wadah
2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
a. Sampel/simplisia
b. Air

D. Prosedur Kerja

Sambiloto (Andrographis paniculata


- Dicuci Ness.)
bersih sampel yang telah diambil
- Dipotong kecil-kecil herba sambiloto
- Ditimbang berat basah bahan (herba sambiloto)
- Dikeringkan dengan cara alamiah yaitu dengan
dianginkan-anginkan
- Ditimbang berat kering bahan (herba sambiloto)
- Dihaluskan daun dan bungan dari sambiloto dengan
cara diblender dan diayak dengan menggunakan
ayakan nomor 4/18
- Disimpan simplisia sambiloto dalam wadah yang
sesuai dan diberi etiket
Hasil pengamatan
E. Hasil Pengamatan
1. Tabel Organoleptis Sambiloto
Bobot Bobot
Warna bau Rasa
basah kering
Hijau Tidak ada Pahit 740 gram

2. Tabel Gambar Preparasi Simplisia

No. Jenis preparasi Gambar


1. Peninjauan
sampel
2. Pengambilan
sampel

3. Pengukuran
panjang sampel
4. Pencucian
sampel

5. Perajangan
sampel

6. Pengeringan
F. Pembahasan
Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang
mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan
yang telah dikeringkan. Seperti yang telah dijelaskan diatas, simplisia yang
digunakan dalam percobaan pembuatan simplisia ini adalah herba sambiloto.
Dimana herba sambiloto ini merupakan tanaman liar yang dapat ditemukan
dimana saja.
Cara pembuatan simplisia ada beberapa tahapan yaitu dari pemanenan
tanaman/pengambilan, sortasi basah, perajangan, pengeringan, sortasi kering
pengepakan dan penyimpanan dan pemeriksaan mutu. Untuk cara pengambilan
sendiri pada sambiloto adalah dengan mencabut tanaman sambiloto sampai
keakarnya.
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan
asing lainnya dari bahan simplisia. Misalnya pada simplisia yang dibuat dari akar
suatu tanaman obat, bahan-bahan asing dari tanah, kerikil, rumput, batang, daun,
akar yang telah rusak serta kotoran lain harus dibuang. Tanah mengandung
bermacam-macam mikroba dalam jumlah yang tinggi. Oleh karena itu
pembersihan simplisia dari tanah yang terikut dapat mengurangi jumlah mikroba
awal. Pengambilan bahan simplisia sambiloto dilakukan ditempat yang berbeda-
beda, yaitu di daerah Konda, Kolaka, dan Anduonoho. Untuk sambiloto itu
sendiri karena merupakan tanaman liar dan mudah diambil maka tidak perlu
menggunakan alat untuk membantu mencabut sambiloto hingga ke akar. Waktu
pengambilan pun juga tidak sama dimana di daerah Konda pengambilan sampel
dilakukan pada hari jumat jam 5 sore, di Kolaka pengambilannya dilakukan
pada hari sabtu jam 7 pagi, dan di Anduonohu pengambilan dilakukan pada hari
selasa jam 4 sore.
Pencucian bahan dilakukan untuk menghilangkan tanah dan kotoran lain
yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih.
Pencucian bahan sebaiknya dilakukan dalam waktu sesingkat mungkin. Menurut
Frazier, pencucian sayur-sayuran satu kali dapat menghilangkan 25% dari jumlah
mikroba awal, jika dilakukan pencucian sebanyak 3 kali jumlah mikroba yang
tertinggal hanya 42% dari jumlah mikroba awal. Pencucian tidak dapat
membersihkan simplisia dari semua mikroba karena air pencucian yang
digunakan biasanya mengandung juga jumlah mikroba. Cara sortasi dan
pencucian sangat mempengaruhi jenis dan jumlah mikroba awal simplisia.
Misalnya jika air yang digunakan untuk pencucian kotor, maka jumlah mikroba
pada permukaan bahan simplisia dapat bertambah dan air yang terdapat pada
permukaan bahan tersebut dapat mempercepat pertumbuhan mikroba.
Perajangan, pada bahan simplisia ada yang memerlukan proses
perajangan, dimana perajangan itu sendiri untuk mempermudah proses
pengeringan, pengepakan dan penggilingan. Perajangan dapat dilakukan dengan
pisau, dengan alat mesin perajang sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan
dengan ukuran yang dikehendaki. Semakin tipis bahan yang dikeringkan,
semakin cepat penguapan air, sehingga mempercepat wakti pengeringan. Akan
tetapi irisan yang terlalu tipis akan menyebabkan berkurangnya atau hilangnya
zat yang berkhasiat yang mudah menguap, sehingga mempengaruhi komposisi,
bau, dan rasa yang diinginkan.
Pengeringan merupakan salah satu proses dalam pembuatan simplisia
dimana pengeringan bertujuan untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah
rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan
mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik akan mencegah
penurunan mutu atau perusakan simplisia. Air yang masih tersisa dalam simplisia
dapat merupakan media pertumbuhan kapang dan jasad renik lainnya. Enzim
tertentu dalam sel masih dapat bekerja menguraikan senyawa aktif sesaat setelah
sel mati dan selama bahan simplisia tersebut masih mengandung kadar air
tertentu. Dari hasil penelitian diketahui bahwa reaksi enzimatik tidak
berlangsung ketika kadar air dalam simplisia kurang dari 10%. Dengan demikian
proses pengeringan sudah dapat menghentikan proses enzimatik dalam sel bila
kadar airnya dapat mencapai kurang dari 10%. Pengeringan simplisia dilakukan
dengan sinar matahari atau menggunakan suatu alat pengering seperti oven. Hal-
hal yang perlu diperhatikan selama proses pengeringan adalah suhu pengeringan,
kelembapan udara, aliran udara, waktu pengeringan dan luas permukaan bahan.
Hal-hal tersebut harus diperhatikan, sehingga dapat diperoleh simplisia kering
yang tidak mudah mengalami kerusakan selama penyimpanan.
Sambiloto mengandung diterpene, laktone, dan flavanoid. Flavanoid
terutama ditemukan diakar tanaman, tetapi juga dapat ditemukan dibagian daun.
Bagian daun dan batang mengandung alkana, keton dan aldehid. Sambiloto
mengandung dua senyawa yang menimbulkan rasa pahit yakni andrographolide
dan senyawa kalmeghin. Khasiat dari sambiloto itu sendiri adalah sebagai
antipiretika, mencegah kanker,menurunkan tekanan darah,efektif untuk penyakit
tifus, mengobati malaria, meningkatkan daya tahan tubuh, kencing manis (DM),
mengatasi diare, infeksi saluran empedu.
G. Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan ini adalah cara pembuatan bahan simplisia
yang baik dapat dilakukan dengan cara pemanenan (pengumpulan bahan baku)
bahan simplisia, sortasi basah, pencucian, perajangan, pengeringan, sortasi kering
dan penyimpanan.
DAFTAR PUSTAKA

Prasetyo, dan Endang, I. S. (2013). Pengelolaan Budidaya Tanaman Obat-Obatan


(Bahan Simplisia). Badan Penerbitan Fakultas Pertanian UNIB. Bengkulu.
Rahayu, W. S., Dwi, H., Nasrun, H. (2009). Pengaruh Metode Pengeringan Terhadap
Kadar Antosianin Pada Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.).
Pharmacy, 6(2).
Ratnani, R. D., Hartati, I., & Kurniasari, L. (2012). Potensi Produksi Andrographolide
Dari Sambiloto ( Andrographis paniculata Nees) Melalui Proses Ekstraksi
Hidrotopi. Momentum, 8(1), 610.
Utomo, A. D., Rahayu, W. S., & Dhiani, B. A. (2009). Pengaruh beberapa Metode
Pengeringan terhadap kadar Flavonoid Total Herba Sambiloto ( Andrographis
paniculata). Pharmacy, 6(1), 5869.
Widyawati, Tri. (2007). Aspek Farmakologi Sambiloto (Andrographis paniculatan
Nees). Majalah Kedokteran Nusantara, 40 (3).
LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA I
PERCOBAAN I
PEMBUATAN SIMPLISIA

OLEH:

NAMA : MEATY NAWANG WULAN A.


NIM : O1A114122
KELAS :C
KELOMPOK : V (LIMA)
ASISTEN : ASLIAH HARDIANTI AGUS

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA I


PERCOBAAN I
PEMBUATAN SIMPLISIA

OLEH:

NAMA : APRYENDRI TASIK PASORONG


NIM : O1A114121
KELAS :C
KELOMPOK : V (LIMA)
ASISTEN : ASLIAH HARDIANTI AGUS

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016