Anda di halaman 1dari 12

LEARNING OBJECTIVE 3

DHE
DHE adalah Dental Health Education.
A. Teknik penyikatan gigi
Sudah banyak teknik- teknik penyikatan gigi yang diperkenalkan dewasa ini, tetapi
metode penyikatan gigi yang dapat memenuhi persyaratan ideal hanya ada beberapa
saja:
1. Teknik penyikatan harus dapat membersihkan semua permukaan gigi, khususnya
daerah leher gingival dan regio interdental.
2. Gerakkan sikat gigi tidak boleh melukai jaringan lunak atau jaringan keras.
Metode penyikatan vertikal dan horizontal dapat menimbulkan resesi.
3. Teknik penyikatan harus sederhana dan mudah dipelajari. Teknik yang dianggap
mudah oleh individu tertentu mungkin saja dianggap sulit oleh individu lainnya;
oleh karena itu, setiap individu memerlikan pengarahan khusus.
4. Metode harus tersusun dengan baik setiap bagian gigi geligi dapat disikat
bergantian dan tidak ada daerah yang terlewatkan. Rongga mulut dapat dibagi
menjadi beberapa kelompok tergantung pada besar lengkung rahang dan besar
sikat gigi.

Teknik penyikatan gigi dapat diperlihatkan baik dengan menggunakan model


rahang atau langsung dalam pasien.

Macam-Macam Teknik Penyikatan Gigi :

1. Teknik Roll
Merupakan teknik yang relatif sederhana, yang sangat bermanfaat bila digunakan
pada gingiva yang sensitif. Bagian samping sikat gigi berkontak dengan bagian
samping gigi dengan bulu sikat mengarah ke apikal dan sejajar terhadap sumbu gigi;
bagian belakang sikat terletak setinggi permukaan oklusal gigi geligi. Sikat kemudian
diputar perlahan kebawah pada rahang atas dan keatas pada rahang bawah sehingga
bulu sikat menyapu gusi dan gigi. Sekitar 10 putaran dilakukan untuk tiap bagian dan
kemudian sikat digeser kebagian berikutnya. Bila lengkung pada segmen anterior
sempit, sikat dapat digerakkan vertikal. Bila semua permukaan bukal dan lingual
sudah dibersihkan, permukaan oklusal dapat disikat dengan gerak rotasi. (Carranza,
2002)
2. Teknik Bass
Arah bulu sikat pada saat pertama kali akan menyikat gigi adalah pada margin
gingival dengan ujung bulu sikat mengarah ke apikal kira-kira 45 derajat dengan
sumbu panjang gigi masuk ke sulkus gingiva. Dilakukan gerakan menggetarkan
dengan tidak mengubah bulu sikat, sebanyak 20 kali pada setiap 3 gigi. Merupakan
teknik yang dianjurkan untuk penggunaan rutin dengan atau tanpa penyakit
periodontal untuk membersihkan sulkus. (Carranza, 2002)
Teknik ini dapat menimbulkan rasa sakit bila jaringan terinflamasi dan sensitif. Bila
gingiva dalam keadaan sehat, teknis Bass merupakan metode penyikatan yang baik;
terbukti teknik ini merupakan metode yang paling efektif untuk membersihkan plak
(Manson,J.D, 1993).
3. Teknik modifikasi Stillman
Arah bulu sikat pada saat pertama kali akan menyikat gigi adalah pada margin
gingival dengan ujung bulu sikat horizontal. Dilakukan gerakan saat gigi-gigi
beroklusi gerakan sikat dalam gerakan memutar ke arah permukaan gigi rahang atas
dan rahang bawah serta margin gingiva, sebagian pada gigi sebagain pada gingival
dan tidak boleh masuk ke sulkus gingival. Merupakan teknik yang dianjurkan untuk
resesi gingiva melindungi terhadap abrasi jaringan. (Carranza, 2002)
4. Teknik Charters
Arah bulu sikat pada saat pertama kali akan menyikat gigi adalah setingkat dengan
permukaan oklusal gigi dengan ujung bulu sikat mengarah ke oklusal kira-kira 45
derajat dengan sumbu panjang gigi. Dilakukan gerakan dengan menggetarkan sikat
sambil menggerakkannya ke arah apikal terhadap margin gingiva. Merupakan teknik
yang dianjurkan untuk massage gingiva dan cara pembersihan sementara setelah
bedah periodontal. (Carranza, 2002)
5. Dengan sikat gigi elektrik
Pasien hanya perlu berkosentrasi pada penempatan bulu sukat pada gigi di margin
gingival dan sikat gigi akan melakukan proses secara sitematis. Penambahan tempat
biasanya juga dapat dilakukan pada daerah yang susah dijangkau seperti distal M3.
(Carranza, 2002)

Persyaratan Sikat Gigi yang Ideal

Ada beberapa persyaratan dasar sikat gigi ideal yang perlu ditaati:

1. Kepala sikat gigi harus cukup kecil untuk dapat dimanipulasi dengan efektif di
daerah manapun di dalam rongga mulut, tetapi tidak boleh terlalu kecil sehingga
harus digunakan dengan sangat hati hati untuk dapat menyikat seluruh
permukaan gigi-geligi. Panjang kepala sikat 2,5 cm sudah cukup untuk orang
dewasa, dan 1,5 cm untuk anak anak.
2. Bulu bulu sikat harus mempunyai panjang yang sama sehingga dapat berfungsi
bergantian. Sikat yang konveks atau konkaf dengan bulu yang mempunyai
panjang berbeda beda tidak dapat membersihkan permukaan yang datar tanpa
menimbulkan tekanan pada beberapa bulu sikat. Bulu sikat yang pendek tidak
dapat mencapai daerah interdental juga terlalu kaku dapat melukai jaringan.

3. Tekstur harus memungkinkan sikat digunakan dengan efektif tanpa merusak


jaringan lunak maupun jaringan keras. Kekakuan tergantung pada diameter dan
panjang filament dan elasitasnya. Juga tergantung pada apakah sikat digunakan
dalam keadaan kering atau basah pada temperatur air. Sikat yang lunak tidak
dapat membersihkan plak dengan efektif; kelakuan medium adalah yang biasa
dianjurkan. Sikat gigi biasanya mempunyai 1600 bulu, panjangnya 11 mm dan
diameternya 0,008 mm yang tersusun menjadi 40 rangkaian bulu dalam 3 atau 4
deretan.

4. Sikat harus mudah dibersihkan. Rangkaian bulu sikat yang tersusun terlalu rapat
cenderung menahan kotoran dan pasta gigi pada dasar bulu-bulu tersebut. Bulu
bulu nilon lebih terjaga kebersihannya daripada bulu-bulu natural.

5. Pegangan sikat gigi harus enak dipegang dan stabil. Pegangan sikat harus cukup
lebar dan cukup tebal agar dapat dipegang dengan kuat dan di control dengan
baik. (Manson,J.D, 1993)

B. Pembersihan Interdental
Daerah interdental adalah daerah retensi plak yang paling sering ditemukan
dan paling sulit dijangkau oleh sikat gigi, sehingga seringkali perlu digunakan metode
pembersihan khusus. Untuk ini dapat digunakan floss, plester, tusuk gigi, sikat
interdental dan semacam sikat botol dalam ukuran kecil. Sekali lagi perlu dinyatakan
di sini bahwa selama tahap awal penyajian instruksi pembersihan gigi, teknik yang
diperkenalkan harus cukup mudah untuk dapat diterapkan oleh pasien. Bila tidak,
pasien akan segera bosan. Tujuan latihan penyikatan adalah membersihkan plak tanpa
merusak jaringan lunak, sehingga penggunaan tusuk gigi dan floss atau tusuk gigi,
yang sudah cukup membantu dalam upaya menghilangkan plak (Manson,1993).

C. Plak Kontrol Kimiawi


1. Chlorhexidine

Sampai saat ini chlorhexidine merupakan bahan kimiawi yang paling efektif
dalam menjaga kontrol plak. Pemakaian 10 ml larutan chlorhexidine 0.2% dua kali
sehari menghambat pembentukan dental plak, kalkulus dan gingivitis. Dari studi klinis
ditemukan bahwa chlorhexidine dapat mereduksi pembentukan plak sebanyak 45%-
61% dan mereduksi gingivitis sebanyak 27%-67%. Namun chlorhexidine memiliki
efek samping berupa pembentukan stain pada gigi, lidah dan restorasi resin ataupun
silikat. Efek samping sistemik chlorhexidine sangat sedikit. Chlorhexidine tidak
mengakibatkan resistensi bakteri ataupun mempunyai efek teratogenik. (Carranza,
2002)

2. Essential oil mouthrinses


Obat kumur dengan essential oil ini memiliki kandungan thymol, euchalyptol,
menthol dan methyl salicylate. Tidak menutup kemungkinan dalam obat kumur
essential oil ini mengandung alkohol. Dalam kemampuannya menurunkan plak,
mereka mampu mereduksi hingga 20%-35%, sedangkan untuk gingivitis dapat
direduksi sebanyak 25%-35%. (Carranza, 2002)

D. Penggunaan Tusuk Gigi (Stimulator Interdental)

Tusuk gigi harus digunakan dengan sudut yang tepat sesuai dengan kontur
yang normal dari papilla interdental. Tusuk gigi harus digerakkan ke dalam dan keluar
dengan menggosokkan permukaan interproksimal dari gigi setiap kali dilakukan 8-12
gerakan. Dengan cara ini, gusi mendapat tekanan dan pemijatan ringan, dan sisi
interproksimal gigi menjadi bersih. Sering kali tusuk gigi digunakan secara horzontal
sehingga mengakibatkan atrofi papilla dan membesarkan ruangan interdental sehingga
makanan lebih mudah lagi tertimbun di tempat yang lain.

Kesalahan-kesalahan lain yang umum dilakukan oleh pasien dalam


menggunakan stimulator adalah:

- Pasien menempatkan simulator interdental tegak lurus pada sumbu panjang gigi.
- Pasien hanya menggunakan ujung dari stimulator interdental untuk menghilangkan
sisa-sisa makanan di ruang interdental, tanpa memijat gusi.
- Kadang-kadang pasien mencoba untuk menekan atau memaksa memasukkan
interdental stimulator kedalam ruangan yang tidak ada. (Megananda, 2010)
Gambar. Tusuk gigi yang dipegang dengan pemegang khusus.

E. Alat Irigasi
Alat irigasi dapat digunakan sebagai tambahan sikat gigi, terutama bila pasien
memakai restorasi jembatan cekat: meskipun demikian, perlu dijelaskan kepada
pasien bahwa irigasi dapat membersihkan sisa makanan tetapi tetap tidak dapat
membersihkan. Selama fase pasca operasi setelah operasi periodontal, irigasi dengan
larutan saline encer yang hangat atau bahkan panas dapat mengurangi rasa sakit.
Namun jarang sekali penambahan antiseptic misalnya klorhexidin kedalam cairan
irigasi dapat memberikan manfaat tambahan karena larutan sudah terlalu encer untuk
dapat mempengaruhi flora rongga mulut. Sebaliknya, bila rasa enak, tentunya ini
sangat membantu memotivasi pasien untuk sering menggunakan alat ini dan karena
itu proses pembersihan gigi menjadi tugas yang lebih menarik dan tidak
membosankan. Penggunaan alat ini dengan kekuatan penuh tentunya berbahaya.
Aliran cairan yang kuat dapat mendorong bakteri di dalm poket untuk masuk ke
jaringan dan menimbulkan abses periodontal.

LEARNING OBJECTIVE 4
Dasar Pemikiran Scaling dan Root Planning
a. Scaling
Indikasi
1. Menghilangkan penyakit periodontal
2. Menghilangkan kalkulus supra dan subgingiva
Kontraindikasi
1. Communicable disease
Pasien dengan communicable disease yang dapat menular melalui
aerosol seperti tubercolosis.
Kerentanan terhadap infeksi. Mengenali pasien dengan kerentanan
terhadap infeksi. Contohnya: immunosupresif dari penyakit atau
kemoterapi, diabetes tidak terkontrol, penuaan, atau penyakit ginjal
serta transplantasi organ.

2. Resiko pernafasan
Pasien dengan resiko pernafasan. Bahan septic dan mikroorganisme dari
biofilm dan poket periodontal dapat masuk ke paru-paru. Riwayat
penyakit pulmonal kronis, termasuk asma, emphysema, atau cystic
fibrosis. Riwayat penyakit kardiovaskuler dengan penyakit pulmonal
sekunder atau gannguan pernafasan.
Kesulitan mengunyah. Pasien dengan gangguan pengunyahan atau
mulutnya mudah tersumbat. Contohnya : amyotropic, lateral sclerosis,
paralysis, multiple sclerosis.

3. Kondisi oral :
Daerah terdemineralisasi: getaran ultrasonic dapat menghilangkan
lapisan tipis yang mengalami remineralisasi dari daerah yang
terdemineralisasi.
Permukaan dentin yang terbuka: struktur gigi dapat terkikis dan
menyebabkan sensitivitas, smear layer dapat dihilangkan dan tubulus
dentin terbuka, sehingga dapat meningkatkan sensitivitas atau
memperparah sensitivitas.
Pada anak-anak :
Jaringan yang masih muda, sedang berkembang sangat sensitif terhadap
getaran ultrasonic. Gigi permanen yang baru tumbuh masih memiliki
ruang pulpa yang lebar. Getaran dan panas yang dihasilkan alat skeler
ultrasonic dapat merusak jaringan pulpa.
b. Rootplaning
Indikasi :
1. Nekrosis jaringan sementum
2. Kedalaman poket periodontal lebih dari 4 mm
Kontraindikasi
1. Pasien yang mengalami penyakit atau kondisi keradangan dan adanya abses
2. Kalkulus yang meluas hingga ke apikal dan mucogingival juunctional
Untuk menghilangkan dental plak dan kalkulus perlu dilakukan scaling atau
root planing, yang merupakan terapi periodontal konvensional atau non-surgikal.
Terapi ini selain mencegah inflamasi juga membantu periodontium bebas dari
penyakit. Prosedur scaling menghilangkan plak, kalkulus, dan noda dari permukaan
gigi maupun akarnya. Prosedur lain adalah root planing, terapi khusus yang
menghilangkan cementum dan permukaan dentin yang ditumbuhi kalkulus,
mikroorganisme, serta racun-racunnya. Scaling dan root planing digolongkan sebagai
deep cleaning, dan dilakukan dengan peralatan khusus seperti alat ultrasonik, seperti
periodontal scaler dan kuret.

LEARNING OBJECTIVE 5
Respon Jaringan Pada Pasien Setelah Dilakukan Scaling Dan Root planing

Penyembuhan Pasca Terapi Periodontal


Proses penyembuhan yang umum berupa penyingkiran debris jaringan yang mengalami
degenerasi serta penggantian jaringan yang telah dirusak penyakit adalah sama pada semua
bentuk terapi periodontal. Ada tiga aspek penyembuhan periodontal yang perlu diperhatikan
karena berkaitan dengan hasil perawatan yang dicapai, yaitu regenerasi (regeneration),
perbaikan (repair), dan perlekatan baru (new attachment). (Carranza, 2002)

A. Regenerasi
Regenerasi adalah pertumbuhan dan diferensiasi sel-sel dan substansi seluler
baru membentuk jaringan atau bagian yang baru. Regenerasi berasal dari tipe jaringan
yang sama dengan jaringan yang rusak, atau dari prekursornya. Pengganti epitel
gingiva yang rusak adalah berasal dari epitel, sedangkan jaringan ikat dan ligamen
periodontal penggantinya adalah berasal dari jaringan ikat. Sebaliknya tulang dan
sementumbaru bukan berasal dari tulang dan sementumyang telah ada, tetapi dari dari
jaringan ikat yang merupakan prekursor keduanya. Jaringan ikat yang tidak
berdiferensiasi berkembang menjadi osteoblas dan sementoblas yang nantinya akan
membentuk tulang alveolar dan sementum baru. Pada periodonsium regenerasi
merupakan suatu proses fisiologis yang kontiniu. Dalam keadaan yang normal, sel
dan jaringan baru senantiasa dibentuk untuk menggantikan sel dan jaringan yang
matang dan mati. Proses tersebut tercermin dari adanya: (1) aktivitas mitotik pada
epitel gingiva dan jaringan ikat ligamen periodontal, (2) pembentukan tulang baru,
dan (3) deposisi sementum yang terus menerus. (Carranza, 2002)
Sebenarnya regenerasi juga berlangsung selama berkembangnya penyakit
periodontal yang destruktif. Kebanyakan penyakit gingiva dan periodontal adalah
berupa penyakit inflamatori kronis, yang berarti adalah suatu proses penyembuhan.
Berhubung karena regenerasi merupakan bagian dari penyembuhan, maka pada waktu
berkembangnya penyakit gingiva den periodontal yang berupa inflamasi sebenarnya
berlangsung juga regenerasi. Akan tetapi karena bakteribeserta produk bakteri yang
berperan dalam proses penyakit, dan eksudat inflamasi yang dihasilkan bersifat
mencederai sel-sel dan jaringan yang sedang regenerasi, maka penyembuhan pada
saat masih berlangsungnya penyakit tidak berakhir dengan sempurna. (Carranza,
2002).
Terapi periodontal akan menyingkirkan plak bakteri danmenciptakan kondisi
yang dapat menghalangi pembentukan dan penumpukan kembali plak. Dengan
tersingkirnaya faktor-faktor yang menghalangi regenerasi tersebut, kapasitas
regeneratif jaringan akan maksimal dan memungkinkan terjadinya terjadinya
regenerasi. (Carramza, 2002)

B. Perbaikan
Proses perbaikan hanya mengembalikan kontinuitas permukaan gingiva dan
mengembalikan sulkus gingiva yang normal dengan level dasarnya pada permukaan
akar sama dengan level dasar saku periodontal sebelum perawatan Gambar 2. Dua
kemungkinan penyingkiran saku periodontal. A. Saku periodontal pra perawatan; B.
Sulkus normal terbentuk kembali pada level yang setentang dengan dasar saku pra
perawatan; C. Periodonsium diperbaiki pada permukaan akar yang tadinya tersingkap;
keadaan yang demikian dinamakan perlekatan baru. (Carranza, 2002)
Gambar 2
Proses tersebut akan menghentikan perusakan tulang alveolar tanpa
meninggikan tinggi tulang. Perbaikan periodonsium yang rusak mencakup mobilisasi
sel-sel epitel dan jaringan ikat ke daerah yang rusak dan peningkatan pembelahan
mitotik lokal guna penyediaan sel-sel dalam jumlah yang mencukupi. (Carranza,
2002)

C. Perlekatan baru
Perlekatan baru adalah tertanamnya serabut ligamen periodontal yang baru ke
sementum yang baru dan perlekatan epitel gingiva ke permukaan gigi yang tadinya
tersingkap karena penyakit (lihat Gambar 2). Kata kunci pada pengertian diatas adalah
permukaan gigi yang tadinya tersingkap karena penyakit (lihat Gambar 3).

Gambar 3. Perlekatan baru; Zona A. Permukaan enamel; ZonaB.Daerah sementum yang tersingkap karena
pembentukan saku periodontal; Zona C. Daerah sementum yang yang dibalut oleh epitel penyatu; Zona D.
Daerah semen-tumapikal dari epitel penyatu. Pada perlekatan baru, epitel penyatu yang baru dan serabut
jaringan yang melekat terbentuk pada zona B.
Apabila gingiva atau ligamen periodontal melekat kembali kepermukaan
gigipada posisi semula sebelum tersingkirkan pada waktu penskeleran dan penyerutan
akar, atau pada waktu preparasi gigi pada daerah subgingiva untuk pembuatan suatu
restorasi, proses tersebut bukanlah perlekatan baru melainkan hanya berupa
perlekatan kembali (reatttachment). Istilah perlekatan kembali pernah digunakan
untuk menamakan perbaikan kembali periodonsium. Namun karena pada
kenyataannya yangmelekat kembali bukanlah serabut yang ada tetapi serabut yang
baru dibentuk dan melekatnya ke sementum yang baru, maka istilah yang paling tepat
adalah perlekatan baru (new attachment). Sekarang ini istilah perlekatan kembali
hanya digunakan untukmenyatakan perbaikan daerah pada akar gigiyang bukan
tersingkap karena pembentukan saku periodontal, misalnya karena insisi pada
prosedur bedah, karena fraktur akar, atau pada perawatan lesi periapikal. (Carranza,
2002)

Gambar 4. Penyembuhan berupa adaptasi epitel. A. Saku periodontal; B. Pasca perawatan.

Dinding saku beradaptasi rapat ke permukaan gigi, tetapi tidak melekat ke


permukaan gigi. Bentuk penyembuhan lain yang berbeda dengan perlekatan baru
adalah adaptasi epitel (epithelial adaptation). Pada adaptasi epitel, epitel gingival
beradaptasi rapat dengan permukaan gigi sedangkan saku periodontal tetap ada.
Namun karena epitel gingiva beradaptasi rapat, prob tidak dapat diselipkan sampai ke
dasar saku (lihat Gambar 4). Sulkus yang dalamini yang didindingi oleh epitel yang
tipis dan panjang, dan oleh sebab itu bentuk penyembuhan ini dinamakan juga epitel
penyatu yang panjang (long junctional epithelium). Adaptasi epitel bisa sama daya
tahannya terhadap penyakit seperti perlekatan jaringan ikat yang sebenarnya. Apabila
adaptasi epitel tidak disertai oleh pendarahan pada probing, tanda-tanda klinis
inflamasi, dan penumpukan plak pada permukaan gigi, berarti sulkus yang dalam ini
berada dalam keadaan inaktif, tanpa disertai kehilangan perlekatan selanjutnya. Pada
kasus yang demikian sulkus dengan kedalaman 4,0 - 5,0 mm pasca perawatan adalah
masih akseptabel. (Carranza, 2002)
Sejak lama perlekatan baru dan regenerasi tulang merupakan sasaran dari
terapi periodontal. Penelitian laboratorium dan klinis yang dilakukan secara intensif
sejak tahun 1970-an telah mengembangkan beberapa konsep dan tehnik perawatan
yangmenghasilkan hasil perawatan yangmendekati sasaran yang ideal tersebut.
(Carranza, 2002)
Regenerasi ligamen periodontal merupakan kunci dari tercapainya perlekat-an
baru. Dengan regenerasinya ligamen periodontal akan dimungkinkan konti-nuitas
antara tulang alaveolar dengan sementum. Disamping itu, pada ligament periodontal
terkandung sel-sel yang dapat mensintesa dan membentuk kembali gingiva, ligamen
periodontal, dan tulang alveolar. (Carranza, 2002)
Pada masa penyembuhan pasca terapi periodontal guna menyingkirkan saku
periodontal, daerah luka dinvasi oleh sel-sel yang berasal dari empat sumber yang
berbeda: (1) epitel oral, (2) jaringan ikat gingiva, (3) tulang alveolar, dan (4) ligamen
periodontal (lihat Gambar 5). (Carranza, 2002)
Hasil penyembuhan saku periodontal yang dicapai sangat tergantung pada
sekuens proliferasi sel-sel yang terlibat pada stadiumpenyembuhan.Apabila epitel
berproliferasi lebih dahulu sepanjang permukaan akar gigi sebelum jaringan
periodonsiumlainnya mencapai daerah tersebut, maka bentuk penyembuhan yang
dicapai adalah berupa epitel penyatu yang panjang. Bila sel-sel dari jaringan ikat
gingiva yang terlebih dahulu mempopulasi daerah tersebut, hasilnya adalah serabut-
serabut yang sejajar dengan permukaan akar gigi dan remodeling tulang alveolar,
tanpa perlekatan serabut ke sementum. Apabila sel-sel tulang yang lebih
dulumencapai daerah tersebut, bisa terjadi resorpsi akar dan ankilosis. Sebaliknya bila
sel-sel dari ligamen periodontal proliferasi lebih dulu ke daerah tersebut, baru akan
terjadi pembentukan sementum dan ligamen periodontal baru. (Carranza, 2002)
Gambar 5. Sumber sel yang regenerasi pada stadium penyembuhan saku periodontal. Kiri: Saku
infraboni;Kanan: Pasca perawatan, dimana klot darah(blood clot) diinvasi oleh sel-sel yang berasal dari
gingiva (A), jaringan ikat gin-giva (B), sumsum tulang (C) dan ligamen periodontal (D).

Pemahaman terhadap sekuens proliferasi sel-sel tersebut telah diaplikasikan untuk


kebutuhan klinis dengan dikembangkannya tehnik perawatan yang dinamakan regenerasi
jaringan terarah (guided tissue regeneration), yang lebih menjamin tercapainya perlekatan
baru (Carranza,2002).
Dapus:

1. Carranza, Fermin A et all. 2006. Carranzas Clinical Periodontology. Tenth Edition.


St Louis: Elsevier .
2. Manson,J.D., Eley,B.M. 1993. Buku Ajar Periodonti. Jakarta: Hipokrates.
3. Megananda.Putri. 2010. Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras Dan Jaringan
Pendukung Gigi. Jakarta: EGC.