Anda di halaman 1dari 4

Nama : Aditha Fitrina Andiani

NIM : 122011101049
RESUME JURNAL
Judul Jurnal Characteristics of Traumatic Cataract Wound Dehiscence
Carolyn E. Klek, Michael T. Andreoli, Christopher M. Andreoli
The Massachusetts Eye and Ear Infirmary (C.E.K., M.T.A., C.M.A.), Harvard
Medical School (C.E.K., M.T.A., C.M.A.),, Boston University School and
Medicine (M.T.A), and Harvard Vanguard Medical Associates (C.M.A.),
Boston, Massachusetts.
American Journal of Ophthalmology, Volume 2011, Article ID 10.1016
Pendahuluan Dengan semakin berkembangnya teknologi fakoemulsifikasi, ekstraksi katarak
ekstrakapsular (ECCE). Banyak orang tua yang mengalami pseudofakia karena
menjalani ECCE. Hal ini terjadi sebelum penggunaan fakoemulsifikasi secara
luas. Operasi alternatif selain ECCE dengan insisi yang besar adalah
SICS(cepat, dan efisien dalam segi ekonomi). Fakoemulsifikasi memberikan
lebih banyak keuntungan dibanding ECCE, termasuk peningkatan kekuatan
bekas luka operasi, selain itu kemungkinan ruptur luka bekas operasi lebih
rendah dan luka bekas operasi menjadi lebih cepat sembuh. Luka bekas operasi
katarak sangat rentan untuk ruptur, terutama akibat trauma tumpul. Penelitian
sebelumnya telah mendeskripsikan bahwa ruptur pada bekas operasi katarak,
mayoritas terjadi pada bekas insisi ECCE. Pasien yang ada pada penelitian ini
telah mengalami perbaikan tajam penglihatan setelah mendapat terapi pada
ruptur bekas luka operasi.
Tujuan Tujuan penelitian ini untuk menentukan sifat kondisi klinis ruptur luka bekas
operasi katarak akibat trauma di pusat rujukan trauma oftalmia.
Metodologi Pada penelitian ini menggunakan metode retrospektif dengan sampel 846
pasien dengan 848 kasus trauma mata terbuka (open globe injury) di
Massachusetts Eye and Ear Infirmary (1 Januari 2000-30 April 2009). Pasien
telah mendapat terapi trauma okuli, baik itu kasus trauma mata terbuka
terisolasi atau trauma mata terbuka dengan trauma multipel. Data demografik
dan klinis dianalisis (usia, jenis kelamin, informasi tentang waktu dan lokasi
trauma, mekanisme trauma, pemeriksaan awal, terapi spesifik trauma mata
terbuka, pemeriksaan follow up, prosedur operasi dan hasil terapi). Jika data
spesifik tidak dapat diperoleh, pasien harus dieksklusi dari penelitian ini.
Pasien dievaluasi dan mendapat terapi untuk Open Globe Injury kemudian
dilakukan anamnesis dan pemeriksaan mata lengkap. Sistem skoring (nilai 100
adalah trauma yang paling sedikit) membantu untuk menentukan derajat
keparahan trauma dan memperkirakan tajam penglihatan pasca operasi .
Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan unpaired t test untuk
membandingkan rata-rata antar kelompok, tes Mann-Whitney untuk data
nonparametrik atau 2-tailed Fisher exact test untuk membandingkan data
kategori. Nilai p<0.005 menunjukkan hasil statistik yang signifikan.
Hasil Terdapat 848 kasus Open Globe Injury dievaluasi dan ditatalaksana di
MEEI mulai tahun 2000-2009. Sebanyak 63 kasus (7.4%) menunjukkan ruptur
traumatik dari bekas luka operasi katarak, yang mayoritas pasca ECCE (56/63
atau 89%), sedangkan 7 pasien lainnya (11%) akibat menjalani
fakoemulsifikasi. Dari 25 pasien, rata-rata waktu antara operasi katarak hingga
terjadi ruptur luka bekas operasi adalah 102 bulan (rentang antara 2 minggu-24
tahun). Waktu mulai dari operasi hingga ruptur lebih panjang pada kelompok
ECCE dibanding kelompok fakoemulsifikasi (p=0.0145); waktu rata-rata antara
operasi ECCE hingga trauma adalah 127 bulan (rentang antara 2 minggu-24
tahun) sedangkan fakoemulsifikasi hingga ruptur adalah 3.7 bulan (rentang
antara 2 minggu-1 tahun).
Pasien yang menderita ruptur traumatik luka bekas operasi katarak adalah
> 65 tahun, usia rata-rata adalah 78,2 tahun (rentang antara 29-95 tahun).
Sepertiga pasien geriatri (54/166, atau 33%) terjadi ruptur. Hanya 6 pasien
(6/63 atau 10%) 65 tahun yang mengalami ruptur. Dua pertiga pasien adalah
perempuan (42/63 atau 67%) yang secara signifikan memiliki proporsi yang
lebih besar dibanding kelompok dengan trauma jenis lain (140/785 atau 18%;
p<0.0001). Jatuh merupakan mekanisme yang paling sering terjadi pada pasien
yang mengalami ruptur luka katarak (39/63 atau 65%), trauma tumpul (14/63
atau 23%), kecelakaan sepeda motor (4/63 atau 7%), perkelahian (1/63 atau
2%) dan lain-lain (5/63 atau 3%). Rata-rata skor trauma okuli lebih berat pada
pasien dengan ruptur luka (48) dibanding pada pasien tanpa ruptur luka operasi
(69; P<0.0001).
Tajam penglihatan sebelum operasi lebih buruk pada kelompok ruptur luka
katarak. Rata-rata tajam penglihatan sebelum operasi pada kelompok ruptur
luka adalah persepsi cahaya, yang secara signifikan lebih buruk dari pada
pasien tanpa ruptur luka (gerakan tangan; p=0.0005). Selain itu, 17 pasien
dengan ruptur luka (17/63 atau 27%) menunjukkan adanya defek pupil aferen.
Tajam penglihatan pasca operasi lebih buruk pada kelompok ruptur
traumatik luka bekas operasi katarak,rata-rata tajam penglihatan terbaik adalah
gerakan tangan. Lebih dari setengah pasien dengan ruptur traumatik luka bekas
operasi katarak (35/63 atau 56%) timbul hifema pasca operasi. Selain itu,
diikuti dengan diagnosis patologis segmen posterior.
Terdapat 7 kasus dengan ruptur luka bekas operasi fakoemulsifikasi pada
penelitian ini. Rata-rata usia pasien ini adalah 71 tahun (rentang antara 42-90).
Diantaranya 4 laki-laki dan 3 perempuan. Mekanisme trauma yang paling
sering adalah jatuh (4), kemudian trauma tumpul (2) dan perkelahian (1). Rata-
rata skor trauma okuli adalah 64. Trauma ini menyebabkan ruptur mata, tanpa
trauma tembus. Tidak terdapat benda asing intraokuli. Semua pasien pada
kelompok ini memiliki ketajaman visus 20/200 atau lebih baik pasca operasi.
Rata-rata ketajaman penglihatan terbaik adalah 20/60. Selama follow up, 3
pasien mengalami perdarahan vitreus, 1 pasien memiliki hifema postoperasi
dan 1 pasien mengalami glaukoma traumatik.
Pembahasan Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa ruptur pasca operasi katarak
merupakan 1/3 dari Open Globe Injury orang tua. Meski terjadi penurunan
frekuensi ekstraksi katarak dengan ECCE, ruptur luka ECCE merupakan kasus
terbanyak pada Open Globe Injury dibanding dengan luka fakoemulsifikasi.
Pasien dengan ekstraksi katarak SICS diperkirakan memiliki risiko ruptur luka
yang lebih rendah dibanding ECCE Penelitian selanjutnya diperlukan untuk
mendeskripsikan secara akurat respon populasi ini terhadap trauma tumpul.
Mekanisme yang paling sering menyebabkan ruptur adalah jatuh.
Beberapa pendekatan multifaktorial untuk mencegah jatuh pada geriatri
menunjukkan derajat keberhasilan yang bervariasi. Dengan mengetahui faktor
risiko okular, seperti jatuh, ahli oftalmologi dapat berpartisipasi dalam
pendekatan mutlidisiplin untuk mencegah jatuh pada orang tua.
Ruptur luka ECCE berhubungan dengan keadaan patologi pada retina,
yang menyebabkan buruknya tajam penglihatan sebelum dan sesudah operasi.
Kelompok pasien yang menunjukkan ruptur luka bekas fakoemulsifikasi, tidak
ada trauma yang menyebabkan kerusakan pada retina. Sedangkan usia,
mekanisme trauma, dan skor trauma okuli pada pasien fakoemulsifikasi sama
dengan kelompok ECCE, namun memiliki prognosis tajam penglihatan yang
lebih baik (paling baik pasca operasi:20/60). Akibatnya pasien ini hanya
mendapat follow up beberapa minggu saja.
Berdasarkan hasil penelitian ini, diperkirakan ahli oftalmologi memiliki
ambang yang rendah untuk melakukan eksplorasi mata untuk mengeksklusi
kemungkinan ruptur bekas operasi katarak pada orang tua dengan pseudofakia,
terutama pada perdarahan subkonjungtiva dan dengan gangguan penampakan
fundus. Selain itu, ternyata pasien dapat mengalami ruptur meski telah lebih
dari 20 tahun pasca operasi katarak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat
batas waktu kelemahan luka bekas operasi.
Penelitian sebelumnya menunjukkan keamanan operasi katarak meski
pada orang yang sangat tua. Penelitian ini menunjukkan prognosis buruk pada
ruptur bekas operasi katarak ECCE. Potensi terjadinya ruptur pasca operasi
pada orang tua harus dipertimbangkan dalam memilih metode ekstraksi
katarak, baik itu ECCE atau fakoemulsifikasi.
Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan meskipun kini terjadi perkembangan dalam
bedah katarak, ruptur bekas operasi masih menjadi penyebab gangguan tajam
penglihatan, terutama pada pasien geriatri. Ruptur bekas operasi ECCE
memiliki prognosis tajam penglihatan yang buruk. Untungnya pasien dengan
ruptur bekas operasi fakoemulsifikasi menunjukkan adanya perbaikan tajam
penglihatan yang pesat, bahkan bisa sampai seperti semula/ seperti sebelum
mengalami ruptur.