Anda di halaman 1dari 24

Efisiensi Turbin Angin Vertical Axis

http://imperishable173.blogspot.co.id/2016/01/efisiensi-turbin-angin-vertical-
axis.html

oleh: Efraim Yuli Prasetya di 04.29 (2016)


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Energi listrik merupakan energi yang digunakan untuk kepentingan sehari-hari. Terutama
alat alat eletronik. Energi listrik merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui
(energi listrik PLN). Energi listrik sekarang ini sudah semakin menipis, untuk itu harus
menggunakan energi listrik tersebut secara hemat dan efisien. Di dunia, terutama di Indonesia
pemerintah telah menyarankan agar masyarakat dapat menghemat listrik. Misalnya saja pada
siang hari tidak perlu menyalakan lampu, mengganti lampu pijar dengan lampu hemat energi,
mengurangi pemakaian listrik dari pukul 17:00 hingga 22:00.
Sebagaimana yang telah diketahui kekurangan (atau peningkatan harga) dalam persediaan
sumber daya energi ke ekonomi. Krisis ini biasanya menunjuk kekurangan minyak bumi, listrik,
atau sumber daya alam lainnya. Krisis ini memiliki akibat pada ekonomi, dengan banyak resesi
disebabkan oleh krisis energi dalam beberapa bentuk. Terutama, kenaikan biaya produksi listrik,
yang menyebabkan naiknya biaya produksi. Bagi para konsumen, harga BBM untuk mobil dan
kendaraan lainnya meningkat, menyebabkan pengurangan keyakinan dan pengeluaran
konsumen.
Kebutuhan energi di Indonesia khususnya dan di dunia pada umumnya terus meningkat
karena pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi dan pola konsumsi energi itu sendiri yang
senantiasa meningkat. Sedangkan energi fosil yang selama ini merupakan sumber energi utama
ketersediaannya sangat terbatas dan terus menipis. Proses alam memerlukan waktu yang sangat
lama untuk dapat kembali menyediakan energi fosil ini.
Menurut Blueprint Pengelolaan Energi Nasional yang dikeluarkan oleh Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) pada tahun 2005, cadangan minyak bumi di
Indonesia pada tahun 2004 diperkirakan akan habis dalam kurun waktu 18 tahun dengan rasio
cadangan/produksi pada tahun tersebut. Sedangkan gas diperkirakan akan habis dalam kurun
waktu 61 tahun dan batubara 147 tahun, seperti yang diperlihatkan tabel 1.1 di bawah ini.
Tabel 1.1 Cadangan Energi Fosil

Banyak sumber daya alam terbarukan yang ada di Indonesia yang belum
dimanfaatkan secara optimal seperti energi angin, energi air, energi surya dan lainnya.
Pemanfaatan energi terbarukan dapat mencegah terjadinya kenaikan jumlah karbon dioksida
atau CO2 pada lapisan atmosfer yang menyebabkan pemanasan global. Pada sebuah surat kabar
The Atjeh Post pada Rabu 1 Juni 2011, International Energy Agency (IEA)
mengungkapkan bahwa kenaikan emisi karbondioksida CO2 pada tahun 2010 sebesar 1.6 gigaton
(Gt), saat diakumulasikan kenaikan karbondioksida di tahun 2010 menjadi 30.6 Gt, Nicholas
Stern dari London School of Economics bahkan mengklaim, jika hal ini terus berlangsung
pada 2100, suhu Bumi akan naik 4 derajat Celcius.
Upaya-upaya pencarian sumber energi alternatif selain fosil menyemangati para peneliti
di berbagai negara untuk mencari energi lain yang dikenal dengan istilah energi terbarukan.
Energi terbarukan dapat didefinisikan sebagai energi yang secara cepat dapat diproduksi kembali
melalui proses alam. Beberapa kelebihan energi terbarukan antara lain: sumbernya relatif mudah
didapat, dapat diperoleh dengan gratis, minim limbah, tidak mempengaruhi suhu bumi secara
global, dan tidak terpengaruh oleh kenaikkan harga bahan bakar (Jarass, 1980).
Penggunaan tenaga angin hanya 1% dari total produksi listrik dunia (2005). Jerman
merupakan produsen terbesar tenaga angin dengan 32% dari total kapasitas dunia pada 2005;
targetnya pada 2010, energi terbarui akan memenuhi 12,5% kebutuhan listrik Jerman. Jerman
memiliki 16.000 turbin angin, kebanyakan terletak di utara negara tersebut - termasuk tiga
terbesar dunia, dibuat oleh perusahaan Enercon (4,5 MW), Multibrid (5 MW) dan Repower (5
MW). Provinsi Schleswig-Holstein Jerman menghasilkan 25% listriknya dari turbin angin.
Tabel 1.2 Kapasitas Tenaga Angin Tiap Negara
Kapasitas tenaga angin yang terpasang
(akhir tahun)
Kapasitas (MW)
Urutan Negara 2005 2004
01 Jerman 18.428 16.629
02 Spanyol 10.027 8.263
03 AS 9.149 6.725
04 India 4.430 3.000
05 Denmark 3.128 3.124
06 Italia 1.717 1.265
07 Britania Raya 1.353 888
08 China 1.260 764
09 Belanda 1.219 1,078
10 Jepang 1.040 896
Total dunia 51.751 41.555
(sumber: wikipedia.com)

Angin di kawasan wilayah Indonesia mempunyai kecepatan dan arah yang selalu
berubah-ubah. Menurut Karwono (2008), pada turbin angin poros horisontal
pemanfaatannya harus diarahkan sesuai dengan arah angin yang paling tinggi
kecepatannya.
Ridho Hantoro, I.K.A.P. Utama, Erwandi, Aries Sulisetyono (2009) melakukan penelitian
ketidakstabilan gaya dan interaksi fluida-struktur pada turbin sumbu vertikal untuk pembangkit
energi arus laut, dengan hasil Simulasi dilakukan dengan menggunakan foil jenis NACA 0018
tanpa puntiran (twist) mengindikasikan adanya fluktuasi gaya yang harmonik selama turbin
berotasi penuh 360 derajat, terdapat fenomena munculnya dua pola fluktuasi dari resultan gaya
yang dihasilkan. perbandingan nilai koefisien gaya seret (Cd) dan Koefisien gaya angkat (Cl)
dilakukan pada sudut serang 0-90 derajat dan memberikan nilai kesalahan maksimum 6% untuk
Cl dan 7% untuk Cd. Dinamika perubahan gaya disimulasikan dalam interval 5 derajat dan
menggunakan variasi kecepatan upstream dengan nilai 1 m/s, 2 m/s, dan 3 m/s.
Penelitian Moch. Arif Afifuddin (2010), mengenai performansi turbin angin vertical axis.
Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa semakin panjang lengan turbin maka semakin
semakin kecil putarannya namun nilai torsinya semakin besar dengan turbin angin sumbu
vertikal tipe Savonious.
Konstruksi turbin angin Vertical Axis yang dapat memanfaatkan potensi angin dari
segala arah, konstruksi sederhana, dan tidak memerlukan tempat pemasangan yang begitu
luas serta menghasilkan momen yang besar merupakan suatu pertimbangan penulis dalam
memilih jenis turbin angin ini. Hal inilah yang membuat penulis ingin melakukan analisa
pada turbin angin yang dapat digunakan pada kondisi tersebut yaitu dengan
mengembangkan turbin angin Vertical Axis.

B. Rumusan Masalah

Perumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana mengetahui karakteristik daya
dan efisiensi turbin angin Vertical Axis dua tingkat dengan jumlah blade masing-masing tingkat
tiga skala rumah tangga di lapangan ?

C. Batasan Masalah

Untuk lebih memfokuskan, penelitian dibuat batasan-batasan, antara lain:


1. Turbin angin sumbu vertical yang digunakan mengadopsi turbin angin vertical axis tipe Darieus
type-H.
2. Jenis Blade
3. Perhitungan kekuatan material turbin, seperti kekuatan rangka, rotor, dan bearing diabaikan.
4. Variasi sudut pitch blade yang digunakan adalah 0,15o, 20o, 25o, 30o.
D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik daya dan efisiensi turbin angin
vertical axis dengan jumlah tiga blade dengan optimum.

E. Manfaat Hasil Penelitian


Penelitian yang penulis lakukan ini kiranya dapat bermanfaat bagi penulis sendiri, bagi
para pembaca atau pihak pihak yang berkepentingan. Manfaat penelitian ini yaitu :
1. Penguasaan teknologi turbin angin sumbu vertical sebagai media pemanfaatan angin sebagai sumber
energy.
2. Teknologi tepat guna turbin angin dari penelitian dapat digunakan sebagai alat peraga untuk menunjang
perkuliahan Mesin Konversi Energi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Energi Angin
Angin adalah udara yang bergerak dari tekanan udara yang lebih tinggi ke tekanan udara yang
lebih rendah. Perbedaan tekanan udara disebabkan oleh perbedaan suhu udara akibat pemanasan atmosfir
yang tidak merata oleh sinar matahari. Karena bergerak angin memiliki energi kinetik. Energi angin dapat
dikonversi atau ditransfer ke dalam bentuk energi lain seperti listrik atau mekanik dengan menggunakan
kincir atau turbin angin. Oleh karena itu, kincir atau turbin angin sering disebut sebagai Sistem Konversi
Energi Angin (Saiful, 2008).
Salah satu energi terbarukan yang berkembang pesat di dunia saat ini adalah energi angin. Energi
angin merupakan energi terbarukan yang sangat fleksibel. Energi angin dapat dimanfaatkan untuk
berbagai keperluan misalnya pemompaan air untuk irigasi, pembangkit listrik, pengering atau pencacah
hasil panen, aerasi tambak ikan/udang, pendingin ikan pada perahu-perahu nelayan dan lain-lain. Selain
itu, pemanfaatan energi angin dapat dilakukan di mana-mana, baik di daerah landai maupun dataran
tinggi, bahkan dapat di terapkan di laut, berbeda halnya dengan energi air (Daryanto, 2007).

B. Turbin Angin
Turbin angin adalah kincir angin yang digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik. Turbin
angin ini pada awalnya dibuat untuk mengakomopdasi kebutuhan para petani dalam melakukan
penggilingan padi, keperluan irigasi, dll. Turbin angin terdahulu banyak dibangun di Denmark, Belanda
dan negara-negara Eropa lainnya dan lebih dikenal dengan Windmill.
Turbin angin dibagi menjadi dua kelompok utama berdasarkan arah sumbu:

1. Turbin Angin Horizontal Axis


Turbin angin sumbu horizontal merupakan turbin angin yang sumbu rotasi rotornya paralel
terhadap permukaan tanah. Turbin angin sumbu horizontal memiliki poros rotor utama dan
generator listrik di puncak menara dan diarahkan menuju dari arah datangnya angin untuk dapat
memanfaatkan energi angin. Rotor turbin angin kecil diarahkan menuju dari arah datangnya angin
dengan pengaturan baling baling angin sederhana sedangkan turbin angin besar umumnya
menggunakan sensor angin dan motor yang mengubah rotor turbin mengarah pada angin.
Berdasarkan prinsip aerodinamis, rotor turbin angin sumbu horizontal mengalami gaya lift dan gaya
drag, namun gaya lift jauh lebih besar dari gaya drag sehingga rotor turbin ini lebih dikenal
dengan rotor turbin tipe lift, seperti terlihat pada gambar:
Gambar 2.2 Gaya Aerodinamis rotor turbin angin ketika dilalui aliran udara.

Gambar 2.3 Komponen utama turbin angin sumbu horizontal (Sumber: Sathyajith Mathew, hal 90)

Dilihat dari jumlah sudu, turbin angin sumbu horizontal terbagi menjadi:
1. Turbin angin satu sudu (single blade)
2. Turbin angin dua sudu (double blade)
3. Turbin angin tiga sudu (three blade)
4. Turbin angin banyak sudu (multi blade)
Single bladed, two bladed, three bladed and multi bladed turbines
Gambar 2.4 Jenis turbin angin berdasarkan jumlah sudu
(Sumber: Sathyajith Mathew, hal 17)

Berdasarkan letak rotor terhadap arah angin, turbin angin sumbu horizontal dibedakan menjadi
dua macam yaitu:
1) Upwind
2) Downwind
Turbin angin jenis upwind memiliki rotor yang menghadap arah datangnya angin
sedangkan turbin angin jenis downwind memiliki rotor yang membelakangi/menurut jurusan arah
angin.

Gambar 2.5 Turbin angin jenis upwind dan downwind


(Sumber: rapidshare.com)

Rotor pada turbin upwind terletak di depan turbin, posisinya mirip dengan pesawat terbang
yang didorong baling baling. Untuk menjaga turbin tetap menghadap arah angin, diperlukan
mekanisme yaw seperti ekor turbin. Keuntungannya, naungan menara berkurang. Udara akan mulai
menekuk di sekitar menara sebelum berlalu begitu sehingga ada kehilangan daya dari gangguan yang
terjadi, hanya tidak setingkat dengan turbin downwind.
Turbin angin downwind memiliki rotor di sisi bagian belakang turbin. Bentuk nacelle didesain
untuk menyesuaikan dengan arah angin . Keunggulannya yaitu sudu rotor dapat lebih fleksibel
karena tidak ada bahaya tabrakan dengan menara. Sudu fleksibel memiliki keuntungan, biaya
pembuatan sudu lebih murah dan mengurangi tegangan pada tower selama keadaan angin dengan
kecepatan tinggi karena melentur memberikan beban angin didistribusikan secara langsung ke sudu
daripada ke menara. Sudu yang fleksibel dapat juga sebagai kekurangan dimana kelenturannya
menyebabkan keletihan sudu. Dibelakang menara merupakan masalah dengan mesin downwind
karena menyebabkan turbulensi aliran dan meningkatkan kelelahan pada turbin.

2. Tubin Angin Vertikal Axis


Turbin angin sumbu vertikal merupakan turbin angin yang sumbu rotasi rotor tegak lurus
terhadap permukaan tanah. Jika dilihat dari efisiensi turbin, turbin angin sumbu horizontal lebih efektif
dalam mengekstrak energi angin dibanding dengan turbin angin sumbu vertikal.
Meskipun demikian, turbin angin vertikal memiliki keunggulan, yaitu:
a. Turbin angin vertikal tidak harus diubah posisinya jika arah angin berubah, tidak seperti turbin angin
horizontal yang memerlukan mekanisme tambahan untuk menyesuaikan rotor turbin dengan arah angin.
b. Tidak membutuhkan struktur menara yang besar
c. Konstruksi turbin sederhana
d. Turbin angin sumbu vertikal dapat didirikan dekat permukaan tanah, sehingga memungkinkan
menempatkan komponen mekanik dan komponen elektronik yang mendukung beroperasinya turbin.
Jika dilihat dari prinsip aerodinamik rotor yang digunakan, turbin angin sumbu vertikal dibagi
menjadi dua bagian, yaitu:
a) Turbin angin Darrieus
Turbin angin Darrieus pada umumnya dikenal sebagai turbin eggbeater. Turbin angin
Darrieus pertama kali ditemukan oleh Georges Darrieus pada tahun 1931. Turbin angin Darrieus
merupakan turbin angin yang menggunakan prinsip aerodinamik dengan memanfaatkan gaya lift
pada airfoil dalam mengekstrak energi angin.
Turbin Darrieus memiliki torsi rotor yang rendah tetapi putarannya lebih tinggi dibanding dengan
turbin angin Savonius sehingga lebih diutamakan untuk menghasilkan energi listrik. Namun turbin ini
membutuhkan energi awal untuk mulai berputar. Rotor turbin angin Darrieus pada umumnya memiliki
variasi sudu yaitu dua atau tiga sudu. Modifikasi rotor turbin angin Darrieus disebut dengan turbin angin
H.
Gambar 2.6 Turbin angin Darrieus tipe-H
(sumber: Rapidshare.com)

Gambar 2.7 Pandangan turbin


Keterangan gambar:
= sudut pitch
= Sudut Serang
U = Kecepatan angin (m/s)
Urot = Kecepatan putaran (rpm)
a = Titik lokasi Blade

Perhitungan turbin angin


Untuk menghitung daya yang dihasilkan yaitu:

.......................................................(2.1)

dimana:
P = daya (watt)
m = massa beban (Kg)
g = Percepatan gravitasi (m/det2)
h = tinggi (m)
t = waktu (det)

Sedangkan untuk menghitung daya yang dihasilkan turbin adalah (Fiedler Tullis, 2009)

.......................................................(2.2)

dimana:
Cp = Koefisien daya turbin
P = Daya yang dihasilkan turbin (Watt)

= Massa jenis udara (kg/m3)

U = kecepatan angin (m/det)


S = Span Area (m2)

Span area adalah luasan area sapuan turbin angin, yang dihitung dengan rumus (Fiedler Tullis,
2009):

.......................................................(2.3)

Dimana L adalah panjang Blade dan D adalah diameter turbin angin, dengan satuan
meter (m).

Gaya lift (FL) dihitung dengan menggunakan rumus(Aji Mardiono, 2005):

........................................(2.4)

Tip Speed Ratio (TSR) adalah perbandingan antara kecepatan blade turbin dengan
kecepatan angin, yaitu (Fiedler Tullis, 2009):

.......................................................(2.5)

Dimana

adalah kecepatan angular daripada turbin (rpm), dan


r adalah jari-jari dari turbin (m).

Efisiensi turbin angin adalah perbandingan antara daya yang diserap turbin angin
terhadap daya angin yang tersedia.
Untuk menghitung efisiensi dari turbin angin adalah (M. Arsad, F. Hartono 2009)

.........................................(2.5)

b) Turbin angin Savonious


Turbin angin Savonius pertama kali diperkenalkan oleh insinyur Finlandia Sigurd J. Savonius
pada tahun 1922. Turbin angin sumbu vertikal yang terdiri dari dua sudu berbentuk setengah
silinder (atau elips) yang dirangkai sehingga membentuk S, satu sisi setengah silinder berbentuk
cembung dan sisi lain berbentuk cekung yang dilalui angin seperti pada gambar 2.14. Berdasarkan
prinsip aerodinamis, rotor turbin ini memanfaatkan gaya hambat (drag) saat mengekstrak energi
angin dari aliran angin yang melalui sudu turbin. Koefisien hambat permukaan cekung lebih besar
daripada permukaan cembung. Oleh sebab itu, sisi permukaan cekung setengah silinder yang dilalui
angin akan memberikan gaya hambat yang lebih besar daripada sisi lain sehingga rotor berputar.
Setiap turbin angin yang memanfaatkan potensi angin dengan gaya hambat memiliki efisiensi yang
terbatasi karena kecepatan sudu tidak dapat melebihi kecepatan angin yang melaluinya.
Gambar 2.9 Prinsip rotor Savonious
(Sumber: Sathyajith Mathew, hal 21)

Dengan memanfaatkan gaya hambat, turbin angin Savonius memiliki putaran dan daya
yang rendah dibandingkan dengan turbin angin Darrieus. Meskipun demikian turbin Savonius tidak
memerlukan energi awal memulai rotor untuk berputar yang merupakan keunggulan turbin ini
dibanding turbin Darrieus.
Daya dan putaran yang dihasilkan turbin Savonius relatif rendah, sehingga pada
penerapannya digunakan untuk keperluan yang membutuhkan daya kecil dan sederhana seperti
memompa air. Turbin ini kurang sesuai digunakan untuk pembangkit listrik dikarenakan tip speed ratio
dan daya yang relatif rendah.

C. Airfoil
Sudu-sudu rotor turbin seringkali berpenampang airfoil tetapi adakalanya sudu ini terbuat
dari plat lengkung atau sudu layar yang merupakan penyederhanaan dari bentuk propeler.

Gambar 2.10 Tipe airfoil NACA series


NACA (National Advisory Committe for Aeronautics) merupakan standar dalam perancangan
suatu airfoil. Perancangan airfoil pada dasarnya bersifat khusus dan dibuat menurut selera serta sesuai
dengan kebutuhan dari pesawat yang akan dibuat. Akan tetapi NACA menggunakan bentuk airfoil yang
disusun secara sistematis dan rasional. NACA mengidentifikasi bentuk airfoil dengan menggunakan kode
angka seperti seri satu , seri enam , seri empat angka , dan seri lima angka .

Berikut adalah identifikasi angka-angka dari seri NACA tersebut :


1. Seri Satu
a) Angka pertama adalah menunjukkan serinya.
b) Angka kedua menunjukkan letak tekanan minimum dalam persepuluh chord dari trailing edge.
c) Angka ketiga menunjukkan koefisien gaya angkat (cl) rancangan dalam persepuluh chord.
d) Dua angka terakhir menunjukkan maximum thicknes atau ketebalan maksimum dalam
perseratus chord.

Contoh airfoil dengan NACA 16-123, angka 1 adalah serinya (seri satu angka), memiliki letak
tekanan minimum 60 % chord dari trailing edge, memiliki koefisien gaya angkat rancangan 0.1 dan
mempunyai ketebalan maksimum 23 % chord.

Gambar 2.11 airfoil NACA seri satu


Sumber: http://panggih15.wordpress.com/2010/02/03/naca-airfoil/

2. Seri Enam
a) Angka pertama menunjukkan serinya.
b) Angka kedua menunjukkan letak tekanan minimum dalam sepersepuluh chord dari trailing
edge.
c) Angka ketiga menunjukan koefisien gaya angkat (cl) rancangan dalam sepersepuluh chord.
d) Dua angka terakhir adalah maksimum thickness dalam seperseratus chord.
Misalnya untuk airfoil dengan NACA 65-218, angka 6 adalah serinya (seri enam angka), tekanan
minimum terjadi pada 0.5c untuk distribusi tebal simetrik/dasar pada gaya angkat nol, memiliki koefisien
gaya angkat rancangan cl 0.2c, dan tebal maksimum 18% chord. Airfoil jenis ini dirancang sebagai airfoil
laminar untuk kecepatan tinggi, dirancang untuk menghasilkan c lmax yang tinggi dan cd yang lebih rendah
pada cl yang tinggi.
Gambar 2.12 airfoil NACA seri enam
Sumber: http://panggih15.wordpress.com/2010/02/03/naca-airfoil/

3. Airfoil simetris
Dibawah ini adalah airfoil yang akan penulis pergunakan pada peneltitan ini, beserta dengan data
pengujiannya, yakni airfoil NACA 0018.

Gambar 2.13 Airfoil NACA 0018


(http://worldofkrauss.com/)

Airfoil dengan NACA 0018, angka 0 adalah serinya, memiliki chamber dengan nilai nol, dan
tebal maksimum 18% chord.
Dan bagian-bagian airfoil adalah sebagai berikut:
1. Leading edge (LE) adalah ujung depan dari airfoil
2. Trailling edge (TE )adalah ujung belakang airfoil
3. Chord (c) adalah jarak antara leading edge dengan trailing edge
4. Chord line adalah garis lurus yang meng-hubungkan leading edge dengan trailing edge
5. Chamber line adalah garis yang membagi sama besar antara permukaan atas dan permukaan bawah dari
airfoil.
6. Maksimum chamber (zc ) adalah jarak mak-simum antara mean chamber line dan chord line. Posisi
maksimum chamber diukur dari leading edge dalam bentuk persentase chord.
7. Maksimum thickness (tmax) adalah jarak maksimum antara permukaan atas dan permukaan bawah
airfoil yang juga diukur tegak lurus terhadap chord line.
BAB III
METODE PENELITIAN

Pada Bab III ini akan dibahas mengenai langkah-langkah atau prosedur ilmiah.
Berikut ini akan dibahas tentang metodologi yang berkaitan dengan penelitian yang peneliti
lakukan, antara lain:

A. Tempat Penelitian dan Waktu Penelitian


1. Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di Gedung laboratorium terpadu Fakultas Teknik Universitas Negeri
Surabaya.
2. Waktu
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2015 hingga Oktober 2015.

B. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen (experiment research).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik turbin angin vertical axis.

C. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian adalah uraian tentang prosedur atau langkah-langkah yang dilakukan oleh
peneliti dalam upaya mengumpulkan dan menganalisa data. Skema flowchart penelitian dapat dilihat pada
tabel 3.1 berikut ini :
Gambar 3.1 Flowchart penelitian

1. Parameter yang diukur antara lain


a. Putaran turbin (rpm)
b. Kecepatan angin (m/s)
c. Energi listrik yang dibangkitkan oleh turbin pengereman (w.h)

2. Peralatan dan Instrumen Penelitian


Peralatan dan instrumen merupakan peralatan uji yang digunakan untuk memperoleh data
penelitian. Rangkaian peralatan dan instrumen dapat dilihat pada gambar 11 yang terdiri dari :
a. Satu set prototype turbin angin sumbu vertikal.
b. Anemometer.
c. Tachometer.
d. Inverter.
e. Batterai
f. Avometer
Gambar . Rangkaian instrumen penelitian
Prosedur Penelitian
1. Ukur Kecepatan Angin.
2. Ukur putaran turbin.
3. Ukur temperature udara.
4. Ukur tegangan yang dihasilkan oleh generator.
5. Ukur arus yang dihasilkan oleh generator.
6. Lakukan langkah 1 sampai 5 tiap 30 menit.

Tabel 1. Rencana format pengumpulan data


Tanggal : Jumlah bilah :
Pukul : Luasan sapuan:
Model Turbin :
Sudut Pitch :

Kec Angin Putaran turbin Arus generator


Percobaan Ke. Tegangan
(m/s) (rpm) (A)
(Volt)
1
2
3
D. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisa data pada penelitian ini adalah statistika
deskriptif. Sehingga analisis data dilakukan dengan cara menelaah data yang diperoleh dari eksperimen,
dimana hasilnya berupa data kuantitatif dalam bentuk tabel dan ditampilkan dalam bentuk grafik.
Langkah selanjutnya adalah mendeskripsikan atau menggambarkan data tersebut sebagaimana adanya
dalam kalimat yang mudah dibaca, dipahami, dan dipresentasikan sehingga pada intinya adalah sebagai
upaya memberi jawaban atas permasalahan yang diteliti (Sugiyono, 2007:147).
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.Airfoil Investigation Database. http://www.worldofkrauss.com/, diakses 13 Maret 2012.

Beri, Habtanu and Yingxue Yao. 2011. Effect of Chamber Airfoil on Self Starting of Vertical Axis Wind
Turbine. Journal of environmental Science and Technology 4 (3): 302-312. Harbin Institute of
atechnology, China.

Cooper, Paul and Oliver Kennedy. 2002. Development and Analysis of a Novel Vertical Axis Wind
Turbine. University of Wollongong, Wollongong, Australia.

Daryanto, 2007, Kajian Potensi angin Untuk Pembangkit Listrik Tenaga Bayu. Balai PPTAGG-UPT-
LAGG, Yogyakarta, 5 April

Fiedler, Andrzej J. & Stephen Tullis. Blade Offset and Pitch Effects on a High SolidityVertical Axis
Wind Turbine. 2009. Department of Mechanical Engineering, McMaster University

Herlamba S., Indra. 2007. Mesin Konversi Energi. Surabaya: Unipress

Hermawan. 2010. Unjuk Kerja Model Turbin Angin Poros Vertikal Tipe Savonius Dengan Variasi
Jumlah Sudu Dan Variasi Posisi Sudut Turbin. Univesitas Gadjah Mada. Yogyakarta