Anda di halaman 1dari 56

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT UNTUK MATERI MATA

PEMBELAJARAN

PROPOSAL

OLEH

MARI FRANSISKA BALA KOBAN

PROGRAM STUDI ILMU SOSIATRI

SEKOLAH TINGI PEMBANGUNAN MASYARAKAT ( STPM )

SANTA URSULA ENDE

2015/2016

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sekarang ini

memungkinkan kita untuk memperoleh informasi pengetahuan dengan cepat

dan mudah dari berbagai tempat di dunia. Di sisi lain, kita tidak mungkin untuk

mempelajari seluruh informasi dan pengetahuan yang ada karena sangat banyak

1
dan tidak semuanya dibutuhkan, oleh karena itu diperlukan kemampuan untuk

dapat memilih dan mengelola informasi.

Sebagai konsekuensi logis yang harus diterima maka sumber daya

manusia perlu dipersiapkan untuk menghadapinya. Salah satu langkah yang

ditempuh adalah melalui pendidikan di sekolah.

Pendidikan berguna bagi manusia untuk membentuk dan

mengembangkan kecerdasan intelektual. Dengan kecerdasan intelektual yang

dimiliki, maka setiap insan dapat memberikan sesuatu bagi perkembangan

dunia.

Dalam pembelajaran di sekolah, matematika merupakan salah satu mata

pelajaran yang masih dianggap sulit dipahami oleh siswa, oleh karena itu perlu

dikembangkan pembelajaran yang efektif yaitu pembelajaran yang dilaksanakan

secara tepat baik metode pembelajaran yang digunakan maupun sarana dan

prasarana dalam usaha yang ditetapkan oleh pemerintah dapat berjalan sesuai

dengan tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Untuk mencapai tujuan itu maka diperlukan berbagai usaha, salah satunya

adalah memperbaiki proses belajar mengajar di kelas.

Keberhasilan suatu proses belajar mengajar di kelas dipengaruhi oleh

beberapa faktor antara lain adalah guru, siswa, kurikulum, sarana dan prasarana,

metode pembelajaran, lingkungan serta dituntut sumber daya alam dan mampu

berkompetisi secara global sehingga diperlukan keterampilan yang tinggi yang

2
melibatkan pemikiran kritis, logis, kreatif, dan kemauan bekerjasama yang

efektif. Keberhasilan proses belajar ditandai dengan meningkatnya prestasi

belajar siswa.

Dalam usaha meningkatkan prestasi belajar, seorang guru dituntut

menguasai materi yang akan diberikan. Di samping itu guru juga harus

memiliki keterampilan dalam menyampaikan materi. Pemilihan strategi

pengajaran yang pokok merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh guru

untuk mempemudah proses belajar di kelas. Jika seorang guru bisa menciptakan

suasana yang nyaman dalam kegiatan belajar mengajar maka siswa akan

termotivasi untuk belajar sehingga akan berpengaruh terhadap hasil belajar

yang akan dicapai siswa.

Prestasi belajar matematika siswa selama ini sangat rendah, hal ini dapat

kita lihat dari ujian nasional tahun 2010 untuk propinsi NTT dengan presentase

kelulusannya hanya mencapai 18,6 %. Faktor yang mempengaruhi hasil prestasi

belajar siswa antara lain adalah kurang kesempatan bagi siswa untuk berdiskusi

dan melatih untuk memecahkan masalah. Karena pada umumnya dalam proses

belajar mengajar sering terjadi komunikasi satu arah di mana guru mendominasi

pembelajaran, hal ini menyebabkan interaksi antara guru dan siswa dalam

proses belajar mengajar kurang optimal.

3
Dengan demikian hendaknya guru dapat memilih dan menerapkan

metode yang tepat dalam pengajaran matematika yang pada akhirnya dapat

meningkatkan prestasi belajar siswa.

Bertitik tolak dari uraian di atas, penulis mencoba menerapkan salah

satu model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Model ini dipilih karena

dianggap dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini didukung juga oleh

pendapat para ahli yang mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif tipe NHT

mempunyai banyak keunggulan.

Namun sampai saat ini metode pembelajaran kooperatif tipe NHT belum

banyak diterapkan di sekolah karena merupakan model pembelajaran yang baru

dikembangkan pada tahun 1990-an. Sehingga kemampuan guru dalam

menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT masih belum memadai.

Oleh karena itu, penulis mengadakan penelitian dengan judul:

PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT UNTUK MATERI

LINGKARAN PADA SISWA KELAS VIII SMPK WOLOWARU TAHUN

PELAJARAN 2015/2016.

1.2 Rumusan Masalah

Masalah yang di rumuskan pada penelitian ini yaitu:

1. Bagaimanakah pengembangan perangkat tipe NHT untuk materi lingkara

pada siswa kelas VIII SMPK WOLOWARU tahun pelajaran 2015/2016?

4
2. Apakah pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan hasil

belajar untuk materi lingkaran pada siswa kelas VIII SMPK

WOLOWARU tahun pelajaran 2015/2016?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang ada maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk menghasilkan perangkat pembelajaran kooperatif tipe NHT

untukmateri lingkaran pada siswa kelas VIII SMPK WOLOWARU tahun

pelajaran 2015/2016.
2. Untuk mengetahui hasil belajar melalui pembelajaran kooperatif tipe

NHT untuk materi lingkaran pada siswa kelas VIII SMPKWOLOWARU

tahun pelajaran 2015/2016.

1.4 Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang

berarti bagi pihak-pihak sebagai berikut:

1. Bagi Siswa

Dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan lingkaran.

2. Bagi Guru

Memberi masukan yang berguna bagi guru matematika untuk memilih

metode yang tepat dalam proses pembelajaran.

5
3. Bagi Peneliti

Sebagai bekal dalam mempersiapkan diri sebagai seorang guru dalam

mengembangkan metode pembelajaran.

1.5 Defenisi Operasional Judul

Untuk tidak terjadi kesalahan pengertian terhadap istilah-istilah yang

dipakai dalam judul penelitian ini, maka penulis merasa perlu untuk menjelaskan

beberapa istilah sebagai berikut:

1) Pendekatan adalah: proses, cara, metode untuk mencapai

pengertian tentang masalah penelitian (Poerwadarminta,1995:702).

2) Pembelajaran adalah: kegiatan belajar mengajar (Poerwardaminta,1995:703)

3) Kooperatif adalah kerjasama (Depdiknas,2000)

4) Pembelajaran kooperatif adalah: model pembelajaran dimana beberapa siswa

dengan tingkat kemampuan yang berbeda dapat belajar dalam kelompok-

kelompok kecil (Ismail,2002:12).

5) Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT)

adalah: Suatu model pembelajaran yang menekankan adanya kerjasama antar

siswa. Siswa dibagi ke dalam kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari

3-5 siswa secara heterogen. Setiap siswa dalam kelompoknya diberi nomor

yang berbeda (Ibrahim,2000:28).

6
6) Lingkaran adalah: suatu bidang sederhana yang dibatasi oleh

suatu garis melingkar, setiap titik yang terletak pada garis tersebut memiliki

jarak yang sama terhadap satu titik di tengah lingkaran yang disebut pusat

lingkaran (Bird,2004).

7) Eksplorasi adalah kegiatan untuk memperoleh pengalaman

pengalaman baru dari situasi yang baru

8) Elaborasi adalah penggarapan secara tekun dan cermat.

9) Konfirmasi adalah pembenaran, penegasan dan pengesahan.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Teori Belajar

A. Teori konstruktivisme
Konstruktivisme didefenisikan sebagai pembelajaran yang bersifat

generatif, yaiu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari.

Teori konstruktivisme juga mempunyai pemahaman tentang belajaran

yang lebih menekankan pada proses dari pada hasil. Hasil belajar sebagai

7
tujuan dinilai penting, tetapi proses yang melibatkan cara dan strategi

dalam belajar juga dinilai penting. Dalam proses belajar, hasil belajar,

cara belajar, dan strategi belajar akan mempengaruhi perkembangan tata

pikir dan skema berpikir seseorang. Sebagai upaya memperoleh

pemahaman atau pengetahuan siswa mengkonstruksiatau membangun

pemahamannya terhadap fenomena yang ditemui dengan menggunakan

pengalaman, struktur kognitif, dan keyakinan yang dimiliki.


Teori konstruktivisme juga mempunyai pemahaman tentang belajar

yang lebih menekankan pada proses daripada hasil. Hasil belajar sebagai

tujuan dinilai penting, tetapi proses yang melibatkan cara dan strategi

dalam belajar juga dinilai penting. Dalam proses belajar, hasil belajar,

cara belajar, dan strategi belajar akan mempengaruhi perkembangan tata

pikir dan skema berpikir seseorang. Sebagai upaya memperoleh

pemahaman atau pengetahuan, siswa mengkonstruksi atau membangun

pemahamannya terhadap fenomena yang ditemui dengan menggunakan

pengalaman, struktur kognitif, dan keyakinan yang dimiliki

Dengan demikian, belajar menurut teori konstruktivisme bukanlah

sekadar menghafal, akan tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan

melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah hasil pemberian dari orang

lain seperti guru, akan tetapi hasil dari proses mengkonstruksi yang

dilakukan setiap individu. Pengetahuan hasil dari pemberian tidak akan

bermakna. Adapun pengetahuan yang diperoleh melalui proses

mengkonstruksi pengetahuan itu oleh setiap individu akan memberikan

8
makna mendalam atau lebih dikuasai dan lebih lama tersimpan/diingat

dalam setiap individu.

Adapun tujuan dari teori ini adalah sebagai berikut:

1. Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab

siswa itu sendiri.


2. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan

dan mencari sendiri pertanyaannya.


3. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman

konsep secara lengkap.


4. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang

mandiri.
5. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
B. Teori Piaget
Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara

pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan.Bahkan, perkembangan

kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi

dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan, perkembangan

kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang

keadaan ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan

(Poedjiadi,1999:61).

Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak

dapat dipahami bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak

mengkonstruksi ilmu berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual

anak berkaitan dengan anak dan lingkungan belajarnya menurut

pandangan konstruktivisme.

9
Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih

mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget

menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang

anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata

yangdimilikinya. Proses mengkonstruksi, sebagaimana dijelaskan Jean

Piaget adalah sebagai berikut:


a. Skemata
Sekumpulan konsep yang digunakan ketika berinteraksi dengan

lingkungan disebut dengan skemata. Sejak kecil anak sudah memiliki

struktur kognitif yang kemudian dinamakan skema (schema). Skema

terbentuk karena pengalaman. Misalnya, anak senang bermain dengan

kucing dan kelinci yang sama-sama berbulu putih. Berkat keseringannya,

ia dapat menangkap perbedaan keduanya, yaitu bahwa kucing berkaki

empat dan kelinci berkaki dua. Pada akhirnya, berkat pengalaman itulah

dalam struktur kognitif anak terbentuk skema tentang binatang berkaki

empat dan binatang berkaki dua. Semakin dewasa anak, maka semakin

sempunalah skema yang dimilikinya. Proses penyempurnaan sekema

dilakukan melalui proses asimilasi dan akomodasi.


b. Asimilasi
Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang

mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam

skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang

sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan

kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses

10
asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan

perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata.

Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan

mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru pengertian orang itu

berkembang.

c. Akomodasi
Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang

tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skemata

yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali

tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian

orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi tejadi untuk membentuk

skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi

skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.


d. Keseimbangan
Ekuilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi

sedangkan diskuilibrasi adalah keadaan dimana tidak seimbangnya antara

proses asimilasi dan akomodasi, ekuilibrasi dapat membuat seseorang

menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya.

C. Teori Vygotsky

Teori Vygotsky didasarkan pada dua gagasan utama. Pertama, dia

berpendapat bahwa perkembangan intelektual dapat dipahami hanya dari

sudut konteks historis dan budaya yang dialami anak-anak. Kedua, dia

beranggapan bahwa perkembanagn bergantung pada system tanda yang

11
ada bersama masing-masing orang ketika mereka tumbuh. Symbol-

simbol yang diciptakan budaya untuk membantu berpikir,

berkomunikasi, dan memecahkan masalah, misalnya bahasa, system

menulis, atau system budaya.


Vygotskyberpendapat bahwa siswa membentuk pengetahuan

sebagai hasil dari pikiran dan kegiatan siswa sendiri melalui bahasa.

Vygotsky berkeyakinan bahwa perkembangan tergantung baik pada

factor biologis menentukan fungsi-fungsi elementer memeori, atensi,

persepsi, dan stimulus-respon, factor social sangat penting artinya bagi

perkembangan fungsi mental lebih tinggi untuk perkembangan konsep,

penalaran logis, dan pengambilan keputusan.


Teori vygotsky ini lebih menekankan pada asek sosial dari

pembelajaran. Menurut vygtskky bahwa proses pembelajaran akan terjadi

jika anak bekerja atau menangani tugas-tugas yang belum dipelajari,

namun tugas-tugas tersebut masih berada dalam jangkauan mereka

disebut dengan zone of proximaldevelopment, yakni daerah tingkat

perkembangan sedikit diatas daerah perkembangan saat ini. Vygotsky

yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul

dalam percakapan dan kerja sama antar individu sebelum fungsi mental

yang lebih tinggi itu terserap kedalam individu tersebut.


Ada satu ide penting dari Vygotsky adalah scaffolding yakni

pemberian bantuan terhadap anak selama tahap-tahap awal perkembngan

dan mengurangi bantuan tersebut memberikan kesempatan kepada anak-

anak untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera

12
setelah anak dapat melakukannya.Penafsiran terkini terhadap ide-ide

Vygotsky adalah siswa seharusnya diberikan tugas-tugas kompleks, sulit,

dan realistic kemudian diberikan bantuan secukupnya untuk

menyelesaikannya tugas-tugas itu. Hal ini bukan berarti bahwa buka

diajar sedikit demi sedikit komponen-komponen suatu tugas yang

kompleks yang pada suatu hari diharapkan dapat terwujud menjadi

kemampuan untuk menyelesaikan tuhas komples tersebut.(Nur &

Wikandari, 2006: 6).


Penerapan teori Vygotsky dalam pengajaran teori-teori pendidikan

Vygotsky mempunyai dua implikasi utama yang pertama ialah keinginan

menyusun rencana pembelajaran karja sama diantara kelompok-

kelompok, siswa yang mempunyai tingkat-tingkat kemampuan yang

berbeda. Pengajaran pribadi oleh teman yang lebih kompeten dapat

berjalan efektif dalam meningkatkan pertumbuhan dalam zona

perkembangan proksimal. Kedua, pendekatan Vygotsky terhadap

pengajaran menekankan perancahan, dengan siswa yang mengambil

makin banyak tanggung jawab untuk pembelajaran mereka sendiri.

2.2 Teori Teori Pembelajaran

1. Teori Humanistik

Abraham Maslow dan Carl Rogers termasuk kedalam tokoh kunci

humanisme. Tujuan utama dari humanisme dapat dijabarkan sebagai

perkembangan dari aktualisasi diri manusia automomous. Dalam humanisme,

13
belajar adalah proses yang berpusat pada pelajar dan dipersonalisasikan, dan

peran pendidik adalah sebagai seorang fasilitator.

Afeksi dan kebutuhan kognitif adalah kuncinya, dan goalnya adalah

untuk membangun manusia yang dapat mengaktualisasikan diri dalam

lingkungan yang kooperatif dan suportif. Dijelaskan juga bahwa pada

hakekatnya setiap manusia adalah unik, memiliki potensi individual dan

dorongan internal untuk berkembang dan menentukan perilakunya. Kerana itu

dalam kaitannya maka setiap diri manusia adalah bebas dan memiliki

kecenderungan untuk tumbuh dan berkembang mencapai aktualisasi diri.

2. Teori Pemebelajaran Behavioristik

Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku

sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang

dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan

tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang

dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara

yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.

3. Teori Pembelajaran Sosial atau Teori Perilaku

Konsep motivasi belajar berkaitan erat dengan prinsip bahwa perilaku

yang memperoleh penguatan(reinforcement) di masa lalu lebih memiliki

kemungkinan diulang dibandingkan dengan perilaku yang tidak memperoleh

penguatan atau perilaku yang terkena hukuman (punishment). Dalam

kenyataannya, daripada membahas konsep motivasi belajar, penganut teori

14
perilaku lebih memfokuskan pada seberapa jauh siswatelah belajar untuk

mengerjakan pekerjaan sekolah dalam rangka mendapatkan hasil yang

diinginkan (Bandura, 1986 dan Wielkeiwicks, 1995).

4. Teori Kognitif Ausubel

Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi

kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna. Sama seperti Bruner

dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa, terutama

mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar- akan bermanfaat kalau

mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun untuk siswa pada

tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak

waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru

menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi.

2.3 Pembelajaran Kooperatif

A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Kata kooperatif berasal dari kata cooperative yang berarti kerjasama

atau bersama-sama dalam mencapai satu tujuan (Lie, 2002).

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dimana siswa belajar

dalam kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda.

Menurut Slavin (1995:247) mengemukakan bahwa pembelajaran

kooperatif dapat menyelesaikan kebutuhan siswa dalam belajar berpikir,

memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dengan

15
keterampilan. Sistem penilaian dalam pembelajaran kooperatif ini dilakukan

pada setiap kelompok akan memperoleh penghargaan, jika kelompok mampu

menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan. Dengan demikian setiap anggota

kelompok akan mempunyai ketergantungan positif. Ketergantungan semacam

itulah akan memunculkan tanggungjawab individu terhadap kelompok dan

setiap anggota kelompok. Setiap individu akan saling membantu, mereka

akan mempunyai motivasi untuk keberhasilan kelompok, sehingga setiap

individu akan memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan kontribusi

demi keberhasilan kelompok.

Menurut Hasrudin (2004), pembelajaran kooperatif adalah aktifitas

belajar oleh kelompok kecil siswa yang didalamnya terjadi kerjasama, saling

menyumbangkan pikiran untuk menyelesaikan tugas-tugas kelompok.

Johnson (1999) mengemukakan pembelajaran kooperatif adalah

pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil yang siswanya bekerja

bersama-sama untuk memaksimalkan belajar mereka untuk meningkatkan

pencapaian akademik.

Pembelajaran kooperatif dari beberapa definisi di atas maka dapat

disimpulkan sebagai suatu pembelajaran yang didasarkan atas kerja kelompok

yang dilakukan untuk mencapai tujuan khusus. Dalam pembelajaran

kooperatif, semua siswa harus memahami dan menyadari peranan masing-

masing, karena keberhasilan dan kegagalan yang diperoleh akan menjadi

16
milik bersama. Setiap siswa dalam kelompok berhak memberi pandangan

atau bertukar ide dalam menyelesaikan masalah agar dapat dipahami dan

diterima oleh setiap anggota kelompok. Pembelajaran kooperatif tidak akan

tercapai apabila penyelesaian suatu masalah hanya dapat dilakukan oleh salah

satu anggota kelompok saja.

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang

mengutamakan adanya kerja sama antar siswa dalam kelompok untuk

mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi kedalam kelompok-

kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah

ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk

memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam

proses berpikir dan dalam kegiatankegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian

besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi

pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah.

B. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif

Menurut Stahl dalam Ismail (2002:12) bahwa ciri-ciri pembelajaran

kooperatif adalah:

1. Belajar dengan teman.

2. Tatap muka antar teman.

3. Mendengarkan diantara anggota.

4. Belajar dari teman sendiri dalam kelompok.

17
5. Belajar dalam kelompok kecil.

6. Produktif berbicara dan mengemukakan pendapat.

7. Siswa membuat keputusan.

8. Siswa aktif.

C. Unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif

Menurut Ibrahim (2000:6) unsur- unsur dalam pembelajaran kooperatif

adalah sebagai berikut:

1. Siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka hidup sepenanggungan

bersama.

2. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu dalam kelompoknya,

seperti milik mereka sendiri.

3. Siswa harus melihat bahwa semua anggota dalam kelompoknya

memilki tujuan yang sama.

4. Siswa haruslah berbagi tugas dan tanggungjawab yang sama diantara

anggota kelompoknya.

5. Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah atau penghargaan

yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompoknya.

6. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan

untuk belajar bersama dalam proses belajarnya.

7. Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi

yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

18
D. Konsep utama dalam pembelajran kooperatif

Konsep utama dari pembelajaran kooperatif menurut Slavin (1995:5)

adalah sebagai berikut:

1. Penghargaan kelompok, yang akan diberikan jika kelompok mencapai

kriteria yang ditentukan.

2. Tanggung jawab individual, bermakna bahwa suksesnya kelompok

tergantung pada belajar individual semua anggota kelompok. Tanggung

jawab ini berfokus dalam usaha untuk membantu yang lain dan

memastikan setiap anggota kelompok telah siap menghadapi evaluasi

tanpa bantuan yang lain.

3. Kesempatan yang sama untuk sukses bermakna bahwa siswa telah

membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri.

Hal ini memastikan bahwa siswa berkemampuan tinggi, sedang, rendah

sama-sama tertantang untuk melakukan yang terbaik dan bahwa

kontribusi semua anggota kelompok sangat bernilai.

E. Jenis-jenis dalam pembelajaran kooperatif

Slavin (1995) membedakan pendekatan pembelajaran kooperatif dalam

beberapa jenis yaitu: Numbered Heads Together (NHT), Students Teams

Achievement Division (STAD), Teams-Games-Tournament (TGT), dan Jigsaw.

19
1. Numbered Heads Together (NHT).

Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe

pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur-struktur khusus

yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa dalam

memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan isi akademik. Penerapan

pembelajaran kooperatif tipe NHT untuk melibatkan lebih banyak siswa

dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dengan

mengecek pemahaman siswa mengenai isi pelajaran tersebut. Pembelajaran

kooperatif tipe NHT ini siwa menempati posisi sangat dominan dalam proses

pembelajaran dan terjadinya kerjasama dalam kelompok dengan ciri

utamanya adanya penomoran sehingga semua siswa berusaha untuk

memahami setiap materi yang diajarkan dan bertanggungjawab atas nomor

anggotanya masing-masing.

2. Student Teams Achievement Division (STAD)

Pembelajaran kooperatif tipe STAD ditandai dengan ciri-ciri sebagai

berikut: setiap anggota aktif dalam kelompok belajar, terjadinya interaksi

langsung antara siswa ,setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas hasil

belajarnya dengan teman-teman kelompoknya.Peran guru adalah membantu

siswa mengembangkan keterampilan interpersonal kelompok dan

berinteraksi dengan kelompok siswa apabila diperlukan seperti membimbing

siswa ketika siswa mengalami kesulitan.

20
3. Jigsaw

Model pembelajaran jigsaw didesain selain untuk meningkatkan rasa

tanggungjawab siswa secara mandirimjuga dituntut saling ketergantungan

yang positif (saling membantu) terhadap teman kelompoknya. Pada akhir

pembelajaran diberikan tes kepada siswa secara individual. Kunci

pembelajaran tipe jigsaw adalah diterpendensi setiap siswa terhadap anggota

kelompok yang memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan dapat

mengerjakan tes dengan baik.

4. Teams Games Tournament (TGT)

Pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah suatu pembelajaran dimana

setelah penyajian guru, siswa pindah ke kelompoknya masing-masing untuk

saling membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan dari materi yang

diberikan. Tahap-tahap yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran tipe

TGT adalah pembentukan kelompok, pemberian materi, belajar kelompok,

turnamen, skor induvidu, skor kelompok dan pemberian penghargaan.

2.4 Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT


A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe

pembelajaran yang menekankan pada struktur yang dirancang untuk

mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan

prestasi belajar. Tipe ini dikembangkan oleh kiage (dalam Ibrahim,2008:28)

dengan melibatkan pada siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam

suatu pelajaran mencek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.

21
B. Tujuan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam

pembelajaran kooperatif tipe NHT yaitu :


1. Hasil Belajar Akademik.
Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
2. Pengakuan Adanya Keragaman.
Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-teman yang mempunyai

berbagai latar belakang.


3. Pengembangan Keterampilan Sosial.
Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan siswa.
C. Langkah-Langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT
Pembelajaran kooperatif tipe NHT menurut Ibrahim (2000) ada tiga

langkah yaitu :
1. Pembentukan kelompok.
2. Diskusi masalah.
3. Tukar jawaban antar kelompok.

Langkah-langkah tersebut dikembangkan menjadi enam langkah yaitu:


a. Persiapan.
Dalam tahap ini guru mempersiapkan Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP), menyiapkan materi pelajaran, Lembar Kerja Siswa

(LKS) yang sesuai dengan pendekatan kooperatif tipe NHT.


b. Pembentukan Kelompok.
Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang disesuaikan

dengan pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru memberi nomor kepala

setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda.


c. Diskusi Masalah.
Diskusi kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa

sebagai bahan yang akan dipelajari.


d. Memanggil Nomor Anggota atau Pemberian Jawaban.

22
Dalam tahap ini, guru menyebutkan satu nomor dan para siswa dari

setiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan

menyiapkan jawaban siswa di kelas.


e. Guru memberi kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan

yang berhubungan dengan materi yang disajikan.


f. Memberikan Penghargaan.
Pada tahap ini, guru memberikan kata-kata pujian kepada siswa dan

memberi nilai yang lebih tinggi kepada kelompok yang hasil belajarnya

lebih baik.

D. Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT


1. Keunggulan Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT.
a) Siswa tidak terlalu bergantung pada guru, akan tetapi menambah

kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai

sumber dan belajar dari siswa yang lain.


b) Dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau

gagasan
2. Kelemahan pembelajaran Kooperatif Tipe NHT.
a) Untuk siswa yang dianggap memiliki kemampuan yang lebih maka

mereka akan merasa terhambat oleh siswa lain yang dianggap kurang

memiliki kemampuan.
b) Penilaian yang diberikan berdasarkan hasil kerja kelompok, namun

guru perlu menyadari bahwa hasil atau prestasi yang diharapkan

adalah prestasi setiap individu siswa

2.5 Prestasi Belajar

Prestasi merupakan hasil yang telah dicapai oleh seseorang dalam

suatu usaha yang dilakukan atau dikerjakan (poerwadaminta, 1974:769).

23
Istilah prestasi selalu digunakan dalam mengetahui keberhasilan belajar di

sekolah. Prestasi belajar adalah suatu nilai menunjukan hasil yang tertinggi

dalam belajar yang dicapai menurut kemampuan siswa dalam mengerjakan

sesuatu pada saat tertentu. Seojanto (1979:12) menyatakan bahwa prestasi

belajar dapat pula dipandang sebagai pencerminan dari pembelajaran yang

ditunjukan oleh siswa melalui perubahan perubahan dalam bidang

pengetahuan, keterampilan, analisis, sintesis, evaluasi, serta nilai dan

sikap.

Prestasi belajar siswa ditentukan oleh dua faktor yaitu intern dan

ektern. Faktor intern merupakan faktor faktor yang bersumber dari siswa

itu sendiri, sedangkan faktor ekstern merupakan faktor yang bersumber

dari luar peserta didik. Faktor intern meliputi prasyarat belajar yakni

pengetahuan yang sudah dimiliki oleh siswa sebelum mengikuti

pembelajaran berikutnya, keterampilan yang dimiliki oleh siswa meliputi

cara cara yang berkaitan dengan mengikuti mata pelajaran, mengerjakan

tugas, membaca buku, belajar kelompok mempersiapkan ujian, dan

menindak lanjuti hasil ujian, kondisi pribadi siswa yang meliputi

kesehatan, kecerdasan sikap, cita- cita, dan hubungan dengan orang lain.

Faktor ekstern meliputi proses belajar mengajar, sarana belajar yang

dimiliki, lingkungan belajar, dan kondisi sosial ekonomi yang dimiliki

keluarga ( Usman, 1995;12)

24
Berdasarkan prestasi yang dikemukan para ahli, maka dapat

disimpulkan bahwa prestasi belajar matematika adalah tingkat penguasaan

yang dicapai siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar matematika

sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Prestasi yang dicapai oleh siswa

merupakan gambaran hasil belajar siswa setelah mengikuti proses belajar

mengajar dan merupakan interaksi antara beberapa faktor.

2.6 Lingkaran

A. Pengertian Lingkaran

Lingkaran adalah suatu bidang sederhana yang dibatasi oleh suatu

garis melingkar, setiap titk yang terletak pada garis tersebut memiliki

jarak yang sama terhadap satu ttk di tengah lingkaran yang disebut

pusat lingkaran (Bird,2004)

Ban mobil dan uang logam merupakan contoh benda-benda yang

memiliki bentuk dasar lingkaran. Secara geometris, benda-benda

tersebut dapat digambarkan seperti pada Gambar (a).

25
Perhatikan Gambar (b) dengan saksama. Misalkan A, B, C

merupakan tiga titik sebarang pada lingkaran yang berpusat di O. Dapat

dilihat bahwa ketiga titik tersebut memiliki jarak yang sama terhadap

titik O. Dengan demikian, lingkaran adalah kumpulan titik-titik yang

membentuk lengkungan tertutup, di mana titik-titik pada lengkungan

tersebut berjarak sama terhadap suatu titik tertentu. Titik tertentu itu

disebut sebagai titik pusat lingkaran. Pada Gambar (b) , jarak OA, OB,

dan OC disebut jari-jari lingkaran.

Jadi dapat disimpulkan bahwa lingkaran adalah kurva tertutup

sederhana yang merupakan tempat kedudukan titik-titik yang berjarak

sama terhadap suatu titik tertentu. Jarak yang sama tersebut disebut jari-

jari lingkaran dan titik tertentu disebut pusat lingkaran. Garis lengkung

tersebut kedua ujungnya saling bertemu membentuk keliling lingkaran

dan daerah lingkaran (luas lingkaran).

B. UnsurUnsur Atau Bagian-Bagian Lingkaran

26
Ada beberapa bagian lingkaran yang termasuk dalam unsur-unsur

sebuah lingkaran di antaranya titik pusat, jari-jari, diameter, busur, tali

busur, tembereng, juring, dan apotema. Untuk lebih jelasnya, perhatikan

uraian berikut.

a. Titik Pusat

Titik pusat lingkaran adalah titik yang terletak di tengah-tengah

lingkaran. Pada Gambar di atas , titik O merupakan titik pusat

lingkaran, dengan demikian, lingkaran tersebut dinamakan lingkaran O.

b. Jari-Jari (r)

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, jari-jari lingkaran

adalah garis dari titik pusat lingkaran ke lengkungan lingkaran. Pada

Gambar di atas, jari-jari lingkaran ditunjukkan oleh garis OA, OB, OC,

dan OD.

27
c. Diameter (d)

Diameter adalah garis lurus yang menghubungkan dua titik pada

lengkungan lingkaran dan melalui titik pusat. Garis AB dan CD pada

lingkaran O merupakan diameter lingkaran tersebut. Perhatikan bahwa

AB = AO + OB. Dengan kata lain, nilai diameter merupakan dua kali

nilai jari-jarinya, ditulis bahwa d = 2r.

d. Busur

Dalam lingkaran, busur lingkaran merupakan garis lengkung yang

terletak pada lengkungan lingkaran dan menghubungkan dua titik

sebarang di lengkungan tersebut. Pada Gambar di atas, garis lengkung

AC, garis lengkung CB, dan garis lengkung BD merupakan busur

lingkaran O.

e. Tali Busur

Tali busur lingkaran adalah garis lurus dalam lingkaran yang

menghubungkan dua titik pada lengkungan lingkaran. Berbeda dengan

diameter, tali busur tidak melalui titik pusat lingkaran O. Tali busur

lingkaran tersebut ditunjukkan oleh garis lurus AD yang tidak melalui titik

pusat pada Gambar di atas.

f. Tembereng

28
Tembereng adalah luas daerah dalam lingkaran yang dibatasi oleh

busur dan tali busur. Pada Gambar di atas, tembereng ditunjukkan oleh

daerah yang diarsir dan dibatasi oleh busur AD dan tali busur AD.

g. Juring

Juring lingkaran adalah luas daerah dalam lingkaran yang dibatasi

oleh dua buah jari-jari lingkaran dan sebuah busur yang diapit oleh

kedua jari-jari lingkaran tersebut. Pada Gambar di atas, juring lingkaran

ditunjukkan oleh daerah yang diarsir yang dibatasi oleh jari-jari OC dan

OB serta busur BC, dinamakan juring BOC.

h. Apotema

Pada sebuah lingkaran, apotema merupakan garis yang

menghubungkan titik pusat lingkaran dengan tali busur lingkaran

tersebut. Garis yang dibentuk bersifat tegak lurus dengan tali busur.

Coba perhatikan Gambar di atas secara seksama. Garis OF merupakan

garis apotema pada lingkaran O.

C. Keliling Dan Luas Lingkaran

1. Keliling Lingkaran.

kelilinglingkaran
Perbandiingan sama dengan ,
diameter

(sugijono,2004).

29
Jika K adalah keliling lingkaran dan D adalah diameternya, maka

k
= .
d

Jadi, K = d.

Karena d = 2r, maka k = 2r

= 2r

Untuk setiap lliingkaran berlaku rumus berikut:

Keliling = d atau keliling = 2r

22
Dengand = diameter,r = jari-jari, dan =
7
atau 3,14

2. Luas Lingkaran.

Sugijono (2004) memaparkan beberapa langkah untuk

menentukkan rumus luas lingkaran, yaitu:

1) Buat lingkaran dengan panjang jari-jari 10 cm.

2) Bagilah lingkaran tersebut dalam dua bagian yang sama dengan cara

membuat diameter (garis tengah), dan berilah warna yang berbeda.

30
3) Bagilah lingkaran itu menjadi juring-juring dengan besar sudut pusat

masing-masing 300 .

4) Bagilah salah satu juring menjadi dua bagian yang sama.

5) Guntinglah lingkaran tersebut sesuai juring-juring yang terjadi.

6) Letakanlah potongan-potongan dari juring-juring tersebut secara

berdampingan seperti pada gambar di bawah ini:

Ternyata dari potongan-potongan juring yang diletakan secara

berdampingan membentuk banguna yang menyerupai persegi panjang.

Jika juring-juring lingkaranya mempunyai sudut pusat semakin kecil,

0
misalnya 15 , 100 , 5
0
, 4
0
dan seterusnya, maka bangun

yang terjadi sangat mendekati bentuk persegi panjang dengan panjang =

1
kali keliling lingkaran, dan lebar = jari-jari lingkaran, sehingga:
2

Luas lingkaran = luas persegi panjang yang terjadi

31
= panjang lebar

1
= keliling lingkaran jari-jari
2

1
= 2r
2

= r r

= r 2

Jadi, luas lingkara: r 2

Jika ditanya dalam diameternya, maka luas lingkaran adalah:

1 2 1
L = ( d , sebab r = d
2 2

1 2
= d
4

1 2
= d
4

Contoh:

32
Hitunglah luas lingkaran yang panjang jari-jarinya 7 cm, unntuk =

22
7

Jawab:

Dik: r = 7 cm

22
=
7

Dit: luas (L)?

L = r 2

22
= 77
7

= 154

Jadi luas lingkaran tersebut 154 cm 2

33
2.7 Kerangka Pikir

GURU

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATI TIPE NHT

SISWA

Dalam upaya meningkatkan hasil belajar matematika siswa untuk

matri statiska, maka LINGKARAN


seorang gur diharapkan agar dapat menggunakan

model pembelajaran yang tepat yang melibatkan para siswa secara aktif

dalam kegiatan belajar


HASILmengajar,
BELAJAR guna meningkatkan haril belajar

matematika sesuai dengan tujuan belajar yang telah ditetapkan.


Pada materi statistika terdapat sejumlah rumus yang cenderung

menyulitkan siswa.Siswa banyak menggunakan rumus yang salah

dalam penyelesaian soal tersebut.Salah satu penyebab terjadinya hal

seperti ini yaitu model pembelajaran yang diterapkan oleh guru yang

masih bersifat konvensional atau tidak melibatkan keaktifan

siswa.Melihat fenomena ini peneliti menghimbau agar model

pembelajaran kooperatif tipe NHT diterapkan dalam pelajaran

matematika untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

2.7 Hipotesis Penelitian

34
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap suatu masalah

dengan maksud sebagai suatu tuntutan sementara dalam penyelidikan

untuk memperoleh jawaban yang sebenarnya (Surakhmad,1978:38).

Hipotesis adalah suatu yang dianggap benar untuk alasan

mengutarakan pendapat, meskipun kebenarannya belum dibuktikan

(Poerwadarminta,1995:35).

Bertolak dari hipotesis di atas, maka dapat dikatakan bahwa

hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah

yang diidentifikasikan. Dugaan mungkin benar, mungkin salah. Dugaan

akan ditolak jika salah dan akan diterima jika faka-faktanya

membenarkan.

Jadi perumusan hipotesis dalam penelitian ini adalah penerapan

pembelajaran kooperatif lebih efektif dari pada pembelajaran

konvensional untuk pokok bahasan ligkaran pada siswa kelas VIII

SMPK WOLOWARU.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis jenis Penelitian

35
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen sedangkan

pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif.


B. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang

diperoleh dari tes hasil belajar siswa yang diperlihatkan dengan pre-test dan pro-

test.
C. Variabel Penelitian

1. Variabel predictor : (X) dalam penelitian ini adalah hasil pre-test siswa.

2. Variabel respon : (Y) dalam penelitian ini adalah perubahan yang terjadi

antara nilai-nilai pre-test dan pro-test.

3. Variabel konkomitan (pengiring) : skor pre-test siswa yang

harusdireduksi.

D. Populasi Dan Sampel

a. Populasi.
Populasi adalah satuan yang lengkap dari satuan-satuan atau

individu-individu yang karakteristiknya ingin kita ketahui.Yang menjadi

populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMPK

WOLOWARU.
b. Sampel.
Sampel adalah sebagian anggota populasi yang memberikan

keterangan atau data yang diperlukan dalam suatu penelitian. Yang

menjadi sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelasVIII SMPK

WOLOWARU yang dipilih satu kelas sebanyak 16 orang yang diambil

36
secara acak dan sebagai kelas eksperimen, yang diajarkan dengan

menggunakan pembelajaran kooperatif tipe NHT.


E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengmpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam

suatu penelitian, karena data akan dijadikan analisa guna mendapat suatu

kesimpulan dan memperoleh hasil penelitian yang sesuai.


a. Teknik Test
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik tes hasil belajar

soal berupa esay. Ada dua bentuk tes yang digunakan dalam

penelitian ini yakni :


1. Pre-test
Pre-test diberikan sebelum kegiatan belajar mengajar, dengan

tujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan awal siswa.

2. Post-test
Post-test diberikan setelah kegiatan belajar mengajar, dengan

tujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat penguasaan dan

pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan.


b. Teknik Dokumentasi
Teknik dokumentasi ini digunkan untuk melengkapi semua

tulisan dimana peneliti mengambil berbagai sumber buku atau

rekaman dan gambar yang mempunyai hubungan dengan obyek

yang diteliiti.
c. Teknik Observasi
Dalam hal ini peneliti melakukan pengamatan terhadap subyek

penelitian tentang proses kegiatan pembelajaran matematika dalam

kelas.
F. Prosedur Pengembangan Perangkat
1. Perangkat Pebelajaran
1) Rencana Pelaksanaan Lembelajaran

37
Rencana pelaksanaan pembelajaran merupakan panduan kegiatan

guru dalam kegiatan pembelajaran sekaligus uraian kegiatan siswa

yang berhubungan dengan kegiatan guru yang dimaksud.RPP ini

disusun berdasarkan indikator-indikator yang telah disusun mengacu

pada prinsip dan karakteristik pembelajaran, materi ajar, pendekatan

pembelajaran,sumber belajar,dan penilaian hasil belajar.


RPP yang disusun mencakup alokasi waktu 2 x 45 menit (khusus

SMP) untuk pertemuan (tatap muka). Berkaitan dengan RPP,lebih

lanjut,Slavin menyarankan agar dapat digunakan secara praktis oleh

guru dan dapat dengan mudah diobservasi.Rencana Pelaksanaan

pembelajaran (RPP) memuat tujuan isi atau materi

pembelajaran,pendekatan pembelajaran,kegiatan pembelajaran,daftar

pustaka dan penilaian.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran disusun

dengan baik,terurut dan didesain dengan baik.


2) Memvalidasi RPP.
RPP yang telah disusun divalidasi oleh guru kelas maupun dosen

pembimbing.
3) Membuat Lembar Kerja Siswa (LKS).
Perangkat pembelajaran menjadi pendukung buku dalam

pencapaian kompetensi belajar siswa adalah Lembar Kerja Siswa

(LKS).Lembar ini diperlukan guna mengarah proses belajar siswa, di

mana pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik, maka

dalam serangkaian langkah aktivitas siswa harus berkenaan dengan

tugas-tugas dan pembentukan konsep matematika. Dengan adanya

lembar kegiatan siswa ini maka partisipasi aktif peserta didik sangat

38
diharapkan, sehingga dapat memberikan kesempatan lebih luas

dalam proses konstruksi pengetahuan dalam dirinya.


Trianto(2007:73) menguraikan bahwa LKS adalah panduan siswa

untuk melakukan kegiatan penyelidikan atau pemecahan

masalah.Lembar kegiatan ini dapat berupa panduan untuk latihan

pengembangan semua aspek pembelajaran dalam bentuk panduan

eksperimen atau demonstrasi.Untuk menyusun perangkat

pembelajaran berupa LKS, Depdiknas (2008:23) menguraikan

rambu-rambunya bahwa LKS akan memuat paling tidak : judul,

kompetensi dasar yang akan dicapai,waktu penyelesaian peralatan

atau bahan yang diperluhkan untuk menyelesaikan tugas,informasi

singkat,langkah kerja,tugas yang harus dilakukan dan laporan yang

harus dikerjakan.
Langkah-langkah kegiatan LKS dijelaskan dalam Depdikbud

(2008:23-24) sebagai berikut:


1. Analisis kurikulum.
Analisis kurikulum ini dilakukan dengan memperhatikan materi

pokok,pengalaman belajar siswa dan kompetensi yang harus

dicapai siswa.
2. Menyusun peta kebutuhan LKS.
Peta kebutuhan LKS berguna untuk mengetahui jumlah

kebutuhan LKS dan urutan LKS.

3. Menentukan judu-judul LKS.


Judul LKS harus sesuaidengan KD,materi pokok dan

pengalaman belajar.
4. Penulisan LKS.

39
Langkah-langkahnya:
a) Perumusan KD yang harus dikuasai.
b) Menentukan alat penilaian.
c) Penyusunan materi dari berbagai sumber.
d) Memperhatikan struktur LKS yang meliputi :
1. Judul.
2. Petunjuk belajar.
3. Kompetensi yang akan dicapai.
4. Informasi pendukung.
5. Tujuan dan langkah-langkah kerja.
6. Penilaian.
4) Membuat Tes Hasil Belajar (THB).
Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat

dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing.

Namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman

pada kurikulum yang berlaku pada saat ini, antara lain bahwa suatu

proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dikatakan

berhasil apabila kompetensi dasar (KD-nya) yang dicapai.


Untuk mengetahui tercapai tidaknya KD, guru melakukan tes

setelah selesai menyajikan satu pokok bahasan kepada siswa. Fungsi

penilaian ini adalah memberikan umpan balik kepada guru dalam

rangka memperbaiki proses belajar mengajar dan melaksanakan

program berikutnya bagi siswa yang belum berhasil.


THB menurut (Trianto,2007:76) adalah butir tes yang digunakan

untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah mengikuti proses

pembelajaran, tes ini dibuat mengacu pada kompetensi dasar yang

ingin dicapai,dijabarkan kedalam indikator pencapaian hasil belajar

dan disusun berdasarkan kisi-kisi penulisan butir soal lengkap

40
dengan kunci jawabannya serta lembar observasi penilaian

psikomotor kinerja siswa.


5) Membuat Uji Coba untuk Melihat Validasi Perangkat Pembelajaran.
1. Uji coba.
Uji coba dilakukan untuk memperoleh masukan langsung dari

guru, siswa dan para pengamat (observer) terhadap perangkat

pembelajaran yang telah disusun.


a) Subjek uji coba.
Uji coba dilaksanakan di kelas VIII SMPK Wolowaru dengan

memilih salah satu kelas secara acak. Pemilihan secara acak ini

dilakukan karena berdasarkan informasi dari guru mata

pelajaran dan kepala sekolah,kelas paralel bersifat homogen.


b) Rancangan uji coba.
Rancangan uji coba yang digunakan adalah one group pre-test

and post-test design seperti pada tabel berikut ini :

Tabel Rancangan Uji Coba

Kelas Tes awal Perlakua Tes akhir

Uji coba T1 X T2

c) Instrumen pengumpulan data uji coba.


Instrumen yang digunakan untuk mengumpul data dalam uji

coba adalah lembar observasi, angket respon siswa dan THB.

Lembar observasi dan angket respon siswa yang digunakan

adalah hasil modifikasi instrument yang telah dikembangkan

41
oleh Elly Hastuti (dalam Gregorius,2009),sedangkan THB

dikembangkan sendiri oleh peneliti.


2. Teknik pengumpulan data uji coba.
Data hasil belajar dikumpulkan dengan memberikan instrument

THB sebelum dan sesudah pembelajaran kooperatif tipe NHT

untuk materi pokok lingkaran. Tes yang diberikan sebelum

pembelajaran sama dengan tes yang diberikan sesudah

pembelajaran. Data yang diperoleh dari tes hasil belajar dianalisis

untuk menentukan validitas, reliabilitas, dan sensitifitas.


a. Validitas butir soal.

Validitas item (butir soal) dihitung untuk mengetahui

seberapa jauh hubungan antara jawaban suatu butir soal

dengan skor total yang telah ditetapkan. Secara umum,suatu

butir soal dikatakan valid jika memiliki hubungan yang besar

terhadap skor total. Dengan kata lain sebuah item tes memiliki

validitas tinggi jika skor pada item itu mempunyai kesejajaran

dengan skor total. Kesejajaran ini dapat diartikan sebagai

korelasi, sehingga untuk mengetahui validitas item ini

digunakan rumus korelasi product moment berikut:

N xy ( x )( y )
r xy =
{ N x ( x ) }{N y ( y ) }
2 2 2 2

Dengan:
Y : skor total

42
r xy : koefisien korelasi antara skor butir dengan skor

total

N : banyaknya siswa yang mengikuti tes.

Nilai rxy diinterpretasikan sebagai berikut :

0,800 r xy 1,000 : Validitas butir tes sangat tinggi.

0,600 rxy 0,800 : Validitas butir tes tinggi.

0,400 rxy0,600 : Validitas butir tes cukup.

0,200 rxy0,400 : Validitas butir tes rendah.

0,000 rxy0,200 : Validitas butir sangat rendah.

Butir tes memenuhi kriteria valid pada penelitian ini jika

mempunyai validitas cukup,tinggi atau sangat tinggi.

Sedangkan jika butir tes yang memiliki validias rendah atau

sangat rendah akan direvisi.

b. Reliabilitas tes.
Grounlund (1985) menyatakan bahwa tes yang reliabel

adalah tes yang memberikan hasil tetap walaupun dilakukan

oleh orang lain, pada waktu dan di tempat yang berbeda.

Koefisien reliabilitas suatu tes bentuk uraian dapat ditaksir

dengan menggunakan rumus alpha sebagai berikut:

)[ 1
]
2
n
r 11 = ( ( n1 )
1
12

Dengan :

43
r 11 : koefisien bilitas pangkreliaat tes.

n : banyaknya item tes.

21 : jumlah varians skor setiap item tes.

2
1 : varians total.

Interpretasi koefisien reliabilitas pangkat tes ini

menggunakan kategori berikut ini:

0,800 rxy 1,000: Reliabilitas butir tes sangat tinggi.

0,600 rxy 0,800 : Reliabilitas butir tes tinggi.

0,400 rxy 0,600 : Reliabilitas butir tes cukup.

0,200 rxy0,400 : Reliabilitas butir tes rendah.

0,000 rxy 0,200 : Reliabilitas butir sangat rendah.

Dalam penelitian ini butir tes memenuhi kriteria reliable

jika mempunyai reliabilitas cukup, tinggi atau sangat tinggi.

c. Sensitivitas butir.
Sensitivitas tes dihitung untuk mengetahui efek

(pengaruh) disuatu pembelajaran.Indeks sensitvitas dari suatu

butir soal pada dasarnya merupakan ukuran seberapa butir soal

itu membedakan antara siswa yang telah menerima dengan

siswa yang belum menerima pembelajaran.


Untuk menentukan sensitivitas,butir soal yang digunakan

pada tes awal dan tes akhir adalah sama. Untuk menghitung

sensitifitas butir soal ini digunakan rumus sebagai berikut :

44
S=
Ses Seb
N ( Skor maxSkor min )

Dengan :
S: Indeks sensitivitas butir soal

N: Banyaknya obyek

Seb :Jumlah skor subjek sebelum berlangsungnya proses

Ses : Jumlah

skor subjek sesudah berlangsungnya proses

skor max :Skor maksimum yang dapat dicapai oleh subjek

pembelajaran.

skor min :Skor minimum yang dapat dicapai oleh subjek

pembelajaran.

Suatu butir soal dikatakan baik apabila sensitivitas butir

soal berada antara 0 dan 1 (Grounlund dalam Gregorius,2009)

dan butir soal dikategorikan peka terhadap pembelajaran jika

S 0,30 (Aiken dalam Gregorius,2009).

Pada penelitian ini instrumen tes dikatakan baik jika

memenuhi kriteria valid, reliabel,dan sensitif.

2. Prosedur Pelaksanaan Penelitian


Penelitian ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu : tahap persiapan, tahap

pelaksanaan, dan tahap analisis data.


a) Tahap persiapan.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah :
1) Mengembangkan perangkat pembelajaran.

45
2) Menganalisis data hasil uji coba perangkat pembelajaran dengan

tujuan merevisi perangkat tersebut.

b) Tahap pelaksanaan.
Kegiatan pada tahap ini adalah :
1) Memberikan pre-test (tes awal) pada siswa.
2) Melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe NHT
3) Memberikan post-test (tes akhir) pada kelas eksperimen.
4) Memberikan angket respon siswa kepada siswa kelas eksperimen.
c) Tahap analisis data.
Kegiatan pada tahap ini adalah menganalisis data yang diperoleh dari

tahap pelaksanaan dengan menggunakan kovarian.

3. Mengetahui keefektifan

Untuk mengetahui keefektifan dilakukan dengan:

1. Melakukan pre-test.

2. Perlakuan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran

kooperatif tipe NHT.

3. Melakukan post-test

G. Teknik Analisis Data


Untuk menjawab pertanyaan penelitian dan menguji hipotesis yang

diajukan, maka data yang diperoleh dianalisis dengan analisis deskriptif dan

analisis inferensial.

1. Analisis Deskriptif.

Data yang diolah dengan analisis deskriptif adalah data yang berkaitan

dengan pertanyaan penelitan, yaitu data ketuntasan belajar. Data yang

dianalisis untuk mendeskripsikan ketuntasan belajar adalah data post-test.

46
Setiap siswa dikatakan tuntas belajarnya (ketuntasan individu) jika skor

yang diperoleh siswa lebih dari atau sama dengan 65 % skor total.

Selanjutnya, suatu kelompok dikatakan tuntas (ketuntasan klasikal) jika

dalam kelompok tersebut terdapat lebih dari atau sama dengan 85 % siswa

tuntas belajarnya.
2. Analisis Statistik Inferensial.
Analisis statistik inferensial yang digunakan untuk menguji

hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap

(RAL) model tetap.

A. Analisis koovarians
Analisis kovarians dalam desain eksperimen merupakan perkawinan

antara analisis regresi dan analisis varians (Douglas, 2001:604)

Dengan model :

Yij i ij i 1, 2,K , k
j 1, 2,K , nk

Dengan :

Yij
: variabel yang akan dianalisis, dan diasumsikan berdistribusi

normal
: rata-rata umum atau rata-rata sebenarnya

i : efek perlakuan ke i

ij
: kekeliruan (galat) berupa efek acak yang berasal dari unit

eksperimen ke j karena perlakuan ke i.

47
Karena variabel respon Y berubah-ubah seiring dengan perubahan

variabel X, jadi X merupakan variabel konkomitan (variabel iringan)

untuk Y, sehingga antara variabel X dan Y ada suatu regresi yang dapat

ditulis dengan model :

Yij ( X ij X ) ij

Dengan:

: koefisien regresi Y atas X

X: rata-rata untuk variabel X

Dengan menggabungkan kedua model di atas diperoleh model untuk

analisis Kovarians (ANAKOVA) :

Yij ( X ij X ) i ij i 1, 2,K , k
j 1, 2,K , nk

Skema data untuk mencatat hasil pengamatan adalah

sebagai berikut:

Tabel 3.2

48
Tabel Skema Data untuk Hasil Pengamatan

Perlakuan
Jumlah
1 2 A

Data Hasil

Pengamatan

Jumlah

Pengamatan :

a ni
X 2 X ij2
i 1 j 1

a ni
Y Yij2
2

i 1 j 1

a ni
XY X ijYij
i 1 j 1

Total:

J X2 ..
TXX X 2 N dengan N ni

49
JY2 ..
TYY Y 2 N

J X .. J Y ..
TXY XY N

Perlakuan Kelompok :

J Xi2 . J X2 ..
PXX
ni N

J Yi2 . JY2..
PYY
ni N

J Xi2 . J Yi. J X .. J Y ..
PXY
ni N

Kekeliruan atau Galat :

E XX TXX PXX

EYY TYY PYY

E XY TXY PXY

Dengan menggunakan metode kuadrat terkecil diperoleh :

E XY
b
1) Koefisien regresi ditaksir oleh : E XX

JY ..
2) ditaksir oleh : N

J Yi. J J
b Xi. X ..
3) i ditaksir oleh : i
n ni N

Selanjutnya galat (atau kekeliruan) eksperimen untuk model adalah :

50
( E XY ) 2
J E EYY
E XX dengan derajat kebebasan ( N a 1 ) sehingga

JE
S E2
varians galat eksperimen ditaksir oleh : N a 1

(TXY ) 2
J 1E TYY
Jumlah kuadrat galat eksperimen adalah :
TXX

( J 1E J E
a 1
F
bila i = 0 sehingga diperoleh nilai
JE
N a 1

B. Pemeriksaan Residual

Salah satu hal penting dalam analisis regresi adalah pemeriksaan

residual, hal ini terkait dengan kelayakan model regresi. Asumsi -asumsi

residual dalam analisis regresi adalah asumsi IIDN yaitu residual identik,

independen dan berdistribusi Normal (0,2).

a. Uji Identik.

H 0 : 12 22 K n2 2

H1 : minimal ada satu i , i 1, 2,K , n


2 2

Keputusan menolak H0 jika nilai Fhitung > F;(m-1,n-m) artinya

terdapat minimal satu i2 yang tidak sama atau terjadi

heteroskedastisitas.

b. Uji Independen.

51
Untuk mengetahui korelasi antar residual apakah sama

dengan nol (tidak ada korelasi) atau tidak maka dilakukan pengujian

independensi residual. Korelasi antar residual dapat dideteksi

menggunakan uji Durbin Watson dengan menggunakan hipotesis

sebagai berikut:

H 0 : i=0 atau residual tidak berkorelasi

H 1 : i 0 residual berkorelasi

Interpretasi statistik Durbin-Watson diatas adalah :

1) Jika residual tidak berkorelasi maka d ~ 2.Jika residual

berkorelasi negatif maka d < 2 dan jika korelasinya sangat kuat

maka d ~ 0.

2) Jika residual berkorelasi positif d > 2 dan jika korelasinya sangat

kuat maka d ~ 4.

c. Uji normalitas

Salah satu asumsi residual yang penting dalam analisis regresi

adalah asumsi normal (0, 2). Jika residual tidak memenuhi asumsi

normal (0, 2), maka pengujian parameter baik secara simultan

maupun secara parsial menjadi tidak valid. Pada penelitian ini

pengujian kenormalan residual menggunakan uji Kolmogorov

Smirnov. Uji Kolmogorov Smirnov ini biasa disebut sebagai uji

52
kesesuaian model (goodness of fit-test) dengan hipotesis sebagai

berikut :

H0: Residual berdistribusi normal

H1: Residual tidak berdistribusi normal

Daerah penolakan H0 jika P-value < (5 %)

DAFTAR PUSTAKA

Anita, lie 2002, Cooperative Learning. Gramedia Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional. 2000. Pembelajaran Kontekstual.Jakarta: Depdiknas.

Poerwadarminta,W.J.S. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

53
Departemen Pendidikan Nasional.2000. Pembelajaran Kontekstual. Jakarta.

Depdiknas .

Ismail. 2002. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Direktorat Sekolah Lanjutan

Tingkat Pertama Dirjen Dikdasmen Depdiknas.

Ibrahim, M, dkk.2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri

Surabaya. Universyti Press.

Ibrahim. 2000. Http://search mywebsearch.com/my websearch/Ggmain, fhtm/? St =

hp&search for= pembelajaran kooperatif tipe nht&pthrs = 2 kman000ptb = HmHM

9t0MgsdSO hnxDwlQ&n = 77co9F4F, 29 Juni 2010.

Bird, jhon, 2004. Matematika Dasar (Teori dan Aplikasi Praktis Edisi Ketiga).

Jakarta: Erlangga

http://www.hayardin.com/2013/02/ pengertianrpp-berkarakter-eksplorasi- elaborasi-

konfirmasi.

http://Belajar Psikologi.com/macam-macam teori belajar.

Slavin. 1995. Cooperative Learning Theori And Practice. Boston: Allyn and Bacon

Sugijono, m. Colik a, 2004.Matematika Untuk SMP Kelas VIII. Jakarta: Erlangga

54
55
56