Anda di halaman 1dari 29

1.

Judul penelitian
Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas 1V Dalam Pembelajaran IPA Melalui Media

Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Di SDK Nabe Kecamatan Maukaro Kabupaten Ende
(Penelitian Tindakan Kelas Dengan Topik Struktur Daun Pada Tumbuhan )
2. Latar belakang

Sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermaksud membantu peserta didik

untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaanya. Potensi kemanusiaan

merupakan benih kemungkinan untuk menjadi manusia. Ibarat biji mangga bagaimanapun

wujudnya jika ditanam dengan baik, pasti menjadi pohon mangga dan bukannya pohon

jambu. Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, benar, dan

indah untuk kehidupan . Karena itu tujuan pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan

arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan suatu yang ingin di capai oleh

segenap kegiatan yang ingin di capai ( Tirtarahardja, sulo 2008 :37)

Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar yang dilakukan untuk membentuk

dan mengembangkan sumber daya yang berkualitas. Pengembangan sumber daya yang

berkualitas ini merupakan tujuan utama pendidikan.Pendidikan sangat diperlukan sehingga

dapat menghasilkan Sumber daya Manusia(SDM) berkemampuan dan berkemauan untuk

meningkatkan kualitasnya secara terus menerus dan berkesinambungan (continous quality

improvoment ). Hal ini penting sesuai dengan undang-undang no.20 tahun 2003, tentang

Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas)yang mengemukakan bahwa Pendidkan Nasional

bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan

bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa,berakhlak mulia,cakap,kreatif dan menjadi warga

negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam rangka mencerdaskan kehidupan

bangsa.Tujuan pendidikan tersebut telah di gariskan pula dalam GBHN.(sugiyono 2010 : 42)

Dalam menjawabi tujuan pendidikan tersebut,seorang pendidik wajib menciptakan suasana

pendidikan yang bermakna,menyenangkan,kreatif,dinamis, dan dialogis serta harus dapat

1
meningatkan mutu pendidikan.Untuk meningatkan mutu pendidikan dan pembelajaran maka

diperlukan pola pikir yang akan dijadikan sebagai landasan pelaksanaan program

pembelajaran.Paradigma baru pendidikan telah mengubah hakikat proses pembelajaran yang

berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa.Tugas guru hanya sebagai fasilitator dan

memotivasi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi lebih

bermakna dan menyenangkan.

Pada zaman sekarang ini, menuntut peningkatan kualitas individu. sehingga dimanapun

dia berada dapat di gunakan ( siap pakai) setiap saat. Hal ini tidak lepas dari peran pendidikan

dalam pembentukan tingkah laku individu. Di indonesia pendidikan terus di perhatikan dan di

tingkatkan dengan berbagai cara, diantaranya mengeluarkan sistem pendidikan nasional,

mengesahkan undang-undang kesejateraan guru dan dosen serta mengadakan perubahan

kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan zaman. (hamza,Nurdin 2013 :135)


Namun dalam kenyataannya, terobosan pemerintah tersebut belum sepenuhnya

berhasil, bahkan cenderung terkesan hanya teori saja. Padahal kalau di telaah, usaha yang di

lakukan pemerintah lebih dari cukup karena terarah proses dan mekanismenya. Munculnya

suatu masalah dalam sebuah aturan yang relah tersusun rapi, mungkin tidak dapat di hindari

walaupun hanya sekecil bakteri. Jika di analisis , usaha tersebut ternyata belum menekankan

pada penyelenggaraanya dan pelaksanaannya. Hal ini terjadi terlihat dari sebagian besar

peserta didik dalam proses pembelajaran belum memiliki motivasi belajar yang secara

optimal. Kurangnya motivasi belajar pada diri siswa sebagai peserta didik di sebabkan oleh

pembelajaran yang di sajikan selama ini cenderung tekstual saja.Winataputra (hamza dan

Nurdin, 2013:135)
Selain itu, sistem pembelajaran seperti ini agaknya terkominasi oleh sistem lama yang

lebih menekankan pada tingkat hafalan tinggi. Dengan demikian, siswa tidak memahami

dasar kualitiatif tentang fakta-fakta dalam materi serta tingkat pemahaman semakin

berkurang sehingga pada kenyataannya timbul kebosanan pada siswa.

2
Berdasarkan hasil pengamatan kegiatan belajar mengajar di SDK NABE kebanyakkan

guru menggunakan media pembelajaran sebagai sumber belajar salah satunya buku dalam

menjelaskan materi pelajaran guru jarang menggunakan media alat peraga dan buku

penunjang. Buku paket yang dimiliki pun telah banyak yang rusak, begitu pun buku paket

IPA, hampir seluruh lembarannya hilang. Karena tidak adanya buku penunjang, maka

contoh-contoh yang diberikan pada siswa diambil dari buku paket. Siswa kelas 4 menjadi

kesulitan memahami isi buku, siswa harus bergantian menggunakan buku tersebut. Terkadang

siswa harus berkelahi, siswa sering tidak mengerjakan pekerjaan rumah, serta tidak memiliki

keinginan untuk bertanya serta penggunaan metode ceramah dominan dalam pembelajaran ,

Akibatnya adalah siswa menjadi jenuh dan ketajaman berpikir siswa kurang dirangsang

sehingga pendalaman materi sebatas buku ajar dan buku pegangan guru.

Untuk mengatasi hal tersebut perlu diusahakan perbaikan dalam pembelajaran yang

lebih bermakna dengan mengaktifkan siswa. Jadi siswa tidak hanya sekedar menghafal tetapi

lebih memahaminya. Salah satu cara meningkatkan pemahaman konsep IPA disini adalah

melalui media lingkungan sebagai sumber belajar

Melihat kondisi seperti ini, maka perlu di adakan strategi baru yang memanfaatkan

lingkungan sekolah dalam proses pembelajaran, khusunya pada pelajaran IPA. Dengan

menggunakan pendekatan ini, pembelajaran lebih menyenangkan dan terkesan melekat pada

sisiwa di bandingan guru hanya bertindak sebagai penceramah. Penggunaan lingkungan

merupakan suatu terobosan baru unruk menghilangkan verbalisme dalam diri siswa serta

mampu mengaplikasi nilai-nilai sains yang terwujud pada kecintaan terhadap lingkungan dan

kesediaannya untuk menjaganya dari kerusakan. Di samping itu, siswa semakin termotivasi

untuk belajar sambil menikmati keindahan dan keunikan alam sekitar. Pendekatan ini pun

makin memperkuat hasil belajar siswa pada pembelajaran, khususnya pembelajaran IPA

3
karena mereka di hadapkan langsung dengan situasi yang konkret bahkan menjadi cambuk

tersendiri untuk mengamati, mengidentifikasi, bereksperimen dan membuat hipotesis.


Pada penelitian ini penulis lebih memusatkan perhatian pada faktor khususnya pada

media pembelajaran dengan pertimbangan bahwa media pembelajaran juga merupakan salah

satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar IPA siswa di sekolah. Pemanfaatan lingkungan

sebagai sumber belajar IPA ini digunakan oleh peneliti dengan harapan hasil belajar yang

diperoleh siswa akan semakin meningkat. Berdasarkan uraian dan pemikiran diatas maka

penulis mengadakan penelitian dengan judul Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik

Kelas V1 Dalam Pembelajaran Ipa Melalui Media Lingkungan Sebagai Sumber Belajar

Di SDK Nabe Kecamatan Maukaro Kabupaten Ende


(Penelitian Tindakan Kelas Dengan Topik Struktur daun pada Tumbuhan )

3. Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis dapat dirumuskan masalahnya sebagai

berikut :
1. Bagaimana penerapan media lingkungan sebagai sumber belajar pada mata

pelajaran IPA materi struktur akar pada tumbuhan kelas 1V SDK NABE?
2. Apakah hasil belajar siswa meningkat dengan menggunakan media lingkungan

sebagai sumber belajar ?

4. Tujuan Penelitian
Menjawabi permasalahan diatas maka tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk :
1. Untuk mengetahui penerapan media lingkungan sebagai sumber belajar pada

mata pelajaran IPA materi struktur akar pada tumbuhan kelas 1V SDK NABE
2. Untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa meningkat dengan menggunakan

media lingkungan sebagai sumber belajar ?

5. Manfaat penelitian

4
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
a. Manfaat teoritis
1. Hasil penelitian diharapkan dapat memberi pengalaman dan menambah wawsan

penelitian sehubung dengan tugasnya sebagai seorang calon guru yang terlibat

langsung dalam poses belajar mengajar khususnya masalah hasil belajar.


2. Hasil penelitian diharapkan dapat memberi informasi yang positif kepada

lembaga-lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta akan pentingnya

pengajaran IPA terhadap hasil belajar peserta didik.

b. Manfaat praktis
1. Bagi siswa
Meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada mata pelajaran IPA
2. Bagi guru
Memberikan alternatif metode pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar

yang sesuai dengan materi struktur bagian tumbuhan pada pelajaran IPA
3. Bagi sekolah
Memberikan kontribusi yang positif bagi peningkatan kualitas pembelajaran Ipa

disekolah dan dapat menumbuhkan suasana pembelajaran yang efektif, kondusif,

dan bermutu untuk meningkatkan kualitas pendidikan disekolah supaya lebih baik

lagi.
4. Bagi peneliti
Sebagai masukan buat peneliti khususnya sebagai calon guru atau dapat

digunakan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM), dan memperoleh

pengalaman Tentang penggunaan media lingkungan sebagai sumber belajar

dalam peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ipa.

6. Ferivikasi Konsep

5
Untuk menghindari terjadinya perbadaan persepsi tentang judul,maka peneliti

memberikan penjelasan tentang istilah yang terdapat pada judul proposal penelitian ini

seperti yang di jelaskan sebagai berikut :


1. Meningkatkan
Meningkatan adalah proses, perbuatan, cara meningkatkan usaha. (kamus bahasa

indonesia)
2. Hasil Belajar
Menurut Nana Sudjana( 2009: 12) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan

yang di miliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya


3. Media
Menurut djamarah,zain( 2010: 122) media adalah alat bantu dalam proses belajar

mengajar
4. Lingkungan
Menurut hamza,mohamad (2013:137) lingkungan adalah salah satu potensi yang di

ciptakan oleh Allah SWT untuk di gunakan sebagai pemenuhan kebutuhan manusia

dalam menjalani hidupdi dunia yang peluh di jaga kelestariannya.


5. Sumber Belajar
Sumber belajar adalah salah satu media untuk membantu guru memperkaya

wawasan guru.
6. Ilmu pengetahuan alam
IPA adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala alam, baik yang

menyangkut makhluk hidup maupun benda mati.

7. Kajian Pustaka
7.1 Hasil Belajar
7.1.1. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar dapat di jelaskan dengan memahami dua kata yang

membentuknya, yaitu hasil dan belajar. Pengertian hasil ( product ) menunjukan

pada suatu perolehan akibat di lakukannya suatu aktivitas atau proses yang

mengakibatkan berubahnya input secara fungsional sedangkan belajar di lakukan untuk

mengusahakan adanya perubahan perilaku pada individu yang belajar (Purwanto 2009 :

6
44-45). Dan hasil belajar juga berarti kemampuan-kemampuan yang di miliki siswa

setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Nana Sudjana 2009: 12). sedangkan

menurut Rusman (2012:123) Hasil belajar adalah sejumlah pengalaman yang di peroleh

siswa yang mencakup rana kognitif, afektif dan psikomotorik, Belajar tidak hanya

penguasaan konsep teori mata pelajaran saja, tetapi juga penguasaan kebiasaan,

persepsi, kesenangan, minat bakat, penyesuaian sosial, macam-macam ketrampilan,

cita-cita dan keinginan dan harapan. Hal itu senada dengan pendapat oemar hamalik

( 2002 :45) yang menyatakan bahwa hasil belajar itu dapat terlihat dari terjadinya

perubahan dari persepsi dan perilaku, termasuk juga perbaikan perilaku. Belajar

merupakan proses yang kompeks dan terjdinya perubahan tingkah laku pada saat proses

belajar di amati, pada perubahan perilaku siswa, Setelah di lakukan penilaian. Guru

harus dapat mengamati terjadinya perubahan tingkah laku tersebut setelah melakukan

penilaian. Hasil belajar seringkali digunakan sebagai ukuran untuk mrngetahui seberapa

jauh seseorang menguasai bahan yang di ajarkan. Tolak ukur keberhasilan siswa

biasanya berupa nilai yang di perolehnya. Nilai-nilai itu di peroleh siswa setelah

melakukan proses belajar dalam waktu tertentu dan selanjutnya mengikuti test akhir

kemudian dari test itulah guru menentukan prestesi belajar siswanya.Adapun menurut

purwanto ( 2009: 38) hasil belajar adalah proses dalam diri individu yang berinteraksi

dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan tingkah lakunya. Hasil belajar perluh

di evaluasi, evaluasi di maksud sebagai cermin untuk melihat kembali apakah tujuan

yang di tetapkan telah tercapai dan apakah proses belajar mengajar telah berlangsung

efektif untuk memperoleh hasil belajar.

7.1.2 Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar


Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Proses

penilaian hasil belajar siswa dapat memberi informasi pada guru tentang kemajuan

siswa mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Adapun faktor-

7
faktor yang mempengaruhi hasil belajar menurut munadi ( Rusman 2012 :124)

meliputi faktor eksternal dan internal yaitu :


a. Faktor internal
1. Faktor fisiologis
Secara umum kondisi fisiologis, seperti kondisi kesehatan yang prima,

tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat

jasmani, dan sebagainya. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi siswa

dalam menerima materi pelajaran.


2. Faktor psikologis
Stiap individu dalam hal ini siswa pada dasarnya memiliki kondisi

psikologis yang berbeda-beda, tentuh dalam hal ini mempengaruhi

hasil belajarnya. Beberapa faktor psikologis meliputi intelegensi ( IQ),

perhatian, minat, bakat, motif, motivasikognitif, dan daya nalar siswa

b. Faktor eksternal
1. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan dapat mempengaruhi hasil belajar, faktor ini

meliputi lingkungan fisik, dan lingkungan sosial, lingkungan alam

misalnya suhu, kelembapan dan lain-lain. Belajar pada tengah hari di

ruangan yang memiliki ventilasi udara yang kurang tentuhnya akan

berbeda suasana belajarnya dengan yang belajar di pagi hari yang

udaranya masih segar dan ruangan yang cukup mendukung untuk

bernafas lega.
2. Faktor instrumental
Faktor- faktor instrumental adalh faktor yang keberadaan dan

penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang di

harapkan. Faktor ini di harapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk

tercapainya tujuan belajar yag telah di rencanakan. Faktor- faktor

instumental ini berupa kurikulum, sarana, dan guru.

7.2 Peserta Didik


7.2.1 Pengertian Peserta Didik

8
Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung

menyebutkan demikian oleh karena peserta didik ( tanpa pandang usia ) adalah subjek atau

pribadi yang otonom, yang ingin di akui keberadaannya. Selaku pribadi yang memiliki ciri

khasdan otonom, ia ingin mengembangkan diri ( mendidik diri) secara terus menerus guna

memecahkan masalah- masalah hidup yang di jumpai sepanjang hidupya. ( Tirtaharadja, Sulo

2008:52)

7.2.2 Ciri Khas Peserta Didik


Menurut Tirtarahardja, Sulo( 2008 : 52) ada beberapa ciri khas yang perluh di pahami oleh

pendidik yaitu :
a. Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga

merupakan insan yang unik dalam arti anak yang sejak lahir telah memiliki

potensi-potensi yang ingin di kembangkan dan diaktulisasikan. Untuk

mengaktualisasikan membutuhkan bantuan dan bimbingan.


b. Individu yang sedang berkembang, dalam arti perubahan yang terjadi dalam

diri peserta didik secara wajar, baik di tujukan kepada diri sendiri maupun

kearah penyesuaian dengan lingkungnnya.


c. Individu yang membutuhkan bimbingan inidividual dan perlakuan manusiawi.

Dalam arti dalam proses perkembangannya peserta didik membutuhkan

bantuan dan bimbingan.


d. Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri dalam arti dalam

perkembangan peserta didik ia mempunyai kemampuan untuk berkembang ke

arah kedewasaan.

7.3 Pembelajaran IPA


7.3.1 Pengertian IPA
IPA adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala alam, baik yang

menyangkut makhluk hidup maupun benda mati. Pendidikan IPA diarahkan untuk

inkuiri dan berbuat sehingga dapamembantu peserta didik untuk memperoleh

pengalaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar (Mulyasa,2011: 110). Pada

prinsipnya, IPA diajarkan untuk membekali siswa agar mempunyai pengetahuan

9
(mengetahui berbagai cara) dan keterampilan (cara mengerjakan) yang dapat membantu

siswa untuk memahami gejala alam. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana

bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar serta prospek

pengembangan lebih lanjut dalam menerapkan didalam kehidupan sehari-hari. IPA

diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui

pemecahan masalah yang dapat diidentifikasikan. Pembelajaran IPA yang ada pada

jenjang pendidikan sekolah dasar hanya menekankan dari segi praktis.

7.3.2 Pembelajaran IPA di SD


Pembelajaran IPA di SD menekankan pemberian pengalaman belajar langsung

melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap

ilmiah.Pendidikan IPA di sekolah dasar bertujuan agar peserta didik menguasai

pengetahuan, fakta, konsep, prinsip, proses penemuan, serta memiliki alam

sekitar.Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk

mencari tahu dan berbuat sehingga mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar

secara alamiah.Pengembangan pembelajaran IPA yang menarik, menyenangkan, layak,

sesuai konteks, serta didukung oleh ketersediaan waktu, keahlian, sarana dan prasarana

merupakan kegiatan yang tidak mudah untuk dilaksanakan.Seorang guru dituntut

memiliki kemampuan dan dan kreativitas yang cukup agar pembelajaran dapat

terselenggarakan secara efektif dan efisien.


Ruang lingkup kurikulum IPA SD mencakup kerja ilmiah serta pamahaman konsep IPA

dan penerapannya.Berdasarkan kurikulum 2004,IPA seharusnya dibelajarkan secara

inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah

serta berkomunikasi sebagai salah satu aspek penting kecakapan hidup.

7.3.3 Tujuan Pembelajaran IPA

10
Salah satu pembelajaran IPA adalah agar peserta didik memahami konsep-konsep IPA

dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari.

Syahrial A; dkk (2008 :5-6), mengemukakan tujuan pembelajaran IPA di SD/ MI yaitu:

a. Memperoleh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasar keberadaan,

keindahan, dan keteraturan alam pencipta-Nya.


b. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang

bermanfat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


c. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran tentang adanya

hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan

masyarakat.
d. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar,

memecahkan masalah, dan membuat keputusan.


e. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan

melestarikan lingkungan alam.


f. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya

sebagai salah satu ciptaan Tuhan.


g. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk

melanjutkan pendidikan ke SMP/MTS.


Menurut Prihantoro Laksmi (Trianto, 2008:69), sebagai alat pendidikan yang berguna

untuk mencapai tujuan pendidikan, maka pendidikan IPA di sekolah mempunyai

tujuan-tujuan tertentu sebagai berikut:


1) Memberikan pengetahuan kepada peserta didik tentang dunia tempat hidup dan

bagaimana bersikap.
2) Menanamkan sikap hidup ilmiah.
3) Memberikan keterampilan untuk melakukan pengamatan.
4) Mendidik peserta didik untuk mengenal, mengetahui cara kerja serta menghargai

para ilmuwan penemunya


5) Menggunakan dan menerapkan metode ilmiah dalam memecahkan masalah.

7.3.4 Prinsip-Prinsip Pembelajaran IPA

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), disebutkan bahwa prinsip

dasar pembelajaran IPA di Sekolah Dasar menekankan pada pemberian pengalaman

11
langsung untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan

memahami alam sekitar secara ilmiah (Syharial.A,dkk,2008:9). Ini berarti pembelajaran

IPA di Sekolah Dasar diarahkan untuk menumbuhkan keingintahuan peserta didik

dengan memberikan pengalaman belajar sehingga dapat membantu peserta didik

memperoleh pemahaman yang lebih mendalam agar dapat merancang dan membuat

suatu karya sederhana dan kompetensi bekerja secara ilmiah.

Syahrial A, dkk ( 2008:9-10 ), menerapkan beberapa prinsip IPA di Sekolah Dasar

sebagai berikut:

a. Prinsip Inkuiri
Pada dasarnya peserta didik memiliki rasa ingin tahu yang besar akan sesuatu. Hal

ini dapat digunakan oleh guru dalam merancang proses pembelajaran dengan

memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi tersebut maka peserta

didik merasa senang dan proses pembelajaran tidak membosankan.


b. Prinsip konstuksivisme
Pada hakikatnya peserta didik telah memiliki pengetahuan awal dari apa yang

dilihat, didengar, dirasakan dan dialami. Dengan demikian dalam proses

pembelajaran guru perlu mengetahui pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman

apa yang telah dimiliki peserta didik sehingga dalam proses pembelajaran guru

tidak memindahkan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi peserta didik

membangun sendiri pengetahuan tersebut dengan mengaitkan dengan pengetahuan

awal yang dimiliki.


c. Prinsip Salingtemas (Sains,Lingkungan, teknologi dan masyrakat)
E.M. Hidayat (Sumaji 1998:33) mengatakan pada tahun 1980-an di Amerika

Serikat dikembangkan pendidikan IPA melalui pendekataan Science Technology

Society (STS) , yang dibiayai oleh NSF (the National Science Foundation) dan

didukung oleh persatuan Guru-Guru IPA (the National Science Teacher

Association). Gerakan STS ini didorong oleh rasa ingin tahu untuk mempelajari

IPA melalui isu-isu sosial di masyarakat yang berkaitan dengan IPTEK yang

12
dirasakan lebih dekat, lebih nyata dan lebih punya makna jika dibandingkan

dengan konsep-konsep dan teori-teori IPA itu sendiri.


d. Prinsip pemecahan masalah
Pada dasarnya dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berhadapan dengan

masalah, begitu juga peserta didik dalam proses pembelajaran. Salah satu tolak

ukur kecerdasan peserta didik banyak ditentukann oleh kemampuan memecahkan

suatu masalah
e. Prinsip pembelajaran bermuatan nilai
Masyarakat dan lingkungan sekitar peserta didik memiliki nilai-nilai yang

terpelihara dan perlu dihargai. Pembelajaran IPA hendaknya dilakukan secara

bijaksana agar tidak berdampak buruk pada lingkungan atau bertentangan dengan

nilai-nlai yang ada di masyarakat.


f. Prinsip PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan) prinsip

ini berorentasi pada keaktifan peserta didik untuk melakukan kegiatan baik

kegiatan yang bersifat motorik maupun kognitif.

7.3.5 Strategi Pembelajaran IPA

Strategi apapun yang digunakan guru dalam proses pembelajaran IPA di SD harus

menempatkan peserta didik sebagai pusat belajar. Proses belajar mengajar harus

merubah pola mengajar menjadi belajar. Dalam pembelajaran IPA, siswa dituntut untuk

berpikir sistematis, obyektif, dan kreatif melalui keterampilan proses dan pemecahan

masalah serta meningkatkan pengalaman belajar peserta didik untuk mencapai tujuan

pembelajaran IPA. Tujuan ini tidak terlepas dari hakikat IPA sebagai produk, proses,

dan sikap ilmiah.

Yager (Rohadi, 1998:123-124), memberikan petunjuk kepada guru dalam

mengembangkan pembelajaran yang lebih diutamakan untuk membantu peserta didik

dalam proses membangun pengetahuan, sebagai berikut :


a. Mintalah anak untuk bertanya, serta gunakan pertanyaan dan ide anak untuk

memulai pertanyaan.

13
b. Berilah kesempatan dan dorongan anak untuk mengemukakan ide-idenya secara

bebas.
c. Tingkatkan kepemimpinan anak, kerjasama, penelusuran informasi, dan melakukan

kegiatan atau tindakan sebagai hasil dari proses belajarnya. Pergunakan pemikiran,

pengalaman, dan minat anak sebagai alternatif pengembangan pembelajaran.


d. Doronglah anak untuk menggunakan sumber informasi lain.
e. Gunakan pertanyaan terbuka dan doronglah anak untuk mengelaborasi pertanyaan

dan respon yang disampaikan.


f. Doronglah anak untuk mencari penyebab suatu kejadian.
g. Doronglah anak untuk menguji ide mereka.
h. Mintalah pendapat atau gagasan anak sebelum guru memaparkan idenya atau

sebelum menjelaskan konsep atau ide yang bersumber pada buku paket.
i. Doronglah anak untuk mengevaluasi konsep atau ide yang dilontarkan oleh

temannya.
Pergunakan belajar kelompok yang memungkinkan terjadinya proses saling menghargai

dan kerjasama.

7.4 Media Lingkungan Sebagai Sumber Belajar


7.4.1 Media Sebagai Sumber Belajar
Media adalah alat bantu dalam proses balajar mengajar (djamara,zain 2010 :

122). Media pendidikan sebagai salah satu sumber belajar ikut membantu guru

memperkaya wawasan anak didik . Media pengajaran dapat di artikan sebagai segala

sesuatu yang dapat di gunakan untuk menyalurkan pesan atau isi pelajaran,

merangsang pikiran, perasaan dan kemampuan siswa, sehingga dapat mendorong

proses belajar mengajar. ( ibrahim dan nana syaodih 2010:112). Aneka macam bentuk

dan jenis media pendidikan yang digunakan oleh guru menjadi sumber imu

pengetahuan bagi anak didik. Dalam menerangkan suatu benda, guru dapat membawa

bendanya secara langsung kehadapan anak didik di kelas. Dengan menghadirkan

bendanya seiring dengan penjelasan mengenai benda itu, maka benda itu di jadikan

sebagai sumber belajar.

14
7.4.2 Pengertian Lingkungan
Dalam kamus umum bahasa indonenesia ( KUBI) lingkungan di artikan sebagai

bulatan yang melingkungi ( melingkari). Menurut hamza,mohamad (2013:137)

lingkungan adalah salah satu potensi yang di ciptakan oleh Allah SWT untuk di

gunakan sebagai pemenuhan kebutuhan manusia dalam menjalani hidup di dunia yang

peluh di jaga kelestariannya. Hamalik (2013 : 195) lingkungan adalah sesuatu yang ada

di alam sekitar yang memiliki makna dan / atau pengaruh tertentu kepada individu.
Lingkungan merupakan kesatuan ruang dengan semua benda dan keadaan

makluk hidup termaksud di dalamnya manusia dan perilakunya serta makluk hidup

lainnya,

7.1.3 Kelebihan Konsep Pembelajaran Dengan Menggunakan Lingkungan


Konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan memiliki beberapa kelebihan,

antara lain sebagai berikut ( hamzah, mohamad 2013: 146):


1. Peserta didik di bawah langsung ke duniaang konkret tentang penanaman

konsep pembelajaran,sehingga peserta didik tidak hanya bisa untuk

mengkhayalkan materi.
2. Lingkungan dapat di gunakan setiap saat,kapanpun dan dimanapun sehingga

tersediah setiap saat, tetapi tergantung dari materi yang sedang di ajarkan.
3. Konsep pembelajaran dengan menggunakan lingkungan tidak membutuhkan

biaya karena telah di sediakan oleh alam lingkungan.


4. Muda untuk dicerna oleh peserta didik karena peserta didikdi sajikan materi

yang sifatnya konkret bukan abstrak.


5. Motivasi peserta didik akan lebih bertambah karena peserta didik karena peserta

didik mengalami suasana belajar yang berbeda dari biasanya.


6. Suasana yang nyaman memungkinkan peserta didik tidak mengalami kejenuhan

ketika menerima materi.


7. Memudahkan untuk mengontrol kebiasaan buruk dari sebagian peserta didik.
8. Membuka peluang kepada peserta didik untuk berimajinasi.
9. Konsep pembelajaran yang di laksanakan tidak akan terkesan menonoton.
10. Peserta didik akan lebih leluasa dalam berpikir dan cenderung untk memikirkan

materi yang di ajarkan telah tersaji di depan mata ( konkret).

15
Dari beberapa kelebihan di atas, maka dapat di simpulkan bahwa konsep pembelajaran

dengan menggunakan lingkungan memberiakn peluang yang sangat besar kepada

peserta didik untuk meningkatkan hasil belajarnya, dan secara umum konsep

pembelajaran dengan menggunakan lingkungan dapat meningkatkan motivasi dan

hasil belajar peserta didik.

7.4.3 Kekurangan Konsep Pembelajaran Dengan Menggunakan Lingkungan.


Dalam pelaksanaannya adapun kelemahan pada teknis pengaturan waktu dan kegiatan

pembelajaran, (sudjana, rivai 2011: 209) antara lain :


1. Kegiatan belajar kurang di persiapkan sebelumnya yang menyebabkan pada waktu

siswa dibawa ketujuan tidak melakukan kegiatan belajar yang di harapkan sehingga

ada kesan main-main


2. Ada kesan dari guru dan siswa bahwa kegiatan mempelajari lingkungan

memerluhkan waktu yang sangat lama, sehingga menghabiskan waktu untuk belajar

di kelas.
3. Sempitnya pandangan guru bahwa kegiatan belajar hanya terjadi di dalam kelas.
7.4.4 Langkah Dan Prosedur Penggunaan Lingkungan Sebagai Media Belajar
Adapun beberapa langkah yang harus di tempuh dalam mrnggunakan lingkungan

sebagai media dan sumber belajar, yakni langkah persiapan, pelaksanaan, dan tindak

lanjut.( sudjana, rivai 2011: 215 )Antara lain :


Adapun beberapa prosedur yang harus di tempuh pada langkah persiapan ini, antara

lain:
1) Dalam hubungan dengan pembahasan bidang studi tertentu, guru dan siswa

menentukan tujuan belajar yang di harapakan di peroleh para siswa berkaitan

dengan lingkungan sebagai media belajar dan sumber belajar.


2) Tentuhkan objek yang harus di pelajari dan dikunjungi.
3) Menentuhkan cara belajar siswa pada saat kunjunga di lakukan, misalkan mencatat

apa yang terjadi, mengamati suatu proses, bertanya atau wawancara dengan petugas

dan apa yang harus di tanyakannya, melukiskan atau menggambarkan situasi baik

berupa peta,skets dan lain-lain, kalau mungkin mencobanya dan kegiatan lain yang

16
di anggap perlu. Di samping itu ada baiknya siswa di bagi dalam kelompok dan

setiap kelompok di beri tugas khusus dalam belajarnya.


4) Guru dan siswa mempersiapkan perizinan jika di perlukan.
5) Persiapan teknis yang di perlukan untuk kegiatan belajar.
Langkah pelaksanan
Pada langkah ini adalah melakukan kegiatan belajar di tempat tujuan sesuai

dengan rencana yang telah di persiapkan. Biasanya kegiatan belajar diawali dengan

penjelasan petugas mengenai objek yang dikunjungi sesuai dengan permintaan yang

telah disiapkan sebelumnya. Dalam penjelasan tersebut, para siswa bisa mengajukan

beberapa pertanyaan melalui kelompoknya masing-masing supaya waktunya bisa lebih

hemat. Catatlah semua informasi yang diperoleh dari penjelasan tersebut. Setelah

informasi diberikan oleh petugas melihat dan mengamati objek yang dipelajari. Dalam

proses ini petugas memberi penjelasan berkenaan dengan sara kerja atau proses kerja,

mekanismenya atau hal lain sesuai dengan objek yang dipelajarinya. Siswa bisa

bertanya atau juga mempraktekan jika dimungkinkan serta mencatatnya. Berikutnya

para siswa dalam kelompoknya mendiskusikan hasil-hasil belajarnya, untuk lebih

melengkapi dan memahami materi yang dipelajarinya.


Akhir kunjungan dengan ucapan terima kasih kepada petugas dan pimpinan objek

tersebut. Apabila objek kunjungan sifatnya bebas dan tak perlu ada petugas yang

mendampinginya, seperti kemah, mempelajari lingkungan sosial, dan lain-lain, para

siswa langsung mempelajari objek studi mencatat dan mengamatinya atau mengadakan

wawancara dengan siapa saja yang menguasai persoalan.


Tindak lanjut
Tindak lanjut dari kegiatan belajar di atas adalah belajar di kelas untuk

membahas dan mendiskusikan hasil belajar dari lingkungan. Setiap kelompok diminta

melaporkan hasil-hasilnya untuk dibahas bersama.


Guru dapat meminta kesan-kesan yang diperoleh siswa dari kegiatan belajar tersebut, di

samping menyimpulkan materi yang diperoleh dan dihubungkan dengan bahan

pengajaran bidang studinya. Dilain pihak guru juga memberikan penilaian terhadap

17
kegiatan belajar siswa dan hasil-hasil yang dicapainya. Tugas lanjutan dari kegiatan

belajar tersebut dapat diberikan sebagai pekerjaan rumah, misalnya menyusun laporan

yang lebih lengkap, membuat pertanyaan-pertanyaan berkenan dengan kesan-kesan

yang diperoleh siswa dari kegiatan belajarnya.

7.4 Struktur Daun


Daun tumbuh di batang dan tidak terdapat pada akar. Daun amat erat hubungannya

dengan batang dan dianggap sambungan dari batang.

1. Bagian bagian daun


Daun di bedakan atas dua macam, yaitu daun lengkap dan daun tidak lengkap. Daun di

katakan lengkap jika terdiri atas tiga bagian, yaitu pelepah, tangkai, dan helaian daun.

Contohnya tumbuhan yang memiliki daun lengkap adalah pisang. Daun tanaman pisang

terdiri atas bagian pelepah, tangkai dan helaian daun. Daun tidak lengkap adalah daun daun

yang hanya tersusun atas 1-2 bagian saja. Contoh tumbuhan yang memiliki daun tidak

lengkap adalah mangga. Daun pohon mangga hanya terdiri atas bagian tangkai dan helaian

daun saja.

18
2. Jenis jenis daun

dan klasifikasinya
Pada umumnya bagian daun yang paling kelihatan adalah helaian daun. Bentuk

helaian daun di pengaruhi oleh susunan tulang daun.berdasarkan bentuknya, tulang

daun terdiri dari tulang menyirip, tulang daun menjari, tulang daun sejajar dan tulang

daun melengkung. Tulang daun menyirip dapat di jumpai pada daun mangga,

jambu,nangka. Tulang daunmenjari banyak di jumpai pada daun singkong.pepaya,

dan ilalang. Berbagai jenis rerumputan memiliki daun lengan tulang daun bentuk

menjari. Seperti tebu, jagung, dan padi.tulang daun melengkung dapatvkta jumpai

pada daun tumbuhan sirih dan genjer.


Berdasarkan jumlah helai daun, daun di kelompokan menjadi dua yaitu daun tunggal

dan daun majemuk. Daun tunggal adalah daun yang memiliki saru helai daun pada

setiap tangkainya, contohnya daun mangga. Daun majemuk adalah daun yang

memiliki beberapa helai daun pada setiap tangkainya, contohnya daun putri malu
3. Fungsi daun
Daun berfungsi :
1. Untuk fotosintesis
2. Penguapan air
3. Pengeluaran air berupa tetesan air
4. Pertukaran oksigen dan karbondioksida( alat pernafasan pada tumbuhan)

8. METODOLOGI PENELITIAN

Dalam penelitian di butuhkan sebuah metode untuk mempermudah peneliti dalam

mengadakan sebuah penelitian. Dengan penelitian yang benar, maka hasil

19
penelitian dapat di pertanggung jawaban. Pada bagian ini akan di jelaskan beberapa hal

yang berkaitan dengan metode penelitian.

8.1 Jenis Dan Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan untuk

meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas 1V pada materi struktur daun pada bagian

tumbuhan tahun ajaran 2014/2015. Penelitian tindakan kelas (PTK) ini menggunakan

model Kemmis dan Mc.Taggart, dimana pada setiap siklusnya terdiri dari empat

komponen, yaitu perencanaan, tindakan, observasi/pengamatan dan refleksi (Kusumah

dan Dwitagama, 2012:21)

8.2 Subjek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah siswa pada SD Nabe kecamatan Maukaro dimana

jumlah siswa perempuan 9 dan siswa laki-laki 8 dan siswa sebagai informan utama dan

guru sebagai informan pelengkap. guru dipakai sebagai informan pelengkap karena

peneliti ingin memperoleh informasi tentang penggunaan media lingkungan sebagai

media belajar. Sedangkan siswa bertindak sebagai sasaran utama/ responden dalam

memperoleh data tentang pelaksanaan pembelajaran dan kesulitan-kesulitannya

8.3 Instrumen Penelitian


1. Wawancara
Pedoman wawancara yang disiapkan digunakan untuk melakukan dialog secara

langsung kepada subyek peneliti yang telah ditentukan.wawancara dilakukan

20
berulang-ulang untuk mendapatkan kepastian jawaban yang sama. Jika jawabannya

berubah-ubah maka perlu dilakukan lagi.

2. Observasi
Sutrisno Hadi (Sugiyono 2010: 203) mengemukakan bahwa observasi

merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai

proses biologis dan psikologis.dua di antaranya yang terpenting adalah proses- proses

pengamatan dan dan ingatan. Teknik pengumpulan data sengan observasi di gunakan

bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam

dan bila responden yang di amati tidak terlalu besar.

3. Dokumentasi

Koentjaraningrat (1977 : 215 ) menyatakan bahwa metode dokumentasi adalah

cara yang digunakan untuk mengumpulkan data seperti naskah-naskah,

tulisan,dokumentasi,gambar-gambar,dan lain sebagainya. Teknik dokumentasi dalam

penelitian ini untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan letak sekolah, data

peserta didik, struktur organisasi sekolah, data tulisan, tingkat pendidikan guru, dan

lain-lain.

8.4 Prosedur Penelitian


Berdasarkan jenis penelitian model kemmis dan Mc Tanggart maka prosedur penelitian

meliputi empat komponen yaitu: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi,dan

refleksi.

Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar dibawah ini

21
Gambar I
Model Kemis dan Mc Taggart
Pada gambar diatas, tampak bahwa di dalamnya terdiri dari dua perangkat komponen

yang dapat dikatakan sebagai dua siklus. Untuk pelaksanaan sesungguhnya, jumlah

siklus sangat bergantung pada permasalahan yang perlu diselesaikan (Kusumah dan

Dwita Gama, 2012:21).

Siklus 1
1. Perencanaan
Dalam perencanaan tindakan penelitian ini di rancang dengan langkah-langka

sebagai berikut :
a. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP) dengan materi pokok

struktur daun pada tumbuhan


b. Menyiapkan bahan ajar dan lingkungan sebagai sumber belajar sesuai dengan

materi pelajaran.
c. Mendesain alat evaluasi untuk melihat kemampuan siswa dalam

menyelesaikan soal-soal berdasarkan materi yang di berikan.


d. Membuat lembar observasi untuk mengamati segala yang terjadi dalam proses

pembelajaran di kelas.
2. Pelaksanaan tindakan
Pada tahap implementasi pelaksanaan tindakan ini yang di kembangkan adalah

skenario pembelajaran yang terdiri atas beberapa kegiatan pembelajaran.:


a) Kegiatan awal 15 menit
1. Salam
2. Doa
3. Mengisi daftar hadir
4. Apersepsi
5. motivasi
b) Kegiatan inti 75 menit
1. Eksplorasi

22
2. Elaborasi
3. konfirmasi
c) kegiatan penutup 15 menit
Guru bersama siswa membuat kesimpulan materi pembelajaran.

Observasi
Tahap kegiatan observasi di lakukan bersamaan dengan pelaksanaan

tindakan penelitian, untuk itu perluh di kembangkan penggunaan

sistem lembaran pengamatan ( intrument) terhadap hasil observasi

tindakan.
Kegiatan observasi akan di lakukan dengan cara merekam / mencatat

semua kegiatan siswa dan guru yang sedang melaksanakan proses

pembelajaran antara lain :


a. Kesiapan guru dalam melaksanakan materi pembelajaran
b. Penggunaan metode yang tepat
c. Kehadiran siswa dalam mengukuti proses pelajaran
d. Kesiapan siswa dalam menerima pelajaran
e. Memberikan respon terhadap media pembelajaran ( tanya jawab)
f. Jumlah keterlambatan siswa
g. Kemampuan siswa dalam hal kerja sama antar sesama siswa dalam

mengikuti pelajaran
h. Kemampuan guru dan siswa dalam menciptkan suasana belajar yang

tenang dan menyenangkan

Refleksi
Hasil yang di peroleh dari tahap observasi akan di kumpulkan dan di

analisis untuk megorekasi kesalahan untuk di perbaiki pada sisklus

berikutnya.

Siklus 2
a. Perencanaan tindakan
Pada tahap ini peneliti melakukan :
1. Menyusun RPP berdasarkan hasil refleksi siklus 1
2. Menyiapkan instrumen, yaitu instrumen pembelajaran guru dan siswa,
3. Menyiapkan sumber belajar berupa lingkungan mengamati beberapa jenis

daun
4. Menyiapkan lembar LKS dan lembaran pengamatan.
.

23
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan pembelajaran dalam siklus ke 2, peneliti melakukan implemetasi RPP

yang telah di perbaiki berdasarkan hasil refelksi siklus 1


1. Guru melakukan apersepsi, motivasi untuk mengarahkan siswa memasuki KD

yang akan dibahas.


2. Menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
3. Menjelaskan materi pelajaran hari itu dengan menjelaskan langkah mengamati

struktur bagian tumbuhan ( daun pada tumbuhan ).


4. Masing-masing kelompok bekerja dengan sumber belajar yang sudah

disiapkan oleh guru yaitu mengamati tumbuhan yang ada di lingkungan

sekolah sebagai media sumber belajar.


5. Guru memotivasi siswa untuk berpartisipasi bekerja dengan kelompok

kerjanya dan menuliskan hasil kerjanya pada lembaran yang sudah tersedia
6. Siswa harus menunjukan apa yang mereka dapat di depan kelompok lain.
7. Guru melihat hasil kerja sambil memberi penghargaan pada masing-masing

kelompok.
8. Guru memberikan penghargaan pada kelompok yang terbaik hasilnya.
9. Guru mendiskusikan kembali dengan seluruh siswa dan memberi penguatan

serta kesimpulan.
10. Guru mengadakan tes/ulangan.

c. Observasi
Membuat lembar observasi yang di lakukan oleh guru mata pelajaran untuk

memberi penilaian terhadap peneliti


d. Refleksi
1. Pada siklus ke-2 terjadi kemajuan yang signifikan, kelancaran mengemukakan

pendapat, kemampuan menghimpun hasil pengamatan, dan presentase sangat

baik.
2. Ketelitian dalam menuliskan hasil pengamatan pada saat dilaporkan sangat

baik dan menarik.


3. Dari siklus ke-2 dapat disimpulkan bahwa siswa mencapai lebih dari 90%

dalam proses belajar mengajar sehingga kegiatan tidak dilanjutkan pada siklus

berikutnya.

24
8.5 Pengolahan dan analisa data
Dalam penelitian ini, data di amalisis dengan menggunakan analisis deskritif

kualitatif karena data yang di kumpulkan berupa pendapat dari observasi dan

wawancara. Sedangkan analisis deskritif kuantitatif sebagai pendukung data yang di

kumpulkan berupa angka yang di dapat dari hasil belajar siswa melalui test.
1. Analisis Tes
Untuk menganalisis hasil tes yang diberikan kepada siswa dapat digunakan analisis

hasil belajar siswa untuk mengetahui hasil belajar siswa sebelum dan setelah diberi

perlakuan. Hasil tes dianalisis dengan menggunakan tingkat ketuntasan individual dan

klasikal. Siswa dikatakan tuntas belajar bila memperoleh skor 60 % atau nilai 6,0 dari

semua indikator hasil belajar yang dipelajari. Kelas dikatakan tuntas belajar bila jumlah

siswa berhasil tuntas di kelas tersebut sekurang-kurangnya 75% dari seluruh siswa

dalam kelas. Penentuan Ketuntasan Belajar Individu atau siswa (KBI) di analisis

dengan menggunakan rumus : Nilai Ketuntasan Individu di hitung dengan rumus :


jumla h skor yang diperole h
KBI= 100
skor maksimum

Untuk mengukur Ketuntasan Belajar Klasikal (KBK) di hitung dengan rumus :


jumla h siswa yang ber h asil tuntas
KBK = 100
jumlah siswa yang ikut tes

Kelas dikatakan tuntas apabila TK-nya lebih dari sama dengan 75% untuk

menghitung rerata hasil belajar siswa menggunakan rumus :


X
=
N x 100

Keterangan :
X= mean
X= jumlah nilai siswa
= jumlah siswa yang mengikuti tes
Oleh karena tujuan penelitian ini adalah peningkatan hasil belajar siswa daalm

pembelajaran ilmu pengetahuan alam,maka kriteria keberhasilan di tentuhkan

sebagai berikut :
Tingkat penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran (%)
75 % : tinggi
55-74 % : sedang

25
35-74 % : tendah
35 %: sangat rendah
Ketuntasan belajar siswa pada proses pembelajaran menggunakan media lingkungan

pada materi struktur daun pada tumbuhan.


75 % : tinggi
55-74 % : sedang
35-74 % : tendah
35 %: sangat rendah

2. Analisis Observasi

Lembar observasi digunakan untuk mengamati seluruh kegiatan dalam kelas pada

saat pemberian tindakan. Ada dua lembar observai dalam penelitian ini yakni lembar

observasi yang digunakan pengamat untuk mengamati aktivitas siswa saat

pembelajaran berlangsung dan lembar observasi yang digunakan pengamat untuk

menilai aktivitas guru dalam kelas saat pemberian tindakan. Data hasil observasi ini

sangat penting bagi peneliti untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan dari tindakan

yang telah dilakukan sehingga dapat ditentukan tindakan selanjutnya.

1) Kelengkapan alat dan bahan; dengan Indikator sebagai berikut :

a. Alat dan bahan lengkap

b. Alat dan bahan kurang satu

c. Kurang beberapa alat dan bahan

d. Hanya ada satu alat dan bahan

2) Keruntutan langkah-langkah kerja sesuai dengan LKS; dengan indikator

sebagai berikut:

a. Melakukan percobaan sesuai dengan langkah kerja

b. Salah satu langkah kerja dalam LKS tidak dilakukan

c. Beberapa langkah kerja tidak sesuai dengan LKS

d. Tidak mengikuti langkah kerja dalam LKS

26
3) Keaktifan anggota kelompok; dengan indikator sebagai berikut:

a. Semua anggota kelompok aktif dalam melakukan pengamatan

b. Hanya beberapa anggota kelompok yang aktif

c. Setiap anggota kelompok melakukan kegiatan sendiri

d. Hanya satu orang yang melakukan penngamatan

4) Kesimpulan akhir sesuai dengan percobaan; dengan indikator sebagai berikut:

a. Membuat kesimpulan akhir sesuai pengamatan

b. Kurang teliti dalam membut kesimpulan

c. Beberapa soal dalam LKS tidak dikerjakan

d. Tidak tepat dalam melakukan kesimpulan

Untuk lembar observasi siswa, kriterianya adalah sebagai berikut:

76% - 100% = Sangat Baik

56% - 75% = Baik

29% - 55% = Cukup

0% - 28% = Kurang Baik

8.6 Pengolahan dan kategori data


Dalam pengelolaan dan kategori data yag diguanka dalam penelitian ini adalah :
1 Metode observasi.
Observasi di lakukan untuk pengamatan peristiwa dan kegiatan di kelas selama

kegiatan pembelajaran. Kegiatan yang di amati adalah aktivitas guru dan peserta

didik daalm kegiatan pembelajaran


2 Metode tes
Test adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang di gunakan untuk

mengukur ketrampilan, pengetahuan, inteligensi, kemampuan atau bakat yang di

miliki individu/kelompok. Ada 2 test yang di gunakan dalam penelitian yaitu test

essey test dan pilihan ganda.


3 Metode wawancara

27
Wawancara di lakukan untuk menelusuri pemahaman peserta didik tentang media

pembelajaran yang di teliti.


4 Metode dokumentasi
Dokumen pengumpulan data di gunakan untuk mendapatkan data tambahan serta

informasi lainya yang mendukung data baik dalam bentuk tulisan maupun visual.

Seperti foto/camera dan handicam

8.7 Validasi data


Validasi data dapat dilakukan dengan cara :
a. Triangulasi
Triangulasi adalah membandingkan presepsi data atau informasi yang satu dengan

yang lain didalam atau mengenai situasi yang sama.

b. Penjenuhan ( saturation )
Dalam proses ini tidak lagi diperoleh data tambahan baru jadi obervasi interview

dilaksanakan berulang-ulang sampai data jenuh ( tidak lagi diperoleh data

baru).
c. Triangulasi dengan memakai berbagai sumber :
1. Survei
2. Kuisioner
3. Observasi
4. Intervensi
5. Dokumen
d. Audit trail
Data diperiksa oleh pihak ketiga misalnya oleh responden kunci mencakup

informasi yang mendiskripsikan cara-cara untuk mengkontrol kesalahan sehingga

mampu membuat kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan.

8.8 Interpretasi data


Hipotesis atau data yang fasilitas diinterprestasikan dengan cara menghubungkan

dengan teori, norma-norma yang berlaku. Hal ini dimaksudkan untuk memberi arti

terhadap apa yang diperoleh sebagai penelitian .

28
8.9 Skejul penelitian
A. Jadwal Penelitian

Alokasi Waktu PadaBulan


NO
Kegiatan
A. Siklus 1 1 2 3 4
1. Perencanaan
2. Pelaksanaan
3. Observasi
4. Refleksi
B. Siklus II
1. Perencanaan
2. Pelaksanaan
3. Observasi
4. Refleksi

Waktu Dan Lokasi Penelitian

A. Waktu Penelitian

dilakukan pada tanggal...................

B. Lokasi Penelitian
SDK Nabe kecamatan Maukaro kabupaten ende

29