Anda di halaman 1dari 60

Pengertian Nilai menurut Spranger adalah suatu tatanan yang dijadikan panduan oleh

individu untuk menimbang dan memilih alternatif keputusan dalam situasi sosial tertentu.

Dalam pandangan Spranger, kepribadian manusia terbentuk dan berakar pada tatanan nilai-

nilai kesejarahan. Meskipun menempatkan konteks sosial sebagai dimensi nilai dalam

kepribadian manusia, namun Spranger mengakui akan kekuatan individual yang dikenal

dengan istilah roh subjektif. Sementara itu, kekuatan nilai-nilai kebudayaan merupakan roh

objektif. Kekuatan individual atau roh subjektif didudukkan dalam posisi primer karena nilai-

nilai kebudayaan hanya akan berkembang dan bertahan apabila didukung dan dihayati oleh

individu.

Penerimaan nilai oleh manusia tidak dilakukan secara pasif melainkan secara kreatif dan

aktif. Dalam proses manusia menerima nilai ini terjadi hubungan dialektis antara roh objektif

dengan roh subjektif. Artinya, roh objekif akan berkembang jika didukung oleh roh subjektif,

sebaliknya roh objektif akan berkembang dengan berpedoman kepada roh objektif yang

diposisikan sebagai cita-cita yang harus dicapai. Nilai merupakan sesuatu yang diyakini

kebenarannya dan mendorong orang untuk mewujudkannya.

Menurut Horrocks, Pengertian Nilai adalah sesuatu yang memungkinkan individu atau

kelompok sosial membuat keputusan mengenai apa yang ingin dicapai atau sebagai sesuatu

yang dibutuhkan. Secara dinamis, nilai dipelajari dari produk sosial dan secara perlahan

diinternalisasikan oleh individu serta diterima sebagai milik bersama dengan kelompoknya.

Nilai ialah standar konseptual yang relatif stabil, dimana secara eksplisit maupun implisit

membimbing individu dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai serta akitvitas dalam

rangka memenuhi kebutuhan psikologi.


Dari pengertian nilai yang dikemukakan para pakar di atas, dapat disimpulkan bahwa Nilai

adalah sesuatu yang dijadikan sebagai panduan dalam hal mempertimbangkan keputusan

yang akan diambil kemudian. Nilai merupakan sesuatu yang bersifat abstrak, karena

mencakup pemikiran dari seseorang. Penilaian yang dilakukan oleh individu yang satu belum

tentu sama dengan individu yang satu. Selanjutnya akan dibahas mengenai macam-macam

nilai di bawah ini.

| Macam Macam Nilai |

Macam-macam nilai menurut Spranger, yaitu :

(1) Nilai keilmuan merupakan salah satu dari macam-macam nilai yang mendasari perbuatan

seseorang atau sekelompok orang yang bekerja terutama atas dasar pertimbangan rasional.

Nilai keilmuan ini dipertentangkan dengan nilai agama.

(2) Nilai agama ialah salah satu dari macam-macam nilai yang mendasari perbuatan

seseorang atas dasar pertimbangan kepercayaan bahwa sesuatu itu dipandang benar menurut

ajaran agama.

(3) Nilai ekonomi adalah salah satu dari macam-macam nilai yang mendasari perbuatan

seseorang atau sekelompok orang atas dasar pertimbangan ada tidaknya keuntungan finansial

sebagai akibat dari perbuatannya itu. Nilai ekonomi ini dikontraskan dengan nilai seni.

(4) Nilai Seni merupakan salah satu dari macam-macam nilai yang mendasar perbuatan

seseorang atau sekelompok orang atas dasar pertimbangan rasa keindahan atau rasa seni yang

terlepas dari berbagai pertimbangan material.


(5) Nilai Solidaritas ialah salah satu dari macam-macam nilai yang mendasari perbuatan

seseorang terhadap orang lain tanpa menghiraukan akibat yang mungkin timbul terhadap

dirinya sendiri, baik itu berupa keberuntungan maupun ketidakberuntungan. Nilai solidaritas

ini dikontraskan dengan nilai kuasa.

(6) Nilai Kuasa adalah salah satu dari macam-macam nilai yang mendasari perbuatan

seseorang atau sekelompok orang atas dasar pertimbangan baik buruknya untuk kepentingan

dirinya atau kelompoknya.

Dari macam-macam nilai yang disebutkan di atas, nilai yang dominan pada masyarakat

tradisional adalah nilai solidaritas, nilai seni dan nilai agama. Nilai yang dominan pada

masyarakat modern ialah nilai keilmuan, nilai kuasa dan nilai ekonomi. Sebagai

konsekuensi dari proses pembangunan yang berlangsung secara terus-menerus, yang

memungkinkan terjadinya pergeseran nilai-nilai tersebut. Pergeseran nilai keilmuan dan nilai

ekonomi akan cenderung lebih cepat dibandingkan dengan nilai-nilai lainnya jika

menggunakan model dinamik-interaktif. Ini merupakan konsekuensi dari kebijakan

pembangunan yang memberikan prioritas ada pembangunan ekonomi dan ditunjang oleh

cepatnya perkembangan ilmu dan teknologi.

Sekian pembahasan mengenai pengertian nilai dan macam-macam nilai, semoga tulisan saya

mengenai pengertian nilai dan macam-macam nilai dapat bermanfaat.

Sumber : Buku dalam Penulisan Pengertian Nilai dan Macam-macam Nilai :

- Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, 2010. Judul : Psikologi Remaja (Perkembangan

Peserta Dididik). Penerbit PT Bumi Aksara : Jakarta.


Pengertian Pembangunan menurut Rogers adalah suatu proses perubahan sosial dengan

partisipatori yang luas dalam suatu masyarakat yang dimaksudkan untuk kemajuan sosial dan

material (termasuk bertambah besarnya kebebasan, keadilan dan kualitas lainnya yang

dihargai) untuk mayoritas rakyat melalui kontrol yang lebih besar yang mereka peroleh

terhadap lingkungan mereka.

Menurut Inayatullah, Pengertian Pembangunan ialah perubahan menuju pola-pola

masyarakat yang memungkinkan realisasi yang lebih baik dari nilai-nilai kemanusiaan yang

memungkinkan suatu masyarakat mempunyai kontrol yang lebih besar terhadap lingkungan

dan terhadap tujuan politiknya, dan yang memungkinkan pada warganya memperoleh kontrol

yang lebih terhadap diri mereka sendiri.

Shoemaker mengungkapkan Pengertian Pembangunan merupakan suatu jenis perubahan

sosial dimana ide-ide baru diperkenalkan kepada suatu sistem sosial untuk menghasilkan

pendapatan perkapita dan tingkat kehidupan yang lebih tinggi melalui metode produksi yang

lebih modernisasi pada tingkat sistem sosial.

Pendapat Kleinjans mengenai definisi dari Pengertian Pembangunan yaitu suatu proses

pencapaian pengetahuan dan keterampilan baru, perluasan wawasan manusia, tumbuhnya

suatu kesadaran baru, meningkatnya semangat kemanusiaan dan suntikan kepercayaan diri.

Dari pengertian pembangunan yang diungkapkan para pakar di atas, dapat disimpuLkan

bahwa Pengertian Pembangunan adalah suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik

dalam lingkungan masyarakat.

Adapun Tujuan Pembangunan terbagi atas 2 bagian, yaitu :


1. Tujuan Umum Pembangun adalah suatu proyeksi terjauh dari harapan-harapan dan

ide-ide manusia, komponen-komponen dari yang terbaik atau masyarakat ideal

terbaik yang dapat dibayangkan.

2. Tujuan Khusus Pembangunan ialah tujuan jangka pendek, pada tujuan jangka

pendek biasanya yang dipilih sebagai tingkat pencapaian sasaran dari suatu program

tertentu.

Demikianlah pembahasan mengenai pengertian pembangunan menurut para pakar, semoga

tulisan saya mengenai pengertian pembangunan menurut para pakar dapat bermanfaat.

Sumber : Buku dalam Penulisan Pengertian Pembangunan Menurut Para Pakar :

- Zulkarimen Nasution, 2007. Komunikasi Pembangunan (Pengenalan Teori dan

Penerapannya). Yang Menerbitkan PT Raja Grafindo Persada : Jakarta

Reformata.com - BANYAK orang yang memaknai spiritualitas dalam definisi yang sempit

dan sering dikaitkan secara terbatas dengan aktivitas keagamaan semata. Spiritualitas

memang dapat diartikan berbeda-beda oleh setiap orang maupun menurut pandangan setiap

agama. Sekelompok orang beranggapan bahwa orang yang bertapa di tempat-tempat sepi dan

khusus adalah orang-orang spiritual. Akibat pemahaman yang sempit ini, pengertian

spiritualitas bergeser semakin jauh dan semakin tidak jelas. Pemahaman yang sempit ini juga

akhirnya dapat berujung pada perilaku yang menyimpang, sehingga ada yang

mengartikannya sebagai ilmu olah batin yang dapat meramalkan sesuatu layaknya

paranormal. Bahkan itu ada yang meyakini bahwa tindakan terorisme dengan peledakan bom

adalah suatu bentuk jihad dan sedang berjuang di jalan Tuhan.


Umumnya orang beranggapan bahwa seseorang orang yang rajin ke gereja untuk beribadah

dan aktif melayani, maka orang tersebut disebut atau dianggap orang spiritual. Lebih dari itu,

kebanyakan orang beranggapan bahwa para hamba Tuhan, pendeta, pastor dan alim ulama

adalah pasti orang spiritual. Pertanyaanya adalah apakah benar bahwa orang yang rajin

beribadah atau memiliki banyak pengetahuan tentang kitab suci atau para hamba Tuhan itu

adalah benar-benar orang spiritual?

Ada teman saya yang mempertanyakan tentang ketidaksimetrisan antara psikologi dan

spiritualitas. Ia melihat bahwa ada orang yang fenomena kejiwaannya (psikologinya) baik,

namun bukan orang yang disebut spiritual. Contohnya adalah teman-teman ateisnya yang

kelihatannya baik-baik saja dan kelihatan sehat jiwanya, meskipun menolak keberadaan

Tuhan. Di sisi lain, ada orang yang kelihatan sepertinya sangat spiritualis, namun fenomena

kejiwaannya sehari-hari (psikologinya) jelek. Kalau demikian apakah dasarnya untuk

menentukan dan menilai bahwa seseorang memiliki spiritual yang baik (sejati) atau disebut

spiritual.

Mengapa orang yang memiliki pengetahaun yang banyak tentang kitab suci belum tentu

memiliki spiritualitas yang baik? Dan mengapa orang yang tidak percaya kepada Allah atau

menolak Tuhan namun dapat menunjukkan suatu pola kejiwaan (psikologi) yang sehat.

Apakah memang benar bahwa spiritualitas itu tidak selalu berkaitan dengan Tuhan atau

bahkan tidak memerlukan Tuhan. Sebagaimana Andr Comte-Sponville yang menulis buku

yang berjudul Spiritualitas Tanpa Tuhan. Comte sepertinya memisahkan konsep

spiritualitas lepas dari agama dan entitas Tuhan. Dapatkah disebut spiritualitas jika tanpa

tanpa Tuhan hadir dalam hidup manusia?


Jika ada orang Kristen yang tidak memiliki sikap hidup yang buruk, itu berarti

spiritualitasnya juga buruk, hal seperti ini terjadi karena faktor ketidaktaatan dan keengganan

bertumbuh. Bukan karena spiritualitas kekristenan itu mandul. Jika ada orang ateis. Memiliki

sikap hidup yang baik maka itu pun benih yang berasal dari Allah yang masih ada dalam diri

manusia, sekalipun orang berdosa (kebikan relatif).

Dalam tulisan John Calvin (Institutio) menegaskan, bahwa spiritualitas sejati terletak

pada relasi dengan Allah daripada pengetahuan tentang Allah. Sama seperti yang

ditekankan oleh J.I. Packer dalam bukunya Knowing God juga menekankan perbedaan

yang tegas antara sekadar mengetahui tentang Allah dengan mengenal Allah itu sendiri secara

pribadi. Calvin juga menegaskan bahwa menguasai teologi secara baik dan sistematis sangat

berbeda dengan mengenal Allah secara pribadi. Di satu sisi Calvin sangat menekankan

aspek praktis dalam spiritualitas, di sisi lain ia menekankan bahwa pusat dari spiritualitas

Kristen adalah Allah sendiri dengan kehadirannya di dalam diri setiap orang yang percaya.

Spiritualitas sejati tidak berpusat pada kegiatan keagamaan yang superfisial, dan

spiritualitas sejati tidak didasari pada tatanan nilai moral serta kewajiban-kewajiban di

dalamnya. Spiritualitas sejati adalah persekutuan dengan pribadi Kristus Yesus (mystical

union). Tuhan Yesus memperingatkan murid-murid-Nya agar menghindari dan menjauhi

praktek-praktek keagamaan yang sia-sia (Matius 6). Lebih keras lagi teguran Tuhan terhadap

jemaat di Efesus dalam Wahyu 2, Tuhan memuji kerajinan dan komitmen mereka dalam

beribadah dan dalam melayani namun kehilangan kasih yang semula (spiritualitas yang

kosong). Aktivitas rohani yang hebat luar biasa tidak menjamin kualitas spiritualnya bagus.
Hingga saat ini pun banyak orang Kristen, sadar atau tidak sadar sedang berjalan dalam

spiritualitas semu, dengan melakukan banyak aktivitas rohani tetapi dengan motivasi untuk

memuaskan diri dalam berbagai macam kebutuhan-kebutuhan materi atau yang bersifat

afektif. Problem utama dan terbersar dalam hidup manusia di sepanjang zaman adalah

problem spiritualitas, seperti di tuliskan D. Elton Trueblood: The greatest problems of our

time are not technooological, for these we handle fairly well. They are not even political or

economic, because the difficultiesin these areas, glaring as they may be, are largely

derivative. The greatest problems are moral and spiritual, and unless we can make some

progress in the realms, we may not even survive. Tuhan Yesus menegaskan bahwa hanya

jika kita berada di dalam Dia orang Kristen dapat menghasilkan buah atau hasil hidup

(ibadah, bc. Rm 12:1-2).

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah

dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak

berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. (Yoh 14:4). Seharusnya dan merupakan

panggilan, dan merupakan tugas dan ethos hidup orang Kristen untuk merefleksikan totalitas

hidup dan karyanya dengan nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan (spiritualitas Kristen). Soli

Deo Gloria. v

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sebuah wawancara antara Bill Hybels, gembala

senior dari gereja Willow Creek, dengan Brad Anderson, CEO dari gerai elektronik besar di

Amerika Serikat-Best Buy dalam acara Leadership Summit yang diadakan oleh gereja

Willow Creek. Best Buy adalah salah satu perusahaan pengecer barang-barang elektronik

terbesar di Amerika Serikat. Ia menguasai 21 persen pasar barang elektronik di Amerika


Serikat, dan saat ini memiliki 1.800 toko di seluruh dunia, 1.400 di antaranya berada di

Amerika Serikat, Keuntungan yang diperoleh perusahaan ini untuk tahun 2008 saja adalah

sebesar 40 miliar dollar Amerika.

Kepada Brad, di akhir wawancaranya Bill Hybels mengajukan pertanyaan demikian:'Brad,di

dalam segala kesibukanmu, bila pada hari minggu pagi kamu akan pergi ke gereja, engkau

berkata'aku harap inilah yang akan terjadi di gerejaku hari ini.' Apakah yang engkau harapkan

terjadi di gerejamu?' Terhadap pertanyaan tersebut, Brad Anderson menjawab: 'Aku

mengharapkan untuk mengalami jamahan dari sesuatu yang aku tidak tahu, dalam hal ini,

Roh Kudus. Jamahan yang lembuat orang berdoa sambil mencucurkan air mata.' Perhatikan

kata-kata yang diucapkan oleh Brad Anderson, 'jamahan,'aku tidak tahu,' 'Roh Kudus,' dan

'menangis.' Singkatnya, ada dua hal yang ia kemukakan di sini: pertama, pengalaman atau

olah rasa - bukan kognitif atau olah pikir, dan kedua adalah roh. Hal inilah yang dicari oleh

orang dalam kehidupan beragama pada saat ini.

Dalam bukunya The Peopleb Religion: American Faith in 90's, George Gallup, seorang

peneliti yang sangat terkenal di Amerika, mengatakan bahwa salah satu alasan mengapa

orang Amerika meninggalkan gereja adalah karena mereka menginginkan' deeper spiritual

meaning' (maknai pengalaman rohani yang lebih mendalam). Yang mereka maksudkan

dengan 'makna rohani yang lebih mendalam' di sini bukan sekedar pengetahuan yang lebih

mendalam, tetapi pengalaman, atau dalam istilah Brad Anderson 'jamahan' yang membuat

seseorang tersentuh perasaannya. Inilah yang disebut dengan spiritualitas postmodern.

Makna Spiritualitas

Istilah spiritualitas akhir-akhir ini semakin sering didengar, baik dalam lingkar akademis,

lingkup agama institusional maupun dalam dunia populer. Dalam lingkup akademis, hal ini
dapat kita lihat dengan semakin berkembangnya studi tentang spiritualitas yang bersifat multi

dimensi keilmuan, seperti psikologi, sosiologi, dan ekonomi. Banyak buku-buku teks

akademis tentang psikologi, sosiologi, ekonomi dan manajemen menyisipkan bab mengenai

spiritualitas ke dalamnya. Bukan itu saja, akhir-akhir ini semakin banyak perguruan-

perguruan tinggi di luar negeri yang mendirikan pusat riset spiritualitas sebagai upaya untuk

melakukan pendekatan keilmuan yang holistik.

Demikian juga dalam lingkup agama-agama institusional, diskursus spiritualitas juga semakin

bertambah marak. Hal ini terjadi seiring dengan berayunya bandul keagamaan dari sisi

rasionalisme empiris yang menjadi ciri dari filsafat modern kepada sisi eksperiensial yang

menjadi ciri dari filsafat postmodern. Pergeseran religiusitas yang semula menekankan

kepada dogma dan liturgi formal kepada pengalaman transendental ini mengakibatkan

ceramah-ceramah dan perhimpunan perhimpunan ibadah yang semula bersifat formal di masa

sekarang banyak yang melibatkan sisi emosional. Sebagai akibatnya, buku-buku yang

membahas dan mengajarkan hal-hal yang tadinya dianggap sebagai praktika eksklusif

kelompok penganut sufisme, mistisisme, dan pietisisme, seperti doa dan puasa semakin

banyak dijumpai dalam lingkup agama-agama formal. Buku-buku tentang spiritualitas yang

ditulis pada masa yang silam kembali marak dibaca orang. Buku-buku seperti tulisan C.S.

Lewis, Thomas Merton, Henry Nouwen, dan Meister Eckhart diterbitkan ulang dan dicari

orang.

Hal yang sama terjadi dalam dunia popular. Toko-toko buku di bandara hampir pasti

menyediakan rak-rak khusus yang menjajakan buku-buku spiritualitas dengan label 'self-

help.' Seminar-seminar pengembangan diri sangat kental diwarnai dengan istilah spiritualitas.

seminar-seminar ini menembus dunia profesional dan menjadi bagian dalam pelatihan-

pelatihan untuk kaum profesional. Ada di antara mereka yang mewarnai secara kental oleh
spiritualitas agama formal tertentu seperti ESQ dan MQ, namun ada juga yang bersifat lintas

religi scperti Celestine Prophecy, Asia Work, dan Anthony Robbin. Di samping itu marak

pula pertumbuhan kelompok-kelompok 'quasi-religi' baik yang merupakan produk impor

seperti Reiki maupun produksi lokal seperti Anand Krisna Ashram yang keberadaannya tak

terpisahkan dari tergembangan spiritualitas.

Keanekaragaman pendekatan dan praktika spirituaiitas ini mengibatkan istilah spiritualitas

semakin banyak diucapkan orang dan pada saat yang sama semakin sulit untuk

mendefinisikannya secara baku. Dengan kata lain, istilah yang sama yaitu spiritualitas

memiliki makna yang berbeda bagi kelompok orang yang berbeda.

Hal ini membuat banyak orang yang merasa mengerti tentang makna spiritualitas, namun

akan tercenang kebingungan di saat yang bersangkutan diminta untuk mendefinisikan kata

tersebut secara universal. Sehingga kalaupun yang bersangkutan mampu mendefinisikannya,

kebanyakan definisi yang ia ajukan bukanlah definisi umum yang mencakup seluruh

spektrum praktika dan pandangan tentang spiritualitas, namun lebih bersifat eksklusif dengan

diwarnai pemahaman spiritualitas yang ia anut.

Salah satu batasan tentang spiritualitas yang paling memuaskan yang saya temukan adalah

yang dikemukakan oleh Philip Sheldrake, seorang akademisi bidang spiritualitas yang

memiliki latar belakang Jesuit, mantan Presiden dari Intemational Socielt For the, Study of

Christian Society dan yang saat ini mengabdikan diri sebagai guru besar di University of

Durham. Di dalam bukunya Spiritualiryand History, ia mendefinisikan spiritualitas sebagai

'the conscious human response to God that is both personal and ecclesial,' respons sadar dari

manusia kepada Tuhan, baik secara pribadi maupun dalam kebersamaan sebagai umat.

Spiritualitas Baru
Dengan kata lain, berdasarkan batasan yang dikemukakan oleh Philip Sheldrake tadi

hubungan spiritualitas dan eksistensi Tuhan merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Dengan

kata lain, seiring dengan semakin meningkatnya minat orang terhadap spiritualitas berarti

semakin meningkat pula kesadaran orang terhadap eksistensi Tuhan. Namun hal ini tidaklah

berarti bahwa semakin banyak orang mengakui keberadaan Tuhan seperti yang dipahami oleh

orang Kristen.

Sebab berbicara tentang 'Tuhan' dapatlah dikemukakan bahwa tidak ada orang yang tidak

memiliki tuhan. Bahkan orang arteis pun sesunguhnya memiliki tuhan, sebab tidak ada

seorang ateis yang murni secara teoritis. Semua orang memiliki tuhan. Yang membedakan

hanyalah siapakah yang mereka terima sebagai tuhan. Bagi sebagian orang hartalah tuhan

mereka. Bagi sebagian orang lagi, dirinyalah tuhan mereka. Sedangkan bagi yang lain,

'sesuatu yang maha tinggilah' tuhan mereka. Dan kalau kita berbicara tentang 'yang maha

tinggi' tadi, kita akan menemukan pelbagai konsep tentang tuhan dalam tiap-tiap agama.

Perbedaan tersebut antara lain dalam hal konsep imanensi dan transendental tentang 'yang

maha tinggi' tersebut. Hal inilah yang mengakibatkan tumbuhnya keragaman spiritualitas.

Keragaman tentang spiritualitas ini bukan hanya disebabkan oleh keragaman konsep tentang

tuhan, tetapi jugu karena dinamika pemahaman teologis dalam setiap agama. Di dalam

bukunya yang lain, A Brief History of Spirituality, Phillip Sheldrake menunjukkan bahwa

konsep spiritualitas bersifat berkembang sesuai dengan perkembangan sejarah. Hal yang

sama pulalah yang dikemukan oleh Alister McGrath, seorang teolog terkemuka dari gereja

Anglikan dalam bukunya Christian Spirituality. Dalam bukunva, McGrath menunjukkan

bahwa konsep spiritualitas Kristen abad pertengahan sangat berbeda dengan konsep

spritualitas Kristen abad reformasi dan tentu berbeda dengan konsep spiritualitas Kristen

abad modern. Artinya konsep spiritualitas merupakan produk dari jaman yang bersifat
dinamis. Bukan saja konsep spiritualitas dalam agama-agama formal bersifat berkembang,

konsep tersebut dalam dunia sekuler juga berkembang. Bila pada masa babak filsafat modern,

sebagai anak dari filsafat Renaissance, pandangan manusia menjadi sangat materialistik,

maka dalam dunia sekuler pada masa itu spiritualitas mengalami reduksi sekedar sebagai

suatu sistem etis dan moralitas. Memasuki babak postmodernisme, sebagai kontra-frend

terhadap modernisme, maka kembali spiritualitas dalam dunia sekuler mengalami pergeseran

arti.

konflik-konflik yang diwarnai oleh sentimen keagamaan, membuat manusia merasa perlu

mengevaluasi ulang keberadaan dari agama-agama formal kenyataan bahwa agama-agama

yang seharusnya membawa damai didalam dunia nyata ternyata telah membuat dunia

semakin tidak damai membuat orang bersikap semakin curiga terhadap agama formal.

Dalam situasi yang demikian itulah, orang mulai memuja pribadi-pribadi yang menganjurkan

kesatuan kemanusiaan yang tidak dibatasi oleh dinding-dinding keagamaan. Dialog-dialog

keagamaan yang menjadi semakin populer, toleransi dan persaudaraan yang universal

menjadi kata mantra yang penting. Hal inilah yang mengakibatkan sejak tahun 1900- Dalai

Lama menjadi figur yang populer di dunia. Orang memandangnya sebagai manifestasi

praktika spiritualitas yang ideal. Dalam turnya selama dua bulan di Amerika pada tahun 1999,

Dalai Lama mempopulerkan spiritualitas tanpa agama yang membangunkan semangat

spiritualitas lintas agama. Di dalam bukunya Ethics for The New Millennium, ia membuat

pernyataan sebagai berikut:

Religion I take to be concerned with faith in the claims of one faith tradition or another, an

aspect of which is the acceptance of some form of heaven or nirvana. Connected with this are

religious teachings or dogma, ritual prayer, and so on. Spirituality I take to be concerned with

those qualities of the human spirit-such as love and compassion, patience tolerance,
forgiveness, contentment, a sense of esponsibility, a sense of harmony-which bring happiness

to both self and others.'

Tidak heran bila Richard Bernstein, seorang jurnalis yang sangat terkemuka di Amerika,

dalam tulisannya di Chicago Tribune, mengatakan 'bahwa pesan Dalai Lama tentang

spiritualitas tanpa Tuhan adalah suatu jalan yang sempurna untuk memuaskan kelaparan

rohani dari manusia yang hidup di jaman saintifik dan sekular.'

Hal ini berjalan paralel dengan Budhisme sebagai suatu agama yang non-theistik. Di mana

orang tidak memfokuskan diri kepada relasi dengan Tuhan, namun pertumbuhan spiritualitas

secara bertahap yang dicapai melalui perilaku etis yang pada akhirnya akan membawa yang

bersangkutan kepada reinkarnasi kepada eksistensi yang lebih tinggi.

Sikap curiga dan penolakan terhadap agama-agama formal inilah yang melahirkan

spiritualitas baru, spiritualitas tanpa agama dan tanpa tuhan seperti yang sangat berkembang

dalam Aliran Jaman Baru atau New Age Movement'. Salah satu tokoh dari kelompok

spiritualitas jenis yang saat ini menjadi terkenal adalah Eckhart Tolle, Oprah Winfrey,

pembawa acara talk show yang sangat berpengaruh di Amerikat merupakan pribadi yang ikut

memiliki andil besar dalam mcndorong kepopuleran Eckhart Tolle. Di dalam bukunya A New

Earth, Eckhart, senafas dengan Dalai Lama, mengatakan bahwa ada perbedaan antara

spiritualitas dengan agama. Ia menegaskan pandangannya bahwa agama tidak akan membuat

seseorang bertambah rohani. Bahkan sebaliknya pengabsolutan pemahaman dalam agama

justru akan membuat seseorang semakin terpisah dari dimensi spiritual yang ada dalam

manusia.

Lebih jauh lagi Eckhart mengatakan bahwa justru ajaran-ajaran bijak dari timur telah

menolong agama-agama institusional, sehingga jumlah penganut agama tradisional yang


dapat membebaskan diri dari bentuk, dogma, dan sistem kepercayaan yang kaku dan

menemukan kedalaman yang orisinal yang tersembunyi dalam tradisi mereka sendiri dan

pada saat yang sama menemukan kedalaman di dalam diri mereka sendiri. 'They realize that

how spiritual you are has nothing to do with what you believe but everything to do with your

state of consciousness,' tulisan dalam buku tersebut.

Spiritualitas Kristen Kontemporer

Dalam situasi seperti sedemikian, Tentu patut dipertanyakan masih relevankah spiritualitas

Kristen untuk masa kini? untuk itu kita perlu terlebih dahulu mendefinisikan apakah

spiritualitas Kristen tersebut.

Keragaman teologi dalam Kekristenan yang berkembang seturut dengan jalannya sejarah

mengakibatkan keragaman warna dalam spiritualitas Kristen itu sendiri. Di dalam abad XXI

ini ada beberapa spiritualitas yang menonjol dalam Kekristenan, antara lain spiritualitas

pembebasan di Amerika Latin yang bersumber dari teologi pembebasan dengan tokoh

utamanya Gustavo Gutierrez. Spiritualitas feminisme yang bersumber pada teologi

feminisme. Spiritualitas Dialogis yang berkembang di India dan bersumber dari upaya dialog

lintas agama dengan salah satu tokoh utamanya yaitu Bede Griffiths. Spiritualitas ini telah

menarik Pehatian Thomas Merton dan memikat hati Henry Nouwen. Spirirualitas

Oikumenikal yang di Perancis dalam bentuk komunitas Taize. Spiritualitas Rekonsiliasi yang

berkembang di Afrika Selatan sebagai wujud dari upaya rekonsiliasi di negara tersebut. Tentu

tak dapat dilupakan adalah Spiritualitas Karismatik yang bersumber dari gerakan yang sangat

mempengaruhi teologi Kristen masa kini yaitu gerakan Pentakosta Karismatik. Banyak

perguruan-perguruan tinggi di luar negeri yang mendirikan pusat riset spiritualitas sebagai

upaya untuk melakukan pendekatan keilmuan yang holistik.


Di tengah kepelbagaian dan keragaman spiritualitas Kristen ini kita dapat menarik satu

benang merah yang memungkinkan kita untuk mendefinisikan apakah spiritualitas Kristen

tersebut. Phillip Sheldrake mengatakan bahwa spiritualitas Kristen adalah cara nilai-nilai

dasar, gaya hidup, dan praktika rohani mencerminkan pemahaman tentang Tuhan, identitas

manusia, dan dunia materi sebagai konteks dari transformasi manusia. Tema sentral dalam

Spiritualitas Kristen bersumber dari kepercayaan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk

memasuki suatu hubungan dengan Tuhan yang bersifat transenden dan pada saat yang sama

bersifat imanen. Hubungan ini dihidupi bukan dalam kesendirian yang terisolir, namun dalam

suatu komunitas bersama dari orang percaya, yang menanifestasikan komitmen kepada

Kristus, dipelihara oleh kehadiran yang aktif dari Roh Kudus dalam kehidupan pribadi dan

kebersamaan sebagai suatu komunitas. Melaluinyalah orang percaya mengalami

pertumbuhan transcendental. Phillip Sheldrake menyimpulkan bahwa spiritualitas Kristen

kontemporer adalah secara nyata bersifat Trinitarian, Christological dan Ecclesial.

Di tengah maraknya minat orang terhadap spiritualitas dan keragaman spiritualitas Kristen

tersebut di atas, serta berdasarkan pemahaman tentang esensi spiritualitas Kristen, kita dapat

mengembangkan suatu spiritualitas Kristen yang kontemporer. Spiritualitas ini harus mampu

secara sehat merangkum kekayaan spektrum dalam spiritualitas Kristen dan pada saat yang

sama bersikap setia terhadap nilai-nilai dasar dari spiritualitas Kristen itu sendiri.

Spiritualitas Kristen kontemporer tersebut berpijak kepada empat dasar. Yang pertama yaitu

pengenalan terhadap pribadi Tuhan melalui pengungkapan diri-Nya dalam Kitab Suci dan

Kristus yang adalah inkarnasi dari Tuhan itu sendiri. Yang kedua pengalaman dengan Tuhan

melalui keterbukaan terhadap karya dan kehadiran Roh Kudus baik secara pribadi maupun

dalam kehidupan bersama sebagai umat. Yang ketiga perubahan kehidupan oleh karena

pengenalan dan pengalaman bersama dengan Tuhan. Dan yang keempat adalah dampak dari
relasi dengan Tuhan dalam dalam pemikiran maupun dalam perilaku kehidupan sehari-hari di

dunia.

Pertama, pengenalan terhadap pribadi Tuhan ini bukan bersifat sekedar suatu pengetahuan

kognitif, namun mencakup di dalamnya relasi yang menyentuh seluruh dimensi kemanusiaan

kita. Sehingga dengan demikian hubungan dengan Tuhan tersebut tidak bersifat parsial,

namun bersifat holistik. Pengenalan tersebut juga berdasarkan acuan obyektif yaitu Kitab

Suci dan pribadi Kristus yang bersifat historikal. Sebab tanpa acuan obyektif, maka tak akan

mungkin bagi kita untuk mengembangkan moralitas. Hal ini sangat mudah untuk dipahami,

sebab tanpa acuan kebenaran yang absolut tidak mungkin dikembangkan suatu moralitas

yang universal.

Kedua, pengalaman dengan Tuhan ini tak dapat diabaikan, sebab secara praksis dalam

konteks masyarakat postmodem faktor pengalaman sangatlah penting. Di sisi lain

pengalaman ini juga menegaskan bahwa Tuhan yang dari padanya kehidupan manusia

bersumber bukanlah sekedar suatu konsep, namun benar-benar suatu pribadi yang ada dan

masih terus berkarya di dunia sampai saat sekarang, Pengalaman tersebut haruslah dalam

konteks pribadi, sebab Tuhan menghargai manusia sebagai pribadi individual, namun juga

harus dalam konteks komunal, sebab bukan saja hal tersebut merefleksikan sifat Trinitarian

Tuhan namun juga hanya melaluinva transformasi kehidupan dapat terjadi.

Ketiga, transformasi kehidupan oleh karena pengenalan dan pengalaman bersama Tuhan

tersebutlah yang akan membawa perubahan trancendental dalam kehidupan manusia. Dengan

kata lain, melaluinyalah manusia akan mengalami perubahan untuk mencapai panggilan

dirinya yang sejati.


Keempat, relasi dengan Tuhan baik oleh pengenalan dan pengalaman bersama dengan Dia

tersebut harus termanifestasikan dalam pola pikir dan kehidupan sehari-hari, sebab hanya

dengan demikian barulah dapat dikatakan bahwa relasi tersebut bersifat otentik. Manifestasi

spiritualitas ini bukan hanya dalam sebatas kehidupan beribadah, namun dalam kehidupan

sehari-hari di tengah masyarakat, dalam dunia kerja, dalam dunia berumah tangga, juga

dalam dunia politik dan budaya.

Penutup

Dengan mengemukakan dua aliran spiritualitas di atas, yaitu spiritualitas baru dan

spiritualitas Kristen kontemporer, kita dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

Pertama berkembangnya minat orang terhadap spiritualitas merupakan pintu untuk membawa

orang-orang datang kepada pengenalan yang dinamis dan transformatif dengan Tuhan.

Kedua, para pengikut Kristus perlu memperdalam pemahamannya tentang spiritualitas

Kristiani sehingga tidak terjebak ke dalam sinkretisme yang pada gilirannya justru akan

mengaburkan nilai-nilai spiritualitas yang dianutnya.

Ketiga, diperlukan ekplorasi yang lebih mendalam dan komprehensif tentang upaya untuk

memanifestasikan spiritualitas Kristen dalam setiap aspek dunia sehari-hari, sehingga dengan

demikian setiap pengikut Kristus akan menghidupi panggilan kristianinya secara otentik.

Ditulis Oleh : Dr. Bambang H.Widjaja

(Disalin dari Jurnal Transformasi Volume 5 No 1)


Kalau bicara mengenai hakekat tentu dalam pembahasanya bicara juga mengenai hal hal

yang menyangkut persyaratan terjadinya satu bentuk atau satu keadaan. Seperti hakekat dari

stang (stir) pada sepeda yaitu ujud nyata dari satu benda yang menunjukkan dan

membuktikan bahwa benda tersebut benar adanya dan terbukti secara empiris.

Syarat dikatakan sebagai sebuah sepeda tentu juga harus memenuhi standar kelengkapan

tertentu hingga bisa dikatakan sebagai sepeda. Dan tentu ada ujud dari berbagai komponen

sehingga membentuk satu benda yang disebut sepeda. Disamping itu sebuah sepeda pasti

juga membutuhkan tata cara atau aturan main dalam proses pemasangan komponennya, dan

tidak menyalahi aturan pemasangan. Jadi dari bahan pembentuk sampai proses pemasangan

harus tepat sesuai yang distandarkan sehingga layak dikatakan itulah sebuah benda yang

disebut dengan sepeda.

Analog tersebut untuk menjelaskan bahwa dalam ujud manusia sebenarnya juga terdiri dari

berbagai komponen penyusun yang masing masing memiliki fungsinya sendiri sendiri.

Dan dari masing masing komponen kemanusiaan tersebut memerlukan perlakuan sendiri

sendiri. Bagaimana bisa memperbaiki proses pengapian yang terganggu pada sepeda motor

kalau tidak tahu dan faham mana perangkat untuk pengapian pada sepeda motor.

Gambaran tersebut untuk memudahkan di dalam memahami hakekat kemanusiaan yang ada

pada manusia. Dalam ayat Al Quran atau kitab suci yang lain secara tersirat menyebutkan

perangkat atau komponen pembentuk ujud dari manusia. Karena semua pelajaran yang
menyangkut hal hal yang terkait masalah kemanusiaan pada dasarnya bersumber dari kitab

suci atau dengan kata lain berasal dari wahyu Ilahi. Dengan melalui wahyu itulah Tuhan

YME (Allah SWT) mengabarkan kepada manusia tentang nama dari organ penyusun dan

pembentuk dari ujud manusia.

Memang sebagian besar isi Al Quran berisi mengenai cerita sejarah orang orang tempo

dulu sebagai sebuah Itibar yang bisa dijadikan sebagai pelajaran dan ilusterasi. Hal hal

yang menyangkut mengenai komponen komponen kemanusiaan selalu di sampaikan secara

tersirat, karena disitu ada rahasia - rahasia Tuhan. Yang hanya akan Tuhan bukakan kepada

orang orang yang bersungguh - sungguh menjalankan perintah perintahNya dan menjauhi

larangan laranganNya dengan konsisten. Sebab pemahaman mengenai ajaran Tuhan

semakin tinggi akan semakin lembut dan halus hingga tak terasa dan tak terduga sama sekali

oleh kemampuan akal manusia.

Itulah kenapa dalam belajar ilmu agama tidak dibolehkan difahami dan diterjemahkan

menurut persepsinya sendiri dan benarnya sendiri. Karena makna makna ayat yang tertulis

dalam Al Quran ataupun dalam kitab suci yang lain pada dasarnya bersifat universal.

Disamping kita harus sadar dan menyadari kemudian mengakui dengan sepenuh hati bahwa

hal hal yang terkait dengan unsur penyusun organ kemanusiaan hanya Tuhanlah yang tahu.

Lalu bagaimana supaya kita tahu dan faham akan unsur tersebut, tentu melalui orang tertentu

yang telah mendapat kepercayaan dari Tuhan. Dalam hal ini bisa melalui para Nabi-Nya,

Rosul-Nya, Wali-Nya, dan melalui orang yang telah Tuhan kehendaki sehingga mampu
menangkap Ilham atau berita dari Tuhan SWT yang mengajarkan hal hal yang menyangkut

tentang jati diri manusia.

Karena jalan menuju Tuhan hanya Tuhan sendiri yang tahu, jadi manusia tahunya akan jalan

Tuhan juga dari Tuhan, untuk itu jangan suka merekayasa ajaran Tuhan menurut seleranya

sendiri. Karena ajaran Tuhan pasti bersifat universal tidak bersifat parsial itu dasar

pijakannya, sebab semua manusia memiliki hak dan wajib yang sama serta sama sama

memiliki kemerdekaan menentukan jalan hidupnya sendiri.

Keuniversalan menjadi sifat dasar dari ajaran yang datang dari Tuhan (Allah SWT). Jadi

kalau keuniversalan tidak ada itu pasti datang dari hasil rekayasa manusia yang dinisbatkan

ke dalam agama, karena pengaruh kebesaran anggapan diri merasa paling tahu dan faham

ajaran Ilahi (agama), sehingga berani membuat rekayasa pribadi yang dimasukkan ke dalam

ajaran agama.

Dalam memahami ajaran agama atau suatu keilmuan bisa dianalogkan dengan perjalanan

seseorang ke suatu tempat, sebut saja tempat tersebut A. Dalam perjalanan menuju ke arah A

pasti menemui berbagai tempat dan berbagai hal sebut saja Z, Y, X, dan seterusnya sampai ke

tempat A. Ketika seseorang baru sampai X ketemu seseorang yang sudah sampai G tentu

akan berbeda apa yang diketahui dan dirasakan. Tapi ketika seseorang yang sudah sampai di

G ketemu juga yang berada diposisi G tentu akan memiliki pemahaman dan pengetahuan

(penilaian) yang sama (penilaian yang universal) tentang tempat tersebut.


Karena itu dalam mempelajari ajaran agama jangan dulu meyakini apa yang telah difahami

sebagai pedoman secara harga mati atau dalam istilahnya ilmu pokoknya. Sehingga

menutup pemikiran dan hati kita dari pemikiran dan keterangan yang datang dari luar.

Padahal masukan yang datang dari orang lain atau kelompok lain bisa jadi itulah yang benar

dan tepat, sebab kemungkin si pembawa berita telah berjalan lebih jauh dari kita.

Jadi dalam mencari hakekat sebuah nilai jangan pernah berpedoman yaitu pokoknya harus

seperti apa yang saya pahami dan telah saya yakini. Karena semestinya apa yang kita yakini

haruslah memiliki dasar pijakan yang riil yang bisa diterima logika akal sehat (bisa dinalar)

yaitu menganudng nilai nilai universalitas. Karena hidup ini diciptakan bukan seperti

permainan judi dan juga bukan satu proses kebetulan, semua telah ada dalam rencana Tuhan.

Contohnya ada kalimat menjelaskan mengenai roda, tentu ada ujud dan ada bukti secara

nyata yang menyatakan itulah yang dikatakan roda, sehingga membuat kita yakin secara

haqqul yaqin. Jadi tidak ada istilah pokoknya roda, terus yang dimaksud dengan roda itu

seperti apa, kan harus tahu dan faham baru bisa memfungsikanya.

Begitu pula kalau bicara mengenai hakekat kemanusiaan harus tahu dan faham, yakni tahu

komponennya dan faham akan kegunaan dan fungsi dari komponen tersebut. Seperti halnya

dalam Al Quran surat Al Alaq secara tersirat menyebutkan mengenai komponen manusia.

Kemudian di ayat yang lain menerangkan tentang Nabi Musa AS yang menerima wahyu di
gunung Tursina, itulah kalimat dalam ayat Al Quran yang disampaikan dalam bentuk simbul,

yakni Gunung Tursina. Itulah rahasia Tuhan dengan segala Ke-Agungan-Nya, maka kenapa

ada manusia pilihan yaitu manusia yang memiliki kemampuan menangkap hal hal yang

tersirat dalam bentuk simbul dan perlambang.

Itulah bukti keadilan Tuhan terhadap semua makhluk-Nya, jadi Tuhan dan para malaikat-Nya

tidak tebang pilih atau pilih kasih terhadap manusia. Siapapun akan diberi sesuai haknya

kalau mampu membeli dagangan Tuhan. Yang Tuhan tawarkan melalui wahyu yang tertulis

dalam kitab suci, siapa yang mampu menangkap teka teki Tuhan tanpa pandang bulu tanpa

pandang golongan dan kelompoknya, maka dialah yang berhak memperoleh hadiah dari

Tuhan yaitu menjadi manusia pilihan.

Begitu juga makna yang ada dalam Pancasila mulai sila pertama sampai sila kelima

merupakan pedoman kemanusiaan yang juga berasal dari ajaran Kitab Suci. Bisa dibilang

mengambil intisari dari ajaran Kitab Suci yang merupakan wahyu Tuhan. Itulah kenapa

ajaran yang terkandung dalam ajaran Pancasila juga merupakan ajaran agama.

Dan yang bisa menjelaskan secara gamblang makna dari hakekat Pancasila syaratnya adalah

orangnya mengetahui jagad sak isine (jagad se isinya) yo ruh awale donyo yo akhire donyo

(ya tahu awalnya dunia juga tahu akhir dunia). Itu merupakan pertanda dari Tuhan terhadap

orang yang bisa atau telah dipercaya oleh Tuhan mengemban amanatnya (Insaallah).
Karena pada dasarnya apa yang telah menjadi tradisi dan kepercayaan manusia yang telah

terpecah dalam berbagai sekte dan kepercayaan awalnya adalah berujung kepada satu

kepercayaan sebagaimana bapak seluruh ummat manusia yaitu Nabi Adam.

Karena berbagai sebab dan jauhnya jarak waktu dengan para pembawa ajaran Ilahi ditambah

dimasukkannya pemikiran pemikiran baru oleh para penerus dan keturunannya ke dalam

ajaran Ilahi. Dimasukannya pemikiran baru ke dalam ajaran ajaran Ilahi menjadikan ajaran

tersebut menjadi rancu dan semakin kabur dari kesejatiannya.

Ditambah sikap manusia yang cenderung bersikap suka menentang dan membantah sesuatu

hal yang dianggap baru dan belum di fahaminya. Sehingga yang tertinggal pada sebagian

besar kita yaitu tinggal memiliki kesamaan faham terhadap yang seharusnya disembah. Yaitu

sesuatu yang dianggap memiliki kekuatan dan pengaruh besar dalam hidup kita maka

diangkatlah dia sebagai Tuhan. Kemudian diciptakanlah bentuk bentuk Tuhan menurut apa

yang diangankanya yang kemudian diwujudkan dalam berbagai bentuk untuk kemudian

disembahnya.

Dan yang lebih parah ada yang menuhankan kitab sucinya, dia dewa dewakan kitab sucinya

mengalahkan Tuhan itu sendiri. Ada yang menuhankan guru agamanya atau guru spiritualnya

padahal tetap saja dia tak berubah tetap juga manusia. Ada yang menuhankan pendetanya,

ada yang menuhankan dirinya sendiri, ada yang menuhankan buku bacaan yang dia

banggakan, ada yang menuhankan nafsu angkaranya, ada yang menuhankan uang, harta,
benda, dan jabatan, dan ada yang menuhankan penemuan hebatnya (keilmuan atau

kebendaan). Dus semua itu kenyataannya bukan sesuatu yang layak untuk disembah dan

dituhankan.

Kitab suci bukanlah sesuatu yang bisa menyelamatkan kita, dia sekedar tulisan yang berisi

petunjuk dan rambu rambu serta berisi mengenai keterangan keterangan yang

menyebutkan mengenai masalah ketuhanan dan komponen kemanusiaan serta tata cara

peribadatan. Sehebat apapun sebuah kitab suci dan sebuah buku hasil karangan seseorang

tidak akan merubah apapun tanpa diamalkan atau dipraktikkan. Jadi kembalinya tetap kepada

manusianya mau dikemanakan dan diapakan dirinya terserah kepada orang tersebut, apapun

agama dan kepercayaannya tidak akan memiliki arti apa apa kalau kita hanya terdiam dan

terpaku dengan berbagai angan kita.

Angan angan tetaplah angan angan yang bersifat semu tidak akan pernah berwujud

apapun, meng-angankan Jakarta tidak akan pernah sampai kalau kita tidak beranjak pergi.

Bukti riil menyatakan bisakah kita kenyang hanya dengan membaca sebuah menu,

mungkinkah cukup dengan membaca peta tanpa melangkah kita akan sampai ketujuan. Atau

kalau kakek kita yang makan mungkinkah kita juga akan kenyang hanya dengan

menceritakan dan membanggakan kisah si kakek.


Itulah yang dimaksud dengan makna dari sebuah ayat Tuhan dalam berbagai bentuknya, bukti

mana lagi yang akan engkau dustakan setelah datangnya fakta dan bukti yang Tuhan hadirkan

disekitar kita. Itulah problem dari kebiasaan berfikir (berangan - angan) terlalu jauh atau

memfonis (memastikan) sesuatu yang belum pernah dialami dan dirasakan. Akhirnya terjebak

ke dalam pemikiran yang berupa bayang bayang, yang kebenaran dan kepastianya tentu

diragukan. Sehingga timbulah ketakutan ketakutan yang dibuat dan diciptakan sendiri,

sehingga digambarkan Tuhan itu kejam begitu juga dengan para malaikat-Nya.

Kenapa begitu mudah suudzon apalagi terhadap Tuhan, itulah kalau mudah percaya dengan

dongeng dan cerita yang tidak jelas dan belum terbukti dasar pijakannya. Makanya salah

sendiri bisa dipermainkan oleh kata kata orang lain yang pandai merangkai kata perkata

padahal dia sendiri sebenarnya tidak tahu dan tidak faham atas apa yang dia katakan.

Untuk itu perkayalah pengetahuan kita dengan berbagai keilmuan atau infomasi supaya kita

tidak mudah terjebak dalam satu konsep pemikiran yang tidak dapat dipertanggung jawabkan

kepastian akan kebenarannya.

Semua itu berpulang dan kembali kepada diri kita masing masing, karena kenyataannya kita

diberi perangkat sama oleh Tuhan. Perangkat kemanusiaan yang Tuhan tempatkan ke dalam

diri manusia merupakan komponen yang disiapkan agar manusia mampu mengemban amanat

sebagai wakil Tuhan di dunia (Kholifah fil ardhi).


Lalu apa sebenarnya komponen kemanusiaan yang seharusnya diolah dan dikelola sehingga

seseorang bisa menjadi manusia seutuhnya, sehingga nantinya mampu mengemban amanat

Tuhan YME.

Sebelumnya kita harus berfikir secara universal mengenai nilai hidup dan kehidupan. Ini

berarti kita bicara mengenai kenyataan kenyataan yang berupa bukti dan fakta yang tak

terbantahkan oleh akal sehat. Kecuali yang sengaja mencari perbedaan dan pembenaran

sendiri, silahkan bawa sendiri keyakinan yang demikian dan buktikan sendiri resiko yang

telah menjadi pilihan anda.

Janganlah membawa dalih agama atau mengatas-namakan agama dalam mendukung

pembenaran hasil pemikiran sendiri ke dalam ranah public atau ummat. Amat besar dosanya

bagi orang orang yang kesesatan berfikirnya ditularkan kepada banyak orang, kecuali orang

itu sendiri yang sengaja meminta menjadi pengikut pemikirannya. Semoga kita dihindarkan

dari kesesatan dalam berfikir dan berkeyakinan dan dihindarkan dari mengajak orang lain

dalam kesesatan berfikir.

Bacaan yang kami sampaikan ini sekedar menyampaikan wacana berfikir dan wacana tentang

konsep kemanusiaan yang bisa dijadikan sebagai pijakan dalam membentuk satu konsep

dalam rangka menempuh kehidupan yang maslahah di dunia sampai akherat semoga

aaamiin.
Berbicara kemanusiaan sama saja bicara masalah hati dan rasa, tidak lagi mempersoalkan

masalah bahasa, agama, bangsa, suku, golongan, dan ras. Ibarat ikan dalam air tidak lagi

berfikir dan membicarakan hanya masalah air.

Orang yang masih bicara dan mempersoalkan agama dalam setiap pembicaraannya ibarat

ikan masih diluar air baru memandang kearah air belum masuk ke air. Kalau sudah masuk ke

air tidak lagi melihat adanya air karena sudah menyatu, dia hanya focus pada kesibukan yang

seharusnya dia lakukan. Sama juga seseorang yang hendak masuk rumah, begitu sudah

masuk tidak lagi melihat dan memperhatikan seperti apa rumahnya.

Orang yang beragama dengan tepat, adalah orang yang hidupnya disibukkan oleh bagaimana

mengaplikasikan ajaran agama yang telah diterimanya dengan sebaik baiknya. Dia seakan -

akan dilupakan dengan apa yang dia pakai, karena begitu sibuknya memperbaiki dirinya

dalam mengamalkan ajaran yang telah diterima, difahami, dan diyakininya. Dengan tujuan

supaya tidak ada kesalahan dalam mengaplikasikan atas apa yang telah didapatnya sehingga

benar benar memenuhi standar yang telah ditetapkan.

Orang macam ini tidak lagi mempersoalkan dia berada digolongan siapa dan bersama siapa.

Dia hanya focus bagaimana dirinya bisa menjadi manusia yang seutuhnya menurut ajaran

Ilahi. Karena emas walau berada ditempat sampah tetaplah emas, yang namanya sampah

walau ditempatkan di istana megah tetaplah sampah.


Begitu juga walau mahir menghapal berbagai kitab dan hafal kitab suci tidaklah mampu

menempatkan dan meyelamatkannya dari keburukan dan kebusukan perilaku yang

diperbuatnya. Yang berharga itu kursi yang telah kau buat bukan pengetahuanmu yang

segudang tentang berbagai hal dalam membuat kursi.

Karena itu bukan seberapa banyak yang telah kamu hapal tapi sampai dimana kamu telah

melakukan apa yang telah kamu pelajari dan yakini.

Kembali kepada apa yang terdapat dalam falsafah Pancasila atau falsafah hidup sebagaimana

yang ada dalam ajaran Pancasila. Sebagaimana founding father bangsa Indonesia telah

mencanangkan dengan segala kemantapan hati dan jiwa serta penuh keyakinan tentang

membentuk manusia Indonesia seutuhnya dengan ajaran Pancasila. Keberanian beliau

mencanangkan Pancasila untuk membentuk manusia seutuhnya tidak terlepas dari inti dari

Pancasila yang sebenarnya telah beliau ketahui dan fahami hakekatnya.

Beliau mendapatkan lima pedoman dasar yang kemudian disebutnya dengan Pancasila tidak

segampang yang dibicarakan banyak orang. Sudah begitu masih disalah fahami dan

diperselisihkan oleh orang orang dekat beliau sendiri, sampai saat ini masih juga

dipertentangkan. Founding father Ir Soekarno tidak diragukan lagi keagamaanya dan

keislamanya, beliaulah orang yang mampu mengaplikasikan keagamaan ke dalam kehidupan

nyata secara baik dan benar tidak kalah dengan para kyai kesohor atau ulama ternama

sekalipun.
Bukti dari hal itu semua adalah apa yang beliau sampaikan dalam bentuk lima pedoman dasar

yakni Pancasila dan bukti bukti lain yang telah beliau perbuat.

Adapun hakekat dari makna pancasila mulai dari sila pertama sampai kelima adalah Cipto,

Roso, Rumongso, Ngrasakne, Ngrumangsani. Yang ke limanya merupakan satu kesatuan utuh

yang saling terkait menjadi satu, sebagai pembentuk manusia seutuhnya. Tanpa kelima hal

tersebut tidak mungkin manusia bisa dibentuk menjadi manusia seutuhnya, karena komponen

tersebutlah yang berfungsi sebagai pengelola keilmuan yang diterima dan didapat oleh

manusia.

Sebanyak apapun ilmu yang dipelajari dan dihafalkan tapi melupakan unsur kemanusiaan

tersebut akan menjadi sesuatu yang sia sia belaka. Orang yang pintar dan banyak ilmu yang

tidak diolah dengan unsur kemanusiaan tersebut akan menjadi racun dunia dan pembawa

malapetaka bagi orang banyak.

Karena dengan kelima unsur tersebut manusia mampu mengaplikasikan ajaran agama dengan

baik dan tepat, itulah tujuan dari Tuhan menciptakannya.

Kelima unsur atau bagian yang menjadi dasar Negara Indonesia tersebut menjelaskan tentang

system kerja dan rangkaian kerja dari cipto, roso, akal-budi, nafsu (howo/doyo/murko), dan
sukmo. Yang kesemuanya menjadi satu kesatuan utuh yang tak terpisahkan dalam jagad

manusia, yang masing masing mempunya peran dan fungsinya sesuai kodrat yang telah

ditentukan oleh Tuhan Sang Kholik.

Yang kemudian oleh founding father bangsa Indonesia dibahasakan untuk menyamarkannya

dengan kalimat yang terdapat dalam naskah UUD 45. Dan secara hakekat kalimat yang

dimaksud dalam dasar Negara tersebut adalah secara urut Cipto, Roso, Rumongso,

Ngrasakne, Ngrumangsani.

Yang mungkin dan bisa dibahas untuk orang kebanyakan adalah makna harfiah yang

menjelaskan mengenai pengertian Cipto, Roso, Rumongso, Ngrasakne, Ngrumangsani untuk

mendudukkan makna yang sesungguhnya dari Pancasila.

Kenapa dalam dasar Negara sila pertama berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa, mana bukti

yang menunjukkan bahwa kalimat tersebut adalah unsur Cipto. Lalu sila kedua Kemanusiaan

yang adil dan beradab adalah Roso. Selanjutnya sila ketiga Persatuan Indonesia adalah

Rumongso. Dilanjutkan dengan sila ke empat Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat

kebijaksanaan dalam permusyaratan perwakilan adalah Ngrasakne. Kemudian sila kelima

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan kata lain dari Ngrumangsani.
Untuk mendudukkan satu bagian yang terdapat dalam satu ujud sebuah benda yang

diperlukan adalah kesamaan penilaian dan kesamaan pandang yang universal yang timbul

dalam alam kesadaran pribadi. Misal pegangan pintu disebut Slot, cukup disebut dengan slot

semua orang tahu kegunaan dan fungsinya sekaligus bentuknya secara umum. Kemudian

pengait antar bagian pada pintu untuk menyatukan kayu pembentuknya disebut dengan paku

atau pasak. Cukup dengan menyebut paku semua orang sudah tahu dan faham tidak perlu lagi

dijelaskan secara panjang lebar apalagi diperdebatkan dengan berbagai argument.

Keterangan mengenai unsur kemanusiaan yang nobene membicarakan mengenai berbagai hal

tentang Ketuhanan tidak ada yang tidak logis. Tinggal sampai dimana kita mampu

menangkap dan membuktikannya sehingga bisa menjelaskan hal hal yang dianggap ghaib

atau tidak nyata menjadi nyata dan logis bisa diterima akal sehat.

Kalau tidak logis dan tidak masuk akal perlu dipertanyakan kevalidan dan keabsahannya apa

benar itu ajaran Ilahi atau ketentuan Tuhan. Sebagaimana secara kasat mata telah ditemukan

melalui penelitian oleh ahli dari golongan orang yahudi mengenai maksud dan tujuan adanya

perintah untuk menunggu masa iddah bagi wanita yang telah bercerai yang hendak menikah

lagi. Disitu terbukti adanya jejak jejak genetic yang ditinggalkan oleh suami dalam area

peranakan wanita yang baru hilang atau bersih setelah melewati masa tiga bulan. Itu termasuk

bukti ketentuan Tuhan yang kasat mata (empiris) walau melalui hasil penelitian ilmiah.
Ketentuan Tuhan atau yang disebut kodrat misalnya kodratnya makan tentu lewat mulut, apa

buktinya dan kemudian apa persyaratan yang mendukung mengenai bahwa kodratnya untuk

makan harus lewat mulut. Itulah gambaran mengenai ketentuan Tuhan, jadi ketentuan Tuhan

yang berupa wahyu yang tertulis atau tidak tertulis juga demikian halnya. Seperti ketentuan

adanya larangan mengenai sesuatu hal pasti ada bukti empiris yang menjelaskan kenapa

sesuatu itu dilarang. Demikian juga tentang hal yang menyangkut mengenai sebuah perintah,

pasti juga ada sebab kenapa itu diperintahkan.

Pada intinya semua perintah dan larangan menyangkut dan berkaitan dengan peningkatan

nilai kemanusiaan, karena Tuhan tidak membutuhkan itu semua yang membutuhkan adanya

itu semua adalah manusia. Contoh larangan mengkonsumsi tanaman yang diharamkan

semisal ganja, begitu teramat jelas dampak dan resiko akibat mengkonsumsi ganja. Begitu

juga perintah untuk melakukan puasa hal ini disebabkan dalam diri manusia ada dzat atau

komponen kemanusiaa yang dia akan berfungsi dan meningkat kemampuannya kalau kita

melakukan puasa (ngurang ngurangi). Demikian seterusnya, jadi jangan pernah

beranggapan bahwa Tuhan membutuhkan semua itu, kitalah yang membutuhkan Tuhan agar

kemanusiaan kita menjadi berkualitas. Karena ada dan tiadanya kita Tuhan tetap saja Mulia,

Maha Kuasa, dan sebagainya.

Semua yang telah terjadi di alam semesta ini beserta segala isi yang ada di dalamnya,

termasuk hasil olah fikir dan pemikiran manusia adalah merupakan ketentuan Tuhan memang

harus demikian terjadinya. Termasuk mengenai munculnya berbagai agama dan kepercayaan,

itu semua hanyalah sekedar sarana bagi manusia untuk melakukan perjalanan spiritual yang
seharusnya mengarah pada satu titik, sehingga mencapai tahapan tertentu menurut maqomnya

masing masing.

Untuk itulah semestinya kita tidak berhenti di satu tempat dan keadaan dalam menyikapi

kepercayaan dan keyakinan kita terhadap apa yang kita percayai dan yakini saat ini. Kalau

memang benar benar di dalami dan melebur secara total ke dalam ajaran yang kita yakini

dan fahami semua akan mengarah pada satu titik yaitu titik Ilahiyah. Oleh sebab itu kenapa

dalam ajaran agama ada yang berupa perintah dan larangan, semua itu guna menggiring kita

manusia agar menuju pada satu titik Ilahiyah. Karena kalau sudah sampai disitu, kita berasal

dari kepercayaan apa saja bukan mejadi soal, nanti juga akan tahu dan faham sendiri mana

yang harus diyakini dan diikuti serta dilaksanakan.

Yang menjadi sebab seseorang berhenti pada satu keadaan dan tidak mungkin akan beranjak

dikarenakan sifat egosentris dengan keyakinan dan kepercayaannya. Sehingga munculah

sentiment pribadi yang diatasnamakan agama, ini disebabkan oleh penyakit hati yaitu Dumeh

(suka merendahkan atau menyepelekan), suka Kaduk ati (tinggi hati), dan sok Kegedhen

rumongso (kebesaran anggapan terhadap diri sendiri.

Jadi dalam mempercayai dan meyakini sesuatu seharusnya dikembalikan ke dalam diri kita

sampai dimana tingkat pemahaman dan tingkat perjalanan kita terhadap apa yang kita yakini.

Apa telah tepat dan pas pemahaman kita terhadap ajaran ajaran yang kita percayai,

kemudian praktik yang telah saya lakukan apa telah memenuhi persyaratan untuk bisa diakui.
Selanjutnya apa saya telah tahu dan faham betul ketentuan mengenai persyaratan

persyaratanya agar apa yang saya lakukan mendapat nilai sesuai dengan yang distandarkan.

Buktinya apapun agama kita kalau tersengat api terasa panas, kemudian bila tidak kemasukan

makanan apapun dalam perut, juga merasakan lapar. Itulah bukti keadilan Tuhan dan para

malaikatnya, jadi jangan berharap dapat kompensasi hanya karena percaya dan yakin semata

terhadap satu agama, tapi mana bukti kepercayaan dan keyakinan yang telah kita nyatakan itu

yang dinilai.

Kalau kita percaya dan yakin kemudian kita buktikan kepercayaan dan keyakinan kita api

bisa tidak berasa panas, tidak makanpun bisa tidak terasa lapar.

Oleh karena itu kenapa ada perintah untuk bergaul yang baik terhadap siapa saja tanpa

pandang bulu. Hal ini bertujuan agar kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari apa

yang kita hadapi dan kerjakan. Sebab pada tiap tiap sesuatu pasti ada sesuatu hal yang baik,

kalau kita mampu menangkap dibalik sesuatu yang telah terjadi. Sebagaimana telah disitir

oleh Tuhan dalam satu ayat tidaklah Aku menciptakan sesuatu di dunia ini yang bersifat sia

sia. Jadi teramat nyata dan jelas keberadaan beragam agama dan kepercayaan pasti

mengandung sesuatu rahasia Tuhan. Dimana sebenarnya titik pusat lingkaran dari semua itu

dan kemana seharusnya itu semua bermuara itu terserah manusianya mau dikemanakan diri

ini.
Sudah teramat jelas tiap tiap pilihan ada resikonya masing masing, yang sudah memilih

dengan tepatpun juga ada resiko yang harus ditempuhnya kalau tidak ingin menyesal

nantinya.

Selanjutnya

Pendahuluan

Jika kita mendengar istilah disiplin seringkali yang terlintas dalam benak kita

adalah gambaran-gambaran negatif, misalnya: hukuman, tuntutan, perintah yang harus ditaati

atau paksaan/tekanan untuk melakukan sesuatu. Tidak jarang ada sebagian orang tertentu

merasa disiplin sebagai momok namun terpaksa ditaati supaya tidak terjadi konsekuensi-

konsekuensi yang tidak diinginkan. Plato sebagai seorang ahli filsafat mengatakan,

Kemenangan yang pertama dan yang terbaik adalah menaklukkan diri sendiri. Ya,

menaklukkan diri sendiri boleh dikata adalah hal yang paling sulit dilakukan, untuk mampu

menaklukkan diri sendiri diperlukan suatu disiplin yang sangat tinggi.

Apakah disiplin adalah sesuatu yang bersifat memaksa seseorang? Atau sebaliknya

apakah disiplin adalah bagian yang menyenangkan bagi seorang murid yang hendak

bertumbuh? Apa pentingya disiplin dalam kehidupan seorang murid Kristus?

II. Pengertian Disiplin


A. Pengertian Umum

Menurut Om Wiki (Wikipedia) , disiplin merupakan perasaan taat dan patuh

terhadap nilai-nilai yang dipercaya, termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang dirasakan

menjadi tanggung jawab. Intinya, disiplin bukan hanya diartikan sebagai taat terhadap

peraturan, tapi juga terhadap waktu, pada jadwal, maupun bertanggung jawab terhadap uang.

Sedangkan pengertian lain mengatakan bahwa kata disiplin berasal dari bahasa

Yunani, dari akar kata yang berarti menggenggam atau memegang erat. Kata ini

sesungguhnya menjelaskan orang yang bersedia menggenggam hidupnya dan mengendalikan

seluruh bidang kehidupan yang membawanya kepada kesuksesan atau kegagalan.

B. Pengertian Dalam Alkitab

Dalam PL, kata yang dipakai untuk menerangkan disiplin adalah rsy = ysr (baca: yasar). Kata

ini mengalami pergeseran arti dari admonish (mis: Mzm. 94:10, LAI: menghajar; Ams. 9:7,

LAI: mendidik), dan discipline (mis: Ul. 4:36, LAI: mengajar; Ams. 3:11, LAI: didikan),

menjadi chastise atau menghukum untuk kebaikan (mis: Im. 26:18, 28; Ams. 19:18). Kata

disiplin juga dikaitkan dengan kata benda rs:Wm (msar) yang digunakan dalam konteks

mengkoreksi (Ams. 15:33, NASB: instruction) yang akan memimpin kepada hikmat dan

didikan. Pendisiplinan seorang anak oleh ayahnya memberikan suatu analogi bagi

pendisiplinan umat perjanjiannya (Ul. 8:5; Ams. 3:11-12; cf. Ibr.12:4-11).

Dalam PB, kata kerja yang digunakan paideu,w (baca:paideua) dan kata benda

paideia memiliki kesamaan dalam pergeseran arti seperti ysr dan msar. Dan Musa dididik

dalam segala hikmat orang Mesir . . . (Kis. 7:22) dan . . . Di manakah terdapat anak yang

tidak dihajar (didisiplin) oleh ayahnya? (Ibr. 12:7). Kata paideua juga digunakan dalam

konteks disiplin ilahi (Ibr. 12:6).


Istilah disiplin telah diterapkan dalam bidang keagamaan sejak permulaan sejarah

manusia yang ditemukan dalam Yudaisme maupun Kekristenan. Seorang pengikut Kristus

biasanya dipanggil disciple (murid), yang berarti di dalam hidupnya mencakup disciplines

dalam menjalankan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus (Flp. 3:9).

Jadi kata disiplin (Ing. discipline) memiliki akar kata yang sama dengan murid (Ing.

disciple), yang artinya adalah kesediaan untuk diajar atau dilatih sehingga menghasilkan

keteraturan, ketaatan, dan pengendalian-diri.

Alkitab memberikan banyak contoh kehidupan orang yang berdisiplin, seperti: Musa,

Yosua, Daud, Nehemia, Paulus, dan Yesus Kristus sendiri.

C. Disiplin dan Rutinitas

Beda disiplin dan rutinitas

Ada beberapa perbedaan yang mendasar antara rutinitas dan disiplin. Meskipun keduanya

sangat penting bagi kehidupan, namun keduanya tidaklah sama. Karena alasan itulah, maka

menjaga kedisiplinan agar tidak berubah menjadi suatu rutinitas sangatlah penting. Hal ini

juga penting dalam kehidupan rohani kita, karena banyak sekali pengikut Kristus yang telah

mengubah anugerah disiplin, yang diberikan Allah untuk membantu kita bertumbuh di dalam

Dia, menjadi aktivitas-aktivitas rutin yang sama sekali tidak memiliki kuasa untuk mengubah

kehidupan.

Rutinitas adalah sesuatu yang kita lakukan untuk menjaga status quo, seperti menyikat gigi

dan bersiap-siap untuk berangkat bekerja, mengganti oli mobil, mengunci pintu, mematikan

lampu sebelum tidur, mengatur tempat tidur setiap pagi, dan lain-lain. Rutinitas-rutinitas ini

menempati posisi penting dalam kehidupan kita, namun rutinitas-rutinitas ini tidak mengubah
atau meningkatkan apa pun. Rutinitas hanya menjaga agar kita tetap berada pada tingkat

tertentu, sehingga menolong semua sistem hidup kita berfungsi dengan normal.

Rutinitas tidak membutuhkan banyak usaha keras. Kita tidak perlu bersusah payah untuk

melakukannya. Bahkan, mungkin kita melakukan rutinitas tanpa kita sadari -- seperti

membawa kendaraan menuju kampus / tempat kerja atau membuang sampah -- tanpa ada

energi atau usaha tambahan sama sekali. Selain itu, rutinitas hanya membutuhkan sedikit

pemikiran. Mengerjakan rutinitas tidak memerlukan perencanaan, tidak membutuhkan

pengawasan yang serius atau evaluasi, dan dilakukan sepanjang waktu tanpa perlu pemikiran.

Malah, ketika kita sedang melakukan rutinitas, kita menggunakan pikiran kita untuk

memikirkan hal-hal lain. Hal ini sama seperti ketika seseorang mendengarkan radio sambil

mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja atau sambil menyetir kendaraan ke kantor.

Rutinitas hanya membutuhkan sedikit waktu dan sedikit ketidaknyamanan, yang mana

sebenarnya kita rela memberikannya karena kita telah mendapatkan keuntungan dari

memeliharanya setiap hari. Rutinitas juga jarang diubah. Kita setiap hari selalu berangkat

kerja melewati jalan-jalan yang sama, melakukan persiapan kerja dengan mengikuti urutan

yang sama atau membersihkan dapur setelah makan dengan cara yang sama.

Kita tidak merasa perlu untuk mengubah rutinitas, sehingga kita terus mengikutinya tanpa

banyak berpikir atau menyesuaikan diri dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Rutinitas

tersebut baik bagi kita, karena membuat kita tetap berada pada posisi status quo dalam

beragam bidang kehidupan kita, namun sebenarnya rutinitas tidak membuat kita berkembang

di bidang-bidang kehidupan tersebut.

Sedangkan disiplin berbeda. Disiplin adalah sesuatu yang kita lakukan dengan tujuan

agar terjadi perubahan. Seperti yang dikatakan oleh Dallas Willard: "Disiplin adalah setiap
aktivitas yang ada di bawah kuasa kita untuk kita lakukan, yang memampukan kita untuk

melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan tanpa "usaha terarah". Misalnya, menurunkan

berat badan atau membentuk tubuh (sehingga kita tampil dan merasa lebih baik dan berumur

lebih panjang); atau belajar ketrampilan baru dalam pekerjaan (sehingga kita bisa

mendapatkan promosi atau naik posisi). Kita tidak bisa membuat diri kita merasa lebih baik,

dan kita tidak bisa mendapatkan promosi atau naik posisi hanya dengan usaha biasa. Jadi, kita

harus melakukan disiplin-disiplin tertentu yang kita percaya bisa memampukan kita untuk

mencapai target yang kita inginkan

tersebut -- hal-hal yang tidak dapat segera kita peroleh hanya dengan kekuatan biasa saja."

Kedisiplinan bisa menyedot usaha yang besar. Kita memaksa tubuh kita untuk naik ke

level yang lebih tinggi melalui latihan setiap hari; atau kita meluaskan wawasan pikiran kita

ke arah yang baru untuk memahami prosedur-prosedur baru atau menguasai teknologi baru.

Kita memaksa otak dan tubuh kita untuk melakukan aktivitas yang terfokus dan sungguh-

sungguh untuk mempersiapkan diri menerima peran dan tanggung jawab baru atau menjalani

gaya hidup baru yang diinginkan. Disiplin yang baik membutuhkan keterlibatan intelektual

yang serius -- yaitu membuat rencana, mengawasi kemajuan, mengevaluasi tingkat- tingkat

penguasaan, dan lain sebagainya.

Lebih jauh lagi, disiplin cenderung melibatkan investasi waktu yang sangat besar. Untuk

melakukan disiplin-disiplin tersebut kita harus mengorbankan aktivitas-aktivitas lain yang

mungkin sebenarnya lebih kita sukai dan kita sungguh-sungguh akan mengkonsentrasikan

waktu dan usaha agar bisa menguasai disiplin-disiplin tersebut karena kita yakin usaha

tersebut dapat memberikan apa yang kita inginkan. Kita harus mau mengorbankan sesuatu

yang kita senangi -- makanan, aktivitas-aktivitas di waktu luang, atau istirahat -- agar kita

dapat mencurahkan waktu dan usaha yang diperlukan, misalnya untuk membentuk tubuh
yang lebih sehat, menjadi karyawan yang lebih baik, atau menyiapkan diri untuk memperoleh

pekerjaan baru. Disiplin cenderung perlu penyesuaian dari waktu ke waktu. Ketika kita telah

mencapai satu tingkat tertentu atau penguasaan suatu hal, kita bisa mengubah disiplin-disiplin

yang kita targetkan untuk mendorong kita mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi.

Baik rutinitas maupun kedisiplinan, keduanya sangat penting dalam hidup kita. Namun, dua

hal itu jelas tidak sama. Permasalahan timbul ketika kita mengizinkan hal yang disiplin

menjadi semacam rutinitas saja. Ketika hal itu terjadi, maka disiplin yang kita terapkan, tidak

hanya tidak menghasilkan apa yang kita inginkan tapi juga membuat disiplin menjadi sesuatu

yang berat, menjengkelkan dan membosankan. Kita mungkin setia melakukan disiplin

tersebut, namun tidak dengan cara sebagaimana seharusnya disiplin itu dirancang dan tentu

saja, tidak banyak hasil yang diperoleh dari usaha yang kita lakukan itu.

Masalah ini menjadi hal yang serius, khususnya dalam area kehidupan rohani, yaitu ketika

mempraktikkan anugerah disiplin, kita izinkan menjadi sesuatu yang tidak lebih dari sekedar

rutinitas rohani belaka.

Allah memberikan kita anugerah disiplin (disiplin rohani) sebagai cara untuk menolong kita

bertumbuh dalam kasih kepada-Nya dan kepada sesama kita. Sarana-sarana yang berharga ini

-- doa, Firman Tuhan, penyembahan, waktu sendiri bersama Tuhan (solitude), memberi

persembahan, berpuasa, diam di hadirat Tuhan, dan lain-lain membawa kita masuk ke

dalam hadirat-Nya, dengan cara yang tidak bisa didapatkan hanya dari kegiatan sehari-hari.

Disiplin-disiplin ini akan memampukan kita untuk melihat sekilas kemuliaan-Nya dan masuk

ke dalam kuasa-Nya yang dapat memberi pembaharuan hidup setiap hari dalam Yesus

Kristus. Namun, ketika praktik disiplin rohani diizinkan berubah menjadi aktivitas-aktivitas

rutin saja -- maka disiplin rohani itu kehilangan kuasanya untuk membawa kita bertatap muka

dengan Tuhan dalam cara-cara yang mentransformasi hidup.


Pada zaman Yesus hidup di dunia, tidak ada kelompok lain yang dikenal lebih disiplin selain

para pemimpin agama Yahudi. Semua orang zaman itu mengenal mereka sebagai orang yang

paling banyak berdoa, paling mengenal Alkitab, paling setia berpuasa, dan paling sering

memberi sedekah kepada orang miskin. Beberapa diantara mereka sangat sungguh-sungguh,

misalnya Zakharia dan Nikodemus. Namun, sebagian besar diantara mereka tidaklah

demikian. Disiplin-disiplin rohani yang mereka lakukan tidak mampu mempersiapkan hati

mereka untuk menyambut kedatangan Mesias dan tidak mampu membuat mereka mengenali

Yesus saat Dia muncul di tengah-tengah mereka untuk mengajar dan melakukan hal-hal yang

baik. Praktik disiplin rohani yang mereka lakukan, tidak membantu mereka bertumbuh dalam

kasih, baik kepada Tuhan maupun sesama. Banyak diantara mereka malah menjadi sombong,

serakah,

mengabaikan orang banyak dan sangat melindungi status istimewa mereka di mata

masyarakat. Mereka melihat Yesus sebagai ancaman dan setelah tiga tahun mengawasinya,

maka kemudian mereka bersekongkol merencanakan pembunuhan terhadap Dia.

Semua disiplin rohani orang-orang Farisi tidak berguna untuk menolong mereka mengalami

kemuliaan Tuhan dan masuk ke dalam anugerah-Nya. Mereka menjalankan praktik disiplin

rohani hanya untuk menjaga status mereka di masyarakat dan bukan supaya mereka

bertumbuh dalam anugerah dan pengetahuan akan Tuhan. Disiplin rohani mereka telah

menjadi rutinitas, yang hanya memberikan kepuasan diri yang besar dan membuat status

mereka terlindungi di mata orang banyak. Namun, kehidupan

rohani mereka kosong dan tidak mendapatkan persekutuan yang sungguh-sungguh dengan

Tuhan. Mereka telah menjadi "kuburan yang dilabur putih", seperti yang diamati Yesus --

mereka memuaskan diri sendiri, membenarkan diri sendiri, bangga terhadap diri sendiri, dan

congkak.
Sebelum kehidupan rohani kita berubah ke arah kondisi seperti itu, dan kita menjadi negatif

dan suka menghakimi, kurang mengasihi dan tidak memiliki semangat untuk hidup dalam

iman atau melakukan misi Yesus, maka kita perlu mempertimbangkan, apakah praktik

disiplin rohani kita benar-benar sesuai dengan yang Tuhan inginkan dan rencanakan.

III. Pentingnya Disiplin

Pahlawan sejati adalah mereka yang berhasil menaklukkan diri sendiri. Pahlawan-

pahlawan sedemikianlah yang kita butuhkan kini untuk meneruskan perjuangan para

pahlawan kita dulu. Bukankah para pahlawan kita layak disebut pahlawan, karena

mengobarkan sikap mental kepahlawanan: berani berkorban, pantang menyerah, berani

memperjuangkan kebenaran?

Mentalitas kepahlawanan, agaknya meluntur sudah kini. Salah satu yang langka

dijumpai adalah disiplin. Padahal ketidakdisiplinan merusak dan menghancurkan. Tidak

disiplin dalam berlalu lintas, terjadi kekacauan. Tidak disiplin berbicara, jadilah ketegangan

sosial. Tidak disiplin waktu, semangat kerja merosot. Tidak disiplin dalam kebersihan,

rusaklah lingkungan hidup. Pokoknya, tidak disiplin membuat pemborosan dan penyia-

nyiaan potensi yang ada.

Kalau kita perhatikan, ada orang-orang yang sukses dalam banyak hal. Mereka sukses

dalam karier, sukses dalam berumah tangga, sukses dalam pelayanan. Kesehatan tubuhnya

juga baik. Jika kita teliti orang-orang seperti ini, maka kita akan menemukan ada sebuah

kesamaan yang membuat mereka berhasil, yakni mereka disiplin.

Sebaliknya ada orang-orang yang serba gagal. Gagal dalam pekerjaan, gagal dalam

berkeluarga, gagal dalam kesehatan. Dan kalau kita teliti orang orang itu, maka ada juga

sebuah kesamaan, yakni tidak mereka mengabaikan disiplin. Pasti ada yang berkata:
yah..saya memang membiarkan segalanya merosot sihsaya sering menunda-nuda

pekerjaan, saya kalau bersenang-senang tidak tahu waktu berhenti,.sampai

mengabaikan pekerjaan. Saya kurang disiplin berolah raga sehingga saya sakit-sakitan.

Kurang disiplin makan buah atau sayuran. ..Saya tidak melewatkan waktu bersama

keluarga. Semua itu berakar oada kurangnya disiplin.

Disiplin adalah latihan untuk menghasilkan sikap atau pola tingkah tertentu. Disiplin

adalah tindakan-tindakan terkendali yang muncul sebagai akibat adanya tempaan. Inti dari

disiplin ialah penaklukkan diri kepada aturan. Untuk orang percaya, disiplin adalah bukti

konkret ketaatan kita kepada Allah dan firman-Nya, bukti kasih kita sebagai murid-Nya.

Disiplin juga adalah salah satu rahasia Paulus dipakai Tuhan (1Kor. 9:24-27).

1 Korintus 9:24-27

9:24 Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut

berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah

begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

9:25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai

dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota

yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

9:26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang

sembarangan saja memukul.

9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah

memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

Para pesaing dalam pertandingan zaman dahulu, setelah mereka melakukan

penyangkalan diri dan disiplin yang ketat, tidak selamanya dipastikan akan memperoleh
kemenangan. Hadiah hanya dapat dihadiahkan kepada satu orang saja. Beberapa orang harus

melakukan usaha yang keras untuk memperoleh mahkota penghormatan ini, tetapi ketika

mereka berusaha untuk memperolehnya, orang yang lain yang lebih dahulu berada sebelum

dirinya, akan berusaha juga untuk mendapatkan hadiah tersebut. Tetapi tidak seperti itu

halnya dengan pertempuran Kristen. Mereka yang menuruti peraturan yang ada, tidak akan

dikecewakan pada akhir pertandingan tersebut. Mereka semua akan memperoleh hadiah, dan

kemenangan dan akan memakai mahkota kemuliaan yang abadi.

Banyak orang di dunia ini sedang menyaksikan pertandingan hidup ini, pertempuran

Kekristenan. Penguasa alam semesta dan berlaksa-laksa malaikat surga, sedang menonton

usaha-usaha dari mereka yang mau bergabung dalam pertandingan Kekristenan. Hadiah yang

diberikan kepada setiap orang adalah sesuai dengan tenaga dan kesetiaan yang sungguh-

sungguh yang dia telah tunjukkan dalam bagiannya pada pertandingan besar itu. Paulus

sendiri mempraktikkan penyangkalan diri dan mengalami penderitaan dan kekurangan

sehingga dia dapat memenangkan hadiah kehidupan yang abadi, dan melalui teladan dan

pengajarannya, menuntun orang lain juga untuk menjadi pemenang dari hadiah yang sama

seperti yang diperolehnya.

Dia berkata: "Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang

sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya,

supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak" (1 Korintus

9:26, 27). Rasul Paulus rindu untuk membangkitkan saudara-saudaranya di Korintus untuk

melihat bahaya yang mengancam mereka melalui kepuasan diri; kemudian dia menghadapi

disiplin yang tegas dan diet yang bebas dari minuman keras, dengan tujuan untuk

mengembangkan kesehatan, kekuatan, tenaga dan ketabahan dalam menghadapi para pesaing

dalam pertandingan itu. Dia memberikan perbedaan antara persiapan ini dan konsekuensinya,
dan kehidupan orang-orang Kristen di Korintus yang suka menurut, yang akan memenangkan

hadiah keabadian, dan membutuhkan kekuatan tubuh dan pikiran yang sepenuhnya supaya

mereka memperoleh kemenangan.

Dia menunjukkan kepada mereka bahwa sampai saat ini, usaha mereka akan lebih

mendapatkan celaan; karena bukan hanya keinginan terhadap kesehatan rohani dan

penghormatan Injil, yang dapat menyebabkan mereka menolak nafsu dan keinginan yang

mereka sangat idam-idamkan. Di dalam menuruti nafsu-nafsu serta keinginan yang rusak ini

yang mereka pernah terlibat di dalamnya dengan upacara-upacara penyembahan berhala,

akan membahayakan iman orang-orang yang baru bertobat dari penyembahan berhala ini.

Paulus menasihati mereka untuk tetap teguh mengendalikan nafsu-nafsu dan keinginan-

keinginan hewani mereka. Tubuh - hasil karya agung dari pekerjaan Allah, - seperti alat yang

sempurna, harus dipelihara kesehatannya, supaya dapat menghasilkan tindakan yang serasi.

Dia berkata bahwa kecuali orang Kristen melakukan nasihat-nasihatnya, bertarak dalam

segala hal, mereka, - setelah berkhotbah kepada orang lain, akan dibuang.

Paulus menyadari bahwa tubuh adalah rumah Roh Allah. Sebab itu, harus dihargai

tinggi dan dipelihara hati-hati. Untuk itu, ia menjalankan disiplin menyeluruh. Ini logis, sebab

kegagalan atau keberhasilan kita di satu bidang hidup, sering berkaitan dengan gagal tidaknya

kita di aspek hidup lainnya. Disiplin itu sendiri adalah buah Roh. Roh yang hadir dalam

orang percaya, akan membantu kita hidup terkendali di bawah kehendak dan hukum-hukum-

Nya. namun, kita sendiri perlu aktif melatih diri. Kelakuan tumbuh dari kebiasaan, kebiasaan

berkembang karena membiasakan diri. Kecil menjadi besar. Maka perlu melatih diri taat,

hidup teratur dari hal-hal sepele sampai ke karakter.

Disiplin jelas menyangkut soal yang konkret. Soal banyaknya yang kita makan, soal

berapa lama kita tidur, soal perlu tidaknya yang kita obrolkan, dlsb. biasanya dalam hal-hal
sedemikian, disiplin berkaitan dengan keseimbangan hidup. Artinya janganlah kita

melakukan sesuatu berlebih-lebihan, tetapi secukupnya dalam sikap syukur. Supaya kita tidak

diperbudaknya, tapi kita tuannya di bawah kontrol Kristus.

Disiplin semacam ini tentu menuntut penyangkalan diri. Kemanusiaan tanpa disiplin

dan penyangkalan diri adalah kemanusiaan yang sakit, merosot menjadi primitive

kebinatangan. Itu sebab Tuhan Yesus mengenakan kita kuk perhambaan kepada-Nya.

Ilustrasi:

Ada kisah seorang Atlet Pelari Wanita pertama yang berhasil meraih 3 medali emas

dalam Olimpiade Roma tahun 1960. Dia adalah Wilma Rudolph. Padahal ketika kecil dia

terserang penyakit polio yang menyebabkan dia lumpuh selama bertahun-tahun. Namun pada

usia sekitar 11 tahun dia sudah mulai bisa berjalan dia bercita-cita untuk menjadi seorang

pelari. Lingkungannya mulanya tidak percaya. Tapi ibunya terus mendukung cita-cita Wilma

Rudolph. Setelah itu Wilma Rudolph terus berlatih-berlatih, selama bertahun-tahun dengan

disiplin. Sampai akhirnya dia berhasil mewujudkan impiannya menjadi wanita pertama

merebut 3 medali emas di cabang lari pada olimpiade roma tahun 1960.

Wilma Rudolf membutuhkan banyak tantangan, latihan, dan disiplin tinggi untuk

menjadi juara, dan tidak ada yang instant,

IV. Bagaimana Menjalankan Disiplin?

Dalam buku Developing the Leader Within You, John Maxwell menyatakan ada dua

hal yang sangat sukar dilakukan seseorang. Pertama, melakukan hal-hal berdasarkan urutan
kepentingannya (menetapkan prioritas). Kedua, secara terus-menerus melakukan hal-hal

tersebut berdasarkan urutan kepentingan dengan disiplin.

Berikut beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk meningkatkan disiplin diri:

Pertama, Perlu ada keputusan dini. Misalnya, sdr menyadari bahwa untuk bertumbuh

dalam kerohanian, maka sdr wajib melakukan 3 hal ini: ibadah setiap minggu, Bersaat

teduh setiap hari, melayani Tuhan. Sdr kemudian memutuskan bahwa ketiga hal ini sudah

harus dilakukan tanpa perlu dipertimbangkan lagi. Sdr tidak perlu lagi menanyakan pada

hari sabtu pagi:besok ke gereja enggak yah? Perlu menyetel weker enggak? Siapa yang

kotbah? Bagaimana cuacanya? ENGGAK USAH DIPIKIRIN LAGI. Keputusan itu sudah

final, hanya lakukan saja. ATAU ketika bangun pagi setiap hari. Tentukanlah waktunya.

Misalnya sdr mau saat teduh setiap pagi. Bangun tidur langsung saat teduh, enggak

melakukan hal yang lain.

Kedua, Kita membutuhkan teman-teman persekutuan untuk mengingatkan diri

kita, karena pencobaan itu panas dan kemalasan itu hangat

Ketiga, Arahkanlah pikiran kita kepada hasilnya. Kalau kita mengingatkan diri bahwa

hasil daripada disiplin ini sangat besar, maka kita pasti akan berusaha untuk mendisiplin

diri. Disiplin tanpa imbalan tidak akan menarik. Setiap orang yang sedang dalam latihan,

menahan diri dalam segala hal. Ia melakukan itu karena ia ingin dikalungi dengan

karangan bunga kejuaraan, yaitu bunga yang segera akan layu. Tetapi kita ini menahan

diri dalam segala hal karena kita ingin dikalungi dengan karangan bunga yang tidak akan

layu. (1Kor 9:25). Ada imbalan yang Paulus harapkan dalam menerapkan disiplin.

Keempat, mulai dengan disiplin dari hal yang kecil. Penjelasan paling baik untuk

filosofi mengenai bagaimana membangun disiplin diri adalah analogi. Disiplin diri itu
seperti otot. Semakin Anda melatihnya, semakin kuat Anda. Semakin Anda tidak

melatihnya, semakin lemah Anda. Diperlukan otot untuk membangun otot. Maka dari itu,

untuk membangun disiplin diri, kita memerlukan disiplin diri. Cara untuk membangun

disiplin diri analoginya sama dengan melakukan angkat beban untuk membangun otot. Ini

berarti mengangkat beban sampai mendekati batas kemampuan/kekuatan. Perhatikan

ketika Anda mengangkat beban, Anda mengangkat beban yang mampu Anda angkat.

Anda memaksa otot-otot Anda sampai Anda tidak kuat lagi dan kemudian beristirahat.

Adalah suatu kesalahan untuk memaksa diri Anda terlalu keras saat Anda membangun

disiplin diri. Jika Anda mencoba mengubah hidup Anda dalam semalam dengan

menetapkan lusinan tujuan untuk diri Anda sendiri dan keesokan harinya Anda berharap

bisa memulai melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan-tujuan itu secara konsisten, Anda

hampir pasti akan mengalami kegagalan. Hal itu sama seperti orang yang pergi ke tempat

fitnes untuk pertama kalinya dan mencoba mengangkat beban tiga ratus kilogram. Anda

hanya akan terlihat bodoh

Jangan bandingkan diri Anda dengan orang lain. Itu tidak akan menolong. Jika Anda

berpikir bahwa Anda lemah, orang lain akan tampak lebih kuat. Sebaliknya, jika Anda

berpikir bahwa Anda kuat, orang lain akan tampak lebih lemah. Tidak ada gunanya

melakukan hal tersebut. Lihatlah kemampuan Anda sendiri dan bercita-citalah bahwa

Anda akan semakin kuat saat Anda melatih diri.

V. Disiplin Rohani Anak-Anak Tuhan (1 Tim 6:10-12)

Suatu kali seorang bernama C.B. Hedstrom beremigrasi dari Swedia ke Amerika.

Hedstrom mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk membeli tiket kapal yang akan

membawanya ke negara tujuan. Karena itu ia memutuskan berhemat selama berada di kapal.
Selama perjalanan menyeberangi Atlantis, Hedstrom hanya memilih biskuit crackers dan keju

baik untuk sarapan, makan siang, maupun makan malam. Pada malam terakhirnya di kapal,

Hedstrom memutuskan untuk sedikit merayakan penghematan yang sudah ia lakukan

selama beberapa hari ini. Malam itu ia dengan sangat puas mengisi perutnya dengan daging

panggang yang disediakan untuk menu makan malam. Sewaktu Hedstrom meminta nota

kepada salah seorang pelayan kapal itu, sang pelayan nampaknya menjadi bingung dan

berkata: Tapi tuan, harga dari makanan-makanan selama pelayaran ini, sudah diperhitungkan

dalam tiket yang anda beli.

Apa masalah Hedstrom sebenarnya? Cuma satu: tidak menyadari status dirinya saat

itu. Ia bukan penyelundup, ia bukan penumpang gelap, faktanya ia adalah penumpang legal

yang sudah membayar tiket perjalanan, penumpang yang berhak menikmati segala fasilitas

yang sudah disediakan selama perjalanan pelayaran itu.

Pokok inilah yang hendak diangkat oleh Paulus dalam 1 Tim 6:10-12. Sang Rasul

menggambarkan sebuah status diri yang harus disadari oleh Timotius, yaitu status sebagai

Man of God manusia Allah. Penggambaran Paulus dalam hal ini mirip dengan kisah

C.B. Hedstrom jika status sebagai penumpang kapal akan membawa Hedstrom untuk

menempuh pelayaran menuju ke Amerika sebagai negara tujuan, maka status sebagai Man

of God akan membawa Timotius untuk menempuh perjalanan kehidupan menuju ke suatu

sasaran. Apa artinya? Artinya, sama seperti Hedstrom seharusnya terus menghidupi statusnya

sebagai penumpang selama perjalanan pelayaran itu sampai akhirnya ia tiba di Amerika,

demikian pula Timotius harus konsisten menghidupi statusnya sebagai Man of God sampai

ia tiba di pelabuhan yang dituju. Karena itulah Paulus menegaskan bahwa status unik yang

satu ini menuntut setiap penyandangnya untuk memiliki disiplin rohani tertentu. Kenapa? Ya

supaya tidak jatuh dalam kekonyolan yang dilakukan C.B. Hedstrom tadi, melainkan dapat
hidup sesuai dengan status yang disandangnya itu. Pertanyaannya, Disiplin Rohani seperti

apa yang dimaksud Paulus?

1. DISIPLIN ROHANI YANG BERGERAK SECARA NEGATIF-POSITIF

Kisah nyata C.B Hedstrom yang dicatat oleh David L. Larsen dalam buku Biblical

Spirituality ini menggambarkan kesinambungan dan kontinuitas antara tahap-tahap dalam

keselamatan. Kita mengenal adanya empat tahap dalam keselamatan:

1. Apa yang mendahului keselamatan, yaitu pemilihan dan penentuan ilahi dari semula

2. Apa yang mengawali keselamatan. Di sini panggilan efektif dari Allah memampukan

manusia merespon Injil di dalam pertobatan dan iman (Kis 16:14), mereka kemudian

dibenarkan atau lebih tepatnya dijadikan benar dan menerima status sebagai anak

Allah. (Roma 3:24, 28; Gal 2:16, Roma 8:29).

3. Apa yang merupakan kelanjutan dari keselamatan, yaitu Pengudusan (sanctification).

4. Apa yang menjadi finalitas dari keselamatan: Pemuliaan (glorification)- hasil akhir dari

pengudusan, terealisasi pada saat parousia.

Saudara/i, dalam hal ini pengalaman C.B. Hedstrom melukiskan kesinambungan dan

kontinuitas antara tahap pembenaran (dijadikan benar) dan tahap pengudusan. Status benar

sudah dikenakan, tahap selanjutnya adalah penyucian dan pembentukan karakter yang

berlangsung seumur hidup, sesuai dengan status yang disandangnya. Kekonyolan Hedstrom

adalah ia tetap mengenakan status lamanya yaitu status saat ia belum memiliki tiket: bukan

penumpang kapal, walau pun ia sudah berada di atas kapal. Suatu hal yang sepertinya tidak

terlalu signifikan untuk dipermasalahkan, namun sebenarnya terlalu penting untuk diabaikan

begitu saja.
Perhatikan bagaimana cara Paulus menggarisbawahi hal yang satu ini. Lihat ayat 11.

Paulus membuka perkataannya dengan sebuah kata sambung tetapi, dan diikuti dengan

sebuah status baru: manusia Allah lalu kemudian diikuti dengan sebuah nasehat yang

bernada perintah jauhilah semua itu.... Apa yang harus dijauhi? Yaitu semua yang dicatat di

ayat sebelumnya (ay 10): hal cinta uang yang dilakukan oleh mereka yang bukan manusia

Allah (status lama). Paulus menuliskan juga alamat kepada siapa kalimat tegas ini ditujukan:

hai, engkau... yg dimaksud adalah Timotius. Secara tajam sang Rasul mengkontraskan

Timotius, sang murid, dengan para guru palsu di perikop sebelumnya. Timotius adalah man

of God- manusia kepunyaan Allah, sementara para guru palsu adalah man of money

kepunyaan/ hamba uang; status Timotius adalah rightiousness man milik kebenaran- ,

sementara para guru palsu adalah sins man milik/ hamba dosa; Timotius adalah

heavens man milik sorga, sementara para guru palsu adalah worlds man milik/

hamba dunia.

Yang istimewa adalah penggunaan bentuk vokatif/ ajakan hai yang dipasangkan

dengan kata ganti orang engkau, hai engkau, manusia Allah adalah bentuk yang tidak

banyak dijumpai dalam teks-teks Perjanjian baru. Paulus memakai bentuk ini untuk

menunjukkan intensnya, perhatiannya yang dalam, bahwa ada satu sikap yang harus diambil

oleh Timotius, ada satu disiplin rohani yang harus dimiliki dan dilakukan oleh sang murid

terkasih itu untuk tidak lagi hidup dalam status lamanya, seperti para guru palsu saat itu,

tetapi tetap hidup dalam status barunya di dalam Kristus.

Karena itulah Paulus mengatakan dengan tegas BAGAIMANA Timotius harus

melakukan disiplin rohaninya: JAUHILAH SEMUANYA ITU, KEJARLAH KEADILAN,

IBADAH, KESETIAAN, KASIH, KESABARAN, DAN KELEMBUTAN. Ada gerakan

negatif (jauhilah) yang segera diikuti oleh gerakan positif (kejarlah). Secepat Timotius berlari
menjauhi sikap cinta uang, secepat itu pula ia harus berlari meraih nilai-nilai spiritual yang

sudah menanti di depan. Perhatikan bentuk kata kerja yang digunakan: baik kata Jauhilah/

tinggalkanlah mau pun kata Kejarlah keduanya menggunakan bentuk present, imperatif.

Ini bicara soal kecenderungan/ habit yang merupakan keharusan. Manusia milik Allah tidak

hanya perlu selalu memiliki kecenderungan/ habit untuk menjauhkan diri dari perbuatan2

dosa, tapi ia juga harus selalu memiliki kecenderungan/ habit untuk mengejar kekudusan.

Mengapa? Karena jika ia berhenti pada tahap yang pertama, maka apa yang ada

dibelakangangnya (kebiasaan2 dosa/ natur manusia lama) akan kembali menangkapnya.

Nilai-nilai spiritual apa yang harus segera dikejar oleh Timotius? Paulus mencatat ada 6 nilai

yang dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok:

Pertama adalah keadilan, dikaiosune. Kata ini didefinisikan sebagai memberi,

baik kepada manusia maupun kepada Allah, apa yang menjadi haknya. Manusia cenderung

untuk meminta/ menuntut haknya, baik kepada Allah maupun kepada sesamanya. Paulus

sebaliknya mengajarkan agar Timotius belajar untuk tidak memusingkan diri dengan hak-

haknya, tetapi memberi prioritas kepada hak-hak Allah dan hak-hak sesama.

Kedua adalah kelompok yang terdiri atas tiga kebajikan, yang terarah kepada Allah,

yaitu kesalehan yang diterjemahkan oleh LAI sebagai ibadah; kesetiaan, dan kasih. Kita akan

lihat satu persatu.

1) Kesalehan, orang saleh adalah sebutan bagi seorang yang tidak pernah berhenti

menyadari bahwa seluruh kehidupannya dijalani di hadirat Allah, CORAM DEO.

Seorang pegawai tidak akan berlaku tidak disiplin jika bos ada di depan mata. Seorang

mahasiswa yang baik tidak akan bertingkah aneh-aneh di depan sang dosen. Demikian

pula sebagai ciptaan di depan Penciptanya, tidak ada lagi yang layak dipersembahkan

selain kehidupan yang berkenan kepada sang Pencipta.


2) Kesetiaan, pistis - iman, di sini berarti kesetiaan yang total kepada Allah dalam

situasi apa pun, di mana pun dan kapan pun.

3) Kasih, agape mengasihi Allah dan mengasihi sesama dengan kasih yang telah

diterima dari Allah.

Ketiga adalah kebajikan yang berhubungan dengan perilaku kehidupan, yaitu

hupomone. LAI menerjemahkannya dengan kesabaran; namun hupomone tidak pernah

berarti duduk berpangku tangan dan hanya menanggung sesuatu, membiarkan pengalaman

hidup menutupinya bagaikan air pasang, membiarkan pengalaman hidup menaklukkan

dirinya. Hupomone/ kesabaran adalah keteguhan iman dan kesalehan yang tidak berubah

sekalipun dalam kesengsaraan dan penderitaan. Inilah kesabaran yang berdaya tahan untuk

mencapai kemenangan.

Keempat adalah kebajikan terhadap sesama manusia. Kata Yunaninya adalah

paupatheia, yang diterjemahkan dengan kelembutan. Kata ini melukiskan jiwa yang tidak

pernah meledak menjadi kemarahan oleh karena kesalahannya sendiri dan kesalahan orang

lain. Jiwa yang tahu bagaimana memberi maaf, tetapi juga tahu bagaimana berperang demi

kebenaran. Kelembutan melukiskan jiwa yang berjalan dengan merendahkan diri, tetapi juga

memiliki rasa bangga oleh karena panggilan Allah. Panggilan Allah untuk apa? Untuk terus

meninggalkan kehidupan lama kita, dan untuk terus mengejar keenam nilai-nilai spiritual

yang sebenarnya sudah disediakan Allah disepanjang perjalanan hidup kita, seberat dan

semahal apa pun harganya.

2. DISIPLIN ROHANI SEORANG ATLIT YANG TANPA KOMPROMI

Pengalaman Hedstrom bagi kita menyiratkan sebuah kebenaran penting yang tidak

bisa dipungkiri: status sebagai penumpang kapal sudah dikenakan atas diri Hedtrom, peluit
kapal sudah dibunyikan, jangkar sudah diangkat, dan perjalanan sudah dimulai. Apa artinya?

Itu artinya sudah terlambat untuk mundur. Suka tidak suka, siap tidak siap, ia kini adalah

seorang penumpang yang sedang menempuh perjalanan, sebuah perjalanan yang tidak akan

pernah berhenti sampai ia tiba di tempat yang dituju: Amerika.

Hal yang sama berlaku juga di dalam kekristenan, begitu status anak Allah sudah

disandang, maka suka tidak suka, siap tidak siap, setiap orang percaya sudah menerjunkan

dirinya dalam suatu pertandingan atau pertempuran. Perhatikan ayat 12, kata kerja yang

dipakai menggunakan bentuk present imperatif yang menunjukkan natur dari pertandingan/

pertempuran yang bersifat kontinual. Sebuah pertandingan yang tidak akan pernah berhenti

sampai garis akhir tercapai, sebuah pertempuran yang tidak akan pernah berhenti sampai

kerajaan Allah terwujud dengan sempurna di bumi.

Sayangnya, tidak semua orang Kristen menyadari bahwa mereka sedang berada di

tengah-tengah pertempuran. Beberapa orang mencari posisi yang aman dan nyaman untuk

bisa mangkir dari pertempuran. Biarinlah... orang hidup ini saja sudah susah, kok malah

dibikin runyam dengan berusaha mengejar ke enam nilai spiritual tadi. Masa sih menuntut

hak gak boleh. Masa sih sekali-sekali curang/ melanggar gak boleh. Masa sih harus terus-

terusan mengampuni. Masa sih berusaha menghindar dari kerepotan2, penderitaan, dan

kesusahan2 hidup gak boleh?

Bukan itu masalahnya. Paulus tidak pernah mengajarkan Timotius untuk mengejar

penderitaan atau bikin hidupnya yang gak mudah menjadi semakin rumit. Kata kerja

bertanding yang dipergunakan berasal dari kata agonizoma. Dan dari kata agonizoma

inilah kata agonizedalam bahasa Inggris muncul, yang artinya menderita sekali. Kata ini

dipergunakan baik dalam dunia atletik mau pun militer, untuk menggambarkan konsentrasi,

disiplin, keyakinan, dan upaya keras untuk bisa meraih kemenangan.


Paulus menasehati agar Timotius menjauhi, meninggalkan natur dosanya dan

mengejar nilai-nilai Ilahi. Dan selama kita masih hidup di dunia yang bermusuhan dengan

Allah, maka kedua hal ini akan selalu menempatkan kita pada sejumlah pertempuran!

Pertempuran inilah yang harus dihadapi dan TIDAK BOLEH kita hindari. Mengapa? Karena

dalam suratnya Kisah Para Rasul 14 kepada jemaat di Listra, Ikonium, dan Antiokia, Paulus

menyatakan bahwa melalui kesengsaraan / pertempuran itulah setiap orang percaya dapat

memasuki kerajaan Allah (Kis 14:22). Perkataan Sang rasul ini menggarisbawahi perkataan

Yesus dalam Mat 10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak

layak bagiKU. Seolah-olah kebenaran ini hendak mengatakan kepada setiap kita: Mau

berapa lama lagi engkau menunda-nunda untuk pikul salib, mau berapa jauh lagi engkau

menghindari dari salib yang harus kau pikul...selama itulah dan sejauh itulah engkau akan

mendatangkan berbagai-bagai duka terhadap hidupmu sendiri.

Ketika Paulus menasehati Timotius untuk MEREBUT hidup yang kekal, bukan

berarti Paulus hendak mengatakan bahwa Timotius masih membutuhkan keselamatan.

Sebaliknya, sang Rasul mendorong muridnya agar menguasai diri dalam realitas hidup

yang kekal. Sebab hanya dengan demikian Timotius dapat hidup dan melayani dalam terang

kekekalan. Perjuangan memikul salib memang bukan hal yang bisa mendatangkan sukacita

secara duniawi. Lukisan nyatanya ada pada via dolorosa saat Kristus memikul salibNya,

bukan penghormatan, bukan sanjungan, bukan pujian yang Ia terima, tapi cemoohan,

pukulan, dan kemarahan. Setiap orang yang melayani untuk mendapatkan apa yang dapat ia

peroleh dari dunia ini telah jatuh ke dalam perspektif yang keliru. Manusia milik Allah (man

of God) memikirkan perkara2 yang diatas, bukan yang di bumi (Kol 3:2) sebab ia sadar

bahwa ia adalah warga negara kerajaan Allah, ia sadar untuk itulah ia dipanggil dan telah

berikrar. Via dolorosa memang harus dilalui oleh setiap orang Kristen, tapi akhir perjalanan
itu bukan cuma sekedar bukit golgota, sebab dibalik kengerian Golgota ada kemenangan

yang kekal!

Dengan kata lain, Paulus hendak menunjukkan kepada sang murid, bahwa setiap

orang percaya harus memiliki satu fokus dalam perjuangannya: KEMENANGAN. Itu

artinya, setiap kegagalan karena kelemahan2 yang kita miliki, bukanlah sebuah kegagalan,

melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu jangan pernah putus asa atau

menyerah. Mahkota sudah tersedia di akhir perjalanan kita. Paulus di sini bukan sekedar

membicarakan sebuah program, tetapi ia berbicara tentang suatu strategi di masa perang

untuk menaklukan musuh, ia berbicara soal disiplin atlit untuk terus berlatih dalam rangka

meraih mahkota kemenangan itu.

Lalu apa aplikasi semua paparan tadi bagi kita? Saudara/i, bagi seorang atlit yang

ingin meraih kemenangan, ada serangkaian disiplin yang harus dijalani. Ambil contoh atlit

lari/ pelari. Dia setiap hari harus bangun pagi-pagi benar, dia harus pemanasan dan latihan

lari beberapa kilometer per hari, dia harus menjaga makanannya, dia tidak boleh terlalu

gemuk tapi harus kuat, dia harus menjaga stamina, dan lain-lain. Pendek katanya dia harus

mengolah, melatih, dan mendisiplin tubuhnya sedemikian rupa supaya bisa menang. Kalau

bosen atau cape bagaimana? Ya tetap harus dipaksakan, harus terus mendisiplinkan diri, harus

memerangi kebosanan dan keletihannya tersebut, jangan menyerah.

Demikian juga dengan kita, supaya bisa menang dalam pertandingan iman, kita pun

harus mendisiplinkan diri kita dengan disiplin rohani. Kita harus menanggalkan, menjauhkan

diri dari hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan, dan sebaliknya mengejar nilai-nilai

spiritual, mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Kita harus

mendisiplinkan diri tanpa kompromi seperti seorang atlit. Dan puji Tuhan, bahwa untuk

mencapai disiplin rohani tersebut, Allah telah menyediakan sarana-sarana anugerah bagi kita.
Apa saja itu? Diantaranya adalah studi dan penerapan Firman Allah, ibadah, persekutuan

dengan saudara seiman, dan wadah melayani Tuhan secara khusus. Hal-hal inilah yang secara

praktis harus tekun kita lakukan. Mengapa? Karena melalui keempat hal inilah Allah akan

membentuk spiritual kita sehingga kita siap menang dalam pertandingan iman.

Ilustrasi :

Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang John Stephen Akhwari, pelari

maraton dari Tanzania yang paling akhir tiba di garis finis pada Olimpiade 1968 di Meksiko.

Sebelumnya, tak pernah ada seorang pelari yang sampai di garis finis begitu terlambat.

Karena terluka dalam perjalanan, ia berjalan tertatih-tatih masuk stadion dengan kaki

yang berdarah dan dibalut. Satu jam lebih telah berlalu ketika para pelari lain telah

menyelesaikan perlombaan itu. Hanya sedikit penonton yang masih tinggal di tempat duduk

ketika Akhwari akhirnya melintasi garis finis. Ketika ditanya mengapa ia terus berlari

walaupun kakinya terluka, Akhwari menjawab, "Negara saya tidak mengirim saya ke

Meksiko hanya untuk memulai perlombaan. Mereka mengirim saya ke sini untuk

menyelesaikan pertandingan."

VI. Penutup

Dari apa yang sudah dipaparkan diatas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Disiplin bukan sesuatu yang bersifat instan melainkan melalui proses pembelajaran,

khususnya sebagai manusia baru di dalam Yesus Kristus (Kol. 3:10);

2. kedisiplinan bukan sesuatu yang terus-menerus dipaksakan dari luar, melainkan

kesadaran diri dari dalam, yaitu sebagai wujud mengasihi Tuhan (Mat. 22:37);
3. kedisiplinan perlu latihan yang terus dilakukan secara bertahap (Mat. 25:21);

4. kedisiplinan menghasilkan sesuatu yang sangat berguna baik bagi orang itu sendiri,

dan juga bagi orang-orang yang ada di sekitarnya, yaitu ketertiban dan keteraturan (1

Kor. 14:33,40);

5. kedisiplinan merupakan wujud dari kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus karena

berkaitan dengan salah satu sifat buah roh (Gal. 5:22-23).

Menurut John Maxwell, ada empat hal yang harus kita perhatikan untuk melakukan

pengembangan diri secara disiplin sehingga dapat membangkitkan potensi dahsyat yang kita

miliki. Empat hal tersebut adalah start with yourself start early start small start now.

Mulai dari diri sendiri sesegera mungkin sedikit demi sedikit lakukan sekarang.

Bidang kehidupan manakah dari sdr yang membutuhkan disiplin? Kapankah anda

akan mengambil langkah pertamanya? Jika kita sungguh-sungguh mau, marilah kita tekun

dan giat melakukan disiplin rohani.

Disiplin, BUKAN sekedar rutinitas saja. Karena rutinitas hanya membuat kita jalan di

tempat, sedangkan disiplin akan mendorong kita maju dari satu tingkat ke tingkat yang lebih

tinggi.

Ilustrasi:

Seorang ayah menyaksikan anaknya yang masih kecil mencoba menggeser suatu batu

besar. Tetapi batu itu tidak bergeming. Anak itu berdiri putus asa.

Sudahkah kamu gunakan seluruh kemampuanmu? tanya sang ayah.

Ya, sudah. jawab anak itu.

Belum anakku, belum, jawab sang ayah, Kamu belum minta bantuanku.
Disiplinlah dengan sarana anugerah yang telah Ia sediakan dan jangan pernah

menyerah. Tuhan pasti akan menolong jika kita mau minta tolong

Kita adalah prajurit Tuhan, seorang prajurit harus menjungjung disiplin tinggi, kalau tidak

disiplin maka dapat dipastikan seorang prajurit akan gambang terbunuh di medan

pertempuran, kita adalah prajurit Tuhan.. dalam kisah Romawi seorang prajurit ketika akan

disahkan dia harus melewati tetesan darah seekor lembu yang dipotong, prajurit akan

melewatinya dan ketika darah itu menetes di kepalanya dia sah sebagai seorang prajurit, kita

pun demikian namun kita disahkan bukan dengan tetasan darah lembu, tetapi dengan tetesan

darah Tuhan kita Yesus Kristus

Amin