Anda di halaman 1dari 5

PERANAN AGAMA-AGAMA DALAM

PEMBANGUNAN MASYARAKAT
CATATAN KRITIS
PERANAN AGAMA-AGAMA DALAM PEMBANGUNAN MASYARAKAT

Agama sebagai bagian dari masyarakat pasti mempunyai peran dalam mewujudkan
pembangunan di masyarakat. Konteks agama yang dimaksud disini lebih kepada konteks
agama Kristen,mengingat tulisan yang didiskusikan oleh kelompok merupakan sebuah
refleksi Kristiani. Orang Kristen baik sendiri maupun di dalam persekutuan mempunyai
tanggung jawab di dalam kehidupan bermasyarakat, bangsa dan Negara dimanapun ia berada.
Setelah membaca dan mendiskusikan artikel ini ada beberapa hal yang menurut kami perlu
dikritisi, diantaranya :

1. Penulis mengungkapkan kenyataan bahwa semakin sedikit orang-orang yang keras


kepala, yang tetap tidak mau mengakui bahwa tidak ada satu agamapun dapat menjadi
satu-satunya agama bagi seluruh dunia.
Kelompok meyakini bahwa penulis pasti mempunyai alasan tersendiri dalam menyampaikan
pendapatnya seperti diatas. Secara sederhana penulis beranggapan bahwa semakin sedikit
orang-orang yang memperjuangkan agamanya untuk dapat menjadi agama tunggal bagi dunia
(singular). Tetapi kenyataannya kami melihat bahwa semakin banyak orang-orang yang
berjuang untuk hal tersebut. Contoh kongkrit dari kenyataan ini dapat dilihat dari gerakan
laskar-laskar jihad di dunia dimana mereka berupaya untuk memperjuangkan agama mereka
agar menjadi agama tunggal di dunia. Jika dikaitkan dengan tema bahasan, kelompok melihat
bahwa kenyataan ini dapat menghambat pembangunan di masyarakat. Dimana konteks
masyarakat dunia merupakan masyarakat yang plural terdiri dari berbagai macam agama dan
keyakinan,adalah tidak baik jika konsep plural itu dipaksakan untuk menjadi singular.

2. Negara kesatuan Indonesia yang berdasarkan Pancasila bukanlah Negara sekular atau
Negara agama. Oleh karena itu, tidak hanya satu agama yang diakui oleh negara
namun Negara juga mengakui eksistensi dari agama-agama lain,baik fungsi dan
peranannya secara resmi baik dalam kehidupan bermasyakat maupun berbangsa dan
bernegara.
Kelompok meyakini bahwa Indonesia adalah Negara yang plural. Jika melihat konteks agama
dalam Negara Indonesia,hanya ada enam agama yang secara resmi diakui oleh Negara
(Islam,Kristen Protestan,Kristen Katolik,Budha,Hindu dan Kong Hu Chu). Hal ini
menunjukkan bahwa Indonesia bukanlah Negara agama. Dan juga Indonesia bukanlah
Negara sekuler, sebab agama diakui dan diatur secara resmi oleh Negara. Faktanya,kita
melihat dan mengetahui bahwa di Indonesia ada Kementerian Agama yang mengatur setiap
agama. Secara tidak langsung hal itu dapat mengindikasikan bahwa Negara Indonesia adalah
Negara agama. Sebab semua tentang agama diatur oleh kementerian agama. Selain itu
sturuktur Kementerian Agama di Indonesia terlihat lebih didominasi oleh satu agama. Contoh
kongkrit dapat dilihat pada peraturan-peraturan daerah yang saat ini hanya mengacu pada
hukum satu agama seperti yang terjadi di Nangroe Aceh Darusallam. Sebagai Negara yang
bukan sekular dan bukan agamis ,seharusnya semua agama diberi tempat yang adil dan
setara, sehingga seyogyanya pelarangan terhadap ajaran Ahmadiyah dan Lia Eden tidak boleh
terjadi. Jika agama itu diatur oleh Negara apakah hal tersebut efektif dalam pembangunan
masyarakat,padahal agama adalah hak asasi yang dimiliki manusia. Contoh kongkrit dapat
dilihat pada SKB 3 Menteri.Pembatasan agama yang terdapat pada SKB 3 menteri membuat
masyarakat menjadi legaliter sehingga mampu menyebabkan konflik dalam masyarakat, serta
pembangunan dalam masyarakat akan menjadi statis.

3. Indonesia adalah sebuah Negara kesatuan. Berarti Indonesia tidak lagi terbagi-bagi
dan terkotak-kotak menurut kotak-kotak yang bersifat primordial. Setiap jengkal
wilayah Indonesia adalah wilayah Negara kesatuan,bukan wilayah keagamaan. Tidak
ada daerah Islam atau daerah Hindu atau daerah Kristen. Yang ada ialah Negara
kesatuan Indonesia
Ini adalah sebuah teori yang diungkapkan oleh penulis dalam tulisannya. Seharusnya sebuah
teori berbanding lurus dengan kenyataan di lapangan. Namun dari hasil diskusi, kelompok
beranggapan bahwa sebenarnya Indonesia belum siap untuk menjadi Negara kesatuan.
Berdasarkan fakta, banyak wilayah-wilayah di Indonesia yang masih berbasis agama. Fakta
tersebut tidak dapat dielakkan. Contoh kongkrit dapat dilihat pada wilayah Nangroe Aceh
Darusallam dan sebagian wilayah di Indonesia Timur, dimana wilayah tersebut mayoritas
ditempati oleh satu agama tertentu, demikian juga dengan beberapa wilayah lain di Indonesia.
Pengelompokan-pengelompokan tempat tinggal berdasarkan agama masih terjadi. Kesan
yang terlihat bahwa masyarakat di wilayah-wilayah ini menjadi eksklusif dan itu dapat
menghambat pembangunan di dalam masyarakat.

Pertanyaan daru setiap topik bahasan


1. Kelompok ingin lebih menekankan kepada konsep plural yang ada di dunia. Apakah konsep
plural yang telah ada dapat berdampak positif dalam pembangungan di dalam masyarakat?
dan apakah ada batasan-batasan dalam konsep plural di dunia? Mengingat tidak semua hal
yang berbeda,,akan menjadi lebih indah jika dipersatukan.
2. Dengan adanya Kementerian Agama,terlihat posisi Indonesia menjadi ambivalen. Di satu sisi
Indonesia bukanlah Negara Agama,namun disisi lain keberadaan kementerian Agama bias
mengindikasikan bahwa Indonesia akan mengarah kepada negara Agama dan itu akan
menghambat pembangunan di dalam masyarkat. Berkaitan dengan masalah ini apakah
Pancasila yang dikatakan sebagai ideologi Negara masih relevan untuk menyelesaikan
masalah ini?
3. Dalam tulisan penulis mengatakan bahwa jika agama-agama ingin mengubah dunia, mereka
harus mengubah dulu orientasi,visi dan misi mereka. Di kaitkan dengan topik
bahasan,perubahan kongkrit seperti apa yang dapat dilakukan oleh agama untuk mengubah
paham pengkotak-kotakan atau primordial yang ada di dalam masyarakat ?
-Soli Deo Gloria-
III. PERANAN GEREJA DAN MASYARAKAT KRISTEN DALAM
PEMBANGUNAN
sembunyikan teks

Orang Kristen lahir di bumi Indonesia, memiliki negara Indonesia, dan oleh karenanya juga
mempunyai hak dan kewajiban sebagai warga negara Indonesia. Diakui atau tidak, umat
Kristen memiliki andil yang cukup besar dalam melahirkan dan mempertahankan Republik
Indonesia. Banyak orang Kristen yang telah gugur sebagai kusuma bangsa, meskipun nama-
nama mereka tidak ditemukan di makam-makam pahlawan.

Sejak tahun 1945 sampai sekarang, masyarakat Kristen belum pernah absen dari perjuangan
mengisi pembangunan bangsa. Sebagai warga negara yang bertanggung jawab, orang Kristen
tetap berusaha memelihara iman dan berjuang dengan gigih menegakkan kebenaran dan
keadilan seperti yang dimandatkan oleh Yesus Kristus. Statusnya sebagai warga Kerajaan
Allah telah dibuktikan dalam kehadirannya sebagai pelaku firman yang tidak berkompromi
dengan kejahatan.

Maka sebagai murid Yesus, orang Kristen harus berusaha keras menjadi garam dan terang.
Mereka bertanggung jawab terhadap maju dan mundurnya negara Indonesia. Mereka tidak
hanya berjuang untuk mendapatkan kekuasaan politik tetapi juga melaksanakan terjadinya
revolusi intelektual agar seluruh masyarakat Indonesia bisa memiliki kemampuan intelektual
dalam semua disiplin ilmu. Dengan ini, mereka berperan serta dalam membangun masyarakat
baru, sebagai wujud Kerajaan Allah di bumi yang berasaskan kebenaran, keadilan, kekudusan
dan pengampunan.

Pendidikan menjadi kebutuhan prioritas seluruh rakyat Indonesia. Dengan pendidikan yang
memadai bangsa Indonesia akan diberanikan memasuki abad ke-21 yang dikenal sebagai
abad informasi. Masa depan Indonesia tergantung sepenuhnya kepada kualitas bangsa
Indonesia. Kualitas bangsa Indonesia akan ditentukan oleh kecerdasan masyarakatnya.
Kecerdasan bangsa Indonesia juga akan ditentukan oleh suatu pendidikan. Pada abad ke-21
dibutuhkan orang-orang yang berkualitas tinggi.

Untuk itu, Gereja mempunyai peranan yang sangat dominan sebagai upaya ikut
mencerdaskan bangsa. Dalam sektor ini, partisipasi Kristen akan sangat menentukan, bukan
hanya untuk pendidikan di kota-kota besar, tetapi juga di desa-desa yang terpencil di seluruh
Indonesia. Salah satu tugas panggilan Gereja adalah mengembangkan ketrampilan
masyarakat agar mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Orang Kristen sebagai warga
gereja dan juga sebagai warga negara bertanggung jawab mengubah masyarakat Indonesia
menjadi masyarakat maju yang ber-Pancasila.

Di bawah terang prinsip harkat dan martabat manusia, Gereja dan orang Kristen harus
mengakui dan melindungi hak-hak asasi dari manusia sebagai ciptaan Allah yang diberikan
kebebasan untuk memilih, bersekutu dan beribadah. Setiap orang juga berhak berbicara,
bersuara dan berbeda pendapat. Setiap orang berhak untuk menentukan pilihan politiknya.
Setiap orang berhak untuk memilih agamanya dan pekerjaannya. Setiap orang berhak untuk
memilih agamanya dan pekerjaannya. Setiap orang berhak untuk memilih agamanya dan
pekerjaannya. Setiap orang berhak untuk memilih agamanya dan pekerjaannya. Setiap orang
berhak untuk memilih agamanya dan pekerjaannya. Setiap orang berhak untuk memilih
agamanya dan menjalankan ibadah menurut peraturan agamanya
Peranan Agama-agama dalam Pembangunan Masyarakat

Bahan Bacaan :
Eddy Kristiyanto, OFM, Sakramen Politik: Mempertanggung-jawabkan
Memoria (Yogyakarta: Penerbit Lamalera, 2008), Bab II.1. (pp.85-100), II.2.
(pp.101-106) dan Bab II.4. (pp. 133-144)

Agama memiliki peran penting dalam pembangunan di masyarakat. Banyak pihak


menyetujui pendapat ini. Namun yang menjadi permasalahannya adalah cara yang dipakai
oleh agamawan untuk membangun masyarakat melalui agama. Banyak pendapat mengatakan
bahwa agama terlalu memfokuskan dirinya terhadap pikiran tentang ilahi melulu. Agama
memiliki suatu fundamentalisme yang menganggap dirinya tidak dapat diganggu gugat dan
selalu benar adanya baik melalui sikap dan tindakan agama tersebut. Namun hal inilah yang
menjadi dasar pokok pembicaraan kita.

Menurut kelompok, agama memang bertanggungjawab dalam pembangunan masyarakat. Hal


ini dikarenakan visi dan misi agama melalui nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya
dalam kepercayaannya memang berfungsi demikian. Namun apabila melihat pernyataan
diatas, terkesan bahwa agama tidak memainkan perannya dalam masyarakat. Agama hanya
ada sebatas sebagai pembangun spiritualitas masyarakat tanpa ada tindakan konkret yang
dapat dirasakan masyarakat. Kelompok setuju apabila dikatakan bahwa harus ada perubahan
diskursus teologi khususnya di Indonesia dari yang supranaturalis menjadi teologi yang
berorientasikan dan berwajahkan dunia.

Maksudnya disini adalah agama dalam peranannya dalam pembangunan masyarakat


bertindak secara konkret dalam masyarakat itu sendiri. Semua dikarenakan objek yang
sebenarnya agama harus tangani adalah manusia yang mengalami penderitaan. Mereka
adalah bagian dari dunia, mereka itu dunia. Oleh karena itu sering ditekankan bahwa
walaupun manusia harus memisahkan dirinya dari dunia menolak segala kenikmatan yang
menjerumuskannya ke dalam dosa namun sebenarnya dunia yang seperti itulah objek
kerasulan agama. Agama dalam teologinya yang berwajahkan dunia menggumuli kerepotan
dunia, kesejahteraan umum rakyat.

Apabila agama hanya diam saja atas segala tindakan yang mengguncang dan mengganggu
kesejahteraan umum rakyat, hal tersebut menandakan bahwa agama sama sekali tidak
menjalankan fungsinya di dunia dan sudah tidak relevan lagi bagi dunia. Agama sebaiknya
mulai lebih memperhatikan rakyat di negaranya dengan bertindak secara konkret dalam
dunia. Namun yang menjadi pertanyaan bagi kelompok adalah bagaimanakah yang dimaksud
dengan bertindak konkret dalam dunia? Kelompok menjawab bahwa salah satu anggota
kelompok teringat tentang khotbah seorang pendeta saat melakukan Ibadah senin pagi di
Universitas Kristen Duta Wacana yang bertemakan terbuka yang menyakitkan. Disini ia
mengatakan bahwa, gereja harus mulai terbuka dengan segala tantangan dunia yang ada.
Memang terbuka begitu menyakitkan, misalnya apabila kita terbuka untuk menerima dan
bersedia membangun relasi yang baik dengan agama lain atau bahkan masyarakat yang
memiliki tingkat sosial yang berbeda, sedikit banyak hal ini akan mempengaruhi diri kita
sendiri. Belum lagi kecemasan-kecemasan lain yang menjadi momok menakutkan bagi
beberapa orang, misalnya anak mereka menikah dengan orang beragama bersebrangan
dengan mereka akibat mengijinkan anaknya bergaul dengannya, dan lain-lain. Namun
pendeta tersebut menekankan bahwa memang tanggungjawab gereja untuk melayani di dunia
yang penuh dengan tantangan ini, bukan hanya sibuk mengurusi dan memperhatikan
jemaatnya sendiri karena siapa lagi yang harus melayani mereka apabila bukan gereja.

Menurut kelompok, kurangnya perhatian agama Kristen terhadap rakyat kecil menjadikan
agama Kristen agama yang borjuis. Bahkan agama sering melupakan tanggungjawab sosial
dan politisnya. Agama memang sudah memiliki poin-poin penting yang menjadi nilai luhur
mereka yang sebenarnya harus dilakukan secara konkret. Aplikasi agama dalam hiduplah
yang menurut kelompok lebih penting daripada hanya membicarakan pikiran tentang
keilahian dan membuat orang terjebak dalam teologi klasik yang spekulatif.

Kelompok juga menyetujui apabila lembaga-lembaga agama menjalankan peranannya dalam


dunia dengan cara berelasi bersama lembaga-lembaga lainnya (berpolitik). Menurut
kelompok, hal inilah jalan yang baik untuk membangun masyarakat agar tercipta suatu
kehidupan bermasyarakat yang sejahtera, berkeadilan dan damai. Melaluinya, agama
mendorong masyarakat untuk peduli akan lingkungan sekitarnya, tidak hanya dirinya sendiri.
Dengan contoh konkret tersebut, agama benar-benar menjalankan dan memperjuangkan
hukum cinta kasihnya kepada dunia.

Secara tegas sebenarnya kelompok menyetujui bahwa agama dalam peranannya di dunia
tidaklah masalah apabila menggunakan jalur politik untuk mengaplikasikan cinta kasihnya
kepada dunia. Bagaimanapun jalurnya yang digunakan agama dalam mengatasi penderitaan
rakyat menurut kelompok tidaklah menjadi masalah apabila digunakan dengan baik tanpa ada
unsur-unsur yang sifatnya merusak agama itu sendiri. Berpolitik menjadi tantangan besar
bagi agama dalam menyampaikan visi dan misinya dalam dunia sehingga menciptakan
kesejahteraan umum rakyat.