Anda di halaman 1dari 18

Nilai-Nilai Agama dan Kepercayaan dalam

Kehidupan Masyarakat
October 31, 2013Pipit

Kata Pengantar

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Dengan memanjatkan Puji Syukur Kehadirat Allah SWT, atas segala bimbingan kuasa dan izin-
Nya, saya memperoleh kekuatan dan kesehatan sehingga saya bisa menyelesaikan makalah yang
berjudul Nilai-Nilai Agama dan Kepercayaan dalam Kehidupan Masyarakat ini.

Saya berterima kasih kepada teman-teman serta orangtua saya yang telah membantu dan
mendukung saya untuk menyelesaikan tugas makalah ini. Dan juga tak lupa blog-blog yang ada
di internet yang tak bisa saya sebutkan satu-persatu, saya mengucapkan terima kasih atas
referensi singkatnya.

Apabila makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan baik dari segi penyusunan kalimat
maupun bahasanya, untuk itu diharapkan apabila ada kesalahan atau ketidaksesuaian bahasa
dalam penulisan ini diharapkan koreksi yang konstruktif dari penyempurnaan makalah ini. Saya
menggunakan bahasa yang to the point karena menurut saya dengan bahasa seperti ini maka
makalah ini lebih mudah dimengerti.

Terkahir, saya berharap makalah ini mudah dimengerti dan bermanfaat bagi anda yang
membacanya.

Amin Ya Rabball Alamin.

Batam, 09 September 2013

Penulis

Uul Novita. R.

Daftar Isi

KATA PENGANTAR
i
DAFTAR ISI

. ii

BAB I PENDAHULUAN
. 1

1. Latar Belakang

.. 1

2. Perumusan Masalah
. 1

3. Tujuan

. 1

BAB II PEMBAHASAN
.. 2

1. Pengertian Agama

.. 2

2. Agama yang dilindungi pemerintah


.. 3

3. Yang membawa ajaran agama


.. 4

4. Cara penyampaian beberapa agama


. 7

5. Pentingnya kepercayaan beragama


.. 9

BAB III PENUTUP


. 10

1. kesimpulan

.. 10
BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Penulisan

Sebagian masyarakat saat ini tidak mengetahui arti agama yang sesungguhnya, bagaimana dan
siapa yang membawa agama tersebut, kebanyakan dari masyarakat saat ini hanya menjalankan
syariat-syariat agama (menurut kepercayaannya masing-masing). Setiap agama memiliki aturan-
aturan dalam menjalani hidup antara manusia dengan Tuhan atau manusia dengan sesamanya dan
lingkungannya.

Maka dari itu, saya akan membahas tentang kepercayaan tersebut dan bagaimana pentingnya
kepercayaan tersebut . Saya akan membahas permasalahan tersebut dengan bahasa yang singkat
tetapi mudah dimengerti.

1. Rumusan Masalah

Pengertian agama

Agama yang dilindungi pemerintah

Yang membawa ajaran agamanya

Pentingnya kepercayaan tersebut

1. Tujuan

Untuk menjelaskan arti pentingnya agama tersebut.


BAB II PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN AGAMA

Agama memilik arti penting bagi manusia agar manusia tidak tersesat di dalam menjalani
kehidupan di dunia.

Kata Agama berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu

a tidak dan gama kacau

Maksudnya: orang-orang yang memeluk suatu agama dan mengamalkan ajaran-ajarannya,


hidupnya tidak akan kacau.

Pengertian agama bisa bermacam-macam tergantung dari sudut pandang atau ruang lingkup yang
dipelajari. Karena kata Agama ternyata sangat sulit didefinisikan dikarenakan agama adalah
bentuk keyakinan. Maka kita akan mengambil pengertian agama yang lebih mudah dimengerti.

Agama: Ajaran yang mengatur tata keimanan dan tata kaidah kepada Tuhan Yang Maha Esa
yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungan.

Begitu yang saya simpulkan dari kamus KBBI. Nah, intinya apabila kita menganut agama sesuai
dengan kepercayaan masing-masing maka kita tidak akan menjadi manusia yang kacau, karena
pada dasarnya agama itu mengajarkan kita untuk berbuat kebaikan.
1. AGAMA YANG DILINDUNGI PEMERINTAH

Di Indonesia ada 6 agama yang dilindungi oleh pemerintah, yaitu:

1. Islam

2. Kristen Katholik

3. Kristen Protestan

4. Hindu

5. Buddha

6. Kong Hu Cu

Menurut UUD 1945 dinyatakan tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan
mempraktikkan kepercayaannya dan menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah,
menurut agama atau kepercayaannya.

Hal ini juga sesuai dengan Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan
Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama pasal 1, Agama-agama yang dipeluk oleh
penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khong Hu Cu
1. YANG MEMBAWA AJARAN AGAMANYA

Islam

Islam berasal dari kata Arab Aslama-Yuslimu-Islaman yang secara kebahasaan berarti
Menyelamatkan. Pengikut agama Islam disebut dengan Muslim yang artinya Seseorang yang
tunduk kepada Tuhan. Kitab umat Muslim adalah Al-Quran. Rumah ibadah umat muslim
adalah Masjid.

Agama Islam adalah agama terbesar kedua setelah Kristen. Dalam Islam, bahwa Allah
menurunkan firman-Nya kepada manusia melalu para nabi dan rasul utusannya, dan meyakini
bahwa Nabi Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.
Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimat Syahadat (dua kalimat
persaksian), yaitu asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan
rasuulullaah yang berarti Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi
bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah.

Islam adalah agama dominan sepanjang wilayah Timur Tengah atau negara-negara Arab. Dalam
Islam terdapat 2 rukun, yaitu :

Rukun Islam yaitu:

1. Mengucapkan dua kalimah syahadat dan meyakini bahwa tidak ada yang berhak ditaati
dan disembah dengan benar kecuali Allah saja dan meyakini bahwa Muhammad adalah
hamba dan rasul Allah.

2. Mendirikan sholat wajib lima kali sehari.


3. Berpuasa pada bulan Ramadhan

4. Membayar zakat

5. Menunaikan ibadah haji bagi mereka yang mampu.

Rukun Iman yaitu:

1. Iman kepada Allah

2. Iman kepada Malaikat Allah

3. Iman kepada Kitab Allah

4. Iman kepada Nabi dan Rasul Allah

5. Iman kepada hari kiamat

6. Iman kepada qada dan qadar

Kristen Katolik

Sesuai dengan petunjuk sejarah, Yesus Kristus adalah pembawa agama Kristen. Ia berasal dari
Nazaret, lahir kurang lebih pada tahun ke-4 sebelum M, tetapi sebagian ada yang berpendapat
antara tahun 7-5 M. tempat ibadah umat kristiani adalah Gereja.

Nama katolik sendiri dipergunakan untuk menyebut agama Kristen yang berpusat di Vatikan,
Roma. Ketika dikaitkan dengan pembawa pertamanya, seolah-olah ajaran Katolik sudah
terputus, karena Paulus tidak bertemu langsung dengan Yesus. Meskipun demikian, menurut
kepercayaan mereka Paulus dalam membuat rumusan ajaran Kristen baik dalam teologi ataupun
etika mendapat bimbingan langsung dari Allah dan Paulus adalah orang suci yang tidak mungkin
salah.

Agama katolik mempunyai kepercayaan Monoteis yang konsepnya berbeda dengan agama
monoteis lainnya. Yaitu konsep Trinitas, Tuhan memang Esa tetapi dia bisa menjadi Esa jika
Dia Bertiga, dan tidak ada Tuhan yang Esa, kecuali di dalam dan melalui Trinitas.

Kristen Protestan

Protestan adalah sebuah mashab dalam agama kisten. Mashab atau denominasi ini muncul
setelah protes Martin Luther pada tahun 1517 dengan 95 dalilnya. Kata Protetan berarti Pro-
testanum yang berarti kembali ke Injil (testanum). Kristen Protestan memiliki 2 ciri khas yang
paling menonjol, yaitu pembenaran karena iman, dan Asas Protestan. Dalam konsepsi
Protestan,iman bukan sekedar masalah kepercayaan, yaitu diterimanya suatu pengetahuan
sebagai hal yang pasti,tanpa perlu ada bukti.

Hindu

Agama Hindu adalah agama yang berasal dari anak benua india. Agama ini merupakan lanjutan
dari agama Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan Indo-Iran (Arya). Kitab suci
umat hindu adalah Weda dan rumah ibadahnya adalah Pura.

Agama Hindu merupakan agama tertua di dunia dan rentang sejarahnya yang panjang
menunjukkan bahwa agama Hindu telah melewati segala paham ketuhanan yang pernah ada di
dunia. Umat Hindu juga menyebut agamanya sebagai Sanatana Dharma yang artinya Dharma
(Ahimsa) yang kekal abadi.

Buddha

Agama Buddha dibawa oleh Siddharta Gautama yang secara umum dikenal sebagai Sang
Buddha (berarti yang telah sadar dalam bahasa Sanskerta dan Pali). Agama Buddha adalah
agama tertua yang masih dianut di dunia. Kitab umat Buddha adalah Tripitaka yang terbagi
dalam 3 kelompok besar yaitu: Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, dan Abhidhamma Pitaka. Karena
terdiri dari tiga kelompok tersebut, maka Kitab Suci Agama Buddha dinamakan Tipitaka (Pali).
Rumah ibadah umat Buddha adalah Vihara.

Kong Hu Cu

Agama Konghucu istilah aslinya adalah Rujiao yang berarti agama dari orang-orang yang lembut
hati, terpelajar dan berbudi luhur. Khonghucu memang bukanlah pencipta agama ini melainkan
beliau hanya menyempurnakan agama yang sudah ada jauh sebelum kelahirannya. Tempat
ibadah umat Konghucu adalah Litang (Gerbang Kebajikan) namun dikarenakan tidak banyak
akses ke litang, masyarakat umumnya menganggap Klenteng sebagai tempat ibadah umat
Khonghucu. Kitab suci agama Khonghucu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: Wu Jing dan Si
Shu.

Kong Hu Cu disembah sebagai seorang dewa dan falsafahnya menjadi agama baru, meskipun dia
sebenarnya adalah manusia biasa. Pengagungan yang luar biasa akan Kong Hu Cu telah
mengubah falsafahnya menjadi sebuah agama dengan diadakannya perayaan-perayaan tertentu
untuk mengenang Kong Hu Cu

1. Cara Menyampaikan Agamanya

Islam
Awal mula agama Islam yaitu Ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun, beliau mulai
mendapatkan wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril, dan sesudahnya selama beberapa waktu
mulai mengajarkan ajaran Islam secara tertutup kepada para sahabatnya. Setelah tiga tahun
menyebarkan Islam secara sembunyi-sembunyi, ia akhirnya menyampaikan ajaran Islam secara
terbuka kepada seluruh penduduk Mekkah, yang mana sebagian menerima dan sebagian lainnya
menentangnya.

Meskipun begitu Nabi Muhammad tetap tegar menyebarkan agama Islam hingga akhirnya
agama Islam masuk ke Indonesia melalui pedagang yang berasal dari Arab, Gujarat, Persia dll
yang pada waktu itu singgah di Indonesia untuk berdagang hingga akhirnya agama Islam
disampaikan sendiri oleh beberapa orang Indonesa yang disebut Wali Songo.

Saat ini, penduduk Indonesia mayoritasnya adalah agama Islam

Kristen Katolik

Agama nasrani/ katolik merupakan salah satu gerakan yang terdapat dalam agama Kristen atau
Nasrani yang dibawa oleh Yesus, dan disebar luaskan oleh Paulus. Ia adalah seorang yahudi yang
dahulunya pernah menganiaya orang Kristen, namun ia sadar dan merasa dimarahi Yesus.
Kemudian untuk membalas dosa-dosanya ia berusah menyebarkan agama Kristen keluar
Nazaret.

Paulus membawa agama Kristen Katolik ke Yunani dan Eropa. Agama ini bisa sampai di
Indonesia bersamaan dengan datangnya VOC ke Indonesia yang menganut 3G yang salah
satunya adalah Gospel: yaitu menyebarkan agama nasrani.

Kristen Protestan

Pendiri agama Kristen Protestan yaitu; Martin Luther, Ulrich Zwingli, dan Jean Calvin. Agama
Protestan dilancarkan oleh raja atau pangeran Jerman yang mendukung reformasi melawan
keputusan mayoritas yang beragama Katolik. Pangeran Jerman tersebut ialah pengikut Injil kaum
Luther yang menentang tekanan yang kuat dari penguasa Roma Katolik. Dari adanya protes
mereka dalam sidang di Speyer itu, maka lahirlah kaum Protestan.

Agama Kristen Protestan masuk ke Asia pada abad 17-18 beriringan dengan masuknya
kolonialisme dari Eropa dan Inggris.

Sedangkan di dunia Barat yaitu dengan timbulnya berbagai aliran dan sekte-sekte gereja
Protestan karena dipengaruhi oleh adanya gereja Pencerahan (Aufklarung) pada pertengahan
abad ke-17 dan revivalisme (kebangkitan kembali). Selain itu terdapat beberapa paham yang
rasional yang telah menyebabkan manusia semakin kritis terhadap segala sesuatu yang berasal
dari nenek moyangnya, dan melahirkan kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat di Eropa.

Hindu
Agama Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah Masehi ketika beberapa kitab dari Weda
digenapi oleh para brahmana. Pada zaman munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali
belum muncul semuanya masih mengenal sebagai ajaran Weda. Masuknya pengaruh Hindu
adalah melalui penyusupan dengan jalan damai yang dilakukan oleh golongan pedagang
(Waisya) India termasuk juga di Indonesia.

Bersamaan dengan berkembangnya pengaruh agama Hindu ke seluruh dunia termasuk indonesia,
terjadilah akulturasi antara kebudayaan asli indonesia dan kebudayaan india yang dijiwai oleh
agama hindu. Pengaruh agama hindu. Dapat diterima oleh bangsa indonesia dengan damai.

Buddha

Agama buddha berkembang pesat pada masa Raja Asoka, pada masa itu pula, penyebaran agama
buddha dikembangkan oleh Raja Asoka hingga Mesir, Yunani, dan Asia Tenggara. Di Indonesia
sendiri, agama budha sudah menyebar pada abad ke-5, dan pada abad ke-7 oleh Musafir ITsing.

Kong Hu Cu

Agama Konghucu disebarkan oleh saudagar-saudagar Tionghoa. Agama Konghucu dipeluk


berbagai bangsa di Asia, Amerika dan Eropa. Karena pada asalnya orang-orang Tionghoa senang
merantau. Sama seperti halnya di Indonesia, agama ini sudah ada di Indonesia sejak zaman akhir
pra sejarah, dengan ditemukannya bukti kapak sepatu di Indo China dan Indonesia, yang tidak
terdapat di Asia Kecil.

1. Pentingnya Agama/Kepercayaan Tersebut

Ada beberapa manfaat memeluk agama (menurut kepercayaan masing-masing), yaitu:

1. Dapat mendidik jiwa manusia menjadi tenteram, sabar, tawakkal dan sebagainya. Lebih-
lebih ketika dia ditimpa kesusahan dan kesulitan

2. Dapat memberi modal kepada manusia untuk menjadi manusia yang berjiwa besar,kuat
dan tidak mudah ditundukkan oleh siapapun

3. Dapat mendidik manusia berani menegakkan kebenaran dan takut untuk


melakukankesalahan.

4. Dapat memberi sugesti kepada manusia agar dalam jiwa mereka tumbuh sifat-sifat utama
seperti rendah hati, sopan santun, hormat-menghormati dan sebagainya. Agama melarang
orang untuk bersifat sombong, dengki, riya dan sebagainya.

Agar karakter dan mental manusia itu baik pahamilah agama secara baik. Agama adalah pilihan
hidup, prinsip, dan keyakinan mendasar manusia selama hidup. Agar tidak terjadi seperti di
Jepang atau Korea, statistik bunuh diri di sana sangat tinggi, hal itu dikarenakan mereka kurang
memahami arti dan fungsi hidup secara benar.

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan

Kesimpulan saya adalah Tuhan telah menurunkan agama-Nya sebagai pedoman hidup manusia
dalam menjalani kehidupan di dunia dan agama berfungsi untuk mengatur kehidupan manusia
sehingga tercapainya kebahagian ketika di dunia dan di akhirat kelak ketika manusia telah
kembali pada- Nya. Agama merupakan fitrah manusia yang senantiasa membutuhkan agama
untuk menentramkan jiwa manusia serta agama bermanfaat untuk membersihkan hati dan jiwa
manusia sehingga menjadi manusia yang berbudi karena agama mengajarkan kebaikan kepada
umatnya.

Cukup sekian hasil dari makalah saya J

Wassalamualaikum. Wr. Wb.

BY: Uul Novita. R.

x-IPS 1

About these ads

Share this:

Twitter1

Facebook1


Related

PERUBAHAN SOSIAL DAN PERUBAHAN BUDAYAIn "School"

PidatoIn "School"

Konsep Penting dalam SejarahIn "School"

ajaran agamakewarganegaraanpkn

Post navigation

Leave a Reply

Blog at WordPress.com. | The Fictive Theme.


Follow

Follow OWLCASTLE

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,125 other followers

Build a website with WordPress.com


Peran Agama dalam Pembangunan Ekonomi
Senin, 17 Maret 2014 08:13
Oleh Ichsan M. Ali Basyah Amin

SEBESAR apakah peran agama dalam pembangunan ekonomi? Bagaimanakah nilai-nilai


spritual menggerakkan roda ekonomi? Selama berabad-abad, pergumulan manusia untuk
bertahan hidup, melawan kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan, senantiasa bertemu dan
berdialog dengan keyakinan, agama dan pemahaman yang dibentuk atasnya.

Filsuf ekonomi terkemuka Amerika, Kenneth Boulding (1970), menyatakan agama memberikan
pengaruh yang tak dapat diabaikan dalam perekonomian. Agama menentukan keputusan jenis
komoditas yang diproduksi, kelembagaan ekonomi, dan perilaku ekonomi. Meskipun ilmu
pengetahuan dan teknologi, investasi, serta sumber daya alam, merupakan faktor-faktor yang
sangat berpengaruh dalam perkembangan ekonomi, agama juga dipertimbangkan sebagai elemen
penting karena berperan membentuk etos kerja masyarakat.

Pada abad pertengahan, puncak peradaban umat manusia berada di dunia Islam. Bangsa-bangsa
muslim dipandang memiliki perekonomian yang lebih unggul dibandingkan dengan negeri-
negeri lainnya. Dalam konteks Aceh, Mohammad Said, dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad
(1981), mencatat pada abad ke-13 Kerajaan Islam Pasai telah memiliki perekonomian yang
ekspansif. Di bawah raja Islam pertamanya, Sultan Malik Al-Salih, kerajaan ini mampu
mengembangkan perdagangan internasional dengan menjual komoditas-komoditas seperti timah,
kapur barus, cengkeh, dan pala.

Beberapa abad kemudian, Kerajaan Islam Aceh di bawah Sultan Iskandar Muda juga telah
memiliki hubungan dagang yang luas dengan Cina, Siam, Campa, India, dan beberapa negara
Eropa. Kemajuan perekonomian dunia Islam dan Aceh di masa lalu tidak terlepas dari world
view (pandangan hidup) masyarakatnya yang berakar dari nilai-nilai transformatif dan
kewirausahaan Islam.

Sayangnya, dewasa ini perekonomian masyarakat Islam di banyak tempat menunjukkan


kemunduran nyata. Kemiskinan dan keterbelakangan menjadi potret umum kehidupan
masyarakat Islam. Nilai-nilai profetik keagamaan kian berjarak dari kehidupan dan perilaku
ekonomi, sebuah fenomena yang juga berlangsung dalam masyarakat Aceh kontemporer.

Agama dan perekonomian


Dalam relasi agama dan perekonomian, ajaran Islam lebih ditempatkan pada dua kutub pilihan.
Pada kutub pertama, Islam diletakkan pada dimensi ritual yang terpisah dari dimensi sosial-
ekonomi. Aktifitas ekonomi tak lagi terkait dengan moralitas keagamaan. Tidak mengherankan
jika kemudian maraknya ibadah shalat, puasa, dan haji dalam masyarakat tumbuh bersama
meluasnya ketimpangan dan penyimpangan ekonomi (kesenjangan ekonomi, korupsi, kolusi,
dll). Pada kutub lainnya, Islam lebih ditekankan pada ibadah yang berorientasi pada akhirat
semata. Kemakmuran ekonomi dianggap bukanlah agenda penting kerja kehidupan. Agama pun
lantas menjadi seperti kata Marx, candu bagi masyarakat. Akhirat adalah pelarian atas
kegagalan dan derita kehidupan.

Agama dan pembangunan ekonomi merupakan kisah yang menarik perhatian banyak ilmuwan.
Max Weber, sosiolog dan ekonom ternama Jerman, dalam bukunya yang termashur, The
Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1974), menyimpulkan agama merupakan faktor
penyebab kemunculan kapitalisme di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Weber mengungkapkan
kemajuan ekonomi beberapa negara di Eropa dan Amerika Serikat di bawah kapitalisme
disebabkan terutama oleh Etika Protestan yang dikembangkan Calvin.

Calvinisme mengajarkan seseorang sudah ditakdirkan untuk masuk surga atau neraka. Tetapi,
yang bersangkutan tidak mengetahui takdir mana yang akan menimpanya. Satu cara
mengetahuinya adalah melalui kerjanya di dunia. Kalau seseorang berhasil dalam kerja dunia,
dia berpeluang besar masuk surga. Sebaliknya, kegagalan di dunia besar kemungkinan
mengantarkannya ke neraka. Kepercayaan ini medorong penganut Calvinisme bekerja keras.
Mereka bekerja giat meraih kesuksesan bukan demi kekayaan material semata, melainkan lebih
untuk menghalau kecemasannya.

Robert N Bellah, yang terpukau dengan kemajuan ekonomi Jepang, melakukan kajian mengenai
pengaruh agama Tokugawa terhadap kehidupan ekonomi masyarakat negeri matahari terbit ini.
Senada dengan Weber, dalam bukunya Tokugawa Religion: The Values of Pre-Industrial Japan
(1985), Bellah menyatakan nilai kerja keras meraih kesuksesan di dunia juga terdapat dalam
agama Tokugawa. Menurut Bellah, nilai tersebutlah yang menjadi pondasi bangunan kapitalisme
Jepang dengan perkembangan ekonominya yang menakjubkan. Lebih jauh Bellah juga
menganggap kewirausahaan Cina, yang kini masih kita rasakan hantamannya di seluruh dunia,
tumbuh dan berkembang dalam pelukan Confusianisme.

Cerita gemilang berbagai penganut agama dan keyakinan dalam mengarungi kehidupan ekonomi
semestinya melecut umat Islam. Kebenaran Islam, dengan segenap dimensi ajarannya, mestinya
tidak hanya bermakna kejayaan akhirat semata, tetapi juga kejayaan dunia. Keselamatan
akhirat haruslah bertautan dengan pencapaian prestasi ekonomi di dunia. Bukankah Islam
menganjurkan kita menjadi pemberi (orang yang mampu)? Karena dalam papa dan sengsara,
iman gampang goyah dan tercerabut dari jiwa?

Menyemai etos kerja


Sebagai wilayah penyebaran Islam pertama di Nusantara dan daerah yang menerapkan syariat
Islam, Aceh semestinya menjadi pelopor pembangunan ekonomi yang berorientasi pada nilai-
nilai Islam. Etos kerja yang merupakan kekuatan kemajuan perekonomian Aceh masa lampau
perlu disemai kembali di tengah kehidupan masyarakat. Untuk itu, diperlukan revitalisasi
doktrin-doktrin ajaran Islam seperti ibadah, amal shalih, amanah, dan taaruf.

Ibadah, misalnya, masih banyak dibahas dalam makna sempit, yaitu menyangkut aspek ritual
seperti shalat, puasa dan hubungan lainnya antara manusia dengan Allah. Ibadah dalam makna
luas, misalnya mencari rizki dan menuntut ilmu, perlu lebih dikembangkan. Amal shalih, dalam
kehidupan sehari-hari, juga masih banyak dihubungkan dengan kegiatan bersifat derma, seperti
membantu korban bencana, menyumbang pembangunan masjid, atau menolong fakir miskin.
Semestinya, membuka lapangan pekerjaan dan memberdayakan ekonomi masyarakat, misalnya,
sepanjang diniatkan sebagai pengabdian kepada Allah, juga merupakan amal saleh utama.

Amanah, mesti lebih banyak lagi dikaitkan dengan tanggung jawab pemimpin atau pemegang
otoritas publik. Tanggung jawab mereka semestinya melayani masyarakat dan bekerja
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan memburu keuntungan pribadi, keluarga, atau
kelompok. Sementara itu, taaruf (saling mengenal dan memahami) dapat menjadi doktrin bagi
perlunya interaksi dan kerjasama dengan berbagai pihak dalam perdagangan. Keberhasilan
ekonomi kaum muslimin dan masyarakat Aceh di masa lalu dibangun dari hubungan
perdagangan dengan berbagai negara, agama, ras dan suku bangsa.

Dalam hiruk pikuk upaya individu, masyarakat, dan bangsa memburu nafkah dan kekayaan di
abad 21 ini, modal agama (spiritual capital) telah ditempatkan sebagai sumber daya ekonomi
yang menentukan. Mencapai kemakmuran dipandang banyak keyakinan sebagai penggerak dan
misi suci (sacred mission) mewujudkan pesan-pesan Ilahiah. Di tengah perkembangan mondial
ini, doktrin-doktrin Islam yang progresif dan transformatif mestinya dapat mengambil ruang
lebih luas. Para ulama, umara, dan cendekiawan diharapkan berada di garda terdepan
mengumandangkan doktrin-doktrin tersebut dan mendorong perwujudannya dalam perubahan
ekonomi, politik, sosial dan budaya. Dengan demikian, Islam akan lebih dapat memenuhi
panggilan sejarahnya membangun peradaban dan meningkatkan kemakmuran umat manusia.

* Dr. Ichsan M. Ali Basyah Amin, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh
(Unimal), Lhokseumawe. Email: ichsan28@yahoo.com

Bappenas Selenggarakan Seminar Peran


Nilai-Nilai Agama Dan Tokoh Agama Dalam
Gerakan Revolusi Mental Untuk Reorientasi
Pembangunan Ekonomi
June 24th, 2015 1:39 pm
Print

Siaran Pers

JAKARTA Dalam rangka pelaksanaan prakarsa strategis (Pragis) 2015, Kementerian


PPN/Bappenas pada hari Rabu (24/6) menyelenggarakan seminar sebagai titik awal
dilaksanakannya kajian dengan tema Peran Nilai-Nilai Agama dan Tokoh Agama dalam
Gerakan Revolusi Mental untuk Reorientasi Pembangunan Ekonomi.

Agama secara tekstual memiliki nilai, sumber makna, dan prinsip yang dapat menjadi pegangan
dan rujukan bagi manusia untuk menghadapi globalisasi dan modernisasi, dimana nilai tersebut
diinternalisasikan dalam aktivitas kehidupan sosial dan ekonomi. Dalam konteks Indonesia,
peran nilai agama yang disebarkan oleh tokoh agama mendorong aktivitas dan pembangunan
ekonomi secara mendalam, khususnya dalam bentuk kebijakan dan strategi pembangunan di
berbagai bidang, jelas Menteri PPN/Kepala Bappenas, Andrinof Chaniago dalam sambutannya.

Agenda Revolusi Mental yang diusung oleh Presiden Joko Widodo sesungguhnya untuk
membangkitkan kesadaran bahwa bangsa Indonesia memiliki kekuatan untuk mencapai prestasi
tinggi. Revolusi Mental sejatinya merupakan upaya mengubah cara pandang, pola pikir, sikap,
perilaku yang berorientasi pada kemajuan dan kemodernan, sehingga Indonesia menjadi bangsa
yang unggul dan mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia, tambah beliau.

Kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih dihadapkan pada sejumlah tantangan dan hambatan.
Untuk terus maju dan berkembang, pembangunan ekonomi Indonesia perlu didukung dari
berbagai bidang, termasuk daya dukung dari ajaran nilai agama, antara lain, bagaimana peran
agama melalui nilai agama dan tokoh agama ikut serta dalam pembangunan ekonomi yang
membawa manfaat bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Seminar ini dilakukan dalam upaya untuk menemukenali secara mendalam hal-hal mendasar
terkait pentingnya peran nilai-nilai agama dan tokoh agama dalam Gerakan Revolusi Mental
untuk reorientasi pembangunan ekonomi. Seminar ini menghadirkan narasumber, antara lain: (a)
Prof. Dr. Armida Salsiah Alisjahbana, S.E., M.A dengan topik Pembangunan Ekonomi
Inklusif; (b) Fachry Ali, MA dengan topik Nilai-Nilai Agama dan Etika Pembangunan
Ekonomi; dan (c) Ir. KH. Salahuddin Wahid dengan topik Peran Tokoh Agama dalam Gerakan
Revolusi Mental untuk Reorientasi Pembangunan Ekonomi.

Rencana tindak lanjut dari seminar awal ini adalah penyelenggaraan Focus Group Discussion
(FGD) dengan mengundang para pakar dan tokoh sesuai dengan bidangnya masing-masing,
antara lain, dari kalangan akademisi, praktisi ekonomi, dan tokoh agama, baik di pusat maupun
di daerah. Dari kajian Pragis 2015 ini, diharapkan dapat disusun rekomendasi kebijakan lintas
sektoral untuk penguatan dan peran semua sektor dalam internalisasi dan transformasi nilai-nilai
agama dan peran tokoh agama dalam Gerakan Revolusi Mental untuk reorientasi pembangunan
ekonomi.

Jakarta, 24 Juni 2015

Thohir Afandi
Kepala Biro Humas dan Tata Usaha Pimpinan
Kementerian PPN/Bappenas
Untuk informasi lebih lanjut:
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas
Jl. Taman Suropati No. 2 Jakarta 10310
Telepon (021) 31936207, 3905650; Faksimile (021) 3145374
Email: humas@bappenas.go.id