Anda di halaman 1dari 18

PRAKTIKUM TEKNOLOGI BIOMASSA

Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jelantah dan Minyak Kelapa

Makalah ini merupakan tugas untuk memenuhi syarat perkuliahan

Praktikum Teknologi Biomassa

Disusun Oleh :

Nama : Achmad Satria Rivaldi : 061340411501

Ichsan Sandypratama : 061340411511

Karina Thohirah : 061340411513

Khoirun Naimah : 061340411514

Reda Ayu Lestari : 061340411519

Syamsu Tajri Noza H : 061340411520

Tri Sutrisno : 061340411521

Kelas/Kelompok : 6 EgA/I

Instruktur : Ahmad Zikri, S.T.,M.T.

Program Studi Teknik Energi Jurusan Teknik Kimia

Politeknik Negeri Sriwijaya

2015/2016
Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jelantah dan Minyak Kelapa

I. Tujuan Percobaan
Setelah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa mampu:
Membuat biodiesel dari minyak jelantah
Menganalisa kualitas produk (biodiesel) yang dihasilkan dari minyak jelantah
Membedakan proses esterifikasi dan trans-esterifikasi pada pembuatan
biodiesel

II. Alat dan Bahan


1. Alat yang digunakan:
Gelas Kimia
Erlenmeyer
Corong Pemisah
Spatula
Biuret
Hot Plate
Neraca Analitik
Pipet Tetes
Pipet Ukur
Bola Karet
Gelas Ukur
Termometer
Stirrer
Gilmont
Flash Point Tester
2. Bahan yang digunakan:
Minyak Jelantah
Minyak Kelapa
Methanol
NaOH
Indikator PP
KOH
Aquadest
III. Dasar Teori
Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono alkil ester dari
rantai panjang asam lemak yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan bakar dari mesin diesel
dan terbuat dari sumber terbaharui sepetri minyak nabati atau lemak hewan (Deli Saputra
2014).
Biodiesel merupakan bahan bakar dari proses transesterifikasi lipid untuk mengubah
minyak dasar menjadi ester yang diinginkan dan membuang lemak bebas. Biodiesel memiliki
sifat pembakaran yang mirip dengan diesel dari minyak bumi dan dapat menggantikan
minyak bumi dalam banyak kasus. Namun biodiesel lebih sering digunakan sebagai bahan
tambahan untuk diesel petroleum (Deli Saputra 2014).
Secara sederhana biodiesel didefinisikan sebagai bentuk bahan bakar diesel yang
menyebabkan lebih sedikit kerusakan lingkungan dibandingkan bahan bakar diesel standar.
Biodiesel biasanya dibuat dari minyak nabati melalui proses kimia yang disebut
transesterifikasi (Gita Desmafianti, 2013).
Pada prinsipnya, proses transesterifikasi adalah mengeluarkan gliserin dari minyak dan
mereaksikan asam lemak bebasnya dengan alkohol (misalnya metanol) menjadi alkohol ester
(Fatty Acid Methyl Ester/FAME) atau biodiesel. Teknologi yang digunakan dalam praktikum
ini adalah metode transesterifikasi sederhana (Gita Desmafianti, 2013).
Biodiesel yang dihasilkan dari proses transesterifikasi memliki karakterisitik yang berbeda
dengan minyak jelantah sebelum direksikan. Adapun karakterisitik biodesel dapat dilihat
dari Tabel 1.
Tabel 1. Sifat Fisik dan Kimia Biodiesel
No Parameter SNI Biodiesel
1 Komposisi Metil ester
2 Densitas 40C 0,86-0,89 gr/ml
3 Viskositas kinematic 2,3-6,0 mm/d(cst)
No Parameter SNI Biodiesel
4 Titik nyala Minimal 100C
5 Titik kabut Maksimal 18C
6 Gliserol bebas Maksimal 0,02%
7 Angka setana Minimal 51
Sumber : (SNI 04-7182-2006)
Secara umum proses transesterifikasi trigliserida dengan metanol untuk menghasilkan
metil ester (biodiesel) digambarkan sebagai berikut:

Reaksi pembuatan biodisel (reaksi trans-esterifikasi) yaitu sebagai berikut:


(Sumber: Sutrisno, 2012)
Untuk mendapatkan hasil yang baik maka diperlukan perhitungan secara teoritis,
dimana jika volume minyak nabati yang digunakan sebanyak 100 ml ternyata dapat
menghasilkan biodiesel sebanyak 107,84 ml jika reaksi berlangsung sempurna, namun pada
praktikum untuk membuat kesalahan sangatlah besar sehingga biodiesel yang dihasilkan dari
minyak nabati dengan volume yang sama akan menghasilkan biodiesel dengan volume yang
berbeda maka dari itu biodiesel yang dihasilkan harus dilakukan perbandingan dengan
melakukan persentase rendemen. Rendemen itu sendiri adalah perbandingan produk yang
kita hasilkan dibanding dengan produk secara teoritis sedang kan untuk persentase rendemen
di fraksionalkan dengan 100%. Adapun rumus yang digunakan dalam perhitungan rendemen
:

Adapun bahan yang digunakan pada pembuatan Biodiesel:


1. Minyak Nabati
Minyak nabati berasal dari tumbuhan seperti kelapa, kedelai, kacang dan sawit.
Minyak nabati adalah minyak yang diekstrak dari berbagai bagian tumbuhan. Minyak ini
digunakan sebagai makanan, menggoreng, pelumas, bahan bakar, bahan pewangi
(parfum), pengobatan, dan berbagai penggunaan industri lainnya. Bukan hanya minyak
zaitun yang berinovasi, minyak yang terbuat dari biji-bijian pun kini mudah ditemui di
pasaran. Sama seperti minyak zaitun, minyak dari biji-bijian ini ternyata juga teman yang
baik bagi kesehatan tubuh. Pada minyak biji-bijian terkandung banyak asam lemak tidak
jenuh, seperti omega 3 dan omega 6. Minyak dengan asam lemak tidak jenuh ini mudah
dicerna oleh tubuh dan tidak mudah menggumpal dalam darah. Pada pembuatan biodiesel
minyak nabati merupakan bahan baku utama yang akan direaksikan menjadi methyl ester.
Minyak nabati yang digunakan pada proses pembuatan biodiesel ini berasal dari kelapa
sawit (Zaky Kurniawan, 2013).
Adapun sifat fisika dan kimia minyak nabati dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Sifat Fisika dan Kimia Minyak Nabati
No Parameter Nilai
1 Densitas relative 50o C/air suhu 25 o C 0.8927 gr/ml
2 Indeks refraktif n D 50 C 1.4533 n D 50 C
3 Bilangan penyabunan 195.7 mg KOH/g
4 Materi tak tersabunkan 0.51 %
(Sumber : Febriani Purba, 2012)

2. Methanol
Metanol merupakan cairan yang jernih, tidak berwarna, dan merupakan cairan
yang mudah terbakar. Metanol dapat dibuat dengan mereaksikan hidrogen dengan karbon
monoksida atau karbon dioksida. Sejarahnya, dia dibuat dari destilasi kayu, makanya
disebut juga alkohol kayu. Metanol banyak dipakai pada industri sebagai starting
material pembuatan berbagai bahan kimia, seperti formaldehid, asam asetat, metakrilat,
etilen glikol, dll. Metanol juga banyak dipakai sebagai cairan pembersih kaca mobil,
pembersih karburator, antibeku, toner mesin fotokopi, dan bahan bakar. Methanol
berfungsi sebagai pelarut sintetis yang akan direaksikan dengan trigliserida yang akan
menghasilkan methyl ester (Zulia,2010).
Methanol merupakan pelarut polar yang mudah menguap, adapun sifat-sifat dari
methanol terdapat pada Tabel 3.
Tabel 3. Sifat Fisika dan Kimia Methanol
No Sifat Fisika Sifat Kimia
1 Cairan tidak berwarna, berbau tajam Rumus molekul: CH3OH
2 Kelarutan dalam air, pada suhu 20C Beracun, mudah terbakar
3 Densitas 0,792 gr/ml3(20 C) Sangat mudah terbakar
4 Titik nyala 11 C Mudah Menguap
5 Titik lebur-98C Angka Evaporasi 5,3
6 Titik didih64,5C
(Sumber: MSDS Metanol, No.106008/2012)

3. NaOH
NaOH, juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium hidroksida, adalah
sejenis basa logam kaustik. Natrium Hidroksida terbentuk dari oksida basa Natrium
Oksida dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat
ketika dilarutkan ke dalam air. Digunakan di berbagai macam bidang industri,
kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur
kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan deterjen. Natrium hidroksida adalah basa
yang paling umum digunakan dalam laboratorium kimia(Hasugian Veranixon, 2012)
Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet,
serpihan, butiran atau pun larutan jenuh 50%. Ia bersifat lembap cair dan secara spontan
menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan
melepaskan panas ketika dilarutkan. Ia juga larut dalam etanol dan metanol, walaupun
kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada kelarutan KOH. Ia tidak
larut dalam dietil eter dan pelarut non-polar lainnya (Hasugian Veranixon, 2012)
NaOH pada proses pembuatan biodiesel berfungsi sebagai untuk mempercepat proses
esterifikasi atau yang biasa disebut dengan katalis. Katalis adalah suatu zat yang
difungsikan untuk menurunkan energiaktivasi dimana energiaktivasi itu adalah energi
minimum yang dibutuhkan untuk terjadinya sebuah reaksi. NaOH bersifat basa yang
memiliki sifat-sifat fisika dan kimia sebagai berikut pada Tabel 4
Tabel 4. Sifat Fisika dan Kimia NaOH.
No Sifat Fisika Sifat Kimia
1 Padatan, berwarna putih, berbau tajam Rumus molekul: NaOH
2 Kelarutan larut dalam air, pada suhu 20C Higroskopis
3 Berat Molekul: 40 g/mol Tidak mudah terbakar
4 pH 12,7 Korosif, beracun
5 Densitas: 1 gr/cm3
6 Titik lebur 323C
7 Titik didih 1388C
(Sumber MSDS NaOH, No.106498/2012)

4. CaCl2
Kalsium klorida (CaCl2) adalah senyawa ionik yang terdiri dari unsur kalsium
(logam alkali tanah) dan klorin. Ia tidak berbau, tidak berwarna, solusi tidak beracun,
yang digunakan secara ekstensif di berbagai industri dan aplikasi di seluruh
dunia. Berlaku sebagai ion khalida yang khas dan padat pada suhu kamar. (Esensial,
2010)
Kemampuan klorida kalsium untuk menyerap banyak cairan merupakan salah satu
kualitas yang membuatnya difungsikan sebagai absorben air pada pembuatan biodiesel
sehingga kadar air biodiesel berkurang (Esensial, 2010)
Sifat Fisika dan Kimia CaCl2 dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Sifat Fisika dan Kimia CaCl2
No Sifat Fisika Sifat Kimia
1 Padatan, berwarna putih, tidak berbau Rumus molekul CaCl2.
2 Kelarutan dalam air, pada suhu 20C Tidak mudah terbakar
3 Berat Molekul: 40 g/mol Higroskopis
4 pH 8-10 Beracun
5 Densitas: 2,15 gr/cm3
(Sumber: MSDS CaCl2, No.10043-52-4/2005)

Dalam pembuatan biodiesel untuk memastikan apakah biodiesel tersebut dapat


digunakan secara umum perlu pengujian dan membandingkan hasil pengujian dengan
SNI biodesel. Salah satu pengujian tersebut yang dapat dilakukan adalah pengujian
densitas dimana pada SNI range densitas biodiesel yang dihasilkan yaitu 0,86 gr/ml -
0,89 gr/ml. Densitas itu sendiri adalah Massa jenis adalah pengukuran massa setiap
satuan volume benda. Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula
massa setiap volumenya. Densitas juga merupakan parameter yang menentukan kualitas
dari biodiesel yang dihasilkan dari praktikum tersebut dimana jika densitas mendekati
angka satu dapat dikatan bahwa biodiesel yang dihasilkan masih terdapat kandungan air.
Jika biodiesel memiliki kadar air yang tinggi maka biodiesel yang dihasilkan jika
dipergunakan untuk mesin diesel akan menyebabkan perkaratan (Alliansusmay, 2011)

Adapun rumus yang digunakan dalam pengujian densitas yaitu :

Minyak Kelapa (Coconut Oil)


Minyak kelapa murni (Inggris: virgin coconut oil) adalah minyak kelapa yang dibuat dari
bahan baku kelapa segar, diproses dengan pemanasan terkendali atau tanpa pemanasan sama
sekali, tanpa bahan kimia dan RDB.

Penyulingan minyak kelapa seperti di atas berakibat kandungan senyawa-senyawa esensial


yang dibutuhkan tubuh tetap utuh. Minyak kelapa murni dengan kandungan utama asam
laurat ini memiliki sifat antibiotik, anti bakteri dan jamur.

Minyak kelapa murni, atau lebih dikenal dengan Virgin Coconut Oil (VCO), adalah
modifikasi proses pembuatan minyak kelapa sehingga dihasilkan produk dengankadar
air dan kadar asam lemak bebas yang rendah, berwarna bening, berbau harum, serta
mempunyai daya simpan yang cukup lama yaitu lebih dari 12 bulan.

Pembuatan minyak kelapa murni ini memiliki banyak keunggulan, yaitu:

tidak membutuhkan biaya yang mahal, karena bahan baku mudah didapat dengan harga yang
murah
pengolahan yang sederhana dan tidak terlalu rumit, serta
penggunaan energi yang minimal, karena tidak menggunakan bahan bakar, sehingga
kandungan kimia dan nutrisinya tetap terjaga terutama asam lemak dalam minyak.

Jika dibandingkan dengan minyak kelapa biasa, atau sering disebut dengan minyak
goreng (minyak kelapa kopra), minyak kelapa murni mempunyai kualitas yang lebih baik.
Minyak kelapa kopra akan berwarna kuning kecoklatan, berbau tidak harum, dan mudah
tengik, sehingga daya simpannya tidak bertahan lama (kurang dari dua bulan). Dari segi
ekonomi, minyak kelapa murni mempunyai harga jual yang lebih tinggi dibanding minyak
kelapa kopra, sehingga studi pembuatan VCO perlu dikembangkan.

Pemanfaatan minyak kelapa sebagai bahan bakar

Minyak kelapa dapat dimanfaatkan secara langsung menjadi bahan bakar selayaknya solar.
Minyak kelapa memiliki kekentalan 50-60 centi stokes, sedangkan solar 5 centi stokes. Pada
suhu antara 80-90 derajat celcius, minyak kelapa memiliki kekentalan yang setara dengan
solar. Salah satu inovasi yang dikembang Departemen Teknik Pertanian IPB yaitu dengan
memanfaatkan suhu knalpot untuk mengubah kekentalan minyak kelapa agar sama dengan
solar. Gas buangknalpot memiliki temperatur 350-360 derajat celcius sehingga diperlukan
koil pendingin untuk menurunkan temperatur knalpot. Kemudian minyak kelapa melalui
sebuah selang dialirkan melalui knalpot sebelum menuju ke ruang pembakaran mesin diesel.

Cara seperti ini tentunya lebih murah dibandingkan dengan memanfaatkan kokodiesel, yaitu
minyak kelapa yang telah melalui proses industri untuk diubah menjadi biodiesel. Harga
kokodiesel saat ini berkisar Rp. 10.000 per liter, sedangkan minyak kelapa yang tidak
melalui proses pengolahan bisa jauh lebih murah. Selain itu, kelapa merupakan tanaman
yang umum tumbuh di daerah pesisir, menjadikannya sumber bahan bakar yang potensial
bagi nelayan setempat yang cenderung mengalami kesulitan bahan bakar, baik masalah
harga maupun ketersediannya.

Minyak kelapa yang dimanfaatkan adalah minyak kelapa yang telah melalui proses
pemanasan guna menghilangkan asam lemak bebasnya.

IV. Langkah Kerja


1. Tes FFA (Asam Lemak Bebas)
- Apabila asam lemak bebas > 5% proses esterifikasi dengan katalis asam pekat dan
dilanjutkan dengan proses transesterifikasi.
- Apabila asam lemak bebas < 5% maka dilakukan proses transesterifikasi.
Tahapan Pengujian FFA
1. 5 gr sampel ditambah 50 ml methanol 95% lalu menambah 3 tetes indicator pp.
2. Mentitrasi sampel dengan NaOH 0,1N dalam 100ml.
3. Setelah berubah warna menjadi merah muda, mencatat volume NaOH.
4. Menghitung nilai FFA.
5. Langkah 1-5 di ulang kembali untuk tes FFA minyak jelantah yang telah di saring
menggunakan silica.

2. Pembuatan Biodiesel
a. Proses Esterifikasi
1. Perbandingan methanol 13-35% massa sampel dan H2SO4 0,5% massa.
2. Mencampurkan methanol dan H2SO4.
3. Memanaskan sampel sampai 70 C dan di aduk dengan kecepatan 300 rpm.
4. Memasukkan campuran methanol tersebut pada suhu 60 C selama 1 jam.
5. Memasukkan campuran sampel tersebut kedalam corong pemisah sampai
terbentuk 2 lapisan.
6. Mencuci larutan ester dengan air panas pada suhu 70 C dengan volume 50% dari
volume biodiesel (hasil pencucian disebut ester).
7. Memisahkan campuran ester dan air.
8. Mendiamkannya selama 1 jam.
b. Proses Transesterifikasi
1. Memindahkan ester kedalam gelas kimia.
2. Mencampurkan ester dengan methanol 13,14, dan 15% massa sampel dan KOH
2% massa sampel.
3. Memasukkan campuran methanol dan metoksida kedalam ester yang telah
dipanaskan pada suhu 60 C dijaga selama 1 jam.
4. Memasukkan campuran ke corong pisah sehingga terbentuk 2 lapisan (lapisan
atas biodiesel, lapisan bawah gliserol).

3. Proses Pencucian
1. Memanaskan air hingga 60 C.
2. Selanjutnya memasukkan air panas dengan suhu 60 C dengan volume yang sama
dengan biodiesel ke dalam corong pisah, mengocok selama 5 menit sampai rata,
mendiamkannnya selama kurang lebih 24 jam.
3. Memisahkan air dan biodiesel.
4. Memanaskan biodiesel pada suhu 40-48 C.
5. Mendinginkan biodiesel hingga suhu sama dengan lingkungan.
6. Mengulangi proses pencucian hingga air pencucian berwarna bening.
Analisa Biodiesel

1. Pengujian pH
1. Menyiapkan kertas pH.
2. Memasukkan sampel biodiesel kedalam gelas kimia.
3. Mencelupkan kertas pH ke dalam biodiesel.
4. Mencocokan kertas pH dengan indicator pH.

2. Pengujian Densitas Biodiesel


1. Menimbang berat piknometer kosong.
2. Menimbang piknometer + air (pada suhu 20 C).
3. Menghitung volume piknometer.
4. Menimbang piknometer + biodiesel.
5. Menghitung berat biodiesel.
6. Menghitung densitas biodiesel.

3. Pengujian Viskositas
1. Menentukan massa jenis bola dan massa jenis biodiesel.
2. Memasukkan biodiesel ke dalam tabung viscometer (Gilmont).
3. Memasukkan bola kedalam tabung yang telah berisi biodiesel dan dijaga jangan
sampai ada gelembung udara. Pada saat bola sampai tanda paling atas, stopwatch
dihidupkan dan dimatikan pada saat bola sampai tanda bagian bawah.
4. Mencatat waktu yang digunakan, yaitu gerakan bola dari tanda bagian atas sampai
tanda bagian bawah.
5. Menghitung viskositas.

4. Pengujian Titik Nyala Biodiesel


1. Mengisi bejana logam dengan biodiesel yang akan diketahui titik nyala nya sampai
tanda batas, dipasang thermometer diatas cawan sampai menyentuh sampel.
2. Memasang selang gas pembakar.
3. Menghidupkan pemanas dan pemanasan diatur agar kenaikan suhu pemanasan kira-
kira 5 C/menit.
4. Memanaskan sampel sampai terbakar apabila di dekat dengan api.
5. Mencatat temperature saat sampel terbakar.
V. Data Pengamatan
a. Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jelantah
Diketahui: Minyak Jelantah mula-mula = 1350 gr
Sisa Jelantah = 29,71 gr

Minyak Komponen (gram)


Jelantah Minyak Metanol KOH Metano Biodiese Glisero Pengoto
Jelanta A l l l r
h B
Sampel I 433,27 56,3251 8,665 4,9408 260,98 168,53 2,50
4
Sampel II 436,02 61,0428 8,720 4,9408 280,52 146,09 7,35
4
Sampel III 451 67,65 9,02 5,1454 262,34 175,45 10,20

b. Uji Kadar FFA


1. Minyak Jelantah Setelah Disaring

Komponen Berat (gr) Volume (ml)


Minyak Jelantah 5,02 -
NaOH 0,4 -
NaOH yang terpakai - 6,7

2. Minyak Jelantah Setelah Disaring

Komponen Berat (gr) Volume (ml)


Minyak Jelantah 5,02 -
NaOH 0,4 -
NaOH yang terpakai - 1,8

Neraca Massa

a. Pada Proses Penyaringan

Komponen Berat (gr)


Input Output
Minyak Jelantah 1350 1320,29
Hilang (loss) - 29,71
Total 1350 1350

b. Pada Proses Pemanasan


Keterangan : - Sampel I dengan metanol 13%
- Sampel II dengan metanol 14%
- Sampel III dengan metanol 15%

Komponen Berat (gr)


Input Output
Minyak Jelantah 433,27 -
Metanol (A+B) 61,2659 -
KOH 8,6654 -
Campuran - 503,2013

Minyak Jelantah 436,02 -


Metanol (A+B) 65,9836 -
KOH 8,7204 -
Campuran - 510,724

Minyak Jelantah 451 -


Metanol (A+B) 72,7924 -
KOH 9,02 -
Campuran - 532,8124
Total Keseluruhan 1546,7377 1546,7377

c. Pada Proses Pemisahan

Komponen Berat(gr)
Input Output
Campuran 433,27 -
Gliserol - 168,53
Biodiesel - 260,98
Pengotor - 2,50
Hilang (Loss) - 1,26

Campuran 436,02 -
Gliserol - 146,09
Biodiesel - 280,52
Pengotor - 7,35
Hilang (Loss) - 2,06

Campuran 451 -
Gliserol - 175,45
Biodiesel - 262,34
Pengotor - 10,20
Hilang (Loss) - 3,01
Total Keseluruhan 1320,29 1320,29

a. Pembuatan Biodiesel dari Minyak Kelapa

Komponen Berat (gr) Volume (ml)


Minyak Kelapa mula-mula 180 -
Minyak Kelapa 177,26 -
Sisa Minyak Kelapa 2,74 -
Metanol A 17,726 -
KOH 1,7726 -
Metanol B 1,0112 -
Biodiesel 168,8 187
Gliserol 8,01 -
Pengotor 1,01 -

Neraca Massa

a. Pada Proses Penyaringan

Komponen Berat (gr)


Input Output
Minyak Kelapa 180 177,26
Hilang (Loss) - 2,74
Total 180 180

b. Pada Proses Pemanasan

Komponen Berat (gr)


Input Output
Minyak Kelapa 177,26 -
Metanol (A+B) 18,7372 -
KOH 1,7726 -
Campuran - 197,7698
Total 197,7698 197,7698

c. Pada Proses Pemisahan

Komponen Berat (gr)


Input Output
Campuran 197,7698 -
Gliserol - 8,01
Biodiesel - 168,8
Pengotor - 1,04
Hilang (Loss) - 0,51
Total 197,7698 197,7698

Uji Kualitas Biodiesel

a. Biodiesel dari Minyak Jelantah


Biodiesel Tes Uji
Densitas Viskositas Flash Point
Sampel I
Sampel II
Sampel III

Tes Uji Bakar Hasil Uji (menit)


Sampel I Sampel II Sampel III
10 ml 14,19 12,52 18,48
15 ml 22,33 18,50 20,55

b. Biodiesel dari Minyak Kelapa

Biodiesel Tes Uji


Densitas Viskositas Flash Point
Sampel

Tes Uji Bakar Hasil Uji (menit)


Minyak Kelapa Biodiesel
10 ml 30,52 18,09
15 ml 37,26 25,38

Daftar Pustaka
Kasie Laboratorium. 2016. Penuntun Praktikum Teknologi Biomassa. Pembuatan

Biodiesel dari Minyak Jelantah. Palembang: POLSRI.

Kasie Laboratorium. 2016. Penuntun Praktikum Teknologi Biomassa. Pembuatan

Biodiesel dari Minyak Kelapa. Palembang: POLSRI.

Gambar Alat