Anda di halaman 1dari 89

POLITIK DALAM ISLAM

" Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia,


menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang mungkar
dan beriman kepada Allah "(Ali Imran : 110).

Allah SWT telah menetapkan bahwa kaum muslimin adalah umat


yang terbaik diantara manusia. Status ini diberikan kepada kaum
mulimin agar mereka menjadi pemimpin dan penuntun bagi
umat-umat lain. Sayyid Qutb dalam Fii Zhilalil Quran
menafsirkan bahwa yang layak menjadi pemimpin umat manusia
hanyalah "orang-orang yang berpredikat terbaik". Karena ingin
meraih predikat umat terbaik itulah, umat Islam terdahulu tidak
pernah berhenti ataupun lemah semangatnya dalam perjuangan
menyebarkan risalah Islam ke seluruh permukaan bumi. Mereka
yakin bahwa metode untuk mewujudkan kebangkitan Islam
hanyalah dengan menjadikan Islam sebagai pedoman hidup yang
lengkap. Islam dijadikan sebagai pola kehidupan yang
menyeluruh. Umat Islam percaya dan yakin bahwa hanya Islam
yang mampu memecahkan seluruh urusan manusia secara
sempurna, menyeluruh, praktis dan sesuai dengan fitrah
kemanusiaan.

Saat ini umat Islam berada dalam kondisi dan situasi yang lemah
serta paling rendah dalam memahami Islam. Kondisi ini telah
terbukti menyebabkan segala bentuk pemikiran-pemikiran yang
merusak menyusup kedalam tubuh umat Islam. Hal inilah yang
mengakibatkan munculnya berbagai gangguan dan keresahan.
Umat Islam cenderung mudah mengabaikan hukum-hukum Islam.

Di Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim


negaranya masih juga menggunakan system yang bersumber dari
Ideolagi yang sekuler , Tata Pemerintahan Negara masih mengacu
kepada ide-ide sekuler demokrasi , trias politica . system
perekonomian masing menggunakan model kapitalis, maka
menjamurlah bank-bank ribawi ,hukum persanksian / pidana dan
perdata warisan bangsa kolonialis Belanda masih diterapkan ,
system pendidikan masih kapitalistis, pengelolaan sumber
kekayaan alam seperti tambang-tambang yang tidak mengacu
kepada hukum syara sehingga dikuasai oleh orang-orang kafir.
Akibatnya Negara ini menjadi lemah dalam segala hal dan
akhirnya kehidupan mereka merosot sampai ke taraf rendah.
Dalam kondisi ini, umat Islam tidak memiliki peranan lagi dalam
percaturan politik internasional.

Sebenarnya tidak ada cara lain untuk menyelamatkan umat dan


membangkitkannya kembali menempati kedudukan mulia, selain
dari mengembalikan umat pada sifat yang menjadikannya umat
terbaik, yakni beriman kepada Allah SWT, melaksanakan amar
maruf dan mencegah kemungkaran (nahi mungkar),
sebagaimana yang diungkapkan dalam ayat diatas.

Umat yang beriman kepada Allah SWT, konsekuensinya adalah


menjadi umat yang tunduk hanya kepada Allah SWT. Yakni tunduk
kepada ketentuan-Nya. Demikian pula umat yang melaksanakan
amar maruf dan nahi mungkar berarti umat yang menegakkan
tolok ukur segala sesuatu berdasarkan ridlo dan murka Allah atau
baik dan buruk menurut Allah. Hal ini berarti kedudukan mulia
sebagai umat terbaik akan bisa diraih kembali oleh umat Islam,
bila mereka mendasarkan pengaturan segala urusannya, bahkan
urusan umat manusia (lainnya) diatas perintah dan larangan Allah
SWT, yang termaktub di dalam kitabbullah dan sunah Rasul-Nya.

Berpolitik Hukumnya Fardlu

Politik senantiasa diperlukan oleh masyarakat manapun. Ia


merupakan upaya untuk memelihara urusan umat di dalam dan di
luar negeri. Kalau kita memandang seseorang dalam sosoknya
sebagai manusia (sifat manusiawinya), ataupun sebagai individu
yang hidup dalam komunitas tertentu, maka sebenarnya ia bisa
disebut sebagai seorang politikus. Di dalam hidupnya manusia
tidak pernah berhenti dan mengurusi urusannya sendiri, urusan
orang lain yang menjadi tanggung jawabnya, urusan bangsanya,
ideologi dan pemikiran-pemikirannya. Oleh karena itu setiap
individu, kelompok, organisasi ataupun negara yang
memperhatikan urusan umat (dalam lingkup negara dan wilayah-
wilayah mereka) bisa disebut sebagai politikus. Kita bisa
mengenali hal ini dari tabiat aktivitasnya, kehidupan yang mereka
hadapi serta tanggung jawabnya.

Islam sebagai agama yang juga dianut oleh mayoritas umat di


Indonesia selain sebagai aqidah ruhiyah (yang mengatur
hubungan manusia dengan Rabb-nya), juga merupakan aqidah
siyasiyah (yang mengatur hubungan antara sesama manusia dan
dirinya sendiri). Oleh karena itu Islam tidak bisa dilepaskan dari
aturan yang mengatur urusan masyarakat dan negara. Islam
bukanlah agama yang mengurusi ibadah mahdloh individu saja.

Berpolitik adalah hal yang sangat penting bagi kaum muslimin. Ini
kalau kita memahami betapa pentingnya mengurusi urusan umat
agar tetap berjalan sesuai dengan syariat Islam. Terlebih lagi
memikirkan/memperhatikan urusan umat Islam hukumnya fardlu
(wajib)sebagaimana Rasulullah bersabda :

"Barangsiapa di pagi hari perhatiannya kepada selain Allah, maka


Allah akan berlepas dari orang itu. Dan barangsiapa di pagi hari
tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin maka ia tidak
termasuk golongan mereka (kaum muslimin)".

Oleh karena itu setiap saat kaum muslimin harus senantiasa


memikirkan urusan umat, termasuk menjaga agar seluruh urusan
ini terlaksana sesuai dengan hukum syariat Islam. Sebab umat
Islam telah diperintahkan untuk berhukum (dalam urusan apapun)
kepada apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, yakni
Risalah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Firman Allah SWT:

".maka putuskanlah (perkara) mereka menurut apa yang Allah


turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka
dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang
kepadamu.." (Al-Maidah : 48)

"Barangsiapa yang tidak memutuskan (perkara) menurut apa


yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir
". (Al-Maidah :44)

Dua ayat di atas dan beberapa ayat lain yang senada, seperti
surat Al-Maidah ayat 44,45, 47 dan 49 serta An-Nisaa ayat 65
menjelaskan bahwa kaum muslimin harus (wajib) mendasarkan
segala keputusan tentang urusan apapun kepada ketentuan Allah,
yakni hukum syariat Islam.

Terlaksananya urusan umat sesuai dengan hukum syariat Islam


tidak hanya meliputi urusan dalam negerinya saja, melainkan
juga urusan luar negeri. Hal ini karena kaum muslimin juga
melakukan interaksi dengan negara-negara lain, yang dalam
setiap pelaksanaannya harus selalu terikat dengan syariat Islam.

Bentuk kepedulian kaum muslimin dengan segala urusan umat ini


bisa berarti mengurusi kepentingan dan kemaslahatan mereka,
mengetahui apa yang diberlakukan penguasa terhadap rakyat,
mengingkari kejahatan dan kezholiman penguasa, peduli
terhadap kepentingan dan persoalan umat, menasehati pemimpin
yang lalim, mendongkrak otoritas penguasa yang melanggar
syariat Islam, serta membeberkan makar-makar jahat negara-
negara musuh serta hal-hal lain yang berkenaan dengan urusan
umat.

Berpolitik Untuk Urusan Dalam dan Luar Negeri


Banyak urusan rakyat yang harus diperhatikan oleh kaum
muslimin. Baik urusan pelaksanaan syariat Islam di dalam negeri
ataupun yang menyangkut urusan luar negeri.

Di dalam negeri, kaum muslimin harus memperhatikan, apakah


urusan umat dapat terpelihara dengan baik oleh negara. Mulai
dari penerapan hukum pemerintahan, hukum pidana (sanksi),
ekonomi, pengelolaan sumber daya alam, kesehatan, pendidikan,
keamanan, aturan interaksi antar individu pria dan wanita serta
seluruh kepentingan umat lainnya. Dengan demikian
memperhatikan politik dalam negeri ini berarti menyibukkan diri
dengan urusan-urusan kaum muslimin secara umum. Yaitu
memperhatikan kondisi kaum muslimin dari segi peranan
pemerintah dan penguasa terhadap mereka. Sudahkah pemimpin
kaum muslimin (penguasa) melaksanakan langsung tanggung
jawab terhadap rakyatnya, yang telah dibebankan Allah? Apakah
seluruh urusan rakyat telah terpenuhi sesuai dengan hukum
syara?

Aktivitas-aktivitas ini merupakan persoalan yang penting dan


telah diwajibkan Allah SWT kepada umat Islam. Dengan demikian
haram hukumnya bila kaum muslimun meninggalkannya.

Selain dari aktivitas politik dalam negeri, umat Islam juga harus
menyibukkan diri dalam politik luar negeri. Hal ini dilakukan
dalam rangka mengetahui strategi makar (tipu daya) negara-
negara kafir terhadap kaum muslimin. Tindakan selanjutnya
adalah membeberkan makar tersebut agar kaum muslimin
waspada dan mampu menolak ancamannya. Di samping itu
politik luar negeri ditegakkan dalam rangka menyebarkan dawah
Islam kepada seluruh umat manusia di bumi ini. Ini sudah menjadi
kewajiban kaum muslimin. Sebab Islam diturunkan untuk seluruh
manusia.
Oleh karena itu kewajiban berpolitik bersifat mutlak, baik berupa
politik dalam negeri ataupun luar negeri. Pentingnya politik luar
negeri ini karena aktivitas penguasa bersama negara-negara lain
adalah bagian dari politik. Maka salah satu aktivitas politik luar
negeri adalah mengoreksi aktivitas penguasa yang berkaitan
dengan negara-negara lain.

Bila kita telaah secara mendalam aktivitas-aktivitas kenegaraan,


maka pemeliharaan kepentingan umat yang dilakukan oleh
negara (pemerintahan serta hubungan luar negeri) hukumnya
wajib. Namun di sisi lain kaum muslimin harus pula mengetahui
kebijakan-kebijakan negara ini. Karena bagaimana mungkin kaum
muslimin bisa menyibukkan diri dalam berpolitik di dalam negeri
yaitu mengoreksi tindakan-tindakan yang dilakukan penguasa,
tanpa mengetahui berbagai kebijakan yang mereka lakukan. Bila
kaum muslimin tidak mengetahui esensi tindakan penguasa ini,
mereka akan menemui kesulitan dalam mengoreksi tindakan-
tindakannya, dengan demikian menelaah secara mendalam
aktivitas-aktivitas kenegaraan termasuk suatu hal yang wajib,
sebagaimana wajibnya berpolitik itu sendiri.

Aktivitas menasehati dan mengoreksi tindakan penguasa (bila


penguasa lalai dari penerapan hukum Islam) merupakan aktivitas
penting yang harus dilakukan umat. Dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, ia berkata :

"Aku mendatangi Nabi SAW, lalu aku berkata : "Aku membaiatmu


berdasarkan Islam Maka beliau mensyaratkan agar aku memberi
nasehat kepada semua muslim"

lafazh (nasehat), berbentuk umum, termasuk di dalamnya adalah


menolak tindakan lalim penguasa dan kelaliman musuh Islam
terhadap kaum muslimin. Hal ini diartikan dengan menyibukkan
diri dengan berpolitik di dalam negeri, dalam rangka mengetahui
kebijakan yang dilakukan penguasa terhadap rakyatnya dan juga
dalam rangka mengoreksi tindakan-tindakan mereka.

Sebagai contoh, ketika kaum pemimpin muslimin (penguasa


Daulah Islamiyah) lalai dalam menerapkan hukum Islam atau
mengeluarkan kebijakan negara yang bertentangan dengan
syariat Islam, maka rakyat berkewajiban untuk menasehatinya.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda :

" Penghulu syuhada adalah Hamzah dan seseorang yang berdiri


di hadapan penguasa yang lalim lalu menasehatinya, kemudian
Ia di bunuh".

Dari Abi Umamah, ia berkata :

" Ada seseorang yang datang menghadap kepada Rasulullah,


jihad apakah yang paling baik? Beliau mendiamkannya. Ketika
beliau melempar jumrah kedua, dia bertanya kembali kepada
beliau, namun beliau pun tetap tidak menjawabnya. Maka pada
saat melempar jumrah aqabah, dimana beliau (ketika itu) sudah
memasukan kaki beliau keatas pelana (kuda) untuk menaikinya,
beliau saw bertanya :Mana orang yang bertanya tadi ? Dia
menjawab : Saya, Ya Rasulullah. Beliau kemudian bersabda :
Adalah kata-kata yang hak (kalimatu haqqin), yang diucapkan
dihadapkan seorang penguasa yang zalim." (Ibnu Majah)

Menasehati penguasa yang lalim memang membutuhkan


keberanian dan pengorbanan yang tinggi. Namun imbalan yang
dijanjikan Allah SWT sangatlah besar. Bagi seorang muslim yang
meyakini sepenuhnya bahwa hanya Allahlah satu-satunya tempat
kembali, maka ia pun akan senantiasa berusaha dan berjuang
untuk meraih kemuliaan ini.

Dawah dan Politik


Bila kemudian kita kembalikan kepada tanggung jawab umat
yang harus mengemban dawah Islam keseluruh dunia, maka
aktivitas dawah ini tidak akan bisa dilakukan dengan mudah
kecuali bila umat memahami politik pemerintahan negeri-negeri
tersebut, yaitu politik pemerintahan negara yang berkuasa (yang
rakyatnya mereka dawahi). Mengemban dawah adalah fardlu.
Dalam hal ini seseorang tidak akan berhasil kecuali dengan
memahami masalah politik secara keseluruhan (dalam dan luar
negeri), maka memahami masalah politik adalah fardlu pula bagi
kaum muslimin. Sebagaimana kaidah syara menyebutkan :

"apabila suatu kewajiban tidak terlaksana dengan sempurna


kecuali dengan suatu perbuatan, maka perbuatan tersebut
hukumnya adalah wajib"

Dengan demikian ketika kaum muslimin mendapat tanggung


jawab mengemban dawah Islam kepada seluruh manusia, maka
menjadi kewajiban bagi kaum muslimin untuk selalu mengikuti
perkembangan dunia dengan kesadaran penuh, memahami
masalah-masalah dan berbagai kondisinya, mengenali
kecenderungan negara dan rakyatnya, mengikuti aktivitas
perpolitikan yang terjadi di dunia (internasional), memperhatikan
rencana politik negara-negara mengenai strategi penerapan
politik dan tata car hubungan antara sebagian negara dengan
negara lainnya, termasuk manuver-manuver politik yang akan
dilakukan suatu negara. Mereka (kaum muslimin) harus
memahami percaturan politik dunia Islam dalam konstalasi
percaturan politik internasional. Semua ini dilakukan agar kaum
muslimin mudah untuk menetapkan cara-cara menegakkan,
memapankan dan mempertahankan eksistensi negara mereka di
tengah-tengah posisi internasional di dunia ini. Dengan demikian
kaum muslimin akan dapat mengemban dawah keseluruh
penjuru bumi.

Bagaimana Dengan Kaum Muslimin Saat Ini ?

Pada kondisi seperti sekarang ini, kaum muslimin masih belum


menyandarkan seluruh pengaturan kehidupannya dengan hukum-
hukum yang diturunkan oleh allah SWT kepada mereka. Secara
umum umat Islam (termasuk di Indonesia) belum menjadikan
Islam sebagai pandangan hidupnya. Yaitu menjadikan aqidah
Islam sebagai landasan seluruh pengaturan urusan kehidupannya.
Pandangan hidup yang diajarkan aqidah Islam adalah halal dan
haram. Sedangkan metode operasional (untuk merealisasikan
pandangan halal-haram tersebut) adalah dengan membangun
keterikatan terhadap hukum syara. Maka pandangan tersebut
selalu memandang kehidupan dengan standar halal dan haram.
Apa saja yang yang halal, baik persoalan tersebut wajib, mandub
(sunah), maupun mubah, akan diambil tanpa ragu-ragu. Sesuatu
yang makruh, akan diambil dengan rasa khawatir. Sedangkan
yang haram, tidak akan diambil sama sekali.

Bila kita perhatikan saat ini aqidah Islam belum diambil dan
dimiliki oleh kaum muslimin sebagai aqidah siyasiyah meskipun
tetap dimiliki sebagai aqidah ruhuyah. Sehingga pandangan hidup
yang dibentuk oleh aqidah tersebut tidak pernah diwujudkan
dalam realitas kehidupan, sekalipun masih ada pada individu-
individu muslim.

Upaya untuk membangkitkan umat dan mengembalikan kaum


muslimin sehingga mampu meraih kemuliaannya kembali
sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah SWT., tidak lain hanyalah
dengan menyadarkan kaum muslimin bahwa Islam adalah aqidah
ruhiyah dan siyasiyah. Kesadaran ini harus ditanamkan sampai
benar-benar membekas dalam arti berpengaruh langsung
terhadap kehidupannya. Mereka harus senantiasa mengkaitkan
aqidah tersebut dengan pemikiran-pemikiran tentang keduniaan,
termasuk pemikiran-pemikiran yang berkaitan dengan
pemeliharaan persoalan dunia. Mereka harus mengkaitkan
keimanan kepada Allah dengan keimanan kepada Al Quran dan
segala isinya. Mereka pun harus memperdalam makna keimanan
kepada Al-quran yang diturunkan Allah SWT bagi seluruh umat
manusia diakhir zaman ini.

Mereka harus mengkaitkan keimanan kepada Al-Quran dengan


keimanan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa Al-
Quran. Demikian pula keimanan kepada sunnahnya. Kemudian
setelah itu, beralih kepada upaya untuk merubah pandangan
hidup mereka dengan suatu pandangan hidup yang dibangun di
atas aqidah tersebut. Hal ini berarti beralihnya standar kehidupan
kepada halal dan haram, bukan azas manfaat ataupun yang
lainnya. Selanjutnya berupaya untuk mengatur seluruh aspek
kehidupannya di dunia ini sesuai dengan standar halal haram
tersebut.

Demikian kerangka pandang politik didalam Islam. Standar ini


bersifat tetap dan pasti yang berlaku bagi kaum muslimin sampai
hari kiamat nanti. Oleh karena itu menjadi suatu keharusan bagi
suatu kaum muslimin untuk menjadikan aqidah Islam sebagi cara
pandang untuk memelihara dan mengurusi segala urusan
hidupnya. Kesadaran inilah yang harus ditumbuhkan pada kaum
muslimin saat ini. Bahkan menjadi suatu hal yang amat penting,
mengingat bila kaum muslimin meninggalkan persoalan ini, maka
mereka akan berdosa. Sebagaimana dosa-dosa mereka karena
meninggalkan kewajiban yang lain

Selain kewajiban bagi setiap individu muslim untuk


memiliki kesadaran politik yang berlandaskan Islam,
secara syari kaum mulimin juga diperintahkan untuk
mewujudkan kelompok (dalam hal ini adalah Kutlah Siyasi) yang
mengemban dakwah Islam dan beraktivitas untuk
melangsungkan kembali kehidupan Islam.

Allah SWT berfirman :

"Dan hendaklah ada diantara kalian sekelompok umat yang


mengajak kepada kebaikan dan menyeru kepada kemarufan
serta mencegah dari kemungkaran,. Dan merekalah orang-orang
yang beruntung". (QS : Ali Iran :104)

Dengan dalil ini berarti Allah SWT telah memfardlukan kaum


muslimin agar bergabung dalam Kutlah siyasi yang mengemban
dakwah Islam, dan beraktivitas untuk melangsungkan kembali
kehidupan Islam (istinafil hayah al Islamiyah). Di dalam ayat
tersebut,Allah SWT telah menjelaskan metode yang seharusnya
dilakukan oleh kaum muslimin dalam mengemban dakwah Islam,
yaitu amar maruf nahi mungkar.
Mengambil pengaturan urusan kaum muslimin dengan selain
aturan yang diturunkan Allah merupakan kemungkaran yang
telah jelas. Sedangkan mewujudkan pengaturan urusan kaum
muslimin dengan aturan yang diturunkan Allah SWT merupakan
amar maruf yang lebih agung. Oleh karena itu menjadi suatu
kewajiban bagi kaum muslimin agar mereka melaksanakan kaum
muslimin.

Apa lagi, yang bisa dilakukan kaum muslimin kini selain dari
kembali kepada kesadaran politik dengan perspektif (kerangka
pandang) yang sesungguhnya kemudian berupaya mewujudkan
kelompok-kelompok (ahjab siyasiyah) yang mengemban dakwah
Islam dan beraktivitas untuk melangsungkan kembali kehidupan
Islam ? Demikian bila kaum muslimin mau kembali pada makna
politik yang sesungguhnnya. Wallahu alam bisshowab.

oleh : Shofia M. Abdullah Sumber : ( http://www.angelfire.com/ )

Cara Nabi Muhammad Tegakkan Daulah Khilafah Islamiyah


Imam Al-Qurthubi menyatakan, 'Tidak ada perbedaan pendapat
mengenai kewajiban tersebut (mengangkat khalifah) di kalangan
umat dan para imam mazhab; kecuali pendapat yang
diriwayatkan dari al-'Asham yang tuli ('asham) terhadap
syariah dan siapa saja yang berkata dengan pendapatnya
serta mengikuti pendapat dan mazhabnya'(Al-Qurthubi, Tafsr
al-Qurthubi, 1/264).
Permasalahan berikutnya adalah bagaimana metode
(thariqah/manhaj) penegakan Khilafah? Metode
(thariqah/manhaj) haruslah digali dari Rasulullah saw. Setiap
perjuangan yang menyimpang dari metode Rasulullah saw. hanya
akan berakhir dengan kegagalan.
Siapapun yang melakukan penelaahan mendalam terhadap sirah
Nabi Muhammad saw. akan menemukan bahwa beliau menempuh
tiga tahapan dalam mewujudkan pemerintahan Islam di Madinah.
1. Tahap Pertama: Kaderisasi (Tatsqif).
Sejak beliau mendapatkan wahyu, beliau diperintahkan untuk
menyampaikannya kepada masyarakat. Misalnya, ketika Allah
SWT menurunkan QS al-Muddatsir ayat 1-2, bersegeralah sang
Nabi terakhir itu mengajak masyarakat untuk memeluk Islam.
Beliau menyampaikan Islam kepada istrinya, Khadijah ra.
Kemudian, disampaikan pula kepada sepupunya Ali bin Abi Thalib
ra., maulanya Zaid, sahabat beliau Abu Bakar ash-Shiddiq ra., dan
masyarakat secara umum.
Beliau bukan sekadar mengajak mereka masuk Islam, melainkan
ditindaklanjuti dengan membinanya. Beliau membina kaum
Mukmin di rumah Arqam bin Abi al-Arqam (Dar al-Arqam). Di
rumah Arqam itulah Rasulullah saw. menempa para Sahabat,
mengajarkan Islam kepada mereka, membacakan al-Quran
kepada mereka, menjelaskannya, memerintahkan mereka untuk
menghapal dan memahami al-Quran. Setiap kali ada yang masuk
Islam, langsung digabungkan ke Darul Arqam.
Di sinilah Nabi saw. melakukan dua hal. Pertama: pembinaan
akidah dan syariah hingga terbentuk para kader berkepribadian
Islam. Kedua: pengorganisasian Sahabat sehingga membentuk
kelompok dakwah yang secara solid dan berjamaah bergerak di
tengah masyarakat. Bukan hanya Nabi saw. seorang diri yang
melakukan pembinaan, para Sahabat lain pun mencari dan
membina orang yang baru masuk Islam. Sebagai contoh, beliau
pernah meminta Khubbab bin al-Arts untuk mengajarkan al-Quran
kepada Zaenab binti al-Khaththab dan suaminya, Said, di
rumahnya.
Bila dilihat dari kacamata modern apa yang dilakukan oleh
Rasulullah saw ini merupakan pembinaan intensif (tatsqif
murakkaz). Pembinaan intensif ini dilakukan untuk membentuk
kader yang berkepribadian Islam dan siap berjuang.
Secara praktis pembinaan intensif ini diawali dengan melakukan
kontak individual. Dulu, Abu Bakar Shiddiq ra. mengontak
keluarga dan kawan-kawannya, di antaranya Utsman bin Affan.
Lalu disampaikan Islam kepadanya. Begitu juga setiap orang
harus melakukan kontak individual untuk menyampaikan dakwah.
Setiap aktivis dakwah sejatinya mempunyai daftar nama mulai
dari kerabat, kawan dan tetangga untuk dikontak dan
disampaikan Islam kepada mereka. Materi yang disampaikan
tentu bergantung pada kontakan; bisa akidah, syariah, akhlak
atau perkembangan terkini dilihat dari kacamata Islam.
Sebagaimana Nabi saw., tidak cukup sebatas orang tersebut
menerima Islam sebagai pedoman hidupnya. Orang tersebut
perlu dibina hingga menjadi pengemban dakwah. Umumnya,
pengkaderan demikian efektif dijalankan dalam bentuk halqah. Di
dalamhalqah dilakukan pembinaan dengan kurikulum yang jelas,
buku-buku kajian tertentu yang ditetapkan, serta metode talaqqi
sehingga kesinambungan gagasan terjaga. Di sinilah setiap kader
ditempa pemahaman Islam, kepribadian Islamnya, ibadah,
ketaatan, kedisiplinan, pengorbanan, kejamaahan, dll. Lahirlah
kader yang mujahid (pejuang) sekaligus muta'abbid (ahli ibadah),
mufakkir (pemikir) sekaligus siyasi (politisi).
Selain itu, Nabi saw. pernah menyampaikan Islam dengan cara
mengumpulkan masyarakat di Bukit Shafa, juga mengundang
makan bersama; dalam konteks sekarang ini merupakan
pembinaan umum (tatsqif jama'i). Kalau dulu di Bukit Safa atau di
kebun kurma, maka saat ini tatsqif jama'i dilakukan dengan
seminar, kajian di masjid, kuliah zuhur, pesantren Ramadhan,
training, pengajian perkantoran, dll. Harapannya, dari aktivitas
tersebut dapat terjaring orang-orang yang bertekad kuat menjadi
kader dakwah dan masuk dalam pembinaan intensif.
2. Tahap Kedua: Membangun Kesadaran Umat (Tafa'ul Ma'al
Ummah).
Tidak semua anggota masyarakat dapat dan mau menjadi kader
dakwah. Karenanya, perlu ada penumbuhan kesadaran kolektif
umat bagi kalangan tersebut. Pegiatnya adalah para kader
dakwah yang terorganisir rapi yang terbina dalam pembinaan
intensif tersebut. Untuk menumbuhkan kesadaran itu perlu
ditempuh beberapa hal secara bersamaan, yaitu:
1. Pergolakan Pemikiran (ash-Shira' al-Fikri). Rasulullah saw.
senantiasa melakukan pergolakan pemikiran terhadap
gagasan/ide/pandangan yang sifatnya tetap. Ini umumnya
merupakan pemahaman (mafahim), tolok ukur (maqayis) atau
keyakinan (qana'at). Misalnya, beliau menyuarakan secara
lantang realitas tuhan kaum kafir seperti ayat Allah SWT (yang
artinya): Sesungguhnya kalian dan apa (berhala) yang kalian
sembah adalah umpan neraka Jahanam (QS al-Anbiya' [21]: 98).
Beliau juga menentang sikap hidup kafir Quraisy yang merasa aib
bila memiliki bayi perempuan hingga harus membunuhnya.
Untuk saat ini, segala gagasan/ide/pandangan yang merupakan
akidah kufur harus ditentang dan dijelaskan kebatilannya.
Misalnya, sekularisme, pluralisme dan liberalisme merupakan ide
yang harus di tentang. Begitu juga gagasan cabang yang lahir
darinya seperti demokrasi, hak asasi manusia, kesetaraan gender,
dll. Caranya, dengan menjelaskan kebatilan dan bahaya hal-hal
tersebut bagi Islam dan umatnya dalam berbagai kesempatan.
Bila hal ini dilakukan terus-menerus masyarakat akan dapat
memahami mana ide-ide kufur yang berada di tengah umat Islam.
Mereka tidak mau diatur oleh sistem tersebut. Sebaliknya, mereka
menuntut penerapan Islam.
2. Perjuangan Politik (al-kifah as-siyasi). Aktivitas al-kifah as-siyasi
merupakan aktivitas yang ditujukan untuk menyikapi realitas
politik kekinian, yang terjadi pada saat tertentu. Pada zaman
Rasulullah saw. pernah ada suatu realitas: mengurangi timbangan
sudah menjadi kebiasaan. Untuk menyikapi hal tersebut, Allah
SWT menurunkan QS al-Muthafifinyang diserukan oleh Rasulullah
saw. di tengah masyarakat. Pada saat kaum kafir meminta agar
Nabi saw. menunjukkan mukjizat seperti para nabi terdahulu dan
meminta agar Nabi saw. berdoa hingga harga yang melambung
tinggi menjadi turun, dijawab dengan telak dalam QS al-A'raf [7]
ayat 188. Begitu juga kebiasaan mereka menjerumuskan budak
wanita dalam pelacuran (semacam trafficking sekarang) disikapi
oleh Nabi saw. dengan menyampaikan QS an-Nur [24] ayat 33.
Masih banyak peristiwa lain.
Saat ini, setiap kejadian/peristiwa politik kekinian yang
bertentangan dengan Islam dan merugikan umat Islam perlu
dilakukan kifah siyasi. Misalnya, kelompok Islam harus melakukan
aktivitas kifah siyasi pada saat pemerintah menaikkan harga
BBM, tarif dasar listrik, mensahkan RUU Kelistrikan, RUU Migas,
RUU Sumberdaya Air, RUU Penanaman Modal, dll. Begitu juga
saat terjadi peristiwa politik internasional seperti tragedi Mavi
Marmara oleh Israel baru-baru ini. Langkahnya dengan membuat
tulisan, buletin, pers rilis, delegasi ke DPR, mendatangi menteri,
mendatangi Presiden, dll. Lalu dijelaskan bahaya dan kerugian
yang akan diderita rakyat serta pertentangannya dengan syariah
Islam kepada masyarakat di berbagai forum. Bahkan bila
diperlukan dapat dilakukan dengan demontrasi damai (masirah).
Dengan ini semua, masyarakat sedikit demi sedikit akan
tersadarkan.
3. Membongkar rencana jahat kaum kafir (kasyf al-khuthath).
Rasulullah saw. sering menyampaikan wahyu terkait rencana
jahat kaum kafir. Sebagai contoh, membongkar rencana tokoh
Quraisy (seperti Abu Jahal, Abu Sufyan, Umayyah ibn Khalaf dan
Walid bin Mughirah) yang berdiskusi di pusat kajian strategis
mereka, Darun Nadwah, dengan memberikan cap negatif pada
diri Rasulullah saw.; membongkar persekong-kolan kaum kafir
dengan kaum munafik. Allah SWT membongkar rencana jahat ini
dalam QS al-Mudatstsir [74] ayat 18-26.
Meneladani hal ini, dalam upaya penegakkan Khilafah, penting
untuk membongkar makar negara kafir imperialis dan anteknya.
Misalnya, rencana jahat AS di Irak, Afganistan, Pakistan dan
Bangladesh perlu dijelaskan kepada masyarakat dalam khuthbah,
kuliah subuh, pengajian ibu-ibu, dll. Masyarakat juga perlu
dipahamkan tentang hakikat kunjungan Obama ke Indonesia yang
hanya ingin lebih mencengkeramkan kakinya di negeri Muslim
terbesar ini serta menghalangi bersatunya umat Islam dalam
Khilafah; disamping untuk kepentingan minyak, gas, ekonomi,
pangkalan militer, dan pembentukan lobi Yahudi-AS di Indonesia.
Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai seminar, workshop,
tablig akbar, dll; juga dengan mengirim delegasi ke ormas, LSM,
partai politik, pesantren, DPR, Kementrian Luar Negeri, dll.
4. Penting juga untuk melakukan advokasi bagi kepentingan umat
(tabanni mashalih ummah). Caranya, dengan melakukan advokasi
bagi kepentingan umat. Misalnya, ketika ada pihak yang ingin
melakukan yudisial review UU Penodaan Agama, maka perlu
dilakukan perlawanan dengan menjadi pihak terkait dalam sidang
di Mahkamah Konstitusi. Ketika terjadi malpraktik maka dapat
dilakukan upaya pembelaan terhadap korban. Dilakukanlah
advokasi terhadap pihak terkait, termasuk penguasa.
Disampaikan solusi menurut Islam. Hal ini dilakukan sedemikian
rupa sampai hasil yang diinginkan.
Jika semua aktivitas itu dilakukan secara intensif dan masif maka
insya Allah dengan izin Allah SWT taraf berpikir umat akan makin
meningkat. Pembelaan dan dukungan terhadap syariah dan
Khilafah beserta para pejuangnya akan menggelontor. Sebab, di
mata umat makin tampak siapa sebenarnya yang berjuang untuk
membebaskan mereka dari penjajahan.
3. Tahap Tiga: Istilam al-Hukmi dengan Dukungan Ahlun Nushrah.
Pada saat kehendak dominan masyarakat menghendaki syariah
dan Khilafah, maka masyarakat bersama dengan kelompok
pejuang syariah dan Khilafah akan menuntut penguasa agar
menegakkan Khilafah atau mundur seraya menyerahkan
kepemimpinan kepada mereka. Umat tidak percaya lagi kepada
penguasa maupun wakil mereka. Terjadilah kevakuman
kekuasaan. Mereka yang terdiri dari tokoh-tokoh berbagai daerah
dari berbagai kalangan dan organisasi membentuk semacam
ahlul halli wal 'aqdi untuk membaiat khalifah. Bila penguasa
secara sukarela menyerahkan kekuasaan atas dasar kesadaran
bahwa mereka sudah delegitimasi, tidak lagi dipercaya oleh
rakyat, apalagi mereka berubah menjadi mendukung tuntutan
masyarakat itu, maka ketika itu terjadilah penyerahan kekuasaan
dari rakyat kepada penguasa baru (istilam al-hukmi). Mereka
hanya tinggal mengumumkan ke publik, 'Kami mundur dari
kekuasaan ini karena sudah tidak lagi dipercaya rakyat sebagai
pemilik kekuasaan tersebut.'
Namun sebaliknya, bila mereka tak mau melepaskan kekuasaan
kufurnya, lalu menghadapi rakyat sebagai pemilik kekuasaan
dengan kekerasan maka di sinilah pentingnya dukungan pemilik
kekuatan (ahlul quwwah, ahlun nushrah) terhadap dakwah. Oleh
sebab itu, sejak awal perlu adanya dukungan ahlun nushrah.
Mereka yang masuk ke dalam ahlun nushrah adalah setiap
pemilik kekuatan, termasuk militer. Dengan adanya dukungan
ahlun nushrah penyerahan kekuasaan akan terjadi dengan damai.
Begitulah yang dialami oleh Nabi saw. saat menegakkan
pemerintahan di Madinah.
Cara untuk meraih dukungan ahlun nushrah tidak lain dengan
mendatangi dan mendakwahi mereka. Mereka adalah putra umat
Islam. Tengoklah apa yang dilakukan Rasulullah saw. Selain aktif
mendakwahi kabilah-kabilah di Makkah, beliau juga mendakwahi
kabilah-kabilah di luar Makkah yang datang tiap tahun ke Mekah,
baik yang datang untuk berdagang maupun yang hendak
melakukan ibadah di sekitar Ka'bah. Beliau berdakwah di jalan-
jalan, Pasar 'Ukadz dan Mina. Di antara mereka ada sekelompok
orang dari Madinah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Mereka para pemilik kekuatan di sana. Merekalah yang kelak
menjadi ahlun nushrah bagi Nabi saw.
Ketika istilam al-hukmi telah terjadi, maka di tengah penguasa
yang telah kehilangan legitimasinya, khalifah dengan dukungan
rakyat mengumumkan tegaknya Khilafah. Penyelesaian peralihan
kekuasaan dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya sesuai
dengan realitas politik waktu itu. Dengan teknik seperti ini
penegakkan Khilafah akan berjalan secara alami. Wallahu a'lam.

Sumbe : ( http://forum.arrahmah.com/ )

Sejarah pengkhianatan penguasa Saudi


terhadap perjuangan Rasulullah dan para
sahabat dalam menegakan Khilafah
Islamiyah.

Arab Saudi merupakan salah satu negara di Dunia Islam yang


cukup strategis, terutama karena di negara tersebut terdapat
Baitullah di Makkah yang menjadi pusat ibadah haji kaum Muslim
seluruh dunia. Apalagi perjalanan Islam tidak bisa dilepaskan
dari wilayah Arab Saudi. Sebab, di sanalah Rasulullah saw. lahir
dan Islam bermula hingga menjadi peradaban besar dunia. Arab
Saudi juga sering menjadi rujukan dalam dunia pendidikan Islam
karena di negara tersebut terdapat beberapa universitas seperti
King Abdul Aziz di Jeddah dan Ummul Qura di Makkah yang
menjadi tempat belajar banyak pelajar Islam dari seluruh dunia.
Dari negara ini, muncul Gerakan Wahabi yang banyak membawa
pengaruh di Dunia Islam. Lebih jauh, Saudi sering dianggap
merupakan representasi negara Islam yang berdasarkan al-
Quran dan Sunnah.

George Bush dan Raja Abdullah (Saud)

Namun demikian, di sisi lain, Saudi juga merupakan negara yang


paling banyak dikritik di Dunia Islam. Sejak awal
pembentukannya, negara ini dianggap memberontak terhadap
Khilafah Utsmaniyah. Sejarahnya juga penuh dengan
pertumpahan darah lawan-lawan politiknya. Banyak pihak juga
menyoroti tindakan keras yang dilakukan oleh rezim ini terhadap
pihak-pihak yang menentang kekuasaan Keluarga Saud. Tidak
hanya itu, Saudi juga dikecam karena menyediakan daerahnya
untuk menjadi pangkalan militer AS. Kehidupan keluarga
kerajaan yang penuh kemewahan juga banyak menjadi sorotan.
Secara ekonomi, Saudi juga menjadi incaran negara-negara
besar di dunia karena faktor kekayaan minyaknya.

MEMBERONTAK KEPADA KHILAFAH ISLAM, BERSEKUTU DENGAN


INGGRIS

Secara resmi, negara ini memperingati kemerdekaannya pada


tanggal 23 September. Pada saat itulah, tahun 1932, Abdul
Azizdikenal juga dengan sebutan Ibnu
Sa'udmemproklamirkan berdirinya Kerajaan Saudi Arabia (al-
Mamlakah al-'Arabiyah as-Su'udiyah). Abdul Aziz pada saat itu
berhasil menyatukan dinastinya; menguasai Riyad, Nejed, Ha-a,
Asir, dan Hijaz. Abdul Aziz juga berhasil mempolitisasi
pemahaman Wahabi untuk mendukung kekuatan politiknya.
Sejak awal, Dinasti Sa'ud secara terbuka telah mengumumkan
dukungannya dan mengadopsi penuh ide Wahabi yang
dicetuskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang
kemudian dikenal dengan Gerakan Wahabi. Dukungan ini
kemudian menjadi kekuatan baru bagi Dinasti Sa'ud untuk
melakukan perlawanan terhadap Khilafah Islamiyah.
Hanya saja, keberhasilan Dinasti Sa'ud ini tidak lepas dari
bantuan Inggris. Mereka bekerjasama untuk memerangi
pemerintahan Khilafah Islamiyah. Sekitar tahun 1792-1810,
dengan bantuan Inggris mereka berhasil menguasai beberapa
wilayah di Damaskus. Hal ini membuat Khilafah Islamiyah harus
mengirim pasukannya untuk memadamkan pemberontakan ini.
Fase pertama, pemberontakan Dinasti Saud berhasil diredam
setelah pasukan Khilafah Islamiyah berhasil merebut kota ad-
Diriyah.

Namun kemudian, beberapa tahun kemudian, Dinasti Sa'ud, di


bawah pimpinan Abdul Aziz bin Abdurrahman, berupaya
membangun kembali kekuataannya. Apalagi pada saat itu,
Daulah Khilafah Islamiyah semakin melemah. Pada tahun 1902,
Abdul Aziz menyerang dan merebut kota Riyadh dengan
membunuh walinya (Gubernur Khilafah ar-Rasyid). Pasukan Aziz
terus melakukan penaklukan dan membunuh pendukung
Khilafah Islamiyah dengan bantuan Inggris, terlebih setelah
meletusnya 'Arab Revolt' yaitu pemberontakan Arab yang
dipimpin oleh Shariff Hussein terhadap otoritas Khilafah
Ustmaniyah pada tahun 1916-1918 yang juga didanai oleh
kerajaan Inggris.

Pemberontakan Arab (1916-1918) diawali oleh Syarif Hussein


ibnu Ali dengan restu penuh Inggris. Tujuannya adalah untuk
memisahkan semenanjung Arab dari Istanbul. Perjanjian ini
diakhiri pada bulan Juni 1916 setelah dilakukan surat-menyurat
dengan Komisi Tinggi Inggris Henry McMahon yang mampu
meyakinkan Syarif Hussein akan imbalan yang diterimanya atas
penghianatannya terhadap Kekhalifahan, yakni berupa tanah
yang membentang dari Mesir dan Persia; dengan pengecualian
penguasaan kerajaan di wilayah Kuwait, Aden, dan pesisir Syria.
Pemerintah Inggris di Mesir langsung mengirim seorang opsir
muda untuk bekerja bersama orang Arab. Orang itu adalah
Kapten Timothy Edward Lawrence, atau yang dikenal dengan
nama Lawrence dari Arab.

Setelah kekalahan Kekhalifahan Ustmaniyah dalam perang dunia


pertama pada tahun 1918 dan keruntuhan sepenuhnya tahun
1924, Inggris memberikan kontrol penuh atas negara-negara
yang baru terbentuk, yakni Irak dan Trans-Jordan, kepada anak
laki-laki Syarif Hussein yaitu Faisal dan Abdullah seperti yang
sebelumnya dijanjikan. Keluarga al-Saud berhasil membawa
seluruh Arab di bawah kontrolnya tahun 1930. Pandangan Inggris
atas nasib Arab menyusul kekalahan Khilafah tercermin pada
kata-kata Lord Crewe bahwa ia menginginkan, 'Arab yang
terpecah menjadi kerajaan-kerajaan di bawah mandat kami.'
Untuk peran itu, keluarga Saudi menerimanya dengan senang
hati.

Salah satu sahabat dekat Abdul Aziz Abdurrahman adalah Harry


St. John Pilby, yang merupakan agen Inggris. Philby menjuluki
Abdul Aziz bin Abdurrahman sebagai 'Seorang Arab yang
Beruntung', sementara Abdul Aziz menjulukinya dengan 'Bintang
Baru dalam Cakrawala Arab'. Philby adalah orang Inggris yang
ahli Arab yang telah lama menjalin hubungan baik dengan
Keluarga Sa'ud sejak misi pertamanya ke Nejed pada tahun
1917. Pada tahun 1926, Philby tinggal di Jeddah. Dikabarkan
kemudian, Philby masuk Islam dan menjadi anggota dewan
penasihat pribadi Raja pada tahun 1930. (Lihat: Goerge
Lenczowsky, Timur Tengah di Tengah Kencah Dunia, hlm. 351).

Kerjasama Dinasti Sa'ud dengan Inggris tampak dalam perjanjian


umum Inggris-Arab Saudi yang ditandatangani di Jeddah (20 Mei
1927). Perjanjian itu, yang dirundingkan oleh Clayton,
mempertegas pengakuan Inggris atas 'kemerdekaan lengkap
dan mutlak' Ibnu Sa'ud, hubungan non-agresi dan bersahabat,
pengakuan Ibnu Sa'ud atas kedudukan Inggris di Bahrain dan di
keemiran Teluk, serta kerjasama dalam menghentikan
perdagangan budak (ibidem, hlm. 351). Dengan perlindungan
Inggris ini, Abdul Aziz (yang dikenal dengan Ibnu Sa'ud) merasa
aman dari berbagai rongrongan.

Pada tahun 1916, Abdul Aziz menerima 1300 senjata dan 20.000
keping emas dari Inggris. Mereka juga berunding untuk
menentukan perbatasan negerinya, yang ditentukan oleh Percy
Cox, utusan Inggris. Percy Cox mengambil pinsl dan kertas
kemudian menentukan (baca: memecah-belah) perbatasan
negeri tersebut. Tidak hanya itu, Inggris juga membantu Ibnu
Sa'ud saat terjadi perlawanan dari Duwaish (salah satu suku
Nejed). Suku ini menyalahkan Ibnu Saud yang dianggap terlalu
menerima inovasi Barat. Sekitar tahun 1927-1928, Angkatan
Udara Inggris dan Pasukan Ibnu Sa'ud mengebom suku tersebut.
Mengingat kerjasama mereka yang sangat erat, Inggris memberi
gelar kebangsawanan 'sir' untuk Abdul Aziz bin Abdurrahman.

PERSAHABATAN DENGAN AS

Persahabatan Saudi dengan AS diawali dengan ditemukannya


ladang minyak di negara itu. Pada 29 Mei 1933, Standart Oil
Company dari California memperoleh konsesi selama 60 tahun.
Perusahaan ini kemudian berubah nama menjadi Arabian Oil
Company pada tahun 1934. Pada mulanya, pemerintah AS tidak
begitu peduli dengan Saudi. Namun, setelah melihat potensi
besar minyak negara tersebut, AS dengan agresif berusaha
merangkul Saudi. Pada tahun 1944, Deplu AS menggambarkan
daerah tersebut sebagai, 'sumber yang menakjubkan dari
kekuatan strategi dan hadiah material yang terbesar dalam
sejarah dunia (a stupendous source of strategic power and the
greatest material prize in the world's history).'
Untuk kepentingan minyak, secara khusus wakil perusahaan
Aramco, James A. Moffet, menjumpai Presiden Roosevelt (April
1941) untuk mendorong pemerintah AS memberikan pinjaman
utang kepada Saudi. Utang inilah yang kemudian semakin
menjerat negara tersebut menjadi 'budak' AS. Pada tahun 1946,
Bank Ekspor-Impor AS memberikan pinjaman kepada Saudi
sebesar $10 juta dolar. Tidak hanya itu, AS juga terlibat langsung
dalam 'membangun' Saudi menjadi negara modern, antara lain
dengan memberikan pinjaman sebesar $100 juta dolar untuk
pembangunan jalan kereta api yang menghubungkan ibukota
dengan pantai timur dan barat. Tentu saja, utang ini kemudian
semakin menjerat Saudi.

Konsesi lain dari persahabatan Saudi-AS ini adalah penggunaan


pangkalan udara selama tiga tahun oleh AS pada tahun 1943
yang hingga saat ini terus dilanjutkan. Pangkalan Udara Dhahran
menjadi pangkalan militer AS yang paling besar dan lengkap di
Timur Tengah. Hingga saat ini, pangkalan ini menjadi basis
strategis AS, terutama saat menyerang negeri Muslim Irak dalam
Perang Teluk II. Penguasa keluarga Kerajaan Saudi dengan
'sukarela' membiarkan wilayahnya dijadikan basis AS untuk
membunuhi sesama saudara Muslim. AS pun kemudian sangat
senang dengan kondisi ini.

Pada tahun 1947, saat Putra Mahkota Emir Saud berkunjung ke


AS, dia menerima penghargaan Legion of Merit atas jasanya
kepada sekutu selama perang. Hingga saat ini, persahabatan AS
dan Saudi terus berlanjut walaupun harus menyerahkan
loyalitasnya kepada AS dan membunuh sesama Muslim.

Ku berwasiat kepada umatku agar senantiasa takut kepada Allah,


patuhilah dan ta'atilah meskipun seorang budak kulit hitam telah
dipilih menjadi pemimpin kalian, dan jika kelak terdapat banyak
perpecahan dan perselisihan diantara kalian, berpegang
teguhlah kepada sunnahku (Rasulullah) dan sunnahnya
Khulafa'ur Rashidun, gigitlah sunnah-sunnah itu sekuat gigi
gerahammu, dan jauhilah perkara bid'ah, karena setiap perkara
bid'ah itu adalah sesat. HR. Ibn Majah & Abu Dawud.

Memperjuangkan Syariat Islam adalah wajib. Apakah


memperjuangkan daulah khilafah juga di haruskan ???
1. sesuatu yang jika tidak ada maka kewajiban tak dapat
terlaksana maka sesuatu itu wajib pula
2. Islam tidak mengenal sistem pemerintahan selain khilafah
3. Islam mengharuskan kaum muslimin memiliki satu pemimpin
(khalifah)
4. Semua imam madzhab sepakat bahwa khilafah adalah wajib
An Nissa 139 : orang-orang yang mengambil orang-orang
kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan
orang-orang mu'min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi
orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan itu
milik Allah.

"Di negeri ini Anda tdk bersalah sampai terbukti Muslim.HAM tdk berlaku untk umat
Islam,&hny; berlku trhdp hewan, kucing dan anjing-anjing..."

Peduli Sesama . . .(saudara muslim lainnya)


Bukan tabiat seorang muslim hidup dengan konsep
individualisme. Sebaliknya, dia senantiasa menempatkan dirinya
menjadi sebagian dari umat islam yang lain. Karena dia tidak lupa
dengan sabda Rasulullah SAW :

Kamu akan melihat orang-orang yang beriman saling berkasih


sayang, saling mencintai, saling mengasihi, yaitu bagaikan satu
tubuh. Apabila satu anggota saja sakit, maka tertariklah bahagian
anggota tubuh yang lain ikut sakit dengan tidak dapat tidur dan
badan panas. (HR Bukhari Muslim).

Barangsiapa yang tidak memperhatikan kepentingan kaum


muslimin maka ia bukanlah termasuk diantara mereka. Dan
barangsipa yang tidak berada di waktu pagi dan petang selaku
pemberi nasehat bagi Allah dan RasulNya, bagi kitabNya, bagi
pemimpinnya, dan bagi umumnya kaum muslimin maka ia
bukanlah termasuk diantara mereka. (HR Ath. Thabrany)

Seorang muslim tidak berdiam diri apabila melihat nilai-nilai asing


yang membahayakan bagi saudara-saudaranya (umat Islam yang
lain).

Ia tidak berdiam diri melihat saudara-saudaranya hanyut dalam


nikmat dunia. Dia akan berusaha menyadarkan umat Islam
supaya berwaspada terhadap nilai-nilai yang membahayakan
hidup mereka.

Dia bagaikan tiang-tiang listrik yang menerangi jalan , penyampai


berita yang haq dan yang batil sebab dia adalah generasi yang
mewarisi tugas Rasulullah SAW.

Dia menjadi petunjuk arah bagi orang-orang yang meminta


petunjuk arah jalan kebenaran.

Dirinya sarat akan bejana-bejana ilmu dan akalnya ibarat


khazanah-khazanah hikmah.
Dia tidak pernah merelakan umat Islam dijauhkan dari nilai-nilai
Islam , malah tidak rela ummah berada di bawah pengaruh orang-
orang yang tidak berilmu, yang dengan mudah memberikan fatwa
untuk menerima kebatilan.

Nilai-nilai asing yang dinilai membahayakan dirinya difahami


membahayakan pula bagi umatnya. Demikian pula nilai-nilai
asing yang membahayakn umatnya difahami juga
membahayakan dirinya. Hingga dia memiliki kesadaran tinggi
untuk memelihara diri dan umatnya dari serangan racun-racun
dunia.

Dia pun dengan lantang mengatakan racun adalah racun, dan


madu adalah madu.

Kebenaran adalah kebenaran, dan kebatilan adalah kebatilan.

Bahkan tanpa segan membongkar keburukan nilai-nilai asing


yang membahayakn umatnya dengan sejelas-jelasnya dan
kemudian menunjukkan yang haq tanpa ragu dan bimbang.

Sumber : ( http://www.penjualan.wisatahati.com/ )

"Jadikanlah yang tebal itu iman, yang nipis itu lidah, yang
tajam itu akal, yang lembut itu hati, yang ringan itu
sholat, yang luas itu ilmu, yang halus itu suara, yang
manis itu senyuman"

Masyarakat Yang Rusak Tidak Suka Nasihat

by agungwibowo Tue Nov 01, 2011 11:14 am

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Di jaman yang semakin maju, makin banyak ditemui dalam


bermasyarakat bahwa manusia sangat menyenangi orang-orang
yang suka memuji dan menyanjunginya. Manusia seperti ini akan
menjauhi arahan-arahan untuk memperbaiki tingkah laku mereka.
Inilah salah satu karakter dari masyarakat yang rusak seperti
yang dimiliki oleh kaum Nabi Shaleh a.s. "Hai kaumku,
sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat
Tuhanku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu
tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat." (QS. 7:79)

Ketika salah seorang mengingatkan akan kesalahannya, maka;


- Ia marah
- Orang-orang pun turut menjauihi majlisnya
- Mencaci makinya karena mereka tidak menyukai orang-orang
yang memberi nasihat

Tentu saja sikap ini sangat bertentangan dengan ajaran agama


Islam. Rasulullah bersabda, "Agama itu adalah nasihat" kami
bertanya, "Untuk siapa ya Rasulullah? Beliau menjawab, "Untuk
Allah Swt dan Rasul-Nya dan untuk pembesar-pembesar kaum
muslimin dan orang-orang awamnya".

Mari, kita selalu mengikuti nasihat dan berusaha untuk


menggapai ridha Allah Swt. by agungwibowo Sumber : (
http://www.penjualan.wisatahati.com/ )

Keislaman Indonesia

by tsontani Wed Dec 14, 2011

Assalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Rekan-rekan saya hanya ingin menyampaikan tulisan menarik Bpk.Komaruddin


Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) pada harian "KOMPAS" edisi Sabtu
05 Nopember 2011. Artikel ini saya dapatkan dari seorang rekan yang mengcopy
harian tersebut dan disebarkan ketika sholat subuh berjama'ah. Terus terang saya
sendiri sangat prihatin dengan kenyataan ini terutama dengan yang sehari-hari
saya alami/lakoni di negara Indonesia yang sangat saya cintai ini. Silahkan
dikomentari ya.

KEISLAMAN INDONESIA
Harian KOMPAS Edisi Sabtu 05 Nopember 2011.
Oleh: Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sebuah penelitian sosial bertema How Islamic are Islamic Countries menilai
Selandia Baru berada di urutan pertama negara yang paling islami di antara 208
negara, diikuti Luksemburg di urutan kedua. Sementara Indonesia yang mayoritas
penduduknya Muslim menempati urutan ke-140.

Adalah Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington
University yang melakukan penelitian ini. Hasilnya dipublikasikan dalam Global
Economy Journal (Berkeley Electronic Press, 2010). Pertanyaan dasarnya adalah
seberapa jauh ajaran Islam dipahami dan memengaruhi perilaku masyarakat
Muslim dalam kehidupan bernegara dan sosial?

Ajaran dasar Islam yang dijadikan indikator dimaksud diambil dari Al Quran dan
Hadis, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai
hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem
ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem
perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak
politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan
masyarakat non-Muslim.

Setelah ditentukan indikatornya, lalu diproyeksikan untuk menimbang kualitas


keberislaman 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam
(OKI), yang rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang
disurvei.

Pengalaman UIN Jakarta

Kesimpulan penelitian di atas tak jauh berbeda dari pengalaman dan pengakuan
beberapa ustaz dan kiai sepulang dari Jepang setelah kunjungan selama dua
minggu di Negeri Sakura. Program ini sudah berlangsung enam tahun atas kerja
sama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, dengan Kedutaan
Besar Jepang di Jakarta.

Para ustaz dan kiai itu difasilitasi untuk melihat dari dekat kehidupan sosial di sana
dan bertemu sejumlah tokoh. Setiba di Tanah Air, hampir semua mengakui bahwa
kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam ketimbang yang
mereka jumpai, baik di Indonesia maupun di Timur Tengah. Masyarakat terbiasa
antre, menjaga kebersihan, kejujuran, suka menolong, dan nilai-nilai Islam lain yang
justru makin sulit ditemukan di Indonesia.

Pernyataan serupa pernah dikemukakan Muhammad Abduh, Ulama besar Mesir


setelah berkunjung ke Eropa.Saya lebih melihat Islam di Eropa, tetapi kalau orang
Muslim banyak saya temukan di Dunia Arab, Katanya.

Kalau saja yang dijadikan indikator penelitian untuk menimbang keberislaman


masyarakat itu ditekankan pada aspek ritual-individual, saya yakin Indonesia akan
menduduki peringkat pertama menggeser Selandia Baru. Jumlah yang pergi haji
setiap tahun meningkat, selama Ramadhan masjid penuh dan pengajian semarak
dimana-mana. Tidak kurang dari 20 stasiun televisi di Indonesia setiap hari pasti
menyiarkan dakwah agama. Terlebih lagi selama Ramadhan, hotel pun diramaikan
oleh tarawih bersama. Ditambah lagi yang namanya ormas dan parpol Islam yang
terus bermunculan.

Namun, pertanyaan yang dimunculkan oleh Rehman dan Askari bukan semarak
ritual, melainkan seberapa jauh ajaran Islam itu membentuk kesalehan sosial
berdasarkan ajaran Al Quran dan hadis.

Contoh perilaku sosial di Indonesia yang sangat jauh dari ajaran Islam adalah
maraknya korupsi, sistem ekonomi dengan bunga tinggi, kekayaan tak merata,
persamaan hak bagi setiap warga untuk memperoleh pelayanan negara dan untuk
berkembang, serta banyak aset sosial yang mubazir. Apa yang dikecam ajaran Islam
itu ternyata lebih mudah ditemukan di masyarakat Muslim ketimbang negara-
negara Barat. Kedua peneliti itu menyimpulkan : .it is our belief that most self-
declared and labeled Islamic countries are not conducting their affairs in accordance
with Islamic teachings-at least when it comes to economic, financial, political, legal,
social and governance policies.

Dari 56 negara OKI, yang memperoleh nilai tertinggi adalah Malaysia (urutan ke-
38), Kuwait (48), Uni Emirat Arab (66), Maroko (119), Arab Saudi (131), Indonesia
(140), Pakistan (147), Yaman (198), dan terburuk adalah Somalia (206). Negara
Barat yang dinilai mendekati nilai-nilai Islam adalah Kanada di urutan ke-7, Inggris
(8), Australia (9) dan Amerika Serikat (25).

Sekali lagi, penelitian ini tentu menyisakan banyak pertanyaan serius yang perlu
juga dijawab melalui penelitian sebanding. Jika masyarakat atau negara Muslim
korup dan represif, apakah kesalahan ini lebih disebabkan oleh perilaku
masyarakatnya ataukah pada sistem pemerintahannya? Atau akibat sistem dan
kultur pendidikan Islam yang salah? Namun, satu hal yang pasti, penelitian ini
menyimpulkan bahwa perilaku sosial, ekonomi dan politik negara-negara anggota
OKI justru berjarak lebih jauh dari ajaran Islam dibandingkan negara-negara non-
Muslim yang perilakunya lebih Islami.

Semarak Dakwah dan ritual

Hasil penelitian ini juga menyisakan pertanyaan besar dan mendasar: mengapa
semarak dakwah dan ritual keagamaan di Indonesia tak mampu mengubah perilaku
sosial dan birokrasi sebagaimana yang diajarkan Islam, yang justru dipraktikkan di
negara-negara sekuler?

Tampaknya keberagamaan kita lebih senang di level dan semarak ritual untuk
mengejar kesalehan individual, tetapi menyepelekan kesalehan sosial. Kalau
seorang Muslim sudah melaksanakan lima rukun Islam-syahadat, shalat, puasa,
zakat, haji-dia sudah merasa sempurna. Semakin sering berhaji, semakin sempurna
dan hebatlah keislamannya. Padahal misi Rasulullah SAW itu datang untuk
membangun peradaban yang memiliki tiga pilar utama: Keilmuan, Ketakwaan, dan
Akhlak mulia atau integritas. Hal yang terakhir inilah, menurut penelitian Rehmen
dan Askari, dunia Islam mengalami krisis.

Sekali lagi, kita boleh setuju atau menolak penelitian ini dengan cara melakukan
penelitian tandingan. Jadi, jika ada pertanyaan: How Islamic are Islamic Political
Parties? Menarik juga dilakukan penelitian dengan terlebih dahulu membuat
indikator atau standar berdasarkan Al Quran dan hadis. Lalu diproyeksikan juga
untuk menakar keberislaman perilaku partai-partai yang mengusung simbol dan
semangat agama dalam perilaku sosialnya. Sumber : (
http://www.penjualan.wisatahati.com/ )

Laksana Bidadari......, dalam hati suami...

by Jayanti Tue Nov 22, 2011

Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh...
Istri shalihah...... , tentu menjadi idaman semua kaum adam...., dan selalu

ingin diraih kaum Hawa....


Saya yakin tentu saudari- saudari saya sudah tahu banyak ciri-ciri seorang
wanita/istri shalihah....Maaf....sedikit sebagai perenungan khusus buat saya
pribadi ...dan semoga bermanfaat buat kaum saya... .
Penuh Cinta Kasih dan Akhlak Mulia....adalah salah satu kebaikan yang dimiliki
wanita/istri shalihah....
Seorang istri shalihah adalah cerminan dari pribadi yang penuh kasih dan cinta
pada suaminya. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk mencintai pria lain
sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,
Istri-istri kalian akan menjadi penghuni surga yang sangat mencintai, yang jika dia
disakiti dan menyakiti maka dia segera datang kepada suaminya, dia letakkan
tangannya di atas telapak tangan suaminya, seraya berucap, Saya tidak dapat
tidur sampai engkau meridhaiku. (HR. Thabrani)

Di antara bentuk cinta dan kasih kepada suami adalah bertutur kata dengan manis,
lembut dan mesra, karena manisnya tutur kata wanita dapat memikat dan
mempesonakan hati lelaki. Tentu kita ingin kata-kata kita laksana tetesan air yang
begitu menyejukkan di tengah gurun pasir nan tandus lagi gersang bagi suami kita.
Saudari sayasesungguhnya lelaki membutuhkan ketenangan dan ketentraman di
dalam jiwanya (dan bisa didapat hanya dengan memngingat Allah). Dia
membutuhkan terpal yang dapat membuatnya teduhke manakah lagi kiranya dia
akan mencari keteduhan hati jika tidak pada diri kita ...sebagai istri dengan tutur
kata yang manis?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda, Setiap anggota tubuh manusia wajib disedekahi, setiap hari
dimana matahari terbit lalu engkau berlaku adil terhadap dua orang (yang bertikai)
adalah sedekah, engkau menolong seseorang yang berkendaraan lalu engkau bantu
dia untuk naik kendaraanya atau mengangkatkan barangnya adalah sedekah,
ucapan yang baik adalah sedekah, setiap langkah ketika engkau berjalan menuju
shalat adalah sedekah dan menghilangkan gangguan dari jalan adalah sedekah.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mari kita renungkanperkataan yang baik adalah sedekah,....Bibir kita slalu dihiasi
dan dibasahi dengan kecantikan tasbih (Ali Imron : 41) dan tahmid kepada Allah.
Lantunan ayat-ayat Quran yang menyejukkan hati dan menenangkan pikiran
senantiasa berteman dengan bibir dan lidah kita, nasehat dan tutur kata yang
santun menghancurkan semua karang dan benteng rasa dendam. Lidah kita tak
pernah lepas dari ucapan syukur atas nikmat nikmat dari Allah (Al Baqoroh : 152).
Terjaga lidah kita dari cacian, umpatan, olok-olokan, makian dan segala kata-kata
kotor yang menyakitkan hati (Al Hujaraat: 11),......dan siapakah yang lebih pantas
untuk mendapatkan kebaikan kata-kata kita yang memikat.... jika bukan suami
yang mendampingi hidup kita ?

Saya pernah membaca bahwa salah satu di antara sifat bidadari yang paling baik
adalah gaya bahasa yang memikat saat ia mendekati suaminya, ia menggoda
suaminya dengan parasnya yang cantik jelita.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,
Sesungguhnya istri-istri penghuni surga bernyanyi untuk suami-suami mereka
dengan suara yang paling bagus yang tidak pernah didengar oleh seorangpun. Di
antara lagu yang mereka nyanyikan ialah Kami adalah bidadari-bidadari yang baik-
baik lagi cantik-cantik, istri-istri kaum yang mulia. Mereka memandang dengan
kegembiraan. Di antara nyanyian mereka lagi ialah Kami kekal tidak akan pernah
mati, kami setia tidak akan pernah berkhianat, dan kami bermukim tidak kan
pernah bepergian. (Shahih Al Jami Ash-Shaghir)

Pelajaran yang bisa kita petik dari sini yakni, hendaknya kita berusaha memperelok
nada bicara kita di depan suami kita. Meskipun suara kita hanya bermodal pas-
pasan saja.
Saudari sayaMulailah dari sekarang, karena belum terlambat untuk menjadi
laksana bidadari dalam hidup suami. Dengan melihat karakteristik sang bidadari,
seharusnya hal tersebut menjadi cermin akhlak bagi setiap wanita dunia. Bidadari
adalah makhluk yang tercipta mirip dengan bangsa kita, seorang wanita

Karena itu, mari kita berusaha agar kita bisa meneladani kecantikan akhlaknya,
berlomba, dan bersegera dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Taala.
Akhlak yang baik itu lebih utama..., Anas bin malik berkata, "Seorang hamba
dengan akhlaknya yang baik dapat mencapai derajat tertinggi di surga, sedangkan
ia bukanlah seorang ahli ibadah. Dan dengan akhlaknya yang buruk dapat
terhempas ke dasar paling bawah neraka Jahanam, sedangkan ia seorang ahli
ibadah". (Al-Ghazali)

Mari kita mempercantik akhlaq dan budi pekerti kita yang diselubungi pakaian
taqwa. Yang dengan akhlak dan budi pekerti kita yang mulia itu... dapat
menentramkan orang- orang disekitar kita, hilang kecemasan dan kerisauan
disekeliling kita, berganti rasa cemburu dan curiga menjadi rasa kasih sayang dan
kepercayaan yang mulia.....

Wallahu 'alam. Mohon maaf jika tidak berkenan..., dan mohon koreksinya...

Sumber : ( http://www.penjualan.wisatahati.com/ )

Bagaimana solusi untuk isteri yang dimadu


Assalamu'alaikum warrohmatullahi wabarokatuh....

Bismillaahirrohmaanirrohiim...

Sebelumnya saya mohon maaf....mungkin saja pendapat saya sudah terlambat buat
ibu...., tapi semoga bisa menjadi pembelajaran buat seorang istri yang mengiginkan
surga Allah....

Ibu...hati istri mana yang tak akan hancur ketika mengetahui sang suami tercinta
menghianati bahkan sampai menikah lagi....

Memang poligami adalah sesuatu yang dipandang sangat merugikan bagi seorang
hawa...., tetapi sebaliknya bagi kaum adam...
Tapi kita sebagai seorang muslim tidak bisa memungkiri bahwa semua itu telah
diatur oleh Allah di Alquran yang suci....
Tarulah suami bukan orang yang adil. Suami yang banyak menyia-nyiakan hak istri,
dikarenakan petuah nafsunya kepada dirinya, juga karena nafsunya
merekomendasikan jalan keluar yang ia adakan demi hawa nafsunya, dengan
berlandaskan pada berbagai hadist yang dha'if, pendapat yang rapuh demi
melegitimasi sikap dan kealpaannya, sehingga ia bersembunyi dibelakang sunah
Rasulullah (s.a.w) untuk menikah lagi.....
Lalu...apakah yang harus dilakukan seorang hawa ? Jalan mana yang harus
ditempuh...?

Ibu...bagaimana dengan psikologi buah hati kita....? Masa depan mereka ...? Mereka
begitu polos.....dan tak tau apa-apa .... .Terkadang itu yang kita lupakan

sebagai orang tua...Jika seorang istri menemui masalah seperti ini....tempulah jalan
orang-orang yang mengharapkan pahala dari Allah. Dan ketahuilah bahwa dunia ini
adalah tempat cobaan dan ujian.Kita tidak bisa memungkiri bahwa karekter wanita
adalah menunaikan hak, pengorbanan, dan mengingkari diri (untuk diri orang
yang ia cintai). Jika ada hak-hak kita ataupun sikap suami yang tidak adil, jangan
risau...., Allah selalu menjaga hak kita di akhirat kelak....
Saat ini banyak wanita yang salah bertindak ketika... maaf dimadu suami. Karena
godaan setan yang mati-matian untuk mencerai-beraikan suami istri. Setan akan
tertawa puas ketika ada keluarga muslim yang hancur terbarai. Allah sangat
membeci perceraian tetapi tidak dilarangNya....Poligami ini memang sangat berat,
bila tak disertai niat ikhlas dan campur tangan dari kelembutan Allah maka dapat
dipastikan rumah tangga akan hancur...

Tapi memang sangat berat jika kita seorang istri dihadapkan cobaan seperti
itu.......Maksud saya disini bukan memaksa ibu untuk mau dipoligami atau
dimadu....maaf....saya hanya memberikan pertimbangan buat ibu....Karena yang
mengetahui keadaan dalam rumah tangga ibu adalah ibu dan suami.....
Perbanyaklah zikir dan membaca Alquran ibu...agar hati menjadi tenang. Sholat
malam dan sholat istikaroh untuk menentukan dilema yang sedang ibu hadapi...
Saya turut mendoakan semoga Allah memberikan petunjuk dan hasil yang sangat
terbaik buat ibu khususnya anak-anak ibu yang tidak berdosa....

Maaf....saya ingin berpesan kepada kaum Adam yang ada di forum ini....
Kaum Adam....engkau memang ditakdirkan menjadi pemimpin buat kami
kaum hawa ....
Ketika engkau menduakan kami...,kau tahu itu merupakan pilihan terberat
buat kami, seorang istri... antara surga dan neraka....
Pinta kami , kaum hawa.....Tunjukanlah kehebatanmu....bimbinglah kami sebagai
hawa, istri untuk mecapai derajat iman yang mantap...Jika kami kau suguhkan
dilema ini kami tak akan salah untuk memilih ...antara... surga dan neraka

Sikap Hidup Seorang Muslimah


Ditulis oleh Aslamiyah dan telah dikomentari sebanyak 0 buah
(Komitmennya Terhadap Nilai-Nilai Islam)
baitijannati Sikap hidup seseorang sangat ditentukan oleh cara pandang mendasar yang
dimilikinya tentang kehidupan. Sebagai seorang muslimah, yang telah meyakini aqidah Islam,
sudah seharusnya ia senantiasa memiliki kesadaran penuh bahwa keberadaan dan eksistensi
dirinya, alam semesta yang ditempatinya serta kehidupan yang dijalaninya di dunia ini bukan
terjadi dan berjalan dengan sendirinya. Semua itu adalah ciptaan Allah SWT. Dia-lah sebagai
Subyek Pengendali segala sesuatu yang berlangsung di alam semesta ini.

Dengan demikian seorang muslimah akan senantiasa menyadari bahwa posisinya di dunia ini
adalah sebagai seorang hamba yang tunduk pada aturan Allah SWT sebagai Khaliqnya.
Selanjutnya ia pun meyakini bahwa hanya Allah SWT yang harus ditaati dan disembah, dan
hanya keridloan-Nya lah yang harus digapai dalam kehidupan ini.

Hal ini sesuai dengan kalimat syahadat yang menjadi ikrar setiap muslim (maupun muslimah)
yang dibacakan dalam setiap sholatnya:

Tidak ada Tuhan (yang disembah) kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan
Allah.

Muhammad ismail dalam kitabnya al-Fikrul al-Islami menjelaskan bahwa arti Lillha
illallah baik secara lughowi maupun syari adalah L mabudda illallah (Tidak ada yang
disembah kecuali allah). Artinya, seorang muslim/muslimah) yang telah mengikrarkan kalimat
syahadat di atas harus mewajibkan dirinya untuk melakukan ibadah hanya kepada Allah semata,
tidak kepada yang lain. Cara pandang khas ini merupakan cara pandang yang dilandasi oleh
aqidah islamiyah. Demikian juga, seluruh pemikiran-pemikiran cabang yang ada saat ini pun
harus dibangun di atas landasan aqidah Islamiyah.

Aqidah Islam Sebagai Pijakan Berfikir dan Bertindak

Ketika seorang muslimah mengambil Islam sebagai Aqidahnya maka sudah seharusnya ia
senantiasa menjadikan Aqidah Islamiyah sebagai standar kehidupannya. Ia pun harus memahami
bahwa karakter aqidah islam adalah aqidah ruhiyah dan aqidah siyasiyah. Sehingga ia senantiasa
menjadikan aqidah Islamiyah sebagai pijakan berfikir dan bertindak.

Tak satu pun pemikiran-pemikiran yang ia lahirkan kecuali berangkat dan berstandar hanya pada
aqidah Islamiyah. Demikian juga ketika bertindak atau bersikap maka tak satu pun tindakan atau
pun sikap yang ia tunjukkan kecuali berstandar pada hukum syara yang terpancar dari aaqidah
islamiyah tersebut.

Seorang muslimah tidak akan merasakan dirinya hidup kecuali di atas pijakan Aqidah islamiyah.
Bahkan sulit baginya untuk melepaskan diri dari ikatan Aqidah Islamiyah. Dengan demikian
ketika nilai-nilai asing datang dan berusaha menyusup ke alam kehidupannya maka ia tiada ragu
dan sungkan untuk menolaknya bahkan semaksimal mungkin berusaha mengikis virus tersebut
dari kehidupannya.

Tak pernah sedikit pun terlintas dalam benaknya untuk mengambil atau mengakomodasi nilai-
nilai asing termasuk di dalamnya adalah nilai-nilai demokrasi. Karena ia menyadari bahwa nilai-
nilai tersebut adalah racun yang membahayakan bagi diri dan umatnya. Ia menyadari bahwa jika
mengambil apalagi meminum racun tersebut sama saja dengan melakukan upaya bunuh diri.

Seorang muslimah tak pernah sedikitpun tergiur oleh bujuk rayu pemikiran-pemikiran asing yang
bermaksud menyeretnya. Ia tak pernah bergeming sedikit pun oleh bujukan materi ataupun
manfaat yang disuguhkan dihadapannya. Untuk meneguk setetes pun, tak kuasa ia
melakukannya. Karena ia sadar bahwa semua itu hanyalah tipu daya yang akan membawa
dirinya pada jurang kesengsaraan dan kesesatan. Sehingga ia semakin berusaha untuk
memperkuat aqidahnya. Ia pun tak melupakan apa yang telah menjadi firman Allah SWT dalam
Qs. al-Baqarah [2]: 256 :

Sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar dan jalan yang salah. kArena itu
barangsiapa yang ingkar pada thaghut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah
berpegang pada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus

Dalam kondisi apapun seorang muslimah yang menjadikan aqidah Islam sebagai pegangan
hidupnya akan tetap pada pendirian untuk mengambil hanya satu standar nilai dalam hidupnya.
Sekalipun ia harus mengorbankan harta, jiwa dan raganya ia akan tetap memilih jalan hidup yang
hakiki. Baginya hidup yang hakiki bukan untuk memperoleh materi ataupun manfaat, akan tetapi
hidup yang hakiki adalah meraih kemuliaan di sisi Al-Khaliqnya. Ia pun sadar bahwa satu-
satunya jalan untuk meraih kemuliaan hanyalah dengan menjadikan Aqidah islamiyah sebagai
standar baku dalam kehidupannya.

Pada saat seorang muslimah menjadikan aqidah islamiyah sebagai pijakan berfikir dan bertindak
itulah dikatakan ia telah menemukan jatidirinya, sebagai sosok pribadi muslim. Yakni sosok
kepribadian yang khas, yang murni dan istimewa, tidak tercampur sedikit pun oleh nilai-nilai
asing.

Begitulah seharusnya seorang muslimah. Ia senantiasa memegang idealisme Islam dengan kuat.
Ia pun optimis bahwa idealisme Islam yang mampu memecahkan seluruh problematika
kehidupan m,anusia.

Acuh Tak Acuh bukan Tabiatnya


Bukan tabiat seorang muslimah hidup dengan konsep individualisme. Sebaliknya ia senantiasa
menempatkan dirinya menjadi bagian dari umat islam yang lain. Karenanya ia tak lupa dengan
apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw:

Kamu akan melihat orang-orang yang beriman saling berkasih sayang, saling mencintai,
saling mengasihi yaitu bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota saja sakit, maka tertariklah
bagian anggota yang lain ikut sakit dengan tidak dapat tidur dan badan panas. [HR. Bukhari
Muslim].

Barangsiapa yang tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin, maka ia bukanlah


termasuk di antara mereka. Dan barangsiapa yang tidak berada di waktu pagi dan petang
selaku pemberi nasehat bagi Allah dan rasulNya, bagi kitabNya, bagi pemimpinnya dan bagi
umumnya kaum muslimin, maka ia bukanlah termasuk di antara mereka. [HR. ath-Thabrani].

Oleh karena itu seorang muslimah tak akan pernah tinggal diam ketika melihat nilai-nilai asing
yang membahayakan bagi saudara-saudaranya (umat Islam yang lain). Ia tak bisa berdiam diri
melihat fakta yang demikian. Ia akan senantiasa berusaha menyadarkan umat islam untuk
senantiasa waspada terhadap nilai-nilai asing yang membahayakan bagi kehidupan mereka.

Ia bagaikan pembawa pelita penerang jalan, pembawa penjelas antara yang haq dan yang bathil,
sebab ia adalah generasi penerus penyampai risalah Rasulullah SAW. Ia menjadi penuntun
orang-orang yang meminta petunjuk ke arah jalan kebenaran. Dirinya sarat dengan bejana-bejana
ilmu dan aqalnya ibarat khazanah-khazanah hikmah. Ia tak akan pernah merelakan masyarakat
(umat Islam) dijauhkan dari nilai-nilai Islam. Ia pu tak rela masyarakat berada di bawah
pengaruh orang-orang tak berilmu yang dengan mudah memberikan fatwa untuk menerima
kebathilan. Dengan demikian keberadaan dirinya senantiasa dibutuhkan umat Islam.

Untuk menjadi muslimah yang demikian tentulah sangat tidak cukup hanya menjadikan Aqidah
Islamiyah sebatas ucapan lafadz-lafadz. Akan tetapi haruslah berusaha menjadikan aqidah
tersebut sebagai standar baku bagi kehidupannya dan memahami konsekuensinya. Sehingga ia
pun memiliki kepedulian yang tinggi untuk memelihara nilai-nilai Islam yang ada dalam dirinya
dan nilai-nilai Islam yang ada dalam diri umat Islam pada umumnya.

Nilai-nilai asing yang membahayakan dirinya ia pahami membahayakan pula bagi uamatnya.
Demikian pula nilai-nilai asing yang membahayakan umatnya ia pahami pula membahayakan
bagi dirinya. Hingga ia pun senantiasa memiliki kesadaran yang tinggi untuk memelihara diri
dan umatnya dari kontaminasi racun-racun dunia. Ia pun dengan lantang akan mengatakan racun
adalah racun, madu adalah madu. Kebenaran adalah kebenaran, kebathilan adalah kebathilan.
Tak pernah ia membungkus kebathilan dengan sesuatu agar tampak baik dihadapan umat Islam.
Bahkan tanpa segan membongkar keburukan nilai-nilai asing yang membahayakan umatnya
dengan sejelas-jelasnya, untuk kemudian menunjukkan al haq yang sesungguhnya, tanpa ragu
dan bimbang. Demikianlah seharusnya seorang muslimah bersikap peduli terhadap umat Islam.
Kepeduliannya terhadap umat islam adalah kepeduliannya terhadap islam sebagai dien yang
dianutnya.

Perjuangan Hakiki Muslimah Bersama Umat

Ketika kaum muslimin telah menyadari akan esensi aqidah Islam yang dipeluknya, maka
muslimah bersama ummat bersatu dalam barisan perjuangan yang hakiki. Yakni perjuangan yang
berada di bawah panji aqidah L ILLHA ILLALLAH MUHAMMADAR RASULULLAH.
Dengan kata lain perjuangan yang berperspektif Islam.

Dalam perjuangan ini, kaum muslimin (termasuk muslimah) berusaha untuk mewujudkan nilai-
nilai Islam yang hakiki. Nilai-nilai Islam yang murni tanpa adanya noda-noda asing yang akan
mencemari nilai Islam. Nilai ini tentu saja bukan nilai yang absurd, akan tetapi merupakan nilai
yang pasti akan membawa kaum muslimin sampai pada suatu bentuk kehidupan yang sesuai
dengan tuntunan ilahi. Dalam perjuangannya tak pernah ada kata sepakat dengan nilai-nilai
asing. Dengan kata lain tidak ada kata kompromi ataupun akomodasi dengan nilai-nilai yang
datang dari luar Islam, sekalipun nilai asing tersebut nampak baik luarnya. Sebab ukuran
kebaikan tidak bisa dilihat dari luarnya, akan tetapi hanya dapat dilihat dari ideologi yang
mendasarinya.

Oleh karena itu, bukan sesuatu yang tidak mungkin, jika kaum muslimin selalu bercita-cita
mewujudkan nilai-nilai islam dalam kehidupannya. Bukan pula hal yang mustahil untuk menolak
setiap bentuk nilai-nilai asing yang bertentangan dengan nilai Islam.

Akhirnya hanya kembali kepada aqidah Islamiyah, kaum muslimin dapat mencapai kemuliaan
yang hakiki.

PUSTAKA:

1.Muhammad Ismail. Al Fikrul Al Islamy. 1953


2. Taqiyyuddin An Nabhany. Syakhshiyyatul Islamiyah. Darul Ummah
3. Taqiyyuddin An Nabhany. Attakatul Hizby. 1953
4. Drs. H. Moh. Rifai. Tiga Ratus Hadits bekal Dawah dan pembina Pribadi Muslim. 1980.
Wicaksana. Bandung
5. Abu Laily dan Drs. H. Zahri Hamid. Al Hadits. 1983. Kota Kembang Yogyakarta.

Sumber : ( http://aslamiyah.abatasa.com/ )
Satu Waktu Sholat = Siksaan 80.000 Tahun Di Neraka
Ditulis oleh Aslamiyah dan telah dikomentari sebanyak 1 buah
Kisah ini diceritakan oleh seorang ustaz yang bertugas memandikan mayat orang
Islam di hospital. Lebih kurang jam 3.30 pagi, saya menerima panggilan dari
Hospital Tengku Ampuan Rahimah, Klang, Selangor untuk menguruskan jenazah
lelaki yang sudah seminggu tidak dituntut. Di luar bilik mayat itu cukup dingin dan
gelap serta sunyi dan hening. Hanya saya dan seorang penjaga bilik tersebut yang
berada dalam bilik berkenaan. Saya
membuka dengan hati-hati penutup muka jenazah.

Kulitnya putih,badannya kecil dan berusia awal 20-an. Allah Maha Berkuasa. Tiba-
tiab saya lihat muka jenazah itu sedikit demi sedikit bertukar menjadi hitam.
Mulanya saya tidak menganggap ia sebagai aneh, namun apabila
semakin lama semakin hitam, hati saya mula bertanya-tanya. Saya terus menatap
perubahan itu dengan teliti, sambil di hati tidak berhenti-henti membaca ayat-ayat
suci Al-Quran. Detik demi detik berlalu,wajah jenazah semakin hitam. Selepas lima
minit berlalu, barulah ia berhenti bertukar warna. Ketika itu wajah mayat berkenaan
tidak lagi putih seperti warna asalnya, tetapi hitam seperti terbakar. Saya keluar
dari bilik berkenaan dan duduk termenung memikirkan kejadian aneh yang berlaku
itu. Pelbagai pertanyaan timbul di kepala saya; apakah yang sebenarnya telah
terjadi? Siapakah pemuda itu? Mengapa wajahnya bertukar hitam? Persoalan demi
persoalan muncul di fikiran saya. Sedang saya termenung tiba-tiba saya dapati ada
seorang wanita berjalan menuju ke arah saya. Satu lagi pertanyaan timbul, siapa
pula wanita ini yang berjalan seorang diri di bilik mayat pada pukul 4.00 pagi?
Semakin lama dia semakin hampir, dan tidak lama kemudian berdiri di hadapan
saya. Dia berusia 60-an dan memakai baju kurung.

Ustaz," kata wanita itu. "Saya dengar anak saya meninggal dunia dan sudah
seminggu mayatnya tidak dituntut. Jadi saya nak tengok jenazahnya." kata wanita
berkenaan dengan lembut. Walaupun hati saya ada sedikit tanda tanya, namun
saya membawa juga wanita itu ke tempat jenazah tersebut. Saya tarik laci 313 dan
buka kain penutup wajahnya. "Betulkah ini mayat anak mak cik?" tanya saya. "Mak
cik rasa betul... tapi kulitnya putih." "Mak cik lihatlah betul-betul." kata saya.
Selepas ditelitinya jenazah berkenaan, wanita itu begitu yakin yang mayat itu
adalah anaknya.

Saya tutup kembali kain penutup mayat dan menolak kembali lacinya ke dalam dan
membawa wanita itu keluar dari bilik mayat. Tiba di luar saya bertanya kepadanya.
"Mak cik, ceritakanlah kepada saya apa sebenarnya yang berlaku sampai wajah
anak mak cik bertukar jadi hitam?" tanya saya. Wanita itu tidak mahu menjawab
sebaliknya menangis teresak-esak. Saya ulangi pertanyaan tetapi ia masih enggan
menjawab. Jika mak cik tidak mahu beritahu, saya tak mahu uruskan jenazah anak
mak cik ini. " kata saya untuk menggertaknya.

Bila saya berkata demikian, barulah wanita itu membuka mulutnya. Sambil
mengesat airmata, dia berkata, "Ustaz, anak saya ni memang baik, patuh dan taat
kepada saya. Jika dikejutkan di waktu malam atau pagi supaya buat sesuatu kerja,
dia akan bangun dan buat kerja itu tanpa membantah sepatah pun. Dia memang
anak yang baik. Tapi..." tambah wanita itu lagi "apabila mak cik kejutkan dia untuk
bangun sembahyang, Subuh misalnya, dia mengamuk marahkan mak cik. Kejutlah
dia, suruhlah dia pergi ke kedai, dalam hujan lebat pun dia akan pergi, tapi kalau
dikejutkan supaya bangun sembahyang, anak mak cik ini akan terus naik angin.
Itulah yang mak cik kesalkan." kata wanita tersebut. Jawapannya itu
memeranjatkan saya. Teringat saya kepada hadis nabi bahawa barang siapa yang
tidak sembahyang, maka akan ditarik cahaya iman dari wajahnya. Mungkin itulah
yang berlaku. Wajah pemuda itu bukan sahaja ditarik cahaya keimanannya, malah
diaibkan dengan warna yang hitam. Selepas menceritakan perangai anaknya,
wanita tersebut meminta diri untuk pulang. Dia berjalan dengan pantas dan hilang
dalam persekitaran yang gelap. Kemudian saya pun memandikan, mengapankan
dan menyembahyangkannya. Selesai urusan itu, saya kembali ke rumah semula.
Saya perlu balik secepat mungkin kerana perlu bertugas keesokan harinya sebagai
imam di Masjid Sultan Sallehuddin Abdul Aziz Shah, Shah Alam.

Selang dua tiga hari kemudian, entah kenapa hati saya begitu tergerak untuk
menghubungi waris mayat pemuda tersebut. Melalui nombor telefon yang diberikan
oleh Hospital Tengku Ampuan Rahimah, saya hubungi saudara Allahyarham yang
agak jauh pertalian persaudaraannya. Selepas memperkenalkan diri, saya berkata,
"Encik, kenapa encik biarkan orang tua itu datang ke hospital seorang diri di pagi-
pagi hari.Rasanya lebih elok kalau encik dan keluarga encik yang datang sebab
encik tinggal di Kuala Lumpur lebih dekat dengan Klang."

Pertanyaan saya itu menyebabkan dia terkejut, "Orang tua mana pula?" katanya.
Saya ceritakan tentang wanita berkenaan, tentang bentuk badannya, wajahnya,
pertuturannya serta pakaiannya. "Kalau wanita itu yang ustaz katakan, perempuan
itu adalah emaknya, tapi.... emaknya dah meninggal lima tahun lalu!" Saya terpaku,
tidak tahu apa yang hendak dikatakan
Jadi \`apakah\` yang datang menemui saya pagi itu? Walau siapa pun wanita itu
dalam erti kata sebenarnya, saya yakin ia adalah \`sesuatu\` yang Allah turunkan
untuk memberitahu kita apa yang sebenarnya telah berlaku hingga menyebabkan
wajah pemuda berkenaan bertukar hitam. Peristiwa tersebut telah terjadi lebih
setahun lalu, tapi masih segar dalam ingatan saya. Ia mengingatkan saya kepada
sebuah hadis nabi, yang bermaksud bahawa jika seseorang itu meninggalkan
sembahyang satu waktu dengan sengaja, dia akan ditempatkan di neraka selama
80,000 tahun. Bayangkanlah seksaan yang akan dilalui kerana satu hari di akhirat
bersamaan dengan seribu tahun di dunia. Kalau 80,000 tahun di neraka?

Anda percaya atau tidak ?

1 waktu shalat ditinggalkan = 80.000 tahun siksaan di neraka ingat :

1 hari di akhirat = 1000 tahun di dunia. maka :

80.000 tahun x 365 x 1000 Masya Allah betapa lamanya seksaan yang akan kita
terima di neraka nanti apabila
tidak melaksanakan shalat hanya 1 waktu, bagaimana apabila tidak melaksanakan
shalat selama 1 hari, 1 minggu, 1 bulan & 1 tahun,dst...

1 hari = 5(waktu) x 80.000 tahun x 365 x 1000

1 minggu = 5 x 7 x 80.000 tahun x 365 x 1000

1 bulan = 5 x 7 x 4 x 80.000 tahun x 365 x 1000

1 tahun = 5 x 7 x 4 x 12 x 80.000 tahun x 365 x 1000

berapa umur kita sekarang 20,30,40,dst ... ???

sudahkah kita melaksanakan shalat selama ini ... ???

apakah kita merasa takut ketika tidak melaksanakan shalat ...???

ingatlah kematian menunggu kita didepan mata

makin bertambah umur kita makin dekat pula dengan kematian

entah kapan datangnya kita mesti siap menghadapinya dan

siap mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan di dunia


Wassalamu\`alaikum.wr.wb

Sumber : ( http://aslamiyah.abatasa.com/ )

Melawan Teror Penguasa


OPINI | 03 December 2011 | 07:29 75 0

1 dari 1 Kompasianer menilai menarik

ane mencoba kembali untuk memasuki ranah benturan


peradaban. Mengingat begitu kuatnya konspirasi, tangan gelap,
dan pemain di belakang layar. Semoga pula tulisan ini bisa
menjadikan perlawanan di belakang layar terhadap teror yang
dilakukan penguasa.

barangsiapa bangun di pagi hari dan perhatiannya kepada selain


Allah, maka ia tidak berurusan dengan Allah. Dan barangsiapa
yang bangun dan tidak memperhatikan urusan kaum muslimin,
maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin). (HR
Hakim dan Al Khatib dari Hudzaifah ra.)

Riwayat lain dikatakan Siapa saja yang bangun pagi harinya, dan
ia hanya memperhatikan masalah dunianya, maka orang tersebut
tidak berarti apa-apa di sisi Allah SWT. Dan barang siapa yang
tidak memperhatikan urusan kaum muslim, maka dia tidak
termasuk golongan mereka (HR. Thabrani dari Abu Dzar al-
Ghifari)

DEFINISI SUBYEKTIF TERORISME

sebelum kita berbicara tentang terorisme yang bukan merupakan


perkara kriminal semata, marilah kita definisikan terlebih dahulu
makna terorisme yang ada. Menurut Wikipedia, Teror atau
Terorisme tidak selalu identik dengan kekerasan. Terorisme adalah
puncak aksi kekerasan, terrorism is the apex of violence. Bisa saja
kekerasan terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror tanpa
kekerasan. Terorisme tidak sama dengan intimidasi atau
sabotase. Sasaran intimidasi dan sabotase umumnya langsung,
sedangkan terorisme tidak.

Mengenai pengertian yang baku dan definitive dari apa yang


disebut dengan Tindak Pidana Terorisme itu, sampai saat ini
belum ada keseragaman. Menurut Prof. M. Cherif Bassiouni, ahli
Hukum Pidana Internasional, bahwa tidak mudah untuk
mengadakan suatu pengertian yang identik yang dapat diterima
secara universal sehingga sulit mengadakan pengawasan atas
makna Terorisme tersebut. Oleh karena itu menurut Prof. Brian
Jenkins, Phd., Terorisme merupakan pandangan yang subjektif
[Indriyanto Seno Adji, Terorisme, Perpu No.1 tahun 2002 dalam
Perspektif Hukum Pidana dalam Terorisme: Tragedi Umat
Manusia (Jakarta: O.C. Kaligis & Associates, 2001), hal. 35.].

Tidak mudahnya merumuskan definisi Terorisme, tampak dari


usaha Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan membentuk Ad
Hoc Committee on Terrorism tahun 1972 yang bersidang selama
tujuh tahun tanpa menghasilkan rumusan definisi [IMuhammad
Mustofa, Memahami Terorisme: Suatu Perspektif Kriminologi,
Jurnal Kriminologi Indonesia FISIP UI, vol 2 no III (Desember 2002):
35.].

Pengertian paling otentik adalah pengertian yang diambil secara


etimologis dari kamus dan ensiklopedia. Dari pengertian
etimologis itu dapat diintepretasikan pengembangannya yang
biasanya tidak jauh dari pengertian dasar tersebut [Kunarto,
Intelijen Pengertian dan Pemahamannya, (Jakarta: Cipta
Manunggal, 1999), hal.19.].

DEFINISI AMERIKA TERHADAP TERORISME

Dr. Knet Lyne Oot, seperti dikutip M. Riza Sihbudi[M. Riza Sihbudi,
Bara Timur Tengah, Mizan Bandung, 1991, hlm. 94.],
mendefinisikan terorisme sebagai :

(a) Sebuah aksi militer atau psikologis yang dirancang untuk


menciptakan ketakutan, atau membuat kehancuran ekonomi atau
material;

(b) Sebuah pemaksaan tingkah laku lain;

(c) Sebuah tindakan kriminal yang bertendensi mencari publisitas;

(d) Tindakan kriminal bertujuan politis;

(e) Kekerasan bermotifkan politis; dan

(f) Sebuah aksi kriminal guna memperoleh tujuan politis atau


ekonomis.

Jika definisi tersebut dipakai, menurut Riza, maka perang atau


usaha memproduksi senjata pemusnah umat manusia dapat
dikategorikan sebagai terorisme. Para pemimpin negara industri
maju (Barat) dapat dijuluki biang teroris karena memproduksi
senjata pemusnah massal seperti peluru kendali.
Sementara Encyclopedia Americana [Glorier Incorporated, USA,
1993] menyebutkan, terorisme adalah penggunaan atau ancaman
kekerasan yang terbatas pada kerusakan fisik namun berdampak
psikologis tinggi karena ia menciptakan ketakutan dan kejutan.
Keefektifan terorisme lebih bersifat politik ketimbang militer.
Dengan demikian, aksi teroris dimaksudkan untuk
mengkomunikasikan sebuah pesan. Di sini, terorisme bisa
dipahami sebagai salah satu bentuk komunikasi dengan
kandungan pesan politik.

Secara konvensional, terorisme ditujukan pada aksi-aksi kaum


revolusioner atau kaum nasionalis yang menentang pemerintah,
sedangkan teror merujuk pada aksi-aksi pemerintah untuk
menumpas pemberontakan. Pada prakteknya, pembedaan antara
terorisme dan teror tidak selalu jelas.

Istilah terorisme, menurut Noam Chomsky [Menguak Tabir


Terorisme Internasional, Mizan Bandung, 1991, hlm. 19-20.], mulai
digunakan pada abad ke-18 akhir, terutama untuk menunjuk aksi-
aksi kekerasan pemerintah yang dimaksudkan untuk menjamin
ketaatan rakyat. Istilah ini diterapkan terutama untuk terorisme
pembalasan oleh individu atau kelompok-kelompok.

Sekarang, pemakaian istilah terorisme dibatasi hanya untuk


pengacau-pengacau yang mengusik pihak yang kuat. Inilah yang
terjadi sekarang. Dalam Kamus Amerika Serikat (AS), terorisme
adalah tindakan protes yang dilakukan negara-negara atau
kelompok-kelompok pemberontak. Pembunuhan seorang
tentara Israel oleh HAMAS, misalnya, disebut aksi terorisme.
Namun, ketika tentara Israel membantai puluhan, ratusan,
bahkan ribuan warga Palestina bukanlah aksi teror, melainkan
aksi pembalasan (retaliation).

Mengemukakan perbedaan pendapat mengenai siapa yang


dianggap teroris, Martin Indyk, mantan Duta Besar Amerika di
Israel yang sekarang menjadi analis senior Lembaga Brookings
mencontohkan konflik Israel Palestina. Menurutnya, orang yang
dianggap teroris oleh Israel, adalah pejuang kemerdekaan bagi
orang Palestina.

Laporan Ariel Cohen yang pernah tinggal di Israel selama sebelas


tahun dan lulusan Bar Ilan University Law School di Tel Aviv
dipublikasikan oleh the Heritage Foundation yang dikenal luas
sebagai think-tank Konservatif yang dekat dengan kelompok neo-
Konservatif. Sementara Zeyno Baran Direktur Program Energi
dan Keamanan Internasional Nixon Centre ternyata memiliki
hubungan yang dekat dengan perusahan-perusahan minyak AS
yang beroperasi di Asia Tengah dan rezim otoriter di Asia Tengah
(lihat, Who is Zeyno Baran, www.khilafah.com) .Wajar kalau
kemudian banyak muncul ketidakakuratan, inkonsistensi,
generalisasi keliru, bahkan kebohongan dalam tulisan-tulisan
tersebut. Alhasil definisi terorisme -yang dimainkan oleh barat-
tidak lain adalah untuk melanggengkan dominasinya di negara
lain, khususnya untuk kepentingan ekonomi, hukum, dan politik.

Dalam pernyataannya pada pertemuan ke 89 legiun veteran


Amerika di Reno, Nevada, (28/08/2007), Presiden Bush mencoba
untuk menghubungkan perjuangan Khilafah dengan aksi
kekerasan, terutama yang terjadi di Irak.

Para ekstrimis ini berharap untuk menentukan visi gelap yang


sama di sepanjang Timur Tengah dengan menegakkan sebuah
kekerasan dan khilafah radikal yang terbentang dari Spanyol
hingga Indonesia. (These extremists hope to impose that same
dark vision across the Middle East by raising up a violent and
radical caliphate that spans from Spain to Indonesia.)

Mengapa Definisi Ini Dibiarkan Kabur

Dalam buku Teroris Melawan Teroris, Abu Umar Basyir, PBB telah
menerbitkan beberapa resolusi dalam jangka waktu yang sangat
singkatyang menyatakan perang terhadap terorisme dan para
teroris. Namun pernyataan perang ini tanpa disertai definisi, sifat,
jenis, dan bentuk teror yang hendak diperanginya. Selanjutnya
lembaga itu mengharuskan seluruh Negara anggotanya
menyepakati perang terhadap terror tersebut. (halaman 43)

1. Pendefinisian terorisme yang harus diperangi serta


pembatasan ciri-ciri dan sifatnya akan menjadikan semua yang
berada di luar definisi dan ciri-ciri ini tidak termasuk terorisme.
Semua yang bergerak diluar lingkup definisi dan ciri-ciri
khususnya dari kalangan Islamistidak mungkin diburu dengan
tuduhan sebagai teroris. Berbagai aktifitas yang dilakukannya
tidak mungkin dikategorikan sebagai aktifitas terorisme. Mereka
tidak ingin hal semacam ini terjadi!

2. Pendefinisian terorisme yang harus diperangi bisa jadi akan


dimanfaatkan oleh gerakan-gerakan kemerdekaan di seluruh
dunia yang jumlahnya sangat banyakdalam perjuangan
mereka untuk memerdekakan diri dari penjajahan dan kedzoliman
kaum imperalis penjajah. Hal itu disebabkan gerakan-gerakan
tersebut beraktifitas di luar kerangka terorisme yang disepakati
untuk dihukum. Mereka juga tidak ingin hal semacam ini terjadi!

3. Pendefinisian terorisme yang harus diperangi dan disepakati,


akan mencegah banyak Negara agresor untuk melakukan
berbagai bentuk yang dikehendakinya terhadap bangsa-bangsa
lemah, khususnya Amerika Serikat sebagai pelindung terorisme
internasional dan anak tirinya, Zionis Yahudi. Mereka tidak
menginginkan hal in terjadi!

Pengaburan definisi terorisme yang harus diperangi ini akan


menjadikan kekuatan-kekuatan adidaya dan tirani dimuka bumi
ini dalam skala luasuntuk melakukan campur tangan terhadap
urusan Negara dan bangsa lain, serta menggunakan teror
berskala luas dengan atas nama Perang Terhadap Terorisme dan
Pembururan Terhadap Para Teroris!

Pengaburan definisi terorisme juga bisa menjadikan istilah ini


seperti karet yang bisa dibentuk sesuai kemauan para politikus
yang berkuasa. Mereka bisa memasukkan siapa saja yang mereka
kehendaki ke dalam golongan teroris dan dibawah payung
perburuan terhadap para teroris, sekalipun sebenarnya orang
tersebut bukan teroris. Sebaliknya mereka bisa mengeluarkan
siapa saja yang mereka kehendaki dari lingkaran terorisme,
sekalipun ia benar-benar dan terbukti sebagai seorang teroris dan
penjahat!

4. Pendefinisian makna terorisme yang harus diperangi bisa jadi


akan menampakkan bahwa jihad dan perlawanan rakyat Palestina
terhadap Zionis Yahudi sebagai sebuah perjuangan legal yang
tidak termasuk kategori terorisme. Ini berarti merupakan
pengakuan tidak langsung bahwa Negara Zionis Yahudi
merupakan Negara penjajah dan penjarah hak-hak bangsa lain,
tidak memiliki legalitas, layak dilawan dan diperangi hingga
mereka benar-benar terusir. Mereka tidak menginginkan hal ini
terjadi, sama sekali!

5. Pendefinisian makna terorisme dan kesepakatan internasional


mengenainya akan memunculkan konsekuensi dipersalahkannya
Negara-negara agressor yang menggunakan semua jenis
terorisme.

Tanggal 29 Oktober 2002 muncul sebuah dokumen CIA yang


menyebutkan, bahwa akar terorisme adalah ketidakstabilan di
Afganistan, usaha Iran dan Suriah untuk membangun
persenjataan, memburuknya konflik Israel-Palestina, dan generasi
muda yang menggeliat di negara-negara berkembang yang
sistem ekonomi dan ideologi politiknya di bawah tekanan yang
berat.

Mantan Menlu RI Ali Alatas pernah menyatakan, Terorisme bisa


berawal dari ketidakadilan, juga rasa ketidakadilan secara
ekonomi dan politis.

Kita bertanya,
(1) siapa yang menciptakan ketidakstabilan di Afghanistan?

(2) Mengapa Suriah dan Iran membangun persenjataan?

(3) Kenapa konflik Israel-Palestina memburuk?

(4) Kenapa generasi muda menggeliat dalam situasi ekonomi dan


ideologi yang tertekan?

Kita tahu jawabannya. Afghanistan tidak stabil karena AS tidak


ingin ada rezim Islam yang kuat di sana. Suriah dan Iran
membangun persenjataan karena merasa terancam oleh
kehadiran Israel yang didukung penuh AS. Konflik Israel-Palestina
memburuk karena AS selalu berada di belakang Israel. Kaum
muda di negara-negara berkembang, khususnya negara Muslim,
melakukan perlawanan karena mereka menyadari kuatnya kendali
AS terhadap penguasa.

Singkatnya, dari arah mana pun kita mencari akar terorisme, kita
akan menemukan penyebab utamanya adalah Amerika Serikat.
Wajar, jika dunia akan aman-damai jika kekuatan AS lemah,
bahkan hancur, dan Islam yang rahmatan lil alamin menjadi
acuan peradaban dunia, bukan materialisme-kapitalisme yang
selama ini dicekokkan AS kepada warga dunia.

Perebutan Proyek Terorisme

Banyak pengamat yang mencurigai adanya koalisi antar para


teroris dengan negara. Seperti dugaan mantan napol kasus Woyla
yang juga peneliti di Centre for Democracy and Social Studies
(CeDsos) mengatakan, pelaku berasal dari kelompok teroris yang
sudah terkooptasi oleh intelijen Indonesia. Jaringan itu sering
keluar masuk di Pejaten, ujarnya enteng. Hanya saja, dia tidak
menyebut secara gamblang bahwa yang dimaksud adalah markas
Badan Intelijen Negara (BIN) yang berada di Pejaten, Jakarta
Selatan dalam sebuah diskusi bertema Apa dan Bagaimana
Teroris yang digelar di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (25/7/2009).
Talkshow ini juga disiarkan jaringan radio Trijaya FM.
Presiden SBY juga bersikeras memasukkan TNI dalam lahan yang
selama ini didominasi oleh kubu gories mere. Yang merupakan
investigator bom JW Marriott dan boss pertama densus 88. Lebih
lanjut Menurut peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI) Jaleswari Pramowardhani, Jumat (21/8) ketidakjelasan alasan
soal mengapa militer diterjunkan untuk menangani terorisme
dapat memunculkan kecurigaan masyarakat kalau yang terjadi
sebenarnya adalah saling berebut peran dan kekuasaan antara
aparat keamanan (polisi) dan pertahanan (TNI). Tambah lagi, TNI
memang memiliki kemampuan intelijen, tempur, dan penjinakan
bahan peledak. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk memburu para
teroris dan mengantisipasi serangan mereka. Tidak cuma itu,
keterlibatan militer juga dijamin melalui Undang-Undang Nomor
34 Tahun 2004 tentang TNI, terutama terkait aturan tentang
Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Senada dengan pernyataan peneliti LIPI Ketua Moderat Muslim


Society, Zuhairi Misrawi dalam diskusi Trijaya di Jakarta, Sabtu
(25/7) mengatakan. Kalau memang benar ternyata para teroris
sering keluar masuk ke kantor BIN, jangan sampai ada
perselingkuhan antara aparat negara dengan gerakan teroris.
Dengan adanya bom ini kan negara terima duit dari negara lain,
jangan-jangan ini malah dijadikan proyek negara untuk
mendapatkan duit,

Sebenarnya sejak tahun 2008, gories mere telah dicopot dari


polri. Selama tiga tahun menjabat Wakil Kepala Bareskrim, Gories
punya kewenangan yang sungguh besar, sehingga mampu
menembus semua lini menggunakan otoritasnya, termasuk
mengerahkan Pasukan Anti Teror. Sehingga dengan pencopotan
ini, Gories kehilangan semua kewenangan yang sangat besar itu.

TARGET KAPOLRI

Patut dapat diduga, Kalakhar BNN yang berambisi jadi Kapolri


atau Wakapolri ini sempat ingin membangun opini publik bahwa
dirinya adalah korban kezaliman. Mengutip tulisan redaksi
katakami.com yang bersangkutan sudah terlempar dari TIM ANTI
TEROR POLRI sejak setahun terakhir. Sudah digeser dan
dipinggirkan dari penanganan terorisme di Indonesia. Kalau
disebutkan ada ancaman bom untuk GORIES MERE,
pertanyaannya adalah rumah yang mana yang diancam ?
Sepanjang yang kami ketahui, yang bersangkutan ini
mengumumkan secara resmi bahwa ia tinggal bersama ibunda
yang melahirkannya yaitu BERTHA BLASIUS JOAKIM MERE di
kawasan Tebet. Itu sebabnya, ayah dari dua orang anak ini
Robet Bobby Mere & Jesicca Buanita Mere terdaftar sebagai
anggota umat di Paroki Gereja Fransiskus Asissi Tebet Jakarta
Selatan. Kalau ancaman itu di rumah dinas, rumah dinas mana ?
Sepanjang yang kami ketahui, yang bersangkutan ini tidak pernah
mendiami rumah dinasnya. Sepanjang yang kami ketahui juga,
yang bersangkutan ini jika berpergian keluar akan dijaga oleh
minimal pengawalnya dari Tim Anti Teror yang masih sangat loyal
kepada dirinya. Patut dapat diduga, yang bersangkutan juga
memiliki bisnis KEMAFIAAN di bidang SECURITY sehingga mustahil
sekali ada pihak luar yang bisa memasuki wilayah RING SATU
Gories Mere.

Jenderal (purn) Soetanto yang sebelumnya merupakan Kepala


BNN (Badan Narkotika Nasional) bisa menduduki jabatan kapolri.
Oleh karenanya dugaan gories mere memasuki pintu BNN sebagai
batu loncatan promosi jabatan kapolri patut dicurigai.

NEGARA JANGAN KALAH DENGAN INVISIBLE HAND

Harus jujur diakui bahwa kesalahan terbesar dari MABES POLRI


adalah membiarkan Komisaris Jenderal Gories Mere menguasai
sendiri penanganan aksi terorisme sejak bom malam natal tahun
1999 sampai periode penangkapan Abu Dujana selaku Panglima
Sayap Militer Al Jamaah Al Islamyah bulan Juni-Juli 2007. Mari kita
hitung bersama-sama, sudah berapa lama ketertutupan
penanganan aksi terorisme itu hanya dikuasai sepihak oleh
segelintir oknum polisi yang patut dapat diduga sangat penuh
semangat eksklusif yang kebablasan dan ego sektoral yang
menyesatkan.

Jangankan kepada pihak eksternal semacam Tentara Nasional


Indonesia (TNI) dan Badan Intelijen Negara (BIN), kelompok
eksklusif yang patut dapat diduga menggelorakan ego sektoral
menyesatkan tadi, juga sangat tidak koordinatif dan cenderung
larut dalam kepongahan mereka terhadap rekan sekerja di
lingkungan Mabes POLRI sendiri. Sejak penanganan bom malam
Natal 1999, POLRI membentuk Tim Satgas Bom. Tim inilah yang
bergerak under ground atau dibawah tanah.

Namun atas kebaikan dan memanfaatkan misi WAR ON TERROR


yang dikumandangkan Presiden AS George Walter Bush, maka
dibentuklah Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror POLRI
yang patut dapat diduga memang dibiayai sepenuhnya
pembentukan itu oleh AMERIKA SERIKAT .

Tidak salah dan samasekali tak perlu dicurigai keikut-sertaan


AMERIKA SERIKAT dalam mendukung gerak POLRI menangani aksi
terorisme lewat pembentukan Densus 88 Anti Teror POLRI.

Dalam kasus hilangnya barang bukti 13 kg sabu-sabu, demikian


invisible hand juga kuat berperan dalam permainan double agent
yang juga merupakan antek asing.

MELAWAN TEROR PENGUASA

Banyaknya sekali double agent yang bermain di negeri ini sudah


seharusnya menjadikan pemerintah waspada. Kedaulatan sebagai
negeri muslim terbesar harus dijunjung tinggi untuk benar benar
terlepas dari pengaruh barat. Para penguasa negeri ini dilahirkan
dari rahim suci para ibunda muslimah yang senantiasa berdzikir
kepada Allah Robb Semesta. Sudah selayaknya negeri ini memiliki
kekuatan, kemandiriannya sendiri. Ideologi yang suci dan yang
akan menghantarkan kesejahteraan haqiqi bagi warga negaranya.
1. Meraih dukungan rakyat terhadap aktifitas dakwah yang
memberikan solusi dalam rangka mewujudkan kesejahteraan
haqiqi.

2. Meraih dukungan elit penguasa, elit militer yang memiliki hati


nurani dan tidak semata mengejar kekuasaan demi kata absah
dari majikan barat dan asing (stick and carrot political views).

3. Istiqomah memperjuangkan solusi dan dakwah yang tepat


bersama penguasa (yang masih setia) untuk meraih dan
menegakkan kekuasaan yang berdaulat serta mandiri.

Wallahu alaam by : Agus Satriadi

Sumber : ( http://politik.kompasiana.com/ )
FITNAH AKHIR ZAMAN DARI ARAB SAUDI !!!

Kontroversi letak Nejd : Arab Saudi atau Iraq ?

Arab Badui, Nejd & Kemunafikan


Posted on 9 July 2011 by Nafis Mudrika

Rate This

Apakah orang-orang yang beriman, hari ini benar-benar peduli dengan dua musuh bebuyutannya:
yakni Kaum Kafir dan Kaum Munafik ??? Mungkin kita terlalu banyak menyoroti bahaya dari
kaum kafir seperti Zionis Yahudi beserta Orientalis Kristen. Namun, apakah kita benar-benar
memperhatikan musuh yang sebenarnya dari dalam? Mereka ini adalah kaum munafik! Ya, kaum
munafik. Sesungguhnya persatuan dan kemajuan kaum muslimin sejak zaman nabi telah
dirongrong oleh kaum munafik ini. Pun begitu sampai hari ini. Sayangnya, banyak kaum
muslimin masih bodoh dan terlena sehingga orang-orang munafik yang pandai berdusta, gemar
berkhianat dan tidak menepati janji itu telah menipu kaum muslimin mentah-mentah.
Siapakah kaum munafik di zaman Nabi? Mereka adalah sebagian dari penduduk Madinah dan
sebagian orang-orang Arab Badui (badwi, bedouins) yang tinggal di timurnya Madinah (Nejd,
Najd, Nejed, Najad) di gurun gurun pasir pedalaman Arab. Lalu siapakah kaum munafik di
zaman ini? Mereka adalah penganut Islam KTP (tidak bersungguh-sungguh beragama Islam alias
Islam ekstrim kiri) dan Islam yang pemahaman keagamaannya menggunakan Manhaj Arab
Badui alias Islam ekstrim kanan.

Lalu, bagaimana Islam memandang ciri-ciri orang Arab Badui ini? Mari kita lihat dalam Al
Quran dan Sunnah. Dalil-dalil ini memberitakan gambaran mereka di masa lalu, sekarang &
masa datang. Penyebutan secara eksplisit Arab Badui (al araab) di dalam al Quran mirip seperti
penyebutan Yahudi & Nashrani. Padahal, Al Quran tidak menyebutkan kaum Yaman, Syam, Iraq,
atau Persia secara eksplisit. Padahal, suku bangsa itu juga berada di sekitar Hijaz yang didiami
suku Quraisy, kaumnya Rasulullah. Bahkan, suku Quraisy yang berada di Hijaz pun tidak dicela
secara eksplisit, padahal mereka dulunya memerangi Rasulullah. Begitu pula dengan Romawi
dan Mesir, tidak dicela. Namun, yang dicela Allah dengan tegas dan berulang kali ada tiga
kaum : Yahudi, Nasrani, & Arab Badui. Seolah-olah, sifat-sifat buruk mereka itu abadi. Seolah-
olah kita diperingatkan dengan tiga kaum tersebut sampai kiamat nanti. Mari kita lihat ciri-ciri
arab badui:

Ciri 1: Cenderung Kafir dan Munafik

Meskipun di antara orang-orang Arab Badui ada yang beriman, namun Al Quran telah
menegaskan bahwa mereka ini lebih cenderung kepada kekafiran dan kemunafikan. Kekafiran
dan kemunafikan orang-orang Arab Badui adalah yang terburuk dan terdangkal jika
dibandingkan dengan kaum yang lain. Mereka ini juga cenderung bodoh (tidak mengerti, bebal)
dan tidak memahami hukum-hukum Islam. Dengan kata lain, mereka ini miskin hikmah dan
akalnya tumpul (sempit/dangkal). Mereka juga kikir saat diminta mengeluarkan hartanya untuk
berjihad, padahal sebetulnya mereka punya.

Orang-orang Arab Badui itu, lebih sangat kekafiran dan kemunafikannya, dan lebih wajar
tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha
mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS At Taubah 97)

Di antara orang-orang Arab Badui itu ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya
(di jalan Allah), sebagai suatu kerugian, dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu,
merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui. (QS At Taubah 98)
Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan
(juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu
(Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti
mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.
(QS At Taubah 101)

Ayat di atas terkait Perang Tabuk. Kisah detail tentang mereka bisa dibaca di QS At Taubah.

Ciri 2: Enggan Berjihad & Bodoh (dangkal)

Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: Harta dan
keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami; mereka
mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah : Maka
siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki
kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Fath 11)

Orang-orang Badui yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil
barang rampasan: Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu; mereka hendak merobah
janji Allah. Katakanlah: Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami; demikian Allah telah
menetapkan sebelumnya; mereka akan mengatakan: Sebenarnya kamu dengki kepada kami.
Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali. (QS Al Fath 15)

Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal: Kamu akan diajak untuk (memerangi)
kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka
menyerah (masuk Islam). Maka jika kamu patuhi (ajakan itu) niscaya Allah akan memberikan
kepadamu pahala yang baik dan jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling
sebelumnya, niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih. (QS Al Fath 16)

Ciri 3: Keimanannya Dipertanyakan

Orang-orang Arab Badui itu berkata: Kami telah beriman. Katakanlah: Kamu belum
beriman, tapi katakanlah kami telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu;
dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala
amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Hujuraat
14)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman)
kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad)
dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS Al
Hujurat 15)

Mereka juga berkoar-koar tentang agama mereka, padahal hati mereka ini hampir-hampir nol
dari keimanan. Maka jangan heran jika mereka berkoar koar dengan kata-kata manis tentang
agama mereka, tentang keimanan mereka, akan tetapi kita dapati akhlaq dan perilaku mereka itu
adalah jauh panggang daripada api.

Katakanlah: Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal
Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu? (QS Al Hujurat 16)

Ciri 4: Lebih Mencintai dirinya daripada diri Rasul (Egois)

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama
orang-orang yang benar. (QS At Taubah 119)

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di
sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka
lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena
mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula)
menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan
sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu
suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat
baik, (QS At Taubah 120)

Ciri 5: Cenderung Khawarij

Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya yang berkata telah mengabarkan kepada
kami Ibnu Wahb yang berkata telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim
bin Abdullah dari ayahnya bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata dan Beliau
menghadap kearah timur fitnah datang dari sini, fitnah datang dari sini, fitnah datang dari
sini, dari arah munculnya tanduk setan [Shahih Muslim 4/2228 no 2905]

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan
kepada kami Waki dari Ikrimah bin Ammar dari Salim dari Ibnu Umar yang berkata
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar dari pintu rumah Aisyah dan berkata sumber
kekafiran datang dari sini dari arah munculnya tanduk setan yaitu timur [Shahih Muslim
4/2228 no 2905]

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan
kepada kami Ali bin Mushir dari Asy Syaibani dari Yusair bin Amru yang berkata aku
bertanya kepada Sahl bin Hunaif apakah engkau mendengar Rasulullah [shallallahu alaihi
wasallam] menyebutkan tentang Khawarij? Sahl berkata aku mendengarnya, dan ia
menyisyaratkan tangannya ke arah timur [dan berkata] muncul kaum yang membaca Al Quran
dengan lisan mereka tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama
seperti anak panah yang lepas dari busurnya [Shahih Muslim 2/750 no 1068]

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan
kepada kami Husain bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Aun dari
Nafi dari Ibnu Umar yang berkata [Nabi shallallahu alaihi wasallam] bersabda Ya Allah
berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami. Para sahabat
berkata dan juga Najd kami?. Beliau bersabda disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan
disanalah muncul tanduk setan [Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman yang berkata telah mengabarkan kepada kami
Syuaib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin
Abdurrahman bahwa Abu Said Al Khudri radiallahu anhu berkata kami bersama Rasulullah
[shallallahu alaihi wasallam] dan Beliau sedang membagi harta rampasan perang, tiba-tiba
datanglah Dzul Khuwaisirah dan dia seorang laki-laki dari bani Tamim, ia berkata wahai
Rasulullah berbuat adillah!. Rasulullah [shallallahu alaihi wasallam] berkata celaka
engkau, siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil, sungguh celaka dan
rugi jika aku tidak berlaku adil. Umar berkata wahai Rasulullah izinkanlah aku memenggal
lehernya. Rasulullah [shallallahu alaihi wasallam] berkata biarkanlah ia, sesungguhnya ia
memiliki para sahabat dimana salah seorang dari kalian menganggap kecil shalat kalian
dibanding shalat mereka dan puasa kalian dibanding puasa mereka, mereka membaca Al
Quran tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti keluarnya
anak panah dari busurnya. Dilihat mata panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat
pegangan panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat batang panahnya maka tidak nampak
apapun, dilihat bulu panahnya maka tidak nampak apapun sungguh ia mendahului kotoran dan
darah. Ciri-ciri mereka adalah seorang laki-laki hitam yang salah satu lengannya seperti
payudara perempuan atau seperti daging yang bergerak-gerak dan mereka keluar saat terjadi
perselisihan di antara orang-orang. Abu Said berkata aku bersaksi bahwa aku mendengar
hadis ini dari Rasulullah [shallallahu alaihi wasallam] dan aku bersaksi bahwa Ali bin Abi
Thalib telah memerangi mereka dan ketika itu aku bersamanya, maka ia [Ali] memerintahkan
untuk mencari laki-laki itu, akhirnya orang itu ditangkap dan dibawa kehadapannya maka aku
bisa melihat ciri-ciri yang disebutkan oleh Rasulullah [shallallahu alaihi wasallam] [Shahih
Bukhari 4/200 no 3610]

Ciri 6: Bersuara Keras & Berhati Kasar

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami
Abdullah bin Muhammad Fuuraan yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin
Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Yahya bin
Said dari Salim dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam menghadap ke arah
matahari terbit seraya berkata dari sini muncul tanduk setan, dari sini muncul fitnah dan
kegoncangan dan orang-orang yang bersuara keras dan berhati kasar [Mujam Al Awsath
Thabrani 8/74 no 8003 HR Thabrani ini sanadnya Shohih]

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami
Yahya dari Ismail yang berkata telah menceritakan kepadaku Qais bin Uqbah bin Amru Abi
Masud yang berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengisyaratkan tangannya
kearah Yaman dan berkata Iman di Yaman disini dan kekerasan hati adalah milik orang-orang
Faddadin [arab badui yang bersuara keras] di belakang unta-unta mereka dari arah munculnya
tanduk setan [dari] Rabiah dan Mudhar [Shahih Bukhari no 3126]

Ciri 7: Sombong & Angkuh

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya yang berkata qaratu ala Malik dari Abi
Zanad dari Al Araj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda sumber kekafiran datang dari timur, kesombongan dan keangkuhan adalah milik
orang-orang penggembala kuda dan unta Al Faddaadin Ahlul Wabar [arab badui] dan
kelembutan ada pada penggembala kambing [Shahih Muslim 1/71 no 52]

Ulasan Kaum Munafik dalam Al Quran

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: Kami mengakui, bahwa
sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya
kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik
itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu
mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah
mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman,
kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat
mengerti. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum.
Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan
kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada
mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka;
semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari
kebenaran)? Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah
memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka
berpaling sedang mereka menyombongkan diri. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan
ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS Al Munafiqun 1-6)

Di antara manusia ada yang mengatakan: Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian,
padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu
Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang
mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya;
dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada
mereka:Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab:
Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya
mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila
dikatakan kepada mereka: Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.
Mereka menjawab: Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah
beriman? Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak
tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: Kami
telah beriman. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan:
Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok. Allah akan
(membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam
kesesatan mereka. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka
tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. Perumpamaan
mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya
Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan,
tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke
jalan yang benar), atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap
gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar
suara) petir,sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir
kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka
berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau
Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka.
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (QS Al Baqarah 8 20)
Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama,
mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang maruf dan mereka
menggenggamkan tangannya (kikir-penj). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah
melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. (QS
At Taubah 67)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani
menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang
lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya
orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang zalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam
hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya
berkata: Kami takut akan mendapat bencana. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan
kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka
menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. (QS Al Maidah 51
52)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-
saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya
kami pun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun
untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu. Dan
Allah menyaksikan bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. (QS Al Hasyr 11)

Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang- halangi di antara kamu dan
orang-orang yang berkata kepada saudara- saudaranya: Marilah kepada kami. Dan mereka
tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila
datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang
terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang,
mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat
kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang
demikian itu adalah mudah bagi Allah. Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang
bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali,
niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-
nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak
akan berperang, melainkan sebentar saja. (QS Al Ahzab 18 20)

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk
menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah
belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah
memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: Kami tidak
menghendaki selain kebaikan. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu
adalah pendusta (dalam sumpahnya). (QS At Taubah 107)

(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya
berkata: Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya. (Allah berfirman):
Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana. (QS Al Anfaal 49)

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.
Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya
(dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.
(QS An Nisaa 142)

Apabila dikatakan kepada mereka: Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah
turunkan dan kepada hukum Rasul, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi
(manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS An Nisaa 61)

Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi
sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari
padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. (QS At Taubah 58)

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) shaitan ketika dia berkata kepada
manusia: Kafirlah kamu, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: Sesungguhnya
aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam.
(QS Al Hasyr 16)

Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) vang berkata Kami
mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan. Sesungguhnya binatang (makhluk)
yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak
mengerti apa-apapun. (QS Al Anfaal 21 22)

Kesimpulan

Arah munculnya tanduk setan = arah matahari terbit = arah timur = arah
Nejd (tanah yang tinggi, negerinya orang-orang Arab Badui)

Dari sana muncul kegoncangan, fitnah, dan sumber kekafiran

Fitnah berasal dari Kaum Munafiqin Arab Badui, dengan ciri-ciri munafik,
bekerja sama dengan ahli kitab padahal sejatinya mereka saling menipu,
sombong, angkuh, bersuara keras, berhati kasar, kikir dan enggan berjihad
bersama kaum mumin, bodoh (bebal, dangkal, miskin hikmah), membaca Al
Quran tidak sampai ke hati, ibadah kaum muslimin tidak ada apa-apanya
dibandingkan mereka, dan mereka keluar dari agama.
Dalam sejarah Islam yang saya pelajari, dari wilayah ini telah muncul nabi palsu bernama
Musailamah al Kadzdzab (si pendusta) beserta orang-orang Arab Badui pengikutnya yang
langsung diperangi oleh kaum muslimin.
Dalam perang Shiffin, antara kubu Ali bin Abi Thalib dengan kubu Muawiyah (keduanya
Muslim) terdapat seorang komandan pasukan dari Ali bernama Hurkus. Dia dari Bani Tamim
dari Arab Badui. Sebagaimana karakter orang badui di atas, dia kaku, keras dan berpikiran
sempit. Laa hukma illallah (tiada hukum selain Allah), serunya. Pelanggar hukum Allah boleh
dibunuh, demikian pendapatnya. Disebabkan karena kekisruhan perang sesama muslim itu,
orang-orang yang mengikuti Hurkus keluar dari barisan dan merencanakan pembunuhan
terhadap Muawiyah dan Ali. Muawiyah berhasil selamat namun Khalifah Ali dibunuh oleh kaum
khawarij yang bodoh tapi sok tahu dan sok lurus itu.
Sejarah Wahhabisme dan berdirinya Kerajaan Saudi Arabia. Wahhabisme berasal dari Nejd.
Kerajaan ini mengalami pasang surut sebanyak tiga kali. Arab Saudi sendiri merupakan
gabungan kerajaan Nejd dengan Hijaz yang ditaklukkan dengan pasukan Arab Badui-Wahhabi
yang bernama Ikhwan (bukan Ikhwanul Muslimin yang di Mesir). Ibukota Arab Saudi pun masih
berada di Riyadh, di wilayah Nejd. Mereka dulu berperang dengan Kekhalifahan Islam Turki
Usmani. Mereka memusuhi ulama sebelumnya yang mereka anggap sebagai ulama suu (jahat)
dan membantai mereka dengan alasan ahlul bidah, kafir dsb. Inggris berada di belakang mereka
dalam upaya memecah belah umat dan wilayah Kekhalifahan Islam.
Ulasan di atas setidaknya bisa menjawab beberapa fatwa aneh wahhabi ekstrim berikut:

Fatwa jihad untuk Afghanistan 1984 ketika wilayah itu diinvasi Uni Soviet (analisa: saat
itu terjadi perang dingin antara AS dengan Uni Soviet dan perebutan pengaruh politik;
Zionis AS punya kepentingan mengamankan wilayah strategis tersebut sehingga AS
membantu Thaliban)

Fatwa jihad untuk Ambon 1999 ketika terjadi konflik horizontal di Indonesia (analisa:
sekedar catatan, wilayah tersebut sebelumnya aman dan dijadikan percontohan kerukunan
umat beragama Islam-Kristen; tahun 1998 terjadi reformasi dan 1999 adalah pemilu;
setelah rezim Soeharto, politikus Islam nyaris berkuasa. Zionis AS punya kepentingan
agar Islam Politik tidak berkuasa di Indonesia. Boleh jadi AS sengaja menciptakan citra
islamophobia)

Tidak mengeluarkan fatwa jihad ketika Afghanistan diinvasi Zionis AS 2001 (analisa:
kaum muslimin punya kepentingan yang sama sebagaimana tahun 1984, tetapi mengapa
kali ini tidak dibela? Apakah karena musuhnya Zionis AS? Bukankah yang diperangi
adalah orang-orang mereka sendiri yang dulu jihad di tahun 1984, yakni Thaliban?)

Tidak mengeluarkan fatwa jihad ketika Iraq diinvasi Zionis AS 2003 (analisa:
kepentingan kaum muslimin bertentangan dengan kepentingan zionis AS, maka apakah
mereka bingung sehingga tidak mengeluarkan fatwa jihad???)

Tidak mengeluarkan fatwa jihad ketika Chechnya diinvasi Rusia (Analisa: ada
kepentingan kaum muslimin tetapi tidak ada kepentingan Zionis, jadi apakah ini jadi
sebab tidak perlu dikeluarkannya fatwa jihad???)
Tidak mengeluarkan fatwa jihad ketika Palestina dicaplok Zionis Israel, bahkan Syaikh
M. Nasiruddin al-Albani, yang dianggap oleh mayoritas Wahhabi-Salafi ekstrim sebagai
ulama terbesar mereka, telah mengeluarkan sebuah fatwa aneh bahwa semua kaum
muslim di Palestina, Libanon Selatan, dan Dataran Tinggi Golan harus
meninggalkan tanah/negeri mereka secara massal dan pergi ke tempat lain. Alasan
dia (dan dia tetap memegangnya) bahwa setiap Negeri Muslim yang diduduki/dijajah
oleh orang Non-Muslim maka menjadi Negeri Non-Muslim. Oleh karenanya setiap
Muslim dilarang tinggal/menetap di situ. Selain itu, mereka juga dikabarkan
mengharamkan kaum muslimin untuk membantu Hamas dan Hizbullah yang berjihad
mengusir Zionis Israel. Ketika beberapa orang menanyakan kepadanya, dengan terheran-
heran, bahwa tidak akan ada satu negara pun di dunia yang mau menampung orang-
orang/bangsa Palestina, bahkan Saudi Arabia pun, dia mengatakan: Mereka mungkin
bisa mencoba pergi ke Sudan, di sana mereka mungkin akan ditampung.
Seandainya fatwa tersebut dikeluarkan saat Indonesia belum merdeka, niscaya yang
mentaatinya hanyalah kaum munafiqin dan pengecut. Lihatlah kaum muslimin Indonesia!
Dari dulu sampai merdeka, (insya Allah sampai kapan pun) kita tetap berani dan gigih
berjihad mengusir penjajah dan pantang berhijrah ke negeri yang lebih aman. Hijrah
dalam kondisi seperti itu hanya dilakukan oleh kaum pengecut dan kaum munafikin yang
enggan untuk berjihad atau kalaupun mau berjihad hanyalah sebentar. Hadits riwayat
Mujasyi` bin Mas`ud As-Sulami ra., ia berkata: Aku datang menghadap Nabi saw. untuk
membaiat beliau untuk berhijrah. Beliau bersabda: Sesungguhnya hijrah telah berlalu
bagi orang-orang yang telah melaksanakannya, tetapi masih ada hijrah untuk tetap setia
pada Islam, jihad serta kebajikan. (Shahih Muslim No.3465) Hadis riwayat Ibnu Abbas
ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda pada hari penaklukan, yaitu penaklukan kota
Mekah: Tidak ada lagi hijrah, yang ada ialah jihad dan niat. Maka bila kamu sekalian
diperintahkan berperang, peranglah! (Shahih Muslim No.3467)
Bagaimana sikap kita terhadap mereka?

Ternyata Islam bukan hanya mengabarkan bahwa orang-orang Arab Badui itu cenderung
munafik dan kafir melainkan juga khawarij, anjing-anjing neraka, seburuk-buruk umat yang
mengaku Islam. Mereka itulah biang kerok perusak citra Islam dengan aksi-aksi terorisme dan
aksi-aksi memecah belah umat! Mereka itulah Islam radikal yang ekstrim kanan. Hati mereka
telah terkunci, termasuk dalam memahami tulisan ini. Mereka dangkal dalam memahami Al
Quran, Sunnah, Bukti, Fakta, Realitas dan Sejarah. Itu disebabkan karena Allah telah mengunci
mati hati mereka. Ingatlah, Sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan,
tetapi mereka tidak sadar. Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak
tahu. Allah akan membalas olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing
dalam kesesatan mereka.

Kita akan kesulitan mengenali kesesatan mereka yang keluar dari agama ini. Dilihat dari apapun,
kesesatannya sulit dikenali sebagaimana perumpamaan yang Rasulullah sabdakan Dilihat mata
panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat pegangan panahnya maka tidak nampak apapun,
dilihat batang panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat bulu panahnya maka tidak nampak
apapun.

Kita tidak perlu mengolok-olok mereka dengan label munafik, fasik, sesat, ahlul bidah apalagi
kafir. Meskipun kita dapati bahwa mereka memang benar-benar seperti itu. Cukuplah itu
menambah keimanan kita bahwa Allah tidak berdusta dengan Al Quran dan Rasulullah tidak
main-main dengan peringatannya. Sebab, jika kita memberikan label seperti itu, takutnya nanti
jika kita salah orang maka tuduhan itu akan berbalik ke kita. Apalagi jika kita sudah mengatakan
kafir. Maka, mengkafirkan orang sembarangan adalah jalan tol tercepat menuju kekafiran.

Katakanlah (hai Muhammad) : Biarlah setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-
masing, karena Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih lurus (jalan yang ditempuhnya).
(Al-Isra : 84)

.janganlah kamu merasa sudah bersih, Dia (Allah) lebih mengetahui siapa yang bertaqwa.
(An-Najm : 32)

Barangsiapa yang berkata pada saudaranya hai kafir kata-kata itu akan kembali pada salah
satu diantara keduanya. Jika tidak (artinya yang dituduh tidak demikian) maka kata itu kembali
pada yang mengucapkan (yang menuduh). (HR Bukhori & Muslim)

Saya sendiri sebetulnya ingin bersikap lemah lembut terhadap mereka. Supaya hati-hati mereka
tertarik dan kembali ke dalam jamaah kaum muslimin. Namun, Allah lebih tahu mana yang
terbaik dan benar untuk kita lakukan dan kita pun harus taat. Katakanlah: Kami dengar dan
kami taat

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap
keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali
yang seburuk-buruknya. (QS At Taubah 73)

Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah
terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat
kembali. (QS At Tahrim 9)

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang
munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha
mereka sendiri ? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah
disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan
jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. (QS An Nisaa 88)

Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam
hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu),
niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi
tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Di
mana saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan sehebat-hebatnya. Sebagai
sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu
sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. (QS Al Ahzab 60 62)

Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi
mereka karunia yang besar dari Allah. Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir
dan orang- orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan
bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung. (QS Al Ahzab 48)

Hai orang-orang khawarij, kaum munafiqin, dan orang-orang yang pandai bicara tapi bodoh
akhlaqnya, saksikanlah bahwa aku menghunuskan pedang ke arah kepalamu! Tidak akan aku
tebas lehermu sampai imam kaum muslimin memerintahkan untuk berjihad menghancurkanmu!
Tidak pula aku sarungkan pedangku sampai engkau bertaubat dan kembali ke dalam jamaah
kaum muslimin! Sesungguhnya jamaah kaum muslimin ini bisa dikenali dari sikap mereka yang
lemah lembut terhadap sesama mumin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Kaum
muslimin adalah umat yang adil dan pertengahan. Tidaklah ada kaum yang mampu mengalahkan
ibadah kaum muslimin kecuali orang-orang khawarij !!! (maksudnya sebagian kaum muslimin
meremehkan ibadahnya dibandingkan ibadah kaum khawarij) Sesungguhnya hari ini kami
bersikap keras dengan lidah kami terhadap orang-orang munafik. Maka bertaubatlah sebelum
Allah mengizinkan kami untuk bersama-sama memerangi kalian dengan pedang (senjata)
kami !!! Bertaubatlah, lakukan perbaikan, bersatulah, dan ikhlaslah dalam beragama !!!

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari
neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali
orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama)
Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah
bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang
beriman pahala yang besar. (QS An Nisa 145 146)

Maka cukuplah kita bersikap keras dengan lidah kita, tetapi dengan penuh kehati-hatian menjaga
lidah serta tidak perlu menghiraukan gangguan mereka. Cukuplah kita bertawakal kepada Allah
dan Allah adalah sebaik-baik penolong.

n.b. Tulisan di atas boleh jadi benar, boleh jadi salah. Sebab penulis hanya manusia biasa yang
tidak lepas dari salah dan lupa. Saya berusaha seadil-adilnya agar tidak jatuh pada
generalisasi yang salah. Kebetulan background saya psikologi jadi observasidan analisa saya
lebih cenderung menekankan aspek perilaku dan akhlaq. Tentu dengan mendahulukan Al
Quran dan As sunnah yang ternyata lebih kuat dan sejalan dalam hal ini. Terakhir, ambillah
pendapatku jika sesuai dengan Al Quran dan Sunnah. Tinggalkan jika menyalahi keduanya.
Semoga Allah senantiasa memberikan kita petunjuk dan rahmat-Nya. Semoga Allah menjauhkan
kita dari kemunafikan. Sebab tidaklah merasa aman dari sifat ini kecuali orang-orang munafik.
Semoga Allah menyatukan hati kita dalam tali ukhuwah islamiyah. Semoga Allah membersihkan
barisan kaum mumin dari kaum munafiqin.

Baca juga: Fitnah Akhir Zaman dari Arab Saudi dan Ciri-Ciri Firqah Pengikut Ahli Kitab

Studi Kritis Atas Buku | Sejarah Berdarah Sekte


Salafi Wahabi
Juni 30, 2011 27 Komentar

Studi Kritis Atas Buku

Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi


Telah sampai kepada kami beberapa usulan pembaca agar kami mengkritik sebuah buku yang
beredar akhir-akhir ini yang dipublikasikan secara gencar dan mendapatkan sanjungan serta kata
pengantar dari para tokoh. Oleh karenanya, untuk menunaikan kewajiban kami dalam menasihati
umat, kami ingin memberikan studi kritis terhadap buku ini, sekalipun secara global saja sebab
tidak mungkin kita mengomentari seluruh isi buku rang penuh dengan syubhat tersebut dalam
majalah kita yang terbatas ini. Semoga Alloh menampakkan kebenaran bagi kita dan
melapangkan hati kita untuk menerimanya.

JUDUL BUKU DAN PENULISNYA

Judul buku ini adalah Sejarah Berdarah Sekfe Salafi Wahabi, ditulis oleh Syaikh Idahram,
penerbit Pustaka Pesantren, Yogyakarta, cetakan pertama, 2011. Buku ini mendapatkan
rekomendasi tiga tokoh agama yang populer namanva yaitu KH. Dr. Said Agil Siraj, KH. Dr.
Maruf Amin, dan Muhammad Arifin Ilham.

AQIDAH WAHABI ADALAH TAJSIM?

Pada hlm. 234 penulis mengatakan:

Akidah Salafi Wahabi adalah aqidah Tajsim dan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk)
yang sama persis dengan akidah orang-orang Yahudi. Dalil-dalil mereka begitu rapuhnya,
hanya mengandalkan hadits-hadits ahad dalam hal akidah.

Jawaban:
Ini adalah tuduhan dusta, sebab aqidah mereka dalam asrna wa shifat sangat jelas mengimani
nama dan sifat Alloh yang telah disebutkan al-Quran dan hadits yang shohih tanpa tahrif
(pengubahan), tathil (pengingkaran), takyif (menanyakan hal/kaifiat), maupun tamtsil
(penyerupaan).[1] Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Alloh:

Tidak ada yang serupa dengan Dia. Dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS.
asy-Syuro [42]: 11)

Inilah aqidah ulama-ulama salaf, di antaranya al-Imam asy-Syafii, beliau pernah berkata:

Kita menetapkan sifat-sifat ini yang disebutkan dalam al-Quran dan as-Sunnah dan kita juga
meniadakan penyerupaan sebagaimana Alloh meniadakan penyerupaun tersebut dari diri Nya
dalam firman-Nya (yang artinya), Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. (QS. Asy-
Syuro [42 : 11).[2]

Namun, jangan merasa aneh dengan tuduhan ini, karena demikianlah perilaku ahli ahwa
semenjak dulu. Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr berkata, Seluruh Ahlus Sunnah telah bersepakat
untuk menetapkan sifat-sifat yang terdapat dalam al-Quran dan as-Sunnah serta mengartikannya
secara zhohirnya. Akan tetapi, mereka tidak rnenggambarkan bagaimananya/bentuknya
sifatsifat tersebut. Adapun Jahmiyyah, Mutazilah, dan Khowarij mengingkari sifat-sifat Alloh
dan tidak mengartikannya secara zhohirnya. Lucunya, mereka menyangka bahwa orang yang
menetapkannya termasuk Musyabbih (kaum yang menyerupakan Alloh dengan makhluk).[3]

Semoga Alloh merahmati al-Imam Abu Hatim ar-Rozi yang telah mengatakan, Tanda ahli
bidah adalah mencela ahli atsar. Dan tanda Jahmiyyah adalah menggelari Ahli Sunnah dengan
Musyabbihah.[4]

lshaq bin Rohawaih mengatakan, Tanda Jahm dan pengikutnya adalah menuduh Ahli Sunnah
dengan penuh kebohongan dengan gelar Musyabbihah padahal merekalah sebenarnya
Muaththilah (menidakan/mengingkari sifat bagi Alloh).[5]

PEMBAGIAN TAUHID BIDAH?

Pada him. 236 penulis mengatakan:

Pembagian tauhid kepada tauhid Uluhiyah dan tauhid Rububiyah diciptakan oleh Ibnu
Taimiyyah al-Harroni (w. 728 H) setelah 8 abad berlalu dari masa Rasulullah. Pernyataan yang
seperti ini tidak pernah ada di zaman Rasulullah, para sahabat, tabiin, tabii tabiin maupun
ulama-ulama salaf terdahulu, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal, bahkan tidak terdapat juga
dalam karya murid-murid Imam Ahmad yang terkenal seperti Ibnul Jauzi dan al-Hafizh Ibnu
Katsir. Demikianlah Salafi Wahabi mengklaim selalu mengikuti salaf shalih tetapi kenyataannya
tidak ada seorangpun dari Salaf Shalih yang membagi tauhid kepada pembagian seperti ini. Lagi-
lagi, Salafi Wahabi melempar Al-Quran, Sunnah dan Salaf Shalih ke tong sampah.

Jawaban:

Pembagian para ulama bahwa tauhid terbagi menjadi tiga: Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah,
Asma wa Shifat adalah berdasarkan penelitian yang saksama terhadap dalil-dalil al-Quran dan
hadits Nabi Pembagian ini bukanlah perkara baru (baca: bidah)[6], tetapi pembagian ini
berdasarkan penelitian terhadap dalil. Hal ini persis dengan perbuatan para ulama ahli Bahasa
yang membagi kalimat menjadi tiga: isim, fill, dan huruf.[7]

Bahkan, banyak sekali ayat-ayat yang menggabung tiga macam tauhid ini bagi prang yang mau
mencermatinya, seperti firman Alloh:

Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka
sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui
ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? (QS. Maryam [79]: 65)

Firman-Nya Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya
menunjukkan tauhid rububiyyah. Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah
kepada-Nya menunjukkan tauhid uluhiyyah. Apakah kamu mengetahui sesuatu yang serupa
denganNya menunjukkan tauhid asma wa shifat.[8]

Lebih dari itu -jika kita jeli- surah pertama dalam al-Quran (al-Fatihah) mengandung tiga jenis
tauhid ini, juga akhir surat dalam al-Quran (an-Nas). Seakan-akan hal itu mengisyaratkan
kepada kita bahwa kandungan al-Quran adalah tiga jenis tauhid ini.[9] Syaikh Hammad al-
Anshori berkata, Alloh membuka kitab-Nya dengan Surah aI-Fatihah yang berisi tentang
pentingnya tauhid dan menutup kitab-Nya dengan Surah an-Nas yang berisi tentang pentingnya
tauhid. Hikmahnya adalah wahai sekalian manusia sebagaimana kalian hidup di atas tauhid maka
wajib bagi kalian mati di atas tauhid.[10]

Demikian juga, banyak ucapan para ulama salaf yang menunjukkan pembagian ini, seandainya
kami menukilnya niscaya tidak akan termuat dalam majalah ini. Dalam kitabnya al-
Mukhtashorul Mufid fi Bayani Dalail Aqsami Tauhid, Syaikh Dr. Abdurrozzaq bin Abdul
Muhsin al-Abbad menukil ucapan-ucapan ulama salaf yang menetapkan klasifikasi tauhid
menjadi tiga ini, seperti al-Imam Abu Hanifah (w. 150 H), Ibnu Mandah (182 H), Ibnu Jarir (310
H), ath-Thohawi (w. 321 H), Ibnu Hibban (354 H), Ibnu Baththoh (387 H), Ibnu Khuzaimah
(395 H), ath-Thurtusi (520 H), al-Qurthubi (671 H). Lantas, akankah setelah itu kita percaya
dengan ucapan orang yang mengatakan bahwa klasifikasi ini baru dimunculkan oleh Ibnu
Taimiyyah pada abad kedelapan Hijriah seperti pernyataan penulis?! Pikirkanlah wahai orang
yang berakal!!!
KAKAK SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB

Pada hlm. 34 penulis mengatakan:

Sebaliknya, karena keyakinan menyimpangnya itu, kakaknya yang bersama Sulaiman ibnu Abdil
Wahhab mengkritik fahamnya yang nyeleneh dengan begitu pedas, melalui dua bukunya, ash-
Shawaiq al-Ilahiyyah fi ar-Raddi ala al-Wahhabiyah dan kitab Fashlu al-Khitab fi ar-Radi ala
Muhammad bin Abdil Wahhab. Dua bukunya itu dirasa penting untuk di tulis, melihat adiknya
yang sudah jauh menyimpang dari ajaran Islam dan akidah umat secara umum.

Jawaban:

Benar, kami tidak mengingkari bahwa Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, saudara Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab termasuk orang yang menentang dakwah beliau. Namun, ada dua
poin yang perlu diperhatikan bersama untuk menanggapi hal ini:

Pertama: Antara Nasab dan Dakwah yang Benar

Kita harus ingat bahwa adanya beberapa kerabat atau keluarga yang menentang dakwah tauhid
bukanlah suatu alasan batilnya dakwah yang haq. Tidakkah kita ingat bahwa para nabi, para
sahabat, para ahli tauhid, dan sebagainya, ada saja sebagian dari keluarga mereka baik bapak,
anak, saudara, atau lainnya yang memusuhi dakwah mereka?! Kisah Nabi Nuh dengan anak dan
istrinya, Nabi Ibrahim dan ayahnya, Nabi Muhammad dan pamannya merupakan kisah yang
populer di kalangan masyarakat. Apakah semua itu menghalangi kebenaran dakwah tauhid,
wahai hamba Alloh?! Sungguh benar sabda Nabi :

Barang siapa amalnya lambat, maka nasabnya tidak bisa mempercepatnya.[11]

Kedua: Kembalinya Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab

Mayoritas ulama[12] mengatakan bahwa Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab telah bertaubat dan
menerima dakwah tauhid, sebagaimana disebutkan Ibnu Ghonnam[13], Ibnu Bisyr[14], Syaikh
Dr. Muhammad bin Saad as-Syuwair[15], dan sebagainya. Apakah hal ini diketahui oleh
musuh-musuh dakwah?! Ataukah kebencian telah mengunci hati mereka?! Alangkah bagusnya
apa yang dikatakan oleh Syaikh Masud an-Nadwi, Termasuk orang yang menentang dakwah
beliau (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) adalah saudaranya sendiri, Sulaiman bin Abdul
Wahhab (wafat 1208 H) yang menjadi qadhi di Huraimila sebagai pengganti ayahnya. Dia
menulis beberapa tulisan berisi bantahan kepada saudaranya, Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab, yang dipenuhi dengan kebohongan. Dan sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ghonnam
bahwa dia menyelisihi saudaranya hanya karena dengki dan cemburu saja. Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab telah menulis bantahan terhadap tulisan-tulisannya, tetapi pada akhirnya
Alloh memberinya hidayah, (sehingga dia) bertaubat dan menemui saudaranya di Dariyyah
pada tahun 1190 H yang disambut baik dan dimuliakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab. Ada buku Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab yang tercetak dengan judul ash-
Showaiq IIahiyyah fi ar-,Roddi ala Wahhabiyyah. Musuh-musuh tauhid sangat gembira dengan
buku ini, namun mereka sangat malu untuk menyebut taubatnya Sulaiman.[16]

MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB GEMAR MEMBACA KITAB NABI PALSU?

Pada him. 34 penulis mengatakan:

Selain itu, Ibnu Abdul Wahhab juga gemar membaca berita dan kisah-kisah para pengaku
kenabian seperti Musailamah al-Kadzdzab, Sajah, Aswad alUnsi dan Thulaihah al-Asadi.

Jawaban:

Syaikh Sulaiman bin Sahman berkata membantah tuduhan ini: lni juga termasuk kebohongan
dan kedustaan. Yang benar, beliau gemar membaca kitab-kitab tafsir dan hadits sebagaimana
beliau katakan sendiri dalam sebagian jawabannya, Dalam memahami Kitabulloh, kita dibantu
dengan membaca kitab-kitab tafsir populer yang banyak beredar, yang paling bagus menurut
kami adalah tafsir Muhammad bin Jarir ath-Thobari dan ringkasannya karya Ibnu Katsir asy-
Syafii, demikian pula al-Baidhowi, aI-Baghowi, Al-Khozin, al-Jalalain, dan sebagainya. Adapun
tentang hadits, kita dibantu dengan membaca syarah-syarah hadits seperti syarah al-Qostholani
dan al-Asqolani terhadap Shohih al-Bukhori, an-Nawawi terhadap (Shohih) Muslim, al-Munawi
terhadap al-jami ash-Shoghir, dan kitab-kitab hadits lainnya, khususnya kutub sittah (enam kitab
induk hadits) beserta syarahnya, kita juga gemar menelaah seluruh kitab dalam berbagai bidang,
ushul dan kaidah, siroh, shorof, nahwu, dan semua ilmu umat.[17]

PEMBUNUHAN DAN PENGKAFIRAN

Pada hlm. 61-138 penulis menguraikan panjang lebar bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab melakukan pembunuhan dan pengkafiran terhadap kaum muslimin, termasuk ulama.
Inilah yang menjadi inti buku tersebut.

Jawaban:

Demikian penulis artikel memuntahkan isi hatinya tanpa kendali!! Aduhai alangkah murahnya
dia mengobral kebohongan dan melempar tuduhan!! Tidakkah dia sedikit takut akan adzab dan
mengingat akibat para pendusta yang akan memikul dosa?! Tidakkah dia menyadari bahwa dusta
adalah ciri utama orang-orang yang hina?!!

Tuduhan yang satu ini begitu laris-manis tersebar semenjak dahulu hingga kini, padahal Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri telah menepis tuduhan ini dalam banyak kesempatan.
Terlalu panjang kalau saya nukilkan seluruhnya,[18] maka kita cukupkan di sini sebagian saja:
1. Dalam suratnya kepada penduduk Qoshim, beliau memberikan isyarat
terhadap tuduhan musuh bebuyutannya (Ibnu Suhaim), dan berlepas diri dari
tuduhan keji yang dilontarkan kepada beliau. Beliau berkata, Alloh
mengetahui bahwa orang tersebut telah menuduhku yang bukan-bukan,
bahkan tidak pernah terbetik dalam benakku, di antaranya dia mengatakan
bahwasanya aku mengatakan, Manusia sejak 600 tahun silam tidak dalam
keislaman, aku mengkafirkan orang yang bertawassul kepada orang-orang
sholih, aku mengkafirkan al-Bushiri, aku mengkafirkan orang yang bersumpah
dengan selain Alloh. Jawabanku terhadap tuduhan ini, Maha Suci Engkau
ya Robb kami, sesungguhnya ini kedustaan yang amat besar.[19]

2. Demikian juga dalam suratnya kepada Syaikh Abdurrohman as-Suwaidi -salah


seorang ulama Irak- mengatakan bahwa semua tuduhan tersebut adalah
makar para musuh yang ingin menghalangi dakwah tauhid. Beliau berkata,
Mereka mengerahkan Bala tentaranya yang berkuda dan berjalan kaki untuk
memusuhi kami, di antaranya dengan menyebarkan kebohongan yang
seharusnya orang berakaI pun malu untuk menceritakannya, apalagi
menyebarkannya, salah satunya adalah apa yang Anda sebutkan, yaitu
bahwa saya mengkafirkan seluruh manusia kecuali yang mengikuti saya, dan
saya menganggap bahwa pernikahan mereka tidak sah. Aduhai,
bagaimana bisa haI ini diterima oleh seorang yang berakal sehat?
Adakah seorang muslim, kafir, sadar maupun gila sekalipun yang
berucap seperti itu?![20]

3. Syaikh Abdulloh bin Muhammad bin Abdul Wahhab membantah tuduhan di


atas, Adapun tuduhan yang didustakan kepada kami dengan tujuan untuk
menutupi kebenaran dan menipu manusia bahwa kami mengkafirkan
manusia secara umum, manusia yang semasa dengan kami dan orang-orang
yang hidup setelah tahun enam ratusan kecuali yang sepaham dengan kami.
Berekor dari itu, bahwa kami tidak menerima baiat seorang kecuali setelah
dia mengakui bahwa dirinya dahulu adalah musyrik, demikian pula kedua
orang tuanya mati dalam keadaan syirik kepada Alloh semua ini hanyalah
khurofat yang jawaban kami seperti biasanya, Maha Suci Engkau ya Alloh, ini
adalah kebohongan yang nyata. Barang siapa menceritakan dari kami
seperti itu atau menisbatkan kepada kami maka dia telah berdusta dan
berbohong tentang kami. Barang siapa menyaksikan keadaan kami dan
menghadiri majelis ilmu kami serta bergaul dengan kami, niscaya dia akan
mengetahui secara pasti bahwa semua itu adalah tuduhan palsu yang
dicetuskan oleh musuh-musuh agama dan saudara-saudara setan untuk
melarikan manusia dari ketundukan dan memurnikan tauhid hanya kepada
Alloh saja dengan ibadah dan meninggalkan seluruh jenis kesyirikan.[21]

4. Syaikh Sulaiman bin Sahman berkata, Sesungguhnya Syaikh Muhammad bin


Abdul Wahhab meniti jalan yang ditempuh oleh Nabi para sahabat, dan para
imam pendahulu. Beliau tidak mengkafirkan kecuali orang yang telah
dikafirkan Allah dan Rosul-Nya dan disepakati kekufurannya oleh umat. Beliau
mencintai seluruh ahli Islam dan ulama mereka. Beliau beriman dengan
setiap kandungan al-Quran dan hadits shohih. Beliau juga melarang keras
dari menumpahkan darah kaum muslimin, merampas harta dan kehormatan
mereka. Barang siapa menisbatkan kepada beliau hal yang berseberangan
dengan Ahli Sunnah wal Jamaah dari kalangan salaf umat ini maka dia telah
dusta serta berkata tanpa dasar ilmu.[22]

BEKERJA SAMA DENGAN INGGRIS MERONGRONG KEKHOLIFAHAN TURKI


UTSMANI

Pada hlm. 120 penulis membuat judul Wahabi bekerja sama dengan inggris merongrong
kekholifahan Turki Utsmani.

Jawaban:

Demikianlah, mereka tidak memiliki modal dalam dialog ilmiah kecuali hanya tuduhan dan ke-
dustaan semata. Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tatkala mengatakan;
Semua bentuk kesyirikan dan beragam corak kebidahan dibangun di atas kebohongan dan
tuduhan dusta. Oleh karenanya, setiap prang yang semakin jauh dari tauhid dan sunnah, maka dia
akan lehih dekat kepada kesyirikan, kebidahan, dan kedustaan.[23] Dan alangkah benarnya
ucapan al-Hafizh Ibnul Qoyyim

Janganlah engkau takut akan tipu daya musuh

Karena senjata mereka hanyalah kedustaan[24]

Beberapa sosok setan berwujud manusia dari orang-orang Eropa berpikir tentang akibat yang
akan menimpa mereka jika dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung pemerintahan
Suud (Saud) pertama memperluas pengaruhnya. Mereka melihat bahwa apa yang dilakukan oleh
pemerintah Suud akan mengancam kepentingan mereka di kawasan timur secara umum.

Oleh karma itu, tidak ada jalan lain kecuali menghancurkan pemerintahan ini. Mereka pun
menempuh berbagai daya dan upaya di dalam menghancurkan dakwah salafiyyah ini, di anta-
ranya adalah:

Pertama: Penebaran opini publik di tengah negeri Islam melawan dakwah Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab. Maka bangkitlah para penganut bidah dan khurofat memerangi dakwah
Syaikh. Mereka adalah golongan mayoritas di saat itu, yang paham quburiyyun, khurofiyyun,
bidah, dan syirik telah mendarah daging di dalarn hati mereka, bahkan parahnya kesultanan
Ustmaniyyah generasi akhir adalah termasuk pemerintahan yang mendukung kesyirikan dan
kebidahan ini. Ini semua terjadi setelah Inggris dan Francis menyebarkan fatwa yang mereka
ambil dari ulama su (jahat) yang memfatwakan bahwa apa yang didakwahkan oleh Syaikh al-
Imam adalah rusak.[25]

Kedua: Mereka menebarkan fitnah antara gerakan Syaikh al-Imam dengan pemimpin kesul-
tanan Utsmaniyyah. Orang-orang Inggris dan Francis menebarkan racun ke dalam pikiran Sultan
Mahmud II, bahwa gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bertujuan untuk
memerdekakan jazirah Arab dan memisahkan diri dari kesultanan. Sultan pun merespons dan
herupaya memberangus gerakan Syaikh, padahal seharusnya beliau meragukan nasihat dari
kaum kuffar ini, lalu meneliti dan melakukan investigasi terhadap berita ini.[26]

Sesungguhnya Inggris dan Francis mulai dari awal telah membenci gerakan Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab, terlebih setelah pemerintah Alu (KeIuarga) Suud beserta orang-orang
Qowashim mampu melakukan serangan telak terhadap Armada Inggris pada tahun 1860 M
sehingga perairan Teluk berada di bawah kekuasaannya.[27] Sesungguhnya asas-asas Islam yang
murni menjadi fondasi dasar pemerintahan Suud pertama, dan tujuan utama didirikannya negara
ini adalah untuk melawan kejahatan orang-orang asing di kawasan itu.[28]

Sungguh sangat jauh panggang dari api apabila dikatakan bahwa Muhammad bin Abdul
Wahhab adalah dakwah boneka atau antek-antek Inggris, padahal dengan menyebarnya dakwah
yang diberkahi ini ke pelosok dunia lain, melahirkan para pejuang-pejuang Islam. Di India,
Syaikh Ahmad Irfan dan para pengikutnya adalah gerakan yang pertama kali membongkar
kebobrokan Mirza GhuIam Ahmad al-Qodiyani (pendiri gerakan Ahmadiyah) yang semua orang
tahu bahwa Qodiyaniyah ini adalah kepanjangan tangan dari kolonial Inggris. Mereka juga
memekikkan jihad memerangi kolonial Inggris saat itu di negeri mereka.[29] Di Indonesia,
tercatat ada Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Nan Renceh, Tuanku Nan Gapuk, dan selainnya yang
memerangi bidah, khurofat, dan maksiat kaum adat sehingga meletuslah Perang Padri, dan
mereka semua ini adalah para pejuang Islam yang memerangi kolonialisme Belanda.[30] Belum
lagi di Mesir, Sudan, Afrika, dan belahan negeri lainnya, yang mereka semua adalah para
pejuang Islam yang membenci kolonialisme kaum kuffar Eropa.[31]

CIRI KHAS WAHABI CUKUR PLONTOS?

Pada hlm. 139-180 penulis membawakan judul hadits-hadits Rosululloh tentang salafy wahabi,
di antaranya pada hlm. 164 penulis mengatakan ciriciri mereka adalah cukur plontos; sehingga
pada him. 167 penulis mengatakan:

Ini adalah teks hadits yang sangat jelas tertuju kepada faham Muhammad bin Abdul Wahhab.
Semasa hidupnya dahulu, dia telah memerintahkan setiap pengikutnya untuk mencukur habis
rambut kepalanya sebelum mengikuti fahamnya.

Jawaban:

Tuduhan ini sangat mentah, tujuan di balik itu sangat jelas, yaitu melarikan manusia dari dakwah
yang disebarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Aduhai, alangkah beraninya penulis
dalam memanipulasi hadits Rosululloh dan menafsirkannya sesuai dengan selera hawa nafsunya
semata!! Seperti inikah cara Anda dalam beragumentasi wahai hamba Alloh?!!
Syaikh Abdulloh bin Muhammad bin Abdul Wahhab berkata tatkala membantah tuduhan bahwa
ulama dakwah mengkafirkan orang yang tidak mencukur rambut kepalanya, Sesungguhnya ini
adalah kedustaan dan kebohongan tentang kami. Seorang yang beriman kepada Alloh dan hari
akhir tidak mungkin melakukan hal ini, sebab kekufuran dan kemurtadan tidaklah terealisasikan
kecuali dengan mengingkari perkara-perkara agama yang malum bi dhoruroh (diketahui oleh
semua). Jenis-jenis kekufuran baik berupa ucapan maupun perbuatan adalah perkara yang
maklum bagi para ahli ilmu. Tidak mencukur rambut kepala bukanlah termasuk di antaranya
(kekufuran atau kemurtadan), bahkan kami pun tidak berpendapat bahwa mencukur rambut
adalah sunnah, apalagi wajib, apalagi kufur keluar dari Islam bila ditinggalkan.[32]

NEJED, TEMPAT KELUARNYA TANDUK SETAN

Pada hlm. 151-152 penulis membawakan hadits bahwa sumber fitnah berasal dari Nejed, dan
dari Nejed muncul dua tanduk setan, sehingga pada hlm. 156 penulis menukil ucapan Sayyid
Alwi al-Haddad bahwa sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dua tanduk setan itu
tiada lain adalah Musailamah al-Kadzdzab dan Muhammad bin Abdul Wahhab.

Jawaban: [33]

Sebenarnya apa yang dilontarkan oleh saudara penulis di atas bukanlah suatu hal yang baru,
melainkan hanyalah daur ulang dari para pendahulunya yang mempromosikan kebohongan ini,
dari orang-orang yang hatinya disesatkan Alloh. Semuanya berkoar bahwa maksud Nejed
dalam hadits-hadits di atas adalah Hijaz dan maksud fitnah yang terjadi adalah dakwahnya
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab!!!

Kebohongan ini sangat jelas sekali bagi orang yang dikaruniai hidayah ilmu dan diselamatkan
dari hawa nafsu, ditinjau dari beberapa segi:

1. 1. Hadits itu saling menafsirkan

Bagi orang yang mau meneliti jalur-jalur hadits ini dan membandingkan lafazh-lafazhnya,
niscaya tidak samar lagi bagi dia penafsiran yang benar tentang makna Nejed dalam hadits ini.
Dalam lafazh yang dikeluarkan al-Imam ath-Thobroni dalam al-Mujam al-Kabir: 12/384 no.
13422 dari jalur Ismail bin Masud dengan sanad hasan: Menceritakan kepada kami Ubaidulloh
bin Abdillah bin Aun dari ayahnya dari Nafi dari lbnu Umar dengan lafazh:

Ya Alloh berkahilah kami dalam Syam kami, ya Alloh berkahilah kami dalam Yaman kami.
Beliau mengulanginya beberapa kali, pada ketiga atau keempat kalinya, para sahabat berkata,
Wahai Rasulullah! Dalam Irak kami? Beliau menjawab, Sesungguhnya di sana terdapat
kegoncangan dan fitnah dan di sana pula muncul tanduk setan.
Syaikh Hakim Muhammad Asyrof menulis buku khusus mengenai hadits ini berjudul Akmal al-
Bayan fl Syarhi Hadits Najd Qornu Syaithon. Dalam kitab ini beliau mengumpulkan
riwayatriwayat hadits ini dan menyebutkan ucapan para ulama ahli hadits, ahli Bahasa, dan ahli
geografi, yang pada akhirnya beliau membuat kesimpulan bahwa maksud Nejed dalam hadits ini
adalah Irak. Berikut kami nukilkan sebagian ucapannya, Maksud dari hadits-hadits di muka
bahwa negeri-negeri yang terletak di timur kota Madinah Munawwaroh[34] ; adalah sumber
fitnah dan kerusakan, markas kekufuran dan penyelewengan, pusat kebidahan dan kesesatan.
Lihatlah di peta Arab dengan cermat, niscaya akan jelas bagi Anda bahwa negara yang terletak di
timur Madinah adalah Irak saja, tepatnya kota Kufah, Bashrah, dan Baghdad.[35]

Dalam tempat lainnya beliau mengatakan, Ucapan para pensyarah hadits, ahli Bahasa, dan
pakar geografi dapat dikatakan satu kata bahwa Nejed bukanlah nama suatu kota tertentu, namun
setiap tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya maka ia disebut Nejed.[36]

1. 2. Sejarah dan fakta

Sejarah dan fakta lapangan membuktikan kebenaran hadits Nabi di atas bahwa Irak adalah
sumber fitnah[37] baik yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, seperti keluarnya Yajuj
dan Majuj, Perang jamaI, Penang Shiffin, fitnah Karbala, tragedi Tatar. Demikian pula
munculnya kelompok-kelompok sesat seperti Khowarij yang muncul di kota Haruro (kota dekat
Kufah), Rofidhoh (hingga sekarang masih kuat), Mutazilah, jahmiyyah, dan Qodariyyah, awal
munculnya mereka adalah di Irak sebagaimana dalam hadits pertama Shohih Muslim.

1. 3. Antara kota dan penghuninya

Anggaplah seandainya Nejed yang dimaksud oleh hadits di atas adalah Nejed Hijaz, tetap saja
tidak mendukung keinginan mereka, sebab hadits tersebut hanya mengabarkan terjadinya fitnah
di suatu tempat, tidak memvonis perorangan seperti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Terjadinya fitnah di suatu tempat tidaklah mengharuskan tercelanya setiap orang yang bertempat
tinggal di tempat tersebut.

Demikianlah -wahai saudaraku seiman- keterangan para ulama ahli hadits tentang hadits ini,
maka cukuplah mereka sebagai sumber tepercaya!

PENUTUP

Demikianlah sekelumit yang dapat kami bahas tentang buku ini. Sebenarnya masih sangat
banyak tuduhan-tuduhan dusta dan penyimpangan yang ada dalam buku ini, namun semoga apa
yang sudah kami paparkan dapat mewakili lainnya.[38] Kesimpulannya, buku ini harus
diwaspadai oleh setiap orang dan sebagai gantinya hendaklah membaca buku-buku yang
bermanfaat. Wallohu Alam
Penulis : Al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi

Sumber : Majalah Al-Furqon Edisi 12 Th. ke-10 Rojab 1432 H [Juni-Juli 2011]

[1] Lihat Syarh Aqidah Imam Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hlm. 22-24, bahkan Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab menegaskan dalam aqidah beliau tersebut, Saya tidak
menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat MakhlukNya karena tidak ada yang serupa
denganNya.

[2] Thobaqot Hanabilah Kar. Al-Qodhi Ibnu Abi Yala : 1/283-284, Siyar Alam Nubala Kar.
Adz-Dzahabi: 3/3293, Manaqib Aimmah Arbaah kar. Ibnu Abdil Hadi hlm. 121, Itiqad Imam
Syafii kar. Al-Hakkari hlm 21.

[3] Mukhtashar Al-Uluw hal. 278-279

[4] Syarah Ushul Itiqad Ahli Sunnal Wal Jamaah kar. Al-Lalikai 1/204, Dzammul Kalam kar.
Al-Harowi: 4/390

[5] Syarah ushul Itiqad kar. Al-Lalikai: 937, Syarah Aqidah Ath-Thahawiyah kar. Ibnu Abi Izzi
Al-Hanafi: 1/85

[6] Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad menulis sebuah kitab berjudul Al-Qaulus Sadid
fir Roddi ala Man Ankaro Taqsima Tauhid (Bantahan Bagus Terhadap Para Pengingkar
Pembagian Tauhid) Dalam kitab tersebut, beliau menyebutkan dalil-dalil dan ucapan-ucapan
ulama salaf yang menegaskan adanya pembagian tauhid ini dan membantah sebagian kalangan
yang mengatakan bahwa pembagian tauhid ini termasuk perkara bidah.

[7] Lihat At-Tahdzir min Mukhtashorot Ash-Shobuni fi Tafsir. Hlm 331 Ar-Rudud- oleh Syaikh
Bakr Abu Zaid dan Adhwaul Bayan kar. Imam Asy-Syinqithi: 3/488-493.

[8] Lihat al-Mawahib ar-Rabbaniyyah min al-Ayat al-Quraniyyah kar. Syaikh Abdurrohman as-
Sadi him. 60.

[9] Min Kunuz al-Quran al-Karim kar. Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad: 1/149

[10] AI-Majmu fi Tarjamah Muhaddits Hammad al-Anshari: 2/531

[11] HR. Muslim: 2699

[12] Saya katakan mayoritas karena sebagian ulama mengatakan bahwa Syaikh Sulaiman tetap
dalam permusuhannya, di antaranya adalah Syaikh Abdulloh al-Bassam dalam Ulama Nejed:
1/305 dan sepertinya Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad dalam Daawi al Munawiin hlm. 41-42
cenderung menguatkan pendapat ini.

[13] Tarikh Nejed : 1/143

[14] Unwan Majd hlm. 65

[15] Dalam makalahnya Sulaiman bin Abdul Wahhab Syaikh Muftaro Alaihi dimuat dalam
Majalah Buhuts Islamiyyah, edisi 60/Tahun 1421 H

[16] Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlih Mazhlum hlm. 48-50

[17] Al-Asinnah Al-Haddad hlm. 12-13

[18] Lihat Majmuah Muallafat Syaikh: 5/25, 48, 100, 189 dan 3/11. Lihat buku khusus masalah
ini berjudul Manhaj Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab fi Takfir kata pengantar Dr. Nashir
bin Abdul Karim Al-Aql

[19] Majmuah Muallafat Syaikh : 5/11, 12

[20] Ibid. 5/36

[21] Al-Hadiyyah As-Saniyyah hlm. 40

[22] Al-Asinnah Al-Haddad fi ar-Raddi ala Alwi Al-Haddad hlm. 56-57 secara ringkas

[23] Iqtidho Siroth Mustaqim : 2/281

[24] Al-Kafiyah Asy-Syafiyah no. 198

[25] Lihat ad-Daulah al-Utsmaniyyah kar. Dr Jamal Abdul Hadi hlm. 94 sebagaimana dalam ad-
Daulah al-Utsmaniyyah Awamilin wa Asbabis Suquth kar. Dr. Ali Muhammad Ash-Sholabi (terj.
Bangkit dan Runtuhnya Daulah Khalifah Utsmaniyyah)

[26] Ibid. hlm. 95

[27] Ibid. hlm. 158

[28] Ibid. hlm. 156

[29] Lihat Al-Alam Al-Arobi fi tarikh hadits dan Aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
wa Atsaruhu fi Alam Islami karya Dr. Shalih Al-Abud
[30] Lihat Pusaka Indonesia Riwayat Hidup Orang-orang Besar Tanah Air oleh Tamar Djaja cet.
VI, 1965, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, hlm. 339 dst.

[31] Dinukil dari tulisan Al-Ustadz Abu Salma berjudul Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
di Mata Para Peneyesat Ummat yang dimuat dalam Majalah Adz-Dzakhiirah Edisi 17,
Dzulqadah 1426 H.

[32] Ad-Durar As-Saniyyah : 10/275-276 cet. kelima

[33] Disadru dari kitab Al-Iroq Fi Ahadits Wa Atsar Al-Fitan oleh Syaikh Abu Ubaidah Masyhur
bin Hasan Al Salman cet. Maktabah Al-Furqon.

[34] Ungkapan yang populer di kalangan ahli sejarah dan ahli hadits adalah Madinah
Nabawiyyah. Adapun menyebutnya dengan Munawwaroh, maka saya belum mengetahuinya
kecuali dalam kitab-kitab orang belakangan. Demikian dikatakan Syaikh Dr. Bakr bin Abdillah
Abu Zaid dalam Juz fi Ziyaroh Nisa Lil Qubur hlm. 5.

[35] Akmal Bayan hlm 16-17 tahqiq Abdul Qadir As-Sindi, cet. Pertama , Pakistan 1402 H, dari
Daawi al-Munawiin hlm. 190-191

[36] Ibid. hlm. 21

[37] Oleh karenanya para ulama menjadikan hadit ini sebagai salah satu tanda-tanda kenabian
Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam-. Lihat Umdatul Qori kar. Al-Aini 24/200 dan
Silsilah Ash-Shohihah : 5/655, Takhrij Hadits Fadhoil Syam kar. Al-Albani hlm. 26-27

[38] Bagi anda yang ingin mengetahui bantahan syubhat dan tuduhan secara lebih lengkap,
silakan membaca kitab Daawi al-Munawiin an Dawati Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab kar. Dr. Abdul Aziz Abdul Lathif dan buku kami Meluruskan Sejarah Wahhabi cet.
Pustaka Al-Furqon

"Janganlah kamu sekalian memperbanyak bicara


selain berdzikir kepada Allah, sesungguhnya
memperbanyak perkataan tanpa dzikir kepada
Allah akan mengeraskan hati, dan sejauh-jauh
manusia adalah yang hatinya keras." (HR.
Turmudji)
Senjata Pemusnah Massal

Kamu wajib tahu yang satu ini. Kalo kita amati, ternyata
ada lho senjata pemusnah massal yang beredar di
sekitar kita. Kekuatannya melebihi kehebatan bom atom,
nuklir, senjata kimia-biologis, atau micro nuke yang
terjadi pada tragedi Bali. Dia mampu menerobos masuk
ke dalam alam pikiran sehingga mengkontaminasi
budaya keseharian kita. Wuih . . meresapkan sekali . .
Selain itu sang korban pun akan menjadi amnesia alias
nggak kenal sama dirinya sendiri. Nah lho?

Bayangkan saja, kalau ada tamparan mentah mendarat


sukses di wajah kita, kita pasti cepat sadar dan mungkin
refleks balas memukul. Tapi serangan senjata ini malah
bisa membikin sang korban terpesona sampai terhipnotis.
Sehingga sang korban tak sadar kalau lagi dicuci otak,
diperbudak, bahkan diinjak-injak!

Kita mesti hati-hati sekali sama senjata ini. Soalnya dia


mengincar kita, kaum Muslimin! Iya.. Karena asalnya dari
orang-orang kafir yang sudah terlalu membenci Islam.
Mereka bakal menempuh jalan apa pun untuk
menghancurkan Islam. Salah satunya melalui agent of
change yang diperankan media massa untuk menyerang
pemikiran Islam dan kaum Muslim serta memasarkan
budaya mereka.

Ide-ide dan budaya Barat itulah yang kita maksudkan


senjata pemusnah massal. Penyebarannya yang efektif
melalui media massa dan hiburan mampu memusnahkan
identitas keislaman saudara-saudara kita. Sampai sulit
bagi kita untuk membedakan mana kawan dan mana
lawan! Sahabat atau penjahat? Atau malah pengkhianat?
benar-benar gawat! .

Perang kolosal gaya baru

Zaman sudah berganti. tak ada lagi bintang perang


sekaliber Shalahuddin al-Ayyubi, atau Omar Mochtar yang
berjuluk singa padang pasir. Pahlawan Islam pemimpin
perang kolosal yang bikin orang-orang kafir kocar-kacir.
Meski begitu, ada yang ak akan berubah karena waktu.
Yup, permusuhan orang-orang kafir terhadap kaum
Muslim tak akan pernah berakhir sampai hari kiamat.
Usaha musuh-musuh Islam sering gagal kalau perang
fisik. Makanya mereka gencar melakukan perang kolosal
gaya baru lewat pemikiran dan budaya. Hati-hati tuh!

Dengan dukungan penuh media informasi dan hiburan,


pemikiran dan budaya barat bebas menjerat kaum
Muslim. Sebab kecenderungan masyarakat sering kali
diarahkan lewat opini umum yang dibentuk oleh media
massa. Makanya orang-orang kafir sangat girang sekali
karena berhasil menguasai kantor berita Reuters , surat
kabar The New York Times , atau The Washington Post
yang menjadi sumber berita utama internasional. Simak
saja pernyataan seorang rabi Yahudi Rashoron (1986)
dalam suatu khutbahnya di kota Braga. Jika emas
merupakan kekuatan pertama kita untuk mendominasi
dunia, maka dunia jurnalistik merupakan kekuatan kedua
bagi kita. Bener khan?

Selain itu, orang kafir pun berusaha mendakwahkan'


budaya rusak mereka melalui media hiburan. taklah
heran kalau film-film Hollywood banyak yang
mendiskriminasikan Islam dan kaum Muslim. Orang Timur
Tengah sering dipasang sebagai tokoh teroris. Seperti
dalam film True Lies yang dibintangi Arnold Schwar-
zenegger. Sayangnya banyak kaum Muslim terlena oleh
gemerlap gaya hidup orang kafir yang diangkat ke layar
lebar. Sekuler, bermewah-mewahan, mengumbar aurat,
dan kebebasan dalam bertingkah laku. Banyak yang
belum ngeh' sama bahaya pola hidup ini. Itulah
kehebatan perang kolosal gaya baru via media massa
dan hiburan ini.

Menebar fitnah via media massa

Dalam dunia jurnalistik, ada pepatah yang mengatakan


pena itu lebih tajam dari pembunuhan eh, dari
pedang . Melalui goresan pena sang wartawan,
kebaikan bisa berubah menjadi keburukan. Nama baik
seseorang pun akan hancur dalam sekejap lewat berita
yang sampai kepada masyarakat. Dahsyat khan ! . Bisa
jadi pedang Batosai -nya Kenshin kalah tajam sama pena
sang jurnalis.

Untuk masalah pemberitaan, Mc.Luhan, penulis buku


Understanding Media: The Extensive of Man ,
menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan
alat indera kita. Realitas atau fakta-fakta yang kita
peroleh dari media massa adalah realitas yang udah
diotak-atik atau second hand reality . Artinya, belum
tentu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dan
kita selaku pengkonsumsi berita tak punya kemampuan
untuk mengecek kebenaran setiap berita. jangankan buat
ngecek berita, tak ketinggalan informasi saja sudah
untung.
Sebagai contoh, ketika terjadi tragedi hancurnya menara
kembar WTC. Media massa Internasional menggiring
masyarakat untuk memvonis Usamah bin Laden dan al-
Qaeda-nya sebagai pelaku pemboman. Selain itu, mereka
juga memblack list beberapa nama yang dituduh sebagai
pelaku pembajakan pesawat tanpa didahului oleh
penyelidikan yang akurat. Ternyata beberapa nama tidak
terbukti terkait dengan tragedi itu. Ada yang lagi di
tempat lain, malah ada yang sudah lama menjadi
penghuni rumah masa depan berbatu nisan!

Media massa juga turut mensukseskan penganugerahan


beberapa julukan negatif terhadap para pengemban
dakwah. Apalagi setelah AS dengan gencar
mengkampanyekan War Against Terorrism . Gelar
teroris, muslim Militan, muslim garis keras, atau ekstrimis
Islam begitu lekat pada diri para pejuang Islam yang gigih
melawan orang-orang kafir. Serangan terhadap Israel
yang menewaskan satu prajuritnya dikatakan sebagai
serangan teroris. Sementara serangan zionis terhadap
ribuan Muslim Palestina dikesankan sebagai upaya
pembelaan diri!

Selain kaum Muslim, fitnah juga dialamatkan terhadap


ajaran Islam yang mulia. Guna memadamkan ruh jihad fii
sabilillaah , dibentuk opini Masyarakat Anti Perang atau
Islam agama Damai. Poligami, jilbab, atau pembagian
harta warisan kepada wanita yang lebih kecil dibanding
pria dikatakan sebagai bentuk diskriminasi dan
pengekangan terhadap kebebasan wanita. Semua agama
dianggap benar. tak cuma itu, banyak kaum Muslim yang
lebih bangga berlindung di balik HAM daripada berhukum
dengan aturan Allah.

Rusaknya budaya sekuler Barat :


Di era globalisasi ini wabah gaya hidup sekuler khas
Barat kian merajalela menghinggapi kaum Muslim.
memang sih tak ketahuan siapa yang mengidap paham
ini. Tapi kita bisa deteksi dari gejala-gejala yang
ditunjukkin para pengidapnya. Kalau kamu lihat orang
yang sering bicara mengagungkan demokrasi , supermasi
hukum jahiliyah Nah, itu berarti dia pengidap penyakit
gaya hidup sekuler.

Wabah budaya Barat dibangun dari pemisahan aturan


agama dari kehidupan, alias sekulerisme. Orang kafir
merasa bisa mengatur dirinya sendiri tanpa harus pakai
aturan agama. Tuhan ibarat the watch maker alias
pembuat jam. sang pembuat jam tak akan berpusingria
ikut campur dalam kehidupan' jam buatannya. Karena itu
dalam budaya Barat, agama menjadi urusan pribadi
masing-masing. tak boleh dibawa-bawa ke lingkungan
publik. Soalnya di sana tak ada tempat penitipannya.

Asas sekuler itu yang melahirkan kebebasan individu.


Tiap orang bebas berbuat apa saja yang disukainya, asal
tak membuat rugi orang lain ( ini pemikiran sekuler ).
Kalo ada pihak lain yang coba mengusik kebebasannya
bakal berurusan dengan negara.

Dengan kebebasan itulah mereka berlomba-lomba


mengejar kesenangan dan kelezatan duniawi semata.
Yang pada akhirnya mereka jadi budak materi dan hawa
nafsu, apa pun bakal dijalankan asalkan ada
manfaatnya, terutama yang bisa menghasilkan duit.
Makanya banyak masyarakat ekonomi lemah yang
muncul silih berganti mengisi acara' Patroli , Sergap ,
Buser , dan liputan berita kriminal lainnya.
Semua gejala di atas yang bikin rusak masyarakat,
termasuk di negeri paman samnya sendiri. tak percaya?
Coba baca laporan pakar AS, Andrew Saphiro yang
meneliti kondisi umum masyarakat AS melalui bukunya
Where Amerika Stands and Falls in the New World Order
pada tahun 1992.

Dilaporkan bahwa satu berbanding lima (1:5) dari anak-


anak AS, dan satu berbanding sepuluh (1:10) dari warga
dewasa hidup dalam kemiskinan parah; 27 juta orang AS
lebih layak untuk disebut sebagai buta huruf dan 40 juta
orang berusia setengah baya kerepotan untuk sekeadar
membaca koran.

Lebih dari 20.000 per tahun terjadi kasus kejahatan


pembunuhan. Satu dari sepuluh gadis AS yang berusia
15-19 tahun mengalami kehamilan di luar nikah. Terdapat
lebih dari satu juta kejahatan penyalahgunaan obat
terlarang yang berhasil dicatat setiap tahunnya oleh
lembaga-lembaga terkait.

Berdasarkan laporan DW-World (27 Juli 2003), Amerika


Serikat merupakan negara dengan jumlah narapidana
terbanyak di dunia. Akhir tahun 2002 lalu, tercatat lebih
dari 2 juta warga Amrik yang mendekam di penjara
akibat melakukan tindak kriminal. Ada suatu
kecenderungan bahwa tindak kriminal di AS naik rata-rata
2.6 persen setiap tahunnya.

Gaya gaya modern, gaul, tren, atau metropolis untuk


budaya Barat yang selama ini digembor-gemborkan
semuanya cuma omong kosong semata.

Meningkatkan kewaspadaan
Kepada kaum muslimin , sudah waktunya kita tingkatkan
kewaspadaan kita. sebagai remaja muslim/muslimah
jadilah remaja muslim/muslimah ideologis , yang tetap
komitmen dengan dienul Islam, kita patut mewaspadai
segala informasi dan hiburan yang kita konsumsi. Jangan
sampai kita jadi korban senjata pemusnah massal yang
tertanam dalam tayangan televisi, siaran radio, koran,
tabloid, atau majalah.

Mewaspadai bukan berarti kita puasa dari segala


informasi. Bukan gitu. nanni malah jadi anggota PKI
(Pemuda Kurang Informasi) atau IWaKI (Ikatan Wanita
Kurang Informasi). Kita tetap wajib dan mesti terus
memantau berita-berita tentang kondisi negeri kita atau
kondisi negeri-negeri kaum Muslim di belahan dunia lain.
Rasulullah saw bersabda: Dan barangsiapa (bangun) di
pagi hari sementara tidak memperhatikan
kepentingan/urusan kaum Muslim, maka tidak termasuk
golongan mereka (kaum Muslim) . (al-hadits)

Oleh sebab itu alangkah bagus kalau kita mau mulai


belajar mengkritisi setiap peristiwa atau hiburan dari
sudut pandang Islam. mencari tahu untuk setiap berita
yang menyangkut saudara-saudara kita di tempat lain.
Kita bisa bertanya di forum-forum kajian islam yang
membahas politik. Bisa juga lewat diskusi pribadi dengan
ustadz yang jadi panutan, atau dengan teman-teman di
dunia maya melalui mailing list.

Untuk cross check berita atau cerita dibalik berita bisa


kita dapat dari buku-buku atau majalah-majalah Islam
yang membongkar konspirasi musuh-musuh Islam. Moga-
moga kita tak alergi sama buku-buku atau majalah-
majalah berat' yang kita maksud. Berat isinya, apalagi
harganya untuk kantong kita.
Dengan begitu kita bakal merasakan betapa nikmatnya
menjadi orang yang tidak sekedar tahu'. Sehingga tak
tertipu sama media massa dan bisa memberikan
pencerahan kepada orang lain. Dan kita siap menghadapi
serangan senjata pemusnah massal' bernama media
massa ini sampai Daulah Khilafah Islamiyah tegak atas
pertolongan Allah. Setuju kan kawan-kawan? Mari
berjuang! Kampanyekan terus penerapan Islam sebagai
ideologi negara! Sekarang juga!. [hafidz] Buletin Gaul
Islam 15 Januari 2004 sumber : ( http://www.dudung.net/ )

tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin