Anda di halaman 1dari 8

Tugas Praktikum Pedodonsia

Oleh:
Irdian Devi Saputri
NIM 101611101045

Dosen Pembimbing
drg. Berlian P., MDSc., Sp. KGA

BAGIAN PEDODONSIA
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS JEMBER
2015

1. Indikasi dan kontraindikasi perawatan pulpotomi devital


Indikasi
a. Gigi sulung dengan pulpa vital yang terbuka karena karies atau trauma
b. Pasien dengan perdarahan yang abnormal
c. Bila perawatan vital sukar dilakukan
d. Pada gigi yang akarnya bengkok, atau lokasi gigi sukar untuk dilakukan pulpektomi

Kontraindikasi
a. Sakit bila diperkusi atau dipalpasi
b. Adanya radiolusen pada daerah periapikal atau interradikular
c. Goyang patologis
d. Adanya pus pada pulpa yang terbuka
e. Kerusakan mahkota yang besar & karies menembus bifurkasi
f. Pasien yang kesehatannya kurang baik (DM,ginjal kronik, leukimia)
g. Pasien dengan penyakit jantung kongenital atau riwayat demam rematik

2. Indikasi dan kontraindikasi perawatan pulpektomi


Indikasi:
a. Riwayat sakit spontan
b. Gigi sulung dengan infeksi yang melewati kamar pulpa, baik pada gigi vital, nekrosis
atau gangren parsialis atau totalis.
c. Saluran akar jelas
d. Resorpsi akar <1/3 apikal
e. Saluran akar dapat dimasuki oleh instrumen
f. Jaringan penyangga sehat
g. Mahkota gigi masih dapat direstorasi tetap
h. Benih gigi permanen masih jauh atau agenisi
i. Kondisi pasien baik dan kooperatif

Kontraindikasi:
a. Gigi tidak dapat direstorasi
b. Karies sudah mengenai bifurkasi gigi
c. Resorpsi akar >1/3 apikal
d. Terdapat belokan ujung akar dengan granuloma (kista) yang sulit untuk dibersihkan
e. Adanya resorpsi akar internal
f. Pasien memiliki penyakit sistemik (leukimia, congenital atau rheumatoid heart disease)

3. Definisi Overbite dan Overjet, serta jarak normalnya


a. Overjet adalah jarak gigit atau jarak dari tepi insisal gigi insisivus atas ke permukaan
labial gigi insisivus bawah dalam arah horizontal, pada saat oklusi sentris. Nilai Overjet
normal 1-2 mm.
b. Overbite adalah tumpang gigit atau jarak tepi insisal gigi insisivus atas ke tepi insisal
bawah dalam arah vertikal, pada saat oklusi sentris. Nilai overbite normal 2-3 mm.

4. Pengertian gigitan silang, gigitan dalam, dan gigitan terbuka


a. Gigitan silang (cross bite) adalah suatu keadaan jika rahang dalam keadaan relasi sentrik
terdapat kelainan-kelainan dalam arah transversal dari gigi geligi maksila terhadap gigi
geligi mandibula yang dapat mengenai seluruh atau setengah rahang, sekelompok gigi,
atau satu gigi saja. Berdasarkan lokasinya gigitan silang dibagi dua yaitu:
1. Gigitan silang anterior : Suatu keadaan rahang dalam relasi sentrik, namun
terdapat satu atau beberapa gigi anterior maksila yang posisinya terletak di sebelah
lingual dari gigi anterior mandibula
2. Gigitan silang posterior : Hubungan bukolingual yang abnormal dari satu atau
beberapa gigi posterior mandibula.
b. Gigitan dalam (deep bite) adalah suatu keadaan dimana jarak menutupnya bagian insisal
insisivus maksila terhadap insisal insisivus mandibula dalam arah vertikal melebihi 2- 3
mm.
c. Gigitan terbuka (open bite) adalah keadaan adanya ruangan oklusal atau insisal dari gigi
saat rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan oklusi sentrik. Macam-macam open
bite menurut lokasinya adalah :
1. Anterior open bite : Klas I Angle anterior open bite terjadi karena rahang atas
yang sempit, gigi depan inklinasi ke depan, dan gigi posterior supra oklusi,
sedangkan klas II Angle divisi I disebabkan karena kebiasaan buruk atau keturunan.
2. Posterior open bite pada regio premolar dan molar
3. Kombinasi anterior dan posterior (total open bite) terdapat baik di anterior, posterior,
dapat unilateral atau bilateral.

5. Relasi Gigi Sulung dan Permanen


Relasi gigi sulung:
a. Flush Terminal Plane
Permukaan distal molar kedua rahang atas dan molar kedua rahang bawah gigi sulung
berada dalam satu dataran vertikal.
b. Mesial Step
Permukaan distal molar kedua rahang bawah gigi sulung berada lebih ke mesial daripada
molar kedua rahang atas gigi sulung. Tipe ini biasa terjadi pada awal pertumbuhan
mandibula ke depan. Jika pertumbuhan mandibula berlanjut, maka akan terjadi relasi
molar Klas III Angle. Jika pertumbuhan mandibula ke depan minimal maka akan terjadi
relasi molar Klas I Angle.
c. Distal Step
Permukaan distal molar kedua rahang bawah gigi sulung berada lebih ke distal daripada
molar kedua rahang atas gigi sulung. Kemungkinan relasi molar ini pada tipe Klas II
Angle.

Relasi gigi permanen berdasarkan klasifikasi Angle:


a. Klas I Angle
Hubungan antara gigi rahang atas terhadap gigi rahang bawah dimana cusp mesiobukal
molar satu permanen rahang atas berada pada groove mesiobukal molar satu permanen
rahang bawah.

b. Klas II Angle
Hubungan antara gigi rahang atas terhadap gigi rahang bawah dimana groove mesiobukal
molar satu permanen rahang bawah berada lebih ke distal dari cusp mesiobukal molar
satu permanen rahang atas.

1. Klas II divisi 1
Pada maloklusi ini, terdapat proklinasi insisivus atas yang menyebabkan overjet
besar, deep overbite (Gambar) dan sering ditemukan bibir atas hipotonik, pendek dan
tidak dapat menutup dengan sempurna. Bentuk lengkung rahang berbentuk V.
2. Klas II, divisi 2
Pada Klas II divisi 2 menunjukkan relasi molar Klas II Angle dengan ciri-ciri
inklinasi insisivus sentralis atas ke lingual dan inklinasi insisivus lateral ke labial
(Gambar ). Deep overbite sering terjadi pada pasien klas ini dan bentuk lengkung rahang
seperti huruf U

c. Klas III Angle


Hubungan antara gigi rahang atas terhadap gigi rahang bawah dimana groove mesiobukal
molar satu permanen rahang bawah berada lebih ke mesial dari cusp mesiobukal molar
satu permanen rahang atas.

6. Metode Pendekatan anak selama perawatan Gigi


Pendekatan bertahap dalam pembentukan tingkah laku ini dapat menunda kemajuan
perawatan, tetapi apabila kerjasama yang penuh dari anak dapat diperoleh, penundaan tentu
lebih bermanfaat karena waktu yang dilewatkan tersebut dianggap sebagai investasi yang
nyata. Beberapa metode pendekatan dalam pengendalian tingkah laku anak selama perawatan
gigi antara lain :
a. Tell Show Do
TELL yaitu menerangkan perawatan yang akan dilakukan pada anak dan
bagaimana anak tersebut harus bersikap.
SHOW yaitu menunjukkan atau mendemostrasikan pada anak apa saja yang akan
dilakukan terhadap dirinya.
DO yaitu anak, dilakukan perawatan gigi sesuai dengan hal yang diuraikan atau
didemostrasikan.
b. Penguatan (reinforcement)

Penguatan dapat diartikan sebagai pengukuhan pola tingkah laku yang akan
meningkatkan kemungkinan tingkah laku tersebut terjadi lagi dikemudian hari. Hampir
semua benda menjadi penguat dokter gigi sehingga dapat meningkatkan hubungan social
dengan cara memberikan perhatian, doa, senyum, dan pelukan. Benda penguat yang
dapat diberikan misalnya sticker, pensil, dan lain-lain.

c. Desensitisasi
Tujuan: untuk mengurangi rasa takut dan cemas seorang anak dengan jalan
memberikan rangsangan yang menghilangkan cemas sedikit demi sedikit yang disebut
dengan istilah systemic desentisization karena ada tiga tahap yaitu:
Latih pasien untuk santai dan rileks.
Susun secara berurutan hal-hal yang membuat pasien cemas dan takut (dari yang
paling menakutkan sampai yang tidak menakutkan).
Rangsangan ditingkatkan sedikit demi sedikit.
d. Modeling
Tujuan: untuk mengurangi dan menghilangkan rasa takut dan rasa cemas yang
tinggi. Modeling dan imitasi adalah suatu proses sosialisasi yang terjadi baik secara
lagsung dalam interaksinya dengan lingkungan sosial. Ada empat komponen dalam
proses belajar:
Memperhatikan
Mengancam
Memproduksikan gerak dengan cepat
Ulangan penguasaan dan motivasi proses meniru akan berhasil dengan baik
e. Hand Over Mouth Exercise (HOME)
HOME digunakan apabila beberapa cara lain dalam menciptakan komunikasi
yang baik mengalami kegagalan sehingga tingkah laku anak tidak terkendali. HOME
dilakukan pada anak sejak kunjungan pertama menunjukkan sikap tidak kooperatif, tidak
mengerti dengan penjelasan atau bujukan, keras kepala, menolak perawatan, menangis
meronta-ronta. Tindakan ini dilakukan pada anak sehat berumur 3-6 tahun.
f. Sedasi (Farmakologi)
Teknik ini efektif digunakan pada anak-anak yang kurang kooperatif dan tidak mau
dilakukan perawatan. Obat-obatan yang bersifat sedative dapat digunakan dalam
beberapa cara yaitu secara oral, intravena, intramuscular, dan inhalasi. (andlaw).
Banyak obat-obatan dan kombinasinya telah digunakan untuk sedasi anak yang cemas,
misalnya barbiturate, kloral hidrat, hydroxyzine, neprobamate, dan diazepam.

7. Perawatan Gigi pada anak dengan kelainan sistemik


a. Congenital Heart Disease (CHD)
Perawatan gigi untuk anak dengan CHD adalah dengan penekanan pada posedur
pencegahan/preventif penyakit gigi. Saat seorang anak diketahui menderita CHD, maka
anak tersebut harus segera dirujuk untuk mendapatkan pemeriksaan gigi dan perawatan
preventif yang meliputi pemeliharaan kesehatan gigi dirumah (home care), topikal fluor,
fisur silen. Dilakukan pemeriksaan periodik, baik secara klinis maupun radiografis.
Apabila akan dilakukan operasi jantung maka perawatan gigi harus selesai sebelum
dilakukan operasi jantung. Perawatan gigi yang dapat mengakibatkan perdarahan tidak
diindikasikan, seperti perawatan endodontik, ekstraksi gigi, dan skeling, karena dapat
menimbulkan bakteriemia. Jika akan dilakukan perawatan yang dapat menimbulkan
bakteriemia, maka terapi profilaksis antibiotik dan kumurkumur antiseptik seperti
klorheksidin 0,2% harus dilakukan. Perawatan pulpotomi merupakan kontraindikasi
untuk pasien dengan CHD.
b. Kelainan Hematologi
Beberapa kelainan hematologi antara lain hemofilia, Von Willebrands disease,
trombositopenia, anemia, talasemia, dan leukemia. Perawatan gigi dan mulut pasien
dengan kelainan hematologi memerlukan pemeriksaan riwayat medis yang rinci.
Konsultasi dengan dokter hematologi anak sebelum memulai perawatan sangat penting
terutama apabila diperlukan ekstraksi gigi. Perawatan yang diutamakan pada pasien-
pasien tersebut adalah preventif dan pemeriksaan periodik. Pemberian anestesi infiltrasi
atau injeksi intraligamen dapat diberikan dengan hati-hati. Anestesi regional seperti blok
regional rahang bawah, merupakan kontraindikasi karena dapat menimbulkan perdarahan
regio pterigomandibular. Perawatan gigi pada pasien hemofilia memerlukan penggantian
adekuat dan monitoring kadar faktorVIII dan IX. Obat-obatan yang mengandung aspirin
atau antiinflamasi nonsteroid harus dihindari untuk mencegah timbulnya perdarahan.
Pasien dengan hemophili sebaiknya dirujuk ke bagian Special Dental Care. Perawatan
yang dianjurkan pada pasien dengan kelainan darah adalah ditekankan pada program
preventif(home care, topikal fluor fisur silen).

c. Kelainan sistem pernafasan


Pasien dengan kelainan sistem pernafasan yang sering datang ke praktek dokter gigi
adalah asma. Asma merupakan penyakit khronik bronhus yang menyebabkan obstruktif
dengan timbulnya sesak nafas, batuk, dan wheezing (bunyi ngik ngik). Secara umum,
perawatan gigi dan mulut penderita asma berupa home care, profilaksis gigi reguler.
Selain itu, anak diharuskan berkumur dengan air setelah penggunaan inhaler steroid atau
obat-obatan lainnya.
d. Kelainan Genetik
Anak dengan kelainan genetik biasanya datang ke dokter gigi dengan anomali gigi
spesifik yang berkaitan dengan keadaan mereka atau kelainan medis yang merupakan
komplikasi perawatan gigi. Umumnya, perawatan gigi pada anak dengan kelainan genetik
adalah merawat manifestasi mulut yang terjadi berkaitan dengan kelainan tersebut dan
mencegah komplikasi penyakit gigi yang ada.