Anda di halaman 1dari 5

Analisis Koefisien Absorbsi dari Aluminium Menggunakan Ratemeter

untuk Radiasi Alam, Cobalt-60 dan Amersium-241


Lukman Palum H. Cibro* Dwi Ayu Afdelina
Laboratorium Fisika Lanjut, Jurusan Fisika, FMIPA Universitas Andalas,
Kampus Limau Manis, Pauh, Padang, 25163
*lukman_cibro28@yahoo.co.id

ABSTRAK
Pencacah Geiger-Muller merupakan sebuah alat pengukur radiasi atau bisa juga digunakan untuk mendeteksi
radiasi alfa dan beta. Detektor Geiger-Muller bekerja berdasarkan prinsip ionisasi, dimana partikel radiasi
yang masuk akan mengionisasi gas isian dalam detektor. Telah dilakukan eksperimen Pencacah Geiger-Muller
yang bertujuan untuk menentukan koefisien absorbsi dari aluminium untuk partikel beta dan gamma, serta
mengetahui banyaknya dosis radiasi yang diserap oleh dosimetry radiasi. Sumber radiasi yang digunakan
dalam percobaan adalah radiasi alam, Cobalt-60, dan Amersium-241. Berdasarkan analisis data pengamatan,
diperoleh semakin besar shielding suatu partikel maka semakin kecil koefisien absorbsi dan jumlah cacahan
yang dihasilkan.
Kata kunci : Detektor, pencacah Geiger-Muller, shielding, koefisien absorbs.

ABSTRACT
Enumerators Geiger-Muller is a radiation measuring device or can be used to detect alpha and beta
radiation. Geiger-Muller detector works on the principle of ionization, where the incoming radiation
particles would ionize the gas fields in the detector. Has conducted experiments Geiger counter-Muller aimed
to determine the absorption coefficient of aluminum for beta particles and gamma, as well as find out how
many doses of radiation absorbed by the radiation Dosimetry. Sources of radiation used in the experiment is
the natural radiation, Cobalt-60, and Amersium-241. Based on the analysis of observational data, obtained
by shielding the larger the particle, the smaller the absorption coefficient and the number of counts
generated.
Keywords : Detector, enumerators Geiger-Muller, shielding, the absorption coefficient.

I. PENDAHULUAN
Pencacah Geiger-Muller merupakan sebuah alat pengukur radiasi atau bisa juga digunakan
untuk mendeteksi radiasi alfa dan beta. Gejala radioaktivitas tidak dapat langsung diamati oleh
panca indera. Untuk dapat mengadakan pengukuran radioaktivitas diperlukan detektor yang dapat
berinteraksi secara efisisen dengan sinar radioaktivitas yang diselidiki. Detektor isi gas tidak dapat
dipakai dalam spektrometri gamma.Detektor jenis ini biasanya terdiri dari sebuah tabung berdinding
logam yang berisi gas dan mempunyai kawat ditengahnya. Apabila sinar gamma melalui gas dalam
tabung detektor, maka sinar gamma akan berinteraksi dengan atom-atom gas melalui proses foto
listrik. Interaksi tersebut menghasilkan electron bebas dan ion positif. Apabila medan listrik tidak
ada, elektron akan bergabung kembali dengan ion positif tetapi jika ada medan listrik, elektron akan
bergerak kawat anoda dan ion positif menuju katoda. Biasanya elektron bergerak dengan laju yang
lebih tinggi dibandingkan dengan ion positif.
Sebagai akibatnya, di anoda (elektroda positif) akan terkumpul muatan negatif sebesar
yang akan meimbulkan signal pulsa listrik yang dapat diproses lanjut oleh suatu penguat awal dan
seterusnya. Apabilat tegangan dinaikkan maka electron dan ion positif akan bergerak lebih cepat
masing-masing kearah elektroda yang berlawanan muatannya sehingga memperkecil kemungkinan
terjdinya penggabungan kembali dan dengan demikian ada lebih banyak ion dan elektron yang
dapat mencapai elektroda. Kalau tegangan dinaikkan terus, maka kemungkinan terjadinya
penggabungan kembali elektron dan ion positif dapat diabaikan.
Untuk sorotan-sorotan sempit dari radiasi beta dan gamma, intensitas ditransmisikan
melalui medium absorbs yang bervariasi memenuhi hukum :

Ix = Io e-x (1)

Dengan, Io = intensitas sinar datang


Ix = intensitas sinar yang diransmisikan
x = ketebalan medium yang dilalui
= koefisien absorbsi
Koefisien absorbsi massa dari medium m adalah dibagi kerapatan dan ditunjukkan dalam
satuan cm2/gm. Dalam aplikasi praktis, daya penyetop (stopping power) dari sebuah medium
diekspresikan dalam satuan gm/cm2, yaitu 1/m. Radiasi dari sumber medium radium, melebihi
jarak partikel alpha diudara, terdiri dari sinar gamma dan partikel alfa. Intensitas dapat diukur
dengan sebuah tabung GM yang dihubungkan dengan sebuah penukur skala.
Kemiringan pada garis-garis arus adalah 1 log10 e dan 2 log10 e yang berasal dari
kofisien distribusi yang dapat dihitung. Nilai rata-rata beta C 1 dapat diabaikan dengan
menggunakan beberapa mili aluminium. Dengan ketebalan yang lebih besar dari daya tembus sinar
beta, intensitas rata-rata hanya disebabkan oleh sinar gamma. Dengan membuat plot log 10 C1 dan
log10 C2 terhadap x, grafik yang mendekati garis lurus didapatkan karena :

log10 C1 = log10 A (1 log10 e) x (2)


log10 C2 = log10 A (2 log10 e) x (3)

Radiasi berdasarkan sumbernya dibedakan menjadi 2 yaitu :


1.Radiasi Alam
Radiasi alam berasal dari alam, yang terbagi 2 yaitu : Ekstra terestial, radiasi yang berasal
dari ruang angkasa, contohnya radiasi kosmos dan terrestrial yang berasal dari radioaktif atom yaitu
uranium. Selain itu ada juga unsur-unsur radioaktif yang memiliki waktu paruh yang sangat panjang
yaitu indium-115 dengan waktu paruh 5 x 10 14 tahun, hafrium-174 dengan waktu paruh 2 x 10 15
tahun, cerium-142 dengan waktu paruh 5 x 10 16 tahun. Sedangkan dalam udara terdapat gas radon
yaitu Rn-250 dalam ruangan tertutup konsentrasi gas radon dan thoron cukup tinggi dibandingkan
kondisi normal terutama didalam pertambangan.
2.Radiasi Buatan
Radiasi ini berasal dari produk hasil fisi, pesawat sinar-x dan oksidator untuk produk hasil
fisi biasanya berwaktu paruh pendek, namun ada juga yang berwaktu paruh panjang. Untuk unsur
radioaktif hasil aktivasi kebanyakan berwaktu paro pendek. Perisai radiasi yang diperlukan
tergantung pada jenis radiasi oleh bahan radioaktif. Namun secara umum apabila suatu radiasi
elektromagnetik melewati suatu bahan maka intensitas yang dihasilkan akan berkurang.

II. METODE
Alat disusun seperti yang ditunjukkan pada diagram, tabung dihubungkan ke pengukur
skala. Sumber ditempatkan kira-kira 10 cm dari tabung GM dan nilai rata-ratanya dicatat. Layer
aluminium ditempatkan pada penyokong layer sehingga benda tersebut terletak antara sumber dan
tabung GM dan dilanjutkan hingga ketebalan 15 cm. Layer dan sumber dipindahkan kembali, dan
nilai rata- rata backgroundnya dicatat. Grafik diplot nilai log 10 pada nilai rata-rata koreksi C denan
ketebalan layer x. Kemudian koefisien absorbsi dari aluminium dihitung untuk radiasi gamma dan
beta dan juga ketebalan minimum yang dibutuhkan untuk mengabsorbsi semua radiasi beta.
a. Menentukan koefisien absorbsi
Sebelum nilai koefisien absorbsi diukur dari sumber radioaktif, terlebih dahulu jumlah
cacahan diukur menggunakan muller tube. Setelah itu, sumber radioaktif diletakkan dibawah
pencacah pulsa, kira-kira jaraknya 5 cm. Sumber radioaktif dibuka dan layer penyerap aluminium
diletakkan diatasnya. Kemudian, klik start pada program data studio lalu dibiarkan selama 3 menit
untuk mendapatkan banyaknya cacahan.
b. Menghitung dosis radiasi
Alat dosimetri dikalibrasi terlebih dahulu. Kemudian dosimetri radiasi diletakkan didekat
sumber radoaktif yang terbuka. Banyaknya dosis radiasi terhitung diukur pada alat dosimetry
radiasi masing-masing jenis radioaktif selama 3 menit. Selanjutnya, nilai yang terbaca dicatat.

III. HASIL DAN DISKUSI


Pada eksperimen ini digunakan tiga sumber radiasi yaitu radiasi alam, cobalt-60, dan
amersium-241. Setelah melakukan eksperimen didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 3.1 Radiasi Alam


N Shielding Jumlah Cacahan Cacahan (mm-1)
o. (mm) Koreksi
1. 69

Tabel 3.2 Radiasi Cobalt-60


N Shielding Jumlah Cacahan Cacahan (mm-1)
o. (mm) Koreksi
1. 82 13
2. 0,33 74 5 0,153
3. 1,15 66 -3 0,05
4. 1,95 79 10 0,93

Tabel 3.2 Radiasi Amersium-241


N Shielding Jumlah Cacahan Cacahan (mm-1)
o. (mm) Koreksi
1. 68 -1
2. 0,33 66 -3 2,207
3. 1,15 56 -13 2,425
4. 1,95 57 -12 1,817

Dari hasil eksperimen yang didapatkan, terlihat bahwa pengaruh dari sumber radiasi cobalt-
60 lebih besar dibandingkan pengaruh radiasi dari Amersium-241 dan radiasi alam. Dan radiasi
alam lebih kecil dari radiasi alam. Hal ini disebabkan karena radiasi cobalt memancarkan partikel
gamma yang daya tembusnya lebih besar yaitu sampai menembus beton. Sedangkan radiasi
amersium-241 memancarkan partikel beta yang daya tembusnya hanya sampai melewati
aluminium. Dan untuk radiasi alam memancarkan partikel alfa yang daya tembusnya kecil, hanya
sampai menembus kertas.

Shielding Vs Jumlah Cacahan


100
80 cobalt
60 f(x) = - 1.63x + 76.65
f(x) - 6.31x + 67.16 Linear (cobalt)
R ==0.04
Jumlah cacahan 40 R = 0.81 amerisium
20 Linear (amerisium)
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5
Shielding (mm)

Gambar 1 Grafik hubungan Shielding dan jumlah cacahan pada Cobalt-60 dan Amersium-241

Dari grafik dapat dilihat hubungan ketebalan shielding terhadap jumlah cacahan yang
didapat adalah berbanding terbalik, yaitu semakin besar ketebalan suatu shielding maka jumlah
cacahan yang didapatkan akan semakin kecil dan ada suatu nilai jumlah cacahan yang membesar
lalu kembali mengecil. Hal ini terjadi karena shielding yang tebal akan menyebabkan radiasi yang
keluar dari cobalt akan semakin kecil karena dalam interaksi antara radiasi dengan shielding sebagai
perisai akan terjadi penyerapan jumlah cacahan oleh shielding yang akan dilewati. Kemudian, pada
hubungan ketebalan shielding dengan jumlah cacahan pada Amersium-241 adalah berbanding
terbalik juga.

Shielding Vs Koefisien Absorbsi


3
2.5
cobalt
f(x) = - 0.24x + 2.42
2
R = 0.39 Linear (cobalt)
1.5
Koefisien absorbsi amerisium
1
Linear (amerisium)
0.5 f(x) = 0.48x - 0.17
0 R = 0.65
0 1 2 3
Shielding (mm)

Gambar 2 Grafik hubungan Shielding dan koefisien absorbsi pada Cobalt-60 dan Amersium-241

Dari grafik dapat dilihat bahwa nilai koefisien dari Co-60 terhadap ketebalan shielding
tidaklah teratur, seharusnya hubungan ketebalan shielding dengan koefisien absorbsi berbanding
terbalik, namun pada percobaan kali ini diduga karena saat mengambil data shielding belum
tertutup dengan benar dan untuk nilai koefisien absorbsi berhubungan juga dengan cacahan koreksi.
Selanjutnya, hubungan ketebalan shielding dengan koefisien absorbsi pada Amersium-241
didapatkan sudah teratur, dimana ketebalan shielding berbanding terbalik dengan koefisien
absorbsinya. Pada percobaan kali ini dapat dikatakan sesuai dengan teori.

IV. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa semakin besar nilai shielding suatu partikel
maka semakin kecil jumlah cacahan yang didapatkan. Kemudian semakin besar nilai shieding maka
nilai koefisien absorbs yang didpatkan semakin kecil. Dan hubungannya adalah berbanding terbalik.
Radiasi Co lebih besar pengaruhnya dibandingkan radiasi amersium dan radiasi alam. Hal ini
dikarenakan radiasi Co memancarkan partikel gamma.

DAFTAR PUSTAKA
Akhodi, Mukhlis.2000. Dasar-dasar Proteksi Radiasi. Jakarta : PT. Rineka.
Krane, K.S. 1992. Fisika Modern (diterjemahkan oleh: Hans J. Wospakrit). Jakarta: UI Press.
Muttaqin, A. 2015. Modul Fisika Eksperimen 1. Padang: UNAND.