Anda di halaman 1dari 9

Eklamsia

1. Epidemiologi

Eklampsia merupakan penyebab utama dari perinatal dan ibu morbiditas

dan mortalitas di seluruh dunia. Secara global, diperkirakan bahwa 50.000

kematian ibu, yang sebagian besar terjadi di rendah dan negara berpenghasilan

menengah telah dikaitkan untuk eklampsia. Di Nigeria, serta menjadi pemimpin

penyebab kematian ibu, eklampsia juga besar penyebab komplikasi kebidanan.

Berbasis rumah sakit Studi di Nigeria telah mengkonfirmasi bahwa eklampsia

Mereka mewakili hingga 32% dari seluruh kematian ibu. Demikian pula,

eklampsia berhubungan dengan tinggi Angka kematian perinatal untuk 406 /

1.000 kelahiran Ini telah didokumentasikan di beberapa pusat kesehatan di

Nigeria. Manajemen yang efektif dari preeklampsia / eklampsia (PE / E) adalah

salah satu fungsi sinyal darurat Obstetri dan neonatal (emoNC) Pencegahan dan

Segera mengobati komplikasi, ibu dan bayi baru lahir AVERT kematian dan

dengan demikian memberikan kontribusi untuk pencapaian yang Millennium

Development Goals (MDGs) 4 dan 5 dan agenda untuk pengembangan pasca-

2015.
2. Patofisiologi

Preeklampsia adalah sindrom yang mempengaruhi hampir setiap sistem organ ibu.

Patofisiologi yang mendasari belum sepenuhnya dijelaskan, tetapi fitur patologis

umum kerusakan dan disfungsi plasenta, ginjal dan otak adalah fungsi endotel

vaskular, perubahan patologis utama yang ditemukan di tempat tidur plasenta.

Pada kehamilan normal dan endotelium, lamina elastis internal dan lapisan otot
Media arteri spiral memasok plasenta digantikan oleh trofoblas dan amorf matriks

yang mengandung fibrin. Perubahan ini mengubah suplai darah mirip dengan

sistem PBB tekanan rendah dan arus tinggi yang memenuhi kebutuhan janin dan

plasenta. Preeklamsia dikaitkan dengan kurangnya atau invasi trofoblas lengkap

dari arteri spiral sehingga menyempit arteri spiral dan iskemia plasenta

berikutnya. Plasenta abnormal dapat melepaskan satu atau lebih faktor kerusakan

pembuluh darah yang menyebabkan sel-sel di seluruh batang (Gambar. 1)

(Gambar. 2) disfungsi multisistem sel endotel memiliki banyak fungsi penting,

termasuk kompartemen pemeliharaan, pra pembekuan Modifikasi tanggapan dan

dinding otot polos Sel endotel memiliki banyak fungsi penting, termasuk

pemeliharaan kompartemen cairan, mencegah koagulasi intravaskular,

memodifikasi respon kontraktil dinding halus menjaga otot dan respon imun dan

inflamasi. Ketika terluka, sel endotel tidak hanya kehilangan tanggapan ini, tapi

juga memproduksi prokoagulan, vasokonstriktor dan mitogenik. Pembuluh darah

pada ibu dengan preeklampsia menunjukkan peningkatan permeabilitas kapiler.

dengan tanggapan berlebihan untuk angiotensin II. Peningkatan sensitivitas

pressor mengarah ke dalam dan perubahan vasospasme mengurangi perfusi organ

yang merupakan karakteristik investigasi penyakit. Banyak memilikinya terdaftar

disfungsi endotel pada preeklampsia payudara, misalnya, produksi prostasiklin

payudara pembuluh darah berkurang pada pasien dengan pre-eklampsia, mungkin

karena disfungsi endotel . penanda lain dari kerusakan endotel termasuk

peningkatan faktor von Willebrand dan tingkat fibronektin. zat pelepasan neutrofil

diaktifkan yang dapat memediasi kerusakan pembuluh darah. Ini termasuk isi

granula neutrofil seperti elastase dan protease lainnya. Aktivasi adalah terbukti
terjadi pada preeklampsia. Sebuah studi baru-baru ini telah menunjukkan bahwa

pembentukan radikal bebas ditingkatkan terjadi pada pasien dengan preeklampsia

dan ini dapat meningkatkan kerusakan endotel dan memperburuk proses penyakit.

3. Gambaran klinik

Eklamsia merupakan kasus akut pada penderita preeklamsia, yamg di

sertai dengan kejang menyeluruh dan koma. Sama halnya dengan preeklamsia,

eklamsia dapat timbul pada ante, intra dan post partum. Eklamsia postpartum

hanya terjadi pada dalam waktu 24 jam pertama setelah persalinan.

Pada penderita ekalmsia yang akan kejang, umumnya memberikan

gejala-gejala atau tanda-tanda yang khas, yang dianggap sebagai tanda

prodorma akan terjadinya kejang. Preeklamsia yang di sertai dengan tanda-

tanda prodorma di sebut sebagai impending ekalmsia atau iminent eklamsia.

4. Diagnosis Banding

Kejang pada eklamsia haruss di fikirkan kejang karena kemungkinan

lainnya. Oleh karena itu, diagnosis banding ekalmsia menjadi sangat penting,

misalnya perdarahan otak, hipertensi, lesi otak, kelainan metabolik, meningitis,

epilepsi iatrogenik. Eklamsi selalu di dahului oleh preekalmisia. Perawatan

prenatal untuk dengan predisposisi preekalmsia perlu ketat di lakukan agar

dapat di kenali sedini mungkin gejala-gejala prodorma eklamsia. Sering di

jumpai perempuan hamil yang tampak sehat mendadak menjadi kejang-kejang

ekalmisa, karena tidak terdeteksi preeklamsia sebellumnya.


Kejang-kejang di mulai dengan kejang tonik, tanda-tanda kejang tonik

ialah dengan di mulainya gerakan kejang berupa twitching dari otot-otot muka

khususnya di sekitar mulut, yang bebebrapa detik di ikuti dengan kontraksi

otot-otot tubuh yang menegang, sehingga otot-otot tubuh menjadi kaku. Begitu

kuat kontraksi otot-otot tubuh sampai penderita terlempar dari tempat tidur.

Pada keadaan ini otot wajah mengalami distorsi, bola mata menonjol, kedia

lengan fleksi, tangan menggenggam, kedua tungkai mengalalami invers.

Semua tubuh dalam keaadaan ii mengalami tonik selama 15-30 menit.

Kejang tonik segera di sususl dengan kejang klonik. Dimulai dengan

terbukanya rahang secara tiba-tiba dan tertutup kembali dengan kuat disertai

pula dengan terbukanya dan tertutupnya kelopak mata. Dari mulut keluar liur

berbusa yang kadang-kadang disertai dengan bercak-bercak darah. Wajah

tampak bengkak karena terjadi kongesti dan koncungtiva tampak bercak-

bercak merah.

Pada waktu kejang, diafrakma terfiksasi, sehingga pernafasan tertahan,

kejang klonik berlangsung 1 menit. Setelah itu berangsur-angsur kejang

melemah, dan akhirnya penderita diam tidak bergerak. Akhirnya jatuh dalam

kondisi koma. Pada waktu timbul kejang, tekanan darah naik begitu cepat

meningkat. Demikian juga suhu badan meningkat, yang mungkin oleh karena

gangguan serebral. Penderita mengalami inkontensia disertai dengan oliguria

atau anuria kadang-kadang di sertai dengan aspirasi bahkan muntah.

Koma yang terjadi setelah kejang, berlangsung sangat bervariasi dan

lebih bila tidak di beri obat anti kejang akan segera di susul dengan episode
kejang berikutnya. Setelah berakhirnya kejang, frekuensi pernafasan

meningkat mencapai 50 kali permenit. Akibat terjadinya hiperkardia dan

hipoksia. Pada beberapa kasus dapat menimblkan sianosis. Penderita yang

sadar dari koma umumnya mengalami disorientasi dan sedikit gelisa.

5. Perawatan eklamsia

Perawatan dasar eklamsia yang utama ialah terapi suportif untuk

stabilisasi fungsi vital, yang selalu harus di ingat ABC, mengatasi dan

mencegah kejang, mengatasi hipoksia dan asidemia, mencegah trauma pada

saat pasien kejang. Mengendalikan tekanan darah, khususnya pada waktu

krisis hipertensi, melahirkan janin dengan cara yang tepat dan waktu yang

tepat.

6. Pengobatan medikamentosa
- Obat anti kejang

Obat anti kejang yang menjadi pilihan utama ialah magnesium sulfat.

Bila dengan jenis obat ini tidak mengataasi kejang maka digunakan anti

kejang yang lain ialah tiopental. Diazepam digunakan sebagai aternatif

pilihan. Hanya dilakukan oleh orang yang berpengalaman. Obat kardiotonika

ataupun obat-obatan anti hpertensi selalu disiapkan dan diberikan benar-benar

sesuai atas indikasi.

- Magnesium sulfat (MgSO4)

Pemberian magnesium sulfat pada umumnya sama dengan pemberian

pada kasus preeklamsia berat. Pengobatan suportif di tujukkan untuk

gangguan fungsi organ penting, misalnya tanda-tanda untuk memperbaiki


asidosis, mempertahankan ventilasi paru-paru, mengatur tekanan darah,

mencegah dekompensasio kordis.

Pada penderita myang mengalami kejang dan koma, nursing care

sangat di perlukan. Misalnya meliputi cara-cara merawat penderita di kamar

isolasi, mencegah aspirasi, mengatur infuse penderita, dan monitoring

produksi urin.

- Perawatan pada waktiu kejang

Tujuan utama pada penolongan ialah mencegah penderita mengalami

trauma akibat kejang-kejang tersebut. Di rawat di kamar isolasi cukup

tenang, tidak gelap, penderita di baringkan di tempat tidur yang lebar,

masukkan sudap lidah.

- Perawatan koma

Perlu di ingat bawha penderita koma tidak dapat bereaksi maupun

mempertahankan diri dari suhu yang ekstrem. Posisi tubuh yang

menimbulkan nyeri dan aspirasi karena reflek muntah menghilang. Oleh

karena itu pada penderita koma, ilah menjaga dan mengusahakan agar

jalan nafas tetap terbuka. Perawatan yang kedua yang perlu di perhatiakan

ialah bahwa penderita yang komaakan kehilangan refleks muntah sehingga

terjadi aspirasi bahan lamung sangat besar. Monitor GCS. Perhatikan

pencegahan dekubitus. Pemerian nutrisi melalui NGT.

7. Pengobatan obstetrik
Sikap terhadap kehamilan ialah semua kehamilan dengan ekalmsia harus

diakhiri, tanpa memandang umur kehidupan dan keadaan janin. Kehamilan di

akhiri bila sudah mencapai kestabilan hemodinamik dan metabolisme ibu.

8. Komplikasi

9. Prognois

Bila penderita tidak terlambat dalam memberikan pengobatan, maka gejala

perbaikan akan tampak jelas setelah kehamilan di akhri. Diuresis menjadi 12

jam kemudian setelah persalinan. Keadaan ini merupakan tanda prognosis yang

baik. Karena hal ini merupakan gejala awal penyembuhan. Eklamsia tidak

memperbaiki kehamilan berikutny, kecuali pada janin dari ibu yanfg sudah

mempunyai hipertensi kronik. Prognosis janin pada penderita ekalmsia

tergolong buruk. Seringkali janin mati intrauterin karena kondisi bayi sudah

sangat inferior.