Anda di halaman 1dari 31

BAB I

STATUS PASIEN

1.1 Identitas
Nama : Tn. A
Usia : 34 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Cianjur
No. Rekam Medik : 91****
Agama : Islam
Pekerjaan : Tukang Bangunan
Status : Sudah Menikah

1.2 Anamnesis
Autoanamnesis dilakukan pada hari Kamis, 17 Maret 2016 Pukul 09.30 WIB
a. Keluhan Utama :
Terdapat bercak kemerahan disertai baal pada muka dan seluruh tubuh sejak 2
bulan SMRS
b. Riwayat Penyakit Sekarang :
Os datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Cianjur dengan
keluhan terdapat adanya bercak kemerahan pada wajah sejak 2 bulan SMRS,
awalnya berukuran sebesar biji jagung tetapi semakin lama semakin membesar
dan bertambah banyak. Bercak tersebut awalnya tidak dirasakan gatal, nyeri
dan baal, tetapi seiring dengan bertambahnya ukuran bercak kemerahan
tersebut dirasakan baal.
1 bulan SMRS bercak kemerahan dirasakan semakin banyak, dari
wajah meluas ke leher, lengan kanan dan kiri, tangan kanan dan kiri, dada,
perut, punggung, tungkai dan kaki kanan dan kiri. Bercak tersebut dirasakan
baal, tidak nyeri, tidak gatal.
2 minggu os mulai merasakan kaki dan tangan terasa kebas

1
semenjak adanya bercak kemerahan pada daerah tersebut, os juga
mengeluhkan sering merasa pegal-pegal. Semakin lama keluhan semakin
memberat, os tidak merasakan adanya sensasi raba saat orang lain meraba.
c. Riwayat Penyakit Dahulu :
- Os belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya
- Os tidak pernah menderita penyakit tuberkulosis
- Os tidak mempunyai riwayat penyakit kencing manis, asma dan darah
tinggi
d. Riwayat Penyakit Keluarga :
- Tidak ada yang mengalami sakit yang sama seperti yang pasien alami
pada keluarga
- Tidak ada riwayat penyakit tuberkulosis pada keluarga
- Tidak terdapat penyakit kencing manis, asma dan darah tinggi pada
keluarga
e. Riwayat Pengobatan :
Os sudah berobat sebelumnya ke puskesmas 1 bulan SMRS dan diberikan
obat yang harus rutin diminum, sudah jalan 1 bulan
f. Riwayat Alergi
Os tidak mempunyai riwayat alergi obat, makanan, udara
g. Riwayat Psikososial
- Lingkungan sekitarnya tidak ada yang memiliki keluhan yang serupa
dengan pasien
- Pasien dalam sehari mandi 2 kali, menggunakan sabun, dan setiap kali
selesai mandi menggunakan baju bersih
- Riwayat penggunaan alat mandi atau handuk bersama dengan anggota
keluarga lainnya tidak ada.
- Sehari-hari pasien tidak memelihara binatang atau pun berkontak dengan
binatang
- Riwayat berhubungan seksual terakhir hanya dengan istrinya

2
1.3 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik dilakukan pada Kamis, 17 Maret 2016
a. Keadaan umum : Tampak sakit sedang
b. Kesadaran : Composmentis
c. Tanda-tanda vital :
- Tekanan darah : 110/70 mmHg
- Suhu : 36,7 0 C (aksilla)
- Nadi : 86 x/ menit (regular, kuat angkat, isi cukup)
- Pernafasan : 20 x/menit (regular)
d. Status Generalis :
Kepala : Normocephal
Rambut : Rambut bewarna hitam, distribusi rata, ketombe (-), lesi
kulit (-), tidak mudah dicabut
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), secret (-/-),
lagoftalmus (-/-)
Hidung : Deviasi septum nasi (-), Sekret (-/-), Darah (-/-), Saddle
nose (-)
Telinga : Normotia, serumen (-/-), darah (-/-)
Mulut : Caries (-), lidah kotor (-), tonsil T1-T1, faring tidak
hiperemis
Leher : Pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)
Thoraks :
Paru
- Inspeksi : bentuk dada normochest, pergerakan dinding dada
simetris
- Palpasi : vokal fremitus paru kanan dan kiri simetris
- Perkusi : sonor dikedua lapang paru
- Auskultasi : Vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Jantung
- Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
- Palpasi : Iktus cordis teraba di ICS 5, pada garis midclavikularis

3
sinistra
- Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
- Auskultasi : Bunyi jantung I dan II reguler normal, murmur (-), gallop
(-)
Abdomen:
- Inspeksi : Permukaan abdomen datar
- Palpasi : Hepar dan lien tidak teraba membesar, nyeri tekan (-)
- Perkusi : Timpani pada keempat kuadran abdomen, pekak hepar (+)
- Auskultasi : Bising usus (+) normal

e. Pemeriksaan Neurologis
Tes Sensoris Raba : positif (pasien tidak dapat merasakan raba kapas pada lesi)
Nyeri : positif (pasien tidak dapat membedakan nyeri tajam dan
tumpul)
Suhu : (?) alat tidak tersedia
Pemeriksaan Pertumbuhan rambut terganggu pada lesi (+), kulit kering (+) Tes
Otonom saraf otonom (uji pensi gunawan) : (?) alat tidak tersedia
Tes Motoris Voluntary Muscle Test (VMT)
- Fungsi saraf ulnaris: menurun
- Fungsi saraf medianus : menurun
- Fungsi saraf radialis: menurun
- Fungsi saraf peroneus comunis: menurun
Pemeriksaan saraf - Nervus aurikularis magnus: Pembesaran (-/-), nyeri (-/-)
tepi - Nervus ulnaris: Pembesaran (-/-), anastesi (+/+)
- Nervus peroneus lateralis: Pembesaran (-/-), anastesi (+/+)
- Nervus tibialis posterior: Penebalan (-/-), anastesi telapak
kaki (+/+)

4
f. Status Dermatologis :
Distribusi Generalisata
Regio Facialis, Colli Anterior, Colli Posterior, Ekstremitas superior,
Thorax, Abdomen, Punggung, Ekstremitas inferior
Lesi Lesi bilateral, multipel, difus, konflues, bentuk sebagian bulat,
sebagian lonjong, dan sebagian tidak beraturan, lesi sebagian
timbul, sebagian tidak menimbul, permukaan lesi halus dan
mengkilat, ukuran lesi lentikular, numular, sampai >5 cm, jumlah
lesi >5
Efloresensi Papul, Nodus, Makula eritematosa, makula hiperpigmentasi

1.4 Foto Pasien

5
1.5 Resume
Laki-laki berusia 34 tahun datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD
Cianjur
Berdasarkan anamnesis didapatkan:
- 2 bulan SMRS bercak kemerahan yang terasa baal. Bercak berada di
daerah wajah, leher, lengan dan tangan kanan dan kiri, dada, perut,
punggung, tungkai dan kaki kanan dan kiri
- 2 minggu SMRS Rasa baal, pegal, sering kesemutan pada kaki dan
tangan
Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan:
- Distribusi generalisata a/r Facialis, Colli Anterior, Colli Posterior,
Ekstremitas superior, Thorax, Abdomen, Punggung, Ekstremitas inferior.
Lesi bilateral, multipel, difus, konflues, bentuk sebagian bulat, sebagian
lonjong, dan sebagian tidak beraturan, lesi sebagian timbul, sebagian
tidak menimbul, permukaan lesi halus dan mengkilat, ukuran lesi
lentikular, numular, sampai >5 cm, dengan efloresensi papul, nodus,

6
makula eritematosa, makula hiperpigmentasi
- Pemeriksaan sensoris raba, nyeri pada bercak didapatkan positif (terdapat
gangguan fungsi sensoris)
- Pemeriksaan motorik positif (terdapat adanya gangguan)
- Pemeriksaan otonom, kulit kering (+), pemeriksaan Pensil Gunawan (?)
1.6 Diagnosis Banding
1. Morbus Hansen Multibasilar tipe Borderline Lepromatosa
2. Morbus Hansen Multibasilar tipe Lepromatosa
3. Morbus Hansen tipe Mid-borderline

1.7 Diagnosis Kerja


Morbus Hansen Multibasilar tipe Borderline Lepromatosa

1.8 Penatalaksanaan :
Medikamentosa :
- Rifampisin 600 mg/bulan
- Dapson 100 mg/hari
- Lampren (Klofazimin) 300 mg/bulan
- Jangka pengobatan 12-18 bulan
Non Medikamentosa :
Edukasi :
- Edukasi mengenai penyakit dan rencana pengobatan
bekepanjangan
- Teratur meminum obat dan kontrol setiap bulan
- Menjaga hygiene sepeti mengganti baju dan mandi setiap kali
berkeringat
- Menjaga kontak dengan orang lingkungan sekitar untuk mencegah
penularan
- Menjaga kebersihan lesi dari luka atau kotoran, dengan melakukan
pengecekan setiap hari
- Selalu memakai kaos kaki dan sarung tangan sebagai upaya

7
pencegahan terjadi deformitas
- Memakai kaca mata untuk melindungi matanya
- Tangan dan kaki direndam, disikat, dan diminyaki agar tidak kering
dan pecah
- Tanggap akan efek samping obat dan reaksi obat dan segera
berobat ke dokter

1.9 Rencana Pemeriksaan penunjang :


- Pemeriksaan Bakterioskopik
- Pemeriksaan Histopatologik
- Pemeriksaan Serologik
- Test Lepromin

1.10 Prognosis :
- Ad vitam : Dubia ad Malam
- Ad sanationam : Dubia ad Bonam
- Ad fungsionam : Dubia ad Malam

8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kusta termasuk penyakit tertua. Kata kusta berasal dari bahasa India kustha,
dikenal sejak 1400 tahun sebelum Masehi. Kata kusta disebut dalam kitab Injil,
terjemahan dari bahasa Hebrew zaraath yang sebenarnya mencakup beberapa
penyakit kulit lainnya. Ternyata bahwa berbagai deskripsi mengenai penyakit ini
sangat kabur, apabila dibandingkan dengan kusta yang kita kenal sekarang.
2.1 Definisi
Kusta merupakan penyakit infeksi yang kronik dan penyebabnya ialah
Mycobacterium leparae yang bersifat intraseluler obligat. Saraf perifer sebagai
afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas, kemudian
dapat ke orgam lain kecuali susunan saraf pusat.
2.2 Sinonim
Lepra, Morbus Hansen.
2.3 Epidemiologi
Masalah epidemiologi masih belum terpecahkan, cara penularan belum
diketahui pasti hanya berdasarkan anggapan klasik yaitu melalui kontak langsung
antarkulit yang lama dan erat. Anggapan kedua adalah secara inhalasi,sebab
M.leprae masih dapat hidup beberapa hari dalam droplet.
Masa tunasnya sangat bervariasi, anyara 40 hari sampai 40 tahun umumya
beberapa tahun, rata-rata 3-5 tahun. Penyebaran penyakit kusta dari suatu tempat
ke tempat lain sampai tersebar di seluruh dunia, tampaknya disebabkan oleh
perpindahan penduduk yang terinfeksi penyakit tersebut. Masuknya kusta ke
pulau-pulau Melanesia termasuk Indonesia, diperkirakan terbawa oleh orang-
orang Cina. Distribusi penyakit ini tiap-tiap negara maupun dalam satu negara
sendiri ternyata berbeda-beda. Demikian pula penyebab penyakit kusta menurun
atau menghilang pada suatu negara sampai saat ini belum jelas benar.
Faktor- faktor yang perlu dipertimbangkan adalah patogenesis kuman
penyebab, cara penularan,keadaan sosial ekonomi dan lingkungan, varian genetik

9
yang berhubungan dengan kerentanan, perubahan imunitas, dan kemungkinan
adanya reservoir di luar manusia. Penyakit kusta masa kini lain dengan kusta
tempo dulu, tetapi meskipun demikian masih banyak hal-hal yang belum jelas
diketahui, sehingga masih merupakan tantangan yang luas bagi para ilmuwan
untuk pemecahannya.
Belum ditemukan medium artifisial,mempersulit dalam mempelajari sifat-
sifat M.leprae. Sebagai sumber infeksi hanyalah manusia, meskipun masih
dipikirkan adanya kemungkinan di luar manusia. Penderita yang mengandung
M.leprae jauh lebih banyak (sampai 1013 per gram jaringan) dibandingkan
dengan penderita yang mengandung 107, daya penularannya hanya tiga sampai
sepuluh kali lebih besar.
Kusta bukan penyakit keturunan, kuman dapat ditemukan di kulit, folikel
rambut, kelenjar keringat dan air susu ibu, jarang didapat dalam urin. Sputum
dapat banyak mengandung M.leprae yang berasal dari traktus respiratorius atas.
Tempat implantasi tidak selalu menjadi tempat lesi pertama. Dapat menyerang
semua umur, anak-anak lebih rentan daripada orang dewasa. Di Indonesia
penderita anak-anak di bawah umur 14 tahun didapatkan 11,39% tetapi anak di
bawah umur 1 tahun jarang sekali. Frekuensi tertinggi terdapat pada kelompok
umur antara 25-35 tahun.
Kusta terdapat dimana-mana, terutama di Asia, Afrika, Amerika Latin daerah
tropis dan subtropis serta masyarakat yang sosio ekonom rendah. Makin rendah
sosio ekonomi makin berat penyakitnya, sebaliknya faktor sosial ekonomi tinggi
sangat membantu penyembuhan. Ada variasi reaksi terhadap infeksi M.leprae
yang mengakibatkan variasi gambaran klinis di berbagai suku bangsa. Hal ini juga
disebabkan oleh faktor genetik yang berbeda.
Jumlah kasus kusta di seluruh dunia selama 12 tahun terakhir ini telah
menurun tajam di sebagian besar negara atau wilayah endemis. Kasus yang
terdaftar pada permulaan tahun 2009 tercatat 213.036 penderita yang berasal dari
121 negara, sedangkan jumlah kasus baru tahun 2008 baru tercatat 249.007. Di
Indonesia jumlah kasus kusta yang tercatat akhir tahun 2008 adalah 22.359 orang
dengan kasus baru tahun 2008 sebesar 16.668 orang. Distribusi tidak merata, yang

10
tertinggi antara lain di Pulau Jawa, Sulawesi,Maluku,dan Papua. Prevalensi pada
tahun 2008 per 10.000 penduduk adalah 0,73.
Kusta merupakan penyakit yang menyeramkan dan ditakuti oleh karena dapat
terjadi ulserasi, mutilasi, dan deformitas. Penderita kusta bukan menderita karena
penyakitnya saja,tetapi juga karena dikucilkan masyarakat sekitarnya. Hal ini
akibat kerusakan syaraf besar yang ireversibel di wajah dan ekstremitas, motorik
dan sensorik serta dengan adanya kerusakan yang berulang-ulang pada daerah
anestetik disertai paralisis dan atrofi otot.
2.4 Etiologi
Kuman penyebab adalah Mycobacterium Leprae yang ditemukan oleh G.A
Hansen pada tahun 1874 di Norwegia yang sampai sekarang belum juga dapat
dibiakkan dalam media artifisial. M.leprae berbentuk kuman dengan ukuran 3-8
um x 0,5 um, tahan asam dan alkohol serta gram-positif.
2.5 Patogenesis
Pada tahun 1960 Shepard berhasil menginokulasikan M.leprae pada kaki
mencit dan berkembang biak di sekitar tempat suntikan. Dari berbagai macam
spesimen, bentuk lesi maupun negara asal penderita, ternyata tidak ada perbedaan
spesies. Agar dapat tumbuh diperlukan jumlah minimum M.leprae yang
disuntikkan dan kalau melampaui jumlah maksimum tidak berarti meningkatkan
perkembangbiakkan.
Inokulasi pada mencit yang telah diambil timusnya dengan diikuti iradiasi
900r, sehingga kehilangan respons imun selulernya, akan menghasilkan
granuloma penuh kuman terutama di bagian tubuh yang relatif dingin, yaitu
hidung,cuping telinga,kaki dan ekor. Kuman tersebut selanjutnya dapat di
inokulasikan lagi berarti memenuhi salah satu postulat Koch, meskipun belum
seluruhnya dapat dipenuhi.
Sebenarnya M.Leprae mempunyai patogenitas dan daya invasi yang rendah,
sebab penderita yang mengandung kuman lebih banyak belum tentu menghasilkan
gejala yang lebih berat, bahkan dapat sebaliknya. Ketidakseimbangan antara
derajat infeksi dengan derajat penyakit, tidak lain disebabkan oleh respon imun
yang berbeda, yang menggugah timbulnya reaksi granuloma setempat atau

11
menyeluruh yang dapat sembuh sendiri atau progresif. Oleh karena itu, penyakit
kusta disebut sebagai penyakit imunologik.

2.6 Gejala Klinis


Diagnosis penyakit kusta didasarkan gambaran klinis, bakterioskopis, dan
histopatologis, dan serologis.
Di antara ketiganya, diagnosis secara klinis yang terpenting dan paling
sederhana. Hasil bakterioskopis memerlukan waktu paling sedikit 15-30 menit,
sedangkan histopatologik 10-14 hari. Kalau memungkinkan dapat dilakukan tes
lepromin (Mitsuda) untuk membantu penentuan tipe, yang hasilnya baru dapat
diketahui setelah 3 minggu. Penentuan tipe kusta perlu dilakukan agar dapat
menetapkan terapi yang sesuai.
Bila kuman M.leprae masuk ke dalam tubuh seseorang dapat timbul gejala
klinis sesuai dengan kerentanan orang tersebut. Bentuk tipe klinis bergantung
pada sistem imunitas seluler (SIS) penderita. Bila SIS baik akan tampak gambaran
klinik ke arah tuberkuloid, sebaliknya SIS rendah memberikan gambaran
lepromatosa.
Ridley dan Jopling memperkenalkan istilah spektrum determinate pada penyakit
kusta yang terdiri atas berbagai tipe atau bentuk yaitu :
TT : Tuberkuloid polar ,bentuk yang stabil
Ti : Tuberkuloid indefinite
BT : Bordeline tubercoloid
BB : Mid bordeline
BL : Bordeline lepromatosa
Li : Lepromatosa indefinite
LL : Lepromatosa polar, betuk yang stabil
Tipe I (indeterminate) tidak termasuk dalam spektrum. TT adalah tipe
tuberkulooid polar yakni tuberkuloid 100%, merupakan tipe yang stabil, jadi
berarti tidak mungkin berubah tipe. Begitu juga LL adalah tipe lepromatosa polar
yakni lepromatosa 100% juga merupakan tipe yang stabil yang tidak mungkin
berubah lagi. Sedangkan tipe antara Ti dan Li disebut tipe bordeline atau

12
campuran berarti campuran antara tuberkuloid dan lepromatosa. BB adalah tipe
campuran yang terdiri atas 50% tuberkoloid dan 50% lepromatosa. BT dan Ti
lebih banyak tuberkuloidnya, sedang BL dan Li lebih banyak lepromatosanya.
Tipe-tipe campuran ini adalah tipe yang labil berarti dapat beralih tipe, baik ke
arah TT maupun ke arah LL. Zona spektrum kusta menurut berbagai klasifikasi
dapat dilihat pada tabel berikut :
Zona Spektrum Kusta Menurut Macam Klasifikasi
Klasifikasi Zona Spektrum Kusta
Ridley & Jopling TT BT BB BL LL
Madrid Tuberkuloid Bordeline Lepromatosa

WHO PB MB
Puskesmas PB MB

Multibasilar berarti mengandung banyak kuman yaitu tipe LL,BL,dan BB.


Sedangkan pausibasilar berarti mengandung sedikit kuman, yakni tipe TT,BT dan
I. Menurut WHO pada tahun 1981, kusta dibagi menjadi multibasilar dan
pausibasilar. Yang termasuk dalam multibasilar adalah tipe LL. BL dan BB pada
klasifikasi Ridley-Jopling dnegan indeks bakteri (IB) lebih dari 2+ sedangkan
pausibasilar adalah tipe I, tipe TT dan BT dengan IB kurang dari 2+.
Yang dimaksud dengan kusta PB adalah kusta dengan BTA negatif pada
pemeriksaan kerokan jaringan kulit, yaitu tipe-tipe I,TT, dan BT menurut
klasifikasi Ridley-Jopling. Bila ada tipe-tipe tersebut disertai BTA positif, maka
akan dimasukkan ke dalam kusta MB. Sedangkan kusta MB adalah semua
penderita kusta tipe BB,BL dan LL atau apapun klasifikasi klinisnya dengan BTA
positif, harus diobati dengan rejimen MDT-MB.
Gambaran Klinis,Bakteriologik, dan Imunologik oleh Kusta,Multibasilar (MB)
Sifat Lepromatosa (LL) Bordeline Lepromatosa(BL) Mid Bordeline
(BB)
Lesi : Makula Makula Plakat
Bentuk Infitrat ulkus Papul Dome-shaped
Papul Plakat (kubah)
Nodus Punched-out
Jumlah Tidak Terhitung, praktis Sukar dihitung, masih ada Dapat

13
tidak ada kulit sehat kulit sehat. dihitung,kulit
sehat jelas ada
Distribusi Simetris Hampir simetris Asimetris
Permukaan Halus berkilat Halus berkilat Agak kasar,
agak berkilat
Batas Tidak jelas Agak jelas Agak jelas
Anestesia Tidak ada sampai tidak jelas Tak jelas Lebih jelas
BTA
- Lesi Kulit Banyak (ada globus) Banyak Agak banyak
- Sekret hidung Banyak (ada globus) Biasanya negatif Negatif
Tes Lepromin Negatif Negatif Biasanya
negatif

Gambaran Klinik, Bakteriologik, dan Imunologik Kusta Pausibasilar (PB)


Sifat Tuberkuloid (TT) Bordeline Tuberkuloid (BT) Indeterminate
(I)
Lesi : Makula saja Makula dibatasi infiltrate Hanya makula
Bentuk Makula dibatasi infiltrat Infiltrat saja
Jumlah Satu, dapat beberapa Beberapa atau satu dengan Satu atau
satelit beberapa
Distribusi Asimetris Masih asimetris Variasi
Permukaan Kering bersisik Kering bersisik Halus agak
berkilat
Batas Jelas Jelas Dapat jelas atau
dapat tidak jelas
Anestesia Jelas Jelas Tak ada sampai
tidak jelas
BTA
- Lesi Kulit Hampir selalu negatif Negatif atau hanya 1+ Biasanya
Tes Lepromin Positif kuat (3+) Positif lemah negatif
Dapat positif
lemah atau
negatif

Bagan Diagnosis Klinis Menurut WHO 1995


Pausibasilar (PB) Multibasilar
1. Lesi kulit - 1-5 lesi - >5 lesi

14
(makula datar, papul yang - hipopigmentasi/eritema - distribusi lebih simetris
meninggi, nodus) - distribusi tidak simetris - hilangnya sensasi kurang
- hilangnya sensasi yang jelas
jelas - banyak cabang saraf
2.Kerusakan saraf - hanya satu cabang saraf - banyak cabang saraf
(menyebabkan hilangnya
sensasi/kelemahan otot
yang dipersarafi oleh saraf
yang terkena).

Kelainan kulit pada penyakit kusta tanpa komplikas dapat hanya berbentuk
makula saja, infiltrat saja atau keduanya. Penyakit kulit yang harus diperhatikan
sebagai diagnosis banding antara lain dermofitosis, tinea versikolor,pitiariasis
rosea, pitiriasis alba, dermatitis seboroika, psoariasis, neurofibromatosis, granula
anulare, xantomatosis, skleroderma, leukemia kutis, tuberkulosis kutis verukosa,
dan bitrh mark.
Kalau secara inspeksi mirip penyakit lain,ada tidaknya anestesi sangat banyak
membantu penentuan diagnostik, meskipun tidak selalu jelas. Hal ini dengan
mudah dilakukan dengan menggunakan jarum terhadap rasa nyeri, kapas terhadap
rasa raba dan kalau masih belum jelas dengan kedua cara tersebut barulah
pengujian terhadap rasa suhu yaitu panas dan dingin dengan menggunakan 2
tabung reaksi. Untuk mengetahui adanya kerusakan fungsi saraf otonom
perhatikan ada tidaknya dehidrasi di daerah lesi yang dapat jelas dan dapat pula
tidak, yang dipertegas menggunakan pensil tinta (tanda Gunawan). Cara
menggoresnya mulai dari tengah lesi ke arah kulit normal. Bila ada gangguan,
goresan pada kulit normal akan lebih tebal bila dibandingkan dengan bagian
tengah lesi. Dapat pula diperhatikan adanya alopesia di daerah lesi, yang kadang
-kadang dapat membantu, tetapi bagi penderita yang memiliki kulit berambut
sedikit, sangat sukar menentukannya. Gangguan fungsi motoris diperiksa dengan
Voluntary Muscle Test (VMT).
Mengenai saraf perifer yang perlu diperhatikan ialah pembesaran, konsistensi,
ada/tidaknya nyeri spontan dan atau nyeri tekan. Hanya beberapa saraf superfisial

15
yang dapat dan perlu diperiksa, yaitu N.fasialis, N.aurikularis magnus, N.radialis,
N.ulnaris, N.medianus, N.politea lateralis, dan N.tibialis posterior. Tampaknya
mudah, tetapi memerlukan latihan dan kebiasaan untuk memeriksanya. Bagi tipe
ke arah lepromatosa kelainan saraf biasanya bilateral dan menyeluruh, sedang
bagi tipe tuberkuloid,kelainan sarafnya lebih terlokalisasi mengikuti tempat
lesinya.
Deformitas atau cacat kusta sesuai dengan patofisiologinya, dapat dibagi
dalam deformitas primer dan sekunder. Cacat primer sebagai akibat langsung oleh
granuloma yang terbentuk sebagai reaksi terhadap M.leprae, yang mendesak dan
merusak jaringan di sekitarnya seperti kulit, mukosa traktus respiratorius atas,
tulang-tulang jari dan wajah. Cacat sekunder terjadi sebagai akibat adanya
deformitas primer, terutama kerusakan saraf (sensorik,motorik,otonom) antara lain
kontraktur sendi, mutilasi tangan dan kaki.
Gejala-gejala kerusakan saraf :
a. N. Ulnaris :
- anestesia pada ujung jari anterior kelingking dan jari manis.
- clawing kelingking dan jari manis.
- atrofi hipotenar dan otot intraseus serta kedua otot lumbrikalis medial.
b. N.medianus :
- anestesia pada ujung jari bagian anterior ibu jari,telunjuk dan jari tengah.
- tidak mampu aduksi ibu jari.
- clawing ibu jari, telunjuk, dan jari tengah.
- ibu jari kontraktur
- atrofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral.
c. N.radialis :
- anestesia dorsum manus, serta ujung proksimal jari telunjuk.
- tangan gantung (wrist drop).
- tak mampu ekstensi jari-jari atau pergelangan tangan.

d. N. Poplitea lateralis :
- anestesia tungkai bawah, bagian lateral dan dorsum pedis.

16
- kaki gantung (foot drop)
- kelemahan otot peroneus
e. N.tibialis posterior :
- anestesi telapak kaki
- claw toes
- paralisis otot instrinsik kaki dan kolaps arkus pedis
f. N. Fasialis :
- cabang temporal dan zigomatik menyebabkan lagoftalmus.
- cabang bukal, mandibular,dan servikal menyebabkan kehilangan ekspresi
wajah dan kegagalan mengatupkan bibir.
g. N. Trigeminus :
- Anestesi kulit wajah, kornea dan konjungtiva.
- atrofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral
Kerusakan mata pada kusta juga dapat primer dan sekunder, Primer
mengakibatkan alopesia pada alis mata dan bulu mata,juga dapat mendesak
jaringan mata lainnya. Sekunder disebabkan oleh rusaknya N.fasialis yang dapat
membuat paralisis N.orbikularis palpebrum sebagian atau seluruhnya,
menyebabkan kerusakan bagian-bagian mata lainnya. Secara sendiri-sendiri
bergabung akhirnya dapat menyebabkan kebutaan.
Infiltrasi granuloma ke dalam adneksa kulit yang terdiri atas kelenjar
keringat, kelenjar palit, dan folikel rambut dapat mengakibatkan kulit kering dan
alopesia. Pada tipe lepromatosa dapat timbul ginekomasti akibat gangguan
keseimbangan hormonal dan oleh karena infiltrasi granuloma pada tubulus
seminiferus testis.
Untuk dapat membuat diagnosis klinis dan tipenya, perlu diketahui terlebih
dahulu cara membuat diagnostik kedua bentuk polar TT dan LL yang akan
diuraikan secara skematis. Bentuk campuran mempunyai sifat campuran antara
kedua bentuk polar tersebut.

2.7 Kusta histoid

17
Kusta histoid merupakan variasi lesi pada tipe lepromatosa yang pertama
dikemukakan oleh Wade pada tahun 1963. Secara klinis berbentuk nodus yang
berbatas tegas, dapat berbentuk plak. Bakterioskopik positif tinggi. Umunya
timbul sebagai kasus relaps sensitif atau relaps resisten.

2.8 Kusta tipe neural


Kusta tipe neural murni mempunyai tanda sebagai berikut :
1. tidak ada dan tidak pernah ada lesi kulit
2. ada satu atau lebih pembesaran saraf
3. ada anestesia dan atau paralisis serta atrofi otot pada daerah yang
disarafinya.
4. bakterioskop negative
5. tes Mitsuda umumnya positif
6. untuk menentukan tipe, biasanya tipe tuberkuloid, bordeline atau
nonspesifik, harus dilakukan pemeriksaan histopatologik saraf

2.9 Penunjang Diagnosis


a. Pemeriksaan bakterioskopik (kerokan jaringan kulit)
Pemeriksaan ini digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis dan
pengamatan pengobatan. Sediaan dibuat dari kerokan jaringan kulit atau
usapan dan kerokan mukosa hidung yang diwarnai dengan pewarnaan
terhadap basil tahan asam (BTA) antara laiin dengan Ziehl-Neelsen.
Bakterioskopik negatif pada seseorang penderita, bukan berarti orang tersebut
tidak mengandung kuman M.leprae.
b. Pemeriksaan Histopatologik
Makrofag dalam jaringan yang berasal dari monosit di dalam darah ada
yang mempunyai nama khusus, antara lain sel Kuppfer dari hati, sel alveolar
dari paru, sel glia dari otak dan yang dari kulit disebut histiosit. Salah satu
tugas dari makrofag melakukan fagositosis. Kalau ada kuman M.leprae
masuk, akibatnya akan bergantung pada Sistem Imunitas Seluler orang
tersebut. Apabila SIS-nya tinggi, makrofag akan mampu memfagosit

18
M.leprae. Datangnya histiosit ke tempat kuman disebabkan karena proses
imunoogik dengan adanya faktor kemotaktik. Kalau datang nya berlebihan
dan tidak ada lagi yang harus difagosit, makrofag akan berubah bentuk
menjadi sel epiteloid yang tidak dapat bergerak dan kemudian akan dapat
berubah menjadi sel datia Langhans. Adanya massa epiteloid yang berlebihan
dikelilingi oleh limfosit yang disebut tuberkel akan menjadi penyebab utama
kerusakan jaringan dan cacat.
Pada penderita dengan SIS rendah atau lumpuh, histiosit tidak dapat
menghancurkan M.leprae yang sudah ada di dalamnya, bahkan dijadikan
tempat berkembang biak disebut sel Virchov atau sel lepra atau sel busa dan
sebagai alat pengangkut penyebar luasaan. Granuloma adalah akumulasi
makrofag dan atau derivat-derivatnya. Gambaran histopatologik tipe
tuberkuloid adalah tuberkel dan kerusakan saraf yang lebih nyata, tidak ada
kuman atau hanya sedikit dan non solid. Pada tipe lepromatosa terdapat kelim
sunyi subepidermal (subepidermal clear zone) yaitu suatu daerah langsung di
bawah epidermis yang jaringannya tidak patologik. Didapati sel Virchow
dengan banyak kuman. Pada tipe bordeline, terdapat campuran unsur-unsur
tersebut.
Karakteristik Berbagai Tipe Kusta Menurut Klasifikasi Ridley- Jopling
Tipe
TT Ti BT BB BL Li LL
Reaksi Lepromin 3+ 2+ 1+ - - - -
Reaksi bordeline - + ++ + -
ENL - - - - + + +
Kuman dalam hidung - - - - + ++ ++
Kuman dalam granuloma 0 0-1+ 1-3+ 3-4 + 4-5+ 5-6+ 5-6+
Sel epiteloid + + + + - - -
Sel datia langhans +++ ++ + + - - -
Globi - - - - - + +
Sel busa (sel Virchow) - - - - + ++ +++
Limfosit +++ +++ ++ + + +/
Infiltrasi zona sub + + +/- - - - -
epidemal
Kerusakan saraf ++ +++ ++ + + -
Status imunologik ++ + - + ++

19
c. Pemeriksaan serologik
Pemeriksaan serologik kusta didasarkan atas terbentuknya antibodi pada
tubuh seseorang yang terinfeksi oleh M.leprae. Antibodi yang terbentuk dapat
bersifat spesifik terhadap M.leprae yaitu antibodi anti phenolic glycolipid-1
(PGL-1) dan antibodi antiprotein 16 kD serta 35 kD.
Sedangkan antibodi yang tidak spesifik antara lain antibodi anti-
liporabinomanan (LAM) yang juga dihasilkan oleh kuman M.tuberculosis.
Kegunaan pemeriksaan serologik ini ialah dapat membantu diagnosis
kusta yang meragukan, karena tanda klinis dan bakteriologik tidak jelas. Di
samping itu, dapat membantu menentukan kusta tersebut subklinis, karena
tidak didapati lesi kulit, misalnya pemeriksaan serologik kusta ialah :
1. Uji MLPA (Mycobacterium Leprae Particle Aglutination)
2. Uji ELISA (Enzyme Linked Immuno-sorbent Assay)
3. ML dipstick test ((Mycobacterium leprae dipstick)
4. ML flow test (Mycobacterium leprae flow test)

Reaksi Kusta
Reaksi kusta adalah interupsi dengan episode akut pada perjalanan penyakit
yang sebenarnya sangat kronik. Reaksi imun dapat menguntungkan, tetapi dapat
pula merugikan yang disebut reaksi imun patologik dan reaksi kusta ini tergolong
di dalamnya.
a. ENL (Eritema Nodusum Leprosum)
ENL dapat timbul pada tipe lepromatosa polar dan dapat pula pada BL
berarti makin tinggi tingkat multibasilarnya makin besar kemungkinan
timbulnya ENL.

20
Secara imunopatologis, ENL termasuk respons imun humoral, berupa
fenomena kompleks imun akibat reaksi antara antigen M.leprae + antibodi
(IgM, IgG) + komplemen --> komplek imun. Tampaknya reaksi ini analog
dengan reaksi fenomena unik tidak dapat disamakan begitu saja dengan
penyakit lain. Dengan terbentuknya komplek imun ini maka ENL termasuk di
dalam golongan penyakit komplek imun, oleh karena salah satu protein
M.leprae bersifat antigenik, maka antibodi dapat terbentuk. Ternyata bahwa
kadar immunoglobulin penderita kusta lepromatosa lebih tinggi daripada tipe
tuberkuloid. Hal ini terjadi karena pada tipe lepromatosa jumlah kuman lebih
banya daripada tipe tuberkuloid. ENL lebih banyak terjadi pada saat
pengobatan. Hal ini terjadi karena banyak kuman kusta yang mati dan hancur,
berarti banyak antigen yang dilepaskan dan bereaksi dengan antibodi serta
megaktifkan sistem komplemen. Komplek imun tersebut terus beredar dalam
sirkulasi darah yang akhirnya dapat melibatkan berbagai organ.
Pada kulit timbul gejala klinis yang berupa nodus eritema,dan nyeri
dengan tempat predileksi di lengan dan tungkai. Bila mengenai organ lain
dapat menimbulkan gejala seperti iridosiklitis, neuritis akut,
limfadenitis,artritis, orkitis dan nefritis akut dengan adanya protenuria. ENL
dapat disertai gejala konstitusi dari ringan sampai berat yang dapat
diterangkan secara imunologik pula. Pada ENL tidak terjadi perubahan tipe.
Lain hal nya dengan reaksi reversal (reaksi upgrading) yang hanya dapat
terjadi pada tipe bordeline (Li,BL,BB,BT,Ti) sehingga disebut reaksi
bordeline. Yang memegang peranan penting yaitu SIS yaitu terjadi
peningkatan mendadak SIS. Meskipun faktor pencetusnya masih idiopatik,
diperkirakan adan hubungannya dengan reaksi hipersensitifitas tipe lambat.
Reaksi peradangan terjadi pada tempat-tempat kuman M.leprae berada, yaitu
pada saraf-saraf dan kulit, umumnya terjadi pada pengobatan 6 bulan pertama.
Neuritis akut dapat menyebabkan kerusakan saraf secara mendadak.
Tipe kusta yang termasuk bordeline ini dapat bergerak bebas ke arah
TT,dan LL dengan mengikuti naik turunnya SIS, sebab setiap perubahan tipe
selalu disertai perubahan SIS pula. Begitu pula reaksi reversal, terjadi

21
perpindahan tipe ke arah TT dengan disertai peningkatan SIS, hanya bedanya
dengan cara mendadak dan cepat. Gejala klinis dari reaksi reversal ialah
sebagian atau seluruh lesi yang telah ada bertambah aktif dan atau timbul lesi
baru dalam waktu relatif singkat. Artinya lesi hipopigmentasi menjadi eritema,
lesi eritema menjadi eritematosa ,lesi makula menjadi infiltrat, lesi infiltrat
makin infiltrat dan lesi lama menjadi bertambah luas. Tidak perlu semua
gejala ada, satu aja sudah cukup. Ada gejala neuritis akut penting diperhatikan,
untuk menentukan pemberian pengobatan kortikosteroid sebab tanpa gejala
neuritis akut pemberian kortikosteroid adalah fakultatif.
Reaksi ENL dan reversal secara klinis, ENL dengan lesi eritema nodusum
sedangkan reversal tanpa nodus sehingga disebut reaksi lepra nodular,
sedangkan reaksi reversal adalah reaksi non-nodular. Hal ini penting
membantu menegakkan diagnosis reaksi atau dasar lesi, ada atau tidaknya
nodus.
b. Fenomena Lucio
Fenomena lucio merupakan reaksi kusta yang sangat berat yang terjadi
pada kusta tipe lepromatosa non nodular difus. Kusta tipe ini terutama
ditemukan di Meksiko dan Amerika Tengah, namun dapat juga dijumpai di
negeri lain dengan prevalensi rendah. Gambaran klinis dapat berupa plak atau
infiltrat difus, berwarna merah muda, bentuk tak teratur dan terasa nyeri. Lesi
terutama di ekstremitasm kemudian meluas ke seluruh tubuh. Lesi yang berat
tampak lebih eritematosa, disertai purpura dan bula kemudian dengan cepat
nekrosis serta ulserasi yang nyeri. Lesi lambat menyembuh dan akhirnya
terbentuk jaringan parut.
Gambaran histopatologik menunjukkan nekrosis epidermal iskemik
dengan nekrosis pembuluh darah superfisial, edema dan proliferasi endotelial
pembuluh darah lebih dalam. Didapatkan banyak basil M.leprae di endotel
kapiler. Walaupun tidak ditemukan infiltrat polimorfonuklear seperti pada
ENL, namun dengan imunofluoresensi tampak deposit imunoglobulin dan
komplemen di dalam dinding pembuluh darah. Titer kompleks imun yang
beredar dan krioglobulin sangat tinggi pada semua penderita.

22
2.10 Pengobatan
Obat antikusta yang paling banyak adalah DDS (diaminodifenil sulfon)
kemudian klofazamin, dan rifampisin. Pada tahun 1998 WHO menambahkan
3 obat antibiotik yaitu ofloksasin, minosiklin dan klaritromisin. Unruk
mencegah resistensi pengobatan tuberkulosis menggunakan MDT (Multi
Drug Treatment) sejak 1951.
Adanya MDT sebagai usaha berikut :
- mencegah dan mengobati resistensi
- memperpendek masa pengobatan
- mempercepat pemutusan mata rantai penularan
Untuk menyusun kombinasi obat perlu diperhatikan antara lain :
- efek terapeutik obat
- efek samping obat
- ketersediaan obat
- harga obat
- kemungkinan penerapannya
a. DDS
Pengertian relaps atau kambuh pada kusta ada 2 yaitu relaps sensitif
(persisten) dan relaps resisten. Pada relaps sensitif penyakit kambuh
setelah menyelesaikan pengobatan sesuai dengan waktu yang ditentukan.
Secara klinis, bakterioskopik,histopatologik dapat dinyatakan penyakit
tiba-tiba aktif kembali dengan timbulnya lesi baru dan bakterioskopik
positif kembali. Tetapi setelah dibuktikan dengan pengobatan dan
inokulasi pada mencit, ternyata M.leprae masih sensitif terhadap DDS.
M.leprae yang semula dorman, sleeping atau persisten bangun dan aktif
kembali. Pada pengobatan sebelumnya, kuman dorman sukar dihancurkan
dengan obat atau MDT apapun.
Pada relaps resisten penyakit kambuh setelah menyelesaikan
pengobatan yang sesuai dengan waktu yang ditentukan, tetapi tidak diobati
dengan obat yang sama. Dengan gejala klinis, bakterioskopik, dan
histopatologik yang khas, dapat dibuktikan dengan percobaan pengobatan

23
dan inokulasi pada mencit, bahwa M.leprae resisten terhadap DDS.
Resistensi hanya terjadi pada kusta multi-basilar, tetapi tidak pada
pausibasilar. Oleh karena SIS penderita PB tinggi dan pengobatannya
relatif singkat. Resistensi terhadap DDS dapat primer-atau sekunder.
Resistensi primer, terjadi bila orang ditulari oleh M.leprae yang telah
resisten, dan manifestasinya dapat berbagai tipe (TT,BT,BB,BL,LL)
bergantung pada SIS penderita. Derajat resistensi yang rendah masih dapat
diobati dengan dosis DDS yang lebih tinggi, sedangkan pada derajat
resistensi yang tinggi DDS tidak dapat dipakai lagi. Resistensi sekunder
terjadi oleh karena :
- monoterapi DDS
- dosisi terlalu rendah
- minum obat tidak teratur
- minum obat tidak adekuat, baik dosis maupun lama pemberiannya.
- pengobatan terlalu lama, setelah 4-24 tahun.
Efek samping lain dari DDS adalah nyeri kepala, erupsi obat,anemia
hemolitik, leukopenia,insomnia, neuropatia perifer, sindrom DDS,
nekrolisis epidermal toksik, hepatitis, hipoalbuminemia dan
methemoglobinemia.
b. Rifampisin
Rifampisin adalah obat yang menjadi salah satu komponen
kombinasi DDS dengan dosis 10 mg/kg/BB diberikan setiap hari atau
setiap bulan. Rifampisin tidak boleh diberikan sebagai monoterapi karena
memperbesar kemungkinan terjadinya resistensi, tetapi pada pengobatan
kombinasi selalu diikutkan, tidak boleh diberikan setiap minggu atau
setiap 2 minggu mengingat efek sampingnya. Efek samping dari
rifampisin adalah hepatotoksik, nefrotoksik, gejala gastrointestinal, flu-
llike syndrom da erupsi kulit.
c. Klofazimin (lamprene)
Klofazimin adalah zat warna dan dideposit terutama pada sel sistem
retikuloendotelial, mukosa dan kulit. Pigmentasi bersifat reversibel. Dosisi

24
anti kusta ialah 50 mg setiap hari, atau 100 mg setiap selang sehari, atau
3x100 mg setiap minggu. Bersifat sebagai anti-inflamasi sehingga dapat
dipakai pada penanggulangan ENL dengan dosis yaitu 200-300 mg/hari
namun awitan kerja baru timbul setelah 2-3 minggu. Efek samping yaitu
warna merah kecoklatan pada kulit, dan warna kekuningan pada sklera
sehngga mirip ikterus, apalagi pada dosis tinggi.
d. Protionamid
Dosis diberikan 5-10 mg/kg berat badan setiap hari, dan untuk
Indonesia obat ini tidak ataua jarang dipakai. Distribusi protionamid dalam
jaringan tidak merata, sehingga kadar hambat minimalnya sukar
ditentukan.
e. Obat Alternatif
1. Ofloksasin
Ofloksasin merupakan turunan fluorokuinolon yang paling aktif
terhadap Mycobacterium Leprae in vitro. Dosis optimal harian adalah
400 mg. Dosis tunggal yang diberikan dalam 22 dosis akan membunuh
kuman Mycobacterium Leprae hidup sebesar 99,99%. Efek
sampingnya adalah mual, diare dan gangguan saluran cerna lainnya,
berbagai gangguan susunan saraf pusat termasuk imsonia, nyeri
kepala, dizziness, nervousness dan halusinasi. Walaupun demikian hal
ini jarang ditemukan dan biasanya tidak membutuhkan pengentian
pemakaian obat.
Penggunaan pada anak, remaja, wanita hamil dan menyusui harus
hati-hati,karena pada hamil muda kuinolon menyebabkan atropati.
2. Minosiklin
Termasuk dalam kelompok tetrasiklin. Efek bakterisidnya lebih
tinggi daripada klaritromisin, tetapi lebih rendah daripada rifampisin.
Dosisi standar harian 100 mg. Efek samping nya adalah pewarnaan
gigi bayi dan anak-anak kadang menyebabkan hiperpigmentasi kulit
dan membran mukosa, berbagai simptom saluran cerna dan susunan
saraf pusat termasuk dizziness dan unsteadiness. Untuk itu tidak

25
dianjurkan untuk anal-anak atau selama kehamilan.

3. Klaritromisin
Merupakan kelompok antibiotik makrolid dan mempunyai
aktivitas bakterisidal terhadap Mycobacterium leprae pada tikus dan
manusia. Pada penderita kusta lepromatosa, dosis harian 500 mg dapat
menbunuh 99% kuman hidup dalam 28 hari dan lebih dari 99,9%
dalam 56 hari. Efek sampingnya adalah nausea, vomitus dan diare
yang terbukti sering ditemukan bila obbat ini diberikan dengan dosis
2000 mg.

2.11 Cara pemberian MDT


a. MDT untuk multibasilar (BB,BL,LL atau semua tipe dengan BTA positif)
adalah :
- Rifampisin 600 mg setiap bulan, dalam pengawasan.
- DDS 100 mg setiap hari
- Klofazimin : 300 mg setiap bulan, dalam pengawasan, diteruskan 50 mg
sehari atau 100 mg selama sehari atau 3 kali 100 mg setiap minggu.
Mula-mula kombinasi obat ini diberikan 24 dosis dalam 24 sampai 36
bulan dengan syarat bakterioskopik harus negatif. Apabila bakterioskopik
masih positif, pengobatan harus dilanjutlkan sampai bakterioskopik negatif.
Selama pengobatan dilakukan pemeriksaan secara klinis setiap bulan dan
secara bakterioskopik minimal 3 bulan. Jadi besar kemungkinan pengobatan
kusta multibasilar ini hanya selama 2-3 tahun. Hal ini adalah relatif singkat,
dan dengan batasan waktu yang tegas, jika dibandingkan dengan cara
sebelumnya yang memerlukan waktu minimal 10 tahun sampai seumur hidup.
Penghentian pemberian obat lazim disebut Release From Treatment (RFT).
Setelah RFT dilakukan tindak lanjut (tanpa pengobatan) secara klinis dan
bakterioskopik minimal setiap tahun selama 5 tahun. Kalau bakterioskopik
tetap negatif dan klinis tidak ada keaktifan baru, maka dinyatakan bebas dari
pengamatan atau Relesase From Control (RFC).

26
b. MDT untuk pausibasilar (I,TT,BT dengan BTA negatif) adalah :
- Rifampisin 600 mg setiap bulan dengan pengawasan.
- DDS 100 mg setiap hari.
Keduanya diberikan dalam 6 dosis selama 6 bulan sampai 9 bulan berarti
RFT setelah 6-9 bulan. Selama pengobatan, pemeriksaan secara klinis setiap
bulan dan bakterioskopik setelah 6 bulan pada akhit pengobatan. Pemeriksaan
dilakukan minimal setiap tahun selama 2 tahun secara klinis dan
bakterioskopis. Kalau tidak ada keaktivan baru secara klinis dan
bakterioskopis tetap negatif maka dinyatakan RFC.

2.12 Pengobatan ENL


Obat yang paling sering dipakai adalah tablet kortikosteroid, antara lain
prednison. Dosisnya bergantung pada berat ringannya reaksi, biasanya prednison
15-30 mg per sehari kadang-kadang lebih. Makin berat reaksinya makin tinggi
dosisnya, tetapi sebaliknya bila reaksi terlalu ringan tidak perlu diberikan. Sesuai
dengan perbaikan reaksi, dosisnya diturunkan secara bertahap sampai berhenti
sama sekali. Dapat ditambahkan obat analgetik-antipiretik dan sedativa atau bila
berat penderita dapat menjalani rawat inap. Ada kemungkinan timbul
ketergantungan terhadap kortikosteroid, ENL akan timbul bila obat tersebut
dihentikan atau diturunkan pada dosis tertentu sehingga penderita harus
mendapatkan terapi kortikosteroid terus-menerus.
Obat yang dianggap sebagai obat pilihan pertama adalah talidomid, tetapi
harus berhati-hati karena mempunyai efek teratogenik. Jadi tidak boleh diberikan
kepada orang yang sedang hamil atau masa subur. Di indonesia obat ini tidak
dapat. Klofazimin kecuali sebagai obtat anti-kusta dan juga dipakai sebagai anti
reaksi ENL. Tergantung pada berat ringannya reaksi, makin berat makin tinggi
dosisnya biasanya 200-300 mg sehari. Dosis diturunkan secara bertahap sesuai
dengan perbaikan reaksi ENL. Keuntungan menggunakan klofazimin dapat
dipakai sebagai usaha untuk lepas dari ketergantungan kortikosteroid. Salah satu
efek samping nya yaitu kulit berwarna merah kecoklatan, apalagi dosis tinggi.
Tapi masih sifat reversible, meskipun menghilangnya secara lambat sejak obat

27
dihentikan.

2.13 Pengobatan Reaksi Reversal


Perlu diperhatikan apakah reaksi ini dengan neuritis atau tidak. Sebab kalai
tanpa neuritis akut tidak perlu diberi pengobatan tambahan. Kalau ada neuritis
akut, obat pilihan pertama adalah kortikosteroid yang dosisnya juga disesuaikan
dengan berat ringannya neuritis, makin berat makin tinggi dosisnya. Biasanya
diberikan prednison 40 mg sehari kemudian di turunkan secara perlahan-lahan.
Pengobatan harus cepat dan dengan dosis yang adekuat untuk mengurangi
terjadinya kerusakan saraf secara mendadak. Klofazimin pada reaksi reversal
kurang efektif, oleh karena itu tidak pernah dipakai, begitu juga talidomid tidak
efektif pengobatan reaksi reversal.
Skema pemberian prednisosn da lampren
a. Pemberian prednison
Minggu pemberian Dosis harian yang dianjurkan
MInggu 1 - 2 40 mg
Minggu 3 - 4 30 mg
Minggu 5 - 6 20 mg
Minggu 7 - 8 15 mg
Minggu 9 - 10 10 mg
Minggu 11 - 12 5 mg

b. Pemberian Lampren
ENL yang berat dan berkepanjangan dari terdapat ketergantungan pada
steroid (pemberian prednison tidak dapat diturunkan sampai 0), perlu
ditambahkan klofazimin, untuk dewasa 300 mg/hari selama 2-3 bulan. Bila
ada perbaikan diturunkan menjadi 200 mg/hari selama 2-3 bulan. Jika ada
perbaikan diturunkan menjadi 100 mg/hari selama 2-3 bulan dan selanjutnya
kembali ke dosis klofazimin semula, 50 mg.hari kalau penderita masih dalam
pengobatan MDT atau dihentikan bila penderita sudah dinyatakan RFT. Pada
saat yang sama, dosis prednison diturunkan secara bertahap.

2.14 Pencegahan Cacat

28
Penderita kusta yang terlambat di diagnosis dan tidak mendapat MDT
mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya kerusakan saraf. Selain itu, penderita
dengan reaksi kusta terutama reaksi reversal, lesi kulit multipel dan dengan saraf
yang membesar atau nyeri juga memiliki risiko tersebut.
Kerusakan saraf terutama berbentuk nyeri saraf, hilangnya sensibilitas dan
berkurangnya kekuatan otot. Penderitalah yang mula-mula menyadari adanya
perubahan sensibilitas atau kekuatan otot. Keluhan berbentuk nyeri saraf, atau
luka yang tida sakit, lepuh kulit atau hanya berbentuk daerah yang kehilangan
sensibilitasnya saja. Juga ditemukan keluhan sukarnya melakukan aktivitas sehari-
hari, misalnya memasang kancing baju, memegang pulpen, atau mengambil benda
kecil atau kesukaran berjalan. Semua keluhan tersebut harus diperiksa dengan
teliti dengan anamnesa yang baik tentang bentuk dan lamanya keluhan,
sebpengobatan dini dapat mengobati, sekurangnya mencegah kerusakan menjadi
berlanjut.
Cara terbaik untuk melakukan pencegahan cacat atau prevention of
disabillities (POD) adalah dengan melaksanan diagnosis dini kusta, pemberian
pengobatan MDT yang cepat dan tepat. Selajutnya dengan mengenali gejala dan
tanda reaksi kusta yang disertai gangguan saraf serta memulai pengobatan dengan
kortikosteroid segera mungkin. Bila terdapat gangguan sensibilitas penderita
diberi petunjuk sederhana misalnya memakai sepatu untuk melindungi kaki yang
telah terkena, memakai sarung tanga bila bekerja dengan benda yang tajam atau
panas, dan memakai kacamata untuk melindungi matanya. Selain itu diajarkan
pula untuk perawatan kulit sehari-hari. Hal ini dimulai dengan memeriksa ada
tidaknya memar, luka atau ulkus. Setelah itu kaki dan tangan direndam, disikat
dan di minyaki agar tidak kering dan pecah.
WHO Expert Comitte on Leprosy membuat klasifikasi cacat pada tangan,
kaki dan mata bagi penderita kusta.
Klasifikasi Cacat :
Cacat pada tangan dan kaki.
- Tingkat 0 : tidak ada gangguan sensibilitas, tidak ada kerusakan atau
deformitas yang terlihat.

29
- Tingkat 1 : ada gangguan sensibilitas, tanpa kerusakan atau deformitas
yang terlihat.
- Tingkat 2 : terdapat kerusakan atau deformitas.

Cacat pada mata :


- Tingkat 0 : tidak ada kelainan/kerusakan pada mata (termasuk visus)
- Tingkat 1 : ada kelainan/kerusakan pada mata, tetapi tidak terlihat , visus
sedikit berkurang.
- Tingkat 2 : ada kelainan mata yang terlihat (misalnya lagoftalmus, iritis,
kekeruhan kornea dan atau visus sangat terganggu.

2.15 Rehabilitasi
Usaha rehabilitasi medis yang dapat dilakukan untuk cacat tubuh ialah antara
lain dengan jalan operasi dan fisioterapi. Meskipun hasilnya tidak sempurna
kembali ke asal, tetapi fungsinya dan secara kosmetik dapat diperbaiki. Cara lain
ialah secara kekaryaan yaitu memberi lapangan pekerjaan yang sesuai cacat
tubuhnya, sehingga dapat berprestasi dan dapat meningkatkan rasa percaya
diri,selain itu dapat dilakukan terapi psikologik.

30
DAFTAR PUSTAKA

Djuanda, Adhi; Hamzah, Mohtar & Aisah, Siti. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
Edisi Keenam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2013.p.87-102.

Goldsmith, Lowell A ; Katz, Stephen. Fitzpatrick's Dermatology in General


Medicine. 8th edition volume one. United States : McGrawHill;
2012.p.2253-62.

Agusni l, Menaldi SL. Beberapa prosedur diagnosis baru pada penyakit kusta.
Dalam: Syamsoe Daili ES, Menaldi SL, Ismarto SP, Nilasari H, edior.
Kusta. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2003.p. 59-65.

World Health Organization. WHO model prescribing information. Drug used in


leprosy. Geneva: WHO; 1995

31