Anda di halaman 1dari 4

1

Analisisa Bahaya Landslide ( Bencana Gerakan


Bawah Tanah) sebagai Edukasi Kebencanaan untuk
Masyarakat
Abdurahman Wafi beberapa asumsi awal, seperti kombinasi tertentu dari durasi
Jurusan Fisika, Fakultas MIPA dan kuantitas curah hujan, hasil evaluasi dari seringnya tingkat
Institut Teknologi Sepuluh Nopember kejadian tanah longsor disuatu daerah, dan kesamaan tipologi
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 antara daerah yang satu dengan yang lainnya.
E-mail: rahman09physics@gmail.com
II. .METODE
AbstrakLandslide merupakan suatu fenomena
pergerakan tanah yang biasa disebut dengan tanah A. Analisis Faktor Pengontrol/ Hazard Parameter
longsor. Pengertian tanah longsor itu sendiri adalah a) Kemiringan lereng
perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, Kemiringan lereng mempunyai pengaruh besar
bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, terhadap kejadian tanah longsor. Semakin miring lereng
bergerak ke bawah atau ke luar lereng. Faktor penyebab suatu tempat maka daerah tersebut semakin berpotensi
terjadinya tanah longsor ini berasal dari dalam Bumi terhadap terjadinya tanah longsor.
(Geohazard) dan juga tergantung pada perubahan iklim
(Hydrometeorogical hazard). Hazard assessment adalah
Tabel 2.1 Klasifikasi Kemiringan Lereng
mengevaluasi dan mengklasifikasikan potensial bahaya
sesuai tingkatannya dengan frekuensi dan intensitas yang
terjadi. Hazard assessment mengenai tanah longsor perlu
dipelajari karena merupakan bagian terpenting dalam
merencanakan suatu kawasan. Hazard assessment ini
selanjutnya dapat digunakan untuk menghitung besarnya
resiko dari peristiwa terjadinya tanah longsor sebagai
edukasi kebencanaan untuk masyarakat. b) Jenis litologi atau tekstur tanah
Tekstur tanah merupakan perbandingan relatif 3
Kata Kunci Lanslide, Geohazard, Hazard assessment. golongan besar partikel tanah dalam suatu massa,
terutama perbandingan antara fraksi-fraksi lempung
I. PENDAHULUAN (clay), debu (silt) dan pasir (sand). Semakin halus tekstur
Landslide merupakan suatu fenomena pergerakan semakin luas permukaan butir tanah, maka semakin
tanah yang biasa disebut dengan tanah longsor. Pengertian banyak kemampuan menyerap air, sehingga semakin
tanah longsor itu sendiri adalah perpindahan material besar peranannya terhadap kejadian tanah longsor.
pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau Tabel 2.2 Klasifikasi Tesktur Tanah
material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau ke luar
lereng. Tanah longsor terjadi karena ada gangguan kestabilan
pada tanah/batuan penyusun lereng. Gangguan kestabilan
lereng tersebut dapat dikontrol oleh kondisi morfologi
(terutama kemiringan lereng), kondisi batuan/tanah penyusun
lereng, dan kondisi hidrologi atau tata air pada lereng. Proses
pemicu longsoran tersebut adalah sebagai berikut :

Peningkatan kandungan air dalam lereng


Getaran pada lereng akibat gempa bumi ataupun ledakan,
penggalian, getaran alat/kendaraan
Pemotongan kaki lereng secara sembarang
Peningkatan beban yang melampaui daya dukung tanah
atau kuat geser tanah.

Faktor penyebab terjadinya tanah longsor ini berasal


dari dalam Bumi (Geohazard) dan juga tergantung pada
perubahan iklim (Hydrometeorogical hazard). Hazard c) Kondisi permeabilitas tanah
assessment adalah mengevaluasi dan mengklasifikasikan Permeabilitas tanah adalah kemampuan tanah untuk
potensial bahaya sesuai tingkatannya dengan frekuensi dan meloloskan air melalui pori- pori dalam keadaan jenuh.
intensitas yang terjadi. Hazard assessment didasarkan pada
2

Air yang masuk dalam tanah akan mengurangi gesekan wilayah tersebut merupakan wilayah yang mempunyai potensi
dalam tanah sehingga akan mempengaruhi tingkat tertinggi terjadi bencana tanah longsor.
kerentanan tanah longsor. Tabel 2.6 Klasifikasi Curah Hujan

Tabel 2.3 Klasifikasi Permeabilitas Tanah

C. Tahapan Mitigasi Bencana Tanah Longsor


d) Tingkat pelapukan batuan
Pelapukan adalah proses penghancuran bantuan Pemetaan, yakni menyajikan informasi visual
tentang tingkat kerawanan bencana alam geologi di suatu
menjadi bahan rombakan (debris) dan tanah (Van Zuidam,
wilayah, sebagai masukan kepada masyarakat dan atau
1979). Mudah tidaknya batuan terganggu oleh kekuatan pemerintah kabupaten/kota danprovinsi sebagai data dasar
dari luar ditunjukkan oleh tingkat pelapukannya. Bantuan untuk melakukan pembangunan wilayah agar terhindar
yang cepat mengalami pelapukan adalah bantuan yang daribencana. Penyelidikan, yakni mempelajari penyebab dan
terbuka karena dipengaruhi oleh iklim. Semakin lanjut dampak dari suatu bencana sehingga dapat digunakan
pelapukan batuan maka semakin rentan mengalami tanah dalamperencanaan penanggulangan bencana dan rencana
longsor. pengembangan wilayah. Pemeriksaan, yakni melakukan
Tabel 2.4 Klasifikasi Pelapukan Batuan penyelidikan pada saat dan setelah terjadi bencana, sehingga
dapat diketahuipenyebab dan cara penaggulangannya.
Pemantauan, yakni pemantauan dilakukan di daerah rawan
bencana, pada daerah strategis secara ekonomidan jasa, agar
diketahui secara dini tingkat bahaya, oleh pengguna dan
masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tersebut.
Sosialisasi, yakni memberikan pemahaman kepada
pemerintah provinsi/ kabupaten/ kota atau masyarakat umum,
tentang bencana alam tanah longsor dan akibat yang
ditimbulkannnya.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Kondisi Hidro-Geologi Kidang Pananjung
Daerah bencana merupakan lereng perbukitan dengan
e) Tata guna lahan kemiringan antara 15 - 45, dengan ketinggian tempat 1000
Penggunaan lahan mempunyai pengaruh besar 1100 meter di atas permukaan laut. Titik longsor terletak pada
terhadap kondisi air tanah, hal ini akan mempengaruhi lereng bagian atas dengan kemiringan lereng sekitar 35
kondisi tanah dan batuan yang pada akhrinya juga akan termasuk pada zona kerentanan gerakan tanah tinggi,
mempengaruhi keseimbangan lereng. Pengaruhnya dapat sedangkan permukiman penduduk yang terlanda terletak pada
bersifat memperbesar atau memperkecil kekuatan geser lereng dan alur lembah yang termasuk zona kerentanan
tanah pembentuk lereng. gerakan tanah menengah. Batuan penyusun daerah
Tabel 2.5 Klasifikasi Penggunaan Lahan pemeriksaan berupa disusun batuan andesit yang telah
mengalami pelapukan menjadi lempung lanauan hingga lanau
pasiran berwarna merah kekuningan, bersifat gembur, dengan
ketebalan antara 0,5 1,5 meter.

B. Analisis Faktor Pemicu (curah hujan, getaran, Gambar 3.1 Peta Persebaran Batuan Andesit
dll)
Curah hujan merupakan salah satu faktor penentu tingkat
potensi bahaya longsor di daerah penelitian. semakin tinggi
nilai curah hujannya, maka sudah dapat dipastikan bahwa
3

C. Analisis Pembobotan
Tahap pertama pemetaan gerakan massa batuan dengan
metode statistik adalah membuat peta distribusi gerakan tanah
dan peta-peta pengontrol seperti peta geologi dan peta
kelerengan. Tahap kedua adalah melakukan analisis dan
menyilangkan (overlay) peta distribusi gerakan tanah dengan
peta-peta pengontrol untuk menghitung nilai kerapatan
(density) dan nilai bobot (weight) setiap unit pada peta
pengontrol (Effendi, 2000 dalam Wardhani, 2007):
Density in unit = (area of landslide in a unit) / (area
of the unit)
Densmap = (total area of landslide) / (the mapped
Air tanah sulit di dapat di sekitar lokasi bencana area)
disebabkan oleh sifat fisik batuannya yang kedap air. Air Weight value = (density in unit) (densmap)
resapan pada tanah pelapukan mengalir melalui bidang kontak
dengan batuan dasar tidak terakumulasi karena bidangnya Tahap berikutnya adalah menjumlahkan bobot individual
miring searah dengan lereng, jika lerengnya terpotong seperti untuk menghasilkan peta zonasi dengan kisaran nilai bobot
oleh longsoran akan muncul mata air. tertentu. Tiap unit/ klas/ tipe dari individu peta parameter telah
ditumpang tindih (overlay) dengan peta distribusi gerakan
tanah, berarti tiap peta parameter akan menghasilkan
Gambar 3.2 Curah Hujan Stasiun Cililin April kerapatan gerakan tanah pada tiap unit/klas/ tipenya.
Tabel 3.1 Analisis Pembobotan Tingkat

Tata lahan di sekitar lokasi bencana merupakan kebun Data ini selanjutnya digunakan untuk pembuatan peta
campuran, pesawahan,dan permukiman terdapat pada lereng bahaya yang kemudian disilangkan (overlay) dengan peta
dan di alur lembah dan menyebar mengikuti jalur jalan dan kerentanan sehingga didapat peta risiko bencana.
setempat menempati punggungan bukit.
B. Gerakan tanah IV. KESIMPULAN
Jenis gerakan tanah merupakan longsoran (slide) dan Kesimpulan dari berbagai jurnal yang ada adalah
aliran bahan rombakan(debris flow). Gawir longsoran dengan Hazard assessment mengenai tanah longsor perlu dipelajari
panjang 35 meter, lebar 15 meter dan tinggi gawir sekitar 1 karena merupakan bagian terpenting dalam merencanakan
(satu) meter berarah relatif ke timur. Sedangkan aliran bahan suatu kawasan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa
rombakan menyabar sejauh 300 meter yang melanda besar bahaya yang dapat ditimbulkan dari peristiwa tanah
permukiman ladang dan pesawahan yang berada di tepi dan longsor. Beberapa metode yang dapat dilakukan dalam hazard
alur lembah. Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan assessment ini adalah dengan cara penilaian terhadap peristiwa
Kabupaten Bandung (DVMBG 2003), daerah lokasi bencana tanah longsor yang telah terjadi sebelumnya dan dengan cara
dan sekitarnya termasuk zona kerentanan gerakan tanah melihat gejala-gejala yang sudah terjadi, sehingga gejala
menengah tinggi, Zona kerentanan gerakan tanah menengah tersebut dapat dijadikan parameter kemungkinan terjadinya
artinya dapat terjadi gerakan tanah jika lereng mengalami tanah longsor. Hazard assessment ini selanjutnya dapat
gangguan atau dipicu oleh curah hujan yang tinggi, sedangkan digunakan untuk menghitung besarnya resiko dari peristiwa
zona kerentanan gerakan tanah tinggi artinya zona ini sering terjadinya tanah longsor ini.
terjadi gerakan tanah, gerakan tanah lama maupun baru masih
aktif bergerak akibat curah hujan yang tinggi. UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada bapak Mashuri
4

dan teman-teman yang telah memberikan dorongan semangat [2] Leang Sopheap, Dwikorita Kurniawati, dkk, Lanslide Risk Assesment
at Piyungan,Patuk Area, Yogyakarta, Proceedings joint convention Bali,
sehingga dapat menyelesaikan semuanya. 2007.
[3] Micu, M, Lanslide Assesment from field mapping to risk management
a case study in the Buzan, forum geographic studi I si cercetari de
DAFTAR PUSTAKA geografie si protectia mediului, sect 2, 2011.
[1] Herry Purnomo, Bencana alam gerakan tanah di daerah Cililin, [4] Wiyarti Wardhani, dkk, Lanslide Susceptibility Analysis after the May
Kabupaten Bandung dan Relokasinya, Direktorat Vulkanologi dan 2006 earthquakes around Pleret and Pundong, Bantul Regency,
Mitigasi Bencana Geologi, 2004. Yogyakarta, Proceedings joint convention Bali, 2007.