Anda di halaman 1dari 24

FISIOLOGI HEWAN DAN MANUSIA

KONTRAKSI OTOT JANTUNG

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Fisiologi Hewan dan Manusia
yang Dibimbing oleh Nuning Wulandari S.Si, M.Si dan Dr. Sri Rahayu Lestari M.Si

Disusun oleh :
Kelompok 4
1. Dyan Listiana (150342602064)
2. Dyta Adilya (150342602105)
3. Edi Ramdhani (150342600087)
4. Ike Anggraini (150342601952)
5. Lusi Suciati (150342600695)
6. Nur Rokhimatul Faizah (150342608046)

Offering G

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Oktober 2016

Kontraksi Otot Jantung


A. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk :
1. Melihat sifat otomatis dan ritmis dari tiap-tiap bagian jantung.
2. Memahami peran sinus venosus pada kontraksi otot jantung.
3. Mengamati pengaruh beberapa faktor ekstrinsik terhadap aktivitas jantung.
B. Dasar Teori
Jantung merupakan suatu organ yang mampu berdenyut dengan irama
tertentu (kontraksi ritmik). Fungsi utama jantung adalah memompa darah ke arah
sirkulasi sistemik maupun pulmoner. Jantung terletak dalam media stinum di
rongga dada, yaitu di antara kedua paru-paru. Lapisan yang mengitari jantung
(pericardium) terdiri dari dua bagian yaitu lapisan sebelah dalam atau
pericardium visceral dan lapisan sebelah luar atau pericardium parietal
(Halwatiah, 2009). Pada amfibia dan reptilia, irama ditentukan oleh sinus
venosus. Aurikel iramanya kurang cepat dan ventrikel paling rendah tingkat
otomasinya. Otot jantung peka terhadap perubahan-perubahan metabolik, kimia
dan suhu. Kenaikan suhu meningkatkan metabolisme dan frekuensi jantung
(Affandi, 2002). Otot jantung berbeda dari otot kerangka dalam hal struktur dan
fungsinya. Untuk berkontraksi otot jantung tidak memerlukan stimulus sebab otot
jantung memiliki sifat otomatis. Pada sel otot jantung dapat terjadi peristiwa
depolarisasi secara spontan tanpa ada stimulus. Selain itu otot jantung juga
memiliki sifat ritmis, peristiwa depolarisasi dan repolarisasi berjalan menurut
irama tertentu (Halwatiah, 2009).
Menurut Campbell (2004), otot jantung (cardiacmuscle) vertebrata hanya
ditemukan pada satu tempat yakni jantung. Perbedaan utama antara otot rangka
dan otot jantung adalah dalam sifat membran dan listriknya. Sel-sel otot jantung
mempunyai daerah khusus yang disebut cakram berinterkalar (intercalateddisc),
dimana persambungan longgar memberikan pengkopelan listrik langsung di
antara sel-sel otot jantung. Dengan demikian, suatu potensial aksi yang
dibangkitkan pada satu bagian jantung akan menyebar ke seluruh sel otot jantung.
Dan jantung akan berkontraksi. Sel-sel otot jantung tidak akan berkontraksi
kecuali dipicu oleh inpu neuronmotoris yang mengontrolnya. Akan tetapi, sel-sel
otot jantung dapat membangkitkan potensial aksinya sendiri, tanpa suatu input
apapun dari sistem saraf. Membran plasma otot jantung mempunyai ciri pacu
jantung yang menyebabkan depolarisasi berirama, yang memicu potensial aksi
dan menyebabkan sel otot jantung tunggal untuk berdenyut bahkan ketika
diisolasi dari jantung dan ditempatkan dalam biakan sel. Potensial aksi sel otot
jantung berbeda dari potensial aksi sel otot rangka, yang bertahan sampai dua
puluh kali lebih lama. Potensial aksi sel otot rangka hanya berfungsi sebagai
pemicu kontraksi dan tidakmenguntrol durasi kontraksi tersebut. Pada sel jantung
durasi potensial aksi memainkan peranan penting dalam pengontrolan durasi
kontraksi (Campbell, 2004).
Mekanisme kerja otot jantung dipengaruhi oleh saraf, hormon, otak dan
CO2. Saraf yang mempengaruhi kerja jantung yaitu saraf simpatik yang bekerja
memperlambat kerja jantung, dan saraf parasimpatik yang bekerja untuk
mempercepat denyut jantung (Silverthorn, 2001). Sementara saraf simpatik dan
saraf parasimpatik berjalan menuju ke jantung bila pengendalian ini dihancurkan
maka jantung akan tetap terus dapat berdetak selama glukosa dan oksigen tersedia
di dalamnya. Rangsang simpatis dihantarkan oleh norepinefrin yang pada
kerjanya akan mempengaruhi kerja otot ventrikel, sedangkan saraf parasimpatis
dihantarkan oleh asetilkolin yang mengontrol irama dan laju denyut jantung.
(Kimball, 1988).
Kontraksi sel otot jantung terjadi oleh adanya potensial aksi yang
dihantarkan sepanjang membran sel otot jantung. Jantung akan berkontraksi
secara ritmik, akibat adanya impuls listrik yang dibangkitkan oleh jantung itu
sendiri yang disebut autorhytmicity. Terdapat dua jenis khusus sel otot jantung,
yaitu sel kontraktil dan sel otoritmik. Sel kontraktil melakukan kerja mekanis,
yaitu memompa, sedangkan sel otoritmik mencetuskan dan menghantarkan
potensial aksi yang bertanggung jawab untuk kontraksi sel-sel pekerja. Berbeda
dengan sel saraf dan sel otot rangka yang memiliki potensial membran istirahat.
Sel-sel khusus jantung tidak memiliki potensial membran istirahat, tetapi
memperlihatkan aktivitas pacemaker (picu jantung), berupa depolarisasi lambat
yang diikuti oleh potensial aksi apabila potensial membran tersebut mencapai
ambang tetap. Dengan demikian, timbullah potensial aksi secara berkala yang
akan menyebar keseluruh jantung dan menyebabkan jantung berdenyut secara
teratur tanpa adanya rangsangan melalui saraf (Ida, 2014). Menurut Pearce (2004),
kemampuan otot jantung untuk mengadakan kontraksi otomatis dan ritmis tanpa
bergantung pada ada tidaknya rangsangan saraf ini disebut miogenik. Kontraksi
otot akan lebih kuat bila sedang renggang dan bila suhunya cukup panas kelelahan
dan dingin memperlemah kontraksi.
Daerah sinaps mempunyai enzim yang kuat, yaitu asetikolin esteranase yang
khusus menghidrolisis dan menginaktifkan asetikolin, dan monoamina oksidase
yang mengoksidasi dan menginaktifkan norepinefrin. Enzim-enzim ini mencegah
rangsangan yang terus-menerus dari dendrit atau otot oleh zat neurotransmitter.
Asetikolin dilepaskan oleh saraf motor dalam paket-paket kecil yang terdiri atas
sekitar 1000 molekul. Mekanisme yang melepaskan asetikolin memerlukan ion
kalsium dan dihambat oleh ion magnesium (Ville et al., 1988). Rosser et al.,
(2003) menyatakan bahwa di dalam otot terdapat reseptor asetilkolin
(acetylcholine receptor, AChR) yang terdistribusi dengan densitas rendah dalam
plasmalemma. Selain AChR, terdapat myosin heavy-chain (MyCH) yang
berkorelasi dengan kecepatan kontraksi otot.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fisiologis jantung antara lain temperatur
lingkungan, zat kimia (alkohol), ukuran tubuh dan umur. Hewan-hewan kecil
mempunyai frekuensi (frekuensi pulsus) denyut jantung yang lebih cepat dari
pada hewan yang besar. Hal ini disebabkan hewan kecil memiliki kecepatan
metabolisme yang lebih tinggi pada setiap unit berat badannya. Hewan yang muda
memiliki frekuensi pulsus yang lebih cepat dari pada hewan dewasa. Hal ini
disebabkan karena pengaruh hambatan nerves vagus pada hewan-hewan muda
belum berkembang (Soetrisno, 1987).
Kelebihan Na+ akan menyebabkan penekanan fungsi jantung. Semakin
banyak Na+ dalam cairan ekstra sel maka akan semakin berkurang keefektifan
dalam ion kalsium. Efek tersebut dikarenakan peningkatan permeabilitas
membrane otot terhadap berbagai ion. Sedangkan jika kelebihan K+ akan
mengakibatkan kerja jantung dibatasi dan frekuensi jantung melambat. Distribusi
ion pada keadaan istirahat akan dipulihkan kembali melalui kegiatan pompa Na +-
K+ yang dengan aktif memindahkan K+ ke dalam sel dan Na+ ke luar sel
(Campbel, 2004).
Kelebihan ion kalsium menyebabkan efek yang hampir berlawanan dengan
efek ion kalium, menyebabkan jantung berkontraksi spastik. Hal ini disebabkan
oleh efek langsung ion kalsium untuk merangsang proses kontraksi. Sebaliknya,
defisiensi ion kalsium menyebabkan jantung lemas. Perubahan ion kalsium
selama kehidupan jarang cukup banyak untuk mengubah fungsi jantung,
pengurangan konsentrasi ion kalsium yang besar biasanya akan mematikan orang,
karena tetani yang timbul sebelumnya akan mempengaruhi jantung dengan
bermakna, dan peningakatan konsentrasi ion kalsium sampai tingkat yang akan
mempengaruhi jantung dengan bermakna hampir tidak pernah terjadi karena ion
kalsium diendapkan dalam tulang atau kadang-kadang di sembarang tempat dalam
jaringan tubuh sebagai garam kalsium yang tidak larut sebelum tingkat tesebut
dicapai (Isnaeni, 2006).
C. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu :
1. Papan bedah
2. Seperangkat alat bedah
3. Beaker glass 50 ml
4. Beaker glass 100 ml
5. Cawan petri besar
6. Cawan petri kecil
7. Pipet tetes
8. Gelas arloji Katak
9. Termometer
10. Kaki tiga
11. Kasa Dirusak otaknya dengan metode single pith
12. Pembakar spirtus
13. Lup Dibuka rongga dadanya
14. Benang
15. Jarum pentul
Dibuka perikardium dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi secara 2 kali
16. Kait logam/peniti
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu :
Dipisahkan jantung dari tubuh dan diletakkan dalam cawan petri yang berisi larutan ringer
1. Katak
2. Ringer normal
3. Ringer dingin dengan suhu 5C
Dihitung dan diamati apakah denyut jantungnya dan diulangi 2 kali
4. Ringer panas dengan suhu 40C
5. Larutan adrenalin 1%
Dipisahkan sinus venosus2%
6. Asetilkolin dari jantung dan di rendam dengan menggunakan larutan ringe
7. Larutan NaCl 0,7%
8. Larutan
Diamati dan dihitung denyut CaCl2 1%per menit. Bila tidak berdenyut, pelan-pelan sentuh dengan batan
jantungnya
9. Larutan KCl 0,9%
D. Cara Kerja
1. Sifat otomatis dan Ritmis Jantung
Didapati jantung tanpa sinus venosus dan direndam dengan larutan ringer

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit

Dipisahkan antara atrium dan ventrikel dan direndam dengan larutan ringer

Diamati masing-masing bagian dan dihitung denyut jantungnya per menit

Hasil
Katak

Dirusak otaknya dengan metode single pitch

Dibuka rongga dan perikardium sehingga jantung terlihat jelas dan dihitung denyut jantung per m

Dipisahkan jantung dari tubuh dan diletakkan dalam cawan petri yang berisi larutan rin

2. PengaruhDihitung dandan
Faktor Fisik diamati
Kimia apakah
terhadap denyut
Aktivitasjantungnya
Jantung dan diulangi 2 kali

Dipisahkan jantung dari tubuh dan diletakkan di atas cawan petri yang berisi laruta

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Dibuang larutan tersebut menggunakan pipet larutan

Dibasuh jantung tersebut dengan menggunakan larutan ringer

Diletakkan di kaca arloji yang telah berisi larutan ringer normal

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Diletakkan jantung di atas kaca arloji yang berisi larutan ringer 40 C

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Dibuang larutan tersebut menggunakan pipet larutan

Dibasuh jantung tersebut dengan menggunakan larutan ringer

Diletakkan di kaca arloji yang telah berisi larutan ringer normal

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali
Dibuka rongga dan perikardium sehingga jantung terlihat jelas dan dihitung denyut jantung per m

Dipisahkan jantung dari tubuh dan diletakkan dalam cawan petri yang berisi laruta

Dihitung
Diletakkan dan
jantung di diamati apakah
kaca arloji yangdenyut jantungnya
berisi larutan dan diulangi 2 kali
asetilkolin

Diletakkan jantung di kaca arloji yang berisi CaCl2 1 %


Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali
Dibuang larutan tersebut menggunakan pipet larutan

Dibasuh jantung tersebut


Dibuang dengan
larutan menggunakan
tersebut larutan
menggunakan ringer
pipet larutan

Dibasuh jantung tersebut dengan menggunakan larutan ringer


Diletakkan di kaca arloji yang telah berisi larutan ringer normal

Diletakkan di kaca arloji yang telah berisi larutan ringer normal


Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali
Diletakkan jantung di kaca arloji yang berisi larutan adrenalin

Diletakkan jantung di kaca arloji yang berisi NaCl 0,7 %


Diamati dan diihitung denyut jantung per menit diulangi 2 kali

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali
Dibuang larutan tersebut menggunakan pipet larutan

Dibasuh jantungDibuang larutan


tersebut dengantersebut menggunakan
menggunakan pipet
larutan larutan
ringer
3. Pengaruh Ion terhadap Aktivitas Jantung
Dibasuh jantung tersebut
Katak dengan menggunakan larutan ringer
Diletakkan di kaca arloji yang telah berisi larutan ringer normal

Diletakkan di kacadengan
Dirusak otaknya arlojimetode
yang telah berisi larutan ringer normal
single pitch
Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

Diamati
Dibuka rongga dandan dihitung
perikardium denyut
sehingga jantung
jantung per
terlihat menit
jelas dan diulangi 2 kali
dan dihitung
Hasil
denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali
Diletakkan jantung di kaca arloji yang berisi KCl 0,9 %

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali
Dibuang larutan tersebut menggunakan pipet larutan

Dibasuh jantung tersebut dengan menggunakan larutan ringer

Diletakkan di kaca arloji yang telah berisi larutan ringer normal

Diamati dan dihitung denyut jantung per menit dan diulangi 2 kali

E. Data Hasil Pengamatan


Hasil
Tabel hasil pengamatan kontraksi otot jantung

DENYUT JANTUNG RATA-


PEMBEDA Ulangan I Ulangan II RATA
Jantung di dalam tubuh 67/menit 65/menit 66/menit
Jantung di luar tubuh 23/menit 24/menit 24/menit
Sinus venosus 51/menit 53/menit 52/menit
Sifat otomatis Jantung tanpa sinus 30/menit 29/menit 29/menit
dan ritmis venosus
jantung Atrium 50/menit 47/menit 49/menit
Ventrikel 45/menit 43/menit 44/menit
Jantung di dalam tubuh 66/menit 65/menit 66/menit
Jantung di luar tubuh 50/menit 44/menit 47/menit
Larutan ringer 5C 46/menit 44/menit 45menit
Normal (di rendam 42/menit 15/menit 29/menit
Pengaruh larutan ringer)
Larutan ringer 40C 21/menit 10/menit 16/menit
faktor fisik
Normal (di rendam 64/menit 26/menit 45/menit
dan kimia
larutan ringer)
terhadap
Asetilkolin 8/menit 6/menit 7/menit
aktivitas Normal (di rendam 22/menit 12/menit 17/menit
jantung larutan ringer)
Adrenalin 27/menit 25/menit 26/menit
Normal (di rendam 11/menit 10/menit 11/menit
larutan ringer)
Jantung di dalam tubuh 53/menit 52/menit 53/menit
Jantung di luar tubuh 62/menit 61/menit 62/menit
CaCl2 1% 37/menit 25/menit 31/menit
Pengaruh ion Normal (di rendam 10/menit 10/menit 10/menit
terhadap larutan ringer)
NaCl 0,7% 11/menit 10/menit 11/menit
aktivitas
Normal (di rendam 28/menit 9/menit 19/menit
jantung
larutan ringer)
KCl 0,9% 21/menit 16/menit 19/menit
Normal (di rendam 14/menit 12/menit 13/menit
larutan ringer)

F. Analisis Data
Pada praktikum fisiologi hewan ini, kami melakukan pengamatan dilakukan
pengamatan mengenai kontraksi otot jantung. Tujuan dari praktikum ini yaitu
untuk melihat sifat otomatis dan ritmis dari tiap-tiap bagian jantung, memahami
peran sinus venosus pada kontraksi jantung, dan mengamati pengaruh beberapa
faktor ekstrinsik terhadap aktivitas jantung. Obyek amatan yang kami gunakan
yaitu jantung katak. Dalam praktikum ini kami menggunakan tiga ekor katak yang
telah di single pith dan dengan tiga macam perlakuan pula yaitu sifat otomatis dan
ritmis, pengaruh faktor fisik dan kimia terhadap aktivitas jantung dan pengaruh
ion terhadap aktivitas jantung. Berikut ini merupakan hasil yang diperoleh dari
dari praktikum ini :
1. Sifat otomatis dan ritmis
Setelah katak diambil dari kantong, katak diletakkan di atas papan bedah
kemudian dibedah. Setelah dibedah perlakuan pertama yang dilakukan yaitu
mengamati denyut jantung saat masih di dalam tubuh selama satu menit, hasilnya
pada ulangan pertama berdenyut sebanyak 67 kali/menit, ulangan kedua 65
kali/menit, dan hasil rata-ratanya 66 kali/menit. Pada perlakuan kedua jantung
dipisahkan dari tubuh lalu diamati denyut jantungnya. Hasil yang diperoleh yaitu
pada ulangan pertama berdenyut 23 kali/menit, ulangan yang kedua 24 kali/menit
dan rata-ratanya 24 kali/menit. Kemudian pada perlakuan ketiga memisahkan
sinus venosus dari jantung dan diamati denyutnya, hasilnya pada ulangan pertama
sinus venosus berdenyut sebanyak 51 kali/menit, ulangan kedua 53 kali/menit,
dan rata-ratanya 52 kali/ menit. Lalu perlakuan keempat mengamati jantung yang
sudah dipisahkan dari sinus venosus, hasilnya pada ulangan pertama sinus
venosus berdenyut sebanyak 30 kali/menit, ulangan kedua 29 kali/menit, dan rata-
ratanya 29 kali/menit. Selanjutnya perlakuan yang kelima atrium dan ventrikelnya
dipisahkan. Hasilnya pada atrium ulangan pertama berdenyut sebanyak 50
kali/menit, ulangan yang kedua 47 kali/menit dan rata-ratanya 49 kali/menit. Pada
ventrikel ulngan pertama 66 kali/menit, ulangan kedua 65 kali/menit dan rata-
ratanya 65 kali/menit.
2. Pengaruh faktor fisik dan kimia terhadap aktivitas jantung.
Setelah katak diambil dari kantong, katak diletakkan diatas papan bedah
kemudian dibedah. Setelah dibedah perlakuan pertama yang dilakukan yaitu
mengamati denyut jantung saat masih di dalam tubuh selama satu menit, hasilnya
pada ulangan pertama berdenyut sebanyak 66 kali/menit, ulangan kedua 65
kali/menit, dan rata-ratanya 65 kali/menit. Pada perlakuan kedua jantung
dipisahkan dari tubuh lalu diamati denyutnya, hasilnya pada ulangan pertama
berdenyut sebanyak 50 kali/menit, ulangan kedua 44 kali/menit, dan rata-ratanya
47 kali/menit. Lalu pada perlakuan ketiga menetesi jantung dengan larutan ringer
5 C. Hasilnya, pada ulangan pertama jantung berdenyut sebanyak 46 kali/menit,
ulangan kedua 44 kali/menit, dan mendapat rata-rata 47 kali/menit. Kemudian
perlakuan keempat dengan melakuakan perlakuan normal (direndam di dalam
ringer biasa), pada ulangan pertama mendapatkan hasil sebanyak 42 kali/menit,
ulangan kedua 15 kali /menit, dan rata-ratanya 29 kali/menit. Pada perlakuan
kelima dilakukan dengan merendam jantung pada larutan ringer 40 C saat
dihitung denyut jantungnya hasilnya sebanyak 21 kali/menit, ulangan kedua
10ka16 kali/menit.li/menit, dan rata-ratanya 16 kali/menit. Perlakuan keenam
dikembalikan ke dalam larutan larutan ringer biasa sehingga mendapatkan hasil
padaulangan pertama sebanyak 64 kali/menit, ulangan kedua 26 kali/ menit,dan
rata-ratanya 45 kali/menit. Selanjutnya perlakuan ketujuh menetesi jantung
dengan laruta asetilkolin. Hasilnya pada ulangan pertama jantung berdenyut
sebanyak 8 kali/menit, ulangan kedua 6 kali/menit, dan rata-ratanya 7 kali/menit.
Kemudian jantung di beri perlakuan kedelapan dengan memberikan ringer biasa,
hasilnya pada ulangan pertama jantung berdenyut sebanyak 22 kali/menit, ulangan
kedua 12 kali/menit, dan rata-ratanya 17 kali/menit. Kemudian dilakukan
perlakuan kesembilan dengan menetesi jantung dengan larutan adrenalin hasilnya
pada ulangan pertama jantung berdenyut sebanyak 27 kali/menit, ulangan kedua
25 kali/menit, dan rata-ratanya 26 kali/menit. Selanjutnya perlakuan terakhir
dengan mengembalikan jantung ke perlakuan normal (menggunakan larutan
ringer biasa), hasilnya ulangan pertama berdenyut sebanyak 11 kali/menit,
ulangan kedua 10 kali/menit, sehingga rata-ratanya 11 kali/menit.
3. Pengaruh ion terhadap aktivitas jantung
Setelah mengambil katak dalam kantong, kemudian katak disingle pith dan
diletakkan di atas papan bedah kemudian dibedah. Setelah dibedah dilakukan
pelakuan pertama pada katak, yaitu dengan mengamati denyut jantung di dalam
tubuh, hasilnya jantung berdenyut 53 kali/menit pada ulangan pertama, ulangan
kedua 52 kali/menit, dan rata-ratanya 53 kali/menit. Kemudian perlakuan kedua
jantung di keluarkan dari tubuh dan diamati denyut jantungnya, hasilnya jantung
berdenyut sebanyak 62 kali/menit pada ulangan pertama, ulangan kedua 61
kali/menit, dan rata-ratanya 62 kali/menit. Lalu pada perlakuan ketiga dilakukan
dengan meletakkan jantung pada larutan CaCl 1% hasilnya jantung berdenyut
sebanyak 37 kali/menit pada ulangan pertama, ulangan kedua 25 kali/menit, dan
rata-ratanya 31 kali/menit. Kemudian perlakuan keempat merendam jantung pada
larutan ringer biasa, hasilnya jantung berdenyut 10 kali/menit pada ulangan
pertama, ulangan kedua 10 kali/menit, sehingga rata-ratanya 10 kali/menit.
Perlakuan kelima dilakukan dengan merendam jantung pada larutan NaCl 0,7%
hasilnya jantung berdenyut sebanyak 11 kali/menit pada ulangan pertama, ulangan
kedua 10 kali/menit, dan rata-ratanya 11 kali/menit. Kemudian perlakuan keenam
mengembaliakan ke perlakuan normal (merendam dengan larutan ringer biasa),
hasilnya jantung berdenyut sebanyak 28 kali/menit pada ulangan pertama, ulangan
kedua 9 kali/menit, dan rata-ratanya 18,5 kali/menit. Lalu perlakuan ketujuh
dengan merendam jantung pada larutan KCl 0,9% hasilnya jantung berdenyut
sebanyak 21 kali/menit pada ulangan pertama, ulangan kedua 16 kali/menit, dan
rata-ratanya 18,5 kali/menit. Selanjutnya perlakuan terakhir dengan
mengembalikan jantung keperlakuan normal (merendam pada larutan ringer
biasa), hasilnya jantung berdenyut sebanyak 14 kali/menit pada ulangan pertama,
ulangan kedua 12 kali/menit, sehingga rata-ratanya 13 kali/menit.
G. Pembahasan
Jantung merupakan suatu organ yang mampu berdenyut dengan irama
tertentu (kontraksi ritmik). Fungsi utama jantung adalah memompa darah ke arah
sirkulasi sistemik maupun pulmoner. Jantung terletak dalam media stinum di
rongga dada, yaitu di antara kedua paru-paru. Lapisan yang mengitari jantung
(pericardium) terdiri dari dua bagian yaitu lapisan sebelah dalam atau
pericardium visceral dan lapisan sebelah luar atau pericardium parietal
(Halwatiah, 2009). Pada amfibia dan reptilia, irama ditentukan oleh sinus venosus.
Aurikel iramanya kurang cepat dan ventrikel paling rendah tingkat otomasinya.
Otot jantung peka terhadap perubahan-perubahan metabolik, kimia dan suhu.
Kenaikan suhu meningkatkan metabolisme dan frekuensi jantung (Affandi, 2002).
Menurut Halwatiah (2009), otot jantung berbeda dari otot kerangka dalam
hal struktur dan fungsinya. Untuk berkontraksi otot jantung tidak memerlukan
stimulus sebab otot jantung memiliki sifat otomatis. Pada sel otot jantung dapat
terjadi peristiwa depolarisasi secara spontan tanpa ada stimulus. Selain itu otot
jantung juga memiliki sifat ritmis, peristiwa depolarisasi dan repolarisasi berjalan
menurut irama tertentu. Dalam pengamatan mengenai kontraksi otot jantung kali
ini, dilakukan beberapa pengamatan pada jantung katak (Ranna sp.) diantaranya
yaitu pengamatan pada sifat otomatis dan ritmis, pengaruh faktor fisik dan kimia
terhadap aktivitas jantung dan pengaruh ion terhadap aktivitas jantung.
1. Sifat otomatis dan ritmis
Setelah katak (Ranna sp.) dilakukan di single pith dan pembedahan,
kemudian katak (Ranna sp.) diamati denyut jantung saat jantung berada di dalam
tubuh selama satu menit. Hasilnya pada ulangan pertama berdenyut sebanyak 67
kali/menit dan ulangan kedua 65 kali/menit sehingga diperoleh hasil rata-rata
frekuensi denyut jantung katak (Ranna sp.) yaitu 66 kali/menit. Dari rata-rata
frekuensi denyut jantung katak (Ranna sp.) tersebut terlihat bahwa jantung katak
(Ranna sp.) masih tetap berdenyut dengan keadaan ritmis (berirama). Hal ini
sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa sel-sel otot jantung tidak akan
berkontraksi kecuali dipicu oleh inpu neuronmotoris yang mengontrolnya. Akan
tetapi, sel-sel otot jantung dapat membangkitkan potensial aksinya sendiri, tanpa
suatu input apapun dari sistem saraf. Membran plasma otot jantung mempunyai
ciri pacu jantung yang menyebabkan depolarisasi berirama, yang memicu
potensial aksi dan menyebabkan sel otot jantung tunggal untuk berdenyut bahkan
ketika diisolasi dari jantung dan ditempatkan dalam biakan sel. Potensial aksi sel
otot jantung berbeda dari potensial aksi sel otot rangka, yang bertahan sampai dua
puluh kali lebih lama. Potensial aksi sel otot rangka hanya berfungsi sebagai
pemicu kontraksi dan tidakmenguntrol durasi kontraksi tersebut. Pada sel jantung
durasi potensial aksi memainkan peranan penting dalam pengontrolan durasi
kontraksi (Campbell, 2004). Oleh karena itu, jantung katak (Ranna sp.) masih
tetap berdenyut dengan keadaan ritmis (berirama) meskipun katak (Ranna sp.)
telah dilakukan single pith atau telah dirusak otaknya.
Pada perlakuan kedua jantung katak (Ranna sp.) dipisahkan dari tubuh dan
dihitung denyut jantungnya selama satu menit. Hasil yang diperoleh yaitu pada
ulangan pertama jantung katak (Ranna sp.) dapat berdenyut 23 kali/menit dan
pada ulangan yang kedua 24 kali/menit sehingga diperoleh rata-ratanya 24
kali/menit. Hal ini sesuai dengan teori karena mekanisme kerja otot jantung
dipengaruhi oleh saraf, hormon, otak dan CO2. Saraf yang mempengaruhi kerja
jantung yaitu saraf simpatik yang bekerja memperlambat kerja jantung, dan saraf
parasimpatik yang bekerja untuk mempercepat denyut jantung (Silverthorn,
2001). Oleh karena itu, jantung katak (Ranna sp.) masih dapat berkontraksi
meskipun telah dipisahkan dari tubuhnya karena ketika saraf simpatik dan saraf
parasimpatik berjalan menuju ke jantung bila pengendalian ini dihancurkan maka
jantung akan tetap terus dapat berdetak selama glukosa dan oksigen tersedia di
dalamnya (Kimball, 1988).
Pada perlakuan ketiga sinus venosus dipisahkan dari jantung dan diamati
denyutnya. Hasilnya pada ulangan pertama sinus venosus berdenyut sebanyak 51
kali/menit dan pada ulangan kedua 53 kali/menit sehingga diperoleh rata-rata
sebanyak 52 kali/ menit. Perlakuan selanjutnya yaitu mengamati jantung yang
sudah dipisahkan dari sinus venosus, hasilnya pada ulangan pertama sinus
venosus berdenyut sebanyak 30 kali/menit, ulangan kedua 29 kali/menit, dan
diperoleh rata-rata sebanyak 29 kali/menit. Hal ini sesuai dengan teori Ida (2014)
yang menjelaskan bahwa sinus venosus tetap berdenyut meskipun dipisahkan dari
jantung karena sinus venosus berfungsi sebagai pace marker (pemacu denyut
jantung) berupa depolarisasi lambat yang diikuti oleh potensial aksi apabila
potensial membran tersebut mencapai ambang tetap. Dengan demikian, timbullah
potensial aksi secara berkala yang akan menyebar keseluruh jantung dan
menyebabkan jantung berdenyut secara teratur tanpa adanya rangsangan melalui
saraf yang mana denyut jantung sendiri terdiri dari sistol (kontraksi diawali dari
atrium ke ventrikel) dan diastol (secara bersamaan relaksasi dari atrium dan
ventrikel).
Perlakuan terakhir yaitu atrium dan ventrikel katak (Ranna sp.) dipisahkan.
Hasilnya pada ulangan pertama atrium berdenyut sebanyak 50 kali/menit, ulangan
yang kedua 47 kali/menit dan diperoleh rata-rata 49 kali/menit. Pada ulangan
pertama ventrikel berdenyut ikel 66 kali/menit dan ulangan kedua 65 kali/menit
sehingga diperoleh rata-rata 65 kali/menit. Hal ini sesuai dengan teori yang
menyebutkan bahwa jantung dipersarafi oleh sistem saraf otonom, yaitu saraf
simpatis yang mempersarafi daerah atrium dan ventrikel, termasuk pembuluh
darah perifer dan saraf parasimpatis yang memberikan persarafan pada nodus
sino-atrial, atrio-ventrikular dan serabut-serabut otot atrium, dan dapat pula
menyebar ke dalam ventrikel kiri. Rangsang simpatis dihantarkan oleh
norepinefrin yang pada kerjanya akan mempengaruhi kerja otot ventrikel,
sedangkan saraf parasimpatis dihantarkan oleh asetilkolin yang mengontrol irama
dan laju denyut jantung (Kimball, 1988).
2. Pengaruh faktor fisik dan kimia terhadap aktivitas jantung
Jantung katak berbeda dengan jantung manusia. Jantung katak maupun
mamalia mempunyai centrum automasi sendiri. Artinya tetap berdenyut meskipun
telah diputuskan hubungannya dengan susunan saraf atau dikeluarkan dari tubuh.
Secara anatomis, jantung katak terbagi menjadi tiga ruang yaitu sinus venosus,
dua atrium dan satu ventrikel.
Pengamatan pertama pada katak yaitu pada kontraksi otot jantung sebelum
diangkat dari tubuh katak. Pada ulangan pertama adalah 66/menit, ulangan kedua
65/menit, ulangan ketiga 66/menit, dengan rata-rata yaitu 65,67 / menit. Dari rata-
rata frekuensi denyut jantung katak (Ranna sp.) tersebut terlihat bahwa jantung
katak (Ranna sp.) masih tetap berdenyut dengan keadaan ritmis (berirama). Hal
ini berbanding lurus dengan teori bahwa sel-sel otot jantung mempunyai daerah
khusus yang disebut dengan cakram berinterkalar, dimana persambungan longgar
memberikan pengkopelan listrik langsung diantara sel-sel otot jantung.
Membranplasma otot jantung mempunyai ciri pacu jantung yang menyebabkan
depolarisasi berirama, yang memicu potensial aksi dan menyebabkan sel otot
tunggal untuk berdenyut bahkan ketika diisolasi dari jantung dan ditempatkan
dalam biakan sel (Campbell, 2004).
Pada perlakuan kedua jantung katak (Ranna sp.) dipisahkan dari tubuh dan
dihitung denyut jantungnya selama satu menit.pada ulangan pertama 50/menit,
ulangan kedua 44/menit dan ulangan ketiga 47/menit. Dari data pengamatan ini
dapat dilihat bahwa aktifitas jantung katak menunjukkan iram yang tidak konstan,
hal ini dipengaruhi akibat sel saraf yang mengontrol ritme kerja jantung banyak
yang terputus sehingga menyebabkan terjadinya perubahan ritme kerja jantung
secara signifikan. Meskipun jantung pada katak telah terpisah dari tubuhnya,
jantung tetap dapat berdenyut karena dikontrol oleh saraf. Saraf yang
mempengaruhi kerja jantung yaitu saraf simpatik yang bekerja memperlambat
kerja jantung, dan saraf parasimpatik yang bekerja untuk mempercepat denyut
jantung (Silverthorn, 2001).
Pada perlakuan ketiga , jantung pada katak diberi perlakuan dengan ditetesi
larutan ringer 5oC. Dari perlakuan ini didapati data berikut, pada ulangan pertama
jantung katak berdetak sebanyak 46/menit, ulangan kedua 44/menit dan ulangan
ketiga 45/menit. Setelah jantung katak di tetesi larutan ringer 5oC, jantung
mengalami perlambatan denyut jantung, hal ini menunjukan bahwa jantung
bersifat termolabil dimana Jantung dapat berubah denyutnya karena pengaruh
suhu lingkungan. (Wiwi, 2006).
Pada perlakuan keempat, jantung katak diberi perlakuan dengan direndam
dalam larutan ringer normal sehingga didapati data pengamatan berikut. Pada
perhitungan ulangan pertama jantung katak berdetak sebanyak 42/menit, ulangan
kedua 15/menit dan ulangan ketiga 29/menit dengan rata-rata frekuensi 35,33
kali / menit. Dari rata-rata frekuensi dapat dilihat bahwa, jantung mengalami
penurunan fungsi. Perendaman dalam larutan ringer seharusnya meningkatkan
dan dapat mempercepat kerja jantung karena larutan ringer berfungsi untuk
mempercepat denyut jantung. Hal ini disebabkan karena larutan ringer laktat
bersifat hipertonis, sehingga konsentrasi cairan di dalam sel-sel otot jantung
meningkat yang menyebabkan otot jantung akan lebih cepat berkontraksi dari
frekuensi denyut jantung normal. Menrunnya kerja jantung ini disebabkan karena
beberapa faktor. Salah satunya adalah keadaan jantung yang terlalu lama dibiarkan
diluar tanpa larutan ringer sehingga jantung hampir mati.
Pada percobaan kelima dengan perlakuan jantung katak direndam dalam
larutan ringer bersuhu 40oC. Pada ulangan pertama jantung berdenyut sebanyak
21/menit, ulangan kedua 10/menit dan ulangan ketiga 16/menit dengan rata-rata
15,67 / menit. Perendaman jantung dalam ringer yang bersuhu tinggi pada 40 oC
akan berpengaruh pada frekuensi denyut jantung. Suhu dapat menyebabkan
denyutan jantung dua kali lipat. (Wiwi, 2006) . Namun jantung pada katak yang
direndam tidak menunjuukkan apa yang diterangkan teori. Hal ini dapat
disebabkan faktor eksternal, yakni keadaan jantung yang sudah tidak segar lagi
akibat terlalu lama dibiarkan.
Percobaan keenam, jantung diberikan perlakuan dengan direndam pada
larutan ringer normal. Pada ulangan pertama jumlah kali jantung berdenyut
sebanyak 64/menit, ulangan kedua 26/menit dan ulangan ketiga sebanyak
45/menit. Dilihat dari data hasil pengamatan berbanding lurus dengan teori bahwa
dapat larutan ringer mempercepat kerja jantung karena larutan ringer berfungsi
untuk mempercepat denyut jantung. Hal ini disebabkan karena larutan ringer
laktat bersifat hipertonis, sehingga konsentrasi cairan di dalam sel-sel otot jantung
meningkat yang menyebabkan otot jantung akan lebih cepat berkontraksi dari
frekuensi denyut jantung normal bahwa larutan.
Pada perlakuan ketujuh, jantung direndam dalam larutan asetilkolen,
hasilnya jantung berdenyut sebanyak 21 kali / menit, pada ulangan pertama
sebanyak 8 kali/menit, ulangan kedua 6 kali/menit dan pada ulangan ketiga
sebanyak 7 kali/menit. Asetilkolin berperan dalam pengaturan kinerja otot polos
pada jantung. Dari hasil yang diperoleh bahwa apa yang dikemukakan dalam
teori tidak sesuai, karena kinerja jantung katak tidak menunjukkan perubahan
signifikan dalam kenaikan kinerja. Faktor yang menyebabkan hal tersebut karena
jantung katak yang digunakan sudah hampir mati dan kemampuan saraf pada
jantung katak tersebut untuk menerima rangsangan atau stimulus sudah
berkurang.
Percobaan kedelapan, jantung diberikan perlakuan dengan direndam pada
larutan ringer normal. Pada ulangan pertama jumlah kali jantung berdenyut
sebanyak 22 kali/menit, ulangan kedua 12 kali/menit dan ulangan ketiga sebanyak
17 kali/menit. Dilihat dari data hasil pengamatan berbanding lurus dengan teori
bahwa larutan ringer dapat mempercepat kerja jantung karena larutan ringer
berfungsi untuk mempercepat denyut jantung. Hal ini disebabkan karena larutan
ringer laktat bersifat hipertonis, sehingga konsentrasi cairan di dalam sel-sel otot
jantung meningkat yang menyebabkan otot jantung akan lebih cepat berkontraksi
dari frekuensi denyut jantung normal bahwa larutan.
Pada percobaan kesembilan, jantung katak direndam dengan larutan
Adrenalin. Pada ulangan pertama, jantung katak berdenyut sebanyak 27
kali/menit, ulangan kedua sebanyak 25 kali/menit dan pada ulangan ketiga
sebanyak 26 kali/menit. Hal ini menunujkan bahwa adrenalin dapat meningkatkan
permeabilitas membran terhadap Na dan Ca. Di dalam SA node, peningkatan
permeabilitas membran terhadap Na menyebabkan penurunan potensial membran
sampai nilai ambang. Sementara di dalam AV node peningkatan permeabilitas
membran terhadap Na akan mempermudah sabut otot jantung untuk
mengkonduksi implus sabut otot berikutnya sehingga mengurangi waktu
pengkonduksian implus dari atrium ke ventrikel. Sedangkan peningkatan
permeabilitas terhadap Ca akan meningkatkan kontraksi otot semakin cepat.
3. Pengaruh ion terhadap aktivitas jantung
Setelah katak dilakukan single pith dan dilakukan pembedahan kemudian
mengamati denyut jantung di dalam tubuh, hasilnya jantung berdenyut 53
kali/menit pada ulangan pertama dan ulangan kedua 52 kali/menit sehingga di
dapatkan rata-rata sebesar 53 kali/menit. Hal ini dikarenakan sel-sel otot jantung
tidak akan berkontraksi kecuali dipicu oleh inpu neuronmotoris yang
mengontrolnya. Akan tetapi, sel-sel otot jantung dapat membangkitkan potensial
aksinya sendiri, tanpa suatu input apapun dari sistem saraf. Membran plasma otot
jantung mempunyai ciri pacu jantung yang menyebabkan depolarisasi berirama,
yang memicu potensial aksi dan menyebabkan sel otot jantung tunggal untuk
berdenyut bahkan ketika diisolasi dari jantung dan ditempatkan dalam biakan sel.
Potensial aksi sel otot jantung berbeda dari potensial aksi sel otot rangka, yang
bertahan sampai dua puluh kali lebih lama. Potensial aksi sel otot rangka hanya
berfungsi sebagai pemicu kontraksi dan tidakmenguntrol durasi kontraksi
tersebut. Pada sel jantung durasi potensial aksi memainkan peranan penting dalam
pengontrolan durasi kontraksi (Campbell, 2004). Oleh karena itu, jantung katak
(Ranna sp.) masih tetap berdenyut dengan keadaan ritmis (berirama) meskipun
katak (Ranna sp.) telah dilakukan single pith atau telah dirusak otaknya.
Kemudian perlakuan kedua jantung di keluarkan dari tubuh dan diamati
denyut jantungnya, hasilnya jantung berdenyut sebanyak 62 kali/menit pada
ulangan pertama, ulangan kedua 61 kali/menit, dan rata-ratanya 62 kali/menit.
Mekanisme kerja otot jantung dipengaruhi oleh saraf, hormon, otak dan CO2.
Saraf yang mempengaruhi kerja jantung yaitu saraf simpatik yang bekerja
memperlambat kerja jantung, dan saraf parasimpatik yang bekerja untuk
mempercepat denyut jantung (Silverthorn, 2001). Oleh karena itu, jantung katak
(Ranna sp.) masih dapat berkontraksi meskipun telah dipisahkan dari tubuhnya
karena ketika saraf simpatik dan saraf parasimpatik berjalan menuju ke jantung
bila pengendalian ini dihancurkan maka jantung akan tetap terus dapat berdetak
selama glukosa dan oksigen tersedia di dalamnya (Kimball, 1988).
Lalu pada perlakuan ketiga dilakukan dengan meletakkan jantung pada
larutan CaCl 1% hasilnya jantung berdenyut sebanyak 37 kali/menit pada
ulangan pertama, ulangan kedua 25 kali/menit, dan rata-ratanya 31 kali/menit.
Kelebihan ion kalsium menyebabkan efek yang hampir berlawanan dengan efek
ion kalium, menyebabkan jantung berkontraksi spastik. Hal ini disebabkan oleh
efek langsung ion kalsium untuk merangsang proses kontraksi. Sebaliknya,
defisiensi ion kalsium menyebabkan jantung lemas. Perubahan ion kalsium
selama kehidupan jarang cukup banyak dapat mengubah fungsi jantung (Isnaeni,
2006) sehingga frekuensi denyut jantung (Ranna sp.) yang diberi larutan CaCl2
1% mengalami penurunan hingga 50%. Setelah diberi perlakuan larutan CaCl 2
1% jantung katak (Ranna sp.) direndam dengan larutan ringer guna untuk
penetralan sebelum diberi perlakuan NaCl 0,7%. Berdasarkan analisis data
jantung katak (Ranna sp.) berdenyut sebanyak 10 kali/menit pada ulangan I dan
pada ulangan II juga berdenyut sebanyak 10 kali/menit. Sehingga dapat diambil
rata-rata denyut jantung katak (Ranna sp.) berdenyut sebanyak 10 kali/menit.
Denyut jantung katak (Ranna sp.) meningkat menjadi 11 kali/menit setelah diberi
perlakuan larutan NaCl 0,7% dan denyut jantung katak (Ranna sp.) meningkat
menjadi 18,5 kali/menit. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menjelaskan
bahwa kelebihan Na+ akan menyebabkan penekanan fungsi jantung. Semakin
banyak Na+ dalam cairan ekstra sel maka akan semakin berkurang keefektifan
dalam ion kalsium. Efek tersebut dikarenakan peningkatan permeabilitas
membrane otot terhadap berbagai ion. Sedangkan jika kelebihan K+ akan
mengakibatkan kerja jantung dibatasi dan frekuensi jantung melambat. Distribusi
ion pada keadaan istirahat akan dipulihkan kembali melalui kegiatan pompa Na +-
K+ yang dengan aktif memindahkan K+ ke dalam sel dan Na+ ke luar sel
(Campbel, 2004). Kesalahan tersebut dapat terjadi mungkin karena praktikan tidak
teliti dalam melakukan perhitungan karena denyut jantung tidak begitu kelihatan.
H. Kesimpulan
1. Saat terletak di dalam tubuh katak (Ranna sp.), jantung dapat berdetak
normal dan memiliki irama atau ritmis yang beraturan. Setelah jantung
dikeluarkan dari tubuh katak (Ranna sp.), jantung berdetak lebih pelan dan
memiliki ritmis atau irama yang tidak beraturan. Ketika bagian jantung
dipisahkan, bagian-bagian tersebut masih berdetak. Saat sinus venosus
dipisahkan dari jantung, detak dari sinus venosus ternyata lebih cepat
daripada detak jantung tanpa sinus venosus tersebut. Dan saat bagian
atrium dan ventrikel dipisahkan menjadi dua, keduanya (atrium dan
ventrikel) masih dapat berdetak meskipun jumlah detak jantungnya lebih
sedikit dari jantung normal.
2. Sinus venosus pada jantung katak (Ranna sp.) berfungsi sebagai pace
maker atau alat pacu jantung.sinus venosus ini menerima darah pembuluh
darah besar yang akan masuk pada atrium kanan.
3. Faktor ekstrinsik yang mempengaruhi kerja jantung antara lain seperti
bahan kimia, hormon, ion-ion dan metabolit. Pada saat jantung diletakkan
pada ion-ion atau garam-garaman, kerja jantung semakin melemah. Ketika
jantung direndam pada larutan ringer panas atau dingin, kerja jantung lebih
cepat tetapi tidak secepat seperti ketika dalam keadaan normal. Saat
direndam pada hormon adrenalin, kerja jantung lebih cepat karena
adrenalin berfungsi untuk memacu kerja jantung lebih cepat. Dan saat
jantung direndam pada larutan asetilkolin, kerja jantung melemah dan
memiliki ritmis yang tidak konstan.
Daftar Pustaka
Affandi R. 2002. Fisiologi Hewan Air. Pekanbaru: Unri Press.
Anita. 2011. Blog Anita. Praktikum Fisiologi.
http://anitabintiakhmad.blogspot.com. (2014).
Campbell, Neil A. 2004. Biologi Edisi Ke 5 Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Ida. 2012. Blog Ida. Fisiologi Dian Husada.
http://idatrisnawati23.blogspot.com. (2014).
Halwatiah. 2009. Fisiologi. Makassar: Alauddin press.
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisus.
Bevelander and J. A Ramaley. 1979. Essentials of History. CV. Moss by Company,
santLouis.
Frandson, R. D. 1992. Anatomi Fisiologi Ternak. Yogyakarta: UGM Press.
Ganong, W. F. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit EGC.
Geneser, Finn. 1993. Textbook of Histology. Denmark: Munksgaard.
Guyton, A. C. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Kimball, J. W. 1988. Biologi Jilid II. Jakarta: Erlangga.
Rosser, B.W.C. and Bandman, E. 2003. Heterogeneity of Protein Expression
Within Muscle Fibers. J Anim Sci. : 81: 94-101.
Ville, C. A., Warner F. W dan Robert B. D. 1988. Zoologi Umum. Erlangga..
Pearce, E. C. 2004. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Soetrisno. 1987. Diktat Fisiologi Hewan. Purwokerto: Fakultas Peternakan
Unsoed.

LAMPIRAN

1. Proses pembedahan katak (Ranna sp.) untuk diambil jantungnya.


2. Jantung katak (Ranna sp.) yang telah dibersihkan dari lemak

3. Jantung telah dipisahkan dengan atrium dan ventrikel


4. Perlakuan perendaman jantung katak (Ranna sp.) dengan larutan ringer 10C

5. Perlakuan perendaman jantung katak (Ranna sp.) dengan larutan ringer 40C