Anda di halaman 1dari 9

Tugas IPDHK

PANLEUKOPENIA

OLEH : KELOMPOK 3
WANTI DESI DANA 1302101010037

PURNAMA SARI 1302101010134

IBRAHIM SOLEH 1402101010224

ATIKA HUSNAH 1402101010004

RIZKI NURLIYANTI SIREGAR 1402101010077

HISDA MAULANA 1402101010102

RINA DWITA 1402101010105

NELMA SARI 1402101010173

DZULFIKAR FAIZIN R 1402101010164

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS SYIAH KUALA

2016/2017
PEMBAHASAN

Panleukopenia merupakan penyakit menular non zoonosis pada hewan kesayangan anjing
dan kucing diantaranya disebabkan oleh virus parvo. Pada anjing lebih popular disebut canine
parvovirus sedangkan pada kucing disebut Feline Panleukopenia. Penyakit Feline Panleukopenia
(FPL) merupakan penyakit fatal pada kucing muda, yang hampir sama seperti distemper pada
anjing. Penyebab penyakit FPL adalah virus termasuk anggota dari Famili Parvoviridae, yang
bersama sama dengan CPV (canine parvo virus) dan MVE (mink viral enteritis)
diklasifikasikan sebagai feline parvo sub grup. Virus FPL sangat tahan terhadap lingkungan dan
masih dapat bertahan hidup di kandang sampai selama 1 tahun. Virus banyak ditemukan pada
urin dan feses (Syariatidan Sendow,2003).

Penyakit Feline Panleukopenia merupakan penyakit yang di sebabkan oleh virus parvo
yang menginvasi kucing pada saat berumur muda kitten dan dapat menyebabkan kematian
dikarenakan sistem pertahanan tubuh yang masih lemah serta belum tervaksin sehingga
menambah peluang bagi virus tersebut masuk kedalam tubuh kitten. Kucing yang rentan terkena
virus ini biasanya berada dilingkungan yang tidak bersih seperti diluar rumah, jalanraya, dan
lain-lain serta kucing rumahan dikarenakan kucing liar lebih rentan terpapar feses, muntahan,
urin, leleran mata maupun leleran kucing lain yang mungkin saja terdapat virus tersebut. Begitu
juga dengan kucing rumahan bisas terkena penyakit ini karena factor indirect seperti baju dan
lain-lain kemungkinan bisa juga tertular.
A. ETIOLOGI

Feline panleukopenia (FPL) merupakan penyakit menular nonzoonosis pada kucing,


dengan nama lain Feline distemper, Infectious enteritis, Cat fever, Cat typhoid. FPL merupakan
penyakit yang menyerang segala umur kucing dan dapat menimbulkan banyak kematian kucing
terutama pada anak kucing dapat mencapai kematian 75%. Anak kucing, kucing sakit dan kucing
rumahan yang tidak divaksin adalah lebih rentan tertular dibandingkan dengan kucing tua yang
biasanya lebih tahan karena mempunyai kekebalan bawaan atau sudah berulang kali terinfeksi.
Feline panleukopenia (FPL) merupakan penyakit fatal pada kucing muda, yang hampir sama
seperti distemper pada anjing. Penyakit ini disebabkan oleh virus termasuk Famili Parvoviridae
yang menyerang jaringan pembentuk darah dan limfe, dan juga mukosa organ gastro intestinal
sehingga menyebabkan penurunan jumlah leukosit dan enteritis. Virus banyak ditemukan pada
urin dan feses tapi penularan dari kucing ke kucing selain melalui fecal-oral dapat juga melalui
muntahan, urin, leleran mata atau pun leleran hidung (Syafrianti,2004).

B. PATOGENESA

Dalam waktu 24 jam setelah teringesti , virus segera menyebar dari tonsil ke intestine,
dalam waktu 2 minggu dapat menyebar sampai ke sebagian besar usus, lymph node usus dan
liver, selanjutnya dapat menyebar kebeberapa organ. Kucing yang tidak bisa memproduksi
antibody secara maksimal, akan terjadi penimbunan cairan terutama dalam rongga dada dan
abdomen, tetapi bila dapat merespon secara maksimal, tidak akan terjadi timbunan cairan,
walaupun terjadi infeksi laten dalam waktu tertentu (Nash H.2006).

Virus panleukopenia kucing menyebabkan sistemik infeksi. Virus ini ditularkan melalui
faecal-oral, kemudian berkembang dijaringan orofaring dan kemudian didistribusikan melalui
cell freeaviremia ke hamper semua jaringan. Limfopenia mungkin timbul langsung sebagai
akibat dari lymphocytolysis, tetapi juga tidak langsung, berikut migrasi limfosit kejaringan.
Sumsum tulang dipengaruhi juga, dan replikasi virus telah dijelaskan di awal sel progenitor,
menjelaskan efek dramatis di hampir semua sel myeloid populations.(Truyen dkk,2009).
C. GEJALA KLINIS

Menurut Suwed dan Napitulu (2011). Gejala klinisnya antara lain :

Demam
muntah-muntah
diare
hilangnya nafsu makan
kematian
Pyrexia
Dehidrasi (leukopenia)
serta meyebabkan kerusakan usus yang parah
Physical examination menunjukkan adanya depresi yang parah, dehidrasi, dan terkadang adanya
rasa sakit di daerah abdomen. Palpasi pada abdomen dapat menginduksi kejadian muntah, selain
itu kebengkakan dan penebalan usus serta kebengkakan limfoglandula mesenterica akan teraba.
Pada kucing muda dengan kelainan cerebellum akan terlihat gejala ataksia dan tremor. Gejala
akan terlihat selama 5-7 hari. Anak kucing yang menderita penleukopenia perakut akan mati
dalam waktu 24 jam setelah timbul gejala klinis.

D. DIAGNOSA

Diagnosis penyakit FPL dapat dilakukan berdasarkan gejala klinis, isolasi dan identifikasi
virus serta pemeriksaan serologik. Virus FPL dapat tumbuh secara efisien pada biakan sel ginjal,
ogan paru-paru, lidah kucing dibandingkan dengan pada biakan sel lain seperti yang berasal dari
biakan sel organ anjing. Untuk mengetahui ada atau tidaknya antibodi terhadap virus FPL
didalam serum, pemeriksaan serologik yang digunakan adalah teknik haemagglutination-
inhibition (HI) dan dapat dikonfirmasi dengan serum neutralisation test (SNT) dengan
menggunakan teknik mikro, selain itu dapat juga dengan menggunakan teknik PCR. Darah
diambil selain untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap FPL dalam serum, juga dihitung
jumlah leukosit hewan yang diduga terinfeksi penyakit FPL karena penyakit FPL ini selain dapat
menyebabkan gastroenteritis akut yang sangat fatal dengan gejala klinis diare, dapat juga
menyebabkan lymphopenia.

Contoh pemeriksaan leukopenia :


E. PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN
Pengobatan

Dokter hewan dapat memberikan kucing infus untuk mengembalikan tubuh dan hidrat
cairan yang hilang. Elektrolit dapat diberikan untuk menyeimbangkan cairan tubuh dan antibiotik
untuk mengobati infeksi sekunder. Kucing biasanya juga akan diberikan obat anti-muntah untuk
menghentikan muntah dan mengurangi dehidrasi.

Pencegahan

Vaksinasi yang teratur ketika anak kucing berumur 8-10 minggu agar kekebalan lebih
terjamin vaksin diulang secara berkala satu bulan sekali sampai tiga kali setelah itu diulang satu
tahun sekali dan juga desinfektan yang khusus (Suwed dan Napitulu, 2011).
DAFTAR PUSTAKA

Arimbi,2010. Studi Kasus : Suspec Feline Infectious Peritonitis (FIP) Pada Kucing Ras di
Surabaya Case Study : Suspec Feline Infectious Peritonitis (FIP) of Cat in Surabaya.
Veterinaria Medika.3(2):109-114.

Krause.B.D.dkk. 2010. Prognostic Factors in Cats with Feline Panleukopenia. Journal Vetetinery
Intern Medicine.24:12711276.

Nash.H. 2006. Feline Infectious Peritonitis (FIP) in Cats and Kittens. PetEducation.com.

Suwed.M.A.dan Napitulu.M.R. Panduan Lengkap Kucing. Bogor: Penebar Swadaya.

Syafrianti, T.dan Sendow I. 2003. Keberadaan Penyakit Feline Panleukopenia Pada Kucing Di
Indonesia. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner.
Syafrianti, T. 2004. Deteksi Antibodi Penyakit Feline Panleukopenia Pada Kucing Dengan
Menggunakan Teknik Elisa. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner.

Truyen, U. dkk. 2009. Feline Panluekopenia ABCD Guidelines on prevention and management.
Journal of Feline Medicine and Surgery.11:538-546 .