Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN

PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK


UJI KUALITATIF SENYAWA ALDEHID
DAN KETON

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Praktikum


Kimia Organik.
Dosen Pengampu : Tania Avianda Gusman M.Sc

ANISA NURHUDA UTAMI


140621004
KELOMPOK 5

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN


KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
CIREBON
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aldehid dan keton merupakan dua dari sekian banyak contoh kelompok
senyawa organik yang mengandung gugus karbonil. Aldehid itu sendiri merupakan
salah satu senyawa karbon yang mengandung gugus karbonil (-CO-), dimana satu
tangan mengikat gugus alkil dan tangan yang lain mengikat atom hidrogen. Sedangkan
keton hampir sama dengan aldehid, hanya saja pada keton kedua tangan atom karbon
mengikat gugus alkil. Struktur umum aldehid yaitu R-CHO.Struktur umum keton
yaitu R-CO-R. Aldehid dan keton banyak terdapat dalam sistem makhluk
hidup.Seperti gula ribosa dan hormon progesteron merupakan contoh dari aldehid dan
keton.
Aldehid dan keton mempunyai bau yang khas, yang pada umumnya aldehid
berbau merangsang sedangkan keton berbau harum. Aldehid dan keton
menyumbangkan manfaat yang cukup besar dalam kehidupan. Salah stu contohnya
yaitu metanal yang merupakan contoh dari senyawa aldehid. Metanal ini lebih dikenal
dengan nama formaldehida. Larutan formaldehida 40% digunakan sebagai antiseptik
atau yang dikenal dengan sebutan formalin. Sedangkan pada keton yang pailing
banyak dikenal yaitu aseton yang digunakan sebagai pelarut dan pembersih kaca. Oleh
karena banyak manfaatnya maka kita harus mampu membedakan mana senyawa keton
dan senyawa aldehid agar tidak terjadi kekeliruan dalam pemanfaatannya.

B. Tujuan
Untuk mengetahui di dalam sampel mengandung gugus aldehid dan keton.

C. Prinsip
Berdasarkan pembentukan endapan, perubahan warna, dan gas.
BAB II
DASAR TEORI
Aldehid adalah suatu senyawa yang mengandung sebuah gugus karbonil yang terikat
pada sebuah atau dua buah atom hidrogen. Nama IUPEC dari aldehida diturunkan dari alkana
dengan mengganti akhiran ana dengan al. Nama umumnya didasarkan nama asam
karboksilat ditambahkan dengan akhiran dehida. Salah satu reaksi untuk pembuatan aldehid
adalah oksidasi dari alkohol primer. Kebanyakan oksidator tak dapat dipakai karena akan
mengoksidasi aldehidnya menjadi asam karboksilat. Oksidasi khrompiridin komplek seperti
piridinium khlor kromat adalah oksidator yang dapat merubah alkohol primer menjadi aldehid
tanpa merubahnya menjadi asam karboksilat (Petrucci, 1987).
Keton adalah senyawa-senyawa sederhana yang mengandung sebuah gugus karbonil
sebuah ikatan rangkap C=O. Keton termasuk senyawa yang sederhana jika ditinjau
berdasarkan tidak adanya gugus-gugus reaktif yang lain seperti OH atau -Cl yang terikat
langsung pada atom karbon di gugus karbonil - seperti yang bisa ditemukan misalnya pada
asam-asam karboksilat yang mengandung gugus - COOH. Contoh-contoh keton. Pada keton,
gugus karbonil memiliki dua gugus hidrokarbo yang terikat padanya. Sekali lagi, gugus
tersebut bisa berupa gugus alkil atau gugus yang mengandung cincin benzen. Disini kita
hanya akan berfokus pada keton yang mengandung gugus alkil untuk menyederhanakan
pembahasan (Novan, 2008) .
Pembuatan keton ynag paling umum adalah oksidasi dari alkohol sekunder. Hampir
semua oksidator dapat dipakai. Pereaksi yang khas antara lain khromium oksida (CrO 3),
phiridinium khlor kromat, natrium bikhromat (Na2Cr2O7) dan kalium permanganat (KMnO4)
(Anonim, 1986).
Sifat-sifat fisik aldehid dan keton, karena aldehid dan keton tidak mengandung
hidrogen yang terikat pada oksigen, maka tidak dapat terjadi ikatan hidrogen seperti pada
alkohol. Sebaliknya aldehid dan keton adalah polar dan dapat membentuk gaya tarik menarik
elektrostatik yang relatif kuat antara molekulnya, bagian positif dari sebuah molekul akan
tertarik pada bagian negatif dari yang lain (Fessenden, 1997).
Aldehida dan keton merupakan senyawa yang mempunyai gugus karbonil. Aldehida
mempunyai sedikitnya satu hidrogen yang terikat pada karbon karbonil, sedangkan keton tidak
mempunyai hidrogen yang terikat pada karbon kabonil, hanya karbon yang mengandung gugus R (R
adalah alkil atau aromatik) (Novan, 2008) .
Aldehid dan keton adalah senyawa-senyawa sederhana yang mengandung sebuah
gugus karbonil sebuah ikatan rangkap C=O. Aldehid dan keton termasuk senyawa yang
sederhana jika ditinjau berdasarkan tidak adanya gugus-gugus reaktif yang lain seperti -OH
atau -Cl yang terikat langsung pada atom karbon di gugus karbonil seperti yang bisa
ditemukan pada asam-asam karboksilat yang mengandung gugus -COOH.
Pada aldehid, gugus karbonil memiliki satu atom hidrogen yang terikat padanya
bersama dengan salah satu dari gugus berikut:
atom hidrogen lain
sebuah gugus hidrokarbon yang bisa berupa gugus alkil atau gugus yang mengandung
sebuah cincin benzen.

Pada gambar di atas ditunjukkan bahwa keduanya memiliki ujung molekul yang sama persis.
Yang membedakan hanya kompleksitas gugus lain yang terikat.

Jika kita menuliskan rumus molekul untuk molekul-molekul di atas, maka gugus
aldehid (gugus karbonil yang mengikat atom hidrogen) selalunya dituliskan sebagai -CHO
dan tidak pernah dituliskan sebagai COH. Oleh karena itu, penulisan rumus molekul aldehid
terkadang sulit dibedakan dengan alkohol. Misalnya etanal dituliskan sebagai CH 3CHO dan
metanol sebagai HCHO.

Penamaan aldehid didasarkan pada jumlah total atom karbon yang terdapat dalam
rantai terpanjang termasuk atom karbon yang terdapat pada gugus karbonil. Jika ada gugus
samping yang terikat pada rantai terpanjang tersebut, maka atom karbon pada gugus karbonil
harus selalu dianggap sebagai atom karbon nomor 1.

Contoh-contoh keton

Pada keton, gugus karbonil memiliki dua gugus hidrokarbon yang terikat padanya.
Sekali lagi, gugus tersebut bisa berupa gugus alkil atau gugus yang mengandung cincin
benzen. Disini kita hanya akan berfokus pada keton yang mengandung gugus alkil untuk
menyederhanakan pembahasan.Perlu diperhatikan bahwa pada keton tidak pernah ada atom
hidrogen yang terikat pada gugus karbonil.
Propanon biasanya dituliskan sebagai CH3COCH3. Diperlukannya penomoran atom
karbon pada keton-keton yang lebih panjang harus selalu diperhatikan. Pada pentanon, gugus
karbonil bisa terletak di tengah rantai atau di samping karbon ujung menghasilkan pentan-3-
ena atau pentan-2-on.

Ikatan dan Kereaktifan

- Ikatan pada gugus karbonil

Atom oksigen jauh lebih elektronegatif dibanding karbon sehingga memiliki


kecenderungan kuat untuk menarik elektron-elektron yang terdapat dalam ikatan C=O
kearahnya sendiri. Salah satu dari dua pasang elektron yang membentuk ikatan
rangkap C=O bahkan lebih mudah tertarik ke arah oksigen. Ini menyebabkan ikatan
rangkap C=O sangat polar.

Reaksi-reaksi penting dari gugus karbonil

Atom karbon yang sedikit bermuatan positif pada gugus karbonil bisa diserang oleh
nukleofil. Nukleofil merupakan sebuah ion bermuatan negatif (misalnya, ion sianida, CN -),
atau bagian yang bermuatan negatif dari sebuah molekul (misalnya, pasangan elektron bebas
pada sebuah atom nitrogen dalam molekul amonia NH3).

Selama reaksi berlangsung, ikatan rangkap C=O terputus. Efek murni dari pemutusan
ikatan ini adalah bahwa gugus karbonil akan mengalami reaksi adisi, seringkali diikuti
dengan hilangnya sebuah molekul air. Ini menghasilkan reaksi yang dikenal sebagai adisi-
eliminasi atau kondensasi. Dalam pembahasan tentang aldehid dan keton anda akan
menemukan banyak contoh reaksi adisi sederhana dan reaksi adisi-eliminasi. Aldehid dan
keton mengandung sebuah gugus karbonil. Ini berarti bahwa reaksi keduanya sangat mirip
jika ditinjau berdasarkan gugus karbonilnya.
Perbedaan aldehid dan keton

Aldehid berbeda dengan keton karena memiliki sebuah atom hidrogen yang terikat pada
gugus karbonilnya. Ini menyebabkan aldehid sangat mudah teroksidasi. Sebagai contoh,
etanal, CH3CHO, sangat mudah dioksiasi baik menjadi asam etanoat, CH3COOH, atau ion
etanoat, CH3COO-. Keton tidak memiliki atom hidrogen tersebut sehingga tidak mudah
dioksidasi. Keton hanya bisa dioksidasi dengan menggunakan agen pengoksidasi kuat yang
memiliki kemampuan untuk memutus ikatan karbon-karbon.Oksidasi aldehid dan keton juga
dibahas dalam modul belajar online ini pada sebuah halaman khusus di topik aldehid dan
keton.

Sifat-sifat fisik

- Titik Didih. Aldehid sederhana seperti metanal memiliki wujud gas (titik didih
-21C), dan etanal memiliki titik didih +21C. Ini berarti bahwa etanal akan mendidih
pada suhu yang mendekati suhu kamar. Aldehid dan keton lainnya berwujud cair,
dengan titik didih yang semakin meningkat apabila molekul semakin besar. Besarnya
titik didih dikendalikan oleh kekuatan gaya-gaya antar-molekul.

- Gaya dispersi van der Waals. Gaya tarik ini menjadi lebih kuat apabila molekul
menjadi lebih panjang dan memiliki lebih banyak elektron. Peningkatan gaya tarik ini
akan meningkatkan ukuran dipol-dipol temporer yang terbentuk. Inilah sebabnya
mengapa titik didih meningkat apabila jumlah atom karbon dalam rantai juga
meningkat baik pada aldehid maupun pada keton.

- Gaya tarik dipol-dipol van der Waals Aldehid dan keton adalah molekul polar karena
adanya ikatan rangkap C=O. Seperti halnya gaya-gaya dispersi, juga akan ada gaya
tarik antara dipol-dipol permanen pada molekul-molekul yang berdekatan.
Kelarutan dalam air

Aldehid dan keton yang kecil dapat larut secara bebas dalam air tetapi kelarutannya
berkurang seiring dengan pertambahan panjang rantai. Sebagai contoh, metanal, etanal dan
propanon yang merupakan aldehid dan keton berukuran kecil dapat bercampur dengan air
pada semua perbandingan volume.Alasan mengapa aldehid dan keton yang kecil dapat larut
dalam air adalah bahwa walaupun aldehid dan keton tidak bisa saling berikatan hidrogen
sesamanya, namun keduanya bisa berikatan hidrogen dengan molekul air. Salah satu dari
atom hidrogen yang sedikit bermuatan positif dalam sebuah molekul air bisa tertarik dengan
baik ke salah satu pasangan elektron bebas pada atom oksigen dari sebuah aldehid atau keton
untuk membentuk sebuah ikatan hidrogen.

Tentunya juga terdapat gaya dispersi dan gaya tarik dipol-dipol antara aldehid atau keton
dengan molekul air. Pembentukan gaya-gaya tarik ini melepaskan energi yang membantu
menyuplai energi yang diperlukan untuk memisahkan molekul air dan aldehid atau keton satu
sama lain sebelum bisa bercampur.

Dalam percobaan ini, dipelajari sifat-sifat kimia dari aldehida dan keton dengan menggunakan
beberapa tes/uji yaitu :
1. Oksidasi dengan KMnO4( Oksidator kuat )
Aldehida dapat dioksidasi menjadi asam karboksilat dengan oksidator kuat
sepertiKMnO4. Tes positif jika ion MnO4- (warna ungu) berubah menjadi endapan MnO 2
(coklat).
5 R-CHO + 2 KMnO4 + H2SO4- 5 R-COOH + MnO2 + H2O
(Ungu) (Coklat)
2. Tes Tollens
Aldehida dengan pereaksi tollens (oksidator lembut) dioksidasi menjadi asam
karboksilat, yang ditandai dengan terbentuknya endapan cermin perak.
R-CHO + 2 Ag(NH3)2OH 2 -- Ag + R-COO-NH4+ + 3 NH3+ H2O
Cermin perak
3. Tes Benedict
Aldehida alifatik dioksidasi menjadi asam karboksilat dengan pereaksi
benedict( kompleks ion Cu(II) sitrat dalam larutan basa). Ion Cu(II) direduksi menjadi
Cu2O(endapan berwarna merah bata). Aldehida aromatik dan keton tidak bereaksi
denganpereaksi benedict.
R-CHO + 2Cu2++ 5 OH R-COO-+ Cu2O + 3 H2O
Biru merah bata
4. Tes Fehling
Pereaksi Fehling merupakan kompleks ion Cu(II) tartrat dalam larutan asam. IonCu(II)
direduksi menjadi ion Cu2O (endapan berwarna merah bata).
R-CHO + Cu2+ R-COO- + Cu2O
Biru merah bata
5. Test dengan NaOH
NaOH yang berfungsi sebagai sumber ion OH yang akan berikatan dengan rantai
aldehid. Uji positifnya yaitu larutang berwarna kuning.
Reaksi yang terjadi yaitu :

6. Test Molishc
Prinsip kerja dari uji ini adalah berdasarkan penambahan asam sulfat pekat pada
karbohidrat sehingga karbohidrat akan mengalami hidrolisis menjadi senyawa hidroksi
metil fulfural dengan penambahan alfanaftol akan terbentuk cincin ungu.
H2SO4 pekat (dapat diganti dengan asam kuat lainnya) berfungsi untuk
menghidrolisis ikatan pada sakarida untuk menghasilkan furfural. Furfural ini
kemudian bereaksi dengan reagen molisch, alfanaftol membentuk cincin yang
berwarna ungu. Kesalahan yang terjadi mungkin karena kurang hati hati meneteskan
H2SO4 sehingga cincin ungu tidak terlihat.
7. Uji seliwarnoff
Uji Seliwanoff adalah sebuah uji kimia yang membedakan gula aldosa dan ketosa.
Ketosa dibedakan dari aldosa via gugus fungsi keton atau aldehida gula tersebut. Jika
gula tersebut mempunyai gugus keton, ia adalah ketosa. Sebaliknya jika ia
mengandung gugus aldehida, ia adalah aldosa. Uji ini didasarkan pada fakta bahwa
ketika dipanaskan, ketosa lebih cepat terdehidrasi daripada aldosa. Reagen uji
Seliwanoff ini terdiri dari resorsinol dan asam klorida pekat. Asam reagen ini
menghidrolisis polisakarida dan oligosakarida menjadi gula sederhana. Ketosa yang
terhidrasi kemudian bereaksi dengan resorsinol, menghasilkan zat berwarna merah tua.
BAB III
PROSEDUR KERJA

1. Test dengan pereaksi Tollens


a. Pembuat reagen Tollens

20 tetes larutan 5% AgNO3


Dimasukkan kemudian
kedalam tabung
ditambahkan
reaksi.

1,5 ml 2% NH4OH Kemudian 10 tetes NaOH 5%


ditambahkan tetes
demi tetes

Sampai endapan hilang

b. Uji kualitatif aldehid dan keton

Aldehid Dimasukkan ke Kemudian


dalam tabung reaksi ditambahkan

Setelah terjadi 10 tts reagen Tollens


Amati dan catat
perubahan
perubahan yang
terjadi

Amati apa yang


Dipanaskan dengan
terjadi
penangas air
Lakukan langkah yang sama, dengan mengganti sampel aldehid dengan sampel
keton.
2. Test pereaksi fehling

Aldehid Dimasukkan ke Kemudian


dalam tabung reaksi memasukkan
Reagen Fehling A dan B
Panaskan dalam
waterbath sampai
mendidih Aduk rata

Amati perubahan yang terjadi


dan catat

Lakukan langkah yang sama, dengan mengganti sampel aldehid dengan sampel
keton dan asam karboksilat.

3. Test Benedict

Aldehid Dimasukkan ke Kemudian


dalam tabung reaksi tambahkan

Amati perubahan yang R.Benedict


terjadi dan catat Panaskan larutan
sampai mendidih

4. Test dengan NaOH

Lar.
NaOH 10%
Masukkan ke dalam Kemudian
tabung reaksi ditambahkan

tetes lar.karbonil
Campur
Didihkan
larutan dengan
beberapa menit
sempurna

Amati perubahan yang terjadi


dan catat
5. Oksidasi dengan KMnO4

10 tetes KMnO4 0,1 M

Masukkan ke dalam Kemudian


tabung reaksi ditambahkan

Sampel
2 tetes H2SO4 pekat
Kemudian Amati
tambahkan perubahannya

Dipanaskan Amati
selama 2 perubahannya
menit

Lakukan langkah yang sama, dengan mengganti sampel.

6. Test Pereaksi Molisch

R.Molish
Sampel Dimasukkan ke Kemudian
dalam tabung ditambahkan
reaksi

Amati perubahannya H2SO4 Kemudian Amati perubahannya

ditambahkan

7. Test Pereaksi Selimaknov

R. Selimaknov
Sampel
Dimasukkan ke
Kemudian
dalam tabung
ditambahkan
reaksi

Amati
Amati perubahannya Kemudian perubahannya
dipanaskan
BAB IV
HASIL PENGMATAN

1. Uji Tollens

Penambahan
Setelah
Reagen
Pemanasan
Sampel Tollens Keterangan Keterangan

+ - + -

Glukosa Berubah warna Terbentuk


menjadi coklat bening. cincin perak.

Laktosa Berubah warna Tidak terjadi


menjadi putih. perubahan.

Amilum Berubah warna Tidak terjadi


menjadi merah muda. perubahan.

Aseton Larutan tetap Terbentuk


berwarna bening. cincin perak.
Fruktosa Larutan tetap Terbentuk
berwarna bening. cincin perak.

2. Test Pereaksi Fehling

Penambahan
Setelah
Reagen
Pemanasan
Sampel Fehling Keterangan Keterangan

+ - + -

Glukosa Berubah warna Berubah menjadi


menjadi biru. biru kehijauan.

Laktosa Berubah warna Tidak terjadi


menjadi biru. perubahan warna.

Amilum Berubah warna Tidak terjadi


menjadi biru. perubahan warna.

Aseton Berubah warna Tidak terjadi


menjadi biru. perubahan warna.

Fruktosa Berubah warna Berubah menjadi


menjadi biru. biru keunguan.

3. Test Benedict

Setelah
Perubahan
Pemanasan
Sampel Keterangan keterangan

+ - + -
Berubah warna
Berubah warna
dari bening
Glukosa menjadi biru
menjadi biru
kehijauan
muda

Berubah warna
dari bening
Amilum Tidak berubah
menjadi biru
muda

Berubah warna
dari bening
Aseton Tidak berubah
menjadi biru
muda

Berubah menjadi
Berubah warna
warna hijau
dari bening
Fruktosa kebiruan dan
menjadi biru
terdapat
muda
endapaan hijau

Berubah warna
Berubah menjadi
dari bening
Laktosa warna hijau
menjadi biru
keruh
muda

4. Test dengan NaOH

Penambahan
Reagen NaOH
Sampel Keterangan

+ -
Glukosa Tetap berwarna bening.

Laktosa Berubah warna menjadi orange kecoklatan.

Amilum Tetap berwarna bening.

Aseton Tetap berwarna bening.

Fruktosa Tetap berwarna bening.

5. Oksidasi KMnO4

Penambahan
Setelah
Reagen
Pemanasan
Sampel KMnO4 Keterangan Keterangan

+ - + -

Glukosa Berubah warna Teroksidasi dan


menjadi ungu. warna menjadi
coklat.

Laktosa Berubah warna Teroksidasi dan


menjadi ungu. warna menjadi
bening.

Amilum Berubah warna Tidak teroksidasi


menjadi ungu. dan warna tetap.
Aseton Berubah warna Tidak teroksidasi
menjadi ungu. dan warna tetap.

Fruktosa Berubah warna Teroksidasi dan


menjadi ungu. warna menjadi
coklat.

6. Test Pereaksi Molich

Penambahan Penambahan
Molisch H2SO4
Sampel Ket Ket

+ - + -

Adanya gas Warna menjadi


Glukosa dan endapan ungu dan ada
merah bata endapan

Warna menjadi
Adanya gas
jernih dan
Fruktosa dan endapan
mengalami
merah bata
kenaikan suhu

Warna menjadi
Adanya gas
keruh dan
Laktosa dan endapan
mengalami
merah bata
kenaikan suhu

Adanya gas,
Adanya gas
endapan dan
Amilum dan endapan
mengalami
cokelat
kenaikan suhu
Warna menjadi Warna menjadi
Aseton
kemerahan jernih kembali

7. Test Seliwarnoff

Penambahan
Setelah
reagen
dipanaskan
Sampel Seliwarnoff Keterangan Keterangan

+ - + -

Tidak ada Tidak ada


Glukosa
perubahan perubahan

Tidak ada Tidak ada


Fruktosa
perubahan perubahan

Tidak ada Tidak ada


Laktosa
perubahan perubahan

Tidak ada Tidak ada


Amilum
perubahan perubahan

BAB
Tidak ada Tidak ada
V Aseton
perubahan perubahan

PEMBAHASAN

Pada percobaan uji kualitatif aldehid dan keton kami menggunakan 5 sampel yang akan diuji,
yaitu glukosa, fruktosa, aseton , laktosa dan amilum. Sedangkan untuk mengujinya kami
memakai 7 cara pengujian yaitu dengan menggunakan pereaksi tollens, pereaksi fehling,
pereaksi benedict, tes dengan NaOH ,tes dengan KMnO4 , tes dengan molishc dan seliwarnof.

1. Test dengan Pereaksi Tollens


Hal yang membedakan Aldehid dengan keton yaitu kemampuan kedua senyawa ini
apabila dioksidasi. Aldehid adalah larutan yang mudah sekali dioksidasi dengan
menggunaknan Uji Tollens, sedangkan Keton tidak. Sifat inilah yang dimanfaatkan
untuk dapat membedakan Aldehid dengan Keton. Apabila satu sampel direaksikan
dengan pereaksi Tollens kemudian dipanaskan dan muncul endapan cermin perak pada
dinding tabung reaksi maka dapat dikatakan bahwa sampel itu merupakan salah satu
dari senyawa Aldehid.
R-CHO + 2 Ag(NH3)2OH 2 -- Ag + R-COO-NH4+ + 3 NH3+ H2O
Cermin perak

Pada praktikum kali ini menggunakan lima jenis sampel yang diuji apakah dia
termasuk ke dalam senyawa Aldehid atau senyawa Keton. Sesuai teori yang
seharusnya aldehid yang membentuk cermin perak namun pada kenyataan praktikum
kami yang termasuk aldehid alah glukosa , fruktosa dan aseton. Kesalahan praktikum
kali ini mungkin karena kami sebagai praktikan kurang teliti dalam mengerjakan
praktikum dan mungkin kurang bersihnya alat yang kami gunakan.

2. Test dengan Pereaksi Fehling


Pereaksi Fehling merupakan kompleks ion Cu(II) tartrat dalam larutan asam. Ion
Cu(II) direduksi menjadi ion Cu2O (endapan berwarna merah bata).
R-CHO + Cu2+ R-COO- + Cu2O
Biru merah bata
Sesuai teori seharusnya yang termasuk aldehid adalah yang mempunyai perubahan menjadi merah
bata yaitu glukosa. Hasil percobaan yang kami lakukan tidak ada sampel yang mengandung aldehid
kemungkinan percobaan yang kami lakukan salah . bisa jadi karena kami kurang teliti dan tidak
menunggu reaksi sampel tersebut dan kurang bersihnya alat yang kami gunakan.

3. Test dengan Pereaksi Benedict


Aldehida alifatik dioksidasi menjadi asam karboksilat dengan pereaksi
benedict( kompleks ion Cu(II) sitrat dalam larutan basa). Ion Cu(II) direduksi menjadi
Cu2O(endapan berwarna merah bata). Aldehida aromatik dan keton tidak bereaksi
dengan pereaksi benedict.
R-CHO + 2Cu2++ 5 OH R-COO-+ Cu2O + 3 H2O

Biru merah bata


Prinsip dari uji ini yaitu bila larutan tembaga yang basa direduksi oleh karbohidrat
yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas akan membentuk cupro oksida
(Cu2O) yang berwarna kuning sampai merah. Adanya perubahan warna hijau, kuning,
jingga atau merah menunjukkan reaksi positif.
Pada hasil pengamatan yang telah dilakukan terlihat hanya glukosa yang termasuk
aldehid.
4. Test dengan NaOH
NaOH yang berfungsi sebagai sumber ion OH yang akan berikatan dengan rantai
aldehid. Uji positifnya yaitu larutan berwarna kuning.
Reaksi yang terjadi yaitu :

Pada percobaan yang kami lakukan kelima sampel yang digunakan tidak ada yang
termasuk aldehid. Sebab dalam uji tersebut tidak adanya tanda perubahan warna
menjadi kuning hanya saja pada laktosa berubah menjadi orange bukan kuning itu
mungkin disebabkan karena kurang teliti dan cermat praktikum yang kami gunakan.

5. Test dengan KMnO4


Aldehida dapat dioksidasi menjadi asam karboksilat dengan oksidator kuat
sepertiKMnO4. Tes positif jika ion MnO4- (warna ungu) berubah menjadi endapan MnO 2
(coklat).
R-CHO + 2 KMnO4 + H2SO4- 5 R-COOH + MnO2 + H2O
(Ungu) (Coklat)

Pada percobaan larutan glukosa mula-mula larutan berwarna bening, setelah ditambahkan KMnO 4
warna larutan menjadi kuning, setelah dipanaskan warna larutan menjadi bening. Pada percobaan
larutan fruktosa mula-mula larutan berwarna bening, setelah ditambahkan KMnO 4 warna larutan
menjadi kuning, setelah dipanaskan warna larutan menjadi coklat. Dapat disimpulkan berarti fruktosa
dan glukosa berarti aldehid sedangkan amilum , aseton dan laktosa merupakan senyawa keton

6. Uji Mollisch
Prinsip kerja dari uji ini adalah berdasarkan penambahan asam sulfat pekat pada
karbohidrat sehingga karbohidrat akan mengalami hidrolisis menjadi senyawa hidroksi
metil fulfural dengan penambahan alfanaftol akan terbentuk cincin ungu.
H2SO4 pekat (dapat diganti dengan asam kuat lainnya) berfungsi untuk
menghidrolisis ikatan pada sakarida untuk menghasilkan furfural. Furfural ini
kemudian bereaksi dengan reagen molisch, alfanaftol membentuk cincin yang
berwarna ungu.Dalam percobaan yang kami lakukan kelima sampel tidak ada yang
membentuk cincin ungu yang ada hanya endapan merah.
7. Uji Seliwarnoff
Uji Seliwanoff adalah sebuah uji kimia yang membedakan gula aldosa dan ketosa.
Ketosa dibedakan dari aldosa via gugus fungsi keton atau aldehida gula tersebut. Jika
gula tersebut mempunyai gugus keton, ia adalah ketosa. Sebaliknya jika ia
mengandung gugus aldehida, ia adalah aldosa. Uji ini didasarkan pada fakta bahwa
ketika dipanaskan, ketosa lebih cepat terdehidrasi daripada aldosa. Reagen uji
Seliwanoff ini terdiri dari resorsinol dan asam klorida pekat. Asam reagen ini
menghidrolisis polisakarida dan oligosakarida menjadi gula sederhana. Ketosa yang
terhidrasi kemudian bereaksi dengan resorsinol, menghasilkan zat berwarna merah tua.
Namun pada kenyataannya tidak sesuai dengan teori. Percobaan dari kelima sampel
yang kami lakukan tidak menunjukan perubahan warna menjadi merah

BAB VI
KESIMPULAN

Dapat disimpulkan dari teori dan hasil pengamatan bahwa :

. Jenis Aldehid Keton Hasil Percobaan


1. Gugus fungsi HCH RCR

O O
2. Bila direduksi Menghasilkan alkohol Menghasilkan
primer alkohol
sekunder
3. Bila dioksidasi Menghasilkan asam Tidak dapat
karboksilat dioksidasi
4. Pereaksi Menghasilkan cermin Tidak ada reaksi Aldehid : glukosa ,
Tollens perak fruktosa dan amilum
Keton : amilum dan
aseton
5. Pereaksi Menghasilkan Tidak ada reaksi Keton semua
Fehling endapan merah bata
6. Uji Benedict Terbentuk endapan Tidak ada reaksi Aldehid : Glukosa
merah bata Keton : amilum,
aseton,fruktosa, dan
laktosa
7. Uji NaOH Perubahan Larutan Tidak ada reaksi Tidak ada sampel yang
menjadi kuning berubah
8. Uji KMNO4 Perubahan Larutan Tidak ada reaksi Aldehid : Glukosa dan
menjadi coklat fruktosa
Keton : laktosa ,
amilum dan aseton
9. Uji Molisch Terbentuknya cincin Tidak ada reaksi Keton semua
ungu
10. Uji Seliwarnoff Perubahan menjadi Tidak ada reaksi Keton semua
merah

DAFTAR PUSTAKA

Avianda Tania G, 201,7 panduan praktikum kimia organic 1,


Universitas Muhammadiayah Cirebon, Cirebon.

Anonim . 1986 . Pengantar Kimia Organik senyawa alifatik tidak jenuh. http://
wikipedia.com Diakses pada tanggal 22 Februari 2017

Fesseden J. Ralp dan Joan . 1997 . Dasar-Dasar Kimia Organik . Jakarta : Binarupa
Aksara.

Petrucci, Ralph H . 1987. Alih bahasa Suminar Ahmadi. Kimia Dasar Prinsip dan
Terapan Modern. Jilid 3. Jakarta : Erlangga .

Prihasa,Novan. 2008. Makalah Kimia Organik Mengenal Keton dan


Aplikasinya.Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Banten

Siswoyo . 2009 . Penuntun Mekanisme Reaksi Kimia Organik. Jakarta : Gramedia


https://www.academia.edu/9439133/senyawa_karbonil Diakses pada tanggal 27
Februari 2017
http://infokimiawan13o1b-1.blogspot.co.id/2013/12/praktikum-kimia-organik.html
Diakses pada tanggal 27 Februari 2017

Praktikan, Dosen Pengampu,

Anisa Nurhuda utami Tania Avianda Gusman, M. Sc

Lampiran

Uji Tollens

Setelah Penambahan Reagent Tollens

Glukosa Laktosa Amilum Aseton Fruktosa

Glukosa Laktosa Amilum Aseton Fruktosa


Setelah dipanaskan

Uji Fehling

Setelah ditambahkan Reagent Fehling A dan B

Aseton Laktosa Amilum Glukosa Frutosa

Setelah dipanaskan

Uji Benedict
Setelah ditambahkan reagen Benedict

Setelah dipanaskan

Uji NaOH

Sebelum ditambahkan NaOH Setelah ditambahkan NaOH

Uji dengan KMNO4

Setelah Penambahan KMNO4 Setelah dipanaskan

Uji dengan Molisch


Sebelum direaksikan Setelah ditambahkan Setelah direaksikan dengan
reagent Molish H2SO4

Sebelum direaksikan Setelah ditambahkan Setelah direaksikan dengan


reagent Molish H2SO4

Sebelum direaksikan Setelah ditambahkan Setelah direaksikan dengan


reagent Molish H2SO4
Sebelum direaksikan Setelah ditambahkan Setelah direaksikan dengan
reagent Molish H2SO4

Sebelum direaksikan Setelah ditambahkan Setelah direaksikan dengan


reagent Molish H2SO4
Uji Seliwarnoff

Setelah dipanaskan
Setelah ditambahkan Reagent
Seliwarnoff

Anda mungkin juga menyukai