Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM BIOPROSES

PEMBUATAN SCLEROGLUCAN SECARA FERMENTASI


DENGAN SCLEROTIUM ROLFSII

Dosen Pembimbing: Dr. Bintang Ihwan Moehady M.Sc

Kelompok / Kelas : 2 / 2C

Nama : 1. Arief Arisyarvi NIM. 151411069

2. Arisya Julviana NIM. 151411070

3. Dhiya Tsuraya Salsabil NIM. 151411072

Tanggal Praktikum : 15 Desember 2016

Tanggal Pengumpulan Laporan : 28 Desember 2016

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
TAHUN 2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 TUJUAN PERCOBAAN


1. Mempelajari proses fermentasi aerobik dalam memproduksi metabolit
2. Mempelajari proses hilir dalam suatu proses produksi
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Scleroglucan

Scleroglucan adalah polisakarida alami yang dihasilkan oleh fermentasi


jamur berfilamen Sclerotium rolfsii. Schlerogucan telah dipelajari secara ekstensif
untuk berbagai macam aplikasi. Produksi Schlerogucan pertama kali disiarkan
oleh Halleck, seseorang yang mempelajari dan meneliti Sclerotium glucanicum
untuk mengeluarkan polisakarida dari luar sel. Pillsbury Corporation
memperkenalkan schlerogucan pada pasar dengan nama dagang Polytran. Dan
pada tahun 1976, schlerogucan di pasarkan secara komersial oleh CECA S.E yaitu
perusahaan keluaran Prancis. Diperkenalkan dengan nama Bio polymer CS.
Ini adalah bahan yang sangat serbaguna, yang meningkatkan karakteristik
sensorik dari produk perawatan pribadi. Scleroglucan memiliki sifat reologi, dan
tidak seperti kebanyakan getah alam dan sintetis, memiliki stabilitas termal yang
tinggi, tahan terhadap hidrolisis dan mempertahankan kelembaban.

Scleroglucan dapat digunakan pada rambut, kulit dan perawatan matahari,


mandi dan produk tubuh dan kosmetik warna. Scleroglucan juga memiliki aplikasi
dalam formulasi untuk pertanian. Dalam pandangan untuk menggantikan Xanthan
gum, scleroglucan bisa sangat berguna dalam pembuatan makanan di mana proses
pemanasan yang terlibat, karena stabilitas termal bahwa hal itu menunjukkan.

2.1.1 Kimia

Struktur kimia terdiri dari residu -1,3-D-glukosa dengan satu -1,6-D-


glukosa rantai samping setiap tiga residu utama. Meskipun menghasilkan larutan
air dengan viskositas yang sangat tinggi, berat molekul yang sangat tinggi: Mw =
1.000.000 Da.
Gambar 1. Polisakarida Scleroglucan; (1-3) terkait D-glukosa dengan rantai sisi
(1-6) glukosa setiap tiga satuan.

a. Stabilitas termal yang tinggi

Tidak seperti kebanyakan getah alam dan sintetis, suhu tinggi memiliki
sedikit efek pada viskositas scleroglucan. Pada suhu di bawah 10 C (50
F), scleroglucan memiliki penampilan semi-gel yang dapat dihilangkan
dengan agitasi atau pemanasan. Scleroglucan dapat disterilkan dengan
pemanasan pada suhu 121 C (250 F) selama 20 jam tanpa
mempengaruhi viskositas mereka.

b. Menghasilkan nilai dan anti-menetap

Scleroglucan memiliki perilaku pseudo-plastik dengan nilai yield yang


tinggi. Karena nilai yield yang tinggi, hal ini sangat efektif dalam
memegang partikel dalam suspensi, statis serta dalam kondisi yang
dinamis, tanpa resiko sedimentasi.

c. Kompatibilitas yang sangat baik


Karena sifat non-ionik, asam dan basa tidak dapat mempengaruhi
scleroglucan pada rentang pH yang besar (2,5 sampai 12), dan jadi jangan
kebanyakan elektrolit. Hal ini kompatibel, tanpa sinergisme, dengan
sebagian besar pengental lainnya seperti guar gum, permen kacang locust,
alginat, gelatin, gum xanthan, karagenan, dan turunan selulosa. Hal ini
juga kompatibel dengan sebagian besar surfaktan banyak digunakan
seperti sulfat, sulfonat dan garam amonium. Scleroglucan tetap larut dalam
campuran yang mengandung hingga 50 persen dari poliol dan glikol.

2.2 Fermentasi Aerob

Fermentasi aerob adalah sebuah reaksi katabolisme yang memerlukan


suasana aerobic dengan proses keberadaan oksigen sangat dibutuhkan yang
menghasilkan energi dengan jumlah yang besar. Energi yang disimpan dalam
bentuk kimiawi yang dikenal dengan kode ATP. Energi ATP digunakan oleh sel
dalam tubuh makhluk hidup untuk menunjang pertumbuhan, gerak, transportasi,
reproduksi dan kegiatan yang lainnya. Untuk lebih sederhananya, rumus aerob
digambarkan secara sederhana yaitu

C6H12 + 6O2 6HCO2 + 6H2O.


BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Mikroorganisme

Sclerotium Roflsii atau Sclerotia sp

3.2 Alat dan Bahan

Alat :

1. Alat centrifuge 2. Tabung reaksi

3. Leher angsa 4. Neraca


5. Leher angsa 6. Gelas kimia
7. Gelas kimia 8. Tabung reaksi
9. Erlenmeyer 250 mL 10. Erlenmeyer 1L
11. Spirtus 12. Pipet ukur 10 mL
13. Hot plate 14. Autoklaf
15. Cawan penguapan 16. Botol semprot

Bahan Baku

Larutan yang mengandung gula ( glukosa, gula cair, air kelapa)


PROSEDUR KERJA PEMBUATAN SCHLEROGUM

Pembuatan PDb dalam aquadest 75 mL

Kentang 15 gram
Dextrose 1,5 gram
CaCO3 0,0015 gram
MgSO4.7H2O 0,0015 gram

Bahan-bahan tersebut dilarutkan dalam 75 mL aquadest


PDB dibuat duplo (5mL sebagai media starter dan 40mL
sebagai media intermediet). Disterilkan lalu didiamkan pada
suhu ruang

Pembuatan Media Produksi untuk Scleroglucan

% gula cair 180 mL


NaNO3 0,3% (180 mL) = 0,675 gr (225
mL)
Yeast extract0,1% (180 mL) = 0,225 gr (225 mL)
MgSO4.7H2O 0,025% (180 mL) = 0,05625 gr (225 mL)
K2HPO4 0,13% (180 mL) = 0,2925 gr (225
mL)
Asam Sitrat 0,07% (180 mL) = 0,1575 gr (225 mL)
KCl 0,05% (180 mL) = 0,1125 gr (225 mL)
FeSO4 0,005% (180 mL) = 0,01125 gr (225 mL)
e
Cek pH 4.5 0.2
Tambahkan inokulum aktif sebanyak 75 mL (15% dari
500 mL), Gunakan reaktor minimal 1:4 volume yang
ada didalamnya. Lakukan fermentasi 72 jam/ 28 2 oC, Rpm

Biakan Sclerotium Roflsii yang terdapat pada agar miring diambil


menggunakan jarum ose dan masukkan kedalam 5mL media starter
lalu inkubasi kedalam inkubator shaker selama 1 hari ( 180 rpm,
28oC)
Masukkan 5mL media starter yang sudah di inkubasi selama 1 hari
dan masukkan ke dalam 40mL media intermediet. Inkubasi kedalam
inkubator shaker selama 1 hari
Tambahkan seluruh inokulum aktif kedalam media produksi. Gunakan
erlenmeyer minimal 1:4 volume yang ada. Lakukan fermentasi
selama 72 jam dalam inkubator shaker (180 rpm, 28 oC)

Timbang berat kosong centrifuge tube, lalu masukkan larutan yang


telah dipasteurisasi ke dalam Centrifuge tube, pisahkan larutan
memakai Sentrifuge sehingga akan didapat sel dan supernatan.

Setelah fermentasi, pasteurisasi larutan tersebut pada suhu 90 oC


selama 20-25 menit

Timbang berat kosong Centrifuge tube, lalu masukkanlarutan yang


telah dipasteurisasi ke dalam centrifuge tube. Pisahkan larutan
memakai Sentrifuge sehingga akan didapat sel dan supernatan

Supernatan yang diperoleh ditambahkan Isopropil alkohol (IPA)


sebanyak 3 kali jumlah volume supernatan (1:3)

Tunggu selama satu hari, sehingga akan didapatkan endapan (Gum)


Untuk memisahkan endapan (Gum) dan larutan digunakan Centrifuge
kembali (Jangan lupa menimbang berat centrifuge kosong)
Setelah terpisah simpan larutan IPA yang terpisah pada tmpat khusus
dan endapan (Gum) kemudian dioven pada suhu 50-60 oC hingga

Gum yang didapat ditimbang, lalu larutkan pada aquadest sebanyak


1%. Tentukan massa jenisnya lalu mengukur viskositas gum
BAB IV
DATA PENGAMATAN

4.1 Data Pengamatan dan Pengolahan Data


Tabel 1. Data Nilai pH dan Brix Sampel
Waktu pH
Scleroglucan dari sentrifugasi 1 6
Sclerogucan dari sentrifugasi 2 -

4.1.1 Data Sentrifugasi


a. Sentrifugasi 1
Tabung
Keterangan
1 2 3 4
Berat tabung sentrifuge kosong (gr) 84,64 85,56 86,18 85,27
Berat tabung kosong + Endapan sel basah
86,09 86,97 87,04 86,55
(gr)
Berat tabung kosong + Endapan sel kering
85,63 86,02 86,51 85,62
(gr)
Berat endapan basah (gr) 1,45 1,41 0,86 1,28
Berat endapan kering (gr) 0,99 0,46 0,33 0,35

Tabel 2. Pengamatan sentrifugasi tanpa penambahan IPA

- Total Berat Sel Basah = 5 gram


- Total Berat Sel Kering = 2,13 gram
b. Sentrifugasi 2
Tabung
Keterangan
1 2 3 4
Berat tabung sentrifuge kosong (gr) 85,3
85,42 85,07 84,59
3
Berat tabung kosong + Endapan gum 85,6
85,74 85,28 84,63
basah (gr) 1
Berat tabung kosong + Endapan gum
- - - -
kering (gr)
Berat endapan basah (gr) 0,28 0,32 0,21 0,04
Berat endapan kering (gr) - - - -

Tabel 3. Pengamatan sentrifugasi pada supernatan yang ditambahkan IPA


- Total Berat Gum Basah = 0,85 gram
- Total Berat Gum Kering =-

4.2 Gambar Pengamatan

No. Gambar Keterangan

Proses perebusan kentang untuk


didapatkan sari nya yang akan
1. dimasukkan ke dalam larutan
dextrose, CaCO3, MgSO4.7H2O dan
aquades.
Pembuatan PDB dengan
memasukan sari kentang kedalam
larutan yang sudah terdapat
2. dextrose, CaCO3, MgSO4.7H2O dan
aquades untuk dijadikan media
starter dan media intermediet untuk
mengembangbiakkan mikroba

Proses pasteurisasi pada media


produksi yang didalamnya terdapat
mikroba yang telah difermentasi
selama 72 jam. Proses pasteurisasi
3.
ini bertujuan untuk menghilangkan
beberapa mikroba yang tidak
diinginkan yang terdapat didalam
media fermentasi.

Membagi menjadi 4 bagian dan


masukkan pada tabung sentrifugasi
guna memisahkan supernatan dan
4.
sel yang terkandung di dalam media
produksi yang sudah dilakukan
fermentasi.
Setelah dilakukan fermentasi
didapatkan supernatan dan sel yang
mengendap dibagian bawah tabung
sentrifugasi, yang kemudian
5.
dipisahkan antara sel dan
supernatannya untuk dilakukan
tahap berikutnya untuk
mendapatkan gum yang diinginkan

Didapatkan sel setelah dilakukan


6. proses sentrifugasi. Kemudian
keringkan dan timbang

Supernatan ditambahkan IPA, yang


kemudian didiamkan selama satu
7. hari dengan maksud untuk
mendapatkan gum pada saat
sentrifugasi ke 2
Didapatkan gum setelah melakukan
sentrifugasi ke 2 yang terdapat pada
8.
bagian bawah tabung sentrifugasi.
Kemudian keringkan dan timbang
BAB V
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

5.1 Pembahasan

Arief Arisyarvi (NIM. 151411069)

Praktikum kali ini yaitu pembuatan scleroglucan. Scleroglucan merupakan


polisakarida alami dengan struktur kimia terdiri dari residu -1,3-D-glukosa
dengan satu -1,6-D-glukosa rantai samping setiap tiga residu utama yang
dihasilkan oleh fermentasi jamur berfilamen Sclerotium rolfsii. Pembuatan
scleroglucan dilakukan dengan metode fermentasi aerob. Fermentasi aerob
merupakan sebuah reaksi katabolisme yang memerlukan suasana aerobic dengan
proses keberadaan oksigen sangat dibutuhkan yang menghasilkan energi dengan
jumlah yang besar. Sclerotium roflsii yang digunakan berbahan dasar karbohidrat
atau gula yang menghasilkan beberapa enzim seperti arabinase, galaktosidase,
fosfaditase dll, yang berperan dalam fermentasi bahan baku menjadi scleroglukan.

Fermentasi dilakukan dengan menggunakan media starter dan media


intermediet yaitu PDB yang akan menjadi inokulum aktif. . PDB digunakan untuk
menanam mikroba serta mengembangbiakkannya yang kemudian akan
dicampurkan ke dalam media produksi. Media produksi yang memiliki komposisi
terbanyak air gula sebagai sumber nutrien, ditambahkan sari kentang yang
merupakan nutrien lainnya untuk S.Roflsii dalam membuat scleroglucan yang
ditambahkan juga beberapa zat seperti Dextrose, KH2PO4 (penstabil pH),
MgSO4.7H2O (makronutrien), (NH4)2SO4 (sumber nitrogen), dan CaCO3.

Pada awal percobaan mikroba S.Roflsii ditanam pada 5 ml media starter


dan diinkubasi selama 1 hari dengan kecepatan shaker 180 rpm untuk
menumbuhkan mikroba. Mikroba yang telah diinkubasi, dimasukan ke dalam 40
ml media intermediet dan diinkubasi selama 1 hari dengan kecepatan shaker 80
rpm yang bertujuan untuk membuat mikroba dapat beradaptasi ke dalam
lingkungan baru dalam skala produksi yang lebih besar sebagai inokulum aktif.
Mikroba yang tumbuh dalam media intermediet dipindafkan ke dalam media
produksi dan dilakukan fermentasi. Fermentasi yang dilakukan secara aerob pada
suhu 28+/-20C ini merupakan suhu optimum mikroba S.Roflsii dalam produksi
scleroglucan, submerged fermentasi ini dilakukan selama +/-72 jam. Setelah
proses fermentasi, dilakukan pasteurisasi pada suhu 900C yang bertujuan untuk
menghilangkan beberapa mikroba yang tidak diinginkan yang tumbuh pada
fermentasi aerob. Setelah proses fermentasi terlihat adanya endapan terbentuk.
Oleh karena itu dilakukan sentrifugasi untuk memisahkan padatan dari cairan
sehingga didapatkan supernatan dan sel yang mengendap dibagian bawah tabung
sentrifugasi, yang kemudian dipisahkan antara sel dan supernatannya untuk
dilakukan tahap berikutnya untuk mendapatkan gum yang diinginkan. Sel yang
didapatkan ditimbang berat basah maupun keringnya. Dari hasil penimbangan,
berat basah sel sebesar 5 gr da berat kering sel sebesar 2,13 gr dengan pHnya
yaitu 5.

Supernatan ditambahkan Isopropil alkohol (IPA) sebanyak 3 kali jumlah


volume supernatan (1:3) dan didiamkan selama 1 hari yang bertujuan untuk
mendapatkan gum yang diinginkan. Endapan(gum) yang dihasilkan dipisahkan
dengan sentrifugasi. Hasil gum basah yang didapatkan sebesar 0,85 gr sedangkan
gum kering tidak dapat diketahui beratnya dikarenakan gum yang sedang
dikeringkan menghilang. Hal inipun menyebabkan gum tidak dapat dicek pH
maupun viskositasnya.

Arisya Julviana (NIM. 151411070) dan Dhiya Tsuraya S.(NIM. 151411072)

Pada praktikum kali ini dilakukan suatu fermentasi secara aerobik untuk
menghasilkan scleroglugan dengan mikroba Sclerotium Rolfsii. Scleroglucan
memiliki struktur kimia terdiri dari residu -1,3-D-glukosa dengan satu -1,6-D-
glukosa rantai samping setiap tiga residu utama. Dimana scleroglucan ini
memiliki banyak kegunaan baik dari segi kecantikan hingga pertanian. Prkatikum
ini bertujuan untuk mempelajari proses fermentasi aerobik dalam memproduksi
metabolit dan mempelajari proses hilir dalam suatu proses produksi.
Fermentasi dilakukan dengan menggunakan berbagai jenis substrat
berbahan dasar karbohidrat atau gula dengan media starter dan media intermediet
yaitu PDB yang akan menjadi inokulum aktif. Sclerotium Rolfsii merupakan
suatu jenis jamur sehingga dibutuhkan PDB untuk dapat memprosuksi
scleroglucan. PDB digunakan untuk menanam mikroba serta
mengembangbiakkannya yang kemudian akan dicampurkan ke dalam media
produksi yaitu air gula yang dicampurkan dengan nutrisi-nutrisi lainnya.

Adapun komposisi yang terkandung didalam media starter maupun media


produksi dalam pembuatan Scleroglucan ini antara lain :

Aquades sebagai sumber nutrien mikroba dan pelarut medium

Dextrose Sebagai sumber nutrien yang spesifik untuk mikroba

Gula dan ekstrak kentang sebagai sumber nutrien mikroba

Zat pendukung seperti KH2PO4, dan MgSO4.7H2O sebagai makronutrient


tambahan yang akan terurai menjadi unsur-unsur S,P, dan Mg+2

(NH4)2SO4 ditambahkan sebagai sumber nitrogen.

KH2PO4 sebagai penstabil pH media.

Pertama mikroba ditanam pada 5 mL media starter yang berada pada


tabung reaksi guna menumbuhkan mikroba, yang kemudian diinkubasi selama 1
hari dalam inkubator shaker dengan kecepatan 180 rpm. Kemudian dimasukkan
kedalam 40 mL media intermediet, dan diinkubasi selama 1 hari dalam inkubator
shaker kecepatan 80 rpm guna mengembangbiakkan mikroba serta mikroba
melakukan adaptasi pada media yang baru agar berkembang biak dengan baik
yang nantinya akan menjadi inokulum aktif. Setelah itu, dipindahkan kedalam
media produksi dan dilakukan fermentasi selama 72 jam dengan suhu 282 oC.
Setelah fermentasi berlangsung selama 72 jam, dilakukan pasteurisasi larutan
pada suhu 90oC selama 20-25 menit guna menghilangkan mikroba yang tidak
diinginkan atau bersifat patogen pada saat proses fermentasi berlangsung. Setelah
dilakukan pasteurisasi dilakukan sentrifugasi pada larutan guna memisahkan sel/
padatan yang terbentuk dengan cairan yang kemudian didapatkan sel/ endapan
pada bagian bawah tabung sentrifuge dan didapatkan pula superntan yang
terpisah. Kemudian sel ditimbang berat basah maupun keringnya, sel dikeringkan
didalam oven pada suhu 50-60oC. Didapatkan perolehan berat basah sel pada saat
percobaan sebesar 5 gram dan berat sel keringnya sebesar 2,13 gram. Kemudian
sel kering dilakukan pengecekan pH dan didapatkan pH sel kering yaitu 6.

Supernatan yang terpisahkan pada saat sentrifugasi pertama kemudian


ditambahkan IPA (Isopropil aklohol) dengan perbandingan 1:3, penambahan IPA
ini bertujuan untuk mengendapkan scleroglucan. Setelah ditambahkan IPA
kemudian didiamkan selama 1 hari. Kemudian dilakukan sentrifugasi kembali
guna memisahkan gum yang diinginkan dan didapatkan gum pada bagian bawah
tabung sentifugasi. Gum yang terbentuk setelah sentrifugasi kedua sangatlah
sedikit, gum basah yang diperoleh sebesar 0,85 gram. Namun, gum kering tidak
dapat diidentifikasi pada tahap berikutnya karena ketika gum basah disimpan
dalam desikator, gum menghilang begitu saja. Sehingga tidak dapat dicek Ph,
viskositas dan lain-lainnya. Sclerogucan memiliki pH berkisar 6-7,5 dengan
viskositas 127,72 Cps. Walaupun pembuatan sclerogucan pada praktikum kali ini
belum optimal, namun telah berhasil membuat sclerogucan.

Gum (Scleroglucan) yang terbentuk


Gambar 2. Gum yang terbentuk setelah sentrifugasi kedua

5.2 Kesimpulan

Setelah melakukan percobaan dan berdasarkan tujuan dari percobaan dapat


disimpulkan bahwa :

1. Scleroglucan dapat diperoleh melalui tahap fermentasi secara aerobik


dengan menggunakan mikroba jenis jamur yaitu Sclerotium Rolfsii.
2. Untuk mendapatkan Scleroglucan dilakukan melalui beberapa tahapan
diantaranya melalui tahap sterilisasi, inkubasi, fermentasi, pasteurisasi dan
sentrifugasi.
3. Pada sentrifugasi pertama didapatkan berat sel basah sebesar 5 gram dan
berat sel kering sebesar 2,13 gram dengan pH 6. Pada sentrifugasi kedua
didapatkan gum basah sebesar 0,85 gram.
DAFTAR PUSTAKA

Moehady, Bintang Ihwan. Modul Praktikum Bioproses Pembuatan Sleroglucan


secara Fermentasi dengan Sclerotium Rolfsii. Bandung, Politeknik Negeri
Bandung

http://www.elicityl-oligotech.com/?fond=rubrique&id_rubrique=56 [diakses pada


25 Desember 2016]

http://www.cargill.com/products/personal-
care/ingredients/hydrocolloids/scleroglucan/ [diakses pada 24 Desember
2016]