Anda di halaman 1dari 79
ASUHAN KEPERAWATAN PSIKOSOSIAL KETIDAKBERDAYAAN PADA Tn. H DENGAN DIAGNOSA MEDIS DIABETES MELITUS TIPE 2 DI

ASUHAN KEPERAWATAN PSIKOSOSIAL KETIDAKBERDAYAAN PADA Tn. H DENGAN DIAGNOSA MEDIS DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUANG ANTASENA RUMAH SAKIT MARZOEKI MAHDI BOGOR

KARYA ILMIAH AKHIR

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Ners

ASEP HIDAYAT

1106129594

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK JUNI 2014

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

ASUHAN KEPERAWATAN PSIKOSOSIAL KETIDAKBERDAYAAN PADA Tn. H DENGAN DIAGNOSA MEDIS DIABETES MELITUS TIPE 2 DI

ASUHAN KEPERAWATAN PSIKOSOSIAL KETIDAKBERDAYAAN PADA Tn. H DENGAN DIAGNOSA MEDIS DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUANG ANTASENA RUMAH SAKIT MARZOEKI MAHDI BOGOR

KARYA ILMIAH AKHIR

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Ners

ASEP HIDAYAT

1106129594

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK JUNI 2014

I

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Karya Ilmiah ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama NPM : Asep Hidayat : 1106129594 Tanda Tangan : Tanggal : 14 Juli 2014
Nama
NPM
: Asep Hidayat
: 1106129594
Tanda Tangan :
Tanggal
:
14 Juli 2014

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

HALAMAN PENGESAHAN

Karya Ilmiah Akhir ini diajukan oleh:

Nama NPM Program Studi Judul Karya Ilmiah Akhir

: Asep Hidayat : 1106129594 : Ilmu Keperawatan : Asuhan Keperawatan Psikososial Ketidakberdayaan pada Tn. H dengan Diagnosa Medis Diabetes Melitus di ruang Antasena RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor

DEWAN PENGUJI Pembimbing : Dr. Novy Helena C.D, S.Kp., M.Sc . Penguji : Linggar Kumoro
DEWAN PENGUJI
Pembimbing
: Dr. Novy Helena C.D, S.Kp., M.Sc .
Penguji
: Linggar Kumoro SKp

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ners Keperawatan, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia.

Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia. Ditetapkan di : Depok Tanggal : 14 Juli 2014 Asuhan

Ditetapkan di : Depok

Tanggal

: 14 Juli 2014

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa tesis ini saya susun tanpa tindakan plagiat sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Indonesia. Jika di kemudian hari ternyata saya melakukan tindakan plagiat, saya bertanggung jawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh Universitas Indonesia kepada saya.

yang dijatuhkan oleh Universitas Indonesia kepada saya. Depok, Juli 2014 Asep Hidayat Asuhan keperawatan , Asep

Depok, Juli 2014

oleh Universitas Indonesia kepada saya. Depok, Juli 2014 Asep Hidayat Asuhan keperawatan , Asep Hidayat, FIK

Asep Hidayat

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah akhir ners ini. Penulisan karya imiah akhir ners ini dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Ners Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Penulis menyadari dalam penyusunan karya ilmiah ini banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Ibu Dewi Irawaty, MA., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Dr Erie Dharma Irawan, SpKJ, selaku Pimpinan RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor yang telah menyediakan tempat untuk pembuatan karya ilmiah akhir ners ini

Ibu Iceu Yulia Wardhani , Skp. M.Kep.,Sp.Kep.J , selaku ketua koordinator Program Profesi Keperawatan Peminatan Jiwa Ibu Dr.Novy Helena C.D.,S.Kp., M.Sc, selaku dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan penulis dalam penyusunan karya ilmiah ini.

Ibu Linggar Kumoro SKp, selaku Kepala Ruangan Antasena RS Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor

Teman sejawat di Ruang Antasena Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor yang telah banyak membantu dalam pelaksanaan karya ilmiah ini.

Ibunda tercinta dan almarhum Ayahanda yang telah melimpahkan kasih sayang serta memberikan doa yang tak ada putusnya kepada penulis

Istriku tercinta Sarohni dan kedua Jagoan hatiku Fahri Rafadian dan Fawaz Maulana yang telah memberikan cinta, doa, dan semangat dalam setiap langkah perjalanan hidupku.

9. Teman-teman khususnya yang tergabung dalam peminatan jiwa yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan karya ilmiah ini.

10. Semua pihak yang telah membantu penulisan karya ilmiah ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Semoga karya ilmiah akhir ini membawa manfaaat bagi kita semua.

Depok, Juli 2014

Penulis

akhir ini membawa manfaaat bagi kita semua. Depok, Juli 2014 Penulis Asuhan keperawatan , Asep Hidayat,

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di

bawah ini:

Nama

: Asep Hidayat

NPM

: 1106129594

Program Studi : Profesi Keperawatan Fakultas : Ilmu Keperawatan Jenis Karya : Karya Ilmiah Akhir
Program Studi
: Profesi Keperawatan
Fakultas
: Ilmu Keperawatan
Jenis Karya
: Karya Ilmiah Akhir Ners
Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Depok
Pada tanggal :
Juli 2014

demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada

Universitas Indonesia Hak Bebas Royalti Nonekslusif (Non-exusive Royalty

Asuhan Keperawatan Psikososial Ketidakberdayaan pada Tn. H dengan Diagnosa

Medis Diabetes Melitus di ruang Antasena RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor.

beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti

Nonekslusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan,

mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database),

merawat, dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan

Yang menyatakan

tugas akhir saya selama tetap mencantumkan Yang menyatakan (Asep Hidayat) Asuhan keperawatan , Asep Hidayat, FIK

(Asep Hidayat)

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

ABSTRAK

Nama

:

Asep Hidayat

Program Studi

: Profesi Ners Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Judul : Asuhan Keperawatan Psikososial Ketidakberdayaan pada Tn. H dengan Diabetes Melitus di ruang Antasena RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor

Kata kunci: Diabetes Melitus tipe 2, ketidakberdayaan, berpikir positif.
Kata kunci:
Diabetes Melitus tipe 2, ketidakberdayaan, berpikir positif.

Masalah kesehatan perkotaan dapat di pengaruhi oleh gaya hidup, pola makan, serta adanya tuntutan hidup. Diabetes Melitus merupakan penyakit tidak menular namun bisa mematikan bila individu tidak bisa mengatur tatanan dalam hidup, individu yang terindikasi penyakit Diabetes melitus menjadi sangat rentang terhadap komplikasi penyakit tersebut, masalah yang dapat ditimbulkan mengharuskan individu mampu mengatur prilaku dan pola kognitif menjadi lebih baik, masalah psikososial ketidakberdayaan merupakan masalah kesehatan yang dapat ditimbulkan diabetes melitus tipe 2, individu yang menderita penyakit kronis ini memerlukan perawatan psikososial. Dengan komunikasi untuk meningkatkan harapan hidup serta berpikir positif. Karya ilmiah ini menganalisa asuhan keperawatan psikososial ketidakberdayaan pada Tn H dengan diagnosa medis diabetes melitus tipe 2.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Abstract

Name

: Asep Hidayat

Study Program

: Ners Profession Program Faculty of Nursing

Title

Universitas Indonesia : Psychosocial nursing care powerlessness on Mr. H with a medical diagnosis type 2 diabetes mellitus at room Antasena RSMM Bogor

Key words: Diabetes Mellitus type 2, powerlessness, positive thinking.
Key words: Diabetes Mellitus type 2, powerlessness, positive thinking.

Urban health problems can be influenced by lifestyle, diet, as well as the demands of life. Diabetes Mellitus is a disease is not contagious but can be deadly if an individual can not set the order in life, individuals who indicated Diabetes mellitus become very vulnerable to the complications of the disease, a problem that can arise requiring the individual to regulate behavior and cognitive patterns for the better, psychosocial problems powerlessness is a health problem that can arise with type 2 diabetes mellitus, individuals who suffer from this chronic disease requires psychosocial treatment. With communications to improve life expectancy and positive thinking. This paper analyzes the psychosocial nursing care powerlessness on Mr. H with a medical diagnosis of type 2 diabetes mellitus.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

HALAMAN

ORISINALITAS

ii

HALAMAN

PENGESAHAN

iii

HALAMAN BEBAS

iv

KATA PENGANTAR

v

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

vii

ABSTRAK

viii

DAFTAR ISI x DAFTAR LAMPIRAN 1. PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Rumusan Masalah
DAFTAR ISI
x
DAFTAR
LAMPIRAN
1.
PENDAHULUAN
1
1.1 Latar Belakang
1
1.2 Rumusan Masalah
4
1.3 Tujuan
4
1.4 Manfaat
5
1.4.1
Manfaat Aplikatif
5
1.4.2
Manfaat Keilmuan
6
1.4.2
Manfaat Metodologi
6
2. TINJAUAN PUSTAKA
7
2.1 Diabetes Melitus
7
2.2 Ketidakberdayaan
12
2.2.1 Definisi
12
2.2.2 Patofisiologi ketidakberdayaan
13
2.2.3 faktor predisposisi
14
2.2.4
karakteristik ketidakberdayaan
16
2.2.5 tindakan keperawatan
17
3.
LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA
24
3.1 Pengkajian
24
3.2 Diagnosa Keperawatan
25
3.3 Intervensi Keperawatan
25
3.3.1 Aktivitas
Implementasi Keperawatan
25
3.4
27

3.5 Evaluasi Keperawatan

28

3.6 Rencana Tindak Lanjut

28

4.ANALISA SITUASI

30

4.1 Profile Ruangan

30

4.2 Analisa Masalah Keperawatan dengan konsep terkait KKMP dan konsep kasus terkait

31

4.3 Analisa Intervensi keperawatan

35

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

4.4

Alternatif Pemecahan Masalah

37

5. KESIMPULAN DAN SARAN

39

7.1 Kesimpulan

39

7.2 Saran

40

DAFTAR REFERENSI

SARAN 39 7.1 Kesimpulan 39 7.2 Saran 40 DAFTAR REFERENSI Asuhan keperawatan , Asep Hidayat, FIK

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kasus Kelolaan Lampiran 2 Analisa Data Lampiran 3 Intervensi Keperawatan Lmapiran 4 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan

3 Intervensi Keperawatan Lmapiran 4 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan Asuhan keperawatan , Asep Hidayat, FIK UI,

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan masyarakat perkotaan di dunia saat ini dihadapkan dengan pesatnya perkembangan dan majunya teknologi dalam segala bidang khususnya masalah kesehatan, menurut WHO, (2010) dari 1.9 miliar individu pada tahun 2000 akan menjadi 3.9 miliar ditahun 2030 dari data persoalan kesehatan masyarakat urban, namun perkembangan masyarakat perkotaan sering dibarengi oleh kehidupan yang ingin serba cepat dengan maraknya pola kehidupan seperti itu membuat gaya hidup dimasyarakat perkotaan kian terasa beresiko dalam hubungan sosial dimasyarakat dan menurunnya kemapuan masyarakat dalam kesadaran bidang kesehatan (Leviton, 2000), kesadaran masyarakat yang menurun berakibat meningkatnya penderita penyakit tidak menular diantaranya penyakit diabetes melitus yang saat ini di dunia telah menjadi perhatian dunia, menurut WHO, (2012) sebanyak 70 % dari populasi penduduk di dunia akan meninggal karena penyakit tidak menular diantaranya diabetes melitus, dan pada tahun 2030 diprediksi mencapai angka 52 juta jiwa meninggal karena penyakit tersebut, peningkatan kematian didunia disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat tentang prilaku gaya hidup sehat, serta pertumbuhan populasi dan peningkatan angka harapan hidup.

pertumbuhan populasi dan peningkatan angka harapan hidup. Perkembangan masalah kesehatan perkotaan pada penderita

Perkembangan masalah kesehatan perkotaan pada penderita diabetes melitus telah terjadi peningkatan dari tahun 2007 sebanyak 2.1 % sampai tahun 2013 (Riskedas 2013). Sedangkan menurut PERKENI, (2006) perkembangan penderita diabetes melitus pada tahun 2030 mencapai 194 juta penduduk di Indonesia menderita diabetes mellitus pada usia diatas 20 tahun, faktor lingkungan diperkirakan ikut berperan dalam peningkatan penderita diabetes mellitus itu sendiri disamping gaya hidup dan pola makan tidak sehat sebagai penyumbang peningkatan penderita diabetes melitus (Ani, 2003). Masyarakat perkotaan mempunyai peranan yang berbeda dalam struktur sosial, sehingga terjadi

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

kekurangan komunikasi secara sosial dimasyarakat khususnya masalah kesehatan yang berdampak kurangnya pengetahuan tentang informasi yang benar tentang penatalaksanaan dan pencegahan terhadap timbulnya penyakit yang berpotensi terhadap penurunan kualitas hidup masyarakat terhadap kesadaran menjaga kesehatan (Ompad, 2007).

Urbanisasi masyarakat terjadi dengan sendirinya dikarenakan tuntutan hidup masyarakat yang mendambakan kelayakan kehidupan pada saat ini, namun perkembangan pesat masyarakat tersebut membuat komunitas yang bisa dianggap kaum terpinggir menurut Ooi dan Phua (2007) menyebutkan telah terjadi penurunan kualitas hidup individu secara berkelompok pada daerah perkotaan dan meningkatkan penurunan kesadaran individu terhadap gaya hidup sehat. Prilaku pola makan yang salah merupakan penyebab dari kenaikan berat badan (Obesitas) yang berakibat pada pola makan yang berlebihan yang biasa dijalani oleh penderita obesitas berpotensi meningkatkan kadar glukosa darah secara berlebihan menurut Smeltzer dan Bare, (2002). Kondisi tersebut terjadi pada komunitas yang tidak sadar terhadap gaya hidup sehat karena kondisi budaya dan tuntutan kehidupan dari individu itu sendiri, sebanyak 90 % penyebab diabetes adalah perubahan gaya hidup yang cenderung kurang aktifitas fisik, diet tidak sehat, dan tidak seimbang serta konsumsi tembakau, (DepKes, 2008).

dan tidak seimbang serta konsumsi tembakau, (DepKes, 2008). Diabetes melitus merupakan sekelompok penyakit metabolik

Diabetes melitus merupakan sekelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan adanya peningkatan kadar glukosa dalam darah (Hyperglikemia) yang diakibatkan oleh kelainan dalam sekresi insulin, aksi insulin atau keduanya dan klasifikasi diabetes melitus menjadi 3 tipe yaitu DM tipe1, DM tipe 2 dan DM pada kehamilan (Gestasional). Penyebab penyakit diabetes mellitus diantaranya obesitas yang merupakan faktor risiko karena pola makan yang berlebihan yang biasa dijalani oleh penderita obesitas berpotensi meningkatkan kadar glukosa darah secara berlebihan . sedangkan kelompok etnis yang dimaksudkan adalah adanya kelompok etnis tertentu yang memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya diabetes mellitus, imungkinkan kerena kelompok tertentu memiliki gaya hidup, pola makan tertentu sesuai dengan latar belakang etnis dan budayanya (Smeltzer & Bare, 2002).

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Pemberian asuhan keperawatan bagi penderita diabetes didasarkan oleh ketepatan dalam penentuan prioritas tindakan keperawatan yang akan diberikan melalui penegakan diagnosa, beberapa diagnosa yang ditegakan dalam penyakit diabetes melitus diantaranya nutrisi perubahan kurang dari kebutuhan tubuh, ketidakberdayaan, serta kurang pengetahuan mengenai penyakit prognosis dan kebutuhan pengobatan menurut Doengoes, (2000). Sedangkan masalah psikososial yang timbul karena penyakit kronis menurut WHO, (2009) antara lain peningkatan stres bagi individu yang akan menimbulkan kecemasan bagi penderita diabetes melitus.

akan menimbulkan kecemasan bagi penderita diabetes melitus. Dampak bagi penderita diabetes melitus menurut DepKes (2008)

Dampak bagi penderita diabetes melitus menurut DepKes (2008) penyakit kardiovaskular, penyakit paru kronis/menahun, dan kanker. Prilaku gaya hidup yang tak sehat bagi individu merupakan faktor yang sangat menentukan bagi timbulnya diabetes melitus tipe 2, individu selalu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan hidupnya. Keseimbangan yang dipertahankan oleh setiap individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, keadaan ini disebut dengan sehat. Sedangkan individu dikatakan sakit apabila gagal dalam mempertahankan keseimbangan diri dan lingkungannya. Sebagai makhluk sosial, untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan, agar individu dapat membina hubungan interpersonal secara positif.

Respon yang ditimbulkan akibat penyakit diabetes mellitus dalam faktor psikososial menurut Darmono (2005) adanya respon negatif terhadap diagnosis berupa penolakan atau tidak mengakui kenyataan, cemas, merasa tak berdaya, dan depresi. Respon psikososial yang negatif tersebut dapat menghambat penurunan glukosa darah yang akan berdampak pada prilaku ketidakmampuan dalam menentukan keputusan serta gaya hidup tak sehat, sehingga diperlukan penanganan secara psikoterapi bagi penderita diabetes mellitus. Penanganan dalam ketidakmampuan individu tersebut merupakan modal dasar dalam keberhasilan pengobatan bagi penderita diabetes melitus.

Penderita diabetes mellitus di daerah bogor saat ini telah mencapai 2.1 % menurut data yang ditampilkan Rikesdas, (2013). Prilaku yang kurang sehat ditimbulkan oleh gaya hidup yang tidak baik bagi masyarakat Bogor, peningkatan

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

penderita diabetes melitus lebih tinggi dari penderita di Jawa Barat sebanyak 2 %, dan peningkatan angka obesitas pada usia produktif antara 45-54 tahun mencapai 43 % individu (Dinkes Kota Bogor, 2014).

Perawatan bagi penderita diabetes melitus menurut Depkes RI, (2011) mencapai 2.6 %, sedangkan rawat inap 2.81 %. Rumah sakit Marzoeki Mahdi yang melakukan perawatan bagi penderita diabetes melitus khususnya di ruang antasena pada Januari 2014 sebanyak 17.6 % penderita menjalani perawatan karena penyakit riwayat penyakit diabetes melitus. Menurut Aujoulat., Deccache.Luminet, (2007) beberapa klien yang menderita penyakit kronis mengalami ketidakberdayaan terhadap harapan kesembuhan dan penanganan akan penyakit yang diderita sehingga menimbulkan keputusan yang tidak bisa dilakukan oleh penderita penyakit kronis.

1.2 Rumusan Masalah
1.2 Rumusan Masalah

Kondisi kesehatan yang dialami dapat membuat penderita menjadi tidak fokus dan kurang mampu berpikir positif secara realistis. Masalah psikososial yang timbul dari respon individu terhadap penyakit yaitu ketidakberdayaan. Ketidakberdayaan adalah pengalaman tentang kurangnya kontrol seseorang terhadap situasi termasuk persepsi bahwa sesuatu tidak akan bermakna mampu mempengaruhi terhadap hasil yang ingin dicapai (NANDA, 2012). Seseorang yang mengalami ketidakberdayaan kehilangan kontrol terhadap kejadian dalam hidupnya dan merasa segala sesuatu tidak bermakna bagi dirinya.

Penderita diabetes melitus dapat mengalami berbagai dampak meliputi fisik, psikologis, sosial dan spiritual. Secara fisik seorang penderita diabetes melitus dapat mengalami berbagai gejala penyakit yang akan menimbulkan kesakitan dan ketidaknyamanan. Kondisi ini akan mempengaruhi kondisi psikososial dan spiritual dimana penderita mengalami perasaan yang tidak nyaman, serta pikiran- pikiran yang negatif yang akan menimbulkan perasaan tertekan akibat kondisi sakit ditambah dengan tuntutan yang diterimanya dari lingkungan terdekatnya.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien penderita Diabetes Melitus hendaknya bersifat holistik dengan memperhatikan setiap aspek yang ada pada diri individu. Asuhan keperawatan holistik bertujuan tidak hanya untuk mencapai kembali tingkat kesehatan yang optimal secara fisik saja tetapi juga untuk memberikan dukungan psikososial untuk mendukung proses penyembuhan. Berdasarkan latar belakang ini penulis tertarik untuk menulis Karya Ilmiah Akhir Ners (KIAN) yang berjudul “Asuhan Keperawatan Psikososial Ketidakberdayaan pada Tn. H dengan diagnosa medis Diabetes Melitus di ruang Antasena RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor ”.

1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan umum: keperawatan Ketidakberdayaan pada pasien Diabetes Melitus. 1.3.2 Tujuan khusus:
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan umum:
keperawatan Ketidakberdayaan pada pasien Diabetes Melitus.
1.3.2 Tujuan khusus:
a.
b.
c.
1.4 Manfaat Penulisan

Tujuan khusus yang ingin diperoleh dari penulisan karya ilmiah akhir ini adalah:

Penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat memberikan analisa tentang asuhan

Mengidentifikasi masalah fisik dan psikososial yang dapat terjadi pada klien dengan Diabetes Melitus. Menganalisis tentang pelaksanaan asuhan keperawatan fisik dan psikososial yang dapat dilakukan pada penderita Diabetes Melitus.

Mengevaluasi pemberian asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien Tn. H dengan sumber-sumber rujukan dan teori-teori terkait.

Penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat memberikan berbagai manfaat baik secara ilmu, aplikatif, dan metodologi.

1.4.1 Manfaat Ilmu

Penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu

keperawatan khususnya dalam memberikan gambaran asuhan keperawatan Ketidakberdayaan pada klien yang mengalami Diabetes Melitus.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

1.4.2

Manfaat Aplikatif

Penulisan karya ilmiah ini kiranya dapat memberikan gambaran asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami Diabetes Melitus dengan pendekatan fisik dan psikososial. Hal ini diharapkan dapat membantu perawat di ruang perawatan dalam meningkatkan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang diwujudkan dengan meningkatnya kepuasan klien terhadap pelayanan asuhan keperawatan yang diberikan.

1.4.3 Manfaat Metodologi
1.4.3 Manfaat Metodologi

Penulisan karya ilmiah ini kiranya dapat dijadikan sebagai penemuan baru terkait penerapan asuhan keperawatan psikososial pada pasien yang menderita Diabetes Melitus sehingga dikemudian hari dapat dijadikan sebagai sumber rujukan ilmiah bagi penulisan karya ilmiah berikutnya.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan dijelaskan tentang teori dan penelitian terkait Diabetes Melitus. Yang berhubungan dengan masalah psikososial akibat dari penyakit fisik diantaranya ansietas dan ketidakberdayaan.

2.1 Diabetes Melitus 2.1.1 Defenisi 2.1.2 Klasifikasi Diabetes Melitus 2.1.2.1 Diabetes Melitus tipe 1 a.
2.1 Diabetes Melitus
2.1.1 Defenisi
2.1.2 Klasifikasi Diabetes Melitus
2.1.2.1 Diabetes Melitus tipe 1
a. Faktor Genetik

Diabetes Melitus merupakan kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah, yang menyebabkan tubuh bereaksi terhadap insulin sebagai hormon yang diproduksi pankreas dapat menurun, yang menyebabkan hiperglikemi (Brunner & Suddarths, 2002)

Ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pankreas. Kombinasi faktor genetik, imonologi dan mungkin lingkungan (mis: virus) diperkirakan menimbulkan destruksi sel beta.

Penderita diabetes melitus tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri, tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecendrungan genetik kearah terjadinya diabetes tipe I. Kecendrungan genetik ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA ( Human Leucosyte Antigen ) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen transplantasi dan proses imun lainnya.

b. Faktor imunologi

Respon autoimun merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Auto antibody terhadap sel-sel pulau langerhans dan insulin

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

endogen (internal) terdeteksi pada saat diagnosa dibuat dan bahkan beberapa tahun sebelum timbulnya tanda-tanda klinis diabetes melitus tipe 1.

c. Faktor Lingkungan

Virus dan toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.

2.1.2.2 Diabetes Melitus Tipe 2
2.1.2.2 Diabetes Melitus Tipe 2

Diabetes mellitus tipe 2 merupakan terjadinya resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin, normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut; terjadi suatu rangkaian reaksi dalam dalam metabolisme glukosa dalam sel. Resistensi insulin pada DM tipe 2 disertai dengan penurunan reaksi intra sel. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah, harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. Jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi DM tipe 2. Insulin disekresikan oleh sel-sel beta yang merupakan salah satu dari empat tife sel dalam pulau-pulau langerhans pangkreas. Insulin merupakan hormon anabolik atau hormon untuk menyimpan kalori (storage hormon). Apabila seseorang makan makanan, sekresi insulin akan meningkat dan menggerakkan glukosa kedalam sel-sel otak, hati serta lemak. Dalam sel-sel tersebut, insulin menimbulkan efek berikut ini :

a. Menstimulasi penyimpanan glukosa dalam hati dan otot (glukagon)

b. Meningkatkan penyimpanan lemak dari makanan dalam jaringan adipose

c. Mempercepat pengangkutan asam-asam amino (yang berasal dari protein makan) kedalam sel

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Insulin juga menghambat pemecahan glukosa, protein dan lemak yang disimpan. Selama masa “puasa” ( antara jam-jam makan dan saat tidur malam), pankreas akan melepaskan secara terus menerus sejumlah kecil insulin bersama dengan hormon pangkreas lain yang disebut glukagon (hormon ini disekresi oleh sel pangkreas/pulau langerhans). Insulin serta glukagon bersama-sama mempertahankan kadar glukosa serta bersama-sama mempertahankan kadar glukosa yang konstan dalam darah dengan menstimulasi pelepasan glukosa dari hati. Pada mulanya hati menghasilkan glukosa melalui pemecahan glikogen (glikogenolisis), setelah 8-12 jam tanpa makanan, hati membentuk glukosa dan pemecahan zat-zat selain karbohidrat yang mencakup asamasam amino (glukoneogenesis)

2.1.3 Proses keperawatan pada penderita Diabetes Melitus 2.1.3.1 Pengkajian
2.1.3 Proses keperawatan pada penderita Diabetes Melitus
2.1.3.1 Pengkajian

Pemberian asuhan keperawatan kepada penderita diabetes melitus terdiri:

Pengkajian meliputi riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik difokuskan pada tanda dan gejala hiperglikemia dan pada faktor fisik, emosional, serta sosial yang dapat mempengaruhi pasien untuk mempelajari dan melaksanakan berbagai aktifitas perwatan secara mandiri. Pengkajian meliputi tanda poliuria, polidipsi, dan polifagia. Brunner dan Suddarts, (2002) penderita dikaji adakah gangguan sensori dan penurunan turgor kulit, perawat juga memperhatikan dukungan keluarga serta keterbatasan sumber financial bagi kelanjutan pengobatan. Status emosional bisa diamati dengan mengamati pada saat melakukan anamnesa seperti prilaku yang menunjukan ansietas dan kekhawatiran penderita terhadap pengobatan yang dijalani dengan memperhatikan persoalan yang tengah dihadapi dan tindakan yang telah dilakukan.

2.1.3.2 Diagnosa Keperawatan

Penentuan diagnosa secara fisik meliputi menurut ( Brunner & Suddarts, 2002) antara lain : resiko defisit cairan, gangguan nutrisi,

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

kurang pengetahuan tentang informasi, dan potensial ketidakmampuan melakukan perawatan mandiri. Penentuan diagnosa secara psikososial meliputi ansietas, sedangkan menurut (Lukbin & Larsen, 2006). Kurangnya pengetahuan dan keterampilan terhadap faktor fisiologis penyakit berdampak juga pada pemberian edukasi di rumah sakit dimana klien dan keluarga tidak memiliki kesempatan memperoleh edukasi tentang diagnosa dan regimen terapi yang akurat. Hal ini akan menyebabkan perasaan tidak berdaya/ ketidakbedayaan

2.1.3.3 Intervensi Keperawatan 2.1.3.4 Implementasi Keperawatan
2.1.3.3 Intervensi Keperawatan
2.1.3.4 Implementasi Keperawatan

Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dengan pemantauan tanda tanda vital ada tidaknya tanda dehidrasi, takikardia, hipotensi. Dalam memperbaiki asupan nutrisi dengan mempersiapkan penderita agar bisa menjalankan program pemberian diet bagi pengontrolan glukosa darah dengan memperhatikan asupan hariannya. Brunner dan Suddarts (2002) intervensi pada kurang pengetahuan dengan pemberian pendidikan kesehatan secara terarah guna memberikan informasi yang dapat dimengerti oleh penderita dan bisa dilaksanakan di kemudian hari, pemberian penyuluhan dalam mempersiapkan perawatan klien secara mandiri memerlukan peran serta keluarga sehingga tujuan dari pencapaian keperawatan bisa di lakukan klien selama dalam perawatan dirumah, seperti pemberian terapi oral secara benar dan bagi yang menggunakan terapi insulin klien bisa memutuskan tempat yang akan dilakukan dalam pemberian terapi tersebut

Pemberian asuhan keperawatan selama dalam perawatan diruangan diharapkan adanya peran serta keluarga dan klien sehingga pemberian asuhan bisa dilakukan secara terpadu dan mengurangi kecemasan serta ketidakberdayaan klien dalam menjalankan perawatan secara mandiri.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

2.1.3.5 Evaluasi Keperawatan

Klien dan keluarga mampu melakukan tindakan pemberian terapi oral secara benar dan mampu melaksanakan perawatan mandiri dalam menentukan pilihan diet nutrisi yang harus dijalankan, pemberian terapi injeksi pada lokasi yang ditentukan serta mamahami perjalanan penyakit diabetes melitus

2.1.4 Diabetes Melitus dan Faktor Psikososial
2.1.4 Diabetes Melitus dan Faktor Psikososial

Penatalaksanaan dalam pemberian asuhan keperawatan terhadap klien Diabetes mellitus meliputi masalah psikosoial yang ada pada klien diantaranya klien mengalami ketidakberdayaan dalam menghadapi perawatan yang harus dilakukan klien, menurut Kanine.dkk (2011) 44.08 % klien dengan Diabetes mellitus mengalami mengalami masalah ketidakberdayaan, yang merupakan faktor dalam ketidakmampuan klien dalam melakukan perawatan terhadap dirinya sendiri (Brunner & Suddarths, 2002 ). Sedangkan SIGN (2010) dalam managemen pada penderita diabetes menyebutkan beberapa faktor yang akan menimbulkan dampak psikososial bagi penderita diabetes melitus diantaranya : ansietas, masalah prilaku, depresi, namun menurut Smeltzer dan Bare ( 2002) mengungkapkan hal yang sama bahwa ansietas merupakan masalah yang muncul pada klien dengan diabetes melitus yang berhubungan dengan perasaan takut terhadap ketidakmampuan mengatasi penyakit diabetes, informasi yang salah tentang penyakit diabetes dan ketakutan terhadap komplikasi penyakit diabetes, serta menentukan langkah yang akan dilakukan bagi penderita diabetes yang dipengaruhi oleh kondisi penyakitnya.

Ketika individu mengalami perubahan kondisi sakit fisik, maka akan banyak terjadi perubahan fungsi dan munculnya masalah psikososial. Klien dengan penyakit fisik mempunyai sumber stresor utama yang berdampak pada aspek bio-psiko-sosio-sosial dan spiritual. Perubahan kondisi dari sehat ke sakit biasanya berawal dengan gejala yang umumnya disertai rasa tidak nyaman, dan penurunan stamina, serta penurunan

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

kemampuan untuk melakukan fungsinya sebagai individu yang mampu mempunyai harapan hidup serta berpikir secara positif tentang tujuan dari pencapaian keberhasilan dalam pemulihan kondisi penyakitnya. Pencapaian tujuan hidup, keharmosin keluarga, pekerjaan yang layak dan penghasilan yang sesuai sehingga bisa berpengaruh terhadap gaya hidup secara terstruktur dan memberikan tujuan dalam pencapaiannya menurut Brunner dan Suddarth (2002).

2.2 Ketidakberdayaan 2.2.1 Pengertian
2.2 Ketidakberdayaan
2.2.1 Pengertian

Ketidakberdayaan merupakan persepsi individu bahwa segala tindakannya tidak akan mendapat hasil (Varcarolis, 2000), tuntutan dari setiap individu terjadi bila ada kebutuhan yang melibatkan individu itu sendiri, bila setiap keputusan tak bisa dilakukan oleh individu maka telah terjadi masalah yang berimbas pada kemampuan individu dalam menentukan kondisi yang di rasakan (Fortinash, 2003). Menurut Townsend (2009) ketidakberdayaan dimana individu dengan kondisi depresi, apatis dan kehilangan kontrol yang diekpsresikan oleh individu baik verbal maupun non verbal. Dapat disimpulkan bahwa kondisi depresi tersebut merupakan salah satu masalah yang berakibat pada kondisi psikososial dengan ketidakberdayaan. Kondisi ketidakberdayaan tidak seperti keputusasaan, ketidakberdayaan pada individu terjadi bila individu tidak dapat mengatasi solusi dari masalahnya, sehingga individu percaya hal tersebut diluar kendalinya untuk mencapai solusi tersebut. Keputusasaan menyiratkan seseorang percaya bahwa tidak ada solusi terhadap masalahnya.

Namun konsep dasar dari masalah ketidakberdayaan belum bisa dijelaskan baik dari definisi, etiologi, maupun patofisiologinya karena ketidakberdayaan merupakan manifestasi yang timbul dari masalah yang berasal dari individu yang mengalami kecemasan. Kecemasan merupakan perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi, salah satu gangguan alam perasaan, secara umum yang akan mengakibatkan distres, atau kerusakan sosial, atau berbagai area penting dalam kehidupan

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

manusia termasuk aspek kognitif yang menyebabkan kurangnya konsentrasi, ketidakmampuan mengambil keputusan dan kesulitan untuk mengingat, perasaan tidak berharga dan ketidakmampuan memperoleh kekuatan untuk mengendalikan situasi, pada saat individu mengalami suatu kondisi sakit maka terdapat kemampuan individu untuk bertahan terhadap penyakit ketika mengalami stress, atau menggunakan kemampuan penyelesaian masalah dan menyakini bahwa individu dapat melakukan koping terhadap situasi yang tidak menguntungkan atau situasi baru (Videbeck, 2008) , namun kondisi yang tidak mendukung memberikan pemahaman yang berbeda pada individu yang tidak bisa menyelesaikan masalah stres yang akan berakibat terhadap kemampuan dalam mengatasi masalah yang harusnya bisa teratasi dengan benar.

2.2.2 Patofisiologi Ketidakberdayaan
2.2.2 Patofisiologi Ketidakberdayaan

Patofisiologi masalah psikososial pada individu yang mengalami ketidakberdayaan saat ini belum diketahui secara pasti, namun jika dianalisa dari proses terjadinya berasal dari ketidakmampuan individu dalam mengatasi masalah sehingga menimbulkan stres yang diawali dengan perubahan respon otak dalam menafsirkan perubahan yang terjadi. Stres akan menyebabkan korteks serebri mengirimkan sinyal menuju hipotalamus. Hipotalamus kemudian akan menstimuli saraf simpatis untuk melakukan perubahan, sinyal dari hipotalamus ini kemudian ditangkap oleh sistem limbik dimana salah satu bagian pentingnya adalah amigdala yang akan bertanggung jawab terhadap status emosional individu terhadap akibat dari pengaktifan sistem hipotalamus pitutary adrenal (HPA) dan menyebabkan kerusakan pada hipotalamus membuat seseorang kehilangan mood dan motivasi sehingga kurang aktivitas dan malas melakukan sesuatu, hambatan emosi pada klien dengan ketidakberdayaan, kadang berubah menjadi sedih atau murung, sehingga merasa tidak berguna atau merasa gagal terus menerus. Dampak pada hormon glucocorticoid pada lapisan luar adrenal sehingga berpengaruh pada metabolisme glukosa, selain gangguan pada struktur otak, terdapat ketidakseimbangan

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

neurotransmiter di otak. Neurotransmiter merupakan kimiawi otak yang akan ditransmisikan oleh satu neuron ke neuron lain dengan rangsang tersebut (Stuart & Laraia, 2005).

2.2.3 Faktor predisposisi

Menurut Struart dan Laraia (2005) faktor predisposisi merupakan faktor yang beresiko yang menjadi sumber terjadinya stres dan mempengaruhi tipe dan sumber dari individu untuk menghadapi stres baik secara biologis, psikososial dan sosiokultural. Faktor predisposisi tersebut antara lain :

sosiokultural. Faktor predisposisi tersebut antara lain : a. Faktor genetik individu yang dilahirkan dan dibesarkan

a. Faktor genetik individu yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang mempunyai riwayat depresi akan sulit mengembangkan sikap optimis dalam menghadapi suatu permasalahan termasuk dalam menghadapi proses kehilangan.

b. Teori kehilangan, berhubungan dengan faktor perkembangan. Seseorang yang mengalami kehilangan yang traumatis atau perpisahan dengan orang yang berarti pada masa kanak-kanak akan mempengaruhi kemampuan individu tersebut untuk mengatasi perasaan kehilangan, pada masa dewasa individu menjadi tidak berdaya dan akan sulit mencapai fase menerima.

c. Teori Kognitif, mengemukakan bahwa depresi terjadi akibat gangguan perkembangan terhadap penilaian negatif terhadap diri, sehingga terjadi gangguan proses pikir. Individu menjadi pesimis dan memandang dirinya tidak adekuat, tidak berdaya dan tidak berharga serta hidup sebagai tidak ada harapan. Menurut Norris (2002) peran pengetahuan dapat mengubah sikap penderita diebetes menjadi lebih baik.

d. Teori Model Belajar Ketidakberdayaan, menyatakan depresi terjadi karena individu mempunyai pengalaman kegagalan-kegagalan, lalu menjadi pasif dan tidak mampu menghadapi masalah. Akhirnya timbul keyakinan individu akan ketidakmampuannya mengendalikan kehidupan sehingga ia tidak berupaya mengembangkan respon yang

adaptif. Menurut Funnel, Anderson, (2005) mengatakan keberhasilan

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

perubahan sikap dari penderita merupakan salah satu keberhasilan perawatan yang mandiri

Karakteristik gejala dan tanda dari ketidakberdayaan menurut Wilkinson (2005) antara lain. mengungkapkan dengan kata-kata bahwa tidak mempunyai kemampuan mengendalikan atau mempengaruhi situasi, mengungkapkan tidak dapat menghasilkan sesuatu, mengungkapkan ketidakpuasan dan frustasi terhadap ketidakmampuan untuk melakukan tugas atau aktivitas sebelumnya, mengungkapkan keragu-raguan terhadap penampilan peran, mengatakan ketidakmampuan perawatan diri, ketidakmampuan untuk mencari informasi tentang perawatan, tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan saat diberikan kesempatan, enggan mengungkapkan perasaan sebenarnya, ketergantungan terhadap orang lain yang dapat mengakibatkan iritabilitas, ketidaksukaan, marah dan rasa bersalah, gagal mempertahankan ide/pendapat yang berkaitan dengan orang lain ketika mendapat perlawanan. lingkungan perawatan kesehatan yang masih dianggap kurang terapeutik, program yang terkait dengan penyakit misalnya pengobatan jangka panjang, penyakit kronik yang berulang kambuh, interaksi interpersonal yang tidak adekuat atau terganggu, gaya hidup ketidakberdayaan yang pernah dipelajari karena seringnya individu mengalami kegagalan atau harapan peran yang tidak terpenuhi, penyakit kronis atau terminal, ketidakseimbangan metabolisme.

2.2.4 Karakteristik Ketidakberdayaan
2.2.4 Karakteristik Ketidakberdayaan

Ketidakberdayaan merupakan respon individu terhadap penilaian stressor dan bagaimana menyelesaikan stressor tersebut. Individu yang dihadapkan pada suatu kondisi yang dianggap stressor maka akan bereaksi terhadap stressor tersebut , namun bila tidak bisa mengatas stressor tersebut dapat mengakibatkan masalah ketidakberdayaan. Menurut National Association Nursing Diagnoses of American (NANDA, 2012), adanya karakteristik dari ketidakberdayaan antara lain ketidakberdayaan ringan, sedang dan berat . Karakteristik ketidakberdayaan ringan antara lain mengekspresi ketidakpastian tentang kemampuan dalam mengatasi tingkat energi.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Karakteristik ketidakberdayaan sedang antara lain ketergantungan pada orang lain yang dapat mengakibatkan iritabilitas, tidak melakukan pemenuhan perawatan diri ketika dibutuhkan, tidak memantau kemajuan, ekpresi ketidakpuasan terhadap ketidakmampuan melakukan aktifitas sebelumnya, ekspresi keraguan bahkan berakibat menjadi marah. Karakteristik ketidakberdayaan berat antara lain apatis, depresi terhadap kondisi buruk secara fisik, menyatakan tidak memiliki kendali misalnya terhadap perawatan diri, situasi dan hasil. Menurut Winasis (2009) dalam konsep diri penderita diabetes menyebutkan adanya perubahan sikap sering ditunjukan pada penderita diabetes melitus dengan prilaku mudah marah, kurang mampu melakukan kemandirian, merasa sedih, dan putus harapan karena tak bisa melakukan aktifitas secara normal lagi di lingkungan masyarakat.

2.2.5 Tindakan Keperawatan
2.2.5 Tindakan Keperawatan

Tindakan keperawatan untuk klien ketidakberdayaan sesuai dengan standar asuhan keperawatan psikososial yang dikembangkan magister keperawatan jiwa terdiri dari dua strategi pelaksanaan. Tindakan keperawatan yang pertama untuk klien dengan ketidakberdayaan dengan latihan berpikir positif. Kedua, evaluasi ketidakberdayaan, berusaha mengembangkan harapan positif dan latihan mengontrol perasaan ketidakberdayaan.

Menurut Kanine, (2011) dalam penelitiannya tentang pengaruh terapi generalis dan logoterapi terhadap respon ketidakberdayaan klien diabetes melitus menyimpulkan bahwa pada kelompok intervensi diketahui terjadi penurunan skor respon ketidakberdayaan setelah diberikan terapi generalis dan logoterapi individu sebesar 14,80. Hasil ini diketahui setelah dilakukan terapi generalis dan logoterapi individu sebelum diberikan intervensi skor sebesar 44.08, sedangkan setelah dilakukan intervensi sebesar 22,28. Penelitian ini menunjukan adanya penurunan skor yang signifikan pada kelompok intervensi setelah diberikan terapi generalis dan logoterapi individu berdampak pada penurunan kondisi ketidakberdayaan

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

yang cukup tinggi dibandingkan dengan pemberian terapi generalis pada kelompok kontrol. Hal ini menegaskan bahwa pemberian terapi generalis dipadu dengan logoterapi individu pada kelompok intervensi memiliki hasil perbedaan skor yang signifikan pada kedua kelompok.

Sesuai dengan standar asuhan keperawatan intervensi pertama pada ketidakberdayaan adalah melakukan pendekatan untuk mengkaji masalah ketidakberdayaannya. Dalam melakukan pendekatan perawat menggunakan komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik adalah proses dimana perawat yang menggunakan pendekatan terencana dalam mempelajari klien dan mengatasi masalah indivdu terhadap harapan dan tujuan dalam mengatasi masalah dalam menghadapi kondisinya (Potter & Perry, 2005).

dalam menghadapi kondisinya (Potter & Perry, 2005). Komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpersonal

Komunikasi terapeutik merupakan hubungan interpersonal antara klien dan perawat. Dengan komunikasi terapeutik perawat dapat memegang peranan penting dalam mengatasi masalah pasien. Komunikasi terapeutik merupakan bagian dari proses keperawatan. Menurut Rosenthal, (2006) penderita penyakit kronis memerlukan komunikasi yang terapeutik dalam memandirikan kondisi klien dengan komunikasi yang terarah memberikan dukungan terhadap kondisi kesehatan individu sehingga individu mempunyai perasaan yang nyaman dan aman dalam menjalani perawatan selama di rumah sakit, dalam intervensi keperawatan psikososial pada penderita dengan ketidakberdayaan perawat memberikan keleluasaan kepada penderita dalam mengekspresikan emosi secara benar dengan memperhatikan pola pikir secara positif sehingga penderita mampu mengambil keputusan dalam perawatan secara mandiri. Menerapkan tujuan jangka panjang bagi klien yang mengalami ketidakberdayaan dengan menunjukan rasa kendali pribadi atas situasi kehidupan yang ditunjukan dengan menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan, serta menata lingkungan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, dengan cara minta klien mengidentifikasi masalah dengan diskusi mencari sumber frustasi, ansietas, konflik, dan kebutuhan yang tidak terpenuhi, (Copel, 2007).

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Langkah pertama identifikasi masalah penyebab perasaan negatif, bantu klien membuat tujuan sederhana yang realistis agar sukses, serta tetapkan waktu dalam implementasi tujuan sesuai tujuan struktur yang sesuai Lalu menetapkan tujuan lanjutan agar klien dapat membedakan situasi yang

dapat dikontrol dan tidak dapat dikontrol atau menerima situasi yang tidak dapat diubah, dengan cara bantu klien mengidentfikasi masalah dan diskusikan dengan tujuan dan kebutuhan yang belum terpenuhi identifikasi strategi yang mungkin dimodifikasi, bantu klien identifikasi situasi yang tidak dapat diubah agar terhindar dari masalah frustasi. Sedangkan tindakan keperawatan untuk keluarga yaitu penjelasan kondisi pasien dan cara merawat serta evaluasi peran keluarga merawat pasien, dengan cara latihan mengontrol perasaan ketidakberdayaan (FIK UI-RSMM, 2012). Antara lain dengan :

a. Membina hubungan saling percaya b. Mengenali dan mengekspresikan emosinya. c. Memodifikasi pola kognitif yang
a.
Membina hubungan saling percaya
b.
Mengenali dan mengekspresikan emosinya.
c.
Memodifikasi pola kognitif yang negatif
d.
e.
Termotivasi untuk aktif mencapai tujuan yang realistis.
2.3 Ansietas
2.3.1 Defenisi

Berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan perawatannya sendiri.

Ansietas adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar karena ketidaknyamanan atau rasa takut yang disertai suatu respons ( sumber seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); suatu perasaan takut akan terjadi sesuatu yang disebabkan oleh antisipasi bahaya. Ini merupakan sinyal yang menyadarkan bahwa peringatan tentang bahaya yang akan datang dan memperkuat individu mengambil tindakan menghadapi ancaman. Ansietas memiliki nilai yang positif. Menurut Stuart dan Laraia, (2005) aspek positif dari individu berkembang dengan adanya konfrontasi, gerak maju perkembangan dan pengalaman mengatasi kecemasan. Tetapi pada keadaan lanjut perasaan cemas dapat mengganggu kehidupan

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

seseorang, menurut Khuwaja et al, (2010) 58 % menyatakan individu mengalami kecemasan terhadap penyakitnya dan tak tahu harus berbuat apa. Ditambahkan Roupa Ζ.et al, (2009) dalam jurnal tentang ansietas dan depresi pada penderita diabetes mellitus tipe 2 menemukan mengalami masalah ansietas 53.2 %

2.3.2 Tingkatan Ansietas

a. Ansietas ringan b. Ansietas sedang c. Ansietas berat
a. Ansietas ringan
b. Ansietas sedang
c. Ansietas berat

Stuart dan Sundeen (1998) dalam Stuart dan Laraia (2005) membagi ansietas menjadi 4 tingkat yaitu:

Ansietas ringan ini berhubungan dengan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari, menyebabkan sesorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya, ansietas pada tingkat ini dapat meningkatlkan motivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.

Ansietas pada tahap ini memungkinkan untuk memusatkan pada hal yang dirasakan penting dan mengesampingkan hal yang lain sehingga perhatian hanya pada hal yang selektif namun dapat melakukan sesuatu dengan terarah, reaksi awal klien yang terdiagnosis diabetes mengalami konsep diri yang rendah, pengontrolan gerakan yang tidak sesuai serta serta peningkatan nadi dan pernapasan yang cepat.

Pada tahap ini seseorang mengalami pengurangan lahan persepsi sehingga cenderung memusatkan pada sesuatu yang terinci dan pesifik dan tidak dapat berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. individu tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain.29 % mengalami kecemasan yang berat menurut Wandell P.E (2005) terhadap kualitas hidup penderita diabetes tipe 2

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

d.

Tingkat panik

Pada tahap ini seseorang mengalami ketakutan dan teror, individu menjadi kehilangan kendali dan tidak mampu melakukan sesuatu waluapun dengan pengarahan. Panik menimbulkan disorganisasi kepribadian. Ketika panik terjadi peningkatan aktivitas motorik, individu mengalami penurunan kemampuan berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional.

2.3.3 Penyebab Ansietas 2.3.4 Sumber koping berhasil/efektif. 2.3.5 Mekanisme Koping
2.3.3 Penyebab Ansietas
2.3.4 Sumber koping
berhasil/efektif.
2.3.5 Mekanisme Koping

Beberapa faktor yang berhubungan dengan ansietas menurut NANDA, (2012) adalah Perubahan dalam status ekonomi, lingkungan, status kesehatan, pola interaksi, fungsi peran, status peran, pemajanan toksin, masalah terkait dengan keluarga, herediter, infeksi/ kontaminan interpersonal, penularan penyakit interpersonal, krisis maturasi, krisis situasional, stres dan penyalahgunaan.

Menurut Stuart dan Laraia, (2005) individu dapat menilai serta mengatasi ansietas dengan menggerakkan sumber koping di lingkungan. sumber koping yang bisa digunakan sebagai pendukung dalam segi ekonomi, kemampuan penyelesaian masalah, dukungan sosial, serta keyakinan budaya yang dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stres dan belajar mengadopsi strategi koping yang

Respon individu ketika mengalami ansietas terjadi bervariasi sesuai dengan mekanisme koping yang digunakan dalam menghadapi stres ataupun ansietas yang sedang dihadapinya.(Stuart dan Laraia, 2005) mengkatagorikan mekanisme koping dalam 2 katagori yaitu:

a. Reaksi yang berorientasi pada tugas ( Task Oriented Reactions).

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Reaksi yang berorientasi tugas yaitu upaya yang disadari dan berorientasi pada tindakan untuk memenuhi kebutuhan secara realistik tuntutan situasi stres. yang termasuk mekanisme jenis ini adalah perilaku menyerang, menarik diri atau kompromi.

b. Reaksi yang berorientasi pada ego/mekanisme pertahanan ego ( Ego oriented reactions)

2.3.6 Intervensi Keperawatan
2.3.6 Intervensi Keperawatan

Mekanisme pertahanan ego digunakan untuk mengatasi ansietas ringan dan sedang, namun pada tingkat yang lebih tinggi dapat terjadi distorsi atau penyimpangan realitas dan merupakan respon maladaptif terhadap stres misalnya supresi, disosiasi, proyeksi dan lainnya.

Prinsip penanganan gangguan kecemasan adalah menurunkan kecemasan, memperbaiki cara berfikir dan mempelajari perilaku baru. Dari kedua referensi disimpulkan bahwa tujuan intervensi pada ansietas adalah menurunkan tingkat ansietas serta melatih klien untuk mempelajari cara penyelesaian masalah baru yang dapat digunakan untuk mengatasi masalahnya saat ini dan yang akan datang. (Stuart dan Laraia, 2005)

Tujuan intervensi keperawatan pada klien ansietas sedang dalam Stuart dan Laraia, ( 2005) Klien dapat mengidentifikasi dan menggambarkan kecemasan yang dirasakan, klien dapat mengidentifikasi kejadian sebelumnya yang menyebabkan ansietas, klien dapat menggambarkan respon koping adaptif dan maladaptif dan klien dapat mengimplementasikan atau mempraktekkan dua respon adaptif untuk mengatasi ansietas. Intervensi keperawatan pada klien dengan ansietas antara lain:

a. Bantu klien mengidentifikasi penyebab atau peristiwa sebelumnya yang menyebabkan ansietas, menghubungkan tanda tanda/kebiasaan yang dilakukan klien ketika mengalami ansietas, validasi hasil pengamatan/kesimpulan atau asumsi dengan klien.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

b. Bantu klien mengenal situasi dan interaksi yang dapat menimbulkan ansietas, bantu klien mengulang penilaian terhadap stresor yang dapat mengancam dan cara mengatasinya. Bantu klien menghubungkan pengalaman dan cara mengatasi masalahnya yang relevan di masa lalu.

c. Bantu klien mengeksplorasi pengalaman mengatasi/menurunkan ansietas dan hasilnya, bantu klien untuk membuang cara maladaptif dan destruktif dalam mengatasi ansietas, dorong klien untuk menggunakan respon koping adaptif yang efektif di masa lalu.

d.
d.

Bantu klien mengidentifikasi cara menata kembali pikiran, melakukan modifikasi perilaku atau kebiasaan, menggunakan sumber yang tersedia dan mencoba respon koping yang baru, dorong klien untuk melakukan aktifitas untuk menyalurkan energi, dukung klien untuk menggunakan sumber dukungan dan suport sosial dalam membantu klien mempelajari respon koping yang baru serta ajarkan klien latihan relaksasi untuk meningkatkan kontrol, kepercayaan dan mengurangi stres.

Cara menurunkan kecemasan (reduced anxiety) menurut Stuart dan Laraia (2005) diantaranya adalah relaxation training. Relaxation training ini bertujuan untuk menurunkan ketegangan dan ansietas, dapat digunakan sendiri maupun digabung. Prinsip dari pelaksanaan training relaksasi ini adalah mengatur pernapasan, menurunkan ketegangan otot dan perubahan kesadaran. pada tehnik pelaksanaanya, klien dianjurkan duduk dalam posisi yang nyaman, music yang pelan bisa dihadirkan untuk menciptakan suasana yang rilek, lalu klien dianjurkan untuk nafas dalam dan mengeluarkan secara perlahan lahan. Untuk memperoleh efek rileks kegiatan dilakukan dengan mengangkat kedua tangan pada saat menarik nafas dalam dan menurunkan kedua tangan kearah kaki pada saat menghembuskan nafas secara perlahan lahan.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

BAB 3 LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA

Dalam bab ini menyajikan hasil pengkajian fisik dan psikososial serta masalah keperawatan. Penyajian dalam bentuk deskriptif dan menggambarkan bagaimana pengkajian, penegakan diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan yang diberikan terhadap klien.

3.1 Pengkajian
3.1 Pengkajian

Pengkajian dilakukan pada tanggal 03 - 06 Juni 2014. Klien adalah Tn. H yang berusia 44 tahun. Klien dibawa ke Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor dengan keluhan mengeluh sakit pada ulu hati dan sesak, terasa mual, muntah tidak ada, pusing, dan mempunyai riwayat penyakit diabetes sejak satu tahun yang lalu. Keluhan utama klien saat ini adalah mual dan sesak. Klien mengatakan sesak bila beraktifitas, selama perawatan klien terlihat sering termenung dan jarang berinteraksi dengan orang lain, klien sendiri bekerja sebagai tenaga pengajar didaerah kota Bogor, klien telah menikah dan dikaruniai tiga orang putra tercinta, klien tinggal didaerah yang tak begitu padat namun klien dalam kesehariannya gemar melakukan aktifitas sosial, setelah klien terdiagnosa mengidap penyakit diabetes mellitus sekitar 2 tahun yang lalu klien mulai membatasi aktifitasnya karena merasa tak berdaya dengan kondisi penyakitnya, klien rajin kontrol ke Poli diabetes namun hanya untuk mengambil jatah obat bulanan saja, sejak dua minggu sebelum masuk Rumah Sakit klien mengeluh sesak napas bila bergerak.

Menurut klien orang yang berarti dalam kehidupannya adalah istri dan anak- anaknya. Klien berpenampilan rapi, memakai baju sesuai ukurannya. Saat berbicara klien tampak tenang, terkadang tampak termenung dan sedih saat menceritakan masa lalunya yang menurut klien sangat menyedihkan dan sempat membuat klien depresi ketika mengetahui mengidap penyakitnya, klien tak mengerti mengapa menderita penyakit diabetes melitus kenapa bukan orang lain saja, klien merasa selama ini tak pernah mengontrol pola

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

makannya, klien mengatakan tidak tahu harapan kedepan dalam kehidupannya ini khususnya terhadap pemulihan penyakitnya ini dan masa depan anak- anaknya terhadap kondisi penyakitnya yang kronis, klien merasa tak mampu menentukan pilihan bila ditanya daerah mana yang akan dilakukan penyuntikan, klien merasa apapun yang akan dilakukan tak akan mengubah klien sebagai sebagai penderita diabetes melitus. Klien tidak mengalami ganguan memori, namun kadang bila dalam pembicaraan klien sulit untuk berkonsentrasi dan kadang terlihat gelisah Klien dapat menceritakan kejadian masa lalunya dan kejadian yang baru saja terjadi.

3.2 Diagnosa Keperawatan - Ketidakberdayaan 3.3 Intervensi Keperawatan 3.3.1 Aktifitas Keperawatan
3.2 Diagnosa Keperawatan
-
Ketidakberdayaan
3.3 Intervensi Keperawatan
3.3.1 Aktifitas Keperawatan

Dari hasil pengkajian diatas mahasiswa merumuskan masalah keperawatan psikososial yang dialami klien Tn. H antara lain sebagai berikut :

Masalah keperawatan psikososial mahasiswa melakukan beberapa intervensi. Diagnosa keperawatan yang pertama yaitu ketidakberdayaan. Intervensi keperawatan yang dilakukan oleh mahasiswa yang berdasarkan pedoman standar asuhan keperawatan pada pasien ketidakberdayaan yaitu melakukan pengkajian ketidakberdayaan dan latihan berpikir positif, serta evaluasi ketidakberdayaan, manfaat mengembangkan harapan positif dan latihan mengontrol perasaan ketidakberdayaan (FIK UI, RSMM, 2012). Antara lain :

a. Lakukan pendekatan yang hangat, bersifat empati, tunjukkan respons emosional dan menerima pasien apa adanya.

b. Mawas diri dan cepat mengendalikan perasaan dan reaksi diri perawat sendiri ( mis; rasa marah, frustasi dan simpati )

c. Sediakan waktu untuk berdiskusi dan bina hubungan yang sifatnya supportif, beri waktu klien untuk berespons

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

d.

Gunakan tehnik komunikasi terapeutik terbuka, eksplorasi dan klarifikasi

e. Bantu klien untuk mengekspresikan perasaannya dan identifikasi area- area situasi kehidupannya yang tidak berada dalam kemampuannya untuk mengontrol.

f. Bantu klien untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap ketidak berdayaannya

g. h. i. Bantu pasien untuk meningkatkan pemikiran yang positif j. k. l. m. n.
g.
h.
i.
Bantu pasien untuk meningkatkan pemikiran yang positif
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.

Diskusikan tentang masalah yang dihadapi klien tanpa memintanya untuk menyimpulkan Identifikasi pemikiran yang negatif dan bantu untuk menurunkan melalui interupsi atau subtitusi

Evaluasi ketepatan persepsi, logika dan kesimpulan yang dibuat pasien Identifikasi persepsi klien yang tidak tepat, penyimpangan dan pendapatnya yang tidak rasional.

Kurangi penilaian pasien yang negatif terhadap dirinya. Bantu pasien untuk menyadari nilai yang dimilikinya atau perilakunya dan perubahan yang terjadi.

Libatkan klien dalam menetapkan tujuan-tujuan perawatan yang ingin dicapai. Motivasi klien untuk membuat jadwal aktifitas perawatan dirinya.

Berikan klien privasi sesuai kebutuhan yang ditentukan. Berikan reinforcement positif untuk keputusan yang dibuat dan jika klien berhasil melakukan kegiatan atau penampilan yang bagus. Motivasi untuk mempertahankan penampilan/kegiatan tersebut.

Diskusikan dengan klien pilihan yang realistis dalam perawatan , berikan penjelasan untuk pilihan ini. Bantu klien untuk menetapkan tujuan yang realistis. Fokuskan kegiatan pada saat ini bukan pada kegiatan masa lalu.

r. Bantu klien mengidentifikasi area-area situasi kehidupan yang dapat dikontrolnya. Dukung kekuatan kekuatan diri yang dapat di identifikasi oleh klien.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

s. Identifikasi cara-cara yang dapat dicapai oleh klien. Dorong untuk berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas tersebut dan berikan penguatan positif untuk partisipasi dan pencapaiannya.

t. Motivasi keluarga untuk berperan aktif dalam membantu klien menurunkan perasaan tidakberdaya.

u. Dorong kemandirian , tetapi bantu klien jika tidak dapat melakukan.

v. Libatkan klien dalam pembuatan keputusan tentang rutinitas keperawatan. Jelaskan alasan setiap perubahan perencanaan perawatan kepada klien Adakan suatu konfrensi multidisiplin untuk mendiskusikan dan mengembangkan perawatan rutin klien.

w. 3.4 Implementasi Keperawatan
w.
3.4 Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan dilakukan selama 4 hari. Pada tahap awal interaksi mahasiswa melakukan pendekatan terapeutik dengan membina hubungan saling percaya melalui komunikasi terapeutik. Implementasi dilanjutkan dengan klien untuk mengidentifikasi dan menguraikan perasaannya, mengenal penyebab ketidakberdayaannya, mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap ketidakberdayaanya, mengidentifikasi pemikiran yang negatif dan membantu klien menghilangkan persepsi negatif dengan meningkatkan pemikiran yang positif. Implementasi hari kedua mahasiswa melakukan latihan mengembangkan harapan positif (afirmasi positif), untuk memberikan penegasan bahwa klien bisa melakukan sesuatu yang lebih baik dan bangkit dari kondisinya saat ini. Implementasi selanjutnya mahasiswa melakukan evaluasi ketidakberdayaan, menjelaskan manfaat mengembangkan harapan positif dan latihan mengontrol perasaan ketidakberdayaan melalui peningkatan kemampuan mengendalikan situasi yang masih bisa dilakukan (membantu klien mengidentifikasi area-area situasi kehidupan yang dapat dikontrolnya. Memberikan dukungan kekuatan- kekuatan diri yang dapat diidentifikasi oleh klien), misalnya klien masih mampu menjalankan pekerjaan sebagai tenaga pengajar walaupun dalam

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

keadaan sakit, klien mampu memegang peranan sebagai kepala keluarga dan menghasilkan nilai financial yang bisa digunakan oleh keluarganya.

Mahasiswa juga melibatkan keluarga khususnya istri dan anak pertama klien dengan menjelaskan kondisi klien, kondisi penyakit, dan bagaimana mengontrol ketidakberdayaan klien dengan memberikan dukungan penuh untuk klien dalam menjalani perawatan setelah selesai dirawat

3.4 Evaluasi Keperawatan 3.5 Rencana Tindak Lanjut
3.4 Evaluasi Keperawatan
3.5 Rencana Tindak Lanjut

Tindakan keperawatan pada interaksi hari ke empat evaluasi klien mengatakan dirinya mempunyai harapan baru dalam kehidupannya. Menurut klien dirinya akan mencoba menjalani hidup ini dengan semangat, klien ingin mengisinya dengan kembali menjalankan peran sebagai bapak dari tiga anaknya, menjalankan peran sebagai tenaga pengajar dan melanjutkan cita cita keluarga yang harmonis dan dinamis. Mahasiswa melatih ulang klien untuk mengontrol perasaaan ketidakberdayaannya dengan menanamkan pemikiran yang positif serta mahasiswa melakukan komunikasi dengan keluarga, akhirnya keluarga mengerti dan memahami kondisi klien sampai akhirnya klien pulang dengan tersenyum dan menunjukkan perasaan senangnya.

Rencana tindak lanjut untuk klien dengan mempertahankan cara berpikir positif dan mengembangkan harapan positif yang sudah dilatih. Selain itu perlu ditingkatkan lagi bagaimana manajemen stres terhadap suatu masalah agar ketika muncul stressor individu akan menggunakan koping yang adaptif untuk mengambil keputusan dan tidak terjebak kembali dalam situasi ketidakberdayaannya.

Rencana tindak lanjut untuk keluarga adalah mempertahankan support sistem bagi klien karena keluarga adalah orang terdekat yang setiap saat berada bersama pasien di rumah. Keluarga diharapkan dapat memberikan dukungan

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

psikis agar klien dapat mampu bangkit dari kondisi ketidakberdayaannya. Perawat diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pelayanan khususnya dalam memberikan asuhan keperawatan psikososial ketidakberdayaan yang didukung dengan adanya instrumen pengkajian psikososial yang lebih lengkap dan menyeluruh sehingga masalah yang dihasilkan lebih luas dan dapat menggambarkan masalah keperawatan klien secara utuh dan komprehensif.

menggambarkan masalah keperawatan klien secara utuh dan komprehensif. Asuhan keperawatan , Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

BAB 4 ANALISA SITUASI

Bab ini akan membahas ruang praktek, berdasarkan analisa hasil asuhan keperawatan yang telah dilakukan dan dibandingkan dengan teori, jurnal, serta penelitian sebelumnya yang terkait dengan karya ilmiah ini. Hal yang akan dipaparkan meliputi hasil asuhan keperawatan, intervensi keperawatan utama serta serta alternatif pemecahan masalah keperawatan yang dilakukan pada klien Tn H di ruang Antasena Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor.

4.1 Profil Ruangan
4.1 Profil Ruangan

Ruang yang digunakan oleh mahasiswa profesi FIK UI sebagai lahan praktik mata ajar Karya Ilmiah Akhir Ners Peminatan Jiwa adalah ruangan Antasena Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor. Ruangan ini merupakan ruang rawat inap pasien fisik dengan kekhususan pada pasien denga penyakit dalam dan bedah, dengan perawatan kelas 2 dan 3. Ruang Antasena dipimpin oleh satu orang Kepala Ruangan (Karu) dan dibantu dengan adanya dua orang Ketua Tim (Katim) serta terdapat 24 perawat pelaksana, Ruangan Antasena berusaha untuk mencapai misi rumah sakit untuk memberikan pelayanan keperawatan secara komprehensif.

Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor terletak di pusat kota Bogor. Bogor sebagai kota yang berkembang memiliki masyarakat yang mempunyai tingkat mobilitas yang lumayan tinggi seperti perkotaan, masyarakat kota Bogor mempunyai pekerjaan secara heterogen dan menguasai dalam beberapa bidang yang ada didaerah perkotaan besar khususnya daerah ibukota Jakarta. Masala yang dihadapi dalam perkotaan kaena mobilitas yang tinggi beresiko terhadap gaya hidup kuran sehat bagi masyarakat kota bogor. Beberapa masalah tersebut merupakan batasan dalam keperawatan psikososial dan memerlukan penanganan keperawatan perkotaan yang terarah, khususnya didaerah kota Bogor. Oleh karena itu penting bagi perawat untuk memberikan asuhan keperawatan psikososial bagi pasien yang sedang dirawat khususnya di ruang Antasena Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

4.2 Analisis Masalah Keperawatan Konsep Kasus Terkait

dengan Konsep terkait KKMP dan

Perkembangan masyarakat perkotaan khususnya mengenai peningkatan urbanisasi berdampak pada tuntutan hidup di masyarakat yang mendambakan kelayakan kehidupan pada saat ini, yang menyebabkan terbentuknya kelas dalam masyarakat secara sendirinya seperti terbentuknya komunitas terpinggirkan seperti yang diutarakan oleh Ooi dan Phua, (2007) menyebutkan telah terjadi penurunan kualitas hidup individu secara berkelompok pada daerah perkotaan dan meningkatkan penurunan kesadaran individu terhadap gaya hidup sehat. Prilaku pola makan yang salah merupakan penyebab dari kenaikan berat badan (Obesitas) yang berakibat pada pola makan yang berlebihan yang biasa dijalani oleh penderita obesitas berpotensi meningkatkan kadar glukosa darah secara berlebihan yang tidak dirasakan oleh individu. (Smeltzer & Bare ,2002).

tidak dirasakan oleh individu. (Smeltzer & Bare ,2002). Perubahan gaya hidup yang tidak sehat tersebut terjadi

Perubahan gaya hidup yang tidak sehat tersebut terjadi pada komunitas yang tidak sadar karena tuntutan dan kondisi kehidupan dari individu itu sendiri, sebanyak 90 % penyebab diabetes adalah perubahan gaya hidup yang cenderung kurang aktifitas fisik, diet tidak sehat, dan tidak seimbang serta konsumsi tembakau (DepKes, 2008). Respon yang ditimbulkan akibat penyakit diabetes mellitus dalam masalah psikososial bisa berdampak pada penerimaan diri yang negatif sehingga terjadi penolakan terhadap status penyakitnya yang akan berakibat pada ketidakmampuan individu dalam menata harapan hidupnya dengan dukungan terhadap kesehatannya sendiri serta berpikir secara positif tentang kondisi penyakitnya, Darmono (2005)

Berdasarakan hasil pengkajian mahasiswa selama melakukan praktek di Ruang Antasena terkaji beberapa masalah psikososial yang ditemukan pada masalah kesehatan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Smeltzer dan Bare, (2002) yang mengatakan bahwa pengalaman terhadap suatu penyakit akan membangkitkan berbagai perasaan dan reaksi stres, termasuk frustasi, ansietas, kemarahan, penyangkalan rasa malu, berduka dan ketidakpastian. Ditambahkan menurut Khuwaja et al, (2010) terdata 58 % menyatakan

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

individu mengalami stres terhadap penyakitnya dan berakibat pada ketidakmampuan individu terhadap pemilihan pelayanan yang harus dia pilih. Efek hospitalisasi selama dalam perawatan di rumah sakit menyebabkan reaksi stres karena perubahan lingkungan yang tidak biasa, sehingga kadang- kadang menyebabkan ketakutan dan munculnya perasaan ketidakberdayaan dan sehingga kehilangan kontrol individu terhadap kemampuanya dalam pemenuhan kebutuhan yang harus didapatkan. Penyakit kronis salah satu yang menyebabkan perubahan pada pola kognitif individu yang akan berdampak pada respon psikososial pada individu yang menderitanya ataupun pada keluarga yang merawatnya .

yang menderitanya ataupun pada keluarga yang merawatnya . Masalah psikososial yang ditemukan di ruang Antasena antara

Masalah psikososial yang ditemukan di ruang Antasena antara lain ketidakberdayaan. Ketidakberdayaan sering muncul ketika seseorang mengalami penyakit kronis salah satunya penyakit Diabetes Melitus yang merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak terjadi pada masyarakat perkotaan karena pola hidup tak sehat yang dijalanankan masyarakat perkotaan saat ini. Penyakit Diabetes Melitus membuat penderita merasakan adanya hambatan dalam menjalankan aktifitas hariannya. Kondisi yang terus-menerus dapat menyebabkan seseorang jatuh dalam kondisi ketidakberdayaan. Menurut Kanine, (2011) tentang pengaruh terapi generalis terhadap respon ketidakberdayaan klien diabetes melitus mengatakan bahwa penderita penyakit kronis terindikasi dengan masalah psikososial ketidakberdayaan dan melakukan tindakan keperawatan maka ketidakberdayaanya mulai menurun Hal seperti ini dialami oleh klien kelolaan mahasiswa yaitu Tn H yang mengalami ketidakberdayaan dengan kondisi mengalami penyakit kronis melalui peningkatan harapan hidup dan berpikir positif secara terstruktur.

Pengkajian dilakukan pada Klien Tn H , usia 44 tahun. Usia ini termasuk kedalam usia dewasa pertengahan. Usia seseorang pada kelompok dewasa menengah ini merupakan usia yang sangat matang dalam hal pengalaman hidupnya termasuk dalam pengambilan keputusan dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Menurut Stuart dan Laraia (2005) bahwa usia

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

mempengaruhi cara pandang individu dalam menyelesaikan masalah. Stuart dan Laraia (2005) menyatakan bahwa usia berhubungan dengan pengalaman seseorang dalam menghadapi berbagai macam stressor, kemampuan memanfaatkan sumber dukungan dan keterampilan dalam mekanisme koping yang akan dilakukan klien melalui beberapa kondisi yang disadari ataupun tidak disadari. Terdapat faktor predisposisi dan presipitasi yang mempengaruhi respon seseorang terhadap ketidakberdayaan. Dapat disimpulkan bahwa usia memang berpengaruh dalam hal kematangan seseorang dalam mengambil keputusan, namun tidak mempengaruhi seseorang dalam berespon terhadap ketidakberdayaan. Fungsi dalam fase keluarga memberikan dukungan terhadap kemampuan klien dalam mencapai tatanan hidup yang mampu klien hadapi, khususnya dalam fase perawatan keluarga yang sakit.

hadapi, khususnya dalam fase perawatan keluarga yang sakit. Diagnosa keperawatan pada klien Tn.H berdasarkan dari hasil

Diagnosa keperawatan pada klien Tn.H berdasarkan dari hasil pengkajian adalah ketidakberdayaan. Secara subjektif klien mengatakan dirinya merasa sedih, tidak bisa melakukan apa-apa terkait dengan kondisi sakitnya dan mengalami kemnduran dalam kemampuan menyelesaikan masalah yang harus klien atasi. Hal ini sesuai dengan definisi ketidakberdayaan yang diungkapkan Carpenito, (2008) menyatakan bahwa ketidakberdayaan merupakan kondisi seseorang atau kelompok yang merasa kurang kontrol atas kejadian atau pribadi atau situasi yang memberi dampak pada pandangan, tujuan, dan gaya hidup. Menurut asumsi mahasiswa bahwa respon verbal dan objektif pasien mengarah pada kondisi ketidakberdayaan sehingga diagnosa keperawatan yang ditegakkan adalah ketidakberdayaan.

Beberapa reaksi emosional yang biasanya dialami oleh individu dan keluarganya menurut Brunner dan Suddarth, (2002). Antara lain tidak berdaya, iri, dan kesepian. perubahan dari sehat ke sakit biasanya berawal dengan gejala yang umumnya disertai rasa tidak nyaman, kehilangan kekuatan dan stamina, dan penurunan kemampuan untuk berfungsi. Perubahan yang dialami dapat berkembang menjadi krisis-krisis yang akan mempengaruhi keluarga, sahabat, dan lingkungan sekitar. Sesuai dengan

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

NANDA (2012) menyatakan bahwa ketidakberdayaan adalah pengalaman tentang kurangnya kontrol seseorang terhadap situasi termasuk persepsi bahwa sesuatu tidak akan bermakna atau mempengaruhi terhadap hasil yang ingin dicapai. Respon pasien terhadap sakitnya memiliki persepsi bahwa apa yang dialaminya saat ini membuat hidupnya tidak bermakna dan pasien tidak bisa mengontrolnya sehingga mahasiswa menetapkan diagnosa keperawatan utama adalah ketidakberdayaan

diagnosa keperawatan utama adalah ketidakberdayaan Data pengkajian juga menunjukkan bahwa klien yang mengalami

Data pengkajian juga menunjukkan bahwa klien yang mengalami ketidakberdayaan yang dialami Tn. H merupakan kondisi yang disebabkan oleh multi faktor. Kondisi ini diantaranya diakibatkan oleh akibat penyakit itu sendiri yang menimbulkan berbagai masalah dan ketidaknyamanan termasuk kaitannya dengan efek samping pengobatan, faktor lingkungan yang masih dikelilingi banyak stigma, kekhawatiran klien akan penyakitnya yang tak bisa sembuh dan kondisi defisiensi pengetahuan yang dialami klien dan keluarga tentang masalah-masalah kesehatan. Untuk menangani masalah psikososial tentang kecemasan dan ketidakberdayaan, terdapat beberapa intervensi yang dapat dilakukan oleh perawat diantaranya adalah dengan meningkatkan kembali kemampuan klien terhadap motivasi diri yang akan mempengaruhi pikiran positif klien terhadap kemampuan kognitif klien dalam mengatasi masalah ketidakberdayaan dengan motivasi tindakan-tindakan khusus seperti pengalihan perhatian serta pemberian program edukasi yang sesuai dengan kebutuhan klien dan keluarga. Melalui identifikasi masalah dengan diskusi mencari sumber frustasi, ansietas, konflik, dan kebutuhan yang tidak terpenuhi, dengan langkah pertama identifikasi masalah penyebab perasaan negatif, bantu klien membuat tujuan sederhana yang realistis agar sukses dalam menata harapan hidup yang mampu klien tangani.

Kurangnya kemampuan klien dan keluarga mendapat paparan tentang informasi-informasi kesehatan membuat klien dan keluarganya memiliki persepsi yang kurang tepat terkait kondisi kesehatannya saat ini. Akibat persepsi yang kurang tepat menyebabkan klien dan keluarganya bereaksi tidak sesuai dengan kondisi yang semestinya. Hal ini perlu diatasi karena jika

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

dibiarkan berlarut-larut sikap dan tindakan yang diambil tidak menutup kemungkinan dapat menimbulkan permasalahan baru yang semestinya tidak perlu terjadi. Seperti yang diungkapkan oleh Wulandari, (2012) 41 % penderita Diabetes Melitus tipe 2 mempunyai perasaan negatif yang akan berdampak pada pola kognitif klien sehingga mempengaruhi terhadap keputusan klien dalam penentuan penyelesaian masalah yang harus dihadapi. Hal ini juga sesuai dengan Potter dan Perry, (2009) yang menyebutkan bahwa akibat menderita suatu penyakit dapat mengganggu kemampuan individu dalam mengambil keputusan yang akan dapat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas individu itu sendiri, kondisi ini dapat menyebabkan perasaan kosong dan terpisah dari orang lain, terkadang menyebabkan depresi, rasa gelisah dan rasa cemas yang berlebihan sebanyak 69.6 % responden meyatakan ketidakmampuan terhadap keadaan dirinya yang diawali oleh stres terhadap pemulihan penyakit khususnya diabetes melitus menurut Palizqir, Bakhtiar, Esteghamati, (2013) dalam peran penyakit diabetes terhadap sosiolog individu dalam aktivitas sehari hari. Ditambahkan menurut Stuart, (2002) yang menerangkan bahwa stres merupakan salah satu pencetus akibat ancaman yang terjadi pada pertahanan sistem diri yang akan membahayakan identitas dan fungsi sosial yang terintegrasi pada individu dalam penentuan masalah kesehatan psikososial yang harus dihadapi individu.

4.3.1 Diagnosa Ketidakberdayaan
4.3.1 Diagnosa Ketidakberdayaan

4.3 Analisis Intervensi Keperawatan dengan Konsep dan Penelitian terkait

Tindakan keperawatan yang sesuai dengan standar asuhan keperawatan pada klien dengan masalah ketidakberdayaan terdiri dari dua cara. Intervensi pertama untuk klien dengan melakukan pendekatan terapeutik serta melakukan pengkajian ketidakberdayaan dan latihan berpikir positif. Kedua, evaluasi ketidakberdayaan, manfaat mengembangkan harapan positif dan latihan mengontrol perasaan ketidakberdayaan. Intervensi untuk keluarga yaitu menjelaskan kondisi klien dan cara merawat serta evaluasi peran

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

keluarga merawat pasien, cara latihan mengontrol perasaan ketidakberdayaan dan follow up (FIK UI-RSMM, 2012).

Pemberian tindakan keperawatan dengan melakukan pendekatan terapeutik agar terbina hubungan saling percaya sehingga dapat melakukan pengkajian masalah ketidakberdayaan. Dalam melakukan tindakan keperawatan mahasiswa menggunakan komunikasi terapeutik agar terbina hubungan saling percaya. Komunikasi terapeutik merupakan kunci utama dalam membina hubungan dengan pasien agar terbina rasa saling percaya antara psien dengan perawat. Komunikasi terapeutik adalah proses dimana perawat yang menggunakan pendekatan terencana mempelajari klien (Potter & Perry, 2005).

terencana mempelajari klien (Potter & Perry, 2005). Pengkajian terhadap latar belakang sosial budaya turut

Pengkajian terhadap latar belakang sosial budaya turut mempengaruhi keberhasilan komunikasi antara perawat dengan klien kelolaan. yang mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam melaksanakan keperawatan psikososial khususnya masalah ketidakberdayaan dengan cara komunikasi melalui beberapa tahapan diantaranya penilaian terhadap persepsi, nilai, tingkatan pengetahuan, peran dalam keseharian, serta lokasi interaksi. Penilaian dalam awal komunikasi mempermudah cara merawat klien dalam melakukan hubungan komunikasi satu sama lain. Pemahaman faktor ini membantu seorang perawat untuk mengetahui alasan klien memiliki hambatan dalam berkomunikasi dan strategi yang dibutuhkan untuk membantu pasien mengatasi masalahnya Hal ini sesuai dengan Potter dan Perry, (2005)

Tindakan keperawatan lainnya yaitu melatih klien untuk berpikir positif dan mengembangkan harapan positif. Dengan berpikir positif diharapkan dapat memberikan pengurangan terhadap pemikiran yang negatif sehingga klien mampu mengambil keputusan dalam mencapai tujuan yang realistis dalam hidupnya serta mampu mengontrol ketidakberdayaannya dengan mengendalikan pola pikir yang biasa dilakukan oleh klien. Mahasiswa memberikan pemahaman tentang pemikiran positif dalam kehidupnya

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

dengan pengembangan tatanan harapan positif dalam kehidupan yang akan dijalaninya nanti.

Penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa melakukan tindakan keperawatan dengan metode pendekatan dan pengkajian tentang ketidakberdayaan, lalu melatih dan menanamkan cara berpikir positif, dengan intervensi berupa penjelasan secara rasional sehingga peningkatan pengetahuan klien tentang masalah yang dihadapi membantu klien mengontrol ketidakberdayaannya dan mengubah perilakunya dan pola pikir keseharianya terhadap penyakit yang dirasakan oleh klien

4.4 ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
4.4 ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

Pemecahan masalah psikososial dalam keperawatan memerlukan evaluasi terhadap klien setelah tindakan keperawatan dilakukan. Klien secara verbal mengatakan bahwa dirinya mempunyai harapan yang lebih baik untuk kehidupannya dimasa yang akan datang. Secara obyektif pasien tampak lebih tenang dan memiliki kesiapan mental jauh lebih baik dari kondisi awal dalam menghadapi respon ketidakberdayaan. Hal ini menunjukkan bahwa intevensi keperawatan yang diberikan memberikan dampak positif bagi pasien. Hal senada diutarakan oleh Kanine, (2011) dalam penelitiannya tentang pengaruh terapi generalis terhadap pasien DM yang mengalami ketidakberdayaan menunjukkan telah diketahuinya skor ketidakberdayaan yang tinggi sebelum dilakukan terapi generalis individu baik pada kelompok intervensi maupun pada kelompok kontrol. Penurunan kondisi yang signifikan pada kelompok intervensi setelah diberikan terapi generalis berdampak pada penurunan kondisi ketidakberdayaan yang cukup tinggi dibandingkan dengan pemberian terapi generalis pada kelompok kontrol. Hal ini menegaskan bahwa pemberian terapi generalis individu memiliki hasil perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok. Beberapa kesimpulan akan tindakan keperawatan khususnya melatih pasien untuk berpikir positif dan mengembangkan harapan positif serta memberikan edukasi yang tepat akan memberikan hasil yang efektif untuk mengatasi kondisi ketidakberdayaan terhadap penyakit yang dideritanya.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Peran serta keperawatan dalam mendukung keberhasilan tindakan keperawatan memberikan respon yang cukup bagus terlihat secara emosional klien rentan terhadap stressor kiranya perlu dilakukan kerjasama lebih lanjut dengan beberapa tenaga spesialis untuk melatih tentang manajemen stres pada pasien agar tidak kembali ke dalam kondisi ketidakberdayaannya. Ditambahkan menurut Copel, (2007). Menerapkan tujuan jangka panjang bagi klien yang mengalami ketidakberdayaan dengan menunjukan rasa kendali pribadi atas situasi kehidupan yang ditunjukan dengan menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan, serta menata lingkungan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, dengan cara minta klien mengidentifikasi masalah dengan diskusi mencari sumber frustasi, ansietas, konflik, dan kebutuhan yang tidak terpenuhi, dengan langkah pertaman identifikasi masalah penyebab perasaan negatif, bantu klien membuat tujuan sederhana yang realistis agar sukses, serta tetapkan waktu dalam implementasi tujuan sesuai tujuan struktur yang sesuai. Lalu menetapkan tujuan lanjutan agar klien dapat menbedakan situasi yang dapat dikontrol dan tidak dapat dikontrol atau menerima situasi yang tidak dapat diubah, dengan cara bantu klien mengidentfikasi masalah dan diskusikan tujuan dan kebutuhan yang belum terpenuhi identifikasi strategi yang mungkin dimodifikasi, bantu klien identifikasi situasi yang tidak dapat diubah agar terhindar dari masalah frustasi.

tidak dapat diubah agar terhindar dari masalah frustasi. Pemberian motivasi yang positif sangat diperlukan oleh klien

Pemberian motivasi yang positif sangat diperlukan oleh klien yang mengalami persepsi yang salah terhadap penyakit yang dideritanya penguatan positif juga harus diberikan pada kelurga klien agar mampu memberikan semangat dalam membangun kembali harapan berdasarkan komitmen untuk menjadi lebih baik. Dorong klien menggunakan bicara diri positif saya bisa mengatasi masalah ini “. Setelah klien dapat mengendalikan semua gejala, eksplorasi konflik dan stessor yang menyebabkan timbulnya gejala bersama klien. Ajarkan teknik relaksasi kepada klien untuk mengurangi ketegangan dalam perasaan klien. Oleh karena itu juga diperlukan kerjasama dengan perawat spesialis jiwa dalam menentukan tindakan keperawatan psikososial khususnya dalam merawat klien yang mengalami ketidakberdayaan.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

Karya ilmiah ini sesuai dengan tujuan telah dapat menggambarkan asuhan keperawatan klien dengan ketidakberdayaan pada Tn.H di ruang Anatasena Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor. Berdasarkan uraian penjelasan dari bab sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan dan saran sebagai berikut.

7.1 Kesimpulan 7.1.1
7.1 Kesimpulan
7.1.1

Berdasarkan hasil karya ilmiah maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.

Klien yang mempunyai masalah fisik Diabetes Melitus berdampak pada penerimaan diri individu karena ketidakmampuan individu dalam memberikan dukungan terhadap kesehatannya, masalah psikososial ketidakberdayaan dalam penentuan penerimaan pola pikit positif klien itu sendiri dalam pencapaiannya terhadap kemampuan klien

7.1.2 Pemberian asuhan keperawatan untuk masalah ketidakberdayaan berfokus pada klien dalam mengontrol ketidakberdayaannya dengan tetap berpikir positif serta mengembangkan harapan positif dalam tatanan hidupnya. Dengan pola komunikasi yang terarah klien mampu termotivasi dalam penyelesaian terhadap peningkatan pola kognitif secara positif klien, khususnya dalam masalah psikososial yang dihadapi klien dengan Diabetes Melitus.

7.1.3 Peningkatan dalam pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan masalah psikososial ketidakberdayaan terkait kesesuaian dengan beberapa sumber dan teori yang terkait. Peningkatan pola kognitif klien merupakan keberhasilan dalam mengatasi masalah psikososial yang dihadapi klien, diantaranya keikutsertaan klien dalam penentuan tindakan yang melibatkan kemandirian klien terhadap pemberian

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

7.2 Saran

terapi

keperawatan psikososial.

yang

akan

dijalani

klien.

Sesuai

dengan

standar

asuhan

Terkait dengan kesimpulan hasil karya ilmiah, terdapat beberapa saran yang mungkin dapat dijadikan acuan dalam pengembangan hasil karya ilmiah ini.

7.2.1 Bagi Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor 7.2.2 Bagi Penelitian
7.2.1 Bagi Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor
7.2.2 Bagi Penelitian

Berdasarkan hasil temuan selama praktik bahwa belum adanya format pengkajian khusus psikososial, oleh karena itu diharapakan pihak rumah sakit bekerja sama dengan akademik untuk dapat mengembangkan instrumen pengkajian psikososial disamping format pengkajian fisik yang sudah ada agar pengkajian yang dilakukan dapat menyeluruh mencakup bio psikososio spiritual. Selain itu Rumah Sakit Marzoeki Mahdi khususnya Ruang Antasena hendaknya dapat meningkatkan pengetahuan dan pelayanan keperawatan yang dapat dilakukan dengan pelatihan khusus asuhan keperawatan psikososial agar perawat lebih memahami dan dapat mempraktekkan asuhan keperawatan psikososial kepada klien.

Diharapkan ada penelitian lebih lanjut yang bisa dikembangkan dari karya ilmiah ini yang terkait asuhan keperawatan psikososial di ruang rawat inap fisik sehingga hasilnya akan lebih komprehensif karena menilai individu dalam berespon terhadap kondisi sakitnya secara menyeluruh mencakup aspek bio-psiko-sosio-spiritual.

7.2.3 Bagi Keperawatan

Diharapkan mampu memanfaatkan hasil karya ilmiah ini untuk meningkatkan dan mengembangkan asuhan keperawatan klien dengan masalah psikososial khususnya masalah ketidakberdayaan.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

DAFTAR REFERENSI

Ani.H,.(2003).faktor faktor resiko penderita diabetes mellitus di semarang dan sekitarnya,study kasus.universitas Diponogoro semarang.indonesia. Aujoulat.I, Olivier L., Alain.D,. (2007). The Perspective of Patients on Their Experience of Powerlessness Université Catholique de Louvain, Belgium Bill.,D,P. (2002).Registered Psychiatric Nurses: Competency Profile for the Profession in Canada . ISBN: 0-9689811-0-0 Published by Alberta Health and Wellness in partnership with Registered Brunner & Suddarts.(2002).Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Pengkajian Dan Pelaksanaan Pasien Diabetes Melitus.alih bahasa Kuncara dkk.EGC Indonesia Carpenito, L.J., (2008). Handbook of nursing diagnosis.12th.ed. Philadelphia. Lippincott Company. Copel,L.C, (2007) Kesehatan Jiwa dan Psikiatri :Pedoman Klinis Perawat,Ed.2.alih bahasa Akemat,Penerbit Buku Kedokteran.EGC.Jakarta Dohrenwend BP, Dohrenwend BS. Psychiatric disorders in urban settings. In: Caplan G,ed. Child and Adolescent Psychiatry: Sociocultural and Community Psychiatry. New York: Basic Books; 1974:424449. David Vlahov, Nicholas Freudenberg, Fernando Proietti,.Danielle Ompad, Andrew Quinn, Vijay Nandi, and Sandro Galea (2007) Bulletin of the New York Academy of Medicine, Vol. 84, No. 1 doi:10.1007/s11524-007-9169-3 * Journal of Urban Health. 2007 The

Urban as a Determinant of

Health.Newyork USA DepKes.(2008).Direktorat pengendalian Penyakit tidak Menular.Pedoman Pengendalian Diabetes Melitus Dan Penyakit Metabolik.Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan

.Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan New York Academy of Medicine Lingkungan.Depkes.Jakarta

New York Academy of Medicine

Lingkungan.Depkes.Jakarta

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Darmono (2005).Pengaturan Pola Hidup Penderita Diabetes Untuk mencegah komplikasi Kerusakan Organ-Organ Tubuh.Pidato Pengukuhan.Guru Besar Penyaki Dalam.Fakultas Kedokteran Universitas Diponogoro.

Doenges, M. E.,Moorhouse, M. F., Geissler,A. C.(2000). Rencana Asuhan Keperawatan; Pendokumentasian Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. edisi 3. Jakarta. EGC DepKes (2011). Gambaran Penyakit Tidak menular di Rumah Sakit Di Tahun 2009-2010.Indonesia Sistem Informasi Rumah Sakit Tahun

2011 Fortinash, K.M and Holoday Worret, PA. ( 2003 ). Psychiatric Nursing Care Plans. Mosby.
2011
Fortinash, K.M and Holoday Worret, PA. ( 2003 ). Psychiatric Nursing Care Plans.
Mosby.

DepKes (2011). Rencana Program Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular Tahun 2010 2014

( 4 th ed ) St.Louis,Missouri.

FIK-UI, RSMM (2012). Standar asuhan keperawatan psikososial. Kerjasama Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor dengan mahasiswa program Magister Fik UI. Tidak dipublikasikan. Funnel, M., Anderson, R. 2005. Patient empowerment: reflections on the challenge of fostering the adoption of a new paradigm.

racts/PatietEmpowerment.pdf .diunduh tanggal 27 juni 2014,jam

21:10 WIB Khuwaja et al.2010. Anxiety and depression among outpatients with type 2 diabetes: A multi-centre study of prevalence and associated factors. Diabetology & Metabolic Syndrome.Aga Khan

Univerity,Karachi.pakistan.http://www.dmsjournal.com/content/2/1/7

2 .diunduh tanggal 28 juni 2014, jam 20:29 WIB Kanine, E., Helena, N,. (2011).Pengaruh terapi generalis dan logoterapi individu trhadap respon ketidakberdayaan klien diabetes melitus di rumah sakit provinsi Sulawesi Utara. Tesis FIK UI. Tidak dipublikasikan. Kozier, B. Erb, G., Snyder, S., Berman, A. (2002). Kozier and Erb’s techniques in nursing. 5 th Edition. New Jersey: Pearson Edition-Inc.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Leviton LC, Snell E, McGinnis M. (2000) Urban issues in health promotion strategies. Am J.Public Health. 2000;90(6):863866. Lubkin, I.M & Larsen P.O., (2006). Chronic illness : impact and intervention. Jones and Barlett Publisher, Inc Sudbuy Messachusetts. NANDA (2012). Nursing disgnoses: Definition and classification 2012-

2014. Philadelphia-

USA. Nanda International

SIGN.(2009).Management Of Diabetes. Scottish Intercollegiate Guidelines Network.Elliott House, 8-10 Hillside Crescent.Edinburgh EH7

5EA.www.sign.ac.uk
5EA.www.sign.ac.uk

Norris, S.L,. Lau, J., Smith, S.J., Schmid, C.H., Engelgau, M.M. (2002). Self Management Education for Adult with Type 2 Diabetes. A Meta-analysis of The Effect on Glicemic Control. Diabetes Care.

Diunduh tanggal 24 juni 2014,jam 23:14 WIB Ooi G, Phua KH. (2007) Urbanisation and slum formation. J Urban Health. Ompad D, Galea S, Caiaffa W, Vlahov D. (2007) Social determinants of the health of urban populations: implications for intervention. J Urban Health. 2007; in press. Palizqir M,Bakhtiar M, Esteghamati A (2013 ) Association of Depression and Anxiety With Diabetes Mellitus Type 2 Concerning Some Sociological Factors. Iranian Red Crescent Medical Journal. 2013 August; 15(7): 644-8. DOI: 10.5812/ircmj.12107 . Islamic Azad University, Najafabad Branch, Isfahan, IRAN PB PERKENI.(2006).buku konsensus 2006. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006.jakarta Potter, P.A.& Perry, A.G. (2005). Fundamental of nursing; Concept process and practice.(4 th .ed). Philadephia: Mosby-year Book-inc.

Riset kesehatan Dasar (Riskesdas). (2013). Tahun 2030 Prevalensi Diabetes

Di

Roupa Ζ.et al(.2009). Anxiety and depression in patient with types Diabetes Mellitus,Depending on sex and Body mass index,Galatsi, Athens,

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Greece .pp:32-40 ISSN:1108-7366, E-ISSN:1791-809X www.hsj.gr Health Science Journal® All Rights Reserved . Rosenthal. S (2006). Power and Powerlessness. Canada at

. Oxford, UK OX1 1HH United Kingdom.diunduh tanggal 27 juni 2014,jam 16:43 WIB Smeltzer, C.S. &Bare, G.B (2002). Brunner & Suddarth’s Textbook of medical surgical nursing. 8 th Ed. Piladelphia: Lippincott- Raven Publishers. Stuart, G.W. & Laraia, M.T. (2005). Principle and practice of psychiatric nursing. 8 th ed. St. Louis: Mosby Year Book. UN Habitat.(2003) The Challenge of SlumsGlobal Report on Human Settlements 2003.London: Earthscan; 2003. Varcarolis, E.M .( 2000 ), Psychiatric Nursing Clinical Guide; Assesment Tools and Diagnosis . Philadelphia. W.B Saunders Co. Videback, S L (2008). Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta: EGC Wiyadi.(2012). HubunganTingkat Kecemasan dengan kadar gula darah penderita Diabetes Melitus yang dirawat di ruang Flamboyan RSUD ABDUL WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA. Laporan penelitian samarinda.Indonesia Wilkinson,J.M.(2005), Nursing Diagnosis Hand Book With NIC Intervention and NOC out Come . ( 7 th. ed). New Jersey : Prentice Hall Inc. Winasis,E.B.(2009).Hubungan antara konsep diri dengan depresi penderita diabetes mellitus di puskesmas pracimantoro 1 wonogori. Fakultas ilmu keperawatan Universitas muhamadiyah Surakarta.jawa tengah Wandell.P.E. (2005).Quality Of life patients With diabetes mellitus. Scandinavian Journal of Primary Health Care, 2005; 23: 68_/74 Center of Family Medicine, Karolinska Institutet, Huddinge, Sweden ISSN 0281-3432 print/ISSN 1502-7724 online # 2005 Taylor & Francis.DOI: 10.1080/02813430510015296

online # 2005 Taylor & Francis.DOI: 10.1080/02813430510015296 Asuhan keperawatan , Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

World Health Organization (2010). Urban matter word health day 2010.1000 cities 1000 lives World Health Organization (2009). Cities and public health crises. Report of the international consultation,29-30 October 2008. Lyon, France… http://www.who.or.jp/network.html diunduh tanggal 25 juni 2014 jam 23:30 WIB

diunduh tanggal 25 juni 2014 jam 23:30 WIB Asuhan keperawatan , Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

PENGKAJIAN KEPERAWATAN JIWA

MASALAH PSIKOSOSIAL

INFORMASI UMUM Inisial klien

: Tn H P

Usia

: 44 (tahun)

Jenis kelamin :  perempuan √ laki-laki Suku : Sunda Bahasa dominan : Indonesia Status
Jenis kelamin
:  perempuan
√ laki-laki
Suku
: Sunda
Bahasa dominan
: Indonesia
Status perkawinan
:  belum menikah
( √ )
Pekerjaan
: Tenaga Pengajar
Alamat
: Alam Tirta Lestari Blok C.No : 9 Rt 12/14 Desa
pagelaran. Bogor
Tanggal masuk
: 23-05-2014
Tanggal pengkajian
: 03 - 06 - 2014
Ruang rawat
: Antasena III/ 7
Nomor rekam medik
: 27 26 81
Diagnosa medis
: Diabetes Melitus Tipe 2 dengan Sesak napas
Riwayat alergi
: Tidak Ada
Diet
: 1500 kalori DM

menikahjanda/ duda

KELUHAN UTAMA Klien mengeluh nyeri ulu hati dan dada terasa sesak, mual ( + ), muntah ( - ), pusing ( + ), riwayat penyaki DM Tipe 2

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

PENAMPILAN UMUM DAN PERILAKU MOTOR Fisik

Berat badan

Tinggi badan : 165 cm

Tanda-tanda vital : TD: 100/ 70 MmHg .P 20 X/menit .Nd : 93 X/menit

: 63 tahun

T : 36,5

C

Riwayat pengobatan fisik :

Klien selalu rajin berobat jalan untuk mengambil obat dalam setiap bulannya

Hasil pemeriksaan laboratorium/ visum/ dll Hb : 12,8 Ureum : 33 Na : 131 Ht
Hasil pemeriksaan laboratorium/ visum/ dll
Hb
: 12,8
Ureum
: 33
Na
:
131
Ht
: 3,5
Kreatinin
: 1,1
K
:
3,9
Lekosit
: 8200
SGOT
: 15
Ca
:
8,5
Trombosit : 149.000
SGPT :
10
GDS :
380 mg/dl
Pemeriksaan urin:
Warna
Kekeruhan
PH
Glukosa
Bakteri
Kristal
: kuning muda
: agak keruh
: 5,0
: positif
: negatif
: negative
Masalah Keperawatan : tidak ada Masalah keperawatan
Tingkat Ansietas
Tingkat ansietas (lingkari tingkat ansietas dan chek list perilaku yang
ditampilkan)
Ringan (√)
Sedang ( √)
Berat
Panik
PERILAKU
PERILAKU
Tenang
Menarik diri
Ramah
Bingung
Pasif
Disorientasi
Waspada
Ketakutan
Merasa membenarkan lingkungan
Hiperventilasi
Kooperatif
Halusinasi/ delusi

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Gangguan perhatian

Depersonalisasi

Gelisah

Obsesi

Sulit berkonsentrasi

Kompulsi

Waspada berlebihan

Keluhan somatik

Tremor

Hiperaktivitas

Bicara cepat

Lainnya:

Masalah Keperawatan:_Ansietas Ringan Sedang KELUARGA Genogram Tipe keluarga (√) nuclear family  diad family 
Masalah Keperawatan:_Ansietas Ringan Sedang
KELUARGA
Genogram
Tipe keluarga
(√) nuclear family
 diad family
extended family
 single parent
family
Pengambilan keputusan
(√)
kepala keluarga
orang tua
 istri
 bersama-sama
Hubungan klien dengan kepala keluarga
(√ ) kepala keluarga
 istri

orang tua

lain-lain

anak

Kebiasaan yang dilakukan bersama keluarga Jelaskan:

klien terbiasa berkumpul dengan keluarga disaat sore menjelang, sambil menghabiskan menonton televisi bersama

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Kegiatan yang dilakukan keluarga dalam masyarakat Jelaskan:

Keluarga klien aktif dalam kegiatan dilingkungan seperti pengajian dan arisan bulanan.

Masalah Keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan

RIWAYAT SOSIAL Pola sosial Teman/ orang terdekat Klien dekat dengan tetangga sekitar walaupun klien sudah mulai mengurangi intensitasnya karena tak mau berkumpul terlalu lama

Obat-obatan yang dikonsumsi klien saat ini Ranitidine : Ondansentron : Paracetamol : Rl : Meloxicam
Obat-obatan yang dikonsumsi klien saat ini
Ranitidine
:
Ondansentron
:
Paracetamol
:
Rl
:
Meloxicam
:
Humulin
:
2 x 1 ampul
3 x 1 ampul
3 x 1 kp
8 j / kolf
1 x 1 malam
3 x 15 unit.

Peran serta dalam kelompok Klien aktif dalam kegiatan pengajian kelompok warga dalam rukun tetangga sebulan sekali

Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain Klien merasa tak bisa lagi berkumpul terlalu lama dengan lingkungan karena merasa tak bisa ikut menentukan setiap kali ada kesepakatan warga

Obat-obatan yang dikonsumsi Adakah obat herbal/ obat lain yang dikonsumsi diluar resep. Klien sudah tak pernah lagi mengkonsumsi herbal yang dijual warung sejak menderita penyakit Diabetes Melitus tipe 2.

Apakah klien menggunakan obat-obatan dan alkohol untuk mengatasi masalahnya Klien pernah mengkonsumsi alkohol waktu usia muda sebelum menikah hanya untuk acara tertentu .

Masalah Keperawatan: Tidak masalah Keperawatan

STATUS MENTAL DAN EMOSI Penampilan 1. Cacat fisik

ada, jelaskan

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

(√) tidak ada,

jelaskan

2. Kontak mata

(√ )ada, jelaskan

tidak ada,

jelaskan

3. Pakaian

 tidak rapi, jelaskan  penggunaan tdk sesuai 4. Perawatan diri Jelaskan: klien biasa mandi
tidak rapi, jelaskan
penggunaan tdk sesuai
4.
Perawatan diri
Jelaskan: klien biasa mandi 2 kali dalam sehari selama dalam perawatan
diruangan
Masalah Keperawatan :. Tidak Ada masalah keperawatan
Tingkah Laku
Tingkah Laku
Jelaskan
Resah
Klien mengatakan tak tahu dengan masa
depan anaknya karena takut penyakitnya
dapat menghancurkan masa depan anak-
anaknya
Agitasi
Letargi
Sikap
Klien tak mau menentukan tujuan dan
pilihan tempat terapi injeksi yang di
diskusikan
Ekspresi wajah
Klien tampak sering termenung
Lain-lain
Masalah Keperawatan : Ketidakberdayaan
Pola komunikasi
POLA KOMUNIKASI
POLA KOMUNIKASI
Jelas
√ Aphasia
Koheren
Perseverasi
Bicara kotor
Rumination
Inkoheren
√ Tangensial
Neologisme
Banyak bicara/ dominan
Asosiasi longgar
Bicara lambat

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Flight of ideas

Sukar berbicara:

Lainnya:

Masalah Keperawatan: Ketidakberdayaan

Mood dan Afek PERILAKU  JELASKAN Senang Sedih √ Klien mengatakan tak semangat dalam menatap
Mood dan Afek
PERILAKU
JELASKAN
Senang
Sedih
Klien mengatakan tak semangat
dalam menatap kehidupan dan
harapan yang harus dicapai
Patah hati
Putus asa
Gembira
Euporia
Curiga
Lesu
Klien tak semangat ketika
berdiskusi tentang masalah
penyakitnya
Marah/ Bermusuhan
Lain-lain:
Masalah Keperawatan: - Ansietas Ringan Sedang
- Ketidakberdayaan
Proses Pikir
PERILAKU
Jelas
Logis
Mudah diikuti
Relevan
Bingung
Bloking
Delusi
Arus cepat
Asosiasi lambat
Curiga
Memori jangka pendek
Hilang
Utuh

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Memori jangka panjang

Hilang

Memori jangka panjang Hilang Utuh √

Utuh

Masalah Keperawatan: tidak ada masalah keperawatan

Persepsi

PERILAKU  JELASKAN Halusinasi Tidak ada kelainan Ilusi Tidak ada kelainan Depersonalisasi Tidak ada kelainan
PERILAKU
JELASKAN
Halusinasi
Tidak ada kelainan
Ilusi
Tidak ada kelainan
Depersonalisasi
Tidak ada kelainan
Derealisasi
Tidak ada kelainan
Halusinasi
Jelaskan
Pendengaran
Tidak ada kelainan
Penglihatan
Tidak ada kelainan
Perabaan
Tidak ada kelainan
Pengecapan
Tidak ada kelainan
Penghidu
Tidak ada kelainan
Lain-lain:
Tidak ada kelainan
MasalahKeperawatan: tidak ada masalah keperawatan
Kognitif
1.
Orientasi realita
Waktu
: klien mampu mengatakan orientasi waktu yang sesuai
Tempat
:
klien mampu mengatakan tentang dimana klien dirawat .
Orang
: klien mampu mengenali perawat yang bertugas
Situasi : klien mengetahui kenapa dirawat, dan merasakan
ketidakmampuannya akan kondisi yang diderita serta
harapan akan masa depan dan pikiran yang negatif akan
kondisi tubuhnya

2. Memori

Gangguan

jelaskan

gangguan daya ingat jangka panjang

Tidak ada kelainan

gangguan daya ingat jangka pendek

Tidak ada kelainan

gangguan daya ingat saat ini

Tidak ada kelainan

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

paramnesia, sebutkan

Tidak ada kelainan

hipermnesia, sebutkan

Tidak ada kelainan

amnesia, sebutkan

Tidak ada kelainan

3. Tingkat konsentrasi dan berhitung

Tingkatan  jelaskan mudah beralih Tidak ada kelainan tidak mampu berkonsentrasi Tidak ada kelainan tidak
Tingkatan
jelaskan
mudah beralih
Tidak ada kelainan
tidak mampu berkonsentrasi
Tidak ada kelainan
tidak mampu berhitung
sederhana
Tidak ada kelainan
MasalahKeperawatan : Ketidakberdayaan
IDE-IDE BUNUH DIRI
Ide-ide merusak diri sendiri/ orang lain
Ya
Tidak (√)
Jelaskan:
MasalahKeperawatan: tidak ada masalah keperawatan
V. KULTURAL DAN SPIRITUAL
Agama yang dianut
1.
Bagaimana kebutuhan klien terhadap spiritual dan pelaksanaannya?
Klien selama dirawat tidak menjalankan kewajiban sholat lima waktu,
namun hanya bisa berdoa
2.

Apakah klien mengalami gangguan dalam menjalankan kegiatan spiritualnya setelah mengalami kekerasan atau penganiayaan? Tidak ada

3. Adakah pengaruh spiritual terhadap koping individu Klien merasa menyerahkan kondisi penyakitnya kepada tuhan Yang Maha Esa

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Budaya yang diikuti

Apakah ada budaya klien yang mempengaruhi terjadinya masalah

Klien merasa tak mempunyai masalah dalam penyakit keturunan dan merasa penyakitnya ini karena dulunya jarang memperhatikan prilaku dan gaya hidup

Tingkat perkembangan saat ini

karena kondisi klien yang menderita penyakit kronis. Masalah Keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan
karena kondisi klien yang menderita penyakit kronis.
Masalah Keperawatan: Tidak ada masalah keperawatan

Klien termasuk dalam perkembangan dewasa menengah, dimana mulai

mengalami tahapan regenarasi kepada anak anaknya, sedangkan dalam

fungsi keluarga dalam fase fungsi perawatan kesehatan yang terganggu,

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Analisa Data

No. Data subjektif dan objektif Masalah keperawatan 1 DS: - Klien mengatakan merasa sedih dengan
No.
Data subjektif dan objektif
Masalah keperawatan
1
DS:
-
Klien mengatakan merasa sedih
dengan sakitnya yang tak ada
perubahan
Ketidakberdayaan
-
Klien tak mau bila disuruh untuk
mempraktekan tindakan pemberian
insulin pada badannya
-
Klien tak bisa menyebutkan
rencana dalam penetapan diet bagi
penderita diabetes.
-
Klien tak bisa menentukan apa saja
obat oral yang biasa diminum dan
kegunaannya
DO:
-
Klien tampak sedih dan murung
saat menceritakan masalahnya
-
klien tampak sering termenung
2
DS:
-
khawatir dengan tindakan
Ansietas Ringan Sedang
penusukan pada daerah dada
-
klien
merasa
mual
jika
membayangkan obat-obat yang
harus dikonsumsi setiap harinya
-
Klien khawatir dan takut
penyakitnya bertambah parah
-
klein menyebutkan merasa tak ada
keinginan untuk beraktivitas
dilingkungan rumah klien
DO:
-
Klien tampak murung
-
Klien terlihat gelisah
-
Klien sulit berkonsentrasi dengan
pembicaraan tentang prosedur
tindakan
3
DS :
Nyeri Akut
-
Klien mengatakan sakit bila
digerakan pada daerah penusukan
-
Klien mengatakan dalam skala 4
DO :
-
Klien tampak meringis
-
Klien tampak mempertahankan
posisi badannya, secara tegak

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

4 DS: - Perut terasa mual, ada rasa ingin muntah, makan sulit hanya masuk 1-4
4
DS:
-
Perut terasa mual, ada rasa ingin
muntah, makan sulit hanya masuk
1-4 sendok makan.
Resiko perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh
DO:
-
Klien tampak lemah
-
TD: 100/70 mmHg, Nadi : 93
x/menit, suhu 36.5 C, dan frekuensi
napas 20 x/menit.
- Tinggi badan 165 cm
- BB sebelum sakit 65 kg ( ± 3
bulan sebelum masuk RS)
- Berat badan saat ini 63 kg.
- BB ideal 60,5 - 65,5 kg.
- IMT = 23 (normal)
- Lingkar lengan atas 20 cm
- Konjungtiva pucat, warna pink
muda.
- Sklera agak keruh, ikterik tidak
ada.
- Bibir agak pucat dan kering
- Hb: 12,8 mg/ dL

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

DIAGNOSA NO TUJUAN RENCANA TINDAKAN RASIONAL KEPERAWATAN 1. Ketidakberdayaan Tujuan : klien mampu mengontrol
DIAGNOSA
NO
TUJUAN
RENCANA TINDAKAN
RASIONAL
KEPERAWATAN
1.
Ketidakberdayaan
Tujuan : klien mampu
mengontrol
ketidakberdayannya
Kriteria hasil :
Sp 1 Pasien
- Kaji ketidakberdayaan klien
-
- Bantu klien menguraikan
perasannya
Untuk menentukan intervensi
selanjutnya
-
- Klien mampu berpartisipasi
dalam pengambilan
keputusan.
Agar klien dapat mengungkapkan
penyeba ketidakberdayaannya
- Latih klien untuk berpikir
positif
-
Berpikir positif membawa perubahan
baik dalam fisik dan mental individu
- Klien mampu termotivasi
untuk aktif mencapai tujuan
yang realistis
-
Latih klien untuk
mengembangkan harapan
positif (afirmasi positif)
Sp 2 Pasien
-
Untuk menegaskan bahwa klien
mampu lebih baik
-
-
Evaluasi kondisi
ketidakberdayaan
Untuk mengetahui perkembangan
respon ketidakberdayaannya
-
-
Latih klien untuk mengontrol
ketidakberdayaan
Sp 1 keluarga
Agar dapat mengendalikan situasi
tertentu
-
-
Jelaskan kondisi klien dan
cara merawat
Sp 2 Keluarga
Agar keluarga mengetahui kondisi
klien dan mampu berperan dalam
perawatan
-
-
Evaluasi peran keluarga
merawat klien
Untuk melihat sejauh mana peran
keluarga dalam merawat klien
2.
Ansietas Ringan Sedang
Umum : ansietas berkurang

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

Khusus: - Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. - Bina hubungan saling percaya
Khusus:
- Klien dapat membina
hubungan saling percaya
dengan perawat.
- Bina hubungan saling
percaya
-
Menentukan tindakan keperawatan
yang akan dilakukan
- Perkenalkan diri, yanyakan nam
- Klien mampu mengenal
ansietas.
aklien dan panggilan yang
disukainya.
-
- Klien mampu mengatasi
ansietas melalui teknik
relaksasi nafas dalam dan
distraksi.
- Kaji kebutuhan rasa aman klien.
Rasa aman dapat menurunkan
ansietas.
-
- Sediakan waktu untuk ekspress
feeling.
Ungkapan hati dapat meringankan
beban pikiran atau kecemasan.
- klien dapat menggunakan
tehnik relaksasi nafas dalam
secara mandiri
-
- Bantu klien mengenal
ansietas.
Dengan mengenal masalah klien akan
lebih kooperatif terhadap tindakan
perawatan yang akan dilakukan.
- Klien dapat dukungan
keluarga dalam mengatasi
ansietas.
 Jelaskan kepada klien tentang
 pengertian ansietas penyebab
tanda tanda dan akibat dari
ansieatas.
 Bantu klien mengidentifikasi
penyebab ansietas yang
dialaminya.
 Bantu klien mengidentifikasi
tanda tanda ansietas yang
dialaminya
 Bantu klien mengidentifikasi
akibat dari ansietas yang
dialaminya.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

 Bantu klien mengidentifikasi cara yang dilakukan untuk menurunkan kecemasan yang telah dilakukan.  Motivasi
 Bantu klien mengidentifikasi
cara yang dilakukan untuk
menurunkan kecemasan yang
telah dilakukan.
 Motivasi klien untuk tetap
melakukan cara menurunkan
kecemasan yang telah
dilakukan.
- Ajarkan cara lain mengatasi
kecemasan dengan relaksasi
nafas dalam dan distraksi serta
hipnosis lima jari.
 Demonstrasikan cara
melakukan relaksasi nafas
dalam dan distraksi serta
-
Memberikan
pengetahuan
tentang
tehnik relaksasi nafas dalam.
 Demonstrasi memungkinkan klien
untuk melihat secara langsung
pelaksanaan relaksasi nafas dalam.
 Dengan memperagakan kembali klien
akan dapat lebih mengingat pelajaran
yang didapat.
hipnosis lima jari.
 Minta
klien
untuk
mendemonstrasikan kembali
relaksasi
nafas
dalam
dan
distraksi
hipnosis lima jari.
- Agar klien terbiasa melakukan relaksasi
nafas dalam ketika mengalami
kecemasan.
- Motivasi klien untuk melakukan
tehnik relaksasi nafas dalam dan
hipnosis lima jari secara
mandiri.
-
Keluarga
merupakan
sistem
pendukung utama bagi klien.
-
Keluarga mempu merawat

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

anggota keluarga dengan ansietas dengan latihan relaksasi nafas dalam dan hipnosis lima jari. 3 Nyeri
anggota keluarga dengan
ansietas dengan latihan
relaksasi nafas dalam dan
hipnosis lima jari.
3
Nyeri
Tujuan :
Nyeri berkurang/hilang
Kriteria hasil :
- TTV normal,
- Sebagai
melakukan
- klien tenang,
- Kaji skala nyeri, lokasi,
karakteristik durasi, frekunsi,
dan faktor pencetus nyeri
dasar
untuk
intervensi keperawatan yang tepat
- klien tidak tampak
kesakitan.
- Monitor tanda-tanda vital
- Perubahan
tanda
vital
dapat
- Ajarkan
teknik
mengindikasikan nyeri
nonfarmakologi untuk
- Untuk
mengurangi
nyeri
dengn
cara
- mengurangi nyeri teknik napas
dalam
sederhana
- Kolaborasi untuk pemberian
- Untuk mengurangi nyeri
analgetik
Resiko perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh
Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat
terpenuhi
Kriteria hasil :
- Turgor baik, intake dapat
masuk sesuai kebutuhan, BB
sesuai
- Observasi texture, turgor kulit.
- Mengetahui status nutrisi klien.
- Observasi intake out put.
- Berat badan dan tinggi badan
ideal.
- Kaji
status
nutrisi
dan
- Mengetahui keseimbangan nutrisi klien.
kebiasaan makan.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

- Keluarga Klien mematuhi dietnya. - - Kadar gula darah dalam batas normal. - Tidak
-
Keluarga Klien mematuhi
dietnya.
-
- Kadar gula darah dalam
batas normal.
- Tidak ada tanda-tanda
hiperglikemia/hipoglikemia.
- Anjurkan kaluarga klien untuk
mematuhi diet yang telah
diprogramkan.
Untuk mengetahui tentang keadaan dan
kebutuhan nutrisi klien sehingga dapat
diberikan tindakan dan pengaturan diet
yang adekuat.
- Timbang
berat
badan
setiap
seminggu sekali.
-
- perubahan
Identifikasi
pola
makan.
Kepatuhan terhadap diet dapat
mencegah komplikasi terjadinya
hipoglikemia/hiperglikemia.
-
- Kerja
sama
dengan
tim
kesehatan
lain
untuk
Mengetahui perkembangan berat badan
pasien (berat badan merupakan salah
satu indikasi untuk menentukan diet).
pemberian diet.

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

NAMA UMUR :TN. H : 44 TAHUN DX MEDIS : DIABETES MELITUS TIPE 2 RUANGAN
NAMA
UMUR
:TN. H
: 44 TAHUN
DX MEDIS : DIABETES MELITUS TIPE 2
RUANGAN : ANTASENA 3/7
DIAGNOSA
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
EVALUASI
KEPERAWATAN
Ketidakberdayaan
Tanggal 03 – juni -2014
Jam 15.00 Sp 1,2 klien
S : klien mengatakan saat ini merasa bingung, merasa
-
Membantu klien untuk mengungkapkan perasaannya
-
Mendiskusikan dengan klien tentang masalah yang dihadapinya
tidak bisa melakukan apa-apa, tidak mengerti harus
berbuat apa, pekerjaannya juga jadi terbengkalai
karena sering merasa tak mampu.
-
Membantu klien mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi ketidakberdayaannya
O
: klien masih tampak sedih, bicara dan gerakan lamban
A
: ketidakberdayaan belum teratasi
-
Membantu klien mengidentifikasi hal yang negatif dan bantu
menurunkan dengan cara meningkatkan pemikiran yang positif
P
: latih klien mengontrol ketidakberdayaan
Ansietas Ringan Sedang
Jam 16 : 45
S
-
Mengkaji kebutuhan rasa aman klien
-
Menyediakan ekpress feeling perasaaan klien
-
Melatih teknik relaksasi napas dalam dan distraksi
: Klien mengatakan khawatir akan tindakan
penusukan pada dirinya
- Klien takut bila sakitnya bertambah parah
- Klien bersedia ketika ditawarkan teknik relaksasi.
-
Masukan dalam jadwal harian
O
:
klien tampak termenung
klien terlihat bersedih ketika bercerita tentang
rencana tindakan punksi
- Klien tampak mau mempraktekan teknik napas
dalam dan distraksi
A
: Ansietas Ringan Sedang belum Teratasi

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

P : lanjutkan intervensi Sp 3 Motivasi latihan Sp 3 teknik relaksasi Resiko perubahan nutrisi
P
:
lanjutkan intervensi Sp 3
Motivasi latihan Sp 3 teknik relaksasi
Resiko perubahan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Jam 17 : 30 WIB
S
-
Mengobservasi texture, turgor kulit.
: klien mengatakan masih terasa mual
- klien mengatakan tidak selera makan.
-
Mengobservasi intake out put
O
-
Mengkaji status nutrisi dan kebiasaan makan.
: Turgor kulit cukup.
Porsi makan malam habis ½ porsi
-
Menganjurkan klien makan-minum adekuat sesuai diet.
A
-
Mengidentifikasi perubahan pola makan.
: Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
belum teratasi
-
Bekerjasama dalam penyediaan alat makan dari rumah.
P
: lanjutkan intervensi dengan menganjurkan klien
makan sesuai diet
- Bekerjasama dengan keluarga dalam menyiapkan
tradisi makan dirumah .piring dan sendok kebiasaaan
DIAGNOSA
TINDAKAN KEPERAWATAN
EVALUASI (SOAP)
KEPERAWATAN
Ketidakberdayaan
Tanggal 04 – juni - 2014
S:
Jam 15.00
Sp 2,3 klien
-
Membantu klien untuk mengungkapkan perasannya
klien mengatakan saat ini merasa sedih, merasa tidak
bisa melakukan apa-apa, kondisi sakitnya
membuatnya harus meninggalkan banyak pekerjaan.
-
Mendiskusikan dengan klien tentang masalah yang
dihadapinya
O
: klien masih tampak sedih, bicara dan gerakan lamban
A
: ketidakberdayaan belum teratasi
-
Membantu klien mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi ketidakberdayaannya
P
: lanjutkan Intervensi Sp ketidakberdayaan
-
Membantu klien pemikiran yang positif dan latihan
mengembangkan harapan positif (afirmasi positif)
Sp Keluarga
P: latih klien mengontrol ketidakberdayaan
Sp Keluarga: Motivasi keluarga untuk berperan merawat
klien
-
Mendiskusikan dengan keluarga tentang kondisi klien dan cara

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

merawat klien - Ansietas Ringan Sedang Tanggal 04 juni 2014 Jam 14 : 45 S
merawat klien
-
Ansietas Ringan Sedang
Tanggal 04 juni 2014
Jam 14 : 45
S
: klien masih merasa khawatir akan rencana tindakan
punksi
-
Mengkaji kebutuhan rasa aman klien
-
klien bersedia diajarkan teknik hypnosis lima jari.
-
Menyediakan ekpress feeling perasaaan klien
O
:
-
Melatih teknik relaksasi napas dalam dan distraksi
-
Melatih teknik hypnosis lima jari
klien tampak berkonsentrasi ketika berbincang.
- klien tampak mau mempraktekan teknik hypnosis
lima jari
-
Masukan dalam jadwal harian
A
: Ansietas Ringan Sedang belum Teratasi
P
:
lanjutkan intervensi Sp 3
-
Motivasi latihan Sp 3 teknik hypnosis lima jari
-
Masukan dalam jadwala harian
Resiko nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Jam : 17 : 30 WIB
S:
-
Mengobservasi texture, turgor kulit.
-
Mengobservasi intake out put
klien mengatakan makan mulai berselera setiap makan
nasi tim.
- klien mengatakan kadang masih terasa mual
-
Mengkaji status nutrisi dan kebiasaan makan.
O
-
Menganjurkan klien makan-minum adekuat sesuai diet.
-
Mengidentifikasi perubahan pola makan.
-
Bekerjasama dengan keluarga dalam penyediaan alat kesehatan
: Turgor kulit cukup.
Porsi makan malam habis ½ porsi
Klien tampak makan dengan piring dan sendok dari
rumah
-
Bekerjasama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian diet
rendah serat
A : Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh belum teratasi
P
: lanjutkan intervensi dengan tim kesehatan lain untuk
pemberian diet rendah serat

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

DIAGNOSA TINDAKAN KEPERAWATAN EVALUASI (SOAP) KEPERAWATAN Ketidakberdayaan Tanggal 05 juni 2014 Jam 09 .00 .
DIAGNOSA
TINDAKAN KEPERAWATAN
EVALUASI (SOAP)
KEPERAWATAN
Ketidakberdayaan
Tanggal 05 juni 2014
Jam 09 .00 . Sp 4 klien
S:
-
Membantu klien untuk mengungkapkan perasannya
klien mengatakan senang bisa berbincang bincang
dengan perawat, klien akan mencoba mempraktekan
penatalaksanaan diet bagi dirinya
-
Mendiskusikan dengan klien tentang masalah yang
dihadapinya
O
: klien tampak ceria, klien terlihat konsentrasi dalam
pembicaraanya
-
Membantu klien berpartisipasi dalam keputusan yang
berkenaan dengan perawatan klien
Sp Keluarga
A
: ketidakberdayaan belum teratasi
P
: latih klien mengambil keputusan tentang perawatan
sendiri.
-
Mendiskusikan dengan keluarga tentang kondisi klien dan
cara merawat klien
-
Mendiskusikan dengan keluarga dalam memotivasi klien
Ansietas Ringan Sedang
Tanggal 05 – juni - 2014
Jam 15.10 WIB Sp 3 klien
S
-
Mendiskusikan persepsi dan perasaannya klien
-
Mendiskusikan latihan teknik relaksasi napas dalam dan
distraksi
: klien mengatakan mulai mengerti kenapa harus
dilakukan tindakan punksi
- klien mau melakukan latihan napas dalam sehari tiga
kali
-
-
Mendiskusikan latihan hypnosis lima jari
klien akan melakukan hypnosis lima jari bila lagi
sedang cemas
-
Menanyakan latihan teknik relaksasi napas dalam dan hypnosis
lima jari dalam kekeseharian klien sesuai jadwal yang telah
disepakati
O
: klien tampak sedih, sering termenung
-
klien tanpak konsentrasi dalam hypnosis lima jati
-
klien tanpak konsentrasi dalam latihan relaksasi
napas dalam
A
: Ansietas Ringan Sedang belum teratasi
P
:.
P: Bantu klien latihan teknik relaksasi napas dalam dan

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

distraksi sesuai jadwal - Bantu klien melakukan teknik hypnosis lima jari dalam kesehariannya K: Mendiskusikan
distraksi sesuai jadwal
- Bantu klien melakukan teknik hypnosis lima jari
dalam kesehariannya
K: Mendiskusikan penyebab dan cara mengatasi
masalah kecemasan klien
Resiko nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Jam : 17 : 40 Wib
S
-
Mengobservasi texture, turgor kulit.
-
Mengobservasi intake out put
: klien mengatakan makannya habis dan berselera
dengan diet nasi Tim
- klien mengatakan sekarang sudah ada rasa nasi.
-
Mengkaji status nutrisi dan kebiasaan makan.
O
-
Menganjurkan klien makan-minum adekuat sesuai diet.
: Turgor kulit cukup,.
Porsi makan malam habis ¾ porsi.
-
Mengidentifikasi perubahan pola makan.
-
Bekerjasama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian diet
rendah serat dan mengganti bubur dengan nasi tim
Klien tampak senang dengan menu hari ini.
A : Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh teratasi
P
: Pertahankan intervensi
DIAGNOSA
TINDAKAN KEPERAWATAN
EVALUASI (SOAP)
KEPERAWATAN
Nyeri
Tanggal 06 juni 2014
jam 16:10 WIB
S : klien mengatkan nyeri berkurang sesaat setelah
melakukan teknik relaksasi nafas dalam
-
memonitor keadaan umum dan tanda tanda vital
O
-
mengkaji skala nyeri 5 (skala 1 – 10 )
-
memberikan posisi yang nyaman bagi klien
: klien tampak lebih tenang,
- klien mempraktekkan teknik nafas dalam dan guide
imagery
-
melatih klien teknik nafas dalam untuk mengurngi nyeri dan
guide imagery
A
: nyeri belum teatasi
P
-
kolaborasi untuk pemberian terapi analgesik
: P: latih teknik relaksasi dan distraksi
K; Latihan teknik nafas dalam

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014

ketidakberdayaan Tanggal : 06 – juni -2014 Jam 17.00 Sp 4.5 klien S: klien mengatakan
ketidakberdayaan
Tanggal : 06 – juni -2014
Jam 17.00 Sp 4.5 klien
S:
klien mengatakan senang dengan kondisi sekarang,
-
Membantu klien untuk mengungkapkan perasannya
- klien mau melakukan pelaksanaan diet dan melakukan
tindakan injeksi pada dirinya
-
Mengevaluasi kondisi ketidakberdayaannya
O
-
Membantu klien berpartisipasi dalam pengambilan keputusan
yang berkenaan dengan perawatan sendiri
: klien tampak antusias , raut wajah klien tampak
senang
A
: ketidakberdayaan teratasi
-
Memotivasi klien aktif dalam mencapai tujuan yang realistis
P
: lanjutkan intevensi.
Sp 2 : evaluasi dan monitor motivasi klien dalam pola
pikir positif dan
Sp Keluarga : motivasi keluarga dalam peran harapan
positif klien
Ansietas Ringan Sedang
Tanggal 06 – juni - 2014
Jam 15.20 WIB Sp 4 klien
S : klien mengatakan nyeri bila menggerakan badannya
-
Mendiskusikan persepsi dan perasaannya klien
akibat tindakan punksi
- klien khawatir akan hasilnya
-
Mempraktekan teknik relaksasi dalam dan hypnosis lima jari
dalam kesehariananya sesuai jadwal yang telah disepakati
O
: klien tampak sering termenung, klien Nampak sering
menyendiri
-
Sp Keluarga: motivasi keluarga dalam peran latihan teknik
relaksasi napas dalam dan distraksi
A
: AnsietasRingan Sedang belum teratasi
P
:. P: bantu kien latihan teknik relaksasi napas dalam
dan distraksi
K: motivasi klien dalam pelaksanaan latihan teknik
relaksasi napas dalam

Asuhan keperawatan

, Asep Hidayat, FIK UI, 2014