Anda di halaman 1dari 9

HIPOTIROID PADA ANAK

A. PENGERTIAN

Hipotiroid adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada salah satu tingkat dari aksis hipotalamus-hipofisis-tiroid-end organ, dengan

akibat terjadinya defisiensi hormon tiroid, ataupun gangguan respon jaringan terhadap hormon tiroid.

B. PENYEBAB

Menurut penyebabnya, hipotiroid pada anak dibedakan menjadi 2, yaitu :

1) Hipotiroid kongenital.

2) Hipotiroid dapatan.

Sebab-sebab bawaan (kongenital) :

Disgenetik kelenjar tiroid: ektopik, agenesis, aplasi atau hipoplasi.

Dishormonogenesis.

Hypothalamic-pituitary hypothyroidism.

Bersifat sementara :

Induksi obat-obatan.

Antibodi maternal.

Idiopatik.

Ibu mendapat

Bahan goitrogen.

Pengobatan yodium radio-aktif.

Sebab-sebab yang didapat (acquired):

Tiroiditis limfositik menahun.

Bahan-bahan goitrogen (yodium, tiourasil, dsb).

Tiroidektomi.

Penyakit infiltratif (sistinosis, histiositosis-X).

Defisiensi yodium (gondok endemik).

Euthyroid sick syndrome.

Hipopituitarisme

Hipotiroid Kongenital

Hipotiroid Kongenital adalah penyakit yang diakibatkan oleh berkurangnya atau tidak diproduksinya hormon tiroid setelah bayi lahir.

Ada beberapa penyebab penyakit hipotiroid kongenital. Tergantung dari penyebabnya hipotiroid kongenital dapat bersifat permanen (pada sebagian

besar kasus, > 90%), dapat pula bersifat sementara atau transient (pada sebagian kecil kasus, <20%).

Hipotiroid kongenital yang bersifat sementara disebabkan oleh 2 hal:

1) Jika ibu menggunakan obat-obatan yang menekan produksi hormon tiroid (khususnya ibu yang menderita hipertiroid) pada saat hamil sehingga janin

terpapar dengan obat-obatan tersebut, atau jika ibu memproduksi antibodi tiroid selama hamil yang memblokir produksi hormon tiroid pada janin.

2) Kadar yodium yang berlebihan selama masa kehamilan / menyusui akibat penggunaan obat-obatan yang mengandung yodium pada ibu yang tidak

menderita kekurangan yodium. Walaupun yodium sangat penting dalam pembuatan hormon tiroid, kadar yang terlalu tinggi dalam tubuh bayi dapat

menurunkan fungsi kelenjar tiroid sehingga produksi hormon terganggu.

Sedangkan hipotiroid kongenital yang bersifat permanen disebabkan oleh 3 hal:


1) Kesalahan pada pembentukan kelenjar tiroid pada masa perkembangan janin, seperti kegagalan total atau partial dari perkembangan kelenjar tiroid

dan tumbuhnya kelenjar tiroid pada tempat yang salah. Kesalahan pada pembentukan kelenjat tiroid ini adalah penyebab tersering (80-85 %

kemungkinan terjadi ) namun kemungkinan berulang pada anak yang berikutnya sangat jarang dengan frekuensi 1 dari 4000 bayi lahir.

2) Gangguan pada proses pembuatan hormon tiroid, walaupun pembentukan kelenjar tiroid normal. Gangguan ini menyebabkan berkurangnya atau tidak

adanya produksi hormon tiroid sehingga bayi menderita hipotiroid kongenital. Gangguan ini diturunkan dari orang tua kepada anaknya dengan

kemungkinan pada setiap kehamilan berikutnya 1 dari 4 anaknya akan menderita gangguan proses pembuatan hormon tiroid.

C. PATOFISIOLOGI

Hipotiroid dapat disebabkan oleh gangguan sintesis hormon tiroid atau gangguan pada respon jaringan terhadap hormon tiroid.

Sintesis hormon tiroid diatur sebagai berikut :

Hipotalamus membuat thyrotropin releasing hormone (TRH) yang merangsang hipofisis anterior.

Hipofisis anterior mensintesis thyrotropin (thyroid stimulating hormone = TSH) yang merangsang kelenjar tiroid.

Kelenjar tiroid mensintesis hormone tiroid (triiodothyronin = T3 dan tetraiodothyronin = T4 = thyroxin) yang merangsang metabolisme jaringan

yang meliputi : konsumsi oksigen, produksi panas tubuh, fungsi syaraf, metabolisme protrein, karbohidrat, lemak, dan vitamin-vitamin, serta kerja

daripada hormon-hormon lain.

D. GEJALA KLINIS

Riwayat dan gejala pada neonatus dan bayi :

Fontanella mayor yang lebar dan fontanella posterior yang terbuka.

Suhu rektal < 35,5C dalam 0-45 jam pasca lahir.

Berat badan lahir > 3500 gram; masa kehamilan > 40 minggu.

Suara besar dan parau.

Hernia umbilikalis.

Riwayat ikterus lebih dari 3 hari.

Miksedema.

Makroglosi.

Riwayat BAB pertama > 20 jam setelah lahir dan sembelit (< 1 kali/hari).

Kulit kering, dingin, dan motling (berbercak-bercak).

Letargi.

Sukar minum.

Bradikardia (< 100/menit).

Diagnosis dan pengobatan dini penting untuk mencegah mental yang permanen pada penderita.

Gejala pada anak besar :

Dengan goiter maupun tanpa goiter.

Gangguan pertumbuhan (kerdil).

Gangguan perkembangan motorik, mental, gigi, tulang, dan pubertas.

Ganguan perkembangan mental permanen terutama bila onset terjadi sebelum umur 3 tahun.

Aktivitas berkurang, lambat.

Kulit kering.

Miksedema.

Tekanan darah rendah, metabolisme rendah.

Intoleransi terhadap dingin.


E. PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS

Anamnesis :

Apakah berasal dari daerah gondok endemik?

Struma pada ibu. Apakah ibu diberi KI, PTU waktu hamil?

Adakah keluarga yang struma?

Perkembangan anak.

Gejala klinis :

Dicurigai adanya hipotiroid bila skor Apgar hipotiroid kongenital > 5; tetapi tidak adanya gejala atau tanda yang tampak, tidak menyingkirkan

kemungkinan hipotiroid kongenital.

Laboratorium :

Darah, air kemih, tinja, kolesterol serum.

T3, T4, TSH.

Radiologis :

USG atau CT scan tiroid.

Tiroid scintigrafi.

Umur tulang (bone age).

X-foto tengkorak .

Diagnosis hipotiroid dapat dilakukan :

In utero : Pemeriksaan USG (ada tidaknya goiter).

Post natal : Uji tapis tiroid pada bayi baru lahir (setelah hari ketiga) :

Pelaksanaan bisa dilakukan dengan 3 cara:

Pemeriksaan primer TSH.

Pemeriksaan T4 ditambah dengan pemeriksaan TSH dari sampel darah yang sama, bila hasil T4 rendah.

Pemeriksaan TSH dan T4 sekaligus pada satu sampel darah.

Nilai cut-off adalah 25U/ml. Bila nilai TSH <25U/ml dianggap normal; kadar TSH >50 U/ml dianggap abnormal dan perlu pemeriksaan klinis

dan pemeriksaan TSH dan T4 plasma. Bila kadar TSH tinggi > 40 U/ml dan T4 rendah, < 6 g/ml, bayi diberi terapi tiroksin dan dilakukan

pemeriksaan lebih lanjut. Bayi dengan kadar TSH diantara 25-50 U/ml, dilakukan pemeriksaan ulang 2-3 minggu kemudian.

Skor Apgar Hipotiroid Kongenital.

Tabel : Skor Apgar pada hipotiroid kongenital

Gejala klinis Skore

Hernia umbilicalis 2

Kromosom Y tidak ada (wanita) 1

Pucat, dingin, hipotermi 1

Tipe wajah khas edematus 2

Makroglosi 1

Hipotoni 1

Ikterus lebih dari 3 hari 1

Kulit kasar, kering 1

Fontanella posterior terbuka (>3cm) 1

Konstipasi 1
Berat badan lahir > 3,5 kg 1

Kehamilan > 40 minggu 1

Total 15

F. DIAGNOSIS BANDING

Mongolisme

Sering disertai hipotiroid kongenital, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan faal tiroid secara rutin.

epikantus (+)

makroglosi (+)

miksedema (-)

retardasi motorik dan mental

Kariotyping, trisomi 21

G. PENATALAKSANAAN

Hormon tiroid

Obat pilihan adalah Sodium L-Thyroxine, diberikan sedini mungkin.

1. Bila fasilitas untuk mengukur faal tiroid ada, diberikan dosis seperti tabel berikut :

Umur Dosis g/kg BB/hari

0-3 bulan 10-15

3-6 bulan 8-10

6-12 bulan 6-8

1-5 tahun 5-6

2-12 tahun 4-5

> 12 tahun 2-3

Kadar T4 dipertahankan di atas pertengahan nilai normal.

2. Bila fasilitas untuk mengukur faal tiroid tidak ada, dapat dilakukan therapeutic trial sampai usia 3 tahun dimulai dengan dosis rendah dalam 2-3

minggu; bila ada perbaikan klinis, dosis dapat ditingkatkan bertahap atau dengan dosis pemberian + 100 g/m2/hari.

Penyesuaian dosis tiroksin berdasarkan respon klinik dari uji fungsi tiroid T3, T4, dan TSH yang dapat berbeda tergantung dari etiologi hipotiroid.

H. PEMANTAUAN

Kemungkinan terjadinya hipertiroidisme perlu diwaspadai. Dosis yang berlebihan dapat mengakibatkan takikardia, kecemasan berlebihan, gangguan

tidur, dan gejala tirotoksikosis yang lain. Pemberian tiroksin berlebihan jangka lama mengakibatkan terjadinya kraniosinostosis.

Pemeriksaan fungsi tiroid :

2-4 minggu setelah terapi dimulai dan 2 minggu setelah setiap perubahan dosis.

Secara berkala dianjurkan tiap 1-2 bulan dalam 1 tahun pertama kehidupan, selanjutnya tiap 3 bulan pada tahun kedua sampai ketiga.

Apabila fase perkembangan otak sudah dilalui, pemantauan dapat dilakukan 3 bulan sampai 6 bulan sekali dengan mengevaluasi pertumbuhan linear,

berat badan, perkembangan motorik dan bahasa serta kemampuan akademis untuk yang sudah bersekolah. Umur tulang dipantau tiap tahun.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Hipotiroid adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada salah satu tingkat dari aksis hipotalamus-hipofisis-tiroid-end organ,

dengan akibat terjadinya defisiensi hormon tiroid, ataupun gangguan respon jaringan terhadap hormon tiroid.

Menurut penyebabnya, hipotiroid pada anak dibedakan menjadi 2, yaitu :

1) Hipotiroid kongenital.

2) Hipotiroid dapatan.

Hipotiroid Kongenital adalah penyakit yang diakibatkan oleh berkurangnya atau tidak diproduksinya hormon tiroid setelah bayi lahir.

Ada beberapa penyebab penyakit hipotiroid kongenital. Tergantung dari penyebabnya hipotiroid kongenital dapat bersifat permanen (pada sebagian

besar kasus, > 90%), dapat pula bersifat sementara atau transient (pada sebagian kecil kasus, <20%).

B. Saran

Berdasarkan hasil pembahasan materi di atas diharapkan dapat menjadi bahan masukan yang bermanfaat bagi mahasiswa dan petugas kesehatan

untuk dapat diaplikasikan dalam tindakan pelayanan keperawatan lebih khusus dalam bidang keperawatan anak.

Dan juga karena keterbatasan referensi yang mendukung, untuk itu diharapkan kritik dan saran guna untuk kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Http://Www.Pediatrik.Com/Isi03.Php?Page=Html&Hkategori=Pdt&Direktori=Pdt&Filepdf=0&Pdf=&Html=07110-Buoi228.Html

Http://Joicehappy.Blogspot.Com/2007/11/Hipotiroid-Kongenital.Html

Http://id.wikipedia.org/wiki/Hormon_tiroid.Htm

BAYI DENGAN HIPOTIROIDISME KONGENITAL


Posted by Aswidha Fazani M on Saturday, January 14, 2012 with No comments

A.Definisi
Hipotiroidisme Kongenital adalah penyakit bawaan akibat kekurangan hormon tiroid. Hormon tiroid
adalah hormon yang dihasilkan kelenjar tiroid yang mempunyai peran penting dalam pertumbuhan,
metabolisme, dan pengaturan cairan tubuh.

Hipotiroidisme kongentital dapat diklasifikasikan menjadi :


1.Hipotiroidisme Kongenital menetap
2.Hipotiroidisme Kongenital transien
Hipotiroidisme kongenital dapat menyebabkan retardasi mental dan kegagalan pertumbuhan.
Disebabkan karena tidak adekuatnya produksi hormone tiroid pada bayi baru lahir karena defek
anatomik kelenjar tiroid, inborn error metabolism tiroid atau defisiensi yodium. Kira kira satu dari
3000 bayi lahir dengan Hipotiroid Kongenital, meskipun kelainan ini jarang tetapi mungkin saja terjadi
pada bayi ibu.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa bayi dengan kelainan hipotiroid kongenital yang diobati sebelum
berusia tiga bulan mempunyai kemungkinan mencapai tingkat intelegensil IQ > 90 (normal) yaitu
berkisar antara 75 85%. Sedangkan yang diobati setelah berusia tiga bulan, 75%nya tetap
menderita keterbelakangan mental atau dapat menjadi normal namun dengan beberapa
permasalahan antara lain kesulitan belajar, kelainan tingkah laku, atau kelainan neurologist non
spesifik.

B.Penyebab
Hipotiroidisme kongenital disebabkan oleh kekurangan iodium dan hormon tiroid yang terjadi sebelum
atau segera sesudah penderita dilahirkan. Hipotiroidisme kongenital atau kretinisme ini mungkin
sudah timbul sejak lahir atau menjadi nyata dalam beberapa bulan pertama kehidupan. Hipotiroidisme
ini mempunyai gejala-gejala yang sangat kompleks dan bermacam-macam manifestasinya.

Hormon tiroid yang dikeluarkan oleh kelenjar tiroid (kelenjar gondok) dibutuhkan sepanjang hidup
manusia untuk mempertahankan metabolisme serta fungsi organ dan peranannya sangat kritis pada
bayi yang sedang tumbuh pesat. Kekurangan hormon tiroid sejak lahir (hipotiroid kongenital) bila tidak
diketahui dan diobati sejak dini akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan.
Hipotiroidisme kongenital bisa disebabkan oleh berbagai kelainan seperti misalnya kelainan anatomis
berupa tidak terbentuknya kelenjar tiroid (agenesis/ atiroid), hipotrofi, atau kelenjar terletak tidak pada
tempatnya (ektopik). Selain itu kelainan genetik, kekurangan atau kelebihan iodium, serta gangguan
sintesis hormon tiroid atau dishormogenesis juga dapat menyebabkan hipotiroidisme kongenital.

C.Tanda dan Gejala


Pada neonatus, gejala khas hipotiroidisme seringkali tidak tampak dalam beberapa minggu pertama
kehidupan. Hanya 10-15% bayi baru lahir hipotiroidisme yang datang dengan manifestasi klinik
mencurigakan, yang membuat dokter waspada akan kemungkinan hipotiroidisme. Salah satu tanda
yang paling khas dari hipotiroidisme kongenital pada bayi baru lahir adalah fontanela posterior
terbuka dengan sutura cranial yang terbuka lebar akibat keterlambatan maturasi skeletal prenatal.
Kelambatan maturasi tulang, dapat dinilai dengan pemeriksaan radiologik pada daerah femoral distal
lutut, tidak hanya untuk kepentingan diagnostik, tetapi juga menggambarkan berat serta lamanya
penyakit in utero.

Gejala berikutnya yang paling sering adalah hernia umbilikalis, namun kurang spesifik. Sebagian
besar pasien memiliki berat lahir besar untuk kehamilan (di atas 3,5 kg dengan periode kehamilan
lebih dari 40 minggu). Kurang dari separuh pasien didapatkan ikterus berkepanjangan pada awal
kehidupannya. Tidak terdapat perbedaan jenis kelamin untuk terjadinya hipotiroidisme kongenital.
Tanda dan gejala lain yang jarang terlihat adalah konstipasi (Riwayat BAB pertama > 20 jam setelah
lahir dan sembelit ), hipotonia, suara tangis serak, kesulitan makan atau menyusui, bradikardi dan
kulit kering dan kasar. Selain itu, bayi dengan hipotiroidisme kongenital memiliki insiden anomaly
kongenital lain lebih tinggi, namun kemaknaannya tidak jelas. Berbagai anomali congenital pada bayi
hipotiroidisme kongenital yang diidentifikasi melalui program skrining hipotiroidisme, antara lain
penyakit jantung bawaan, penyimpangan kromosom, kelainan tulang, dan sindrom rambut terbelah.

D.Patofisiologi
Patofisiologi hipotiroidisme didasarkan atas masing-masing penyebab yang dapat menyebabkan
hipotiroidisme, yaitu :

1.Hipotiroidisme sentral (HS)


Apabila gangguan faal tiroid terjadi karena adanya kegagalan hipofisis, maka disebut hipotiroidisme
sekunder, sedangkan apabila kegagalan terletak di hipothalamus disebut hipotiroidisme tertier. 50%
HS terjadi karena tumor hipofisis. Keluhan klinis tidak hanya karena desakan tumor, gangguan visus,
sakit kepala, tetapi juga karena produksi hormon yang berlebih (ACTH penyakit Cushing, hormon
pertumbuhan akromegali, prolaktin galaktorea pada wanita dan impotensi pada pria). Urutan
kegagalan hormon akibat desakan tumor hipofisis lobus anterior adalah gonadotropin, ACTH, hormon
hipofisis lain, dan TSH.

2.Hipotiroidisme Primer (HP)


Hipogenesis atau agenesis kelenjar tiroid. Hormon berkurang akibat anatomi kelenjar. Jarang
ditemukan, tetapi merupakan etiologi terbanyak dari hipotiroidisme kongenital di negara barat.
Umumnya ditemukan pada program skrining massal. Kerusakan tiroid dapat terjadi karena:

i.Pascaoperasi
Strumektomi dapat parsial (hemistrumektomi atau lebih kecil), subtotal atau total. Tanpa kelainan lain,
strumektomi parsial jarang menyebabkan hipotiroidisme. Strumektomi subtotal M. Graves sering
menjadi hipotiroidisme dan 40% mengalaminya dalam 10 tahun, baik karena jumlah jaringan dibuang
tetapi juga akibat proses autoimun yang mendasarinya.

ii.Pascaradiasi
Pemberian RAI (Radioactive iodine) pada hipertiroidisme menyebabkan lebih dari 40-50% pasien
menjadi hipotiroidisme dalam 10 tahun. Tetapi pemberian RAI pada nodus toksik hanya
menyebabkan hipotiroidisme sebesar <5%. Juga dapat terjadi pada radiasi eksternal di usia <20
tahun : 52% 20 tahun dan 67% 26 tahun pascaradiasi, namun tergantung juga dari dosis radiasi.

iii.Tiroiditis autoimun.
Disini terjadi inflamasi akibat proses autoimun, di mana berperan antibodi antitiroid, yaitu antibodi
terhadap fraksi tiroglobulin (antibodi-antitiroglobulin, Atg-Ab). Kerusakan yang luas dapat
menyebabkan hipotiroidisme. Faktor predisposisi meliputi toksin, yodium, hormon (estrogen
meningkatkan respon imun, androgen dan supresi kortikosteroid), stres mengubah interaksi sistem
imun dengan neuroendokrin. Pada kasus tiroiditis-atrofis gejala klinisnya mencolok. Hipotiroidisme
yang terjadi akibat tiroiditis Hashimoto tidak permanen.

iv.Tiroiditis Subakut.
(De Quervain) Nyeri di kelenjar/sekitar, demam, menggigil. Etiologi yaitu virus. Akibat nekrosis
jaringan, hormon merembes masuk sirkulasi dan terjadi tirotoksikosis (bukan hipertiroidisme).
Penyembuhan didahului dengan hipotiroidisme sepintas.
v.Dishormogenesis
Ada defek pada enzim yang berperan pada langkah-langkah proses hormogenesis. Keadaan ini
diturunkan, bersifat resesif. Apabila defek berat maka kasus sudah dapat ditemukan pada skrining
hipotiroidisme neonatal, namun pada defek ringan, baru pada usia lanjut.

vi.Karsinoma.
Kerusakan tiroid karena karsinoma primer atau sekunder, amat jarang.

3.Hipotiroidisme sepintas.
Hipotiroidisme sepintas (transient) adalah keadaan hipotiroidisme yang cepat menghilang. Kasus ini
sering dijumpai. Misalnya pasca pengobatan RAI, pasca tiroidektomi subtotalis. Pada tahun pertama
pasca operasi morbus Graves, 40% kasus mengalami hipotiroidisme ringan dengan TSH naik sedikit.
Sesudah setahun banyak kasus pulih kembali, sehingga jangan tergesa-gesa memberi substitusi.
Pada neonatus di daerah dengan defisiensi yodium keadaan ini banyak ditemukan, dan mereka
beresiko mengalami

E. Penatalaksanaan
Begitu diagnosis hipothyroid kongenital ditegakkan, dapat dilakukan pemeriksaan tambahan untuk
menentukan etiologi dasar penyakit. Bila hal ini tidak memungkinkan, treatment awal dengan L-
thyroxine harus segera dilaksanakan. Dosis awal pengobatan dengan L-thyroxine adalah 10-15
g/kgBB/hr yang bertujuan segera mencapai kadar hormon tiroksin yang adekuat. Pada pasien
dengan derajat hipothyroidisme yang berat, ditandai dengan terbukanya fontanela mayor, harus
diberikan dosis yang lebih besar, yaitu lebih besar dari 15g/kgBB/hr. Selanjutnya, diikuti dengan
terapi maintenence dimana besar dosis mentenence disesuaikan kondisi pasien. Tujuan terapi adalah
untuk mempertahankan kadar hormon tiroksin dan free T4 dalam batas normal, yaitu 10-16 g/dL
untuk hormon tiroksin dan 1.4 - 2.3 ng/dl untuk free T4.4
Untuk hipothyroidisme kongenital, satu-satunya terapi adalah dengan replacment hormon. Dalam
tatalaksananya, yang paling penting adalah follow up dan montoring terapi untuk memepertahankan
kadar TSH dan T4 plasma dalam ambang normal. Untuk itu, perlu dilakukan follow up kadar TSH dan
hormon T4 dlam waktu-waktu yang ditentukan, yaitu:

Selain itu, perlu juga dilakukan monitoring 6-8 minggu setiap pergantian dosis. Hal ini guna
mengantisipasi terjadinya overtreatment yang dapat menyebabkan efek samping seperti penutupan
sutura yang premature, dan masalah temperament dan perilaku.

Kadar T4 dipertahankan di atas pertengahan nilai normal.


Bila fasilitas untuk mengukur faal tiroid tidak ada, dapat dilakukan therapeutic trial sampai usia 3
tahun dimulai dengan dosis rendah dalam 2-3 minggu; bila ada perbaikan klinis, dosis dapat
ditingkatkan bertahap atau dengan dosis pemberian + 100 g/m2/hari.
Penyesuaian dosis tiroksin berdasarkan respon klinik dari uji fungsi tiroid T3, T4, dan TSH yang dapat
berbeda tergantung dari etiologi hipotiroid.