Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN JOURNAL READING

PENURUNAN TEKANAN DARAH DAN KECEMASAN MELALUI LATIHAN


SLOW DEEP BREATHING PADA PASIEN HIPERTENSI PRIMER

Disusun Oleh:

1. Budi Ramanda 6. Ira Febrianti


2. M. Untung Saputra 7. Nurul Hamiah
3. Ayu Afriani 8. Utari Panggabean
4. Dewi Oktavia 9. Rica Pustikawaty
5. Dini Yuni Anisa 10. Rizky Ananda Putri

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
LAPORAN JOURNAL READING
PENURUNAN TEKANAN DARAH DAN KECEMASAN MELALUI LATIHAN
SLOW DEEP BREATHING PADA PASIEN HIPERTENSI PRIMER

Disusun Oleh:
1. Budi Ramanda 6. Ira Febrianti
2. M. Untung Saputra 7. Nurul Hamiah
3. Ayu Afriani 8. Utari Panggabean
4. Dewi Oktavia 9. Rica Pustikawaty
5. Dini Yuni Anisa 10. Rizky Ananda Putri

Pontianak, Januari 2017

Ketua Kelompok Pembimbing Klinik

M. Untung Saputra Rita Hafizah, S.Si.T, M.Kes


NIM. I4051161005 NIP. 19700303 199102 2 001
A. PENDAHULUAN
Hipertensi menjadi salah satu penyakit tidak menular yang menjadi
perhatian utama karena angka kejadian yang tinggi di dunia. World Health
Organisation (WHO) tahun 2012 menyatakan bahwa angka kejadian
hipertensi mencapai 50% dari total penduduk dunia. Prevalensi kejadian
hipertensi di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Kementerian Kesehatan
RI (2013) menyatakan bahwa terjadi peningkatan prevalensi hipertensi dari
7,6% tahun 2007 menjadi 9,5% pada tahun 2013.
Hipertensi dapat menjadi ancaman serius bila tidak ditangani. Tekanan
darah tidak terkontrol akan mengakibatkan stroke, infark miokard, gagal
ginjal, ensefalopati, dan kejang (Tambayong, 2010). Penyempitan pembuluh
darah akibat hipertensi dapat menyebabkan berkurangnya suplai darah dan
oksigen ke jaringan yang akan mengakibatkan mikroinfark pada jaringan
(Price & Wilson, 2006). Komplikasi berat hipertensi adalah kematian karena
obstruksi dan rupturnya pembuluh darah otak (Price & Wilson, 2006).
Pengobatan hipertensi secara farmakologis standar yang dianjurkan oleh
Komite Dokter Ahli hipertensi yaitu obat diuretik, penyekat beta, antagonis
kalsium, dan penghambat ACE (Angiotensin Converting Enzyme) (Gunawan,
2007). Terapi nonfarmakologis yang wajib dilakukan oleh penderita
hipertensi yakni mengontrol asupan makanan dan natrium, menurunkan berat
badan, pembatasan konsumsi alkohol dan tembakau, serta melakukan latihan
dan relaksasi (Smeltzer & Bare, 2011). Salah satu terapi nonfarmakologis
yang dapat dilakukan pada penderita hipertensi primer yaitu latihan slow deep
breathing karena termasuk ke dalam latihan dan relaksasi (Joseph, et al.,
2006; Kaushik, Kaushik, Mahajan, & Rajesh, 2006).
Slow deep breathing adalah relaksasi yang disadari untuk mengatur
pernapasan secara dalam dan lambat (Martini, 2006). Slow deep breathing
yang dilakukan sebanyak enam kali permenit selama 15 menit memberi
pengaruh terhadap tekanan darah melalui peningkatkan sensitivitas
baroreseptor dan menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis serta
meningkatkan aktivitas sistem saraf parasimpatis pada penderita hipertensi
primer (Joseph et al., 2006). Khausik et al (2006) melakukan penelitian

1
dengan memberikan latihan slow deep breathing dan mental relaksation pada
penderita hipertensi primer selama 10 menit memberi dampak terhadap
tekanan darah sistolik dan diastolik, suhu tubuh, denyut nadi, serta
pernafasan.
Beberapa artikel penelitian dan referensi buku kedokteran menyatakan
bahwa terapi non farmakologi slow deep breathing efektif dalam menurunkan
tekanan darah pada penderita hipertensi. Hal ini yang mendasari kami untuk
melakukan telaah jurnal dalam jurnal reading tentang slow deep breathing
untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.

B. ANALISIS JURNAL
1. Informasi Citasi
Pengarang :
1. Tri Cahyo Sepdianto
2. Elly Nurachmah
3. Dewi Gayatri
Tahun Terbit : 2010
Judul Artikel :
Penurunan Tekanan Darah Dan Kecemasan Melalui Latihan Slow Deep
Breathing Pada Pasien Hipertensi Primer
Penerbit : Jurnal Keperawatan Indonesia
Volume: 13
Halaman : 37 41

2. Metode Penelitian
Desain Penelitian :
Quasi Experimental Design dengan pendekatan Pretest-Posttest Control
Group Design.
Lokasi Penelitian :
Puskesmas Sukorejo Kota Blitar dan Puskesmas Kepanjen Kidul Kota
Blitar

2
Karakteristik Responden :
1. Kelompok intervensi dalam penelitian ini adalah pasien hipertensi
primer yang berobat di Puskesmas Sukorejo Kota Blitar yang
mendapatkan terapi standar antihipertensi ditambah intervensi
dengan latihan slow deep breathing.
2. Kelompok kontrol adalah pasien hipertensi primer yang berobat di
Puskesmas Kepanjen Kidul Kota Blitar.
Jumlah responden : 56 orang
Teknik Sampling : Purposive sampling
Variabel yang diukur/diteliti :
latihan slow deep breathing terhadap tekanan darah dan tingkat
kecemasan pasien hipertensi
Kriteria Inklusi :
1. telah didiagnosa hipertensi primer oleh dokter puskesmas (tekanan
darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan darah diastolik > 90
mmHg).
2. umur 45 54 tahun.
3. tidak mengalami obesitas (IMT < 30).
4. belum pernah mendapatkan latihan nafas (yoga, meditasi, reiki,
senam nafas).
5. diet natrium maksimal 2,4 gram/hari.
6. mendapatkan terapi standar antihipertensi.
7. bersedia menjadi responden.
Kriteria eksklusi :
1. penyakit penyerta (DM, stroke dan gagal ginjal).
2. hipertensi derajat berat (tekanan darah sistolik> 180 mmHg dan
tekanan darah diastolik > 110 mmHg).

3. Hasil Penelitian
Karakteristik responden meliputi: rata-rata umur 49,93 tahun, jenis
kelamin perempuan 67,9%, riwayat keluarga menderita hipertensi 64,3%,
tidak merokok 78,6% dan satu jenis obat standar antihipertensi 71,4%.

3
Hasil penelitian menunjukkan latihan slow deep breathing dapat
menurunkan rata-rata tekanan darah sistolik 18,178 mmHg, tekanan
darah diastolik 8,892 mmHg dan tingkat kecemasan 2, 214 poin.
Penurunan rata-rata tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan
tingkat kecemasan lebih besar pada kelompok intervensi yang melakukan
latihan slow deep breathing dibandingkan dengan kelompok kontrol (<
0,05).

C. LANDASAN TEORI
Terapi relaksasi banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk
dapat mengatasi berbagai masalah misalnya stres, ketegangan otot, nyeri,
hipertensi, gangguan pernapasan, dan lain-lain. Relaksasi secara umum
merupakan keadaan menurunnya kognitif, fisiologi, dan perilaku (Potter &
Perry, 2006). Pada saat relaksasi terjadi perpanjangan serabut otot,
menurunnya pengiriman impuls saraf ke otak, menurunnya aktifitas otak, dan
fungsi tubuh yang lain. Karakteristik dari respons relaksasi ditandai oleh
menurunnya denyut nadi, jumlah pernapasan, penurunan tekanan darah, dan
konsumsi oksigen (Potter & Perry, 2006)
Slow deep breathing merupakan tindakan yang disadari untuk mengatur
pernapasan secara dalam dan lambat. Pengendalian pengaturan pernapasan
secara sadar dilakukan oleh korteks serebri, sedangkan pernapasan yang
spontan atau automatik dilakukan oleh medulla oblongata (Martini, 2006).
Napas dalam lambat dapat menstimulasi respons saraf otonom melalui
pengeluaran neurotransmitter endorphin yang berefek pada penurunan
respons saraf simpatis dan peningkatkan respons parasimpatis. Stimulasi saraf
simpatis meningkatkan aktivitas tubuh, sedangkan respons parasimpatis lebih
banyak menurunkan ativitas tubuh atau relaksasi sehingga dapat menurukan
aktivitas metabolik (Velkumary & Madanmohan, 2004). Stimulasi saraf
parasimpatis dan penghambatan stimulasi saraf simpatis pada slow deep
breathing juga berdampak pada vasodilatasi pembuluh darah otak yang
memungkinkan suplay oksigen otak lebih banyak sehingga perfusi jaringan
otak diharapkan lebih adekuat (Denise, 2007; Downey, 2009).

4
Jerath, Edry, Barnes dan Jerath (2006) mengemukakan bahwa
mekanisme penurunan metabolisme tubuh pada pernapasan lambat dan dalam
masih belum jelas, namun menurut hipotesanya napas dalam dan lambat yang
disadari akan mempengaruhi sistem saraf otonom melalui penghambatan
sinyal reseptor peregangan dan arus hiperpolarisasi baik melalui jaringan
saraf dan non-saraf dengan mensinkronisasikan elemen saraf di jantung,
paruparu, sistem limbik dan korteks serebri. Selama inspirasi, peregangan
jaringan paru menghasilkan sinyal inhibitor atau penghambat yang
mengakibatkan adaptasi reseptor peregangan lambat atau slowly adapting
stretch reseptors (SARs) dan hiperpolarisasi pada fibroblas. Kedua
penghambat hantaran impuls dan hiperpolarisasi ini untuk menyinkronkan
unsur saraf yang menuju ke modulasi sistem saraf dan penurunan aktivitas
metabolik yang merupakan status saraf parasimpatis.
Slow deep breathing adalah relaksasi yang disadari untuk mengatur
pernapasan secara dalam dan lambat (Martini, 2006). Slow deep breathing
adalah gabungan dari metode nafas dalam (deep breathing) dan napas lambat
sehingga dalam pelaksanaan latihan pasien melakukan nafas dalam dengan
frekuensi kurang dari atau sama dengan 10 kali permenit. Langkah-langkah
dalam latihan slow deep breathing, menurut University of Pittsburgh Medical
Center, (2003).
1. Atur pasien dengan posisi duduk
2. Kedua tangan pasien diletakkan di atas perut
3. Anjurkan melakukan napas secara perlahan dan dalam melalui hidung
dan tarik napas selama 3 detik, rasakan abdomen mengembang saat
menarik napas
4. Tahan napas selama 3 detik
5. Kerutkan bibir, keluarkan melalui mulut dan hembuskan napas secara
perlahan selama 6 detik. Rasakan abdomen bergerak ke bawah.
6. Ulangi langkah 1 sampai 5 selama 15 menit.
7. Latihan slow deep breathing dilakukan dengan frekuensi 3 kali sehari.

5
D. PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan latihan slow deep breathing dapat
menurunkan rata-rata tekanan darah sistolik 18,178 mmHg, tekanan darah
diastolik 8,892 mmHg dan tingkat kecemasan 2, 214 poin. Penurunan rata-
rata tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan tingkat kecemasan
lebih besar pada kelompok intervensi yang melakukan latihan slow deep
breathing dibandingkan dengan kelompok kontrol (< 0,05).
Hasil penelitian sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa napas
dalam lambat dapat menstimulasi respons saraf otonom, yaitu dengan
menurunkan respons saraf simpatis dan meningkatkan respons parasimpatis.
Stimulasi saraf simpatis meningkatkan aktivitas tubuh, sedangkan respons
parasimpatis lebih banyak menurunkan aktivitas tubuh sehingga dapat
menurunkan aktivitas metabolik (Velkumary & Madanmohan, 2004). Napas
dalam dan lambat yang disadari akan mempengaruhi sistem saraf otonom
melalui penghambatan sinyal reseptor peregangan dan arus hiperpolarisasi
baik melalui jaringan saraf dan non-saraf dengan mensinkronisasikan elemen
saraf di jantung, paruparu, sistem limbik dan korteks serebri. Selama
inspirasi, peregangan jaringan paru menghasilkan sinyal inhibitor atau
penghambat yang mengakibatkan adaptasi reseptor peregangan lambat atau
slowly adapting stretch reseptors (SARs) dan hiperpolarisasi pada fibroblas.
Kedua penghambat hantaran impuls dan hiperpolarisasi ini untuk
menyinkronkan unsur saraf yang menuju ke modulasi sistem saraf dan
penurunan aktivitas metabolik yang merupakan status saraf parasimpatis.
Slow deep breathing yang dilakukan sebanyak enam kali permenit
selama 15 menit memberi pengaruh terhadap tekanan darah melalui
peningkatkan sensitivitas baroreseptor dan menurunkan aktivitas sistem saraf
simpatis serta meningkatkan aktivitas sistem saraf parasimpatis pada
penderita hipertensi primer (Joseph et al., 2006).

6
E. PENUTUP
Latihan slow deep breathing sangat efektif digunakan sebagai pengobatan
non farmakologi pada pasien hipertensi primer untuk mengontrol tekanan
darah dan menurunkan tingkat kecemasan sehingga menurunkan risiko
komplikasi dari penyakit kardiovaskuler.
Diharapkan penanganan non farmakologi latihan slow deep breathing
dapat diterapkan dan dikembangkan dalam melakukan asuhan keperawatan
secara mandiri untuk menurunkan tekanan darah dan tingkat kecemasan pada
penderita hipertensi primer

7
DAFTAR PUSTAKA

Denise, M.L. 2007. Sympathetic Storning After Severe Traumatic Brain Injury.
Critical Care Nurse Journal, 27 (1), 30-37.

Downey, L.V. 2009. The Effects of Deep Breathing Training on Pain


Management in The Emergency Department. Southern Medical Journal,
(102), 688-692.

Gunawan, I. 2007. Hipertensi tekanan darah tinggi. Yogyakarta: Penerbit Kansius.

Jerath, R., Edry, J.W., Barnes, V.A., Jerath, V. 2006. Physiology of long
pranayamic breathing : Neural respiratory elements may provide a
mechanism that explains how slow deep breathing shifts the autonomic
nervous system, Medical Hypothesis, 67, 566-571

Joseph, C.N., Cesare, P., Gaia,C., Nadia,C., Mara, M., Marco R., & Luciano, B.
2006. Slow breathing improves arterial baroreflex sensitivity and decreases
blood pressure in essential hypertension. AHA Journals, 4(6), 714-718.
http://hyper.ahajournals.org/.

Kaushik, R. M., Kaushik, R., Mahajan, S. K., & Rajesh, V. 2006. Effects of
mental relaxation and slow breathing in essential hypertension.
Complementary Therapies in Medicine, 14(2), 120-6. doi:
http://dx.doi.org/10.1016/j.ctim.2005.11.007.

Kementerian Kesehatan RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013. Diakses
melalui: //www.kemenkesri.go.id//rikesdas.doc.//pdf.

Martini, F. 2006. Fundamentals of anatomy & physiology. Seventh Edition,


Pearson: Benjamin Cummings.

Potter, A.P., & Perry, A. 2006. Fundamentals of Nursing. 6 th Edition. St.Louis


Missouri: Mosby-Year Book, Inc.

Price, S. A., & Wilson, L. M. 2006. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses


penyakit, edisi 6, volume 1. Jakarta : EGC.

Sepdianto, T.C., Nurachmah, E., & Gayatri, D. 2010. Penurunan tekanan darah
dan kecemasan melalui latihan slow deep breathing pada pasien hipertensi
primer. Jurnal Keperawatan Indonesia: 13(1), Hal 37-40.
https://scholar.google.co.id/ jki.ui.ac.id.

Smetlzer & Bare. 2011. Buku ajar keperawatan medikal bedah. Volume 2. Edisi
8. Jakarta: EGC.

8
Tambayong, J. 2010. Patofisiologi keperawatan. Jakarta: ECG.

University of Pittsburgh Medical Centre. 2003. Slow Deep Breathing Technique.


http://www.upmc.com/HealthAtoZ/patienteducation/S/Pages/deepbreathing(s
mokingcessation).aspx

Velkumary, G.K.P.S., & Madanmohan. 2004. Effect of Short-term Practice of


Breathing Exercise on Autonomic Function in Normal Human Volunteers.
Indian Journal Respiration, (120), 115-121.
World Health Organization. 2012. Non infection diseases progress. Diakses
melalui: http://www.who.int/publication/.