Anda di halaman 1dari 12

Volume 9 / No.

2, Desember 2014 Jurnal Perspektif Arsitektur

PENGARUH KONDISI HUNIAN DAN LINGKUNGAN


TERHADAP KEBERLANJUTAN PERMUKIMAN TEPI SUNGAI
STUDI KASUS: KAMPUNG PAHANDUT DAN DESA DANAU TUNDAI
DI KOTA PALANGKA RAYA
Indrabakti Sangalang1; Fredyantoni F. Adji2

Abstraksi

Permukiman merupakan kumpulan hunian yang penghuninya saling bersepakat baik formal
maupun informal untuk membentuk komunitas. Hubungan sosial budaya, kemampuan
beradaptasi serta membangun relasi dan kondisi lingkungan fisik pada permukiman seperti
hunian dan fasilitas pendukungnya sangat mempengaruhi perkembangan permukiman yang
terkendali dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat yang tinggal berdasarkan pada
kearifan lokal (local wisdom). Banyak permukiman yang tidak berkembang atau berkembang
tidak terkendali ketika unsur-unsur yang berpengaruh tersebut kurang diperhatikan. Berdasarkan
hal-hal tersebut menunjukkan pentingnya penelitian untuk menggali faktor-faktor apa saja yang
dapat membuat permukiman tetap mengalami berkelanjutan dan dilain sisi juga mengidentifikasi
faktor-faktor lain yang terindikasi akan menghambat perkembangan sebuah permukiman.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kampung Pahandut kebutuhan ekonomi menjadi dasar
bertambahnya pendatang dan tumbuhnya rumah-rumah baru, sedangkan penghambat
keberlanjutan permukiman adalah kondisi kawasan tepi sungai yang semakin dangkal dan
menyempit akibat sedimentasi. Di Desa Danau Tundai, pertumbuhan rumah-rumah disebabkan
faktor kekerabatan dan Danau Tundai yang kaya ikan, sedangkan faktor penghambat
keberlanjutan permukiman adalah jika produksi ikan menurun dan belum adanya inovasi baru. Di
Kampung Pahandut jika melihat ketiga aspek keberlanjutan terlihat jelas kegiatan ekonomi yang
makin meningkat membuat aspek lainnya yaitu sosial budaya dan lingkungan mengalami
kemunduran. Desa Danau Tundai, aspek ekonomi berjalan lambat perkembangannya sedangkan
aspek sosial budaya dan lingkungan berpotensi untuk mengalami keberlanjutan sepanjang belum
ada perubahan yang signifikan.

Kata Kunci : Permukiman tepi air, berkelanjutan, hunian, lingkungan, kearifan budaya

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Permukiman baik di dunia belahan barat maupun di timur kebanyakan bermula dari daerah
sekitar air, entah itu sumber air, sungai, danau maupun laut (Mahatmanto, 2008). Sungai menjadi
awal dibukanya permukiman kolektif dan akhirnya berkembang menjadi kota.

1 Tenaga Pengajar Jurusan Arsitektur Universitas Palangka Raya


2 Tenaga Pengajar Jurusan Arsitektur Universitas Palangka Raya

ISSN 1907 - 8536 47


Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 9 / No.2, Desember 2014

Pemukiman merupakan proses pewadahan fungsional yang dilandasi oleh pola aktivitas manusia
seperti pengaruh setting (rona lingkungan) baik yang bersifat fisik dan non fisik (sosial budaya)
yang secara langsung mempengaruhi pola kegiatan dan proses pewadahannya (Snyder, 1979).
Permukiman dan hunian di dalamnya merupakan wujud dari ide pikiran manusia dan dirancang
semata-mata untuk memudahkan dan mendukung setiap kegiatan atau aktivitas yang akan
dilakukannya.
Hubungan manusia dengan lingkungan bertempat tinggalnya dibentuk oleh berbagai faktor,
antara lain: kebudayaan, kondisi lingkungan, pengaruh dari luar serta perilaku (Hirsan, 2011).
Hunian dan manusia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, melibatkan
hubungan timbal balik yang saling menguntungkan dan sangat dipengaruhi oleh kualitas
lingkungan maupun kualitas individu. Cardozo (1949) menyatakan bahwa hunian dan
permukiman merupakan mediator antara manusia dan lingkungan, transformasi dari yang satu ke
yang lainnya atau membentuk hubungan antara keduanya (Crowe, 1995)
Dari ulasan di atas menunjukkan bahwa hunian dan lingkungan yang melingkupinya merupakan
produk budaya manusia. Permukiman sendiri merupakan kumpulan hunian dimana pada
awalnya masing-masing penghuninya saling bersepakat baik formal maupun informal untuk
membentuk komunitas yang dilandaskan kedekatan sosial budaya. Hubungan sosial budaya dan
kemampuan masing-masing individu untuk beradaptasi serta membangun relasi sangat
mempengaruhi perkembangan permukiman. Perkembangan permukiman yang dimaksud adalah
perkembangan yang terkendali dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat yang tinggal.
Permukiman yang berkembang berdasarkan pada kearifan lokal (local wisdom) yang
memberikan identitas. Banyak permukiman yang tidak berkembang atau berkembang namun
tidak terkendali dan memberi ketidaknyamanan bagi penghuninya ketika unsur-unsur yang
berpengaruh tersebut kurang diperhatikan. Berdasarkan hal-hal tersebut menunjukkan
pentingnya untuk menggali lebih dalam faktor-faktor apa saja yang dapat membuat permukiman
tetap mengalami berkelanjutan dan dilain sisi juga mengidentifikasi faktor-faktor lain yang
terindikasi akan menghambat perkembangan sebuah permukiman.

Rumusan Masalah
Tulisan ini secara garis besar muncul dari keingintahuan bagaimana sebuah permukiman yang
tidak terencana dapat berkembang, terkendali, memberikan identitas, dan memberikan
kenyamanan bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya. Permukiman yang berkelanjutan
merupakan permukiman yang tumbuh dan berkembang berdasarkan pada budaya bermukim
berdasarkan kearifan budaya lokal.
Pendeskripsian sebuah permukiman yang berkelanjutan dilakukan dengan memahami
hubungan/korelasi antara faktor-faktor yang terkait dengan cara mengidentifikasi karakteristik
penghuni; aktivitas penghuni termasuk didalamnya sosial, budaya dan ekonomi; karakteristik
atau kondisi fisik hunian, lingkungan (jalan, fasum, fasos, dan lain-lain) serta pandangan
penghuni terhadapnya; dan kontribusi penghuni bagi lingkungan permukiman.

48 ISSN 1907 - 8536


Volume 9 / No.2, Desember 2014 Jurnal Perspektif Arsitektur

Pemilihan kasus pada tulisan ini berdasarkan kondisi saat ini dan potensi yang dimilikinya. Kasus
pertama adalah Kampung Pahandut, permukiman ini berada di tepi Sungai Kahayan. Kasus
kedua adalah Desa Danau Tundai yang berada di tepi Danau Tundai, merupakan kampung
nelayan yang berada di pinggir Kota Palangka Raya.
Dari latar belakang dan rumusan masalah yang telah diungkapkan maka muncul pertanyaan,
yaitu: Bagaimanakah pengaruh kondisi hunian dan lingkungan terhadap keberlanjutan
permukiman tepi sungai?

Tujuan
Tujuan dari penulisan ini adalah mengidentifikasi dan memaparkan faktor-faktor dalam lingkup
hunian dan lingkungan yang mempengaruhi keberlanjutan permukiman tepi sungai dan faktor-
faktor yang berpotensi menghambat perkembangannya.

TINJAUAN PUSTAKA
A. Permukiman
Terbentuknya permukiman, menurut Rapoport (1969), merupakan suatu proses pewadahan
fungsional yang dilandasi oleh pola aktivitas manusia serta adanya pengaruh setting baik
fisik maupun non fisik yang secara langsung mempengaruhi pola kegiatan dan proses
pewadahannya. Setting akan saling berpengaruh dengan lingkungan fisik yang terbentuk
oleh kondisi lokasi, kelompok masyarakat dengan sosial budayanya (Rapoport, 1969).
Permukiman dapat terbentuk melalui proses perencanaan maupun tanpa perencanaan
(organik). Proses ini melalui waktu yang sangat panjang dan berlangsung secara terus
menerus. Terbentuknya pola permukiman merupakan hasil penyebaran daerah tempat
tinggal menurut keadaan geografi (fisik) tertentu, seperti permukiman sepanjang pantai,
aliran sungai dan jalan yang biasanya berbentuk linear (Jayadinata, 1986).
B. Kampung Kota
Permulaan dari sebuah kota dimulai dari permukiman berupa kampung yang dalam
perkembangannya akan menjadi sebuah kampung kota. Beberapa pakar mendefinisikan
kampung kota sebagai berikut; Kampung merupakan kawasan hunian masyarakat
berpenghasilan rendah dengan kondisi fisik kurang baik (Rutz, 1987); menurut Turner
(1972), kampung merupakan kawasan permukiman dengan ketersediaan sarana umum
buruk atau tidak ada sama sekali, kerap kawasan ini disebut squatter jika kawasan tersebut
merupakan permukiman liar (ilegal) dan slum jika melihat kondisinya yang kumuh, baik itu
permukiman legal maupun yang ilegal.
Kampung menurut Silas (1988) merupakan tipikal low income urban settlement, berlokasi di
semua bagian fungsional dari kota termasuk pada area yang bernilai tinggi seperti pusat
bisnis, pusat pemerintahan, pusat perbelanjaan dan sosial, dan lain-lain; kampung bukan

ISSN 1907 - 8536 49


Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 9 / No.2, Desember 2014

slum atau squatter, melainkan sebuah konsep dari community development. Sedangkan
menurut Setiawan (2010), kampung adalah unik, karena merepresentasikan kekhasan
sejarah, kemampuan, usaha, perjuangan, dan bahkan jiwa merdeka warganya; kekhasan
pada aspek fisik terletak pada pola-pola fisik yang beragam, organik, seringkali surprizing.
C. Hunian
Hunian adalah tempat melakukan kegiatan sehari-hari namun juga bisa memicu kenangan
masa lampau dan akhirnya menciptakan ikatan psikologis antara manusia dengan
lingkungannya (Werner, Altman dan Oxley, 1987 dalam Halim, 2008).
Turner (1972) menyatakan bahwa yang terpenting dari hunian bukan wujudnya, melainkan
dampak terhadap kehidupan penghuninya. Hunian tidak dapat dilihat sebagai bentuk fisik
bangunan menurut standar tertentu (dweling unit), tetapi merupakan proses interaksi hunian
dengan penghuni dalam siklus waktu. Konsep interaksi antara hunian dan penghuninya
adalah apa yang diberikan hunian kepada penghuni, serta dilakukan penghuni terhadap
huniannya.

D. Budaya dan Budaya Bermukim


Menurut Keesing (1974), budaya adalah sistem (dari pola-pola tingkah laku yang diturunkan
secara sosial) yang bekerja menghubungkan komunitas manusia dengan lingkungan ekologi
mereka. Dalam cara hidup komunitas ini termasuk teknologi dan bentuk organisasi ekonomi,
pola-pola menetap, bentuk pengelompokan sosial dan organisasi politik, kepercayaan dan
praktek keagamaan, dan lain-lain.
Budaya bermukim dapat diartikan sebagai segala kelakukan manusia (pola-pola tingkah
laku) yang meliputi daya (cipta, karsa dan rasa) dan aktivitas yang menghubungkan dirinya
dengan lingkungan, untuk mengolah dan mengubah alam dalam bermukim pada suatu
lingkungan. Tingkah laku tersebut didasarkan pada pemahaman terhadap apa yang
diketahui, dipikirkan, dan dipandang individu tentang dunia dan nilai-nilai yang terbentuk dan
berkembang dalam komunitasnya (Sangalang, 2013). Budaya bermukim adalah proses
kehidupan dan artefak yang dihasilkan dalam mendiami suatu tempat dan merupakan
ekspresi fisik dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan (Oliver, 1987).

METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang dilakukan adalah deskriptif kualitatif. Tujuan metode deskriptif kualitatif
adalah menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai
fenomena realitas sosial yang ada di masyarakat yang menjadi objek penelitian, dan
berupaya menarik realitas itu ke permukaan sebagai suatu ciri, karakter, sifat, model, tanda
atau gambaran tentang kondisi, situasi ataupun fenomena tertentu.

50 ISSN 1907 - 8536


Volume 9 / No.2, Desember 2014 Jurnal Perspektif Arsitektur

B. Tahapan Penelitian
Untuk menjalankan penelitian ini yang dikaitkan dengan metode penelitian maka penelitian
ini dimulai dari suatu permasalahan, kemudian dirumuskan dan memunculkan pertanyaan
penelitian; untuk membantu penelitian ini dilakukan kajian literatur; dari kajian literatur
disusun variabel-variabel yang akan digunakan untuk mencari data untuk kemudian
dilakukan survey lapangan; dalam pengumpulan data digunakan metode kuisioner,
wawancara dan observasi dimana angket untuk menghasilkan data kuantitatif sedangkan
wawancara dan observasi untuk menemukan data kualitatif; data-data ini kemudian dibagi
dua bagian untuk kemudian di analisis, data kuantitatif disusun sesuai kategorinya dan akan
dianalisis dengan program statistisik sedangkan data kualitatif akan diinterpretasi dengan
menggunakan dasar-dasar teori dan logika; dan dari hasil analisis akan dilakukan penarikan
kesimpulan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


E. Tinjauan Terhadap Kampung Pahandut
Kampung Pahandut merupakan salah satu kampung tertua di daerah aliran Sungai Kahayan
bagian hilir. Kampung Pahandut memiliki jenis tanah rawa, lahan ini memiliki ketinggian
yang relatif rendah dari permukaan sungai. Berdasarkan data pada lokasi penelitian terlihat
jumlah penduduk asli (53%) dan pendatang (47%) hampir berimbang.
Secara makro kawasan kampung Pahandut ini terletak pada zona perdagangan. Karena itu
banyak penduduk berprofesi sebagai pedagang dan pegawai toko. Profesi lainnya adalah
PNS. Adapula yang berprofesi sebagai nelayan dan budidaya ikan di dalam keramba. Di
kampung ini terdapat pelabuhan sehingga banyak penduduk yang berprofesi sebagai buruh
angkut barang.
Masyarakat di Kampung Pahandut mendapatkan lahan sebagai tempat tinggal berasal dari
warisan, membeli dan menyewanya. Rumah panggung mendominasi bentuk rumah sebesar
65%. Selain itu ada juga yang berbentuk rumah terapung dan rumah biasa (darat). Orientasi
hunian ada ke sungai, ada pula yang membelakangi sungai. Hal ini dipengaruhi oleh
perubahan kondisi lingkungan dimana terdapat jalan. Kondisi permukiman kurang
memperhatikan masalah kebersihan lingkungan. Masyarakat masih membuang sampah ke
sungai dan membuat MCK di atas sungai.
Jalur transportasi didominasi akses darat. Terdapat jalan aspal sebagai jalan masuk yang
dapat dilalui mobil. Untuk jalan-jalan lingkungan terdapat dua macam, jalan titian kayu
berada di dalam lingkungan permukiman yang berada di atas pasang surut, sedangkan
yang di darat ada yang berupa jalan aspal dan ada juga berupa jalan beton. Selain melalui
akses darat masih ada masyarakat yang menggunakan transportasi sungai menggunakan
perahu.

ISSN 1907 - 8536 51


Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 9 / No.2, Desember 2014

F. Tinjauan Terhadap Desa Danau Tundai


Desa Danau Tundai berada di tepi Danau Tundai. Secara demografis, penduduk terdiri dari
68 KK, Suku Dayak mendominasi sekitar 80%. Mata pencaharian utama penduduk adalah
nelayan (95%), sedangkan 5% bermata pencaharian sebagai tukang kayu.
Orientasi hunian di Desa Danau Tundai berorientasi ke jalan titian dan ke arah sungai.
Kondisi permukiman kurang memperhatikan masalah kebersihan lingkungan. Masyarakat
masih membuang sampah ke sungai atau ke kolong hunian, beberapa penghuni membuat
MCK di atas sungai. Bentuk rumah-rumah di Desa Danau Tundai ada 2 macam yaitu rumah
panggung dan rumah mengapung. Bentuk rumah panggung mendominasi di Desa Danau
Tundai (97%). Desa ini hanya dapat dijangkau melalui jalur sungai. Untuk jalan lingkungan
hanya terdapat satu macam yaitu titian kayu.
G. Analisis dan Diskusi
Pembahasan pada bagian ini dibagi dalam lima aspek, yaitu :
Tabel 3
Analisis

1. Aspek Karakteristik Kawasan


Kampung Pahandut Desa Danau Tundai
Terletak di tepi Sungai Kahayan Terletak di tepi Danau Tundai
Tanah relatif datar dengan sedikit kontur, Tanah relatif datar dengan sedikit kontur,
berupa lahan pasang surut berupa lahan pasang surut
Penduduk heterogen yaitu Dayak Ngaju Penduduk didominasi Suku Dayak (80%)
sebagai penduduk asli, suku dayak lainnya, Mata pencaharian mencari ikan
Banjar, Jawa, dan lain-lain
Mata pencaharian heterogen

2. Aspek Proses Perkembangan Kawasan


Kampung Pahandut Desa Danau Tundai
Bentuk permukiman memanjang mengikuti Bentuk permukiman memanjang
aliran sungai dengan perkembangan dari mengikuti bentuk daratan dan aliran
arah sungai menuju daratan yang danau dan kearah bagian dataran yang
diakibatkan kondisi sungai yang mengalami kering
pendangkalan Rumah-rumah baru yang tumbuh
Rumah-rumah yang baru tumbuh pada mengikuti pola yang sudah ada
lahan-lahan kosong baik yang berada di tepi Komposisi rumah-rumah dibatasi oleh
sungai maupun di atas air membuat kondisi satu jalur titian kayu sebagai jalur utama
tidak beraturan yang membagi kawasan permukiman
Komposisi rumah-rumah berdekatan dan menjadi dua
terbentuk jalan-jalan lingkungan berupa
titian.

52 ISSN 1907 - 8536


Volume 9 / No.2, Desember 2014 Jurnal Perspektif Arsitektur

Perkembangan kawasan tidak hanya linear


mengikuti aliran sungai tapi juga ke arah
sungai sehingga sungai mengalami
Perkembangan kawasan secara linear
pendangkalan
mengikuti bentuk lahan dan aliran air

3. Aspek Pola Hubungan antara Rumah dan Infrastruktur


Kampung Pahandut Desa Danau Tundai
Permukiman dapat dicapai melalui jalan Permukiman hanya dapat dicapai melalui
darat walaupun masih ada yang jalur air
menggunakan perahu tapi tidak banyak Jalan utama merupakan jalan titian kayu
Jalan utama awalnya berupa jalan tanah Lokasi permukiman terpencil
yang kemudian diperkeras dengan aspal. Ketersediaan air bersih sudah diupayakan
Dalam lingkungan dibangun jalan titian yang secara komunal hanya belum maksimal
lebar terbuat dari kayu. pemanfaatanya karena kendala listrik
Adanya jalan membuat akses lebih mudah untuk pompa
apalagi keberadaan kampung berada dekat Sarana MCK komunal telah tersedia
pusat keramaian (pasar) hanya belum maksimal karena kondisi air
Ketersediaan air bersih tersedia karena bersih
berada dekat pusat kota
Sarana MCK telah tersedia pada masing-
masing hunian walaupun masih ada yang
digunakan bersama terutama bagi rumah-
rumah yang mengapung atau panggung

Kawasan desa yang terpencil hanya bisa


dicapai melalui jalur air

ISSN 1907 - 8536 53


Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 9 / No.2, Desember 2014

Sarana dermaga yang digunakan sebagai


pendukung fasilitas jalur sungai

Jalan utama desa berupa titian kayu

Perkembangan hunian yang semakin menjorok


menuju badan sungai

Fasilitas air bersih yang disediakan komunal


untuk melayani beberapa rumah

Kawasan dekat dengan pasar


4. Aspek Tipologi Rumah
Kampung Pahandut Desa Danau Tundai
Bentuk rumah berbentuk panggung, rumah Bentuk rumah didominasi rumah
mengapung di atas air, dan rumah biasa panggung
(darat). Perubahan rumah hanya pada
Perubahan rumah dipengaruhi oleh faktor penambahan ruang dan fasade, tidak
kondisi lahan yang berubah dan faktor mata mengubah sistem struktur bangunan
pencaharian Orientasi rumah-rumah lama ke arah
Orientasi rumah-rumah ke arah sungai, jalan sungai dan jalan titian sedangkan rumah-
utama dan jalan titian rumah baru ke arah jalan titian

54 ISSN 1907 - 8536


Volume 9 / No.2, Desember 2014 Jurnal Perspektif Arsitektur

Bentuk rumah panggung yang memiliki orientasi Bentuk rumah didominasi bentuk panggung
ke arah jalan titian

Orientasi rumah lama yang ke arah sungai


Salah satu bentuk rumah mengapung dan jalan titian

5. Aspek Keberlanjutan
Kampung Pahandut Desa Danau Tundai
Proses pendangkalan membuat lebar sungai Proses pemadatan pada kawasan terjadi
berkurang. Proses pendangkalan akibatkan pada lahan yang kering, secara ekologi
kondisi alam dan aktivitas manusia. kawasan ini belum mengalami perubahan
Adanya pendatang membuat kawasan yang yang signifikan
dulunya homogen (hanya orang Dayak
Ngaju) menjadi heterogen, membuat sosial
budaya mengalami perubahan dan
pencampuran sehingga tidak lagi
mencerminkan kawasan yang memiliki ciri
khas khusus.
Akses jalan yang mudah dan dekat dengan
pasar membuat perekonomian masyarakat
bergerak. Namun aspek tersebut juga
menyebabkan banyaknya pendatang yang
Proses pemadatan ke arah dataran yang
tidak terkendali masuk dan membangun

ISSN 1907 - 8536 55


Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 9 / No.2, Desember 2014

rumah sehingga kawasan semakin tidak kering


teratur Kawasan didominasi Suku Dayak,
sehingga kawasan memiliki potensi
menjadi kawasan berciri khas khusus,
juga didukung profesi penduduk yang
hampir semuanya nelayan.
Tempat yang terpencil dan peluang usaha
yang masih didominasi mencari ikan
menjadikan kawasan ini mengalami
perkembangan yang lambat. Kawasan
cenderung homogen. Kondisi ini belum
mengganggu perkembangan kawasan
Proses pendangkalan kawasan yang diikuti
sehingga kondisi kawasan masih cukup
perkembangan kawasan yang pesat tanpa
teratur
adanya aturan menjadikan kawasan ini tidak
beraturan

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dari penelitian ini dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:
1. Kampung Pahandut dapat diidentifikasikan sebagai kawasan yang memiliki tingkat
heterogenitas tinggi. Pendatang cenderung mendominasi kawasan, yang menyebabkan
pudarnya sistem budaya masyarakat lokal yang lebih dulu ada.
Penduduk awal mendirikan rumah diatas dataran yang tinggi berbentuk panggung. Fungsi
kolong dari panggung digunakan tempat beraktivitas bekerja (seperti pandai besi dan
mengolah hasil kebun/pertanian) dan tempat meletakkan barang-barang. Kondisi sekarang
muncul bentuk rumah baru seperti rumah di atas air dan rumah mengapung.
Perkembangan kawasan saat ini tetap mengikuti kearifan lokal karena penduduk yang
tinggal ada yang memang masih bergantung pada sungai namun menjadi tidak teratur
karena adanya sedimentasi yang diikuti penambahan rumah-rumah yang tidak terkendali.
Di Desa Danau Tundai, karena jumlah kepala keluarganya masih sedikit sehingga
perkembangan kawasan masih dalam keteraturan. Keteraturan juga disebabkan desa ini
didominasi Suku Dayak dan profesi dominan sebagai nelayan.
Rumah-rumah awal mula yang muncul didisain sesuai dengan profesi penghuni. Sebagian
badan hunian berada di atas air dan sebagian lagi di atas tanah. Bagian kolong rumah yang
berair dijadikan tempat mereka meletakkan perahu dan hasil tangkapan ikan, sedangkan
bagian yang kering tempat mereka melakukan aktivitas membuat perahu atau bertukang.
Unsur kearifan lokal masih terjaga karena profesi yang cenderung homogen dan jumlah
penduduk asli yang masih mendominasi.
2. Rumah-rumah yang tumbuh di Kampung Pahandut berawal dari sistem kekerabatan. Diluar
lingkup hunian adalah lingkungan sekitar kampung. Selama sungai masih memberikan hasil

56 ISSN 1907 - 8536


Volume 9 / No.2, Desember 2014 Jurnal Perspektif Arsitektur

ikan yang berlimpah maka akan makin banyak orang-orang yang datang. Selain itu adanya
fasilitas perekonomian akan semakin membuat kawasan ini bertambah ramai, yang akan
berpengaruh pada kebutuhan akan tempat tinggal.
Hal utama yang akan menjadi penghambat keberlanjutan permukiman di tempat ini adalah
kondisi kawasan sungai yang semakin dangkal dan menyempit akibat kondisi sedimentasi.
Di Desa Danau Tundai, pertumbuhan rumah-rumah maupun penambahan ruang-ruang
hunian disebabkan dua faktor yaitu kekerabatan dan keberadaan Danau Tundai yang kaya
akan ikan. Sedangkan faktor yang akan menghambat keberlanjutan permukiman di desa ini
adalah jika produksi ikan menurun dan belum adanya inovasi baru untuk memelihara ikan.
3. Jika dikaitkan dengan konsep berkelanjutan maka perkembangan kawasan dapat ditinjau
berdasarkan tiga aspek yaitu ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan:
a. Secara ekonomi, di Kampung Pahandut dengan infrastruktur terutama sarana jalan dan
transportasi sangat mendukung perekonomian masyarakat. Lokasi yang memberikan
manfaat secara ekonomi makin menggerakkan perekonomian masyarakat sehingga
kawasan Kampung Pahandut masih akan menjanjikan untuk jangka waktu yang lama
apalagi lokasi dekat pusat ekonomi. Sedangkan lokasi permukiman yang dekat dengan
tempat usaha yaitu mencari ikan merupakan daya tarik Desa Danau Tundai.
b. Secara sosial budaya, kondisi di Kampung Pahandut tidak mencerminkan budaya
sungai. Kondisi saat ini sudah berubah, lahan di tepi air ditimbun/diurug, jalan-jalan
beraspal/beton dengan landasan tanah timbunan membuat kawasan tepi air ini tidak ada
bedanya dengan daratan. Selain itu perubahan lingkungan dengan adanya
pendangkalan dan sedimentasi juga ikut mempengaruhi perubahan tersebut. Adanya
pendatang yang berbeda budaya dengan masyarakat awal mula juga ikut memberi andil.
Pembangunan memang akan memberikan implikasi perubahan sosial budaya dan
membentuk nilai-nilai yang baru. Hanya perubahan yang memberikan nilai negatif lebih
dominan di Kampung Pahandut. Sedangkan di Desa Danau Tundai, bentuk permukiman
masih menunjukkan budaya sungai yang mencoba untuk selaras dengan kondisi danau.
Hanya budaya MCK dipinggir sungai yang sedang diupayakan untuk berubah.
c. Secara ekologi/lingkungan, kondisi di Kampung Pahandut dikhawatirkan tidak
keberlanjutan karena telah merusak lingkungan akibat aktivitas manusia dan pengaruh
sedimentasi. Kondisi ini ditambah dengan perilaku penduduk yang masih tidak disiplin
menjaga kebersihan lingkungan. Kondisi di Desa Danau Tundai belum ada proses
pendangkalan. Hanya yang perlu dibenahi adalah perilaku membuang sampah di bawah
kolong rumah dan melakukan kegiatan MCK tidak di atas danau.
Di Kampung Pahandut jika melihat ketiga aspek di atas terlihat jelas kegiatan ekonomi yang
makin meningkat membuat aspek lainnya yaitu sosial budaya dan lingkungan mengalami
kemunduran. Konsep keberlanjutan hanya berhasil di aspek ekonomi. Pembiaran terhadap
perilaku penduduk dan diperparah lagi dengan konsep pembangunan yang seakan
mendukung perubahan secara sembarangan di kawasan tersebut, membuat kondisi makin
jauh dari konsep keberlanjutan. Untuk Desa Danau Tundai, aspek ekonomi berjalan lambat
dikarenakan kegiatan ekonomi hanya mencari ikan sedangkan aspek sosial budaya dan

ISSN 1907 - 8536 57


Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 9 / No.2, Desember 2014

lingkungan berpotensi untuk mengalami keberlanjutan sepanjang belum ada perubahan


yang signifikan. Kegiatan ekonomi akan memberi aspek keberlanjutan jika ada upaya untuk
meningkatkan hasil produksi ikan seperti dengan memilihara ikan dalam keramba atau
kolam yang disesuaikan kondisi alam yang ada di kawasan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Bahri, Samsul, (2005), Rumah Susun Sebagai Bentuk Budaya Bermukim Masyarakat Modern,
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/ 15885/1/sti-jul2005-%20(16).pdf.
Breen, Ann dan Rigby, Dick, (1994), Waterfront-Cities Reclaim Their Edge, Mc. Graw-Hill, New
York.
Crowe, Norman, (1995), Nature and the Idea of a Man-Made World, MIT Press.
Halim, D. K., (2008), Psikologi Lingkungan Perkotaan, Bumi Aksara, Jakarta.
Hirsan, Fariz Primadi, (2011), Identifikasi Pola Bermukim Masyarakat Suku Sasak di Pulau
Lombok yang dipengaruhi oleh Sistem Kekerabatan-Studi Kasus: Desa Puyung, Kabupaten
Lombok Tengah, http:// lpsdimataram.com/ phocadownload/Desember-2011/06-20111208
fariz% 20 primadi.pdf.
Jayadinata, J. T., (1999), Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan, Perkotaan dan
Wilayah. Penerbit ITB, Bandung.
Keesing, Roger M., (1974), Theories of Culture, arjournals.annualreviews.org
Mahatmanto (2005), MMT Sigma Online UAJY 2005, http://groups.yahoo.com/
group/nature_trekker/message/11217.
Murtiyoso, Sutrisno dan Suanda, endo, (2007), Pemukiman_buku Pelajaran Seni Budaya, LPSN,
http://lpsn.or.id/sites/default/files/bahan_ajar/Pemukiman% 20Bab%201. pdf.
Nobert-Schulz, C., (1996), Nightlands-Nordic Building, The MIT Press.
Oliver, Paul, (1987), Dwelling, The House Across the World, Phaidon Press. Limited, Oxford.
Rapoport, A., (1969), House Form and Culture, Prentice-Hall, USA.
Sangalang, Indrabakti, (2013), Keterikatan Pada Tempat untuk Hunian di Tepi Sungai-Referensi
Suku Dayak Ngaju di Palangka Raya, Disertasi-S3, Program Doktor Jurusan Arsitektur,
FTSP-Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Silas, Johan, (1988), The Kampungs of Surabaya, Municipal Government of Surabaya,
Surabaya.
Setiawan, Bakti, (2010), Kampung Kota dan Kota Kampung: Tantangan Perencanaan Kota di
Indonesia, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Dalam Ilmu Perencanaan Kota
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

58 ISSN 1907 - 8536