Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIKA EKSPERIMENTAL ii
Percobaan : Eksperimen Hamburan Rutherford

Pelaksanaan Praktikum

Hari : Rabu Tanggal : 17 September 2014


Jam : 9-10

Oleh :
Nama : Mei Budi Utami
Nim : 081211332009

Anggota Kelompok :
1. Diana (081211331135)
2. Linda Nihayatul (081211331148)
3. Yousida hariani (081211333008)

Dosen Pembimbing : Bapak Khusnul Ain

LABORATORIUM Radiasi
UNIVERSITAS AIRLANGGA
A. TUJUAN PERCOBAAN
1. Menentukan nomor atom aluminium dan membandingkan dengan teori
2. Memahami bagaimana eksperimen hamburan Rutherford mampu membuktikan
keberadaan inti atom
3. Untuk mengamati distribusi sudut hamburan partikel alpha dan membandingkannya
dengan model atom Rutherford pada range sudut kecil
4. Untuk memahami konsep differensial dan total cross section serta hubungannya dalam
menghasilkan eksperimen hamburan
5. Mampu menurunkan rumus hamburan Rutherford dari serangkaian eksperimen
B. DASAR TEORI
Hamburan Rutherford merupakan loncatan besar dalam pemahaman mengenai atom.
Teori atom dimulai oleh Boltzman untuk menjelaskan perilaku gas, namun teori yang
diusulkan pada saat itu tidak popular. Kalangan ilmuwan saat itu tidak percaya akan adanya
atom, bukti adanya atom pertama kalai diusulkan oleh Einstein dalam papernya tahun 1905
yang menjelaskan gerak Brown. Kemudian model struktur atom pertama kalai diusulkan
oleh Thomson tahun 1910 setelah ditemukannya elektron, Thompson mengusulkan
suatu model atom yang tersusun dari suatu muatan positip yang
terdistribusi merata dalam volume atom dan electron-elektron bermuatan
negatip yang tersebar dalam muatan positip tadi. Model atom Thompson
sering disebut sebagai model roti kismis.
Model atom Thompson tersebut tidak dapat digunakan untuk
menjelaskan peristiwa yang diamati oleh Rutherford dalam percobaan
hamburan partikel alfa oleh suatu lembaran tipis. Dalam percobaan
tersebut, partikel alfa (bermassa jauh lebih besar dari pada massa
elektron) diarahkan ke suatu lembaran emas. Partikel yang terhambur
dideteksi dengan dengan layar pendar ZnS.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar partikel lafa
diteruskan, ada sedikit yang dihamburkan dalam sudut hamburan yang
besar dan dan ada sebagaian kecil yang dihamburbalikkan ke arah
datangnya partikel tersebut. Rutherford tidak dapat menginterpretasikan
hasil ini berdasarkan model roti kismis di atas. Hasil tersebut membawa
pikirannya pada suatu model atom lain yaitu bahwa lembar emas tipis
tersebut sebagian besar berupa ruang kosong sehingga sebagian besar
partikel alfa diteruskan. Hamburan kearah sudut besar dapat dipahami
karena adanya interaksi partikel alfa dengan suatu massa yang besar
tetapi berukuran kecil (masif) dan bermuatan listrik positip. Oleh karena
itu Rutherford mengusulkan suatu model atom yang terdiri dari inti
massif yang bermuatan positip dan elektron-elektron mengelilingi inti
atom tersebut. Dalam hal ini inteaksi pertikel-partikel alfa dengan
electron diabaikan karena electron-elektron tersebut tidak stasioner di
suatu tempat dan massanya jauh lebih kecil.


2 2

Gambar 1 : Interaksi Partikel Alfa dengan Inti Atom

Untuk memahami lebih lanjut pertimbanngan-pertimbangan yang dipakai


Rutherford dalam mengusulkan model atom tersebut, tinjau interaksi
partikel alfa yang bermuatan +2e dan inti atom yang bermuatan +Ze
dengan Z adalah bilangan bulat. (lihat gambar 1). Dilihat dari arah
semula, partikel alfa meninggalkan inti dengan sudut simpangan .
Dalam peninjauan ini atom dianggap tidak mengalami pentalan,
sehingga momentum sudut system terhadap sembarang titik acuan
adalah konstan.
Gaya tolak Coulomb yang terjadi adalah (dalam satuan SI) :
2 Ze 2
F
4 0 r 2
(1)
Dengan n adalah jarak antara partikel alfa dengan inti atom. Karena
energi potensial partikel alfa di dalam medan inti adalah sangat kecil
untuk jarak pemisahan yang sangat besar dan karena energi total
partikel alfa konstan, maka energi kinetic sebelum dan sesudah interaksi
adalah sama, sehingga partikel alafa meninggalkan inti dengan laju V
yang sama dan mempunyai lintasan yang simetri dengan sumbu y. oleh
karena itu impuls total selama proses hamburan oleh komponen gaya F
adalah nol kecuali untuk komponen kea rah sumbu y (Krane, 1992).
Ze 2
I tot cos
0 vb 2
(2)
Berdasarkan keadaan simetri tersebut diatas, perubahan momentum
totalnya juga hanya terjadi pada komponen y saja, yaitu :

P 2 Mv sin
2
(3)
Dengan v, b dan M berturut-turut adalah laju partikel alfa, parameter
benturan dan massa partikel alfa.
Impuls pada persamaan (2) inilah yang menyebabkan terjadinya
momentumpada persamaan (3), sehingga diperoleh hubungan :
Eb
cot 4 0 2k
2 Ze
(4)
1
Ek Mv 2
Dengan 2 adalah energi kinetic partikel
alfa.
Tinjau Q partikel alfa mengenai tegak lurus satuan luas permukaan
lembaran logam tebal t dan sebagian q partikel mendekati atom-atom
inti sasaran persatuan volume adalah n maka diperoleh hubungan :
q b 2 ntQ
(5)
Substitusi b dari persamaan (4) ke persamaan (5) diperoleh :
2
Ze 2
q 2
ntQ cot 2
4 0 E k 2

(6)
Persamaan (6) ini menyatakan cacah partikel alfa yang terhambur ke
arah sudut hamburan yang lebih besar dari pada .
Cacah partikel alfa yang terhambur ke arah sudut dan + d adalah :
Ze 2
dq ntQ cot
2
cos ec 2 d
4 0 E k 2 2

(7)
Dalam percobaan ini partikel-partikel alfa yang terhambur di deteksi
dengan meletakkan layar pendar pada jarak r tegak lurus pada arah
pengamatan. Dapat dilihat pada gambar 2 bahwa dengan partikel alfa
tersebut terhambur pada luasan dA=2rsin rd sehingga cacah partikel
yang terhambur kea rah sudut persatuan luas adalah :
2
dq Qnt Ze 2
cos ec 2
dA r 2 4 0 E k 2

(8)
Rumus (8) ini sangat cocok dengan hasil pengamatan Rutherford
dan didukung juga oleh hasil-hasil percobaan Geiger dan Marsden. Hasil
dari hamburan Rutherford menghasilkan beberapa hipotesis, yaitu :
1. Massa atom terkonsentrasi pada inti yang dianggap titik jika
dibandingkan dengan ukuran atom
2. Inti atom bermuatan positif dan memiliki medan listrik yang berkurang
sebanding dengan jarak kuadrat
3. Partikel yang menuju inti atom akan tertolak sehingga memiliki
lintasan hiperbola

Dari hipotesis dan kemudian dilakukan perhitungan analitik


ditemukan bahwa jumlah partikel yang terhambur pada sudut (n())
memenuhi persamaan :
d
1 2 Ze 2 2
n () = N .dF . ( ) 4
4 4 E o .2 E sin
2
(9)
Dengan :
n = jumlahpartikelterhambur
N = konsentrasi atom di lembaranlogam
dF = ketebalan lembaran logam
Z = nomor atom
E = energy partikel
e = muatan electron
0 = 8,8524 x 10-12 As/Vm
Untuk kasus sumber titik, maka dapat dituliskan sebagai berikut:
Q . Af . df Ad 1
S 1 2
n () = 2
4 r 1 r 2 sin 4
2

2
dan S = N
4 ( 2 Ze
4 E o .2 E )
(10)
Dengan :
AF = luas area teradiasi
Q = aktivitas sumber
AD = luas area detector

C. ALAT DAN BAHAN


1. Pompa vakum
2. Chamber berisi sumber partikel (Am-241)
3. Detektor
4. Diafragma
5. Skala sudut (0-90) derajat yang simetris
6. Amplifier
7. Digital counter

D. PROSEDUR PERCOBAAN
Secara garis besar, untaian percobaan digambarakan oleh gambar 3.
Pompa vacuum digunakan untuk memvakumkan chamber yang berisi
sumber partikel alfa (Am-241), detector, diafragma dan skala sudut (0-
90) derajat yang simetris. Diafragma berfungsi sebagai pemfokus berkas
partikel alfa yang akan mengenai lapisan emas atau aluminium yang
tipis, dengan dua ukuran; 1 mm dan 5 mm. Jika partikel alfa yang
tercacah besar (sudut kecil) gunakan diafragma 1 mm, sebaliknya untuk
sudut besar gunakan diafragma 5mm. Catatlah cacahan partikel alfa dari
sudut -15 sampai 15 dengan interval kenaikan 5 dan tabulasikan hasil
pengamatan sudara seperti pada table 1. Gantilah lapisan tipis target
dengan lapisan lain (dalam eksperimen ini tersedia lapisan emas dengan
nomer atom 76 dan aluminium dengan nomer atom 13). Pada
eksperimen ini digunakan penguat, karena pulsa yang dihasilkan detector
sangat kecil, sehingga perlu diperbesar agar tercacah oleh pencacah.

Gambar 2. Untaian rangkaian percobaan hamburan Rutherford

E. HASIL PENGAMATAN

Su W P Pulsa tercacah
du ak u
t tu l
Ha Pe s
m ng a
bu uk t
ra ur e
n an r
() (s c
) a
c
a
h
4
8
- 1 6 56,6
1 0 4
5 6
8
5
1
5
2
5
4
- 1 4 57,6
1 0 9
6
0 1
6
9
5
5
4
6
- 1 3 34,6
5 0 2
4
1
1
6
3
8
3
8
0 1 4 36,4
0 0
2
6
3
8
4
0
4
0
5 1 3 33
0 8
2
7
3
5
2
5
3
2
1 1 3 32
0 0 3
3
6
2
1
3
8
4
0
1 1 4 39,4
5 0 1
3
2
4
0
4
4

r1 = 3 x 102 m
r2 = 2,5 x 102 m
E = 5,6 x 106 eV
Q = 3,4 x 105 Bq
ddetektor = 0,6 x 102 m ,r =0,3 x 102 m
df = 6 x 106 m
celah sempit (diafragma) : P = 3,6 x 102 m / L = 103 m
3 3
aluminium =2,7 x 10 kg /cm
M aluminium 26,98 x 103 kg/mol

F. ANALISIS DATA
1
a. Perhitungan regresi linear antara pulsa yang tercacah n () dengan sin 4

2
Q . Af . df Ad 1
S
Dari rumus n () = 2
4 r 1 r 2 sin4
2
dapat dibuat grafik y=mx +n
2

Q. Af . df Ad 1
m= S x=
dengan y= n ( ) , gradien dan 4 .
4 r 21 r 22 sin
2
Perhitungan regresinya adalah sebagai berikut :
1
x= 4 y= n ( ) x2 y2 xy
sin
2
- 194996
1
5
7
3445,159 56,6 1,19 x 10 3203,56
- 998248
1
0
17330,69 57,6 30 x 107 3317,76
- 9557798
5
7
276236,9 34,6 763,1 x 10 1197,16
0
36,4 1324,96
5 9115819
7
276236,9 33 763,1 x 10 1089
1 17330,69 32 30 x 107 1024 554582,2
0

1 135739,3
5
7
3445,159 39,4 1,19 x 10 1552,36
J 12708,8 2,06 x 107
u
m
l
a
11
h 594025,6 289,6 1,53 x 10
x


2

x 2
n
n xy x y
m=

7 ( 2,06 x 107 )5,94 x 105 ( 289,6 )


2
7 ( 1,53 x 1011 ) ( 5,94 x 10 5)
7 7
14,42 x 10 17,2 x 10
11 11
10,7 x 10 3,53 x 10
2,747 x 10 7
11
7,17 x 10
0,388 x 104

x


2

2
x
n

n=
x 2 y x ( xy )

( 1,53 x 1011 ) 289,65,94 x 105 ( 2,06 x 107 )

11 5 2
7 ( 1,53 x 10 ) ( 5,94 x 10 )
4,43 x 10131,22 x 1013
11
7,17 x 10
44,76
y


xy


2

x


2

2
x
x2
y 2

1
Sy 2=
n2

[ ]
2 2
1 1,53 x 1011 ( 289,6 ) 2 ( 5,94 x 10 5 )( 2,06 x 107 ) +7 ( 2,06 x 107 )
1,27 x 10 4 2
5 7 ( 1,53 x 1011 ) ( 5,94 x 10 5 )

[ ]
15 15 15
1 4 12,83 x 10 0,245 x 10 2,97 x 10
1,27 x 10 11
5 7,17 x 10


1
5 [
1,27 x 10 4
8,615 x 1015 1 [
7,17 x 1011
5 ]
= 1,27 x 10 41,20 x 10 4 ] =0,014 x 104

Sy = 1,4 x 102=11,8

x


2


2
x
n
n

Sm=
9,76 x 1012 x 11,8=3,12 x 106 x 11,8
0,368 x 104
x


2


x 2
n
x2

Sn=



5,45
1,53 x 1011
7,17 x 1011
x 11,8=0,462 x 11,8

4
Maka : m=(0,388 0,368 ) x 10
n=44,76 5,45
y=0,388 x 104+ 44,76

dari persamaan di atas didapatkan sebuah grafik yaitu :

Grafik
70
60
50
40 f(x) = - 0x + 44.69
() 30
20
10
0
0 50000 100000 150000 200000 250000 300000

1/sin^4()

Keterangan : tanda (-) menandakan persamaan regresinya turun


b. Perhitungan Nomor atom Aluminium
Konsentrasi atom di lembaran logam :
N a ( 2,7 x 103 ) ( 6,02 x 1023 ) 29
N= = =0,602 x 10
M 26,98 x 10 3

e2
( ) =
1,602 x 1019
4 0 4.3,14 .8,854 x 1 0 12
=1,44 x 1 09 eVm

Q. Af . df Ad
Karena m= 2 2
S dan m=0,388 x 104 , maka :
4 r 1 r 2
2 2
Q. Af . df Ad m 4 r 1 r 2
m= 2 2
S= S=
4 r 1 r 2 Q . Af .df . Ad

3 x 10
2,5 x 10
(2)2
(2)2
3,4 x 105 ( 9 x 106 )( 6 x 106 ) ( 3,6 x 105 )
0,388 x 104 ( 4 )
S=
87,3 x 1012

660,96 x 1012
0,132
2

S=N
1 2 Ze 2
(
4 4 E o .2 E
S 1 2Z
= =
e2
)
N 4 2 E 4 0 ( ( ))
2
0,132 1 2Z
29
(0,602 x 10 )
=
4 6(
2(5,6 x 10 eV )
1,44 x 1 09 eVm
)
2
2 ( 5,6 x 1 06 eV )
2
Z =0,219 x 10
29
( 1,44 x 109 eVm )
0,219 x 1 029 ( 604,9 x 1 029 )
2
Z =132,48
Z = 132,48=11,51
c. Perhitungan Prosentase kesalahan
Dari perhitungan yang didapat nomor atom aluminium adalah 11,51 , sedangkan menurut
teori nomor atom Al adalah 13, maka prosebtase kesalahan hitungnya adalah :

%kesalahan= |11,5113
13 |x 100
11,46

G. PEMBAHASAN
Pada praktikum Eksperimen Hamburan Rutherford kali ini tujuan utamanya adalah
mencari nomor atom Al (Aluminium) dan membandingkannya dengan teori yang ada. Selain
itu juga bertujuan untuk membuktikan adanya inti atom dengan menggunakan distribusi
sudut hamburan partikel alpha sebagai penyempurnaan model atom Thomson. Percobaan ini
membutuhkan pompa vakum untuk memvakumkan chamber sebelum digunakan, tanda
bahwa udara di dalam chamber telah vakum adalah dengan mengamati apakah tutup
chamber dapat terbuka atau tidak. Jika tutup chamber tidak dapat terbuka artinya chamber
telah vakum, ini disebabkan karena tekanan udara di luar lebih besar dibandingkan tekanan
di dalam chamber, yang akhirnya udara luar menekan tutup ke dalam.
Setelah divakumkan, kemudian mengeset sudut dari sudut -15, -10, -5, 0 , 5, 10
hingga +15. Kemudian menekan tombol start pada detektor maka detektor akan mulai
mencacah. Cacahan dapat dilihat pada layar detektor dan diambil hasil dari detektor
sebanyak 5 kali pencacahan dengan waktu percacahan 10 detik. Hasil yang didapat ini
kemudian dijadikan grafik antara sudut dengan jumlah partikel tercacah yang terlihat pada
mesin detektor. Menurut teori yang ada grafik yang didapat seharusnya adalah grafik
parabola seperti gambar di bawah ini :

Dari grafik diatas dapat dijelaskan bahwa semakin besar sudut yang diberikan maka
akan semakin kecil jumlah cacahan partikel alpha yang tertangkap oleh detektor, atau
dengan kata lain semakin mendekati 00, maka jumlah cacahan akan semakin besar hingga
mendekati angka tak terhingga sesuai dengan persamaan Rutherford yang dapat dianalisa

1
4
0
ketika sudut 0 dimasukkan pada rumus , maka nilai yang keluar adalah tak
sin ( )
2
terhingga dengan dibuktikan pada grafik hiperbola ke atas.
Hamburan partikel alpha dengan sudut pantul besar hanya mungkin terjadi apabila ada
interaksi antara partikel alpha dengan suatu partikel yang memiliki massa besar tetapi
berukuran kecil dan bermuatan sejenis (positif). Hal yang demikian ini cenderung
mengakibatkan partikel alpha akan menuju partikel tersebut dan akan dibelokkan arahnya
karena adanya penolakan akibat muatan yang sama (positif). Pembelokkan arah partikel
alpha menandakan bahwa sebagian besar ruang yang berada dalam atom-atom tersebut
merupakan ruangan kosong karena partikel alpha dibelokkan dan menunjukkan bahwa ada
inti positif yang mengakibatkan adanya gaya tolak menolak yang akhirnya partikel alpha
dibelokkan. Hal ini tidak sesuai dengan model atom Thomson dimana atom terdiri dari
muatan proton yang didalamnya tersebar elektron. Sedangkan pada sudut yang lebih besar
jumlah cacahan partikel alpha mengalami penurunan, hal ini menunjukan bahwa sebagian
partikel alpha dihamburkan.
Fenomena dihamburkannya partikel alpha dengan sudut yang cukup bervariasi dapat
terjadi jika ada suatu masa yang massif yang mampu membelokan arah gerak partkel alpha
ketika bertumbukan dengannya. Masa massif inilah yang merupakan inti atom dan
bermuatan positif, sehingga mampu membelokan partikel alpha yang juga bermuatan positif.
Dengan demikian maka percobaan Rutherford ini dapat membuktikan adanya inti atom yang
bermuatan positif dan terpusat pada bagian tengah atom dengan ruang ruang kosong
mengelilinginya.
Eksperimen hamburan Rutherford ini selain digunakan untuk membuktikan adanya
inti atom, juga digunakan untuk menentukan jenis logam yang dikenai oleh tembakan
sumber radioaktif alpha. Dalam persamaan yang ada, jenis logam dapat diketahui dari nomor
atom (Z), yang pada praktikum ini menggunakan logam Aluminium dan hasil yang didapat
dibandingkan dengan nomor atom Al sebenarnya. Nomor atom tersebut dicari dengan

1

membuat grafik antara jumlah partikel tercacah terhadap sudut ( 4 dan akan
sin ( )
2
didapatkan regresi linearnya dari grafik ini. Gradien dari regresi inilah yang digunakan
dalam mengolah persamaan yang akhirnya didapatkan nomor atom Al adalah sebesar 11,51.
Jika dibandingkan dengan teori yaitu nomor atom Al adalah 13, maka prosentase kesalahan
dari hasil yang kami dapat adalah sebesar 11,46 .
Adanya perbedaan dari grafik yang didapat dan nomor atom aluminium dengan teori
yang ada menunjukkan adanya kesalahan-kasalahan pada praktikum kami. Kesalahan-
kesalahan tersebut seperti kurangnya pemvakuman pada saat memvakumkan, tidak tepatnya
jarum menunjukkan sudut yang diinginkan, pada saat pergantian sudut karena tidak
divakumkan lagi maka yang dicacah oleh detektor tidak murni pada sudut itu tapi masih ada
gangguan dari sudut sebelumnya, alat chamber yang berisi partikel alpha yang telah aus
sehingga sudut yang di tunjuk dengan yang dicacah tidak sinkron, serta detektor yang sudah
tua sehingga dalam mencacah kadang ada error.

H. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Eksperimen hamburan Rutherford mampu membuktikan adanya inti atom yaitu adanya
berkas partikel alpha yang terhambur pada sudut kecil karena danya masa massif dimana
mas massif itu adalah inti atom.
2. Berkas partikel alfa yang diteruskan (0) menunjukan adanya ruang kosong pada atom
yang merupakan lintasan elektron disekitar inti atom.
3. Jumlah cacahan terbesar terdapat pada sudut hamburan 0, semakin mendekati sudut 0
maka jumlah cacahan akan semakin banyak.
4. Nomor atom Al yang didapatkan pada praktikum adalah 11,51 dengan prosentase
sebesar 11,46 . Jika dibandingkan dengan nomor atom Al di teori yang sebesar 13.

I. DAFTAR PUSTAKA
1. Krane,Kanneth S. 1992. Fisika Modern. Universitas Indonesia. Jakarta:
UI-press. Hal.217-244
2. Lybold. 1998. General Cataloque of Physics Experiment.1998