Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah yang maha kuasa karena atas rahmat dan karunianya kita
dapat mengenal ilmu dan pengetahuan. Dan kami mengucapkan terima kasih kepada ibu
dosen yang telah mengajari kami ilmu yang sangat banyak, berkat ilmu itu juga kami mampu
menyelesaikan makalah ini pada waktunya.

Dalam menyusun makalah ini, kami menyadari masih banyak kekurangan karena
keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan makalah kami selanjutnya.

Medan, Maret 2017

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Trauma lahir adalah trauma pada bayi yang diterima dalam atau karena proses
kelahiran. Trauma ini dapat merupakan akibat dari keterampilan atau perhatian medis yang
tidak tepat atau kurang, atau trauma dapat terjadi walaupun terdapat keterampilan dan
kemampuan melakukan obstetric, tidak bergantung pada suatu tindakan atau kelalaian.
(Nelson, 2000).

Insiden trauma lahir diperkirakan 2-7/1.000 kelahiran hidup.Faktor-faktor


predisposisinya meliputi makrosomia, prematuritas, disproporsi kepala terhadap panggul,
distosia, kelahiran yang lama dan presentasi bokong.Secara keseluruhan, 5-8/100.000 bayi
meninggal karena trauma lahir.

Trauma kepala dan kulit kepala dapat terjadi selama proses persalinan yang biasanya
ringan namun kadang-kadang bisa mengakibatkan cedera yang lebih serius, seperti
perdarahan intrakranial dan hematoma subdural. Tiga jenis cedera perdarahan ekstrakranial
yang paling sering adalah kaput suksedaneum, perdarahan subgaleal, dan sefalhematoma.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian cedera/trauma lahir ?


2. Apa saja penyebab cedera/trauma lahir ?
3. Apa saja macam-macam cedera/trauma lahir ?
4. Bagaimana tanda- tanda dari cedera/trauma lahir ?
5. Bagaimana penanganan dari cedera/trauma lahir ?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian cedera/trauma lahir


2. Untuk mengetahui penyebab cedera/trauma lahir
3. Untuk mengetahui macam macam cedera/trauma lahir
4. Untuk mengetahui tanda tanda cedera/trauma lahir
5. Untuk mengetahui penanganan dari cedera/trauma lahir
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian cedera/trauma lahir

Trauma lahir merupakan perlakuan pada bayi baru lahir yang terjadi dalam proses
persalinan atau kelahiran.Luka yang terjadi pada saat melahirkan amniosentesis, transfusi,
intrauterin, akibat pengambilan darah vena kulit kepala fetus, dan luka yang terjadi pada
waktu melakukan resusitasi aktif tidak termasuk dalam pengertian

2.2 Macam macam cedera/trauma lahir

1. Perlakuan pada susunan syaraf


1. Brakial Palsi
Fleksus brachialis adalah anyaman (latin : fleksus ) serat saraf yang berjalan dari
tulang belakang C5-T1, kemudian melewati bagian leher dan ketiak, dan akhirnya
keseluruh lengan ( atas dan bawah ). Serabut saraf akan didistribusikan kebeberapa
bagian lengan. Jaringan saraf dibentuk oleh cervical yang bersambuangan dengan
dada dan tulang belakang urat dan pengadaan di lengan dan bagian bahu.

2. Jenis dari Brakial Palsi

1.Paralisis Erb-Duchene
1. Upper radicular syndrome (Erb-Duchenne palsy)adalah lengan berada dalam posisi
abduksi, putaran ke dalam, lengan bawah dalam pranasi, dan telapak tangan ke dorsal.
Pada trauma lahir Erb, perlu diperhatikan kemungkinan terbukannya pula serabut
saraf frenikus yang menginervasi otot diafragma.
2. Pada trauma yang ringan yang hanya berupa edema atau perdarahan ringan pada
pangkal saraf, fiksasi hanya dilakukan beberapa hari atau 1 2 minggu untuk
memberikesempatan penyembuhan yang kemudian diikuti program mobilisasi atau
latihan.Secara klinis di samping gejala kelumpuhan Erb akan terlihat pula adanya
sindrom gangguan nafas.
3. Penanganan pada kerusakan fleksus ini, antara lain meletakkan lengan atas dalam
posisi abduksi 900 dalam putaran keluar, siku dalam fleksi 900 dengan supinasi lengan
bawah dan ekstensi pergelangan tangan, serta telapak tangan menghadap depan.
Kerusakan ini akan sembuh dalam waktu 3-6 bulan. Penanganan terhadap trauma
pleksus brakialis ditujukan untuk mempercepat penyembuhan serabut saraf yang
rusak dan mencegah kemungkinan komplikasi lain seperti kontraksi otot
4. Upaya ini dilakukan antara lain dengan jalan imobilisasi pada posisi tertentu selama 1
2 minggu yang kemudian diikuti program latihan. Pada trauma ini imobilisasi
dilakukan dengan cara fiksasi lengan yang sakit dalam posisi yang berlawanan dengan
posisi karakteristik kelumpuhan Erg. Lengan yang sakit difiksasi dalam posisi abduksi
900 disertai eksorotasi pada sendi bahu, fleksi 900.
2. Lower Radicular Syndrome (Klumpkes Palsy)
Kerusakan cabang-cabang C8 Th1 pleksus brakialis menyebabkan kelemahan
lengan otot-otot fleksus pergelangan, maka bayi tidak dapat mengepal.
Penyebabnya adalah tarikan yang kuat daerah leher pada kelahiran bayi
menyebabkan kerusakan pada pleksus brakialis. Sering dijumpai pada letak sungsang
atau pada letak kepala bila terjadi distosia bahu.
Secara klinis terlihat refleks pegang menjadi negatif, telapak tangan terkulai lemah,
sedangkan refleksi biseps dan radialis tetap positif. Jika serabut simpatis ikut terkena,
maka akan terlihat simdrom HORNER yang ditandai antara lain oleh adanya gejala
prosis, miosis, enoftalmus, dan hilangnya keringat di daerah kepala dan muka
homolateral dari trauma lahir tersebut.
Penatalaksanaan trauma lahir klumpke berupa imbolisasi dengan memasang bidang
pada telapak tangan dan sendiri tangan yang sakit pada posisi netrak yang selanjutnya
diusahakan program latihan.

3. Paralisis Nervus Frenikus


Trauma lahir saraf frenikus terjadi akibat kerusakan serabut saraf C3, 4, 5 yang
merupakan salah satu gugusan saraf dalam pleksus brakialis. Serabut saraf frenikus
berfungsi menginervasi otot diafragma, sehingga pada gangguan radiologik, yang
menunjukkan adanya elevasi diafragma yang sakit serta pergeseran mediastinum dan
jantung ke arah yang berlawanan.
Pada pemeriksaan fluoroskopi, disamping terlihatdiafragma yang sakit lebih tinggi
dari yang sehat, terlihat pula gerakan paradoksimal atau seesawmovements pada
kedua hemidiafragma.
Gambaran yang akan tampak adalah waktu inspirasi diafragma yang sehat bergerak ke
bawah, sedang diafragma yang sakit bergerak ke atas, gambaran sebaliknya tampak
pada waktu ekspirasi. Pada pemeriksaan fluoroskopi terlihat mediastinum bergeser ke
posisi normal pada waktu inspirasi.
Pengobatan ditujukan untuk memperbaiki keadaan umum bayi. Bayi diletakkan
miring ke bagian yang sakit, disamping diberikan terapi O2. Pemberian cairan Intra
Vena pada hari-hari pertama dapat dipertimbangkan bila keadaan bayi kurang baik
atau dikhawatirkan terjadinya asidosis. Jika keadaan umum telah membaik,
pemberian minum per oral dapat dipertimbangkan.
Pada kasus demikian perlu pengawasan cermat kemungkinan pneumonia hipostatik
akibat gangguan fungsi diafragma pada bagian yang sakit. Pemberian antibiotik
sangat dianjurkan bila gangguan pernafasan terlihat berat atau kelumpuhan saraf
frenikus bersifat bilateral, maka dapat dipertimbangkan penggunaan ventilator.
Penggunaan pacu elektrik diafragma dapat digunakan dianjurkan bila sarana
memungkinkan serta kontraksi otot diafragma cukup baik.
Tindakan bedah dapat dilakukan bila saat nafas sangat berat atau sesak nafas
bertambah berat walaupun telah dilakukan pengobatan konservatif yang memadai.
Walupun bayi tidak menunjukkan gejala sesak berat tetapi pada pemeriksaan
radiologi, 3 4 bulan kemudian fungsi hemidiafragma yang sakit tidak menunjukkan
kemajuan yang berarti, maka perlu dipikirkan terhadap kemungkinan tindakan bedah.

2.3. Penyebab Brakial Palsi


Trauma fleksus brakhialis pada bayi dapat terjadi karena beberapa faktor antara lain:
1) Faktor bayi sendiri : makrosomia, presentasi ganda, letak sunsang, distosia bahu,
malpresentasi, bayi kurang bulan
2) Faktor ibu : ibu (panggul ibu yang sempit), umur ibu yang sudah tua, adanya
penyulit saat persalinan
3) faktor penolong persalinan : tarikan yang berlebihan pada kepala dan leher saat
menolong kelahiran bahu pada presentasi kepala, tarikan yang berlebihan pada bahu
pada presentasi bokong.

2.4. Tanda dan Gejala Brakial Palsi


Tanda dan gejala trauma fleksus brachialis antara lain :
a. gangguan motorik pada lengan atas
b. paralisis atau kelumpuhan pada lengan atas dan lengan bawah
c. lengan atas dalam keadaan ekstensi dan abduksi
d. jika anak diangkat maka lengan akan lemas dan tergantung
e. reflex moro negative
f. tangan tidak bisa menggenggam
g. reflex meraih dengan tangan tidak ada
Gejala-gejala tersebut tergantung besar kecilnya kelumpuhan

2.5. Cara Penanganan Barakial Palsi


Penanganan atau penatalaksanaan kebidanan meliputi rujukan untuk membebat yang
terkena dekat dengan tubuh dan konsultasi dengan tim pediatric. Penanganan terhadap
trauma pleksus brakialis ditujukan untuk mempercepat penyembuhan serabut saraf
yang rusak dan mencegah kemungkinan komplikasi lain seperti kontraksi otot. Upaya
ini dilakukan antara lain dengan cara :
1) Pada trauma yang ringan yang hanya berupa edema atau perdarahan ringan pada
pangkal saraf, fiksasi hanya dilakukan beberapa hari atau 1 2 minggu untuk
memberi kesempatan penyembuhan yang kemudian diikuti program mobilisasi atau
latihan.
2) Immobilisasi lengan yang lumpuh dalam posisi lengan atas abduksi 90 derajat, siku
fleksi 90 derajat disertai supine lengan bawah dan pergelangan tangan dalam keadaan
ekstensi
3) Beri penguat atau bidai selama 1 2 minggu pertama kehidupannya dengan cara
meletakkan tangan bayi yang lumpuh disebelah kepalanya.
4) Rujuk ke rumah sakit jika tidak bisa ditangani.
Penatalaksanaan dengan bentuk kuratif atau pengobatan.Pengobatan tergantung pada
lokasi dan jenis cedera pada pleksus brakialis dan mungkin termasuk terapi okupasi
dan fisik dan dalam beberapa kasus, pembedahan.Beberapa cedera pleksus brakialis
menyembuhkan sendiri.Anak-anak dapat pulih atau sembuh dengan 3 sampai 4 bulan.
Prognosis juga tergantung pada lokasi dan jenis cedera pleksus brakialis menentukan
prognosis.Untuk luka avulsion dan pecah tidak ada potensi untuk pemulihan kecuali
rekoneksi bedah dilakukan pada waktu yang tepat.Untuk cedera neuroma dan
neurapraxia potensi untuk pemulihan bervariasi.Kebanyakan pasien dengan cedera
neurapraxia sembuh secara spontan dengan kembali 90-100% fungsi.
Penanganan lesi pleksus brachialis efektif bila cepat terdeteksi atau dimulai pada usia
antara 3 sampai 6 bulan. Ada dua terapi utama untuk lesi pleksus brachialis yaitu :
1. latihan fisik melalui fisioterapi (occupational therapy)
2. Penanganan bedah
Penanganan awal penderita lesi plekus brachialis pada bayi lebih difokuskan pada
mempertahankan pergerakan seluruh sendi disamping terapi fisik sebagai antisipasi
bila tidak terjadi perbaikan spontan dari fungsi saraf.Perbaikan spontan terjadi pada
umumnya pada sebagian besar kasus dengan terapi fisik sebagai satu-satunya
penanganan.Ada atau tidaknya fungsi motorik pada 2 sampai 6 bulan pertama
merupakan acuan dibutuhkannya penanganan bedah. Graft bedah mikro untuk
komponen utama pleksus brachialis dapat dilakukan pada kasus-kasus avulsi akar
saraf atau ruptur yang tidak mengalami perbaikan.

2. Fraktur(Patah Tulang)

2.1 Pengertian Fraktur


Fraktur adalah retaknya tulang, biasanya disertai dengan cedera di jaringan sekitarnya.
Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada
tulang, baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung.
Fraktur tulang kadang terjadi selama kelahiran. Menurut Hamilton (2000), tulang-tulang
yang kebanyakan mengalami cedera adalah klavikula, humerus, femorus. Gejala fraktur pada
bayi baru lahir adalah sebagai berikut:
1. Perubahan warna jaringan yang terkena.
2. Deformitas postur tubuh atau bengkak.
3. Abnormal mobilitas atau kurangnya gerakan.
4. Menangis merintih ketika tulang digerakkan

2.2 Fraktur Humerus


A. Pengertian
Fraktur Humerus adalah Fraktur humerus adalah Kelainan yang terjadi pada kesalahan
teknik dalam melahirkan lengan pada presentasi puncak kepala atau letak sungsang dengan
lengan membumbung ke atas. Pada keadaan ini biasanya sisi yang terkena tidak dapat
digerakkan dan refleks Moro pada sisi tersebut menghilang.

B. Etiologi
Fraktur humerus lebih jarang terjadi. Kesulitan yang dijumpai saat pengeluatan bahu
pada presentasi kepala dan lengan ekstensi pada letak sungsang sering menyebabkan fraktur
ini. akan tetapi, hingga 70% kasus terjadi pada persalinan normal. Fraktur ekstrimitas atas
yang berkaitan dengan persalinan sering berjenis greenstick, meskipun dapat terjadi fraktur
komplet disertai tumpang tindih tulang (Cunningham, 2005).
Fraktur tulang humerus umumnya terjadi pada kelahiran letak sungsang dengan tangan
menjungkit ke atasa. Kesukaran melahirkan tangan yang menjungkit inilah merupakan
penyebab terjadinya fraktur tulang humerus. Pada kelahiran presentasi kepala dapat pula
ditemukan fraktur ini bila terjadi tekanan yang keras dan langsung pada tulang humerus oleh
tulang pelvis.

C. Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan
tekanan ( Apley,A. Graham.1997 ). Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar
dari tekanan yang dapat ditoleransi tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang
mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang ( Carpnito, Lynda Juall. 1997).
Setelah terjadi fraktur , periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks dan
jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut
dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan yang mengalami nekrosis ini
menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma
dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih.

D. Penyebab
a. Umumnya terjadi pada kelahiran letak sungsang dengan tangan menjungkit keatas
b. Kesukaran melahirkan tangan yang menjungkit merupakan penyebab terjadinya
tulang humerus yang fraktur

E. Jenis Fraktur Humeri


1. Fraktur suprakondilar humerus, ini terbagi atas:
a. Jenis ekstensi yang terjadi karena trauma langsung pada humerus distal melalui
benturan pada siku dan lengan bawah pada posisi supinasi dan posisi lengan siku
dalam posisi ekstensi dengan tangan terfiksasi.
b. Jenis fleksi pada anak biasanya terjadi akibat jatuh pada telapak tangan dengan tangan
dan lengan bawah dalam posisi pronasi dan siku dalam posisi sedikit fleksi.
2. Fraktur interkondiler humerus
Fraktur yang sering terjadi pada anak adalah fraktur kondiler latreralis dan fraktur
kondiler medialis humerus.
3. Frakur batang humerus
Fraktur ini disebabkan oleh trauma langsung yang mengakibatkan fraktur spiral (fraktur
yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi).
4. Fraktur kolum humerus
Fraktur ini dapat terjadi pada kolum antomikum (terletak dibawah kaput humeri) dan
kolum sirurgikum (terletak dibawah tuberkulum).

F. Gejala
Gejala klinis dapat diketahui dengan:
1. Berkurangnya gerakan tangan yang sakit.
2. Refleks moro asimetris
3. Terabanya deformitas dan krepotasi di daerah fraktur disertai rasa sakit.
4. Terjadinya tangisan bayi pada gerakan pasif.Letak fraktur umumnya di daerah diafisi.
Diagnosa pasti ditegakkan dengan pemeriksaan radiologik.
G. Penatalaksanaan
Pengobatan dilakukan dengan jalan imobilisasi selama 2-4 minggu dengan fiksasi bidai.
Prognosis penyembuhan fraktur tumpang tindih ringan dengan deformitas, umunya akan
baik. Dalam masa pertumbuhan dan pembentukan tulang pada bayi, maka tulang yang fraktur
tersebut akan tumbuh dan akhirnya akan mempunyai bentuk serta panjang yang normal. Hal
ini disebabkan karena fraktur tersebut akan member stimulais pertumbuhan pada epifisisnya.
Bila fraktur tulang humerus terletak di daerah sulkus nervus radialis, maka oerlu diperhatikan
kemungkinan adanya komplikasi paralisis saraf radialis.

H. Penanganan
Adapun cara penanganannya yaitu:
1. Imobilisasi lengan pada sisi bayi dengan lengan siku fleksi 90 selama 10-14 hari serta
kontrol nyeri.
2. Daya penyembuhan fraktur tulang bagi yang berupa fraktur tulang tumpang tindih ringan
dengan deformitas umunya akan baik.
3. Dalam masa pertumbuhan dan pembentukan tulang pada bayi, maka tulang yang fraktur
tersebut akan tumbuh dan akhirnya mempunyai bentuk panjang yang normal.

2.3 Fraktur Klavikula


A. Pengertian
Fraktur tulang klavikula merupakan trauma lahir pada tulang yang tersering ditemukan
dibandingkan dengan trauma tulang lainnya. Trauma ini ditemukan pada kelahiran letak
kepala yang mengalami kesukaran pada waktu melahirkan bahu, atau sering pula ditemukan
pada waktu melahirkan bahu atau sering juga terjadi pada lahir letak sungsang dengan tangan
menjungkit ke atas.

B. Epidemiologi
Menurut data epidemiologi pada orang dewasa insiden fraktur clavicula sekitar 40 kasus
dari 100.000 orang, dengan perbandingan laki-laki perempuan adalah 2 : 1. Fraktur pada
midclavicula yang paling sering terjadi yaitu sekitar 85% dari semua fraktur clavicula,
sementara fraktur bagian distal sekitar 10% dan bagian proximal sekitar 5%.
Sekitar 2% sampai 5% dari semua jenis fraktur merupakan fraktur clavicula. Menurut
American Academy of Orthopaedic Surgeon, frekuensi fraktur clavicula sekitar 1 kasus dari
1000 orang dalam satu tahun. Fraktur clavicula juga merupakan kasus trauma pada kasus
obstetrik dengan prevalensi 1 kasus dari 213 kasus kelahiran anak yang hidup.

C. Penyebab/ factor Predisposisi


1. Tekanan pada bahu oleh simphisis pubis selama
2. Bayi yang berukuran proses melahirkan. besar
3. Kecelakaan
4. Distosia bahu
5. Kompresi pada bahu
6. Partus dengan letak dalam jangka waktu sungsang lama
7. Proses patologik
8. Persalinan traumatic
D. Tanda / Gejala
a. Tanda :
1. Bayi tidak dapat menggerakkan lengan secara bebas pada sisi yang mengalami
gangguan.
2. Bayi rewel karena kesakitan.
3. Adanya krepitasi dan perubahan warna kulit di tempat yang sakit/fraktur.
4. Tidak adanya refleks moro pada yang terkena.
b. Gejala klinis:
1. Gerakan tangan kanan-kiri tidak sama
2. Refleks moro asimotris
3. Bayi menangis pada perabaan tulang klavikula
4. Gerakan pasif tangan yang sakit disertai riwayat persalinan yang sukar.

E. Penatalaksanaan
1. Jangan banyak digerakkan
2. Immobilisasi lengan dan bahu pada sisi yang sakit.
3. Rawat bayi dengan hati-hati.
4. Nutrisi yang adekuat (pemberian ASI yang adekuat dengan cara menganjurkan ibu
cara pemberian ASI dengan posisi tidur, dengan sendok, dengan pipet).
5. Rujuk ke RS/ Pelayanan kesehatan lainnya.

F. Jenis-jenis
Jenis fraktur pada trauma lahir ini umumnya jenis fraktur greenstick, walaupun kadang-
kadang dapat juga terjadi suatu fraktur total, fraktur ini ditemukan 1 2 minggu kemudian
setelah teraba adanya pembentukan kalus.

G. Pengobatan trauma lahir fraktur tulang kavikula


a. Imobilisasi lengan untuk mengurangi rasa sakit dan mempercepat pembentukan
kalus.
b. Lengan difiksasi pada tubuh anak dalam posisi abduksi 600 dan fleksi pergelangan
siku 900.
c. Umumnya dalam waktu 7 10 hari rasa sakit telah berkurang dan pembentukan
kalus telah terjadi.
3. Fraktur Tulang Tengkorak
Fraktur ini jarang terjadi karena tulang tengkorak bayi masih cukup lentur dan adanya
daya molase pada sutura tulang tengkorak.
Trauma ini biasanya di temukan pada kesukaran melahirkan kepala bayi yang
mengakibatkan terjadinya tekanan yang keras pada kepala bayi oleh tulang
pelvis ibu
Kemungkinan lain terjadinya trauma ini adalah pada kelahiran cunam yang
disebabkan oleh jepitan keras umumnya berupa fraktur linier atau fraktur
depresi, fraktur basis kranu jarang terjadi
Pada fraktur linier, secara klinis biasanya di sertai adanya hematoma sefal di daerah
tersebut.
Umumnya tingkah laku bayi terlihat normal saja kecuali bla fraktur linier ini
disertai perdarahan ke arah subdural arau subarachnoid.
Diagnosa fraktur atau fisura linier tanpa komplikasi tidak memerlukan
tindakan khusus, tetapi pemeriksaan ulang radiologik perlu memerlukan 4-6
minggu kemudian untuk meyakinkan telah terjadinya penutupan fraktur linier
tersebut, di samping untuk mengetahui secara dini kemungkinan terjadinya
kista leptomeningeal di bawah tempat fraktur.
Prognosis fraktur linier baik, biasanya akan sembuh sedini dalam beberapa
minggu.
Bila terjadi komplikasi seperti kista. Pengobatan oleh bidang bedah syaraf
harus dilakukan sedini mungkin.
Pada fraktur depresi secara klinis jelas terllihat teraba adanya lekukan pada atap
tulang tengkorak bayi
Trauma lahir ini lebih sering ditemukan pada kelahiran dengan cunam, fraktur
depresi yang kecil tanpa komplikasi atau tanpa gejala neurologik biasanya
akan sembuh sendiri tanpa tindakan, tetapi memerlukan observasi yang teliti
Pada lekukan yang tidak terlalu lebar tanpa gejala neurologik, beberapa cara
sederhana dapat dilakukan untuk mengangkat lekukan tersebut, seperti teknik
penekanan pinggir fraktur atau dengan pemakaian pompa susu ibu sebagai alat
vakum pada lekukan tersebut
Pada fraktur depresi yang besar, apalagi jika di sertai adanya trauma
intrakranial dan gejala kelainan neurologik, perlu dilakukan intervensi bedah
syaraf untuk mengangkat lekukan tulang guna mencegah kerusakan korteks
serebri akibat penekanan lekukan tulang.
Prognosis fraktur depresi umumnya baik bila tindakan pengobatan yang perlu
dapat segera dilaksanakan.

4. Fraktur tulang femur


Umumnya fraktur pada kelahiran sungsang dengan kesukaran melahirkan kaki. Letak
fraktur dapat terjadi di daerah epifisis, batang tulang leher tulang femur.
Gejala :
Di ketahui beberapa hari kemudian dengan di temukan adanya gerakan kaki
yang berkurang dan asimetris
Adanya gerakan asimetris serta di temukannya deformitas dan krepitasi pada
tulang femur.
Diagnosis pasti di tegakkan dengan pemeriksaan radiologik
Pengobatan fraktur tulang femur :
Imobilisasi tungkai bawah dengan jalan fiksasi yang di ikuti oleh program
latihan
Di rujuk ke bagian bedah tulang

3. Perlakuan Jaringan lunak bayi

1. Caput Suksedaneum
A. Defenisi
Caput suksedaneum adalah oedema subcutis akibat penekanan jalan lahir pada
persalinan letak kepala, berbentuk benjolan yang segera tampak segera setelah bayi
lahir, tak berbatas tegas dan melewati batas sutura. Kelainan ini biasanya ditemukan
pada presentasi kepala, sesuai dengan yang bersangkutan. Pada bagian tersebut terjadi
edema sebagai akibat pengeluaran serum pembuluh darah. Caput suksedenum tidak
memerlukan pengobatan khusus dan bisanya menghilang setelah 2-5 hari (Rukiyah,
2012).

B. Etiologi
Caput suksedaneum terjadi karena adanya tekanan yang kuat pada kepala pada
saat memasuki jalan lahir, sehingga terjadi bendungan sirkulasi perifer dan limfe yang
disertai dengan pengeluaran cairan tubuh ke jaringan ekstravaskular. Keadaan ini bisa
terjadi pada partus lama atau persalinan dengan vaccum akstraksi (Dewi, 2010).

C. Tanda dan Gejala


Caput suksedenum muncul sebagai pembengkakan kulit kepala yang
memanjang di garis tengah dan atas garis jahitan dan berhubungan dengan kepala
pencetakan (Rukiyah, 2012).
Gejala-gejala yang muncul pada kelainan ini adalah sebagai berikut yaitu udema
dikepala, terasa lembut dan lunak pada perabaan, benjolan berisi serum dan kadang
bercampur dengan darah, udema melampaui tulang tengkorak, batas yang tidak jelas,
permukaan kulit pada benjolan berwarna ungu atau kemerahan dan benjolan akan
menghilang sekitar 2-3 minggu tanpa pengobatan (Dewi, 2010).
Tanda dan gejala pada caput suksedaneum yaitu seperti pembengkakan dikulit
kepala bayi yang baru lahir, tidak memiliki derajat memar dan pembengkakan dapat
memperpanjang atas garis tengah kepala (Maryanti dkk, 2011).
D. Penanganan
Asuhan atau penanganan pada bayi yang mengalami caput suksedaneum
terdiri dari pengamatan saja, pemulihan biasanya akan terjadi dengan cepat. Jika kulit
kepala bayi atau kontur telah berubah, kontur normal harus kembali. Bayi akan sering
marah sehingga mungkin memerlukan analgesia dan penanganan harus disimpan ke
minimum untuk beberapa hari pertama (Rukiyah, 2012).

E. Faktor Predisposisi
Persalinan dengan partus lama, partus dengan tindakan, dari tekanan uterus
atau dinding vagina (Rukiyah, 2012).
F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan bayi baru lahir dengan caput suksedaneum adalah bayi
dirawat seperti bayi normal, observasi keadaan umum bayi, pemberian ASI adekuat,
cegah terjadinya infeksi (Rukiyah, 2012).
Menurut Dewi (2010) penatalaksanaan pada bayi baru lahir dengan caput
suksedaneum yaitu perawatan bayi sama dengan perawatan bayi normal, pengawasan
keadaan umum bayi, berikan lingkungan yang baik, adanya ventilasi dan sinar
matahari yang cukup, pemberian ASI yang adekuat, bidan harus mengajarkan pada
ibu tenik menyusui dengan benar, pencegahan infeksi harus dilakukan untuk
menghindari adanya infeksi pada benjolan, memberikan konseling pada orang tua
tentang (Keadaan trauma yang dialami oleh bayi, jelaskan bahwa benjolan akan
hilang dengan sendirinya setelah 2-3 minggu tanpa pengobatan, perawatan bayi
sehari-hari dan manfaat dan teknik pemberian ASI).

G. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada caput suksedaneun yaitu kaput hemoragik, infeksi,
ikhterus, anemia (Rukiyah, 2012).

2. Cephalhematoma
A. Defenisi
Pengertian istilah cephalhematoma mengacu pada pengumpulan darah di atas
tulang tengkorak yang disebabkan oleh perdarahan subperiosteal dan berbatas tegas
pada tulang yang bersangkutan dan tidak melampaui sutura-sutura sekitarnya, sering
ditemukan pada tulang temporal dan parietal. Kelainan dapat terjadi pada persalinan
biasa tetapi lebih sering persalinan lama atau persalinan yang di akhiri dengan alat,
seperti ekstraksi cunam atau vakum. (Rukiyah, 2012).
Cephal hematoma adalah pembengkakan pada daerah kepala karena adanya
penumpukan darah akibat perdarahan pada subperiostinum (Dewi, 2010).

B. Etiologi
Cephalhematoma dapat disebabkan oleh beberapa kondisi seperti adanya
tekanan jalan lahir yang terlalu lama, molase yang terlalu kuat, dan partus dengan
tindakan (Dewi, 2010).

C. Tanda dan Gejala


Menurut Dewi (2010) tanda dan gejala yang muncul pada bayi dengan cephal
hematoma adalah sebagai berikut kepala tampak bengkak dan berwarna merah,
tampak benjolan dengan batas yang tegas dan tidak melampaui tulang tengkorak, pada
perabaan terasa mula mula keras kemudian menjadi lembek, benjolan tampak jelas
kurang lebih 6-8 jam setelah lahir, benjolan membesar pada hari kedua atau ketiga
daan benjolan akan menghilang dalam beberapa minggu.
Gejala lanjut yang mungkin terjadi, bayi anemia dan hiperbilirubinemia. Kadang-
kadang cephalhematoma disertai dengan fraktur tulang tengkorak dibawahnya atau
perdarahan intracranial. Kelainan ini dapat menghilang dengan sendirinya setelah 2-
12 hari minggu, jika tidak ditemukan gejala lanjut (Sarwono, 2006).

D. Faktor Predisposisi
Tekanan jalan lahir yang terlalu lama pada kepala saat persalinan, moulage terlalu
keras, partus dengan tindakan seperti forcep, vacum ekstraksi, komplikasi ikhterus,
anemia, infeksi, klasifikasi mungkin bertahan selama > 1 tahun (Rukiyah, 2012).

E. Penatalaksanaan
Menurut Dewi (2010) penatalaksanaan yang dilakukan pada cephalhematoma adalah
sebagai berikut :
a. Perawatan yang dilakukan hamper sama dengan caput suksedanium.
b. Jika ada luka dijaga agar tatap bersih dan kering.
c. Lakukan pemberian pitamin K jika perlu.
d. Apabila dicurigai terjadi fraktur tulang tengkorak, harus dilakukan
pemeriksaan lain seperti foto torak.
e. Lakukan pemeriksaaan radiologic apabila dicurigai terdapat gangguan
susunan saraf pusat, seperti tampak benjolan yang sangat luas.

3. Perdarahan Subafoneurosis
Perdarahan subafoneurosis meruupakan perdarahan masif dalam jaringan lunak di
bawah lapisan aponeurosis epikranial
Trauma lahir ini sering disebut pula sebagai hematoma sefal subaponeurosis
Perdarahan ini disebabkan karena pecahnya pembuluh vena emisaria
Perdarahan timbul secara perlahan dan mengisi ruang jaringan yang luas, sehingga
benjolan trauma lahir ini biasanya baru terlihat setelah 24 jam sampai hari kedua
pasca lahir
Pada perdarahan yang cepat dan luas, benjolan dapat teraba 12 jam setelah bayi lahir
Pada umumnya bayi lahir dengan letak kepala yang tidak normal atau kelahiran
dengan tindakan misalnya tarikan vakum berat
Pada benjolan yang luas perlu di pikirkan kemungkinan adanya gangguan sistem
pembekuan. Bayi perlu mendapat vitamin K
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah perdarahan yang luas
Dalam keadaan ini mungkin dapat timbul renjatan akibat perdarahan
Pengobatan dalam keadaan ini berupa pemberian transfusi darah
Komplikasi lain adalah kemungkinan terjadinya hiperbilirubinemia akibat resorpsi
timbunan darah.

4. Eritema, petekie dan ekimosis


Eritemia sering terlihat pada bayi yang mengalami disproporsi sefola peink
Trauma ini terlihat di daerah presentasi kelahiran. Di daerah tersebut kulit
berwarna merah
Trauma jenis ini dapat ditemukan pula pada kelahiran dengan cunam, terlihat kulit
berwarna merah di daerah yang mengalami jepitan daun cunam
Petekie terlihat sebagai bercak merah kecil kecil di permukaan kulit
Kejadian ini di sebabkan adanya gangguan aliran darah perifer akibat suatu
bendungan
Pada kejadian ini, di samping petekie sering terlihat pula seluruh muka bayi
menjadi biru yang memberi kesan seolah olah bayi mengalami sianosis
Ekimosis merupakan trauma lahir berbentuk perdarahan yang lebih luas di bawah
permukaan kulit.
Kejadian ini dapat di temukan di daerah labia mayora, pantat atau skrotum pada
lahir sungsang letak kaki atau upada lahir bayi dengan kaki atau tangan
menumbang, makan jenis trauma lahir hematoma ini sering dijumpai di daerah
ekstremitas yang menumbang
Pada hematoma dan ekimosis yang cukup luas perlu diperhatikan kemungkinan
terjadinya oenurunan kadar hemoglobin, khususnya pada bayi kuran bulan atau
pada bayi akibat absorpsi sel darah merah di daerah trauma lahir tersebut.

5. Trauma Muskulus Sternokleido-Mastoideus


Trauma Muskulus Sternokleido-Mastoideus adalah suatu hematoma (tumor yang
dijumpai pada otot sternokleidomastoideus.
Trauma ini sering disebut pula sebagai tortikolis otot leher. Diduga trauma ini
terjadi akibat robekan sarung otot sternokleido-mastoideus. Perobekan ini
menimbulkan hematoma yang bila dibiarkan akan diikuti pembentukan jaringan fibrin
dan akhirnya akan menjadi jaringna sisa
Beberapa pendapaat mengemukakan bahwa dasar kelainan ini telah dijumpai sejak
kehdupan intrauterine sebagai gangguan pertumbuhan otot tersebut atau pengaruh
posisi fetus intrauterine.
Secara klinis umumnya ; benjolan baru terlihat 10-14 hari setelah kelahiran.Benjolan
terletak kira-kira dipertengahan otot sternokleido-mastoideus. Pada perabaan teraba
benjolan berkonsistensi keras dengan garis tengah 1-2 cm, berbatas tegas, sukar
digerakan dan tidak menunjukan adanya radang.Benjolan akan membesar dalam
waktu 2-4 minggu kemudian.
Akibatnya posisi kepala bayi akan terlihat miring ke arah bagian yang sakit,
sedangkan dagu menengadah dan berputar kearah yang berlawanan dari bagian yang
sakit.
Pengobatannya dilakukan sedini mungkin dengan latihan fisioterapi. Tujuan latihan
ini adalah untuk meregangkan kembali otot yang sakit agar tidak terlanjur
memendek.Dengan pengobatan konservativf yang dilakukan dini dan teratur ,
benjolan akan hilang dalam 2-3 bulan.

6. Perdarahan Subkonjungtiva
Perdarahan Subkonjungtiva adalah salah satu trauma lahir di bola mata yang dapat
dilihat dari luar adalah perdarahan subkonjungtiva. Hal ini terjadi akibat dari
persalinan kala II yang lama atau akibat dari lilitan tali pusat yang erat di dsaerah
leher.
Perdarahan ini di tandai dengan bercak merah di daerah konjungtiva, bulbi.
Perdarahan dapat di jumpai pada kelahiran spontan letak kepala, walaupun akan lebih
sering terlihat pada kelahiran letak muka atau letak dahi.
Pengobatan khusus umumnya tidak di perlukan.
Bercak merah di daerah sklera ini umumnya akan hilang sendir dalam waktu 1-2
minggu. Pada waktu proses penyembuhan bercak tersebut akan mengalami absorpsi
dan akan berubah warna menjadi jingga dan kuning. Bila perdarahan subkonjungtiva
cukup besar dan dalam riwayat kelahiran bayi di temukan kesukaran dalam
mengeluarkan kepala, maka perlu dipikirkan pula kemungkinan adanya perdarahan
yang lebih dalam dibola mata.

7. Nekrosis Jaringan Lemak Subkutis


Trauma lahir ini akan lebih banyak di temukan pada bayi besar yang mengalami
kesukaran pada waktu kelahirannya serta banyak mengalamimanipulasi. Trauma ini
dapat terlihat pula pada daerah yang mengalami tekanan keras di jaringan kulit dan
subkutis misalnya oleh daun cunan.
Adanya iskemia lokal yang disertai hipoksia atau keadaan hipotensi akan
mempermudah kemungkinan terjadinya jenis trauma Lahir tersebut.
Gejala klinis ditandai dengan adanya benjolan yang mengeras di jaringan kulit dan
subkutis, berbatas tegas dengan permukaan kulit yang berwarna kemerahan.
Benjolan pada minggu pertama, tetapi dapat pula sampai minggu keenam.
Lokasi benjolan sering ditemukan di tempat beralaskan keras seperti didaerah pipi,
punggung leher, pantat atau ekstremitas atas dan bawah.
Trauma lahir ini tidak memerlukan pengobatan khusus dan biasanya akan hilang
sendiri dalam enam sampai delapan jam.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Trauma dapat terjadi sebagai akibat ketrampilan atau perhatian medik yang tidak pantas
atau yang tidak memadai sama sekali, atau dapat terjadi meskipun telah mendapat perawatan
kebidanan yang terampil dan kompeten dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan tindakan
atau sikap orang tua yang acuh tak acuh