Anda di halaman 1dari 16

Ketimpangan Distribusi Pendapatan dan Angka Gini Koefisien di Indonesia

Rizki Amalia*
*) Mining Engineering of Hasanuddin University
Amaliarizkyy92@gmail.com

Abstract: Pada umumnya di negara negara yang sedang berkembang masalah


pendapatan yang rendah dan kemiskinan merupakan masalah utama dalam
pembangunan ekonomi. Dalam tujuan pembangunan ekonomi kedua hal tersebut
selalu dinyatakan bersamaan yaitu peningkatan pendapatan nasional dan
pengurangan kemiskinan. Berbicara perihal kemiskinan maka secara langsung
(eksplisit) maupun tidak langsung (Implisit) telah membicarakan tentang
ketimpangan distribusi pendapatan penduduk. Salah satu tolak ukur untuk
menghitung tingkat pemerataan pendapatan adalah Gini Koefisien atau Gini
Rasio. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui mengenai apa itu
gini koefisien dan bagaimana cara menghitungnya serta melihat distribusi
pendapatan di Indonesia yang diukur dengan Gini koefisien dari tahun ke tahun.
Dengan mengetahui hal tersebut diharapakan dapat menjadi perhatian
pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama dalam mengupayakan
pemerataan pendapatan serta pembangunan untuk mewujudkan kesejahteraan
seluruh Indonesia.

Keywords : Pemerataan Pembangunan, Ketimpangan, Distribusi Pendapatan,


Kemiskinan, Gini Koefisien.

Latar Belakang

Hakikat pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila adalah


pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat
Indonesia seluruhnya, dengan Pancasila sebagai dasar, tujuan, dan pedoman
pembangunan nasional. Selaras dengan amanat Pancasila dan UUD 1945, Garis-
garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993 mengarahkan agar pembangunan
nasional dilaksanakan merata di seluruh tanah air dan tidak hanya untuk suatu
golongan atau sebagian dari masyarakat, tetapi untuk seluruh masyarakat, serta
harus benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh rakyat sebagai perbaikan tingkat
hidup yang berkeadilan sosial, yang menjadi tujuan dan cita-cita kemerdekaan
bangsa Indonesia.

Pembangunan nasional adalah pembangunan dari, oleh, dan untuk rakyat,


dilaksanakan di semua aspek kehidupan bangsa yang meliputi aspek politik,
ekonomi, sosial budaya, dan aspek perta-hanan keamanan, serta merupakan
kehendak seluruh bangsa untuk terus menerus meningkatkan kesejahteraan dan
kemakmuran rakyat secara merata, untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan
lahir batin termasuk terpenuhinya rasa aman, rasa tenteram, dan rasa keadilan
bagi seluruh rakyat.

Salah satu aspek pembangunan nasional yang perlu diperhatikan pemeratannya


adalah pembangunan dalam bidang ekonomi. Pada umumnya di negara negara
yang sedang berkembang masalah pendapatan yang rendah dan kemiskinan
merupakan masalah utama dalam pembangunan ekonomi. Dengan demikian
dalam tujuan pembangunan ekonomi kedua hal tersebut selalu dinyatakan
bersamaan sehingga menjadi satu kalimat yaitu peningkatan pendapatan nasional
dan pengurangan kemiskinan.

Dalam upaya meningkatkan pendapatan nasional maka pesoalan pendapatan per


kapita dan distribusi pendapatan merupakan dimensi yang perlu mendapatkan
perhatian. Hal ini terutama untuk melihat tingkat pendapatan dan pembagian
pendapatan diantara warga masyarakatnya yaitu siapa yang mendapatkan dan
siapa yang beruntung. Aspek ini semakin menarik, terutama dikaitkan dengan
masih besarnya rakyat miskin di Indonesia terutama di wilayah pedesaan.
Berbicara perihal kemiskinan maka secara langsung (eksplisit) maupun tidak
langsung (Implisit) telah membicarakan tentang ketimpangan distribusi
pendapatan penduduk. Salah satu tolak ukur untuk menghitung tingkat
pemerataan pendapatan adalah Gini Koefisien atau Gini Rasio.

Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui mengenai apa itu gini
koefisien dan bagaimana cara menghitungnya serta mengetahui distribusi
pendapatan di Indonesia yang diukur dengan Gini koefisien dari tahun ke tahun.
Dengan mengetahui hal tersebut diharapakan dapat menjadi perhatian
pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama dalam mengupayakan
pemerataan pendapatan serta pembangunan untuk mewujudkan kesejahteraan
seluruh Indonesia.

Metodologi dan data

Metodologi

Studi ini dilakukan dengan metode observasi berdasarkan data historis dan
informasi mengenai distribusi pendapatan yang diukur dengan menggunakan Gini
koefisien di wilayah-wilayah Indonesia. Selain itu, dilakukan studi literatur
mengenai hal-hal yang terkait dengan gini koefisien dan bagaimana cara
perhitungannya.

Data

Data-data dan informasi yang digunakan dalam studi ini berupa kumpulan data
yang berasal dari buku, internet, dan jurnal-jurnal yang berhubungan dengan Gini
koefisien dan distribusi pendapatan yang diukur dengan menggunakan Gini
koefisien di wilayah-wilayah di Indonesia.

Hasil dan Pembahasan.

A. Ketimpangan Distribusi Pendapatan


Pendapatan merupakan suatu gambaran tingkat kemampuan seseorang
dalam memenuhi kebutuhan materinya dalam satuan waktu tertentu, biasanya per
bulan. Tingkat pendapatan ini sering dihubungkan dengan suatu standard
kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.
Pendapatan dapat diperoleh seseorang dari mata pencaharian utama dengan
atau tanpa mata pencaharian lain. Dengan demikian seseorang diharapkan
mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Distribusi pendapatan pada dasarnya merupakan suatu konsep mengenai
penyebaran pendapatan di antara setiap orang atau rumah tangga dalam
masyarakat. Konsep pengukuran distribusi pendapatan dapat ditunjukkan oleh
dua konsep pokok, yaitu konsep ketimpangan absolut dan konsep ketimpangan
relatif. Ketimpangan absolut merupakan konsep pengukuran ketimpangan yang
menggunakan parameter dengan suatu nilai mutlak. Ketimpangan relatif
merupakan konsep pengukuran ketimpangan distribusi pendapatan yang
membandingkan besarnya pendapatan yang diterima oleh seseorang atau
sekelompok anggota masyarakat dengan besarnya total pendapatan yang
diterima oleh masyarakat secara keseluruhan.
Distribusi pendapatan mencerminkan ketimpangan atau meratanya hasil
pembangunan suatu daerah atau negara baik yang diterima masing-masing orang
ataupun dari kepemilikan faktor-faktor produksi dikalangan penduduknya.
Ketimpangan pendapatan lebih besar terjadi di negara-negara yang baru memulai
pembagunannya, sedangkan bagi negara maju atau lebih tinggi tingkat
pendapatannya cenderung lebih merata atau tingkat ketimpangannya rendah.
Menurut Irma Adelma dan Cynthia Taft Morris dalam Arsyad (2010) ada 8 hal
yang menyebabkan ketimpangan atau ketidakmerataan distribusi pendapatan di
negara sedang berkembang :
1 Pertumbuhan penduduk yang tinggi mengakibatkan menurunnya pendapatan
perkapita.
2 Inflasi dimana pendapatan uang bertambah tetapi tidak diikuti secara
proporsional dengan pertambahan produksi barang-barang.
3 Ketidakmerataan pembangunan antar daerah.
4 Investasi yang sangat banyak dalam proyek-proyek yang padat modal (Capital
Insentive), sehingga persentase pendapatan modal dari kerja tambahan besar
dibandingkan dengan persentase pendapatan yang berasal dari kerja,
sehingga pengangguran bertambah.
5 Rendahnya mobilitas sosial.
6 Pelaksanaan kebijakan industri substitusi impor yang mengakibatkan kenaikan
harga-harga barang hasil industri untuk melindungi usaha-usaha golongan
kapitalis.
7 Memburuknya nilai tukar (term of trade) bagi negara sedang berkembang
dalam perdagangan dengan negara-negara maju, sebagai akibat
ketidakelastisan permintaan negara-negara maju terhadap barang-barang
ekspor negara sedang berkembang.
8 Hancurnya industri kerajinan rakyat seperti pertukangan, industri rumah
tangga, dan lain-lain.
Distribusi pendapatan merupakan salah satu indikator pemerataan.
Pemerataan akan terwujud jika proporsi pendapatan yang dikuasai oleh
sekelompok masyarakat tertentu sama besarnya dengan proporsi kelompok
tersebut. Alat yang lazim digunakan adalah Gini Koefisien dan cara perhitungan
yang digunakan oleh Bank Dunia.

B. Gini Koefisien
Ada berbagai tolak ukur untuk menghitung tingkat pemerataan pendapatan,
antara lain Gini koefisien atau Gini Rasio, Kuznets Index, Oshimas Index, Theil
Decomposition Index, Kurva Lorenz, dan kriteria Bank Dunia. Dari sekian tolak
ukur tersebut yang paling sering dipakai adalah Gini Koefisien. Ukuran ini pertama
kali dikembangkan oleh statistisi dan ahli sosiologi Italia bernama Corrado Gini
dan dipublikasikan pada tahun 1912 dalam makalahnya berjudul Variability and
Mutability (dalam bahasa Italia: Variabilit e mutabilit). Perhitungan Gini
koefisien di Indonesia sudah dilakukan oleh berbagai pakar ekonomi, antara lain
seperti Sundrum(1973), Von Gunneken(1976), Hendra (1974 dan 1978),
Perera(1977), dan lain-lain.

Gini Koefisien digunakan untuk melihat adanya hubungan antara jumlah


pendapatan yang diterima oleh seluruh keluarga atau individu dengan total
pendapatan. Ukuran Gini Koefisien sebagai ukuran pemerataan pendapatan
mempunyai selang nilai antara 0 sampai dengan 1. Bila Gini Koefisien mendekati
nol menunjukkan adanya ketimpangan yang rendah dan bila Gini Koefisien
mendekati satu menunjukkan ketimpangan yang tinggi.

Koefisien gini diperoleh dengan menghitung rasio bidang yang terletak antara
garis diagonal dari kurva Lorenz dibagi dengan luas separuh bidang di mana
kurva Lorenz itu berada.
Gambar 1. Kurva Lorenz

Daerah Diantara Ac dan ABC


GC=
Seluruh Daerah ADC

Kurva Lorenz yang semakin dekat ke diagonal (semakin lurus) menyiratkan


distribusi pendapatan nasional yang semakin merata. Sebaliknya, jika kurva
Lorenz semakin jauh dari diagonal (semakin lengkung), maka ia mencerminkan
keadaan yang semakin buruk, distribusi pendapatan nasional semakin timpang
dan tidak merata. Selain menggunakan kurva Lorenz Gini koefisien juga dapat
dihitung dengan menggunakan rumus. Rumus dari Gini Koefiesien adalah
sebagai berikut:

X i+1 X i
.()(Y i +Y i+1 )
n
GC =1
1

Atau

n
GC=1 . f i (Y i +1+Y i)
1

Keterangan:
GC : Angka Gini Koefisien
Xi : Proporsi jumlah rumah tangga dalam kelas i
Fi : Proporsi jumlah rumah tangga dalam kelas i
Yi : Proporsi jumlah pendapatan rumah tangga dalam kumulatif i

Kelas i :
Jika dibagi dalam lima kelas menjadi:
a. 20% termiskin
b. 20% ke dua
c. 20% ke tiga
d. 20% ke empat
e. 20% terkaya
Jika dibagi dalam tiga kelas:
a. 40% miskin
b. 40% menengah
c. 20% kaya

Klasifikasi :
Ketimpangan Parah
Distribusi pendapatannya 40 % penduduk berpendapatan rendah
menikmati < 12 % pendapatan nasional
Ketimpangan Sedang
Distribusi pendapatannya 40 % penduduk berpendapatan rendah
menikmati 12 - 17 % pendapatan nasional
Ketimpangan Lunak (Distribusi Merata)
40 % penduduk berpendapatan rendah menikmati > 17 % pendapatan
nasional
Catatan:
Angka GC berkisar antara 0 sampai dengan 1. Angka GC sama dengan 0 (merata
mutlak) dan angka GC sama dengan 1 (tidak merata mutlak) adalah tidak
mungkin terjadi dalam kenyataan. Untuk negara-negara sedang berkembang
dinyatakan bahwa distribusi pendapatan sangat timpang jika angka Gini terletak
antara 0,5 samapai 0,7 dan relatif sama ketimpangan distribusi pendapatan bila
angka Gini antar 0,2 sampai 0,35.

Berikut ini merupakan contoh untuk menghitung angka Gini Koefisien. Tabel
berikut merupakan pendapatan usaha kerajinan di suatu daerah. Data
pendapatan ini telah diurutkan dari pendapatan terendah sampai tertinggi dan
hanya terdiri dari 20 rumah tangga sebagai sample.
Tabel 1
Proporsi Pendapatan dan Rumah Tangga
Proporsi
Pendapatan
Pendapatan F X
Pendapatan dalam Kelas
Kumulatif (%) (%)
(%)
(%)
348.800
440.500
12,37 12,37 20 20
520.500
587.500
572.000
635.000
16,91 29,28 20 40
678.500
687.000
697.000
700.000
19,12 48,4 20 60
759.800
775.750
776.00
809.000
22,31 70,71 20 80
893.000
943.000
1.011.000
1.074.000
29,29 100,00 20 100
1.110.500
1.295.500
15.334.350 100,00 100

Cara perhitungan Gini Koefisien berdasarkan Tabel 1:

X i+1 X i
.()(Y i +Y i+1 )
n
GC =1
1
GC = 1 (0.2 0) (0 + 0.1237) + (0.4-0.2) (0.1237-0.2928) + (0.6 0.4) (0.2928
+ 0.484) + (0.8 - 0.6) (0.484 +0.7071) + (1 0.8) (0.707 + 1)

= 1 ( 0.0247 + 0.0833 + 0.15536 + 0.23822 + 0.34142)

=1 0.843

=0.15

Menurut kriteria H.T. Oshima ketimpangan rendah bila angka Gini kurang dari
0,3; ketimpangan sedang bila angka Gini antara 0,3 0,4; dan ketimpangan
tinggi bila angka Gini di atas 0,4.

C. Distribusi Pendapatan dan Angka Gini Koefisien Indonesia


Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 15 tahun terakhir relatif stabil. Produk
Domestik Bruto (PDB) per kapita tumbuh rata-rata 5,4 persen per tahun antara
2000 sampai 2015. Pencapaian ini membantu pengurangan angka kemiskinan
dan menciptakan kelas menengah yang terus tumbuh.
Setelah krisis ekonomi 1997-1998, jumlah orang miskin meningkat sehingga
Koefisien Gini juga naik karena setiap orang terkena dampak krisis. Meski krisis
sudah berlalu, Koefisien Gini terus meningkat dari 30 poin pada 2000 menjadi 41
pada 2015, yang merupakan rekor tertinggi. Tingkat ketimpangan Indonesia
melaju paling cepat di antara negara-negara tetangganya di Asia Timur. Padahal,
beberapa negara jiran, seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand mencatatkan
penurunan angka Koefisien Gini. Berikut merupakan tabel angka Gini Koefisien
Indonesia dari tahun ke tahun.
Tabel 2. Angka Gini Koefisien Indonesia dari Tahun ke Tahun
Gambar 2. Gini Koefisien Indonesia Tahun 2000-2016

Kecenderungan kenaikan tren ketimpangan pendapatan tersebut terjadi baik di


level nasional, perkotaan, pedesaan, juga di semua propinsi di Indonesia.Ada
beberapa hipotesis yang mungkin menjelaskan kecenderungan peningkatan
ketimpangan pendapatan ini, yakni:

1. ketidakberpihakan anggaran pemerintah dalam melakukan redistribusi


pendapatan sesuai fungsi hakikinya. Anggaran pemerintah belum berpihak
kepada golongan berpendapatan rendah. Selama ini, anggaran untuk
program-program bantuan sosial (social assitance) nilainya masih seperempat
anggaran untuk subsidi BBM yang notabene banyak dinikmati golongan kaya.
Selain itu sistem perpajakan terutama pajak pendapatan perseorangan belum
optimal dan belum berfungsi sebagai instrumen redistribusi pendapatan.
Berkurangnya ruang fiskal untuk pengeluaran yang berpihak kepada rakyat
miskin juga terindikasikan dari semakin timpangnya akses terhadap jasa
pendidikan dan kesehatan. Ketimpangan akses terhadap pendidikan tinggi
dan air bersih cenderung meningkat belakangan ini.
2. kenaikan harga internasional dari komoditas ekspor utama Indonesia seperti
komoditas perkebunan dan sumber daya alam (misalnya batu bara) yang
terjadi pada 10 tahun terakhir. Keuntungan dari sektor-sektor ini umumnya
lebih dinikmati golongan pemilik modal karena sifatnya yang padat modal atau
menguntungkan pemilik lahan besar.
3. ketidakberpihakan regulasi ketenagakerjaan yang cenderung hanya
menguntungkan kaum pekerja formal yang jumlahnya jauh lebih sedikit
daripada pekerja informal plus mereka yang belum bekerja. Intervensi politik
sering membuat tekanan pada keputusan-keputusan regulasi
ketenagakerjaan yang berakibat pada regulasi ketenagakerjaan yang tidak
fleksibel sehingga mengurangi kesempatan kerja formal. Akibatnya
informalisasi tenaga kerja menjadi meningkat. Tingkat upah riil di pedesaan
misalnya cenderung mengalami penurunan pada sepuluh tahun terakhir. Ini
mengindikasikan semakin berlimpahnya penawaran tenaga kerja di pedesaan
sebagai akibat berkurangnya kesempatan kerja formal di pedesaan.
4. pertumbuhan ekonomi yang menjadi semakin tidak pro-poor. Pada periode
1990-1996, misalnya pendapatan rata-rata orang Indonesia naik 1.3% lebih
cepat daripada orang miskin. Pada periode 2002-2012, penduduk miskin
semakin tertinggal. Rata-rata pendapatan orang Indonesia tumbuh 2.2% lebih
cepat daripada pendapatan penduduk miskin. Salah satu yang mungkin
menjadi penyebab adalah sektor yang memberikan kontribusi pada
pertumbuhan adalah sektor yang relatif tidak memberikan kontribusi terhadap
masyarakat miskin. Selama 10 tahun terakhir misalnya, salah satu sektor
yang cukup tinggi pertumbuhannya adalah sektor jasa seperti jasa
telekomunikasi yang relatif padat modal dan padat teknologi.

Dalam rencana pembangunan jangka menengah, pemerintah telah


menetapkan sasaran untuk menurunkan tingkat koefisien Gini, dari 41 menjadi 36
pada tahun 2019. Ketimpangan yang semakin tinggi ini dapat dihindari. Kebijakan
pemerintah dapat membantu Indonesia memutus rantai ketimpangan antar
generasi, dengan mengatasi penyebab ketimpangan.

Mengurangi ketimpangan lebih kompleks daripada mengurangi kemiskinan.


Dalam kerangka ini, mengurangi ketimpangan atau meredam tren kenaikan
ketimpangan di Indonesia tidak bisa diterjemahkan kedalam pengendalian (control
atau targeting) dari ketimpangan dalam outcome (seperti pendapatan atau
konsumsi), tetapi fokus pada mengurangi ketimpangan dalam opportunity karena
akan cenderung mengabaikan effort, hardwork, dan talent dari individu. Fokus
pemerintah adalah meningkatkan equality of opportunity dan redistribusi.
Redistribusi dilakukan melalui sistem perpajakan yang progresif, dimana
penerimaan pajak digunakan untuk melindungi mereka yang kurang beruntung.
Sedangkan meningkatkan equality of opportunity dilakukan agar semua warga
negara Indonesia mempunyai kesempatan yang sama dalam meningkatkan
kesejahteraannya melalui equality of opportunity dalam pendidikan semua
jenjang, serta kualitas pelayanan kesehatan.

Langkah konkret dalam jangka pendek yang perlu dilakukan pemerintah


adalah:

1. Memperbaiki layanan umum. Kunci bagi generasi berikut terletak pada


peningkatan pelayanan umum di tingkat desa, camat, dan kabupaten, karena
hal ini dapat memperbaiki kesehatan, pendidikan dan peluang keluarga
berencana bagi semua masyarakat.
2. Melakukan perbaikan dari pengukuran inequality of opportunity;
3. Memastikan anggaran pemerintah dialokasikan lebih optimum selain untuk
mengurangi kemiskinan juga memasikan equality of opportunity di sektor-sektor
yang terkait peningkatan kualitas SDM (pendidikan dan kesehatan) agar semua
warga negara, tak terkecuali, tanpa ter-constrained oleh status sosial ekonomi,
dapat memperoleh opportunity yang sama dalam memperoleh pendidikan
(semua jenjang) dan pelayanan kesehatan.
4. Memperkuat program perlindungan sosial seperti bantuan tunai bersyarat dan
beasiswa pendidikan.
5. Menambah peluang pelatihan keterampilan bagi tenaga kerja.
6. Menyediakan lapangan kerja yang lebih baik.
7. Menggunakan pajak dan belanja pemerintah untuk mengurangi ketimpangan.
8. Meningkatkan ketaatan dalam pengumpulan pajak perorangan.

Dukungan masyarakat cukup kuat untuk adanya kebijakan perlindungan sosial


yang memberikan bantuan langsung kepada masyarakat miskin dan rentan. Lebih
dari setengah responden survei berpendapat kemiskinan bisa disebabkan oleh
faktor-faktor di luar kendali seseorang, misalnya latar belakang mereka atau
pengalaman buruk. Hampir setengah dari seluruh responden mendukung program
perlindungan sosial sebagai tindakan kebijakan yang penting.

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa:


1. Distribusi pendapatan pada dasarnya merupakan suatu konsep mengenai
penyebaran pendapatan di antara setiap orang atau rumah tangga dalam
masyarakat. Konsep pengukuran distribusi pendapatan dapat ditunjukkan oleh
dua konsep pokok, yaitu konsep ketimpangan absolut dan konsep ketimpangan
relatif.
2. Salah satu tolak ukur untuk menghitung tingkat distribusi pendapatan, adalah
Gini Koefisien. Gini Koefisien digunakan untuk melihat adanya hubungan
antara jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh keluarga atau individu
dengan total pendapatan. Ukuran Gini Koefisien sebagai ukuran pemerataan
pendapatan mempunyai selang nilai antara 0 sampai dengan 1. Bila Gini
Koefisien mendekati nol menunjukkan adanya ketimpangan yang rendah dan
bila Gini Koefisien mendekati satu menunjukkan ketimpangan yang tinggi.
3.

http://katadata.co.id/telaah/2015/12/10/laju-ketimpangan-orang-kaya-miskin-
indonesia-tercepat-di-asia
http://rri.co.id/post/berita/244812/ekonomi/koefisien_gini_indonesia_meningkat_taj
am_5_tahun_terakhir.html

http://www.aktual.com/bappenas-rasio-gini-desember-2015-turun-ke-0408/

https://catatanis.wordpress.com/2016/04/01/mungkinkah-tragedi-1998-terulang-
kembali-coba-intip-koefisien-gini-indonesia-pada-tahun-2000-2016/

http://www.worldbank.org/in/news/feature/2015/12/08/indonesia-rising-divide

http://keberpihakan.org/page/articles/1