Anda di halaman 1dari 18

PENDAHULUAN

Mutu pangan selain ditentukan oleh aspek kimiawi, fisik, dan mikrobiologis,
juga sangat ditentukan oleh aspek inderawi. Pangan yang mempunyai zat gizi yang
cukup tinggi, secara fisik tampak menarik, kandungan mikroorganismenya rendah dan
aman untuk dikonsumsi, namun bila rasanya tidak enak, baunya menyimpang, atau
aspek inderawi lainnya tidak dapat diterima konsumen, maka pangan tersebut dikatakan
mempunyai mutu yang rendah. Oleh karena itu tinjauan aspek inderawi ini sangat
menentukan mutu pangan yang beredar di lingkungan konsumen.
Dalam buku ini dibahas tentang tata cara pengujian atau metode yang terkait
dengan aspek inderawi pangan. Pokok-pokok bahasan dalam bab ini ialah skala data,
orientasi pengujian inderawi, pengujian yang berorientasi pada konsumen dan pengujian
yang berorientasi pada produk, namun sebelum membahas pokok-pokok bahasan
tersebut, pada bab pendahuluan ini diperjelas tentang pengertian uji inderawi.
Uji inderawi ialah suatu metode ilmiah multidisipliner yang digunakan untuk
menimbulkan, mengukur, menganalisis, dan menginterpretasikan respon panelis
terhadap suatu produk dengan menggunakan inderanya, yaitu penglihatan, pembau,
perasa, peraba, dan pendengarannya. Karena menggunakan indera manusia, sampai saat
ini belum ditemukan peralatan yang dapat menggantikannya, sehingga uji inderawi ini
merupakan komponen studi mutu pangan yang sangat penting.
Uji inderawi mencakup teknik pengukuran respon manusia terhadap pangan
yang akurat dan upaya meminimisasi bias manusia terhadap produk pangan tertentu
yang dapat mempengaruhi persepsi konsumen. Selain itu hasil uji inderawi juga
berfungsi sebagai informasi yang penting mengenai karakteristik inderawi suatu produk
bagi ahli pangan, pengembang produk, dan manajer suatu perusahaan bidang riset dan
pengembangan produk.
Uji ini merupakan sebuah ilmu bersifat kuantitatif, karena dalam pelaksanaan
analisisnya menggunakan data numerik. Hasil pelaksanaan uji inderawi diperoleh data
yang bersifat kualitatif, kemudian sebelum dilakukan analisis statistik data kualitatif
tersebut dikuantifikasi hingga diperoleh data yang berupa angka. Data yang terkumpul
biasanya mempunyai variasi yang cukup tinggi, karena respon para penguji (panelis)
sulit dikontrol. Tahap berikutnya ialah analisis data tersebut secara statistik. Analisis
data inilah yang merupakan tahap yang cukup kritis, karena tahapan inilah yang
memerlukan perhatian dan peikiran yang serius.

1
Setelah data yang terkumpul dianalisis statistik, tahap selanjutnya ialah
menginterpretasikan hasil analisis tersebut. Untuk memudahkan interpretasi, maka
dalam uji inderawi sebaiknya didasarkan pada suatu percobaan yang dirancang
sebelumnya. Data dan informasi statistik akan bermanfaat, apabila diinterpretasikan
dengan baik dan benar. Kesimpulan yang diperoleh harus menggambarkan suatu
keputusan yang masuk akal dan harus mempertimbangkan metode yang digunakan,
batas-batas percobaan, dan latar belakang diadakannya penelitian serta kontekstual
penelitian yang dilakukan.
Hasil uji inderawi ini dapat diterapkan pada berbagai bidang, seperti pembuatan
produk baru, pengembangan suatu produk, perbaikan produk, pengendalian mutu, studi
penyimpanan, dan pengembangan pengolahan, bahkan dapat digunakan untuk menguji
calon panelis terlatih. Agar diperoleh hasil yang valid dan reliabel, maka suatu panel uji
inderawi harus diperlakukan sebagai suatu peralatan yang ilmiah.
Pelaksanaan uji inderawi adakalanya dilakukan di pasar, di suatu instansi, dan di
sisi lain harus dilakukan di tempat yang terkendali, yaitu ditempatkan pada suatu bilik,
sehingga keputusan yang diberikan oleh panelis adalah murni dari dirinya sendiri dan
tidak saling mempengaruhi antar teman sekitarnya. Selain itu juga harus dihindari
adanya bias terhadap kode produk. Oleh karena itu perlu digunakan kode produk yang
berasal dari tiga angka acak, bahkan pengujian yang lebih teliti harus bisa memanipulasi
pencahayaan agar tidak ada bias terhadap warna produk. Uji inderawi yang demikianlah
yang dapat menghasilkan data yang konsisten dan dapat diuji ulang (reproducible).
Diadakannya uji inderawi tentu dengan orientasi atau arah pemikiran yang jelas.
Secara garis besar uji inderawi dilakukan dengan orientasi pada konsumen dan pada
produk. Pengujian yang diarahkan untuk mendapatkan kesan konsumen terhadap
produk pangan yang baru dibuat yang biasanya dilakukan di pasar, di instansi, di
keramaian dan lain-lain merupakan uji inderawi yang berorientasi pada konsumen.
Informasi yang bisa diperoleh dari pengujian yang berorientasi pada konsumen ialah
tingkat kesukaan konsumen, pemilihan oleh konsumen, kedapatterimaan produk oleh
konsumen.
Pengembangan formula, pengembangan metode pengolahan, penyimpanan,
penggunaan ingredien baru, pemeliharaan standar dan pengendalian mutu terhadap
produk yang sudah ada merupakan uji inderawi yang berorientasi pada produk.
Informasi yang diperoleh dari pengujian yang berorientasi pada produk ini ialah

2
karakteristik inderawi yang spesifik terhadap produk pangan. Uji ini dilakukan di
laboratorium dengan menggunakan panel inderawi (panelis) yang terlatih.

SKALA PENGUKURAN

Data yang diperoleh dari hasil uji inderawi dapat berbentuk frekuensi, peringkat
(ranking), maupun data numerik kuantitatif. Bentuk data ini tergantung pada tipe skala
pengukuran yang digunakan untuk uji inderawi. Skala pengukuran tersebut digunakan
untuk mengkuantifikasi informasi hasil uji inderawi. Skala dapat diklasifikasikan
berdasarkan tipenya, yaitu:
- Skala nominal,
- Skala ordinal,
- Skala interval,
- Skala rasio.

Skala Nominal
Skala nominal merupakan skala yang paling sederhana, karena angka pada skala
ini hanya merupakan lambang atau label, kode, atau hanya untuk mengklasifikasi
kategori atau respon tertentu dan tidak mempunyai nilai yang nyata. Contohnya ialah
nomor punggung pemain sepak bola, pemain basket, pemain bola voli, nomor
kendaraan bermotor dan lain-lain. Semuanya tidak menggambarkan adanya yang lebih
pintar dan kurang pintar, lebih baik dan kurang baik, nomor 1 tidak lebih hebat daripada
nomor 2 dan seterusnya, mobil BMW nomornya tidak lebih banyak daripada mobil
Daihatsu dan sebagainya.
Contoh di bidang uji inderawi ialah panelis diminta untuk mengidentifikasi
karakteristik rasa yoghurt, misalnya:
- 1 = manis
- 2 = agak asam
- 3 = asam
- 4 = asam sekali.
Panelis bertugas menulis angka masing-masing karakteristik rasa yoghurt tersebut pada
masing-masing produk yang disajikan yang telah diberi kode pada lembar kerja yang
telah disediakan, kemudian pimpinan panel mentabulasikan frekuensi hasil pengujian

3
masing-masing karakteristik untuk setiap produk. Hasil yang diperoleh dibandingkan
dengan cara menghitung frekuensi masing-masing karakteristik rasa yoghurt yang diuji.

Skala Ordinal
Skala ordinal mempunyai tingkatan sedikit di atas skala nominal. Angka yang
ada pada skala ordinal merupakan peringkat (ranking). Contoh skala ordinal ini ialah
prestasi belajar mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, misalnya
peringkat 1 mempunyai Indeks Prestasi (IP) = 3,8, peringkat 2 mempunyai IP = 3,5 dan
peringkat 3 mempunyai IP = 3,0, yang menjadi data bukanlah IP, tetapi peringkat, yaitu
peringkat 1, 2, dan 3. Selisih antara peringkat 1 dengan 2 dan peringkat 2 dengan 3 tidak
harus sama.
Pada uji inderawi pemberian peringkat dapat digunakan untuk pengujian yang
berorientasi pada konsumen maupun produk. Contoh pada pengujian yang berorientasi
pada konsumen ialah panelis diminta untuk menguji sosis berdasarkan kesukaannya
atau kedapat terimaannya. Empat macam sosis terbuat dengan formula yang berbeda
disajikan pada panelis untuk diuji berdasarkan kesukaannya. Sosis yang diberi peringkat
1 merupakan sosis yang paling disukai dan sosis yang diberi peringkat 4 merupakan
sosis yang paling rendah tingkat kesukaannya. Contoh pada pengujian yang berorientasi
pada produk ialah panelis diminta untuk menguji tingkat keasinan 5 telur asin yang
berbeda cara pengasinannya. Telur asin yang diberi peringkat 1 adalah yang paling asin
dan yang diberi peringkat 5 adalah yang paling rendah keasinannya.

Skala Interval
Skala interval mempunyai tingkatan kuat uji sedikit di atas skala ordinal.
Dengan skala ini memungkinkan suatu produk untuk disusun berdasarkan besarnya
salah satu karakteristik produk, atau berdasarkan kedapatterimaannya, atau
kesukaannya. Dengan skala ini pula derajat perbedaan di antara produk dapat
ditunjukkan. Jika telur asin diuji dengan menggunakan skala interval, tidak hanya telur
asin yang paling asin saja yang teridentifikasi, tetapi jumlah interval antara telur yang
paling asin dengan yang paling rendah keasinannya dapat diketahui. Untuk melakukan
pengukuran terhadap derajat perbedaan di antara produk panjangnya interval (selisih
antar interval) pada skala tertentu harus sama.
Contoh skala interval yang sering ditemukan ialah suhu pada termometer
tertentu, misalnya termometer Celcius, Fahrenheit, Reamur, dan Kalvin. Angka yang

4
sama pada termometer yang berbeda mempunyai nilai (suhu) yang berbeda, tetapi jarak
antar angka pada masing termometer adalah sama. Contoh pada uji inderawi ialah
derajat kesukaan dan derajat perbedaan. Skala kategori dan skala gaaris merupakan dua
tipe skala inderawi yang biasanya diperlakukan sebagai skala interval. Skala kategori
adalah skala yang dibagi menjdai beberapa interval atau kategori dengan ukuran yang
sama. Kategori tersebut ditandai dengan uraian kata-kata dan/atau angka. Semua
kategori bisa ditandai atau hanya sebaagian, seperti misalnya pada titik akhir dan/atau
titik tengah skala itu.

Skala Rasio
Skala rasio mempunyai kuat uji yang hampir sama dengan skala interval, tetapi
skala rasio mempunyai nilai nol mutlak (sebenarnya). Pada skala interval titik nol yang
dimiliki tidak mutlak dan tidak diperlukan untuk menunjukkan tidak adanya
karakteristik yang diukur. Pada skala rasio titik nol benar-benar menunjukkan tidak
adanya karakteristik. Jika skala rasio digunakan mengukur lima contoh telur asin, angka
interval keasinan menyebar pada contoh dan menunjukkan kelipatan keasinan salah satu
produk dengan produk yang lain. Jika dua produk A dan B masing-masing diberi nilai 4
dan 8 untuk intensitas rasa asin, pada skala rasio produk B mempunyai nilai dua kali
produk A. Skala rasio jarang digunakan untuk pengujian yang berorientasi pada
konsumen, karena diperlukan latihan untuk menggunakan rasio secara benar.

PENGUJIAN YANG BERORIENTASI PADA KONSUMEN

Pada pengujian yang berorientasi pada konsumen yang benar, orang yang
digunakan sebagai panelis harus diperoleh secara acak dan populasi targetnya harus
representatif agar diperoleh informasi yang valid tentang sikap konsumen terhadap
produk yang diuji. Konsumen yang dijadikan panelis harus orang-orang yang belum
terlatih untuk menguji produk yang diujikan dan mereka harus orang-orang yang akan
menggunakan produk yang bersangkutan.
Pengujian dapat dilakukan di pasar, sekolahan, pusat perbelanjaan, pusat
masyarakat, instansi, atau bahkan dapat diantar ke rumah-rumah konsumen. Sebab,
pengujian yang benar memerlukan panelis yang terpilih sehingga dapat mewakili
populasi target dan hal ini memerlukan biaya dan waktu. Oleh karena itu panel

5
konsumen tidak terlatih di rumah-rumah merupakan panelis yang biasa digunakan untuk
memberi-kan informasi awal tentang kedapatterimaan suatu produk dan sering
dilakukan terutama untuk pengujian konsumen yang sebenarnya.
Panel konsumen di rumah (panel konsumen pilot) biasanya terdiri dari 30 50
panelis tidak terlatih dan dipilih dari masyarakat di sekitar tempat pengembangan
produk atau tempat penelitian dilakukan. Panelis tersebut dipilih dari masyarakat yang
mewakili populasi target dari konsumen yang menggunakan produk yang bersangkutan.
Hal ini memungkinkan untuk menggunakan panel sebesar mungkin. Tipe panel ini
dapat menunjukkan kedapatterimaan suatu produk dan dapat mengidentifikasi krusakan
produk.
Macam pengujian yang berorientasi pada konsumen yang biasa diterapkan ialah
uji preferensi, uji penerimaan, dan uji kesukaan (hedonik).

Uji Preferensi
Uji preferensi memungkinkan konsumen untuk menyatakan pilihannya di antara
produk-produk yang ada; satu produk dipilih kemudian memilih yang lain atau tidak
ada yang dipilih. Uji preferensi berpasangan merupakan uji preferensi yang paling
sederhana, tetapi uji skala kategori dan uji peringkat juga sering digunakan untuk
mengetahui preferensi.
Pada uji preferensi panelis diminta untuk memilih salah satu di antara dua
produk yang kelihatannya sama yang telah diberi kode dengan 3 digit angka acak yang
berbeda. Penyajian produk harus mempunyai peluang yang sama dalam penyusunan,
yaitu antara produk A yang pertama kemudian B (AB) atau B yang pertama kemudian A
(BA) dan cara penyajiannya harus serentak dengan susunan yang telah ditentukan.
Sebagai contoh uji preferensi berpasangan ialah 40 panelis tidak terlatih dari
suatu institusi (misalnya mahasiswa Unibraw) diminta untuk memilih salah satu di
antara dua kefir yang disajikan dengan menggunakan lembar kerja seperti Gambar 1.

6
Nama : .
Tanggal : .

Rasakan dua produk YOTEMAHE di hadapan Saudara, mulailah dengan produk


yang berada di sebelah kiri. Lingkarilah kode produk yang Saudara pilih. Saudara
hanya diperbolehkan memilih satu produk. Dikira-kira saja bila Saudara ragu-ragu.
Terima kasih.

495 607

Gambar 1. Lembar kerja untuk uji preferensi berpasangan.

Hasil pengujian diperoleh bahwa 30 dari 40 panelis memilih YOTEMAHE B.


Berdasarkan tabel pada Lampiran 1 (Uji Binomial dua arah) untuk x = 30 dan n = 40
probabilitasnya ialah = 0,002. Oleh karena itu hasil uji statistiknya adalah sangat nyata
dan dapat disimpulkan bahwa mahasiswa UB lebih memilih kefir B daripada kefir A.

Uji Penerimaan
Uji penerimaan digunakan untuk mengetahui derajat penerimaan konsumen
terhadap suatu produk. Skala kategori, uji peringkat dan uji perbandingan berpasangan
dapat digunakan untuk mengukur penerimaan produk. Penerimaan produk pangan
biasanya menunjukkan kegunaan nyata dari produk tersebut (daya beli dan konsumsi).
Sebagai contoh uji penerimaan dengan menggunakan uji peringkat ialah 35
panelis tidak terlatih dari suatu institusi (misalnya dosen dan karyawan Unibraw)
diminta untuk menguji 4 macam naget ayam (chicken nugget) dengan formula yang
berbeda. Semua naget disajikan bersamaan pada setiap panelis. Setiap panelis hanya
mengevaluasi produk satu kali dengan cara memberi peringkat dan tidak diperbolehkan
dua produk atau lebih mempunyai peringkat yang sama. Lembar kerja sebagai contoh
uji peringkat ini tertera pada Gambar 2.

7
Nama : .
Tanggal : .

Silakan mencicipi masing-masing naget ayam dengan urutan seperti urutan kode
produk yang tertulis di bawah ini. Tandailah produk tersebut dengan angka 1 pada
tekstur naget yang paling dapat diterima, angka 2 pada tekstur naget yang dapat
diterima berikutnya, demikian seterusnya untuk angka 3 dan 4. Jangan memberikan
peringkat yang sama terhadap dua produk atau lebih. Terima kasih.

Kode produk Peringkat


__________ ________
__________ ________
__________ ________
__________ ________

Gambar 2. Lembar kerja uji penerimaan dengan peringkat.

Hasil uji peringkat terhadap tekstur naget ayam tersebut seperti tertera pada Tabel 1.

8
Tabel 1. Tabulasi data peringkat untuk uji penerimaan naget ayam
Panelis Naget Ayam
A B C D
1 3 1 2 4
2 3 2 1 4
3 4 1 2 3
4 3 1 2 4
5 3 1 2 4
6 3 2 1 4
7 4 2 1 3
8 4 1 2 3
9 3 1 2 4
10 3 1 2 4
11 4 1 2 3
12 3 1 2 4
13 3 1 2 4
14 4 2 1 3
15 3 1 2 4
16 3 2 1 4
17 3 1 2 4
18 3 1 2 4
19 3 1 2 4
20 3 1 2 4
21 3 1 2 4
22 4 1 2 3
23 4 1 2 3
24 4 1 2 3
25 4 2 1 3
26 3 1 2 4
27 3 1 2 4
28 3 1 2 4
29 4 1 2 3
30 3 1 2 4
31 3 1 2 4
32 3 1 2 4
33 4 2 1 3
34 3 1 2 4
35 3 1 2 4
Total 116 42 63 129

Perbedaan di antara pasangan total peringkat adalah sbb.:


A B = 116 42 = 74
A C = 116 63 = 53
D A = 129 116 = 13
C B = 63 42 = 21
D B = 129 42 = 87

9
D C = 129 63 = 66.
Nilai kritis yang tertera pada tabel di Lampiran 2 dengan jumlah produk = 4, jumlah
panelis = 35, dan p = 0,05 adalah = 28, sedangkan untuk p = 0,01 adalah = 34. Jadi
tekstur naget ayam formula A berbeda sangat nyata dengan formula B dan C, formula D
berbeda sangat nyata dengan formula B dan C, sedangkan formula A dengan D dan B
dengan C tidak berbeda nyata. Berdasarkan hasil analisis statistik tersebut diperoleh
kesimpulan bahwa naget ayam formula B adalah yang paling dapat diterima dan
mempunyai kedapatterimaan yang sama dengan formula C.

Uji Kesukaan (Hedonik)


Uji kesukaan didesain untuk mengukur derajat kesukaan pada suatu produk. Uji
ini menggunakan skala kategori yang dimulai dari amat sangat menyukai, kemudian
bukannya menyukai maupun tidak menyukai, hingga amat sangat tidak menyukai
dengan angka kategori yang bermacam-macam, tetapi yang biasa digunakan adalah 5
9. Angka kategori yang terlalu sedikit adalah kurang teliti, sedangkan yang terlalu
banyak adalah menyulitkan panelis untuk mengerjakannya. Panelis bertugas
menunjukkan derajat kesukaannya pada setiap produk dengan memilih kategori yang
sesuai.
Contoh uji kesukaan ini misalnya terdapat penelitian pembuatan mayonaise
menggunakan metode percobaan dengan rancangan acak lengkap (RAL), jumlah
perlakuan 4 macam dan diulang 3 kali. Lembar kerja untuk pelaksanaan uji kesukaan
pada penelitian ini tertera pada Gambar 3. Catatan: yang perlu diperhatikan dalam
pelaksanaan uji inderawi untuk penelitian yang menggunakan ulangan, maka seluruh
ulangan harus diuji inderawi, tidak cukup hanya diuji satu ulangan.

10
Nama : .
Tanggal : .

Silakan mencicipi masing-masing YOTEMAHE dengan urutan dari kiri ke


kanan seperti urutan kode produk pada lembar kerja ini. Tunjukkan tingkat kesukaan
Saudara dengan memberi tanda V pada derajat kesukaan dan kode produk yang sesuai.
Terima kasih.
Kode Produk
357 438 475 581 398 568 482 373 450 519 402 307

Amat sangat menyukai


Sangat menyukai
Menyukai
Agak menyukai
Bukannya menyukai
maupun tidak menyukai
Agak tidak menyukai
Tidak menyukai
Sangat tidak menyukai
Amat sangat tdk. menyukai

Gambar 3. Lembar kerja uji kesukaan menggunakan 9 kategori.

Hasil uji kesukaan tersebut setelah terkumpul dari seluruh panelis ditabulasi seperti
tertera pada Tabel 2.

11
Tabel 2. Model tabulasi hasil uji kesukaan pada penelitian mayonaise dengan 4
perlakuan, 3 ulangan, dan 40 panelis

Perlakuan P1 P2 P3 P4
Ulangan 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
Panelis
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

Setelah data ditabulasi langkah selanjutnya ialah menganalisis data dengan


menggunakan analisis variansi (ANAVA) dengan sumber keragaman seperti tertera pada

12
Tabel 3. Dalam buku ini tidak diberi contoh perhitungan untuk analisis data dan para
pembaca dapat mempelajarinya dari buku lain.

Tabel 3. Kompilasi hasil analisis variasi data hasil penelitian dengan 4 perlakuan, 3
ulangan, dan 40 panelis

SK db JK KT F hitung F 5% F 1%
Ulangan 2
Panelis 39
Perlakuan 3
Galat 435
Total 479

Analisis selanjutnya ialah menguji perbedaan di antara masing-masing perlakuan


dengan menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD), Beda Nyata Terkecil (BNT),
Beda Nyata Jujur (BNJ) atau yang lain, kemudian dilanjutkan dengan menarik
kesimpulan.
Catatan: apabila penelitian tersebut dilaksanakan dengan menggunakan
percobaan faktorial, maka kombinasi seluruh faktor harus dilakukan uji inderawi,
demikian pula seluruh ulangannya. Oleh karena itu apabila unit penelitiannya cukup
banyak, maka pelaksanaan uji inderawinya bertahap sesuai jumlah ulangannya. Jadi
tahap I dilaksanakan uji inderawi untuk ulangan I dari seluruh kombinasi perlakuan
(faktor), tahap II untuk ulangan II dari seluruh kombinasi perlakuan dan seterusnya
hingga ulangan terakhir. Tahap I, II dan seterusnya tersebut dapat dilaksanakan pada
hari yang sama maupun pada hari yang berbeda, yang penting ada tenggang waktu
sehingga panelis mempunyai kesempatan untuk istirahat, tidak bosan, dan tidak
kekenyangan, selain itu panelisnya harus orang yang sama untuk tiap tahap agar analisis
statistiknya tidak mengalami kesulitan. Untuk penelitian dengan percobaan faktorial 3 x
4 dan diulang 3 kali, model tabulasi data hasil uji inderawinya adalah sbb.:

13
Tabel 4. Model tabulasi data hasil uji inderawi percobaan faktorial 3 x 4 dengan
ulangan 3 kali dan panelis 40 orang

Panelis 1 2 3 4 5 dst. 39 40
1
Q1 2
3
1
Q2 2
3
1
P1 Q3 2
3
1
Q4 2
3
1
Q1 2
3
1
Q2 2
3
1
P2 Q3 2
3
1
Q4 2
3
1
Q1 2
3
1
Q2 2
3
1
P3 Q3 2
3
1
Q4 2
3

Setelah data ditabulasi langkah selanjutnya ialah menganalisis data dengan


menggunakan analisis variansi (ANAVA) dengan sumber keragaman seperti tertera pada
Tabel 5.

14
Tabel 5. Kompilasi hasil analisis variansi data hasil percobaan faktorial 3 x 4 dengan
ulangan 3 kali, dan 40 panelis

SK db JK KT F hitung F 5% F 1%
Ulangan 2
Panelis 39
Perlakuan 11
P 2
Q 3
PQ 6
Galat 1387
Total 1439

15
PENGUJIAN YANG BERORIENTASI PADA PRODUK

16
HAND OUT

MATA KULIAH PENGENDALIAN MUTU

UJI INDERAWI

Oleh:
Ir. Purwadi, MS.

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL TERNAK


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2006

17
18