Anda di halaman 1dari 40

ILMU BAHAN

Material Science

PADUAN LOGAM
Metal Alloy

Mochamad Yusuf Santoso, S.T., M.T., M.Sc.


Program Studi D4 Teknik Keselamatan dan Kesehatan (K3)
Jurusan Teknik Permesinan Kapal
Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya
Mengapa Belajar Paduan Logam?

Logam dan paduannya memiliki banyak jenis,


masing-masing memiliki karakteristik yang
berbeda
Sebagai seorang engineer yang sering dilibatkan
dalam pemilihan material, pengetahuan akan
logam dan paduan nya menjadi sangat penting
Klasifikasi Logam
Steels / Baja

Paduan antara besi (Fe) dan karbon (C)


Besi Karbon (Fe3C)
Klasifikasi baja paling umum berdasarkan
konsentrasi karbon:
Low-carbon steel
Medium-carbon steel
High-carbon steel
Low-Carbon Steels

Mengandung karbon kurang dari 0.25 wt%


Mekanisme penguatan dilakukan dengan cold
work
Memiliki sifat relativ lunak dan lemah, tetapi
memiliki kelenturan dan ketangguhan yang bagus
Mudah untuk di-machining, bisa di-las (weldable)
Paling murah biaya produksinya
Typical applications include automobile body
components, structural shapes (I-beams, channel
and angle iron), and sheets that are used in
pipelines, buildings, bridges, and tin cans
Low-Carbon Steels
Medium-Carbon Steels

Konsentrasi karbon antara 0.25 wt% - 0.60


wt%
Dapat diberikan perlakukan panas
(austenitizing, quenching, dan tempering)
untuk meningkatkan sifat mekanisnya
Paduan ini memiliki sifat lebih kuat dari low-
carbon steel, tetapi kelenturan dan
ketangguhannya berkurang
Applications include railway wheels and
tracks, gears, crankshafts, and other
machine parts
Medium-Carbon Steels
High-Carbon Steels

Memiliki kandungan karbon antara 0.60


wt% - 1.4 wt%
Merupakan baja yang paling keras, kuat
dan kaku
These steels are utilized as cutting tools
and dies for forming and shaping
materials, as well as in knives, razors,
hacksaw blades, springs, and high-
strength wire.
High-Carbon Steels
Stainless Steels

Elemen paduan utama dengan besi adalah


kromium, dengan konsentrasi minimal 11 wt%
Resistansi terhadap korosi yang tinggi
Resistansi tersebut dapat ditingkatkan dengan
menambah nikel (Ni) atau molibdenum (Mo)
Equipment employing these steels includes gas
turbines, high-temperature steam boilers, heat-
treating furnaces, aircraft, missiles, and nuclear
power generating units
Stainless Steels
Steel Applications
Besi Tuang (Cast-Iron)

Paduan besi yang kandungan karbonnya di atas 2.14


wt%, umumnya antara 3.0 wt% - 4.5 wt%
Selain karbon, juga mengandung elemen paduan
lainnya
Mudah leleh, sehingga mudah untuk dibentuk
(dicetak)
Sangat rapuh (brittle)
Terdiri dari beberapa jenis (berdasar komposisi
paduan):
Gray Iron
Ductile (Nodular) Iron
Malleable Iron
Compacted Graphite Iron
Besi Tuang (Cast-Iron)
Aplikasi Besi Tuang (Cast-Iron)
Logam Non-Ferros

Logam ferros sangat banyak digunakan, tetapi


memiliki beberapa kekurangan
1. Densitas relativ tinggi
2. Konduktivitas listrik relativ kecil
3. Rentan terhadap korosi pada beberapa kondisi
Beberapa logam non-ferros yang umum digunakan
antara lain:
Tembaga
Aluminium
Magnesium
Titanium
Refractory metal
Logam mulia
Tembaga / Copper (Cu)

Merupakan logam yang lunak, dapat


ditempa, dan lentur
Memiliki konduktivitas termal dan listrik
yang tinggi
Tahan terhadap korosi pada lingkungan
atmosfer, air laut dan industri kimia
Untuk meningkatkan sifat mekanik, dapat
dilakukan melalui mekanisme cold working
Beberapa paduan tembaga yang sering
dijumpai antara lain: kuningan dan perunggu
Kuningan vs Perunggu

KUNINGAN PERUNGGU
Cu + Zn Cu + Pb + Al + Si + Ni
Konsentrasi Zn Lebih kuat dari
mendekati 35 wt% kuningan
relatively soft, ductile, Memiliki sifat tahan
and easily cold worked terhadap korosi sama
Beberapa penggunaan dengan kuningan
kuningan: perhiasan, Aplikasi: jet aircraft
radiator, instrumen landing gear bearings
musik, koin and bushings, springs,
and surgical and dental
instruments
Aluminium (Al)

Logam yang relativ lebih rendah densitas nya (2.7


g/cm3) dibandingkan dengan bajar (7.9 g/cm3)
Memiliki konduktivitas listrik dan panas yang
tinggi
Tahan terhadap korosi pada beberapa lingkungan
Bersifat lentur (walau pada suhu rendah), tetapi
memiliki titik lebur yang relativ rendah (660 oC)
Cold working dapat meningkatkan kekuatan
mekaniknya, namun berakibat pada berkurangnya
ketahanan terhadap korosi
Elemen paduan untuk aluminium antara lain:
copper, magnesium, silicon, manganese, and zinc
Aluminium (Al)
Aluminium (Al)
Magnesium (Mg)

Sifat yang paling menonjol dari magnesium adalah


kerapatannya yang kecil ( = 1.7 gr/cm3), paling
rendah di antara logam yang lain
Sifat mekaniknya lunak dan modulus elatisitas nya
rendah
Memiliki titik lebur yang rendah (651 oC)
Produksinya bisa melalui casting atau cold working
Rentan terhadap korosi jika di air laut, namun tahan
jika di udara
Magnesium serbuk mudah terbakar jika berada di
udara
Elemen paduan untuk magnesium antara lain:
Aluminum, zinc, manganese
Magnesium (Mg)
Magnesium (Mg)
Titanium (Ti)

Logam yang relatif baru dalam dunia engineering


Titanium murni memiliki sifat densitas rendah
(4.5 gr/cm3), titik lebur tinggi (1668 oC)
Paduan titanium akan memiliki sifat sangat kuat,
lentur dan mudah untuk di machining
Biaya produksi titanium cukup mahal
Than terhadap korosi di udara, laut, dan
beberapa lingkungan industri
Titanium are commonly utilized in airplane
structures, space vehicles, surgical implants, and
in the petroleum and chemical industries
Titanium (Ti)
Titanium (Ti)
Refractory Metals

Terdiri dari niobium (Nb), molybdenum (Mo), tungsten (W),


dan tantalum (Ta)
Logam yang memiliki titik lebur sangat tinggi, antara 2468 oC
(Nb) sampai 3410 oC (W)
Modulus elastisitas nya tinggi, kuat dan keras, baik pada
suhu kamar maupun suhu tinggi
Tantalum dan molybdenum dipadukan dengan stainless steel
untuk meningkatkan ketahanan terhadap korosi
Molybdenum digunakan untuk extrusion dies dan structural
parts in space vehicles
Filamen lampu pijar, x-ray tubes dan welding electrodes
menggunakan paduan tungsten
Tantalum tahan terhadap chemical attack pada suhu di
bawah 150 oC, dan sering digunakan jika membutuhkan
material yang tahan terhadap korosi
Logam Mulia (The Noble Metals)

Logam yang mahal (precious) dan sifat nya


superior
Soft, ductile, and oxidation resistant
The noble metals are silver, gold, platinum,
palladium, rhodium, ruthenium, iridium, and
osmium
Paduan perak dan emas, selain digunakan untuk
perhiasan, biasa digunakan sebagai dental
restoration materials. Beberapa kontaktor pada
IC menggunakan emas
Platina digunakan untuk peralatan laboraturium
kimia, katalis (pada produksi BBM), dan pada
thermocouples untuk mengukur suhu tinggi
Pemrosesan Logam

Hot Working / Heat Cold Working


Treatment Terjadi di bawah
Terjadi di atas temperatur
temperatur rekristalisasi
rekristalisasi Meningkatkan
Logam soft and kekuatan, kelenturan
ductile, sehingga berkurang
deformasi dapat Kualitas permukaan
terjadi berulang-ulang yang lebih bagus
Membutuhkan energi Sifat mekanik yang
yang lebih rendah lebih bagus
Hot Working / Heat Treatment

Macam-macam Hot Working


Annealing - Tempering
Normalizing - Stress relief annealing
Hardening - Surface hardening, dll
Cold Working

Macam-macam Cold Working


Annealing

Heat Treatment yang sering dilakukan


terhadap logam dalam pembuatan suatu
produk.
dilakukan dengan memanaskan logam
sampai temperatur tertentu, menahan
pada temperatur tertentu tadi selama
waktu tertentu agar tercapai perubahan
yang diinginkan lalu, mendinginkannya
dengan laju pendinginan yang cukup
lambat
Normalizing

Proses normalizing dilakukan dengan memanaskan


bahan lebih kurang 1700oF (925oC), kemudian
dinginkan pada still air (udara)
Pada umumnya hasil dari normalizing mempunyai
strukturmikro lebih halus, sehingga untuk baja
dengan komposisi kimia yang sama akan mempunyai
yield strength, kekerasan dan impact strength yang
lebih tinggi daripada yang diperoleh melalui
annealing.
Stress Relieving

Stress Relieving dimaksudkan untuk menghilangkan


tegangan dalam yang timbul sebagai akibat dari :
1. proses pengerjaan dingin atau machining yang dialami
sebelumnya.
2. pendinginan yang tidak sama dalam proses seperti
pengelasan atau casting.
Benda yang baru mengalami pengerjaan dingin atau
machining yang berat akan menyimpan tegangan dalam.
Adanya tegangan dalam ini akan mengakibatkan bahan
tersebut menjadi getas. Untuk menhindari itu perlu
dilakukan stress relieving
Hardening (Pengerasan)

salah satu perlakuan panas dengan kondisi non


equilibrium, pendinginannya sangat cepat, sehingga
strukturmikro yang akan diperoleh juga adalah
strukturmikro yang tidak ekuilibrium
Hardening dilakukan dengan memanaskan baja
hingga mencapai temperatur austenit,
dipertahankan beberapa saat pada temperatur
tersebut, lalu didinginkan dengan cepat, sehingga
akan diperoleh martensit yang keras.
Biasanya sesudah proses hardening selesai, segera
diikuti dengan proses tempering.
Hardening (Pengerasan)

Kekerasan maksimum yang dapat dicapai setelah


proses hardening banyak tergantung pada kadar
karbon, makin tinggi kadar karbonnya makin
tinggi kekerasan maksimum yang dapat dicapai.
Pada baja dengan kadar karbon rendah, kenaikan
kekerasan setelah hardening hampir tidak
berarti, karenanya pengerasan hanya dilakukan
terhadap baja dengan kadar karbon yang
memadai, tidak kurang dari 0,30 %C.
Hardening (Pengerasan)

Kekerasan maksimum akan tercapai jika laju


pendinginan harus dapat mencapai laju
pendinginan kritis (Critical Cooling Rate CCR)
Laju pendinginan yang terjadi pada suatu benda
kerja tergantung pada beberapa faktor,
terutama:
o jenis media pendingin
o temperatur media pendingin
o kuatnya sirkulasi/olakan pada media pendingin
Hardening (Pengerasan)

Beberapa media pendingin yang sering


digunakan pada proses hardening, menurut
kekeuatan pendinginannya:
Brine (air + 10% garam dapur).
Air.
Salt bath (garam cair).
Larutan minyak dalam air.
Minyak.
Udara.