Anda di halaman 1dari 10

KIMIA KOORDINASI

Ringkasan Senyawa Kompleks

Disusun Oleh :

Amiliah A1F014002

Liis Panggabean A1F014018

Dosen Pengampu : Wiwit, M.Si

Grasianto, M.Sc

Laboran : Habibus Syakura, S.Pd

Asisten Dosen : 1. Elyn Novta Restiasih (A1F013048)

2. Alfikri Khair (A1F013049)

3. Nia Sapitri Pangestu (A1F013060)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS BENGKULU

2016
SENYAWA KOMPLEKS

Sejarah Senyawa Kompleks

Senyawa kompleks pertama kali ditemukan oleh Tassert (1798), yaitu CoCl3.6NH3.
Senyawa tersebut dianggap aneh karena terbentuk oleh 2 senyawa stabil yang masing-masing
valensinya sudah jenuh. Hal ini baru bisa dipahami setelah waktu berlalu sekitar 100 tahun.
Selama waktu tersebut banyak senyawa kompleks telah dibuat dan dikaji sifat-sifatnya.

Senyawa-senyawa kompleks telah diketahui - walaupun saat itu belum sepenuhnya


dimengerti - sejak awal ilmu kimia, misalnya Prussian blue dan Tembaga (II) sulfat.
Terobosan penting terjadi saat kimiawan Jerman Alfred Werner, mengusulkan bahwa ion
kobalt(III) memiliki enam ligan dalam struktur geometri oktahedral. Dengan teori ini, para
ilmuwan dapat mengerti perbedaan antara klorida koordinasi dan klorida ionik pada berbagai
isomer-isomer kobalt amina klorida, dan menjelaskan kenapa senyawa ini memiliki banyak
isomer, yang sebelumnya tidak dapat dijelaskan. Werner juga menggolongkan senyawa
kompleks ini kepada beberapa isomer optis, mematahkan teori bahwa hanya senyawa karbon
yang memiliki sifat khiralitas.

Pengertian Senyawa Kompleks

Senyawa kompleks adalah senyawa yang mengandung paling tidak satu ion kompleks.
Ion kompleks terdiri dari satu atom pusat berupa logam transisi ataupun logam pada golongan
utama, yang mengikat anion atau molekul netral yang disebut ligan. Agar senyawa kompleks
dapat bermuatan netral, maka ion kompleks dari senyawa tersebut, akan bergabung dengan
ion lain yang disebut counter ion. Jika ion kompleks bermuatan positif, maka counter ion
pasti akan bermuatan negative dan sebaliknya.
Ion Kompleks
Ion kompleks dideskripsikan sebagai ion logam dan beberapa jenis ligan yang terikat
olehnya. Struktur dari ion kompleks tergantung dari 3 karakteristik, yaitu bilangan
koordinasi, geometri dan banyaknya atom penyumbang setiap ligan:
1. Bilangan Koordinasi
Bilangan koordinasi adalah jumlah dari ligan-ligan yang terikat langsung oleh atom pusat.
Bilangan koordinasi dari Co3+ dalam senyawa [Co(NH3)6]3+ adalah 6, karena enam atom
ligan (N dari NH3) terikat oleh atom pusat yaitu Co 3+ Umumnya, bilangan koordinasi yang
paling sering muncul adalah 6, tetapi terkadang bilangan koordinasi 2 dan 4 juga dapat
muncul dan tidak menutup kemungkinan bilangan yang lebih besar pun bisa muncul.

2. Geometri
Bentuk geometri dari ion kompleks tergantung pada bilangan koordinasi dan ion logam
itu sendiri. Tabel 23.6 memperlihatkan bahwa geometri ion kompleks tergantung pada
bilangan koordinasinya 2, 4, dan 6, dengan be-berapa contohnya. Sebuah ion kom-pleks yang
mana ion logamnya mem-iliki bilangan koordinasi 2, seperti [Ag (NH3)2]+, memiliki bentuk
yang linier

Atom Penyumbang ( donor Atom)

Ligan-ligan dari ion kompleks merupakan anion ataupun molekul netral yang menyumbang
satu atau lebih atomnya untuk berikatan dengan ion logam sebagai atom pusat dengan ikatan
kovalen. Ligan dikelompokkan berdasarkan jumlah dari atom penyumbangnya (donor
atoms). Monodentat, bi-dentat dan polidentat. Ligan monodentat seperti Cl - dan NH3 dapat
menyumbang satu atomnya untuk beri-katan. Ligan bidentat dapat menyumbang dua
atomnya dan ligan polidentat dapat menyumbang lebih dari dua atomnya
.

Menentukan Rumus dan Nama dari Senyawa Kompleks

Hal yang penting diingat dalam menuliskan rumus dari senyawa kompleks adalah:

1. Kation ditulis terlebih dahulu baru anion

Contohnya, dalam penamaan [Co(NH3)4Cl2]Cl, kita menamakan kation


[Co(NH3)4Cl2]+ dahulu sebelum anion Cl-, sehingga namanya
tetraamindiklorokobalt(III) klorida

2. Dalam ion kompleks, ligan harus diberi nama terlebih dahulu menurut urutan abjad,
sebelum ion

logamnya. Contohnya dalam ion [Co(NH3)4Cl2]+ , 4 ligan NH3 dan 2 ligan Cl- diberi
nama dahulu sebelum ion logamnya, seperti penamaan pada contoh pertama

3. Penamaan dari ligan

Jika ligan tersebut merupa-kan anion, maka pada akhir kata diberi imbuhan o.
contohnya jika ligannya F- maka diberi nama flouro. Jika ligan berupa molekul netral
maka ada penamaan yang khusus utuk diingat
4. Jumlah dari ligan dapat ditulis dengan imbuhan di-, tri-,tetra-,penta- dll
5. Biloks dari atom pusat ditunjukkan dengan bilangan romawi, jika atom pusat tersebut
memiliki biloks lebih dari satu. Seperti pada contoh pertama
6. Jika ion kompleks berupa anion, maka ion logam sebagai atom pusat diberi imbuhan
at pada akhir kata, sedangkan jika ion kompleks kation maka penulisannya ditulis
dalam bahasa indonesia
Isomerisasi dalam Senyawa Kompleks

1. Isomer struktur

Dua senyawa yang memiliki rumus kimia yang sama, tetapi dihubungkan dengan atom
yang berbeda disebut isomer struktur. Senyawa kompleks memiliki dua jenis isomer struktur
yakni isomer koordinasi (posisi) dan isomer rantai

a. Isomer koordinasi, terjadi pada saat susunan dari ion kompleks berubah tetapi
senya-wanya tetap. Isomer ini terjadi ketika ligan dan counter ion saling bertukar
posisi, sep-erti pada [Pt(NH3)4Cl2](NO2)2 dan [Pt(NH3)4(NO2)2]Cl2
b. Isomer rantai, terjadi ketika susunan dari ion kompleks tetap sama namun terikat
pada ligan dengan atom penyumbang (donor atom) yang berbeda. Beberapa ligan
dapat beri-katan dengan ion logam dengan 2 atom penyumbang (donor atom).
Contohnya ion ni-trit dapat berikatan dengan pasangan atom N tunggal
(nitro,O2N:) atau dengan atom O (nitrito, ONO:) sehingga membentuk isomer
rantai. [Co(NH3)5(NO2)]Cl2 dan [Co (NH3)5(ONO)]Cl2.
2. Isomer ruang (stereoisomers)

Isomer ruang (stereoisomers) adalah senyawa yang memiliki ikatan antar atom yang
sama tetapi letaknya berbeda dalam dimensi ruang. Isomer ruang terbagi dari 2 jenis yaitu
isomer geometri dan isomer optik

a. Isomer geometri (cis-trans isomers), terjadi jika atom atau sekelompok atom disusun
berbeda dalam ruang relatif terhadap ion logamnya Contohnya [Pt (NH 3)2Cl2] dapat
mempunya 2 isomer geometri, isomer yang pertama, ligan yang sama saling
berhadapan dalam satu sisi dinamakan cis-iaminadikloroplatina (II), sedangkan
isomer kedua, , ligan yang sama saling bersebrangan dinamakan trans-
diaminadikloroplati-na(II)
b. Isomer optic, terjadi ketika sebuah molekul dan bayangannya tidak dapat saling
tumpang tindih. Ion kompleks yang berbentuk octahedral memiliki banyak isomer
optic, ini bisa ditunjukkan dengan merotasikan satu isomernya dan melihat apakah
dapat saling tumpang tindih dengan isomer yang lainnya (bayangannya).

Dasar Teori untuk Pembentukan Ikatan dan Sifat dari Kompleks


a. Penerapan Teori Ikatan Valensi Pada Ion Kompleks

Teori ikatan valensi, sangat membantu dalam menjelaskan pembentukan ikatan dan
struktur dalam golon-gan utama. Ikatan valensi ini juga berguna untuk menjelaskan
pembentukan ikatan pada ion kompleks. Pa-da pembentukan ion kompleks, orbital dari
ligan yang telah terisi, elektronnya berhibridisasi (overlap) ke orbital ion logam yang
masih kosong. Ligan menyumbang pasangan electron bebasnya(basa lewis) untuk
diterima oleh ion logam (asam lewis) untuk membentuk satu ikatan kovalen dari ion
kompleks. Pada umumnya, untuk senyawa kompleks, jenis hibridisasi pada ion logam
atom pusat akan menentukan ben-tuk(geometri) dari ion kompleks tersebut.

1. OKTAHEDRAL
Ion heksaaminkrom(III), [Cr(NH3)6]3+, menggam-barkan penerapan dari teori ikatan
valensi untuk kompleks berbentuk octahedral. Enam orbital Cr3+ yang belum terisi (2
orbital 3d, 1 orbital 4s, 3 orbital 4p) akan bergabung membentuk orbital d 2sp3 dengan
tingat energy yang sama, kemudian 6 molekul NH 3 memberikan masing-masing satu
elektronnya untuk mengisi orbital yang masih kosong. Electron dari orbital 3d yang tidak
ber-pasangan akan membuat ion kompleks menjadi paramagnetik.

2. TETRAHEDRAL

Ion logam yang mempunyai subkulit d yang terisi penuh, seperti Zn 2+, biasanya akan
membentuk kompleks tetrahedral. Contohnya ion [Zn(OH)4] 1 orbital 4s dan 3 orbital 4p
dalam Zn berhibridisasi membentuk empat orbital sp3

3. SEGI EMPAT DATAR


Ion logam dengan orbital d8 biasanya akan membentuk ion kompleks berbentuk segi
empat datar. Contohnya dalam ion [Ni(CN) 4]2-. 1 orbital 3d, 1 orbital 4s, dan 2 orbital
4p dalam Ni2+ akan bergabung membentuk em-pat orbital dsp 2. Di dalam orbital d 8

dari Ni2+, terdapat dua orbital yang setengah penuh, untuk membentuk hibridisasi
dsp2, maka electron dari salah satu orbital akan mengisi orbital lainnya dan
membiarkan satu or-bital kosong. Orbital kosong ini akan bergabung dengan orbital
4s dan 4p membentuk dsp2 Sifat dari ion kompleks ini adalah diamagnetic karena
semua
Teori Medan Kristal

Teori medan kristal (Bahasa Inggris: Crystal Field Theory), disingkat CFT, adalah
sebuah model yang menjelaskan struktur elektronik dari senyawa logam transisi yang
semuanya dikategorikan sebagai kom-pleks koordinasi. CFT berhasil menjelaskan beberapa
sifat-sifat magnetik, warna, entalpi hidrasi, dan struktur spinel senyawa kompleks dari logam
transisi, namun ia tidak ditujukan untuk menjelaskan ikatan kimia

Pemisahan Orbital d (splitting)

Diagram energi dari orbital menunjukkan bahwa semua orbital d memiliki energi
yang lebih tinggi dalam bentuk kompleks dibandingkan dalam bentuk keadaan bebas. Ini
disebabkan gaya tolak menolak dari ligan yang saling berdekatan. Tetapi, akan terjadi
pemisahan energi orbital, antara 2 orbital d yang memiliki energi yang lebih tinggi dengan
dengan 3 orbital lainnya. Orbital yang lebih tinggi dinamakan orbital eg, dan orbital yang
lebih rendah dinamakan orbital t2g

Pemisahan energi dalam orbital ini disebut efek medan Kristal, dan perbedaan energi
antara eg dan t2g disebut energi pemisahan. Energi pemisahan ini dipengaruhi oleh ligan.
Semakin kuat ligan, maka energi pemisahan semakin besar dan sebaliknya. Besarnya energi
pemisahan ini yang nantinya akan mempengaruhi warna dan sifat magnetik dari kompleks.

Warna-warna cerah yang terlihat pada kebanyakan senyawa koordinasi dapat


dijelskan dengan teori medan kristal ini. Jika orbital-d dari sebuah kompleks berpisah
menjadi dua kompleks seperti yang dijelaskaan diatas, maka ketika molekul tersebut
menyerap foton dari cahaya tampak, satu atau lebih elektron yang berada dalam orbital
tersebut akan meloncat dari orbital-d yang berenergi lebih rendah ke orbital-d yang
berenergi lebih tinggi, menghasilkan keadaam at-om yang tereksitasi.

Perbedaan energi antara atom yang berada dalam keadaan dasar dengan yang berada
dalam keadaan tereksitasi sama dengan energi foton yang diserap dan berbanding terbalik
dengan gelom-bang cahaya. Karena hanya gelombang-gelombang cahaya () tertentu saja
yang dapat diserap (gelombang yang memiliki energi sama dengan energi eksitasi),
senyawa-senyawa tersebut akan memperlihatkan warna komplementer (gelombang cahaya
yang tidak terserap).
Ion kompleks memiliki sifat magnetik. Sifat magnetik ini disebabkan adanya
subkulit d yang tidak terisi penuh pada ion pusatnya. Ion kompleks yang memiliki elektron
yang tidak ber-pasangan pada diagram pemisahannya bersifat paramagnetik dan dapat
ditarik oleh medan magnet.

Sedangkan ion kompleks yang memiliki elektron berpasangan pada diagram


pemisahannya bersifat diamagnetik dan dapat ditolak oleh medan magnet.

DAFTAR PUSTAKA

Effendy. 2007. Kimia Koordinasi Jilid 1. Malang : UNY

Himawan, Ahmad Andika. 2012. Senyawa Kompleks. http://www. e-journal its.ac

.id/pdf/view/1245634 ( Diakses 16 Mei 2016)

Oxtoby, David. 2003. Prinsip-prinsip Kimia Modern . Jakarta : Erlangga

Wilkinson, Geoffroy. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta : UI PRESS

Anda mungkin juga menyukai