Anda di halaman 1dari 11

PENENTUAN INDEKS BIAS KACA PREPARAT DENGAN

MENGGUNAKAN METODE SUDUT BREWSTER

Disusun Oleh:
Ariyanti
M0214009

Program Studi Fisika


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sebelas Maret
2016
Penentuan Indeks Bias Kaca Preparat Dengan Menggunakan Metode Sudut Brewster

A. Latar Belakang
Sebuah benda dapat terlihat akibat adanya pemantulan cahaya terhadap benda
tersebut. Dimana cahaya tersebut merupakan salah satu gelombang tranversal yang dapat
mengalami pemantulan, pembiasan, interverensi serta polarisasi.
Polarisasi cahaya adalah salah satu sifat cahaya yang bergerak secara osilasi dan
menuju arah tertentu. Cahaya terpolarisasi apabila cahaya itu bergerak merambat kea rah
vector bidang magnetnya. Cahaya itu dapat mengalami polarisasi karena berbagai cara
antara lain karena peristiwa pemantulan,pembiasan maupun hamburan.
Indeks bias (n) merupakan perbandingan antara kecepatan rambat cahaya dalam
vakum (media pertama) dengan kecepatan cahaya dalam medium kedua. Dalam hukum
snellius dinyatakan bahwa sinar datang, sinar bias, dan garis normal berpotongan pada
satu titik dan terletak pada satu bidang datar. Dalam hal ini, sinar datang dari medium
kurang rapat ke medium lebih rapat dibiaskan mendekati garis normal, sedangkan sinar
datang dari medium lebih rapat ke medium kurang rapat dibiaskan menjauhi garis normal
(Bahruddin, 2006).
Indeks bias merupakan salah satu sifat optis yang sangat penting untuk diketahui,
oleh karena itu banyak pengukuran indeks bias yang dapat dilakukan seperti pengukuran
indeks bias dengan menggunakan metode sudut brewster. Sudut brewster terjadi apabila
sinar datang dan sinar bias membentuk sudut 90. Karena pentingnya mengetahui indeks
bias dari suatu bahan, maka dilakukanlah percobaan pengukuran indeks bias dengan
menggunakan metode sudut brewster ini.

B. Tujuan
Eksperimen ini dilakukan dengan tujuan:
1. Dapat memahami prinsip kerja dari pengukuran indeks bias dengan metode sudut
Brewster.
2. Dapat menentukan indeks bias preparat dengan metode sudut Brewster.

C. Dasar Teori
Indeks bias (n) merupakan perbandingan antara kecepatan rambat cahaya dalam
vakum (media pertama) dengan kecepatan cahaya dalam medium kedua. Dalam hukum
snellius dinyatakan bahwa sinar datang, sinar bias, dan garis normal berpotongan pada
satu titik dan terletak pada satu bidang datar. Dalam hal ini, sinar datang dari medium
kurang rapat ke medium lebih rapat dibiaskan mendekati garis normal, sedangkan sinar
datang dari medium lebih rapat ke medium kurang rapat dibiaskan menjauhi garis normal
(Bahruddin, 2006).
Indeks bias merupakan salah satu sifat optik yang banyak digunakan untuk
mencirikan keadaan suatu material transparan. Indeks bias adalah perbandingan
kecepatan cahaya dalam udara dengan kecepatan cahaya dalam zat tersebut. Indeks bias
berfungsi untuk identifikasi zat kemurnian, suhu pengukuran dilakukan pada suhu 20C
dan suhu tersebut harus benar-benar diatur dan dipertahankan karena sangat
mempengaruhi indeks bias.
Arah atau sudut perambatan sinar cahaya diukur dengan mengacu ke garis normal
bidang perbatasan antara kedua material. Sudut yang dibentuk oleh arah sinar datang
kebidang perbatasan (terhadap garis normal) dan sudut yang dibentuk oleh sinar yang
meninggalkan bidang perbatasan (terhadap garis normal) secara berturut-turut disebut
sebagai sudut datang dan sudut bias dengan nilai sinus dari sudut-sudut sinar dinyatakan
sebagai hukum Snell seperti ditunjukkan dalam persamaan berikut(Crisp and Elliot,
2005)

dimana n1 adalah bias material atau medium 1 dan n2 adalah indeks bias material atau
medium 2, 1 adalah sudut datang dan 2 adalah sudut pantul untuk cahaya yang datang
menumbuk permukaan suatu material(Pedrotti, 1993).

Garis Normal

Bidang Batas

Gambar 1. Ilustrasi Hukum Pemantulan dan Pembiasan (Pedrotti, 1993)


Indeks bias tidak benar-benar konstan, tetapi bervariasi dengan panjang
gelombang dari cahaya yang datang. Indeks bias dari kaca ditentukan oleh interaksi
cahaya dengan elektron dari atom-atom utama pada kaca. Meningkatnya kerapatan
elektron atau polarisabilitas ion-ion meningkatkan indeks bias (Giancolli, 1998).
Polarisasi adalah terserapnya sebagian atau seluruh arah getar gelombang. Gejala
polarisasi hanya dapat dialami oleh gelombang transversal saja, sedangkan berdasrkan
longitudinal tidak mengalami gejala polarisasi. Gejala polarisasi digambarkan dengan
gelombang yang terjadi pada tali yang dilewatkan pada celah. Apabila tali digetarkan
searah dengan celah maka gelombang pada tali dapat melewati celah tersebut (Gambar
2.3(a)). Sebaliknya jika tali digetarkan dengan arah tegak lurus celah maka gelombang
pada tali tidak bisa melewati celah tersebut (Gambar 2.3(b)).

(a) (b)
Gambar 3. Gejala Polarisasi
Bila dalam gelombang EM, medan listrik hanya berisolasi pada satu sumbu saja
(sebagai konsekuensinya medan magnetik juga hanya berisolasi pada satu sumbu saja)
maka polarisasi jenis ini dinamakan polarisasi linier. Terdapat pula polarisasi berbentuk
lingkaran dimana arah medan listrik dan medan magnetik berisolasi tidak hanya pada satu
sumbu tetapi pada bidang yang tegak lurus arah penjaran dan membentuk bola seperti
lingkaran. Jenis polarisasi yang paling umum adalah polarisasi acak, dimana pada suatu
waktu tidak dapat ditentukan kemana arah osilasi medan listrik atau magnetiknya(Viridi,
2010).
Indeks bias juga bisa ditentukan menggunakan sudut Brewster berdasrkan hukum
snellius.

Gambar 2. Jalannya Sinar untuk Pemantulan dan Pembiasan (a)1<Sudut


Brewster (b) 1= Sudut Brewster (Serway and Jewett, 2004)
Cahaya sebagian terpolarisasi (Gambar 2.a) ketika terpantul dari permukaan
dielektrik dimana sudut polarisasi bergantung pada sudut datang. Saat sudut datang
tertentu (Sudut Brewster - p), sinar pantul terpolarisasi seluruhnya (Gambar 2.b). pada
saat Sudut Brewster, sinar yang terpantul terpolarisasi tegak lurus terhadap sinar yang
dibiaskan.
Dengan menggunakan Hukum Snellius

Dimana n1 dan n2 adalah indeks bias


Ketika

Dan karena , , dan

Substitusi untuk dalam persamaan (2.4) menghasilkan

Sehingga,
=
Karena nilai indeks bias udara (n1)=1, maka nilai indeks bias dapat ditentukan dengan
persamaan (2.6)

Sudut Brewster juga dapat ditentukan berdasarkan persamaan Fresnell yaitu


dengan menentukan koefisien refleksi (r) seperti diberikan oleh persamaan (2.7) dan (2.8)
Mode TE: r = =

Mode TM; r = =

Dimana = sudut datang, dan n = indeks bias sampel menurut metode ini ditentukan oleh
yang membuat r = 0(Pedrotti, 1993).
Pada proses pemantulan dan pembiasan, cahaya dapat terpolarisasi sebagian atau
seluruhnya oleh refleksi. Perbandingan intensitas cahaya yang dipantulkan dengan cahaya
yang datang disebut reflektansi (R), sedangkan perbandingan intensitas cahaya yang
ditransmisikan dengan cahaya datang disebut transmitansi (T). Fresnel menyelidiki dan
merumuskan suatu persamaan koefisien refleksi dan koefisien transmisi yang dihasilkan
oleh pemantulan dan pembiasan(Tripler, 1998).
Jenis polarisasi dengan medan listrik E tegak lurus bidang datang dan medan
magnet B sejajar bidang datang disebut transverse electric(TE). Sebaliknya jika medan
listrik E sejajar bidang datang maka jenis polarisasi ini disebut transverse magnetic (TM).
Polarisasi TE yaitu polarisasi dimana vektor medan listrik berada pada bidang yang tegak
lurus arah perambatan gelombang. Polarisasi TM yaitu polarisasi dimana vektor medan
magnetik berada pada bidang yang tegak lurus arah perambatan gelombang.
Transmitansi dari bahan dapat dicari dengan membandingkan intensitas sinar laser
setelah melalui bahan (It) dengan intensitas sinar laser sebelum mengenai bahan (Io)
T=
sedangkan Reflektansi (R) didefinisikan sebagai perbandingan antara intensitas
pemantulan dengan intensitas sumber yang dapat ditulis:
R = (Pedrotti,1993).

D. Metodologi Penelitian
1. Alat dan Bahan
a. Laser He-Ne 1 buah
(sumber cahaya)
b. Meja putar 1 buah
(variasi sudut yang diterima kaca dari sumber cahaya)
c. Lensa polarizer 1 buah
(penyearah dan pemfokus cahaya)
d. Kaca 1 buah
(objek ukur indeks biasnya)
e. Detektor LDR 1 buah
(pendeteksi sinar pantul dari laser)
f. Sumber tegangan 1 buah
(berfungsi sebagai sumber yang mengalirkan tegangan listrik)
g. Komputer (software Labview) 1 buah
(penghubung dengan detektor sehingga dapat terlihat nilai intensitas cahaya yang
terdeteksi)
2. Gambar Rangkaian Alat eksperimen

Gambar 4. Rangkaian Alat Eksperimen


3. Langkah Kerja
4. Metode Grafik

E. Data Pengamatan
1. TE 0
Intensitas awal Rata2
Laser (mV) Sudut Nilai Intensitas (mV) Intensitas Reflektansi
4919.6 10 4341.6 4370.3 4355.95 0.885428
4919.6 20 4397.9 4356.6 4377.25 0.889757
30 4356.4 4385.5 4370.95 0.888477
40 4336.5 4331.8 4334.15 0.880996
I0 rata2= 50 4370.4 4275.6 4323 0.87873
60 4488.2 4478.4 4483.3 0.911314
4919.6
70 4620.7 4630.9 4625.8 0.94028

2. TM 90 (variasi sudut 10)


Intensitas
awal sudut Intensitas Intensitas
laser(mV) 1 Intensitas 2 rata2 Reflektansi
5007.8 10 4968.6 4983.3 4975.95 0.99364
5007.8 20 4983.3 4983.3 4983.3 0.995108
5007.8 30 4978.4 4978.4 4978.4 0.994129
5007.8 40 4968.6 4968.6 4968.6 0.992172
5007.8 50 4929.4 4929.4 4929.4 0.984344
5007.8 60 4699.1 4728.6 4713.85 0.941302
5007.8 70 4978.4 4978.4 4978.4 0.994129
5007.8 75 4993.1 4993.1 4993.1 0.997065
3. TM 90 (variasi sudut 1)
Intensitas
awal sudut Intensitas
laser(mV) Intensitas 1 Intensitas 2 rata2 Reflektansi
5007.8 55 4821.6 4821.3 4821.45 0.962788
5007.8 56 4772.5 4787.9 4780.2 0.954551
5007.8 57 4657.9 4718.7 4688.3 0.9362
5007.8 58 4620.7 4655.1 4637.9 0.926135
5007.8 59 4566.8 4601.1 4583.95 0.915362
5007.8 60 4655.1 4674.6 4664.85 0.931517
5007.8 61 4757.9 4762.8 4760.35 0.950587
5007.8 62 4841.2 4767.7 4804.45 0.959393
5007.8 63 4845.1 4875.5 4860.3 0.970546
5007.8 64 4909.8 4904.4 4907.1 0.979891
5007.8 65 4924.5 4929.4 4926.95 0.983855

3. TM 90 (variasi 1/6)
Intensitas
awal sudut Intensitas
laser(mV) Intensitas 1 Intensitas 2 rata2 Reflektansi
5007.8 58.167 4576.2 4679.6 4627.9 0.924138
5007.8 58.33 4581.5 4689.3 4635.4 0.925636
5007.8 58.5 4542.6 4699.1 4620.85 0.922731
5007.8 58.667 4581.5 4684.4 4632.95 0.925147
5007.8 58.83 4561.9 4650.1 4606 0.919765
5007.8 59 4586.4 4669.7 4628.05 0.924168
5007.8 59.167 4576.4 4669.7 4623.05 0.92317
5007.8 59.33 4635.5 4645.2 4640.35 0.926624
5007.8 59.5 4596.2 4664.8 4630.5 0.924658
5007.8 59.667 4610.9 4674.6 4642.75 0.927104
5007.8 59.667 4606 4655.9 4630.95 0.924747

F. Analisa Data
Indeks bias merupakan suatu parameter optis yang sangat penting untuk
diketahui. Menentukan indeks bias dapat dilakukan dengan reflaktometer, interferometer
dan sudut brewster. Pengukuran indeks bias dengan sudut brewster yaitu dengan
menentukan intensitas dari sinar bias dimana sudut brewster terbentuk apabila sinar
datang dan sinar bias membentuk sudut 90.Sudut Brewster adalah sudut yang
ditimbulkan oleh sudut dating dan sudut pantul saat terjadi polarisasi maksimum.
Polarisasi maksimum dapat terjadi saat nilai reflektansinya kecil Karena sinar
terpolarisasi. Reflektansi sendiri adalah perbandingan antara intensitas sudut datang
dengan sudut pantul.
Pada eksperimen ini, cahaya yang terpolarisasi akan memantul dan membias saat
mengenai kaca preparat. Pantulan dari cahaya tersebut akan ditangkap oleh LDR yang
terhubung dengan software LabView untuk mengukur intensitas cahaya yang
dipantulkan. Cahaya yang terpolarisasi juga diukur intensitas mula-mulanya. Sedangkan
prinsip yang digunakan pada eksperimen ini adalah sudut Brewster dapat dicapai saat
cahaya mencapai polarisasi maksimum. Prinsip kerja dari pengukuran indeks bias kaca
preparat dengan sudut brewster ini ialah jika suatu sumber cahaya mengenai suatu kaca
maka cahaya tersebut akan terpecah, sebagian akan diteruskan dan sebagian akan
dibiaskan. Cahaya yang dibiaskan akan membentuk sudut tertentu sesuai dengan besar
cahaya dari sumber, maka sudut brewster merupakan sudut yang terbentuk dari sudut
datang dan sudut bias yang membentuk 90. Dari pengukuran ini, sudut brewster
diketahui dari intensitas sinar refleksi yang paling kecil.

Berikut ini merupakan analisa dari data eksperimen:


1. Keadaan TE (Transverse Electric) dengan variasi sudut 100

Gambar 5. Grafik Hubungan Reflektansi terhadap Sudut pada TE 0

Pada bagian ini, arah medan listrik tegak lurus dengan arah gelombang pada 00,
dan semakin dinaikkan sudutnya, maka arah medan listrik akan semakin meruncing
kemudian menjadi sejajar dengan arah medan listriknya. Pada eksperimen ini, variasi
sudut dibuat antara 100-700. Berdasarkan hasil eksperimen dan plotting data, dapat
dilihat bahwa hubungan reklektansi terhadap sudut turun antara 300-500 sebelum kembali
meningkat. Hal ini terjadi Karena cahaya terpolarisasi secara maksimum. Inilah yang
disebut dengan sudut Brewster, karena nilai reflektansinya sangat kecil.

2. Keadaan TM (Transverse Magnetic) dengan variasi sudut 100

Gambar 6. Grafik Hubungan Reflektansi terhadap Sudut pada TM 90 selang 10


Pada keadaan ini, arah medan magnet sejajar dengan arah rambat gelombangnya,
variasi sudut pada eksperimen ini adalah 100-750. Pada hasil eksperimen dan plotting
data, terjadi penurunan dari sudut 500-600 sebelum akhirnya naik lagi. Hal ini juga
ditunjukkan Karena pada sudut 600 cahaya terpolarisasi maksimum sehingga nilai
reflektansinya sangat kecil.
Pada eksperimen ketiga adalah upaya untuk menentukan di sudut berapakah
terjadi polarisasi maksimum. Karena pada gambar 4.2. nilai reflektansinya kecil pada
500-600, maka diukur kembali dengan variasi 10 pada sudut 550-650 untuk mendapatkan
hasil yang lebih presisi, dimana hasilnya sebagai berikut:

Gambar 7. Grafik Hubungan Reflektansi terhadap Sudut pada TM 90 selang 1


Dari gambar 7. dapat dilihat bahwa polarisasi maksimumnya tidak terjadi
pada sudut 600, melainkan di kisaran 590. Agar lebih presisi, maka dilakukan pengukuran
dengan variasi sudut yang lebih kecil, yaitu 0,66670 dengan mengambil selang sudut
antara 58,1670 dan diakhiri pada 59,6670. Berikut adalah hasilnya:

Gambar 8. Grafik Hubungan Reflektansi terhadap Sudut pada TM 90 selang 0,6667


Pada grafik diatas, terdapat naik turunnya nilai yang tidak beraturan, hal ini terjadi
karena pada skala yang kecil, terjadi perubahan yang cukup fluktuatif dari reflektansi
cahaya. Namun, berdasar data, dapat diketahui bahwa nilai reflektansi terkecil terjadi
pada sudut 58,830. Sehingga sudut inilah yang disebut sudut Brewster pada eksperimen
ini dimana terjadi polarisasi cahaya maksimum.

Perhitungan indeks bias pada eksperimen ini menggunakan rumus:

Dimana n1 merupakan indeks bias udara, dan n2 adalah indeks bias kaca preparat,
serta p merupakan sudut Brewster, sehingga untuk menghitung indeks bias, sebagai
berikut:
Jika dibandingkan dengan literatur yaitu 1,5, ada perbedaan nilai 0,15 yang
disebabkan oleh beberapa faktor seperti meja saat eksperimen tidak stabil, posisi tangan
yang memegang LDR tidak stabil sehingga pembacaan oleh alat tidak menemukan hasil
yang presisi, dan kondisi ruangan yang tidak benar benar gelap sehingga menyebabkan
adanya interferensi baik dari cahaya matahari, maupun dari alat alat elektronik di
sekitar eksperimen.

G. Kesimpulan
1. Prinsip kerja dari pengukuran indeks bias kaca preparat dengan sudut brewster ini
adalah apabila suatu sumber cahaya mengenai suatu kaca maka cahaya tersebut sebagian
akan diteruskan dan sebagian akan dibiaskan. Cahaya yang dibiaskan akan membentuk
sudut tertentu sesuai dengan besar cahaya dari sumber, maka sudut brewster merupakan
sudut yang terbentuk dari sudut dantang dan sudut bias yang membentuk 90. Dari
pengukuran ini, sudut brewster diketahui dari intensitas sinar refleksi yang palinng kecil.
2. Indeks bias kaca berdasar pengukuran dan perhitungan = 1,653149
Sedangkan menurut literatur indeks bias kaca = 1,5

H. Daftar Pustaka
Bahruddin, Drs. MM. 2006. Kamus Fisika Plus. Epsilon Group: Bandung.
Pedrotti, F.L. & L.S. Pedrotti 1993, Introduction to optics, second edition. New Jersey:
Prentice-Hall Inc.
Amalia & Viridi, S. 2009. Analisis Penyebab Rendahnya Nilai Fisika Siswa Pada Materi
Gerak Melingkar di Sma Negeri 6 Bandung. Jurnal Pengajaran Fisika Sekolah
Menengah. Vol. 1, No.3.
Serway, R. A. & Jewett, J. W. (2004). Physic for Scientists and Engineers, Six Edition.
California: Thomson Brook/Cole.
Giancoli, C Douglas. 1998. Fisika edisi ke 5. Jakarta : Erlangga.
A.Tipler, Paul. 1998. Fisika untuk Sains dan Teknik Jilid 1. Penerbit Erlangga : Jakarta.

Surakarta, 21 Desember 2016


Mengetahui,
Dosen Pembimbing Praktikan

Dr.Eng Budi Purnama, S.Si., M.Si Ariyanti


NIP. 197311092000031001 NIM. M0214009