Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

DIARE (MENCRET)

Disusun guna memenuhi tugas pada Program Pendidikan Profesi Ners


Stase Komunitas

Disusun Oleh

SUHERMAWATI
16.14901.022

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2017

Satuan Acara Penyuluhan (SAP)

Topik/Materi : Diare

1
Sasaran : masyarakat cipondoh diposyandu
Target : Mengetahui dan mengenal penyakit diare
Hari/Tgl : Senin, 8 maret 2017
Waktu : 09.00 - 09.30 WIB (1x 30 menit)
Tempat : Di Posyandu

A. TUJUAN
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberikan informasi diharapkan warga dapat memahami
tentang diare
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberikan informasi diharapkan masyarakat dapat
memahami mengenai diare

B. Pokok Bahasan
Diare

C. Sub Pokok Bahasan


1. Pengertian diare
2. Penyebab diare
3. Tanda gejala diare
4. Cara penanganan diare di rumah

D. Waktu: 1x30 menit

E. Kegiatan
Tahap
Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta Waktu
kegiatan
Pendahuluan 1. Memberi salam, Memperhatikan dan 5 menit
memperkenalkan diri, menjawab salam

2
menyapa dan membukan
penyuluhan.
2. Menjelaskan manfaat materi Memperhatikan
yang akan diberikan kepada
pasien dan keluarga
3. Menjelaskan tentang Memperhatikan
kompetensi dalam TIU dan
TIK.
Penyajian 1. Menggali pengetahuan Memperhatikan dan 15 menit
tentang diare menjawab pertanyaan
2. Menjelaskan pengertian diare
Memperhatikan
3. Menjelaskan penyebab diare
Memperhatikan
4. Menjelaskan cara penanganan
Memperhatikan
dan pencegahan diare

Penutup 1. Memberi Menanyakan yang belum 10 menit


kesempatan untuk bertanya. dipajami
2. Menjawab Memperhatikan
pertanyaan yang diajukan.
3. Memberi Memberi sumbang saran
pertanyaan pada masyarakat
tentang materi yang telah
dijelaskan.
4. Memberikan Memperhatikan
komentar terhadap pertanyaan
masyarakat
5. Memberikan Memperhatikan
kesimpulan tentang materi
yang telah dijelaskan.
6. Membagikan Menerima dengan baik.
leaflet. Memperhatikan dan
7. Menutup menjawab salam
pertemuan dan memberi

3
salam.

F. Media dan Alat Penyuluhan


1. Leaflet
2. LCD proyektor

G. Evaluasi
1. Jelaskan pengertian diare?
2. Apa saja penyebab diaere?
3. Apa tanda dan gejala diare?
4. Bagaimana cara penanganan diare di rumah?

H. Lampiran
1. Materi
2. Media yang digunakan (Leaflet dan LCD)
3. Daftar hadir peserta

Materi

Diare

4
A. Pengertian
Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal
atau tidak seperti biasanya ditandai dengan peningkatan volume, keenceran
serta frekuensi lebih dari 3 kali sehari dan pada bayi baru lahir lebih dari 4
kali sehari dengan tanpa lender darah. (Aziz, 2006).
Diare dapat juga diartikan sebagai suatu kondisi dimana terjadi
perubahan dalam kepadatan dan karakter tinja, atau tinja cair dikeluarkan tiga
kali atau lebih per hari (Ramaiah,2002).
Pengertian dari diare tersebut dapat disimpulkan bahwa diare
merupakan kondisi dimana buang air besar yang frekuensinya lebih dari 3 kali
sehari dengan konsistensi tinja yang encer.

B. Penyebab
Menurut Ngastiyah (2005) dan Hidayat (2006), berbagai macam faktor
yang dapat menjadi penyebab diare pada bayi:
1. Infeksi
Faktor ini dapat diawali adanya kuman yang masuk dalam saluran
pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel
mukosa usus yang dapat menurunkan daerah permukaan usus.
Selanjutnya terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya
mengakibatkan gangguan fungsi usus.
2. Faktor makanan, Contohnya: makanan basi, beracun, atau alergi terhadap
makanan.

3. Faktor risiko
a. Faktor perilaku

5
1) Tidak memberikan ASI/ASI eksklusif dan memberikan Makanan
Pendamping (MP ASI) yang terlalu dini akan mempercepat bayi
kontak terhadap kuman.
2) Menggunakan botol susu terbukti meningkatkan risiko terkena
penyakit diare karena sangat sulit untuk membersihkan botol
susu.
3) Tidak menerapkan kebiasaaan cuci tangan pakai sabun sebelum
memberi ASI/makan, setelah Buang Air Besar (BAB), dan
setelah membersihkan BAB anak.
4) Penyimpanan makanan yang tidak higienis.
b. Faktor lingkungan
1) Ketersediaan air bersih yang tidak memadai, kurangnya
ketersediaan fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK).
2) Kebersihan lingkungan dan kebiasaan pribadi yang buruk.
3) Faktor yang dapat menjadi penyebab maupun pencetus dan dapat
mempengaruhi durasi terjadinya diare
c. Faktor Orang Tua
Pendidikan orang tua adalah faktor yang sangat penting dalam
keberhasilan manajemen diare pada bayi atau anak. Orang tua dengan
tingkat pendidikan rendah, khususnya buta huruf tidak akan dapat
memberikan perawatan yang tepat pada bayi atau anak dengan diare
karena kurangnya pengetahuan dan ketidakmampuan menerima
informasi (Khalili, 2006).
d. Faktor anak
Ada beberapa aspek yang dapat menjadi faktor resiko diare
yang ada pada anak, terutama yang berusia kurang dari dua tahun,
tidak diberikan ASI eksklusif, dan status gizi yang rendah.
1) Umur

6
Faktor-faktor yang mempengaruhi meningkatnya risiko diare
pada anak usia 6-35 bulan antara lain penurunan kadar antibodi
ibu, kurangnya kekebalan aktif bayi, pengenalan makanan yang
mungkin terpapar bakteri tinja dan kontak lansung dengan tinja
manusia atau binatang pada saat bayi mulai merangkak (Depkes,
1999; SDKI, 2007).
2) Pemberian ASI
Anak dengan diare yang tidak mendapat ASI lebih beresiko
dirawat di rumah sakit, dan periode pemberian ASI pada anak
dengan diare akut yang dirawat di rumah sakit lebih pendek
dibandingkan dengan yang tidak dirawat di rumah sakit (Yalcin,
Hiszli, Yurdakok dan Ozmert, 2005; Khalili, 2006).
3) Status Imunisasi Campak
Anak- anak yang menderita campak atau yang menderita campak
empat minggu sebelumnya mempunyai resiko lebih tinggi untuk
mendapat diare atau disentri yang berat dan fatal (WHO, 2009).
Imunisasi campak yang diberikan pada umur yang dianjurkan
dapat mencegah sampai 25 % kematian balita yang berhubungan
dengan diare (Depkes RI, 2009).
4) Status Gizi
Adisasmito (2007) melakukan kajian terhadap faktor risiko diare
pada beberapa penelitian di Indonesia dan dapat disimpulkan
bahwa status gizi yang rendah pada bayi dan balita merupakan
faktor resiko terjadinya diare. Status gizi yang buruk dapat
mempengaruhi kejadian diare dan lamanya menderita diare.
Hubungan status gizi dengan lama diare bermakna secara
statistik dimana semakin buruk status gizi maka semakin lama
diare yang diderita (Palupi, 2007).
C. Tanda dan Gejala

7
Tanda-tanda awal dari penyakit diare adalah bayi dan anak menjadi
gelisah dan cengeng, suhu tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang
atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja akan menjadi cair dan mungkin
disertai dengan lendir ataupun darah. Warna tinja bisa lama-kelamaan berubah
menjadi kehijau-hijauan karena tercampur dengan empedu. Anus dan daerah
sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam
sebagai akibat banyaknya asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak
dapat diabsorbsi oleh usus selama diare. Gejala muntah dapat terjadi sebelum
atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang
atau akibat gangguan keseimbangan asam-basa dan elektrolit (Kliegman,
2006). Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit, maka
gejala dehidrasi mulai tampak. Akan terjadi penurunan volume dan tekanan
darah, nadi cepat dan kecil, peningkatan denyut jantung, penurunan kesadaran
dan diakhiri dengan syok, berat badan menurun, turgor kulit menurun, mata
dan ubun-ubun cekung, dan selaput lendir dan mulut serta kulit menjadi
kering (Ngastiyah, 2005).

D. Komplikasi
Menurut Maryunani (2010) sebagai akibat dari diare akan terjadi
beberapa hal sebagai berikut.
1. Kehilangan air (dehidrasi)
Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari
pemasukan (input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada
diare.
2. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi pada 23 % anak yang menderita diare, lebih
sering pada anak yang sebelumnya telah menderita Kekurangan Kalori
Protein (KKP).
3. Gangguan gizi

8
Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini
disebabkan oleh makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut
diare atau muntah yang bertambah hebat, walaupun susu diteruskan
sering diberikan dengan pengeluaran dan susu yang encer ini diberikan
terlalu lama, makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan
diabsorbsi dengan baik karena adanya hiperperistaltik.
4. Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik,
akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis
bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan otak, kesadaran
menurun dan bila tidak segera diatasi klien akan meninggal.

E. Cara penanganan diare di rumah


1. Segera beri banyak minum, dengan: - cairan yang tersedia di rumah
tangga, seperti: kuah sayur, kuah sop, air tajin, sari buah, air teh, air
matang dan LGG serta cairan oralit (bila ada)
2. Teruskan pemberian makan
Selama diare:
- Teruskan dan tingkatkan pemberian ASI pada bayi yang masih
menyusu
- Anak usia di atas 6 bulan, berikan makan tambahan, seperti:
bubur, sayuran, sari buah segar, dan berikan makan lebih dari 6
kali/hari.
Setelah diare:
Beri makanan leih sering dari biasanya, minimal selama 3 minggu dan
teruskan seperti biasa.

Harus diperhatikan:
- Jangan beri makan yang merangsang, seperti: pedas, terlalu asin,
atau asam
- Jangan berikan makan yang sudah rusak atau basi.

F. Upaya mengatasi diare secara sederhana

9
Pada anak yang baru mencret ibu dianjurkan memberi minum lebih
banyak dari biasanya. Minuman yang diberikan apa saja yang tersedia di
rumah seperti kuah sayur, air teh, air kelapa, larutan gula garam, air tajin dan
lain-lain. ASI dan makanan diberikan seperti biasanya.
Kalau bayi/anak masih mencret terus menerus, berikan oralit 200 cc
untuk 4 jam pertama 2-4 gelas, untuk selanjutnya berikan - 1 gelas oralit
atau larutan gula garam.
1. Upaya pencegahan diare
a. Makanan
1) Dicuci bersih
2) Dimasak dengan benar
3) Disimpan dengan benar
4) Peningkatan pemberian makanan pengganti ASI
b. Minuman
1) Minum dengan air yang dimasak
2) Berikan ASI pada bayi
3) Jangan memberikan susu botol pada anak dibawah 4 Bulan
c. Kebersihan perorangan
1) Kuku yang panjang dipotong dan selalu bersih
2) Setiap selesai buang air besar harus mencuci tangan dengan sabun
3) Cuci tangan sampai bersih sebelum dan sesudah makan
4) Gunakan sabun untuk cuci tangan dan mandi
d. Lingkungan
1) Buang air besar di jamban, kakus sehat (memakai tutup
2) Halaman pekarangan bersih dari sampah
3) Air kotor/limbah mengalir lancar
4) tempat sampah tertutup
e. Cara membuat larutan gula garam
1) Cuci tangan dengan sabun
2) Sediakan air matang 1 gelas (air putih/air teh)
3) Masukkan 1 sendok teh gula

10
4) Masukkan garam dapur sedikit (1/4 sendok teh)
f. Cara membuat oralit
1) Cuci tangan dengan sabun
2) Sediakan air putih satu gelas (jangan air panas)
3) Tuangkan bubuk oralit sedikit demi sedikit sampai habis. Bila muntah
minumkan lagi. Oralit bisa didapatkan di toko obat, puskesmas dan
posyandu.

11
DAFTAR PUSTAKA

Alimul, Hidayat A. Aziz. (2006). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi

Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta: salemba medika.

(Depkes RI. (2007). Pedoman Pelaksanaan Upaya Peningkatan Kesehatan, Jakarta

Ngastiyah. (2005). Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC

12